Senin, 23 Juni 2014

CALON PRESIDEN MUSUH ISLAM

Ketemu tulisan menarik yang bisa dijadikan referensi dalam menentukan pilihan dalam pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan datang.

"CALON PRESIDEN MUSUH ISLAM...
Ditulis Oleh : Fahd Pahdevie

“Cilaka, Kyai! Cilaka!” Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. Kegelisahanku tiba–tiba membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.
“Cilaka apanya, Nak?” Tanya Kyai Husain.
“Pilpres!” Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. Aku yakin Kyai Husain akan mengerti.

Kyai Husain terkekeh. “Ndak usah dipikir!” Katanya, 
“Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!” Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.
“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai. Ini sudah genting! Jika calon yang didukung para pengusaha hitam dan musuh–musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam di negeri ini. negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”
Kyai Husain mengangguk–angguk. Wajahnya tampak prihatin.
“Kamu sudah shalat?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
“Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.” Kata Kyai Husain.

Pelan–pelan keresahanku ciut. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa bebalnya imanku, aku berteriak–teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan kewajibanku.

Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. Kyai Husain mengangguk–angguk perlahan. Beliau sedang asyik dengan tembakaunya. Selang delapan atau sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.

“Bagaimana shalatmu?”, tanya Kyai Husain tiba–tiba.
Aku terkejut ditanya demikian. Bagaimana shalatku?
“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.” Aku menjawab pertanyaan itu dengan terbata–bata.
“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?” Kyai Husain bertanya lagi.

Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya–tanya begini. Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku? Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? Untuk apa Kyai Husain tanya–tanya segala? Tapi, karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengatakan kepadanya bahwa aku tersinggung. Aku juga tak mungkin menjawab, Bukan urusan Anda, Kyai! Bisa–bisa nanti beliau yang tersinggung. Jika begitu, celakalah aku. Bisa kualat aku. Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. Dari alif–ba–ta  Al–Fatihah sampai rukuk sujud gerakan shalat dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.

“Eh… Anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.” 
Astagfirullah. Mengapa kata–kata itu juga yang keluar dari mulutku?
Kyai Husain terkekeh. Kemudian agak terbatuk. 
“Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi urusan pribadi–pribadi dengan Tuhannya” Katanya, lalu beliau menghisap tembakaunya.
“Tapi, dalam shalatmu, kamu mikirin copras-capres atau tidak?” Sambung Kyai Husan, kemudian tertawa lebar.

Aku jadi kikuk. Aku tersenyum–senyum malu.
“Iya, Kyai.” Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi. Kepalaku dipenuhi kekhawatiran–kekhawatiran dan semacam kebencian. Khawatir karena elektabilitas capres yang kubenci, yang begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. Maunya apa sih ummat Islam Indonesia ini? Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.

“Coba kamu ingat–ingat lagi,” kata Kyai Husain, “Capres mana yang paling membuatmu gelisah dalam shalat?”
“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai! Jelas dia yang dikendalikan cukong–cukong asing! Jelas dia yang tidak pro kebijakan syariah! Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!” Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi–api.

Kyai Husain terkekeh. “Shalatmu begitu berat,” katanya.
Aku kebingungan.
“Shalatmu penuh beban,” lanjut Kyai Husain.
“Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban.”
“Tapi, Kyai…” Aku berusaha memotong Kyai Husan,
“Mohon maaf. Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Pemilihan presiden tinggal 20 hari lagi, musuh–musuh Islam hampir saja menang!”
“Siapa yang kau sebut musuh–musuh Islam?”
“Capres boneka! Juga orang fasik di belakangnya!” Jawabku dengan penuh semangat.
“Bukankah dia juga seorang Muslim?” Tanya Kyai Husain.
“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan! Keislaman palsu!”

“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?” Dengan tenang Kyai Husain mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. Beliau masih menghisap tembakaunya.
“Eh, Kyai. Mohon maaf, Kyai. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.” Tiba–tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Apa hakku memberi batas dan ukuran–ukuran bagi keislaman seseorang? Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu, pencitraan dan harus diragukan?
“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?” Tanya Kyai Husain.

Aku makin gelagapan. Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. Hingga hampir kehabisan waktu. Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal–ihwal  ini–itu. Apa hakku mengatur–atur keislaman orang lain? Bagaimana dengan keislamanku sendiri? Aku tertunduk lesu. Tak bisa menjawab apa–apa dan tak bisa berkata apa–apa. Aku hanya menggelengkan kepala.

Kyai Husain terkekeh.
“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pemilu–pemiluan,” jawab Kyai Husain, 
“Agama ini lebih besar dari sekadar capres–capresan!” Beliau tampak lebih serius.
Aku mulai memperhatikan perkataan Kyai Husain.

“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini. Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk disbanding–bandingkan. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah final. Kamu mau bawa–bawa Islam untuk urusan politik? Kamu tak lebih dari mereka yang memperjualbelikan agama untuk urusan du-nia. Kamu mau membela ummat Islam? Tanyakan itu sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi pemilih? Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana capres Islam dan bukan Islam agar mereka bisa dikategori–kategorikan, dikelompok–kelompokkan, agar syahwat kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai? Kamu ini sedang membela Islam, atau siapa? Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya mengaku–ngaku dekat dengan Gusti Allah?”

“Lalu soal mengharam–haramkan. Soal bahwa memilih capres tertentu diancam berdosa dan bahkan masuk neraka. Apa hakmu untuk mengatur–atur urusan yang bahkan Rasulullah Muhammad pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu? Apakah kamu sudah merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah? Kamu boleh senang atau tidak senang dengan capres tertentu atau siapapun saja, tetapi kamu tidak boleh senang melihat ummat Islam terpecah belah, dipecah–belah. Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang suara—kamu tidak boleh mengharam–haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu sedang berusaha menghalal–halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”

Aku hanya bisa menunduk. Kata-kata Kyai Husain benar–benar menampar hatiku.
“Tapi Kyai…” Aku berusaha memberi pembelaan,
“Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”
Kali ini Kyai Husain tampak marah.
“Dengarkan aku!” Katanya, 
“Musuh Islam sejati adalah orang–orang munafik! Mereka yang dalam luka, baru mengaku saudara! Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja baru mengaku–aku dekat dengan agama ini. Mereka yang menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan merasa bahwa dirinya paling beriman.”

“Tapi… tapi…” Aku berusaha memotong Kyai Husain. Tapi beliau tampak benar–benar geram dengan situasi ini.
“Islam tak membutuhkan orang–orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya. Gusti Allah tak perlu dibela. Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon presiden yang kau benci itu menang, kamu sudah benar–benar mengkerdilkan dan meremehkan agama ini. Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama? Kecuali kualitas imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya. Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”

Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda denganku. Jangan–jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon presiden boneka. Jangan–jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. Aku tak boleh menemuinya lagi. Ya, aku tak boleh menemuinya lagi. Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.

“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir.” Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca pikiranku. Lalu tertawa.
“Tidak apa–apa jika kau berpikir begitu. Kelak di surgamu yang kamu bayang–bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang–orang sepertiku. Surgamu mungkin akan dipenuhi oleh orang–orang  yang suka menunjuk–nunjuk hidung orang lain sebagai sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar. Mungkin perlu juga kamu pikirkan apakah di antara orang–orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling menyalah–nyalahkan dan mengkafir–kafirkan juga? Sebab kebenaran hanya benar menurut dirimu sendiri, bukan? Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”
Kyai Husain terkekeh.

Aku berada pada situasi yang benar–benar membingungkan Aku mulai ragu pada diriku sendiri. Apa yang dikatakan Kyai Husain benar–benar menampar hati dan kesadaranku.
“Maafkan saya, Kyai.” Tiba–tiba aku memohon maaf padanya. Akal sehat dan nuraniku memerintahkannya.

Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir habis.
“Kau tak perlu meminta maaf padaku,” katanya,
“Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci tak akan menentukan apa–apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri dengan Gusti Allah.”
Aku mengangguk-angguk setuju.

“Perbaiki shalatmu,” kata Kyai Husain,
“Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti pesta demokrasi lima tahunan ini.”
“Tapi kita harus memilih, Kyai.”
Kyai Husain mengangguk. 
“Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal dan hati nuranimu.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih, Kyai.”

Magrib hampir tiba. Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah. Aku menyetujui ajakannya.
“Selesai shalat, orang–orang akan membicarakan hal yang sama,” Kyai Husain sambil tersenyum dan menggeleng–gelengkan kepala.
“Tidak apa-apa,” katanya,
“Ini sedang masanya. Kelak kita akan kembali pada urusan masing–masing, pada problem hidup masing–masing, pada takdir dan nasib kita masing–masing, dan harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri–sendiri.”

Aku mengangguk.
“Saya akan memilih calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu rakyat untuk menyelesaikan problem–problem keseharian mereka, Kyai.”
“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.” Kata Kyai Husain.
“Alasan itu saja yang kau jadikan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot–repot bawa agama.”

Aku tersenyum. Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain tentang pendapatku. Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari belakang. Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban yang tak lepas dari kepalanya.

“Kyai…” Tiba-tiba aku ingin memanggilnya.
Kyai Husain menoleh.
“Siapa yang Kyai pilih?”
“Tak ada yang sempurna,” Jawabnya.
“Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan Muhammad tak memiliki suara merdu seperti Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti yang dimiliki Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Ibrahim atau setangguh Musa. Aku akan memilih calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”

Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.
“Siapa orangnya, Kyai?”
Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.
Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. Sepanjang shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam. Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.

Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku. Tetapi dalam shalat berjamaah, semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. Aku mulai sadar, kebaikan yang paripurna tak bisa dicapai sendirian. Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. Kepalanya mengangguk–angguk ritmis. Aku belum tahu jawaban Kyai Husain tentang calon presiden pilihannya... Tapi aku mulai ragu pada pilihanku sendiri.
----


Melbourne, 21 Juni 2014

*Penulis: Fahd Pahdepie atau dikenal juga dengan nama pena Fahd Djibran adalah mahasiswa Postgraduate di School of Politics and International Relations, Monash University, Australia. Saat ini tinggal di Melbourne (dari akun akhi Rijal Pakne Avisa)

Senin, 16 Juni 2014

PERBEDAAN SUDUT PANDANG dalam DEBAT sesi ke 2

Kedua calon presiden RI periode 2014 - 2019
Debat sesi ke 2 calon presiden RI yang diselenggarakan pada hari Minggu 15 Juni 2014, baru saja usai.  Belum sampai 24 jam sejak berakhirnya debat yang menampilkan "head to head" ke 2 calon presiden RI yang diselenggarakan di hotel mewah Grand Melia di kawasan Jl. HR Rasuna Said - Kuningan, Jakarta Selatan, komentar "pedas" dari para pendukungnya yang saling memojokkan sudah berseliweran, bahkan ketika debat masih berlangsung. 

Tema debat kali ini adalah tentang visi & misi para calon presiden di bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Takut salah mendefinisikannya, saya "terpaksa" mem browse arti visi dan misi versi google translation dan berikut hasilnya :
Definitions of vision
noun
the faculty or state of being able to see.
"she had defective vision"
synonyms: eyesightsightobservation(visual) perceptioneyesviewperspective
an experience of seeing someone or something in a dream or trance, or as a supernatural apparition.
"the idea came to him in a vision"
synonyms: apparitionhallucinationillusionmiragespecterphantomghostwraith,manifestationphantasmshade
verb
imagine.
"The ‘mock ‘attempts of suicide may be a similar form of fantasy, where the loved ones are visioned as standing around the hospital bed and they are finally able to realize how unbearable the pain of life was for us.’"
Definitions of mission
noun
an important assignment carried out for political, religious, or commercial purposes, typically involving travel.
"a trade mission to Mexico"
synonyms: assignmentcommissionexpeditionjourneytripundertakingoperationtask,joblaborworkdutychargetrust
the vocation or calling of a religious organization, esp. a Christian one, to go out into the world and spread its faith.
"the Christian mission"
synonyms: vocationcallinggoalaimquestpurposefunctionlife's work
a strongly felt aim, ambition, or calling.
"his main mission in life has been to cut unemployment"
dan dalam kamus John M Echols & Hassan Shadily tertulis sbb :
Definitions of vision
noun
Penglihatan, 
"he has good vision"
Daya lihat,
"he is a man of vision"
Impian, Bayangan (of a great future)
Definitions of mission
noun
Tugas.
"what's your mission in life?"
Perutusan, Utusan.
"Foreign mission"
Misi (gereja).
Jadi kalau mengikuti definisi kata VISI - VISION, sepertinya ada kesalahan persepsi pada Joko Widodo dalam menjabarkannya. 


Mengapresiasi program saingannya
Visi berdasarkan arti kata, memang berarti "angan-angan", impian yang ingin diraih. Bukan pelaksanaan atau cara-cara mencapai tujuan yang lebih menekankan pada implementasi impian tersebut. Jadi dalam hal ini, paparan Prabowo Subianto lebih tepat. Berangan-angan untuk melakukan sesuatu demi Indonesia yang dicita-citakan menjadi Macan Asia. Soal bagaimana cara melaksanakannya .... bagaimana nanti saja ... Begitu kira-kira.

Namun apakah paparan Joko WIdodo salah? 
Terbiasa "kerja" sejak muda, Joko Widodo mungkin lupa bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih berada pada level "pemimpi". Jadi seharusnya paparan visinya juga harus berisi mimpi. Bukan implementasi ... Apalagi dengan mengacu pada apa yang sudah dilaksanakannya. Publik akan langsung mengkotakkan Jokowi pada level domestik. Karena visi memang harus berisi mimpi besar .... Biar di awang-awang, yang penting membuai pendengar/pembacanya. Karena visi alias impian itu sangat tidak terbatas. Boleh mimpi apa saja .... dan lupakan bagaimana cara mencapainya. Jadi "kesalahan" Jokowi, kalau bisa disebut sebagai kesalahan, adalah karena Jokowi terlalu fokus pada kerja, pada saat masyarakat Indonesia masih ingin diajak mimpi. Bahasa rakyatnya "masih seneng digombalin"  seperti remaja sedang jatuh cinta.

Lihat saja acara televisi. Hampir semua program televisi menawarkan mimpi dan imajinasi. Bahwa pejabat tinggi harus gagah dan ganteng. Begitu juga jabatan Direktur atau orang yang yang dianggap hebat, harus selalu gagah, ganteng, kaya, naik mobil mewah, rumah besar dengan halaman luas bak istana. Pakaian wah ..... makanan yang tersaji di meja makan berlimpah ruah .... Itulah mimpi sebagian besar masyarakat Indonesia. 

Dalam kehidupan sehari-hari juga tidak jauh berbeda. Impian-impian itu direalisasikan melalui gaya hidup hedonistis dan "memaksakan" diri. Prinsip "menghalalkan segara cara dalam mengumpulkan kekayaan" atau "biar miskin asal gaya" merasuk dalam perilaku sebagian besar masyarakat Indonesia. Jadi .... tentu saja "bayangan dan ajakan" kerja keras yang diusung Jokowi akan dilecehkan .... Wong lagi mimpi dan berangan-angan, kok dibangunkan untuk kerja dan disuguhkan dengan berbagai realita yang pahit tentang "kewajiban kerja keras?
***

Melihat debat ke 2 calon presiden Indonesia periode 2014 - 2019, sekali lagi mengingatkan perbedaan latar belakang tingkat sosial, ekonomi dan budaya yang mengiringi ke dua calon presiden RI ini.


Prabowo dg anak & mantan istrinya
Prabowo Subianto  adalah keturunan priyayi. Kakeknya RM Margono Djojohadikusumo adalah salah seorang pendiri Bank Negara Indonesia yang ulang tahun pendiriannya hingga sekarang diperingati setiap tanggal 5 Juli. Dia lahir dari ayah bernama Soemitro yang menjadi salah satu peletak dasar perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto, setelah lama "luntang-lantung" di luar negeri karena bersebrangan dengan Soekarno. 

Ibunya Dora Marie Sigar berasal dari Menado dan tentu beragama Kristen. Selain adiknya Hashim Djojohadikusumo yang dikenal sebagai penyokong Prabowo, salah seorang kakak perempuannya adalah istri dari J. Sudradjat Djiwandono, mantan gubernur Bank Indonesia pada era pemerintahan Soeharto

Dengan perbedaan agama kedua orangtuanya serta keragaman agama di keluarganya, kalau kita mampu berkepala dingin dalam menanggapi pendapat orang, maka kehidupan keberagamaan Prabowo Subianto tentu relatif sekular. Pola hidup sekular sangat normal dalam kehidupan manusia "modern", apalagi manakala ke dua orangtua tidak seiman.

Orangtua yang berbeda keyakinan biasanya akan membebaskan anak-anaknya memilih agama yang dianut ibunya, saat anak-anak masih kecil. Saat anak memang lekat dengan didikan ibu. Beranjak besar, orangtua dengan mudah membiarkan si anak menganut agama yang diyakininya.

Salahkah ......? Tentu tidak. Karena kalau kita bicara soal keyakinan, salah atau benar, bukan manusia yang menilai. Itu adalah hak prerogatif Allah SWT. Oleh karena itu, jangan menilai manusia dari agama yang dianutnya. Tapi nilailah dari bagaimana dia berperilaku dan berhubungan dengan sesama manusia karena seringkali terjadi orang yang kental dalam ibadah, namun munafik. Perilakunya tidak menggambarkan ajaran agamanya. Padahal perilaku seharusnya menjadi aplikasi dari kandungan kitab suci agama yang dianutnya.

Lama hidup di luar negeri dengan latar belakang socio-economic-cultural kelas atas, sudah pasti Prabowo tidak akan pernah canggung dalam pergaulan tingkat internasional. Apalagi, kemudian dia menikahi anak perempuan penguasa negeri ini. Lengkap sudah kehidupan "high level" yang disandangnya. Mungkin itu juga yang membuatnya tidak gampang diatur/tunduk pada atasannya baik selama kuliah di Akabri maupun saat memegang berbagai jabatan militer. 


keluarga Jokowi
Berbeda dengan Prabowo, Joko Widodo datang dari masyarakat kelas pekerja. Meniti karir dan usaha dengan susah payah. Empatinya terhadap kehidupan nyata yang ada di masyarakat tentu sangat besar karena begitulah dia tumbuh dan besar. 

Jokowi adalah kita ... memang tagline kampanye yang sangat pas dan mengena. Kehidupannya yang keras membuat kerja dan kerja menjadi fokus kesehariannya. Jokowi sepertinya "lupa" bermimpi. Kalau orang lain bermimpi alias berangan-angan dulu lalu baru bekerja untuk menggapai angan-angan dan mimpinya. Maka Jokowi seperti pada umumnya masyarakat golongan bawah, tidak sempat bermimpi karena yang dimengerti dan dihayatinya yaitu hidup adalah kerja ... Itulah yang tergambar dalam paparannya. Kerja dan kerja ...

Saat ini, Jokowi bisa jadi sedang mengalami "gegar budaya". Kekagetan luar biasa akan perputaran nasibnya yang sedemikian berubah dengan sangat cepat. Mungkin persis seperti pusaran angin puting beliung. Dari seorang pengusaha mebel lokal - masuk politik dan terpilih menjadi walikota di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dia kemudian terpilih untuk ke dua kalinya dengan % hasil pemilihan yang sangat tinggi. Bukan tidak mungkin keberhasilan Jokowi di Soloinilah yang  "mengundang niat" Prabowo untuk "memanfaatkannya" pada pemilihan presiden pada tahun 2014. 

Untuk memenuhi strateginya itu, menurut pandangan saya lho ...., boleh diprotes kok!, Jokowi kemudian "ditarik atau didorong" naik ke tingkat jabatan yang lebih tinggi. Bukan sekedar jabatan yang tingkatnya lebih tinggi (gubernur di suatu provinsi) saja tetapi menjadi gubernur di daerah khusus ibukota. Tepat di pusat kekuasaan Republik Indonesia. 

Disinilah, pada saat pencalonannya sebagai gubernur DKI Jakarta, dimulai segala hujatan ke hadapan Jokowi. Apalagi pasangan wakilnya berasal dari kalangan minoritas. Sudah Kristen ... Cina pula. Begitu cercaan masyarakat Jakarta/khususnya etnis Betawi. 


Dukungan Prabowo bagi pasangan Jokowi - Ahok
Jokowi memang memenangi pemilihan gubernur DKI Jakarta. Gaya kepemimpinan yang sangat berbeda mulai terlihat. Berbagai perubahan segera terlihat nyata. Penataan waduk Pluit dan waduk Ria-Rio, perbaikan jalan, pemberian kartu Jakarta sehat - Jakarta Pintar, program Kampung Deret yang kabarnya didukung dana World Bank, pembenahan kawasan Tanah Abang dan banyak lagi. 

Keberhasilan dan gaya kepemimpinannya yang out of the box menohok banyak pihak. Ada yang suka dan ada pula yang tidak. Intinya .... yang tidak suka biasanya karena kenyamanannya terganggu. Sangat sederhana sebetulnya. Kita memang sangat alergi terhadap perubahan terutama bila perubahan itu menyinggung zona kenyamanan kita.

Memang belum semua program perbaikan yang dicanangkan melalui tagline Jakarta Baru berjalan. Kemacetan dan banjir tentu tidak mudah terselesaikan dalam 1 atau 2 tahun saja karena "perusakannya" sudah berjalan selama puluhan tahun. Kita tidak hidup dalam era dongeng Sangkuriang atau Bandung Bondowoso yang mampu menyelesaikan pekerjaan hanya dalam 1 malam saja.  Selain itu, penataan dan perbaikan dalam bidang apapun, tidak bisa dilaksanakan hanya oleh pemerintah saja. Harus diikuti oleh kesadaran seluruh stake holder untuk mendukung dan melaksanakannya. Kalau tidak, program sebaik apapun juga dan siapapun pemimpinnya, tidak akan pernah terlaksana. Kecuali kalau kita mau kembali kepada sistem pemerintahan diktator. 


dukungan untuk mantan suami
Jokowi kemudian menjadi media darling karena cara kerjanya yang out of the box. Dukungan untuk men"capres"kan Jokowi kemudian mengalir muncul. Setelah bursa transaksi koalisi pra pendaftaran calon presiden selesai, Indonesia kemudian hanya memunculkan 2 pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Ironinya yang menjadi saingan Jokowi dalam pemilihan presiden Indonesia periode 2014 - 2019 adalah Prabowo Subianto. Orang yang mendorong dan mengusungnya pada pemilihan gubernur DKI Jakarta. Sementara itu, jabatan sebagai presiden Indonesia sudah diimpikan Prabowo Subianto dalam hampir 3 kali periode pemilihan. Bukan tidak mungkin Prabowo Subianto sebelumnya berharap pasangan Gubernur - wakil gubernur DKI Jakarta Jokowi - Ahok akan mendukungnya habis-habisan dalam pemilihan presiden RI periode 2014 - 2019.

Namun Allah berkehendak lain.
Rakyat Indonesia disediakan pilihan yang sangat bertolak belakang.
Orang yang semula saling mendukung, kini berhadapan dan bersaing meraih kepercayaan rakyat untuk memimpin negeri ini selama 5 tahun yang akan datang.

Pilihan pertama adalah seorang dari trah bangsawan ... 
Seorang ksatria yang sudah terbiasa hidup di kalangan atas  dan darinya diharapkan angan-angan/mimpi membawa Indonesia berdiri sejajar dalam tataran pergaulan internasional dapat terwujud. Menjadi macan Asia.

Pilihan kedua adalah seorang pekerja keras dari kalangan rakyat biasa yang darinya, dengan kesungguhan hati dan kerja keras, diharapkan bisa membawa kehidupan yang lebih baik. Rakyat sejahtera lahir dan batin ...
Karena Jokowi adalah kita ...

Sungguh pilihan yang dilematis ....
Tetap berangan-angan dan mungkin kita akan dengar lagi retorika a la bung Karno 
"Amerika kita strika dan Ingris kita linggis"
(diketahui Prabowo Subianto tidak bisa memperoleh visa masuk ke USA)

Atau siapkah kita bekerja keras, seperti Cina mempersiapkan keterbukaannya pada awal tahun 1980 an sehingga menjadi raksana ekonomi 30 tahun kemudian?

Sementara kita tahu  ....
2015 sudah diambang pintu ....
Tinggal berbilang bulan .... 
dan
Kita tidak bisa menghindar lagi dari serbuan asing ...

Selamat merenung dan memilih di Pilpres 2014



Sabtu, 14 Juni 2014

Ramadhan Jadul 2 - persiapan lebaran

Puasa di paruh pertama tahun 1960an dalam ingatan saya kegembiraan yang “suram”. Gembira karena kami semua menikmati libur panjang hampir selama 1,5 bulan sehingga setiap malam, selama orangtua menunaikan shalat tarawih, anak-anak bisa bermain di halaman rumah atau ditengah jalanan yang memang masih sepi dari kendaraan bermotor.
Namun, tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa itu memang suram. Konon ekonomi Indonesia memang sudah menunjukkan arah kebangkrutan yang di kemudian hari baru saya tahu disebabkan oleh proyek-proyek yang disebut kaum Orba” sebagai proyek mercusuar. Namun di balik pengetahuan anak usia SD kelas 2 – 4, saat itu, saya hanya mengenangkannya melalui beberapa peristiwa sehari-hari.
Saat itu, Indonesia memang sedang memasuki periode konfrontasi dengan Malaysia. Coretan-coretan anti Malaysia seperti “Ganyang Malaysia”, Malaysia boneka Inggris atau Malaysia antek Inggris bertebaran dimana-mana. Pada malam hari yang temaram, bisa jadi tiba-tiba terdengar sirine yang dibarengi dengan suara sirine dan pemadaman lampu. Kalau sudah begini, maka anak-anak wajib masuk ke kolong tempat tidur atau dimana saja mencari perlindungan. Ini dinamakan latihan bila ada serangan udara pada malam hari.
Saya ingat sekali, pernah pada bulan-bulan tertentu, ayah saya membawa sekarung jagung pecah jatah pembagian kantor untuk makan kami serumah sebagai pengganti beras. Maka, hari-hari kemudian, selama sebulan kami akan menyantap nasi jagung tersebut. Di lain waktu, ayah membawa sekarung bulgur yang berwarna kecoklatan. Bagaimana rasanya…? Jujur saja, saya sudah lupa bagaimana rasa bulgur. Kalau rasa jagung, tentu masih tahu karena saya masih sering dan suka menyantap cenil lengkap dengan getuk dan jagungnya. Apalagi perkedel jagung manis merupakan salah satiu santapan kesukaan saya.
Nah bagaimana masyarakat Betawi mempersiapkan lebaran? Pada paruh kedua bulan puasa, ibu-ibu mulai mempersiapkan kue lebaran. Umumnya mereka membuat kue semprit atau nastar. Kalau nastar, tahu kan? Itu lho, kue kering umumnya berbentuk bulat kelereng yang isinya selai nanas. Ada juga yang berbentuk bulat panjang seperti biji kenari. Membuatnya agak repot, karena kita harus terlebih dahulu menyiapkan dan membuat selai nanas. Kastengel…? Aduh… jauh deh… itu makanan orang kaya, karena keju sudah pasti sukar diperoleh.
Kalau kue semprit, ada nggak yang tahu benda seperti apa itu? Sekarang kue semprit disebut cookies terbuat dari adonan tepung mentega, telur dan gula. Kenapa disebut semprit? KArena untuk mencetak kue, adonan dimasukkan ke dalam contong kertas minyak yang ujungnya sudah di sisipkan corong kecil yang ujungnya berlubang. Ada yang lubangnya datar, ada juga yang bersegi. KAlau sudah terisi sekitar ½ contong, maka ujung kertas akan dipelintir dan didorong agar kue keluar dari corong. Itu sebabnya disebut semprit. Mungkin diimaginasikan seperti saat kita meniup sempritan/peluit.
selongsong ketupat
Corong yang lubang datar akan membentuk kue yang lurus-lurus saja, sedang corong bersegi akan mengeluarkan adonan bergelombang seperti helai bunga. LAlu bagian tengahnya diberi bulatan kecil, biasanya adonan yang diberi coklat.
Karena saat itu belum ada mixer, maka suara kopyokan telur ramai bersahut-sahutan dari rumah kerumah membentuk simpony indah khas ramadhan di perkampungan. Kadang-kadang ada beberapa tetangga yang saling bergotong-royong saling menyumbang bagian bahan kue yang dimiliknya, lalu memasaknya bersama untuk kemudian dibagikan.
Nenek saya yang keturunan Sunda-Betawi, selalu membuat geplak, kue satu khas betawi dan kue lapis legit selain tape ketan dan uli. Makanan buatan nenek saya itu legit dan enak sekali. Apalagi tape ketan dan ulinya. Duh, rasanya sampai sekarang saya belum pernah menemukan tape ketan selezat buatannya..
Geplak adalah makanan kesukaan nenek saya. Diluar lebaran, beliau seringkali membuatnya. Tahukan anda apakah geplak itu? Makanan ini dibuat dari bahan tepung beras dan kelapa parut yang disangrai, lalu dimasukkan ke dalam cairan gula merah atau biasa disebut kinca. Diaduk secukupnya dengan porsi tepung beras yang sangat banyak sehingga membentuk adonan basah sekedarnya dan bisa dipipihkan. Sudah… begitu saja. Sederhana sekali pembuatannya. Tapi, walaupun sederhana, persiapannya cukup lama karena kita harus membuat sendiri tepung beras. Saya lebih suka makan tepung beras yang sudah tercampur kelapa parut itu lalu ditambahkan gula pasir. Ini disebut sagon. Enak lho…, karena bahan-bahannya alami dan tepung berasnyapun masih baru.
Ibu saya, biasanya sibuk menjahit. Beliau memang bisa menjahit baju perempuan. Jadi semua baju anak-anaknya adalah buatannya. Apalagi, pada saat itu belum ada industry pakaian jadi. Bahan bajunya, seperti juga beras, adalah berasal dari penukaran kupon. Sayang, saya nggak tahu bagaimana ayah saya memperoleh kupon tersebut. Apakah pembagian kantor atau membelinya. Dari pembagian itu, biasanya bisa dibuat baju untuk semua anak-anaknya. Jadi jangan heran kalau pada saat lebaran kami sekeluarga memakai baju seragam. Bukan karena disengaja seperti sekarang, tetapi dulu, karena itulah jatah yang diperoleh setiap keluarga.
Saya dan adik-adik hanya bisa memiliki baju dan sepatu baru saat lebaran. Biasanya ibu saya akan menjahitkan 3 buah rok seragam dengan adik-adik. Bukan hanya seragam motifnya tetapi juga modelnya. Begitu berlangsung hingga saya duduk di bangku kelas 6 SD, saat saya mulai melakukan protes-protes kecil agar tidak dibuat seragam lagi. Saat itu ibu saya mulai membedakan warna dan model baju namun bahannya tetap sama untuk menghindari rasa iri di antara kami.
Begitulah cari kami dan sebagian besar masyarakat Jakarta yang saat itu masih menjadi the big village, menyiapkan lebaran. Mungkin saat itu sudah terjadi perbedaan kelas sosial, sama seperti sekarang. Jurang pemisah antara kaum berpunya dan kaum proletar. Namun keterbatasan media informasi dan komunikasi menyebabkan dunia kami terbatas pada lingkungan kecil saja. Beruntungkah…? Entahlah! Setiap jaman memiliki problematikanya sendiri dan saya merasa kenikmatan menjalankan puasa pada masa kecil dulu, jauh lebih bermakna daripada apa yang dialami anak saya sekarang.

Jumat, 13 Juni 2014

RAMADHAN JADUL 1

Awal tahun 60 an, sebelum coup d'etat tahun 1965, Jakarta masih sejuk, pepohonan, kebun sayur dan bahkan sawah masih mudah ditemui. Jangankan shopping mall yang modern, bus kotapun belum beroperasi. Kendaraan angkutan umum yang biasa digunakan warga kota hanya oplet dan becak. Tapi, kami lebih sering berjalan kaki saja. Studio TVRI yang hitam putih yang beroperasi sejak tahun 1963 baru memulai acaranya jam 18.00.

Walaupun masih jadoel banget, Ramadhan (dulu sebutan Ramadhan dan segala yang berbau bahasa Arab belum lazim digunakan ... Jadi orang lebih sering menggunakan istilah bulan puasa) merupakan bulan yang ditunggu-tunggu anak sekolah. Ayo tebak, kenapa.....?
Karena selama bulan puasa, sekolah tutup dan kami mendapat libur lebih dari satu bulan. Walaupun begitu, Jakarta yang sepi tidak bertambah sepi seperti hari-hari lebaran jaman sekarang. Maklumlah ... istilah mudik, belum dikenal orang secara luas, karena Jakarta betul-betul dihuni oleh orang Jakarta/Betawi. Kalaupun ada masyarakat yang berasal dari Jawa, Sumatera atau pulau-pulau lainnya, itupun terbatas pada kaum intelektual. Kecuali orang yang berasal dari Jawa, orang yang berasal dari Sumatera atau pulau lainnya, sepengetahuan saya tidak mengenal tradisi mudik. Kan pameo "Mangan ora mangan, Kumpul" hanya dikenal oleh masyarakat yang berasal dari Jawa saja.

Nah,sebelum balik ke bulan puasa lagi, saya mau cerita dulu keadaan kami ya...,
Dulu, saya tinggal di rumah nenek di bilangan Kayumanis I. Bapak saya anak satu-satunya yang hidup hingga berkeluarga dan beranak pinak dari 14 orang anak nenek saya. Rumah nenek saya termasuk rumah yang paling besar di lingkungannya. Halamannya luas (dilihat dari perspektif anak kecil). Ada 2 batang pohon rambutan yang selalu ramai ditunggu orang kampung untuk berbagi saat dipanen. Ada pohon jambu air, yang selalu saya panjat sepulang sekolah, pohon jeruk bali dan pohon mangga di belakang rumah, dekat sumur timba.

Rumah yang besar itu ditinggali kami berdelapan karena bapak saya punya anak 6 orang dan nenek. Rumah bergaya betawi itu memiliki 3 buah kamar. Sebagaimana lazimnya rumah betawi... selalu ada teras selebar rumah tempat bertenggernya dua set kursi tamu. Disinilah tempat pemilik rumah menerima tamu. 

Masuk ke dalam, ada ruang yang sama besar dan sama lebar dengan teras. Disini juga ada dua set sofa jadoel. Di ruang ini, saya dan anak-anak kampung kami biasa nonton tv. Maklum saja, waktu itu di kampung kami hanya ada beberapa gelintir rumah saja yang memiliki tv.

Lalu ada lorong menuju dapur, dimana kiri kanannya ada kamar tidur berderetan, lalu ruang makan dan dapur. Kalau rumah induk menggunakan lantai semen berwarna abu-abu kehijauan dengan border kuning, maka dapur yang letaknya lebih rendah dari rumah induk hanya berlantaikan tanah yang diperkeras.

Jaman dulu, dapur, kamar mandi dan sumur memang diletakkan di belakang rumah. Bagian rumah ini dianggap kotor jadi tidak lazim diletakkan di bagian depan seperti rumah-rumah jaman sekarang. Di dapur ada tempayan yang selalu diisi air sumur yang jernih dan dingin. Nenek saya biasa minum air tempayan yang segar itu, langsung tanpa dimasak dulu. Kami juga menyimpan air minum di dalam kendi. Segar alamiah.

Selama bulan puasa, selalu ada tetangga yang mendadak berjualan kolak atau asinan betawi. Asinannya khas, pakai daun tikim dan kuahnya bukan kuah kacang seperti asinan yang kita kenal sekarang. Lebih seperti asinan Bogor.

Depot es selalu ramai oleh orang yang membeli es-sirop. Biasanya anak-anak membawa rantang untuk membelinya. Biasanya penjual akan menuangkan sekitar 1/10 isi botol sirop (biasanya berwarna merah atau hijau), lalu diberi es batu. Nanti di rumah baru ditambah air. Maklum, jaman itu belum banyak orang yang memiliki kulkas. Hanya orang-orang kaya saja yang memilikinya. Siropnya juga belum memiliki macam-macam rasa seperti sirop sekarang.

Nah, kalau bulan puasa, anak-anak tetangga tidak bisa menonton tv di rumah. Ruang yang biasa kami gunakan untuk nonton tv sudah dibersihkan dari meja dan kursi. Berganti dengan lembaran tikar pandan yang lembut dan harum. Entah sejak kapan, rumah kami memang selalu digunakan sebagai tempat shalat tarawih bagi perempuan kampung kami. Imamnya nenek saya bergantian dengan mak Khadijah yang biasa kami panggil mak Dije atau mak Odah (Saodah) guru mengaji di kampung. Jadi selama bulan puasa, kami kuga libur mengaji.

Anak-anak seumuran saya (kelas 2 - 3 SD) biasanya hanya ikut-ikutan satu dua rakaat sambil cekikikan di shaf paling belakang.  Sesudahnya, biasanya kami keluar rumah, bermain di halaman. Biasanya main galasin, ular naga atau petak umpet hingga para ibu selesai tarawih. Seru, rame.... Malam-malam pada bulan puasa di kampung-kampung selalu ramai dengan anak-anak yang bermain, apalagi karena anak sekolah libur selama sebulan penuh.

Entah bagaimana kesenangan anak lelaki di mushala. Oh ya, istilah mushola juga baru sekarang saja populer. Dulu kami biasa menyebutkan sebagai Langgar, atau kalau di Sumatera Barat disebut surau. Yang paling menyenangkan adalah saat Nuzulul Qur'an, karena sebagian ibu-ibu yang Shalat Tarawih membawa kue-kue untuk disantap usai shalat. Karena, mereka shalat di rumah kami, maka saya sering bolak-balik ruang makan untuk "mencuri" kue dan dibagikan kepada teman-teman yang sudah menunggu di depan rumah. 

Pada malam-malam itu juga banyak pedagang keliling. Yang paling ditunggu adalah pedagang es krim. Es puter sebetulnya, karena dibuat dari santan. Di jualnya dalam angkring dan yang sangat khas, gelas sajinya adalah gelas berkaki dari plastik bening. Rasanya enak lho. Selain pedagang es krim, ada pedagang rebusan, yang dijual adalah kacang, ubi, singkong jagung dan pisang rebus, masih di letakkan pada dandang berisi air panas. Jadi masih ngebul hangat.

Yang namanya Fried Chicken, aduh jauh deh.... kebanyakan masyarakat jaman itu, hanya makan ayam (opor atau semur ayam) setahun sekali, ya saat lebaran saja. Mie baso juga belum dikenal umum. Kalaupun ada yang menjual, masyarakat Betawi tradisional tidak akan pernah membelinya. Itu makanan khas etnis Cina.... Maklum baso atau ba' dikonotasikan dengan babi. Ya jadi, haramlah dia. Padahal konon kabarnya baso tidak mungkin dibuat dari daging babi yang sangat berlemak. Tapi kuah kaldunya sangat mungkin dibuat dari kaldu babi sehingga gurih berminyak.

Nanti ya, saya cerita lagi tentang lebaran jadoel dan persiapannya. 

Kamis, 12 Juni 2014

Kita dan bahasa asing

Indonesia
Perkenalan pertama saya dengan bahasa asing, terjadi saat saya duduk di kelas 4 SD di sebuah sekolah dasar swasta di kota kecil yang sejuk, terletak di tatar Parahyangan yang indah. Saat itu ... pembelajaran bahasa asing di sekolah dasar masih sangat tidak umum. Bahkan sekolah dasar negeri masih memberlakukan bahasa lokal/daerah sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran seluruh mata pelajaran di kelas 1 hingga kelas 4. Baru di kelas 5 dan 6, murid diajar dengan bahasa pengantar bahasa nasional, bahasa Indonesia. Jadi "boro-boro" bahasa Inggris ... wong bahasa Indonesia saja tidak/belum menjadi bahasa pengantar resmi pembelajaran di SD kok. 

Itu sebabnya, walau SD Negeri letaknya hanya sekitar 100m dari rumah tempat kediaman kami saat itu, kedua orangtua saya, memasukkan saya ke sekolah swasta yang lokasinya lumayan jauh. Istimewanya ... murid Sekolah Swasta yang baik di berbagai kota manapun di Indonesia, umumnya berasal dari etnis Cina dan ini, sepertinya tetap berlangsung hingga sekarang. Bedanya dengan sekolah swasta abad ke 21, walau sama kualitasnya ... tanpa berminat untuk bicara soal SARA, sekolah swasta yang baik dan berlabel Islam hanya akan dimasuki hanya oleh murid yang beragama Islam.... Namun sekolah swasta berlabel Kristen/Katholik ... walau mayoritas muridnya beragama kristen/katholik, namun tetap ada yang beragama Islam, walau jumlahnya tentu minoritas. Mungkin ada sekitar 10% jumlahnya. Ini berarti murid beragama Islam harus konsekuen dengan pilihan sekolah untuk wajib ikut ibadah mingguan ke gereja. Lepas dari apakah di gereja dia hanya duduk diam saja dan tidak mengikuti ritual ibadah. Namun kehadiran atau masuk gereja pada jam pelajaran pertama 1 kali/minggu adalah suatu keharusan.

Nah ... kembali kepada pengajaran bahasa.
Jadi, definisi bahasa asing buat saya adalah bahasa selain bahasa ibu atau bahasa tutur sehari-hari. Bisa bahasa yang benar-benar asing, yaitu bahasa dari negeri luar atau bahasa daerah selain bahasa ibu yang kita kenal sejak lahir.

United Kingdom
Pada saat saya duduk di bangku SMP, masih di wilayah Jawa Barat, bahasa Sunda masih masuk ke dalam mata ajaran "wajib" ada dalam kurikulum. Bahasa Sunda "tinggi" dalam arti bukan bahasa sehari-hari menjadi santapan pelajaran minimal 2 jam pelajaran per minggu. Bayangkan saja ... murid yang "asli" Sunda saja kesulitan mengikuti pelajaran tersebut, apalagi saya. Repot betul menghafal pupuh kinanti dan beragam bahasa Sunda kelas tinggi yang seperti bahasa Jawa, memiliki 'tingkatan/derajat" penggunaannya.

Pelajaran bahasa Indonesia, walau masih tetap diperkenalkan pada tata bahasa, namun murid juga dilatih untuk "menulis", menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan. Pelajaran atau lebih tepatnya tugas yang paling menyenangkan bagi sebagian orang dan menyebalkan bagi sebagian yang lain adalah mengarang. Tugas ini menjadi ciri khas "pengantar - pembuka" sesi pelajaran bahasa Indonesia. Setiap awal pelajaran setelah libur panjang, maka murid alias siswa diberi tugas mengarang bebas. Umumnya menceritakan kegiatan selama libur atau karangan bebas lainnya.

Tugas lainnya adalah kewajiban membaca buku kesusastraan yang masuk kategori " sastra klasik" Indonesia, seperti karangan-karangan dari Nur St Iskandar, Marah Rusli, STA alias Sutan Takdir Alisyahbana, Amin Dt Madjoindo, Utuy T Sontani, Pramoedia Ananta Toer, Hamka dan lainnya. Adalah suatu keberuntungan bagi saya, karena almarhumah ibu adalah penggemar kesusastraan sehingga buku-buku tersebut tersedia lengkap di rumah. Sayang ... tugas ayah yang selalu berpindah kota menyebabkan buku-buku sastra klasik Indonesia itu hilang tak berbekas, entah dimana.

Itu juga, mungkin sebab... siswa jaman "baheula" cukup akrab dengan kesusastraan klasik Indonesia, sementara siswa abad 21 ini lebih akrab dengan cerita model chick-lit alias chicken literature (adakah yang tahu mengapa disebut chicken literature?)

Bahasa asing pertama yang saya kenal tentu saja bahasa Inggris, dimulai dari kelas 4 SD hingga SMA. Pengenalan bahasa Inggris di sekolah lebih pada tata bahasa dan kesempatan untuk berbicara relatif tidak ada. Fasilitas laboratorium bahasa belum dan sangat tidak umum. Saya hampir yakin, bahkan hingga abad ke 21 ini belum semua sekolah terutama di tingkat SMA memiliki laboratorium bahasa. Bedanya, generasi sekarang atau minimal generasi yang lahir pada tahun 1980an masih memiliki kesempatan menonton film anak-anak tanpa dubbing sehingga mereka bisa belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris dengan pengucapan "asli" dari penutur bahasanya. Apalagi ditunjang dengan tempat kursus bahasa asing dan pada abad 21 ini banyak sekolah berlabel asing yang sangat menjamur dan "mensyaratkan" penggunaan bahasa asing/Inggris sebagai bahasa pengantar penuh. 

USA
Sekolah model begini banyak diminati orangtua "muda" perkotaan dari kalangan menengah atas. Itu sebabnya saat ini banyak ditemukan anak-anak sekolah terutama pada tingkat SD yang lebih mahir berbahasa Inggris daripada bahasa ibunya, walau kedua orangtua mereka asli Indonesia.

Bahasa asing ke 2 yang saya kenal adalah bahasa Jerman, saat duduk di bangku SMA. Pengajarnya seorang Frater berasal dari Jerman yang kebetulan juga menjadi pastor penanggung jawab paroki yang menaungi sekolah katholik di sebuah kota Sumatera. Saat itu, saya memang bersekolah di SMA Katholik hingga tamat SMA yang saja jalani di dua kota. Bahasa Jerman yang hanya selintas, sama sekali tidak berbekas di alam pikiran saya. Di kelas 2 SMA, siswa memang seolah wajib mengenal bahasa asing lainnya, selain bahasa Inggris dan sekolah saya "memilih" bahasa Jerman. 

Bahasa asing ke 3 yang saya kenal dan tetap akrab hingga kini adalah bahasa Perancis. Mungkin ini takdir dan jalan hidup saya. Saat baru beberapa bulan kuliah, saya pernah menulis "wish list", salah satunya adalah mengunjungi Paris "tanpa tujuan" pasti untuk apa. Bahasa Perancis kemudian menjadi wajib dipelajari ketika suami meminta saya cuti kuliah dan ikut "nyantri" di negerinya Valerie Giscard d'Estaing. Presiden Perancis kala itu. Apa boleh buatlah, demi suami saya mewajibkan diri bersengau-sengau sambil stress luar biasa.

Stress pertama, ketika baru 3 bulan belajar seadanya di Jakarta, kami harus tinggal di asrama mahasiswa di suatu kota kecil sekitar 500km di sebelah barat daya Paris sebelum akhirnya tinggal di sebuah studio au rez de chaussée keluarga asli Perancis. Saat itu, hanya ada 3 orang Indonesia, satu di antaranya seorang dosen dari ITB, malah sudah hampir selesai thesis doktornya. Beragam pengalaman sedih dan lucu dialami gara-gara komunikasi yang kurang lancar. Satu yang paling saya ingat dan membekas adalah saat membeli tiket bus kota, dengan dialog yang masih saya ingat persis


Perancis
"Un billet de quinzaine s'il vous plaît!"
(Minta tiket 15 hari-an ..)
"Quoi ...?"
(apa?)
"Quinzaine ....!"
(15 hari-an)
"Repetez, s'il vous plaît ...!
(tolong ulangi)
"Quinzaine ....!"
(15 hari-an)
"Je ne comprends pas!"
(saya nggak ngerti)
"Quinzaine ....!"
(15 hari-an)
"Non .... desole madame ....!"
(maaf bu .....!)

Entah apa yang didengar penjual tiket bus itu, sampai dia tidak mengerti apa yang saya ucapkan. Sedih ... sebal .... ingin marah ..., tapi mau apalagi...? Saya sendiri berdiri di depan kios penjualan tiket. Untung tidak ada antrian di belakang... Sampai akhirnya timbul akal untuk menyebutkannya dengan angka yang artinya paling mendekati.
"Un billet de deux semaines, s'il vous plaît!"
("saya ingin tiket dua mingguan)
"Ah ..... c'est ça ce que vous vouliez dire ....!"
(ah .... itu yang anda maksud ...!)

Akhirnya ... mengerti juga dia, apa yang saya maksud ..... Tiket bus untuk 15 harian atau 2 mingguan. Hadooooohhhhh ...... 
Rupanya aksen pengucapan saya untuk kata Quinzaine (15an) sangat tidak tepat. Mungkin terdengar cempreng seperti aksen orang Asia pada umumnya.

Cerita tentang aksen pada pengucapan suatu kata memang tidak bisa lepas dari mulut setiap orang yang bukan penutur asli. Coba saja kita dengar.... Penutur bahasa Jawa sebagai bahasa ibu akan selalu memulai suatu kata dengan huruf N untuk kata yang dimulai dengan huruf D. Seperti misalnya kata "duwe" akan terdengar sebagai "nduwe" atau "delok" sebagai "ndelok" dan "deso" sebagai "ndeso".

Saya masih ingat, suatu hari, seorang mantan penjaga bagian souvenir di Toserba Sarinah-Thamrin yang menikah dengan guru matematika berasal dari Perancis dan kemudian tinggal di suatu kota kecil tidak jauh dari Poitiers datang berkunjung. Setelah ngobrol panjang lebar, dia bercerita tentang resep-resep makanan sederhana dengan bahan makanan yang bisa kita peroleh di kota kecil itu. Yang paling berkesan dan tidak akan pernah terlupakan adalah saat dia mengucapkannya dalam bahasa Perancis yang sangat fasih tapi dalam aksen Jawa pedalaman yang sangat kental ...


"Alors ..... arroser avec nde l'eau bouillon....!" 
Ciri khas pengucapan huruf N di depan kata berawalan D sangat jelas terdengar ... Antara ingin tertawa karena terdengar lucu, tapi maklum ... karena, aksen pengucapan dalam bahasa ibunya memang sukar hilang.

Jadi ..... sebetulnya, tidak perlu minder dan juga tidak perlu mentertawakan orang yang dalam mengucapkan bahasa asing terdengar lucu dan kurang tepat. Dengarkan saja dengan baik bagaimana pengucapan orang-orang yang berasal dari Cina-Jepang-Korea-Vietnam tatkala berbahasa Inggris. Begitu juga mereka yang berasal dari bagian tengah  Afrika tatkala berbahasa Perancis, padahal sebagian dari mereka adalah negara Francophone

Kalau kita bisa memaklumi aksen ajaib para penutur bahasa asing yang berkulit bule itu saat berbicara dalam bahasa Indonesia, mengapa kita harus mentertawai aksen lokal bangsa Indonesia yang terdengar kurang pas pada saat bicara dalam bahasa asing? Bukankah itu suatu hal yang wajar ...?

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...