Senin, 27 Agustus 2007

Upacara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia Tahun Akademik 2007 – 2008 24 – 25 Agustus 2007

Minggu ke 3 bulan Agustus 2007 yang lalu, di tengah kesibukan kerja, ada sms masuk. Isinya singkat …”istri guru besar diundang untuk hadir dalam upacara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru”. Saya cuma membalas singkat saja; “tumben…?!” Maklum, nggak ngerti atau lebih tepatnya, tidak perduli dengan aturan protokoler di kalangan Universitas. Saya pikir, ini cuma ulah iseng suami saja. Dia tahu persis bahwa sesekali, saya ingin menghadiri acara wisuda sarjana. Kangen dengan hiruk pikuk ulah mahasiswa baru dan para wisudawan. Kangen mendengar hymne Universitas

….. Godeamus Igitur…..
…..  ium venes dum sumus …..
………………….
.
…….Viva academia……
…… Viva Professores ………..

Itulah penggalan awal Hymne wajib  di setiap acara resmi Universitas, yang selalu menggetarkan hati. Yang membuat airmata menetes tak terasa. Itu sebabnya, menjelang awal Februari dan September, saya selalu menanyakan, kalau-kalau ada undangan menghadiri acara wisuda.

Tapi, undangan memang hanya dibagikan untuk kalangan terbatas saja. Tidak semua staff pengajar mendapat undangan. Biasanya, hanya kalangan pejabat saja, dari tingkat universitas hingga tingkat Departemen (ketua dan wakil-wakilnya). Dulu, sampai awal tahun 1990an, kepala laboratorium masih mendapat undangan. Jadi saya masih punya kesempatan untuk hadir, “nunut suami”. Itupun seringkali tidak sempat terpakai, karena ada saja teman atau kerabat yang membutuhkan undangan tambahan untuk menghadiri anggota keluarganya di wisuda. Akibatnya, undangan seringkali beralih tangan. Maklum, sebagai “orang dalam”, staff pengajar pasti mendapat tempat yang “enak”, yaitu di dalam Balairung sehingga bisa mengikuti acara secara langsung.

Seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa baik mahasiswa baru maupun wisudawan yang kemudian berdampak kepada ketidakmampuan Balairung Universitas Indonesia menampung “para peminat” acara wisuda dan penyambutan mahasiswa baru, maka undangan internal dibatasi. Rasanya, terakhir saya hadir sekitar 15 tahun yang lalu.

Begitulah, akhir minggu lalu saya menerima undangan untuk menghadiri acara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru. Tidak tangung-tanggung,  3 buah sekaligus. Bukan sekedar undangan yang “nebeng” suami …. tapi betul-betul ditujukan untuk saya. Walaupun …. Hahaha…. tetap saja, sebagai “sub ordinate” karena di sampul surat tertulis kepada yth Ny. RAK. Bukan nama saya sebagai individu.

Duh …., beginilah “nasib” saya kalau lagi back to campus. Kehilangan identitas diri. Seingat saya, baru dua kali saya back to campus sebagai individu. Sebagai diri sendiri….. Keduanya saat diminta “Tiu” jadi reviewer tugas “real estate” mahasiswa Arsitektur.

Itu sebabnya saya nggak terlalu suka ikut kegiatan di kampus karena akses saya memang hanya melalui kegiatan “Dharma Wanita”. Untungnya, sejak awal, suami tidak mewajibkan untuk ikut-ikutan kegiatan tersebut. Bahwa kemudian saya sedikit sekali mengenal istri staff pengajar/karyawan atau karyawati. Tentu ini merupakan konsekuensinya. Tapi nggak apa-apalah … Jadi saya tidak harus merasa “memiliki kekuasaan” yang mengikuti jabatan suami untuk kemudian merasa “kehilangan” saat suami meninggalkan jabatan. Bahkan bila saat datang ke acara family gathering di kampus tanpa ada karyawan yang menyapa ….karena tidak kenal… Hm …. Biar sajalah….!!! Nikmat juga lho jadi anonym!!!
*****

Tahun 2007 ini,  acara wisuda Universitas Indonesia dibagi menjadi 3 bagian. Jum’at siang 24 Agustus jam 15.00 untuk acara Wisuda Sarjana (S1) dan Penyambutan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2007 - 2008, Sabtu 25 Agustus jam 09.00 acara Wisuda Magister (S2) dan Doktor (S3) dan terakhir pada jam 15.00 hari yang sama, acara Wisuda Program Diploma.

Bisa dibayangkan, betapa melelahkannya acara tersebut bagi penyelenggara (Panitya) dan para Pejabat Universitas, yaitu Rektor beserta wakil-wakilnya, Ketua Majelis Wali Amanat - MWA, Ketua Senat Akademik Universitas – SAU serta Ketua Dewan Guru Besar – DGB yang “wajib hadir”. Buat para anggotanya, walaupun mereka mendapat undangan, tentu masih punya pilihan. Hadir atau tidak.
*****

Hari Jum’at itu, adalah hari yang padat sekali. Suami punya acara di sebuah rumah sakit di daerah Kedoya. Sementara saya harus hadir pada weekly meeting di Godila, disambung dengan tandatangan akta di Kuningan. Kalau sempat … dan harus sempat untuk mampir ke kantor, shalat dhuhur sebelum berangkat ke Depok. Suami sudah wanti-wanti …. Hati-hati …. Arah ke kampus UI pasti macet oleh mobil-mobil keluarga para wisudawan. Jadi jangan sampai telat. Minimal 2 jam sebelum acara dimulai, sudah harus berangkat.

Namun …. Kendala selalu ada. Sampai di kantor, sekitar jam 12.30, tidak bisa langsung shalat. Ada banyak masalah yang mesti didiskusikan lebih dulu. Untung pada jam 13.00, suami menelpon. Memberitahu bahwa dia baru berangkat dari Kedoya. Hal ini mengingatkan saya untuk segera shalat dan berangkat setelah mengusulkan bertemu di rumah sebelum berangkat ke Depok, sehingga kami tidak harus menggunakan dua kendaraan berbeda.

Singkat kata, jam 14.30 kami baru memasuki pelataran parkir. Jalan menuju Depok ternyata cukup lancar karena seluruh wisudawan dan mahasiswa baru dengan jaket kuningnya sudah duduk manis di dalam Balairung. Sayangnya, keluarga wisudawan terpaksa duduk di bawah tenda di sekeliling Balairung.

Rektor UI yang baru beberapa hari dilantik, dan para Guru Besar (anak saya selalu menyebutnya “para penyihir”)  sedang bersiap untuk ber – foto – ria sebelum memasuki ruang upacara. Pelayanan tempat duduk cukup ketat. Untungnya, lokasi Area B yang tertera di undangan cukup strategis. Berada di sebelah kiri podium dan kebetulan berdekatan dengan tempat duduk wisudawan Fakultas Teknik. Ibu-ibu yang hadir semuanya berdandan rapi. Berkain – kebaya lengkap dengan sanggul dan perhiasannya. Sementara saya datang dengan pakaian kerja. Bau keringat lagi. ….
*****

Balairung Universitas Indonesia yang secara resmi mulai digunakan sejak tahun 1987 sudah tidak mampu menampung kegiatan rutin setiap semester ini. Bahkan sebagian wisudawan ada yang ditempatkan di bawah tenda. Itu sebabnya wisuda dilaksanakan dalam 3 tahap. Entah bagaimana perhitungan jumlah wisudawan dan mahasiswa yang menjadi acuan saat perencanaan dulu.serta proyeksi peningkatannya. Yang pasti …..Balairung Universitas Indonesia bahkan sudah tidak mampu menampung kegiatan penerimaan Mahasiswa Baru dan Wisuda Sarjana (S1) sekalipun. Kegiatan penting yang menjadi “daftar wajib hadir” para orangtua dan keluarga. 
*****

Tepat jam 15.00, acara dimulai dengan meminta para hadirin berdiri, “menghormati” para guru besar Universitas Indonesia memasuki ruangan upacara yang dipandu oleh seorang pedel. Privilege seperti ini mungkin yang menyebabkan banyak “orang penting” Negara ini merasa “berkewajiban” menyandangkan gelar “professor” di depan namanya. Walaupun professor tanpa pernah tercatat sebagai dosen di suatu Universitas. Padahal, sesungguhnya professor yang guru besar itu hanya layak disandang oleh orang yang berprofesi sebagai dosen. Guru di sebuah universitas. Bukan gelar yang dipakai hanya untuk “bergaya” sebagai bagian dari kaum intelektual universitas.

Hymne Universitas yang menggetarkan hati, lagu Kebangsaan yang dinyanyikan oleh paduan suara mahasiswa, mengheningkan cipta serta pembacaan doa mengawali acara. Lalu upacara wisuda sarjana secara simbolis oleh Rektor kepada para wisudawan, diwakili oleh sepasang wisudawan dari masing-masing fakultas.

Acara yang semula hening mulai riuh karena saat wakil dari setiap fakultas dipanggil naik ke podium, maka para wisudawan dari fakultas tersebut meneriakkan yel-yel yang segera disambut oleh mahasiswa baru dari fakultas yang sama.

Dulu …. Dulu sekali, Fakultas Teknik selalu dikenal sebagai Fakultas yang paling “gaduh namun kompak” dengan yel-yelnya. Namun sekarang, rupanya keadaan sudah berubah. Saat wakil dari Fakultas Teknik naik panggung, biasanya wisudawan lainnya berdiri sambil meneriakkan yel-yel. Namun, kali ini yel-yel diteriakkan wisudawan dengan “ogah-ogahan” tanpa disambut oleh mahasiswa baru. Bahkan, saya menghitung hanya ada 7 baris wisudawan terdepan yang berdiri. Selebihnya tetap duduk tak acuh dengan upacara simbolis tersebut. Kini wisudawan Fakultas Ekonomi dan Fakultas Psikologi yang terlihat sangat kompak. Jaman memang sudah berubah.

Usai wisuda, acara dilanjutkan dengan penerimaan mahasiswa baru yang ditandai dengan pemasngan peci oleh Rektor kepada wakil mahasiswa baru dari Program Internasional dan Program Reguler, penyerahan simbolis “kendi ilmu” dari wisudawan kepada mahasiswa baru dan ditutup dengan pembacaan janji wisudawan, janji mahasiswa.

Acara kemudian ditutup. Rektor dan rombongan guru besar keluar Balairung menuju ruang resepsi, melewati tempat dimana para istri duduk untuk kemudian menuju ruang resepsi. Disana, Rektor dan istri didampingi oleh Ketua MWA dan SAU masing-masing dengan istri menerima ucapan selamat dari para guru besar dan istri serta undangan acara resepsi tersebut, sebelum mencicipi hidangan.

Begitulah singkat kata, Upacara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia Tahun Akademi 2007 – 2008 yang diselenggarakan di Balairung UI – Depok. Saya tidak menghadiri Wisuda Program Magister dan Doktor serta Wisuda Program Diploma pada hari Sabtu. Beberapa fakultas, masih melanjutkan acara wisuda di fakultas masing –masing. Namun kali ini, Fakultas Teknik tidak menyelenggarakannya.

Menjelang maghrib, keriuhan acara masih terasa …. Sesi foto dengan keluarga, dosen pembimbing, teman-teman dan tak lupa dengan pacar terkasih, terlihat disana – sini. Ada tawa gembira menyeruak dari setiap sudut. Semua bahagia … semua gembira ….. melupakan sejenak bahwa wisuda adalah awal dari perjuangan hidup yang sebenarnya di masyarakat.

Lebak bulus, minggu 26 Agustus 2007

Kamis, 23 Agustus 2007

“Escort Boy”, Penunjang keberhasilan?

Hari ini, Sabtu 18 Agustus 2007, majelis rumpi dibuka kembali. Mestinya classe conversation dimulai Sabtu tanggal 11. tapi karena hari sabtu pada minggu yang lalu tanggal merah, maka kelas rumpi baru dimulai hari ini.

Esti … (entah siapa dia), guru yang harusnya mengajar, tanpa alasan yang jelas, ternyata juga tidak hadir. Dia diganti oleh Esther yang konon kabarnya bekerja di Ambassade de FranceJakarta. Esther pernah masuk kelas kami saat kelas masih dipegang Hapsari. Orangnya rame, jadi cocok untuk ngajar di classe conversation. Hari Sabtu ini, Esther masuk dengan setumpuk artikel untuk bahan obrolan kami.

Salah satu artikel yang menjadi pembuka obrolan adalah copy dari majalah Femme Actuelle terbitan tahun 2000 judulnya “Elles ont loue un homme de compagnie pour un soir.[1]. Isi artikel tersebut tentang kecenderungan perempuan pelaku bisnis di Perancis menyewa lelaki (escort) untuk menemaninya dalam menghadiri pertemuan bisnis yang diselenggarakan pada malam hari dan biasanya berupa makan malam. Alasan mereka menyewa seorang escort boy, bermacam-macam, Ada yang dikarenakan sang suami sedang berada di luar kota sehingga tidak dapat mendampingi istrinya. Atau karena si suami dianggap “kurang gaul dan kurang intelek” sehingga dikhawatirkan malah “merusak” suasana atau bisa juga karena hubungan pasangan suami istri tersebut memang sedang bermasalah. Dalam kondisi seperti ini, tentu tidak mungkin mengharap suami mau mendampingi istri bertemu dengan para kolega bisnisnya.

Dari beberapa kesaksian dalam artikel tersebut, semuanya mengakui bahwa keberadaan escort boy telah melancarkan perundingan yang dilakukan. Agak mengherankan, bahwa deal yang dilakukan oleh perempuan pebisnis di Perancis harus melibatkan lelaki. Entah apakah lelaki itu berstatus suami dari perempuan pelaku bisnis atau hanya sekedar escort.

Escort sebetulnya bukan profesi baru. Awalnya, escort adalah profesi yang dijalani oleh perempuan yaitu sebagai pendamping pelaku bisnis (lelaki) dalam berbagai pertemuan dan perundingan. Mereka umumnya perempuan-perempuan yang dianggap sangat mengenal “tata karma” dalam melayani lelaki terutama dalam menghidupkan suasana pertemuan dengan obrolan-obrolan yang “berbobot”. Pendek kata, mereka adalah perempuan yang “paripurna” dalam melayani kebutuhan lelaki. Geisha di Jepang merupakan salah satu contoh profesi “escort”.

Tahun 1970an, di Hong Kong, jasa escort sudah diiklankan secara terbuka baik di koran maupun dalam yellow pages. Namun di Indonesia, bahkan hingga saat ini escort tidak pernah terlihat mengiklankan diri. Namun orang-orang tertentu yang bertugas mencari escort pasti sangat paham apa, bagaimana dan dimana mencarinya..tidak mengherankan bila kemudian, karena sifat pekerjaannya tersebut, maka “lady escort” memang sangat dekat dengan prostitusi kelas tinggi. 

Entah kapan lelaki mulai tertarik untuk menekuni profesi sebagai escort boy. Mungkin sejak banyak perempuan mulai memimpin perusahaan sehingga mereka mau tidak mau harus melakukan serangkaian pertemuan-pertemuan dan perundingan-perundingan “tingkat tinggi” terutama yang dilaksanakan pada malam hari.

Namun demikian, alasan penggunaan jasa escort yang dilakukan lelaki dan perempuan memiliki perbedaan yang sangat besar. Kaum lelaki hampir dipastikan memerlukan jasa lady escort dalam setiap “pertemuan” bisnis yang dianggap penting dan menguras pikiran dengan harapan agar sang “lady escort” dengan segala kepiawaiannya dapat menghidupkan suasana yang tegang, mencairkan kebuntuan perundingan, memuluskan dan bahkan mempengaruhi para pengambil keputusan agar berpihak pada kepentingan pihak yang menyewanya dengan cara yang tidak pernah bisa kita bayangkan.

Sementara itu, perempuan membutuhkan escort boy disebabkan oleh pandangan dan kelaziman bahwa perempuan tidak pantas berada di luar rumah pada malam hari walaupun hal itu dilakukan murni untuk suatu pertemuan bisnis. Seperti dikatakan dalam artikel yang dibahas tersebut, yaitu “Venir non accompagnee a un diner d’affairs serait mal percu: une femme seule, c’est suspect, cela fait opportuniste, dragueuse, prêt a tout faire pour decrocher un contrat… elle n’est pas prise au serieux. On la regarde de travers[2]

Alasan ini terasa sangat melecehkan kemampuan perempuan dalam bekerja dan sangat mengherankan bila di negara maju seperti Perancis sekalipun, pandangan masyarakat bisnis terhadap perempuan masih sangat konservatif. Entah apa latar belakang dari pandangan tersebut. Bisa jadi karena “label” yang melekat pada masa lalu. Perempuan adalah “bunga” kehidupan lelaki. Bukan sebagai subyek tetapi lebih dipandang sebagai obyek.

Mereka yang berprofesi sebagai escort, bertugas sebagai “penyemarak” pesta. Bisa dikonotasikan sebagai perempuan penghibur, Obyek kesenangan lelaki dan persepsi tersebut masih tetap kuat terekam dalam lingkungan bisnis yang notabene “dikuasai” para lelaki. Padahal, waktu berjalan terus dan begitu banyak perubahan yang terjadi di dunia bisnis dan kemampuan perempuan dalam mengelola perusahaan/bisnis tidak perlu diragukan lagi. Tidak ada perbedaan kemampuan antara perempuan dan lelaki dalam menyelesaikan pekerjaan.

Atau mungkinkah bahwa masih kuatnya persepsi “perempuan harus didampingi lelaki” dalam melakukan bisnis, merupakan bukti ketidaksiapan lelaki menerima kekalahan dari mahluk bernama perempuan. Bahwa perempuan memiliki kemampuan ganda, yaitu sebagai pelaku bisnis sekaligus penyemarak suasana. Bahwa sebetulnya, untuk memenangkan suatu “business deal”, perempuan tidak memerlukan escort boy yang berfungsi untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. Hal yang tidak dimiliki lelaki karena lelaki, sekali lagi ....karena lelaki, sepanjang jaman selalu membutuhkan lady escort dalam hampir setiap business deal.

Entahlah!!! Apakah hal ini menguntungkan atau malah melecehkan perempuan?

Lebak bulus 18 Agustus 2007 jam 22.25



[1] Mereka menyewa lelaki pendamping untuk suatu pertemuan (malam hari)
[2] (Perempuan yang) Hadir tanpa pendamping dalam acara makan malam bisnis, dianggap kurang layak. Perempuan sendiri, dicurigai, dianggap opportunist, penggoda, siap melakukan apapun untuk memperoleh kontrak. Dia tidak dianggap serius dan disepelekan.

Rabu, 22 Agustus 2007

Pasar Tradisional vs Hypermarket. Bersaing dalam era global.

Sejak ibu saya menderita komplikasi dari diabetes mellitus yang dideritanya sejak 15 tahun yang lalu, saya menjadi pelanggan pasar tradisional di Pondok Labu – Jakarta Selatan. Hal ini sudah berlangsung hampir enam bulan terakhir.

Sebelumnya, ibu saya selalu rajin berbelanja di pasar yang sama. Selain karena harganya lebih murah (katanya), berbelanja ke pasar tradisional menjadi salah satu kegiatannya sehari-hari selain mengaji. Anggaplah sebagai bagian dari kegiatan olahraga pengganti setelah beliau berhenti total dari kegiatannya main golf.

Saya sendiri agak malas belanja ke pasar tradisional. Sejak kembali ke Indonesia di tahun 1985, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke pasar tradisional. Alasannya klasik. Tidak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersama keluarga sehingga berbelanja harus merupakan aktifitas keluarga. Dan tempat yang memenuhi syarat untuk berbelanja sambil beraktifitas bersama keluarga adalah berbelanja di supermarket. Apalagi sekarang supermarket bertaburan dimana-mana. Jakarta bahkan sudah dipenuhi oleh hypermarket yang luasnya sudah puluhan ribu meter persegi. Yang menyediakan seluruh kebutuhan manusia dari mulai kebutuhan primer maupun sekunder. Mereka bangga dengan sebutan one stop shopping dan berbelanja di pasar modern memiliki gengsi tersendiri.
*****

Pasar tradisional di Indonesia, khususnya di Jakarta, walau sudah dibangun bertingkat dan dikelola “secara professional” oleh PD Pasar Jaya, ternyata belum beranjak jauh dari ciri-cirinya sejak jaman dulu. Kotor, kumuh, sumpek dan berbau busuk. Fasilitas umum berupa toilet dan mushola sangat tidak memadai. Air tidak mengalir sehingga akibatnya menebarkan aroma tidak sedap.

Area perparkiran tidak jauh berbeda. Selalu dipenuhi oleh pedagang yang menggelar dagangannya dan mereka menjadi pesaing bagi pedagang resmi yang berada di dalam bangunan pasar. Sukar untuk menyebut mereka yang berjualan di pelataran parkir sebagai pedagang liar. Nyatanya, mereka berdagang dengan aman di tempat itu.

Tidak itu saja, di sekelililing bangunan pasar tradisional dimana saja di Indonesia, akan selalu ada “pasar kumuh” Orang sering menamakannya sebagai pasar bawah untuk membedakan dengan pasar atas yang berlokasi di dalam bangunan. Pasar bawah inilah yang semakin membuat kesemrawutan lingkungan. Menyumbang bebauan sampah dan becek. Sungguh sangat jauh dari kebersihan dan kesehatan lingkungan. Tetapi nyatanya orang tetap berbelanja dengan tenang.
*****

Awal tahun 1970an, Jakarta masih sepi dari supermarket. Kalaupun ada, hanya satu atau dua gerai yaitu Hero dan Gelael. Merekalah pionir pasar modern di Indonesia. Saat itu, jarang orang berbelanja di sana karena harga barang yang dijual relatif lebih mahal dari harga barang di pasar tradisional. Dengan demikian, konsumennyapun terbatas pada kalangan menengah ke atas saja.

Tahun 1980an mulai muncul Golden Trully dan Grasera. Keduanya menggelar komoditi sehari-hari di dalam gedung dengan area yang jauh lebih luas dan ragam jenis dagangan. Era one stop shopping di super store sudah dimulai. Masyarakat Jakarta mulai dididik untuk berbelanja di pertokoan modern. Persaingan antara pasar modern berupa super store dan pasar tradisional dimulai.

Seiring dengan perkembangan keberadaan supermarket dan hypermarket, perlindungan terhadap keberadaan pasar tradisional mulai terabaikan. Di atas kertas, keberadaan super store yang kemudian berkembang pesat menjadi hypermarket dibatasi. Harus berada pada radius sekian kilometer dari pasar tradisional dan tidak boleh menjual jenis komoditi tertentu yang menjadi jajaan di pasar tradisional. Namun kehadiran “pemain asing” yang dimulai dengan kehadiran “Continent” yang kemudian diakuisisi oleh Carrefour mengubah peta perpasaran di Indonesia terutama Jakarta.

Bayangkan …. Carrefour sanggup beroperasi selama 365 atau 366 hari per tahun. 7 hari per minggu dari jam 10.00 hingga 22.00. Tidak ada hari libur. Kalaupun tutup, itu hanya untuk kepentingan stock - recheck. Bayangkan … di hari Raya apapun juga mereka tetap beroperasi walaupun jam kerjanya digeser menjadi agak siang.

Carrefour juga merambah pertokoan di tengah kota. Tetap dengan konsep hypermarket dan one stop shopping. Dengan sangat piawai mereka “mengeduk” isi dompet semua kalangan dimana mereka berada dengan berbagai marketing’s gimmick. Tak ada Carrefour yang sepi pengunjung dan berbelanja di Carrefour saat week end menjadi sangat tidak nyaman lagi.

Tanyalah pada orang Perancis yang mungkin anda kenal, bagaimana komentar mereka tentang keberadaan Carrefour di Indonesia. Mereka tentu akan geleng-geleng kepala. Entah karena kagum akan keberhasilan Carrefour menggaet pengunjung atau karena tidak habis pikir akan “isi kepala” para pembuat keputusan di Indonesia sehingga Carrefour bisa semena-mena dan hampir-hampir tanpa batas untuk menentukan lokasi hypermarket serta jam dan hari beroperasinya. Hal yang hampir mustahil diperoleh di negara asalnya. Brnar-benar liberalisasi tanpa batas.

Jumlah Carrefour di Jakarta, ternyata, lebih banyak daripada jumlahnya di Paris. Bahkan anda tidak akan pernah menemukan satupun hypermarket, apakah itu bernama Carrefour, Mammouth, Euromarche atau apapun namanya di Paris ataupun kota-kota lainnya di Perancis, kecuali mereka di luar outer ring road yang berarti di pinggiran kota.

Kebijakan ini dimaksudkan agar toko-toko makanan tradisional yang menjual sayur-mayur dan buah-buahan, daging-dagingan (bouchery), toko roti (boulangery) tetap hidup dan menghidupi dinamika masyarakat. Bahkan pada hari-hari tertentu, terutama week end, di berbagai lapangan parkir (place – plaza) atau di sebagian/potongan jalan di pusat kota digelar pasar tradisional yang hanya beroperasi hingga tengah hari saja.

Di negara asalnya, Carrefour dan seluruh “pasar modern” apakah itu supermarket atau hypermarket tidak akan pernah diijinkan untuk buka 7 hari seminggu atau 365 atau 366 hari setahun. Jaringan perpasaran modern itu akan bergantian menutup tokonya.satu hari dalam seminggu. Dengan posisi sebagai “penguasa” jaringan retailer di Indonesia, bukan tidak mungkin kalau Carrefour menangguk keuntungan terbesarnya bukan di negara asalnya tetapi dari Indonesia. Di negara dunia ketiga yang berlokasi sangat jauh. Negara yang konon masih merangkak-rangkak mengemis pinjaman kepada pemerintahnya. Ironis sekali!!!!

Sungguh memprihatinkan kondisi perpasaran di Indonesia. Para pedagang lemah “dipaksa” bersaing dan berperang dengan pemodal raksasa tingkat dunia. Kalau pada awal keberadaan pasar modern bernama supermarket, hanya masyarakat golongan menengah atas yang mampu berbelanja, maka pada era Carrefour, seluruh golongan masyarakat memadatinya.

Harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dan bahkan terkadang lebih murah dari pasar tradisional. Kualitas barang-barangnya terjamin. Kesegaran buah-buahan dan sayur-mayur tidak perlu diragukan lagi. Dan yang terpenting, belanja di Carrefour bisa dimanfaatkan sebagai aktifitas keluarga.

Sungguh terasa sangat tidak adil menghadapkan para pedagang kecil pasar tradisional dengan segala kekumuhannya dengan pasar modern. Entah apa yang ada di dalam benak para pengambil keputusan di negeri ini tertutama mereka yang memberikan ijin operasi hypermarket. Lihat saja saat ini. Jangankan pasar tradisional, jaringan retailer lokal seperti Gelael dan Hero mulai menampakkan wajah yang semakin redup
*****

Sejujurnya, kalau saya kembali berbelanja ke pasar tradisional, tentu bukan karena alasan-alasan yang sok humanitarian. Kalau boleh diakui,  awalnya hanya untuk “menyenangkan” hati ibu saya yang selalu “membanggakan” pedagang sayur langganannya. Ada rasa penasaran, untuk mengetahui siapakah sosok pedagang sayur itu. Kesempatan itu datang saat ibu saya harus “mengungsi” ke Bandung dan kemudian dirawat di rumah sakit hampir selama satu bulan karena DMnya kambuh.

Kekumuhan, kemacetan, kesemrawutan dan bebauan busuk yang langsung menyergap hidung di sekitar pasar hampir menyurutkan langkah saya untuk berbelanja. Namun waktu terus berjalan. Di tengah segala kesemrawutan itu ada nuansa dan suasana yang berbeda dengan “dingin”nya hypermarket. Ada interaksi antara penjual dan pembeli, ada kehangatan hubungan kemanusiaan. Tukar menukar info atau berbagi pengalaman dalam menangani “sisa sayuran” yang tidak laku mewarnai suasana berbelanja dan kadangkala info yang diperoleh di pasar bermanfaat untuk dijadikan resep olahan jenis hidangan baru.

Secara umum, tanpa melihat kualitas dan kesegarannya terutama bila berbelanja terlalu siang, harga hampir sebagian besar komoditi kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional lebih murah dari supermarket. Namun, terkadang harga yang ditawarkan lebih mahal. Jadi, jangan terlalu berharap bahwa belanja di pasar tradisional akan lebih murah terutama bila kita termasuk jenis manusia yang tidak terlalu suka melakukan tawar menawar harga.

Mungkin ada baiknya bila kita mau mengubah paradigma yang ada di kepala, kala berbelanja di pasar tradisional. Jangan melakukan tawar menawar dengan pedagang kecil itu. Karena itulah yang kita lakukan saat kita berbelanja di hypermarket. Kasihan para pedagang kecil itu!! Niatkan saja bahwa aktifitas belanja di pasar tradisional adalah bagian dari “berbagi” rejeki dengan sesama, yaitu kepada para pedagang kecil. Nggak ada ruginya kok. Daripada uang kita terus menerus mengisi pundi-pundi para pemodal Perancis itu? Ayo … pilih yang mana?

Lebak bulus – 21 Agustus 2007 jam 22.45

Selasa, 21 Agustus 2007

Couscous


Description:
Couscous adalah menu orang-orang Maghreb (Maroko). Dibuat dari tepung yang diolah menjadi butiran halus berwarna kuning dan dimakan dengan sup berkuah merah dan daging. Yang asli dengan domba/kambing. Kalo nggak suka kambing, bisa dengan daging ayam atau sapi. Bisa juga disajikan dengan sosis arab (merguez namanya, campuran daging sapi+kambing+unta/keledai dan berbumbu). Sambalnya kalo yang asli bernama Harissa. Rasanya mirip dengan tabasco, tapi tidak "kecut".

Couscous (mentah) bisa dibeli di Carrefour. Biasanya di bagian pasta. Ada juga yang instant. Sudah lengkap dengan sup nya (dalam kaleng). Tapi rasa supnya nggak enak/segar. Maklum... makanan kaleng - penuh dengan pengawet.

Ingredients:
Bahan Dasar
1 pak couscous (500 gr)
50 gr kismis
100 gr mentega
2 sendok makan minyak goreng
500 ml air kaldu.

untuk sup.
 1 ekor ayam direbus hingga lunak dengan campuran bawang putih ceples dan garam. Ambil airnya untuk kaldu sedangkan ayam digoreng.
 3 siung bawang putih dimemarkan
 1 buah bawang bombany potong 8
 2 buah cabai merah/hijau dipotong 2 cm
 Masing-masing 1 bh wortel dan kentang dipotong kotak 1 x 1 cm
 50 gr kacang kapri atau peas
 1 buah jagung di sisir.
 2 sendok makan minyak untuk menumis
 5 cm kayumanis
 1/4 butir pala
 5 butir cengkeh
 150 ml saus tomat
 1 lt air kaldu ayam
 masing-masing 1/4 sendok teh oregano, basil, fenel dan sage (kalau suka)
 Garam dan penyedap secukupnya


Directions:
Untuk couscous
1. Panaskan minyak
2. Masukkan couscous dan kismis aduk sampai rata
3. Masukkan air aduk hingga air terserap habis. Rasakan... bila terasa masih keras tambahkan air secukupnya
4. Bila air sudah habis dan couscous terasa matang, matikan api dan masukkan mentega aduk hingga rata. sisihkan ke dalam mangkuk.

Untuk sup.
1. Panaskan minyak, masukkan bawang putih.
2. masukkan sayuran yang keras (wortel, jagung dan kentang) diaduk.
3. Masukkan semua bumbu dan kaldu.
4. Masak hingga matang

Penyajian (langsung 1 piring untuk dimakan)
1. sendok couscous seperlunya.
2. Tambahkan ayam goreng atau daging yang kita suka. Siram dengan sup.
3. Bila suka boleh ditambahkan dengan bawang goreng (yang ini khas Indonesia... hehehe)

Keterangan gambar :
Kanan (besar) couscous matang
Kiri bawah : sup saus merah
Kiri atas : ini campur aduk couscous yang saya makan... pake taburan bawang goreng... (gak asli.... karena orang Marocco gak kenal bawang goreng)

Kamis, 16 Agustus 2007

Juragan Jengkol vs miss Jengki.

Selama satu minggu ini, saya mendadak jadi juragan jengkol. Tahu, kan jengkol? Itu jenis buah berkulit tebal dan keras berwarna coklat kehitaman. Buah yang masih muda, oleh orang Sunda, seringkali dimakan sebagai salah satu bahan lalapan mentah. Orang Sumatera barat lebih suka makan jengkol balado atau dibuat gulai pedas yang bersantan pekat. Mereka menyebut jengkol sebagai “jariang




Entah bagaimana rasanya makan nasi berlauk jengkol. Konon, bagi yang suka jengkol, nikmatnya …. Bukan main!!!. Ibaratnya, mertua lewatpun lupa ditegur, saking asyiknya makan jengkol. Yang pasti … pemakan buah yang mengandung kadar asam oksalat tinggi ini, saat buang air kecil akan berbau tidak enak. Konon pula bagi yang tidak tahan atau terlalu banyak makan jengkol bisa terkena radang kandung kemih karena kristal asam oksalat akan menyumbat saluran air kemih.
*****

Awalnya, saya tidak sadar bahwa di balik tembok samping yang membatasi pekarangan dengan tanah kosong di sebelah, berdampingan dengan pohon petai di halaman samping, ada pohon jengkol. Selama lebih dari 15 tahun tinggal di lebak bulus, kami semua hanya tahu bahwa di halaman samping rumah ada pohon petai yang enak sekali. Buahnya bulat, padat dan sama sekali tidak pernah berulat. Petai ini menjadi idaman bagi kerabat dan teman-teman yang mengetahuinya. Setiap tahun menjelang akhir bulan Oktober, mereka sudah sibuk mengingatkan untuk minta disisihkan beberapa papan petai, kalau kami memanennya.

Tahun lalu, saat saya sedang menghitung-hitung petai yang sudah layak diturunkan, terlihat banyak “untaian” buah berwarna coklat kehitaman dengan bentuk melingkar-lingkar disela-sela daun petai. Buahnya terlihat ranum dan padat. Belum pernah saya melihat untaian buah seperti itu. Bolak-balik, saya amati buah yang berada pada dahan-dahan yang cukup tinggi. Sampai saat mata saya focus pada satu “mata” buah tersebut, sadarlah bahwa buah yang menarik perhatian saya itu adalah untaian jengkol. Untaian utuh jengkol yang masih berada pada dahannya. Baru sekali itu saya melihat jengkol utuh pada dahannya. Karena saya bukan penggemar jengkol, jadi buah itupun utuh tak terganggu.

Di keluarga kami, selain almarhum bapak, hanya adik lelaki terkecil dan ibu saya yang suka gulai atau balado jengkol. Yang lain tak ada yang suka. Baunya itu lho. Selagi mentah, baunya langu sekali … Kalau sudah matang dimasak …, sama saja. Karena itu, sama sekali tidak timbul keinginan untuk mencicipinya. Jadi sejak bapak saya meninggal dunia dan adik-adik menikah semua, jengkol tidak lagi terhidang di meja makan, kecuali kalau ada kerabat ibu  saya dari kampong menginap di rumah.
*****

Sabtu di minggu pertama bulan Agustus adalah semester break di CCF. Jadi saya punya cukup waktu di pagi hari untuk keliling halaman rumah. Melihat-lihat tanaman dan bebungaan yang tumbuh. Mengecek apakah stek adenium sudah tumbuh tunasnya, hingga sampailah saya di bawah pohon petai yang tumbuh berdampingan dengan pohon jengkol.

Wah… ada jengkol. Banyak sekali…………..  Entah kenapa terbersit tiba-tiba untuk memanggil Yana (Mulyana) si tukang kebun. Memintanya menurunkan jengkol yang terlihat sudah cukup tua. Dalam sekejap, diambilnya bamboo dan diikatkan pisau di ujungnya untuk pengerat batang untaian jengkol. Hanya beberapa untai jengkol saja yang diturunkan, ternyata sudah memenuhi setengah kantung kresek ukuran besar. Tidak terpikir sama sekali untuk apa jengkol-jengkol tersebut. Saya hanya tertarik pada untaiannya yang unik melingkar-lingkat.

Malam hari, tiba-tiba muncul ide … Kenapa tidak ditawarkan saja pada teman kantor? Siapa tahu ada yang suka makan jengkol. Walau dalam hati, agak ragu juga… heree geenee doyan jengkol…???? Nggak salah tuh…??? Ini jamannya keju…!!!

Walau begitu, saya tetap mengirim sms ke beberapa teman … Ada sambutan atau tidak, hari Senin, saya mau bawa jengkol-jengkol ini ke kantor. Syukur kalau ada yang mau. Kalau nggak, berikan ke Uzair saja. Biar istrinya jualan jengkol di warungnya. Nggak perlu bagi hasil …. Gratis deh….  Hitung-hitung beramal….

“Ada yang mau jengkol, nggak? Kalau mau …. hari Senin saya bawa deh…!!! Lumayan banyak lho…!!!, begitu kira-kira isi sms yang saya kirim ke 5 orang teman perempuan di kantor.
Minggu pagi, ada satu jawaban masuk.
“Pipiet mau bu…!!! Buat dibikin semur. Asyik …. Makan semur jengkol!!!”.
Yang lain masih bungkam… entah karena enggak suka jengkol, atau malu-malu Sore hari, ada sms masuk. Kali ini dari Ina..
“Nggak ah, mbak…!!! Nggak suka dan nggak tahu gimana masaknya…!!!” begitu isi sms nya. Yang lain masih tetap bungkam.
Ya sudah…... Jadi cuma Pipiet yang terang-terangan berminat sama jengkol gratis ini.

Senin pagi, sambil setir mobil, saya sempatkan kirim sms ke Pipiet.
“Saya bawain jengkol pesananmu. Nanti minta pak Utjen ya…!!!”
“OK …., thanks ya. Tapi aku baru bisa datang sekitar jam 15.00 lho”

Sampai di kantor, Ina minta beberapa untaian jengkol yang masih utuh. Kokon katanya karena bentuk untaian jengkol yang unik.
“Lucu bentuknya, mbak …!!! Anak-anakku belum pernah lihat jengkol utuh lho!”
“Iya tuh …. Bisa digantung di depan pintu…. Buat mainan angin”, yang lain menimpali, sambil mengamati untaian jengkol.
“Lha… terus, nanti mau diapain tu jengkol?”, tanyaku pada Ina.
 “Kalo anak-anak sudah liat, dikasiin ke tetangga aja. Rasanya, mereka doyan jengkol deh”.

Sambil memilih beberapa untaian jengkol yang panjang dan utuh, saya mengingatkan pak Utjen;
“Pak…. Si Pipiet mau. Jadi tolong dipisahkan ya… dia baru bisa datang siang nanti. Kalau ada yang tidak kebagian, bilang saja. Besok saya bawa lagi deh…! Yang penting, sisihkan untuk Pipiet dulu”, pinta saya pada pak tua yang sudah sedikit pikun ini.

Sore hari, usai shalat ashar, saya berpapasan dengan Pipiet yang agak manyun…
“ Pipiet nggak kebagian bu…”
“Ha….? Kok bisa sih? Kan tadi saya sudah pesan ke pak Utjen, sisihkan jengkol buat kamu”
“Eh … si Pipiet doyan jengkol…? Ngak salah lu…? Mau dibikin apaan”
“Ih …. Enak lho…. Dibikin semur, tahu…?!!”
“Gilee…. Miss Jengki …
Gayanya cewek Mall, makanannya semur jengkol” ramai gurauan di ruang keuangan sore itu. Meledek Pipiet yang kontan dapat julukan miss Jengki. Sarjana Arsitektur yang masih lajang ini, cuek saja mendengar ledekan teman-temannya. Dia, anaknya sangat helpful, dan karenanya selalu heboh dan panik, kalo ada sesuatu yang tidak beres.
 “Udah deh …. Nggak usah sedih. Nanti saya minta orang di rumah untuk nurunin jengkol lagi. Besok Pipit dapat prioritas milih jengkol deh….!!!”, saya menyahut sambil menekan tust, menelpon ke rumah.
*****

Begitulah, selama tiga hari berturut-turut, bak seorang juragan, saya membawa jengkol rata-rata satu kantung kresek ukuran besar. Mungkin sekitar 5 – 6 kg, karena terasa berat diangkat. Siapa dan kemana saja jengkol itu beredar, saya nggak perduli. Yang penting itu jengkol bermanfaat.

Konon kabarnya, Leny memberikan jengkol jatahnya ke ibu RT, tetangga depan rumahnya yang kemudian membuat balado jengkol. Usai memasaknya, ibu RT memanggil para tetangga untuk makan jengkol ramai-ramai. Jadi, usai pilkada hari rabu 8 Agustus…, para tetangga langsung pulang ke rumah, mengambil sepiring nasi panas untuk dibawa ke rumah RT dan makan balado jengkol beramai-ramai.

Adhe meminta pembantunya membagi-bagikan jengkol pada para tetangga. Ketika dilihat jengkol jatah tetangganya hanya sedikit, dia lalu bertanya;
“ Lho, kok sedikit sih? Rasanya tadi bawa jengkol cukup banyak. Sisanya mana?
“Ini bu ….”, kata sang pembantu menyerahkan kantung kresek berisi sebagian besar jengkol sambil malu-malu. Lebih banyak dari jatah untuk para tetangga.
“ Saya suka jengkol bu …. Jadi sisanya boleh saya minta, kan bu…?”
“Ya boleh… tapi jangan banyak-banyak dong….! Yang makan jengkol di rumah ini, kan cuma kamu sendiri!”

Cerita Pipiet, lain lagi. Keesokan hari setelah dia mendapat jatah jengkol yang ditunggu-tunggu, dia kirim sms, pagi-pagi;
“Bu… Pipiet datangnya agak siang ya… Mesti nganter bapak ke rumah sakit dulu…”
Wah… gawat…!!! Jangan-jangan si bapak kolaps gara-gara jengkol! Merasa sedikit berdosa, saya langsung menelpon Pipiet.
“Piet… kenapa bapakmu? Kebanyakan makan jengkol ya…?”
“Ah, nggak kok..!! Memang bapak sering kumat. Sejak kena stroke, hampir setiap tiga bulan sekali beliau kena serangan ayan”
“Beneran bukan karena jengkol ya…?!”, tanya saya untuk meyakinkan diri.
“Bener kok …, bapak, gak apa-apa..”
*****

Begitulah, cerita lain dari salah satu sudut Jakarta yang metropolitan. Mall dan apartment boleh dibangun untuk memenuhi Jakarta dan jadi bagian dari gaya hidup kaum urban. Pizza+pasta, sushi+sashimi, beefsteak, hamburger dan barbeque boleh jadi makanan orang-orang, terutama kaum muda di masa kini, menggantikan rujak cingur, karedok, tongseng, gudeg, rendang dan lain-lain.

Ternyata…………., makan jengkol rame-rame dengan tetangga masih tetap mengasyikkan. Dan ….. jadi juragan dadakan untuk memberikan jengkol serta mendengar cerita bagaimana teman-teman kantor berbagi dan menikmati kebersamaan yang guyub sambil menikmati kengkol balado dengan para tetangganya ternyata mengasikkan juga.

Ternyata…. sekantung jengkol bisa memberi kebahagian bagi banyak orang. Jadi, saya sudah berjanji pada teman-teman. Kalau tahun depan masih ada umur dan panen jengkolnya masih banyak, saya akan bawa jengkol lagi ke kantor. Hidup jengkol ……!!!!

Lebak bulus, 14 Agustus 2007 jam 22.45

Selasa, 14 Agustus 2007

Study Banding .....

Hampir sekitar satu bulan yang lalu, usai makan siang Big boss mencari saya. Tumben …..!!! Di kantor, saya tidak termasuk daftar “cari” sehari-hari kecuali kalau beliau sedang “berunding” dan ada dokumen yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Yang pertama dicari, pasti sekretarisnya. Lalu IN. Maklum saja, urusan yang saya pegang biasanya hanya “calon proyek”. Kalau sudah jadi proyek, sudah pasti pekerjaannya “dilungsurin” ke orang lain. Jadi, pekerjaan saya lebih banyak mengarah pada investasi dan masalah legal. Kelayakan proyek, Memorandum of Understanding dan perjanjian-perjanjian jadi makanan sehari-hari. Jadi, memang agak luar biasa kalau pada siang hari itu saya dicari. Nyarinya juga, heboh banget… seperti ada urusan penting.

Masih sambil berbicara di telpon, yang kemudian saya tahu beliau sedang bicara dengan managing director sebuah travel bureau langganannya, yang biasa menangani convention atau perjalanan-perjalanannya ke luar negeri, terutama untuk perjalanan yang agak rumit, beliau bertanya:

“Kota-kota satelit baru yang ada di sekitar Paris, apa saja?”
“Wah … rasanya sudah nggak ada lagi yang baru. Sudah jadi semua, pak!”
“Paling tidak … yang masih layak dikunjungi….!”
“Hm ……, Evry … boleh juga, atau La Defense dan Marne la Vallee.”, jawab saya sekenanya. Paling tidak 3 banlieu[1] itulah yang ada di kepala saya.

Evry masuk ke dalam daftar isi kepala saya, karena saya punya buku terbitan tahun 1980 berjudul “Evry, creer une centre ville[2]” yang diterbitkan oleh municipalite[3] Evry itu sendiri.

La Defense, yang terletak di barat Paris, ada dalam ingatan karena daerah ini terkenal dengan bangunan la Grande Arche de la Defense. Kalau nggak salah sebuah perkantoran, tiruan l”Arc de Triomphe dalam bentuk modern. Jujur saja, saya sendiri belum pernah mengunjungi La Defense selama 4 tahun tinggal di Stains, banlieu noir de Paris[4]. Selalu saja ada halangan untuk melihat bangunan tersebut. Mungkin karena La Defense merupakan wilayah kota modern, sehingga bagi saya, tidak terlalu menarik dikunjungi. Apalagi bila dibandingkan dengan keindahan bangunan, jembatan, patung dan berbagai peninggalan kuno yang ada di segala penjuru kota Paris.

Marne la Vallee, terletak di wilayah timur Paris dan dapat dicapai hanya dalam hitungan 20 menit saja dengan RER – reseau express regional[5]. Belakangan ini Marne la Vallee ramai dikunjungi dan menjadi salah satu tujuan wisata di Region Parisienne sejak dibangun Euro – Disneyland hampir dua dekade yang lalu. Anak, suami disertai dengan mertua saya, pernah mengunjunginya pada tahun 1993, saat suami kebetulan bertugas ke UK dan kami “menjemputnya” pulang. Saya sendiri, saat itu, memilih untuk menggelandang di Paris sendirian. Mencari  pesanan berbagai merek parfum yang dititipi oleh keluarga dekat.di La Fayette dan au Printemps[6] yang terletak di Bd Haussman dan sepatu Bally “bon marche[7] di rue Rivoli yang letaknya tidak jauh dari Musee du Louvre.

“Nanti saya browsing tentang ke 3 kota tersebut. Saya kirim kemana datanya…?”
“Fax saja ke H …. Biar nanti dia yang urus selebihnya.”
“OK …. Saya kirim segera. Minimal supaya ada sedikit  gambaran tentang kota/wilayah tersebut. Jadi nggak buta sama sekali”

*****

Kamis minggu lalu, big boss muncul lagi ke kantor setelah tiga hari absen. Beliau memang hanya muncul di kantor setiap hari Jum’at dan menghabiskan sepenuh hari kerja tersebut di kantor untuk koordinasi atau menerima tamu-tamu bisnisnya. Hari lainnya biasa dihabiskan di Senayan dan sepanjang minggu, hanya muncul di kantor di saat luang dan waktunya sama sekali unpredictable.

Rupanya, minggu terakhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus adalah masa reses parlemen jadi anggota dewan yang terhormat berlibur dari masa-masa sidang yang lumayan ketat. Acara reses biasanya diisi untuk mengunjungi daerah pemilihan atau binaannya untuk mendengarkan aspirasi para konstituen. Begitu resminya. Ada juga yang mengisinya dengan kunjungan kerja atau study banding. Study banding ini jadi incaran terutama karena tujuan tempat studynya adalah negara-negara maju.

Adakah yang salah dengan studi banding? Sebetulnya sih … nggak ada yang salah, kalau dilaksanakan dengan maksud dan tujuan yang jelas dan hasilnya terukur dan bermanfaat bagi kelancaran pekerjaan kita. Atau minimal bisa menambah wawasan. 

Saya sendiri termasuk orang yang mendukung “studi banding” dalam berbagai bidang, walaupun itu hanya dilakukan sebagai “kamuflase” dari perjalanan wisata. Lho … kok bisa, ya…? Iya dong … kalau kita memang “pengamat” yang baik, maka segala yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan memberikan pengalaman yang berguna untuk “mengatur langkah” baik dalam perilaku, melaksanakan pekerjaan dan memberikan ide-ide baru yang segar dalam menyelesaikan pekerjaan, yang sekiranya sesuai dengan perjalanan dan pengalaman yang ada.

Dulu, jaman masih kuliah, studi lapangan seperti ini jadi penunjang kuliah dan tugas-tugas perencanaan arsitektur dan perkotaan. Coba bayangkan, bagaimana kita akan mampu “merancang” sebuah fasilitas transportasi modern lengkap dengan berbagai perangkat pendudkungnya seperti monorail, subway/metro dan lain-lain kalau kita sama sekali belum pernah mengalami dan merasakan “naik” moda transportasi tersebut.

Bagaimana kita mampu mendeskripsikan seluruhnya, bila sumbernya hanya berupa gambar, film atau textbook semata. Mengalaminya sendiri akan membawa nuansa yang berbeda dan kita akan semakin menjiwai apa yang akan kita deskripsi dan lakukan. Begitu banyak elemen-elemen kehidupan modern yang perlu kita rasakan sebelum kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin, yang jadi masalah adalah waktu kunjungan para anggota dewan tersebut. Bagaimana study banding itu, dalam arti bahwa para pelakunya harus berinteraksi dengan para pembuat kebijakan di Negara/kota yang dikunjunginya, bisa terlaksana dengan baik bila kunjungan itu dilakukan di tengah musim panas. Dimana semua orang di belahan utara khatulistiwa sedang menikmati liburan panjang musim panas. Tapi, tidak juga bisa disalahkan, karena hanya pada masa reses itu pulalah, para anggota dewan memiliki waktu yang luang. Apalagi, ada budget yang sudah dianggarkan untuk maksud tersebut dan kalau tidak digunakan, akan hangus.

Jadi, begitulah … minggu pertama bulan agustus 2007, ada sekitar 50 orang anggota salah satu komisi di parlemen yang melakukan perjalanan studi banding ke Paris untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Nice, Monaco, mount Tiltlis selama hampir 2 minggu. Sang ketua rombongan sangat piawai “mengawal” misi perjalanan tersebut dan mampu meyakinkan duta besar RI yang dikunjungi mereka, sehingga sang dubes hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti bahwa misi perjalanan tersebut memang sangat masuk akal walaupun bagi orang awam, terkesan hanya perjalanan wisata semata.

Big boss,  hanya mengikuti perjalanan tersebut hingga Paris saja, ikut melakukan courtesy visit ke kedutaan besar RI yang terletak di 49, rue cortambert Paris 16eme. Salah satu kawasan bergengsi di Paris. Mungkin beliau juga bergabung dengan rombongan, sekedar jalan-jalan sedikit di sepanjang Champs Elysees yang terkenal itu. Bagi beliau yang pengusaha, perjalanan ke luar negeri tentu bukan suatu hal yang aneh lagi.

“Kok nggak ikutan ke Nice dan Monaco sih, pak?”
“Nggak,lah … mati berdiri saya, kalo mesti ngikutin mereka jalan-jalan. Banyak kerjaan yang masih harus dilakukan di Jakarta”
“Ke Monaco, apa yang dicari…? Memang mau main judi?”
“Hehehe… biar anggota dewan yang bersih dan perduli itu tahu bahwa hasil judi kalau dikelola dengan baik, bisa dimanfaatkan buat pembangunan.”
“Lho … mereka ikut juga…?”
“Hahaha ….”

Begitulah… dalam diam, anggota dewan yang terhormat melewatkan masa resesnya dengan cara masing-masing. Setelah… 3 hari absen dari kantor, big boss muncul dan langsung ikut shareholder’s meeting di hari Kamis pagi. Seolah tidak terpengaruh oleh jetlag, sepanjang hari itu, beliau sudah disibukkan dengan berbagai acara hingga malam. Saya sendiri mendapat oleh-oleh cantik, yang diberikan pada keesokan harinya. Sebuah dompet bermerek LANCEL berwarna hitam … Asli dari Paris. Lumayan …..!!!




[1] Kota satelit
[2] Evry, menciptakan sebuah pusat kota
[3] Ketatakotaan
[4] Kota satelit hitam, karena mayoritas penduduknya berasal dari Negara-negara Afrika yang berkulit hitam
[5] Jaringan kereta api regional yang melayani wilayah Paris dengan kota-kota satelit sekitarnya yang biasa disebut dengan Region Parisienne
[6] Salah satu department store terkenal di Perancis. Sebelum krisis tahun 1997 sempat berniat masuk ke Indonesia dan membuka gerai di Ratu Plaza. Tapi kemudian batal.
[7] Murah meriah

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...