Sabtu, 31 Desember 2011

ASI adalah hak anak kita. Jangan biarkan mereka jadi ”anak sapi”!!!

Industri makanan anak balita di Indonesia termasuk industri makanan bayi berkembang pesat. Kesibukan ibu bekerja yang mengakibatkan kurang waktu untuk menyiapkan makanan segar, turut menyuburkan pertumbuhan tersebut. Cobalah tengok pada deretan rak di supermarket. Semua ada...., mulai dari snack yang katanya sehat dari berbagai rasa, makanan pagi jenis sereal, biskuit berbagai rasa dan bentuk, makanan kecil pencuci mulut hingga susu baik susu bubuk maupun susu cair. Bahkan makanan (bubur) bayi siap saji .... semua ada, campur aduk tidak ada lagi batasan umur. Semua menjanjikan kelebihan-kelebihan, dengan tambahan-tambahan multi vitamin dan berbagai macam unsur-unsur artifisial yang saya yakin, buat orang awam, sangat tidak dimengerti kegunaan pastinya .... Pokoknya, semua mengatakan produknya bisa mencerdaskan anak.

Dalam perbincangan dengan ibu bekerja dewasa ini, jarang sekali ditemukan ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif selama minimal 6 bulan. Alasannya macam-macam. Ada yang mengatakan ASInya tidak keluar .... yang lainnya mengatakan, karena harus kembali bekerja, sehingga tidak lagi sempat menyusui anak. Stress karena pekerjaan memang dapat menyebabkan produksi ASI berhenti. Ironisnya .... keengganan menyusui bayi juga menjangkiti ibu-ibu yang tidak bekerja. Mungkin promosi gencar produk susu mengenai kelebihan-kelebihan produknya terutama yang menyangkut ”peningkatan IQ anak” membuat ibu tidak percaya diri untuk menyusui anak. Apakah mereka mengerti bahwa makanan yang terbaik bagi bayi terutama di awal tahun kehidupannya adalah ASI. Melihat kenyataan yang ada, saya menjadi sangat tidak yakin akan hal ini. Kecuali mengetahui tentang kegunaan ASI dari bacaan/majalah yang hanya dapat diakses oleh keluarga mampu yang biasanya diakhiri dengan pesan terselubung dari sponsor bahwa ”apabila ibu mengalami kesulitan untuk menyusui bayi, maka gunakanlah susu formula sesuai dengan umur bayi” lengkap dengan promosi keunggulan-keunggulannya.

Tidak salah lagi, bila banyak ibu yang menganggap susu formula bagi bayi sebagai bagian dari gaya hidup modern, gaya hidup masa kini. Tidak ada sarana lain dari ibu-ibu muda untuk mengetahui manfat menyusui baik bagi bayi maupun si ibu sendiri. Jangan lagi berharap pengetahuan itu dapat diperoleh dari sekolah. Sekolah kita kan mendidik anak supaya cerdas dari segi ”akademis”. Aneh-aneh saja ... masa pengetahuan tentang menyusui diajarkan di sekolah? Padahal itu kan pengetahuan praktis yang secara alamiah pasti dibutuhkan manusia, terutama perempuan.

Dengan jumlah penduduk 220 juta orang dan sebagian besar masih dalam usia produktif, Indonesia memang pasar yang besar dan luas bagi produk makanan anak. Apalagi generasi muda Indonesia adalah generasi yuppies yang baru tumbuh sehingga mereka mengganggap kuno gaya hidup alami dan lebih cepat termakan dengan gaya hidup instant dan praktis. Tidak heran, usaha pemerintah untuk memasyarakatkan pemberian ASI pada bayi tidak terdengar sehingga imbauan pemerintah untuk menarik produk makanan untuk bayi di bawah usia 4 bulan tidak didengarkan oleh produsen.

Ini berlainan dengan sekolah asing. Bos saya, pernah cerita; anaknya yang kala itu masih duduk di level SMU JIS – Jakarta International School, suatu hari pulang sekolah dengan membawa tas besar. Isinya ...... boneka bayi, dengan segala macam peralatan dan produk makanannya. Pada pergelangan tangan si anak juga sudah terpasang gelang. Apa yang terjadi ...? Ternyata, si anak perempuan diberi tugas untuk ”bersimulasi” menjadi ibu yang memiliki bayi usia di bawah 6 bulan. Jadi mereka betul-betul harus berfungsi sebagai ibu dengan seabrek kewajiban mengurus anak. Gelang tangan itu rupanya juga berfungsi sebagai alarm yang mengingatkan si anak untuk mengerjakan kewajibannya sebagai ibu,

Maka week end tersebut menjadi hari sibuk bagi si anak. Tidak bisa keluar rumah menghabiskan waktu dengan keluarga. Bagaimana mungkin keluar rumah dengan membawa boneka? Menyuruh si ”mbak” di rumah menggantikan? Itu juga tidak mungkin .... instruksi tersedia dalam bahasa Inggris dan dia juga harus membuat laporan tentang makanan si ”bayi”, kekentalannya, panas makanan saat disuapkan dll. Apalagi gelang tangannya juga berfungsi sebagai sensor dari aktifitas sianak dan interaksinya dengan ”bayinya”. Pendeknya, tidak ada kemungkinan untuk meminta bantuan orang rumah.

Jam 5 pagi, si anak sudah bangun. Hari dimulai dengan menyiapkan peralatan membuat susu, mensterilkan botol, masak air, dan menakar bubuk susu. Setelah selesai, lalu memberi susu kepada ”bayi”. Usai memberi susu, lalu menyiapkan air mandi buat ”bayi”, memandikannya, mengganti popok dan seterusnya.... Pendeknya segala kegiatan yang menyangkut pemeliharaan bayi sepanjang hari. Alarm di gelangnya sangat ”rigid” dengan waktu ... bahkan jadwal memberi susu dan mengganti popokpun persis seperti laiknya bayi manusia sungguhan. Ada waktu ”bayi menangis minta digendong, atau buang air. Hampir setiap 3 – 4 jam sekali ada saja ulah si ”bayi” yang telah diprogram tersebut .... Bahkan ulah itu juga yang membuatnya harus bangun pada jam 2 malam. Betul-betul seperti ibu mengurus bayi. Mengada-adakah kegiatan anak dan tugas dari sekolah itu..? Sepintas lalu ... ya, tetapi sesungguhnya, itulah pelajaran hidup yang nyata.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Wah ..... saya tidak yakin ada sekolah yang memberikan tugas semacam itu buat murid SLA nya. Bahkan Rumah Sakit Bersalinpun belum tentu melakukannya.

Pada saat saya melahirkan anak yang ke 2 pada usia menjelang 42 tahun di sebuah RS swasta di Bekasi. Wanti-wanti saya berpesan pada perawat dan dokter bahwa saya akan memberikan ASI. Tetapi yang terjadi adalah ... setiap kali bayi diberikan kepada saya untuk disusui, si bayi tidur dan menolak. Dua kali kejadian seperti itu, maka saat ketiga kali, saya tanyakan pada perawat, kenapa bayi saya menolak disusui? Perawat mengatakan ... bayi sudah diberi susu formula setelah dimandikan. Saya katakan : ”saya sudah bilang akan menyusui sendiri”. Jawabnya klise ”Ini standar. Ibu perlu istirahat banyak agar cepat pulih dari operasi caesar”. Saya marah ... ”Itu bayi saya, Adalah resiko saya akan kelelahan karena melahirkan bayi dan harus menyusui. Bukan anda yang mengatur saya untuk menyusui atau tidak! Sekarang... ambil box bayi dan letakkan di kamar saya ini!”

Perawat keluar dan mencari dokter anak yang langsung menanyakan kepada saya apa yang sudah terjadi. Kepada Dr W (belakangan saya tahu bahwa istri si dokter itu adalah teman sekelas adik saya di SMA), saya ulangi semua ucapan saya. Dokterpun menyatakan hal yang sama ... bahwa saya perlu banyak istirahat memulihkan kondisi. Lagipula belum tentu ASI saya mencukupi kebutuhan bayi. Saya betul-betul marah karenanya. Saya ulangi lagi bahwa ”hak saya untuk menyusui bayi dan saya minta anak saya untuk diletakkan dikamar rawat saya” Saya betul-betul tidak percaya lagi dengan niat perawat/dokter untuk menjamin pemberian ASI bagi bayi. Dengan muka masam, si dokter akhirnya mengijinkan perawat membawa box bayi ke kamar. Sejak hari itu dia tidak pernah lagi melakukan visit. Saya tidak perduli! Beruntung saya melahirkan dalam usia yang sudah mapan dan dirawat di ruang VIP. Bagaimana dengan ibu-ibu lainnya yang miskin pengalaman? Terlalu sekali....

Ini bertentangan dengan kelahiran anak saya yang pertama di l’hopital de la Fontaine – Saint Denis, Perancis. Pagi hari setelah melahirkan, perawat membangunkan saya dari tidur (saya masuk ruang perawatan pada jam 2 pagi setelah melahirkan pada jam 23.45), meminta saya untuk bangun, mandi karena tempat tidur akan dibersihkan dan menanyakan apakah bayi akan diberikan ASI atau tidak. Setelah saya mengatakan akan diberi ASI, perawat memberikan pil yang katanya akan memperlancar pengeluaran ASI. Sementara tetangga kamar yang tidak memberikan ASI diberi pil untuk menghentikan produksi ASI. Ternyata produk ASI menjadi sangat berlebihan dan karena saya belum berpengalaman bagaimana memberikan ASI, akibatnya buah dada menjadi keras dan ASI sukar keluar. Saya demam. Tetapi dengan sabar mereka membantu saya, mengurut dada yang bengkak, mengkompres dan mengajari saya mengatasi seluruh masalah yang ada. Sementara saya masih demam dan belum sanggup memberikan ASI langsung, maka saya diwajibkan ”memerah susu”, menyimpannya di dalam botol dan memberikan kepada bayi pada saatnya hingga akhirnya saya berhasil menyusui bayi secara langsung. Semua harus dilakukan sendiri, termasuk memandikan anak dan perawatan ”pusat” yang belum puput. Perawat hanya membantu manakala kita mengalami kesulitan.

Banyak penelitian yang menyatakan keunggulan ASI, terutama pada masa tepat pasca kelahiran, dibandingan dengan susu formula jenis apapun dan direkayasa bagaimanapun. Apapun usaha manusia untuk mendekati susu formula dengan ASI, secara alamiah tetap saja, susu itu susu sapi. Bukan susu manusia ..... Siapa yang menjamin bahwa tidak ada ”sel hewani” yang terbawa dalam formulanya. Kalau ya.... berarti ada gen ”hewani” yang masuk dalam tubuh anak kita.... Aduh.................

Mungkin akan banyak orang yang menyatakan ”penelitian sudah sedemikian canggihnya dan menjamin bahwa formulanya sudah mendekati ASI. Tapi kembalilah pada fitrahnya! Susu manusia untuk manusia, susu hewan untuk hewan... Jangan mencampur adukkannya. Allah SWT sudah mengatur semuanya dengan gratis buat kita... Jadi jangan disia-siakan. Anak-anak saya tumbuh sehat, walaupun tidak gemuk, mereka tumbuh secara proporsional, jarang sakit apalagi kena diare, walaupun mereka sama sekali tidak meminum susu formula. Saya memang beruntung, setelah cuti hamil, bos pun memperkenankan saya membawa bayi ke kantor. Jadilah dia karyawan termuda di kantor sampai usia 15 bulan. Jadi saya bisa menyusui bayi saya sepuasnya.

Ayo dong..... kita kembali ke alam... jangan tergiur oleh iklan yang menyesatkan itu!!!

Salam,
Lebak bulus 12 juni 2005

Jangan silau dengan predikat dan ijasah/sertifikat yang dimiliki….!!!

Judul ini mungkin terlalu provokatif ..... Di tengah membanjirnya sekolah, universitas dengan seabrek-abrek gelar yang ditawarkan, saya yakin masih banyak ijasah/sertifikat yang menjamin bahwa pemegangnya memang memilki kompetensi yang tinggi sesuai dengan ijasah/sertifikat yang diterbitkannya. Saya tidak ingin berpolemik tentang hal itu. Saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman pribadi. Pengalaman ini tidak bisa dianggap sebagai patokan, karena mungkin, kemampuan saya yang betul-betul rendah atau standar yang saya gunakan terlalu tinggi. Apapun juga, saya berharap cerita ini ada manfaatnya bagi para pendidik untuk mengevaluasi sistem belajar terutama dalam pembelajaran bahasa, agar terjadi kesesuaian antara nilai yang tercantum dalam ijasah/sertifikat dengan kemampuan peserta didik. Atau, anggap saja tulisan ini hanya sekedar refleksi diri.

Tahun 1980, 3 minggu setelah menikah, suami berangkat ke Perancis karena mendapat beasiswa. Saat itu saya sedang mengikuti ujian akhir tingkat 4 (belum berlaku sistem SKS) dan entah kapan saya bisa menyelesaikan kuliah yang sebetulnya secara teoritis tinggal 1 tahun lagi. Jadi, daripada kuliah nggak jelas kapan selesainya, lebih baik ikut suami saja. Kalau memungkinkan, lanjutkan kuliah di sana. Kalau tidak ..... jadi ibu rumah tangga saja., dan punya anak..... Nanti setelah setelah masa kuliah suami selesai, baru meneruskan kuliah di Indonesia. Sederhana saja.

Sambil menunggu proses permohonan visa de long sejours, saya mengikuti kursus bahasa perancis di CCF Salemba, 2 kali seminggu @ 2 jam, ditambah dengan private di rumah ibu Titi Sari (wartawan majalah Kartini, kalau tidak salah), 4 jam lagi per minggu. Saya berharap dengan bekal itu, saya tidak akan tersesat di negara orang.

Bulan September, saya berangkat ke Paris sendiri dengan pesawat UTA dalam perjalanan selama 18 jam. Suami sudah menunggu di Orly du Sud jam 5 pagi di awal musim gugur yang romantis. Dari Orly, kami ke Gare de Lyon untuk langsung menyambung perjalanan dengan KA ke Lyon, + 525 km di selatan Paris, tempat suami belajar bahasa Perancis secara intensif sebelum mulai belajar mengambil program DEA (diplome d’etude Approfondie). Kami tinggal di studio di banlieu nya Lyon, di Vaulx en Velin selama 1 minggu. Walaupun pengetahuan bahasa saya masih ”cetek” banget, saya merasa tidak memiliki kendala untuk keluyuran, belanja ke Mammouth, sebuah hypermarche, tidak jauh dari cite yang kami tempati. Bukan apa-apa, saya pakai logika saja. Belanja di grand surface, nggak perlu ngomong. Cukup lihat etiket harga dan layar monitor saja, lalu bayar. Gampang kan?

Akhir September, kami pindah ke Poitiers. Selama kami mencari tempat tinggal yang tetap, l”ENSMA (ecole nationale superieure de mecanique et d’aerotechnique) mempersilakan kami tinggal di asrama mahasiswa, bangunan sangat kuno yang berada di kampus lama, hanya untuk jangka waktu 1 bulan saja. Setelah beres-beres barang bawaan, kami mulai kluyuran mencari-cari rute bis, jalan-jalan yang harus dilalui, sekaligus mencari agence d’immobiliere untuk cari studio tempat tinggal. Masih ada waktu 1 minggu sebelum test masuk untuk ikut kuliah bahasa Perancis di Faculte des letters – Universite de Poitiers. Di situ ada kelas khusus bagi orang asing yang mempersiapkan diri, belajar bahasa sebelum kuliah di Universitas di seluruh Perancis. Belajarnya intensif, 20 jam per minggu. Kelas ini terdiri dari 3 niveau, yang disebut vrai debutant, debutant dan yang tertinggi dianggap sebagai premiere annee. Saya ikut test masuk, disana bertemu sepasang anak muda dari etnis cina. Modal ikut test? Hasil les di CCF selama 3 bulan (+ 48 jam) ditambah 36 jam di luar CCF. Baru sampai di lesson 8 buku De Vive Voix I (ini buku kuno banget... ). Singkatnya, saya diterima di kelas debutant. Kelas yang menengah. Nggak malu-maluin sebagai orang Indonesia. Pasangan cina itu masuk di premiere annee. Mereka memang kelihatan betul-betul sudah sangat siap untuk sekolah di Perancis.

Kuliah di adakan setiap hari dari jam 9.00 – 12.00 istirahat, lalu dilanjutkan lagi mulai dari jam 14.00 – 16.00, setiap hari, 5 hari/minggu. Hari pertama masuk kuliah, guru kami, Fabienne, menjelaskan bahwa kelas akan mulai belajar dengan buku yang sama dan mulai dengan buku ke II (pokoknya jauh banget dari apa yang dipelajari di Jakarta). Kami juga diminta untuk menulis sedikit cerita standard... Nama, asal negara, sudah berapa lama belajar bahasa perancis ... dst.

Kelas kami memang kelas multi nasional. Isinya ada 1 orang dari Canada, 1 dari Jerman, 1 cewek Mexico dari Guadalajara yang super cerewet dengan logat espagnola yang khas, 2 pasang refugies Vietnamiens, 3 orang refugies Iraniens, 1 turki dan saya dari Indonesia. Saat itu memang lagi musim-musimnya Boat people dan saat-saat menjelang kejatuhan Syah Reza Pahlevi dari Iran.

Usai istirahat, kami kembali masuk , langsung ke laboratorium bahasa. Sambil menyuruh mahasiswa mengikuti petunjuk audio, Fabienne membaca kertas-kertas tulisan kami. Satu persatu disapanya langsung melalui peralatan audio. Tiba di tempat saya, Fabienne menyapa ramah ....
” Madame .... anda ternyata baru belajar sampai di lesson 8 ”.
” Oui .... c’est ca...!!”
” Wah .... rasanya, anda salah masuk kelas”
” Pourquoi.. / Kenapa..?”
” Kami akan mulai dengan buku ke dua ... niveau anda terlalu rendah untuk mengikuti pelajaran! ”
Saya tercekat .... ya, betul! Pengalaman saya belajar bahasa Perancis memang masih sangat cetek walau hasil test menyatakan saya berhasil melampaui standar yang ditetapkan.
” Mademoiselle, .... j’ai passe le test et .... bukan salah saya kalau saya masuk kelas anda.”
“ Anda akan mengganggu kelancaran teman-teman yang lain…”
” Tapi saya ingin mencoba... donnez-moi la chance”
” OK, saya beri kesempatan anda selama seminggu. Bila anda tidak mampu, saya harap anda bersedia turun kelas...”
” Bon,... d’accord”.
Kami meneruskan pelajaran. Sebelum pulang, Fabienne meminta kami untuk membuat sedikit cerita tentang negara masing-masing. Saya membuat tugas dengan sungguh-sungguh, berusaha keras bercerita tentang Indonesia. Kamus dan livre de la conjugaison bertebaran di tempat tidur. Keesokan harinya, PR dikumpulkan, kami mulai pelajaran. Sesudah makan siang Fabienne mengumumkan hasil PR, ternyata tulisan saya dinyatakan terbaik. Jadi, dia tidak punya alasan lagi untuk menyuruh saya turun kelas. Hoorreeee.......

Tidak ada perbedaan yang terlalu jelas akan kemampuan berbahasa di kelas, kecuali keberanian untuk bicara. Kelas terlihat jelas lebih didominasi oleh mahasiswa ”kulit putih”. Bawel, ramai, walaupun bahasanya kacau balau, gak tahu subyek, predikat .. gak jelas tata bahasanya. Pokoknya tabrak terus ... ngomong dan ngomong. Apalagi si mexicaine itu tidak ada hari tanpa celotehnya.

Kami yang berasal dari Asia, duduk diam ... anteng, tangan di atas meja. Takut bergerak... takut Fabienne menyadari kehadiran kami... takut ditanya ... Nanti malu... ketahuan gak tahu tata bahasa yang baik. Ketahuan vocabulaire-nya masih amat sangat cetek. Duh, kok kelas lama banget selesainya... Si Turki, masih mendingan. Masih ada bunyinya ... dia sering menyapa saya, ngajak ngobrol. Mungkin karena merasa ada ”separo darah eropa” mengalir di tubuhnya.

Satu semester lewat. Masuk semester ke 2, gurunya ganti. Sekarang kami diajar Helene yang judes tapi funki. Pelajaran lebih banyak menggunakan audio, dengar siaran berita atau rekaman acara talk show dari TV, lalu diskusi. Seperti biasa, kami yang berasal dari Asia cuma bunyi kalau di ”gong” in. Akhirnya, masa ujian dimulai. Ujian teori (tata bahasa) saya lalui dengan penuh percaya diri. Itu soal teori yang gampang dihapal. Masuk ke laboratorium, saya mulai tersendat, ngomongnya cepet banget, jadi mesti diulang-ulang. Tapi, masih ok lah, walau hati sudah mulai kecut! Keesokan harinya, ujian oral ... percakapan sehari-hari dan di test langsung satu persatu. Untung saya nggak kebagian di test sama Helene. Bisa mati berdiri!!

Masuk bulan Juni, keluar pengumuman, karena sudah mulai masuk musim panas, orang mulai gelisah mengatur jadwal berlibur. Saya tidak terlalu bersemangat melihat pengumuman. Maklum sejak tinggal di Poitiers, saya jadi nggak pede lagi. Mulai sadar betul bahwa kemampuan bahasa saya masih nol besar. Belum bisa atau lebih tepat, belum berani ngomong ... takut salah ... takut diketawain orang. Saya sudah punya pengalaman nggak enak waktu beli karcis bus 2 mingguan. Petugas loket berulang kali tanya ... nggak ngerti waktu saya bilang mau beli ”un carnet de quinzaine”. Padahal, mati-matian sudah, saya melafalkan kata-kata itu.

Sampai kampus, saya cari papan pengumuman cepat-cepat. Deg ..... saya bingung baca pengumuman. Nama saya nggak ada. Saya ulangi mencari.. Sekarang mulai dari atas. Nama saya terpampang di urutan teratas. Nilai ujian saya dapat mention ”tres bien” ... Sangat baik... dan cuma satu-satunya. Saya bingung .. gamang ....!! Kok bisa ya..?? Apa gak salah nulis..? Pasti ada yang salah..!!! Tapi ya sudah, saya masuk ke ruang administrasi, nanyain sertifikat .. dan betul ... tertulis di sertifikat itu ” a reussi avec mention tres bien..” Duh .. duh.. gimana nih??

Bulan terus berjalan, kami pindah ke region Parisienne. Ke Stains di departement Seine St Denis. Kesibukan suami di lab menyebabkan saya harus bisa mengatasi masalah sendiri. Jadi saya harus mengurus Allocation Familiale, Securite Sociale, reimboursement d’impots dan berbagai korespondensi, sendiri. Malu kalau gak bisa .. kan sudah dapat mention tres bien. Tapi lain teori lain pula prakteknya. Menghadap pejabat publik saat mengurus allocation dan securite sociale menjadi siksaan yang luar biasa buat saya. Jantung berdebar-debar, kaki lemas, tangan berkeringat, keringat dingin menetes deras tak terkendali, membasahi baju. Padahal sudah masuk musim gugur. Siksaan itu terus berlangsung sampai saya pulang dan tiba di rumah, baru sedikit lega karena menemukan tempat untuk bersembunyi. Saya sungguh-sungguh merasa lelah lahir dan batin. Nggak bisa masak lagi buat suami. Untung sebelumnya suami sudah dipesan untuk mampir beli bebek panggang di restoran cina. Jadi tinggal masak nasi di rice cooker. Saya malu, kesal bahkan frustasi ... kok kemampuan saya tidak sebanding dengan nilai yang tercantum di sertifikat.

Kembali ke Indonesia, saya merasakan bahwa kemampuan saya berbicara dalam bahasa Perancis masih sangat jelek. Apalagi bahasa Perancis memang kurang digunakan. Jadi sampai sekarang, saya masih les di CCF 4 jam seminggu. Supaya nggak lupa, walaupun rasanya tidak ada kemajuan lagi. Itu cuma tempat clubbing saja, ngrumpi ngalor-ngidul, nggak ada tujuan, nggak ada target..

Di kalangan selebriti perempuan Indonesia, lepas dari segala macam kontroversi yang dibuat, saya mengagumi Krisdayanti dan Anggun, yang dengan sadar dan percaya diri menyudahi pendidikan formalnya untuk kemudian total menggeluti dunia tarik suara. Mereka sesungguhnya orang-orang jenius yang mampu menggali potensi diri dan mengembangkannya dengan sangat baik. Padahal, itu bukan keputusan yang mudah untuk diambil. Tidak banyak orang tua mendukung keputusan semacam itu.

Teman kursus saya, ada yang malang melintang pindah kuliah disana-sini dan semuanya berakhir dengan tanpa selesai tuntas. Dia merasa tidak mendapat apa-apa di kampus. Namun saya sungguh-sungguh angkat topi buat dia. Tanpa ijasah formal, dia mampu meniti karier hingga posisi manager di sebuah perusahaan multinasional asal perancis, Kini, ibu cantik yang satu ini sekarang lebih suka mengurus 3 jagoannya di rumah. Tapi itu adalah pilihan yang tidak kalah baiknya. Semoga anaknya memiliki semangat juang dan kemampuan yang sama tinggi dengan ibunya. Begitu juga teman saya TB yang pernah menjadi General Manager di salah satu hotel berbintang di Jakarta dan ibu Enha, guru bahasa Inggris saya 16 tahun yang lalu. Je rends hommage a vous tous

Saya tidak tahu apa perasaan orang-orang yang memiliki setumpuk ijasah/sertifikat berikut sederetan gelar di depan dan belakang namanya. Sekitar 4 tahun yang lalu, seorang bekas teman kantor saya yang lama datang ingin bertemu bos. Karena beliau tidak ada, saya yang mengenalnya duduk menemani. Duduk dan ngobrol panjang lebar, dia ternyata sudah memajang gelar DR, PhD, MSc dan M.Eng sekaligus di kartu namanya. Kesemuanya dari universitas di negara paman Sam,. Hebat sekali. Saya bertemu terakhir sekitar 8 tahun sebelumnya. Berarti selama 8 tahun dia sudah menyelesaikan 2 jenjang pendidikan S2 dan melakukan 2 kali riset S3. Saya geleng-geleng kepala. Orang Indonesia memang jenius ....super hebat... Semoga tahun mendatang ada Nobel Price mampir ke Indonesia. Tidak habis pikir ... kagum, kapan ya dia tinggal dan sekolah di negerinya paman? Ups... tidak boleh berburuk sangka....!!!!

Omong punya omong, akhirnya dia menawarkan saya untuk ikut mengambil gelar PhD. ”Murah kok mbak, 20 juta saja. Wisuda (??!!) bisa di Singapore atau Jakarta. Boleh pilih. Ini daftar peserta kita yang baru selesai”
Saya melihat brosur yang diajukannya.Ada sederetan nama-nama beken, sebagian besar pejabat pemerintah dan legislatif. Saya mengelak. Ingat pengalaman saya dengan sertifikat bahasa perancis itu.
”Nggak ah ... saya ingin ilmunya. Malu punya gelar kalau nggak ngerti apa-apa...”
”Jangan takut ..., kalau mau ilmunya, ikut saja program yang 6 bulan, kuliah dulu baru wisuda”
Lho..lho..lho... Nggak salah tuh? Kok gelar PhD diperoleh cuma dengan kuliah 6 bulan? Bukankah DR/PhD itu diperoleh by research dan bukan by course yang Cuma 6 bulan? Duh pusing …. Mungkin level intelektual saya nggak sampai setinggi itu.

Terbayang masa-masa melelahkan saat saya mendampingi suami di Perancis. Hari-hari melelahkan lahir batin kami berdua. Libur musim panas pertama di Poitiers tidak dapat kami lalui dengan baik. Suami harus belajar mati-matian karena Prof. H.C di l”ENSMA akan pensiun dan dia merasa berkewajiban untuk segera ”mentransfer” urusannya kepada Prof. P.T di universite de Paris XII - Creteil. Saya juga teringat pada perjalanan panjang suami setiap hari, dari Stains ke Creteil menyusuri lorong bawah tanah Paris dengan metro dan RER ditambah 10 jam di lab. Bahkan, dia berhari-hari tidak pulang untuk menyelesaikan sisa penelitian selama hampir 4 tahun diakhir masa tinggalnya. Belum lagi menyelesaikan thesis dalam bahasa perancis yang rumit. Mereka yang pernah melakukan riset atau kerja di laboratorium untuk meraih gelar DR/PhD pasti merasakan betul sakit dan getirnya masa-masa tersebut.

Duh ... jadi, buat apa gelar sederetan itu? Saya tidak sanggup mengkhianati prosesi tradisi keilmuan yang sudah berlangsung sekian lama. Bukan karena sok moralis, tapi saya betul-betul takut ... saya malu .... nanti kalau saya diajak diskusi, terus ngomongnya nggak nyambung gimana .... ? Saya juga takut, kalau nanti di akhirat, Allah SWT tanya... ” Gelar kamu yang sederet itu diperoleh dengan cara apa...???”

Salam
Lebak bulus 13juni2005

Air jatuh tidak jauh dari pelimbahannya, lho!!.

Air jatuh tidak jauh dari pelimbahannya. Ini adalah peribahasa yang saya pelajari saat masih di bangku sekolah dasar dulu. Begitu saja, dihapal, masih tanpa makna yang mendalam, Maklum, pengajaran bahasa Indonesia dari jaman dulu sampai sekarang, masih begitu-begitu saja. Tidak beranjak dari urusan tata bahasa, persamaan kata dan lawan kata. Kurang mengeksplorasi kemampuan penggunaan bahasa pada anak-anak.

Jaman saya sekolah dulu, pelajaran bahasa Indonesia sangat menarik hati. Siapa pengarang buku pelajarannya, saya lupa. Pasti beliau adalah seorang pendidik yang mumpuni. Yang sangat mengerti alam pikiran anak sehingga mampu membuat buku yang sangat bagus yang sampai saat ini, beberapa dari cerita dalam buku pelajaran itu masih saya ingat dengan baik.

Buku pelajarannya ada 2, buku bahasa Indonesia yang memuat pelajaran tata bahasa. Yang satunya lagi Bacaan Bahasaku. Isinya, ”full” cerita. Nama tokohnya sangat sederhana ... Tuti, Amir, Muntu, Topo dan Sudin, tapi saya sangat suka dengan buku itu. Jadi sehabis pulang dari toko buku, langsung buku tersebut saya lalap habis, sehingga saat ulangan bahasa, saya tidak perlu belajar lagi. Itu soal buku pelajaran bahasa, lalu apa hubungannya dengan judul tulisan itu. Memang tidak ada, ini hanya karena peribahasa di atas mengingatkan saya pada pelajaran bahasa saat SD dulu yang saya jalani berpindah-pindah sekolah sampai empat kali. Kali ini saya cuma ingin cerita, ingin mencari pembenaran antara peribahasa di atas dengan penurunan sifat, kebiasaan sampai dengan profesi orang tua kepada anak.

Saya, orang Indonesia asli. Tidak memiliki dominasi kesukuan tertentu. Saya bilang ”asli”, karena saya lahir dari bapak yang orang betawi. Itupun tidak asli betul. Kakek saya, katanya punya mbah buyut keturunan Jerman yang menikah dengan Cina sengkek. Apa artinya? Saya juga nggak tahu ... tapi ibu saya bilang ... itu tuh, perempuan Cina yang tapak kakinya masih kecil karena masih pakai sepatu besi. Dari pihak nenek, katanya keturunan menak (bangsawan) Sunda dari Cianjur. Kulitnya putih bersih .... Jadi nggak salah kalau saya sering dikira keturunan Cina.

Nah, ibu saya berasal dari sumatera barat. Ibunya berasal dari Batusangkar dan kakek saya, mengaku dari Padang-panjang. Tapi ibu saya bilang masih ada darah ”keling”. Keling itu artinya apa, saya nggak perduli. Yang saya tahu, adik ibu saya yang lelaki kulitnya hitam seperti pantat kuali. Begitu ibu saya bilang. Nah ibu saya ini, walaupun katanya sudah tidak mau mengikuti adat minang, tapi kadang-kadang masih suka keluar juga ”tanduk”nya, terutama kalau sudah yang berkaitan dengan ”harga diri”. Biasalah .... perempuan minang yang matrilial itu memang penuh perhitungan dan karenanya sangat dominan dalam keluarga. Apalagi kalau suaminya berasal dari daerah yang punya sifat lembut.

Nah, suami saya, mengaku orang Jawa. Bapaknya dari Jawa Timur, orang Jawa yang paling ”kasar”. Ibunya ... nggak tahu asal muasalnya, pokoknya orang Jawa yang besar di daerah Pasundan, tapi dengar-dengar beliau masih punya darah madura. Wuih, ... mudah-mudahan bukan dari Bangkalan atau Sampang yang katanya sangar. Itu sebabnya dengan kakak-kakaknya beliau bicara dalam bahasa Sunda (yang menurut saya agak kasar), campur belanda seperti noni-noni. Maklum anak wedana jaman kumpeni. Tapi saya nggak pernah dengar suami bicara dalam bahasa Jawa di keluarganya. Katanya karena dia lahir dan besar di Jakarta, jadi supaya kelihatan lebih egaliter, pakai bahasa Indonesia saja. Maklum, bahasa Jawa itu salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sangat feodal. Ngomong saja di atur-atur, ada tingkatan-tingkatannya. Duh .... hidup yang sudah susah ini kok dibikin repot sih? Dengan latar belakang keturunan seperti itu, kalau ada kolom isian mengenai suku bangsa di formulir isian sekolah anak-anak, saya bingung mesti isi apa.

Pernikahan menyatukan dua orang yang memiliki latar-belakang dan keturunan yang berbeda ini, walaupun masih sama-sama anak teknik. Nah, akibatnya dalam mendidik anak seringkali terjadi benturan. Bukan terjadi pertengkaran, tetapi ada perbedaan prinsip dan pendekatan. Suami yang bapaknya psikolog, seolah-olah merasa sangat tahu cara mendidik anak dengan cara pendekatan psikologis. Ditambah, profesinya dosen lagi, yang alhamdulillah pernah diberi kesempatan oleh Allah menjelajahi universitas-universitas terkenal di seluruh belahan dunia kecuali benua Afrika dan Amerika latin. Jadi, komplit sudah! Jangan berbantahan soal pendidikan anak dengannya! Semua teori tentang pendidikan anak, dari A sampai Z. Dari metode pendidikan barat sampai pendidikan timur, yang terkadang masih juga dilengkapi dengan kutipan hadis dan ayat-ayat al Qur’an, bisa serta merta keluar dari mulutnya. Meja makan akan berubah jadi tempat ceramah pendidikan yang gratis selama berjam-jam. Tinggal anak lelaki saya bengong, namun masih menyimak dengan penuh minat.

Saya, yang didominasi darah matrilinial minang, lebih praktis, realitis tapi penuh perhitungan untung-rugi dan terkadang tidak mau mengalah. Harus bisa dan harus berhasil. Apalagi bapak saya, dulunya bankir. Bankir kelas ”cere” yang relatif sederhana di antara koleganya, pada ukuran jamannya dulu.

Apa keuntungan dari kondisi ini? Si anak, alhamculillah, kelihatan tidak bingung. Menurut saya, malah jadi agak ”opportunis”. Mau yang enak-enak saja. Karena metode pendidikan bapaknya yang ”sok ilmiah”, mengikuti teori psikologi anak maka dengan senang hati si anak mengadopsinya. Displin ibu dianggap sebagai kebawelan yang perlu dibuang jauh-jauh. Tutup kuping rapat-rapat, omongan ibu dianggap angin lalu, Maka, jadi si anak tumbuh ”seenaknya”. Mereka cenderung mengikuti sistem pendidikan bapaknya yang serba longgar dan permissif. Kalau hari minggu dan hari libur, boleh mandi siang karena tidak ada yang dikejar. Menjelang ujian, tidak perlu belajar. Kan, sekolahnya sudah dari jam 7 sampai jam 2 siang, jadi di rumah untuk istirahat dan senang-senang. Nonton tv, baca buku cerita atau dengar musik. Kalau ulangan dapat angka jelek (jelek versi ibu-ibu adalah di bawah angka delapan), dan saya mengomel karena keengganannya belajar menjelang ulangan, bapak dengan enteng bilang ; dapat enam juga sudah bagus, tidak perlu harus dapat angka sepuluh! Maka, jadilah saya mendapat komplain dari guru atau wali kelas bahwa prestasi anak saya kurang optimal. Bahkan anak gadis kecil saya bilang terus terang kepada guru kelasnya : ”Ibu guru, saya bosan dan malas jadi juara kelas. Ingin biasa-biasa saja”. Duh ’tu anak ....!! Gak tahu ya, kalau sekarang jamannya globalisasi. Jamannya bersaing ketat. Kalau nggak pintar ... kamu ketinggalan lho!!!

Adakah keuntungan dari perdebatan dan keterbukaan keluarga seperti itu? Anak lelaki saya selalu mengeluh tentang sistem pendidikan di Indonesia dan jadi pemberontak di sekolahnya. Bacaan kesukaannya yang tadinya kelas komik jepang beralih jadi buku filsafat yang rada berat. Bahkan karya tulisnya di SMA mengambil judul ”Mencari Tuhan” yang agak filosofis sehingga dia kesulitan mencari guru pembimbing. Ini pasti gara-gara pada saat yang bersamaan, bapaknya kuliah lagi di jurusan filsafat, pasca sarjana UI, walau Cuma sempat mampir satu semester saja (kalah sama si Oneng... he..he...). Segala buku yang berkaitan dengan ilmu filsafat bertebaran diseluruh pojok rumah. Tidak ada sensor ... semua boleh dibaca dan didiskusikan. Walaupun kalau urusan yang ilmiah-ilmiah begitu, pasti didominasi bapak.

Dalam menentukan sekolah, saya cenderung berpikiran praktis. Cari jurusan atau fakultas yang punya masa depan cerah. Segala alasan diberikan. Yang paling mendasar, tentunya, sebagai lelaki kelak anak saya harus mempunyai penghasilan yang baik (besar, maksudnya, malu-malu nyebutnya ...) agar bisa memenuhi kebutuhan hidup yang layak sesuai dengan standar hidup kelas menengah ... atas. Sebagai alumni fakultas teknik, maka dengan pakai kacamata kuda, pilihan sekolah buat anak, pasti juga yang dekat-dekat situ. Jadilah dia masuk jurusan elektro, sayangnya itu cuma berlangsung dua tahun. Pada tahun ke tiga, setelah lepas dari pengawasan ketat ibunya, dan merasa bebas menentukan masa depannya sendiri, dia pindah ke jurusan matematika. Untung tidak mengulang dari awal. Cuma kehilangan satu semester.

Sekarang dia sudah selesai dan sedang menimbang-nimbang mengambil magister pada bidang Pure Mathematics karena dia bercita-cita jadi dosen. Alamak ....... jauh-jauh sekolah, dipilihkan jurusan yang ”gemerlap” eh ... profesi dosen juga yang diincar. Jangan-jangan itu ”kutukan” leluhurnya di Mojokerto sana ... he..he. Bagaimana mungkin ... ?? Kakeknya (mertua saya) dosen, bapaknya dosen .... ini, satu lagi, ada keturunan ”homo erectus mojokertensis” yang sedang merintis jalan menjadi dosen!!! Apalagi istrinya sudah jelas-jelas bercita-cita jadi guru (dia ambil double degree biochemistry dan education), mertua perempuan anak saya juga berprofesi sebagai guru – early childhood teacher. Lengkap sudah ....

Tapi, memangnya apa yang salah dengan profesi guru/dosen? Bukankah dalam Islam dikatakan bahwa guru/dosen mendapat pahala dari ilmu yang disebarkan dan bermanfaat bagi orang banyak? Jadi secara agama, profesi guru/dosen itu begitu mulia! Tapi, kita kan harus realistis ... Kebutuhan hidup atau moralitas?

Saya teringat, salah satu teman saya pernah mengeluhkan ”kelakuan” mantan bosnya yang sering memeras orang dan tidak bermoral. Padahal bosnya itu anak jendral dan pejabat daerah yang kaya raya dan disegani orang. Teman saya yang lugu itu lupa, mungkin bosnya, sejak kecil, melihat nikmat dan mudahnya mendapat uang upeti dari contoh yang diperlihatkan orang tuanya. Dan toh, orang tuanya yang pejabat itu tetap dihormati (baca ”ditakuti”) orang. Jadi setelah besar dan dewasa, dia menganggap wajar saja bahwa sebagai anak jendral, dia harus juga dihormati dan kemudian menggantikan bapaknya menerima upeti untuk menghidupi keluarganya. Itu contoh cara survive yang dilihatnya sejak kecil. Toh soal kutip mengutip di negara ini, kan sampai sekarang merupakan hal yang biasa. Malah sekarang sudah dilakukan secara berjamaah ... tidak malu-malu lagi. Kan sudah jadi juara dunia...

Kita saja yang lupa bahwa harta yang tidak halal akan membawa bala bagi pemakannya, sebagaimana hadis yang meriwayatkan bahwa shalat dan ibadah orang yang memakan harta tidak halal, tidak akan diterima selama 40 hari. Nah, kalau profesi kita menyebabkan kita memakan uang haram, kapan dong ibadah kita diterima? Padahal kita sudah bayar zakat lho..... sudah menyumbang mesjid di pojok sana .... sudah menyantuni anak yatim. Eh tapi tetangga, kerabat dan istri sekalipun mungkin nggak tahu lho asal muasal harta yang dikumpulkan ini!!!

Duh ...., kalau begini, biarlah anak saya jadi dosen daripada nantinya dia nyerempet-nyerempet narik upeti atau kongkalikong. Mudah-mudahan dia termasuk golongan orang yang amal dan ibadahnya diterima Allah SWT, dan kami orang tuanya mendapat berkah dari kesalehannya. Kami hanya bisa berdo’a karena kami hanya bisa berusaha agar harta yang digunakan untuk menghidupi keluarga berasal dari cara-cara yang halal.

Salam
Lebak bulus 12 juni 05

Bagian 2: Sebetulnya ....... apa sih tujuan pendidikan kita.

Hari ini, anak saya mulai mengikuti evaluasi belajar. Karena dia sekolah di swasta, maka dia harus mengikuti evaluasi sebanyak 2 kali. Minggu pertama versi sekolah dan minggu ke dua versi Diknas. Kasihan anak itu ... kena flu lagi. Tapi seperti biasanya, saya tidak terlalu memaksanya untuk belajar. Saya sudah agak ketularan suami dengan prinsip ”Biar dia senang-senang. Anak kecil itu alamnya ... bermain. Jadi jangan dipaksa belajar. Pinter di sekolah, nggak jaminan sukses di masyarakat. Nantinya Cuma jadi orang gajian yang patuh...., bukan orang yang strugle dalam menghadapi kehidupan”.

Anak-anak, sepertinya selalu jadi kelinci percobaan bagi para pakar pendidikan. Semula, saya selalu kesal kalau ada orang tua atau berita yang yang mengeluhkan perubahan kurikulum. ” Ganti menteri, ganti kebijakan .... Itu jargon yang selalu didengung-dengungkan. Dalam hati, saya selalu berkata ... ”kok bego amat ya orang-orang itu...., kan dunia selalu berputar ... bertambah maju, jadi tentunya kurikulumpun harus dievaluasi secara periodik, disesuaikan dengan perkembangan jaman”.

Jadi sah-sah saja kalau kurikulum berganti setiap 5 tahun sekali. Cuma saja, karena pergantian kurikulum selalu terjadi bersamaan dengan pergantian menteri, seolah-olah menteri baru-lah yang mengganti kurikulum. Padahal kan para pakar pendidikan sudah bekerja jauh sebelumnya, selama masa kerja menteri lama. Mereka sudah melakukan benchmark ke negara-negara maju, mempelajari kurikulum disana-sini. Saya yakin, tim kurikulum nasional adalah orang-orang pintar dengan sederetan gelar di depan dan belakang namanya. Masa nggak percaya sih?

Sayangnya, sekarang saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri. Bukan karena saya tidak lagi memiliki pemahaman bahwa kurikulum harus dievaluasi mengikuti perkembangan jaman. Pemahaman ini tetap saya pegang dan saya percayai. Tapi membaca berita mengenai berbagai masalah pendidikan, di daerah pedalaman terutama di luar pulau Jawa, angka pengangguran yang semakin tinggi, khususnya di kalangan orang-orang terdidik (sarjana), sekarang saya jadi bertanya-tanya.... sebetulnya, apa sih tujuan pendidikan anak-anak kita ini. Mau dibawa kemana mereka dengan bekal pendidikan yang diterima di sekolah?

Terus terang, saya terpengaruh dengan tulisan Andreas Harefa dalam salah satu bukunya. Dia mengatakan bahwa pendidikan dimaksudkan agar anak-anak kelak menjadi mandiri, mampu mempekerjakan dirinya sendiri dan tidak bergantung pada pemerintah untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian, pendidikan harus disesuaikan dengan lingkungan dimana anak-anak itu tinggal. Jangan mencabut mereka dari alam dimana mereka tumbuh dan besar. Saya sangat percaya dengan pendapat tersebut, karena dengan jalan apapun juga, akhir dari pendidikan adalah agar kelak kita mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apakah kemampuan itu berasal dari kemampuan fisik semata, kemampuan intelektual (otak) semata .... atau gabungan dari keduanya.

Kalau tujuan akhirnya adalah seperti itu, maka seharusnya, pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, tidak bisa disama ratakan. Memang ada ilmu-ilmu dasar yang wajib diajarkan. Ilmu lainnya, seharusnya adalah ilmu yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Jadi, pikiran awam saya mengatakan bahwa sebelum kita membuat kurikulum; selain melakukan benchmark ke negara maju, kita juga harus melakukan riset/survey data terlebih dahulu tentang profil calon anak didik kita secara demografi. Kemudian dibuatkan peta kondisi anak didik berdasarkan, antara lain lokasi tempat tinggal, potensi akademiknya, kondisi sosial dan ekonomi, kondisi/potensi daerah tempat tinggal. Ini memang bukan kerja yang mudah, tetapi bisa dan harus dilakukan. Jangan dilihat sebagai proyek yang dijadikan ”pintu masuk” untuk mengeruk keuntungan sesaat.

Di luar dari masalah kemampuan akademis dan faktor ekonomi, anak-anak yang tinggal dikota-kota besr di Indonesia (misalnya saja Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya), akan memilik persepsi dan ekspektasi tentang pendidikan dan masa depannya yang berbeda dengan anak-anak di kota-kota kecil pulau Jawa. Anak-anak nelayan, pasti memiliki persepsi yang berbeda dengan anak petani. Sesama anak petanipun akan berbeda.... anak petani di pulau Jawa pasti memiliki persepsi dan ekspektasi berbeda dengan anak petani di pedalaman Kalimantan, Sulawesi.... apalagi bila dibandingkan dengan anak petani di Irian/Papua..Dari hasil pemetaan tersebut ditambah dengan benchmark dari luar negeri itu, mungkin dapat ditentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, Sekolah macam apa ... sampai tingkatan mana. Kesemuanya disesuaikan dengan potensi daerahnya masing-masing.

Bukankan suatu yang aneh, bila Bandung dan Jakarta yang tidak memiliki sumber daya alam pertambangan maupun permiyakan memiliki perguruan tinggi dengan jurusan Teknis Gas/Petrokimia, jurusan pertambangan dan perminyakan. Sementara di jantung daerah perminyakan (Riau) sama sekali tidak ada perguruan tinggi dengan jurusan perminyakan. Jurusan Pertambangan mungkin lebih cocok ada di Kalimantan. Bahkan Jayapura yang kaya dengan mineral dan minyak selayaknya ada jurusan-jurusan tersebut. Dengan demikian putra daerah bisa mengenyam pendidikan yang sesuai dengan alamnya. Mereka akhirnya mampu mengeksplorasi daerahnya. Tidak perlu mendatangkan tenaga dari Jawa yang akhirnya hanya akan memperlebar jurang antara putra daerah dan pendatang. Yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial yang berbuntut kepada perpecahan seperti yang sekarang terjadi.

Di samping itu, kitapun tahu bahwa struktur apapun juga, selalu mengikuti bentuk piramida. Tingkat bawah selalu lebih besar daripada tingkat atas. Jadi .... kalau di suatu wilayah, diperoleh data bahwa sebagian besar anak-anak nantinya, karena berbagai faktor dan ketersediaan tenaga guru, hanya mampu menyelesaikan sekolah sampai SD saja, SLP saja atau SLA saja, kurikulum sekolah harus mampu membekali anak agar bisa bekerja setelah menamatkan jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Atas dasar itu, pada tingkatan SD pun, maka kurikulum yang diperlukan untuk anak di kota besar seharusnya berbeda dengan kurikulum sekolah untuk anak di pedalaman. Yang pasti, mata ajaran/muatan lokal yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan hidup yang sifatnya praktis ... bukan sekedar teoritis.

Jaman saya kecil dulu, saya masih melihat adanya Sekolah Menengah Pertanian, Sekolah Kesejahteraan Keluarga, Sekolah Asisten Apoteker, sekolah Guru Olahraga, yang sekarang tidak terdengar lagi gaungnya. Bukankah suatu hal yang aneh, bila kita menanggap diri sebagai negara agraris sementara Sekolah Menengah Pertanian adalah sekolah yang langka, Juga suatu hal yang sangat ajaib, bila sebagai negara kepulauan, saya tidak pernah mendengar adanya sekolah menengah perikanan/kelautan. Kalaupun ada universitas dengan jurusan pertanian dan kelautan, maka lulusannya pun lebih suka jadi wartawan atau bankir. Pantas saja kita ketinggalan jauh dari Thailand dalam bidang pertanian dan kelautan. Bahkan kita akan tersusul oleh Vietnam, yang baru + 20 tahun bangkit dari perang gerilya, dalam bidang pertanian.

Sebagai negara yang kaya dengan sumber mineral, alangkah sayangnya nila tidak ada sekolah menengah pertambangan/permiyakan. Bukankah pekerja di pertambangan, perminyakan juga memerlukan tenaga menengah, teknisi yang jumlahnya cukup besar, bukan melulu tenaga sarjana? Begitu juga dengan bidang kelautan dan pertanian. Bahkan, apa salahnya bila buruh kasar yang tidak tamat SD, juga memiliki pengetahuan bagaimana cara memupuk, mencangkul yang baik dan itu diperoleh dari kurikulum/muatan lokal sekolah di desa.

Mungkin kita memang senang bermuluk-muluk. Melihat sesuatu terlalu jauh, bukanlah suatu yang salah. Karena kita memang tidak boleh ketinggalan, kalau mau bersaing di percaturan global. Tapi sesuatu yang jauh itu seharusnya dengan mengerahkan potensi dan sumber daya alam kita. Dengan demikian kita akan memiliki keunggulan yang unik, yang tidak dapat dimiliki negara lain. Bukankah suatu hal yang menyedihkan, sebagai negara agraris, Indonesia menjadi negara pengimpor beras nomor wahid di dunia? Buah-buahan yang dijual di super market bahkan hingga pedagang kalilimapun berasal dari manca negara. Jeruk pakistan, durian bangkok, pepaya hawai. Itupun kualitas buangan, bukan kualitas nomor satu. Duh nasib.....

Akhirnya saya dapat mengerti, kenapa di daerah pedalaman dan di kalangan masyarakat miskin, orangtua seringkali tidak memberikan prioritas utama bagi anaknya untuk pergi ke sekolah. Bahkan di Jakarta, anak, masih dengan seragam sekolah, lebih suka memegang kecrekan, bergerombol di hampir setiap traffic light. Sekolah memang tidak pernah gratis, walaupun pemerintah memberlakukan wajib belajar 9 tahun Apalagi, di samping kemampuan keuangan yang sangat terbatas dan kemiskinan orang tua, sekolah juga tidak mampu menjawab kebutuhan hidup.

Setamat sekolah, anak-anak mereka tidak juga dapat bekerja. Ilmu yang diperoleh di sekolah, bukanlah ilmu praktis yang membuat anak didik mampu bekerja secara mandiri, melainkan ilmu-ilmu teoritis yang abstrak. Ilmu yang hanya membuat anak merasa ”sudah pintar” sehingga lebih suka mengganggur karena merasa malu untuk ”bekerja kasar”. Sekolah malah menjadikan anak-anak kita gamang menapaki kehidupan. Itu problema yang dihadapi bila kita sempat tamat sekolah, bagaimana nasib anak-anak yang terpaksa drop out? Padahal, akhir dari perjalanan panjang pendidikan sekolah, katanya agar kita mampu bekerja sesuai dengan bidang pendidikan. Tapi mengapa kenyataannya jauh berbeda .... Adakah yang salah.......???

Ah ... seandainya, di sekolah, saya diajarkan bertukang .... mungkin saya bisa bantu bapak di bengkelnya. Seandainya, di sekolah saya diajarkan menjahit atau memasak dengan serius ... pasti saya bisa membantu melebarkan usaha warung ibu dengan menu-menu baru atau mengantikan ibu menjahit baju langganannya. Sayang .... di sekolah saya cuma diajarkan matematka, fisika dan kimia yang bikin otak saya melintir ..............

Salam
Lebak bulus 13 juni 2005

Sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat

Sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat (posted June 10, 2005)
Terutama bagi golongan berpenghasilan rendah.

Kamis pagi, sambil berangkat kantor, saya membaca harian Kompas tentang bagaimana ruwetnya mengurus kartu GAKIN (keluarga miskin) agar masyarakat golongan tidak mampu dapat menikmati dana kompensasi subsidi BBM yang katanya dialihkan untuk bidang kesehatan dan pendidikan masyarakat golongan bawah. Keruwetan itu juga ditambah lagi dengan berbagai persyaratan administrasi dan lambannya aparat dalam menangani prosedur penerbitan kartu Gakin. Aduh ..... kalau begitu ruwetnya, bisa-bisa orang sakit itu meninggal sebelum sempat diobati.

Tahun 2005 ini Indonesia memang sedang dirundung malang. Setelah badai tsunami menghantam Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, tahun 2005 kita masuki juga dengan bencana beruntun. Banjir ..... itu sudah berita rutin awal tahun yang tak berkesudahan. Reda masalah gempa dan tsunami, muncul berita mengenai wabah polio di Sukabumi dan pelan-pelan terkuak adanya penyakit polio (katanya lumpuh layu ..... entah apa bedanya dengan polio...?) di beberapa kota di Jawa Barat dan Banten. Lalu busung lapar di lumbung padi NTT dan wabah german measles (campak jerman), di samping berita-berita kecil lainnya mengenai problem kesehatan masyarakat.

Aduh ... kok pemerintahan SBY ini dirundung malang ya...? Alih-alih mengenjot laju pembangunan negara, malah bencana bertubi-tubi yang mampir. Entah pertanda apa lagi bagi bangsa dan negara ini... tapi, mungkin inilah puncak gunung es dari segudang problem yang diderita rakyat Indonesia selama ini.

Selama ini, secara bisik-bisik, kita pernah mendengar bahwa program KB (keluarga Berencana) seringkali dilaksanakan secara ngawur. Petugas lapangan hanya mengejar target jumlah akseptor yang berhasil dijangkaunya. Terkadang, nenek-nenek peot pun diakui sebagai akseptor KB. Kita memang melihat ada banyak puskesmas di setiap kecamatan, namun tidak jarang pula kita dengar keluhan tentang ketiadaan tenaga medis. Jangan lagi bicara mengenai peralatan yang tersedia .... Sedih mengetahui bahwa fasilitas kesehatan bagi rakyat kecil betul-betul terabaikan. Tidak salah bila kualitas kesehatan mereka begitu rendah. Kesehatan menjadi barang yang sangat mewah. Mereka takut sakit karena ketiadaan uang untuk berobat .... tetapi pada saat yang bersamaan mereka tidak mampu mencegah penyakit datang. Kemiskinan dan kekumuhan hidup mereka menyebabkan penyakit sangat bersahabat dengan mereka.

Keadaan ini sangat berbeda dengan pengalaman saya menjadi ”orang miskin” di negara orang. 23 tahun yang lalu, saat merasa diri mulai hamil, saya pergi ke PMI (Protection Maternelle et Infantile) di lingkungan tempat tinggal kami di Residence du Clos Saint Lazare. Saya diperiksa oleh Dr. Toutlemonde - gynecolog perempuan. Dengan ramahnya dia memeriksa kehamilan saya dan menanyakan ini-itu. Yang terpenting ditanyakan adalah; apakah saya memiliki ”securite-sociale - SS”; semacam asuransi kesehatan.

Securite Sociale, bagi orang Perancis menjadi sambungan nyawa yang akan melindunginya. Sudah tentu, saya tidak memilikinya. Tapi saya tenang-tenang saja .... sebelum memutuskan hamil, saya sudah mempelajari bagaimana cara mendapatkan ”securite sociale a la cotisation tres modere” (memiliki asuransi dengan biaya sangat ringan). Jadi begitu hamil, mulailah saya mengajukan permohonan ”prise en charge” (minta dibayarin) untuk SS tersebut melalui Caisse d’Allocation Familiale di Saint Denis.

Sebelum lupa... saya cerita dulu, apa itu Caisse d’Allocation Familiale - CAF. Lembaga ini, mungkin kaki tangannya Departemen sosial. Jadi orang-orang miskin yang memiliki penghasilan di bawah SMIC (salaire minimum) dapat mengajukan permohonan tunjangan sesuai dengan aturan yang berlaku dengan berbagai kategori. Kami yang baru menikah di bawah 5 (lima) tahun dan memiliki pemasukan hanya dari beasiswa suami yang nilainya di bawah SMIC, berhak atas tunjangan perumahan yang besarnya sekitar 90% hari sewa apartemen yang kami tempati. Nah atas dasar itu sebagai ”beneficiaire” alias penerima tunjangan ”miskin” itulah, maka menurut aturan, CAF atau Mairie (kantor walikota) berkewajiban menanggung biaya SS kami. Ini namanya ”aji mumpung”

”Perburuan” untuk mendapatkan SS ternyata cukup seru (saya terkadang masih merasa aneh ... kok nekat dan malu-maluin juga pengalamannya). Keluar dari PMI, saya langsung pergi ke kantor CAF, mengambil dokumen dan mengisinya dengan keyakinan penuh. Bagaimana tidak, tetangga saya yang sama-sama hamil (satu Australian, dan satunya lagi dari Univ. Andalas, keduanya hamil anak ke 3) sudah mendapat SS hanya dalam waktu 1 bulan sesudah deklarasi kehamilan. Malah si Uni itu sudah mendapat banyak kemudahan karenanya. Sudah dapat SS gratis, eh dia dapat ”pembantu” orang perancis lagi..... Gila juga tuh si Uni, mana ada orang Indonesia punya pembantu orang perancis di negaranya lagi. Tapi itulah.... gara-gara kehamilannya agak bermasalah; si uni muntah-muntah terus selama 4 bulan pertama dan berat badannya turun, Dr. Toutlemonde melaporkan dan merekomendasikan kepada Mairie agar ada tenaga yang mengurus rumah tangga si uni selama masa hamil. Di samping itu, untuk menghindari komplikasi kehamilan, si Uni tidak perlu datang ke PMI untuk pengecekan rutin kehamilan. Petugas kesehatan akan datang ke apartemennya, rutin 1x seminggu untuk mengecek perkembangan kehamilannya. Semuanya gratis.

Nah kembali pada proses pengurusan SS, sampai dengan kehamilan bulan ke 3, saya mendapatkan jawaban bahwa permintaan ”prise en charge” ditolak karena saya bukan beneficiare dari allocation familiale. Saya bingung dan tidak mengerti alasannya, karena kami sudah mendapat tunjangan perumahan, kok nggak dianggap sebagai beneficiare?

Tetangga saya, refugie vietnamienne mengusulkan untuk menulis surat kepada Perdana Menteri (kala itu Pierre Mauroi). Nekat, saya lakukan itu tanpa sepengetahuan suami tentunya. Setelah menulis surat, saya pergi lagi ke CAF, menanyakan alasan penolakan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa beneficiare CAF adalah suami, dan saya harus memproses penggantian nama dari nama suami kepada nama saya sendiri agar saya mendapat fasilitas Prise en Charge tersebut.. Petugas CAF memberikan dokumen isian yang saya isi saat itu juga untuk mempercepat proses. Toh dokumen pendukungnya sudah ada dalam komputer mereka. Jadi nggak perlu tambahan dokumen-dokumen lainnya. Pemberitahuan perubahan nama ”beneficiare”, saya terima 2 minggu kemudian dan saya kembali mengajukan permohonan Prise en charge dengan bukti-bukti baru.

Singkatnya ... setelah menunggu sekian lama, saya akhirnya menerima surat pemberitahuan dari Kantor Perdana Menteri, bahwa mereka memperhatikan isi surat tersebut dan telah meneruskannya ke pada pihak yang berwenang. Tentu saja, hal ini membuat saya panik ... ini jawaban klasik yang, kalau di Indonesia berarti penolakan secara halus.

Rupanya saya lupa, bahwa saya berada di negara dengan sistem jaminan kesehatan yang sudah sangat baku. 2 minggu setelah saya menerima surat dari kantor perdana menteri, saya mendapat surat dari SS yang menyatakan bahwa Peraturan mengenai batas umur pemohon ”prise en charge” berubah, dari tadinya hanya sampai dengan umur 22 tahun menjadi umur 27 tahun. Permohonan saya dikabulkan dan saya hanya diwajibkan membayar SS sebesar 10% dari tarif standard.. Alhamdulillah .... kebetulan apalagi itu .... Saya percaya kuasa Allah berlaku untuk hal tersebut.

Setelah saya membayar lunas SS, saya mendapat 1 buku yang disebut ”carnet de maternite” yang berisi kewajiban-kewajiban pemeriksaan selama hamil dan setelah melahirkan. Pada tanggal 8 April 1983, jadilah saya melahirkan dengan normal, selamat..... dirumah sakit umum yang fasilitasnya sekelas dengan RS mewahnya Indonesia.... 100% gratis. Yang lebih hebat lagi, setelah pemeriksaan wajib bayi pada hari ke delapan dan mengembalikan salah satu lembar ’kewajiban periksa” itu ke kantor SS .... saya mendapat selembar CEK TUNAI ..... betul-betul cek tunai yang bisa digunakan buat kebutuhan bayi. Untuk iuran SS tahun selanjutnya... karena saya memiliki anak di bawah umur 3 tahun, maka biaya SS ditanggung sepenuhnya oleh CAF.

Saya tahu, saya tidak bisa membandingkan fasilitas sosial yang dinikmati masyarakat di negara maju dengan negara kita yang saat ini masuk dalam kategori miskin. Saya hanya merasa beruntung ... hidup dinegara orang dengan status ”orang miskin” ternyata jauh lebih beruntung daripada hidup di negara sendiri. Selama proses mendapatkan SS, saya mendapatkan bantuan dan simpati yang begitu besar dari setiap orang yang saya temui.

Saya sedih memikirkan, betapa, di negara sendiri, kita senang mempersulit orang. Kita sering membaca/mendengar berita betapa banyak orang mengeluhkan pelayanan RS yang sangat komersial. Meminta uang jaminan untuk perawatan sebelum menerima pasien.

Ada sesuatu yang salah dalam sistem jaminan kesehatan di negara ini. Kalaupun kita mampu membayar asuransi kesehatan, maka terlalu banyak batasannya, sehingga asuransi tersebut terasa sangat tidak bermanfaat kecuali kalau rawat inap. Padahal, berapa sih jumlah orang sakit yang harus rawat inap? Sebagian besar adalah sakit-sakit biasa yang tidak memerlukan rawat inap.

Jadi jangan salahkan bila praktek dukun, para normal, orang pintar atau orang pura-pura pintar tumbuh subur. Penyakit mewabah tanpa kendali ......, Jangan salahkan rakyat bila mereka tidak mampu hidup sehat dan bersih... mereka tidak mampu. Tapi ... kita yang mampu, bantulah mereka kala mereka memerlukan bantuan kita. Kalau kita kita juga bisa membantu mereka dengan materi, setidaknya janganlah mempersulit apa yang menjadi hak-hak mereka ... jangan makan hak mereka.

Padahal, pada jaman yang serba online ini, dana kompensasi BBM buat kesehatan tidak harus dibatasi per daerah/wilayah. Bukankah BPS memiliki data penduduk Indonesia. Mengapa tidak dibuatkan satu Kartu Identitas Nasional (KTP nasional) dan data base penerbitan kartu tersebut dapat diisi dengan apa saja data yang diperlukan untuk setiap orang, baik yang bersifat kewajiban maupun hak. Dengan demikian, tidak perlu ada KTP ganda, pemalsuan data atau hal-hal negatif lainnya. Begitu juga halnya dengan data tingkat sosial/penghasilan rakyat. Sekali input data KTP Nasional itu dimasukkan, maka tidak ada alasan bagi rumah sakit/puskesmas atau siapapun menghindar dari kewajiban memberikan pelayanan yang dibutuhkan rakyat. Sebagaimana rakyat juga tidak bisa menghindar dari kewajibannya.

Menata data administrasi 220 juta rakyat Indonesia memang bukan hal yang mudah. Tetapi itu bukan tidak mungkin dilaksanakan, bila ada kemauan. Sistem online akan menjamin transparansi dalam seluruh segi kehidupan kita. Perbankan kita sudah menggunakan sistem online ... sehingga nasabah di Jakarta bisa menarik uangnya melalui atm di seluruh Indonesia. Tidak ada batas wilayah lagi. Jadi pundi-pundi dana kompensasi BBM, dengan suatu program integrated, saya yakin, juga bisa diakses oleh rakyat miskin dimana saja dia membutuhkan pengobatan. Banyak pakar tentang sistem di Indonesia. Masalahnya.... apakah kita mau mengubah sistem manual ... yang memungkinkan untuk ”bermain-main” dengan sistem online yang sangat rigid. Ini soal kemauan ... bukan soal bisa atau tidak. Kemauanlah yang akan menggerakkan sesuatu dari ”tidak bisa” menjadi ”bisa”

salam

Maaf... maaf... maaf ....

rasanya sepanjang tahun 2011, aku tak pernah lagi menulis.
entah karena kesibukan atau lebih tepat dan jujur adalah kemalasan yang menjadi sebab.
tapi ... aku bertekad, 2012 akan mulai menulis lagi.
minimal 1 kali sebulan
kalau bisa tentu lebih banyak lagi
tapi untuk memulainya,
akan kupindahkan dulu semua tulisanku dari blog sebelumnya
yang sekarang menjadi online shopping blog,
yang kemudian terasa sangat menggangguku
untuk itulah maaf kusampaikan terlebih dahulu
karena bisa jadi tulisannya sudah out of date
insya Allah, ke depannya akan lebih baik.
salam

Sebetulnya .... apa sih tujuan pendidikan kita?

Pada bulan Juni ini, anak-anak dalam berbagai tingkatan sekolah memasuki masa ujian akhir dan evaluasi belajar. Sebentar lagi orang tua mulai bingung menakar-nakar kemampuan keuangan dan prestasi anak. Bagi mereka yang mampu, mereka mulai bersiap mengincar sekolah favorit untuk kemudian mendaftar disana. Bagi mereka yang kurang mampu .... akhir tahun ajaran adalah masa-masa yang terberat bagi beban keuangan rumah tangga. Ditambah dengan kebingungan anak-anak bila tidak dapat mengikuti UN I pada bulan Juni ini dan si kakak yang terancam tidak dapat melanjutkan ke Universitas Negeri favorit yang sekarang uang masuknya tidak kurang dari 8 digits

Kesibukan dan persoalan yang sama setiap tahun menyisakan pertanyaan yang sama sejak lama dan hingga kini saya tidak mampu menjawabnya. Sebetulnya ... apa sih tujuan pendidikan kita?

Secara awam, saya menterjemahkan pendidikan adalah sarana agar manusia mampu hidup mandiri, dalam arti kata mampu memberikan penghasilan kepada diri/keluarganya. dan ini, semoga saja dengan cara yang "halal" bukan dengan korupsi. Namun demikian, bagaimana kita mendidik anak hingga, suatu saat, dia mampu mandiri. Nah ini yang masih menjadi pertanyaan bagi saya hingga saat ini dan karenanya saya ingin berbagi cerita agar mendapat masukan dalam upaya "mendidik" anak gadis kecil saya.

Saya memilik 2 anak tunggal. Saya sebut demikian karena mereka berbeda 15 tahun sehingga, mereka praktis hidup dan besar sebagai anak tunggal pada masa yang berbeda. Anak yang besar, lelaki, masuk SD Negeri Percontohan di Jakarta Pusat. Menjadi kebanggaan sekolahnya karena melalui dia, sekolahnya meraih gelar Juara Matematika tingkat SD se DKI Jaya, walaupun di tingkat nasional hanya meraih juara harapan I. Prestasi lainnya adalah menjadi Pelajar Teladan DKI dan banyak lagi prestasi-prestasi lainnya. Juara kelas? itu sudah pasti, dan dia juga meraih juara umum pada saat ujian akhir SD. Sebagai orang tua tentu bangga, karena anak itu juga tumbuh dengan segudang kegiatan eks-kul secara sukarela. Seluruh kegiatan sekolah selalu diikutinya, hingga kami seringkali harus mengingatkannya untuk mengurangi kegiatan eks-kul nya.

Lulus SD, saya sedikit memaksanya untuk masuk ke Labschool dengan berbagai pertimbangan antara lain, sekolah tersebut menerapkan sisitem 5 hari belajar dari jam 7.15 - 15.45 WIB dan bila masih ikut eks-kul anak akan berada di sekolah hingga jam 17.00. Ini akan mengakibatkan anak tidak memiliki waktu lagi untuk keluyuran dan tawuran. Di samping itu, keluarga memiliki waktu bersama secara penuh pada hari Sabtu.

Prestasi di SLP, walaupun tidak sebaik di SD, tapi minimal masih masuk 5 besar di kelas dan saat duduk di kelas 3, dimasukkan pada kelas anak-anak yang memiliki kemampuan akademis tinggi. Satu hal yang mencolok, semasa dia di SLP, setiap kali saya menghadap guru untuk mengambil raport, maka guru kelas pasti akan mengatakan "anak ibu kurang optimal" bila dibandingkan antara hasil test IQ dengan nilai raport. Sebagaimana umumnya ibu2 ... saya menanyakan pada anak saya, apa yang terjadi. Dia dengan entengnya mengatakan ... itu adalah hasil murni kemampuan saya. Saya tidak suka menjadi juara kelas karena contekan, "ngebet saat ulangan", atau hal lainnya. Saya masih mendebatnya ... "ya, itu bagus, tapi kan ada baiknyakalau nilainya lebih baik lagi (padahal... saat itu rata2 raport nya sudah di angka 8)" ... Perdebatan seperti ini biasanya terhenti saat bapaknya turun tangan.... ah nilai 6 aja udah cukup kok... ibu2 maunya anak dapat 10 terus..." (yang saya tahu, anak saya memang tidak pernah lagi belajar .. buka buku di rumah, kecuali buku komik kesukaannya dan melakukan segala kegiatan olah raga kesukaannya).

Ada satu hal yang sangat berkesan. Suatu saat dia mengatakan ingin menjadi pemain sepak bola professional saja.... Saya tercekat .... bagaimana mungkin. Namun dia menjawab ... pemain sepak bola itu sebaiknya orang2 yang ber IQ tinggi, karena perlu strategi ... bukan sekedar lari2 ngejar bola. Itu sebabnya PSSI nggak pernah maju lagi..." Walaupun saya menerima pendapatnya, tetap saja terbersit dalam hati ...... "no way"

Lepas dari SLP, dia masuk SLA di sekolah yang sama dan menyelesaikan sekolahnya melalui program akselerasi. Nyanyian lama selalu berulang, "prestasi anak ibu kurang optimal" dan saya selalu menerima jawaban yang sama dari anak dan bapak. Satu hal yang luput dari perhatian saya, rupanya diskusi panjang tentang sistem pendidikan di luar negeri yang selalu diceritakan bapaknya setiap kali habis "jalan2" karena seminar, kunjungan2 ke berbagai universitas manca negara atau saat ikut research fellow, terekam kuat di otaknya. Ini yang membuatnya menjadi pemberontak di kelas maupun di rumah. Menyoal sisitem pendidikan sekolah yang katanya membuat murid hanya mengejar nilai dengan berbagai cara, tetapi tidak memahami pelajaran. Apalagi ditambah dengan sebagian guru yang katanya hanya mengajar berdasarkan teks dan kurang kreatif.

Dalam berbagai kesempatan diskusi bertiga, akhirnya terlontar juga minatnya untuk menjadi guru/dosen saja (mengikuti jejak bapaknya) ... Alasannya sederhana ... menurut pendapatnya, Orang yang sejak semula secara sadar memilih IKIP dan kemudian jadi guru, itu sangat jarang. Semua orang ingin jadi bankir, insinyur dan bermacam profesi yang menjanjikan gaji besar. Masuk IKP umumnya menjadi pilihan ke sekian ,,, dan umumnya anak2 yang ber IQ tinggi tidak akan masuk IKIP. Jadi kalau kualitas mahasiswa IKIP adalah lulusan SLA yang "tersisa" seperti itu... bayangkan juga nantinya kualitas guru. Mau jadi apa anak-anak Indonesia kalau kualitas gurunya rendah. Karena itu saya ingin jadi guru/dosen. (untuk hal ini .... maaf bagi para guru ..., saya hanya mengungkapkan kembali pendapat anak saya beberapa tahun yang lalu). Saya hanya membatin ...... aduh, guru lagi, kasihan banget nanti istrinya mesti jungkir balik memenuhi kebutuhan hidup keluarga????

Dengan berbagai peristiwa yang melatar belakangi pendidikan selanjutnya di universitas, akhirnya dia kembali ke "jalur kesukaannya". lulus dari jurusan Applied Mathematics. Dalam usia menjelang 22 tahun, dia memutuskan menikah dan sekarang ini, sambil mencari pekerjaan yang pas, dia menjadi tutor di sebuah high school untuk mata pelajaran Mathematics and Physics. Apakah saya sudah berhasil mengantarnya hingga mampu mandiri... entahlah, saya tidak berani menjawabnya. Saya hanya tahu, bahwa kami berhasil mendidiknya untuk menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran.

Sampai saat ini, saya masih sering merenung .... apa yang didapat anak-anak di sekolah? bila benar seperti kata anak saya... "anak hanya mengejar nilai, bukan ilmu". Atau seperti satu posting beberapa waktu yang lalu ... "ada guru yang membantu murid mengerjakan UNAS nya".

Bila anak-anak, karena suatu sebab, tidak dapat melanjutkan sekolah... bekal kompetensi apa yang didapat dari sekolahnya untuk dia mengarungi belantara kehidupan. Saya jadi teringet pada tulisan Andreas Harefa .... bahwa seyogyanya, pendidikan itu harus mampu membuat manusia mandiri sesuai dengan lingkungan dimana dia tinggal. Harus mampu menciptakan kerja sesuai dengan bekal yang diperolehnya pada tiap tingkatan sekolah yang dilaluinya dan tidak menjadi beban/bergantung pada pemerintah.

Rasanya kita sepatutnya menyimak kembali tulisan-tulisan David Goleman mengenai Multiple Intelligent dan menerapkannya dalam pendidikan khususnya pada tingkatan dikdasmen. Kita tidak layak menyamakan pelajaran antara anak-anak di Papua dengan di Jawa. Anak-anak di desa nelayan dengan anak-anak di desa pertanian. Anak-anak pedalaman dengan anak-anak perkotaan. Pendidikan yang dibutuhkan masing-masing anak itu berbeda.

Berikanlah pendidikan sesuai dengan alamnya agar usai sekolah, maka teori yang diperolehnya di kelas dapat diimplementasikannya dalam kehidupan riel. Ini mungkin bisa meningkatkan taraf hidup dan kemampuan bangsa ini sehingga mereka secara sadar akan memajukan daerahnya. Tidak lagi berduyun-duyun mengejar fatamorgana gemerlap pulau Jawa.

salam

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...