Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

LEBARAN SEBENTAR LAGI ....

Lebaran sebentar lagi ...
Tanpa terasa, Selasa 30 Juni 2015, shaum sudah menginjak hari ke 13. Shaft tarawih sudah mulai maju .... Dari awal shaum penuh melimpah ruah hingga memenuhi jalan menuju rumah, sehingga menyulitkan penghuni masuk rumahnya bila terlambat pulang, kini jalan sudah bisa dilalui pejalan kaki dengan cukup lapang. Ada 1 shaft yang hilang. Sementara di dalam mesjid, shaft lelakipun sudah menyusut pula. Mengapa ....? Entahlah .... mungkin ada kesibukan yang tidak bisa ditingggalkan dalam mencari dan mengais rejeki. 

Maklum juga... Ramadhan dan Idul Fitri memang menguras isi dompey dan tabungan terutama bagi mereka yang kurang bisa menahan diri dalam banyak hal .... Misalnya mengecat rumah (ini selalu dilakukan almarhum bapak saya saat saya kecil dulu, di kampung), sambil mengganti furniture, minimal menggantil upholstery dan tirai jendela. Lalu membeli perangkat makan atau istilah kerennya Chinaware. Setelah itu mempersiapkan penampilan diri dan seluruh anggota rumah tangga. Mulai dari perangkat shalat (walau cuma digunakan 2 kali setahun hehe ...) lalu baju untuk shalat, acara sungkeman ke orangtua, lalu sowan ke rumah boss lalu sowan di hari-hari selanjutnya .... Duh ribet ... apalagi kalau harus pulang kampung.... Kalau kampungnya masih di Jawa, bingung mau naik kendaraan umum (mulai dari bus, KA atau pesawat) atau kendaraan entah pinjam dari kantor, sewa atau milik sendiri. Kalau milik sendiri, apa masih layak dipamerkan ke tetangga sebagai bukti keberhasilan di rantau ... Duh, ribet bin mumet .....

Belum lagi perbekalan selama perjalanan darat yang super duper macer dan oleh-oleh buat orangtua di kampung, sanak saudara dan tetangga-tetangga .... Oupfs ........ yang tak kalah penting persiapan untuk para pembantu yang juga akan mudik. Baju, perangkat shalat, ongkos pulang kampung, oleh-oleh dan THR mereka .... Duh ... kebayang kan... berapa besar dana yang harus dipersiapkan....

Kehebohan persiapan Idl Fitri ini ternyata tidak hanya didominasi oleh masyarakat golongan menengah ke atas saja tetapi hampir "merata" sesuai dengan kemampuannya.
Jadi ... di balik semua kehebohan yang melanda masyarakat kalangan menengah ke atas, masih banyak masyarakat yang dibalik kesulitan keuangan untuk kehidupan sehari-hari, tetapi tetap mengupayakan agar Idul Fitri yang biasa dikenal sebagai Lebaran tetap bisa dirayakan dengan meriah dan mereka mengupayakan dana dengan segala macam cara.

Ini pula, mungkin yang menyebabkan peredaran uang kertas di bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri meningkat. Kejahatan baik berupa pencurian dan perampokan meningkat, Pencetakan uang palsu juga meningkat dan ... yang "kelas atas dan terdidik" menggunakan kekuasaannya untuk "mencuri" ... Suap - menyuap meningkat, urusan dipersulit agar ada "setoran" percepatan urusan. Perjalanan pergi dan pulang kantor juga harus extra hati-hati karena pak-pol menjadi amat sangat giat memperhatika pelanggaran lalu lintas. Pengemis di jalanan bertambah banyak, surat-surat dan proposal permintaan bantuan berseliweran baik di kantor, di rumah bahkan di pelataran parkir mall ..... dan ...  ada juga yang dengan tidak sungkan-sungkan sindir menyindir menanyakan THR, padahal ... yang ditanya dan bertanya tidak ada hubungan majikan - buruh. Jadi tidak ada kewajiban memberikan THR.

Dari seluruh kejadian yang selalu berulang di setiap tahun, rasanya layak dipertanyakan, apakah Idul Fitri memang harus dirayakan dengan berlebihan ...? Isi rumah, mobil, perhiasan dan pakaian baru .... makanan berlimpah ruah ...? Seperti memuaskan nafsu yang terbelenggu selama shaum Ramadhan selama 1 bulan...?

Dan yang paling parah ...... mengapa kita tidak pernah malu atau sungkan menjadi "pengemis" ...? Pengemis sebenarnya karena memang penghidupannya masih dibawah tingkat kesejahteraan .... dan ini masih bisa dimaklumi .... Tetapi juga golongan atas, para pejabat yang tanpa sungkan meminta dan mengumpulkan THR dari orang-orang yang membutuhkan "jasa"nya .... 

Ah ... Apa iya, menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya atau bahkan mempercepat penyelesaiannya, yang karena pekerjaan itu kita mendapat gaji dari perusahaan/instansi kita bekerja, dianggap jasa? Bukankah, bila pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, maka kita juga yang mendapat keberuntungannya?
Wallahu Alam

Selamat menjalankan Shaum Ramadhan 
Masih lebih dari separuh bulan lagi lho .....
Jangan kendur Tarawih ya ...



Sabtu, 14 Juni 2014

Ramadhan Jadul 2 - persiapan lebaran

Puasa di paruh pertama tahun 1960an dalam ingatan saya kegembiraan yang “suram”. Gembira karena kami semua menikmati libur panjang hampir selama 1,5 bulan sehingga setiap malam, selama orangtua menunaikan shalat tarawih, anak-anak bisa bermain di halaman rumah atau ditengah jalanan yang memang masih sepi dari kendaraan bermotor.
Namun, tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa itu memang suram. Konon ekonomi Indonesia memang sudah menunjukkan arah kebangkrutan yang di kemudian hari baru saya tahu disebabkan oleh proyek-proyek yang disebut kaum Orba” sebagai proyek mercusuar. Namun di balik pengetahuan anak usia SD kelas 2 – 4, saat itu, saya hanya mengenangkannya melalui beberapa peristiwa sehari-hari.
Saat itu, Indonesia memang sedang memasuki periode konfrontasi dengan Malaysia. Coretan-coretan anti Malaysia seperti “Ganyang Malaysia”, Malaysia boneka Inggris atau Malaysia antek Inggris bertebaran dimana-mana. Pada malam hari yang temaram, bisa jadi tiba-tiba terdengar sirine yang dibarengi dengan suara sirine dan pemadaman lampu. Kalau sudah begini, maka anak-anak wajib masuk ke kolong tempat tidur atau dimana saja mencari perlindungan. Ini dinamakan latihan bila ada serangan udara pada malam hari.
Saya ingat sekali, pernah pada bulan-bulan tertentu, ayah saya membawa sekarung jagung pecah jatah pembagian kantor untuk makan kami serumah sebagai pengganti beras. Maka, hari-hari kemudian, selama sebulan kami akan menyantap nasi jagung tersebut. Di lain waktu, ayah membawa sekarung bulgur yang berwarna kecoklatan. Bagaimana rasanya…? Jujur saja, saya sudah lupa bagaimana rasa bulgur. Kalau rasa jagung, tentu masih tahu karena saya masih sering dan suka menyantap cenil lengkap dengan getuk dan jagungnya. Apalagi perkedel jagung manis merupakan salah satiu santapan kesukaan saya.
Nah bagaimana masyarakat Betawi mempersiapkan lebaran? Pada paruh kedua bulan puasa, ibu-ibu mulai mempersiapkan kue lebaran. Umumnya mereka membuat kue semprit atau nastar. Kalau nastar, tahu kan? Itu lho, kue kering umumnya berbentuk bulat kelereng yang isinya selai nanas. Ada juga yang berbentuk bulat panjang seperti biji kenari. Membuatnya agak repot, karena kita harus terlebih dahulu menyiapkan dan membuat selai nanas. Kastengel…? Aduh… jauh deh… itu makanan orang kaya, karena keju sudah pasti sukar diperoleh.
Kalau kue semprit, ada nggak yang tahu benda seperti apa itu? Sekarang kue semprit disebut cookies terbuat dari adonan tepung mentega, telur dan gula. Kenapa disebut semprit? KArena untuk mencetak kue, adonan dimasukkan ke dalam contong kertas minyak yang ujungnya sudah di sisipkan corong kecil yang ujungnya berlubang. Ada yang lubangnya datar, ada juga yang bersegi. KAlau sudah terisi sekitar ½ contong, maka ujung kertas akan dipelintir dan didorong agar kue keluar dari corong. Itu sebabnya disebut semprit. Mungkin diimaginasikan seperti saat kita meniup sempritan/peluit.
selongsong ketupat
Corong yang lubang datar akan membentuk kue yang lurus-lurus saja, sedang corong bersegi akan mengeluarkan adonan bergelombang seperti helai bunga. LAlu bagian tengahnya diberi bulatan kecil, biasanya adonan yang diberi coklat.
Karena saat itu belum ada mixer, maka suara kopyokan telur ramai bersahut-sahutan dari rumah kerumah membentuk simpony indah khas ramadhan di perkampungan. Kadang-kadang ada beberapa tetangga yang saling bergotong-royong saling menyumbang bagian bahan kue yang dimiliknya, lalu memasaknya bersama untuk kemudian dibagikan.
Nenek saya yang keturunan Sunda-Betawi, selalu membuat geplak, kue satu khas betawi dan kue lapis legit selain tape ketan dan uli. Makanan buatan nenek saya itu legit dan enak sekali. Apalagi tape ketan dan ulinya. Duh, rasanya sampai sekarang saya belum pernah menemukan tape ketan selezat buatannya..
Geplak adalah makanan kesukaan nenek saya. Diluar lebaran, beliau seringkali membuatnya. Tahukan anda apakah geplak itu? Makanan ini dibuat dari bahan tepung beras dan kelapa parut yang disangrai, lalu dimasukkan ke dalam cairan gula merah atau biasa disebut kinca. Diaduk secukupnya dengan porsi tepung beras yang sangat banyak sehingga membentuk adonan basah sekedarnya dan bisa dipipihkan. Sudah… begitu saja. Sederhana sekali pembuatannya. Tapi, walaupun sederhana, persiapannya cukup lama karena kita harus membuat sendiri tepung beras. Saya lebih suka makan tepung beras yang sudah tercampur kelapa parut itu lalu ditambahkan gula pasir. Ini disebut sagon. Enak lho…, karena bahan-bahannya alami dan tepung berasnyapun masih baru.
Ibu saya, biasanya sibuk menjahit. Beliau memang bisa menjahit baju perempuan. Jadi semua baju anak-anaknya adalah buatannya. Apalagi, pada saat itu belum ada industry pakaian jadi. Bahan bajunya, seperti juga beras, adalah berasal dari penukaran kupon. Sayang, saya nggak tahu bagaimana ayah saya memperoleh kupon tersebut. Apakah pembagian kantor atau membelinya. Dari pembagian itu, biasanya bisa dibuat baju untuk semua anak-anaknya. Jadi jangan heran kalau pada saat lebaran kami sekeluarga memakai baju seragam. Bukan karena disengaja seperti sekarang, tetapi dulu, karena itulah jatah yang diperoleh setiap keluarga.
Saya dan adik-adik hanya bisa memiliki baju dan sepatu baru saat lebaran. Biasanya ibu saya akan menjahitkan 3 buah rok seragam dengan adik-adik. Bukan hanya seragam motifnya tetapi juga modelnya. Begitu berlangsung hingga saya duduk di bangku kelas 6 SD, saat saya mulai melakukan protes-protes kecil agar tidak dibuat seragam lagi. Saat itu ibu saya mulai membedakan warna dan model baju namun bahannya tetap sama untuk menghindari rasa iri di antara kami.
Begitulah cari kami dan sebagian besar masyarakat Jakarta yang saat itu masih menjadi the big village, menyiapkan lebaran. Mungkin saat itu sudah terjadi perbedaan kelas sosial, sama seperti sekarang. Jurang pemisah antara kaum berpunya dan kaum proletar. Namun keterbatasan media informasi dan komunikasi menyebabkan dunia kami terbatas pada lingkungan kecil saja. Beruntungkah…? Entahlah! Setiap jaman memiliki problematikanya sendiri dan saya merasa kenikmatan menjalankan puasa pada masa kecil dulu, jauh lebih bermakna daripada apa yang dialami anak saya sekarang.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ketika PRT pulang kampung untuk berlebaran

Pembantu Rumah Tangga alias PRT di rumah saya, alhamdulillah sangat kooperatif. Dia mau memundurkan jadwal pulang kampungnya sesuai dengan jadwal libur lebaran kantor saya. Begitu juga dengan jadwal kembalinya ke Jakarta, yaitu sehari sebelum saya mulai masuk kantor. Dengan demikian, saat saya harus meninggalkan rumah untuk bekerja, praktis dia sudah bisa mengambil alih pekerjaan rmuah.

Tahun ini, dia minta ijin untuk kembali ke Jakarta agak lambat, karena dia ingin bertemu dengan kakaknya yang sudah beberapa tahun ini tinggal di Batam, mengikuti anak/menantunya yang sudah lebih dulu tinggal disana. Saya, mau tak mau mengijinkannya. Apalagi, si anak yang juga tinggal bersama kami, baru akan masuk sekolah pada hari Senin 19 Agustus 2013. Jadi ada alasan kuat bagi mereka untuk kembali, paling lambat Minggu 18 Agustus.

Ya sudahlah .... setahun sekali mereka beristirahat .... menjadi dirinya sendiri setelah 50 minggu lainnya bekerja hampir tiada henti dengan ruang lingkup antara dapur dan tempat cuci-jemur dan seminggu sekali menemani saya ke pasar.

Maka, untuk mengantisipasi keperluan lebaran, biasanya dia sudah menyiapkan piring - sendok, pyrex, gelas, mangkok dan kawan-kawannya untuk tamu selama lebaran. Dia sudah tahu persis, bahwa rumah kediaman saya, yang nota bene rumah peninggalan orangtua adalah tempat singgah, mudik dan pastinya tempat menginap 2 keluarga adik saya yang bermukim di Bandung. Mereka, biasanya akan tinggal di Jakarta antara 3 - 4 malam. Dua atau tiga malam sebelum D-day dan kembali ke Bandung pada tanggal 2 atau 3 Syawal.

Selain itu ...., sudah 2 kali lebaran ini, sejak ibu mertua saya meninggal dunia, kediaman kami seakan mengambil alih tempat pertemuan keluarga besar suami pada hari lebaran, 1 Syawal yang biasanya diselenggarakan di rumah ibu mertua.

Jadi .... 1 Syawal di tempat kami memang jadi sangat heboh. Siang hari dipenuhi keluarga besar suami yang paling tidak ada 10 pasang adik/kakak suami saya, termasuk kami sekeluarga ditambah sebagian keponakan-keponakan suami. Sekarang ditambah lagi dengan istri/suaminya  masing-masing serta beberapa anak mereka yang menjadi "cucu" alias generasi ke 4, dihitung dari generasi ibu/bapak mertua. Untungnya ... ada tradisi potluck sehingga kami hanya menyediakan ketupat+sayur kacang panjang+opor ayam ditambah dengan apa yang sempat saya sediakan.

Malam hari, setelah shalat maghrib, giliran adik-adik saya yang berkumpul di rumah. Yang ini, lebih sedikit jumlahnya. Tahun ini hanya hadir 5 pasang suami-istri ditambah dengan 12 anak saja. Menu makannya standar saja .... rendang Padang, wajib ada. Selain sebagai sajian saat lebaran, dulu ibu saya selalu membekali anak2nya minimal 20 potong rendang yang setara dengan 1 kg daging mentah. Tradisi ini "terpaksa" saya lanjutkan juga, dengan harapan semoga rendang itu menjadi pengikat dan pengingat kehadiran almarhumah ibu kami karena rendang bisa dikatakan makanan kebangsaan keluarga kami. Masakan khas yang berasal dari ranah kelahiran dan negeri asal muasal nenek moyang ibu saya. Apalagi sajian ini memang hanya hadir saat lebaran saja.


Dulu ... saat ibu saya masih ada, beliaulah yang memasak rendang dengan dibantu PRT kami. Saya, lagi-lagi beruntung memiliki PRT yang cekatan dan cepat menangkap cara memasak hampir seluruh masakan tradisional Indonesia. Jadi setelah ibu saya meninggal dunia, dia dengan ringan tangan mengajukan diri untuk membuat rendang dengan cita rasa yang hampir sama dengan buatan ibu saya. Maka .......... anak gadis saya protes ..., seharusnya saya juga yang mewarisi kepandaian membuat rendang.

Niat itu sempat terbersit dalam hati, yaitu saat ibu saya mulai sering mendapat gangguan dari komplikasi diabetesnya. Sayang ... niat itu belum sempat terlaksana hingga ibu saya meninggal dunia persis di hari terakhir bulan Sya'ban dua tahun lalu. Ada saja alasan untuk menunda-nunda pekerjaan itu. Alasan utamanya tentu karena membuat rendang walau sederhana caranya, tapi memakan waktu yang panjang untuk memasak hingga menghasilkan rendang berwarna hitam tanpa menghancurkan dagingnya serta, tentunya, tenaga yang besar untuk mengaduk masakan/daging agar tidak gosong dengan berbagai tips dan trick agar daging tidak hancur.

Jadi saya memang harus mengucap syukur, bahwasanya PRT kami cukup cekatan mewarisi kepandaian membuat rendang, bahkan tanpa campur tangan saya sekalipun, kecuali tentunya campur tangan dalam membeli bahan mentahnya saja dan tahun ini .... saya bertekad harus mampu membuat rendang asli Padang sebagaimana yang dicontohkan ibu saya.

Berkenaan dengan rendang ini pula, kemarin saat salah satu ipar suami saya yang berasal dari Semarang berkenan membawakan rendang buatannya. Karenanya rendang dari dapur saya, tidak disajikan di atas meja. Bukan pelit ... tapi tentu dengan niat untuk menghargai masakannya yang tentu sudah dibuatnya dengan sangat hati-hati untuk mendekati rendang yang sesungguhnya. Selain itu agar tidak terjadi "persaingan" antar masakan sejenis.

Tapi .... memang masakan harus diinterpretasikan dan dimasak dengan cara dan dicicipi sebelumnya oleh orang yang mengetahui dengan persis selera dan original taste nya. Maka .... walau sama-sama dinamakan rendang ....., maka dengan mengucapkan permintaan maaf kepada kakak yang sudah bersusah payah memasaknya, rendangnya terpaksa disebut "rendang Jawa". Rendang yang dimasak dengan interpretasi selera kuliner Jawa.


buah rendang
Sempat saya tanya pada suami, apa bedanya dengan rendang buatan PRT kami yang berasal dari Cimahi, tapi sudah "dididik" ibu saya untuk memasak/membuat rendang dengan warna, kepekatan dan taste asli Padang. Ini komentarnya ...:
"Rendang Jawa banget .... manis dan ada rasa kayumanis"
Tapi ..... suami juga menambahkan bahwa rendang buatnya identik dengan buah rendang. Mungkin sekarang sudah menjadi buah langka. Seingat saya. buah rendang bentuknya bulat berdiameter 1cm bergetah. Pohonnya berdaun kecil agak kemerahan. Ini ingatan masa kecil saya
Warnanyapun agak berbeda .... kalau buatan PRT kami, warnanya coklat pekat dengan bumbu yang sarat/pekat dari santan kering, tampa tambahan bubuk kelapa sangrai yang sering ditambahkan orang untuk mempersingkat waktu masak tetapi tetap menghasilkan bumbu yang banyak.

Gila ...... kok ceritanya nglantur ke rendang ya....?

Nah ..... apa yang terjadi saat PRT pulang kampung untuk berlebaran? Yang sudah sangat pasti ... H -2 menjelang lebaran, saya harus membuat selongsong ketupat. Ngrepotin diri banget ya? Hehe .... iya ngrepotin diri sendiri karena di pasar sesungguhnya sudah ada selongsong siap pakai. Tapi .... saya kurang suka bentuknya karena agak gendut bagian bawahnya sehingga merepotkan saat membuat potongan ketupat yang besarnya konsisten. Saya lebih suka bentuk ketupat Padang yang bentuknya "belah ketupat sempurna" dengan ketebakan yang konsisten sehingga saat dibelah dan dipotong menghasilkan potongan ketupat yang konsisten besarnya.

H -1, pagi hari saya mulai mengisi selongsong ketupat dan memasaknya. Biasanya ketupat baru akan selesai dimasak dan diangkat, sesuai "pakem dan ajaran" ibu saya, setelah 8 jam dimasak, dihitung sejak airnye mendidih pertama kali. Kacang panjang untuk sayur ketupat, masih menurut pakem dan ajaran ibu saya, harus diiris tipis setebal 1mm saja. Nah .... urusan iris-mengiris kacang panjang dan petai, saya serahkan pada ipar atau adik saya, bila dia sudah tiba di Jakarta. Rempela ayam, biasanya sudah direbus PRT sebelum dia pulang kampung, jadi tinggal diiris tipis saja. Bumbu sudah beli siap pakai di pasar, dilabeli pula oleh PRT, sehingga memudahkan saya untuk menggunakannya.

Malam hari, usai buka puasa dan makan malam, tugas selanjutnya adalah membuat sayur kacang panjang dan opor ayam. Urusan mengangkat ketupat, bisa diserahkan kepada adik-adik lelaki yang kesemuanya cukup ringan tangan membantu pekerjaan rumah.

Kehebohan biasanya terjadi saat ada kekurangan peralatan dapur atau sayuran/bumbu. Maklum saja .... walau sudah disiapkan sesuai kebutuhan, selalu ada hal tak terduga. Maka ..... bingunglah sang nyonya rumah .... Namanya saja nyonya rumah .... "pemilik" rumah, di atas kertas ..... de jure .... tapi pada kenyataannya, dalam praktek dan de facto .... ternyata sang nyonya rumah KO saat PRT mudik. Dia tidak tahu dimana "spare" piring, sendok, gelas dan peralatan lainnya berada. Dimana bumbu ini-itu tersimpan ..... Bahkan sama sekali tidak tahu stop kontak mana untuk lampu ruang luar atau pompa air, sehingga kehebohan selalu dan pasti terjadi. Teriakan air mandi dari keran tidak mengalir karena ternyata air dalam tabung cadangan kosong karena kesalahan mematikan stop kontak lampu/pompa kerap terjadi.

Maklum saja ... penghuni rumah bertambah minimal 8 orang dari Bandung. Belum lagi keponakan lainnya yang tinggal di Jakartapun ikut bergabung menginap di rumah. Jadi suasana makin kacau balau.

D-day .... kehebohan pasti terjadi .... Untung ada ipar yang paling kecil rajin membantu di dapur untuk mencuci piring-piring menggunung saat keluarga suami berkumpul. Walau dilengkapi juga dengan piring/gelas plastik untuk makanan potluck dan minuman gelas/kotak, tetapi piring untuk makanan utama tetap menggunakan piring asli. Nggak tega rasanya membiarkan tamu makan dengan piring kertas atau styrofoam. Terasa kurang sopan dan tidak menghargai tamu.

Lebaran kali ini saya tidak membuat ketupat terlalu banyak. Targetnya, ketupat harus habis pada D-day. Kalaupun tersisa, cukuplah untuk dimakan hingga waktu makan siang di hari ke 2. Nggak sehat dan sangat membosankan kalau berhari-hari kita memakan masakan yang sama.

Hari ke 2 lebaran, saya harus mulai mencuci pakaian. Kalau tidak ... entah berapa tinggi tumpukan pakaian yang harus dicuci .... Harus mulai membagi waktu untuk memasak sekedarnya, menyirami tanaman di halaman rumah, memberi makan ikan .... mensetrika pakaian, yang buat saya adalah pekerjaan yang paling menyebalkan.

PRT saya ini memang pandai. Bukan karena dia memang pandai memasak dan mengurus rumah, tetapi memang dari segi pendidikannya. Dia lulusan SMA di kampungnya. Pernah bekerja sebagai tenaga administratif di salah satu pabrik di kawasan Cimareme. Hanya nasiblah yang akhirnya membawanya bekerja menjadi PRT. Semoga anaknya yang sekarang masih bersekolah di SMK Grafika Jakarta kelak mampu mengangkat derajat ibunya ke tempat yang layak.
***

Mempekerjakan pembantu sementara bagi saya tidak menjadi solusi. Bukan karena biayanya yang juga relatif tinggi, tetapi saya memang tidak suka ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Dengan adanya berbagai konspirasi antara oknum PRT dengan komplotan perampok, saya tidak ingin membuka peluang tersebut.

Di samping alasan tersebut, bisalah dianggap bahwa bekerja saat PRT mudik merupakan kesempatan untuk lebih banyak bergerak, menguras tenaga dan keringat sehingga kelebihan makanan yang disantap pada saat merayakan Idul Fitri cepat larut dan tidak menyebabkan kegemukan.

Alasan lainnya adalah dengan kita mengerjakan pekerjaan tersebut, sekaligus merupakan ajang untuk mendidik anak-anak agar mereka lebih menghargai pekerjaan rumah tangga. Menghargai jerih lelah para PRT sehingga kita mampu dan mau menghargai mereka sebagaimana layaknya kita ingin diperlakukan oleh perusahaan/instansi tempat kita bekerja. Itu teorinya .....

Tapi prakteknya ...... Alamak .... pusing tujuh keliling. Badan rasanya pegal-pegal dan tulang belulang terasa seperti mau rontok... Betul-betul harus tabah sampai akhir .... Mungkin memang begitulah apa yang dirasakan oleh para PRT. Tabah sampai akhir....

Maka ..... nikmati saja suasana hari-hari tanpa pembantu .... dan kita akan bisa merasakannya



فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 

Jumat, 09 Agustus 2013

Ballada PRT

arus mudik lebaran
Mudik lebaran merupakan ritual tahunan yang ditunggu banyak orang. Entah kapan dimulai, peristiwa pulang kampung saat lebaran menjadi peristiwa luar biasa yang membuat heboh seantero negeri. Bukan saja membuat heboh para pejabat di sektor transportasi untuk membawa mereka kembali ke masing-masing kampung halamannya, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Timur, tetapi juga menyangkut persiapan sarana jalan raya hingga materi berupa sandang pangan yang akan dibawa mudik, baik bagi para pemudik itu sendiri maupun berupa buah tangan bagi keluarga, kerabat dan tetangga di kampung halaman.

Kalau dulu mudik hanya dikenal bagi para perantau yang berasal dari Jawa, maka sekarang para perantau Minang atau wilayah lainnya yang bekerja di pulau Jawapun ikut "mudik" ke kampung halamannya walau dengan istilah lain. Misalnya "pulang basamo" bagi perantau Minang.

Mudik .... entah sejak kapan pulang ke kampung halaman pada saat lebaran diberi label mudik dan melahirkan istilah/kosa kata pemudik ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Seingat saya .... atau terkaan saya, mudik berasal dari kata "udik" dalam perbendaharaan bahasa Betawi yang berarti kampung.

Jadi, saat saya kecil dulu ..., saya lebih mengenal kata udik untuk menyebut sesuatu yang berbau kampung dan kalau boleh terus terang, nuansanya lebih kepada "ejekan/cemooh". Misalnya mengatakan "orang udik", buat mereka yang berasal dari wilayah di luar Jakarta, seperti misalnya Cibinong, Cibarusah dll  untuk menyebut asal muasal orang yang berasal dari perkampungan di pinggiran Jakarta atau bagi orang yang penampilan/perilakunya agak kampungan/norak.

Sekarang, kata udik sudah bertransformasi menjadi mudik sebagai kata kerja, yang berarti pulang ke kampung. Orangnya disebut pemudik. Sedangkan kata dasar "udik" sebagai padanan "kampung" sudah jarang digunakan. Nah .... saat-saat lebaran inilah kata mudik digunakan dengan intensitas yang sangat tinggi.
***

PRT di rumah saya berasal dari wilayah Cililin-Cimahi, sudah bekerja hampir 12 tahun. Sejak anaknya baru masuk SD hingga sekarang duduk di kelas XII, SMK Grafika jurusan broadcasting, kalo nggak salah. Saat naik ke kelas XII yang baru lalu ini, dia memperoleh ranking 1 di kelasnya. Gaya kan.....? Hehe ..... Semoga si anak, kelak menjadi kebanggaan ibunya dan mampu mengangkat derajat kehidupan si ibu.

Pembantu saya ini sebetulnya lulusan SMA di kampungnya dulu. Sebelum terdampar di rumah saya, pengalaman kerjanya juga lumayan banyak. Pernah jadi staff administrasi di suatu pabrik di wilayah Cimareme-Bandung. Pernikahannya yang gagal menyebabkan dia terpaksa keluar dari pabrik setelah suaminya yang notabene teman kerjanya itu menghilang begitu saja setelah anak mereka lahir.

Maka .... demi si bayi, kala itu, dia sempat merantau ke Surabaya, bekerja di restoran sambil mengasuh bayinya. Tentu bukan hal yang mudah bekerja sambil membawa bayi apalagi jauh dari keluarga. Itu pula yang menyebabkan hingga akhirnya dia memutuskan kembali ke kampungnya. Petualangan kerjanya di Jakarta bermula dari ajakan supir ibu saya, tetangganya di Cililin, untuk bekerja di rumah ibu. Kala itu, saya sudah hampir 2 tahun menetap dan tinggal kembali, menemani ibu di rumahnya. Memanfaatkan lokasi rumah yang berada tepat di tengah antara lokasi kantor suami dan kantor saya. Lagipula ... pengalaman kurang menyenangkan dengan pembantu rumah saat tinggal di Bekasi, merupakan salah satu pertimbangan yang membuat saya pindah ke rumah ibu.

Sang PRT, yang dipanggil Ddh, sangat cekatan dan sangat bisa dipercaya. Minimal hingga saat ini saya menganggapnya sangat bisa dipercaya. Saya selalu bilang padanya .... kalau uang atau harta saya dicuri, InSha Allah tidak akan membuat saya jatuh miskin secara tiba-tiba. Tetapi juga tidak akan membuat si pencuri kaya raya. Tentu tergantung dari sebesar apa harta curiannya, tetapi kekayaan hasil curian tidak akan pernah langgeng. Satu hal yang pasti ............, harta itu tidak berkah atau membawa keberkahan bagi diri dan keluarganya. Maka ..., akan sia-sialah segala ibadah yang dilakukannya sepanjang hayat.

Saat dia mulai bekerja di rumah, masih ada satu orang PRT lainnya yang berasal dari Jawa Tengah. Entah kenapa, selalu saja ada konflik diam-diam antara pembantu asal Jawa yang berpenampilan sangat lemah lembut ini dengan rekan kerjanya. Begitu juga dengan Ddh. Sejak dia mulai masuk, selalu saja ada pengaduan-pengaduan yang masuk tentang rekan kerjanya. Kesal karena pengaduan tak digubris, dia membuat ulah dengan sering-sering pulang kampung tanpa kejelasan berapa lama dia tinggal di kampung. Hingga suatu saat, setelah 1 bulan pulang kampung untuk berlebaran dengan janji hanya pulang selama 2 minggu saja, dia menelpon dari Solo. mengabarkan belum bisa kembali ke Jakarta dan entah apakah akan kembali ke Jakarta lagi. Saya dimintanya untuk mencari pengganti saja.

Konyolnya .... selang 1 minggu setelah saya mendapat pengganti, sang putri Solo tiba-tiba muncul di rumah ingin kembali bekerja. Saat itu hanya ada ibu saya dan Ddh di rumah. Konon kabarnya, begitu tahu di rumah sudah ada pengganti, maka murkalah si putri Solo yang biasanya lemah lembut itu dan mencaci-maki Ddh sebagai penyebab dia tidak bisa bekerja kembali. Padahal saya mencari ganti 1 bulan setelah dia menelpon, memberitahukan tidak pasti kapan kembali dimana saya sudah diminta untuk mencari ganti saja.

Dengan Ddh dan kemudian dia didampingi adiknya yang juga ikut bekerja di rumah, hampir segala urusan di rumah, ditanganinya dengan cukup baik. Beberapa bulan kemudian .... anaknya yang semula ditinggal di Cililin, saya minta dibawa saja ke Jakarta. Alasannya sederhana saja .... supaya dia bekerja dengan tenang sambil mengasuh anaknya yang saat itu berumur 5 tahun dan sudah masuk SD.

Di kampung, keluarga kakaknya, tempat dimana si anak dititipkan juga bukanlah keluarga mampu. Apa yang dikirim ke kampung untuk anaknya, pada kenyataannya digunakan untuk tambahan biaya rumah tangga keluarga si kakak. Jadi memang sangat tidak mengherankan bila saat si anak datang ke Jakarta untuk pertama kali, penampilannya sangat memprihatinkan. Khas anak kampung yang tidak terurus. Kurus kering dan dekil..... Alhamdulillah, sekarang si anak tumbuh jadi remaja yang sehat dan kelihatannya cukup gaul/aktif di sekolahnya. Tidak terlihat rendah diri karena ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga saja.

Ddh ini cukup cekatan untuk pekerjaan rumah. Pandai masak terutama masakan tradisional. Kreatif untuk coba-coba masakan yang dilihatnya di acara masak memasak di TV. Saya paling suka minta dibuatkan karedok .... Karedok buatannya luar biasa enak.... Betul-betul karedok dengan cita rasa Sunda yang kental. Jarang saya temukan karedok seenak buatannya, termasuk karedok di rumah makan Sunda manapun yang pernah saya cicipi.

Bekerja rumahan, walau dengan 1 anak remaja yang masih bersekolah di SMK, ternyata membuat hidupnya lebih lumayan dibandingkan dengan anggota keluarganya yang lain, terutama yang masih tinggal di kampung. Hal ini menjadi ironi tersendiri .... Ddh menjadi tumpuan harapan kakak/adiknya saat mereka kekurangan dana, apapun bentuk kekurangannya. Entah untuk keperluan anak sekolah, sogokan saat anak mau bekerja di pabrik, anak menikah dan bahkan saat lebaran. Satu persatu adik-kakaknya bergantian menelpon .... Mengingatkan agar dia tidak lupa membelikan pakaian buat keponakan-keponakannya ,,,,,, karena para orangtuanya belum sempat dan belum punya uang untuk membeli baju lebaran anak-anaknya. Mengingatkannya jangan sampai terlambat tiba di kampung, karena ketupat dan lauk-pauknya belum terbeli, menunggu kehadirannya untuk berbelanja ke pasar. Tentu bukan hanya sekedar menemani sang kakak berbelanja. Tetapi yang lebih penting lagi adalah kelengkapan isi dompet Ddh.

Sampai saat ini, dengan semampunya, tetap diusahakannya membeli dan memenuhi hampir seluruh permintaan adik-kakaknya. Padahal mereka, adik-kakak perempuannya, semua memiliki suami yang seharusnya berkewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya. Miris ......, tapi begitulah kehidupannya, karena bahkan kakak lelakinyapun seringkali meminta bantuan keuangan. Beberapa kali sering saya ganggu dia .... bahwa dia memiliki piutang pada adik-kakaknya dengan nominal yang cukup besar yang entah kapan bisa kembali ke rekening tabungannya.

Saya hanya bisa mengingatkan dia ..... "Jangan biasakan memberi pinjaman kepada keluarga, karena cepat atau lambat pinjaman tersebut akan menjadi bahan pertengkaran antar keluarga. Kalau mau membantu keluarga, bantulah semampunya. Betul-betul dalam bentuk bantuan yang ikhlas. Bukan pinjaman. Dengan demikian bila uang itu tidak dikembalikan, maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan. Wa Allahu alam



Senin, 27 Agustus 2012

Makna Lebaran

Apa yang kita maknai dari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan setiap 1 Syawal? Pada era serba gadget ini. kita kemudian berpantun-pantun melalui baik melalui sms atau messenger ... Saling meminta maaf dan mengingatkan akan "kemenangan" menyambut Idul Fitri... Tapi kemenangan apa yang sebetulnya sedang kita rayakan?

Selama 1 bulan, umat Islam menjalankan ibadah puasa. Mensucikan hati, pikiran dan badan. Selain itu kita juga mensucikan harta benda melalui zakat infaq dan sedekah. Ya... itu ritual yang terlihat dimata manusia baik melalui lembaran-lembaran kuitansi bukti penerimaan ZIS, melalui ramainya umat yang menjalankan ibadah tarawih/itikaf di masjid-masjid maupun pemberitaan media dan lain-lain.  Namun di lain pihak.... kita juga sibuk menata penampilan fisik dengan mendandani rumah dengan perangkat baru yang mutakhir, termasuk juga menyiapkan baju-baju baru untuk dipakai selama berhari-raya. Seolah-olah lebaran tanpa baju baru menjadi berkurang maknanya.

Baju baru di saat lebaran mungkin menjadi penting bagi kalangan yang kurang mampu ... Paling tidak, pada kesempatan lebaran itulah orang tua merasa berkewajiban membelikan baju baru bagi anak-anak dan seisi keluarganya. Itulah kesempatan 1 kali setahun dimana di atas meja makan terhidang ketupat lengkap dengan sayur godog dan opor ayam setelah selama 364 hari lainnya menu makan sehari-hari hanya sayur bening ditambah kecap.

Namun ternyata.... baju baru dan hidangan super lengkap menjadi lebih heboh menjalari rumah-rumah mewah yang sebetulnya setiap haripun tidak kekurangan. Atau ini merupakan pelampiasan setelah 1 bulan lamanya tidak bisa makan dengan leluasa di sepanjang hari. 

Yang pasti... kondisi ini memicu peningkatan peredaran uang....  Memicu kebutuhan dana untuk membeli kebutuhan ekstra tersebut. Mereka yang masih bekerja dan memperoleh THR dari kantornya akan lebih beruntung dari golongan lainnya. Di balik dari kegembiraan menerima THR atau bingkisan lainnya, ternyata ada juga sesama muslim yang tega menipu teman atau kerabatnya demi meraih keuntungan pribadi.

Yang pasti..... kebutuhan akan dana lebih untuk merayakan Idul Fitri ini juga yang memicu peningkatan perbuatan kriminal, perampokan, pencurian, penipuan, gendam, hipnotis dan lainnya ... dan bahkan.... peredaran dan perpindahan diam-diam dan "di bawah meja" amplop-amplop berisi cek atau uang tunai rupiah maupun dolar sebagai "pengikat" saat "bantuan kemudahan" kelak dibutuhkan dari pejabat penerima amplop tersebut.

Idul Fitri, "Eid-ul-fitr", Idul Fitri, Id-ul-Fitri, atau Idul Fitri (Bahasa Arab: عيد الفطر 'IDU l Fitri), sering disingkat menjadi Idul Fitri, adalah hari raya muslim yang menandai akhir Ramadhan. Bulan suci Islam, bulan dimana mereka yang bertakwa melaksanakan ibadah shaum. 


Idul Fitri adalah kata Arab yang berarti "pesta", sementara Fitri berarti "berbuka puasa". Jadi bisa disimpulkan bahwa Idul Fitri adalah pesta menyambut "kebebasan" berbuka puasa, setelah berlapar-lapar selama 30 hari. Jadi.... kiranya tidak ada yang salah bila kemudian umat Islam berpesta pora menyambut kebebasan (dari kewajiban berpuasa) itu.

Di balik itu semua, tentu masih banyak anggota masyarakat yang memaknai hari raya dengan sederhana, baik karena memang ketidakmampuan keuangannya ataupun karena kezuhudannya. Dan ............... mereka sepi dari pemberitaankarena memang tidak butuh diberitakan.

Jadi............. Apa makna lebaran buat anda sendiri...?
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H
Taqoballallahu minna wa minkum
Maaf lahir dan batin

Rabu, 08 Agustus 2012

BINGKISAN LEBARAN dan NIAT BERBAGI

Beberapa hari yang lalu, sedang asyik memeriksa rancangan dokumen tender,  ada pesan masuk ke dalam blackberry. Dari seseorang. Staff salah satu pemasok di proyek yang saya tangani.

Tanpa basa-basi, dia langsung menuliskan maksudnya ... :
”Bu ........ boleh minta alamat rumahnya, nggak ......?”
”Nggak boleh....!!! jawab saya tanpa basa-basi
”Jangan takut bu ........., saya bukan rampok dan nggak akan ngrampok rumah ibu .....!!” balasnya tidak kalah lugas.
”Hahaha ,,,,,,,,,,, iya, saya percaya kamu nggak akan ngrampok. Saya juga insya Allah, bukan takut dirampok...!!! Saya takut, kamu nanti diutus datang ke rumah untuk memberi sesuatu. Saya yang alhamdulillah sudah hidup berkecukupan, tidak sepantasnya lagi menerima pemberian tetapi sudah selayaknya malah memberi sesuatu kepada orang lain. Jadi .... tolong sampaikan kepada bossmu untuk tidak mengirimkan apapun juga ke rumah saya."
"Baik bu ........, nanti saya sampaikan! Terima kasih ......"

Entah apa yang dipikirkan oleh teman chat saya itu....., namun saya berharap dia tidak berpikir negatif atas jawaban saya. Bukan bermaksud sombong, tetapi hanya mengingatkan saja. Masih banyak orang yang jauh lebih pantas diberi sesuatu, dibandingkan saya.  Sungguh .... di masa akhir bulan Ramadhan ini, saya seringkali merasa sangat risi manakala ada orang yang menanyakan alamat rumah. 

Mungkin saya terlalu berprasangka buruk kepada orang-orang yang menanyakan alamat rumah. Bukan karena saya tidak ingin bersilaturahim, dikunjungi mereka yang menanyakan alamat rumah tersebut. Tetapi .... seperti jawaban yang saya tulis kepada teman chat tersebut, saya merasa pertanyaan tersebut diajukan untuk maksud mengirimkan sesuatu berkenaan dengan perayaan hari raya Idul Fitri. Entah apakah itu berupa kue, parcel atau bunga. Dan saya merasa jengah menerimanya.

Apakah memang saya menolak pemberian tersebut? Rasanya terlalu sombong untuk mengatakan hal tersebut karena tetap ada beberapa relasi yang mengirimkan bingkisan ke rumah karena pengirim memang sangat mengetahui alamat rumah. Misalnya dari bank tempat saya selalu bertransaksi sebagai nasabah atau beberapa rekan yang memang karena hubungan baik selama bertahun-tahun, sudah sangat mengetahui alamat rumah. Kepada mereka saya tidak mungkin menyampaikan keberatan. Saya tidak mengetahui apakah mereka akan mengirim bingkisan atau tidak ... Sepertinya "gede rasa" banget kalau belum apa-apa saya menyatakan keberatan tersebut sementara mereka sama sekali tidak menghubungi saya..... Merasa jadi orang penting sehingga menganggap ada orang yang akan mengirim bingkisan lebaran ke rumah.


Bingkisan lainnya yang biasanya rutin tiba ke rumah dan tidak mungkin ditolak adalah dari instansi tempat suami bekerja. Ini rutin dan nampaknya seluruh dosen, staff dan karyawan memang mendapat bingkisan dari Fakultas/lembaga yang bernaung di bawahnya. Tentu sangat tidak beralasan untuk menolak. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan isinya untuk orang-orang yang lebih membutuhkannya saja.
***

Kebiasaan mengirim bingkisan lebaran atau natal, sudah sejak lama terjadi. Semasa belum menikah dan tinggal dengan orangtua, rumah kami selalu "kebanjiran" bingkisan lebaran. Saya sama sekali tidak ingat apa yang dikirim orang ke rumah, saat kami tinggal di Garut dan Karawang pada paruh akhir dekade 1960an. 

Barulah pada awal tahun 1970an, saat kami tinggal di Jambi, saya ingat bingkisan yang datang ke rumah menjelang lebaran, sangatlah khas ... ber dus-dus minuman kaleng seperti coca cola dan seven up selalu memenuhi gudang. Minuman ini akhirnya dijadikan sajian orang yang datang ke rumah saat "open house".

Ayah saya yang saat itu menjabat sebagai kepala cabang salah satu BUMN memang seperti "berkewajiban" menyelenggarakan open house dan open house itu tentu sangat melelahkan bagi penghuni rumah. Seluruh sajian makanan dan kue-kue harus disiapkan sendiri. Masa itu, di Jambi pula.... tidak ada catering yang melayani pesanan makanan untuk lebaran berupa ketupat sayur lengkap dengan rendang, opor, sambal goreng hati, emping dan lainnya. Begitu pula dengan kue-kuean. Maka beberapa hari sebelum hari raya, ibu saya, dibantu oleh ibu-ibu anggota persatuan istri karyawan, akan mulai mencicil masakan yang akan disajikan pada acara open house, termasuk membuat kue lapis dan bolu panggang.

Di Jambi pada awal tahun 1970, juga tidak ada tradisi mengirim bunga, karena memang saat itu bunga segar masih sangat langka. Jadi, kalaupun ada karangan bunga terkirim, maka bunga yang digunakan adalah bunga plastik yang sama sekali tidak terlihat indah. Namun saya yakin kondisi sekarang, pasti sudah banyak berubah.

Masa tinggal di Jambi itulah saat terakhir saya tinggal dengan orangtua. Selanjutnya selama 10 tahun saya hidup terpisah dari orangtua. Tapi saya yakin bingkisan-bingkisan lebaran itu akan setia mengunjungi rumah kediaman orangtua saya. Acara open house dengan segala kesibukan masak-memasaknya tetap berjalan. Yang agak berbeda mungkin saat mereka tinggal di Hongkong pada kurun waktu tahun 1978-1981.
***

Jaman sudah banyak berubah. Rasanya... dan ini khususnya bagi perempuan. Sejak ada majalah Femina untuk wanita dewasa dan majalah Gadis untuk remaja, gaya hidup konsumerisme mulai menyusup pelan-pelan ke dalam kehidupan masyarakat. Publikasi berbagai gaya pakaian, penataan rumah, tata wajah dan lainnya yang dituliskan dalam majalah kian hari kian mencekam kehidupan. Persis dan sangat pas dengan tagline majalah tersebut ... Gaya hidup wanita modern. Sehingga yang tidak mengikutinya seolah menjadi perempuan kuno, konservatif yang tidak cocok hidup di kota besar.

Kebutuhan hidup menjadi semakin meningkat dan kesemuanya pasti memerlukan biaya tambahan. Bersyukurlah mereka yang memiliki gaji cukup untuk memenuhi selera dan gaya hidup "modern". Seperti juga betapa malangnya mereka yang belum mampu lalu "memaksakan diri" sehingga terjerumus melakukan berbagai pelanggaran. Kita semua tentu meyakini bahwa ketidakmampuan kita untuk menahan diri dari godaan hidup hedonis dan materialistislah yang menjadi akar perbuatan korupsi yang semakin hari semakin meruyak.

Bila pada dekade tahun 1960-1970, para pejabat terlihat masih hidup "dalam batas kewajaran", mungkin karena mereka "hanya" menerima apa yang disodorkan dan diiming-imingi oleh mereka yang membutuhkan tandatangan dan fasilitas dari instansi yang dipimpinnya. Mereka tidak atau belum merasa "berhak" untuk meminta bagian keuntungan pengusaha. Namun saat ini ......... sepertinya para pengusaha melihat hampir tidak ada celah lagi untuk menghindar dari upaya sogok menyogok. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam berhubungan dengan aparat .... berlaku slogan "Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?".... Nah untuk mempermudah apa yang sudah dipersulit, maka harus ada pelicin sehingga hambatannya bisa dilalui....

Begitulah ....., keinginan hidup sesuai dengan "gaya hidup modern" menyebabkan orang tidak segan-segan atau malu-malu lagi mencari peluang untuk menambah pundi-pundinya. Peminta-minta tidak lagi terbatas pada mereka yang miskin harta dan pendidikan sehingga hanya mampu menadahkan tangan kepada mereka yang lewat di hadapannya atau di perempatan jalan hampir di segala penjuru kota. Peminta-minta juga merambah pada kaum berdasi yang menguasai posisi penting yang terutama yang tandatangannya dibutuhkan orang. Tentu permintaannya dilakukan dengan cara yang lebih "elegant dan berkelas". Itu sebabnya muncul istilah lahan/posisi basah di berbagai instansi.

Jadi bagaimana kita menyikapi kiriman bingkisan tersebut? Sejujurnya, saya tidak kontra. Semua tergantung niat dan siapa yang kita kirim, kalau kita berada pada posisi pengirim. Atau kalau kita berada pada posisi penerima, maka hal itu tergantung siapa pengirimnya. Andai pengirimnya adalah teman-teman dekat yang karenanya bingkisan itu tidak dikirim untuk maksud-maksud tertentu kecuali niat menjalin/menjaga tali silaturahim semata, maka dengan senang hati saya menerima dan sedapat mungkin membalasnya. Tentu lain halnya bila bingkisan yang dikirim tersebut ada kaitannya dengan jabatan atau posisi yang kita pegang.
***

Sebagaimana tahun-tahun yang telah berlalu, saya seringkali disodori surat permohonan bantuan THR. Dari mulai loper koran, keamanan/pengurus RT/RW, tukang parkir di tempat saya sering berkunjung dan banyak lagi. Mereka, bisa dikategorikan orang-orang dengan penghasilan terbatas. Gak masalah, kan? Semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kalau kita mau berbagi rejeki yang kita miliki dan ikhlas memberinya, ya berikan saja seberapapun angkanya.

”Iya sih..., tapi bukankah kita berbaik sangka saja. Pasti ada alasan yang cukup valid sehingga mereka begitu (meminta-minta). Misalnya karena butuh untuk berbagai keperluan lebaran. Memang, meminta sesuatu pada orang lain, apapun alasannya; hakikatnya ”merendahkan” martabat kita di hadapan yang kita ”mintai” sesuatu. Mungkin, mereka sebetulnya malu melakukannya. Tapi rasa malu itu terpaksa ditelan dalam-dalam karena kebutuhannya untuk memenuhi hajat hidup jauh lebih penting daripada sekedar memegang teguh ”martabat dan harga diri”. Kasihan kan...?!. Di lain pihak, kita wajib memahami bahwa di dalam rejeki kita ada bagian dan hak orang-orang miskin dan fakir. Nah kenapa tidak kita tunaikan saja kewajiban itu. Jangan melihat siapa yang meminta”, jawab saya panjang lebar menanggapi protes salah satu teman.

”Tapi... apa memang mereka itu adalah para mustahik...? Yang wajib diberi bagian dari zakat kita? Jangan lupa lho.... ”para peminta-minta” itu ada di mana-mana. Di kantorku .... satpam yang sudah jelas mendapat THR dari pengelola gedung, toh mulai mengetuk pintu setiap kantor, meminta bagian. Belum lagi para rekanan, bahkan ”pejabat” yang biasa berurusan dengan kantorku, rame-rame ”nagih” bagian. Mana THRnya....??? Begitu katanya. Ini kan konyol.....!!!”, balasnya tak kalah keras.

”Duh ... kamu kok ngotot banget sih...? Anggap saja sedekah ... Nggak ada yang salah, kan?Jangan mempersulit rejeki orang dong... Kasih ajalah, kalo memang ada rejekinya...!” Kenyataannya, sebagian masyarakat kita memang belum terdidik dengan baik. Pemahaman agamapun masih sebatas ritual–seremonial. Untuk mengubahnya perlu waktu yang panjang. Kita lakukan saja apa yang kita anggap baik. Tapi juga nggak perlu ngotot gitu ah.”

”Sebel aja... Coba deh bayangin... aku punya milis, saat ada bencana di Madura, kami buka dompet sumbangan kebetulan di bulan puasa. Waduh… dalam sekejap terkumpul belasan juta rupiah. Eh… pas ada bencana lain yang terjadi bukan di bulan Ramadhan, dompet yang dibuka, cuma terisi ratusan ribu. Konyol kan?! Padahal kalo mau sedekah, kan nggak mesti ngeliat-liat bulan. Yang penting keikhlasan”.

“Setuju, tapi kalau pemahamannya memang masih sebatas itu? Dengar saja di setiap pengajian dan khotbah. Selalu ditonjolkan bahwa ibadah di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala berlimpah. Makanya, semua orang berebut mendapatkan pahala yang besar. Jadi, biarlah, kalo memang pemahamannya masih begitu. Minimal, mereka sudah mau meringankan tangan dan hati untuk berbuat baik, mengeluarkan hartanya untuk zakat, infaq dan sedekah. Walaupun itu dilakukan setahun sekali. Soal pahala, itu bukan urusan ustadz atau khatib. Allah SWT yang Maha Menghitung. Dia tidak buta akan apa yang kita lakukan. Termasuk juga niat yang ada di dalam hati kita. Udah ah, kamu kok ngomel terus dari tadi. Ntar pahala puasanya hilang lho...!!!”

”Tapi.... itu kan nggak mendidik. Harusnya kita tidak boleh selalu berada di ”bawah”, meminta-minta kepada orang lain. Apalagi saat lebaran, itu kan tujuannya konsumtif...!”, sergahnya, menyikapi kembali surat yang diajukan tukang parkir di tempat kursus.

Pembicaraan kemudian terputus begitu saja. Kalau belum puas, temanku yang satu itu akan menyambung pembicaraan pada hari sabtu kemudian, saat kami biasa bertemu.
***

Fenomena zakat–infaq–sadaqoh, sebagai sarana berbagi rejeki selalu ramai diperbincangkan orang setiap bulan Ramadhan. Apa yang dikeluhkan temanku Yudi memang tidak juga dapat disalahkan. Persepsi kita mengenai zakat–infaq–sadaqoh memang berbeda satu sama lain. Ada yang menganggap bahwa kesemuanya, terutama zakat, akan lebih afdol bila ditunaikan setelah nisabnya tercapai dan dibayarkan selama Ramadhan agar mendapat pahala berlimpah. Ada juga yang menyelesaikannya sesegera mungkin. Tidak lagi berhitung-hitung soal nisab atau pahala yang diperoleh sebagai imbalan atas ditunaikannya kewajiban berzakat. Bagi mereka, lebih penting menunaikan kewajiban secepatnya karena pahala adalah hak prerogatif Allah yang tidak ada seorang manusiapun mampu memahami kriteria sesungguhnya yang diterapkan Allah untuk menghitung pahala umat manusia.

Begitu juga mengenai kriteria mustahik. Tentu akan panjang pula perdebatan mengenai siapa yang berhak atau tidak. Daripada berlama-lama berhitung-hitung, kenapa tidak disederhanakan saja polanya .... Prinsipnya ... kalau ada orang meminta sesuatu kepada kita; itu adalah ujian dari Allah SWT kepada kita. Kita disodorkan kesempatan untuk ”meraih pahala”. Akan diambilkah kesempatan itu, atau kita biarkan saja ”kesempatan meraih pahala” itu berlalu dari hadapan kita. Soal apakah dia berhak menerima zakat, infaq atau sadaqah ... serahkan saja kepada Allah SWT. Para pemberi infaq-sadaqah yang ikhlas, tidak akan pernah merugi.

Suami saya lebih ekstrim lagi, setiap saat saya mau berkomentar tentang "peminta-minta". dia akan langsung menghardik;
"Kalau kamu nggak ikhlas memberi, jangan berdalih untuk "mendidik masyarakat". Yang mereka butuhkan saat ini adalah uang untuk hidup. Bukan pendidikan yang memakan jangka panjang. Kesadaran untuk tidak meminta-minta, Insya Allah akan datang saat kebutuhan materi mereka tercukupi. Atau berbuatlah sesuatu yang nyata agar mereka tidak perlu meminta-minta sepanjang waktu. Nah kalau belum mampu berbuat sesuatu yang nyata, berikan saja kebutuhan jangka pendek mereka. Begitu lebih baik, daripada cuma ngomong".

Memang dalam buku-buku sering ditulis siapa saja yang dapat digolongkan sebagai orang-orang yang berhak menerima zakat, infaq atau sadaqah. Jadi kalau ada orang yang kita anggap bukan mustahik tetapi masih suka meminta... Mungkin karena secara fisik, dia sudah menyandang predikat pemberi zakat – infaq – sadaqoh tetapi jiwanya masih sebagai mustahik. Masih merasa berhak "disantuni" orang lain. Jadi... kasihanilah mereka ... Jangan bebani jiwa kita dengan segala prasangka. Insya Allah, hati kita akan merasa lebih ringan dan ikhlas memberi. Minimal kalo belum bisa memberi, nggak perlu nggrendeng di belakang, gitu...!!! Supaya pahala puasanya nggak berkurang. Setuju, kan...?

Selasa, 07 Agustus 2012

Ramadhan Jadul - Persiapan Lebaran

Puasa di paruh pertama tahun 1960an dalam ingatan saya kegembiraan yang “suram”. Gembira karena kami semua menikmati libur panjang hampir selama 1,5 bulan. Dengan demikian, selama satu bulan penuh, sambil menunggu orangtua menunaikan shalat tarawih, anak-anak bisa bermain di halaman rumah atau bahkan di tengah jalanan yang memang masih sepi dari kendaraan bermotor.
Namun, tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa itu memang suram. Konon ekonomi Indonesia memang sudah menunjukkan arah kebangkrutan yang di kemudian hari baru saya tahu disebabkan oleh proyek-proyek yang disebut golongan Orba sebagai proyek mercusuarnya Bung Karno. Namun di balik pengetahuan anak usia SD kelas 2 – 4, saat itu, saya hanya mengenangkannya melalui beberapa peristiwa sehari-hari.
Saat itu, Indonesia memang sedang memasuki periode konfrontasi dengan Malaysia. Coretan-coretan anti Malaysia seperti “Ganyang Malaysia”, Malaysia boneka Inggris atau Malaysia antek Inggris bertebaran dimana-mana. Pada malam hari yang temaram, seringkali tiba-tiba terdengar bunyi sirine yang dibarengi denganpemadaman lampu. Kalau sudah begini, maka anak-anak wajib masuk ke kolong tempat tidur atau dimana saja mencari perlindungan. Ini dinamakan latihan bila ada serangan udara pada malam hari.
Bukan hanya konfrontasi saja yang menyebabkan kehidupan menjadi suram. Kesulitan ekonomi negara tercermin dari berbagai "fasilitas" yang biasa diperoleh para pegawai. Entah karena ekonomi Indonesia menganut gaya sosialis, saya hanya ingat bahwa setiap bulan selalu ada pembagian beras dari kantor dan setahun sekali saya ditugasi ibu untuk antri mengambil jatah kain/bahan baju. 
Pernah pada bulan-bulan tertentu, ayah saya membawa sekarung jagung pecah jatah pembagian kantor untuk makan kami serumah sebagai pengganti beras. Maka, hari-hari kemudian, selama sebulan kami akan menyantap nasi jagung tersebut. Di lain waktu, ayah membawa sekarung bulgur yang berwarna kecoklatan. Bagaimana rasanya…? Jujur saja, saya sudah lupa bagaimana rasa bulgur. Kalau rasa jagung, tentu masih tahu karena sampai saat ini saya masih sering dan suka menyantap cenil lengkap dengan getuk dan jagungnya. Apalagi perkedel jagung manis merupakan salah satu santapan kesukaan saya. Namun demikian, berbagai kesuraman itu tidaklah menyurutkan minat masyarakat untuk merayakan Idul Fitri dengan sebaik-baiknya.
Nah bagaimana masyarakat Betawi mempersiapkan lebaran? 
Pada paruh kedua bulan puasa, ibu-ibu mulai mempersiapkan kue lebaran. Semua memang harus disiapkan sendiri, karena toko kue belum umum. Andaikan ada, maka hanya orang-orang kayalah yang mempu membelinya. 
Umumnya mereka membuat kue semprit atau nastar. Kalau nastar, tahu kan? Itu lho, kue kering umumnya berbentuk bulat kelereng yang isinya selai nanas. Ada juga yang berbentuk bulat panjang seperti biji kenari. Membuatnya agak repot, karena kita harus terlebih dahulu menyiapkan dan membuat selai nanas. Kastengel…? Aduh… jauh deh… itu makanan orang kaya, karena keju sudah pasti sukar diperoleh.
Kalau kue semprit, ada nggak yang tahu benda seperti apa itu? Sekarang kue semprit disebut cookies terbuat dari adonan tepung mentega, telur dan gula. Kenapa disebut semprit? Karena untuk mencetak kue, adonan dimasukkan ke dalam contong kertas minyak yang ujungnya sudah disisipkan corong kecil yang ujungnya berlubang. Ada yang lubangnya datar, ada juga yang bergerigi. Kalau contong sudah terisi sekitar ½nya, maka ujung kertas akan dipelintir dan didorong agar kue keluar dari corong. Itu sebabnya disebut semprit. Mungkin diimaginasikan seperti saat kita meniup sempritan/peluit.
Corong yang lubang datar akan membentuk kue yang lurus-lurus saja, sedang corong bergerigi akan mengeluarkan adonan bergelombang seperti helai bunga. Lalu bagian tengahnya diberi bulatan kecil, biasanya adonan yang diberi coklat. Karena saat itu belum ada mixer, maka suara kopyokan telur ramai bersahut-sahutan dari rumah kerumah membentuk simpony indah khas ramadhan di perkampungan. Kadang-kadang ada beberapa tetangga yang saling bergotong-royong saling menyumbang bagian bahan kue yang dimiliknya, lalu memasaknya bersama untuk kemudian dibagikan.
Nenek saya yang keturunan Sunda-Betawi, selalu membuat geplak, kue satu khas betawi dan kue lapis legit selain tape ketan dan uli. Makanan buatan nenek saya itu legit dan enak sekali. Apalagi tape ketan dan ulinya. Duh, rasanya sampai sekarang saya belum pernah menemukan tape ketan selezat buatannya.. Selain itu ada penganan bernama geplak. Geplak adalah makanan kesukaan nenek saya. Jadi lebaran ibarat tidak bermakna tanpa geplak. Di luar lebaran, beliau seringkali membuatnya. 
Tahukan anda apakah geplak itu? 
Makanan ini dibuat dari bahan tepung beras dan kelapa parut yang disangrai, lalu dimasukkan ke dalam cairan gula merah atau biasa disebut kinca. Diaduk secukupnya dengan porsi tepung beras yang sangat banyak sehingga membentuk adonan basah sekedarnya dan bisa dipipihkan. Sudah… begitu saja. Sederhana sekali pembuatannya. Tapi, walaupun sederhana, persiapannya cukup lama karena kita harus membuat sendiri tepung beras. Saya lebih suka makan tepung beras yang sudah tercampur kelapa parut itu lalu ditambahkan gula pasir. Ini disebut sagon. Enak lho…, karena bahan-bahannya alami dan tepung berasnyapun masih baru. Yang mengagumkan ... walau usia beliau sudah cukup lanjut, menumbuk beras hingga menjadi tepung beras, dilakukannya sendiri. Bukan karena terlalu rajin, tetapi jangan bayangkan suasana pasar seperti masa kini dimana semua serba ada. Pada tahun 1960an, semua harus dikerjakan sendiri dan beruntunglah, bahwa karenanya semua bahan makanan dan kue2an masih alami, tanpa bantuan bahan kimiawi yang banyak digunakan saat ini.
Ibu saya, biasanya sibuk menjahit. Beliau memang bisa menjahit baju perempuan. Jadi semua baju anak-anaknya adalah buatannya. Apalagi, pada saat itu industri pakaian jadi masih sangat terbatas. Jarang orang membeli baju jadi. Department Store belum menjamur. Hanya ada Toko Matahari di Pasar Baru .. cikal bakal Matahari Department Store yang kita kenal sekarang dan satunya toko Mickey Mouse. Jadi hanya berbentuk toko biasa.

Bahan pakaian, seperti juga beras, berasal dari penukaran kupon. Sayang, saya nggak tahu bagaimana ayah saya memperoleh kupon tersebut. Apakah pembagian kantor atau membelinya. Bisa jadi itu adalah jatah pegawai BUMN, karena ayah saya bekerja di salah satu BUMN keuangan. Bahan pakaian pembagian itu, biasanya bisa dibuat baju untuk semua anak-anaknya. Jadi jangan heran kalau pada saat lebaran kami sekeluarga memakai baju seragam. Bukan karena disengaja seperti sekarang, tetapi jaman itu, lebih dikarenakan itulah kemampuan yang dimiliki setiap keluarga.
Saya dan adik-adik hanya bisa memiliki baju dan sepatu baru saat lebaran. Biasanya ibu saya akan menjahitkan 3 buah rok seragam dengan adik-adik. Bukan hanya seragam motifnya tetapi juga modelnya. Sepatu selalu beli di Pasar Baru. Ada satu toko sepatu kulit yang sangat terkenal. Modelnya bagus dan kualitasnya prima. Rasanya, semua orang di Jakarta kenal dengan toko SIN LIE SENG. 

Begitulah berlangsung hingga saya duduk di bangku kelas 6 SD, saat saya mulai melakukan protes-protes kecil agar tidak dibuat seragam lagi. Saat itulah ibu saya mulai membedakan warna dan model baju namun bahannya tetap sama untuk menghindari rasa iri di antara kami.
Sementara itu, ayah saya akan mengecat rumah kami yang setengah tembok dengan kapur sepulang kerja dan terutama di akhir minggu. Saat itu, jam kantor memang hanya sampai jam 14.00 dan karena kendaraan di Jakarta masih sangat langka, maka jarak tempuh dari kantor, cukup dijalani dalam waktu 30 menit saja dengan naik sepeda onthel. Kelak sesudahnya, jarak tempuh itu menjadi lebih pendek saat ayah saya mendapat fasilitas mobil impala yang luar biasa lebar...
Begitulah cara kami dan sebagian besar masyarakat Jakarta yang saat itu masih menjadi the big village, menyiapkan lebaran. Mungkin saat itu sudah terjadi perbedaan kelas sosial, sama seperti sekarang. Ada jurang pemisah antara kaum berpunya dan kaum proletar. Namun keterbatasan media informasi dan komunikasi menyebabkan dunia kami terbatas pada lingkungan kecil saja. Jauh dari hiruk pikuk.

Beruntungkah…? Entahlah! Setiap jaman memiliki problematikanya sendiri dan saya merasa kenikmatan menjalankan puasa pada masa kecil dulu, jauh lebih bermakna daripada apa yang dialami anak saya sekarang.

Senin, 21 September 2009

Ramadhan - Syawal .... What's next?

Hari ke 2 Syawal 1430H ditandai dengan berita duka dari Balaikota DKI Jakarta. Ribuan orang yang mungkin dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah, tua dan muda telah antri untuk bertemu dan bersilaturahim dengan pemimpinnya. Apalagi ada iming-iming mendapat bingkisan dan uang Rp.40.000,-

Perayaan hari Raya Idul Fitri yang diawali dengan ibadah shaum alias puasa seringkali disebut hari kemenangan. Entah kemenangan dari atau atas apa, jarang orang bertanya. Kalau kemenangan itu patut dirayakan karena selama satu bulan lamanya kita HANYA telah berhasil menahan LAPAR dan HAUS, mungkin ya... karena itulah yang selalu ditakutkan oleh Rasul SAW. Umat Islam hanya meraih lapar dan haus selama satu bulan, tetapi tidak mendapat makna apa-apa dari ibadah shaum.

Hari ke 2 Syawal 1430 H, diawali dengan berita, begitu banyak perempuan yang tergencet dan pingsan berebut kesempatan mendapat bingkisan dan uang dari gubernur DKI dan wakilnya di Balaikota DKI Jakarta yang megah.... sementara selama satu bulan kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Mengeluarkan Infaq dan menunaikan zakat maal maupun zakat fitrah. Konon kekuatan zakat tersebut sangat luar biasa.... Konon pula katanya, zakat yang terhimpun selama 1 bulan itu bisa mencapai lebih dari 1 trilyun....

Entah kemana zakat dibagikan... tentu kita harus mempercayai amil zakat yang telah menerima amanah dari para muzakki. Rasanya para amil zakat tidak akan pernah berani menyelewengkan amanah menyalurkan zakat, infaq dan sodaqoh. Mereka tentu dari golongan yang sangat amanah karena berat konsekuensinya menjadi anggota amil zakat.... 

Kalau begitu, apa yang salah dari pengelolaan zakat? Kenapa bertahun-tahun zakat ditunaikan... mungkin telah puluhan trilyun dikucurkan tetapi jumlah kaum dhuafa di Indonesia tidak berkurang. Tentu ada yang salah di negeri  yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini.

Yang pertama mungkin karena zakat lebih banyak ditunaikan selama bulan Ramadhan dimana pada bulan ini pula terjadi peningkatan kebutuhan. Ironi memang.... bulan dimana kita menahan lapar dan haus di siang hari, ternyata tidak selaras dengan pengeluaran rutin rumah tangga. Konon ada tambahan makanan "yang wajib ada" selama ramadhan, yaitu kolak, kurma dan sirup untuk berbuka. Menjelang akhir Ramadhan pengeluaran bertambah banyak dengan belanja persiapan Hari Raya berupa makanan (ketupat+kelengkapannya, kue-kue) baik untuk disantap di rumah maupun kue-kue untuk bingkisan kerabat dan relasi ditambah dengan baju dan mukena baru. Belum lagi dana yang harus dipersiapkan untuk pengeluaran transportasi mudik dan "angpao" untuk anak-keponakan, orangtua dan mertua. Yang lebih mampu bahkan mendandani penampilan rumahnya dengan mengecat, mengganti gordijn, furniture dan lain-lainnya.

Itulah ritual Ramadhan dan Idul Fitri yang sudah melekat menjadi tradisi yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia baik dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah hingga golongan berpunya. Maka tidak heran, bila menjelang Idul Fitri alias lebaran, banyak orang menjadi sakit jiwa dan stress. Malu karena, jangankan untuk pulang kampung. Baju baru untuk anakpun belum terbeli.... Bahkan, seorang teman yang berpunyapun "heboh" karena belum sempat membeli mukena baru, karena memakai mukena baru saat shalat Ied merupakan TRADISI keluarga, padahal patut diyakini andaipun dia tidak menggunakan mukena barupun, tidak akan ada satu orangpun yang tahu.

Bisa jadi, pola pemanfaatan zakat untuk hal-hal yang bersifat konsumtif membuat besaran dana yang terkumpul dan tersalurkan menjadi bagai setetes air ditengah kegersangan udara. Mirip dengan suasana gersang yang melingkupi langit Jakarta selama dua hari ini. Memang tidak mudah mengubah paradigma perayaan Idul Fitri yang konsumtif ini.

Yang Kedua, bisa jadi memang jumlah orang miskin di Indonesia termasuk di Jakarta bertambah banyak. Bukan sekedar miskin fisik ... yaitu secara kasat mata memang terlihat miskin yang ditandai dengan buruknya fasilitas tempat tinggal, penghasilan rendah dan tidak tetap dan lain-lain. Tetapi yang lebih parah adalah "miskin hati nurani". Walaupun secara fisik sudah melewati fase miskin fisik, tetapi hati nuraninya tetap miskin sehingga dia akan selalu membanding-bandingkan keadaanya dengan para tetangga atau keluarga lainnya. Akibatnya dia akan selalu merasa kekurangan. Sehingga, bila ada orang lain memperoleh "sedikit keberuntungan" maka golongan yang miskin hati nuranipun "merasa punya hak yang sama" untuk mendapat bingkisan tersebut.

Jadi... apa hikmah yang kita peroleh selama bulan Ramadhan selain lapar dan haus? Sudah mampukan kita menahan diri dari nafsu "mendandani diri sendiri" dengan segala kemewahan sementara di luar sana masih banyak masyarakat yang berebut "kemurahan hati para muzakki", bahkan dengan mengorbankan kehormatan dan keselamatan jiwanya.

Sudah mampukah kita menahan diri  dari nafsu "memakan segala yang ada di depan mata", dari ketupat+sayur godog yang sederhana hingga kue-kue lezat ala hidangan hotel berbintang lima seolah tiada hari esok.

Atau... memang taraf kita untuk memaknai ibadah Shaum dan meraih kemenangan memang masih dalam taraf pesta pora. Wallahu'alam

Selamat Idul Fitri 1430 H
Minal Aidin wal faidzin
Taqobballahu minna wa minkum

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...