Minggu terakhir bulan April yang lalu, selama 4 hari saya mengikuti in house training yang berjudul “Petroleum Engineer for non Petroleum Engineer”. Jangan ditanya apa hubungan antara arsitektur dengan minyak. Pasti sama sekali nggak ada hubungannya. Tapi begitulah nyatanya … saat perusahaan ingin melebarkan bidang usaha, walaupun nyata-nyata nggak berhubungan dengan traditional main business (real estate), semua staff terpaksa harus siap sedia. Tapi, nggak apalah… tambah pengetahuan, apalagi kalo gratis, kan lumayan.
Dunia perminyakan sama sekali tidak pernah jadi perhatian saya, kecuali sejak ramai dibicarakan orang, di media massa, mengenai perebutan Blok Cepu antara Pertamina dengan Exxon Mobile Oil Indonesia (EMOI). Sejak itu pula, mungkin, berbagai istilah yang berkaitan dengan pengelolaan minyak bumi seperti PSC (Production Sharing Contract), TAC (Technical Assistant Contact), WPnB (Work Program and Budget), POD (Plan of Development), AFE (Authorization For Expenditure) dan banyak lagi istilah lainnya mulai masuk dalam ruang perhatian. Ini baru istilah “luar” yang biasa dikonsumsi publik. Masih banyak istilah teknis perminyakan yang pasti tidak dimengerti oleh orang yang tidak berkecimpung di dalamnya.
Konon katanya, Indonesia memiliki 60 mangkuk (basin) sumber minyak bumi dan gas alam (migas) yang terbentang di sepanjang pantai barat Sumatera termasuk di Laut Cina Selatan, pantai utara Jawa dan berbelok ke selat Makasar, yaitu di sepanjang pantai barat Kalimantan . Sedangkan potensi migas di Indonesia timur masih belum terdeteksi kecuali di sekitar pantai utara Irian. Dari 60 mangkok tersebut, baru 22 buah mangkuk saja yang sudah dikembangkan dan menghasilkan devisa Negara dari migas. Sisanya masih terpendam di dalam perut bumi. Berapa besar cadangan migas Indonesia yang berada dalam 38 mangkuk tersebut? Nobody knows…… Aneh ya Mengapa begitu?
Mestinya…. data-data itu ada di Pertamina yang dulu bertindak sebagai pemegang tunggal Hak Pengelolaan sumber daya energi (migas) di Indonesia. Atau di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Yup .... saya melihat peta potensi Migas Indonesia saat training itu. Cuma…… (lagi-lagi ada “negation” nya), data itu berasal dari data explorasi sebelum tahun 1960 yang diperoleh Pertamina dari pemerintah Belanda saat nasionalisasi ladang minyak Belanda (Shell) oleh Pertamina. Di situ disebutkan bahwa Indonesia memiliki 60 mangkuk yang mengandung minyak bumi dan gas. Berapa besarnya.....? Saya lupa mencermatinya. Tetapi ... sekali lagi, itu data +/- 50 tahun yang lalu. Yang diperoleh saat alat pendeteksi (seismic) masih sangat sederhana.
Sayangnya, hingga saat ini…. hampir 50 tahun kemudian, pemerintah dan para operator industri migas masih berkutat mengembangkan 22 wilayah kerja tersebut. Sisa potensi migas di 38 mangkuk masih belum tersentuh. Bagaimana mungkin investor tertarik untuk melakukan investasi di bidang yang high risk dan high/low value ini? Pada abad ke 21 ini, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih (3D dan bahkan 4D) seharusnya kita memiliki data yang mutahir yang memungkinkan pemerintah mampu menghitung seberapa besar potensi migas tersebut. Pemerintah tidak punya alat dan data akurat atas kandungan migas. Semuanya masih dalam bentuk leads. Masih diperlukan berbagai bentuk study dan penelitian untuk mencapai tahap potensi à possible à proven. Kesemuanya masih memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk menyerahkan pekerjaan tersebut kepada konsultan, juga diperlukan biaya yang sangat besar. Diperlukan juga semangat bertualang dan menjelajah alam yang masih liar untuk menggali semua potensi migas di Indonesia baik sumber existing (yang di data oleh Belanda sebelum 1960), apalagi untuk menggali potensi yang masih terkubur di wilayah timur. Sayangnya, jangankan untuk menggali potensi baru terutama di wilayah timur Indonesia . Untuk mengembangkan mangkuk yang sudah ada saja, Indonesia belum mampu, terutama dari segi pendanaan.
Memang, ada calon investor yang mau "mengorbankan" dana untuk melakukan "Joint Study". Ini akan memberikan hak prioritas (first right of refusal) kepada calon investor tersebut dan "melemahkan" posisi tawar pemerintah. Namun ... joint study inipun hanya dilakukan pada mangkuk existing saja dan pemerintahpun meng"amin"i alasannya... Masih ada 38 mangkuk yang belum di eksplorasi.
Untuk menarik investor, pemerintah Indonesia harus meng up-date data. Sekarang sudah abad ke 21…. Bagaimana mungkin kita menarik investor baik dari dalam negeri maupun asing, bila pemerintah sebagai fasilitator tidak melakukan explorasi yang cukup untuk memutahirkan data. Dengan demikian ada dasar yang memadai dalam menghitung kelayakan/keekonomian investasi di bidang migas baik bagi pemerintah sendiri maupun calon investor. Ada dasar perhitungan yang sama agar pemerintah tidak "kebobolan" dalam menghitung potensi sumber daya alamnya.
Jadi …. benarkah Indonesia kaya akan sumber daya energy/alam? Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Coba jelajahi tanah di Kalimantan ! Sungai-sungai yang maha lebar … dengan air yang masih kebiruan menyiratkan kekayaan alam. Kepulan asap di musim kemarau, banyak disebabkan oleh pergesekan benda/dedaunan yang sangat kering yang tertiup angin. Ditambah lagi, adanya kandungan batubara yang menyembul di permukaan tanah yang telah gersang karena penggundulan tak terkendali hutan tropis oleh para pengelola HPH.
Lihat pula bongkahan dan danau-danau yang ditimbulkan oleh penambangan timah di Bangka atau sebentar lagi di lahan olahan Newmont di Sumbawa. Coba, tengok pula, betapa Freeport Indonesia telah mengeruk potensi mineral di puncak Grasberg – Irian sehingga puncak gunung tersebut telah menjadi kerucut terbalik sedalam 3.500m. Konon …..tambang tembaga di Irian itu merupakan tambang terbesar ke 3 di dunia. Namun tambang sampingannya yang berupa emas merupakan hasil sampingan emas yang terbesar di dunia. Bayangkan.... dari 20 unit "super trailler" berdaya angkut 200 ton, yang dibuat oleh Caterpillar, konon 12 unit di antaranya beroperasi di Irian, di lahan garapan Freeport Indonesia. Dengan hasil yang fantastis tersebut .... penduduk Irian masih tetap miskin. Irian masih merupakan wilayah tertinggal dan kalaupun “katanya” hasil tambang Freeport banyak ditarik ke “pusat”, nyatanya tidak ada hasil yang terlihat bagi kemakmuran rakyat dan Indonesia masih tetap terbelit hutang.
Jadi ..... benarkah Indonesia kaya akan sumber daya alam (energi)?????
Wallahu’ alam