Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Sang Pencerah

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Akmal N Basral
Buku SANG PENCERAH tulisan Akmal N Basral yang mantan jurnalis ini adalah novelisasi skenario film dengan judul yang sama yang menurut saya lebih diperkaya lagi dengan beberapa data.

Tidak banyak yang bisa diungkapkan dari buku ini, karena saya sendiri membacanya setelah terlebih dahulu menonton filmnya, sehingga lebih merupakan penyegaran kembali dari apa yang dilihat dalam film.

Bagi penyuka buku, tentu SANG PENCERAH versi buku jauh lebih menarik dibandingkan dengan menonton film. Walau dibintangi dan diperankna dengan sangat baik oleh Lukman Sardi sebagai KHA Dahlan, namun tatkala membaca buku, ada nuansa yang berbeda karena emosi dan imajinasi pembaca dibawa lebih jauh.

Dalam buku, dijelaskan juga siapa Siti Walidah yang kelak menjadi istri KHAD, begitu juga termasuk juga proses "pelamaran" Siti Walidah oleh keluarga KH Abu Bakar untuk Mohamad Darwis, nama asli KHAD sebelum beliau pergi menuntut ilmu ke Makkah sekaligus menunaikan ibadah haji untuk pertama kali.

Diuraikan juga dorongan dari Sultan agar KHAD menunaikan ibadah haji untuk kedua kali, guna menghindari/meredam konflik yang semakin tajam di kalangan kiai Jogya sekaligus melaksanakan "titpan" Sultan agar KHAD mempersiapkan diri untuk membentuk sebuah organisasi Islam untuk memajukan umat.

Apapun juga, buku ini menjadi bacaan pelengkap bagi anda yang telah menonton film tersebut.

Rabu, 07 Juli 2010

Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (dwilogi)


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Maryamah Karpov yang benar

Mizan Book Publisher menerbitkan karya Andrea Hirata terbaru, yang tersaji dalam dua cerita tetapi disatukan dalam sebuah buku yang diberi judul ... Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas.

Ceritanya masih berkisar tentang Ikal dan kisah-kisah petualangan bersama teman-temannya, sedangkan rentang terjadi peristiwa dalam kisah petualangan ini adalah masa Ikal dewasa setelah dia menyelesaikan kuliah dan memperoleh gelar master di Perancis/Inggris.

Buku pertama, PADANG BULAN mengisahkan pertengkaran antara Ikal dan bapak “juara satu di dunia” yang disayanginya sehingga menyebabkan Ikal enggan pulang kerumah. Pertengkaran itu sendiri dipicu karena ketidak-setujuan bapak akan hubungan Ikal dengan Aling dan ditambah dengan ketidak sukaan sang ibu, melihat Ikal yang telah bersusah payah bersekolah dan memiliki sederetan gelar tidak kunjung mencari dan mendapatkan kerja kantor yang dapat menjamin masa depan dan pensiun di hari tua.

Di tengah masalah antara Ikal dan ibu/bapaknya, muncul M Nur, kawan main Ikal semasa kecil, yang mengaku dirinya sebagai detektif Melayu, memperkeruh hubungan Ikal dengan Aling. Berita yang dihembuskan M. Nur kepada Ikal tentang hubungan Aling dengan Zinar, pengusaha muda, tinggi, ganteng dan atletis, pemiliki warung kopi membuat Ikal terbakar rasa cemburu.

Tampilan fisik Zinar dan info hubungan “asmara” antara Zinar dan Aling tak pelak membuat Ikal pontang–panting, martabatnya terusik sehingga dia berusaha mati–matian untuk mengalahkan Zinar. Kesempatan itu datang dalam berbagai pertandingan yang akan digelar saat perayaan 17 Agustus.

Di lain pihak, ada kisah Enong, gadis kecil yang bercita–cita menjadi guru bahasa Inggris, namun terpaksa mengurungkan niatnya sejak sang bapak meninggal terkubur hidup–hidup tertimbun longsoran pasir timah. Sebagaimana tradisi Melayu, sebagai anak tertua, Enong terpaksa mengambil alih tanggung jawab sang ayah dan mengubur segala cita–citanya hanya beberapa bulan menjelang ujian akhir SD.

Perjuangan Enong mengais rejeki untuk menopang kehidupan keluarga tentu sangat berat. Upaya mencari pekerjaan di Tanjung Pandan gagal total karena tubuhnya yang kecil dan kurus kering dianggap tidak memadai untuk jenis pekerjaan yang dilamarnya sehingga Enong akhirnya terpaksa kembali ke kampung.

Buku ke dua CINTA DI DALAM GELAS melanjutkan perjuangan Enong mengais rejeki di kampung,menggantikan fungsi bapak. Enong memutar otak untuk mencari penghasilan untuk menopang biaya rumah tangga dan sekolah adik–adiknya dengan adat dan tradisi Melayu dengan menjadi pendulang timah perempuan yang pertama di kampungnya, menghadang berbagai tantangan yang keras dan kasar. Bertahun – tahun dijalaninya kehidupan keras tersebut sambil tetap menjaga semangatnya untuk menguasai bahasa Inggris. Dibiayai adik–adiknya bersekolah hingga mereka kemudian menikah satu persatu, hingga tinggal Enong membujang dengan tampilan kasar khas pendulang timah.

Hingga suatu saat seorang lelaki melamar dan mengajaknya menikah. Namun bayangan cinta sejati seperti yang dialami ibu/bapaknya pupus ketika seorang perempuan datang ke rumah Enong seraya mengaku sebagai istri Matarom, suami Enong.

Enong kecewa dan dalam kemarahan dia memutuskan untuk bercerai dan melanjutkan hidupnya sendiri, mengejar cita–cita masa kecilnya untuk menguasai bahasa Inggris dengan mengikuti kursus bahasa Inggris. Ditemani buku kecil berjudul kamus Inggris satu milyar kata,hadiah bapaknya menjelang kematiannya Enong semangat mengejar cita–citanya.

Sementara itu kemarahan Enong karena tertipu Matarom, dilampiaskannya dengan niat mengalahkan lelaki yang sempat menjadi suaminya itu diajang pertandingan catur menjelang perayaan 17 Agustus. Catur adalah wilayah lelaki dan perempuan Melayu tidak akan pernah diberi kesempatan bermain catur apalagi kalau sampai mengalahkan lelaki.

Ikal, M Nur sang detektif, Enong yang memiliki nama asli Maryamah serta Jose Rizal dan Ratna Manikam berkomplot untuk mendukung Enong alias Maryamah “menuntaskan” dendamnya mengalahkan Matarom sang juara catur 2 tahun berturutan. Pertemanan Ikal dengan Ninoschka di Sorbone yang pada saat sama sedang berjuang untuk menjadi salah satu master catur dunia, memperlancar niat Enong yang Maryamah melangkah sedikit demi sedikit mengalahkan para lelaki.

Dukungan teknologi telekomunikasi tradisional melalui merpati pos dan telekomunikasi modern internet memuluskan transfer pengetahuan bermain catur tingkat dunia kepada pemain catur desa nun di pelosok pulau kecil wilayah Sumatera. Lembar catatan langkah pesaing yang “disadap” sang detektif dan disampaikan Jose Rizal kepada Ikal, diterjemahkan langsung oleh Ikal untuk dimintakan petunjuk langkah antisipasi lansung dari Ninoschka di belahan dunia Eropa. Bagaimana akhir pertandingan Enong dengan Matarom, ada baiknya kita simak 2 buku yang menjadi satu ini.

Sebagaimana kisah perjalanan Ikal terdahulu, buku ini sarat dengan semangat hidup yang patut menjadi teladan dan contoh bahwa tidak ada yang mustahil tatkala semangat dan kemauan untuk meraih cita–cita masih terpateri dalam dada.

Bagi saya, buku ini, terutama buku bagian ke dua lebih cocok diberi nama MARYAMAH KARPOV dibandingkan dengan buku ke 4 tetralogi Andrea Hirata terdahulu. Saya masih ingat, mungkin sekitar 1 tahun sebelum film Laskar Pelangi beredar, saya sempat melihat buku Maryamah Karpov di toko buku Gramedia PIM1. Sempat terbersit maksud untuk membelinya sekaligus 3 buku yaitu Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Namum suami saya melarang, karena buku pertama, Laskar Pelangi pun belum selesai saya baca. Beberapa minggu setelahnya, tatkala saya memutuskan untuk membeli buku tersebut ... maka Maryamah Karpov sudah menghilang dari peredaran .... untuk kemudian diedarkan kembali di bulan September (tahunnya lupa...) mendekati jadwal peredaran film Laskar Pelangi

Bisa jadi, cerita dalam dwilogi inilah yang menjadi isi buku Maryamah Karpov terdahulu, yang sebenarnya dan kemudian diperkaya kembali oleh Andrea Hirata dengan menuliskan akhir kisah percintaan antara Ikal dengan Aling.

Buku ini juga sekaligus menjelaskan mengapa kisah–kisah dalam buku Maryamah Karpov – versi Tetralogi “nggak nyambung” dengan judul bukunya, karena sama sekali tidak tercermin apa, siapa dan mengapa ada Maryamah Karpov

Senin, 22 Maret 2010

The Lost SYmbol


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:Dan Brown
Satu lagi buku dari Dan Brown, pengarang yang namanya mendunia setelah bukunya berjudul The Da Vinci Code yang diklaimnya "mengguncang keimanan" menjadi best seller dunia dan diterjemahkan dalam berbagai ragam bahasa serta banyak diperdebatkan orang walau film layar lebarnya tidak "seindah" bukunya.

Masih bercerita tentang petualangan Robert Langdon, symbolog dari Harvard yang "terjebak" di jantung kota Washington DC setelah mendapat "undangan" dari Peter Solomon, sahabat lamanya, untuk memberikan ceramah dalam seminar terbatas sebuah perkumpulan yang diketuainya.

Undangan yang ternyata tidak pernah dibuat oleh Peter, malah membuat Robert Langdon terlibat kejar-kejaran dengan CIA dalam upaya mengupas the Lost Symbol.

Lalu, siapa Mal'akh yang juga terobsesi untuk mengungkapkan the lost symbol demi menyempurnakan sang Mahakarya dan pengorbanannya.

Mengapa CIA terlibat begitu dalam untuk mengejar the lost symbol. Apa hubungan antara Peter Solomon dengan Mal'akh sehingga sedemikian bencinya Mal'akh kepada klan Solomon hingga dia mampu menghabisi klan tersebut.

Masih dengan gaya Dan Brown yang sangat cermat dalam mendeskripsikan detil arsitektur, suasana tempat terjadinya peristiwa-peristiwa, pembaca tetap diajak mengikuti alur cerita yang berpindah dari satu sekuel ke sekuel lainnya dengan tempo yang sangat cepat. Tidak kurang dari 24 jam.

Alur cerita yang Dan Brown yang sama dalam 5 bukunya (digital fortress, deception point, angels & demons, the da vinci code serta the lost symbol), membuat buku ini sedikit kehilangan greget dibandingkan dengan buku Dan Brown terdahulu.

Apapun.... karya Dan Brown tetap menarik untuk dibaca, karena banyak hal yang tak terduga di dalamnya.... dan pasti ... tidak sembarang orang bisa menceritakan sebuah kejadian yang berlangsung kurang dari 24 jam dalam sebuah buku setebal hampir 800 halaman

Jumat, 30 Januari 2009

Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Prof. Dr. Tjipta Lesmana, MA
Saya dapat resensi buku ini dari milis FTUI. Entah siapa pembuatnya.
Tapi membaca resensinya, sangat menarik dan semoga bermanfaat untuk kita menimbang-nimbang calon presiden RI dalam pilpres 2009 kelak

"Behind the Scene" (1):
Tingkah Laku Para Presiden Indonesia
Rabu, 17 Desember 2008 | 11:52 WIB

Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri Negara Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Asia. Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para anggota rombongan pun kelelahan luar biasa.

Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea. Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya, karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur tertidur.

Pada salah satu bagian, PM Korea berujar, ”Mr President, we have an excelent nuclear technology for power plant. If you are interested, we would be happy to have it for you. (Tuan Presiden, kami memiliki teknologi nuklir yang canggih untuk pembangkit tenaga. Kalau Anda berminat, kami bisa mengusahakannya untuk Anda),” Pemerintah Korea menawarkan bantuan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik Indonesia.

Saat itu, Gus Dur tidur pulas sekali. Selesai pernyataan itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, PM Korea menoleh ke arah Gus Dur menunggu jawaban. Namun, tidak ada jawaban. Laksamana cepat-cepat membangunkan Gus Dur. “Gus... Gus... bangun! Gus... dia tanya apakah kita interested dengan power plant technology yang dia punya.”

Gus Dur karena baru terbangun dari tidurnya dan belum berkonsentrasi langsung nyeplos, “My Minister ask about your nuclear technology…! (Menteri saya bertanya tentang teknologi nuklir yang Anda miliki),”

Laksamana geli bercampur malu. Anggota rombongan pun tersipu-sipu, tidak berani melihat wajah PM Korea. “Kita semua malu. Merah muka kita di hadapan Perdana Menteri Korea,” tutur Laksamana.

Demikian salah satu cerita yang terungkap dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa karya Prof Dr Tjipta Lesmana, MA.

Buku yang baru diluncurkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada pertengahan bulan November menguak pola komunikasi politik enam presiden yang pernah memimpin Indonesia, dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Tjipta melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Ia melakukan wawancara secara mendalam dengan 25 orang yang dekat dengan ke enam presiden itu.

Sebagian besar informan adalah mantan menteri sehingga mereka sering berkomunikasi dengan Presiden. Dari pengalaman berinteraksi itulah mereka bercerita dan memaparkan apa saja yang diketahuinya tentang komunikasi politik sang presiden dan kesan mereka terhadap kepemimpinan presiden tersebut.

Buku setebal 396 halaman itu mengungkap gaya komunikasi para presiden Indonesia dalam beragam kondisi. Soekarno digambarkan sebagai sosok yang banyak bicara dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Sementara itu, gaya Soeharto berada di ekstrem yang lain, hight context, para pembantunya harus pintar memahami yang tersirat di balik yang tersurat, plus memahami senyumnya yang multitafsir.

Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, tetapi terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga memiliki gaya yang sangat terbuka, demokratis, tapi cenderung diktator. Gus Dur sangat impulsif. Ia bisa tertawa terbahak, tetapi bisa juga menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya.

Megawati lain lagi. Meski dipandang cukup demokratis, pribadi Megawati dinilai tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya. Dan, tanpa diragukan lagi, tulis Tjipta, Megawati adalah seorang pendendam.

Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan sebagai sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya, sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.

Yang menarik dari buku ini adalah semua analisis ditarik berdasarkan kisah–kisah kecil interaksi sehari-hari antara presiden dan para menterinya. Sebagian kisah itu tak pernah muncul ke publik sebelumnya.

***
"Behind the Scene" (2):
Megawati Lebih Antusias Bicara Soal "Shopping"

Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno “Silence is Gold”. Tapi, diamnya Megawati seringkali kelewatan. Ia tetap tak bersuara bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (Alm) Roeslam Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, “Megawati bicaralah sebagai Presiden!”

Kenapa Megawati lebih banyak diam?
Tjipta Lesmana dalam bukunya “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa” mengisahkan, pada suatu hari, saat masih menjabat sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jl Teuku Umar, Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya yang lain menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu.

Usai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada si Menteri. “Lama amat sih kamu ngobrolnya. Apa saja sih yang dibahas?”
”Enggak ada, Mas. Kita ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan negara!” jawab Sang Menteri sambil tertawa lebar (hal. 272).

Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan menteri negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih sering soal-soal ringan seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama. Tapi, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus menerus fokus ke permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot dalam mengurus negara.

Mantan pentiggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menuturkan dalam buku itu, dalam sidang kabinet Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya, meski perdebatan sudah berada pada tingkat ‘panas’.

Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun 2002 aksi-aksi unjuk rasa anti pemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa, menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar bingar unjuk rasa itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori rangkaian unjuk rasa itu.

Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah, Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da’i Bachtiar (Kapolri), rupanya terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini. Lantas, dalam rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot.

Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam kabinet Megawati. Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi menteri.

Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Kata–kata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati. Apa reaksi Presiden? Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua pembantu dekatnya (hal. 276).

Pendendam
Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir. Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.

Tjipta menulis, “di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono (SBY) tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis,” (hal.303). Ini semua karena sikap “diam-diam” SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, “Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.” (hal. 288).

Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi. Terungkap ke publik bahwa Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban kezaliman Megawati.

12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada putaran kedua pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara. Megawati sedih dan menangis.

Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun.

Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDIP. “Kalau orang lain, Amien Rais Presiden, Wiranto Presiden, siapalah, saya datang. Tapi, kalau ini (SBY) saya enggak bisa, karena dia menikam saya dari belakang,” begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy (hal.289).
***

"Behind the Scene" (3):
Gus Dur Menggebrak Meja Hingga Meraung-raung

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah presiden Indonesia ke-4. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999 - 23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri.

Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia, namun sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Tjipta menyebut dalam bukunya “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa”, Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai dan Presiden Republik Indonesia. Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih menonjol daripada sebagai Kepala Negara. Akibatnya, komunikasi politik Gus Dur kacau.

Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya. Cilakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan kesempatan emasnya berkarir di luar negeri.

Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara, menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana mencarikan posisi untuk orang itu. “Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New York. Kan, sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri. Tolong, deh,” ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana.

Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi lowong sebagai direksi Indosat. “Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang tempo hari Gus titipkan ke saya? Dia lebih cocok di Indosat, Gus,” kata Laksamana.

Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab lantang,”Enggak bisa itu orang!”
“Lho, kenapa, Gus?!” Laksamana terperanjat.
”Dia bawa lari isteri orang.”

Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena ada perintah Presiden. Orang itupun sudah ada di Indonesia. Laksamana kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya.

”Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari isteri orang?” tanya Laksamana.
”Demi Allah, Pak! Saya masih dengan isteri saya yang sekarang,” jawab orang itu.

Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang anak muda ini. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan. Bagaimana tidak! Karirnya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi garagara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau (hal. 207).

Gus Dur menangis meraung-raung
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah dimarahi habis-habisan. Ceritanya begini:

Ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon 1. Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur karirnya akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur. Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap “memeras” sejumlah konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam “bantuan” tapi dengan imbalan yang sangat besar.

Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur. Gus Dur marah. AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai laporan AB.

Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana. Pertemuan empat mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa. Lama Gus Dur tidak bisa bicara, hanya menangis dan menangis.

AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha menenangkan Gus Dur. “Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?” ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka suara.

Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah disampaikan AB. “Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!” ujar Gus Dur (hal. 225). Sejak saat itu, dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.
***

"Behind the Scene" (4):
Habibie, Presiden Pintar yang Tidak Pernah Mau Kalah

Meski sekian lama menjadi bagian dari masa pemerintahan Soeharto dan menganggap Soeharto adalah guru sekaligus bapaknya, namun gaya kepemimpinan Habibie jauh bertolak belakang dengan orang yang dihormatinya itu. Muladi, mantan Menteri Kehakiman di era Orde Baru menuturkan, sidang kabinet yang dipimpin Soeharto selalu berlangsung dalam suasana mencekam. Para menteri takut angkat tangan mengajukan diri untuk bicara. Sementara di zaman Habibie, para menteri justru berebut mengacungkan jari. Muladi menggambarkan, susana sidang kabinet seperti sebuah seminar: riuh, panas, kadang gebrak-gebrak meja seperti mau kelahi.

Habibie sendiri yang merangsang suasana seperti itu karena dia memang senang berdebat. Semakin didebat ia semakin bersemangat. Karena semua menteri boleh bicara dan perdebatan dibuka seluas-luasnya sebelum diambil keputusan, sidang kabinet bisa berlangsung sampai larut malam.

Habibie, menurut Tjipta dala bukunya “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa”, adalah seorang extrovert. Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik ini diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia.

Semua orang terkejut, terutama Almarhum Ali Alatas yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, ketika Habibie tiba-tiba mengumumkan kepada

Dunia internasional tentang pemberian opsi kepada rakyat Timor Timur: tetap bergabung dengan Indonesia atau melepaskan diri sebagai negara merdeka. Tjipta menganalisa, biang keladi dari keputusan besar ini adalah sepucuk surat Perdana Menteri Astralia kala itu, John Howard, yang ditujukan pada Habibie pada Desember 1998. Menurut penuturan Juwono Soedarsono, Habibie marah membaca isi surat Howard yang meminta Indonesia mempertimbangkan hak politik rakyat Timor Timur untuk menyatakan penentuan nasib sendiri.

Habibie merasa surat itu seperti tantangan sekaligus kritik terhadap pemerintah Indonesia. “Karena Habibie mempunyai tabiat tidak mau kalah dengan siapapun maka tantangan itupun secara spontan dijawab,” tulis Tjipta.

Dalam sidang kabinet 27 Januari 1999 kebijakan pemberian opsi ini dipertanyakan oleh Hendropriyono yang kala itu menjabat sebagai Menteri Transmigrasi. “Kalau plebisit kalah, bagaimana? Siapa bertanggung jawab? Ini kan nanti akan terjadi eksodus, eksodus dari para transmigran yang sudah 25 tahun di sana. Siapa yang bertanggung jawab?” cecar Hendro seperti ditulis dalam buku itu.

Habibie dengan sigap menjawab,”Saya bertanggung jawab.”
Fahmi Idris, Menteri Tenaga kerja, segera menimpali, ”Tanggung jawab apa, Presiden?”
Wajah Habibie tampak merah. Seorang menteri dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lantas menengahi situasi panas ini. (halaman 154)

Bagaimana dengan SBY?
Selanjutnya, bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Tjipta menilai, SBY adalah sosok yang perfeksionis. Ia selalu tampil rapi dengan tutur kata yang tertata. SBY pasti sadar bahwa ia seorang pria yang dikaruniai Tuhan dengan wajah cukup ganteng. Dan, ia betul-betul memanfaatkan ketampanannya setiap kali tampil di depan pers. Seolah kegantengannya dan penampilannya yang dandy merupakan daya tarik tersendiri yang harus selalu ‘dijual’ kepada publik setiap kali ia tampil.

”Pakaian yang dikenakan –apakah berupa setelan jas atau batik- selalu berkualitas No. 1 dengan warna, motif, dan ukuran mantap, mencerminkan seleranya berbusana yang tinggi. Ketika itu ia mungkin lebih pas diberikan predikat sebagai ‘foto model’ atau ‘aktor’ daripada seorang ‘kepala negara’,” tulis Tjipta.

Sebagai seorang perfeksionis, lanjut Tjipta, SBY selalu berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan verbal yang sempurna. Namun, gaya bahasanya seringkali high-context, cenderung berputar-putar, terutama ketika ia belum siap dengan keputusannya.

Sayang, tidak banyak hal tersembunyi yang terungkap dalam analisis terhadap gaya komunikasi politik SBY. Tjipta banyak menggunakan contoh dari pemberitaan di media massa. Mungkin para pembantunya belum ada yang berani bicara terbuka karena Bapak Presiden masih berkuasa.

(Selesai)


Senin, 01 Desember 2008

Maryamah Karpov


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Maryamah Karpov, bisa jadi merupakan buku yang paling ditunggu penerbitannya di Indonesia selama tahun 2008.

Sihir buku Laskar Pelangi telah membius para pecinta buku Indonesia. Tidak heran, filmnya, yang merupakan kolaborasi antara Riri Reza dan Mira Lesmana serta menampilkan anak-anak asli Belitong sebagai pemain, mampu meraup jumlah penonton lebih dari 4 juta orang. Mengalahkan film Ayat-ayat Cinta yang sangat digandrungi remaja.

Maryamah Karpov merupakan buku pamungkas dari tertalogi karangan Andrea Hirata yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan tentu Maryamah Karpov yang diterbitkan dengan tag line Mimpi-mimpi Lintang.

Masih bercerita tentang tentang kehidupan Ikal, alur cerita dalam Maryamah Karpov tersusun dari mozaik - mozaik perjalanan hidup Ikal, setelah menyelesaikan studynya di Eropa, lalu kembali ke kampungnya di Belitong sebelum bekerja dan meniti karier.

Mozaik pertama, mungkin dipersembahkan kepada bapaknya. Orang yang sangat dicintainya. Mozaik ini merupakan satu penggalan yang sangat mengharukan yang menjadi tonggak Ikal dalam melepaskan diri dari kemiskinan.

Cerita kemudian melompat pada penggalan hidupnya di hari-hari terakhirnya di Eropa, menjelang ujian thesis master telekomunikasi. Keberuntungannya dalam "menaklukkan" hati La Plagia dosen penguji yang "kejam" atau lebih tepat pengaruh dan kebaikan hati dosen pembimbingnya Hopkins Turnbull sehingga La Plagia yang semula siap membantainya lalu berubah dengan demikian mudah menerima thesis yang diajukannya.

Usai menyelesaikan ujian, Ikal mengunjungi beberapa kota di Eropa yang memberikan kesan mendalam baginya dan salah satunya tentu Edensor. Desa kecil di Inggris yang menjadi obsesinya sejak dia menerima buku kecil dari A Ling kekasih masa remajanya yang hilang tak tentu rimbanya.

Perjalanan kembali ke Indonesia tepatnya ke kampung halamannya diwarnai dengan kengerian saat harus menuruni tali-temali setinggi 30 meter, di tengah perairan Laut Cina Selatan karena kapal yang membawanya ke Belitong tidak dapat merapat ke dermaga.

Kembali ke Belitong, setelah memberikan kebanggaan kepada bapaknya melalui seragamnya sebagai doorman di Paris, Ikal kembali ke dalam rutinitas kehidupan Melayu kampung yang menurutnya sarat dengan "pembualan dan taruhan.

Obsesi mencari A Ling ternyata juga tidak pernah lekang dari ingatan, apalagi setelah penduduk kampungnya menemukan mayat-mayat bertato kupu-kupu hitam di lengan. Tato mana, pernah dilihatnya juga di lengan A Ling.

Keinginannya untuk menemukan A Ling dilakukannya dengan usaha yang sangat keras yaitu dengan membuat perahu kayu snediri yang sempat menjadi bahan taruhan orang sekampung. Berkat bantuan Lintang sang jenius yang dijulukinya Isaac Newton, Ikal akhirnya berhasil membuat perhau yang kemudian dinamakan Mimpi-mimpi Lintang.

Apakah Ikal berhasil menemukan A Ling dan bagaimana kelanjutan kisah cintanya? Ada baiknya para penyuka karya Andrea Hirata membeli dan membacanya.

****

Menurut saya, buku Maryamah Karpov menjadi antiklimaks. Tidak kita temu lagi episode-episode yang mampu membawa pembaca tertawa, tersenyum atau tanpa sadar menitikkan airmata seperti dalam karya Andrea sebelumnya, kecuali mungkin pada mozaik pertama yang menceritakan tentang kegagalan sang Bapak memperoleh rapel kenaikan pangkat serta saat Mahar yang kesal mendengar rencana Ikal menyumpah serapahinya, lalu dia bersuit memanggil burung elang yang seketika menyerang Ikal hingga dia lari tunggang langgang.

Buku ini juga tidak menggambarkan relevansi judul dengan isinya. Sama sekali tidak ada episode atau mozaik yang menceritakan tentang siapa, apa dan mengapa aja julukan Maryamah Karpov atau mungkin, saya kurang teliti membacanya.

Kalau tidak salah, hampir 2 tahun yang lalu, bersamaan dengan beredarnya Edensor, saya sempat melihat buku Maryamah Karpov dengan cover yang sama namun lebih tipis, di Gramedia PIM I. Sayang saat itu, suami saya melarang membelinya, karena saat itu saya memang belum tertarik membaca Laskar Pelangi. Entah kenapa, 1 bulan kemudian saat saya kembali ke Gramedia untuk membelinya, buku Maryamah Karpov sudah tidak ditemukan lagi.

Konon, Andrea pernah menyampaikan bahwa Maryamah Karpov didedikasikan kepada kaum perempuan dan menceritakan perjuangan perempuan-perempuan perkasa. DAN ....... kisah itu tidak ditemukan dalam Maryamah Karpov (yang menurut saya) versi baru.
.
Tapi dengan kekurangannya Maryamah Karpov cukup menjadi hiburan di akhir pekan. Nggak ada salahnya kita mencintai buku hasil karya anak negeri
(reedit 5 Desember 2008)

Sabtu, 02 Agustus 2008

The Last Empress

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Anchee Min
Buku ini menceritakan kelanjutan perjalanan hidup empress Orchid alias Tsu Zi - Yehonala dalam "menjaga" keberadaan dan kedaulatan kursi kekaisaran China setelah wafatnya Kaisar Hsien Feng.

Sang putra surga - Hsien Feng hanya memiliki satu anak lelaki dari 7 selirnya yaitu dari Yehonala dan satu lagi anak perempuan dari selirnya. Sementara dari permaisuri Nuharoo dan hampir 3.000 orang penghuni haremnya Hsien Feng tidak memiliki anak lagi.

Pertarungan kekuasaan sudah dimulai sejak sakitnya Hsien Feng, seluruh penghuni kerajaan mulai berkasak kusuk mengenai calon pengganti Kaisar. Dengan berbagai cara akhirnya Orchid berhasil "mendapat" mandat kaisar yang menetapkan anaknya yang masih balita sebagai kaisar pengganti sekaligus menetapkan Nuharoo dan Yehonala sebagai wali.

Namun sayang sang kaisar tidak berumur panjang dan dia meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan. Kaisar CIna kemudian digantikan oleh Guang Hsu yang juga masih di bawah umur. Pada masa ini pengaruh asing (Inggris, Perancis, Amerika, Rusia serta Jepang) semakin menguat.

---

Aduh, sorry cape nulisnya. Baca aja deh bukunya. Lumayan bagus untuk menambah pengetahuan mengenai CHina.

Senin, 23 Juni 2008

Empress Orchid


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Anchee Min
Anchee Min, melakukan riset yang cukup panjang untuk mendeskripsikan karakter manusia maupun budaya Cina pada abad ke 19, termasuk melakukan riset pada kepustakaan di Kota terlarang. Buku Empress Orchid membawa kita untuk mengenal lebih jauh Kekaisaran Cina pada abad pertengahan 19, masuknya orang asing (Inggris, Perancis dan Rusia) ke Cina. Saya juga baru tahu bahwa Vladivostok semula adalah bagian dari Cina (Ketahuan... buka penikmat sejarah dunia).

Cerita Empress Orchid dimulai dengan perjalanan keluarga Yehonala membawa peti mati sang kepala keluarga ke Beijing untuk dimakamkan selayaknya. Perjalanan yang melelahkan dan menghabiskan seluruh kekayaan keluarga. Tiba di Beijing dan tinggal di rumah pamannya, membuat anak-beranak hidup prihatin.

Sementara itu, kekaisaran Cina sedang mencari permaisuri dan selir bagi kaisar Hsien Feng. Penguasa Cina yang berasal dari Manchuria, tentu mensyaratkan seluruh perempuan Manchu untuk melamar. Orchid - Yehonala pun melamar, sekaligus untuk menghindari perjodohannya dengan Ping, anak sang paman yang idiot.

Beruntung Orchid berhasil menjadi selir ke 4 kaisar Hsien Feng. Mulai saat itu dia masuk ke dalam intrik politik dan kekuasaan kota terlarang. Kepala kasim Shim menjadi orang yang sangat berkuasa untuk menentukan apakah seorang selir mendapat kehormatan untuk memperoleh "benih" putra surga. Mendapat benih dan kalau mungkin memberikan putra kaisar yang nota bene akan menjadi calon kaisar Cina akan menempatkan si ibu setara dengan permaisuri Nuharoo.

Dengan berbagai usaha, Orchid akhirnya beruntung bisa naik ke ranjang kaisar dan menjelma menjadi selir kesayangan kaisar. Orchid bahkan mempersembahkan kelahiran satu2nya putra kaisar. Kelahiran putra kaisar ternyata makin membuatnya terbelit dalam berbagai intrik politik kerajaan. Apalagi, kaisar ternyata sangat lemah dan mulai sakit-sakitan. Perjuangan Orchid untuk bertahan dalam badai intrik dan kekuasaan di Kota Terlarang dilukiskan sangat detail dan membuat pembaca serasa mengulang dan menggali kembali pelajaran sejarah Cina dalam versi fiksi.

Kamis, 12 Juni 2008

a Thousand Splendid Suns


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Khaled Hosseini
taken from http://www.khaledhosseini.com/hosseini-books-splendidsuns.html - while mine is written below.
---
A Thousand Splendid Suns is a breathtaking story set against the volatile events of Afghanistan’s last thirty years—from the Soviet invasion to the reign of the Taliban to the post-Taliban rebuilding—that puts the violence, fear, hope, and faith of this country in intimate, human terms. It is a tale of two generations of characters brought jarringly together by the tragic sweep of war, where personal lives—the struggle to survive, raise a family, find happiness—are inextricable from the history playing out around them.

Propelled by the same storytelling instinct that made The Kite Runner a beloved classic, A Thousand Splendid Suns is at once a remarkable chronicle of three decades of Afghan history and a deeply moving account of family and friendship. It is a striking, heart-wrenching novel of an unforgiving time, an unlikely friendship, and an indestructible love—a stunning accomplishment
---
Buku ini bercerita tentang kehidupan Mariam seorang harami (anak yang terlahir di luar pernikahan resmi) dan Laila.

Mariam terlahir dan kemudian hidup berdua dengan ibunya, terbuang dari kehidupan mewah ayahnya Jalil. Pertemuan yang hanya 1 kali seminggu dengan ayahnya tidak memuaskan hati sehingga dia nekad untuk pergi ke rumah ayahnya. Di bawah ancaman si ibu untuk bunuh diri, Mariam tetap berkeras pergi ke kota untuk menagih janji Jalil mengajaknya nonton film. Sayangnya setiba di rumah Jalil, dia tidak diijinkan masuk dan bertemu Jalil.

Dengan penuh kekecewaan, Mariam kembali ke desa dan mendapati ibunya telah mati menggantung diri. Walau akhirnya Mariam diterima untuk tinggal di rumah Jalil, ternyata hal tersebut tidak membahagiakannya. Mariam dipaksa menikah dengan seorang duda dari Kabul. Pernikahan ini merupakan satu bentuk pengusiran halus dari para istri Jalil.

Kehidupan rumah tangga Mariam yang semula berjalan baik berbalik menjadi horor sejak dia mengalami keguguran. Dalam pada itu, perubahan politik di Afghanistan membuat keadaan Afghanistan menjadi kacau di sana sini.

Laila, adalah anak salah seorang tetangga Mariam di Kabul. Gadis kecil yang tumbuh dalam keluarga sekuler dan berpendidikan. Dalam kekacauan Kabul, kedua orangtuanya akhirnya mati terkena bom dan dia terpaksa menerima uluran tangan suami Mariam untuk menikahinya. Demi sebuah janin yang sedang bersemi dalam rahimnya.

Seperti pada umumnya cerita dengan latar belakang Timur Tengah dan sekitarnya, cerita ini sarat dengan KDRT. Teror, kekerasan fisik dan kejiwaan serta pelecehan terhadap eksistensi perempuan mewarnai isi buku. Ajaran agama Islam yang meninggikan harkat perempuan dan sangat melindungi perempuan ditafsirkan dalam kacamata kepentingan lelaki.

Jumat, 06 Juni 2008

The Kite Runner


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Khaled Hossaini
The Kite Runner is a novel by American author Khaled Hosseini. Published in 2003, it is Hosseini's first novel,[1] and was adapted into a film of the same name in 2007.

Buku ini berkisah tentang persahabatan yang berbalut pengkhianatan dan ketidaksetiaan antara dua dua orang lelaki dengan latar belakang masa pemerintahan kerajaan Afghanistan.

Amir, putra seorang pengusaha yang tumbuh sebagai lelaki yang lembut, penakut, senang membaca dan bercita-cita sebagai penulis, menuruni bakat ibunya. Mereka berasal dari kalangan Islam Sunni, yang merupakan mayoritas kepercayaan penduduk Afghanistan. Sedangkan Hassan adalah anak lelaki dari Ali, pelayan rumah tangga mereka yang berasal dari kaum Hazara dan umumnya dari kalangan Islam Syiah. Dalam kehidupan monarki Afghan saat itu, kaum Hazara dianggap sebagai kaum terpinggirkan.

Ibu Amir meninggal saat melahirkannya dan ayahnya, tanpa alasan yang diketahuinya terasa sangat "jauh" dari jangkauan sehingga Amir tumbuh tanpa kasih sayang. Satu-satunya orang dewasa yang dianggapnya mampu mengerti kebutuhannya akan kasih sayang adalah Rahim Khan, sahabat ayahnya dalam berbisnis.

Di luar kehidupan yang sepi dan menyendiri, Amir "bersahabat" dengan Hassan. Mungkin kata bersahabat sangat berlebihan mengingat perbedaan status mereka yang sangat dalam. Kesetiaan Hassan dalam setiap segi kehidupan sehari-hari dengan Amir lebih bersifat sebagai pelayanan seorang hamba yang tulus dan ikhlas walaupun mungkin dalam hati dia berharap demikianlah juga perasaan Amir kepadanya. Sementara Amir itu yang hidup serba ada, hidup dalam api "kecemburuannya" kepada Hassan. Dalam diri Hassan, Amir merasakan ada banyak kualitas yang diharapkan ayahnya kepadanya, yang tidak mampu diberikannya. Amir tidak suka permainan dan kegiatan maskulin seperti bermain sepakbola. Baba, demikian panggilan ayah Amir, seringkali melihat betapa Hassan selalu membela dan melindungi Amir.

Ada banyak petunjuk yang memperlihatkan betapa ayah Amir secara diam-diam memberikan perhatian yang berlebih kepada Hassan. Berlebihan bila dilihat dari statusnya sebagai hazara.Kecemburuan Amir atas keistimewaan yang diberikan ayahnya kepada Hassan seringkali dilampiaskannya dalam beberapa kebohongan dan pengkhianatan pada kesetiaan Hassan.

Pada jaman monarki Afghan, salah satu kegiatan yang banyak digemari orang adalah mengadu layang-layang. Setiap tahun selalu digelar turnamen yang selalu dipenuhi penonton. Suatu kali Amir bertekad untuk mempersembahkan kebanggaan kepada ayahnya dalam bentuk kemenangan Turnamen layang-layang; yaitu menjadi pemenang turnamen sekaligus memperoleh utuh layang-layang yang telah dikalahkannya.

Amir, dengan bantuan Hassan akhirnya memenangkan turnamen dan sambil menggulung benang layang-layang usai pertandingan, dia meminta Hassan mengejar layang-layang yang dikalahkannya. Hingga sore, Amir mencemaskan Hassan yang tidak muncul kembali dan dia memutuskan untuk mencari Hassan.

Akhirnya, Amir menemukan Hassan. di suatu pojok pasar berdebu. Amir melihat Hassan tengah berjuang melepaskan diri dari Assef dan kelompoknya yang memang selalu mencari kesempatan untuk mencederainya setelah suatu saat mereka dipermalukan Hassan, saat Hassan bermaksud melindungi Amir. Di depan matanya, Amir melihat Hassan diperlakukan tidak senonoh. Namun dia diam membeku, tidak berani membela Hassan sebagaimana yang selalu dilakukan Hassan kepadanya.

Dalam diam, mereka akhirnya pulang dan sejak saat itu Hassan menjauhinya sementara Amir terperangkap dalam perasaan bersalah. Perasaan bahwa dia telah mengkhianati Hassan.

Tak tahan dengan rasa bersalah, Amir mencari jalan agar Hassan dan Ali pergi dari rumahnya. Namun dia sangat terkejut, tatkala saatnya tiba dia mendapati ayahnya mengiba sambil menangis, meminta Ali dan Hassan tetap tinggal bersama mereka, apapun yang terjadi.

Kondisi politik di Afghan kemudian berubah dengan runtuhnya kerajaan. Pemerintahan kerajaan yang cenderung sekuler berganti dengan pemerintahan Taliban yang puritan. Amir dan baba berhasil keluar dari Kabul dan menetap di Amerika. Namun perasaan bersalah atas pengkhianatannya kepada Hassan tetap membuntutinya hingga bertahun-tahun kemudian. Sampai stau saat, usai kematian baba, atas permintaan Rahim Khan, Amir terbang ke Peshawar untuk "melakukan hal yang terbaik". Menguakkan mozaik hidupnya yang masih terpendam rahasia.

Rabu, 07 Mei 2008

Rahasia Meede - Misteri Harta Karun VOC


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:ES Ito
Rahasia Meede – Misteri harta karun VOC.
ES Ito

Saat seseorang menulis resensi buku Rahasia Meede di suatu milis, saya hanya membaca sekilas dan sama sekali tidak tertarik. Nama pengarangnya tidak pernah terdengar di belantara perbukuan Indonesia. Belum lagi judulnya yang berbau sejarah. Tidak banyak pengarang Indonesia yang mampu meramu dan menyajikan cerita berlatarbelakang sejarah dengan menarik. Kalau boleh jujur, jarang ada orang Indonesia yang menghayati sejarah bangsanya. Apalagi, setelah membaca tuntas 5 buah buku Gajah Mada, saya sangat kecewa membaca buku Candi Murca dari pengarang yang sama. Pendeknya, agak under estimate – lah terhadap buku Rahasia Meede.

Diam-diam, dua minggu yang lalu, suami membeli buku Rahasia Meede. Seperti biasa, dia membacanya dengan tempo yang sangat lambat. Buku tersebut lebih sering terlihat tergeletak di atas meja dibandingkan dengan berada ditangannya. Keadaan itu pulalah yang memancing saya membaca buku Rahasia Meede.
*****

Buku Rahasia Meede dibuka dengan prolog yang menggambarkan pertentangan di antara anggota delegasi Indonesia serta alotnya perundingan dalam KMB di Den Haag bulan Nopember 1949 yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia serta hak bangsa Indonesia atas Batig Slot .

Plot cerita kemudian beralih pada perjalanan Batu Noah Gultom, wartawan harian Indonesia Raya ke Boven Digul untuk investigasi kematian seorang pejabat tinggi Indonesia. Kematian tersebut rupanya memancing naluri investigatif Parada Gultom, wartawan senior harian yang sama, karena sama dengan 4 kematian sebelumnya atas tokoh-tokoh Indonesia, kematian Joko Prianto Surono didahului dengan isyarat berupa tulisan salah satu ucapan Mahatma Gandhi tentang dosa social dan seluruh lokasi kematian selalu berawal dengan huruf B. Lebih tegas lagi lokasi kematian selalu berhubungan dengan tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan bung Hatta. Salah satu founding father bangsa Indonesia.

Cerita kemudian lompat kepada perjalanan 3 orang ahli purbakala yang dikirim oleh Yayasan Oud Batavie untuk menyelidiki tentang VOC, lalu tentang Guru Uban, seorang guru sejarah di sebuah kota kecamatan kecil di pinggiran Jakarta.

Ada juga petualangan Cathleen Zwinckel, mahasiswi pasca sarjana yang sedang menyusun thesisnya. Cathleen, selain ingin merampungkan thesisnya tentang misetri kebangkrutan VOC, ternyata juga menyimpan misi pribadi untuk menyusuri jejak moyangnya yang ternyata merupakan salah satu tokoh yang mempunyai peran besar pada zaman keemasan VOC di bumi Nusantara.

Bersama dengan Lusi, seorang putri diplomat, Cathleen diculik secara misterius dan setelah dipisahkan dari Lusi, dia dibawa ke Banda Neira untuk bertemu dengan Kalek yang dianggap sebagai salah satu gembong pelaku anarkis.

Masih banyak tokoh-tokoh lain seperti Parada Gultom, Attar Malaka yang sudah dianggap mati, Suryo Lelono, Rian, Darmoko, Roni Damhuri. Semua tokoh, masing-masing memiliki kisah dan kepentingan sendiri atas harta karun VOC. Seluruh kisah jalin menjalin dengan plot yang terlihat seperti berjalan sendiri-sendiri,

Cerita dibangun mirip seperti jalinan cerita Dan Brown dalam thriller Da Vinci Code dan Angel & Demon, namun ES Ito menuturkannya dalam tempo yang lebih lambat. Sangat menarik bahwa akhirnya ada pengarang muda Indonesia yang lahir pada tahun 1981, mampu menuturkan sebuah cerita dengan latar belakang sejarah dengan sangat baik. Sayangnya, berbeda dengan Dan Brown, ES Ito tidak memberikan indikasi lokasi, data-data dan benda bersejarah yang diadopsi dalam cerita benar-benar ada dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun sebagai karya anak bangsa, buku Rahasia Meede – Misteri Harta KarunVOC terlalu sayang untuk diabaikan.
----
KMB - Konferensi Meja Bundar
Batig Slot - Semacam pampas an/ganti rugi perang

Senin, 25 Februari 2008

Sang Pemimpi


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata
Buku kedua dari Tetraloginya Andrea Hirata ini bercerita tentang masa remaja Ikal. Masa sekolah di SMA Negeri di Magai.

Masih lekat dengan kemiskinan dan kerja keras yang amat sangat, namun ketiga remaja itu (Ikal, Arai dan Jimbron) selalu menikmati setiap mozaik hidupnya. Arai, sepupu jauh Ikal selalu memiliki mimpi-mimpi yang tinggi yang menjadikannya selalu optimis menghadapi hidup. Kenakalannya yang luar biasa mampu membius Ikal untuk selalu tunduk kepada kemauannya yang tidak terudga.

Arai selalu penuh kejutan, kehilangan kedua orangtuanya saat dia masih kecil membuatnya selalu berempati pada penderitaan orang lain. Lalu ada Jimbron yang terobsesi kepada kuda. Obsesi yang disebabkan oleh rasa sakit atas kehilangan bapaknya.

Kepala sekolah Pak Julian Ichsan Balia adalah guru kesusastraan yang hebat. Yang mampu membakar semangat murid-muridnya untuk bercita-cita. Seakan lupa akan kondisi lingkungannya.

"Pergilah ke Eropa... jelajahi Afrika dan puaskan dahaga ilmu di almamater Sorbone Paris"

Ah, seandainya murid-murid Indonesia seoptimis Arai.... andai guru-guru Indonesia penuh dedikasi dalam mendidik anak muridnya sebagaimana pak Balia dan bu Mus......

Buku ini sebagaimana buku pertama LASKAR PELANGI, mampu membawa pembacanya menangis dan tertawa bergantian. Buku yang mampu menyirami dahaga akan sebuah semangat, mengingatkan kita kepada kekuatan mimpi sekaligus memupuk empati bagi orang lain.

Senin, 11 Februari 2008

Panji Semirang.

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:RA Kosasih
Penggemar komik klasik R.A Kosasih, mungkin masih ingat dengan kisah cinta melodramatic putri kerajaan Daha bernama Galuh Chandra Kirana dengan putra mahkota kerajaan Kuripan (Jenggala) bernama Raden Inu Kertapati.

Sebetulnya, kerajaan Jenggala dan Daha pernah ada di bumi Nusantara ini. Saat itu, Erlangga yang memiliki dua anak lelaki memecah dari kerajaan Mataram - Hindu menjadi dua yaitu Jenggala yang juga dikenal sebagai Kuripan dan Daha pada abad ke 13. Namun demikian, tidak diketahui apakah kisah Panji Semirang ini memang merupakan kisah nyata atau hanya sekedar karya sastra pada jaman tersebut yang kemudian disadur oleh RA Kosasih menjadi komik asli Indonesia.

Yang pasti komik-komik karya RA Kosasih beserta beberapa karya fenomenal antara lain Ganes TH berjudul Panji Tengkorak, Badra Mandrawata Si Buta dari Goa Hantu, Jaka Sembung menguasai jagat perkomikan Indonesia tahun 1960-1970an (jadul banget ya …… gila nggak terasa sudah hamper 40 tahun yang lalu. Pantes aja susah nyari bukunya)

Konon, ceritanya begini :
Alkisah, raja Kuripan memiliki putra mahkota bernama Raden Inu Kertapati. Seorang ksatria tampan, gagah berani serta berbudi pekerti luhur. Raden Inu Kertapati memiliki dua orang punakawan bernama Punta dan Jeruje yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi. Sementara itu, adik raja Kuripan yang memerintah di Daha memiliki dua orang putri. Yang pertama anak permaisuri Puspaningrat; bernama Galuh Chandra Kirana yang cantik jelita, penyabar dan berbudi halus. Sedangkan yang kedua dari selir bernama Paduka Liku, bernama Galuh Ajeng. Berbeda dengan Galuh Chandra Kirana yang halus pekertinya, Galuh Ajeng menuruni sifat ibunya yang manja, kasar dan pendengki.

Saat putra putri raja berangkat dewasa, terbit keinginan raja Kuripan untuk menyatukan kembali kerajaan melalui pernikahan anaknya Inu Kertapati dengan Galuh Chandra Kirana. Apalagi mereka sebetulnya telah saling mengenal dan berhubungan baik sejak kecil. Maka diutuslah patih untuk meminang Chandra Kirana dan pinangan itu tentu saja disambut gembira keluarga kerajaan termasuk Chandra Kirana yang memang diam-diam mencintai Inu Kertapati.

Sayangnya, kedengkian melanda Paduka Liku. Dia tidak dapat menerima bahwa , bukan Ajeng anaknya yang juga sama cantiknya, yang dipinang putra mahkota Kuripan. Dia lalu meminta adiknya untuk mencari guna-guna untuk “meraih kasih sayang raja” dan diam-diam merancang upaya menyingkirkan permaisuri.

Upayanya berhasil. Permaisuri meninggal dunia setelah makan kue beracun yang dikirim oleh Paduka Liku. Sementara kemarahan raja akibat kematian permaisurinya, luluh berkat guna-guna yang disimpannya di bawah bantal.

Setelah kematian permaisuri, berbagai cobaan mendera hidup Chandra Kirana akibat ulah Paduka Likud an Ajeng. Yang paling menyakitkan adalah saat sang prabu menggunting rambut sang putri karena Chandra tidak mau menyerahkan boneka emas kiriman Rd Inu kepada Ajeng.

Tak tahan dengan cobaan yang terus menerus menderanya, bersama Mahadewi, salah satu selir prabu yang lain serta beberapa pengikut setianya, termasuk Ken Bayan dan Ken Sangit dayangnya, Galuh Chandra Kirana kemudian melarikan diri. Sang putri berserta para pengikut setia membangun sebuah dusun kecil sebagai tempat persembunyian di hutan. Tempat yang dinamakan Asmarantaka. Di sinilah putri menyamar sebagai ksatria “perampok budiman” bernama Panji Semirang. Sedangkan kedua dayangnya beralih rupa menjadi Kuda Perwira dan Kuda Peranca yang gagah.

Sementara itu Rd. Inu Kertapati yang tidak mengetahui hilangnya sang calon istri segera bersiap berangkat ke Daha dan mengabarkan kepada raja bahwa mereka siap untuk melaksanakan pernikahan. Paduka Liku kemudian menghasut raja agar pernikahan tetap dilaksanakan dengan mengganti pengantin perempuan dengan Galuh Ajeng.

Malam menjelang pernikahan, kota kerajaan diporakporandakan oleh tamu yang tak dikenal dan menyebabkan batalnya acara pernikahan Inu dengan Ajeng.
Kisah Panji Semirang masih berlanjut dengan pencarian Galuh Chandra Kirana. Rd Inu Kertapati bersumpah untuk tidak kembali ke kerajaan Kuripan sebelum menemukan calon permaisurinya.

Nah….. cari deh buku komik Panji Semirang ini… Seru banget!!! Memang tampilan bukunya tidak semenarik komik-komik Jepang seperti Naruto dan lain-lain. Mungkin itu sebanya anak-anak jaman sekarang tidak pernah mau melirik komik asli Indonesia. Tapi buat para ABG nya (angkatan babe gue…. Kata anak2 gitu lho…!!!) buku ini cukup asyik buat bernostalgia.

Senin, 21 Januari 2008

Laskar Pelangi


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata Seman
Laskar Pelangi, menurut Andrea Hirata ditulis bukan dengan maksud untuk diterbitkan tetapi untuk memenuhi janji yang diikrarkannya saat dia masih bersekolah di Belitong. Saat itu, hujan turun sangat deras, kilat dan halilitar bersahut-sahutan ... murid-murid ketakutan. Di tengah derasnya hujan, sosok mungil ibu Mus, muncul dengan berpayung daun pisang. Saat itulah Andrea (Ikal - dalam buku tersebut) berjanji, suatu saat akan menuliskan pengalaman hidupnya itu untuk didedikasikan kepada igu gurunya itu.

Laskar Pelangi, dibuka dengan suasana hari pertama di SD Muhammadiyah - SDM Belitong. SD orang-orang yang termarjinalkan dalam strata sosial kehidupan masyarakat Belitong. Saat itu, SDM terancam akan ditutup bila tidak mendapatkan minimal 10 orang anak di kelas 1. 9 anak telah mendaftar. Mereka dan orangtuanya harap-harap cemas, akankah harapan untuk mendapatkan pendidikan dapat terpenuhi. Maklumlah, mereka hanyalah termasuk golongan orang-orang Melayu miskin yang tidak mungkin bersekolah di SD PN, julukan bagi sekolah yang didirikan oleh PN Timah. Untunglah... di saat kritis, muncul Harun... Pemuda yang telah berusia 15 tahun, penyandang keterbelakangan mental menggenapi jumlah murid menjadi 10 orang.

Laskar Pelangi sarat dengan pelajaran budi pekerti dan berbagai mutiara kehidupan. Kemiskinan tidak menjadi ajang untuk memeras airmata iba, namun menjadi pendorong untuk menggapai kemajuan.

Laskar Pelangi membawa pembacanya untuk tertawa, menikmati indahnya kehidupan anak-anak dan sekaligus menangis haru, membayangkan kerasnya perjuangan anak-anak miskin tersebut, sebut saja perjuangan Lintang - si bintang kelas super genius yang harus menempuh 80km pp setiap hari dengan sepeda bututnya demi harapan untuk memperbaiki nasib keluarganya sebagai nelayan miskin walaupun harapan itu harus sirna berbarengan dengan wafatnya sang ayah.

Atau kejeniusan Mahar dalam bidang seni yang kemudian mampu membawa Sekolah Muhammadiyah memperoleh piala dalam pawai/karnaval 17 Agustus, piala yang dari tahun ke tahun selalu digenggam oleh sekolah PN.

LASKAR PELANGI, buku pertama dari tertalogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov adalah buku yang wajib dibaca terutama untuk orang-orang kota yang bergelimang fasilitas.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...