Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2019

Obrolan Pagi Hari

Pagi ini, salah seorang sepupuku, mengirim pesan via whatsapp menanyakan apakah saya memiliki informasi atau konfirmasi mengenai kubu Pak Jokowi yang di dalamnya ada anggota PKI... dan apakah negara kita akan diarahkan kesana kah? Begitu juga dengan isu2 tentang banyaknya tki dari China yang bekerja di Indonesia.

Pertanyaan yang cukup sensitif pada masa menjelang pemilihan presiden 17 April yang akan datang.  Belum tentu bisa dimengerti dan diterima secara wajar apalagi oleh para pendukung fanatik pasangan calon presiden yang saling berlawanan. Namun demikinan, saya berusaha untuk menjawabnya, apapun tanggapan yang akan diberikannya. Kira–kira, beginilah dialog yang terjadi; memang PKI sekarang masih ada, setelah dibubarkan oleh Suharto pada tahun 1966? Kalau anak dan keturunan anggota PKI, tentu masih ada dimana–mana. Bukan sekedar di “kubu Jokowi” seperti yang anda katakana, bahkan bukan tidak mungkin pula bahwa anak dan keturunan anggota PKI ada di kubu Prabowo sendiri. Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI sudah berlalu hampir 54 tahun yang lalu. Kalau kita baca buku–buku yang pada masa pemerintahan Soeharto terlarang, ada beragam versi dan silang sekarut berkenaan dengan peristiwa tersebut. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Soeharto sendiri “memanfaatkan” kekhawatiran petinggi PKI atas kondisi kesehatan Soekarno saat itu.

Dilain pihak, Soemitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo Subianto sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh pemberontak PRRI/PERMESTA yang karenanya “melarikan diri” ke luar Indonesia sampai suatu ketika, atas inisiatif Suharto belia “dipanggil kembali” ke Indonesia. Nah …. Kalau kita cukup kritis, mengapa kondisi ini tidak dipermasalahkan?

Prabowo Subianto adalah jelas anak kandung Sumitro Djojohadikusumo, yang karena “perbuatan” ayahnya, terpaksa turut dibawa mengungsi oleh kedua orangtuanya untuk hidup dalam pelarian di luar negeri. Itu menyatakan dengan gamblang sebab–sebab mengapa seluruh pendidikannya hingga bangku setingkat SMA dilalui di berbagai Negara di luar teritori Indonesia.  Sementara itu, mereka yang diduga sebagai anak–keturunan PKI yang berada di kubu Jokowi, mungkin ada beberapa atau bahkan banyak sekali, namun entah siapa dan entah sejauh atau sedekat apa pula hubungannya dengan Jokowi. Tuduhan – tuduhan tersebut tidak selalu jelas menyebutkan nama. Tetapi kalau kita bicara soal anak keturunan anggota PKI setelah 54 tahun berlalu, secara logika, tentu saja mereka sudah beranak–pinak dan tersebar kemana–mana. Bukan saja berada di kubu Jokowi, tapi …. percayalah, mereka ada di mana – mana. Di kubu Prabowo dan partai politik lainnya pun hampir tidak mungkin lepas dari mereka. Bahkan tetangga anda atau teman tidur seranjangpun bisa terindikasi “tidak bersih lingkungan”. Ini istilah yang biasa digunakan pada masa pemerintahan orde baru. Namun mengkaitkan mereka identik dengan paham PKI dan harus diperlakukan seperti layaknya kita berhadapan dengan virus penyakit yang mematikan dan karenanya perlu dijauhi atau bahkan dihancur–leburkan, jelas merupakan pendapat yang mengada–ada.

Komunis adalah paham dan ideologi, sama halnya dengan paham dan ideology sosialis bahkan kapitalis sekalipun. Semua yang berasal dari ide à ideal à ideology tentu selalu berbicara tentang hal yang baik–baik saja dan akan menjadi berbeda sesuai dengan maksud, tujuan, cara menerapkan dan pelakunya. Bisa menjadi hal yang sangat positif bila maksud, tujuan, cara menerapkan dilaksanakan dengan cara yang baik dan pelakunya memiliki niat yang baik pula. Namun bisa juga menjadi sangat mengerikan dan menghancur leburkan tatanan kemanusiaan manakala maksud, tujuan, cara menerapkan dan pelakunya mengabaikan nilai universal kemanusiaan.

Akan halnya berita tentang adanya 10 juta tenaga kerja asing berasal Cina di Morowali juga merupakan suatu berita yang berlebihan dan sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin?

Morowali adalah kota kecil dengan penduduk hanya + 113 ribu jiwa. Bayangkan, seperti apa wajah wilayah Morowali bila benar ada 10 juta tenaga kerja asing yang berasal dari Cina. Kelompok bisnis seperti sinarmas, salim grup dll paling banter punya pegawai sekitar 150rb hingga 400 ribu saja dan itupun tersebar di seluruh Indonesia.

Sebuah pabrik yang sangat besar, apalagi pada era otomatisasi peralatan, rasanya hanya akan menyerap sekitar 3rb sd 10rb buruh per pabrik. Tentu untuk menampung 10 juta tenaga kerja asing diperlukan setidaknya 1.000 sampai dengan 3.000 pabrik besar yang beroperasi di Morowali. Dengan logika seperti itu, masuk akalkah kalau di Morowali ada 10 juta TKA Cina?
Ayolah berpikir logis ….

Tanpa mengesampingkan masalah tenaga kerja asing, mari berpikir rasional dan terbuka. PT Wijaya Karya, salah satu BUMN di bawah kementrian PUPR alias Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, hampir setiap kontraknya di Negara lain seperti Timur Tenggah, Afrika Utara, maupun Negara Asean akan membawa ratusan hingga ribuan tenaga kerja Indonesia dari berbagai tingkat untuk bekerja disana demi effisiensi kerja dan meminimalkan miskomunikasi (kendala bahasa) dalam pelaksanaa proyek. Jadi ... adalah suatu hal yang sangat biasa dalam bisnis manakala dalam suatu proyek, maka pemegang proyek akan membawa pekerja yang biasa kerja dengannya. Apalagi kalau proyek tersebut dibiayai kontraktor dengan perjanjian kerja semacam turn-key project.

Jadi ... siapapun pemenang atau pemegang kontrak kerja, bukan hanya pemerintah atau pengusaha yang berasal dari Cina, yang bekerja di Indonesia dan melengkapinya dengan pembiayaan yang mereka tanggung juga, maka sangat wajar kalau mereka membawa orang–orangnya sekaligus supaya lebih effisien, murah dan tidak terkendala dalam komunikasi. Apalagi, khusus untuk pekerja Cina, sebagai masyarakat yang sejak lama berinteraksi dengan mereka, secara jujur harus diakui bagaimana etos kerja masyarakat Cina yang sangat luar biasa bila dibandingkan dengan etos kerja orang Indonesia.

Akhirnya … alangkah baiknya kalau masyarakat mau bersikap bijak, kritis dan tidak terbawa perasaan dalam membaca berita terutama yang berseliweran di media sosial dan bahkan sekarang banyak dibicarakan di masjid–masjid, bahkan dari rumah ke rumah karena sayangnya, berita apapun dan darimanapun asalnya tidak pernah obyektif. Akan selalu ada “maksud dan tujuan terselubung” baik dari penulis maupun media yang menyebarkannya. Apalagi jaman sekarang dimana setiap orang dengan sangat mudah memlintir dan mendistorsi apapun yang dimauinya, dengan mengabaikan etika dan etiket.
Mengerikan sekali … Berita tidak dapat dipercaya 100% dan itu sudah terjadi sejak lama. Bisa dijadikan referensi. Selebihnya tetap berpulang pada keyakinan kita.

Kita doakan agar Presiden mendatang adalah Pemimpin yang akan membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia siapapun dia. Serahkan kepada keputusan Allah  SWT namun dengan tetap menggunakan hak dan kewajiban politik, yaitu memilih presiden. Yang terakhir tentu jangan sampai salah pilih, karena taruhannya terlalu besar bagi NKRI.

Semoga pemimpin yang akan datang adalah yang dapat membawa kesejahteraan rakyat  Indonesia dengan.penuh kedamaian... Aamiin

Jumat, 30 November 2018

Menilik CAPRES dan Cawapres 2019

Jokowi jelek ....
Iya ... wajahnya memang nggak seganteng Prabowo Subianto ataupun Sandiaga Uno. Wajah Jokowi memang wajah khas lelaki pedesaan ... Wajah rakyat jelata yang mudah ditemukan di sembarang tempat ... Berkulit hitam mengkilat, gurat2 otot muka yang begitu jelas tergambar, menyiratkan kehidupan keras masyarakat Indonesia. 

Didampingi oleh KH. Ma'ruf Amin yang berpenampilan a la kiai pesantren. Bersarung, dan baju koko atau kemeja bersanding dengan jas, lengkap dengan sorban tersampir di bahu dan kopiah hitam. Penampilan pasangan capres-cawapres ini memang sering di olok-olok pendukung pesaingnya.

Sesungguhnya .... penampilan lelaki bersarung dan kemeja+jas dengan kopiah, bagi saya yang keturunan Betawi, bukanlah hal yang mengejutkan. Almarhum ayah saya selalu menggunakan sarung dengan kemeja dan jas pada waktu-waktu yang dianggapnya istimewa, seperti kalau mau shalat Ied, kesempatan lebaran dan saat anak-anaknya melaksanakan akad nikah. Memang bukan pakaian setiap hari, namun beliau justru memakainya pada kesempatan yang dianggapnya istimewa.

Penampilan kedua pasangan capres dan cawapres ini memang tidak bisa diperbandingkan karena lingkungan dimana mereka tumbuh memang berbeda. 

Jokowi krempeng .......
Hehe .... bisa dimaklumi ... Jokowi tidak lahir dari dari pasangan suami Istri yang kaya raya. Dia lahir dari pasangan suami istri yang hidup sangat sederhana, di pedesaan. Makan seadanya sepeti layaknya kebanyakan masyarakat kelas sederhana di Indonesia. Begitu juga dengan sang kiai.

Tentu berbeda dengan Prabowo Subianto lahir dari bapak yang keturunan ningrat. Kakeknya RM. Margono Djojohadikusumo dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia, salah satu bank pelat merah alias BUMN. Walau pernah hidup dalam pengasingan karena sang ayah dianggap sebagai salah satu pemberontak PRRI/Permesta, oleh Soekarno, ayah dari Megawati Soekarnoputri, Presiden RI ke 4, tentu Prabowo tidak hidup dalam kemiskinan absolut. Prabowo masih bisa bersekolah dengan baik. Begitu juga Sandiaga yang bapaknya adalah professional perminyakan. Tahu dong ... bagaimana kehidupan karyawan perusahaan minyak asing ... Walau berada di "field", namun segala kebutuhan hidupnya sangat terjamin.

Jokowi Ndeso ...
Nggak salah lagi .... sesuai dengan wajahnya yang sangat menggambarkan asal muasal kehidupannya. Wajah Jokowi betul-betul tipikal lelaki yang hidup di pedesaan Jawa. Guratan wajahnya menyiratkan kerasnya kehidupan. Masa lalunya memang tidak jauh dari kerasnya perjuangan hidup. Konon pernah harus berdagang untuk sekedar memiliki uang jajan dan tempat tinggalnya sering kali berpindah karena tergusur. Lagi-lagi, jangan bandingkan dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang semiskin-miskinnya orangtua mereka, tentu tidak sampai menyebabkan mereka anak beranak hidup kekurangan.

Akan halnya KH Ma'ruf Amin, tentu sudah sangat terbiasa dengan kehidupan sederhana a la pesantren, apalagi pesantren tahun 50an. 
Menyesal punya pasangan capres - cawapres dari kalangan rakyat jelata ...?

Jokowi nggak bisa Bahasa Inggris .....
Ah ... yang ini mungkin terlalu berlebihan... masa iya, sarjana kehutanan Universitas Gajah Mada, salah satu universitas papan atas di Indonesia, tidak bisa berbahasa Inggris? Selama ini, generasi seumur Jokowi, minimal belajar bahasa Inggris sejak masuk SMP hingga SMA, Jokowi sudah belajar bahasa Inggris selama 6 tahun, arena saat kuliah sudah tidak ada lagi mata kuliah Bahasa Inggris. Kalaupun tidak sefasih Prabowo Subianto atau Sandiaga Uno ... harap maklum saja. Mereka berdua kan pernah bersekolah di luar negeri. Nanti kita bilang ke Menteri Pendidikan Nasional agar kurikulum dan pengajaran Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya diperbaiki sehingga siswa dan mahasiswa jadi fasih berbahasa asing. Sepertinya memang ada penurunan kualitas pengajaran bahasa. Saya ingat dulu, ayah saya, walau hanya berpendidikan setingkat akademi, cukup fasih berbahasa Inggris dan Belanda, yang diperolehnya selama sekolah di HIS dan AMS ... Jangan tanya singkatan apa ya...

Tapi ... ngomong-ngomong, Bahasa nasional kita kan masih Bahasa Indonesia, kan? Jadi svarat fasih berbahasa Indonesia mungkin yang harus dipenuhi oleh siapapun yang mengaku warga negara Indonesia. Bukan kefasihan cas cis cus berbahasa asing yang diperlukan sebagai pemimpin pemerintahan walau kita hidup di jaman abad ke 21 yang konon katanya masuk era globalisasi dan penguasaan bahasa asing minimal satu bahasa asing juga sangat diperlukan. Toh masih ada profesi penterjemah .... bagi-bagi rejeki dan kesempatan kerja dong ...  

Kasihan para pejuang kemerdekaan yang sudah berpayah-payah menyelenggarakan kongres Pemuda 28 Oktober 1928, kalau sekarang, masyarakat "mewajibkan" calon presiden fasih berbahasa Inggris .....? Sekarang aja, anak2 remaja golongan atas di kota2 besar Indonesia sudah banyak yang tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik ... Miris kan...? Memang kita hidup dimana dan menjadi pemimpin bangsa apa?

Berkaitan dengan soal bahasa, orang Jawa dengan logatnya yang medok, agak lucu kalau berbahasa asing ... Namun soal aksen dan lafas Bahasa asing yang ajaib sih biasa aja tuh. Coba dengar bagaimana orang Cina, Jepang dan lain-lain berbahasa Inggris. Pasti sukar dimengerti seperti juga kalau orang asing berbicara bahasa Indonesia.... Jadi bukan suatu hal yang aneh dan harus ditertawakan

Justru ... kalau Prabowo dan Sandi yang lama tinggal di luar negeri namun tidak fasih berbahasa Inggris atau mengucapkannya dengan logat medok kedaerahan ... Nah ... boleh dipertanyakan tuh .... kemana aja dan ngapain aja lo di sono ...?

Jadi ....
Sebetulnya apa sih yang mau kita pilih?
Ini bukan kontes olympiade Bahasa, kan?

Apakah memang sebegitu buruknya pasangan nomor 1 dan sebegitu baiknya pasangan nomor 2? Ah ... itu sih tergantung dari sudut mana penilaiannya.

Kalau minimal kriteria yang sudah ditulis di atas menjadi dasar penilaian untuk memilih presiden dan wakilnya, pasangan nomor 1 pasti kalah jauh deh .... dan pilihan kepada pasangan nomor 2 hanya akan menyiratkan bahwa masyarakat masih memandang faktor penampilan dan asal usul sangat berpengaruh. ini bentik feodalisme yang terpengaruh budaya hinduisme yang melihat dan menilai manusia berdasarkan kasta. Jadi tidak mungkin seorang sudra menjadi raja/presiden. Jabatan tersebut hanya bisa di"pegang" boleh golongan/kasta ksatria. 

Ksatria juga dibayangkan "harus" gagah perkasa, kaya raya, punya istri cantik jelita dan sudah tentu ada garis dari keturunan "darah biru", walau mungkin sang ibunda hanya rakyat jelata. (Jadi ingat bahwa RA Kartini, tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau, pun termasuk wanita yang "kecipratan darah biru" dari ayahnya yang menikahi ibundanya - Ngasirah, perempuan dari kalangan rakyat jelata).

Jelas bahwa pasangan capres dan cawapres nomor 1 sangat jauh dari kriteria tersebut. Tapi ..... tunggu dulu.... Apakah kita masih hidup pada alam penjajahan, dimana golongan berpendidikan memang didominasi oleh kalangan ningrat dan pamongpraja saja? Jadi apa gunanya masyarakat diajarkan untuk mengejar ilmu sebanyak-banyaknya bila kesempatan-kesempatan tertentu masih juga dibatasi oleh alasan-alasan yang sangat tidak masuk akal?

Tentu bukan salah kita, bila kita tidak dilahirkan oleh orangtua yang kaya raya atar ber"darah biru" Juga bukan salah kita bila karenanya wajah kita tidak menjelma jadi ganteng atau cantik. Dan ..... jangan paksa seseorang untuk melakukan operasi plastik hanya karena ingin disebut ganteng atau cantik walau praktek semacam ini sekarang sudah sangat biasa dilakukan orang-orang berpunya.

Bukankah "kekerasan dan kepahitan" hidup bisa menjadi bekal untuk memupuk empati terhadap realitas kehidupan masyarakat yang bila dilengkapi dengan pendidikan yang memadai bisa menjadi dasar keinginan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat sekitar? Perbaikan yang dimulai dari lingkungan sekitar rumah ... kemudian melebar ke lingkungan yang lebih luas hingga bahkan menjadi pemimpin baik di perusahaan milik sendiri atau tempat kerja dan bahkan menjadi pemimpin pemerintahan.

Lihatlah bagaimana perjuangan Jack Ma hingga dia berhasil menjadi billioner tingkat dunia. Mungkin juga kita belum lupa, lelaki kurus berambut keriting dari Belitong Timur yang kemudian lewat karyanya yang fenomenal "Laskar Pelangi", Andrea Hirata bercerita tentang betapa keras dan gigihnya dia meraih mimpi hingga dia berhasil kuliah di Universitas Indonesia dan kemudian meraih beasiswa ke Perancis. Novel-novel karya Andrea Hirata kemudian dikenal orang bahkan hingga mancanegara. Bukan itu saja, lewat Laskar Pelangi, Andrea Hirata membawa tanah kelahirannya Belitong ke ranah pariwisata sehingga kini menjadi salah satu tujuan wisatawan domestik. Jangan lupakan bahwa dia juga berasal dari kalangan sederhana yang ayahnya hanya buruh tambang?

Jadi jangan berhenti bermimpi dan juga jangan matikan keinginan tulus dari orang-orang yang ingin membangun negeri ini agar menjadi lebih baik lagi.



Rabu, 09 Mei 2018

Dongeng–dongeng klasik dan Joko Widodo

Saya tidak tahu apakah generasi milenial mengenal dongeng–dongeng klasik dunia yang sebagian besar berasal dari benua Eropa. Sebut saja semisal the Snow White, The Little Mermaid, Cinderella, Sleeping Beauty, Beauty and The Beast, Goldilocks and 3 Bears, Rapunzel dan banyak lagi cerita klasik lainnya terutama dengan latar belakang kerajaan. 

Plot utama dari cerita; biasanya berkisar pada pertentangan antara baik dan buruk di mana pada akhir cerita, kebaikan akan meraih kemenangan dan kebahagiaan. Atau bisa pula menceritakan tentang penderitaan seseorang, pada umumnya penderitaan seorang gadis yang akan berakhir dengan kebahagiaan tatkala menikah dengan pangeran tampan yang baik hati. 

Plot cerita yang nyaris sama, yaitu tentang kebaikan akan meraih kemenangan dan cerita tentang penderitaan seseorang, pada umumnya penderitaan seorang gadis yang akan berakhir dengan kebahagiaan, juga berlaku pada cerita dan dongeng klasik Indonesia seperti misalnya Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Mas, Keong Mas, Lutung Kasarung, Sangkuriang atau cerita–cerita panji semacam Panji Semirang.

Dalam cerita atau dongeng klasik Eropa maupun dongeng klasik Indonesia, golongan yang baik selalu diidentikkan dengan kecantikan dan ketampanan para tokohnya. Selain dari tampilan fisik tersebut, tokoh perempuannya selalu digambarkan memiliki sifat–sifat welas asih, lemah lembut, penyayang, penyabar serta beragam sifat lainnya yang menunjukkan kebaikan seorang perempuan. Sementara tokoh lelaki akan digambarkan memiliki sifat ksatria, pemberani, pelindung kaum lemah dan sebagainya. 

Beauty and the beast
Tidak luput juga, latar belakang keturunan yang selalu berasal dari keluarga bahagia dan baik–baik atau dari keluarga kerajaan yang sangat harmonis. Sementara si jahat akan selalu ditampilkan sebagai si buruk rupa lengkap dengan sifat–sifat buruk seperti pemarah, pendengki, culas dan beragam sifat buruk lainnya untuk melengkapi tampilan wajah yang buruk tersebut.

Walau generasi milenial mungkin tidak lagi membaca cerita–cerita tersebut, namun orang tua mereka atau pengasuhnya mungkin masih akan menceritakannya sebagai pengantar tidur. Apalagi … bukan tidak mungkin, generasi milenial perkotaan yang pada umumnya berasal dari keluarga menengah baru … (Alhamdulillah, berarti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, walau belum merata betul) yang sebagian di antaranya hidup sangat nyaman, lengkap dengan pengasuhnya sejak si anak melihat dunia hingga kemudian, beberapa di antaranya masih didampingi pengasuh yang sama saat dia memasuki mahligai rumah tangga. Itulah cerita tentang dongeng–dongeng klasik dunia maupun Indonesia. 

Dengan kondisi seperti itu, maka tidak heran kalau dalam benak sebagian masyarakat Indonesia, seorang pejabat baik itu pejabat rendah seperti lurah, kapolsek atau siapapun yang memiliki "kewenangan" sebagai wakil pemerintah dan karenanya menjadi penguasa suatu wilayah, terpateri kriteria bahwa mereka "harus" memiliki wajah tampan, "berdarah biru" atau minimal berasal dari kalangan atas, dari keluarga intelektual, kaya raya dan seterusnya. Mirip seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng klasik tersebut. 


Lalu apa hubungannya dengan Joko Widodo yang sejak tahun 2014 didapuk menjadi presiden Republik Indonesia ke 7?

Joko Widodo "si Tukang kayu"
Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 sebagai anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo. Ketiga adiknya perempuan semua dan mereka semua dibesarkan dalam keluarga sederhana serta pernah mengalami beberapa kali pindah rumah karena terkena penggusuran.

Menyadari keadaan keluarganya, sejak kecil, Jokowi tidak mau menyusahkan orang tuanya. Jokowi tidak mau ikut-ikutan temannya yang bersepeda ke sekolah dan lebih memilih jalan kaki dibanding minta dibelikan sepeda. Ia tidak malu membantu orang tuanya dengan menjadi pengojek payung hujan, kuli panggul, dan berjualan aneka barang. Bahkan saat umur 12 tahun, ia ikut bekerja di perusahaan kayu sebagai penggergaji kayu. Dia bisa mengerjakannya, terpengaruh keahlian orang tuanya sebagai tukang kayu. Upah dari hasil pekerjaan itu, digunakannya untuk biaya sekolah.

Jokowi menghabiskan pendidikan dasar hingga sekolah menengah di Solo, sementara  pendidikan tingginya diselesaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tidak ada prestasi yang menonjol darinya semasa kuliah, kecuali kejujurannya. Lulus pada tahun 1985 pada usia 24 tahun, ia menikahi Iriana 1 tahun kemudian dan dikarunia 3 orang anak

Untuk hidup mandiri, Jokowi merantau ke Aceh, bekerja di salah satu BUMN, PT Kertas Kraft Aceh selama 2 tahun lalu memilih kembali ke Solo untuk mendampingi istrinya yang sedang mengandung dan bekerja di tempat pamannya yang memiliki usaha di bidang perkayuan.

Pada usia  27 tahun, Jokowi mendirikan usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Usaha ini tidak berjalan mulus. Jatuh bangun mengiringinya. Bisnisnya mulai bangkit, setelah mendapat pinjaman modal dari ibunya. Ia memasarkan mebelnya melalui pameran–pameran dan berkeliling Eropa, Amerika, serta Timur Tengah sehingga sukses menjadi pengusaha ekspor mebel.

Berbekal pengalamannya dalam mengelola bisnis mebel, Jokowi berani terjun ke dunia politik. Tidak tanggung-tanggung, Jokowi mencalonkan untuk memimpin kota kelahirannya.  Pada usia 44 tahun, Jokowi memimpin Kota Solo untuk periode 2005–2010 dan kemudian terpilih kembali untuk periode kedua 2010–2015. 
Konsep "blusukan" saat menjalankan tugas sebagai Walikota Solo, mengantarkannya menang kembali untuk memimpin Solo.
Kesuksesan memimpin Solo serta beragam penghargaan yang diperolehnya, membuat Jokowi menjadi perhatian para elite politik di Jakarta. Baru dua tahun memimpin Kota Solo pada periode keduanya, Jokowi diminta PDI Perjuangan kembali untuk bertarung pada pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, Jokowi terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode 2012–2017, mengalahkan calon petahana. Jokowi berusia 51 tahun saat mulai memimpin DKI Jakarta. Kemenangannya dianggap mencerminkan dukungan populer untuk seorang pemimpin "muda" dan "bersih", meskipun umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun


Kesuksesan Jokowi berlanjut. Lagi-lagi baru menjalankan tugas gubernur DKI Jakarta selama 2 tahun, Jokowi dicalonkan PDI Perjuangan untuk bertarung pada pemilihan presiden 2014 untuk menghadapi Prabowo Subianto. Kali ini, ia berpasangan dengan Jusuf Kalla dan kembali sukses memperoleh kepercayaan rakyat Indonesia. Joko Widodo pun dilantik sebagai presiden RI ke-7. Jokowi dilantik pada hari Senin, 20 Oktober 2014 dalam Sidang Paripurna MPR, Gedung MPR, Senayan saat usianya menginjak 53 tahun.


Rival Jokowi pada pemilihan presiden 2014 adalah Prabowo Subianto. Sosok yang sangat lekat dan pas dengan penggambaran dongeng-dongeng klasik, yang dianggap cocok sebagai "pemimpin" sebuah negeri. Bukan saja sekedar negeri dongeng, tetapi negeri nyata bernama Indonesia. Dia berasal dari golongan "kelas atas" masyarakat Indonesia. Kakeknya, Margono Djojohadikusumo, dikenal sebagai tokoh perbankan Indonesia, yaitu salah satu pendiri bank negara Indonesia yang saat ini dikenal sebagai Bank BNI. Ayahnya, walau dianggap sebagai pemberontak oleh Soekarno, presiden RI pertama, namun pada masa pemerintahan Suharto, diangkat sebagai Menteri Keuangan. 

Prabowo sendiri adalah jenderal TNI yang kariernya melesat bak meteor, mengalahkan rekan seangkatannya yang menikahi salah seorang putri Suharto, presiden RI ke 2 tersebut. Maka lengkap sudahlah "garis keturunan" baik-baik, intelektual, kaya-raya dan seterusnya yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan masih terbuai dongeng, merupakan gambaran presiden yang sangat ideal bagi Indonesia. 

Masyarakat seakan tidak peduli bahwa pemilihan presiden telah dilakukan secara demokratis. Kampanye negatif yang dilontarkan selama masa pilpres 2014 kepada Jokowi tetap menguasai alam pikiran mereka dan selama masa pemerintahan Jokowi, berubah menjadi kebencian tanpa dasar yang menutup hati nurani sebagian masyarakat akan upaya yang dilakukan Jokowi untuk membangun negeri ini, terutama untuk melakukan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Mengejar ketertinggalan wilayah timur dan perbatasan serta pulau lainnya dari "kemajuan" pulau Jawa.
Prabowo Subianto

Sebaliknya, kekecewaan atas kegagalan Prabowo memenangi pilpres 2014 juga semakin menebalkan militansi kelompok pendukungnya. Segala cara dilakukan untuk men "down grade" Jokowi agar upaya Jokowi dalam meningkatkan perekonomian Indonesia tidak terlihat. Segala sesuatu yang dilakukan Jokowi dipandang dari sisi negatif dan bahkan dimanipulasi. Kampanye negatif masih saja menyertai langkah Jokowi dan semakin dahsyat menjelang pilpres 2019 yang tinggal hitungan belasan bulan saja. Apalagi setelah PDIP secara resmi menyatakan mendukung dan mencalonkan Jokowi untuk maju kembali sebagai calon presiden pada pilpres 2019.

Sedih...? Tentu saja ....
Teringat kata-kata dari salah seorang tokoh bahwa demokrasi Hanya akan berjalan baik di negara dengan pendapatan per kapita sebesar + US$ 5.000,- Walau pendapatan per kapita Indonesia pada bulan Oktober 2017 sudah mencapai US$13.120., namun ada parameter lain yang juga sangat menentukan keberhasilan demokrasi, yaitu pemerataan pendapatan dan pembangunan, tingkat pendidikan dan tingkat intelektual masyarakat. 2 hal terakhir inilah yang belum terjadi dan sedang diupayakan oleh Jokowi melalui pembangunan infrastruktur di wilayah luar Jawa. Hasilnya tentu tidak instan ... berproses panjang, dan harus tetap melalui kerja keras sesuai dengan slogannya .... kerja... kerja .... dan kerja.

Akhirnya .... sampai kapan paradigma dongeng klasik tersebut akan mendominasi alam pikiran pemilih Indonesia? Entahlah ...., menyimak riuhnya kampanye negatif dan hoax yang berseliweran di media sosial, yang juga diramaikan oleh tokoh-tokoh tua yang masih berebut panggung, sepertinya jalan menuju kedewasaan demokrasi masih jauh panggang dari api. Kita mesti harus tetap bersabar hingga para elite politik Indonesia mau dan mampu melepaskan ego sektoralnya untuk mengedepankan kepentingan NKRI beserta rakyatnya tanpa membedakan ras, golongan, suku dan agamanya serta tidak mengutamakan kepentingan kelompok/golongannya ataupun syahwat kekuasaan semata. 

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...