Jumat, 15 Maret 2019

UNIKNYA NEGERI BERNAMA INDONESIA

Saya dikirimi seorang teman, sebuah *tulisan bagus, walaupun sudah lama, tapi masih relevan* dan tentu saja, dengan senang hati ingin berbagi tulisan ini

Penulis: Achmad Munjid
Sabtu, 29 September 2018
  
Dunia moderen adalah dunia sekuler. Para penganut konservatif teori sekulerisasi yakin bahwa semakin modern suatu masyarakat, semakin rasionallah dia dan semakin tersingkir pula peran agama. Apakah ini juga berlaku di Indonesia?

Karena tahun politik 2019 sudah semakin dekat, dan kampanye Pilpres sudah dimulai, seorang wartawan senior asal Amerika datang ke sini. Ia ingin melihat bagaimana relasi antara agama dan politik setelah bangsa yang dikenal religius ini merdeka 73 tahun.

“Saya ingin ketemu politisi,” katanya begitu ia tiba di Jogja.
“Kalau begitu, silakan datang ke masjid,” kata seorang warga yang ditemuinya.
“Ke masjid?” si wartawan kaget dan bingung. “Bukannya masjid itu tempatnya ustaz?”

Jika ini benar, teori sekularisasi benar-benar dijungkirbalikkan.
“Sampean keliru. Kalau mau ketemu ustaz, pergilah ke universitas.”
“Ada-ada saja Anda ini,” ia tambah bingung. Ini lebih kacau lagi. “Universitas kan tempatnya intelektual?”

“Ah, sampean keliru lagi. Kalau mau ketemu intelektual, pergilah ke warung angkringan.”
“Waduh,” kepala si wartawan mulai pening. “Warung angkringan kan tempat para broker dan orang-orang kurang kerjaan?”

“Sampean perlu lebih banyak bergaul di sini,” kata warga itu dengan senyum bijaksana. “Kalau mau ketemu broker dan orang-orang yang kurang kerjaan, silakan pergi ke gedung Parlemen.”

Kepala si wartawan benar-benar makin seperti dipilin-pilin. Tapi ia ingin terus mengejar lawan bicaranya. “Parlemen kan tempat wakil rakyat?”

“Sampean wartawan tapi mungkin kurang baca berita ya? Kalau mau ketemu wakil rakyat, silakan pergi ke tahanan KPK,” jawab si warga tadi sambil setengah terkekeh,
“Waduh, tobat saya. Di sana kan tempatnya para koruptur?”
“Nah ini. Kalau mau ketemu koruptor silakan datang ke partai-partai politik.”

“Bagaimana ini?” si wartawan sudah merasa nyaris tidak sanggup lagi mengikuti nalar lawan bicaranya. Tapi ia ingin mencoba untuk terakhir kali. “Partai politik kan tempatnya para politisi?”

“Lah, sampean masih belum paham juga. Kalau mau ketemu politisi, datanglah ke masjid. Kan sudah saya kasih tahu dari awal?”

Si wartawan Amerika itu pun hanya bisa melongo.

“Ini Indonesia, Bung. Jangan gampang terjebak kategori. Mungkin bagi Anda ini semua tampak membingungkan. Tapi asal tahu saja, kami rakyat punya rumus yang jitu untuk mengatasi kebingungan seperti itu.”
“Apa itu?”

“Jangan percaya agamawan yang selalu berbusa-busa bicara politik dan jangan pernah percaya politisi yang sibuk bicara agama.”

Itu!

==============

ACHMAD MUNJID
Menyelesaikan pendidikan doktoral di Temple University, Amerika Serikat. 
Sekarang mengajar di UGM. Selain menekuni bidang antropologi, juga menulis cerita pendek.

Rabu, 13 Maret 2019

OBROLAN PAGI LAGI DENGAN TETANGGA

Pagi ini, sebelum memulai pekerjaan, saya meneruskan pesan berkenaan tulisan Mantan Gubernur NTB; TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) dalam menanggapi insiden pembakaran bertuliskan kalimat tauhid di Garut, Jabar, kepada beberapa teman, salah satunya adalah tetangga rumah yang saya kira - kira merupakan pendukung kelompok 212 yang cukup militan dan suaminya adalah salah satu pengurus ranting Muhammadiyah di kecamatan tempat kami tinggal.

Tanpa diduga, ternyata sang tetangga membalas kiriman pesan tersebut melalui whatssapp dengan pertanyaan ini:

Tanya : 
Mana lebih berbahaya : HTI , Komunis, LDII, SYIAH atau liberal ?
Ngomong-ngomong soal pileg, saya masih bingung mau pilih siapa dan dari partai apa ? 
Mohon advis dr ibu. Trims

Kaget dengan pertanyaannya, saya menjawab apa adanya, sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran saya saja seraya, terus terang, ingin menguji bagaimana orientasi pilihannya. Karenanya, terjadi tanya jawab yang saya copy di bawah ini ... Seperti ujian aja.... 😀😀😀 

Jawab : 
Kalau bicara ideologi, HTI, Komunis, LDII, Syiah atau liberal, maka pada tataran kosakata Ideologi merupakan suatu ide atau gagasan untuk mendefinisikan "sains tentang ide".  dan dapat dianggap sebagai cara memandang segala sesuatu. Sesuatu/gagasan yang diidamkan, diimpikan dan karenanya  semua akan bagus-bagus saja. Namanya juga ideal.
Tapi kalau sudah masuk pada tataran politik maka semua bisa berarti suatu tujuan untuk "menciptakan yang ideal, yang diimpikan tersebut" dengan berbagai macam cara yang kemudian menjadi perebutan kekuasaan, dan karenanya segala cara dihalalkan termasuk fitnah, bunuh (perang) dll. 

Sekarang ini, terutama di Indonesia menjadi menyedihkan... Islam yang rahmatan lil alamin menjadi menakutkan dan menteror mereka/golongan yang tidak sepaham. Apa iya ... manusia bisa mengkafirkan atau menghitung amaliah manusia? Padahal ... hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Hitungan/hisab Allah SWT tidak semata-mata dilihat dan dinilai apakah seseorang memiliki jidat hitam, jenggot yang lebat, memakai celana cingkrang atau jilbab syar'i dan sejenisnya. Tetapi meliputi niat yang segala dan setiap tindakan kita,  yang ada dalam hati nurani, akal pikiran serta maksud dan tujuan manusia dalam melaksanakan hajat hidupnya. Dan yang terakhir ini, tidak ada satu manusiapun yang bisa menyelami kecuali sang Khalik. 

Silakan berpikir dengan jernih karena agama mengajarkan kita untuk membaca (Iqra). Mengaji bukan sekedar lancar membaca al Qur'an tetapi mengaji bisa diartikan ajakan untuk meng"kaji", menganalisa dan berpikir dalam atas sebab musabab turunnya ayat-ayat suci, begitu juga dengan seluruh kandungan al Qur'an.  

Saya tidak ingin mempengaruhi ibu untuk memilih siapapun, tapi berpikirlah untuk kemaslahatan umat manusia. Mari tunjukkan Islam yang Rahmatan lil Alamin. Bukan Islam yang menteror mereka yang tidak seakidah, karena perbedaan itu "diciptakan" Allah SWT agar kita berpikir dan menghargai takdirNya

Komentar:
Setuju, trims ibu
Maaf, menurut ibu kafir itu maknanya apa ya ?

Waduh ....... masih lanjut ujiannya ....

Jawab:
Kafir adalah orang yang tidak percaya pada keberadaan Allah SWT dan rasulNya. Ini bisa jadi perdebatan panjang, pada makna percaya pada rasulNya.  

Apakah mereka yang percaya kepada rasulNya selain Muhammad SAW, misalnya saja, mereka yang percaya kepada nabi Musa atau nabi Isa atau percaya pada kitab-kitab Allah seperti Zabur, Taurat, Injil, apakah mereka menjadi atau lantas disebut kafir? Lalu.... kalau seorang manusia percaya akan keberadaan Allah SWT namun tidak beragama-agnostik, dan seluruh hidupnya dijalani dengan amat sangat baik/lurus bahkan lebih baik dan lebih lurus daripada mereka yang menyatakan diri beragama. Apakah mereka lalu disebut kafir dan pasti masuk neraka? Sebaiknya jangan mudah mencap orang kafir dan pasti masuk neraka. 

Puluhan tahun yang lalu, saya pernah bertemu pasangan suami istri lanjut usia. Mereka mengundang kami makan malam di rumahnya. Usai makan, sambil ngobrol sana-sini, bertanya  ini-itu tentang Indonesia, tiba-tiba si istri bilang begini 
"Kami menjalani kehidupan dan memberikan kebaikan kepada sesama manusia ini, dengan apa adanya. Bukan karena mengharapkan segala macam pahala/balasan dari Tuhan. Tidak ...... Kami tidak ingin atau bermaksud berdagang dengan Tuhan karena anugerah dan segala apa yang kami terima dariNya sudah sangat melimpah dan selayaknya kami bagikan kepada sesama tanpa berharap balasan apapun dari siapapun". 

Mereka, orang Perancis asli yang tinggal di pinggiran kota kecil Poitiers sekitar 500km sebelah tenggara Paris, ibukota Perancis. Apakah orang-orang yang amat sangat baik itu akan masuk neraka karena dia bukan muslim? Belum tentu .....

Itulah rahasia kehidupan dan hanya Allah SWT yang berhak menghisab amal perbuatannya. Bukan kita sesama manusia.

Jawab:
Ibu, ada neraka namanya saqor

Seketika saya ingin "menguji" pengetahuannya. Jangan saya terus yang harus menjawab pertanyaannya. Lalu saya balik tanya:
Apa referensi tentang neraka saqor? Tolong jelaskan ya .....

Tidak ada jawaban lagi ..... si ibu menghilang ......
satu jam .....
dua jam ......
si Ibu tetap menghilang

Bagaimana bu ......?

Rabu, 06 Maret 2019

Obrolan Pagi Hari

Pagi ini, salah seorang sepupuku, mengirim pesan via whatsapp menanyakan apakah saya memiliki informasi atau konfirmasi mengenai kubu Pak Jokowi yang di dalamnya ada anggota PKI... dan apakah negara kita akan diarahkan kesana kah? Begitu juga dengan isu2 tentang banyaknya tki dari China yang bekerja di Indonesia.

Pertanyaan yang cukup sensitif pada masa menjelang pemilihan presiden 17 April yang akan datang.  Belum tentu bisa dimengerti dan diterima secara wajar apalagi oleh para pendukung fanatik pasangan calon presiden yang saling berlawanan. Namun demikinan, saya berusaha untuk menjawabnya, apapun tanggapan yang akan diberikannya. Kira–kira, beginilah dialog yang terjadi; memang PKI sekarang masih ada, setelah dibubarkan oleh Suharto pada tahun 1966? Kalau anak dan keturunan anggota PKI, tentu masih ada dimana–mana. Bukan sekedar di “kubu Jokowi” seperti yang anda katakana, bahkan bukan tidak mungkin pula bahwa anak dan keturunan anggota PKI ada di kubu Prabowo sendiri. Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI sudah berlalu hampir 54 tahun yang lalu. Kalau kita baca buku–buku yang pada masa pemerintahan Soeharto terlarang, ada beragam versi dan silang sekarut berkenaan dengan peristiwa tersebut. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Soeharto sendiri “memanfaatkan” kekhawatiran petinggi PKI atas kondisi kesehatan Soekarno saat itu.

Dilain pihak, Soemitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo Subianto sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh pemberontak PRRI/PERMESTA yang karenanya “melarikan diri” ke luar Indonesia sampai suatu ketika, atas inisiatif Suharto belia “dipanggil kembali” ke Indonesia. Nah …. Kalau kita cukup kritis, mengapa kondisi ini tidak dipermasalahkan?

Prabowo Subianto adalah jelas anak kandung Sumitro Djojohadikusumo, yang karena “perbuatan” ayahnya, terpaksa turut dibawa mengungsi oleh kedua orangtuanya untuk hidup dalam pelarian di luar negeri. Itu menyatakan dengan gamblang sebab–sebab mengapa seluruh pendidikannya hingga bangku setingkat SMA dilalui di berbagai Negara di luar teritori Indonesia.  Sementara itu, mereka yang diduga sebagai anak–keturunan PKI yang berada di kubu Jokowi, mungkin ada beberapa atau bahkan banyak sekali, namun entah siapa dan entah sejauh atau sedekat apa pula hubungannya dengan Jokowi. Tuduhan – tuduhan tersebut tidak selalu jelas menyebutkan nama. Tetapi kalau kita bicara soal anak keturunan anggota PKI setelah 54 tahun berlalu, secara logika, tentu saja mereka sudah beranak–pinak dan tersebar kemana–mana. Bukan saja berada di kubu Jokowi, tapi …. percayalah, mereka ada di mana – mana. Di kubu Prabowo dan partai politik lainnya pun hampir tidak mungkin lepas dari mereka. Bahkan tetangga anda atau teman tidur seranjangpun bisa terindikasi “tidak bersih lingkungan”. Ini istilah yang biasa digunakan pada masa pemerintahan orde baru. Namun mengkaitkan mereka identik dengan paham PKI dan harus diperlakukan seperti layaknya kita berhadapan dengan virus penyakit yang mematikan dan karenanya perlu dijauhi atau bahkan dihancur–leburkan, jelas merupakan pendapat yang mengada–ada.

Komunis adalah paham dan ideologi, sama halnya dengan paham dan ideology sosialis bahkan kapitalis sekalipun. Semua yang berasal dari ide à ideal à ideology tentu selalu berbicara tentang hal yang baik–baik saja dan akan menjadi berbeda sesuai dengan maksud, tujuan, cara menerapkan dan pelakunya. Bisa menjadi hal yang sangat positif bila maksud, tujuan, cara menerapkan dilaksanakan dengan cara yang baik dan pelakunya memiliki niat yang baik pula. Namun bisa juga menjadi sangat mengerikan dan menghancur leburkan tatanan kemanusiaan manakala maksud, tujuan, cara menerapkan dan pelakunya mengabaikan nilai universal kemanusiaan.

Akan halnya berita tentang adanya 10 juta tenaga kerja asing berasal Cina di Morowali juga merupakan suatu berita yang berlebihan dan sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin?

Morowali adalah kota kecil dengan penduduk hanya + 113 ribu jiwa. Bayangkan, seperti apa wajah wilayah Morowali bila benar ada 10 juta tenaga kerja asing yang berasal dari Cina. Kelompok bisnis seperti sinarmas, salim grup dll paling banter punya pegawai sekitar 150rb hingga 400 ribu saja dan itupun tersebar di seluruh Indonesia.

Sebuah pabrik yang sangat besar, apalagi pada era otomatisasi peralatan, rasanya hanya akan menyerap sekitar 3rb sd 10rb buruh per pabrik. Tentu untuk menampung 10 juta tenaga kerja asing diperlukan setidaknya 1.000 sampai dengan 3.000 pabrik besar yang beroperasi di Morowali. Dengan logika seperti itu, masuk akalkah kalau di Morowali ada 10 juta TKA Cina?
Ayolah berpikir logis ….

Tanpa mengesampingkan masalah tenaga kerja asing, mari berpikir rasional dan terbuka. PT Wijaya Karya, salah satu BUMN di bawah kementrian PUPR alias Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, hampir setiap kontraknya di Negara lain seperti Timur Tenggah, Afrika Utara, maupun Negara Asean akan membawa ratusan hingga ribuan tenaga kerja Indonesia dari berbagai tingkat untuk bekerja disana demi effisiensi kerja dan meminimalkan miskomunikasi (kendala bahasa) dalam pelaksanaa proyek. Jadi ... adalah suatu hal yang sangat biasa dalam bisnis manakala dalam suatu proyek, maka pemegang proyek akan membawa pekerja yang biasa kerja dengannya. Apalagi kalau proyek tersebut dibiayai kontraktor dengan perjanjian kerja semacam turn-key project.

Jadi ... siapapun pemenang atau pemegang kontrak kerja, bukan hanya pemerintah atau pengusaha yang berasal dari Cina, yang bekerja di Indonesia dan melengkapinya dengan pembiayaan yang mereka tanggung juga, maka sangat wajar kalau mereka membawa orang–orangnya sekaligus supaya lebih effisien, murah dan tidak terkendala dalam komunikasi. Apalagi, khusus untuk pekerja Cina, sebagai masyarakat yang sejak lama berinteraksi dengan mereka, secara jujur harus diakui bagaimana etos kerja masyarakat Cina yang sangat luar biasa bila dibandingkan dengan etos kerja orang Indonesia.

Akhirnya … alangkah baiknya kalau masyarakat mau bersikap bijak, kritis dan tidak terbawa perasaan dalam membaca berita terutama yang berseliweran di media sosial dan bahkan sekarang banyak dibicarakan di masjid–masjid, bahkan dari rumah ke rumah karena sayangnya, berita apapun dan darimanapun asalnya tidak pernah obyektif. Akan selalu ada “maksud dan tujuan terselubung” baik dari penulis maupun media yang menyebarkannya. Apalagi jaman sekarang dimana setiap orang dengan sangat mudah memlintir dan mendistorsi apapun yang dimauinya, dengan mengabaikan etika dan etiket.
Mengerikan sekali … Berita tidak dapat dipercaya 100% dan itu sudah terjadi sejak lama. Bisa dijadikan referensi. Selebihnya tetap berpulang pada keyakinan kita.

Kita doakan agar Presiden mendatang adalah Pemimpin yang akan membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia siapapun dia. Serahkan kepada keputusan Allah  SWT namun dengan tetap menggunakan hak dan kewajiban politik, yaitu memilih presiden. Yang terakhir tentu jangan sampai salah pilih, karena taruhannya terlalu besar bagi NKRI.

Semoga pemimpin yang akan datang adalah yang dapat membawa kesejahteraan rakyat  Indonesia dengan.penuh kedamaian... Aamiin

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...