Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2014

SERBA SALAH

Penampilan presiden RI ke 7Joko Widodo alias Jokowi dan ibu negara alias first lady Iriana yang apa adanya sebagaimana layaknya masyarakat biasa, selalu mengundang pro dan kontra. Ada yang suka melihat kesederhanaan yang mereka tampilkan, tetapi tidak kurang pula yang menganggap penampilan mereka sebagai pencitraan belaka.
Masyarakat Indonesia memang terlalu biasa dengan pola pikir feodalisme. Citra bahwa seorang ksatria atau raja, pastilah gagah, tampan dan pandai sementara seorang sekar kedaton dan permaisuri  sangat cantik, lembut. Penampilan mereka pastilah sangat mewah dan tentu berbalut pakaian kelas atas lengkap dengan perhiasan emas permata yang berkilauan.
Pada era modern image tersebut diterjemahkan bahwa para penguasa negara dan pejabat lainnya yang berjenis kelamin lelaki harus gagah dan berwajah tampang sementara yang perempuan pastlah cantik kemayu dengan penampilan "berkelas" baik baju maupun tatanan rambut.  Ibaratnya .... pakaian kalau tidak atau belum mampu membeli karya adibusana kelas dunia, maka karya adibusana kelas nasional pastu diburu habus. Tas harus bermerek yang harganya aduhai. Belum lagi jam tangan, tas, sepatu dan lainnya. Di luar dari itu semua, sesuatu yang sangat khas adalah .... si perempuan akan menata rambutnya dengan disasak tinggi serta melebar seperti sarang burung. Entah bagaimana cara tidur mereka ...... atau bisa jadi, mereka memiliki penata rambut sendiri yang siap sedia melayani setiap pagi hari 
Era kepemimpinan Jokowi, menjungkirbalikkan segalanya .... Wajah dan penampilan Jokowi yang ndeso, caranya saat mengunjungi dan berdialog dengan masyarakat yang tanpa canggung, yang kemudian populer dengan istilah mblusukan, menunjukkan bahwa Jokowi memang pemimpin rakyat  yang siap sedia melayani. Itulah yang sebenarnya layak dilakukan seorang pemimpin untuk menyerap kondisi riel masyarakat. Namun di sisi lain ada pula yang menganggapnya sebagai pencitraan yg tidak perlu.
Padahal ... mari bandingkan mblusukan ala Jokowi dengan setting dialogis pemimpin dengan masyarakat yang diatur dan diselenggarakan di pendopo kabupaten    . Apa yang akan diperoleh oleh pemimpin dari 2 situasi yg berbeda bagai langit dan bumi tersebut ....? Mendatangi dan berdialog langsung di tempat masyarakat beraktifitas, atau mengumpulkan masa di sebuah pendopo yang .... ah... kok seperti jaman raja-raja dahulu? Sepertinya, akan tetap ada yang menganggap bahwa apa yang dilakukan Jokowi tidak lebih dari pencitraan  
Belum lagi penampilan Iriana sebagai ibu negara yang sangat jauh dari stereotype istri pejabat yang kinclong dan menor ... Pakai kerudung/jilbab seperti yang pernah dilakukannya saat periode kampanye.... salah.....!!! Kemudian saat dia membuka kerudung/jilbabnya... lebih salah lagi  , karena memang pada dasarnya Iriana bukanlah perempuan berhijab.Tapi .... bukankah banyak juga perempuan berjilbab dengan cara asal cantol .... Seolah berjilbab, namun jambul masih nongol...., atau lehernya masih terlihat. Masih tergiur memamerkan giwang berlian yang gemerlap di telinga. Belum lagi pakaiannya. Walau menggunakan gaun panjang, tapi tetap dengan model dan gaya sexy berwarna warni sehingga menarik perhatian orang.
Mungkin itu sebabnya, seorang teman pernah bercerita bahwa konon kabarnya, teman-teman lama Iriana berusaha keras membujuknya untuk mengubah penampilannya sebagai first lady. Agar penampilan Iriana menjadi agak lebih "berkelas". Nggak ndeso seperti saat ini. Padahal ... ndeso atau berkelas ... mewah ataupun sederhana sesungguhnya bergantung pada kenyamanan pribadi.
Gaya sederhana ini juga akhirnya terbawa pada penampilan para menteri perempuan. Mereka semua nyaris tampil berbeda dengan menteri perempuan pada kabinet-kabinet terdahulu. Mungkin hanya Nila Moeloek saja yang bergaya à la pejabat sebagaimana yang diinginkankan masyarakat. Maklum juga karena yang bersangkutan adalah istri mantan menteri jaman lalu.
Jadi ..... apakah kita memang masih memandang penampilan wah para pejabat masih menjadi suatu keharusan? Jangan lupa .... kemewahan yang mereka tampilkan sebetulnya dibebankan pada masyarakat. Bukankah kita sering membaca berita betapa besarnya anggaran pakaian/rumah tangga pejabat daerah. Apakah stereotype pejabat & keluarga harus tampil berkelas dan kinclong lebih penting daripada kinerjanya?.

Rabu, 29 Oktober 2014

Hipokrisi masyarakat Indonesia


Sebagian besar masyarakat Indonesia hingga abad ke 21 ini ternyata masih sangat feodalis dan hipokrit. Senang memakai "topeng" tatkala tampil ke hadapan publik. Tapi ..... mungkin bukan hanya masyarakat Indonesia saja, masyarakat duniapun terhinggapi "penyakit" hipokrit. Itu sebabnya dikenal adanya manner dan etiket dalam pergaulan internasional.

Akan halnya di Indonesia, topeng-topeng ini berdampak pada beragam "kriteria" yang seakan "wajib" disematkan dan dilakukan oleh "pejabat publik" sosialita dan selebriti.
Lihat saja penampilan para pejabat maupun istri/keluarganya, para sosialita dan selebriti. Yang lelaki, harus terlihat gagah dan rapi. Berpakaian "mewah" kalau perlu pakai jas sambil memamerkan merek di bagian pergelangan tangan, memakai jam merek terkenal seharga ratusan juta bahkan hingga milyaran rupiah serta berkendaraan mewah. Punya hobi main golf atau mengendarai motor gede.
Sementara yang perempuan seperti merasa "wajib" mengecat warna rambut serta menyasak tinggi2 rambutnya hingga berbentuk seperti sarang burung dan karenanya harus memiliki "hair stylist" yang mengurusi rambutnya setiap hari. Padahal menyasak rambut, memakai foam untuk menjaga "sasakan" rambut malah akan merusak kesehatan rambut dan gatal. Sementara itu, wajah dipoles dengan make up tebal, atau melakukan minimal botox, kalau kebetulan tidak memiliki waktu atau keberanian melakukan operasi plastik agar kisut dan kerut wajah menghilang .... Pakaian harus rapih buatan perancang mode terkenal. Kalau bisa dari Paris atau Milan. Tas bermerek terkenal, baik dari dalam maupun luar negeri sama seperti bajunya .... dan memakai perhiasan berkilauan. Seringkali nggak jelas mau kerja, rekreasi atau pesta ... Ingat kan, saat pelantikan anggota legislatif yang baru lalu?
Dari sisi pendidikan, semua orang rasanya, minimal harus memiliki pendidikan S1 kalau bisa malah S2 atau S3/Doktor. Pokoknya ada deretan gelar akademis di depan maupun di belakang namanya, supaya terlihat intelek. Setelah itu harus memiliki gelar profesor. Apalagi kalau jabatan Menteri jadi incaran... Ini akan lebih dihargai. Lupa bahwa profesor itu bukan gelar akademis tapi profesi sebagai guru ... pengajar/pendidik. Maka ramailah para pejabat publik mengejar gelar-gelar akademis. Nggak peduli lagi apakah pendidikan lanjutan tersebut sesuai dengan minat/kebutuhan pekerjaan atau apakah universitas tempat memperoleh gelar tersebut memang terakreditasi atau universitas abal-abal.

Maka tatkala pejabat tidak memiliki pendidikan mumpuni, ramailah orang mencibir dan berkomentar negatif. Padahal manusia diciptakan Tuhan dengan beragam kemampuan. Bahasa kerennya multiple intelligent. Lihatlah .... betapa orang-orang sukses dalam bisnis di negara maju dan bahkan di Indonesia sendiri, banyak dari golongan "putus sekolah". Kenapa ....? Karena ternyata sekolah itu membelengu kreatifitas. Pendidikan mengajarkan terlalu banyak resiko. Segalanya dianalisa dari sudut pandang "negatif"nya dulu. Faktor resikonya. Sementara peluang yang menciptakan kreatifitas tanpa batas, seringkali dilupakan.
Belum lagi urusan asal-usul keluarga. Bobot - bibit - bebet. Seperti ada kasta dalam kehidupan sosial ... Anak pedagang "harus" jadi pedagang .... Nggak boleh jadi pejabat tinggi. Anak pejabat tinggi pasti dan pantasnya harus jadi pejabat tinggi lagi .... Padahal... ada banyak anak dari kalangan "atas" yang terjerumus pada perilaku buruk .... dan untuk mereka ada "maaf dan permakluman....". Tapi kalau orang-orang dari kalangan biasa berperilaku tidak sesuai dengan "topeng2 dan imaji" masyarakat, maka cacian dan cercaan ditebar .... Persis perilaku feodalistis.

Anak dokter biasanya akan "dipaksa" orangtuanya menjadi dokter pula, karena sang ortu  melihat hanya profesi dokterlah yang bisa menjamin kehidupan si anak kelak. Jadi alasan jadi dokter, bukan pengabdian. Kalau orangtuanya dulu kerja di bank, mati-matian pula dia akan menganjurkan si anak kerja di bank. Seakan tidak ada profesi lain yang menjanjikan hidup "mapan" selain kerja di bank.
Itu sebabnya ..... tatkala wajah ndeso memasuki istana, maka banyak orang yang belum rela ... karena sepertinya istana hanya diperuntukan "kalangan atas". Bukan untuk kalangan dan wajah ndeso ..... Manakala seorang perempuan berpendidikan "rendah", bertato, perokok dan nyeleneh diangkat menjadi pejabat tinggi negara, orang ramai mencaci. Sementara koruptor lalu lalang sambil tersenyum simpul melambaikan tangan tanpa malu. Sepertinya, kita ..... lebih menghargai kosmetika dan hipokrisi berseliweran di muka kita, di media cetak maupun layar kaca.

Sedih dan sangat ironi.
Padahal ....
Katanya, kita seringkali dianjurkan untuk "harus bermimpi setinggi langit..."
Meraih kehidupan yang lebih baik ...
Dan seharusnya semua wajib dan punya hak bermimpi yang sama...
Atau ....
Adakah perbedaan antara langit masyarakat kalangan atas dengan langitnya kalangan bawah...?

Rabu, 28 Agustus 2013

Life Style - Hedonisme a la masyarakat Indonesia

logo TWG Tea
Awal minggu lalu, setelah libur panjang Idul Fitri yang sangat melelahkan karena harus menggantikan hampir semua pekerjaan para asisten rumah yang sedang ambil cuti tahunan, big boss di kantor mendekati saya. Di tangannya ada tas kertas berwarna kuning, yang kelihatannya cukup eksklusif dengan label TWG tea. Di dalamnya ternyata ada satu dus yang lumayan berat terbungkus rapi dengan kertas juga berwarna kuning. Pita hitam berlogo twg tea, membingkai manis dus tersebut. Ini khas kemasan belanjaan dari berbagai benda yang dijual pada toko-toko eksklusif di seluruh dunia.

Tiba di rumah, seperti kebiasaan saya, pita dan kemasan kertas saya lepas dengan sangat hati-hati. Seperti kebanyakan benda eksklusif, bahkan perekatnyapun tidak menggunakan cello tape biasa tetapi dengan kertas berlabel mungil yang cantik. Di dalam bungkusan terdapat kotak berwarna navy blue ... juga terlihat sangat eksklusif berukir label TWG Tea berwarna perak, paduan warna cantik, yang cukup berat. Isinya ...... ada 3 buah, yaitu 1 pot berisi Jelly Tea, 1 pot isi gula (batu) dan kemasan dus berwarna biru cerah yang cantik dan di dalamnya berisi kaleng teh seberat 100gr. Juga berwarna biru dan tertulis disana French Earl Grey Tea.

French - France - Perancis, adalah negara yang terkenal dengan berbagai benda bercitarasa tinggi, terutama bila kita bicara tentang hasil pekerjaan tangan (artisanale)nya. Melihat kemasannya dan berbagai asesori yang menyertainya, saya sudah bisa membayangkan bahwa bingkisan tersebut pasti tidak akan murah harganya. Berapa? .... Entahlah .... Aucun ide ....

Penasaran .... saya memperhatikan kembali tas kertasnya ... Di situ tertera cabang-cabang TWG tea. Kesemuanya berlokasi di luar negeri dan ....., ini yang agak aneh .... sebagai penyandang label French tea, TWG tea justru berpusat di Singapore. Nah lo .... ? Ya sudahlah .... Singaporean memang ahli dagang. Sepertinya mereka benar-benar bertangan dingin, terutama untuk "mengelabui" sebagian masyarakat Indonesia yang "gila" dengan segala macam berlabel "luar".

Saat makan malam malam, salah satu pot saya ambil ... Jelly tea, dengan aroma citrus yang, menurut saya adalah citrus kimiawi atau minimal sudah terkontaminasi dengan bahan pengawet dan aroma kimia. Teksturnya lebih lembut dari Nutrijel, salah satu merek lokal. Hehe ... ketahuan banget masih selera lokal. Yang pasti, Jelly tea ini agak manis. Anak gadis saya ternyata suka banget dan dia segera menghabiskan satu pot Jelly tea tersebut.

"Apa tuh ...", tanya suami
"Oleh2 dari boss ... baru pulang dari Tasmania. Agak aneh ... libur ke Tasmania kok yang dibawa malah TWG tea asal Singapore",
Tapi saya ingat ..., si boss memang langganan SQ hampir untuk seluruh perjalanan pribadi ke luar negeri. Bisa jadi karena lupa beli oleh2 buat para krucil di kantor, sang nyonya, seperti biasa, membeli berbagai macam makanan di duty free di Changi. Begitu pikiran yang sangat praktis.
"Enak ma .... Ada di Jakarta nggak ya? Kalau ada, besok malam ke situ yuk...!" si gadis menimpali.
TWG Tea oleh2 boss
"Nggak ah .... Bisa tekor kalo tiap malam makan di luar terus ...! Selama kamu libur, tagihan kartu kredit meledak nih! "
"Sekali aja deh ... cuma pengen tahu aja kok...!", rayunya...
"Lihat gimana nanti aja...! Belum tentu ada di Jakarta. Atau .... semoga nggak ada cabang di Jakarta", sahut saya nggak yakin juga. Maklum .... apa sih yang nggak ada di Jakarta, dengan pola hidup hedonis sebagian penduduknya?

Penasaran, malam itu saya browsing, ingin tahu apa dan bagaimana TWG Tea dan apakah ada cabang di Jakarta. Ternyata .... ada di suatu Mall atau tepatnya Plaza. Baru 4 bulan beroperasi dan .... ternyata sudah banyak yang mengulasnya di blog masing-masing. Semua memuji eksklusifitas tempat, interior dan peralatannya.

Makanan atau kue-kuenya sih, konon, umumnya standard saja ... Dari ulasan di blog yang disertai foto-foto dan komentar2nya berikut kemasan oleh2 boss, saya sudah bisa menduga seberapa "murah" harga sepoci atau bahkan secangkir teh. Minimal sama atau bisa jadi lebih mahal dari kopi di Starbuck atau cafe/tea shop sejenis.

Penasaran dan untuk meredakan rengekan si gadis, jadi ... kami memutuskan untuk mencicipi TWG tea, dengan kesepakatan makan malam di rumah dulu. Makan malam di plaza/mall di malam minggu, sama saja dengan "bunuh diri" kelaparan atau harus mulai keluar dari rumah jam 17.00. Ribetlah .... mesti mikir dimana shalat maghrib, terus kalau kebetulan masjidnya jauh dari Mall/Plaza, kebayang susahnya dapat parkir di Mall/Plaza saat kami tiba. Sementara shalat di Mall/Plaza di Jakarta, belum tentu nyaman. Saya belum pernah menemukan Mall/Plaza yang menyediakan tempat shalat yang nyaman.

Dengan bekal hasil browsing, lokasi TWG tea, dengan sangat mudah kami temukan. Agak jengah juga rasanya saat melihat penampilan TWG Tea salon tersebut. Dari kejauhan terlihat betapa para pelayannya berpakaian dengan sangat rapi, sepatu pantofel hitam mengkilat. Tersadar tiba-tiba betapa kami berpenampilan sangat seadanya. Sangat berbeda jauh dengan penampilan para pelayan dan suasana di dalam yang terlihat.

Masuk ke ruangan, ternyata beberapa meja terisi penuh dan hanya 1 yang sedang dirapikan. Sambil menunggu meja disiapkan, saya mengedarkan mata... menyapu seluruh isi boutique alias toko tersebut. Ada ratusan "kaleng" kuning berisi TWG tea dengan berbagai ragam aroma, Kabarnya ada sekitar 300an aroma teh. Ini betul-betul teh, dalam arti bahwa yang diseduh adalah daun teh yang sudah diberi beragam macam aroma. Ratusan aroma itulah. Selain itu ada berbagai kaleng dengan berbagai design (exterior finishing) dan beragam warna termasuk juga beragam poci yang rupanya digunakan untuk menyajikan teh.

Semua terasa berkelas .... dan kesemuanya "diawasi" mungkin oleh store manager yang saya yakin dari penampilannya adalah pria berkewarganegaraan atau berasal dari Perancis. Penampilannya khas sekali dan mudah "terbaca" dari bentuk tubuh,  gesture, maupun caranya bicara walau saya hanya melihatnya dari jauh.

Dalam tradisi Perancis, yang disebut minuman teh adalah seduhan dengan bahan dasar daun teh baik black tea maupun green tea. Dengan rasa asli maupun yang sudah diberi aroma. Yang penting bahan dasarnya adalah daun teh, maka sah disebut teh. Sedangkan dedaunan lain yang diseduh dan sekarang lebih dikenal sebagai "herbal tea", disebutnya sebagai infusion. Berbeda dengan di Indonesia, semuanya disebut teh. Pembedanya, seduhan non daun teh disebut jamu atau herbal tea.


salah satu kemasan cookies eksklusif dari teman
Nah sambil menunggu itulah saya memperhatikan display kemasan teh dalam kaleng/dus warna-warni yang menutup hampir seluruh dinding boutique. Kesemuanya sangat cantik dan ditata dengan sangat  artistik. Perancis gitu loh....! Cuma ..... begitu lihat harga yang tertera ..... alamak .......!!! Harga 1 kaleng teh bisa menghabiskan jatah bensin saya selama 10 - 30 hari. Teh dalam kemasan 50 gram ternyata dihargai 350K dan beberapa jenis dalam kemasan 100 gram diberi label 750K. Jadi ... saat ditawari untuk membeli, saya "terpaksa" jawab masih ada satu dus di rumah. Ini betul .... nggak bohong, karena justru dari satu dus oleh2 boss itulah, saya "kenal" TWG Tea,

Sambil lalu, sempat saya tanyakan juga berapa harga 1 pot Jelly tea yang disukai anak saya itu. Jelly tea dalam kemasan sekitar 100 ml dan ternyata berlabel 80K. Haduh ...... terbayang deh, nutrijel yang walau kelembutan dan aromanya memang jauh berbeda tetapi harganya sangat jauh. Memang nggak bisa dibandingkan antara lokal dan "luar". Ini masalah gengsi dan eksklusifitas!!!

Karena memang sudah diniatkan untuk mencicipi TWG tea, maka rombongan sirkus mini ini tetap sabar menanti tempat duduk. Kemudian sempat kebingungan memilih aroma apa yang ingin dicicipi dari ratusan jenis teh beraroma yang ditawarkan dengan harga rata-rata sekitar di atas 40K per tea pot. Rasanya ingin mencoba seluruh aroma yang ada disitu.

Akhirnya ... setelah pusing bolak-balik kartu menu, saya memilih Creme Brulee tea ..., Namanya agak berbau Perancis. Jadi penasaran juga gimana rasanya. Saya lupa apa yang dipilih anak & suami. Untuk cemilannya, saya memilih paket 3 pcs muffin yang disajikan dengan whipped cream dan jelly tea sementara anak saya memilih green tea ice cream. Kalau nggak salah. Belakangan si gadis menyesal karena dia tidak menyatakan dengan jelas berapa scoops yang diinginkan sehingga hanya tersaji 1 scoop. Kami hanya menyantap makanan ringan karena hari sudah menunjukkan jam 21.00. Sudah lewat jam makan malam kami, yaitu jam 18.30.

Bagaimana dengan rasa TWG tea ... menurut saya, rasa tehnya sangat ringan. Sama sekali tidak terasa aroma dan rasa tehnya. Kalah dengan aromanya.

Sambil minum dan ngobrol, iseng juga saya lirik kiri-kanan memperhatikan pengunjung yang silih berganti memenuhi sedikit meja yang ada. Mungkin tidak lebih dari 8 meja. Kesemuanya manusia-manusia gaul yang chic .... Dari penampilannya, pasti semua dari golongan atas.

Iyalah ..... mana ada yang mau bayar ratusan K untuk sekedar minum teh dengan sedikit kue2 di tempat chic kalau bukan kalangan atas. Pantas jugalah kalau TWG Tea punya potensi menjadi tempat hang out eksklusif yang cepat atau lambat mengalahkan pamor Starbuck. Atau mungkin juga TWG Tea mengambil kelas yang lebih tinggi dari Starbuck. Selama 4 bulan mereka beroperasi saja, mereka sudah berani mengambil ancang-ancang untuk membuka satu lagi gerainya di salah satu Mall yang prestigious di Jakarta.


Kaleng warna-warni di rak atas itu seharga 15jt/pcs
Hari beranjak sangat cepat dan pada jam 22, kami memutuskan meninggalkan lokasi. Sambil memasukkan kartu hutang alias kartu kredit yang saya gunakan untuk membayar 3 pot teh beserta penganannya, iseng saya lemparkan pertanyaan kepada vendeur alias pelayan toko tentang kaleng teh warna-warni yang terpajang di sepanjang dinding gerai di bagian atas;
" Boleh tanya ... berapa harga kaleng teh yang di atas itu?"
"Lima belas bu .....", jawabnya singkat.
"Maksudnya....?"
"Lima belas juta rupiah..."
Gubraks........., sempat kaget dan terhenyak mendengar harga kaleng teh warna-warni yang cantik itu, tapi saya nggak mau kelihatan kaget ... alias sok jaga gengsi juga hehe....

"Kok mahal banget ya....?"
"Ya bu .... kaleng itu hand made dan di import langsung dari Perancis...!"
"Oh ...............".

Iya sih ...... seperti yang sempat saya katakan, Perancis memang sangat menghargai kerja manual. Design, komposisi warna selalu digarap dengan sangat teliti. Pengerjaannyapun sangat halus dan terasa sangat berkelas.... Tapi ..... "Kaleng krupuk" seharga 15 juta...? Walau dibuat dengan design khusus, hand made dan impor langsung dari Perancis....? Rasanya sangat tidak masuk akal dan sangat berlebihan.

Tapi .... ya sudahlah!!! Saya mungkin memang belum masuk golongan kelas atas, sehingga masih shock dengan hal-hal seperti itu.

Begitulah gaya hidup di kota besar Indonesia.... Hedonisme dengan kata kunci eksklusif ternyata menjadi jurus ampuh para pemasar alias pakar pemasaran untuk menaklukkan dan mendikte kaum OKB Indonesia.

Sambil melangkah meninggalkan TWG tea boutique menuju tempat parkir, terbayang tambahan tagihan kartu kredit saya di bulan yang akan datang... Menyesalkah..? Nggaklah ... cuma dalam hati saya agak nggrendeng juga .... Saya ternyata seringkali jadi "korban" oleh-oleh dari boss dan nyonya saat mereka pulang dari perjalanan ke luar negeri ....

Senin, 15 April 2013

REMAJA GALAU


Jum'at lalu, saat kembali dari asrama seperti biasa, wajah anakku terlihat tidak seperti biasa. Konon katanya .... tenggorokannya sakit. Gejala batuk. Maka untuk itu kutawarkan apakah dia mau minum air rebusan jahe ditambah dengan madu atau jeniper alias jeruk nipis peras hangat tambah madu.

Usai menyiapkan jeniper alias jerk nipis peras hangat, dan setelah diminumnya sebagian jeniper hangat bermadu itu, setengah berbisik, karena di sofa seberang bapaknya sedang baca koran, si gadis bilang ...
"Ma ... aku mau cerita deh ..."
"Hm ya.... ada apa...?"
"Itu ma .... cowo itu akhirnya ngajak aku ngomong...!"
"Ngomong apa...?"
"Tapi mama jangan marah atau ngetawain ya.....!", pintanya.
"Iyalah .... cerita aja....!"
"Beberapa hari yang lalu, dia bilang ... Katanya dia suka aku, tapi suka sebagai adik kelas dan juga sayang aku sebagai sesama muslim..."
"hm ......, lalu ......?"
"Ya aku jawab bahwa aku ngerti kok .... Aku juga bilang kalau aku suka dia, mungkin cuma sesaat ini aja ... Tahun depan mungkin bisa berubah ... Nanti saat kuliah ... juga akan berubah lagi, karena masih banyak cowo yang bakal aku temui. Kalaupun suatu saat aku menikah, katakanlah di usia 25, entah aku akan menikah dengan siapa ... ya dijalani aja...!"
"Hm ... jadi rencananya nikah umur 25 tahun?", tanyaku untuk mengurangi suasana murung yang terdengar dari suaranya.

"Jawabanku salah nggak, ma....? tanyanya lagi, tanpa menggubris pertanyaanku.
"Nggak .... that's a smart statement! Memang kenyataannya begitu kok!", jawabnya. Dan ini jawaban jujur. Bukan sekedar untuk menyenangkan hatinya.
"Ya sudah kalo gitu...!"
"Tapi konsisten ya .... Tunjukkan juga bahwa ucapanmu itu betul-betul bisa dilaksanakan. Tunjukkan juga bahwa kamu tidak terpengaruh oleh ucapannya .... Anggap angin lalu ... dan kalau ketemu orangnya lagi.. sapa dengan baik seperti kamu menyapa teman lelaki yang lain. Bahwa dia tidak lebih istimewa dari yang lain". Sambungku lagi
"Iya ma... tapi waktu tadi mau pulang, aku cuma lewat di depannya, nggak sempat nyapa. Kan terburu-buru mau pulang".
"Nggak apa-apa .... Yang penting untuk selanjutnya! Jadi perempuan yang tangguh ... Tahu martabat dan harga diri dan yang tidak kalah penting, tahu menjaga diri supaya tidak terjadi hal-hal buruk!".
***

Hadooooohhhh ........... Dalam hati kecil aku nyumpah-nyumpah juga ....
Gila anak gadis gue yang cantik, pintar dan baik hati, walau seringkali ngeselin hati emaknya, ditolak cowo... Huahaha... Sedih dan sakit hati juga nih emaknya. Tapi nggak apa-apa juga. Begitulah hidup. Nggak selamanya hidup berbunga-bunga dan menyenangkan.

Nggak ada yang salah di situ. Si cowo juga cukup gentle, bicara langsung walau konon kata anakku, sikap yang diambilnya karena teman-temannya mendorongnya untuk menjelaskan situasi. Konon si cowo sudah dijodohkan ibunya dengan kerabat keraton demi menjaga kemurnian darah biru mereka.  Halaaaahhhhh..... haree geenee .....

Teman-teman anakku mungkin merasa bersalah ikut jadi kompor penyulut perasaan suka remaja kencur ini. Jadi mendorong anak cowo itu untuk bicara. Ditinjau dari sudut si cowo .... aku suka dengar cerita ada anak remaja yang sedemikian taat pada orangtua. Terlihat dari sikapnya yang santun, rajin ibadah dan kalau benar, mau menerima perjodohan itu. Walau demikian prihatin juga, kok masih ada orangtua yang "mengekang" jiwa anaknya.

Tapi sebetulnya, konyol juga sih .... Tahu anakku suka sama dia, si cowo suka kirim-kirim suaranya lagi nyanyi, minta dinilai suaranya .... Pernah sekali. saat ada acara sekolah, adik si cowo yang masih duduk di SD, dipasrahkan ke anakku untuk dijaga .... Walah...... si gadis kencur ini klepek-klepeklah hatinya.....

Di lain pihak, aku rasa, jawaban anakku juga cukup cerdas.... walau aku yakin pasti hatinya babak belur  dan hancur lebur.... hehehe.... Lha, emaknya aja ikut sebal dan sedih kok, walau dalam hati agak merasa lega. Lega karena salah satu kekhawatiran melepas anak hidup di asrama, dilanda asmara dengan sesama penghuni asrama pula sekarang sudah pupus..... Aduuuhhhh...., kalau ada apa-apa,... ngeri skalee.... Takut kebablasan euy.....!!!
***

Sebetulnya, sejak awal masuk sekolah, aku sudah mulai ketar-ketir dan sebel banget deh ...! Tidak ada cerita week end, saat balik dari asrama yang ceritanya tidak nyerempet-nyerempet soal cowo itu. Ekspresif banget deh ....!


Berulang kali aku katakan..."Jadi anak perempuan itu jangan suka ngumbar perasaan deh....! Biar suka setengah mati sama cowo, nggak perlu pecicilan kesana-kemari. Jaga martabat!"
Tapi si anak terlalu cuek...
"Kuno ah...." Begitu selalu jawabnya

 Iya .... memang kuno, lha si anak aja lahir saat umur emaknya hampir 42 tahun. Ya jelas aja pikiran emaknya, kuno!
"Suka dan jatuh cinta itu peristiwa yang sangat alamiah... tidak bisa dihindari dan tidak perlu juga diingkari. Yang diperlukan adalah jaga sikap, jaga diri dan martabat"
"Iya ma ... aku juga nggak mau pacaran dulu kok...". Itu selalu jadi jawaban pamungkasnya saat terjadi perdebatan soal cowo itu
"Nah kalo gitu ... nggak usah heboh dong...."
***

Ah sudahlah ... Cerita itu sudah berlalu....! Sekarang, pasti si gadis sedang galau banget. Mungkin juga masih "nangis darah" gara-gara hal itu. Walau jawabannya cukup cerdas, tapi perasaan tetap akan berkata lain. Tapi .... tenang aja non ... Perasaan sedih, galau dan sakit hati akan hilang sebentar lagi kok .... remaja gitu loh ....!

Emaknya juga pernah ngalamin "nangis darah" gara-gara merasa dikhianati kok .... Walau lebih sering membuat hati orang tercerai berai hai....hai ........!!! Eh imbang kok kecewa dan mengecewakan orang.

Hidup kan tetap berlangsung apapun yang terjadi. So ....... keep spirit ..... dunia masih belum kiamat ....!!!

Senin, 11 Maret 2013

PESTA PERNIKAHAN


pengantin ondel-ondel

Kemarin, Minggu 10 Maret 2013 setelah beberapa bulan “mengharamkan” hadir dalam acara apapun juga yang diselenggarakan oleh siapapun pada hari minggu sore, maka aku dengan suami dan anak hadir dalam undangan acara resepsi pernikahan yang diselenggarakan di Bhirawa Assembly Hall–Hotel Bidakara. 

Istilah “mengharamkan” mungkin agak berlebihan ya … Istilah itu diambil karena minggu sore adalah jadwal antar anakku kembali masuk asrama. Kebetulan anakku tidak harus kembali ke asrama sore itu. Kalau bukan karena alasan yang sangat urgent, maka sebisanya kami berdua yang mengantarkannya ke asrama. Agar dia tidak merasa menjadi “anak terbuang”.

Melihat lokasi tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan tersebut, sudah terbayangkan bagaimana suasana yang akan tercipta di sana. Pasti ramai seperti “pasar”. Segala macam orang tumplek blek di sana. Apalagi ditambah dengan panjangnya waktu acara, selama 3 jam, dari biasanya hanya 2 jam dan jabatan yang disandang ibu mempelai perempuan …. Pasti yang diundang … kalau mungkin, seluruh pejabat dan pengusaha yang ada di lingkungan provinsi DKI Jakarta.

Mengantisipasi kemungkinan “antrian panjang”, maka kami baru keluar rumah sekitar jam 19.30 dengan perkiraan akan tiba di lokasi acara 1 jam kemudian. Dengan demikian kami berharap antriannya sudah sedikit menipis. Konyolnya, entah apa yang terjadi, akhir minggu kemarin, hampir seluruh ruas jalan yang terpantau dari lewatmana.com relatif “kosong”. Begitu juga dengan perjalanan kami tersebut kemarin. Hanya tersendat menjelang masuk ke area Hotel Bidakara. Ini bisa dimaklumi dan sudah diprediksi sejak awal.

Karena tidak menggunakan jasa supir … (ini yang seringkali dikeluhkan suami, karena saya alergi dengan keberadaan supir di tengah kami), kami sudah mulai merasakan ketidaknyamanan saat mulai memasuki tempat parkir …. Harus berputar panjang. Nggak kebagian tempat dan kemudian diarahkan menuju basement 2. Mungkin melihat tongkrongan mobil yang kami gunakan “agak keren”, penjaga area parkir lalu berbaik hati mencarikan tempat parkir yang “nyaman”. Tidak terlalu jauh dari lift lobby yang langsung membawa kami menuju Bhirawa Hall ….. (aduh …. Ternyata dimata penjaga area parkir, merek/jenis mobil jauh lebih berharga dari manusia ya?).

Maka ….. naiklah kami menuju Bhirawa Hall dan tiba tidak jauh dari pre function area, tempat dimana buku tamu dan souvenir + Photo booth berada. Ada trend baru rupanya pada pesta–pesta pernikahan sekarang, yaitu dibuat photo booth dimana para tamu bisa membuat photo dengan latar belakang sesuai dengan thema acara pernikahan tersebut. Mengantisipasi kecenderungan masa kini untuk mengunggah foto seluruh aktifitas ke jaring sosial terutama facebook.

Oupfs…… ternyata, perjalanan panjang kami belum selesai. Kami kemudian terhadang oleh antrian tamu yang juga baru tiba. Tidak ada celah yang bisa dilalui untuk masuk ke dalam ruangan utama, untuk mencicipi hidangan terlebih dulu, sambil menunggu antrian yang panjang mengular tersebut menipis. Cuma ada satu pintu yang dijaga oleh, terkaan saya, para abang–none Jakarta. Maklum …. Ibu mempelai perempuan dan mempelai lelaki adalah jebolan abang–none Jakarta …. Beda generasi tentunya.

Pintu tersebut rupanya akses yang disediakan untuk para VIP masuk menerobos antrian sehingga bisa langsung bersalaman dengan sohibul bait alias tuan/nyonya rumah. Ini juga bentuk diskriminasi dalam acara pernikahan yang agak bertentangan dengan kalimat penutup setiap undangan “ adalah sebuah kehormatan bagi kami bila ibu/bapak berkenan hadir dalam resepsi pernikahan… dst”. Karena penghormatan tuan/nyonya rumah hanya diberikan kepada para pejabat atau orang–orang yang diberi label “Very Important Person”. Penghormatan yang tidak hanya sekedar akses tersendiri, tetapi juga dilengkapi dengan ruang makan khuses yang nyaman dengan kursi-kursi dan meja–meja makan yang tertata indah. Sementara undangan biasa, silakan berdesakan cari makan yang terkadang sudah kehabisan pula …. (oupfs …. Protes terus….!!! Hehehe ….)

Untung saja, terdengar pemberitahuan bahwa undangan diperkenankan masuk melalui pintu khusus tersebut untuk mencicipi hidang terlebih dahulu, sambil menunggu antrian panjang. Maka masuklah kami melalui pintu tersebut, walau agak dipelototi oleh abang–none penjaga pintu yang mungkin tidak mendengar pengumuman tersebut. Mereka nggak tahu atau tepatnya belum merasakan bahwa daya tahan emak-emak berusia di atas 1/2 abad untuk berdiri lama, sudah jauh berkurang. Di dalam, kami bertemu dengan salah satu adik ibu mempelai perempuan yang mempersilakan kami menyantap hidangan terlebih dahulu.

Eits….. tunggu dulu …,!!! Ruang utama begitu padat dan pada beberapa meja saji yang tersedia, .....antrinya mak ……!!! Gimana mau makan ......? Sementara waktu sudah menunjukkan jam 20.30. Sudah lewat banyak dari jadwal rata–rata makan malam kami, ba’da maghrib. Maka menyingkirlah kami mencari tempat sajian makanan yang agak luang, yang rupanya berada di sisi kiri ruang utama yang mirip isi mangkuk cendol tersebut. Mencoba menikmati hidangan yang …., dari sudut pandang cita rasa kuliner, kurang lezat untuk kelas hotel berbintang. Dalam hal hidangan, rasanya belum ada yang mengalahkan hidangan di hotel Mulia–Senayan deh…

Begitulah … aku yang biasanya mengambil foto sambil menikmati suasana yang terbangun dan mengamati serta mengagumi ragam hias ruang resepsi menjadi agak skeptis dengan suasana yang ramai dan padat. Nyaris tidak ada ruang gerak yang nyaman tanpa harus bersentuhan dengan orang lain. Pengap ......!!! Akhirnya… usai menyantap hidangan kami bergegas masih harus masuk dalam barisan antrian yang cukup panjang sampai akhirnya sampai jugalah mengucapkan selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Jujur saja …. andai yang mengundang bukan termasuk keluarga, yang sudah merepotkan atau lebih tepat lagi sudah kurepotkan hingga harus “mengutus” anak buahnya mengantarkan undangan tepat di hari penyelenggaraan akad nikah sebelum acara resepsi tersbut, melihat antrian yang “aduhai” panjangnya itu, pasti aku sudah menggamit lengan suami untuk pergi meninggalkan atau tepatnya mengurungkan niat hadir dalam resepsi pernikahan.

Kejadian ini sudah sering terjadi saat kami diundang oleh beberapa kenalan yang kebetulan jadi pejabat. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada pengundang,  kami kemudian mencari tempat makan yang nyaman di sekitar lokasi resepsi dengan kondisi “salah kostum”. Seringkali, kami merasa kelaparan, karena harus berangkat begitu usai shalat mangrib tanpa sempat mengisi perut.

Ada juga beberapa pejabat yang cukup tahu diri, hanya mengundang “kenalan dekat” saja dalam jumlah yang terukur sehingga undangan merasa cukup nyaman dan tidak  merasa menjadi cendol yang berdesakan.
***

Begitulah kebiasaan penyelenggaraan pesta pernikahan yang dilakukan oleh orang–orang berpunya dan para pejabat di Indonesia. Mengundang ribuan orang yang berarti minimum ada 2 kali jumlah undangan yang akan hadir, tanpa memperhatikan berapa kapasitas ruang acara agar yang hadir merasa nyaman dan tidak membuang waktu terlalu lama saat akan memberi ucapan selamat.

Tentu tidak semua yang menjadi pejabat atau orang kaya yang melakukan hal tersebut. Beberapa kali aku menghadiri resepsi pernikahan pengusaha/pejabat kondang yang suasananya cukup nyaman. Antrian saat memberikan selamat, masih dalam batas toleransi. Mungkin mereka membuat beberapa acara, sehingga undangannya tersebar … Tidak menumpuk pada saat resepsi. Bisa juga sebagian undangan dialihkan karena pihak mempelai lelaki membuat acara “unduh mantu”.
***

Baru saja aja yang nyeletuk …. Memberi komentar atas lokasi check in di Facebook "Bagaimana dengan resepsiku pernikahanku puluhan tahun yang lalu?"

Seingatku … undangan yang disebar saat itu,  tidak terlalu banyak. Kala itu, gedung pertemuan yang biasa digunakan untuk acara resepsi pernikahan juga tidak banyak. Yang paling sering digunakan orang karena relatif luas adalah Gedung DKI–Blok G, Wisma Iskandarsyah di kawasan Kebayoran Baru dan Gedung Kartika Eka Paksi – Jl. Gatot Subroto. Dua gedung terakhir ini, sekarang sudah hilang. Kartika Eka Paksi, setelah dihancurkan dan digabung dengan Balai Kartini yang bersebelahan sekarang (kalau tidak salah) tetap menyandang nama Balai Kartini, tapi lebih sering digunakan untuk exhibition hall.

Wisma Iskandarsyah di kawasan Blok M, telah bersalin rupa menjadi deretan ruko. Gedung DKI–Blok G sepertinya sudah jarang digunakan karena sekarang sudah banyak gedung–gedung pertemuan mewah yang memang dibangun untuk tujuan itu. Hotel–hotel pun sudah dilengkapi dengan ball room yang siap menampung ribuan undangan. Tinggal tuan rumah saja yang harus pandai berhitung jumlah undangan yang pantas agar tamu masih merasa nyaman saat hadir. Tidak antri terlalu panjang.

Sejujurnya … aku kurang terlalu suka dengan resepsi pernikahan yang kuanggap berlebihan. Dulupun, mati–matian aku menolak resepsi pernikahanku. Apalagi pernikahan itu memang terlalu mendadak dan kedua orang tuaku tidak tinggal di Indonesia. Tapi ke dua orangtuaku memberikan alasan telak yang tidak bisa dibantah. Saat itu, pernikahan yang tidak dirayakan, sebagian besar dan umumnya karena pengantin perempuan sudah hamil sebelum terjadinya pernikahan. Sehingga pernikahanpun diselenggarakan hanya sebagai peresmian di atas kertas dan umumnya para orang tua malu menyelenggarakan resepsi yang dihadiri umum. Tentu orangtuaku tidak ingin ada omongan negatif seperti itu.

Alasan itulah yang diajukan orangtuaku dan membuatku tidak berkutik menolak. Beda dengan jaman sekarang …. Orangtua dan pengantin sudah tidak terlalu risi dengan kondisi ini. Jaman memang sudah berubah.

Itu pula sebabnya, pada anak–anakku, sudah seringkali kusampaikan bahwa syarat nikah untuk mereka hanya satu iman dan kemudian akad nikah dalam suasana kekerabatan yang intim. Jadi mereka jangan berharap adanya resepsi pernikahan besar–besaran yang akan diselenggarakan oleh kami, orangtuanya. Tidak elok …. Terasa kurang bermanfaat …
***

Minggu depan dan 2 minggu sesudahnya, adikku akan menyelenggarakan pernikahan anak sulungnya. Acara pertama adalah akad nikah dan resepsi pernikahan yang diselenggarakan pihak perempuan. Acara ke dua adalah unduh mantu yang akan diselenggarakan adikku.

Mati–matian, kupengaruhi dia agar tidak perlu menyelenggarakan unduh mantu. Bukan karena malas membantu dan menerimanya tinggal di rumah sehingga mempelai lelaki "turun" dari rumah peninggalan orangtua kami. Tetapi lebih karena pertimbangan praktis. Dana yang tersedia, lebih baik dialokasikan untuk membuat rumah bagi anaknya di atas tanah yang sudah dibelinya beberapa tahun yang lalu ….
“ Tapi …. aku kan ingin bikin pesta pernikahan anak….! Lagi pula dananya sudah tersedia kok, jadi nggak mengganggu biaya rumah tangga”. Begitu kilahnya.

Ya sudahlah …. Mau bilang apa …? Asal jangan berhutang saja … 
Soal berhutang saat menyelenggarakan pernikahan anak juga sudah bukan rahasia umum. Ini terjadi bukan saja di desa atau kota kecil. Suamiku pernah bercerita bahwa salah satu kenalannya berhutang ratusan juta demi menyelenggarakan resepsi pernikahan anaknya di salah satu gedung pertemuan megah di Jakarta. Haiyaaaa……….

Lupakah bahwa bermegah–megah itu bertentangan dengan ajaran Islam? Lebih konyol lagi kalau bermegah–megah sambil berhutang… Masya Allah ……!!!

Selasa, 07 Agustus 2012

Ramadhan Jadul - Persiapan Lebaran

Puasa di paruh pertama tahun 1960an dalam ingatan saya kegembiraan yang “suram”. Gembira karena kami semua menikmati libur panjang hampir selama 1,5 bulan. Dengan demikian, selama satu bulan penuh, sambil menunggu orangtua menunaikan shalat tarawih, anak-anak bisa bermain di halaman rumah atau bahkan di tengah jalanan yang memang masih sepi dari kendaraan bermotor.
Namun, tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa itu memang suram. Konon ekonomi Indonesia memang sudah menunjukkan arah kebangkrutan yang di kemudian hari baru saya tahu disebabkan oleh proyek-proyek yang disebut golongan Orba sebagai proyek mercusuarnya Bung Karno. Namun di balik pengetahuan anak usia SD kelas 2 – 4, saat itu, saya hanya mengenangkannya melalui beberapa peristiwa sehari-hari.
Saat itu, Indonesia memang sedang memasuki periode konfrontasi dengan Malaysia. Coretan-coretan anti Malaysia seperti “Ganyang Malaysia”, Malaysia boneka Inggris atau Malaysia antek Inggris bertebaran dimana-mana. Pada malam hari yang temaram, seringkali tiba-tiba terdengar bunyi sirine yang dibarengi denganpemadaman lampu. Kalau sudah begini, maka anak-anak wajib masuk ke kolong tempat tidur atau dimana saja mencari perlindungan. Ini dinamakan latihan bila ada serangan udara pada malam hari.
Bukan hanya konfrontasi saja yang menyebabkan kehidupan menjadi suram. Kesulitan ekonomi negara tercermin dari berbagai "fasilitas" yang biasa diperoleh para pegawai. Entah karena ekonomi Indonesia menganut gaya sosialis, saya hanya ingat bahwa setiap bulan selalu ada pembagian beras dari kantor dan setahun sekali saya ditugasi ibu untuk antri mengambil jatah kain/bahan baju. 
Pernah pada bulan-bulan tertentu, ayah saya membawa sekarung jagung pecah jatah pembagian kantor untuk makan kami serumah sebagai pengganti beras. Maka, hari-hari kemudian, selama sebulan kami akan menyantap nasi jagung tersebut. Di lain waktu, ayah membawa sekarung bulgur yang berwarna kecoklatan. Bagaimana rasanya…? Jujur saja, saya sudah lupa bagaimana rasa bulgur. Kalau rasa jagung, tentu masih tahu karena sampai saat ini saya masih sering dan suka menyantap cenil lengkap dengan getuk dan jagungnya. Apalagi perkedel jagung manis merupakan salah satu santapan kesukaan saya. Namun demikian, berbagai kesuraman itu tidaklah menyurutkan minat masyarakat untuk merayakan Idul Fitri dengan sebaik-baiknya.
Nah bagaimana masyarakat Betawi mempersiapkan lebaran? 
Pada paruh kedua bulan puasa, ibu-ibu mulai mempersiapkan kue lebaran. Semua memang harus disiapkan sendiri, karena toko kue belum umum. Andaikan ada, maka hanya orang-orang kayalah yang mempu membelinya. 
Umumnya mereka membuat kue semprit atau nastar. Kalau nastar, tahu kan? Itu lho, kue kering umumnya berbentuk bulat kelereng yang isinya selai nanas. Ada juga yang berbentuk bulat panjang seperti biji kenari. Membuatnya agak repot, karena kita harus terlebih dahulu menyiapkan dan membuat selai nanas. Kastengel…? Aduh… jauh deh… itu makanan orang kaya, karena keju sudah pasti sukar diperoleh.
Kalau kue semprit, ada nggak yang tahu benda seperti apa itu? Sekarang kue semprit disebut cookies terbuat dari adonan tepung mentega, telur dan gula. Kenapa disebut semprit? Karena untuk mencetak kue, adonan dimasukkan ke dalam contong kertas minyak yang ujungnya sudah disisipkan corong kecil yang ujungnya berlubang. Ada yang lubangnya datar, ada juga yang bergerigi. Kalau contong sudah terisi sekitar ½nya, maka ujung kertas akan dipelintir dan didorong agar kue keluar dari corong. Itu sebabnya disebut semprit. Mungkin diimaginasikan seperti saat kita meniup sempritan/peluit.
Corong yang lubang datar akan membentuk kue yang lurus-lurus saja, sedang corong bergerigi akan mengeluarkan adonan bergelombang seperti helai bunga. Lalu bagian tengahnya diberi bulatan kecil, biasanya adonan yang diberi coklat. Karena saat itu belum ada mixer, maka suara kopyokan telur ramai bersahut-sahutan dari rumah kerumah membentuk simpony indah khas ramadhan di perkampungan. Kadang-kadang ada beberapa tetangga yang saling bergotong-royong saling menyumbang bagian bahan kue yang dimiliknya, lalu memasaknya bersama untuk kemudian dibagikan.
Nenek saya yang keturunan Sunda-Betawi, selalu membuat geplak, kue satu khas betawi dan kue lapis legit selain tape ketan dan uli. Makanan buatan nenek saya itu legit dan enak sekali. Apalagi tape ketan dan ulinya. Duh, rasanya sampai sekarang saya belum pernah menemukan tape ketan selezat buatannya.. Selain itu ada penganan bernama geplak. Geplak adalah makanan kesukaan nenek saya. Jadi lebaran ibarat tidak bermakna tanpa geplak. Di luar lebaran, beliau seringkali membuatnya. 
Tahukan anda apakah geplak itu? 
Makanan ini dibuat dari bahan tepung beras dan kelapa parut yang disangrai, lalu dimasukkan ke dalam cairan gula merah atau biasa disebut kinca. Diaduk secukupnya dengan porsi tepung beras yang sangat banyak sehingga membentuk adonan basah sekedarnya dan bisa dipipihkan. Sudah… begitu saja. Sederhana sekali pembuatannya. Tapi, walaupun sederhana, persiapannya cukup lama karena kita harus membuat sendiri tepung beras. Saya lebih suka makan tepung beras yang sudah tercampur kelapa parut itu lalu ditambahkan gula pasir. Ini disebut sagon. Enak lho…, karena bahan-bahannya alami dan tepung berasnyapun masih baru. Yang mengagumkan ... walau usia beliau sudah cukup lanjut, menumbuk beras hingga menjadi tepung beras, dilakukannya sendiri. Bukan karena terlalu rajin, tetapi jangan bayangkan suasana pasar seperti masa kini dimana semua serba ada. Pada tahun 1960an, semua harus dikerjakan sendiri dan beruntunglah, bahwa karenanya semua bahan makanan dan kue2an masih alami, tanpa bantuan bahan kimiawi yang banyak digunakan saat ini.
Ibu saya, biasanya sibuk menjahit. Beliau memang bisa menjahit baju perempuan. Jadi semua baju anak-anaknya adalah buatannya. Apalagi, pada saat itu industri pakaian jadi masih sangat terbatas. Jarang orang membeli baju jadi. Department Store belum menjamur. Hanya ada Toko Matahari di Pasar Baru .. cikal bakal Matahari Department Store yang kita kenal sekarang dan satunya toko Mickey Mouse. Jadi hanya berbentuk toko biasa.

Bahan pakaian, seperti juga beras, berasal dari penukaran kupon. Sayang, saya nggak tahu bagaimana ayah saya memperoleh kupon tersebut. Apakah pembagian kantor atau membelinya. Bisa jadi itu adalah jatah pegawai BUMN, karena ayah saya bekerja di salah satu BUMN keuangan. Bahan pakaian pembagian itu, biasanya bisa dibuat baju untuk semua anak-anaknya. Jadi jangan heran kalau pada saat lebaran kami sekeluarga memakai baju seragam. Bukan karena disengaja seperti sekarang, tetapi jaman itu, lebih dikarenakan itulah kemampuan yang dimiliki setiap keluarga.
Saya dan adik-adik hanya bisa memiliki baju dan sepatu baru saat lebaran. Biasanya ibu saya akan menjahitkan 3 buah rok seragam dengan adik-adik. Bukan hanya seragam motifnya tetapi juga modelnya. Sepatu selalu beli di Pasar Baru. Ada satu toko sepatu kulit yang sangat terkenal. Modelnya bagus dan kualitasnya prima. Rasanya, semua orang di Jakarta kenal dengan toko SIN LIE SENG. 

Begitulah berlangsung hingga saya duduk di bangku kelas 6 SD, saat saya mulai melakukan protes-protes kecil agar tidak dibuat seragam lagi. Saat itulah ibu saya mulai membedakan warna dan model baju namun bahannya tetap sama untuk menghindari rasa iri di antara kami.
Sementara itu, ayah saya akan mengecat rumah kami yang setengah tembok dengan kapur sepulang kerja dan terutama di akhir minggu. Saat itu, jam kantor memang hanya sampai jam 14.00 dan karena kendaraan di Jakarta masih sangat langka, maka jarak tempuh dari kantor, cukup dijalani dalam waktu 30 menit saja dengan naik sepeda onthel. Kelak sesudahnya, jarak tempuh itu menjadi lebih pendek saat ayah saya mendapat fasilitas mobil impala yang luar biasa lebar...
Begitulah cara kami dan sebagian besar masyarakat Jakarta yang saat itu masih menjadi the big village, menyiapkan lebaran. Mungkin saat itu sudah terjadi perbedaan kelas sosial, sama seperti sekarang. Ada jurang pemisah antara kaum berpunya dan kaum proletar. Namun keterbatasan media informasi dan komunikasi menyebabkan dunia kami terbatas pada lingkungan kecil saja. Jauh dari hiruk pikuk.

Beruntungkah…? Entahlah! Setiap jaman memiliki problematikanya sendiri dan saya merasa kenikmatan menjalankan puasa pada masa kecil dulu, jauh lebih bermakna daripada apa yang dialami anak saya sekarang.

Jumat, 08 Juni 2012

Musim Menikah

Nggak tahu mesti nulis apa, kali ini. Mau nulis komentar tentang carut marut hukum di Indonesia, sudah terlalu banyak yang ngomong. Sampai bosan dengar di TV, radio dan dimana saja kita ketemu teman. 

Masyarakat sebetulnya sudah muak dengan “kebebalan” para aparat penegak hukum yang sudah terbutakan mata hati nuraninya. Bagaimana tidak, kalau orang yang mencuri 3 buah coklat, makan 1 buah semangka dan hal-hal yang remeh temeh saja sudah kena bui 1–3 bulan. Sementara yang ngemplang duit negara milyaran bahkan trilyunan malah merasa aman melanglang buana di luar negeri dari hotel ke hotel atau bahkan bisa jadi sedang menikmati rumah dan apartemen mewah nya di daerah elite manca negara. Yang juga sangat menyebalkan adalah karena pelaku korupsi sekarang adalah "orang muda" yang umurnya belum lagi mencapat 35 tahun. 

Jadi… daripada stress dan sebal karena hal itu, sekarang lebih baik kita nggosip aja ya… Kan perempuan suka gossip. 

Kebetulan, bulan Juni/Juli ini rupanya jadi pilihan banyak orang untuk menikah. Bulan baik kalau buat muslim …., karena biasanya, menjelang Ramadhan memang banyak dimanfaatkan orang muda untuk menikah.  

Menikah sepertinya dan memang sudah seharusnya menjadi tujuan hubungan dua orang manusia yang berlainan jenis kelamin …., gimana enggak, wong yang berjenis kelamin sama aja berniat mengikatkan hubungan sejenisnya melalui lembaga pernikahan kok! Jadi…, pantas saja kalau suatu hubungan kasih sayang yang serius di antara dua orang manusia akan bermuara dalam sebuah lembaga pernikahan. Namun yang seringkali dilupakan adalah… bahwa pernikahan bukanlah sebuah akhir dan tujuan dari sebuah hubungan kasih sayang tetapi justru awal dari kehidupan yang sebenarnya.

Sambil becanda di kantor, saya seringkali mengibaratkan bahwa menikah adalah mengikatkan diri untuk "terpenjara" bersama orang yang sama, seumur hidup oleh berbagai "aturan dan norma" baik yang "dibuat bersama", yang ada di masyarakat secara turun temurun maupun norma agama.
Kalau mau diibaratkan seperti sekolah/kuliah… katakanlah saat pernikahan itu seperti saat wisuda. Senang sekali karena tujuan/akhir perjuangan panjang selama sekolah sudah tercapai. Begitu juga dengan pernikahan…, perjalanan panjang selama “pacaran” sudah mencapai garis finish, dengan menikah. Kenyataannya, setelah wisuda dan pernikahan, kita malah menghadapi realita kehidupan yang sebenarnya. Kalau selesai sekolah kita masuk ke dunia nyata untuk bekerja secara mandiri, menghidupi diri dari “kemampuan” diri sendiri, begitu juga dengan pernikahan. 

Kita “melepaskan diri” dari “lindungan kenyamanan sebuah sarang” bernama keluarga dan membentuk sarang baru dengan anggota yang baru, yaitu istri untuk kemudian berkembang biak dengan anak-anak yang akan lahir. 

Menurut saya, ada persamaan dengan bekerja dengan perjalanan pernikahan. Perusahaan tempat kita bekerja dan para pekerjanya selalu berharap berkembang ke arah yang lebih baik, sehingga si pekerja bisa memperoleh posisi dan penghasilan yang lebih baik dari tahun ke tahun. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, maka keduanya bisa jadi akan “berpisah jalan”. 

Kalau jalannya perusahaan tidak baik, maka perusahaan mungkin akan mem PHK kan karyawannya. Begitu juga bila si karyawan lama-kelamaan merasa perusahaan tempatnya bekerja tidak lagi memenuhi harapannya, maka dia akan mulai “berselingkuh”, melirik kesempatan kerja di tempat lain untuk kemudian meninggalkan perusahaan tersebut untuk pada waktunya, pindah ke perusahaan yang baru.

Ini untuk karyawan yang punya potensi baik dan “mampu” bersaing di dunia kerja. Kalau karyawan yang kemampuannya “terbatas” dengan lagak sebagai loyalis dia akan tetap bertahan. Tapi bukan tanpa protes. Protesnya justru lebih “berbahaya” karena makin membebani dan merugikan perusahaan. Dia tidak lagi bekerja dengan baik, malah mencuri-curi waktu untuk cari kerja sampingan dan lain-lain sementara perusahaan mungkin tidak sadar. Atau kalaupun sadar, tapi mungki perusahaan tidak “mampu” mem PHK karena kewajiban membayar pesangon yang cukup besar. 

Itu sebabnya perusahaan yang baik selalu me “refresh” karyawannya, memberi “makanan” rohani berupa fasilitas pelatihan, liburan, jabatan dan lain-lain, termasuk juga memberi makanan jasmani berupa fasilitas kendaraan, gaji besar, bonus dan lain sebagainya

Tidak berbeda dengan dunia kerja, sebetulnya kehidupan rumah tangga juga selalu dinamis. Kalau pada awal pernikahan, tinggal sekamar di rumah mertua sudah sangat indah, pulang kantor kehujanan naik motor, makan di warung pinggir jalan sepiring berdua begitu indahnya. Namun keindahan itu juga terus berevolusi. 

Pasangan bisa jadi tidak lagi puas dengan kamar kecil di rumah orang tua dan ingin memiliki rumah, walau (relatif) kecil. Motor tidak lagi cukup bergengsi sebagai kendaraan sehari-hari dan mulai membutuhkan mobil. Mereka lalu membelinya walau mobil bekas. Makan tidak lagi cukup di warung, tetapi harus sudah mulai beralih ke café atau resto bergengsi, untuk menyesuaikan posisi di kantor yang mulai meningkat dengan alasan memperluas network. 

Itulah “tanda-tanda” perubahan dan peningkatan kebutuhan jiwa dan raga manusia yang kemudian salah kaprah menjadi life style pasangan muda terutama yang hidup di kota-kota besar dan berpendidikan tinggi lulusan luar negeri.

Sama seperti di perusahaan, pasangan mungkin perlu me “refresh” kembali perasaan, tujuan hidupnya. Kemudian bersama-sama mengevaluasi dan menyamakan kembali persepsi terhadap esensi ikatan perkawinannya. 

Seiring perjalanan waktu, “greget” perasaan terhadap pasangan hidup mungkin sudah berubah. Bukan karena tidak ada perasaan cinta/kasih sayang, tetapi bentuknya sudah sedikit berubah karena “sebuah kebiasaan merasa sudah memiliki, seatap dan seranjang” selama bertahun–tahun. Hal ini membuat pasangan suami istri seringkali “meremehkan” perasaan satu sama lainnya. 

Kita tidak tahu lagi kemana perasaan pasangan hidup kita mengembara. Karena memang perasaan dan pikiran bisa mengembara tanpa batas dan tanpa bisa dikekang oleh siapapun. Kecuali atas kesadaran dan kendali diri yang bersangkutan. 

Ketidaksamaan visi dalam pengelolaan keuangan rumah tangga, perbedaan pola pengasuhan anak maupun hubungan kekeluargaan dengan keluarga besar pasangan kerap kali memicu pertengkaran kecil yang bila tidak dikelola dan dikendalikan secara bijak akan menjadi gunung es yang mampu mengkaramkan bahtera rumah tangga setiap saat kita lengah.

Kalau ketidakpuasan dalam pekerjaan mudah diselesaikan dengan cara mencari tempat kerja baru, maka apakah akan kita perlakukan bahtera rumah tangga seperti kita meninggalkan perusahaan tempat kita bekerja, “berselingkuh” untuk kemudian melabuhkan bahtera di sandaran dermaga baru?Jawabnya seharusnya, tentu TIDAK. Namun konsisten dengan kata TIDAK itupun bukanlah hal yang mudah dijalankan.

Menyelesaikan masalah dalam sebuah ikatan pernikahan tentu tidak semudah seperti kita pindah kerja. Stake holder dalam sebuah pernikahan bukan hanya pasangan itu sendiri, tetapi juga ada anak–anak yang terlahir. Belum lagi kalau memperhitungkan keberadaan keluarga besar dari ke dua belah pihak. 

Anak merupakan tanggung jawab orangtua bukan hanya secara materi tetapi juga dalam hal pendidikan jasmani dan rohani. Orangtua bertanggung jawab untuk “mendidik” dan mempersiapkan diri mereka dalam menhadapi dan mencari solusi dari berbagai masalah sepanjang hidupnya. Anak juga merupakan “imitator” sempurna dari perilaku orangtua. Itu pula sebabnya sering kita dengan peribahasa like father like son atau like mother like daughter.

Orangtua yang “menggampangkan” segala sesuatu secara tidak sadar telah mengajarkan perilaku tersebut kepada anak–anaknya. Tetapi mempersulit hal yang mudah atau menunda–nunda penyelesaian masalah juga bukanlah contoh yang baik bagi anak.

Week end yang baru lalu, saya membaca artikel di suatu majalah bahwa anak–anak yang lahir dari keluarga kecil dan telah terbiasa hidup dalam kecukupan dan segala kemauannya terpenuhi dengan mudah, cenderung memutuskan segala sesuatu tanpa pertimbangan yang dalam. Mereka terbiasa hidup senang, sehingga kadar tenggang rasa terhadap oranglain cenderung tipis. Ini berbeda dengan anak yang terlahir dari keluarga besar yang selalu berbagi dengan kakak atau adik. Mereka telah terlatih sejak dini untuk berbagi dan bertenggang rasa kepada siapapun. Tapi hal ini hanya merupakan salah satu faktor saja. Komunikasi yang terus menerus harus tetap dijaga. 

Jadi tatkala kita dengan pasangan bercerai dengan alasan ketidak cocokan yang disebabkan timbulnya perbedaan visi dan misi dalam berumahtangga, itu sama saja mempertahankan kehidupan yang statis. Kehidupan selalu dinamis, bergerak sesuai dengan perkembangan jaman.  Seperti yang sudah disebutkan di awal tulisan. Oleh karena itu, visi dan misipun perlu dievaluasi dan disamakan kembali. Hal lain yang penting untuk diingat setiap pasangan adalah … lihatlah kelebihan pasangan kita dan lupakan kekurangannya, karena kita sendiri juga penuh dengan kekurangan yang harus “ditelan dan diterima” oleh pasangan.

Minggu, 04 Maret 2012

Anak dan Konsumerisme

Sejak beberapa tahun terakhir ini anakku selalu membujukku untuk membelikannya sepatu/sandal Crocs atau Nike setiap kali dia membutuhkan sepatu/sandal. Anak yang satu ini memang relatif seringkali mengganti sepatu/sandal. Bukan karena ingin memiliki banyak koleksi sepatu/sandal tetapi memang karena struktur kakinya "memakan" sepatu/sandal. Ada saja bagian sepatu/sandalnya yang jebol dan ini berlaku menyeluruh, tidak peduli sepatu/sandalnya terbuat dari bahan yang "murah meriah", tetapi juga sepatu/sandal semacam adidas/kickers.

Entah apa yang menarik dengan Crocs. Bahannya dan modelnya, menurut saya, sama sekali tidak menarik. Padahal, semua orang di kota-kota besar Indonesia nampaknya sangat gandrung dengan Crocs. Tua muda bahkan hingga nenek-nenek. Mereka semua seperti tak peduli dan sangat gandrung dengan sepatu/sandal keluaran Crocs ini. Padahal harganya lumaan selangit ... ini yang asli, karena di pasar juga banyak sandal tiruannya.

Beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan wisata, salah satu peserta, nenek-nenek, yang diperkirakan sudah memiliki cucu, selalu memakai beragam jenis sandal/sepatu crocs dalam setiap kesempatan. Entah berapa pasang crocs yang dia bawa. Semula, aku tak terlalu peduli dengan apa yang dipakainya. Tapi, melihat perilakunya yang main borong segala macam barang bermerek di Gallery Lafayette - Paris dan bahkan berlian di Amsterdam, rasa ingin tahuku muncul dan mulai kuperhatikan penampilannya. 



Gila ....., nenek yang kebetulan suaminya dokter itu termasuk "korban merek" yang nggak pede kalau cantolan di badannya tidak bermerek terkenal. Dandanan dan apa yang tercantol di sekujur tubuhnya betul-betul salah kostum. Gimana nggak? Lha kalo selama perjalanan wisata itu, selain crocs-nya yang berganti setiap hari, gelang dan cincin bertabur berlianpun tak lekang dari pergelangan tangan dan jari-jarinya.

Nah, kembali pada permintaan anakku untuk minta dibelikan Crocs yang selalu kutolak, tentu bukan maksudku untuk berlaku kikir pada anak. Itu kulakukan karena aku nggak mau anakku sejak kecil terbiasa dipengaruhi trend mode. Perilaku untuk selalu tidak mau kalah dengan penampilan teman-temannya atau ingin dianggap termasuk pada suatu golongan, yang pada akhirnya menjurus pada konsumerisme. Apalagi dan sudah sangat dipastikan barang-barang konsumtif bermerek itu berharga mahal.

Aku berpikir, bahwa anakku harus percaya diri pada kualitas pribadinya, bukan atas apa yang dimiliki dan dipakai. Barang - barang bermerek dan mahal sama sekali tidak ada manfaatnya ketika digunakan oleh orang yang "salah". Yang "kampungan" akan tetap terlihat "kampungan" walau ditubuhnya digandoli berbagai macam barang mewah, karena dia tidak tahu kapan, dimana dan harus menggunakan apa untuk setiap kesempatan. Semua diborong jadi satu agar orang lain melihat betapa dia menggunakan semua barang bermerek.. Yang intelek juga tidak akan kehilangan kualitas intelektualnya walau dia hidup dan berpenampilan sederhana serta menggunakan barang-barang berkualitas sederhana.

Tanpa harus menonjolkan barang-barang bermerek tertentu yang digunakan, setiap manusia juga sudah akan terlihat dari kelas mana dia berada. Jadi tidak perlu ditambah-tambah dengan segala sesuatu yang mahal agar "dianggap dan diperhatikan" oleh lingkungannya. Apalagi kalau yang mahal itu diperoleh dengan sedikit "agak memaksakan" diri, bayar mencicil ... pakai Credit Card yang pada akhirnya menjerat diri sendiri.

Kehidupan kota besar yang hedonis ini memang membuat kita menjadi "salah tingkah" ketika kita harus berinteraksi sosial. Mau tidak mau, harus diakui bahwa ada segelintir manusia yang membatasi lingkup pergaulannya berdasarkan materi yang dimiliki. Mereka juga hanya akan bergaul dengan orang-orang yang dianggapnya "sekelas".


Masih teringat, lebih dari 20 tahun yang lalu, saat masih tinggal di suatu perumahan di pinggiran Jakarta, ada ibu-ibu di perumahan tersebut yang mengadakan arisan khusus untuk "pemilik" mobil BMW.

Adik iparku bercerita bahwa di lingkungan perumahannya, yang kebetulan salah satu perumahan kelas atas di Bandung, ada kelompok arisan yang "tarikannya", saat itu, adalah mobil Kijang terbaru. Bisa dibayangkan berapa juta rupiah uang arisannya, kalau pesertanya dibatasi hanya 20 - 30 orang saja. Bagaimana kalau suatu saat setelah mendapat gilirannya, tiba-tiba si peserta menghilang atau tidak mampu meneruskan arisan.

Di kantorku ... ada seorang teman yang seringkali mendapat tamu, teman baiknya, yang seringkali mampir ke kantor setelah "kulakan". Kulakannya, walaupun barangnya kecil mungil, .... amboi... nggak main-main ... Yang paling murah harganya 5 juta dan pernah suatu saat dia membawa barang berharga 200 juta yang akan diantarkannya atas pesanan istri seorang pejabat. Tentu saja mahal, karena kulakannya itu adalah perhiasan berlian. Tidak bisa dibayangkan, kalau si ibu memakai perhiasan seharga 200 juta, lalu tas Hermes yang katanya berharga juga hampir seratus juta rupiah, lalu arlojinya yang pasti juga berharga mahal .... Aduh.... bayangkan kalau si ibu dijambret. Pasti hasil jambretannya bisa digunakan untuk beli rumah ...

Hihihi ... Tapi percaya deh ... kalau dia lewat di depanku, percuma ...!!!  Aku nggak ngerti dan nggak peduli dengan barang mahal, jadi nggak bisa menghargainya... Wah, terbayang pasti dia sakit hati, upayanya memakai barang berharga tidak diperhatikan orang. Padahal, tujuan memakai barang mahal, kan salah satunya supaya diperhatikan orang.

Seorang anak Balita, tentu tidak mengerti apakah bajunya berharga mahal atau bermerek. Anak berpakaian sesuai dengan apa yang dipakaikan padanya sejauh terasa nyaman dan tidak mengganggu geraknya. Tanpa disadari, sebetulnya, perilaku ibu konsumtif sangat besar pengaruhnya terhadap keinginan anak-anaknya. Pada awalnya ... anak kecil tentu tidak menyadari keberadaan barang bermerek. Keinginan ibunya untuk "menonjolkan dan membedakan" anaknya dari segi kemampuan materilah yang mendominasi pemilihan barang-barang yang digunakan si anak. Tentu, karena itulah akan banyak orang yang mengagumi si anak. Mengagumi bukan saja kelucuan si anak, tetapi juga apa yang dipakainya. Dari situlah tersemai bibit "ingin menjadi pusat perhatian" pada di si anak. Hal ini akan terbawa hingga besar. Beruntunglah bila kita sebagai orangtua mampu memenuhi keinginan anak. Tetapi kalau tidak? 

Lepas dari kemampuan ekonomi orang tua, bukankah lebih baik lagi bila kita memupuk rasa percaya diri si anak melalui kualitas diri, bukan pada benda-benda artifisial seperti itu?

Lalu, apakah aku tidak tertarik dengan barang bermerek? Pernah .... pernah!!! Dulu sekali... saat kuliah tahun pertama dan kedua. Kesempatannya memang ada .... Tapi, lama kelamaan terutama setelah menikah dan harus keluar uang sendiri untuk memperoleh barang bermerek itu, terasa betapa mahal harga barang-barang tersebut. Walau kualitas barang-barang bermerek itu memang berbeda.

Sekarang ... ? Ada satu dua barang-barang seperti dari Lancel, Aigner, Burberry, Kate Spade yang umumnya berbentuk dompet kepit. Tapi, kesemuanya itu kudapat sebagai oleh-oleh dari istri boss, saat dia melakukan perjalanan ke mancanegara. Untuk beli sendiri...? Nggaklah ... sayang uangnya! Masih banyak yang bisa dimanfaatkan daripada hanya sekedar memuaskan nafsu. Aku lebih suka apa adanya ... Nggak harus bermerek, yang penting sesuai kemampuan. Banyak juga barang berkualitas, walaupun tidak menyandang merek ternama, terutama kalau kita rajin dan teliti mencari.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...