Tampilkan postingan dengan label umroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umroh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2018

SISI LAIN DARI PERJALANAN HAJI DAN UMROH

Hampir setiap kaum muslimin selalu mengidamkan untuk melakukan perjalanan ibadah haji atau umroh. Karenanya sangat tidak mengejutkan bila minat melakukan ibadah haji dan umroh, sangat tinggi. Apalagi karena saat ini, masa penantian untuk mendapatkan “kursi” melakukan ibadah haji baik dengan ONH reguler maupun ONH Plus, sangat panjang. Konon kabarnya, di beberapa daerah yang peminatnya banyak, bila mendaftar tahun 2018 ini, paling cepat baru akan mendapatkan jatah terbang pada tahun 2030. Pengecualiannya adalah bila kita termasuk manusia lanjut usia alias manula yang berumur di atas 60 tahun, penantiannya bisa diperpendek. Seberapa lama? Wallahu’alam. Masih sebatas kabarnya.

Itu sebab, perjalanan umroh yang masuk kategori Sunnah menjadi “seolah wajib”, mengalahkan ibadah haji yang sesungguhnya wajib bagi yang mampu. Mampu biaya, fisik dan pengetahuan tata cara ibadah, walau kemampuan yang terakhir ini bisa diperoleh melalui kelompok bimbingan ibadah haji alias KBIH yang mengorganisir keberangkatan haji ONH reguler atau travel biro yang mengurusi keberangkatan haji swasta alias ONH plus. Plus fasilitasnya, minimal jumlah hari nya namun plus–plus biayanya. Minimal 2x dari ONH reguler. Bahkan ada yang biayanya hingga 5 atau 8x ONH reguler. Biarlah …. Mereka mendaftar sesuai dengan kemampuan finansialnya yang mau tak mau, secara tak langsung, menunjukkan status sosialnya di masyarakat.

Apa yang membedakan perjalanan haji pada tahun 1994, serta perjalanan umroh yang dilakukan pada akhir tahun 1995, tahun 2002, 2008, 2010 dan 2018 yang baru lalu?

Ibadah haji tahun 1994, dengan ONH regular seharga sekitar 8 jutaan, bisa dilaksanakan tanpa daftar tunggu. Bayar di bank penerima ONH, daftar, lalu tinggal tunggu kabar, masuk keloter alias kelompok terbang mana.  Begitu mudahnya sehingga kita bisa memilih KBIH alias kelompok bimbingan ibadah haji manapun yang kita inginkan. Dengan sedikit biaya tambahan, KBIH ini akan mengurus segala sesuatu agar anggotanya bisa berangkat bersama serta mengatur apakan akan berangkat pada kloter awal, yang berarti memiliki waktu yang panjang untuk adaptasi dengan suasana dan cuaca tanah Arab yang ganas, lalu pulang beberapa hari saja setelah ibadah haji selesai. Atau memilih kloter di tengah namun menuju Madinah terlebih dahulu sehingga memiliki waktu untuk penyesuaian disbanding yang langsung terbang ke Makkah, yang berarti langsung berjibaku dengan kepadatan kota Makkah di tengah kelelahan perjalanan dari tanah air ke Jeddah, tetapi harus langsung melakukan umroh untuk, beberapa hari kemudian berwukuf di padang Arafah. Bagaimana kondisi perjalanan haji saat ini terutama untuk ONH reguler? Entahlah … Berharap jauh lebih baik.

Perjalanan umroh pertama pada akhir tahun 1995, dilakukan dengan “gaya eksekutif muda”. Tahu maksudnya? Mencari fasilitas wah, hotel bintang 5, tak peduli harga mahal, walau ternyata kegiatan banyak dilakukan di dalam masjid. Namun pada tahun 1995, biro perjalanan umroh memang masih terbatas, termasuk juga tentunya, peminatnya. Mungkin itu sebabnya, maka fasilitas yang ditawarkannya memang serba wah, apalagi dilengkapi dengan perjalanan terusan ke Jerusalem. Kalau tidak salah dengan biaya USD 2.850 yang saat ini setara dengan hampir 40 juta rupiah untuk 2orang/kamar. Jadi kalau dibandingkan dengan biaya umroh sekarang yang konon hanya 15 juta sd 18 juta untuk 4 orang sekamar, untuk ongkos umroh dengan sebutan promo, sepertinya ada penurunan biaya. Tapi memang, harga sebesar 15 juta hingga 18 juta sangat minim untuk memberikan pelayanan yang baik …. Biaya Umroh dengan fasilitas 5* untuk 2 orang/kamar tetap saja di atas 30 juta. Namun apapun juga, kalau dihitung dalam mata uang USD, biaya umroh kali ini lebih murah dibandingkan dengan tahun 1990an. Mungkin karena biro perjalanan umroh sudah terlalu banyak, jadi walau peminatnya banyak tetap saja ada persaingan tidak sehat untuk meraih sebanyak mungkin jamaah melalui berbagai program. Ada program back packer, program promo dan seterusnya.

Bicara mengenai kondisi di Makkah dan Madinah, ada banyak perbaikan menyolok terutama di sekitar masjid utama yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Berbagai fasilitas ditambahkan seperti hotel dan toilet umum, walau untuk itu kemudian menghilangkan sebagian situs bersejarah. Sebut saja sumur zamzam yang pada tahun 1990 bisa dimasuki dari pelataran tawaf, sekarang sudah tidak terlihat lagi dan nyaris terlupakan dimana lokasi tepat dari sumur zamzam tersebut.

Begitu juga dengan toilet yang sekarang sudah diperbanyak, terutama di luar al Haram. Ada pertanyaan menggelitik ….., mengapa dari puluhan bilik toilet umum, hanya ada sekitar 10% sampai 15% saja yang berbentuk kloset duduk, sementara sebagian besar berbentuk kloset jongkok. Memang …. Ditinjau dari sudut pandang kesehatan, konon penggunaan kloset jongkok, jauh lebih menyehatkan dibanding dengan penggunaan kloset duduk.

Dilihat dari sudut pandang kebersihan, dengan menggunakan kloset jongkok, tidak ada bagian tubuh kita (kecuali kaki) yang bersentuhan dengan kloset, sehingga kuman tidak akan masuk dan bersentuhan dengan organ intim, terutama organ intim perempuan. Lalu, posisi jongkok menyebabkan tekanan pada perut, sehingga saat BAB, seluruh kotoran dalam tubuh bisa dikeluarkan dengan tuntas. Namun …. bagi orang dengan postur tubuh besar apalagi sudah berumur, kloset jongkok menyulitkan untuk berdiri, termasuk walaupun sudah dilengkapi dengan pegangan untuk membantu kita berdiri.

Perbaikan fasilitas yang hampir menyeluruh ini dilaksanakan di area masjidil Haram termasuk perluasan area shalat yang konon diharapkan selesai pada tahun 2020 untuk menampung 10 juta jamaah saat shalat fardhu. Mungkin nantinya akan membingungkan kalau berbicara soal fadillah atau pahala shalat 100.000 kali di area perluasan Masjidil Haram yang jelas-jelas lokasinya jauh dari Kabah. Lha wong …. Bukit Safa dan Marwa yang lokasinya sangat dekat dari Kabah saja sudah terhitung berada di luar area al Haram. 

Ah biarlah ….. Allah semata jualah yang akan menilai sah atau tidaknya ibadah manusia. Ikhlaskah kita dalam menjalankan ibadah tersebut atau semata-mata hanya menjadi pemburu pahala? Ini mungkin yang perlu ditanamkan pada para jamaah. Beribadah itu, apalagi di al Haram, hendaknya dilaksanakan karena keikhlasan menjalankan perintahNya … bukan berdasarkan transaksi dagang …. yaitu beribadah karena mengharapkan imbalan pahala. Wallahu’alam.

Dari semua perubahan-perubahan tersebut, ada satu hal yang tidak terlihat banyak perubahan, yaitu soal kebersihan toilet dengan konsekuensi, tentunya bebauan yang mengudara di seantero area toilet. Mengapa terjadi begitu …..?

Kalau boleh jujur …. harus diakui dengan rendah hati bahwa sebagian besar jamaah Haji maupun Umroh adalah mereka yang berasal dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka yang memupuk mimpi ingin berkunjung ke Baitullah dengan menabung sedikit demi sedikit penghasilannya, bahkan menabung hampir sepanjang hidupnya. Mengiringi kondisi itu, tentu tata cara hidupnya berbeda dengan mereka yang berasal dari strata sosial di atasnya. Begitu juga dengan standar kebersihan yang dianutnya.  Jangankan penggunaan kloset duduk, penggunaan kloset jongkok yang memiliki tangki bilaspun menjadi suatu hal yang aneh bagi mereka. 

Mereka tidak mengerti bagaimana membersihkan kotorannya. Apalagi kalau menggunakan kloset duduk lengkap dengan kertas toilet. Walhasil …… kerap kali kotoran manusia masih berada dalam kloset ditinggalkan begitu saja. Sama sekali tidak higienis dan pasti menguarkan bebauan tak enak. Kasihan sesungguhnya kepada petugas kebersihan. Tapi apa mau dikata? Lack of communication ….. petugas kebersihan yang berasal dari negara–negara miskin seperti Pakistan dan Bangladesh (untung belum menemukan orang Indonesia) tidak mampu berbahasa Inggris kecuali mungkin bahasa Arab sekedarnya. Sama juga dengan jamaah dari golongan bawah yang tidak mampu berbahasa asing kecuali Bahasa daerah atau Bahasa nasionalnya.

kompartemen toilet di pesawat
Sampai saat ini, saya mengalami trauma berat akan kebersihan toilet di Wilayah Timur Tengah ini. Rasa waswas manakala harus menggunakan toilet selalu mengiringi dan sialnya hal yang selalu dihindari justru dijumpai … Ya .. itu tadi … kloset penuh kotoran atau kalaupun tidak ada kotoran, tetapi bebauan yang aneh bin ajaib membuat perut mual. Ini masalah yang sangat umum dalam perjalanan di area Timur Tengah. Walau Saudi Arabia adalah Negara kaya dan tentunya mampu memberikan pelayanan kebersihan dan peralatannya yang prima, namun karena mayoritas pengguna fasilitas umum tersebut berasal dari golongan bawah maka upaya tersebut menjadi terlihat sia–sia.

Sebetulnya, masalah penggunaan toilet sudah dimulai sejak jamaah naik pesawat. Seperti sudah dikatakan, sebagian besar jamaah haji dan umroh adalah mereka dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah yang rendah pula pengetahuan umum, kemampuan berkomunikasi/bahasa dan standar kebersihannya. Bukan tidak mungkin, sebagian dari mereka adalah orang–orang yang baru pertama kali naik pesawat, jarak jauh pula. Rasanya selain manasik tentang ritual ibadah, untuk menyempurakannya, selain tata cara tayammum, calon jamaah haji dan umroh perlu juga dibekali dengan pengetahuan; mengapa untuk salat, kita harus melakukan tayammum selama perjalanan di atas pesawat, bukan menggunakan air untuk berwudhu di toilet pesawat. Dalam pengertian mereka selama ini, “haram bertayammunm” bila masih bisa dijumpai air, walau sedikit air di toilet pesawat. Ini menyebabkan toilet di pesawat seringkali basah dan tentu saja memancing “kegeraman” awak pesawat.

Peralatan yang ada di dalam toilet pesawatpun kerap kali menjadi masalah. Dari hal sederhana, bagaimana mengunci pintu toilet, menggunakan flush/pembilas kotoran, anjuran membersihkan wastafel setelah menggunakannya, tempat pembuangan kertas yang telah digunakan, sering tijdvak dimengerti. Akhirnya kertas seringkali dibuang begitu saja di lantai toilet pesawat.

Kamar mandi hotel Bintang 4
Bayangkan saja … manakala, kita duduk dekat toilet, lalu ada seorang lelaki tua, tanpa mengunci pintu lalu mengangkat tinggi-tinggi gamisnya untuk kemudian menurunkan celana panjangnya lalu melakukan hajatnya tanpa merapatkan pintu  toilet sehingga bagian tubuhnya terlihat dari luar. Terpaksalah meminta bantuan orang lain untuk merapatkan/menutup pintu toilet agar auratnya tidak terlihat dari luar oleh lawan jenis pula.…. 

Astaghfirullah ….. diberitahupun, ternyata dia tidak mengerti dan curant berkenan … Sudah dibantu untuk menutup pintunyapun, dia merasa terganggu, terlihat dari wajahnya yang terlihat marah manakala dia keluar dari restroom.  Mungkin ketakutan tidak bisa keluar dari restroom atau apalah …., Yang pasti… orang yang sama melakukan kesalahan yang sama berulang kali selama perjalanan.

Penggunaan kamar mandi hotelpun seringkali bermasalah. Mereka yang tidak terbiasa menggunakan kloset duduk, bath tube lengkap dengan hand atau head shower, pengatur suhu air dan sebagainya. Kebiasaan mandi dengan air berlimpah dan gayung ditangan, tidak bisa dilupakan. Akibatnya, alih–alih masuk bath tube dan menggunakan hand shower atau fixed shower, sebagian orang justru memfungsikan bath tube sebagai bak mandi, mengisinya lalu mandi di luar bath tube dengan air yang sudah ditampungnya. Jadilah kamar mandi yang seharusnya kering, menjadi basah penuh air.


Kiranya … agar ibadah haji/umroh jamaah lebih sempurna dan mengurangi hal–hal buruk yang terjadi, rasanya dalam manasik/pertemuan yang biasanya dilakukan menjelang keberangkatan, jamaah perlu juga dibekali juga dengan tata cara menggunakan toilet di pesawat lengkap dengan pembekalan atas peralatan yang ada dalam pesawat. Let says pengetahuan tentang “the DO and DON’T” dalam pesawat, lengkap dengan penjelasan “MENGAPA”nya. 

Tata cara ibadah bisa dilaksanakan dengan sangat baik karena ada bimbingan muthowif, namun selama di pesawat, di peturasan alias bilik toilet umum atau dalam penginapan, mereka harus mandiri dan mengetahui tata cara penggunaan peralatan yang ada. Dengan demikian kita bisa berharap bahwa perjalanan dan ibadah yang dilakukan bisa lebih sempurna.

Gua HIRA - MISSION ACCOMPLISHED

Mercu Suar Pulau Lengkuas
Sama sekali tidak pernah terbayangkan untuk "naik gunung" walaupun untuk sebuah gunung yang kalau di Indonesia hanya pantas dinamakan bukit. Tapi bukit atau gunung ini memang sangat fenomenal dan bersejarah terutama dalam kaitan dengan turunnya ayat pertama al Qur'an yang menandakan awal turunnya agama wahyu yang berasal dari Allah SWT serta dalam perkembangan agama Islam selanjutnya terutama saat menjelang hijrahnya Rasulullah SAW ke Yastrib, yang sekarang dikenal sebagai Madinah al Munawaroh.

Adalah cerita tentang perjalanannya naik Jabal Nur serta mengunjungi gua Hira yang selalu diomongkan di meja makan atas lebih tepatnya semacam "provokasi" dari suami  manakala setiap dia pulang umroh sendiri, back pack bermodal tiket dan visa saja. Cerita "keseruan" mengunjungi gua Hira lengkap dengan cerita tentang nenek-nenek Turkish gemuk yang walau kepayahan berhasil mendaki gunung alias bukit setinggi 565m di atas permukaan laut tersebut. Kalau dikurangi dengan ketinggian permukaan tanah tempat start menaiki tangga, entah berapa ketinggian Jabal Nur. Mungkin sekitar 400 meter sampai dengan 550 meter saja.
Starting point

Begitulah hingga 3 atau 4 kali cerita tersebut masuk dan keluar telinga, saya tidak pernah tergerak untuk mendaki Jabal Nur, begitu nama resminya. Tempat dimana, di salah satu puncaknya terdapat gua Hira... 

Namun ketidak acuhan terhadap Jabal Nur dan gua Hira berubah total. Semuanya bermula pada acara family gathering ke Belitong, tempât tujuan wisata yang saat ini sedang happening, yang diselenggarakan oleh DTM-FTUI sekitar hampir 2 tahun yang lalu. Kala itu, salah satu tujuan wisatanya adalah mengunjungi pulau Lengkuas dimana terdapat mercu suar yang dibangun, kalau tidak salah, pada abad ke 19. Entah mengapa, saat itu ada dorongan untuk naik tangga mercu suar setinggi 18 lantai. Kalau satu lantai terdiri dari 21 anak tangga, berarti ada sekitar 378 anak tangga yang harus didaki. 

Maka pendakian mercu suarpun dimulai ..... Satu demi satu lantai dicapai, dengan beberapa kali perhentian untuk beritirahat dan mengatur nafas. Bimbang antara terus mendaki atau menyerah kalah lalu turun teratur. Suami saat itu tinggal di bawah menikmati kelapa muda dengan rekan-rekannya. Hanya anak gadis saya yang ikut naik ke platform mercu suar. Itupun dilakukan sendiri. Rupanya dia tidak sabar menunggui ibunya yang tertatih-tatih naik tangga. Sampai akhirnya platform mercu suar pun tercapai. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus perlahan, saya mengambil berbagai spot foto dan puncak mercu suar pulau Lengkuas di Belitong .  


Zamzam Tower mengintip dari balik gunung batu
Keberhasilan mencapai puncak mercu suar di pulau Lengkuas, menimbulkan keinginan dan niat... Andai suatu kali Allah SWT masih mengijinkan saya menginjakkan kaki ke tanah Haram, maka saya akan berusaha untuk mengunjungi gua Hira. 

Bukan untuk suatu kesombongan, tetapi untuk melakukan napak tilas perjalanan spiritual Rasulullah SAW yang selama sekitar 2 tahun sebelum beliau menerima wahyu dari malaikat Jibril berupa ayat pertama "IQRA BISMIRABBIKAL LADZI KHALAQ". Ingin merasakan bagaimana perjalanan beliau mencapai lokasi tersebut sekitar lebih dari 14 abad yang lalu.

Begitulah ..... setelah berdebat "keras" mengatur jadwal yang tepat untuk melaksanakan ibadah umroh, pada hari Senin 26 Maret 2018, usai shalat subuh, pada harı ke 2 keberadaan kami di Makkah, kami tidak kembali ke hotel untuk sarapan, tapi menikmati kopi dan roti di mall yang berada di lantai dasar zamzam tower. Sekedar mengisi perut saja. Perjalanan ke Jabal Nur ini memang tidak diketahui oleh tour leader maupun Muthowif, karena sadar belum tentu diizinkan. Selain tidak termasuk dalam program perjalanan, mendaki jabal Nur, bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh jamaah umroh/haji dari Indonesia.

Berbekal masing-masing 1 botol air zamzam, kami memesan taxi uituk mengantar ke kaki Jabal Nur, tempat dimana jamaah memulai pendakian, dengan biaya 20SAR. Perjalanan dari area masjidil Haram ke kaki Jabal Nur, lokasi yang beraad di Tengah pemukiman setempat, mungkin dicapai dalam waktu sekitar 15 menit saja. Dengan mengucap bismillah tepat jam 07.00 ksa kami memulai pendakian. 

Dari jauh, pada pemandangan ke arah Jabal Nur ... iring-iringan jamaah yang beringt mendaki, mulai terlihat mengular. Area pendakian terdiri dari untaian tangga selebar sekitar 2 hingga 3 meter yang dibatasi oleh tembok batu setinggi 50cm, sehingga mereka yang kelelahan, bisa beristirahat dan duduk di atas tembok tersebut. Di sebagian lokasi, bisa ditemukan tangga railing/pembatas tembok, namun hanya sedikit sekali yang menggunakan railling besi, itupun ala kadarnya.


Jamaah yang berniat menuju gua Hira
Yang terasa berat, adalah karena anak tangga yang ada tidak memiliki ketinggian standar. Sepertinya dibuat penduduk yang kemudian dimanfaatkan sekaligus sebagai sarana mengharapkan sedekah dari pengunjung. Dengan demikian, ada anak tangga yang nyaman diinjak, tetapi ada juga yang relatif tinggi, sekitar 30cm sehingga sukar dicapai, apalagi kalau ditambah dengan lebar anak tangga yang minim.  

Setelah hampir 2 jam mendaki dengan beberapa kali berhenti, mengambil nafas dan beristirahat, tibalah kami di puncak Jabal Nur..... Selesaikah? ..... Oh, ternyata belum .... kami masih harus menuruni bukit yang kali ini padat manusia, karena jaraknya hanya sekitar 20m saja dari gua Hira. Sudah kepalang tanggung ...... bukit dituruni dan masya Allah ... untuk memasuki gua Hira, kami harus melewati celah batu yang hanya bisa memuat satu orang saja. Itulah satu-satunya jalan masuk dan keluar gua Hira. Riuh dan sesak karena orang yang mau masuk dan keluar seringkali tidak ada yang mau mengalah. Betis dan paha saya mulai terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, entah kenapa. Apakah karena aliran darah menderas atau signal lainnya.

Buat orang yang bukan termasuk golongan pendaki gunung, pendakian ke puncak gunung batu bernama Jabal Nur adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Udara kering gurun dan lingkungan bebatuan tanpa pepohonan sama sekali, menambah beratnya perjuangan menuju puncak. Beberapa kali kami menjumpai jamaah yang berasal dari Indonesia, yang mengatakan tidak sanggup lagi mencapai puncak dan memutuskan turun kembali. Sekali kami melihat seorang perempuan muda cantik, mungkin berasal dari negara Maghrib atau Iran, yang dipapah keluarganya. Paras cantiknya pucat berkeringat dan tanpa tenaga. Mungkin hampir pingsan dia, kalau tidak ditopang di sisi kiri dan kanannya.


Makkah dari puncak Jabal Nur
Dengan perjuangan berat karena sempitnya celah bebatuan ditambah dengan rendahnya bagian atas celah tersebut, akhirnya kami bisa mencapai muka gua Hira. Alhamdulillah ....
Usai berdoa dan istirahat sejenak, kami akhirnya memutuskan turun kembali lagi, melalui celah yang sama. Keinginan untuk sekedar duduk di area gua yang hanya bisa memuat 1 orang saja (mungkin hanya selebar 1x1,50m) harus ditepis habis-habis. Terlalu banyak antrian dan area sempit di muka mulut gua semakin dipadati orang yang umumnya berasal dari negeri Maghrib, Turki dan Pakistan.

Keluar dari area gua Hira melalui celah batu, ternyata menjadi masalah buat saya. Rupanya, untuk keluar  ada 2 celah batu sepanjang 1 meter untuk kemudian bertemu lagi dengan jalan masuk gua. Setelah suami berhasil keluar dari celah, saya ternyata gagal melakukannya. Rupanya celah batu itu tidak bisa mengakomodir besarnya paha. Ingin keluar melalui jalan masuk, sepertinya mustahil karena arus masuk begitu deras. Akhirnya pasrah membiarkan orang di belakang mendahului. Setelah melihat ada perempuan dengan postur tubuh lebih besar dari saya berhasil melewati celah batu, bangkit juga semangat untuk mencoba lagi. Bismillah .......... Horeeeee .... berhasil ... Tapi tunggu dulu .. perjalanan turun bukan juga hal mudah untuk perempuan dengan usia di atas 60 tahun.


menerobos celah batu
Bayangan bahwa menuruni bukit menjadi lebih mudah, ternyata salah besar. Saya pernah membaca suatu artikel bahwa sesungguhnya menuruni tangga menjadi jauh lebih berbahaya bagi struktur tulang manusia. Alamak ....... membayangkan yang buruk .... Ah semoga saja tidak terdapat osteoporousis yang bisa meretakkan struktur tulang tatkala menuruni bukit.

Konyolnya ... suami yang menjadi tumpuan untuk menuruni bukit, malah melesat turun sendiri. Terlalu ....... Baru 1/3 jarak dia menunggu, setelah puas menikmati jeniper alias jeruk nipis peras yang banyak dijual di sepanjang jalan.

Bila dihitung, total perjalanan mendaki Jabal Nur memakan waktu sekitar 3 jam, yaitu 2 jam saat mendaki dan saat menuruninya memakan waktu 1 jam saja. Semua perjalanan tersebut termasuk beberapa kali istirahat, manakala kaki dan semangat mulai menurun. 

Tepat jam 10.00 pagi, kami tiba kembali di area start dan mulai tawar menawar taxi. 30 SAR, tidak bisa curant dari itu, seperti dugaan. Pengemudi taxi tahu betul bahwa semua yang baru turun dari Jabal Nur sangat tergantung pada mereka. Para pendatang alias jamaah umroh, tentu sama sekali tidak tahu dimana bisa mendapatkan taxi lagi kecuali pada area tersebut. Dengan mengucap Alhamdulillah, kami tiba kembali di hotel, beristirahat sebentar, mandi .... lalu tidur.


bersujud di petilasan Rasulullah SAW
Saya sendiri lalu membalur bagian tubuh yang nyeri dengan salonpas cream untuk meredakan rasa sakit dan pegal, sebelum istirahat. Selama 2 harı setelahnya, pegal di betis dan paha masih terasa, sehingga untuk shalatpun terasa sangat menyakitkan. Namun kondisi tersebut, alhamdulillah tidak mengurangi keinginan untuk shalat berjamaah di masjidil Haram dan melakukan tawaf sunnah pengganti tahiyatul masjid.

Apa yang didapat dari perjalanan ke gua Hira? Minimal adalah menghargai dan menghayati perjalanan batin Resulullah SAW selama masa hidupnya di Makkah. Tidak terbayangkan bagaimana perjalanan naik ke gua Hira lebih dari 14 abad lalu. Tentu bukan tangga yang didaki, tetapi bebatuan gunung yang tajam yang harus didaki. HAnya orang-orang yang memiliki mental kuat yang mampu mendaki gunung batu tersebut. Gua Hira memang lokasi yang sangat ideal untuk berkontemplasi .... introspeksi diri dan menjauhkan diri dari godaan duniawi

Semoga perjalanan ini menjadi introspeksi, bahwa tidak ada yang mudah untuk mencapai apa yang diinginkan terapi juga segalanya bisa dicapai manakala kita teguh dan ikhlas berjuang untuk meraihnya,


Kamis, 01 Maret 2018

LOKASI VAKSIN MENINGITIS

Daftar Lokasi Vaksinasi Meningitis
Mereka yang berencana menunaikan ibadah Umroh tentu tahu bahwa salah satu syarat untuk bepergian ke Saudi Arabia adalah membekali diri dengan kartu kuning yang mengisyaratkan bahwa pemiliknya sudah mendapat vaksinasi Meningitis. Penyakit yang menyerang selaput otak dan bisa mengakibatkan penderitanya meninggal dunia.

"Dahulu kala", vaksinasi Meningitis ini sering diakali. Kartu kuning akan diurus oleh biro perjalanan terkait dan pemiliknya sama sekali tidak mendapatkan suntikan. Sebetulnya hal ini sangat beresiko, apabila kita tertimpa musibah dan disukai oleh virus tersebut.

Kini, sepertinya pemerintah tidak mau main-main lagi dengan resiko penyakit ini sehingga seluruh calon jamaah umroh, haji maupun TKI yang akan melakukan perjalanan ke wilaya Timur Tengahj, wajib mendapat suntikan vaksin Meningitis.

Yang menjadi masalah, karena vaksinasi tersebut merupakan bagian dari syarat perjalanan, maka tentu diperlukan dokumen pendukung sebagai bukti. Dengan demikian, vaksinasi ini tidak semudah meminta suntikan vaksinasi biasa yang bisa diperoleh "dimana" saja termasuk dokter praktek, klinik, puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah. 

Beberapa biro perjalanan memiliki kerjasama dengan dinas kesehatan setempat sehingga calon jamaahnya bisa dikoordinir untuk memperoleh suntikan di kantor biro perjalanan tersebut. Itupun tentu dengan syarat, kalau jamahnya memiliki jumlah yang cukup besar, umumnya sekitar 100 orang. Kalau tidak, tentu dinas kesehatan tidak mau melayaninya.

Selama ini, lokasi untuk memperoleh vaksinasi Meningitis berada di bandara atau pelabuhan serta bêberapa Rumah Sakit tertentu. Konon, tempat vaksinasi yang paling leluasa adalah di kantor kesehatan pelabuhan. Untuk di Jakarta ada di Cengkareng - area Bandara, lalu di area bandara Halim Perdanakusuma dan pelabuhan Tanjung Priok. Terbayang kan, kaal hards ke tempêta tersebut? Selain jauh dan memerlukan "semangat" juang yang tinggi karena jauh dan sudah pasti memerlukan waktu yang cukup panjang. 

Jadi bisa dimengerti Kalau banyak orang lebih suka mengunjungi rumah sakit antara lain RS Persahabatan di Rawamangun, RS Fatmawati di Jakarta Selatan, RS Sulianti Saroso ... nah yang ini entah berada dimana dan satu lagi, hasil browsing, diketahui, RS PON alias Pusat Otak National di Cawang, juga memberikan Layanan vaksinasi meningitis

Namun Rumah Sakit yang ditunjukpun belum tentu memiliki persediaan vaksin yang mencukupi sehingga mereka, selain merujuk pada hari-hari tertentu, juga memiliki kuota vaksin per harı jadwalnya. Itu sebab, untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit, calon harus antri sejak dini hari, minimal sejak jam 05.00 pagi untuk mendapatkan nomor mendaftarkan diri memperoleh vaksin. Itu baru ambil nomor untuk mendaftar lho .... Setelah itu, baru mendaftarkan diri di loket Rumah Sakit terkait yang baru dibuka sekitar jam 07.00. Dapat nomor pelayanan, baru bisa membayar biaya dan menunggu panggilan untuk mendapat vaksin. Sangat melelahkan, membuang waktu dan menyebalkan bagi orang-orang yang harus bekerja.

Jadi .... kalau mau cepat dan relative terlayani pada gari yang sama, lebih baik pergi ke kantor kesehatan pelabuhan; yaitu ke Cengkareng, Tanjung Priok atau Halim Perdanakusuma, yang seksrang Sudan pinda ke Cililitan Besar. Jadi tyda di area bandara Halim Perdanakusuma lagi. 

Untuk yang bertempat tinggal di wilayah selatan, mungkin lebih baik ke Cililitan Besar. Kuota per hari yang bisa dilayani hingga 400 orang dan pelayanannya cukup cepat. Persyaratannyapun hanya cukup menyediakan fotokopi passport saja.


Jumat, 08 Juli 2011

ironi dan kontradiksi TKI/TKW

Perjalanan ke tanah suci selalu bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan rekan - rekan senegara yang bekerja di berbagai negara Gurun dan bukit batu tersebut.

Interaksi pertama sudah dimulai begitu naik pesawat. Keberadaan para TKI/TKW sangat mudah ditandai karena mereka

 yang berangkat untuk pertama kali, umumnya memakai seragam. Tetapi, kalaupun mereka tidak menggunakan seragam, keberadaan mereka sangat mudah ditandai. Merekayang baru pertama kali berangkat, pada wajahnya, terlihat ekspresi "takut dan gamang", sementara mereka yang sudah beberapa kali berangkat sebagai TKI/TKW seringkali terlihat overacting dalam sikap maupun pembicaraan.

Berada dalam pesawat yang sama dengan mereka juga membawa nuansa khusus. Beberapa saat setelah pesawat lepas landas dan suhu udara mulai turun, maka bebauan khas negara asia, yaitu mulai dari minyak kayuputih, balsem dan minyak angin mulai berhamburan memenuhi ruang pesawat. Bukan tidak mungkin, "harum parfum" khas asia itu tercium pula hingga kabin bisnis. Entah apa yang dipikirkan oleh penumpang cabin class yang berasal dari negara non asia.

Penggunaan toilet menjadi masalah lain lagi. Toilet pesawat yang kecil, penuh dengan kabin2 kecil yang terisi dengan kertas2 toilet, tempat sampah, pelembab kulit, sabun hingga flush pembersih closet semua kompak mengisi ruang seluas 1x1.5 meter itu. "Kering" itulah kondisi yang seharusnya mutlak terjadi dalam kabinet lavatory tersebut. Namun, tanpa maksud merendahkan status sosial para TKI/TKW, kehadiran mereka bisa ditandai saat kabinet lavatory tersebut menjadi kumuh bahkanseringkali lantainya menjadi basah dan sampah kertas toilet berhamburan di lantai.

Bisa dimaklumi karena semua tulisan di dalam kabinet mini itu dalam bahasa Inggris. Dalam pesawat berlabel "maskapai penerbangan negara gurun" mungkin ada tulisan arab. Tapi siapa diantara mereka yang mengerti? Apakah selama di tempat penampungan/pelatihan, para TKI dan TKW dibekali pengetahuan tentang bagaimana cara berlaku/bersikap di dalam pesawat? Sama juga dengan para jamaah haji dengan fasilitas ONH biasa yang pada umumnya berasal dari kota kecil/pedalaman dan bukan tidak mungkin baru pertama kali bersentuhan dengan peralatan modern?

Kendala kedua, toilet kering dengan kloset duduk hanya ada dan biasa digunakan oleh penduduk kota. Masyarakat Indonesia umumnya masih lebih nyaman menggunakan kloset jongkok, bahkan dengan wc cubluk yang berada di atas kolam ikan dan menggunakan air satu ember besar untuk membersihkan kloset dan badan. Bagaimana mungkin dalam waktu sekejap mereka mampu menyesuaikan diri "buang hajat dan membersihkan diri" dengan air seadanya (di lavatory toilet tersedia gelas kertas mungil) dan kertas pembersih. Pasti ada kebingungan yang luar biasa. Atau kalau tidak terpaksa sekali .... mereka akan menahan hajatnya hingga mendarat di bandara walaupun setiba di bandara, bukan berarti masalah komunikasi/budaya/kebiasaan lalu selesai.


Dalam perjalanan "city tour" di sekitar wilayah Makkah, saya sempat ngobrol dengan supir bus yang berasal dari desa Cililin - Cimahi Jawa Barat. Dia sudah melewati 1,5 tahun masa kerjanya di Arab Saudi (SA -  Saudi Arabia).
"Sungguh bu .... saya tidak akan pernah kembali lagi ke Arab"
"Kenapa? Kan enak ... gaji besar, bisa berhaji ...!"
"Kalau dari hajinya sih iya... tapi kalau gaji, rasanya nggak jauh-jauh banget ... nggak terbayar dengan kesepian jauh dari keluarga dan harus menyesuaikan makanan. Apalagi kalo yang perempuan ... aduh rusak deh bu"
"Tapi, orang2 di kampung kan banyak yang lebih milih peri ke Arab, dibanding kerja di Indonesia"
"Gak ada kerjaan bu, masalahnya...."
"Iya, saya pernah denger kalau TKW di SA banyak yang rusak, makanya ada gosip, harga perempuan Indonesia cuma 50SR. Kalo gitu mestinya, bilang dong sama orang2 di kampung... itu bapak-bapak, jangan ngirim perempuan2 (anak atau istri) ke SA dong... Kalau mau dapet duit ya si bapak itu yang kerja ke SA...., bukan anak/istrinya?"
"Mestinya pemerintah bu, yang nglarang... Pemerintah cuma ngeliat SR nya aja sih..."
"Mesti dari dua arah... masyarakatnya, juga pemerintah. Kalau dari pemerintah nggak jalan, ya rakyat mesti tahu kalo kerja di SA atau negara2 Tim-teng bahaya buat keselamatan/kehormatan perempuan"
"Iya bu... tapi nggak gampang, kan orang taunya cuma duit aja... apalagi kalo liat tetangga yg pulang bawa duit terus bangun rumah, beli sawah dll... mereka nggak tahu darimana duit didapat. Gak semua dapat majikan baik yg suka kasih hadiah. Sebagian... apalagi yang sampe kabur dari majikan, banyak yg melacur atau kumpul kebo... saya tahu persis bu... makanya ngeri deh... Itu sebabnya saya nggak pengen balik lagi ke SA"

Pembicaraan sambil menunggu peserta umroh yang naik ke Jabal Rahmah terhenti, karena mereka sudah kembali mengisi bus, dan siap melanjutkan perjalanan melintasi Muzdalifa - Mina dan akhirnya kembali ke penginapan.
***


Dalam kesempatan lain, usai menunaikan umroh, kami sempat ngobrol dengan TKI yang bekerja sebagai petugas kebersihan Masjidil Haram. Dia juga sudah bekerja hampir dua tahun dan segera kembali ke tanah air. Sama-sama tidak ingin kembali ke SA untuk memperpanjang kontrak kerja, walau gaji SR 800 (hampir 2 juta rupiah) tentu lebih besar dibandingkan dengan gaji seorang petugas kebersihan di Jakarta.
"Berapa jam kamu kerja disini?"
"Biasa bu ... ada 3 shift"
"Beruntung juga ya kerja di Haram ... ada banyak orang Indonesia yg kerja di Haram?"
"Nggak bu, cuma ada 3 orang. Kebanyakan dari Pakistan dan Bangladesh. Kerja di Haram gajinya nggak besar, dibanding dengan di luar Haram.Bisa SR1200 - SR 2000"
"Oh .... tapi dapat fasilitas makan/penginapan dong"
"Kalau makan sih, nggak dapat bu, kalau tidur, disediain mess, kamarnya pake AC, antar jemput dari mess ke Haram"
"Ah ... lumayan jugalah.....!"
***

Di pelataran Sai bagian basement yang sejuk saat shalat Ashar, saya duduk bersebelahan dengan TKI asal Banjarmasin.
"Ibu dari mana?"
"Oh... saya dari Jakarta"
"Kapan datang bu? sudah berapa lama di Makkah?"
"Sejak minggu pagi kemarin .... insya Allah sampe Jum'at besok, ke Jeddah"
"Sudah umroh berapa kali bu... sudah cium hajar aswad?"
"Maksudnya...?",
"Nggak bu ... tanya aja.... ibu mau cium hajar aswad?"
"Oh ..... lihat situasi aja...."
"Kamu mukimin ya...? TKI? sudah berapa lama disini?"
"Iya bu ... mukimin, tinggal gak jauh dari Dyar inn (dia bilangnya diar en), sudah 3 kali balik. Yang terakhir itu saya ditangkap, terus dipulangin. DUlu kalo dipulangin gitu kita tunggu 1 tahun dulu terus baru umroh lagi. Kalo sekarang mesti tunggu 5 tahun baru bisa umroh. Sudah gitu bayarnya mahal .... Waktu saya berangkat bayarnya sudah 20juta... sekarang kabarnya sudah 26 juta"
"Lho .... kamu itu TKI, atau apa sih? Kok pake bayar segitu mahal....?"
"Wah ... saya sih gak mau pake PT bu... gak enak, gak bebas"
"Lho....?"
"Iya bu... kalo pake PT, kan 2 tahun gak bisa keluar - kontraknya kan gitu... makanya yang dari PT, biar dapet majikan jahat, gak berani keluar."
"Trus kamu gimana ceritanya...?"
"Saya kan ada sponsornya bu .... ya itu bayar 20 juta (sekarang konon 26juta), ntar begitu sampe Makkah... kita dijemput sama sponsor yang ada di Makkah, dibawa ke penampungan. Dari situ kita dicariin kerjaan ... kalo 1 atau 2 bulan gak betah atau gak enak ya keluar, cari di tempat lain. Jadi nggak terikat."
"ada banyak yang seperti kamu?"
"Banyak bu .... ada yang dari Jawa, Banjar ... Lombok juga ada bu!"

Awalnya.... saya 
ngga terlalu mengerti apa yang dimaksud perempuan muda  yang duduk di sebelah saya itu. Lama kelamaan saya teringat dengan Laila, perempuan asal Malang yang saya temui tahun 1994 dan banyak menolong saya memasak di setiap jam makan selama menunaikan ibadah haji saat itu. Rupanya .... inilah TKI illegal berkedok umroh - overstay.

"Jadi, apa kerjaan kamu sekarang?"
"Kalau lagi musim um
roh dan haji seperti sekarang, pemeriksaan agak longgar bu. Kan kami gak punya iqomah .. . Kerja kami sekarang bantu2 orang yang mau cium hajar Aswad. Kalau di luar musim umroh.haji 
... ya mesti hati-hati ... ngumpet di penampungan atau kerja di rumah2"
"Kalau nggak dapat kerja atau upah bantu cium hajar aswad, trus gimana cara bayar penginapan dan makan sehari-hari....?"

Perempuan muda itu diam ... tak menjawab pertanyaan saya hingga akhirnya shalat dimulai dan saat usai shalat... tempat di samping saya sudah kosong.. dia menghilang tanpa pamit. Saya teringat perkataan supir asal Cililin itu ... 
"Banyak perempuan kita, yang kumpul kebo dengan orang2 Pakistan atau Bangladesh bu... Mereka yang l
ari dari majikan, kalo nggak melacur, ya kumpul kebo ... Rusak semua bu..."
Astaghfirullah .... semoga perempuan di samping saya tadi bukan yang termasuk golongan pelacur/kumpul kebo itu.
***

Masalah TKI ke negara tujuan manapun juga, terutama ke negara-negara Timur Tengah, ternyata memang pelik. Mungkin sedikit berbeda dengan TKI/TKW ke negara Tim-Teng selain SA yang bisa dimonitor melalui PJTKI, TKI terutama TKW dengan negara tujuan SA, memiliki entry gate lain, selain melalui PJTKI, yaitu melalui biro-biro peralanan umroh yang sekarang banyak bertebaran di seluruh pelosok tanah air.

Mereka ternyata banyak mengerahkan TKW melalui jalur ibadah umroh. Calon TKI/TKW membayar biaya perjalanan laiknya peserta umroh, di Madina atau Makkah, sudah ada penampung TKI/TKW gelap .... Mereka tentu tidak punya ijin dan pasti tidak pula melaporkan keberadaan para jamaah umrohnya, karena ibadah umroh memang hanya menjadi topeng pengerahan tenaga kerja saja.

Betapa enaknya cara kerja mereka (pengerah dan penampung TKI/TKW tsb). Mereka sama sekali tidak mengeluarkan biaya perjalanan para TKI/TKW tersebut .... bahkan bisa jadi menangguk keuntungan dari biaya yang sudah disetorkan tersebut karena tidak ada kewajiban menyelenggarakan "land arrangement para peserta umroh" tersebut.

Mungkin pemerintah dan migrant care harus mulai memperhatikancara kerja biro perjalanan umroh yang beroperasi di kantong-kantong pemasok TKI/TKW di seluruh wilayah Indonesia.
Wallahu'alam  

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...