Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2018

LGBT Merangkai Duka

Copy Paste tulisan dari dr. Ani Hasibuan, ahli syaraf di RSCM, dengan sedikit editing tanpa mengubah esensi tulisannya

Dulu takut menjaga anak perempuan.. tapi sekarang, selain takut menjaga anak perempuan, kita jadi lebih takut lagi menjaga anak laki-laki.

***

Sekedar berbagi cerita dari poli syaraf untuk para orang tua, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah.

Sejak 1997 saya berurusan dengan para gay. Sampai hari ini belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV yang saya tangani. Yang hidup tinggal beberapa orang saja. Barusan suster saya lapor ada lagi yang meninggal 3 hari lalu, karena kriptokokus meningitis atau infeksi jamur di otak.

Dari pengamatan saya,  gay itu ada “kasta”nya.

  • Ada yang *dominan*; biasanya mereja yang punya uang dan lebih tua secara umur.
  • Ada yang *submissif*; kalau saya perhatikan, semacam “piaraan”. Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah. Ada juga yang kelas sandal jepit, bukan yang harga 18 ribu ya... 😔.
Perlakuan dari yang dominan pada piaraan juga berbeda, sesuai KW si piaraan. Yang KW original diperlakukan sangat istimewa. 

Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, USA. Dia di sini tinggal sendiri. 

Anaknya tampan, klimis dan kelihatan anak baik. Sang dominan sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget ya... Dominannya ini seorang aktivitis LSM anti HIV! Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus-elus punggung si submissif sambil bilang, “Sakit ya sayang? Yang mana yg sakit? Sabar ya sayang..”
Untung saya masih setia pada sumpah hipocrates. Kalau saya berkhianat, si dominan itu mau saya suntik fentanyl 1000 cc biar mokat, sekalian mampus..!. 

Tapi saya pernah juga dapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis TB. Jadi lumpuh kedua kakinya tiba-tiba. Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Itu dibentak-bentak, gak ada sayang-sayangnya. Si submissif ini tampilannya sih kelas sandal jepit, manggil dominannya "Abaaangg...” Jijik ya dengarnya 😖.

Ada juga piaraan bayaran. Satu pasien saya asal Jogja, sekarang sudah meninggal dengan Toksoensefalitis; bisul di dalam otak, karena kuman tokso yang sering nempel di badan kucing, anjing. Mengaku dia bayaran,  dipiara seorang laki-laki Cina untuk bayaran 1000 sampai 2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak dan istrinya... 😩. 

Dia ini sejatinya bukan gay, jadi semacam pelacur lelaki (gigolo) yang bekerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan HIV dan tokso, dia  menangis meraung-raung. Selama dirawat di rumah sakit, baca Qur’an terus. Kalau saya periksa selalu terisak-isak dan bilang menyesal. Pas ketemu bininya saya yg berkaca-kaca. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dengan dua balita yang juga berhijab. 

Ada juga gay kakak adik. Sejak kecil mereka dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tabu-tahu yang kakak kena kripto. Dicek HIV positif. Ditanya pasangannya siapa? Dia bilang adiknya. Pas adiknya dicek, positif juga HIV-nya. Keduanya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yang sama. Ayahnya hingga anak-anak itu dikubur pun gak pernah mau datang nengok.

Hati-hati dengan anak-anak.. Ajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba-coba menggoda (gay). Jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai2..!!

Pengalaman saya dari anak-anak yang kena goda para 'penyuka anus' ini,  mereka makin agresif kalau yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut. Tapi langsung berhenti kalau yang digoda langsung main fisik. Beberapa anak muda yg digoda gay konsultasi ke saya bersama ortunya. 

Bila anak bepergian, jangan ijinkan kalau sendirian...! Usahakan beramai-ramai, supaya nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa tawarkan apa saja; bisa uang, bisa bujuk rayu, bahkan ancaman.

Dari wawancara dengan pasien-pasien gay, mereka ini tadinya SEMUA pernah mengalami anal seks, sebagian besar secara paksa! Setelahnya mereka akan sangat dijaga dan ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi pergaulan gay, dst. 

Cerita tentang gay semua berakhir TRAGIS...!!! Belum pernah saya dengar yang berakhir seperti di cerita fairytopia... Misalnya berakhir seperti Cinderella, happily ever after... 

Kisah para gay berakhir dengan tokso, kripto, TB, pnemonia, kandida, dan diujungnya mati sendirian tanpa didampingi kaumnya.

Semoga bermanfaat..

----
💌 Bila Anda menganggap bahwa tulisan ini bagus dan perlu diketahui oleh banyak orang, tolong bagikan kpd teman, kerabat serta handai-taulan yg lain. Demi menyelamatkan generasi penerus bangsa.... 🇮🇩🇮🇩

Selasa, 20 September 2016

Arti sebuah nama

Dalam kehidupan, kita cenderung memberi nama pada apapun juga. Kepada manusia, binatang, tanaman, peralatan rumah tangga, kampung, kota, negara. Kita memberi nama kepada seluruh isi alam semesta ini. Mengapa ...... dan apa maksud dan tujuannya. Satu yang pasti adalah untuk membedakan yang satu dengan yang lainnya. Nama manusia menjadi lebih rinci lagi. Manusia satu dengan lainnya dibedakan dari namanya, walau seringkali ditemukan nama yang sama. Untuk binatang dan tanaman, diberi nama sesuai dengan spesiesnya. Tetapi binatang peliharaan (domestik) seringkali diberi nama laiknya kita memberi nama pada manusia. Berbeda antara satu dengan yang lainnya. Peralatan rumah tangga semisal mesin cuci akan dikenal dengan merek dagang dan typenya untuk membedakan satu dengan yang lain. Nama kampung dan kota, sekarang dapat dibedakan lokasinya dari kode pos untuk mempermudah kita mengenali secara lebih teliti. Kalau pemberian nama kepada binatang, tanaman, peralatan rumah tangga dan isi alam semesta lainnya sudah sedemikian "rumit", apalagi untuk memberi nama kepada mahluk hidup berlabel manusia.

Memberi nama anak mendapat perhatian yang sangat besar. Selain karena nama merupakan identitas diri, konon karena nama sejatinya adalah doa dari si pemberi nama kepada yang diberi nama, penghias, tumpuan yang dengannya ia dipangggil ketika di dunia dengan kepala tegak. Itu sebabnya, nama sebaiknya dan pada umumnya memiliki arti yang baik dan indah. Bahkan lebih jauh dari itu, Rasulullah saw sering mengganti nama seseorang yang baru masuk Islam, jika sebelumnya nama orang tersebut diketahui memiliki arti dan maksud yang tidak baik dalam pandangan Islam. 


Nama adalah sesuatu yang pertama didapat oleh seorang bayi yang terlahir, merupakan ciri spesifik yang membedakan dia dengan orang lain dan seharusnya diberikan oleh seorang ayah terhadap bayi sebagai tanda pewaris dan penerus generasi. Meskipun hanya sesuatu yang bersifat maknawi tetapi nama memiliki nilai yang amat tinggi melebihi materi. Sehingga orang akan lebih menjaga nama daripada hartanya, jangan sampai dilecehkan. 


Nama juga menunjukkan asal-muasal orang terkait. Suku bangsa/etnis, daerah, bangsa dan juga budaya dan juga kepercayaannya. Ada suku bangsa/etnis yang menamakan anaknya berdasarkan kondisi alam yang terjadi pada saat si anak lahir. Itu sebab ada orang yang dinamakan Bayu, Taufan, Guntur, Halilintar .... walau saya belum pernah menemukan ada seseorang yang bernama Angin atau hujan. Ada juga orangtua yang memberi nama anak dengan melihat kondisi kehidupannya saat itu. Yang paling umum digunakan adalah kata Prihatin.... Cuma anehnya kata prihatin lebih banyak dicantumkan pada nama anak perempuan. Pernah juga saya membaca nama Kasihani. Namun belum dijumpai nama Bahagia atau gembira. Oh .... ada......!!! Suatu saat saya pernah menemukan nama Gugum Gumbira ....orang Sunda, ditilik dari namanya. Ada pengulangan kata...


Ada juga orangtua menamakan anak berdasarkan nama negara atau kota dimana anaknya dilahirkan. Mungkin ingin menunjukkan bahwa anaknya dilahirkan di luar negeri lho .... Selain sebagai kenangan atas kelahiran si anak, tetapi ada suatu kebanggaan melahirkan anak, umumnya di luar negeri. Itu sebab saya pernah melihat nama seperti Belgiawan .... yang mengacu pada negeri kelahiran di Belgia. Malaysiawan untuk anak yang dilahirkan di Malaysia atau Zelandia yang dilahirkan di New Zealand.

Nenek saya menamakan 3 anaknya yang terakhir berdasarkan kejadian pada tahun si anak lahir. Anak yang lahir di tahun 1949, dinamakan Ris alias Republik Indonesia Serikat. Anak lainnya yang lahir pada masa pemerintahan perdana menteri Syafruddin Prawiranegara tentu dinamakannya Syafruddin dan yang paling unik adalah anak yang lahir pada tahun dibukanya terusan Suez ..... Maka jadilah si anak dinamakan Suez Canal. 


Sebagian lagi orangtua menamakan anaknya dengan nama depan yang sama. Mereka ini umumnya berasal dari etnis Jawa. Maka jangan heran bila ada keluarga yang seluruh anak-anaknya, bila lelaki, memiliki nama depan Bambang .... Bambang A, Bambang B, Bambang C dst atau Joko ....., Kalau perempuan diberi nama depan Endang, Sri dan seterusnya atau yang unisex diberi nama depan Koes, Sri dan sebagainya. Atau ada juga yang memberi nama belakang anak-anaknya gabungan dari penggalan nama kedua orangtuanya.


Sebagaimana sebuah peribahasa ... Apalah artinya nama.... Tapi kemudian kita sadari nama tidak sesederhana itu. Di dalamnya terkandung banyak hal... Doa, kenangan, kebanggaan, harapan dan banyak lagi. Beberapa dekade yang lalu, nama juga menyiratkan etnis .... Maka untuk orang yang lahir di ranah Minang, nama seperti Najamuddin, Nasruddin, Syamsuddin dan seterusnya seringkali ditemukan dan menjadi nama yang umum didengar dan dikenal. Di Jawa tengah, di kalangan kebanyakan, ada nama-nama seperti Tukiyem, Tugirah, Tugiman, Tukimin, Wagimin, Wakijo ( hihi .... ingat nama-nama guru saya di Xaverius jambi dulu), sedangkan di Jawa Barat, pada nama anak seringkali terjadi pengulangan, seperti Ajat Sudrajat ...., atau Engkos Kosasih atau yang seringkali jadi bahan becanda di kalangan keponakan saya adalah nama perempuan Ice Juice .... Ayo..... gimana bacanya....?

Kini .... nama anak Indonesia tidak lagi spesifik. Pengaruh Arab, Eropa atau sansekerta mempengaruhi penggunaan dan pemberian nama anak. Maka anak-anak abad ke 21 untuk kalangan beragama Islam, banyak yang bernuansa Arab, sehingga sulit diperkirakan, darimana dia berasal. Asli Indonesia atau keturunan Arab. Nama-nama Eropa biasanya banyak digunakan di kalangan etnis Cina atau entah nuansa apa lagi yang diinginkan kedua orangtua manakala mereka memberi nama anaknya. Yang pasti... panjangnya, rek .........!!! Ampun deh ..... dan juga sangat sulit dieja dan tentunya akan sulit ditulis kalau bukan si pemilik nama dan/atau orangtuanya menuliskannya terlebih dulu untuk kemudian disalin dengan penuh kehati-hatian.

Apapun juga, kita memang dianjurkan untuk memberi nama anak dengan nama yang baik, karena nama bisa memiliki pengaruh baik ataupun buruk kepada pemiliknya. Nama juga merupakan cermin pemikiran orang tua, apakah dia seorang optimistis, pesimistis, pendendam dan bahkan seorang yang memiliki pemikiran - pemikiran yang menyimpang. Namun, apakah karenanya.... kemudian, melalui pemberian nama kepada anak, kita akan kehilangan identitas budaya ...?

Kamis, 20 Agustus 2015

MEMBENTAK ....

Aduh duh ...... Maaf banget deh, gara2 mood nulis lagi lenyap, terpaksa copy paste tulisan orang .....

Membentak 

Tue Aug 18, 2015 6:19 pm (PDT) . Posted by: 

"S.Rahardjo" sinungra 

SEKALI MEMBENTAK, MILYARAN SEL OTAK ANAK RUSAK! (sekali membully? ??)


“Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.”

Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Eliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Eliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya.

Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anaknya,” Tidak hanya itu, juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati, jantung dan lainnya.

Teriakan dan Bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir semua orang mengetahui itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah, bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru.

Emosi negatif seperti marah mempunyai gelombang khusus yang merupakan gelombang yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini dapat bergabung dengan gelombang suara orang yang berteriak. Nah, gabungan gelombang suara dan gelombang emosi marah ini menghasilkan gelombang ketiga dengan efek yang khusus.

Efek dari gelombang ketiga ini adalah sifat destruktifnya terhadap sel-sel otak orang yang dituju. Dalam satu kali bentakan saja, sejumlah sel-sel otak orang yang dijadikan target akan mengalami kerusakan saat dia terkena gelombang ini, baik bila dia mendengar suaranya atau pun tidak. Hal ini karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana dia gelombang suara tapi langsung ditangkap oleh otak sebagaimana gelombang otak.

Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak yang dijadikan sasaran bentakan ini. Pada remaja dan orang dewasa mengalami kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan.

Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun serta termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka biasanya seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, pendidik, ataupun orang yang lebih tua dari ‘mereka’, sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik. Seringkali orang tua bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.

Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.

Mari yuk selalu memberi pujian tulus dan pelukan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang 😘😘

Senin, 27 Oktober 2014

siswa, sekolah dan orangtua

Hari Sabtu 25 Oktober 2014, bertepatan dengan libur tahun baru Hijriah, saya terpaksa membatalkan acara keluar kota untuk menghadiri resepsi pernikahan staff kantor. Pembagian raport tengah semester yang semula dijadwalkan pada hari Jum'at, diundur menjadi Sabtu. Apa boleh buat ..., mengambil raport sekolah jauh lebih penting, apalagi si anak sudah duduk di kelas XII.

Kami tiba di sekolah, jam 08.20. tempat parkir di area sekolah sudah relatif penuh. Beruntung masih ada tempat di depan kantin. Jadi .... nggak perlu jalan terlalu jauh. Ini kebiasaan dari kebanyakan orang Indonesia..., malas jalan hehe....... Daftar dan ambil nomor untuk pengambilan raport, lalu masuk aula untuk bincang-bincang dan tanya jawab dengan direktur sekolah dan kepala sekolah. Acara ini biasanya diawali dengan paparan direktur sekolah mengenai kegiatan sekolah, kondisi anak-anak, hubungan orangtua dengan sekolah dan banyak lagi.

Ibu Al .... sang Direktur Sekolah memang "cerewet" dalam banyak hal, terutama dalam menjaga "perilaku anak muridnya". Anak-anak remaja ini pasti jengkel banget dengan kecerewetan ibu Al .... Bahkan tidak bisa dipungkiri sebagian orangtua juga tidak terlalu suka dengan ketatnya aturan sekolah. Contohnya saja kebijakan sekolah untuk melarang siswa membawa smartphone ke sekolah. Jadi siswa sekolah ini hanya diperkenankan menggunakan telpon genggam standard yang fungsinya hanya untuk menelpon dan mengirim sms saja. Cameraphone...? No way... Apalagi smartphone.

Jadi ... sebagaimana apa yang dikatakan ibu Al, banyak siswa dan orangtua yang merasa "terjebak" memasukkan anaknya bersekolah di SMA di bilangan Sawangan ini. Rasanya ... begitu juga kami ....
***
Perkenalan kami dengan sekolah yang menamakan diri Global Islamic School ini dimulai beberapa bulan sebelum anak kami (yang sekarang sudah duduk di kelas XII ... Jadi tepat 6 tahun yang lalu) duduk di kelas 6 SD. Si anak, sebagaimana kakaknya dulu, memang tidak kami masukkan ke sekolah negeri. Alasannya cukup sederhana ... si anak keberatan masuk sekolah jam 06.30 sementara kami orangtua yang kebetulan keduanya bekerja, ingin agar hari Sabtu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan bersama, setelah 5 hari kerja relatif tidak memiliki waktu yang nyaman untuk bercengkerama.

Ada banyak sekolah swasta - SMP yang saat itu kami jadikan alternatif pilihan, walau dengan beberapa catatan. Yang terutama tidak kami rekomendasikan adalah sekolah-sekolah yang baik orangtua maupun murid-muridnya memiliki kecenderungan hedonisme/borjuis. 

Pilihan utama kami adalah sekolah yang mau menghargai kemampuan anak, bukan sekedar dari nilai akademis tetapi penghargaan sekolah pada bidang non akademis. Memang ada banyak sekolah-sekolah yang menproklamirkan diri sebagai sekolah sebagaimana yang kami inginkan. Tapi ..... biaya sekolahnya itu lho .... extraordinary expensive dan pada akhirnya kami bisa terjebak pada perilaku borjuis. 

Sekolah bagus tetapi "murah" memang sukar ditemukan, apalagi semua sekolah "ideal" itu umumnya sekolah swasta dan pasti identik sekolah mahal. Mahal atau tidak, tentu relatif ... tapi kalau sekolahnya sudah menawarkan olahraga seperti berkuda...., rasanya ini juga terlalu berlebihan.


Maka .... setelah berdiskusi panjang lebar di meja makan, kami memutuskan untuk memilih sekolah (Global Islamic School) di bilangan Margasatwa ini. Sebetulnya, sekolah ini sudah masuk "radar" untuk kami pilih sebagai tempat pendidikan anak kedua kami sejak si anak masuk pendidikan SD. Namun lokasi sekolah (SD) di Cinere terlalu jauh, 12km dari rumah, menyebabkan kami mengurungkan niat tersebut. Baru pada jenjang SMP itulah kami masukkan anak ke sekolah yang sebelumnya, lokasi tersebut kami ketahui sebagai sekolah tingkat TK/SD dengan label lain.

Pendek kata .... 3 tahun di SMP berlalu dengan baik, tanpa halangan. Tentu kami merasa tidak aneh dan sama sekali tidak keberatan bila si anak ingin meneruskan SMA yang sama. Apalagi, saat acara perpisahan sekolah, kepala sekolah menyebutkan bahwa SMP tersebut mendapat peringkat akreditasi tertinggi se Jakarta Selatan dan menjadi salah satu dari 2 SMP di Jakarta Selatan yang meluluskan siswanya tanpa kecurangan sedikitpun. Prestasi ini tentu sangat membanggakan dan mengharukan. Bukan saja buat sekolah, tapi juga buat orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya disana. 

Seperti 3 tahun sebelumnya, usai ujian tengah semester pertama di kelas IX, kami mulai mendiskusikan ke sekolah mana si anak melanjutkan SMA nya. Tentu lengkap dengan beragam alternatif sekolah swasta yang kami anggap baik.  Seingat saya, ada 4 sekolah yang kami rekomendasikan. 2 SMA berada sekitar 500m - 1km dari kantor. Harapannya adalah agar si anak bisa berangkat dan pulang bersama ibunya. Terkontrol kegiatannya... begitulah mau si orangtua. 2 sekolah lagi justru berada sekitar 2 km dari rumah. Bisa dijangkau dengan kendaraan umum.

"Nggak mau ... aku nggak mau masuk sekolah itu...!", sahutnya saat kami menyodorkan nama 2 sekolah yang berada tidak terlalu jauh dari kantor saya.
'Kenapa...? Kan bisa berangkat sama2 setiap hari...", saya membujuk si anak agar masuk ke sekolah yang memiliki label sama dengan sekolah kakaknya dulu
"Kalau nggak mau sekolah itu ... Sekolah Islam itu aja deh... Kan ada teman SDmu dulu, di sana...!"
"Nggak ....!"
"Lho .....??? Ya sudah..... yang dekat rumah aja deh, kalau begitu... Pilih salah satu... Sekolah A atau sekolah B!"
"Nggak dua-duanya..."
"Kenapa ....?"
"Kan mama sudah bilang, sekolah A itu sekolah borju... gimana sih...?"
Hehe .... si emak lupa, kalau 3 tahun yang sebelumnya memang tidak merekomendasikan sekolah itu.

"Ya sudah .... yang B aja deh....!"
"Nggak .... nggak dan nggak ....!"
"Adooooh ..... kenapa sih...."
"Ma ...aku gak suka sama anak2nya..."
"Hm .... sok tahu! Gaul aja enggak, mau sok menilai siswa sekolah lain lagi..!"
"Aku kan diceritain teman2 ...., anak2nya tuh ma... suka foto2an sexy dan norak ... terus di upload... Emang mama mau anaknya masuk ke sekolah yang begitu...? Nggak deh....!"

"Jadi, kamu maunya kemana ...?"
"Ya ke sekolah yang sama....", sahutnya merujuk sama sekolah dengan label yang sama dengan SMPnya.
"Masya Allah .... jauh banget ......!!! Nggak sanggup, aku kalau harus antar jemput kesana tiap hari. Sudah uzur nih. Kamu juga nanti akan terlalu cape dan stress...! Cari yang dekat aja deh...!"
"Nggak ....!"
"Ampun deh .... kaya nggak ada sekolah lain aja..."
"Biarin ...."

Aduh duh .... pusing juga untuk memenuhi permintaan itu, walau dalam hati terselip rasa syukur yang sangat besar bahwa penolakan anak kami masuk sekolah yang kami usulkan adalah karena alasan moralitas. Dia tidak suka dengan perilaku siswa-siswa sekolah tersebut.

"Ok ... kalau hanya sekolah itu yang jadi pilihan, apa boleh buat, tapi dengan satu syarat!"
"Apa ..."
"Harus mau masuk asrama. Bukan karena kami membuang anak karena tidak memenuhi permintaan untuk sekolah di Jakarta, tapi ini demi keamanan dan kenyamanan semua. Pertama, jarak rumah ke sekolah cukup jauh. Minimal 2-3 jam terbuang setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang. Ini pasti melelahkan, apalagi kalau ada PR. Kamu pasti gak bisa belajar lagi begitu sampe rumah. Kemudian kalau bapak tidak bisa menjemput ke sekolah berarti ada kesulitan besar, bagaimana kamu pulang ke rumah. Kami sama sekali tidak mau kamu naik taxi/angkutan umum di sore/menjelang malam, apalagi sendiri. Nggak ada cerita deh! Jadi kalau tetap mau masuk sekolah itu, tidak ada pilihan lain kecuali masuk asrama!"
"OK .... siapa takut...?", tantangnya....


Begitulah kejadian 3 tahun yang lalu, sebelum dia mengikuti test masuk SMA, berhasil diterima, masuk asrama dan bersekolah hingga sekarang duduk di kelas XII. Tidak terasa 3 tahun begitu cepat berlalu.

Tentu tidak mudah menjalaninya baik bagi orang tua maupun si anak. Pada bulan-bulan pertama, kami mengalami kesulitan membujuknya kembali ke asrama. Dia merasa terbuang ketika kami memintanya bersiap kembali ke asrama .... Memang ada rasa sedih melihatnya begitu tertekan harus kembali ke asrama. Apalagi, anak kami yang 2 orang itu relatif hidup seperti 2 anak tunggal. Hidup "sendiri" pada masanya, mendapat perhatian penuh dari ke dua orangtuanya pada saat kecil hingga masa remaja. Sehingga kamipun relatif merasa kehilangan dengan absennya keberadaan anak di rumah. Tapi anak manja ini memang harus konsisten dengan pilihannya. Dia harus memegang teguh dan konsekuen dengan pilihan sekolahnya.

Kami mungkin sedikit beruntung, bahwa dibandingkan dengan kakak lelakinya, si gadis lebih terbuka. Jadi kami relatif bisa memantau kegiatan, masalah-masalah yang dihadapinya, baik masalah di sekolah maupun masalah pribadi. Tentu pada koridor yang ingin dia ceritakan kepada kami, orangtuanya.
***

"Ibu/bapak jangan terkejut kalau sekolah menerapkan kebijakan sidak ke kelas seperti yang baru2 ini kami lakukan di kelas X" sayup-sayup terdengar suara ibu Al menceritakan tentang kegiatan sidak ponsel siswa, hingga grup diskusi orangtua yang berisi "keberatan" atas sidak yang dilakukan guru-guru karena dianggap melanggar privasi siswa.

Tenang bu Al .... saya juga melakukan inspeksi isi sms/wa/bbm di smartphone anak saya, begitu dia meninggalkan smartphonenya saat kembali ke asrama. Dengan demikian kami bisa mengetahui apa saja isi pembicaraan si anak dengan teman2nya. Jadi sidak ponsel di sekolah, juga kami lakukan kok ...

Bu Al masih melanjutkan banyak cerita tentang beragam kenakalan dan perilaku kebablasan siswa yang .... sungguh mati bikin hati saya "mencelos" .... Ngeri membayangkan kalau hal itu terjadi.Saya teringat beberapa kali pembicaraan kami di rumah;
"Aku sebel ma ...., teman-teman juga ternyata sama aja tuh .... Ada juga yang suka macam2", keluhnya suatu hari...
Atau di hari lain .... si anak juga mengeluh...
"Sebel ah... guru-guru rese banget.... kepo deh ..."
"Eits... gak boleh menduga yang buruk .... gimana kamu tahu mereka kepo?"
"Ye ..., mereka tuh canggih-canggih urusan sadap menyadap isi sms... Bayangin aja, masa aku pernah disangka bawa hp ,,, padahal mama tahu kan, hpku kan pasti ditinggal di mobil, kalo aku balik ke asrama...."
"Ya bilang aja ke gurunya... kalau perlu minta konfirmasi ke mama. Jangan dibikin susah lah...! Kamu mesti inget deh ... perilaku remaja itu dimana aja, sama. Maunya bebas ... nggak mau dilarang dan selalu merasa benar. Merasa terlalu dikekang... Kamu beruntung, sekolah/ibu dan bapak guru punya komitmen kuat menjaga anak muridnya supaya tidak tergelincir. Jadi buka karena kepo... Sebetulnya guru-guru itu ketakutan anak muridnya tergelincir ...Di dunia, itu jadi tanggung jawab mereka kepada orangtua dan masyarakat. Nah... nanti di akhirat diminta pertanggungjawaban juga lagi ...! Kasihan kan? Jadi beruntung kamu sekolah disitu ... Kalau gurunya cuek, nah seperti sekolah B itulah jadinya" 
***
Malam minggu setelah penerimaan raport tengah semester itu, kami keluar rumah untuk makan malam. Sebetulnya si anak menerima undangan peringatan ulang tahun ke 17 dari salah satu teman sekolahnya yang diselenggarakan di sebuah hotel di bilangan Depok. Sempat juga kami tawarkan si anak untuk hadir...

"Emang mama mau antar ke sana? "
"Kalau kamu mau hadir, boleh aja kami drop, nanti dijemput lagi"
"Mama nggak konsisten ih ...!
Eits ..... kaget juga dengar komentarnya ...
"Maksudnya...?"
"Dulu mama bilang nggak boleh hadir acara ulang tahun di hotel...!"
"Sebetulnya, bukan nggak boleh hadir acaranya. Boleh aja sih, karena kamu kan mesti gaul juga, asal tahu batas dan tahu waktu. Hidup juga nggak bisa steril banget. Ini yang jadi dilema buat orangtua."
"Ya sudah .... aku kan sudah mutusin gak hadir..."
"Ya ...., asal tahu aja, yang dilarang bukan acara ulang tahunnya. Tapi perayaan berlebihan apalagi diselenggarakan di hotel. Rasanya kurang pantas deh buat siswa sekolah..."

Ihwal perayaan ulang tahun secara berlebihan di hotel, pernah juga disinggung oleh bu Al, pada pertemuan, mungkin tahun yang lalu. Namun ternyata, walau hanya satu atau dua orang saja, tetapi masih selalu ada saja yang merayakan ulang tahun ke 17 anaknya secara berlebihan.
*** Pendidikan anak termasuk memilih tempat pendidikan anak yang kita anggap baik, rasanya tidak serta merta melepaskan seluruh tanggung jawab pendidikan anak terutamadalam hal moralitas kepada sekolah. Apalagi untuk pendidikan anak remaja yang penuh gejolak. Harus ada kesatuan visi dan misi dan tujuan pendidikan itu antara sekolah dan orangtua. 

Seperti yang disampaikan ibu Al ... sekolah tidak bisa dijadikan "musuh" tetapi harus jadi mitra dalam mendidik anak. Orangtua harus percaya bahwa sekolah memberlakukan beragam peraturan untuk kebaikan si anak. Kalau visi, misi dan tujuan pendidikannya dan sekolah dianggap kurang sesuai dengan gaya hidup keluarga siswa, mungkin orangtua tersebut telah salah memilih sekolah buat anak-anaknya.

Wallahu alam 





Selasa, 01 April 2014

I LOVE YOU son .......

Saya memiliki sepasang anak; lelaki dan perempuan. Namun saya lebih sering mengatakan bahwa saya memiliki 2 (dua) orang anak tunggal. Tentu banyak yang bertanya, mengapa demikian.

usia 1 tahun
Anak saya yang pertama, lahir pada jaman kami masih hidup dalam keprihatinan. Jauh dari sanak saudara, terpencil dalam belantara lautan kosmopolitan. Saat itu, kami tinggal di kota dan bahkan di apartemen berlantai 15 dimana berbagai bangsa, bahasa dengan berbagai warna kulit bertempat tinggal. Parahnya …. kota kecil tempat tinggal kami juga lebih dikenal sebagai kantung pemukiman immigrant berkulit hitam walaupun penduduk lokal (warganegara setempat) juga tak kurang banyaknya. Kota kecil yang berjarak hanya beberapa kilometer di utara Paris ini sebetulnya jauh lebih bersih daripada kawasan tempat tinggal kami sekarang. 

Le Clos Saint Lazare …. itu nama lingkungan apartemen atau lebih tepat disebut HLM (habitation a loyer modere–setara dengan rusunawa alias rumah susun sewa sederhana di Indonesia), cukup bersih dan tertata baik, kecuali kalau kita sudah masuk ke dalam bangunannya. Kesenjangan sosial ekonomi dan gaya hidup antara penduduk asli dengan para imigran kelas bawah (buruh) pasti berdampak pada cara kita memandang dan menerapkan kebersihan. Suara musik yang menggelegar tidak pandang waktu dari unit penghuni berkulit hitam, membuang sampah rumah tangga tidak pada tempatnya membuat koridor yang menghubungkan lift lobby ke unit–unit apartemen berbau busuk. Tapi …. Itulah bangunan tempat tinggal kami kala itu. Tempat dimana apartemen yang disediakan organisasi yang mengurus para penerima beasiswa dari pemerintah negeri tersebut berada.

Semula, kami pikir, kekumuhan itu terjadi karena bangunan tempat kami tinggal adalah bangunan umum. Maksudnya, penduduk apartemen tidak semata-mata dari kalangan keluarga mahasiswa, tetapi juga dihuni dan disewa oleh masyarakat umum, golongan berpenghasilan rendah. Ternyata …. Kondisi unit apartemen yang khusus disediakan untuk mahasiswa dan keluarganya yang sebagian besar adalah mahasiswa asingpun tidak jauh berbeda. Kesimpulannya … kesenjangan ekonomi dari negara asal mahasiswa para penghuninya menjadi salah satu sebab.

Kembali pada kelahiran anak pertama saya itu, selain memang banyak kenangan baik suka maupun duka yang menyertainya, namun sebetulnya banyak  sekali hikmah dan berkah dibaliknya yang sekarang menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan…. Yang menyiratkan ketegaran perjuangan anak manusia.

Kelahiran itu juga terjadi pada masa bom masih kerap meledak di ibukota Negara tempat kami tinggal. Hampir setiap minggu …. Saat Libanon baru mulai bergejolak. Saat perjuangan suku Kurdi masih menghangat. Di sana ..... l’hopital Saint Denis, 8 April 1983 jam 23.45, jauh dari keluarga besar ......
***

Sementara anak kedua lahir 15 tahun kemudian, saat kehidupan kami sudah sedikit lebih mapan. Sama–sama lahir di kota kecil yang berada di pinggiran ibukota Negara. Hanya …. mungkin gengsinya yang berbeda. Si kakak lahir di pinggiran ibukota Negara Perancis sementara si adik lahir di kota pinggiran ibukota Negara Indonesia. Itu sebab si adik selalu menggerutu atas perbedaan kota kelahirannya. Apa boleh buatlah …. Allah SWT mentakdirkan demikian bagi kelahiran dua anak kami.
***

Nah ….. kali ini saya ingin cerita tentang masa kecil si sulung. Pada saat umurnya menginjak bulan ke 15, kami kembali ke Jakarta. Buat saya, itulah kali pertama menginjakkan kaki kembali ke bumi Pertiwi setelah meninggalkannya 4 tahun sebelumnya. Kalau dulu saya berangkat sendiri, maka kali ini kembali ke rumah, boyongan bertiga. 

Sebagai cucu pertama di keluarga saya, si sulung tentu dimanja seisi rumah. Kala itu, di keluarga, baru saya saja yang menikah Belum selesai kuliah pula ...... Praktis seluruh perhatian ke dua orangtua dan adik–adik saya tercurah pada si mungil yang lucu itu. Wajah mungilnya memang menggemaskan dan sebagai anak kecil yang biasanya selalu “gratilan” … alias tidak bisa melihat benda tergeletak di atas meja, maka si sulung ini termasuk anak yang apik. Dia kurang tertarik untuk “merusak” benda - benda di atas meja, tetapi lebih “terpelajar”. Lebih suka mengganggu bapaknya yang sedang bekerja di depan monitor komputer. Jadilah dia akan selalu meminta duduk di pangkuan si bapak untuk menekan-nekan key–pad. Tentu saja si bapak memperkenalkan huruf–huruf dan angka yang tertera. Perkembangan nalarnya jauh lebih cepat daripada umurnya.

Setiap kami keluar rumah, sambil lalu, kami juga memperkenalkan setiap benda yang ada di sepanjang perjalanan. Apakah itu jenis dan merek mobil, huruf – huruf pada baliho begitu juga dengan patung penghias kota.
 Jadi ... belum masuk sekolah, dia sudah mengenal huruf walaupun belum hafal seluruh abjad.

Suatu kali, saat berjalan-jalan, kami lewat kawasan Kwitang ... Kami memperkenalkan Patung pak Tani yang ada di depan hotel Aryaduta. Sebetulnya, patung itu bukanlah patung petani, tetapi patung angkatan ke 5. Pada era pra 1965, ada wacana untuk mempersenjatai rakyat sebagai bagian dari angkatan bersenjata, Karena pada waktu itu Indonesia sudah memiliki 4 angkatan, yaitu Angkatan Darat–Laut–Udara dan Kepolisian, maka rakyat yang dipersenjatai itu disebut angkatan ke 5. Rakyat diwujudkan dalam bentuk lelaki dengan caping bambu yang menjadi cirri khas petani. Itu pula sebabnya patung angkatan ke 5 tersebut lebih dikenal sebagai patung pak Tani.

saat usia 3 tahun
Nah … kembali pada topik …. 

“Nah di depan itu…… patung pak tani…!”
Si sulung mengangguk–anggukkan kepalanya… tanda mengerti. kami lalu mengambil jalan Cut Mutia dan jalan HOS Cokroaminoto.

Sambil pulang menuju tempat kediaman kami saat itu, Rawamangun, kami melewati depan gedung Bappenas dimana, saat itu masih ada patung seorang ibu dengan 4 orang anak–anaknya di setiap sudut. Si sulung langsung berteriak senang....
"Mama ... mama ... itu ada bu Atung dan anak Atung ya....?"

Saya bingung sebentar ...
“Oh ….. itu patung ibu Kartini …. (eh apa betul itu nama patungnya ya?)” sahut saya membetulkan.
“Bukan mama …… itu bu Atung dan anak Atung …….!!!”, sahutnya lagi …
“Iya ….. iya …. Bu Atung dan anak Atung ….” Jawab saya sambil menahan tawa ...
Antara lucu, gemas tapi sekaligus kagum dengan kejelian nalarnya
Rupanya si anak mengasosiasikan patung (pak tani), patung dengan wujud lelaki tua menjadi pak Atung ... sehingga patung perempuan dengan pakaian khas ibu Indonesia berkain kebaya disebut bu Atung dan patung ke empat anak–anak yang mengelilingi patung ibu menjadi anak–anak Atung...



Ganti si anak yang bingung melihat ibunya tertawa, dan tetap tidak bisa menerima penjelasan bahwa patung adalah nama benda. Bukan sebutan atau panggilan seorang bapak bernama Atung sehingga layak dipanggil pak Atung.
***
Kejadian ini memang sudah lama sekali .. Saya ceritakan kembali untuk menghormati dan mengingat kembali si sulung yang kini tinggal jauh dan akan berulang tahun ke 31 tanggal 8 April 2014 yang akan datang.


You are always in my heart, son …. I love you…….

Senin, 15 April 2013

REMAJA GALAU


Jum'at lalu, saat kembali dari asrama seperti biasa, wajah anakku terlihat tidak seperti biasa. Konon katanya .... tenggorokannya sakit. Gejala batuk. Maka untuk itu kutawarkan apakah dia mau minum air rebusan jahe ditambah dengan madu atau jeniper alias jeruk nipis peras hangat tambah madu.

Usai menyiapkan jeniper alias jerk nipis peras hangat, dan setelah diminumnya sebagian jeniper hangat bermadu itu, setengah berbisik, karena di sofa seberang bapaknya sedang baca koran, si gadis bilang ...
"Ma ... aku mau cerita deh ..."
"Hm ya.... ada apa...?"
"Itu ma .... cowo itu akhirnya ngajak aku ngomong...!"
"Ngomong apa...?"
"Tapi mama jangan marah atau ngetawain ya.....!", pintanya.
"Iyalah .... cerita aja....!"
"Beberapa hari yang lalu, dia bilang ... Katanya dia suka aku, tapi suka sebagai adik kelas dan juga sayang aku sebagai sesama muslim..."
"hm ......, lalu ......?"
"Ya aku jawab bahwa aku ngerti kok .... Aku juga bilang kalau aku suka dia, mungkin cuma sesaat ini aja ... Tahun depan mungkin bisa berubah ... Nanti saat kuliah ... juga akan berubah lagi, karena masih banyak cowo yang bakal aku temui. Kalaupun suatu saat aku menikah, katakanlah di usia 25, entah aku akan menikah dengan siapa ... ya dijalani aja...!"
"Hm ... jadi rencananya nikah umur 25 tahun?", tanyaku untuk mengurangi suasana murung yang terdengar dari suaranya.

"Jawabanku salah nggak, ma....? tanyanya lagi, tanpa menggubris pertanyaanku.
"Nggak .... that's a smart statement! Memang kenyataannya begitu kok!", jawabnya. Dan ini jawaban jujur. Bukan sekedar untuk menyenangkan hatinya.
"Ya sudah kalo gitu...!"
"Tapi konsisten ya .... Tunjukkan juga bahwa ucapanmu itu betul-betul bisa dilaksanakan. Tunjukkan juga bahwa kamu tidak terpengaruh oleh ucapannya .... Anggap angin lalu ... dan kalau ketemu orangnya lagi.. sapa dengan baik seperti kamu menyapa teman lelaki yang lain. Bahwa dia tidak lebih istimewa dari yang lain". Sambungku lagi
"Iya ma... tapi waktu tadi mau pulang, aku cuma lewat di depannya, nggak sempat nyapa. Kan terburu-buru mau pulang".
"Nggak apa-apa .... Yang penting untuk selanjutnya! Jadi perempuan yang tangguh ... Tahu martabat dan harga diri dan yang tidak kalah penting, tahu menjaga diri supaya tidak terjadi hal-hal buruk!".
***

Hadooooohhhh ........... Dalam hati kecil aku nyumpah-nyumpah juga ....
Gila anak gadis gue yang cantik, pintar dan baik hati, walau seringkali ngeselin hati emaknya, ditolak cowo... Huahaha... Sedih dan sakit hati juga nih emaknya. Tapi nggak apa-apa juga. Begitulah hidup. Nggak selamanya hidup berbunga-bunga dan menyenangkan.

Nggak ada yang salah di situ. Si cowo juga cukup gentle, bicara langsung walau konon kata anakku, sikap yang diambilnya karena teman-temannya mendorongnya untuk menjelaskan situasi. Konon si cowo sudah dijodohkan ibunya dengan kerabat keraton demi menjaga kemurnian darah biru mereka.  Halaaaahhhhh..... haree geenee .....

Teman-teman anakku mungkin merasa bersalah ikut jadi kompor penyulut perasaan suka remaja kencur ini. Jadi mendorong anak cowo itu untuk bicara. Ditinjau dari sudut si cowo .... aku suka dengar cerita ada anak remaja yang sedemikian taat pada orangtua. Terlihat dari sikapnya yang santun, rajin ibadah dan kalau benar, mau menerima perjodohan itu. Walau demikian prihatin juga, kok masih ada orangtua yang "mengekang" jiwa anaknya.

Tapi sebetulnya, konyol juga sih .... Tahu anakku suka sama dia, si cowo suka kirim-kirim suaranya lagi nyanyi, minta dinilai suaranya .... Pernah sekali. saat ada acara sekolah, adik si cowo yang masih duduk di SD, dipasrahkan ke anakku untuk dijaga .... Walah...... si gadis kencur ini klepek-klepeklah hatinya.....

Di lain pihak, aku rasa, jawaban anakku juga cukup cerdas.... walau aku yakin pasti hatinya babak belur  dan hancur lebur.... hehehe.... Lha, emaknya aja ikut sebal dan sedih kok, walau dalam hati agak merasa lega. Lega karena salah satu kekhawatiran melepas anak hidup di asrama, dilanda asmara dengan sesama penghuni asrama pula sekarang sudah pupus..... Aduuuhhhh...., kalau ada apa-apa,... ngeri skalee.... Takut kebablasan euy.....!!!
***

Sebetulnya, sejak awal masuk sekolah, aku sudah mulai ketar-ketir dan sebel banget deh ...! Tidak ada cerita week end, saat balik dari asrama yang ceritanya tidak nyerempet-nyerempet soal cowo itu. Ekspresif banget deh ....!


Berulang kali aku katakan..."Jadi anak perempuan itu jangan suka ngumbar perasaan deh....! Biar suka setengah mati sama cowo, nggak perlu pecicilan kesana-kemari. Jaga martabat!"
Tapi si anak terlalu cuek...
"Kuno ah...." Begitu selalu jawabnya

 Iya .... memang kuno, lha si anak aja lahir saat umur emaknya hampir 42 tahun. Ya jelas aja pikiran emaknya, kuno!
"Suka dan jatuh cinta itu peristiwa yang sangat alamiah... tidak bisa dihindari dan tidak perlu juga diingkari. Yang diperlukan adalah jaga sikap, jaga diri dan martabat"
"Iya ma ... aku juga nggak mau pacaran dulu kok...". Itu selalu jadi jawaban pamungkasnya saat terjadi perdebatan soal cowo itu
"Nah kalo gitu ... nggak usah heboh dong...."
***

Ah sudahlah ... Cerita itu sudah berlalu....! Sekarang, pasti si gadis sedang galau banget. Mungkin juga masih "nangis darah" gara-gara hal itu. Walau jawabannya cukup cerdas, tapi perasaan tetap akan berkata lain. Tapi .... tenang aja non ... Perasaan sedih, galau dan sakit hati akan hilang sebentar lagi kok .... remaja gitu loh ....!

Emaknya juga pernah ngalamin "nangis darah" gara-gara merasa dikhianati kok .... Walau lebih sering membuat hati orang tercerai berai hai....hai ........!!! Eh imbang kok kecewa dan mengecewakan orang.

Hidup kan tetap berlangsung apapun yang terjadi. So ....... keep spirit ..... dunia masih belum kiamat ....!!!

Senin, 18 Februari 2013

Yang muda yang (sedang ingin) bercinta

Yang muda yang bercinta ... kalau nggak salah, itu salah satu judul film tahun 70an karya almarhum Syumanjaya. Tapi aku cuma tahu judulnya. Nggak tahu apa isi filmnya, karena film atau lebih tepatnya nonton film bukan salah satu "passion"ku, kecuali kalau filmnya betul-betul istimewa untuk ditonton. Kalau memang menarik, baru aku tertarik menonton. Karenanya genre film yang kutontonpun bisa sangat beragam, yang penting jangan berbau horor...., karena aku termasuk jenis manusia yang sangat penakut.

Nah, apa kaitan antara judul film dengan catatan kecilku kali ini?
Sama seperti judul filmlah.... ingin cerita gaya salah tingkahnya orang-orang yang lagi jatuh cinta.

Anak gadisku, rasanya lagi jatuh cinta deh .... Setiap minggu, saat kembali dari asrama, ceritanya nggak pernah beranjak jauh. Isinya dari itu ke itu .... Nggak pernah jauh dari kakak kelas yang ditaksirnya, yang juga sama-sama tinggal di asrama. Dia pasti nggak sadar kalau emaknya "ngeri" banget dengar cerita orang yang lagi kasmaran.

Suasana komplek tempatnya bersekolah dan sekaligus merupakan lokasi asramanya memang "sangat mendukung" suasana romantisme. Lahannya luas ..., penuh dengan pepohonan dan ada gubuk tempat istrirahat. Walau lokasi asrama putera dan puteri berjauhan, tapi kalau ada niat untuk berpacaran, remaja-remaja itu pasti panjang akal untuk mengelabui pengawas asrama. Jadi aku cuma bisa berdoa saja ..., sambil tak pernah lupa mengingatkannya untuk menjaga martabat sebagai anak perempuan. Bukan hanya martabat duniawi tetapi yang jauh lebih penting adalah martabat dan pertanggungjawaban perilaku hidupnya di dunia kepada sang Penguasa Alam, kelak pada waktunya.
***

Cerita di kantor, lain lagi .... Sudah seringkali aku nggrendengi penguasa kantor yang mengurusi perekrutan karyawan.
"Mbok ya kalau cari karyawan itu yang enak dipandang. Supaya mata nggak sepet lihatnya. Dan manis dihati, supaya bisa membina kerjasama yang baik", itu selalu pesanku, di samping pesan-pesan standar perekrutan seperti proaktif, kreatif, inisiatif .... dan berbagai ragam tif-tif yang lain... dan .... yang terpenting adalah punya kepercayaan diri yang tinggi, tapi bukan megalomane.

Buatku, nggak perlu pengalaman kerja bertahun-tahun ... Fresh graduate pun nggak masalah karena dengan demikian lebih enak "membentuknya" agar sesuai dengan visi dan misi perusahaan, dibandingkan dengan orang-orang yang "merasa" sudah sangat berpengalaman.

Mungkin karena kerewelanku itu, maka dibandingkan dengan departemen lainnya, aku selalu ketinggalan dalam hal perekrutan. Nggak pernah kebagian orang yang memenuhi "seleraku" dan selalu sulit mencari orang yang memenuhi kriteria yang kuinginkan. Padahal ... aku nggak pernah pake "tools" yang aneh-aneh saat mencari orang. Pada sesi wawancarapun, sang calon cuma diajak ngobrol .... Ditanya ini-itu soal minatnya sambil menilai apakah sang calon memenuhi kriteria yang kutetapkan, terutama adalah kepercayaan diri yang kuat dan mau belajar. Pekerjaanku banyak berhubungan dengan pemilik perusahaan. Jadi kalau nggak punya kepercayaan diri yang tinggi, bisa sangat merepotkan semuanya.

Nah ... singkat kata, beberapa waktu yang lalu, setelah bertahun-tahun mencari-cari, hanya melalui satu sesi wawancara, akhirnya ada satu orang yang relatively memenuhi prasyaratku. Maka ... jadilah si dia bekerja denganku.

Sesuai dengan kerewelanku soal penampilan .... menurutku, yang satu ini relatif "good looking" dan dengan sangat mudah diterima oleh semua orang di kantor. Pembawaannya juga cukup "manis" sehingga mungkin ada beberapa gadis-gadis lajang di lingkungan grup perusahaan tempatku bekerja, yang klepek-kelepek hatinya .... Ada yang salah tingkah berhubungan dengan si "anak baru" ini sehingga alih-alih berteman dan bekerja secara profesional, keduanya malah seringkali "bertengkar" untuk hal-hal kecil yang sangat remeh temeh. Lucu ... dan menggugah serta mengubah suasana kantor, terutama saat makan siang bersama.

Sayang, si dia ini sudah punya pacar dan konon sudah berancang-ancang menikah tahun depan. Biar saja dan kita lihat saja bagaimana jadinya ... Mau nikah tahun depan, bulan depan atau bahkan minggu depan .... selama belum ada janur melengkung dan ijab kabul, maka segalanya bisa berubah drastis kalau Allah menginginkannya.
***

Rasa suka antar manusia berlainan jenis merupakan kejadian alam yang tidak bisa dihindari karena begitulah Allah menciptakan mahluk hidup sebagai bagian dari tujuanNya menciptakan alam semesta ini. Sebagai bagian untuk melanggengkan keberlangsungan kehidupan alam, yaitu beranak pinak dan hal ini berlaku bukan saja untuk manusia, tetapi juga tetumbuhan dan binatang. Kesemuanya diciptakan sebagai pasangan yang berasal dari lain jenis, terutama untuk bereproduksi. Hanya beberapa jenis binatang dan tumbuhan saja yang bersifat hermaphrodite, sehingga  mampu melakukan reproduksi sendiri. Sejauh ini, manusia hanya bisa bereproduksi karena adanya pasangan berlainan jenis.

Berbeda dengan binatang yang bereproduksi dengan cara kawin-mawin secara serampangan. Kawin dengan binatang lain yang berlainan jenis "dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja" maka Allah memberi aturan bagaimana umat manusia bereproduksi, yaitu melalui cara yang sakral. Menikah dan baru kemudian bereproduksi. Tentu ada makna dan maksud tertentu dibalik semua perintahNya itu.

Nah .... jaman sekarang ini, generasi muda yang sedang ingin bercinta, dengan dalih "gaya hidup masa kini" sudah banyak yang mengikuti gaya "dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja". Tentu tidak seekstrim binatang .... Dimana saja bisa diterjemahkan tidak harus di rumah, tapi bisa di luar ruangan, misalnya di mobil, semak-semak dan bahkan di pemakaman. Kapan saja adalah tidak perlu harus melalui proses pernikahan. tapi tergantung perasaan.  Kalau sudah cocok, baru kenalpun bisa dilanjutkan dengan hubungan reproduksi alias hubungan yang lebih "intim". Nahi ... begitulah yang terjadi ....

Dengan fenomena seperti itu, menjadi orangtua abad 21 memang menakutkan..... apalagi kalau ingat betapa orangtua bertanggungjawab anak akhlak anak-anaknya kelak di hadapan Allah. Atas dasar itu, maka orangtua yang tidak kuat mental dan paranoid berlebihan bisa jadi mengambil jalan pintas seperti yang pernah terjadi di Bandung beberapa tahun yang lalu, ketika seorang ibu membunuh anak-anaknya karena "ketakutan" berlebihan atas masa depan anak-anaknya terutama yang berkaitan dengan pertanggungjawabannya kepada sang Pencipta Alam.

Rabu, 12 Desember 2012

Dua Anak Tunggal

Ada dua anak tunggal dalam sebuah keluarga, dari sepasang suami istri dan kedua anak tunggal tersebut lahir dari ibu dan bapak yang sama. Mungkinkah....?

Adalah suatu masa .... ketika tanpa terduga kehamilan itu terjadi setelah 7 tahun yang berdarah-darah dan 7 tahun kering kerontang .... Tapi begitulah kehendak Yang Maha Kuasa. Maha Pencipta yang selalu memberikan apa yang dibutuhkan manusia ... Bukan apa yang kita inginkan.

Manusia hanya merencanakan, namun Allah juga yang menentukan dan memilihkan apa yang terbaik bagi umatnya. Jadi ... berbaik sangka saja terhadap apa yang kita alami.

Begitulah .... aku hamil untuk yang kedua kali pada usia di atas 40 tahun. Tepatnya berusia 40 tahun 8 bulan saat kehamilan tersebut terdeteksi. Tanpa rencana dan sama sekali tak terduga.

Kenapa harus disebut terdeteksi ....?
Tentu karena selama bertahun-tahun sebelumnya aku berpikir sudah memasuki menopause. Menopause dini tepatnya karena saat itu terjadi, usiaku masih berada dalam kisaran 30 tahunan. Kemudian ..., tanpa terduga, terjadi menstruasi. Menstruasi terakhir yang kualami dan terasa sangat mencekam. Itu terjadi pada akhir tahun sebelum tahun kehamilanku. Mencekam sekali karena isi rahimku terasa seperti dikuras habis... Bahkan sempat secara bergurau, kusampaikan pada suami ...

"Sepertinya, rahimku dikuras habis supaya bersih ... Siapa tahu kelak akan terisi bayi lagi". Pikiran tersebut terasa absurd karena saat itu, sudah lebih dari 2 tahun aku seperti mengalami menopause. Bahkan seorang dukun pijat pernah mengatakan bahwa rahimku sudah "kisut", mengering dan hal itu bisa diterjemahkan bahwa kehamilan hampir mustahil terjadi.

Tapi .... begitulah kehendak Allah .... Menjadikan yang tak mungkin terjadi dalam kacamata manusia.

Aku sangat patut bersyukur karena kehamilan kedua berlangsung hampir tanpa masalah dan seakan menghapus segala teori yang selama ini sering dikatakan orang bahwa kesibukan dan stress dapat menyebabkan perempuan kesulitan untuk hamil. Kehamilan terjadi saat kesibukanku sedang sangat tinggi, sudah mengalami menopause ... dan pada usia sudah di atas 40 tahun.

Entah apa yang dipikirkan si sulung yang saat itu sudah duduk di bangku kelas 3 SMP melihat ibunya hamil dan melahirkan adiknya. Adik yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi diucapkannya dan dilupakan kehadirannya. Bagi orangtuanya, kelahiran anak kedua tersebut menggenapi anak kami menjadi sepasang. Lelaki dan perempuan..., walau 15 tahun jarak membentang di antaranya.

Mungkin karena secara alamiah, emosi dan perhatian lelaki agak berbeda dengan anak perempuan, maka si sulung lebih sibuk dengan kegiatan di luar rumah terutama melakukan olah raga kesenangannya ... sepak bola. Tidak membantu mengurus, memperhatikan atau mengakrabi si bayi/adik. Namun demikian, setelah si adik membesar, ada juga kedekatan di antara mereka ... si sulung tak segan mengajak adik mengunjungi teman perempuannya, kala kegiatan itu dilakukan di siang hari.

Kebersamaan itu ternyata tidak berlangsung lama. Saat si adik masih duduk di bangku taman kanak - kanak, si sulung meninggalkan kami untuk melanjutkan kuliahnya. Sejak itu kami kembali hidup bertiga untuk kali yang kedua. Kami kembali "memiliki" anak tunggal. Anak tunggal kedua.

Pada periode pertama, kami memiliki anak tunggal lelaki selama 15 tahun kemudian diberikan kesempatan memiliki sepasang anak lelaki dan perempuan. Mengayomi mereka selama 4 tahun untuk kemudian kembali mengasuh "anak tunggal" ke dua dan kali ini berjenis kelamin perempuan.

Ternyata .... ada perbedaan yang sangat signifikan di antara keduanya. Anak pertama, lelaki yang sangat mandiri .... sangat tahu apa yang diinginkannya sementara anak kedua, perempuan yang manja. Si kakak melakukan dan memutuskan segala kemauannya hampir tanpa intervensi orangtuanya. Bahkan sejak kecil, meja makan menjadi area adu argumentasi kami bertiga. Walau masih "di bawah umur", pandangan dan argumentasinya sangat tajam dan kritis.

Sementara anak kedua, lebih manja dan dengan caranya sendiri berusaha "menguasai" dan mendominasi orangtuanya. Sebagai sesama perempuan, seringkali terasa adanya "persaingan" untuk menarik perhatian si bapak. Dia menjadi begitu baik kepada ibu atau bapaknya saat berduaan saja dan berbalik "garang" saat kami bertiga.

Apakah kami memperlakukannya secara berbeda... Mungkin ya.... Usia yang sudah beranjak senja membuatku sedikit lebih bersabar dan assertif dalam menghadapi anak kedua. Atau bisa jadi aku terpengaruh "ramalan" seorang pakar fengshui yang menjelang kelahiran anak kedua tersebut dia wanti-wanti mengingatkan agar anak keduaku harus lahir sebelum tahun (Cina) berganti.

Dia mengingatkan .... kalau aku melahirkan setelah pergantian tahun (saat itu), maka aku akan melahirkan seorang anak di bawah naungan shio Macan .... dan aku, ibunya, yang bershio monyet akan kalah pengaruh.
Benarkah begitu....?
Wallahu alam

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...