Tampilkan postingan dengan label prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prabowo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2018

Dongeng–dongeng klasik dan Joko Widodo

Saya tidak tahu apakah generasi milenial mengenal dongeng–dongeng klasik dunia yang sebagian besar berasal dari benua Eropa. Sebut saja semisal the Snow White, The Little Mermaid, Cinderella, Sleeping Beauty, Beauty and The Beast, Goldilocks and 3 Bears, Rapunzel dan banyak lagi cerita klasik lainnya terutama dengan latar belakang kerajaan. 

Plot utama dari cerita; biasanya berkisar pada pertentangan antara baik dan buruk di mana pada akhir cerita, kebaikan akan meraih kemenangan dan kebahagiaan. Atau bisa pula menceritakan tentang penderitaan seseorang, pada umumnya penderitaan seorang gadis yang akan berakhir dengan kebahagiaan tatkala menikah dengan pangeran tampan yang baik hati. 

Plot cerita yang nyaris sama, yaitu tentang kebaikan akan meraih kemenangan dan cerita tentang penderitaan seseorang, pada umumnya penderitaan seorang gadis yang akan berakhir dengan kebahagiaan, juga berlaku pada cerita dan dongeng klasik Indonesia seperti misalnya Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Mas, Keong Mas, Lutung Kasarung, Sangkuriang atau cerita–cerita panji semacam Panji Semirang.

Dalam cerita atau dongeng klasik Eropa maupun dongeng klasik Indonesia, golongan yang baik selalu diidentikkan dengan kecantikan dan ketampanan para tokohnya. Selain dari tampilan fisik tersebut, tokoh perempuannya selalu digambarkan memiliki sifat–sifat welas asih, lemah lembut, penyayang, penyabar serta beragam sifat lainnya yang menunjukkan kebaikan seorang perempuan. Sementara tokoh lelaki akan digambarkan memiliki sifat ksatria, pemberani, pelindung kaum lemah dan sebagainya. 

Beauty and the beast
Tidak luput juga, latar belakang keturunan yang selalu berasal dari keluarga bahagia dan baik–baik atau dari keluarga kerajaan yang sangat harmonis. Sementara si jahat akan selalu ditampilkan sebagai si buruk rupa lengkap dengan sifat–sifat buruk seperti pemarah, pendengki, culas dan beragam sifat buruk lainnya untuk melengkapi tampilan wajah yang buruk tersebut.

Walau generasi milenial mungkin tidak lagi membaca cerita–cerita tersebut, namun orang tua mereka atau pengasuhnya mungkin masih akan menceritakannya sebagai pengantar tidur. Apalagi … bukan tidak mungkin, generasi milenial perkotaan yang pada umumnya berasal dari keluarga menengah baru … (Alhamdulillah, berarti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, walau belum merata betul) yang sebagian di antaranya hidup sangat nyaman, lengkap dengan pengasuhnya sejak si anak melihat dunia hingga kemudian, beberapa di antaranya masih didampingi pengasuh yang sama saat dia memasuki mahligai rumah tangga. Itulah cerita tentang dongeng–dongeng klasik dunia maupun Indonesia. 

Dengan kondisi seperti itu, maka tidak heran kalau dalam benak sebagian masyarakat Indonesia, seorang pejabat baik itu pejabat rendah seperti lurah, kapolsek atau siapapun yang memiliki "kewenangan" sebagai wakil pemerintah dan karenanya menjadi penguasa suatu wilayah, terpateri kriteria bahwa mereka "harus" memiliki wajah tampan, "berdarah biru" atau minimal berasal dari kalangan atas, dari keluarga intelektual, kaya raya dan seterusnya. Mirip seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng klasik tersebut. 


Lalu apa hubungannya dengan Joko Widodo yang sejak tahun 2014 didapuk menjadi presiden Republik Indonesia ke 7?

Joko Widodo "si Tukang kayu"
Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 sebagai anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo. Ketiga adiknya perempuan semua dan mereka semua dibesarkan dalam keluarga sederhana serta pernah mengalami beberapa kali pindah rumah karena terkena penggusuran.

Menyadari keadaan keluarganya, sejak kecil, Jokowi tidak mau menyusahkan orang tuanya. Jokowi tidak mau ikut-ikutan temannya yang bersepeda ke sekolah dan lebih memilih jalan kaki dibanding minta dibelikan sepeda. Ia tidak malu membantu orang tuanya dengan menjadi pengojek payung hujan, kuli panggul, dan berjualan aneka barang. Bahkan saat umur 12 tahun, ia ikut bekerja di perusahaan kayu sebagai penggergaji kayu. Dia bisa mengerjakannya, terpengaruh keahlian orang tuanya sebagai tukang kayu. Upah dari hasil pekerjaan itu, digunakannya untuk biaya sekolah.

Jokowi menghabiskan pendidikan dasar hingga sekolah menengah di Solo, sementara  pendidikan tingginya diselesaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tidak ada prestasi yang menonjol darinya semasa kuliah, kecuali kejujurannya. Lulus pada tahun 1985 pada usia 24 tahun, ia menikahi Iriana 1 tahun kemudian dan dikarunia 3 orang anak

Untuk hidup mandiri, Jokowi merantau ke Aceh, bekerja di salah satu BUMN, PT Kertas Kraft Aceh selama 2 tahun lalu memilih kembali ke Solo untuk mendampingi istrinya yang sedang mengandung dan bekerja di tempat pamannya yang memiliki usaha di bidang perkayuan.

Pada usia  27 tahun, Jokowi mendirikan usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Usaha ini tidak berjalan mulus. Jatuh bangun mengiringinya. Bisnisnya mulai bangkit, setelah mendapat pinjaman modal dari ibunya. Ia memasarkan mebelnya melalui pameran–pameran dan berkeliling Eropa, Amerika, serta Timur Tengah sehingga sukses menjadi pengusaha ekspor mebel.

Berbekal pengalamannya dalam mengelola bisnis mebel, Jokowi berani terjun ke dunia politik. Tidak tanggung-tanggung, Jokowi mencalonkan untuk memimpin kota kelahirannya.  Pada usia 44 tahun, Jokowi memimpin Kota Solo untuk periode 2005–2010 dan kemudian terpilih kembali untuk periode kedua 2010–2015. 
Konsep "blusukan" saat menjalankan tugas sebagai Walikota Solo, mengantarkannya menang kembali untuk memimpin Solo.
Kesuksesan memimpin Solo serta beragam penghargaan yang diperolehnya, membuat Jokowi menjadi perhatian para elite politik di Jakarta. Baru dua tahun memimpin Kota Solo pada periode keduanya, Jokowi diminta PDI Perjuangan kembali untuk bertarung pada pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, Jokowi terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode 2012–2017, mengalahkan calon petahana. Jokowi berusia 51 tahun saat mulai memimpin DKI Jakarta. Kemenangannya dianggap mencerminkan dukungan populer untuk seorang pemimpin "muda" dan "bersih", meskipun umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun


Kesuksesan Jokowi berlanjut. Lagi-lagi baru menjalankan tugas gubernur DKI Jakarta selama 2 tahun, Jokowi dicalonkan PDI Perjuangan untuk bertarung pada pemilihan presiden 2014 untuk menghadapi Prabowo Subianto. Kali ini, ia berpasangan dengan Jusuf Kalla dan kembali sukses memperoleh kepercayaan rakyat Indonesia. Joko Widodo pun dilantik sebagai presiden RI ke-7. Jokowi dilantik pada hari Senin, 20 Oktober 2014 dalam Sidang Paripurna MPR, Gedung MPR, Senayan saat usianya menginjak 53 tahun.


Rival Jokowi pada pemilihan presiden 2014 adalah Prabowo Subianto. Sosok yang sangat lekat dan pas dengan penggambaran dongeng-dongeng klasik, yang dianggap cocok sebagai "pemimpin" sebuah negeri. Bukan saja sekedar negeri dongeng, tetapi negeri nyata bernama Indonesia. Dia berasal dari golongan "kelas atas" masyarakat Indonesia. Kakeknya, Margono Djojohadikusumo, dikenal sebagai tokoh perbankan Indonesia, yaitu salah satu pendiri bank negara Indonesia yang saat ini dikenal sebagai Bank BNI. Ayahnya, walau dianggap sebagai pemberontak oleh Soekarno, presiden RI pertama, namun pada masa pemerintahan Suharto, diangkat sebagai Menteri Keuangan. 

Prabowo sendiri adalah jenderal TNI yang kariernya melesat bak meteor, mengalahkan rekan seangkatannya yang menikahi salah seorang putri Suharto, presiden RI ke 2 tersebut. Maka lengkap sudahlah "garis keturunan" baik-baik, intelektual, kaya-raya dan seterusnya yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan masih terbuai dongeng, merupakan gambaran presiden yang sangat ideal bagi Indonesia. 

Masyarakat seakan tidak peduli bahwa pemilihan presiden telah dilakukan secara demokratis. Kampanye negatif yang dilontarkan selama masa pilpres 2014 kepada Jokowi tetap menguasai alam pikiran mereka dan selama masa pemerintahan Jokowi, berubah menjadi kebencian tanpa dasar yang menutup hati nurani sebagian masyarakat akan upaya yang dilakukan Jokowi untuk membangun negeri ini, terutama untuk melakukan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Mengejar ketertinggalan wilayah timur dan perbatasan serta pulau lainnya dari "kemajuan" pulau Jawa.
Prabowo Subianto

Sebaliknya, kekecewaan atas kegagalan Prabowo memenangi pilpres 2014 juga semakin menebalkan militansi kelompok pendukungnya. Segala cara dilakukan untuk men "down grade" Jokowi agar upaya Jokowi dalam meningkatkan perekonomian Indonesia tidak terlihat. Segala sesuatu yang dilakukan Jokowi dipandang dari sisi negatif dan bahkan dimanipulasi. Kampanye negatif masih saja menyertai langkah Jokowi dan semakin dahsyat menjelang pilpres 2019 yang tinggal hitungan belasan bulan saja. Apalagi setelah PDIP secara resmi menyatakan mendukung dan mencalonkan Jokowi untuk maju kembali sebagai calon presiden pada pilpres 2019.

Sedih...? Tentu saja ....
Teringat kata-kata dari salah seorang tokoh bahwa demokrasi Hanya akan berjalan baik di negara dengan pendapatan per kapita sebesar + US$ 5.000,- Walau pendapatan per kapita Indonesia pada bulan Oktober 2017 sudah mencapai US$13.120., namun ada parameter lain yang juga sangat menentukan keberhasilan demokrasi, yaitu pemerataan pendapatan dan pembangunan, tingkat pendidikan dan tingkat intelektual masyarakat. 2 hal terakhir inilah yang belum terjadi dan sedang diupayakan oleh Jokowi melalui pembangunan infrastruktur di wilayah luar Jawa. Hasilnya tentu tidak instan ... berproses panjang, dan harus tetap melalui kerja keras sesuai dengan slogannya .... kerja... kerja .... dan kerja.

Akhirnya .... sampai kapan paradigma dongeng klasik tersebut akan mendominasi alam pikiran pemilih Indonesia? Entahlah ...., menyimak riuhnya kampanye negatif dan hoax yang berseliweran di media sosial, yang juga diramaikan oleh tokoh-tokoh tua yang masih berebut panggung, sepertinya jalan menuju kedewasaan demokrasi masih jauh panggang dari api. Kita mesti harus tetap bersabar hingga para elite politik Indonesia mau dan mampu melepaskan ego sektoralnya untuk mengedepankan kepentingan NKRI beserta rakyatnya tanpa membedakan ras, golongan, suku dan agamanya serta tidak mengutamakan kepentingan kelompok/golongannya ataupun syahwat kekuasaan semata. 

Rabu, 21 Mei 2014

Ecek-ecek jadi pengamat politik

Capres - cawapres 2014
Sejak awal, saya bukan pendukung Jokowi sebagai calon presiden RI, apalagi setelah deklarasi pasangan calon presiden Joko Widodo–Jusuf Kalla. Tapi juga bukan berarti saya mendukung Prabowo Subianto sebagai calon RI1, apalagi setelah dipasangkan dengan Hatta Rajasa. Wah ….. enggak banget deh ….!!! Saya hanya merasa sangat muak dengan cara berkampanye yang vulgar ...  terutama serangan pada Jokowi yang terjadi bahkan sejak Joko Widodo masuk ke dalam kancah pemilihan gubernur DKI Jakarta berhadapan gubernur incumbent Fauzie Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramlie.

Sudah sejak semula, serangan kampanye hitam kepada Jokowi terasa sudah terlalu vulgar. Segala macam issue diketengahkan. Dari mulai soal asal–usul, kedaerahan, masalah agama yang dianutnya, tentu karena pasangan Joko WIdodo dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta adalah Basuki T Purnama yang beragama Kristen dan berasal dari etnis Cina, sampai hal–hal lain yang terasa sangat keterlaluan.

Usai terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, ternyata cercaan masih tetap berlangsung. Masyarakat banyak dibuta-tulikan oleh black campaign. Banyak permainan kotor politisi busuk yang menguasai DPRD Jakarta terjadi untuk men down grading kinerja pasangan gubernur dan wakil gubernur yang mengusung slogan Jakarta Baru.

Rancangan APBD terhambat, upaya menertibkan dan merapikan kesemrawutan Jakarta dihadang. Bahkan segala masalah yang ada di DKI Jakarta ditimpakan pada Jokowi–Ahok, begitu nama pasangan ini disebut orang seolah mereka berdualah biang keladi dari segala keruwetan yang ada di DKI Jakarta. Padahal sebagai segelintir orang yang memiliki wawasan lebih baik dari kebanyakan rakyat seharusnya kita tahu bahwa berbagai masalah di DKI Jakarta adalah akumulasi dari berbagai masalah yang selama puluhan tahun sejak bang Ali Sadikin, gubernur legendaris itu lengser, tidak pernah terselesaikan atau mungkin tidak pernah diperhatikan dan diniatkan untuk diselesaikan.

Pasangan gubernur DKI Jakarta, Jokowi–Ahok baru mulai membenahi Jakarta. Hasilnya  …. Kalau kita mau jujur dan tidak membuta-tulikan hati–nurani, sudah mulai terasa. Dimulai dari pembenahan kawasan Tanah Abang yang banyak ditentang bahkan oleh salah satu pentolan di DPRD Jakarta yang …. eh …. ternyata, dia memang “jawara” yang hidup dari kutipan pada pedagang liar yang memenuhi dan membuat ruwet kawasan Tanah Abang.

Lalu pembenahan kawasan waduk Pluit di Jakarta Utara dan waduk Ria–rio di Jakarta Timur, pelapisan jalan raya, perbaikan kampung dengan membuat kampung deret dan saya yakin banyak lagi yang saya tidak bisa menuliskan karena saya memang bukan pengamat, apalagi berkepentingan atas prestasi kerja mereka kecuali sebagai penduduk DKI Jakarta yang memiliki akar nenek moyang etnis Betawi.

Paling tidak … saya merasa betul perubahan itu karena jalan dari depan rumah hingga ke kantor sejauh + 8 km sudah dilapisi aspal yang tebalnya bukan basa–basi. Padahal sudah 14 tahun saya tinggal di kawasan tersebut dan baru pada era Jokowi–Ahok inilah ada perbaikan jalan yang bukan sekedar tambal sulam setempat.

Tentu, tidak semua cerita sukses saja. Masalah kronis banjir dan kemacetan masih belum teratasi, apalagi dengan terbitnya kebijakan “tolol” pemerintah pusat berupa ijin penjualan low cost green car–LCGC yang sesungguhnya juga sudah sejak awal ditentang Jokowi-Ahok.

Sewajarnyalah bila kita berpikir jernih … banjir adalah masalah kronis yang sudah ada sejak jaman Belanda. Itu sebab bila kita mau berbesar hati memeriksa dokumentasi tata kota, maka kita bisa melihat betapa rancangan pembuatan “banjir kanal Barat dan Timur” sudah ada sejak dulu. Sejak jaman penjajahan Belanda! Begitu juga dengan berbagai sodetan untuk mengalirkan air hujan.

Pembangunan di Jakarta memang sangat tidak terkendali. Aturan tata kota terutama yang berkaitan dengan tata guna tanah dan koefisien dasar bangunan–KDB banyak dilanggar. Wilayah resapan air di wilayah Jakarta Selatan dengan KDB 20% ternyata, secara massif, dilanggar melalui kongkalikong antara masyarakat dengan pejabat/aparat pemerintah yang koruptif.

Jokowi RI1?
Rawa, situ, hutan kota, perkebunan, sawah dan lahan pertanian lainnya semua berubah jadi hunian dan komersial. Jadi wajar saja kalau banjir menjadi tidak terkendali karena permukaan tanah tidak lagi cukup mampu menyerap curahan hujan. Salahkah pasangan gubernur DKI Jakarta ini? Bagi sebagian orang ….. pasti akan menjawab YA … pasangan gubernur DKI tidak mampu menyelesaikan masalah kronis di Jakarta.

Mereka lupa bahwa proses perusakan alam yang berjalan massif selama puluhan tahun, begitu juga dengan kesalahan kebijakan transportasi tidak akan bisa diselesaikan dengan segera. Butuh waktu yang cukup panjang bukan saja dari pemerintah daerah saja tetapi juga harus didukung selain oleh pemerintah pusat yang turut membebani kinerja DKI Jakarta dengan tugas sekaligus sebagai ibukota Negara, juga oleh seluruh masyarakat Jakarta dari berbagai lapisan sosial itu sendiri.

Kuncinya .... patuh pada aturan tata kota !!! Ada berbagai peraturan daerah dan banyak hal harus dipatuhi guna tercapainya tujuan memperbaiki kualitas kehidupan di Jakarta.  

Kalau perusakan ini sudah terjadi sejak berakhirnya masa jabatan bang Ali Sadikin pada tahun 1977, berarti sudah berjalan selama 37 tahun. Maka wajar saja kalau hasil perbaikannya belum terlihat karena pasangan gubernur DKI ini baru memerintah selama + 19 bulan saja.

Gaya kepemimpinan Jokowi yang menjungkirbalikan gaya komunikasi dan penampilan pejabat pemerintah membuat Jokowi menjadi “media darling” sekaligus menjadi sasaran empuk lawan politik yang sepertinya melihat Jokowi sebagai ancaman bagi ambisi berkuasa segelintir elit politik negeri ini. Penetapan Joko WIdodo sebagai calon presiden RI dari PDIP memang semakin membuat runyam sosok Joko Widodo. Penampilan “lugu” dan merakyat yang didukung dengan wajah “ndeso” …., wajah rakyat kebanyakan, ternyata semakin membuat runyam.

Ada pendapat pragmatis bila Jokowi terpilih jadi RI1 pada pemilihan presiden bulan Juli 2014 yang akan datang, maka koordinasi penyelesaian masalah DKI-pusat menjadi lebih mudah sehingga perbaikan kualitas hidup di Jakarta akan lebih lancar. Benarkah begitu…? Kita lihat saja karena ini memang baru asumsi ...
***

Semangatnya masih tinggi
Lalu …., bagaimana dengan Prabowo Subianto?
Konon … andai Prabowo menjadi presiden RI ke 9, maka TNI–RI akan memasuki babak baru yang "aneh bin ajaib". Akan tercatat dalam sejarahnya serta mungkin hanya satu-satunya di dunia. Bisa masuk MURI atau bahkan Guinness book of record, yaitu ······ TNI akan "diperintah" oleh Presiden RI sebagai panglima tertinggi TNI yang adalah jenderal yang sudah dipecat.

Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan Agum Gumelar berulangkali meminta Prabowo Subianto untuk mengingat sejarah

Prabowo Subianto yang kita tahu adalah anak kandung Sumitro Djojohadikusumo, dan cucu Margono Djojohadikusumo. Keduanya, bapak dan kakeknya adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam tatanan perekonomian Indonesia pada jamannya. Prabowo Subianto kemudian menikah dengan salah satu anak penguasa negeri ini. Tentu saja, kehidupan Prabowo sangat nyaman. Jauh dari perih penderitaan hidup yang diderita rakyat jelata.
Saya sangat menghargai keluarga Prabowo Subianto. Sebagai orang yang lahir dari keluarga terpandang di kalangan intelektual, tumbuh dan besar di luar negeri, Prabowo Subianto tentu sudah biasa bergaul dengan kalangan atas. Kalangan “terhormat” di berbagai bidang. Para pengusaha, kalangan militer dalam dan luar negeri, diplomat dari berbagai negara asing dan sebagainya. Ditunjang dengan kemampuannya berbicara dalam berbagai bahasa asing serta lingkungan pergaulannya ini akan menjadi modal kuat bagi Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia masuk dalam kancah pergaulan diplomasi internasional dengan penuh percaya diri. Kita sama tahulah ... bahwa kebanyakan orang Indonesia, langsung menjadi "bisu" saat harus berbicara, berdiplomasi, bernegosiasi apalagi harus berdebat dengan bule....
***

keren ya, dulu, waktu masih jadi jendral
Melihat profil kedua calon presiden Indonesia 2014, kita seperti diajak melihat persaingan dan pertarungan antara seorang ksatria melawan seorang dari golongan sudra. Perlawanan rakyat jelata melawan kaum intelektual. Antara golongan orang kota dan intelek, yang diwakili oleh Prabowo Subianto yang sudah terbiasa bergaul di kalangan masyarakat kelas atas melawan Joko Widodo  yang "cuma" anak pengusaha mebel "kampungan" yang lekat dengan kesulitan hidup rakyat.

Sayangnya, politik Indonesia pada era demokrasi saat ini, sudah mengarah pada pembodohan rakyat. Pemilihan umum kini sarat dengan praktek Money politic. Bahkan penguasa Negara memanfaatkan kekuasaannya “menjarah” APBN untuk digunakan sebagai alat money politic berbalut program pemerintah untuk meredam turunnya pendapatan rakyat akibat kenaikan BBM.

Gara–gara money politic ini pula, maka ongkos pribadi untuk pencalonan diri sebagai calon legislatif maupun eksekutif menjadi sangat tinggi. Maka tidak mengherankan kalau korupsi mejadi semakin massif dan merata demi “mengembalikan” modal yang sudah dikeluarkan.

Kampanye pemilihan juga semakin vulgar dan membabi buta. Etika dan sopan santun sudah semakin hilang. Caci maki semakin kerap dilakukan dan diumbar. Sayang sekali hal ini juga dilakukan oleh orang–orang yang relatif berpendidikan tinggi. 

Kalau sudah begini, siapa yg akan anda pilih...?

Tentu yang sesuai dengan hati nurani dan harapan2 yg kita inginkan
Jangan ikut-ikutan ....

Vote for new era Indonesia 2014

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...