Tampilkan postingan dengan label sosial-budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial-budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2012

BIJAK MENGUNDANG

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman di kantor yang lama, yang sekitar 18 tahun lalu pernah sekantor, menelpon .... Meminta alamat kantor saya sekarang. Dia bermaksud mengundang beberapa teman kantor saya yang sekarang beserta boss yang juga bossnya di kantor terdahulu untuk menghadiri pernikahan anaknya yang ke dua.

Setelah saya berikan alamat persisnya, beberapa hari kemudian saya menerima undangan tersebut. Alhamdulillah, dia masih ingat untuk mengundang teman-teman lamanya. Bisa jadi hal ini dilandasi untuk menfasilitasi teman-teman lamanya untuk melaksanakan reuni gratis heheheh .... Semangat menyambung tali silaturahim yang patut dihargai.

Saat membaca nama - nama pengundang, yaitu nama orang tua mempelai, saya agak tertegun... Bukan karena jumlahnya yang ternyata 3 pasang, yaitu 2 pasang berasal dari keluarga perempuan dan satu pasang dari keluarga lelaki, tetapi karena saya merasa nama salah satu istri pengundang agak familiar. Nama yang berasal dari "masa remaja" nun jauh di seberang... Apalagi dipadukan dengan nama suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak dan alamat rumahnya. 

Tidak salah lagi .... karena belasan tahun yang lalu, sekitar beberapa bulan setelah kelahiran anak saya yang ke dua, saya pernah bertemu di sebuah RS di bilangan Bekasi. Saat itu dia yang juga berprofesi dokter, sedang menunggu sang suami.

Segera saja kutelpon mantan teman kantorku itu untuk meminta nomor telpon genggam calon besan perempuannya yang menjadi ibu tiri calon menantunya itu.

Singkat kata, berbekal nomor telpon genggam pemberian temanku, beberapa hari kemudian, hari minggu pagi, sambil menunggu asisten rumah membeli ketupat sayur di pelataran parkir dekat pasar pondok labu, kukirim sms kepada temanku tersebut, memberitahukan bahwa aku mendapat undangan untuk hadir dalam pernikahan anak tirinya tersebut dan bermaksud menghadirinya.

Di luar dugaan, alih-alih menjawab sms ku, teman lamaku itu malah langsung menelpon ... hihihi... inilah kemudahan dan dampak kemajuan teknologi komunikasi - sedang berbelanja di pasarpun bisa tetap berkomunikasi. Cerita panjang lebar, bernostalgia mengenai teman-teman lama kami saat di bangku SMA dulu.

Sebetulnya... teman lama ini adalah kawan sekelas adik perempuanku, tapi karena kami tinggal bersebelahan rumah dan kebetulan dia tinggal dengan kakak iparnya yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala cabang suatu bank, maka kami cukup saling mengenal seluruh isi keluarga masing-masing.

Dua hari kemudian, saat berada di kantor, secara tiba-tiba aku menerima sms berisi penjelasan mengenai keluarga dan status anak-anaknya. Kaget juga aku membacanya .... Entah apa yang ada di dalam benak temanku, hingga dia merasa harus menjelaskan bagaimana dia melaksanakan pernikahannya dulu serta status anak-anaknya. Sumpah mati ... sama sekali tak pernah terlontar pertanyaan tentang hal itu. Itu urusan pribadi mereka.

Aku memang pernah mendengar cerita tentang pernikahannya tersebut dari adikku yang memiliki profesi yang sama dengan suaminya. Tapi... untuk apa mengusili urusan rumah tangga orang lain? Itu sebab ... aku hanya menjawab singkat..."ya, sudah pernah dengar ..... ! 

Hari Minggu, saat dilangsungkan resepsi pernikahan tersebut, aku hadir sendiri. Anakku sedang bermalas-malasan, kalau diperintahkan mandi lebih pagi. Mengikuti kebiasaan bapaknya, hari Minggu adalah hari santai dimana semua orang merasa "bebas" untuk mandi sesuka hati. Kebiasaan jelek yang tak patut ditiru. Suamiku, sudah sejak pagi keluar rumah. Hari Minggu adalah jadwalnya latihan senam pernafasan Sinar Putih. Pulang dari tempat latihan, usai sarapan pagi yang sudah sangat terlamabta, sekitar jam 10.30, biasanya acara memeluk guling tidak bisa diganggu gugat. Jadi.... kalau aku punya undangan dan dia sedang berbaik hati untuk ikut hadir, biasanya dia akan mengorbankan waktu latihannya. Namun kali itu, dia "berkeras" latihan karena minggu sebelumnya, kami pergi ke Bandung menjenguk ibuku yang baru usai melakukan operasi penggantian sendi pangkal paha kanannya.

Aku berangkat sendiri dari rumah sekitar jam 10.45, langsung mengambil jalan bebas hambatan menuju lokasi. Kebetulan bertemu beberapa teman lama dari kantor yang sama dengan orangtua mempelai lelaki. Kami ngobrol kesana-kemari. Memang begitulah motivasi kami hadir di acara pernikahan tersebut. REUNI..... Rupanya, mereka juga agak "curious" dengan adanya 3 keluarga pengundang. Itu sebab kami memilih tempat berdiri agak dekat dengan pelaminan, dengan harapan agar kami bisa "melihat" dari dekat  serta mendapat kesempatan awal memberi selamat kepada keluarga yang berbahagia tersebut.

Tiba saat pengantin dan keluarga berjalan menuju pelaminan, mataku menangkap sosok seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda dan seorang lelaki ganteng. Si perempuan, setelah kuperhatikan, ternyata menggunakan warna kebaya yang sama dengan orang tua pengantin yang sedang berjalan mengiringi pengantin menuju pelaminan, sedangkan sang pria juga memakai pakaian Jawa berblangkon. Tidak salah lagi ... ini tentu ibu pengantin perempuan disertai suami barunya.

Menjelang rombongan pengantin tiba di pelaminan, ibu kandung pengantin perempuan bangkit dari kursi rodanya. Berjalan perlahan tertatih-tatih sambil dipapah suaminya... dia berjalan dan duduk berdampingan dengan mantan suami dan istri "baru"nya. Memang agak terlihat tidak biasa ... apalagi saat itu sama sekali tidak terlihat adanya saling sapa di antara ke dua pasangan suami istri itu. Unik ..... Salah satu temanku sempat nyeletuk usil .... " lihat deh ... suaminya (bapak dari pengantin perempuan) mendapat istri yang lebih cantik, langsing dan lebih muda - begitu juga dengan ibunya. Usai diceraikan suami, dia yang terlihat sakit, mendapat suami yang juga lebih muda dan ganteng"

Kulihat seksama mereka yang ada di pelaminan.... Betul ... Sang suami Jawa yang wajahnya lebih pantas disebut wajah Minang - duduk berdampingan dengan istrinya (ini teman lamaku) yang jauh lebih segar dan cantik dibandingkan dengan mantan istrinya yang terlihat jauh lebih tua dan "sakit". Demikian juga mantan istri. Dia duduk tenang didampingi oleh suami yang terlihat gagah dan ganteng khas lelaki Jawa dengan kumisnya dan ..... terlihat jauh lebih muda dari wajah istrinya.

Entah apa yang berkecamuk di benak para undangan... Yang pasti, ke dua orangtua itu, walaupun sudah bercerai ... mereka punya hak dan kewajiban untuk "menyelesaikan" tugas, mengantar anak-anaknya ke gerbang pernikahan. Jadi memang.... mengapa harus malu dengan kondisi ini?

Minggu, 29 Januari 2012

Perubahan pada Pernikahan Beda Usia


Minggu 14 januari 07 yang lalu, kami sekeluarga pergi ke Cianjur. Ada staff kantor yang menikah di kampung halamannya, kampung Cijaring – kecamatan Cibeber Cianjur. Sebetulnya, dari kantor sudah disediakan big-bird, kapasitas 44 kursi. Tapi karena anak-anak kantor merencanakan berangkat jam 06.00 pagi dengan niat menghadiri akad nikah yang akan diselenggarakan tepat jam 09.00, maka saya membatalkan ikut bus. Maklum sajalah … setiap hari minggu, otak dan otot sudah diset untuk istirahat. Jadi lepas shalat subuh, selimut ditarik lagi untuk menutupi badan. Apalagi, upacara rutin di pagi hari, biasanya cukup heboh. Baca koran sambil makan buah ditambah kopi/teh…., lalu membersihkan residu makan malam dari tubuh, masih sambil membaca koran, baru mandi. Kesemuanya tak bisa dilakukan sambil dikejar-kejar waktu. Mesti santai, badan dan pikiran. Kalau tidak, bisa-bisa, ritme biologis hari yang terkait menjadi berantakan dan kacau. Untuk kembali kepada ritme biologis yang normal, membutuhkan waktu berhari-hari. Ini pasti sangat melelahkan dan menyebalkan.

Dengan pernikahan staff kantor tersebut di Cianjur, maka perempuan jomblo di kantor tinggal satu saja, Patricia. Hingga saat ini, walau jumlah staff bertambah, namun anak itu masih tetap awet sendiri. Dilihat dari umurnya. Ipet, begitu panggilan sehari-harinya gadis Batak bermarga Tambunan, seusia dengan anak sulung saya.

Sebelumnya, ada Rina yang kemudian pindah ke Malang. Ternyata udara Malang yang sejuk membuatnya menemukan pelabuhan hati. Syukurlah … dia juga menikah, lagi-lagi di kampung halamannya, Surabaya, di usianya yang sudah lebih dari 30 tahun.

Ada yang menarik dari kedua pernikahan ini. Keduanya …. adalah wanita yang berjodoh dengan lelaki yang berusia lebih muda. Salahkah…? Nggak juga …. Namanya jodoh! Rasul saja, ketika menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, usianya lebih muda 15 tahun lebih muda. Di keluarga suami saya, beberapa ipar saya memiliki istri yang usianya lebih tua. Dari yang hanya berbeda beberapa bulan saja hingga 2 tahun. Tidak lebih.
***

Pernikahan pada beberapa dekade yang lalu biasanya dilakukan antara lelaki yang usianya lebih tua dari istrinya. Jarang yang usia istrinya lebih tua. Kalaupun si istri lebih tua, paling hanya beberapa bulan saja. Yang paling menghebohkan mungkin kala Suzanna, artis senior yang seringkali berperan dalam film mistik menikahi Cliff Sangra yang usianya sebaya dengan Kiki anak perempuannya, usai bermain dalam film Sangkuriang. Orang bilang, pernikahan mereka dikarenakan “ketulah” dengan peran masing-masing dalam film tersebut. Selain pernikahan mereka, di kalangan artis, kemudian ada pernikahan Onky Alexander dengan Paula Ayustina Saroinsong dengan perbedaan umur sekitar 10 tahun.

Tahun 2000 an ini, terlihat ada kecenderungan peningkatan jumlah pasangan yang usia perempuannya lebih tinggi dari usia lelaki. Bukan saja di kalangan artis tetapi juga di kalangan masyarakat kebanyakan. Atau kalaupun ada perempuan muda yang menikah dengan lelaki yang berusia lebih tua, namun perbedaan usianya menjadi sangat ekstrim. Di atas 10 tahun. Bahkan ada beberapa perempuan yang bersedia menikah dengan lelaki yang usianya hampir seusia bapaknya. Di kantor saya, dari 10 orang perempuan yang sudah menikah, ternyata 4 orang menikah dengan lelaki yang usianya lebih muda antara 4 – 5 tahun.

Bagaimana kondisi riel di masyarakat. Di abad ke 21 ini, ada kecenderungan bahwa perempuan sekarang lebih dominan dan agresif dalam hubungan antar jenis. Ini terjadi tidak saja di kalangan orang dewasa saja, tetapi juga di kalangan remaja. Sayang, angket/survey mengenai perubahan perilaku masyarakat, tidak umum dilakukan di Indonesia. Ini berbeda dengan negara maju. Padahal hasil survey yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat serta kecenderungan perubahannya sangat penting dan berguna sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah agar strategi dan kebijakan yang dijalankan menjadi lebih terarah.
***

Orang bilang, pernikahan yang ideal itu, dilakukan antara pasangan yang usia suami lebih tua 4 – 6 tahun daripada usia isteri. Ini berkaitan dengan kondisi fisik dan biologis pasangan tersebut kelak, yaitu yang berkaitan dengan hubungan biologis saat istri memasuki masa menopause. Saat memasuki menopause, perempuan mengalami banyak perubahan fisik dan psikis yang dapat mempengaruhi kualitas hubungan suami isteri. Sementara, pada lelaki perubahan fisik dan kemampuan biologisnya relatif tidak mengalami perubahan apapun, kecuali bila dia menderita Diabetes Mellitus. Itu sebabnya, dalam perkawinan dianjurkan agar usia lelaki lebih tua dari perempuan. Tetapi perbedaannya pasangan suami – isteri sebaiknya tidak seperti usia Koes Hendratmo dengan Aprilia ... Itu pernikahan keblinger antara bapak dengan anak. Eh, tapi saya ingat, ada sepupu saya yang menikah dengan lelaki asal Amerika. Dan usia sang suami konon hanya berbeda sekitar 3 tahun dari usia bapaknya.

Kelahiran, pernikahan (jodoh) dan kematian memang merupakan rahasia ketentuan Allah SWT. Manakala itu sudah "ditetapkan" maka tidak ada seorangpun yang mampu menghindarinya. Termasuk tentunya keserasian biologis dari pasangan suami istri yang memiliki perbedaan usia yang ekstrim terutama bila usia istri lebih tua dari usia suami. Nyatanya, tidak ada pernikahan ideal. Ada banyak pernikahan yang ditinjau dari sisi umur merupakan usia ideal, toh tidak juga mampu melewati badai dan kandas hanya beberapa tahun setelah menikah. Tidak itu saja..., belakangan ini ada kecenderungan pernikahan yang sudah melewati usia perakpun bisa juga kandas. 

Pernikahan memang memerlukan "kerjasama" antara suami dan istri, saling mempercayai, menghormati dan menghargai. Cukup begitu saja...? Entahlah ... itu adalah salah satu rahasia alam yang diaturNya. Wallahu’ alam

Lebak bulus, kamis 18 january 2007 at 22.30 and reedited on Sunday evening 29th january 2012

Minggu, 15 Januari 2012

Poligami ....?

Pernikahan Abdullah Gymnastiar yang lebih dikenal sebagai Aa Gym dengan janda cantik beranak 3, yang konon keponakan mantan Presiden RI ke 3 BJ Habibie, beberapa waktu lalu memang sangat menghebohkan. Semua orang tiba-tiba angkat bicara. Isu poligami jadi menghangat kembali. Milis, koran, majalah, radio apalagi infotainment di tv, ramai memberitakan cerita seputar pernikahan ke 2 si Aa. Bahkan presiden RI lantas ikut sibuk memanggil Menteri Pemberdayaan Wanita DR Meutia Hatta untuk mengkaji kembali dan berniat memperluas cakupan penerapan PP no 10.


Yang tidak kalah menghebohkan juga, pada saat yang hampir bersamaan beredar video hubungan intim di luar nikah antara anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat Yahya Zaini dan Maria Eva yang sebenarnya telah berlangsung beberapa tahun yang lalu.. Terungkapnya hubungan gelap tersebut ini makin meramaikan pro dan kontra hubungan antara lelaki menikah dengan the other woman. Betul-betul langsung menohok .... Dua ekstrimitas. Legal versus ilegal. Dari sudut pandang saya, keduanya berawal dari “Perselingkuhan”. Yang satu berakhir secara legal melalui lembaga poligami, satunya lagi tetap illegal dan berakhir dengan membawa ”gunung es” dendam yang kemudian meledak melalui video intim tersebut.

Yang pro poligami, tentu mengeluarkan ”berbagai” jurus berupa ayat-ayat Al Qur’an dan hadist-hadit pendukung. Begitu juga yang kontra. Tapi, karena sebagian besar para penafsir al Qur’an adalah dari jenis kelamin lelaki, maka ayat-ayat dan hadist yang beredar tentu nuansanya sangat maskulin à pro poligami. Tidak ada satupun yang sifatnya feminin alias menafsirkan ayat-ayat dan hadis-hadis dari sudut pandang ”kepentingan” perempuan.

Sebagai perempuan, rasanya sebel banget atas ke dua peristiwa ini dan pro – kontra yang menyertainya. Menurut saya ... semuanya berujung pada masalah sekwilda – sekitar wilayah dada dan ketidakmampuan lelaki menahan nafsu syahwatnya. Padahal .... masih menurut saya lho ... Manusia (jaman sekarang) yang mulia dan layak dihormati adalah Manusia yang mampu menahan nafsu syahwatnya (dalam bidang apapun juga), pada saat dia mampu melakukan apapun juga.

Misalnya saja ... lelaki yang kukuh mempertahankan monogami saat keadaan memungkinkannya untuk melakukan poligami (dia kaya raya sementara istri mandul atau sakit). Atau orang yang kaya raya, tetapi dia mampu hidup bersahaja, secukupnya seraya mendedikasikan seluruh harta dan karyanya semata-mata untuk kegiatan di jalan Allah SWT. Berharap ridho Allah SWT semata.

Nah rasa prihatin itu, agak terobati saat saya membaca artikel BENARKAH POLIGAMI ITU SUNNAH, yang ditulis oleh Faqihuddin (kalau tidak salah) di suatu blog di multiply. Jadi artikel itu saya forward ke salah satu milis perempuan yang saya ikuti. Maksud kerennya sih .... mengajak anggota milis untuk memandang tafsir ayat/hadis tentang Poligami dari sudut lain yang lebih kritis.

Awalnya, saya memang nggak tahu dan nggak menyelidiki siapa Faqihuddin itu. Cuma tahu (dari artikel itu) bahwa dia adalah dosen IAIN dan lulusan Damaskus – Syiria. Sayang ... rupanya members milis itu kurang berkenan dengan tulisan tersebut. Alih-alih berdikusi dengan sehat, saya jadi merasa dihujat dan prihatin karena ada salah satu anggota yang melihat saya sebagai orang yang ”salah jalan”. Padahal ... sungguh mati, saya nggak ngomong apa-apa kecuali mem forward tulisan itu. Pada prinsipnya, saya mengerti dan bisa menerima konsep POLIGAMI menurut Islam dalam konteks untuk perlindungan perempuan. Tetapi ini tidak berarti saya setuju dengan penerapannya di masa sekarang yang terlihat lebih mengutamakan "pemuasan syahwat" lelaki.

Jaman diturunkannya ayat-ayat Al Qur’an dan masa kehidupan Rasulullah SAW itu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Keimanan dan ketakwaan manusianya juga berbeda. Mana mungkin manusia sekarang mampu punya kualitas ketakwaan yang sama dengan Rasul dan para sahabatnya sehingga mereka merasa mampu menjalankan poligami sebagaimana Rasul. Atau mungkin para pelaku poligami itu sudah merasa kualitasnya sebagai manusia sudah setara dengan Rasul, sehingga mereka merasa punya hak melakukan apa-apa yang dilakukan Rasul (sunnah Rasul) secara serampangan. Pernahkah mereka mengkaji asal-usul setiap pernikahan Rasul dengan para istri-istrinya .....? Apakah mereka pernah pula mengkaji, bagaimana Rasulpun pernah kerepotan dengan ”persaingan” antara istri-istrinya?

Kalaupun niat berpoligami dilakukan dengan alasan mengikuti sunnah/perilaku Rasul, ada baiknya mengikuti perilaku dan keshalehan Rasul terlebih dahulu, yaitu minimal masa umur 20 tahun sampai beliau berumur 55 tahun, yaitu semasa hidup membujang sampai dengan meninggalnya Khadijah binti Khuwailid untuk kemudian beliau menikah lagi 3 tahun setelah meninggalnya Khadijah? Mengikuti segala ibadahnya, kejujuran, konsistensi, keteguhan dalam memegang amanah, integritas, kesabaran dan banyak lagi perilaku Rasul yang dijadikan tauladan bagi umat manusia. Kalau kesemuanya sudah diikuti ....baru pantaslah seorang lelaki mengikuti sunnah/perilaku Rasul dalam berpoligami. Jangan hanya meniru kehidupan rumah tangga (poligamis) Rasul semasa 8 tahun sebelum beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun saja, yang menjadi obyek untuk diteladani?

Kok enak banget ya...., Apakah perilaku Rasulullah selama 28 tahun mengarungi kehidupan monogami bersama Khadijah binti Khuwailid tidak patut diteladani? Padahal .... pada jaman tersebut, poligami dan harem bagi orang kayan adalah hal yang sangat biasa. Pada periode tersebutlah beratnya kehidupan dan perjuangan Rasul dalam menyebarkan mengembangkan agama Islam.

Setelah Khadijah meninggalpun, Rasulpun masih menduda hingga +/- 2 tahun hingga masa para sahabat ”memaksa” beliau menikah kembali agar anak-anak[1] beliau ada yang mengurus dan beliaupun memiliki pendamping dalam menghadapi perjuangan berat menyebarkan ajaran Islam. Demikianlah, karenanya, Rasul akhirnya menikah dengan Saudah binti Zam'ah[2] .

Baru setelah pernikahan ke dua itulah, kemudian selama 8 tahun sampai dengan wafatnya Rasul SAW, menikahi beberapa perempuan. Masing-masing dengan berbagai pertimbangan khusus. Beberapa di antaranya berkaitan dengan penerapan kandungan al Qur’an. Tentu sah-sah saja bila sementara orang menafsirkan bahwa pada dasarnya Rasul berperilaku monogami (di tengah masyarakat Arab yang poligamis) dan hanya karena ”kewajiban” beliau dalam memberi contoh kepada umat dalam berperilaku sesuai dengan ”arahan” Allah SWT, di dunia inilah maka beliau melakukan poligami.

Berkaitan dengan ”teladan” Rasul mengenai poligami ini, adakah para pelaku poligami sudah betul-betul mengikuti teladan Rasul yang lainnya, yaitu .... segala perilaku Rasul selama berumah tangga dengan Siti Khadijah. Apakah dalam memilih istri ke dua – ketiga dan seterusnya, para pelaku poligami itu juga sudah mengikuti teladan Rasul ..... Istri kedua Rasul, Saudah binti Zam'ah adalah janda tua yang sama sekali tidak cantik. Begitu pula dengan istri-istri beliau lainnya, kesemuanya janda, kecuali Aisyah RA. Bahkan ada pula yang nerasal dari budak yang dimerdekakan.

Kebanyakan pelaku poligami saat ini lebih memilih perempuan muda atau janda cantik untuk disunting sebagai istri ke dua. Jarang, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada pelaku poligami karena niat "menolong janda tua yang miskin dan anak-anak dhuafa". Padahal ... justru merekalah yang perlu dibantu, dilindungi dan dinikahi ..... Ada banyak janda miskin, banyak anak yang lebih butuh perlindungan. Itu kalau kita, secara konsekuen, mau mengikuti sunnah/perilaku Rasul lho!

Jadi .... dimana letak alasan “mengikuti sunnah Rasul” yang sering digembar-gemborkan oleh para pelaku poligami. Itu betul-betul tafsir Al Qur’an dan Hadist yang bias gender ... yang terlalu maskulin. .. Sak’ enak’e dewe...!!! Sorry to say ..... bagi saya pribadi ... poligami masa kini lebih banyak pertimbangan “syahwat” daripada mengikuti sunnah Rasul. Konyol betul ..... teladan baik yang diperlihatkan Rasul dalam melakukan poligami, ditafsirkan serendah itu.

Sangat disayangkan, intelektual perempuan muda jaman sekarang ikut terjebak dan terbelenggu dalam penafsiran bias gender tersebut. Belum ada intelektual muslimah yang berani memulai membuka wacana penafsiran baru. Kelihatannya ada ”ketakutan” untuk menfsirkan sesuatu yang ”berbeda” dengan yang sudah ada. Takut di cap sesat, takut dihujat dan lain-lain. Padahal .... bukankah Islam adalah agama yang relevan untuk segala jaman ... rahmatan lil alamin ... dan yang terpenting adalah .. Agama bagi orang-orang yang berpikir.

Pemikiran seperti ini bukan dengan maksud sok pintar ... Saya cuma sebutir pasir tak berguna, bila dibandingkan dengan dai/daiyah, alim ulama. Apalagi bila dibandingkan dengan ahli tafsir dari belahan dunia manapun juga. Saya hanya berpikir .... bukankah para dai/daiyah, alim ulama, ahli-ahli tafsir itu juga manusia biasa ... yang punya nafsu, ambisi, khilaf dan silap. Bukan tidak mungkin kekurangan ini terjadi saat mereka menafsirkan kandungan Al Qur’an dan Hadist.

Jadi ... kalau kita meyakini bahwa kandungan Al Qur’an bisa menjawab persoalan manusia hingga akhir jaman, maka tafsir Al Qur’an secara periodik harus dikaji kembali dan disempurnakan. Jangan lupa .... yang sempurna itu adalah Al Qur’an yang merupakan firman/wahyu dari Allah SWT. Sementara tafsir adalah buah pikiran manusia yang ”mungkin” sarat dengan kesalahan.

Wallahu’ alam.
Semoga Allah SWT mengampuni kesalahan saya (bila ada) dalam menafsirkan poligami.
Diedit kembali pada tanggal 9 desember 2006 jam 14.30 di Lebak bulus

[1] Dalam pernikahannya, Rasul SAW hanya memiliki 6 (enam) orang anak dari siti Khadijah yaitu Qasim, Abdullah, Zainab,Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah Az Zahra dan 1 orang anak dari istrinya yang berasal dari Mesir, bernama Mariyah al Qibtiyah yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim kemudian meninggal dunia dalam usia 1 tahun.
[2] Di dalam sebuah referensi dikatakan bahwa pernikahan beliau dengan Saudah binti Zammah terjadi lebih dahulu, baru kemudian Rasul menikahi Aisyah binti Abu Bakr. Namun karena Aisyah masih di bawah umur, maka Aisyah baru bergabung di rumah Rasul 3 tahun kemudian. Selama masa tersebut, Rasul hidup monogami dengan Saudah binti Zammah. Dalam Referensi lain, dikatakan bahwa Aisyah dinikahi lebih dahulu daripada Saudah tetapi bergabung/serumah dengan Rasul 3 tahun kemudian.

Minggu, 08 Januari 2012

Perempuan Overdosis

Cerita ini saya tulis di bulan puasa, sambil ngisi waktu. Mohon maaf bila kurang berkenan bagi sebagian muslimin yang membacanya. Memang nggak enak, bulan puasa kok ngomong masalah sex, walaupun sex adalah karunia dasar dari Allah SWT bagi umat manusia. Bukan sok "bersih" lho, mungkin ada sedikit manfaat yang bisa dipetik dari tulisan ini. Ceritanya begini...

Dalam suatu obrolan pagi hari, sambil baca-baca koran di teras belakang rumah, suami tiba-tiba nyeletuk :
"Perempuan kok umumnya overdosis ya..., nggak puas cuma sekali aja...?"
Nggak ngerti apa yang diomongkannya secara tiba-tiba, saya cuma menimpali sedikit :
"Apanya yang overdosis...?"
"Ya itu ... urusan ranjang...."
"Eh ... enak aja ngomong begitu...."

Obrolan itu terhenti begitu saja. Saya lagi sibuk baca buku Perempuan Suci (Qaishra) yang mengharu biru ... Kalau saya menimpali obrolan suami terlalu banyak, saya malu, ketahuan bahwa saya membaca buku itu sambil berlinang air mata... (norak banget deh pokoknya... )

Beberapa hari kemudian, sambil setir mobil pulang dari kantor, pikiran melayang-layang nggak keruan dan teringat akan obrolan pagi hari tersebut. Kok tiba-tiba, dia ngomong begitu ....? Memangnya ada berapa banyak perempuan yang sudah diajak tidur sampai dia mempunyai kesimpulan seperti itu...?

Hihihi... pikiran "kotor" menyeruak di kepala. Mestinya saya memang tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Extra-marital sexual relationship itu hampir tidak mungkin dilakukan suami, karena dia sangat tahu akan dosa besar sebagai akibatnya. .... Tapi meminta ijin resmi untuk menikah lagi lebih mungkin terjadi ... (touche le bois ... esperons que cela n'arriverait jamais dans ma vie). Tapi, biasalah ... perempuan suka menduga-duga dan berimajinasi tentang hal-hal negatif jauh melebihi apa yang sebenarnya terjadi ...

Jadi sampai di rumah, sambil menunggu beduk buka puasa, saya mengulangi lagi obrolan tersebut ...:
"Ingat nggak, soal perempuan overdosis itu...?
"Ya....?"
"Memang, sudah berapa banyak perempuan yang kamu ajak tidur ....?"
"Itu omongannya si I'am .....(Dr Ichramsyah SpOG). Ingat nggak, waktu the Prof manggung mengiringi dokter berdansa, sebelum masuk puasa itu?"
"Ya ..., tapi kan itu masalah osteoporousis. Bukan masalah sexual relationship...!"
"Ih ... dengerin dulu dong.. jangan diputus-putus..! I'am cerita .... osteoporousis itu ada hubungannya dengan hormon estrogen. Pasiennya banyak yang minta disuntik agar kadar hormon yang mendorong libidonya itu bisa turun"
"Memangnya kenapa...?"
"Banyak pasiennya yang butuh hubungan seks hingga 3 - 4 kali sehari, kayak minum obat. Sementara suaminya cuma mampu melayani satu kali saja.."
“Ye….suaminya DM, kali! Pasti bukan karena libido perempuan yang tinggi sehingga dia jadi overdosis…! Tapi perilaku seksnya yang berbeda. Ini ibarat mesin diesel ketemu dengan mesin Ferari. Saya pernah baca, kalo Ferari itu ... begitu kunci kontak dinyalakan ..., dalam beberapa detik – kurang dari satu menit, mesinnya langsung panas. Nah ini analog bagi lelaki. Sementara perempuan itu seperti mesin diesel .... mesti dipanasin agak lama, baru tarikan dan tenaganya muncul. Nah ... kalo mesin diesel baru setengah panas, si Ferari sudah mencapai titik optimum ... kan nggak nyambung ... Pantes aja kali si istri uring-uringan, merasa kurang terpenuhi hasratnya...”
“Eh … dipotong… panjang lagi….! Ini kan ceritanya I’am. .. kisah nyata dari balik kamar praktek dokter ginekolog ... Dengerin dong ....!”
"Ya deh .... Lalu...?"
"Nah, jatah suami itu malam sampai dengan pagi hari, menjelang subuh. Itupun cuma satu kali. Bener ... mungkin karena usia, DM atau kecapean kerja. Jadi sisa kebutuhan istrinya diambil dari lapangan Banteng situ ..."
"Hah .... apa maksudnya?"
"Sesudah suaminya berangkat kerja, si istri pergi ke lapangan Banteng, cari lelaki untuk dibawa ke rumah dan melakukan hubungan sex dirumahnya..."
"Hah ... gila apa...?"
"Ya begitu ceritanya I'am ... kan perempuan itu pasiennya..."
"Kok seenaknya aja dia cerita begitu.. apa nggak takut ketahuan suaminya..?
"Ya nggak... mereka (pasutri) itu konsultasinya berdua kok ... Jadi suaminya tahu dan mengijinkan istrinya. Cuma mungkin lama-lama mereka cape dan costly .... jadi si istri minta disuntik saja agar libidonya bisa diturukan, menjadi normal saja"
"Astagfirullah ...edan....!!!"

Waduh …. Nggak terbayang ada kejadian seperti itu …. Nggak terbayang bagaimana mereka menaruh moralitas dan nilai-nilai/norma agama dalam kehidupan sehari-hari. Saya yang sama sekali tidak suka dan merasa jijik dengan tulisan-tulisan Moamar (Jakarta undercover) dan selama ini menganggapnya sebagai orang terlalu mengada-ada, menjadi terperangah.

Selama ini saya selalu menutup kuping saat mendengar cerita-cerita semacam itu. Bukan hanya cerita kosong dan gosip, tetapi cerita yang diperoleh dari orang-orang yang sulit disangkal kebenarannya. Yaitu cerita-cerita tentang pesta orgy di kalangan atas ... perilaku tukar pasangan dari sekelompok high class nya Jakarta yang salah satu nama (yang disebut adik ipar saya – karena mereka teman baik semasa SMA), saya kenal baik ......

Duh ...... pantas aja kalau HIV-AIDS sukar diberantas.....

oktober 2006

Sulit mengambil keputusan menikah


Jum'at kemarin, seusai shalat ashar, YM saya ada yang manggil, walaupun statusnya invisible.
"Madame .., ngganggu?"
"Nggak ... ada apa oom?"
Ini pasti Yudi, temanku yang agak “bawel” terutama untuk urusan hubungan antar jenis.
“Apa pantas kalo perempuan itu berlaku kasar…?”
Lho ...lho ... ada apa lagi ni orang? Belum apa-apa sudah menyergah dengan pertanyaan yang menyudutkan perempuan...
“Tergantung keadaan ....! Orang selalu berharap perempuan selalu bersikap halus, lemah lembut ... ya ... yang begitu-begitu deh...! Tapi kan, itu tergantung dari pembawaan dan mungkin juga dari suku bangsanya... Ada apa sih...?”
”Aku tuh suka sebel ... cewe yang lagi deket sama aku itu, kok kasar banget ya...? Pernah suatu saat dia bilang gini ... dasar orang gak punya otak!! Kan nggak pantes perempuan ngomong begitu...!!”
”Ya kalo kamu ngerasa nggak suka dengan sikap, sifat atau kebiasaannya ... ya tinggalin ... cari yang lain...!, Kok susah banget sih?”
”Sudah ....!”
”Nah, kalo sudah ... terus kenapa lagi...?”
”Ya tapi gak bisa ....?”
”Lho ... kamu ini gimana sih? Sudah putus, tapi gak bisa... Maksudnya apa?”
”Ya sudah berulang kali putus. Kalo sudah berantem, putus... tapi akunya balik lagi sama dia....”
”Oalah ....! itu karena kamu gak mau, makanya kamu nggak bisa!”
”Apa maksudnya...?
”Hati kecil kamu sebetulnya ”nggak mau” putus, makanya kamu nggak bisa putus... bolak-balik terus...! Au fond du coeur, kamu itu follement amoureux d’elle!!! Kalo gitu sih .... udahlah ... kawinin aja dia, beres kan....!”
”Gak bisa .... gak bakalan cocok sama ibuku...!”
”Eh .. denger baik-baik ... Gak ada sejarahnya perempuan yang cocok dengan mertua perempuannya. Kalaupun ada, jarang banget...! Jadi itu persoalan biasa ... Lagipula, yang kawin, kamu ...!”
”Tapi ... dia sudah pernah menikah ... dan pernikahannya nggak berumur panjang, gak sampe 1 tahun...!”
”So ... what...?”
”Gue gak mau nasib gue kayak gitu...!”
“Setiap pernikahan itu adalah judi…Kesalahan kita adalah saat berpendapat bahwa pernikahan adalah tujuan dari persatuan dua hati anak manusia. Jadi pernikahan adalah final dari perjalanan cinta! Padahal .. itu salah besar, karena pernikahan adalah starting point of an open-ended problems. Akan ada berbagai macam masalah yang datang silih berganti dan kita sudah menandatangani kontrak (yang diharapkan) berjangka panjang. Yang perjalanannya sama sekali unpredictable. Apa bukan berjudi, namanya? Perlu effort untuk memeliharanya. Sejauh ada kesamaan visi, saling menghormati dan punya komitmen yang sama, apalagi yang ditakuti?”
”Sifatnya itu. ...”
”Kenapa harus melihat segala kekurangannya? Memangnya kamu sudah sempurna? Coba hargai segala kelebihannya sebagaimana kamu berharap dia juga mau menghargai kelebihanmu diantara banyak kekurangan yang ada di kamu...!”
”Aku nggak suka, dengan sikapnya yang arogan...!”
”Duh ... bolak-balik kesitu ....! Gini deh ... pilihannya kan Cuma dua... kawin atau putus...! Nah pilih salah satu ...”
”Aku udah coba putus sama dia, tapi gak bisa, selalu balik sama dia...”
”Ya sudah. .. kawin aja sama dia...”
”Tapi ... kalo ternyata nggak cocok ...?”
” Udah deh .... Sekarang ini kan kamu cinta buta banget, jadi kamu kawin aja sama dia ... Ntar, kalo udah kawin, mata hati kamu jadi terang benderang ... bisa melihat dengan jernih segala kekurangan-kekurangannya”
”Memang, kalau sudah menikah, perasaan cinta bisa hilang...?”
”Nggak juga sih ... tapi nuansa dan suasananya sudah berbeda. Kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih jernih, yang tidak ditutupi perasaan cinta menggebu-gebu. Nah, kalau memang dirasa susah untuk dipertahankan. ya cerai aja ....... Kok susah banget sih?”
”Duh, madame ... kok jahat amat sih?”
”Lha.... kamu ini gimana sih? Disuruh putus..., kamu bilang gak bisa! Disuruh kawin... kamu bilang, gak suka sama sifatnya...! Kalo begini terus... sumpah mati deh ... sampe kapanpun kamu nggak akan pernah menikah ...!”

(duh ... maaf Yudi ... kok lagi puasa gini, omonganku ”jahat” banget ya....? Sungguh mati, aku nggak bermaksud jahat sama kamu, cuma gregetan aja! Umur kamu sudah pantas untuk memiliki 2 orang anak balita.... lho! Keburu kiamat ...!!!)

Sabtu, 07 Januari 2012

Rame-rame cari suami dari Jawa

Sya'ban/September 2006 ini memang bulan pilihannya masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan. Jadi jangan heran, kalau dalam satu minggu, kita akan menerima 2 sampai dengan 3 undangan resepsi pernikahan. Itu berarti unpredictable cost. Coba kita hitung deh berapa besar pengeluaran tambahannya. Buat "nyecep" - kata orang Sunda, terus buat bikin baju baru ... . Perempuan kan biasanya nggak mau pake baju yang sama untuk acara yang sama (pernikahan) takut ketemu orang yang sama .... (tapi nggak termasuk gue lho ....). Belum lagi buat sanggul dan make up di Salon .... Belum lagi kalo undangannya di luar kota. Wuaduh .... bayangin aja kalo setiap minggu selama bulan Sya'ban ada undangan dan mesti hadir ... Alamat, akan ada krisis di dapur.

Hari minggu 10 September 2006 yang lalu, gue dapet undangan pernikahan dari Padang. Ini kenalan lama waktu tinggal di Stains 1981-1984. Keluarga dosen dari Universitas Andalas. Saat mengikuti suaminya ke Perancis, uni Tjul (begitu sama memanggilnya) sudah punya 2 anak perempuan. Yang besar, Dhini (dia ini yang menikah) kira2 umur 7 tahun dan Lydia berumur 1 1/2 tahun. Baru tinggal 1 bulan di Stains, uni Tjul langsung hamil anak ke 3. Kehamilan yang berat secara psikologis maupun fisik, harus dilaluinya. Sampai2 PMI (protection Maternelle et Infantile) mengirimkan femme au foyer, yang membantu uni Tjul untuk mengerjakan urusan rumah tangga (masak, cuci, ke pasar dll). Kehamilan itu juga dilalui dengan harap-harap cemas, menginginkan kehadiran anak lelaki dalam keluarga. Maklum, punya anak perempuan saja, bagi orang Minang itu costly.

Saya yang kebetulan secara bersamaan hamil anak pertama dan tahu kekhawatiran uni Tjul, sering mengganggunya. Apalagi saat dari hasil USG, diketahui bahwa bayi saya berkelamin lelaki sementara uni Tjul ... lagi-lagi perempuan.

Kembali ke Jakarta tahun 1984, saya sempat bertemu lagi dengan uni di Jakarta dan di Padang saat ada perayaan hut REI. Saat itu, uni Tjul sudah punya anak ke 4, masih perempuan dan terakhir. Putus asa juga rupanya ..... 4 anak perempuan pasti bisa bikin pusing keluarga Minang.

Dalam perkawinan adat Minang, keluarga perempuan wajib "manjapuik marapulai" dengan sejumlah hantaran dan "uang panjapuik". Inilah sumber kekhawatiran Uni.

" Bayangkan Lin .... berapa kilo "ameh" yang mesti uni sediakan untuk manjapuik marapulai" bila anak uni berjodoh dengan urang awak...? Onde.... indak tabayang, jo uni....!" Saat itu, Dhini sudah kuliah di Unpad dan ketiga adiknya masih tinggal di Padang.

"Doakan uni supaya bisa menyekolahkan anak-anak di Jawa ya..."

"Kenapa ni....?"

"Biar anak-anak mendapat jodoh orang Jawa. Biar putus kewajiban uni menyediakan "ameh" tu!"

Duh .... kasihan si Uni!! gue inget banget, saat di Stains, uni cerita bahwa saat menikah dengan uda, beberapa keluarga si uda memaksakan untuk meminta "panjapuik marapulai" yang sesungguhnya diluar kesanggupan keluarga uni. Untungnya, diam-diam uda sudah punya simpanan yang cukup besar sehingga demi cinta dan terlaksananya pernikahan, simpanannya itu direlakan untuk digunakan dalam acara "manjapuik marapulai".

Gue juga inget, keponakan suami (Jawa+Sunda) beberapa tahun yang lalu terpaksa putus dengan pacarnya yang anak dokter asal Minang. Konon ibu si pacar keberatan anaknya menikah dengan non Minang, karena anak lelaki (sarjana bo .... nilainya sama dengan BMW) mereka tidak akan menerima "panjapuik".

Beberapa tahun kemudian, selesai mendapai ijasah S1, Dhini mulai kerja di Jakarta. Uni yang kebetulan berkunjung ke Jakarta, lagi-lagi berpesan....

"Carikan jodoh orang Jawa untuk Dhini ya Lin...", Gue gak bisa ngomong apa-apa .... Haree geenee ngejodohin anak orang .... Ngeri skalee....!!!

Jadi, saat menerima undangan dari uni Tjul ....buru-buru gue telpon dia ke Padang. Ngobrol agak lama, gak ngitung pulsa telpon lagi deh.

"Uni ..... selamat ya. Menantu uni; tepat dan sesuai dengan idaman uni ya.... ! Ketemu dimana tuh?"(keluarga calon suami Dhini, tinggal di Kediri - Jatim)

"Tetangga sebelah rumah kost di Depok, sewaktu Dhini ambil S2"

"Syukurlah ....Maaf nggak bisa hadir ya, ni..., kami di Jakarta juga banyak dapat undangan pernikahan! Maklum, menjelang puasa".

"Sayang ya, nggak bisa hadir. Mohon doanya ya .... Masih berat tanggungan uni nih .... masih ada 3 anak gadis lagi yang belum menikah...!"

Waduh si uni....! , masih itu aja yang dipikirin....!

Semua anak gadisnya "diusir" dari Padang agar mendapat jodoh non Minang. Lydia, selesai kuliah di univ Andalas, lalu kerja di kantor akuntan Jakarta. Irma ... yang lahir di St Denis - France, baru selesai S1 dan sudah dikirim di Jakarta untuk cari kerja. Tinggal si bungsu yang baru masuk kuliah, tinggal bersama mereka di Padang.

Alhamdulillah... perjalanan panjang si Uni berhasil..., Dari 3 anak gadisnya yang sudah menikah, dua diantaranya menikah dengan lelaki asal Jawa. tinggal si bungsu lagi... Entah apakah dia akan menikah dengan lekaki Jawa, atau mengikuti kakaknya nomor 3, menikah dengan lelaki Minang...

Apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup? Ternyata mempertahankan adat istiadat yang sakral dan katanya bernilai budaya yang sangat tinggi dalam berbagai aspek ternyata membebani masyarakat.

reedit 7 Januari 2012

Kehamilan di luar Pernikahan

“Mbak, …. Aku hamil ….!!!”, ucapnya lirih. Hampir tak terdengar karena ditingkahi oleh keriuhan café pada akhir minggu.
Jujur, aku terhenyak mendengar berita itu langsung dari bibir mungilnya. Tapi apa yang mau dikata? Pergaulan antar jenis yang bebas merdeka di kota-kota besar di seluruh dunia memang memungkinkan terjadinya kehamilan pranikah. Di negara maju, pasangan tanpa menikah (concubinage) malah diakui secara resmi.
“Kenapa sampai terjadi?”
“Entahlah …!”
“Kamu nggak pake preservatif saat berhubungan?”
“Nggaklah, mbak! Rasanya saat itu bukan masa suburku. Atau … mungkin aku salah hitung.”


Salah hitung masa subur atau tidak menggunakan preservative, ini masalah yang biasa terjadi di Indonesia dalam setiap kasus kehamilan di luar nikah. Berbeda dengan di negara maju, anak perempuan yang sudah mendapat menstruasi, tentu sudah diberi pengetahuan seksual baik oleh orang tua maupun sekolah. Termasuk tentang pencegahan kehamilan. Di Indonesia, masyarakat masih mentabukan pengajaran pengetahuan seksual di sekolah-sekolah, walaupun di tingkat SMA sekalipun.

Jadi, walaupun orientasi kehidupan pergaulan orang muda di kota-kota besar sudah memiliki kecenderungan gaya hidup barat, namun para pelakunya tidak secara sadar mengamankan dirinya dari kehamilan dengan alat pencegah kehamilan. Padahal, sudah menjadi rahasia umum bahwa pencegah kehamilan berupa pil maupun kondom sangat mudah diperoleh dan dijual bebas di “grand surface”. Keluhan sahabatku itu mengingatkan peristiwa di bulan Oktober, hampir 20 tahun yang lalu, di rumah ibuku, di bilangan Rawamangun.
*****

Malam itu, Ibuku masih menginap di MMC, menemani bapak yang sedang di rawat karena stroke. Kami sedang beristirahat di kamar, setelah makan malam, sambil menemani anak menjelang tidur. Saat si mbok mengetuk pintu kamar dengan panik.
“Non, tolong si mbok …. Anakku perutnya kembung ...!”
“Kenapa, mbok...?”
“Nggak tahu. Habis maghrib dia teriak-teriak terus, sakit perut…. Terus, mbok liat, perutnya kok kembung seperti orang hamil…!”
“Hamil ......?”

Aku keluar kamar, mengikuti si mbok ke kamarnya yang berada di bagian lain sayap rumah, yang persis berseberangan dengan kamar tidurku.
“Kenapa, kamu?”
“Nggak tahu non ... tadi, mau maghrib saya ketiduran. Terus mimpi, ada nenek-nenek ngasih ikan emas besar, jadi saya terbangun. Kok perut saya mendadak kembung dan sakit. Kesambet, kali …..”, sahutnya sambil meringis menahan sakit. Dasar orang Jawa (maaf…) …. Ada apa-apa, jawabnya “kesambet”!

Sungguh mati, walaupun sudah punya anak berumur hampir 4 tahun, saat itu aku sama sekali tidak berpikir bahwa anak gadis si mbok sedang hamil tua. Bahkan sudah menjelang melahirkan. Maklum saja, selain kami sekeluarga tidak ada pembantu lelaki di rumah setelah tukang kebun meminta ijin berhenti bekerja selepas lebaran lalu. Aku tentu tidak mungkin berprasangka bahwa salah satu lelaki yang ada di rumah, yaitu bapak, suami dan adik lelakiku telah menghamili anak si mbok. Apalagi dia tidur sekamar dengan si mbok, ibu kandungnya. Sementara ibuku bukan perempuan bekerja. Jadi selalu berada di rumah hampir sepanjang hari.
“Ayo ke rumah sakit! Kamu siap-siap! Mbok, nggak usah ikut… Jaga rumah dan temani anakku saja! Biar saya sama bapak yang ngantar!”

Aku segera kembali ke kamar, meminta suami menemani ke RS Persahabatan. Tiba di sana, dengan naïf, kusampaikan apa yang kudengar darinya kepada perawat di UGD. Mendengar ceritaku, mungkin dia berpikir .... ada perempuan kelihatan terpelajar, tapi kok bloon banget. Percaya “bongkokan” sama omongan pembantu rumahnya... Tapi, saat itu aku memang sama sekali nggak berprasangka buruk terhadap siapapun.
“Bu ...ini sih hamil tua, bu ...! Udah mau melahirkan...! Sini deh kita periksa urine!”, kata sang perawat setelah meraba sejenak perutnya.
“Lalu ....?”
“Masih lama bu ...., baru pembukaan dua! Jadi bawa pulang aja dulu, nanti kalau mulasnya sudah sering, baru kembali lagi ke RS!”

Usai membayar biaya RS, kami segera kembali ke rumah dalam diam. Perasaanku campur aduk, antara marah, kesal, bingung campur kasihan. Bingung, karena selama ini dia tidak pernah jauh dari si mbok, ibu kandungnya. Lalu, siapa yang sudah menghamilinya?. Aku betul-betul bingung dan juga sebal.

“Anakmu hamil ... sudah hampir melahirkan!” jawabku kepada si mbok, saat dia menanyakan apa yang terjadi pada anaknya.
“Nggak mungkin, non .......!”
“Terserah, si mbok mau percaya atau nggak! Yang pasti begitu hasil pemeriksaan RS. Tanyakan ... siapa lelaki yang menghamili! Biar jelas siapa yang harus bertanggung jawab”, jawabku agak ketus. Aku segera kembali ke kamar. Ngantuk. Sudah tengah malam. Apalagi besok pagi harus masuk kantor.

Belum sampai satu jam, si mbok kembali lagi mengetuk pintu kamar.
“Non … dia …. dia, nangis kesakitan ...!”
Aku terpaksa keluar kamar lagi ... sambil mengantuk, terpaksa meladeni si mbok.
“Siapa yang menghamilinya, mbok?”
“Nggak tahu non, dia bilang, dia nggak pernah berbuat ....”
Gila tu anak ...., sudah mau melahirkan begini, masih aja bohong!

“Neng, dengar ya .... Saya baru mau ngantar kamu ke RS sesudah kamu mengaku, dengan siapa kamu berhubungan badan!”
“Nggak pernah, non ... Sumpah!”
“Ya sudah ... kalo kamu nggak mau ngaku, jadi kamu bukan hamil ... Saya nggak perlu ngantar lagi ke RS, kan?. Saya ngantuk nih .... jangan ganggu dong!” sahutku.
“Sungguh non ... saya kan selama ini datang bulan terus. Mana bisa hamil...?”
Eh ... pinter juga tu anak ..., tapi rasanya aku pernah baca buku, ada kasus tertentu dimana perempuan hamil tetapi tetap mendapat menstruasi. Mungkin anak ini juga termasuk salah satu pengecualian itu?!

“Mbok .... saya mau tidur! Sudah tengah malam ..., ngantuk, nih! Anakmu, nggak mau ngaku ... Karena di dunia Cuma ada satu perempuan yang bisa hamil tanpa lelaki dan sementara dia bilang nggak pernah melakukan. Jadi saya anggap, dia nggak hamil! Ingat ya mbok .... saya cuma mau ke RS, kalau dia mengaku! ”

Mendengar ancaman saya dan tidak tahan oleh rasa sakit, akhirnya dia mengaku ....
“Tukang kebun ..... non! Tapi, sumpah deh ... Cuma sekali aja!”
Waduh ......., bagaimana mungkin ....? Anak kecil itu yang menghamilinya ....? Anak lelaki yang umurnya 5 tahun di bawah umurnya (dia saat itu berumur 20 tahun)? Bagaimana mungkin?.
“Mbok .... gimana sih ...? Kemana aja si mbok seharian ... kok bisa kecolongan begini?”
“Nggak tahu non ..... “, sahut si mbok, ketakutan.
“Dimana kejadiannya ....?”
“Di kamar ini, non ...”
“Nah mbok .... dengar tuh ... Kok bisa-bisanya, si mbok yang setiap waktu di dapur yang letaknya di depan kamar, bisa kecolongan ....?”

Tukang kebun itu. Entah sudah berada dimana dia? … Tidak ada seorangpun yang tahu keberadaannya setelah dia berhenti bekerja kira-kira 6 bulan sebelumnya. Tidak juga dimana letak persis kampungnya. Dia sendiri bungkam seribu bahasa. Jangan-jangan, tukang kebun itu berhenti bekerja karena tahu dia hamil.

Dini hari itu, sekitar jam 03.00 dia melahirkan bayi lelaki di RS Alvernia, yang letaknya berpunggungan dengan kamar tidurku dengan ditunggui si mbok juga.

Usai menyelesaikan pembayaran, kukatakan pada si mbok agar membawa anaknya pulang ke kampung saja untuk merawat bayinya di sana. Tidak mungkin mengijinkannya tetap tinggal di rumah. Bapakku masih dalam status recovery dari stroke yang dideritanya. Apalagi, kecuali aku dan suami, tidak ada anggota keluarga lain yang mengetahui peristiwa ini. Aku sungguh tidak mau terjadi kehebohan di rumah.
*****

Kehamilan di luar nikah memang selalu menimbulkan bencana di keluarga. Rasa menyesal, malu, panik selalu menyertai perasaan si pelaku. Mungkin, hanya cara menyelesaikannya saja yang berbeda. Ada yang membiarkannya hingga si anak lahir atau menggugurkannya.

Kita perlu memikirkan bagaimana cara mencegahnya. Ada batas tertentu dimana norma/ajaran agama tidak dapat lagi mencegah hubungan seksual pranikah. Mungkin sudah saatnya sex education diajarkan di sekolah-sekolah setingkat SMA agar para remaja mengerti. Sex Education yang dimaksud tentu bukan sekedar dalam hal pencegahan kehamilannya, tetapi terutama dalam hal resiko yang harus dihadapi oleh para pelakunya dan anak yang akan dilahirkannya, ditinjau dari berbagai sudut. Agama maupun logical thinking.
Wallahu’ alam

Lebak Bulus, minggu 6 Agustus 2006

Masih perlukah pesta besar saat menikah?

La Semaine derniere, le professeur de langue francaise a CCF, nous a pose une question ..... La question est partagee en deux ... celle pour des etudiantes mariees (les meres ayant des enfants plus de 20 ans) et pour des etudiants celibataires.

Pertanyaannya hampir senada, yaitu …. Kalau seandainya kita memiliki uang yang cukup. Apakah saat akan menikah, uang tersebut akan digunakan dan dihabiskan untuk pesta pernikahan atau sebagian untuk pesta pernikahan sederhana dan sisanya untuk membeli rumah?

Di kelas saat itu hanya ada satu orang lelaki berumur 28 tahun dan kebetulan sedang mempersiapkan pernikahannya. Sedangkan yang lainnya adalah gadis-gadis berumur antara 25 – 30 tahun dan ada 4 orang ibu, termasuk saya, yang memiliki anak berumur di atas 20 tahun.

Hampir semua gadis-gadis tersebut menyatakan hanya menginginkan pesta sederhana di antara keluarga dan kawan dekat serta ingin menggunakan dana pernikahan dari orang tua, bila diijinkan, untuk membeli rumah saja. Pendapat ibu-ibu, terbagi dua, sama rata. Dua orang ibu menginginkan pesta mengingat banyaknya relasi yang harus diundang, walaupun mereka sadar bahwa pesta pernikahan di kalangan middle up di Jakarta yang paling sederhana saja, akan memakan biaya minimal 200 juta. Bahkan salah satu ibu menyatakan bahwa biaya konsumsi pernikahan di Hotel Mulia minimal 350 ribu per pax plus-plus (pajak-pajak sebesar 21%). Biaya ini belum termasuk additional booth.

Itu baru biaya makanan. Belum lagi bicara mengenai pakaian pengantin, cetak undangan, pakaian orang tua, para among-tamu. Biaya dekorasi pelaminan dan hiasan bunga. Souvenir sebagai ucapan terima kasih, perias pengantin dan banyak hal-hal lainnya.

Seorang teman yang menikah hampir setahun yang lalu, bercerita bahwa satu buah kebaya berpayet yang dijahit di penjahit yang juga bekerja di salah satu perancang busana terkenal di Jakarta, berharga paling murah enam belas juta rupiah. Padahal untuk pernikahannya, dia memerlukan 2 buah kebaya. Untuk akad nikah dan resepsi. Ini belum termasuk pakaian pengantin pria dan kain songketnya (dia berasal dari Tapanuli Utara). Songket sutera Palembang yang paling sederhana, paling murah, sekarang berharga kira-kira 3 juta rupiah.

Ipar saya, yang mengkhususkan diri dalam menerima pesanan dekorasi bunga untuk pernikahan, mengatakan bahwa dekorasi bunga yang paling sederhana dan hanya untuk di gedung resepsi saja, berharga minimal dua puluh juta rupiah. Padahal ... pesta besar yang diselenggarakan di hotel-hotel itu, mewah dan meriah dengan bunga yang khusus dibuat sesuai dengan thema dan permintaan sang pengantin. Ada yang meminta khusus anggrek bulan putih saja. Atau bunga lily dan anyelir saja. Bahkan ada yang khusus meminta dihias dengan mawar hijau atau mawar ungu yang eksklusif. Duh ... padahal, seusai pesta, bunga-bungaan segar yang serba indah dan eksklusif itu hanya akan masuk tong sampah .... Alangkah mubazirnya ....

Bentuk undanganpun tidak bisa dianggap enteng. Dari yang sangat sederhana hingga sangat mewah yang tersimpan dalam kotak mewah dan eksklusif. Selain itu, sudah umum sekarang bahwa pasangan calon pengantin juga mempersiapkan satu seri pre-wedding photograph yang akan menghiasi undangan serta ruang pesta. Ini juga memerlukan persiapan dan biaya yang tidak sedikit.


Mengapa harus mengadakan pesta besar?

Orang Minang, menyebut pesta pernikahan sebagai “Baralek Gadang”. Artinya… kira-kira, berpesta besar. Jadi pesta besar mungkin sudah jadi budaya Indonesia.

30 tahun yang lalu, para orang tua selalu “memaksakan” diri untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan bagi anak-anaknya. Mereka takut, kalau anak-anaknya menikah secara diam-diam - tanpa pesta, akan muncul gunjingan-gunjingan bahwa pasangan tersebut menikah karena “kecelakaan”. Sekarang .. keadaannya berbeda. Orangtua dari perempuan yang sedang hamil muda, bahkan tidak segan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya.

Teman kursus, lelaki yang sedang menyiapkan pesta pernikahannya tersebut mengatakan bahwa dia menyetujui untuk menyelenggarakan pesta besar karena seluruh keluarga besarnya yang berasal dari Sumatera Selatan itu menginginkannya. Alasannya karena dia, anak pertama lelaki dari keluarganya. Bapaknya juga anak lelaki pertama di keluarganya. Dia juga merupakan anak lelaki pertama dari seluruh anggota keluarga besarnya yang menikah. Jadi karena ini adalah pesta pernikahan pertama di keluarga besar, maka seluruh anggota keluarga menginginkan agar pernikahannya diselenggarakan dengan baik dan meriah. Entah siapa yang harus menanggung biaya pernikahan tersebut. Sebagai anak yang baik, dia patuh mengikuti keinginan keluarga besarnya tersebut. Atau mungkin sebetulnya, dia juga menginginkan pesta meriah tersebut.

Adik saya, yang memiliki anak lelaki berumur 25 tahun lulusan fakultas psikologi di salah satu universitas negeri sudah mulai berhitung-hitung mengenai jumlah “undangan” wajibnya kelak. Yaitu orang-orang yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Itupun belum termasuk daftar undangan dari suaminya. Mungkin juga dia sudah mulai berhitung, biaya yang harus disiapkannya kelak.

Menyelenggarakan pesta pernikahan secara besar-besaran bagi anak-anaknya, merupakan pola pikir sebagian besar keluarga Indonesia. Bulan-bulan menjelang Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah merupakan bulan baik untuk menyelenggarakan pernikahan. Bayangkan, pada bulan-bulan baik tersebut, setiap minggu kami menerima undangan. Bukan hanya satu, tetapi dua bahkan tiga buah undangan sekaligus. Jadi, kami sendiri harus pandai memilah mana yang “wajib” dihadiri, mana yang dapat diabaikan. Kondisi jalan di Jakarta yang sarat dengan kemacetan memyebabkan acara pesta pernikahan menjadi beban tersendiri. Terkadang, kami harus berjibaku dengan kemacetan, menempuh perjalanan minimal 45 menit, bahkan hingga 90 menit untuk mencapai gedung resepsi. Belum hilang kelelahan selama perjalanan, kami masih harus antri hanya untuk memberikan ucapan selamat yang hanya memakan waktu tidak lebih dari 5 menit saja. Ini tentu bukan pengalaman yang menyenangkan, apalagi bila pesta pernikahan diselenggarakan pada hari kerja.

Bagaimana mempersiapkan biaya pernikahan?

Pada masyarakat pedesaan atau perkampungan, pesta pernikahan anak, merupakan tanggung jawab keluarga besar atau kaum kerabat secara bergotong royong. Paman-bibi dari calon pengantin, bahkan hingga kerabat sekampung atau satu marga, masing-masing bergotong royong membiayai pernikahan calon pengantin. Entah apakah kebiasaan ini juga masih terjadi pada masyarakat perkotaan yang lebih individualistis.

Menarik sekali dicermati, bahwa pesta meriah yang menelan biaya ratusan juta rupiah, tidak hanya diselenggarakan oleh kalangan pengusaha atau kalangan yang bekerja di sektor swasta yang dikenal bergaji besar. Tetapi juga mampu diselenggarakan oleh pegawai negeri yang setiap saat selalu mengeluh akan besaran gaji yang “hanya cukup untuk makan seminggu”. Mereka bahkan mampu menyelenggarakan pesta pernikahan anak-anak mereka di gedung-gedung “berkelas”, sebut saja semisal Balai Kartini, Panti Sudirman, Gedung Departemen Keuangan atau Manggala Wanabakti. Bahkan hingga di hotel-hotel berbintang 5 sekalipun.

Seorang kenalan suami bercerita, bahwa untuk menyelenggarakan pernikahan anak gadis tunggalnya, dia terpaksa “berhutang”, karena dana simpanannya ternyata tidak mencukupi untuk menyelenggarakan pesta seperti yang diinginkannya. Menarik untuk dipertanyakan; bila memang tidak mampu, mengapa harus menyelenggarakan pesta mewah? Mengapa tidak menyelenggarakannya secara sederhana saja?

Jawabannya sebetulnya sangat sederhana .... Anaknya hanya satu. Itu akan merupakan satu-satunya pesta yang diselenggarakannya. Jadi dia ingin segalanya serba sempurna. Snobisme? Entahlah ... setiap orang punya hak untuk melakukan apa saja sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.

Apakah menikahkan anak tanpa menyelenggarakan resepsi merupakan suatu kehinaan? Sesuatu yang mencoreng nama baik keluarga? Bukankah lebih baik menyelenggarakan pernikahan secara sederhana daripada terbelit hutang karenanya? Entahlah ... Yang pasti, sampai detik ini, saya baru mengalami satu kali saja ... seorang teman kuliah dulu, menikah dan memberitahukan pernikahannya melalui sepucuk kartupos. Padahal ... pernikahan tersebut dilaksanakan hampir 30 tahun yang lalu, kala pernikahan diam-diam masih sarat dengan tudingan miring dari masyarakat. Dan saya yakin, teman saya tersebut menikah secara baik-baik, bukan dilatarbelakangi oleh suatu “kecelakaan”.

Semoga saja ... niat baik melepas anak mengarungi bahtera perkawinan diselenggarakan juga dengan cara yang baik dan halal. Baik dalam tata cara dan halal asal-usul biayanya, agar berkah Allah SWT menyertai perjalanan pasangan baru tersebut.
Wallahu alam.

Lebak-bulus 6 agustus 2006 jam 22.25
reedited 7 Januari 2012 jam 04.00

unmarried mother.. single parent... Siapkah anda?

Ibu …….., aku hamil ……!!!
Atau ….
Mbak …., aku hamil ……!!!
Dapatkah anda bayangkan bagaimana wajah perempuan yang sedang mengatakan kalimat di atas?
Senangkah …. ?
Cemaskah ….. ?
Putus asa ..…. ?

Coba pandang matanya … resapi makna sinarnya. Disana, mungkin anda memperoleh jawabannya. Suasana hati perempuan itu, sangat tergantung dari statusnya. Kalau dia sudah menikah, mungkin kehamilan tersebut sudah sangat diharapkan. Maka bisa dipastikan kalimat tersebut diucapkan dengan mata yang berbinar-binar dan nada suaranya penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Tetapi, bila kalimat tersebut diucapkan oleh perempuan yang belum menikah, berapapun umurnya, maka bisa jadi kalimat itu diucapkan dengan nada panik, takut dan putus asa. Apalagi bila lelaki, dengan siapa dia tidur, tidak menunjukkan itikad baik, bahkan menolak bertanggung jawab atau berada jauh di luar kota, sementara hubungan sexualnya dilakukan sambil lewat.

Perempuan hamil sebetulnya bukan suatu anomali .... tidak ada satu kehamilanpun yang dapat terjadi tanpa adanya hubungan sexual antar dua jenis kelamin. Termasuk juga kehamilan di luar pernikahan resmi. Satu-satunya kehamilan tanpa adanya pembuahan, hanya kehamilan perawan Maryam, atau pada peristiwa kelahiran Isa Almasih.

Pada era tahun 1970an, pasangan yang hidup serumah tanpa pernikahan selalu diributkan dan perempuan yang hamil tanpa menikah dicap sebagai perempuan ”rusak moral” yang layak dijauhi oleh ”keluarga baik-baik”?. Padahal, di kalangan masyarakat golongan rendah di Indonesia (terutama komunitas tuna wisma) banyak terdapat pasangan yang beranak pinak tanpa memiliki surat nikah selembarpun dan mereka hidup aman dan tenteram. Mereka, tentu bukan hendak bergaya hidup modern a la barat. Tetapi kemiskinan membuat mereka tak mampu mengeluarkan dana untuk melegalkan pernikahan. Tidaklah menjadi aneh bila saat suatu lembaga swadaya mengadakan upacara pernikahan massal, banyak pasangan yang sudah hidup serumah selama bertahun-tahun, beranak-pinak bahkan mungkin sudah bercucu, turut menjadi salah satu pasangan yang dinikahkan.

Sampai saat inipun, banyak pasangan yang hidup serumah dengan dalih telah menikah siri. Pernikahan yang dilakukan di hadapan penghulu dan keluarga dekat, tanpa dicatat oleh petugas resmi dari Kantor Urusan Agama (untuk kalangan beragama Islam). Mereka berdalih bahwa, setiap pernikahan yang dilaksanakan berdasarkan syariat agama, maka komitmen hidup bersama itu, dilakukan ”dengan nama” Tuhan?, walau nyatanya seringkali disalahgunakan oleh pasangan tersebut untuk menghindari tanggung jawab. Kalau begitu keadaannya, ternyata secarik kertas berlabel SURAT NIKAH menjadi ”berhala” lembaga pernikahan yang seolah-olah menjadi pengikat komitmen dari sepasang manusia.

Kapan fenomena kehamilan di luar pernikahan ini mulai timbul?

Tahun 1972, saat duduk di bangku SMA, dua orang kawan semasa SMP di suatu kota kecil di Jawa Barat diberitakan terpaksa menikah. Konon karena si gadis telah hamil terlebih dahulu. Akibatnya kedua siswa SMA tersebut harus berhenti sekolah dan tidak dapat lagi menyelesaikan SMA nya. Dua tahun kemudian, adik kelas di sebuah SMA Katholik di bilangan Jakarta Timur terpaksa dikeluarkan karena hamil.

Masuk masa kuliah di tahun 1975, berita tentang kehamilan pranikah tak kunjung surut, malah lebih berkembang, menimpa beberapa kawan kuliah baik yang lebih senior maupun junior. Walaupun demikian, seluruh kehamilan pranikah ini diselesaikan dengan pernikahan pasangan tersebut. Belum terdengar kabar, bahwa keluarga si gadis mampu menerima kehamilan pranikah dan tidak menuntut lelaki untuk menikahi si gadis.

Entah bagaimana kelanjutan pernikahan yang dipaksakan tersebut. Satu hal yang pasti, perempuan yang hamil sebelum menikah, selalu mendapat cap ”perempuan nakal” dan demi menghindari status bayi sebagai anak haram, pernikahan selalu menjadi satu-satunya jalan keluar. Atau beberapa keluarga yang merasa diri ”sangat terhormat” mengambil jalan ”menggugurkan kandungan” secara diam-diam seraya mengungsikan anak gadis yang hamil tersebut.

Belasan tahun kemudian pada akhir tahun 1980an, sebuah LSM membuat suatu penelitian tentang gaya hidup mahasiswa di Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa tidak sedikit mahasiswa dan mahasiswa di Yogyakarta yang hidup bersama. Atau dalam istilah yang dikenal umum sebagai ”kumpul kebo”.

Hasil penelitian tersebut tentu saja mengejutkan banyak pihak. Sayangnya, alih-alih menyimak hasil penelitian tersebut sebagai fenomena awal yang harus dicermati perkembangannya, yang terjadi adalah polemik berkepanjangan mengenai keabsahan metode penelitian, seraya mencaci-maki dan menuduh lembaga penelitian tersebut, mencari sensasi yang meresahkan masyarakat. Bisa diterka, akhirnya hasil penelitian terlupakan begitu saja. Kita sudah menutup mata terhadap fenomena gunung es kehamilan pranikah.

Memasuki era tahun 2000, perempuan hamil di luar pernikahan sudah tidak terbilang lagi banyaknya. Seakan tidak mau kalah dengan gaya hidup barat yang dipertontonkan dalam film holywood, pasangan muda, baik yang masih berstatus pelajar maupun mahasiswa tidak malu-malu lagi mempertontonkan kemesraan di muka umum. Beberapa dari mereka bahkan membuat foto atau video erotis yang diperankan sendiri yang kemudian, sengaja atau tidak, tersebar untuk dilihat umum.

Perempuan era tahun 2000

Era kemajuan teknologi telekomunikasi/internet dan digital makin mempermudah anak-anak muda untuk mengekspresikan berbagai aspek kehidupan termasuk kehidupan seksualnya. Kita tentu belum lupa bahwa beberapa tahun yang lalu, satu pasangan mahasiswa dari Bandung menghebohkan jagat raya Indonesia dengan video hubungan seksual mereka, foto erotis dari pasangan-pasangan selebriti dan banyak lagi.

Beberapa teman wanita lajang berumur di atas 30 tahun membenarkan sinyalemen tentang kehidupan seksual pranikah para executive muda di Jakarta. Bahkan beberapa di antaranya, tanpa ada rasa segan mengakui bahwa mereka merupakan salah satu pelakunya. Yang melakukan hal tersebut sebagai bagian dari ekspresi jiwa, gaya hidup, kebebasan dan persamaan hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan.

Apa yang melatarbelakangi keberanian mereka mengarungi kehidupan sek pranikah? Atau, bagaimana cara mereka melindungi diri dari kemungkinan hamil? Entahlah.. saya tidak pernah berani menanyakannya. Itu merupakan bagian dari privasi mereka yang tidak perlu diusili, walaupun ada keresahan dan keprihatinan melihat kecenderungan tersebut. Tetapi satu hal yang hampir pasti, kehidupan tersebut, kebanyakan dilakukan di luar pengetahuan orang tua mereka.

Ada perubahan cara pandang terhadap etika, norma dan moralitas terutama di kalangan generasi muda. Bila 20 – 30 tahun lalu (wadaw ..... udah lama juga ya..... Jadul banget), tidak ada seorangpun yang berani berpelukan atau berciuman di muka umum, maka hal ini sekarang terlihat biasa dan banyak dilakukan anak muda.

Apakah mereka yang melakukan kehidupan seks pranikah (terutama perempuan) juga siap dan berani menanggung resiko terjadinya kehamilan di luar nikah? Menyatakan secara resmi dalam berbagai dokumen (akta kelahiran, misalnya) bahwa anaknya adalah anak yang lahir diluar nikah? Tidak ada catatan yang pasti mengenai hal ini, di Indonesia. Namun biasanya kehamilan di luar nikah selalu diakhiri dengan pernikahan pasangan tersebut atau pengguguran secara diam-diam. Tidak heran, bila praktek pengguguran kandungan ilegal di rumah sakit atau kamar praktek pribadi para dokter kandungan, sulit diberantaskan.

Bagaimana mencegah agar tidak terjadi pada anak-anak kita?

Sungguh ... saya tak mampu menjawabnya. Ada banyak teori yang dikemukakan orang. Salah satunya adalah memberikan pengajaran agama sejak dini. Namun. .. yakinlah, bahwa kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Pengaruh pergaulan, gaya hidup modern yang diadopsi dari barat, kemajuan teknologi, longgarnya etika dan moral dan berbagai faktor luar lainnya tidak mudah untuk dijinakkan. Apalagi, naluri seksual adalah suatu proses biologis yang sangat alamiah terjadi pada seluruh mahluk hidup.

Anjuran untuk menikahkan anak pada usia muda, bahkan saat mereka masih kuliah, demi mengikuti ajaran agama untuk menghindari hubungan seks di luar nikah, banyak ditentang masyarakat. Bahkan oleh kalangan masyarakat yang taat menjalankan ibadahnya sekalipun.

Jadi ... bagaimana mencegah agar anak-anak kita terhindar dari kehidupan seks pranikah? Sungguh mati ... saya sama sekali tidak tahu....!!! Segala upaya dan teori tentu akan saya lakukan untuk mencegahnya, meskipun saya tahu ... hal itu tidak dapat dijamin 100% keberhasilannya. Orangtua juga tidak mungkin membuntuti dan mengawasi kegiatan anaknya selama 24 jam terus menerus. Kita tidak mungkin menyewa orang untuk mengawasi anak-anak terus-menerus selama seminggu .... sebulan ... setahun .....

Sungguh ....., Setelah segala daya upaya kita lakukan, hanya doa saja yang dapat kita panjatkan kepada Allah SWT agar Dia melindungi anak-anak kita dari perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama, sampai waktunya kita menunaikan kewajiban untuk menikahkan anak-anak itu dengan cara-cara yang baik dan benar menurut agama yang kita anut. Wallahu’ alam

Rabu, 04 Januari 2012

Di hadapan Hajar Aswad


Hajar Aswad (الأسودلحجرا al-Hajar-ul-Aswad dalam bahasa Arab) adalah sebongkah batu hitam yang terletak di sudut tenggara Kabah, kiblat kaum muslimin ketika melaksanakan shalat. Kabah sendiri terletak Makkah, di tengah masjid yang sangat luas yang dikenal dengan nama Masjidil Haram.

Ukuran Hajar Aswad relatif kecil. Saat Nabi Ibrahim meletakkannya di sudut tenggara Kabah, Hajar Aswad berdiameter sekitar 50 cm. Hajar Aswad yang kita lihat sekarang tidaklah sebesar semula karena telah terpecah dalam beberapa bongkah, rusak ketika dicuri oleh Ismaili (Qarmation) dalam penyerangannya ke Makkah pada tahun 930 dan baru dikembalikan 20 tahun kemudian. Pada saat pengembalian inilah, Hajar Aswad pecah dan kemudian disatukan dalam bingkai perak tersebut.

Kini, Hajar Aswad sangat mudah dikenali karena bingkai perak di sekelilingnya. Ketika para jamaah melakukan thawaf yang merupakan bagian dari ritual ibadah Umroh atau Haji, kebanyakan dari mereka selalu mencoba untuk mencium Hajar Aswad.

Arti Hajar Aswad bagi umat Islam

Ada berbagai pendapat atas status dan arti Hajar Aswad bagi umat Islam. Sebagian menganggap bahwa Hajar Aswad tidak berbeda dengan batu biasa. Ketika sayyidina Umar Ibn Khattab mencium Hajar Aswad, beliau berkata di hadapan para mukminin : "Engkau hanyalah sebongkah batu. Andaikan tak kulihat Rasulullah SAW menciummu, maka akupun tak akan pernah menciummu".

Banyak kaum muslimin yang sependapat dengan Umar Ibn Khattab. Mereka menghormati Hajar Aswad dalam makna mengimami Rasulullah SAW. Bukan karena tuah yang dipancarkan oleh Hajar Aswad itu sendiri. Beberapa lainnya menganggap bahwa Hajar Aswad hanyalah sebagai penanda hitungan saat melakukan Thawaf.

Beberapa kelompok muslimin, melangkah lebih jauh lagi dengan mempercayai bahwa Hajar Aswad memiliki kekuatan Supranatural. Mereka percaya bahwa Hajar Aswad diturunkan ke bumi bersamaan dengan turunnya Adam dan Hawa dan memiliki kekuatan magis untuk membersihkan dosa-dosa Adam dan Hawa serta menyerapnya. Itu sebabnya Hajar Aswad yang semula berwarna putih susu berubah warna menjadi hitam karena sepanjang waktu ini, seluruh dosa-dosa manusia yang menciumnya terserap ke dalamnya.

Ada sebagian kecil yang mempercayai bahwa Hajar Aswad hanya bisa menghapus dosa kecil dan pada Yaumil akhir, Hajar Aswad akan bersaksi di hadapan Allah SWT siapa saja yang telah menciumnya. Mungkin ini hanya kepercayaan rakyat setempat saja. Bukan sesuatu yang dipercaya oleh seluruh umat Islam.

Asal Muasal Hajar Aswad.

Ada beberapa pendapat mengenai sejarah dan asal muasal keberadaan Hajar Aswad. Umat Islam mengatakan bahwa Hajar Aswad diketemukan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail saat mereka sedang mengumpulkan bebatuan untuk membangun Kabah. Mereka menganggapnya sangat cocok untuk diletakkan di salah satu sudut Kabah.

Pakar sejarah sekuler merujuk kepada penggunaan bebatuan pada ritual keagamaan bangsa Arab pada masa pra Islam dan mengatakan bahwa kemungkinan Hajar Aswad adalah Batu Meteorit. Namun semua pendapat tersebut tidak pernah dapat dibuktikan karena Pemerintah Saudi Arabia tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk mencopot dan meneliti Hajar Aswad
Batu Hitam suci ini diletakkan pada sudut tenggara Kabah pada ketinggian sekitar 1.20m dari lantai. Hajar Aswad bukan dari jenis batuan gelogi manapun juga dan merupakan bagian Kabah asli yang dibangun pada masa Nabi Ibrahim AS. Setelah banjir melanda Kabah, saat rekonstruksi Kabah, Rasulullah SAW sendirilah yang meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempat semula. Nabi juga menciumnya saat beliau melaksanakan Haji Wada’, sehingga menyentuh dan mencium Hajar Aswad (Istilam) saat melaksanakan ibadah Umroh dan ibadah Haji dapat dikategorikan sebagai Sunnah Nabi.

Dalam sebuah kisah disebutkan menjelang selesainya pembangunan Kabah, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Kabah. Nabi Ibrahim berkata kepada Nabi Ismail, "Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia."

Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, "Dari mana kamu dapat batu ini?"

Nabi Ismail a.s berkata, "Batu ini kuterima daripada yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril)." Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di Kaabah disunnahkan mencium Hajar Aswad. Beratus ribu kaum muslimin berebut ingin mencium Hajar Aswad itu, yang tidak mencium cukuplah dengan memberikan isyarat lambaian tangan saja.

Hingga saat ini, menyentuh dan mencium Hajar Aswad menjadi obsesi bagi para peziarah Baitullah yang berasal dari pelbagai penjuru dunia, baik jamaah yang melaksanakan umroh ataupun ibadah haji. Obsesi untuk menciumnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW beberapa abad yang telah berlalu.

Bagaimana bentuknya?

Hajar Aswad, kini terlihat semakin cekung terkikis oleh ciuman jutaan umat manusia. Namun harum baunya. Entah apakah karena memang batu tersebut berbau harum ataukah karena pemerintah Arab Saudi menebarkan wewangian di sekitar Hajar Aswad agar bau busuk keringat manusia yang menyemut di hadapan Hajar Aswad tidak tercium. Hajar Aswad dijaga oleh tentara/asykar yang bergelayutan pada tali di sudut Kabah sambil memegang tongkat. Fungsi asykar tersebut untuk mengatur agar jamaah tidak melakukan tindakan syirik kala mencium Hajar Aswad dan mengatur giliran agar muslimah mendapat kesempatan.

Bagaimana upaya mencium Hajar Aswad?

Memang sangat tidak mudah untuk menunaikan niat mencium Hajar Aswad. Butuh perjuangan, usaha, niat yang tulus dan pasrah. Selain letaknya di sudut, kita dihadang oleh pusaran thawaf yang tak pernah berhenti, kecuali saat menunaikan shalat wajib. Apalagi jamaah yang berminat mendekati Hajar Aswad begitu banyaknya. Namun demikian, ada jamaah yang dengan mudahnya mencium Hajar Aswad tetapi banyak pula yang tidak berhasil dan malah babak belur terkena pukulan tongkat asykar, terlontar dan terjepit di antara jamaah yang berdesakan dan berebut mendekatinya. Mitos dan cerita ”seram” tentang pengalaman mencium Hajar Aswad makin membuat orang penasaran.

Sungguh ….!! Di hadapan Hajar Aswad, kita melihat gambaran sifat manusia yang paling primitif. Lelaki dan perempuan saling cakar, tarik menarik, desak mendesak, dorong mendorong, sikut menyikut melupakan etika, kesantunan dan martabat sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, menuju satu titik, yaitu Hajar Aswad. Mau tahu seperti apa gambarannya? Tidak lebih baik dari gambaran segerombolan ikan yang kelaparan saling berebut makanan yang ditebarkan ke dalam kolam. Atau seperti segerombolan serigala liar berebut mangsanya atau segerombolan anjing saling cakar berebut tulang. Manusia terlontar dan terombang-ambing saat mendekati Hajar Aswad. Yang kuat belum tentu berhasil menggapai Hajar Aswad namun yang lemah tidak perlu pesimistis. Namun untuk apa segala upaya tersebut? Konon mencium Hajar Aswad tidak tecantum dalam salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan kala kita melaksanakan ibadah umroh maupun ibadah haji. Wa Allahu Alam.
(sebagian bahan disadur dari wikipedia)

Lebak Bulus, Jum’at 7 Juli 2006

Berdagang dengan Allah SWT

Alhamdulillah, atas rejeki dan berkah Allah SWT kami sekeluarga mendapat kesempatan kembali untuk ziarah ke makam junjungan umat Islam, Muhammad SAW serta mengunjungi Baitullah. Kesempatan melakukan perjalanan spiritual seperti ini memiliki nilai yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar menghilangkan kepenatan duniawi semata, walaupun secara fisik terasa jauh lebih melelahkan.


Berbeda dengan perjalanan wisata regular, pada perjalanan umroh/haji, biro perjalanan ibadah selalu menyelenggarakan minimal satu kali pertemuan yang disebut sebagai manasik. Umumnya berisi penjelasan tentang ritual ibadah yang akan dijalankan, walaupun peserta telah dibekali dengan buku panduan yang cukup jelas dan akan didampingi oleh muthawif (guide) baik dalam perjalanan dari Jakarta dan akan ditambah lagi dengan muthawif yang bermukim di tanah Haram.

Tanah Haram (Makkah al Mukkaromah dan Madina al Munawarroh) atau lebih tepatnya Saudi Arabia memang dipenuhi dengan berbagai mitos dan cerita-cerita “menyeramkan” terutama bagi para perempuan. Bagaimana kebenaran dari mitos dan cerita tersebut, tentu patut dipertanyakan karena tidak ada seorangpun yang melihat dengan mata dan kepala sendiri tentang hilangnya perempuan setelah naik taxi tanpa didampingi lelaki/muhrimnya atau perempuan yang diperkosa di kamar hotel selama teman sekamarnya pergi keluar kamar dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi cerita sedih tentang perkosaan yang dilakukan oleh majikan/anak majikan terhadap TKI perempuan, mungkin dapat mewakili kebenaran mitos tersebut. Tetapi lebih jauh dari hal tersebut, bisa jadi perbedaan kultur dan sopan santun dalam hubungan antar jenis menjadi pemicunya.

Perempuan Indonesia yang selalu bermuka manis terhadap orang asing terutama kepada para superiornya (majikan, atasan dan lainnya), oleh lelaki Arab dianggap sebagai “undangan” untuk bertindak lebih jauh. Maklum saja, sejak Islam disebarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, wanita Arab memang ditempatkan sedemikian tinggi. Diperlakukan bagai kristal yang harus dijaga dan untuk memperolehnya (menikahinya) diperlukan upaya dan mahar yang sangat besar. Keluar rumah sendiri (tanpa muhrim), berkeliaran di tempat umum apalagi dengan tubuh terbuka (tanpa berhijab) merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan di tanah Arab. Hal ini tentu sangat berbeda dengan perempuan Indonesia. Sekalipun perempuan Indonesia berhijab namun mereka masih dapat bebas berkeliaran di luar rumah sendiri/tanpa muhrim dan bergaul bebas dengan lawan jenis. Perbedaan budaya seperti ini mengundang persepsi yang berbeda dalam mata dan pikiran lelaki Arab tatkala menghadapi keramahan perempuan Indonesia sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi tidak dapat dipungkiri, dalam bisik-bisik, diungkap bahwa para mukimin yang berasal dari Indonesia, banyak yang menjual diri dengan harga murah untuk menyambung hidup di tanah gersang bebatuan tersebut.


Kembali pada topik perjalanan ibadah ke tanah suci. Dalam manasik, selain penjelasan mengenai ritual ibadah yang akan dilakukan juga banyak dijelaskan tentang keutamaan maupun pahala ibadah di tempat-tempat tertentu. Bumbu-bumbu pahala ibadah shalat di Masjidil Haram sebesar 100.000 kali atau pahala shalat sebanyak 1.000 kali di Masjid Nabawi, pahala shalat di Masjid Quba setara dengan pahala umroh atau kemustajaban do’a di hadapan Multazam, Hijjir Ismail, Maqam Ibrahim, Raudhah, Arafah sampai dengan mencium hajar Aswad menjadi topik yang paling dipertanyakan calon jamaah.

Di luar dari pahala ibadah umroh/haji, berbagai iming-iming tumpukan pahala juga sering didengar dalam tausyiah para ulama pada majlis taklim, atau khutbah-khutbah di media layar kaca maupun shalat jamaah (shalat jum’at, Ied atau Tarawih). Dengarlah, betapa para alim ulama menyerukan orang untuk berzakat, infaq dan sadaqoh di bulan Ramadhan dengan alasan untuk meraih pahala yang lebih besar dibandingkan dengan pahala zakat, infaq dan sadaqoh yang dilakukan di luar bulan Ramadhan.

Lihatlah betapa kemudian orang beramai-ramai dengan sukacita dan ringan hati mengeluarkan hartanya selama satu bulan tersebut. Lihatlah juga akibatnya …. Hamburan uang dari para muzakki yang relatif besar selama Ramadhan dan kemudian diterima oleh para mustahik secara seketika membuat merekapun menggunakannya untuk hal-hal yang konsumtif. Bermegah-megah jauh di luar kemampuan rielnya. Alasannyapun, lagi-lagi, sangat klasik. Setahun sekali menyenangkan hati dan menikmati kehidupan “mewah”.

Lupakah bahwa pada sebelas bulan lainnya, para mustahik tidak lagi memiliki uang yang memadai untuk menopang hidup sehari-hari? Sebagaimana kebanyakan para muzakki lupa mengitung dan mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqohnya. Alasannya sederhana dan sangat klasik. Belum mencapai haul atau mungkin dalam hati berkata, menunggu Ramadhan tiba demi mengharap pahala yang jauh lebih besar lagi.

Lupakah kita bahwa para mustahik jauh lebih membutuhkan bantuan untuk 11 bulan lainnya dibandingkan dengan kebutuhan selama Ramadhan? Bukankah Ramadhan adalah bulan dimana kita dianjurkan untuk “menahan diri”? Bukan saja menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari “syahwat keduniawian” lainnya. Kenyataannya malah jauh berbeda. Bulan “menahan diri” malah berubah menjadi bulan “pelepas syahwat”. Meja makan orang yang menjalankan ibadah puasa menjadi “lebih bernas” dibandingkan dengan hari-hari biasa. Persiapan Iedul Fitri yang selalu didengungkan sebagai menyambut hari kemenangan setelah melewati berbagai ujian selama Ramadhan disemarakkan oleh kemegahan duniawi. Malam-malam Lailatul Qadar tidak lagi dilewati dengan I’tikaf di masjid tetapi dengan bertawaf di pertokoan mewah yang mengundang dengan berbagai potongan harga hingga jauh larut malam untuk sesuatu yang bernama “persiapan Iedul Fitri”. Inikah hitung dagang ibadah kita dengan Allah SWT?

Perbincangan mengenai pahala dan dosa selalu menarik dan debatable. Para ulama tentu memiliki dasar dalam mengemukakan dalil/hadist yang berkaitan dengan segala dosa dan pahala. Tetapi pernahkan kita sedikit melakukan “evaluasi dengan lebih kritis” atas kriteria dari setumpukan pahala yang selalu didengung-dengungkan tersebut. Sungguh, apabila pahala hanya “sebatas” pada besaran zakat/infaq/sadaqoh yang kita keluarkan setiap hari, maka alangkah kasihannya mereka yang miskin (para mustahik) karena mereka tidak akan pernah mendapat kesempatan meraih pahala dari zakat/infaq/sadaqoh.

Kalau saja pahala shalat berlipat ganda hanya dapat diraih di Masjidil Haram, Masjidil Aqsa dan Masjid Nabawi. Atau melalui ibadah-ibadah semacam Umroh dan Haji. Lalu kapan para mustahik atau orang-orang alim yang selalu taat beribadah, menjalankan kehidupan dengan sangat santun, penuh etika dan penuh keikhlasan namun tidak memiliki kemampuan fisik dan finansial untuk melaksanakan ibadah umroh/haji, memperoleh pahala sebesar pahala orang-orang yang berumroh dan berhaji. Kalau perhitungan pahala sesederhana itu atau begitu adanya, mungkin patutlah kita menggugat alangkah tidak adilnya Allah SWT.

Sungguh, urusan pahala bukanlah urusan manusia. Tidak sesederhana hadist dan dalil yang selalu diajukan para alim ulama. Nuansa, ruang dan waktu saat ayat-ayat al Qur’an tentang kewajiban berzakat ataupun ibadah-ibadah lainnya diturunkan serta keimanan kaum muslimin saat Rasullullah menjabarkan ayat-ayat tersebut sangatlah berbeda dengan saat ini. Dan terutama, keikhlasan manusia dalam menjalankan ibadahnya pada masa kehidupan Rasulullah Muhammad SAW dengan abad ke 21 ini, tidak lagi dapat disamakan. Keteladanan Rasul dalam menjalankan ibadah dan menerapkan ayat-ayat Al Qur’an yang menjadi dasar kehidupan umat sangat jelas dan gamblang. Sangat berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Seringkali ucapan/tausyiah para alim ulama sangat berbeda dengan tindak-tanduk kesehariannya. Anjuran dan ucapan para umara seringkali hanya menjadi penghias dan pemanis bibir belaka dibandingkan dengan keteladanan yang laiknya harts dilaksanakan mereka.


Bila dalam sehari saja kita mengucapkan minimal 5 kali “inna shalati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati lillahi rabbi’l alamin” (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanya bagi Allah penguasa dari sekalian alam yang tidak ada sekutu bagiNya), ini bisa diartikan penyerahan secara total segala sesuatu yang berkaitan dalam kehidupan kita di dunia semata-mata ke dalam kekuasaan Allah SWT. Lalu, mengapa kita masih saja menghitung-hitung pahala dalam setiap langkah yang kita lakukan? Mengapa untuk menunaikan kewajiban agama, kita masih menunggu-nunggu waktu yang tepat, yang memberikan benefit/pahala terbesar kepada kita. Bukankah kebutuhan para mustahik tidak dapat menunggu hari baik dan waktu yang tepat saat kita berkenan mengeluarkan zakat/infaq/sadaqoh?

Allah SWT yang Maha Adil dan Maha Mengetahui tentu tidak akan salah menganugerahkan pahala Umroh dan hajiNya atau pahala sebesar pahala shalat di ke tiga masjid mulia (Aqsa, Haram, Nabawi) kepada umatNya. Tentu bukan kepada mereka yang membiayai perjalanan menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan harta yang tidak jelas asal muasalnya. Bukan pula kepada mereka yang melaksanakan tawaf, sai dan tahalul karena “terpaksa” diajak teman berumroh atau bukan pula kepada mereka yang berwukuf di padang Arafah, bermalam di Muzdalifah, melontar jumroh di Mina karena memang sedang “mode”nya berhaji di usia muda.

Pahala ibadah kita sesungguhnya adalah rahasia Allah. Bukanlah semata-mata berdasarkan uraian para ulama sekalipun banyak ayat dan hadist yang mendukungnya. Kesemuanya sangat bergantung kepada banyak faktor antara lain niat, keikhlasan, keimanan manusia, dimana hanya Allah SWT lah yang mampu menilainya.

Mari kita kerjakan segala ibadah dengan ikhlas tanpa perlu lagi menghitung-hitung pahala yang akan diperoleh. Bukankah sudah terlalu banyak anugerah Allah SWT yang kita nikmati? Allah SWT Maha Mengetahui. Dia tidak pernah tidur dan tidak akan pernah salah memberi ganjaran bagi manusia atas apa-apa yang kita lakukan. Wa Allahu Alam.

Lebak bulus 6 Juli 2006 jam 01.00

Minggu, 01 Januari 2012

Ibadah dan Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi komunikasi memang luar biasa pesatnya. Saat wireless/mobile telephone masuk ke Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu, bentuknya betul-betul sangat tidak menarik. Handset nya masih seperti fixed telephone dilengkapi dengan batere seperti accu mobil. Jadi cukup besar dan tidak mungkin dibawa kesana-kemari sehingga lebih banyak digunakan sebagai telpon yang diletakkan di dalam mobil. Harganyapun sangat mahal. Kira-kira lima belas juta rupiah atau setara dengan usd 23.000 pada saat itu (kurs sekitar Rp.650,-). Fungsinya pun betul-betul masih sangat sederhana. Tidak jauh dengan fixed telephone yang ada di rumah. Pemiliknya tentu saja hanya orang-orang kaya dan karenanya antena wireless telephone berbasis CDMA tersebut akan menghiasi atap mobil-mobil mewah mereka. Saat itu, mobile telephone merupakan status symbol tersendiri pemiliknya

Era palm telephone berbasis GSM di Indonesia mungkin dimulai pada awal tahun 90 an. Jangan bayangkan bentuknya sekecil dan seindah handphone sekarang. Rata-rata ukurannya sebesar ukuran Nokia-9300 dengan feature yang sangat sederhana. Berfungsi sebagai telpon saja. Short message service – sms pun baru bisa dilakukan oleh telkomsel. Indosat belum belum bisa melayani sms. Pemilik handphone, lagi-lagi masih sangat terbatas dan kesemuanya berbasis abonemen. Belum lagi ada layanan pra bayar.

Penggunaan kartu prabayar, lagi-lagi dimulai oleh Telkomsel dengan meluncurkan kartu simpati (local), kalau tidak salah, pertama kali di Batam. Kiat ini tentu saja dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas lagi. Belakangan, seluruh provider memiliki 2 jenis SIM card yaitu prabayar dan pasca bayar.

Era tahun 2000 an, penggunaan mobile telephone - handphone atau singkatnya disebut HP sudah sangat meluas. Feature handsetnya sudah sangat luas. Dari yang sangat sederhana hingga berfungsi sebagai PDA, communicator, camera/videophone dan walkman. Perputaran model dan feature sedemikian cepatnya. Tua muda, kaya miskin kesemuanya tergila-gila oleh kecanggihan alat komunikasi yang satu ini.

Menggunakan pesawat telpon tentu memerlukan etika agar alat komunikasi ini dapat digunakan dengan baik dan benar serta tidak mengganggu orang lain. Seringkali kita diingatkan untuk tidak menyalakan HP saat rapat, beribadah maupun dalam perjalanan (saat menyetir mobil). Termasuk juga kala berada di dalam pesawat terbang. Signal HP dikhawatirkan mengganggu system komunikasi dan navigasi pesawat.

Sayangnya tidak banyak orang mau mematuhinya sehingga seringkali rapat kita terganggu karena ada panggilan telpon yang masuk. Kekhusu’an ibadah kita terusik oleh dering panggilan HP yang masuk berulang kali. Mungkin si penelpon lupa bahwa dia melakukan panggilan pada jam-jam kita melaksanakan shalat


Sementara itu, tidak jarang pemilik telpon, tanpa rasa malu ataupun bersalah, menjawab panggilan tersebut di dalam masjid. Bahkan ada orang yang tidak sungkan untuk bertelpon ria saat melakukan tawaf dan sai. Bayangkan, saat kita menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, masih juga mendahulukan kepentingan duniawi (menjawab dan berbicara di telpon) dibandingkan dengan khusu’ melaksanakan dan meneladani ritual agama yang telah dijalankan oleh para nabi sejak jaman nabi Ibrahim AS. Atau kita merasa lebih mulia dari tuan rumah (Allah SWT), sehingga sang Tuan Rumah kita abaikan demi panggilan umat manusia lainnya di seberang sana? Astaghfirullah ……

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin, kita yang masih lebih tergoda pada nafsu keduniawian memperoleh hidayah Allah SWT. Bagaimana mungkin, kita yang masih mengabaikan Tuan Rumah, bahkan di rumahnya sendiri (Baitullah) dengan menjawab telpon sambil bertawaf/sai masih berharap pahala dari Allah SWT atas tawaf dan sai yang kita lakukan? Semoga Allah SWT mengampuni mereka yang khilaf.Wa Allahu Alam ….

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...