Tampilkan postingan dengan label universitas indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label universitas indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

WISUDA SARJANA - Program SPESIALISASI, MAGISTER dan DOKTOR

Hari Jum'at 25 Agustus 2017, setelah tahun lalu dan awal Februari 2017 lalu, absen menghadiri acara Wisuda sarjana, pada awal tahun ajaran baru ini, keisengan untuk ikut hadir pada acara tersebut muncul lagi.

Iseng ...? Bisa jadi .... untuk pengalih rasa jenuh dari kerjaan kantor .... kebetulan juga sudah berjalan selama sekitar 11 tahun, undangan untuk menghadiri acara ini selalu hadir. Bolehlah, sesekali menanggalkan identitas pribadi untuk masuk ke dalam identitas sebagai istri... hehe...

Jadi ...., setelah supir pak Boss usai shalat Jum'at, dan saya sendiri juga sudah menunaikannya ... dengan agak rebyek, karena kekhawatiran macet akibat banyaknya kendaraan menuju kampus UI Depok, saya dan si anak yang juga mahasiswa di departemen yang sama dengan tempat bapaknya mengajar, melundur ke Depok. Walau bila diratik garis lurus, rumah kami hanya berjarak pada radius tidak sampai 1km dari kampus UI, namun jalan memutar yang harus ditempuh bila menggunakan kendaraan beroda 4, menyebabkan waktu tempuh menjadi sekitar + 30 menit. Masih mendinglah, dibandingkan dengan waktu tempuh dari kawasan Lebak Bulus, tempat tinggal kami dulu.

Si anak, agak malas2an diajak... namun emak sedikit memaksa, supaya ada teman mengobrol. Maklum saja ... saya bukan aktifis kegiatan emak2 Dharma Wanita. Bahkan sama sekali tidak pernah aktif, sejak dulu kala ..... jaman emak2 bilang bahwa aktifitas istri di Dharma Wanita berperan penting buat karier suami.

Setelah menjemput suami di "kandang"nya ... kami meluncur ke gedung PAU ... Biasanya emak2 undangan berkumpul disini dulu, icip2 makanan kecil, menjelang acara. Biasanya sekitar 15 menit sebelum rombongan guru besar memasuki tempat acara, emak2 mulai memasuki ruang acara. Mendapat kehormatan duduk di kursi VIP pada arah keluar para guru besar, usai acara wisuda dan penerimaan mahasiswa.

Acaranya sih rutin saja .... Dari tahun ke tahun, urutan acaranya juga persis sama... Yang istimewa tahun ini, atau juga saya baru tahu dan menyadarinya bahwa ada perubahan besar untuk lagu pengiring saat para guru besar masuk ke ruang acara, yaitu Balairung Uinversitas Indonesia.

Bila biasanya, lagu Gaudeamus Igitur yang mengiringi langkah para guru besar dengan jubah kebesarannya ... yang memang ukurannya besar-besar ...., maka saat itu, langkah mereka diiringi lagu SATU NUSA SATU BANGSA ...
Syahdu ...? so pasti .... Malah jadi terharu ...
Tidak kalah terharu dibanding saat mendengar lagu Gaudeamus yang sebetulnya sama sekali tidak dimengerti arti liriknya. Hanya iramanya saja yang memang mengundang haru.

Entah siapa dan karena apa, terjadi perubahan itu..., namun apapun alasannya, keputusan tersebut patut diacungi jempol...

Hidup Universitas Indonesia
VIVA Universitas Indonesia
VIVRE Universite Indonesia

Kamis, 03 September 2015

MEA dan WISUDA Sarjana / PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Entah sudah berapa kali saya menghadiri acara wisuda sarjana dan penerimaan mahasiswa baru di universitas Indonesia, namun acara pada tanggal 28 - 19 Agustus 2015  ini terasa sedikit lebih istimewa karena anak kedua saya ada di dalam barisan mahasiswa baru. Itu sebab, sejak awal sudah saya pesankan pada suami bahwa saya akan hadir di acara tersebut. Ge-er banget hehe ....

Siang hari, Jum'at 28 Agustus 2015, usai shalat Dhuhur, saya segera meluncur ke kampus UI di Depok, menjemput suami dulu di kantornya lalu masuk ke gedung pusat administrasi universitas, tempat peserta acara berkumpul.

Sekitar jam 14.15, kami para pendamping, di antar menuju Balairung Universitas Indonesia karena acara sudah akan dimulai. Saya bersyukur mendapat tempat di jajaran pertama Balairung, arah jalan keluar rektor dan guru besar.

Sepertinya ada yang berubah dari suasana wisuda dan penerimaan mahasiswa baru kali ini, terutama tentunya dari kemeriahan dan keriuhan teriakan para mahasiswa baru meneriakkan yel-yel fakultasnya. Kondisi ini sebetulnya sudah mulai terasa saat mahasiswa baru mengikuti masa orientasi kegiatan kampus - OKK dan MADK (yang ini saya lupa apa singkatannya) dimana kelompok mahasiswa baru yang terdiri dari 10 orang, diwajibkan terdiri dari beragam fakultas dan membaurkan antara rumpun science, humaniora dan kesehatan. Tentu maksudnya agar ego fakultas menjadi hilang. Baguslah ..... kita memang harus bersatu dan menghilangkan ego sektoral. Indonesia harus bersatu padu terutama menghadapi era MEA alias Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan mulai berlaku pada bulan Desember 2015.


Kalaupun ada yang hilang dari wisuda sarjana & penerimaan mahasiswa baru tahun 2015 ini hanyalah kemeriahan dan keriuhannya saja. Acara menjadi "sedikit lebih senyap", kurang greget ... tapi, andai kesenyapan itu mampu diganti dengan kesadaran bahwa mahasiswa baru Universitas Indonesia adalah bagian dari suatu kesatuan bangsa dan negara Indonesia yang harus saling menguatkan dan kompak untuk masa depan bangsa, kenapa tidak...? Hal ini tentu harus dimulai dari kampus, karena mahasiswa adalah calon pemimpin dan penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapan dan masa depan kita semua.
***

Mungkin banyak diantara kita yang belum sadar bahwa pada akhir tahun 2015 ini, yaitu pada bulan Desember 2015, perjanjian/kesepakatan untuk menyatukan bangsa - bangsa ASEAN ke dalam suatu ikatan masyarakat berbasis ekonomi, mulai diberlakukan.


Apakah MEA itu?
MEA–Masyarakat Ekonomi Asean atau juga disebut AEC (Asean Economic Community) adalah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. MEA dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020, dan telah disepakati oleh seluruh negara anggota ASEAN lebih dari 1 dekade yang lalu.

Apa artinya bagi kita, bagi masyarakat di Negara–Negara ASEAN dan khususnya Indonesia? Itu berarti bahwa Indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif untuk menghadapi persaingan yang akan sangat ketat dan berat. Ketat dan berat karena Indonesia dan negara manapun yang tergabung dalam ASEAN tidak bisa menutup diri dari masuknya barang dan/atau tenaga kerja dari negara ASEAN. Ini bisa dikatakan sebagai awal pemberlakuan WTO beberapa tahun yang datang.

Siapkah kita–Indonesia menghadapi persaingan yang akan dimulai di akhir tahun 2015?[i]
Untuk menjawab pertanyan itu, kita perlu memperhatikan unsur apa saja yang akan dan harus diperhatikan dengan pemberlakuan MEA tersebut. 

Ada empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia.

Pertama, Negara–Negara di kawasan Asia Tenggara akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi agar tidak terjadi hambatan atas pergerakan arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Kedua, MEA dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi tinggi dan memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce agar tercipta iklim persaingan yang adil; ada perlindungan dari sistem jaringan perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan berbasis online.

Ketiga, MEA dijadikan sebagai kawasan perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk meningkatkan kemampuan daya saing dan dinamisme UKM dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan kemampuan sumber daya manusia dalam bidang keuangan, serta teknologi. 

Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi dan bantuan terhadap negara-negara anggota yang kurang berkembang agar terjadi peningkatkan partisipasi Negara Asean pada skala regional termasuk untuk mengintegrasikannya secara global.

Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota–anggota di dalamnya. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang akan menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.

Secara teroritis, bagi Indonesia, MEA akan menjadi kesempatan untuk mengurangi hambatan perdagangan sehingga terjadi peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam di berbagai Negara ASEAN yang dapat dimasuki. Akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi  lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Masyarakat Ekonomi Asean - MEA nantinya tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. MEA juga mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. Keterbukaan ini jelas akan  memunculkan risiko ketenagakerjaan bagi Indonesia dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia. Walau intinya, MEA lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya namun persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat.[ii] Satu hal yang sudah bisa dipastikan, sarjana Indonesia dan tenaga kerja Indonesia pada umumnya akan dan harus bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara ASEAN. Bukan saja di sesama negara ASEAN )luar negeri) tetapi bahkan di dalam negeri sendiri. Apalagi ada kecenderungan bahwa banyak perusahaan (swasta) yang lebih suka menggunakan tenaga asing pada posisi tinggi di perusahaan, karena pada umumnya tenaga kerja Indonesia menjadi lebih patuh bila pimpinannya adalah orang asing. Miris .....

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?
Secara jujur ada kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat. Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung pada mental. Banyak yang belum tahu dan belum siap kalau mereka akan dan harus bersaing dengan tenaga asing, apalagi kalau harus bekerja di luar Indonesia. Sementara di dalam negeri akan banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi. Indonesia tentu tidak ingin "kecolongan" dan tidak boleh kecolongan. Inilah wajah persaingan kerja yang akan dihadapi oleh sarjana baru dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. 

Kita memang tidak perlu berkecil hati dengan persaingan era MEA tersebut. Kondisi ini harus dijadikan sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa sarjana Indonesia, dengan bekal yang sudah diperoleh dari institusi pendidikannya, mampu bersaing bukan saja di dalam negeri tetapi mampu pula masuk mengisi kekosongan tenaga pendidik di Negara – Negara jiran terutama pada Negara serumpun.

Momentum MEA ini juga diharapkan, walau agak terlambat, agar kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi berbenah diri ... mengingatkan pada 134 PTN dan sekitar 4000 PTS untuk berbenah diri, meningkatkan kualitas institusi dan lulusannya. Masa depan Indonesia kini ada di di kedua Kementerian tersebut.

Semoga sarjana dan tenaga kerja Indonesia mampu menjadi tuan di negerinya sendiri sekaligus mampu bersaing dan berdiri tegak, bekerja di negara-negara ASEAN kelak




[i] http://crmsindonesia.org/knowledge/crms-articles/peluang-tantangan-dan-risiko-bagi-indonesia-dengan-adanya-masyarakat-ekonomi
[ii] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec

Senin, 10 Februari 2014

WISUDA Sarjana di Universitas Indonesia

Wisuda Sarjana, adalah waktu yang sangat ditunggu, bukan saja oleh semua anak muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya tetapi juga ditunggu oleh para orangtuanya .... oleh pacar dan mungkin juga calon mertua .... Walau belum tentu segera akan menikah, tetapi wisuda ternyata menjadi salah satu langkah penentu para pasangan kasmaran.

Sejujurnya .... saya tidak pernah merasakan greget suasana wisuda sarjana seperti apa yang dirasakan semua orang. Tidak merasakan luapan kegembiraan yang luar biasa untuk akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah, kecuali "lepas beban berat" atas "kecelakaan" selama masa kuliah, sehingga saya harus menyelesaikan waktu kuliah yang amat sangat teramat panjang .... Walau diselingi cuti selama 4 tahun...., ternyata masa kuliah saya masih lebih pendek dari masa kuliah salah satu mantan menteri era Suharto yang berasal dari kampus yang sama hehe.... # ini salah satu cara pembenaran atas kesalahan diri.

Saya juga tidak sempat dan tidak memiliki kesempatan hadir saat anak sulung menyelesaikan kuliahnya baik pada strata 1 maupun 2. Semoga si anak tidak merasa kecewa ataupun bersedih karena tidak didampingi orangtuanya pada saat yang mungkin sangat berarti baginya. Anak itu terlalu mandiri dan kalaupun ada rasa "kehilangan" di hati orangtua karena kemandiriannya, tapi kami tetap bangga dan merasa sangat berarti memiliki anak seperti dia.
***

Awal bulan Februari dan akhir September setiap tahun, seperti biasa selama hampir 10 tahun ini, saya akan menerima beberapa undangan untuk hadir di acara wisuda. Tentu tidak selalu dihadiri, tergantung kepentingannya. Kalau ada keponakan yang di wisuda dan saya tidak sedang merasa malas untuk pergi, maka kami akan hadir bersama. Tetapi lebih sering suami saja yang hadir. Itupun kalau dia sedang tidak merasa malas untuk bermacet ria di sepanjang jalur Pasar Minggu - Kampus UI dan sebaliknya. 

Kadang-kadang, undangan itu digunakan teman yang membutuhkannya, karena kerabat yang ingin hadir melebihi jumlah undangan yang diperoleh wisudawan. Apalagi, undangan yang kami miliki itu memberikan kami kesempatan untuk hadir di ruang utama upacara. Di dalam Balairung Universitas Indonesia.

Kali ini, tiba-tiba saja saya merasa ingin membawa suasana kehidupan kampus kepada anak saya yang saat ini masih duduk di bangku kelas XI SMA. Tentu ada alasan tertentu mengapa keinginan tersebut timbul.

Dalam berbagai kesempatan bicara dengan si anak, seringkali dia bercerita, betapa teman-temannya ingin sekali berkunjung ke perpustakaan UI yang konon kabarnya terbesar di Indonesia dan hal ini akhirnya sudah beberapa kali dilakukan baik dari sekolah maupun secara individual. Sementara anak saya sendiri sama sekali tidak memperlihatkan rasa tertariknya untuk diajak mengunjungi dan mengikuti beberapa acara di kampus UI yang sejuk itu. Tentu bukan hadir di acara resmi, tetapi memang ada beberapa acara kekerabatan baik untuk staff pengajar maupun alumni yang memungkinkan anggota keluarga hadir. JAdi memang agak ironi. Sementara teman-temannya "iri" akan adanya kesempatan itu, anak saya malah acuh tak acuh.

Mungkin karena tahun ini, dia sudah duduk di kelas XI dan berbagai masalah mengenai universitas, fakultas dan program study sudah mulai ramai dijadikan topik pembicaraan siswa sebagai persiapan mereka kelak, maka topik yang sama sudah mulai muncul dalam beberapa kesempatan makan bersama yang hanya ada di setiap akhir minggu saja. Itu sebabnya pada saat saya lontarkan maksud untuk mengajaknya hadir pada acara wisuda sarjana, dia segera menyambutnya. Tentu ajakan tersebut saya sampaikan setelah beberapa hari sebelumnya melakukan konfirmasi kehadiran. 
***
Sudah beberapa tahun, karena terjadi peningkatan jumlah wisudawan yang luar biasa serta adanya berbagai jenjang kependidikan, maka acara wisuda sarjana UI dilakukan 2 kali dalam satu hari yang pasti sangat melelahkan bagi pejabat UI yang terlibat langsung serta seluruh pendukung acara. Belum lagi acara gladi resik yang biasanya diselenggarakan sehari sebelumnya.

Biasanya, wisuda Sarjana strata 1 - S1 dan  program diploma diselenggarakan pada pagi hari dan wisuda jenjang S2 - S3, program profesi diselenggarakan pada siang hari. Seingat saya, acara wisuda yang diselenggarakan pada pagi hari di bulan Februari selalu dibarengi dengan acara Dies Natalis sementara wisuda yang diselenggarakan pada bulan September dibarengi dengan penerimaan mahasiswa baru yang pasti gegap gempita. Ada nuansa berbeda dari ke dua kesempatan tersebut. Rasanya ... acara yang dibarengi dengan penyambutan mahasiswa baru lebih meriah, karena kebanggaan menjadi mahasiswa baru begitu kental mewarnai seluruh rangkaian acara.
***

Hari itu .... Sabtu 8 Februari 2014, kami berangkat dari rumah sekitar jam 12.45 - usai makan siang dan shalat dhuhur, Mestinya, cukup waktu untuk mengejar acara yang dimulai tepat jam 14.30 dengan ketentuan wajib hadir 30 menit sebelumnya. Waktu tempuh dari rumah ke kampus UI, biasanya hanya 45 menit. Itu sudah memperhitungkan kemacetan. Ternyata .... kemacetan siang itu sangat luar biasa. Bukan karena adanya kemacetan akibat lalu lintas keluar-masuk kampus UI, tetapi karena adanya beberapa genangan air. Maka ...  kami baru memasuki gedung PAU pada jam 14.10 ... 


Sebetulnya masih ada waktu 20 menit sebelum acara dimulai. Tetapi .... gedung PAU, yang biasanya ramai, sudah relatif kosong. Penghuninya sudah bersiap, berdiri dan berbaris rapi untuk mengikuti upacara di koridor antara gedung PAU denga Balairung tempat penyelenggaraan acara Wisuda Sarjana. Agak, salah tingkah juga melihat keadaan ini. Beruntung ada petugas acara, mungkin yang bertugas untuk membimbing undangan memasuki ruang acara. Dialah yang mengantar kami memasuki Balairung dan mencarikan tempat duduk. Alhamdulillah......

Duduk di ruang utama upacara, tentu merupakan suatu keberuntungan yang tidak semua orang bisa memilikinya. Itu pula yang menghadirkan getar dan nuansa yang sangat berbeda selama mengikuti acara tersebut.

***

Tepat jam 14.30, Rektor dan pejabat universitas dan Fakultas disertai dengan para guru besar memasuki Balairung UI dengan diiringi lagu Godeamus Igitur yang dibawakan oleh orkestra dan paduan suara UI .... Lirih namun penuh hikmat ....., lalu upacara "standar" dimulai ....., yaitu dari seremoni menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta, doa, pembacaan lulusan dan lain-lain. Standar dan buat saya, cenderung menjemukan .... biasalah... sesuatu yang rutin dan standar, akan cenderung menjemukan terutama bagi yang seringkali menghadiri acara serupa.

Usai, acara standar seremonial, penyanyi-penyanyi "jawara" dari berbagai fakultas menyanyikan lagu pop pilihan. Rupanya dari generasi Aning Katamsi ... sekarang sudah banyak bermunculan mahasiswa dan mahasiswi pemilik suara emas yang apik. Merekalah yang menggantikan para seniornya menyanyikan beberapa lagu  pop yang terasa anggun karena diiringi orkestra.


Usai upacara wisuda, acara bagi undangan dilanjutkan dengan resepsi di ruang PAU sementara para wisudawan biasanya memiliki acara lanjutan yang mereka rancang sendiri dan pasti sangat heboh. Dari mulai membuat foto standar dengan keluarga dan pacar, Umumnya dengan latar gedung rektorat UI atau mungkin sekarang ditambah dengan gedung perpustakaan pusat. Yang terakhir biasanya di gerbang masuk kampus dimana terletak tulisan besar UNIVERSITAS INDONESIA. Kapan lagi orangtua bisa berkunjung ke kampus tempat anak-anaknya kuliah, bukan?

Semoga, generasi muda Indonesia yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu kampus termegah di Indonesia, pada universitas penyandang nama negara, mampu membawa Indonesia menuju kemandirian di berbagai bidang dan melepaskan bangsa dan negara ini dari belitan neokolonialisme dan praktek KKN kelak.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...