Sabtu, 13 Juni 2020

Anda Muslim...?!

Tulisan menarik dari cak Satria Dharma dalam group DISKUSI DENGAN BABO. Saya share di sini dengan seijin penulisnya.
***
Seorang teman pernah mengeluh tentang semakin tidak bermutunya pemahaman agama umat Islam. Ia menunjukkan poster pelatihan “Cara Cepat Dapat Istri Empat” menyusul suksesnya “Kelas Poligami Nasional” tahun sebelumnya. Bukan hanya muslim awam yang dikeluhkannya tapi juga munculnya ustadz-ustadz yang semakin ngawur ajarannya. Kapan hari ada ustadz yang menyatakan bahwa lagu “Balonku” dan lagu “Naik ke Puncak Gunung”sebagai propaganda anti-islam dan mengagungkan agama lain. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan para ustadz semacam ini? 😞

Image may contain: text that says 'DAN SESUNGGUHNYA YANG AKU TAKUTKAN ATAS UMATKU IALAH PARA ULAMA YANG MENYESATKAN (H.R. Abu Dawud)'Sebenarnya sudah lama saya memprihatinkan masalah ini. Problem besar umat Islam masa kini adalah karena mereka tidak dididik untuk berpikir. Mereka hanya diajari untuk patuh pada ustadz mereka baik di sekolah mau pun di masjid tapi mereka tidak pernah diajari untuk berpikir, apalagi untuk bersikap kritis. Bersikap kritis, apalagi mempertanyakan pendapat ustadz mereka seolah dianggap sebagai sebuah kejahatan yang sangat tercela dan haram untuk dilakukan. Di sekolah dan di pesantren mereka hanya diajari untuk menghapal ayat dan hadist dan tidak diajari untuk mengaplikasikannya. Apa yang mereka pelajari hanya menjadi ilmu tanpa laku sehingga budaya dan tradisi keislaman menjadi mandek dan jumud.
Umat Islam semakin hari semakin dijauhkan dari tradisi berpikir dan dilarang untuk bersikap ilmiah apalagi mengkritisi pendapat para ustadz mereka. Mereka didoktrin bahwa pendapat para ustadz dan orang yang dianggap sebagai pemuka agama adalah benar semua dan tidak boleh dipertanyakan, apalagi ditentang. Mereka telah dianggap maksum belaka sehingga mempertanyakan pendapat dan tindakan mereka taruhannya adalah akidah. Mempertanyakan atau mengritik pendapat ustadz dan pemuka agama sama dengan tersesat akidahnya dan hal ini akan menyebabkan mereka jatuh dalam kekafiran. Dan ini berlaku semakin kencang dan semakin massif saja di negara-negara Islam. Tak heran jika umat Islam di seluruh dunia semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam segala hal yang membutuhkan kemampuan berpikir. Akal mereka dengan sengaja dan terstruktur dipasung oleh para guru-guru agama dan pemuka agama mereka sendiri. Umat Islam berhenti berpikir dan tidak mampu lagi menghasilkan pemikiran-pemikiran baru yang inovatif dan kreatif dan dipaksa untuk mengikuti saja pemikiran jumud para ustadz-ustadz mereka yang kebanyakan bukanlah pemikir. Kebanyakan dari para ulama mereka hanyalah para penghapal kitab-kitab secara tekstualis yang tidak memiliki kemampuan berinovasi apalagi menghasilkan pemikiran yang sesuai dan mengikuti zaman.
Ketinggalan zaman umat Islam tidak tanggung-tanggung. Ketika umat lain telah meneliti berbagai macam jenis pengobatan dengan teknologi nuklir dan nano yang canggih, umat Islam justru diajak untuk kembali ke Abad 7 dengan minum air kencing onta. Ketika teknologi pengobatan dengan sistem vaksin telah begitu maju dan berhasilnya, muncul ustadz yang tidak pernah belajar tentang medis yang tiba-tiba menjatuhkan fatwa makruhnya (yang kemudian berkembang menjadi haram) penggunaan vaksin untuk mencegah penyakit. Sampai sekarang para ulama yang bahkan tidak pernah belajar tentang masalah keuangan dan ekonomi dengan gagah dan yakinnya mengharamkan praktek perbankan secara umum dan juga asuransi. Mereka bahkan tidak segan-segan mengharamkan perbankan syariah sekali pun. Munculnya para ustadz dengan kemampuan bisa memberi fatwa segala macam urusan semakin menggejala dan umat yang memang sudah terpasung kemampuan berpikirnya dan memang diharamkan untuk berpikir akhirnya lebih tunduk pada ustadz segala ilmu tersebut ketimbang mendengarkan para ahli yang memang benar-benar kompeten di bidangnya. Padahal bukankah ulama itu berarti orang-orang yang benar-benar alim atau memiliki ilmu di bidangnya masing-masing? Lalu mengapa umat Islam lebih mengikuti pendapat seorang ustadz yang tidak pernah belajar tentang medis atau pun keuangan untuk hal-hal tentang kesehatan dan perbankan? Mengapa para ustadz yang tidak pernah belajar tentang medis dan keuangan tiba-tiba dengan gagah dan penuh keyakinan mengajak umat untuk mendengarkan pendapatnya dan bukannya mengarahkan mereka untuk mendengar para ahli di bidangnya masing-masing?
Islam pernah mengalami masa kejayaan selama 500 tahun ketika para ilmuwan Islam bermunculan dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Berdasarkan sejarah Zaman Kejayaan Islam (sek. 750 M – 1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan banyak pemikiran dan ilmu-ilmu baru dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan. Mereka mengembangkan tradisi ilmiah pada semua ilmu pengetahuan dan bukan hanya pada ilmu agama dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Para saintis Islam menguasai panggung dunia pada abad tersebut berkat tradisi dan budaya ilmiah yang mereka kembangkan. Beberapa nama saintis muslim yang sangat popular adalah Al-Khawarismi, Ibnu Sina, Abu Haytham, Al-Kindi, Al-Jazari, Ar-Razi, Al-Biruni, Abu Musa Jabir bin Hayyan, Ibnu Rushd, dll.
Hal yang selalu membuat saya sedih adalah ironi bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang paling rasional dan mewajibkan umatnya untuk selalu berpikir, merenungkan segala macam fenomena alam, bersikap kritis, dan bahkan agama yang paling demokratis. Perintah pertama bagi umat Islam adalah membaca dengan tujuan agar menjadikan manusia berubah dari kondisi tidak tahu menjadi tahu (allamal insana maalam ya’lam) yang artinya belajar dan belajar. Artinya pendidikan, yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi berilmu, adalah perintah paling utama dalam ajaran Islam. Bersikap kritis dan mempertanyakan sesuatu kepada guru dan ulama bukanlah sesuatu hal yang terlarang apalagi diharamkan. Bukankah malaikat pun yang begitu patuh pada Tuhan juga pernah mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan Adam dan dijawab oleh Tuhan dengan sangat baik? Jika Tuhan saja pernah ‘digugat’ dan dipertanyakan kebijakannya oleh para malaikat yang tugasnya adalah mematuhi dan melaksanakan perintah Tuhan lantas mengapa para ustadz dan pemuka agama begitu alergi jika mendapatkan pertanyaan dan sikap kritis dari para para santrinya?
Saat ini umat Islam hanya didorong untuk menjadi penghapal teks belaka dan tidak didorong untuk menjadi pemilik ilmu. Para santri kebanyakan hanya didorong untuk menghapal Alquran dan hadist dan bukan untuk memahami ayat dan konteksnya. Padahal menghapal Alquran dan hadist bukanlah tujuan tapi sekedar cara. Tapi cara ini sekarang dijadikan tujuan dan umat Islam kehilangan esensi dari beriqra’yang bertujuan agar terjadi perubahan mental dari tidak tahu menjadi tahu (allamal insana maalam ya’lam). Itulah sebabnya mengapa umat Islam yang memiliki berbagai ajaran mulia seperti kebersihan, kedisiplinan, kebermanfaatan, dan lain-lain justru sekarang menjadi umat yang tidak paham tentang apa itu kebersihan, apa itu disiplin, apa itu melindungi umat lain, dll.
Saat ini umat Islam yang kritis justru sering ditembak dengan pertanyaan yang sangat sering dilontarkan yaitu :
“Anda muslim…?!” 
Tujuannya jelas adalah untuk membungkam dan memberi stigma bahwa umat Islam tidak selayaknya mempertanyakan atau menggugat apa pun yang disampaikan oleh orang yang dianggap sebagai ustadz atau pemuka agama.
Jika Anda seorang muslim maka sudah sepatutnya dan sebuah keharusan bagi Anda untuk terus berpikir dan bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Jangan justru terbalik menjadi orang yang tidak mau berpikir, tidak bisa bersikap kritis, tak punya kemampuan berargumen, tapi sangat fasih menghujat dan menghina orang yang berbeda pendapat. Itu sama sekali bukan ciri seorang muslim. 
Surabaya, 13 Juni 2020
Satria Dharma

Minggu, 07 Juni 2020

Menyoal Injil terjemahan Bahasa Minangkabau

Seorang teman mengirimkan tulisan (forwarding tanpa kejelasan siapa penulisnya) mengenai keberatan-keberatan tentang penterjemahan Injil ke dalam bahasa Minangkabau. Sebetulnya menterjemahkan Injil ke dalam bahasa lokal untuk digunakan dalam peribadatan mingguan penganut agama Kristen, bukanlah suatu hal yang aneh dan keributan ini menjadi sangat  menyebalkan. 

Injil versi yang kita kenal sekarang, dalam setiap peribadatan agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan, selalu dibawakan dalam bahasa setempat. Di Indonesia, peribadatan mereka akan dilakukan dalam bahasa Indonesia. Jarang atau bahkan mungkin tidak pernah peribadatan agama Kristen di Indonesia yang dibawakan dalam bahasa aslinya. Kita sendiri tidak pernah tahu bahasa asli Injil. Bahasa Ibrani/hebrew, Aramaic atau bahasa lainnya? Yang pasti.... peribadatan mereka akan dilakukan dalam bahasa setempat. 
Di negara Anglophone, peribadatan agama Kristen akan dilakukan dalam bahasa Inggris. di negara-negara Francophone dilakukan dalam bahasa Perancis dan .... di negara-negara Arab akan dilakukan dalam bahasa Arab. Jangan berpikir bahwa bangsa Arab/Timur Tengah tidak ada yang beragama Kristen ya... Ini pikiran yang terlalu naif. 


Peribadatan Kristen dalam bahasa Arab ini juga yang menyebabkan suatu saat, sekitar 40 tahun lalu, saya sempat terperangah ketika suatu pagi di hari minggu,mendengar suara puji-pujian dalam bahasa arab, yang isinya hampir mirip dengan beberapa ayat-ayat al Qur'an yang saya kenal, terdengar mengalun dari televisi. Segera setelah saya simak dengan teliti... baru sadar bahwa ternyata ayat-ayat tersebut dilantunkan dalam tata cara ibadat Kristen Maronit (Katholik Timur) yang banyak dianut oleh orang-orang Arab Libanon. Salahkah mereka ....? Tentu tidak... karena, begitulah tata cara peribadatan Kristen. Peribadatan dilakukan dalam bahasa setempat tentu dengan maksud agar khotbah dan peribadatannya mudah dimengerti oleh jemaat yang hadir.


Di Indonesia, yang saya tahu, terutama untuk gereja Kristen Protestan, kita kenal ada gereja HKBP, gereja Batak yang peribadatannya tentu dilakukan dalam bahasa Batak. Ada gereja Pasundan untuk orang-orang berbahasa Sunda, gereja Jawa yang peribadatannya dilakukan dalam bahasa Jawa dan saya yakin ada gereja-gereja lain yang peribadatannya dilakukan dalam bahasa setempat atau bahasa umat di wilayah terkait. 

Jadi .. bukan suatu hal yang aneh bila peribadatan dalam gereja di wilayah Sumatra Barat kemudian ingin dilakukan dalam bahasa Minang, karena... percayalah, walau minoritas, tentu ada urang Minangkabau (asli) yang menjadi penganut agama Kristen ..... Sama seperti orang-orang di wilayah Timur Tengah yang beragama non Islam. Atau ..... minimal, ada warga pendatang dan etnis/suku lain yang bertempat tinggal di wilayah Sumatera Barat yang memerlukan peribadatan dalam bahasa mereka sehari-hari, dalam hal ini bahasa Minang. Jangan baperlah .... karena bagi kalangan Kristen, penterjemahan Injil dalam bahasa lokal adalah hal biasa. Soal apakah isi/terjemahannya berbeda dengan injil dalam bahasa aslinya, nggak usah mempermasalahkannya. Itu urusan mereka. 

Hal ini tentu berbeda dengan tata cara ibadah umat Islam yang keseluruhannya menggunakan bahasa asli al Qur'an, dalam hal ini bahasa Arab. Shalatnya umat Islam dilakukan dalam bahasa Arab al Qur'an. Mengertikah kita akan surat-surat yang dibaca selama shalat? Untuk beberapa surat pendek yang biasa dibaca, kita tahu artinya. Tetapi bukan karena kita fasih berbahasa Arab, tetapi karena kita sempat membaca terjemahan dan karenanya tahu arti surat-surat atau ayat-ayat tertentu. Beruntunglah mereka yang bisa dan mampu berbahasa Arab dengan fasih. 


Sampai saat ini tidak pernah ada suatu terjemahan al Qur'an tanpa disertai tulisan dalam bahasa aslinya. Mengapa....? Untuk menjaga "kemurnian" ayat2 al Qur'an ... Apakah tidak pernah ada upaya mendistorsikan ayat2 al Qur'an ...? Pernah dan mungkin juga sering. Untuk orang-orang yang bukan penghafal Qur'an (hafidz) dan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Arab tentu akan mudah terperdaya....

Daripada meributkan Injil dalam bahasa Minang, tentu akan lebih baik bila kita memperkuat keimanan kita sendiri. Yakin bahwa agama yang kita anut adalah agama yang benar yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kalau urang awak takut atas penerjemahan Injil ke dalam bahasa Minangkabau, sebetulnya, patut kita balikkan pertanyaannya... Apakah iman Islam masyarakat Minangkabau sedemikian tipisnya sehingga takut terhadap terjemahan Injil dalam bahasa mereka? 😁😁😁

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...