Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2007

Berbagi Pengalaman


Ini sekedar berbagi pengalaman, semoga bermanfaat bagi ibu2 muda yang sedang hamil dan akan melahirkan. Semoga bermanfaat.


Tahun 1983 yang lalu, saat saya hamil pertama di suatu negara Eropa, tetangga saya, orang Indonesia juga, hamil anak yang ke 3 dan kami selalu berdiskusi tentang kehamilan.

Teman saya itu selalu menggerutu, bahwa dokter di Eropa sama sekali tidak memberi perhatian yang baik atas kehamilannya. Alasannya karena dokter tidak memberikan vitamin untuk menambah kesehatan ibu dan jabang bayinya. Sementara di Indonesia, setiap pulang dari pemeriksaan kehamilan, dia akan membawa sekantung besar vitamin yang harus dikonsumsi setiap hari. Kala pemeriksaan berikutnya, saya menanyakan hal yang sama pada dokter (perempuan), dengan bijak dia mengatakan... bahwa vitamin banyak terdapat pada apa yang kita makan... Jadi jangan membuang uang untuk suatu hal yang tidak pada tempatnya.

Sayur, buah2an, daging, ikan dan lain2. Kalau kita bisa memperoleh yang alamiah, mengapa harus yang buatan. Kita harus percaya, yang alamiah, bila dikonsumsi cukup dan dengan cara pengolahan yang benar, akan jauh lebih baik dari bahan-bahan sintetis/kimiawi. Lalu beliau menjelaskan tips/tricks mengatur menu dan cara pengolahan makanan yang baik.

Tiba saat melahirkan, dengan sabar para perawat melayani kebutuhan saya dan menanyakan apakah saya ingin memberikan ASI exclussive atau memerlukan susu formula untuk bayi. Pagi hari setelah melahirkan (saya melahirkan jam 23.45), perawat yang bertugas memberikan satu butir tablet khusus untuk memperlancar ASI, dan sejak saat itu saya dimintakan untuk menyusui anak (kamar bayi selalu terletak di antara 2 kamar rawat yang dibatasi kaca, sehingga ibu bisa langsung melihat dan merawat bayinya) setiap bayi membutuhkan. Perawat sama sekali tidak memberikan susu formula kepada bayi saya. Seperti biasanya ibu baru melahirkan (secara normal), saya mengalami kesulitan untuk menyusui bayi, apalagi selama 2 hari buah dada membengkak (karena produksi ASI berlebih, tapi tidak keluar dengan sempurna). Dengan penuh kesabaran, perawat mengkompres, memijat dan banyak hal lain untuk membantu agar bayi dapat menyusui langsung dari ibunya. Kadang perawat memijat buah dada saat saya menyusui. Begitu telatennya mereka.

Ini berbeda sekali saat saya melahirkan anak ke dua di Indonesia.
Begitu saya melahirkan (caesar), saya sudah wanti2 bilang sama perawat dan dokter anak, bahwa saya ingin menyusui bayi secara eksklusif. Dengan harapan, tentunya, mereka akan memberikan catatan permintaan tersebut pada kartu ibu/anak. Yang terjadi adalah, bayi saya menolak disusui, karena sudah kenyang oleh susu formula. Saat saya protes, perawat dan dokter hanya menyatakan bahwa saya perlu banyak istrirahat dan bayi saya perlu tambahan susu formula karena produksi ASI saya belum keluar secara maksimal.

Alih-alih membantu agar produksi ASI meningkat, mereka malah berupaya keras agar bayi saya mengkonsumsi susu formula. Akhirnya, setelah berdebat keras, dokter anak dengan muka masam mengijinkan saya membawa bayi ke kamar selama masa rawat di RS. Dan setelah kejadian tersebut dokter anak tidak lagi menjenguk bayi saya.

Saya sungguh tidak perduli, bahwa dokter anak tersebut tidak lagi menengok anak. Hanya saja, saya tidak habis pikir, bagaimana etika sebagai dokter. Seharusnya dia tahu bahwa ASI adalah hak bayi dan dia bertugas untuk membantu sekuat tenaga agar bayi mendapat yang terbaik (ASI) terutama di awal kehidupannya. Alih2 melakukan hal tersebut, dokter anak malah bertindak (maaf) seolah-olah sebagai supplier makanan (dalam hal ini susu formula) bayi. Tindakan ini sungguh membodohi masyarakat dan menurut saya sangat merugikan kita semua. terutama merugikan hak anak2 (bayi) Indonesia.

Rupanya, para ibu harus bersikap kritis dan tahu apa yang menjadi hak-hak baik bagi si ibu maupun bayi yang baru dilahirknannya. Kalau tidak, secara tidak disadari kita akan masuk kepada jeratan industri makanan bayi.

Semoga pengalaman ini, bisa menjadi masukan bagi ibu-ibu muda yang berniat memberikan ASI exclussive bagi bayinya nanti.

salam.


Jumat, 17 Juni 2005

ASI adalah hak anak kita. Jangan biarkan mereka jadi ”anak sapi”!!!

Industri makanan anak balita di Indonesia termasuk industri makanan bayi berkembang pesat. Kesibukan ibu bekerja yang mengakibatkan kurang waktu untuk menyiapkan makanan segar, turut menyuburkan pertumbuhan tersebut. Cobalah tengok pada deretan rak di supermarket. Semua ada...., mulai dari snack yang katanya sehat dari berbagai rasa, makanan pagi jenis sereal, biskuit berbagai rasa dan bentuk, makanan kecil pencuci mulut hingga susu baik susu bubuk maupun susu cair. Bahkan makanan (bubur) bayi siap saji .... semua ada, campur aduk tidak ada lagi batasan umur. Semua menjanjikan kelebihan-kelebihan, dengan tambahan-tambahan multi vitamin dan berbagai macam unsur-unsur artifisial yang saya yakin, buat orang awam, sangat tidak dimengerti kegunaan pastinya .... Pokoknya, semua mengatakan produknya bisa mencerdaskan anak.

Dalam perbincangan dengan ibu bekerja dewasa ini, jarang sekali ditemukan ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif selama minimal 6 bulan. Alasannya macam-macam. Ada yang mengatakan ASInya tidak keluar .... yang lainnya mengatakan, karena harus kembali bekerja, sehingga tidak lagi sempat menyusui anak. Stress karena pekerjaan memang dapat menyebabkan produksi ASI berhenti. Ironisnya .... keengganan menyusui bayi juga menjangkiti ibu-ibu yang tidak bekerja. Mungkin promosi gencar produk susu mengenai kelebihan-kelebihan produknya terutama yang menyangkut ”peningkatan IQ anak” membuat ibu tidak percaya diri untuk menyusui anak. Apakah mereka mengerti bahwa makanan yang terbaik bagi bayi terutama di awal tahun kehidupannya adalah ASI. Melihat kenyataan yang ada, saya menjadi sangat tidak yakin akan hal ini. Kecuali mengetahui tentang kegunaan ASI dari bacaan/majalah yang hanya dapat diakses oleh keluarga mampu yang biasanya diakhiri dengan pesan terselubung dari sponsor bahwa ”apabila ibu mengalami kesulitan untuk menyusui bayi, maka gunakanlah susu formula sesuai dengan umur bayi” lengkap dengan promosi keunggulan-keunggulannya.

Tidak salah lagi, bila banyak ibu yang menganggap susu formula bagi bayi sebagai bagian dari gaya hidup modern, gaya hidup masa kini. Tidak ada sarana lain dari ibu-ibu muda untuk mengetahui manfat menyusui baik bagi bayi maupun si ibu sendiri. Jangan lagi berharap pengetahuan itu dapat diperoleh dari sekolah. Sekolah kita kan mendidik anak supaya cerdas dari segi ”akademis”. Aneh-aneh saja ... masa pengetahuan tentang menyusui diajarkan di sekolah? Padahal itu kan pengetahuan praktis yang secara alamiah pasti dibutuhkan manusia, terutama perempuan.

Dengan jumlah penduduk 220 juta orang dan sebagian besar masih dalam usia produktif, Indonesia memang pasar yang besar dan luas bagi produk makanan anak. Apalagi generasi muda Indonesia adalah generasi yuppies yang baru tumbuh sehingga mereka mengganggap kuno gaya hidup alami dan lebih cepat termakan dengan gaya hidup instant dan praktis. Tidak heran, usaha pemerintah untuk memasyarakatkan pemberian ASI pada bayi tidak terdengar sehingga imbauan pemerintah untuk menarik produk makanan untuk bayi di bawah usia 4 bulan tidak didengarkan oleh produsen.

Ini berlainan dengan sekolah asing. Bos saya, pernah cerita; anaknya yang kala itu masih duduk di level SMU JIS – Jakarta International School, suatu hari pulang sekolah dengan membawa tas besar. Isinya ...... boneka bayi, dengan segala macam peralatan dan produk makanannya. Pada pergelangan tangan si anak juga sudah terpasang gelang. Apa yang terjadi ...? Ternyata, si anak perempuan diberi tugas untuk ”bersimulasi” menjadi ibu yang memiliki bayi usia di bawah 6 bulan. Jadi mereka betul-betul harus berfungsi sebagai ibu dengan seabrek kewajiban mengurus anak. Gelang tangan itu rupanya juga berfungsi sebagai alarm yang mengingatkan si anak untuk mengerjakan kewajibannya sebagai ibu,

Maka week end tersebut menjadi hari sibuk bagi si anak. Tidak bisa keluar rumah menghabiskan waktu dengan keluarga. Bagaimana mungkin keluar rumah dengan membawa boneka? Menyuruh si ”mbak” di rumah menggantikan? Itu juga tidak mungkin .... instruksi tersedia dalam bahasa Inggris dan dia juga harus membuat laporan tentang makanan si ”bayi”, kekentalannya, panas makanan saat disuapkan dll. Apalagi gelang tangannya juga berfungsi sebagai sensor dari aktifitas sianak dan interaksinya dengan ”bayinya”. Pendeknya, tidak ada kemungkinan untuk meminta bantuan orang rumah.

Jam 5 pagi, si anak sudah bangun. Hari dimulai dengan menyiapkan peralatan membuat susu, mensterilkan botol, masak air, dan menakar bubuk susu. Setelah selesai, lalu memberi susu kepada ”bayi”. Usai memberi susu, lalu menyiapkan air mandi buat ”bayi”, memandikannya, mengganti popok dan seterusnya.... Pendeknya segala kegiatan yang menyangkut pemeliharaan bayi sepanjang hari. Alarm di gelangnya sangat ”rigid” dengan waktu ... bahkan jadwal memberi susu dan mengganti popokpun persis seperti laiknya bayi manusia sungguhan. Ada waktu ”bayi menangis minta digendong, atau buang air. Hampir setiap 3 – 4 jam sekali ada saja ulah si ”bayi” yang telah diprogram tersebut .... Bahkan ulah itu juga yang membuatnya harus bangun pada jam 2 malam. Betul-betul seperti ibu mengurus bayi. Mengada-adakah kegiatan anak dan tugas dari sekolah itu..? Sepintas lalu ... ya, tetapi sesungguhnya, itulah pelajaran hidup yang nyata.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Wah ..... saya tidak yakin ada sekolah yang memberikan tugas semacam itu buat murid SLA nya. Bahkan Rumah Sakit Bersalinpun belum tentu melakukannya.

Pada saat saya melahirkan anak yang ke 2 pada usia menjelang 42 tahun di sebuah RS swasta di Bekasi. Wanti-wanti saya berpesan pada perawat dan dokter bahwa saya akan memberikan ASI. Tetapi yang terjadi adalah ... setiap kali bayi diberikan kepada saya untuk disusui, si bayi tidur dan menolak. Dua kali kejadian seperti itu, maka saat ketiga kali, saya tanyakan pada perawat, kenapa bayi saya menolak disusui? Perawat mengatakan ... bayi sudah diberi susu formula setelah dimandikan. Saya katakan : ”saya sudah bilang akan menyusui sendiri”. Jawabnya klise ”Ini standar. Ibu perlu istirahat banyak agar cepat pulih dari operasi caesar”. Saya marah ... ”Itu bayi saya, Adalah resiko saya akan kelelahan karena melahirkan bayi dan harus menyusui. Bukan anda yang mengatur saya untuk menyusui atau tidak! Sekarang... ambil box bayi dan letakkan di kamar saya ini!”

Perawat keluar dan mencari dokter anak yang langsung menanyakan kepada saya apa yang sudah terjadi. Kepada Dr W (belakangan saya tahu bahwa istri si dokter itu adalah teman sekelas adik saya di SMA), saya ulangi semua ucapan saya. Dokterpun menyatakan hal yang sama ... bahwa saya perlu banyak istirahat memulihkan kondisi. Lagipula belum tentu ASI saya mencukupi kebutuhan bayi. Saya betul-betul marah karenanya. Saya ulangi lagi bahwa ”hak saya untuk menyusui bayi dan saya minta anak saya untuk diletakkan dikamar rawat saya” Saya betul-betul tidak percaya lagi dengan niat perawat/dokter untuk menjamin pemberian ASI bagi bayi. Dengan muka masam, si dokter akhirnya mengijinkan perawat membawa box bayi ke kamar. Sejak hari itu dia tidak pernah lagi melakukan visit. Saya tidak perduli! Beruntung saya melahirkan dalam usia yang sudah mapan dan dirawat di ruang VIP. Bagaimana dengan ibu-ibu lainnya yang miskin pengalaman? Terlalu sekali....

Ini bertentangan dengan kelahiran anak saya yang pertama di l’hopital de la Fontaine – Saint Denis, Perancis. Pagi hari setelah melahirkan, perawat membangunkan saya dari tidur (saya masuk ruang perawatan pada jam 2 pagi setelah melahirkan pada jam 23.45), meminta saya untuk bangun, mandi karena tempat tidur akan dibersihkan dan menanyakan apakah bayi akan diberikan ASI atau tidak. Setelah saya mengatakan akan diberi ASI, perawat memberikan pil yang katanya akan memperlancar pengeluaran ASI. Sementara tetangga kamar yang tidak memberikan ASI diberi pil untuk menghentikan produksi ASI. Ternyata produk ASI menjadi sangat berlebihan dan karena saya belum berpengalaman bagaimana memberikan ASI, akibatnya buah dada menjadi keras dan ASI sukar keluar. Saya demam. Tetapi dengan sabar mereka membantu saya, mengurut dada yang bengkak, mengkompres dan mengajari saya mengatasi seluruh masalah yang ada. Sementara saya masih demam dan belum sanggup memberikan ASI langsung, maka saya diwajibkan ”memerah susu”, menyimpannya di dalam botol dan memberikan kepada bayi pada saatnya hingga akhirnya saya berhasil menyusui bayi secara langsung. Semua harus dilakukan sendiri, termasuk memandikan anak dan perawatan ”pusat” yang belum puput. Perawat hanya membantu manakala kita mengalami kesulitan.

Banyak penelitian yang menyatakan keunggulan ASI, terutama pada masa tepat pasca kelahiran, dibandingan dengan susu formula jenis apapun dan direkayasa bagaimanapun. Apapun usaha manusia untuk mendekati susu formula dengan ASI, secara alamiah tetap saja, susu itu susu sapi. Bukan susu manusia ..... Siapa yang menjamin bahwa tidak ada ”sel hewani” yang terbawa dalam formulanya. Kalau ya.... berarti ada gen ”hewani” yang masuk dalam tubuh anak kita.... Aduh.................

Mungkin akan banyak orang yang menyatakan ”penelitian sudah sedemikian canggihnya dan menjamin bahwa formulanya sudah mendekati ASI. Tapi kembalilah pada fitrahnya! Susu manusia untuk manusia, susu hewan untuk hewan... Jangan mencampur adukkannya. Allah SWT sudah mengatur semuanya dengan gratis buat kita... Jadi jangan disia-siakan. Anak-anak saya tumbuh sehat, walaupun tidak gemuk, mereka tumbuh secara proporsional, jarang sakit apalagi kena diare, walaupun mereka sama sekali tidak meminum susu formula. Saya memang beruntung, setelah cuti hamil, bos pun memperkenankan saya membawa bayi ke kantor. Jadilah dia karyawan termuda di kantor sampai usia 15 bulan. Jadi saya bisa menyusui bayi saya sepuasnya.

Ayo dong..... kita kembali ke alam... jangan tergiur oleh iklan yang menyesatkan itu!!!

Salam,
Lebak bulus 12 juni 2005

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...