Tampilkan postingan dengan label kemiskinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemiskinan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2016

Pedagang Kue Semprong

kue semprong
Anak-anak jaman sekarang mungkin tidak ada yang tahu wujud asli jajanan sehari-hari yang dikenal sebagai kue semprong, walau dalam bentuk modern banyak dijual di toko swalayan dengan kemasan kaleng atau kotak karton dengan beragam varian bentuk dan diisi krem, biasanya coklat, mocca atau strawberry.

Makanan "kampung" yang asli, memang sudah jarang ditemukan atau dijajakan. Mungkin karena kemasannya yang sangat sederhana, apalagi kalau penjualnya kumuh, kurang menggugah selera walau harganya relatif murah. Saya tidak tahu apakah harga 12.000 rupiah sudah termasuk mahal untuk sekantong kue semprong berisi sekitar 30 buah. Kita sudah yang terlanjur lebih kenal dengan kue semprong modern  yang dinamai Rolls dalam kemasan modern dan beragam rasa dan tentunya dengan rasa yang lebih enak dan berkelas. Ada rasa dan kualitas.... tentu ada harga yang harus dibayar.

Beberapa tahun yang lalu, kami biasa membeli kue semprong di pelataran parkir, tepatnya di depan tangga masuk bagian samping Lotte Mart di bekas gedung d'best jalan RS Fatmawati. Pedagang yang kurus kering dengan wajah memelas, menawarkan dagangannya kepada orang yang lalu lalang, keluar masuk melalui tangga tersebut. Entah berapa banyak orang yang berminat membeli dagangannya, karena setiap kami belanja ke Lotte Mart tersebut, dagangannya masih bertumpuk di pikulannya. Padahal, hari sudah cukup larut. Hampir jam 21.00. Sedih rasanya melihat wajahnya yang memelas, berharap ada yang berminat membeli kue semprong yang dibawanya dari kawasan Cengkareng. Betapa berat perjuangannya mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarganya, yang konon ditinggalkannya di kampung.
 
kue semprong modern alias ROLLS

Sejak kami pindah menjauh dari wilayah jalan RS Fatmawati menuju wilayah perbatasan Jakarta Selatan, kami tentu saja tidak lagi berkunjung ke Lotte Mart di pertigaan jalan RS Fatmawati dan jalan Cipete Raya. Ada rasa sedih, tidak lagi bisa menjumpai pedagang kue semprong yang belakangan juga menjual rempeyek kacang dan rempeyek teri. Bukan karena senang melihat "kemiskinan dan kesusahan"nya dalam upaya mencari sesuap nasi .... tapi jujur harus diakui, ada rasa senang melihat wajah sumringahnya manakala melihat kami berkunjung ke pasar swalayan tersebut. Sepertinya, tergambar seraut asa di wajahnya. 

Sekarang, untuk sengaja berkunjung kesana, memang agak berat dan membuat malas. Selain lokasinya yang cukup jauh dari rumah (15km), proyek pembangunan MRT yang sedang dikerjakan di sepanjang jalan RS Fatmawati, membuat jalan tersebut sangat tidak nyaman dilalui. Selain sempit dan sangat macet, permukaan jalannya juga sangat tidak nyaman dilalui

Selama beberapa bulan ini, sambil pulang dari kantor, saya terkadang menyempatkan diri mampir di Total Buah Segar - jalan Ampera Raya untuk membeli buah-buahan dan ovomaltine yang disukai anak. Agak kaget juga melihat di depan pintu masuk, ada pedagang pikulan yang menjual kue semprong dan rempeyek. Sebagaimana rekannya yang saya temui di Lotte Mart ex d'best... dagangannya masih terlihat utuh menumpuk. Bagaimana tidak, di dalam Total Buah Segar, ada juga dijual rolls - kue semprong modern dan rempeyek kacang dan teri yang jauh lebih menggiurkan baik ditinjau dari rasa, kualitas dan kemasannya, walau tentu saja ada "harga" yang harus dibayar lebih. 


begini tampilan pikulannya
Wajah "kumuh" si pedagang tentu mengurangi nilai jual barang dagangannya. Ingin rasanya memberi tahu bahwa, dia salah memilih tempat berdagang. Seharusnya, mungkin lebih cocok berkeliling atau berdagang di halte atau terminal. Pengunjung Total, umumnya masyarakat dari golongan menengah ke atas yang biasanya mulai menilai segala sesuatunya dari tampilan dan rasa yang tercakup dalam kualitas. Tapi .... mana tega saya menyampaikannya? Bukannya membantu, malah "melarang"nya berjualan di tempat itu ... Wong yang punya toko nggak melarang, kok .....

"Tinggal dimana pak...", tanya saya sambil menimang bungkusan untuk membeli kue semprong dan rempeyeknya. Siapa yang mau memakannya di rumah, itu nomor dua. Selain ngeri dengan "gosip" penggunaan kantong plastik untuk membuat renyah gorengan, kami memang sudah mengurangi memakan makanan gorengan. Yang penting ... beli dulu dagangannya ... Biar si pedagang memiliki harapan, hehe ...
"Di Cikarang bu ...", jawabnya
"Hah .....? Jauh banget ... Naik apa kesini...?"
"Iya bu ... apa boleh buat, nanti pulang naik angkot.."

Waduh ...... entah jam berapa dia akan tiba di rumah nanti. Entah kapan juga dia akan meninggalkan lokasi tempatnya berdagang. Saat saya meninggalkan lokasi, jarum jam baru menunjukkan angka 19.30. Dagangannya masih banyak. Terbayang betapa jauh dan macetnya jalan menuju Cikarang ... Naik angkutan umum pula... Mungkin masih butuh waktu sekitar 3 jam untuk tiba di rumah......



Senin, 05 April 2010

balada malam hari

Malam minggu di awal April, kebetulan long week end untuk merayakan Paskah. Jum'at pagi jam 08.00, tanpa terduga, bel rumah berdenting. Keponakanku seperti biasa datang. Hal ini sudah menjadi rutinitas kegiatan liburannya bila kami tidak berkunjung ke Bandung, tempatnya tinggal. Tidak heran ... saudara-saudaranya selalu berkomentar "anak kost" pulang kampung ... Padahal, dia tinggal dengan orangtuanya di Bandung.

Seperti biasa juga dia akan meminta kami mengajaknya jalan-jalan, walau tanpa tujuan. Jum'at malam, kami berempat menghabiskan waktu di Grand Indonesia. Ini kali pertama kali berkunjung ke Mall yang berlokasi di bunderan Hotel Indonesia. Mall besar super mewah yang lebih banyak dikunjungi golongan atas.

Tentu bukan karena kami termasuk golongan atas, sehingga Mall tersebut menjadi tujuan tempat makan malam, tapi karena tempat itu memang belum pernah didatangi dan pilihan tempat lainnya ditolak anak dan keponakanku. Mereka memang sudah lama ingin berkunjung ke Grand Indonesia.

Maka.... makanlah keluarga kecil dengan dua anak ini, di... entah lantai berapa. Tapi food areanya memang sangat nyaman dengan suasana pedestrian. Pilihannya nggak jauh-jauh dari mie/pasta dan kali ini pasta/mie campuran a la Jepun & Italiano. Nama restonya beraroma Jepun, namun sajian makanannya lebih mengarah ke selera Italiano. Jangan tanya berapa biayanya... tapi pasti lebih murah dari hidangan makan malam saat pernikahan Ardie Bakrie dan Nia Ramadhani yang digelar di Hotel Mulia - Jakarta. Usai makan, kami masih sempai masuk toko buku Gramedia baru pulang menjelang jam 22.00.

Bukan anak remaja tentunya kalau sudah puas dengan terpenuhinya hajat selera makan malam. Hari Sabtu, setelah sepanjang hari mereka menghabiskan waktu di rumah, sibuk dengan facebook dan twitternya, belum lagi turun isi makanan ke lambung... usai makan malam, mereka sudah ribut mengajak jalan keliling kota.

Setelah istirahat beberapa saat dan meminta mereka shalat Isya terlebih dahulu, maka pergilah kami berempat keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
"Sate Padang yang enak dimana ya?" tanya anak gadisku.
"Hmmm.... katanya sih, ada di Jalan Radio Dalam. Sate Mak Syukur. Konon sangat terkenal. Baru selesai makan malam kok sudah mau makan lagi?"
"Kan sudah disisakan ruang buat sate padang...!", begitu jawab mereka. Huh..... itu perut kok nggak meledak diisi terus ya? Ampun deh.... anak remaja jaman sekarang...!

"Ayolah....! Jadi kita belok ke Radio dalam?", tanyaku. Kebetulan posisi mobil masih di depan Blok M Plasa. Jadi masih bisa dibelokkan arah ke jalan Radio Dalam melalui jalan Kyai Maja.
"Nggak ah.... cari tempat yang lain...!"
Wah .... dimana ada penjual sate padang lagi?
"OK, kalau begitu kita jalan ke arah istana ... lalu masuk ke memutar arah ke patung pak tani. Nanti masuk ke jalan Kramat Raya. Nah di situ banyak warung masakan Padang a la Kapau. Semoga ada sate Padang. Kalau nggak ada, itu namanya bukan rejeki.

Maka ... ditemani dengan keributan-keributan kecil antara anak - keponakan dalam mencari pemancar radio, kami menyusuri jalan Sudirman -  MH Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - Juanda - Veteran - Merdeka Utara - Merdeka Timur - Patung pak tani - Kwitang..... Suami, entah karena menikmati perjalanan, atau malah agak mengantuk, mengendarai mobil perlahan sekali hingga akhirnya kami tiba di  jalan Kramat Raya.

Mobil dijalankan perlahan sambil melihat adakah penjual nasi Kapau yang juga menjual sate. oups...... untung ada satu warung ... dan ke sanalah kami turun dari kendaraan dan pergi memesan sate Padang dan juice alpukat.

Seperti biasa.... kalau sudah memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan, jangan berharap akan menemukan kebersihan dan kenyamanan. Pikirkan saja rasa makanannya. Dan yang satu ini, .... dijamin hampir selalu enak. Kenapa....?

Warung pinggir jalan dimasak oleh tangan-tangan trampil "asli dari sononye" kata orang Betawi. Takaran bumbu-bumbunya diracik sesuai petuah dan ajaran orang tua2. Kalau suatu masakan harus mempunyai rasa pedas .... maka begitulah dia dimasak dengan banyak bumbu dan cabai giling.

Ini tentu berbeda dengan masakan tradisional a la resto terkenal, dimana bumbunya sudah dimodifikasi sesuai dengan "target market" nya. Maka masakan Padang bisa saja hanya "berani" warnanya ... tapi rasanya sudah "manis", supaya masyarakat non Sumatera Barat bisa turut menikmatinya. Persis seperti masakan di rumah. Kalau adik ibuku berkunjung dan makan di rumah, wajahnya selalu memberengut dan langsung pergi ke dapur mencari cabe sambil menggerutu....
"Masakan padang gaya mana lagi nih? Manis semua...". Begitu selalu komentarnya. Memang, cabe yang digunakan untuk masakan Padang di rumah sudah banyak dikurangi, supaya suamiku yang bukan berasal dari Sumbar bisa ikut menikmatinya.

Berbeda dengan sate mak Syukur yang berwarna kuning kunyit dan pedas nylekit atau sate Sederhana Lintau di Cinere yang kuahnya juga berwarna kuning tapi ada cacahan kacang, sate padang a la Kapau ini kuahnya agak kemerahan dan so pasti ... pedas. Apa boleh buatlah ..... Sudah kadung pesan...!

Ada persamaan makan di warung dengan resto/cafe yang nyaman. Di kedua tempat, kita bersantap ditemani musik. Bedanya.... musik di cafe/resto bunyinya lembut dengan ketukan irama yang teratur .... Penyanyinya anggun dan wangi. Sementara di warung pemusik silih berganti bernyanyi, dengan suara serak-serak tak sampai lebih sering fals dengan irama asal jadi yang keluar juga dari alat musik asal comot. Lagupun terkadang hanya satu atau dua bait. Tergantung kebaikan hati tamu yang sedang bersantap. Kalau si tamu bermurah hati mengulurkan selembar kertas, maka lagu bisa berhenti seketika atau bersambung.

Soal apakah lagu berhenti seketika atau bersambung itupun tergantung baik dari si tamu atau penyanyi. Kalau penyanyi bersuara nyaring menyakitkan kuping apalagi nyanyiannya fals, maka si tamu cepat-cepat mengeluarkan uang agar penyanyi segera menyingkir. Dengan demikian, selera makan tak patah karenanya. Tetapi kalau suara penyanyinya bagus dan iramanyapun benar... bisa jadi, si penyanyi diminta menyanyikan lagu lainnya dengan bayaran tentunya bertambah. Cuma sayang .... belum pernah terlihat penyanyi yang cantik/ganteng, bersih dan wangi

Berapa sih mereka dibayar....? Jangan bandingkan dengan Siti Nurhaliza atau KD yang bintangnya mulai meredup. Tapi tentu jauh kalah dengan bayaran Aris ... Indonesian's idol yang keblinger usai dia memenangkan kontes penyanyi a ala Amrik itu.

Begitulah.... mungkin karena merasa suamiku memberi "di atas tarif normal" .... (tapi ngomong-ngomong berapa sih tarif normal untuk pengamen?), maka pengamen silih berganti mengunjungi warung tempat kami makan... Walhasil.... makan menjadi tidak nikmat lagi karena...... di samping para pengamen, muncullah bocah-bocah dekil berumur kita-kira antara 3 sampai 8 tahun mengerubungi meja makan kami meminta uang....

Astaghfirullah ...... Hilang sudah selera makan ... Bagaimana mungkin kami menikmati makan malam dengan nyaman di hadapan muka-muka dekil itu. Bukan hanya satu orang, tetapi lebih dari 5 orang sehingga pemilik warung yang merasa "tidak enak" terhadap tamunya, lalu mengusir mereka. Beruntung, sate di piring sudah tandas dan kami memang sudah bersiap untuk beranjak meninggalkan warung.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Anak-anak usia sekolah berumur 3 sampai 10 tahun seringkali masih berkeliaran di jalan raya hingga larut malam. Meminta-minta uang dari pengendara mobil/motor di perempatan jalan atau di warung-warung kaki lima.

Anak-anak itu seharusnya sudah menikmati makan malamnya dan sedang lelap bermimpi. Namun mereka masih saja berkeliaran di jalan. Entah mengapa orangtua mereka membiarkan anak-anak itu berada di jalanan terpapar oleh kekerasan kehidupan malam. Atau justru anak-anak itu menjadi "alat" bagi orangtuanya untuk memperoleh nafkah keluarga?

Kemiskinan dan ketidakmampuan orangtua memang membuat anak-anak tidak mendapatkan haknya secara memadai. Hak mendapat perlindungan, sandang-pangan, pendidikan dan lain-lain. Sekolah gratis masih menjadi sebatas wacana, karena konon walaupun uang sekolah SPP sudah dihapuskan, tetapi tetap ada pungutan-pungutan untuk kegiatan sekolah lainnya serta baju seragam.

Betapa ironisnya... kala penyiar cantik di tv memberitakan kasus-kasus korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh PNS - politisi - penguasa negara/daerah gede-termasuk juga para penegak hukum, hanya dalam radius 5km dari istana tempat presiden bermukim dan hanya sepelmparan batu dari komplek gedung megah Departemen Keuangan, belasan anak berumur 3 - 10 tahun mencari uang, menadahkan tangan-tangan lusuhnya pada pengunjung warung di sepanjang Kramat Raya.

Andai mereka suatu kali mau mengunjungi warung makan semacam ini secara incognito .... tanpa harus melakukan sterilisasi lokasi, tanpa pengawalan .... menjadi orang biasa ... Tentu para penguasa negeri serta para ahli yang jago analisa ekonomi tidak akan berani lagi menyatakan ...... Kemiskinan di Indonesia telah berkurang..... pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mencapai sekian persen, di atas rata-rata pertumbuhan di negara Asean ....

Senin, 01 Juni 2009

Kekerasan di Jalan Raya

Cukup lama blog ini tidak di update. Entah kenapa pikiran dan tangan sedang tidak bisa diajak kompak walau sebetulnya banyak topik yang ingin ditulis. Hari ini, atau tepatnya malam ini harus nulis supaya Multiply nya ada aktifitas. Kebetulan juga tadi pagi, saat berangkat ke kantor, ada peristiwa atau tepatnya pemandangan yang kurang menyenangkan.

Jalan Kyai Maja, tepatnya di depan kolam renang Bulungan, saat pagi atau sore, yaitu pada peak hours. Berbagai ragam merek mobil turut menambah kemacetan yang sudah dilakukan terutama oleh metro mini.

Pagi tadi, sambil menunggu kendaraan maju, pandangan mata terpaku pada sosok lelaki umur 20an kumal bertato yang sedang menggendong bocah umur sekitar 8 tahun. Sempat terbersit rasa kagum melihatnya. Semula saya pikir dia sedang menggendong adiknya dan ini merupakan pemandangan langka. Seorang lelaki muda, walaupun berwajak dingin dan bertato, mau bersusah payah menggendong adiknya.

Bocah kecil d5 gend6ngan itu asyik memain-mainkan koin 500 rupiah. Namun sayangnya, koin tersebut jatuh menggelinding ke bawah metromini. Si "kakak" begitu marahnya sehingga dengan kasar dia melepaskan bocah dari gendongan ke jalan disela-sela kendaraan yang berhenti di tengah kemacetan. Bocah itu ternyata hanya berkaki satu dan untung juga dia cukup waspada untuk tidak terlempar dari gedongan. Si "kakak" begitu marahnya. Mereka rupanya "pasangan pengemis" yang mengais belas kasihan terhadap bocah cacat itu.

Pintu metro mini selalu terbuka, dan dilemparkannya si bocah ke dalam metro mini yang kemudian dengan lincahnya si bocah mulai beroperasi. Sementara si "kakak" berusaha meraih koin yang terjatuh sebelumnya.
***

Pemanfaatan orang cacat atau bayi sakit-sakitan sebagai umpan belas kasihan masyarakat kerap terlihat di perempatan jalan atau di kendaraan umum. ini adalah cermin ketidakberdayaan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraaan rakyatnya.

Kemiskinan memang "memaksa" mereka untuk menghalalkan segala cara untuk meraih uang pembeli sebungkus nasi. Mungkin mereka berpikir bahwa mengemis masih lebih baik daripada mencuri atau merampok.

Dan di tengah himbauan untuk tidak memberi uang kepada anak jalanan agar mereka "kapok" dan kembali ke rumah, apa yang harus kita lakukan?

Jumat, 16 Januari 2009

Andai waktu bisa kembali

Selasa 13 Januari 2009, matahari pagi bersinar dalam kesejukan pagi setelah beberapa hari hujan menyirami Jakarta. Lalu lintas di sepanjang jalan raya Pasar Minggu,seperti biasa cukup padat terutama, kalau dari arah selatan, menjelang pertigaan Volvo. Seluruh kendaraan terpaksa berjalan lambat. Kalau meminjam istilah para broadcaster ... PAMER alias padat merayap.

Sebetulnya, jalur sepanjang jalan raya dari Depok ke Pancoran, selalu padat oleh para commuter yang tinggal di Depok dan sekitarnya, terutama pada saat menjelang jam masuk kantor dan usai jam kantor.

Dari arah selatan,kantor proyek yang saya tuju, letaknya di sebelah kanan jalan. Itu sebabnya, usai pertigaan Volvo, saya selalu mengambil jalur paling kanan dari 2 jalur kendaraan bermotor agar tidak mengganggu lalu lintas dari arah selatan saat harus melakukan U-turn di depan gedung Tranka.

Saya menjalankan kendaraan tanpa tergesa sambil lihat kiri kanan mengalihkan stress karena kemacetan . So... pasti! Gimana mau kencang kalau jalannya padat merayap. Hingga suatu saat, mata saya tertumbuk pada seorang lelaki sedang membongkar-bongkar tumpukan kantong plastik di belakang sebuah kendaraan, mungkin innova atau avanza, yang sedang dipanaskan.

Walaupun pakaiannya terlihat bersih, saya perkirakan, lelaki paruh baya yang memakai kemeja warna kuning gading itu adalah seorang pemulung yang sedang mencari kertas, karton/dus atau kantung-kantung plastik untuk di jual kembali sebagai bahan yang akan di daur ulang. Dalam hati, saya berpikir... aduh..., begitu beratnya rakyat mencari penghidupan. Sepagi itu sudah harus mengais-ngais tumpukan sampah demi sesuap nasi.

Lelaki itu asyik membongkar tumpukan dan merobek kantong kresek. Agak terperangah saya dengan perilakunya.... Biasanya pemulung berusaha keras agar dia memperoleh barang yang mulus. Bukan barang yang sudah koyak.

Satu demi satu kantung kresek dibongkar dan dikoyak seolah mencari barang berharga. Hingga akhirnya, yup..... dia menemukan sebuah bungkusan. Seperti bungkusan yang selalu saya lihat saat pesuruh kantor kembali dengan belanjaan pesanan makan siang rekan kantor. Bungkus kertas berwarna coklat berisi makanan. Tanpa ragu, dia merobek bungkusan yang saya perkirakan berisi sisa/sampah makanan. Tanpa ragu pula, kelima jarinya menari-nari, entah apa yang dicarinya dari bungkusan sisa makanan tersebut. Astaghfirullah ..... dimasukkannya makanan sisa tersebut dengan jari-jarinya yang pasti kotor ke dalam mulutnya. Dijilatinya juga kulit durian yang ditemukannya. Dinikmatinya tanpa ragu rasa durian yang sedap .......


Perutku terasa mual .... ludahku terasa asin, ingin muntah ... namun mata tak bisa dialihkan dari pemandangan pahit di tepi jalan itu. Hampir tertabrak mobil di depan, kaget memandang perbuatan lelaki itu. Tak kuasa lagi berpikir jernih melihat pemandangan yang menyakitkan di depan mata.

Tanpa sadar, saya melakukan u-turn dan masuk pekarangan proyek. Memparkir kendaraan dan tanpa menyahuti sapaan teman kantor, saya hanya bisa terduduk dan termangu di ruang kerja. Menyesali .... kenapa tak dihentikan saja mobil untuk memberikan sekedar uang pembeli nasi buat lelaki paruh baya yang kelaparan itu. Namun ... keadaan lapangan saat itu memang merepotkan. Saya berada di jalur paling kanan, dan sangat tidak mungkin untuk berhenti tanpa mengganggu lalu lintas.

Hari ini, saya kembali berkantor di proyek ..... dan seperti biasa dalam kepadatan kendaraan dari arah selatan menuju Pancoran. Mungkin terasa sangat "sadis" bila saya berharap bisa menemukan kembali lelaki paruh baya itu untuk sekedar menyapanya, mentraktirnya sebungkus nasi padang agar dia mendapat kesempatan makan makanan yang benar dan sehat. Bukan makanan sisa dan basi yang telah dibuang di tempat sampah.

Tapi, seperti biasa Allah SWT hanya akan sekali saja memberikan kesempatan pada kita untuk mendapat pahala. Dan kesemuanya selalu terjadi pada situasi yang sama sekali tidak terduga. Dan kesempatan yang tersaji di depan mata telah terlewatkan begitu saja.

Ah... andaikan waktu bisa kembali...... !!!!

Kamis, 29 Mei 2008

BLT harus jadi kewajiban pemerintah

Aku sedih membaca berita kenaikan BBM untuk keduakalinya selama masa pemerintahan SBY-JK. Kenaikan pertama tahun 2005 yang lalu masih berbekas dalam bentuk peristiwa bunuh diri karena tidak tahan menanggung derita, meninggal dunia karena tidak mampu berobat atau kelaparan di sana-sini. Sementara itu, pada periode yang sama pula, masyarakat disuguhkan dengan temuan-temuan “kongkalikong dan suap menyuap” antara perjabat penegak hukum dengan konglomerat “hitam”. Antara elite politik yang menyatakan diri sebagai wakil rakyat di satu pihak dengan para pembuat kebijakan publik. Tampaknya penderitaan rakyat, pembangunan negeri dan apapun yang menyangkut hajat hidup orang banyak telah menjadi komoditi untuk memperkaya diri.
Lebih sedih lagi membaca pro dan kontra mengenai pemberian BLT kepada masyarakat miskin. Kemudian, belakangan ini terdengar berita bahwa pemerintah berupaya “meredam” demontrasi mahasiswa dengan mengucurkan sebagian dana “subsidi BBM” dalam bentuk beasiswa kepada 400.000 mahasiswa. Makin terlihat betapa pemerintah sama sekali tidak mempunyai konsep dan acuan yang jelas untuk membangun Negara ini. Semua serba instant, unsustainable dan sektoral. Tidak pernah ada kebijakan yang menyeluruh dan terkonsep dengan baik. Yang paling menyedihkan ada banyak program Orba yang sebetulnya sangat baik untuk tetap dipertahankan, malah diterlantarkan.
Tapi, apakah masyarakat miskin tidak berhak mendapat santunan? Bukankah dalam agama (Islam), dinyatakan secara tegas bahwa kita wajib menyantuni kaum dhuafa. Pemerintah sebagai penguasa Negara adalah pemegang nomor satu dari kewajiban mensejahterakan rakyat, sebagaimana dicantumkan dalam UUD. Termasuk di dalamnya, menurut interpretasi saya, menyantuni kaum dhuafa.
Rakyat butuh makan dan untuk itu mereka harus bekerja. Semua setuju untuk konsep ini. Tetapi jangan lupa, ada segolongan masyarakat yang walaupun sudah membanting tulang dan memberdayakan seluruh kekuatannya, pekerjaannya tidak akan menghasilkan upah yang memadai untuk hidup secara layak. Adapula segolongan pekerjaan yang kalaupun si pekerja sudah melaksanakan lembur hampir tanpa henti, tetapi tetap saja upah yang diterima para pekerja tersebut tidak akan pernah memenuhi kebutuhan hidup layak.
Hal ini mungkin terjadi karena si pekerja memiliki banyak anak yang masih bersekolah, menanggung kehidupan anggota keluarganya yang lain misalnya orangtua yang jompo atau anggota keluarga yang cacat. Atau pekerjaan tersebut memang memiliki standar upah yang rendah.
Kita juga tidak bisa menafikan, kalau mau jujur bahwa standar upah minimal (UMR – UMP) yang ditetapkan pemerintah sama sekali belum mencerminkan standar untuk memenuhi kehidupan yang layak apalagi kehidupan layak di perkotaan. Standar yang sangat minimpun masih selalu diperdebatkan dan ditawar-tawar oleh kalangan pengusaha karena dianggap memberatkan. Padahal, bukankah pengusaha masih bisa mengurangi keuntungannya atau memangkas biaya siluman. Untuk itu, pantaslah pemerintah memberi bantuan agar golongan masyarakat marginal ini dapat hidup secara lebih layak.
Kalangan yang tidak setuju, berpendapat bahwa rakyat perlu kail, bukan ikan; bahwa BLT menjadikan rakyat Indonesia menjadi peminta-minta. Hey… come on …. Buat saya, ucapan itu sungguh menyakitkan hati. Itu sama saja menuduh rakyat Indonesia bermental peminta-minta.Kok tega ya…? Mungkin ada segelintir. Tapi jangan lupa… rakyat Indonesia sudah bekerja keras …
Coba tengok … para petani penggarap, para nelayan, para buruh pabrik dan bangunan, tukang sapu dan pemulung…. Mereka sudah membanting tulang. Tapi hasil yang diperoleh tidak mencukupi. Kenapa…? Karena tanah pertanian telah digusur oleh para pemilik modal untuk dijadikan perumahan atau pabrik-pabrik sementara si petani dibiarkan begitu saja tanpa adaptasi atau pelatihan agar mereka bisa bekerja di lingkungannya yang telah tergusur tersebut.
Nelayan tidak lagi mampu memperoleh ikan yang banyak karena kekayaan bahari Indonesia telah dijual melalui berbagai konsesi kepada investor/nelayan asing. Kekayaan hayati Indonesia yang seharusnya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat telah digadaikan dan hasil yang terbesar hanya diperuntukkan untuk menggelembungkan pundi-pundi segelintir oknum. Kesemuanya ini adalah ulah para pembuat kebijakan public yang semena-mena menjual dan menggadaikan kekayaan negeri ini.
Lalu kemana rakyat jelata itu harus mencari tambahan penghasilan demi mempertahankan kebutuhan hidup yang layak? Untuk memberi sesuap nasi kepada anak istri, memberi selembar kain penutup aurat, memberi selarik naungan bagi keluarga dari terpaan hujan, angin dan teriknya matahari? Inilah bentuk kemiskinan struktural yang diciptakan pemerintah demi sebuah kredo bernama pembangunan.
Pembangunan hanya bermanfaat bagi sebagian masyarakat kelas menengah tapi semakin memiskinkan kalangan marginal. Dari pemilik tanah/sawah menjadi penggarap, dari nelayan mandiri menjadi nelayan buruh. Bukan sekedar para orangtua yang bekerja keras, tetapi jangan lupakan anak-anak jermal di Bagan siapi-api. Masih juga mereka dikatakan pemalas yang bermental peminta-minta?
Bantuan Langsung Tunai harus jadi kewajiban pemerintah
Konsep BLT mulai dikenal masyarakat usai terjadinya reformasi. Entah apa konsep, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai pemerintah dengan digulirkan program Jaring Pengaman Sosial yang saat itu (kalau tidak salah) di bawah kendali bapak Adi Sasono,  Menteri Koperasi dan UKM. Yang jelas, program itu tidak terdengar kabar berita dan apa hasilnya.
Kali ke dua, pemerintah menggantinya dengan istilah Bantuan Langsung Tunai – BLT, saat pemerintah memutuskan untuk mlakukan kenaikan harga BBM yang luar biasa besarnya dengan dalih pencabutan subsidi pada tahun 2005. BLT I, kalau tidak salah hanya berlaku selama + 1 tahun dimana rata-rata keluarga memperoleh Rp.100 ribu per bulan dan dibayarkan sekaligus 3 bulan.
Entah jatuh darimana angka keramat 100 ribu rupiah per keluarga yang diadopsi oleh pemerintah. Yang pasti demi 100 ribu telah terjadi banyak ekses. Dari mulai pungutan oknum pejabat rt/rw/kelurahan, perseteruan antar tetangga karena irihati tidak memperoleh BLT hingga pingsan atau bahkan hingga meninggal dunia saat terjadi dorong-mendorong dalam antrian memperoleh 100 ribu/bulan. Sungguh, sebuah perjuangan, konsekuensi dan dampak sosial, ekonomi dan keamanannya tidak sebanding dengan nilai BLT yang dikucurkan pemerintah.
Di banyak Negara terutama di Negara maju semisal Perancis, bantuan tunai untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat bukan suatu hal yang aneh. Bahkan sudah dimulai sejak 60 tahun yang lalu dan bentuk Jaringan Pengaman Sosial[i] yang paripurna, terstruktur dan sangat multidimensi. Kesemuanya ini antara lain dijalankan oleh Caisse Primaire d’Allocation Familialle[ii] - CAF.
Bantuan pemerintah Perancis melalui CAF dalam system Securite Sociale bagi masyarakat yang berpenghasilan di bawah SMIC[iii] sangat menyeluruh, mulai dari bantuan biaya sewa rumah (allocation de logement), bantuan biaya rumah tangga untuk keluarga yang beranak banyak (allocation familliale) hingga tunjangan berlibur bagi anak-anak ke colonie de vacances.
Bahkan ada bantuan untuk membayar biaya asuransi kesehatan, bantuan biaya melahirkan dan banyak sekali benefit yang dapat diperoleh rakyat termasuk tunjangan bagi penganggur (chomage). Toh kesemua bantuan tersebut tidak menjadikan masyarakat Perancis menjadi peminta-minta.
Walaupun bagaimana, mereka tahu bahwa menjadi penerima tunjangan tersebut hanya memberikan cap bahwa mereka adalah termasuk golongan masyarakat “miskin”. Saya yakin, pada dasarnya, tidak ada satu orangpun yang mau mendapat cap sebagai orang miskin yang terpinggirkan termasuk rakyat Indonesia.
Memang berlebihan kalau kita membandingkan kondisi ekonomi Indonesia dengan Perancis. Tetapi, setidaknya memberikan gambaran bahwa BLT atau apapun namanya merupakan kewajiban pemerintah untuk membantu rakyat yang memang dalam taraf hidup di bawah kelayakan, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Yang lebih layak dicermati adalah, kriteria penerima dan prinsip keadilan dalam pembagian BLT. Kesemuanya tidak bisa disamaratakan. Begitu pula dengan cara pembayarannya agar tidak menimbulkan berbagai kerawanan sosial. Beban keluarga miskin yang beranak banyak tidak bisa disamakan dengan keluarga miskin yang tidak beranak. Biaya hidup manula jompo yang miskin tidak bisa disamakan dengan keluarga miskin yang beranak banyak. Lalu bagimana kesinambungan dari program ini dan upaya pemerintah untuk “mengeluarkan” rakyat dari jerat kemiskinan.
BLT harus menjadi salah satu kewajiban  pemerintah dan untuk sementara terutama diperuntukkan bagi golongan manula dan orang cacat, selama pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup. Dan bantuan ini tidak harus dikaitkan dengan penghapusan subsidi BBM, tetapi harus menjadi program tetap yang masuk ke dalam APBN.
Jadi jalan menuju keadilan dan kemakmuran memang masih panjang. 



[i] Securite Sociale
[iii] UMR nya Perancis
Diambil dari situs Caisse Primaire d’Allocation Familialle
Portrait de notre institution
Les Allocations familiales forment la "branche Famille" de la Sécurité sociale, à travers le réseau formé par la caisse nationale des Allocations familiales (Cnaf) et l'ensemble des caisses d'Allocations familiales (Caf).
En 2005, le total des prestations financées par les Allocations familiales, ou versées pour le compte de l'Etat ou des Conseils généraux, s'élève à 62 milliards d'euros pour :
1.     accompagner les familles dans leur vie quotidienne,
2.     accueillir le jeune enfant,
3.     faciliter l'accès au logement,
4.     lutter contre la précarité ou le handicap.
Quelques indicateurs de qualité de service:
-       90 % d'appels téléphoniques traités en 2005,
-       94 % des allocataires satisfaits (enquête TNS SOFRES 2004),
-       97 % des courriers traités dans un délai inférieur à 21 jours,
-       97 % des allocataires reçus dans un délai inférieur à 30 minutes.
Profil
Depuis soixante ans, notre Institution accompagne les familles pour les aider dans leur vie quotidienne : éducation, garde des enfants, logement, loisirs. Acteur majeur de la solidarité nationale, l'un des pivots du "modèle social" français, elle est constituée d'un réseau d'hommes et de femmes présents sur tout le territoire. Résolument engagés sur la voie du progrès, ils ne cessent d'améliorer la qualité de leurs services, reconnue dans toutes les enquêtes réalisées par des organismes indépendants.
Aujourd'hui, les Allocations familiales travaillent à concevoir les politiques familiales de demain.

Senin, 03 Maret 2008

Basse dan Umar ibn Khattab

Dari banyak kisah tentang para sahabat rasul, kisah keteguhan Umar ibn Khattab dalam memegang amanah yang dipercayakan kepadanya, sering disitir para khatib.
Konon, selama masa pemerintahan Umar ibn Khattab, beliau seringkali menyelinap keluar rumah untuk keliling kota. Mendengarkan secara langsung suara hati rakyat, apakah mereka memang sudah terpenuhi kebutuhannya. Beliau sangat takut akan murka Allah SWT, seandainya amanah yang dipercayakan kepadanya ternyata membawa kesengsaraan bagi rakyat.

Di suatu rumah, Umar tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sayup-sayup terdengar suara seorang ibu sedang membujuk anak-anaknya yang menangis kelaparan. Umar mendekat dan mengintip apa yang sedang terjadi :
"Tunggulah nak, ... ibu sedang menanak beras dan membuatkan sup untuk kalian", begitu bujuknya seraya berlinangan airmata. Di hadapannya ada sepanci air sedang dijerang yang diisinya dengan beberapa butir batu. Sang ibu sedang memberikan kesan memasak, sambil berharap anak-anaknya lelah menangis lalu segera tertidur.

Demi melihat pemandangan itu, terkejutlah Umar, lalu bergegas kembali ke rumahnya, segera dibukanya baitul maal. Diambilnya sekarung beras dan dipanggulnya karung itu. Pengawal yang ingin membantunya, ditolak :
"Biarkan kupanggul karung beras ini. Ini masih lebih baik daripada murka Allah SWT yang harus kutanggung karena melalaikan kepentingan rakyat yang menjadi tanggung jawabku". Begitulah... Umar ibn Khattab kembali kerumah keluarga miskin itu, lalu memberikan sekarung beras kepada ibu tersebut, tanpa membuka identitas dirinya.
*****

Itulah salah satu kisah keteladanan sang khalifah dalam mengemban amanah.
Ratusan tahun kemudian .... di suatu negara yang tanahnya sangat subur. Tempat dimana orang-orang Arab mengidentifikasikannya sebagai surga dunia. Dimana air mengalir jernih, hutan tropis dan berbagai sumber daya mineral berlimpah ruah. Di sebuah kota, tempat kelahiran dan asal wakil presiden. Salah satu dari petinggi negara yang menerima amanah untuk mensejahterakan rakyat telah terjadi suatu tragedi.

Seorang ibu hamil 7 bulan dan seorang anaknya terpaksa meregang nyawa. Satu anaknya yang lain sempat terselamatkan. Media massa ramai memberitakan tragedi tersebut. Walikota, penguasa daerah mungkin merasa dipermalukan oleh tragedi tersebut. Segera digelar press conference untuk mengklarifikasikan tragedi tersebut.

"Kematian Basse dan anaknya serta musibah yang diderita anaknya yang lain disebabkan oleh Muntaber. Bukan karena kelaparan.  Pemerintah Daerah telah mengambil langkah yang diperlukan dan akan menanggung seluruh biaya. Kejadian ini sudah dipolitisasi." Begitu inti pernyataan pemerintah daerah.

Seakan tidak ingin disalahkan, jajaran pemerintah daerah balik mempermasalahkan keluarga tersebut. Basri, sang kepala keluarga yang berprofesi sebagai penarik beca dianggap tidak "tertib" lapor diri sehingga tidak dapat terdeteksi keberadaannya. Akibatnya yang bersangkutan tidak dapat memperoleh bantuan tunai langsung yang dibagikan oleh pemerintah.

Aduhai... sudah sengsara, dipersalahkan pula. Tidak adakah sedikit kerendahan hati dari para penguasa itu untuk menyatakan "Kami lalai memperhatikan kasus ini, Mohon maaf dan semuanya akan ditanggung pemerintah. Kami akan melakukan perbaikan dan tindakan-tindakan yang layak agar kasus yang memalukan ini tidak terulang lagi".
Jangankan meniru apa yang dilakukan Umar ibn Khattab. Sekedar menyampaikan permintaan maaf kepada para korban saja, para penguasa di Indonesia tidak sudi melakukannya.

Malangnya nasib rakyat Indonesia...

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...