Tampilkan postingan dengan label serbaserbifaitdiver. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serbaserbifaitdiver. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2008

Believe it or not - but its true


batuan yg konon keluar dr ginjalku
Dalam kondisi obat-obatan mahal dan kecurigaan kepada dokter di kota-kota besar yang cenderung memborbardir pasien dengan tata cara pengobatan yang berlebihan, banyak orang akhirnya beralih kepada pengobatan alternatif baik berupa pengobatan herbal maupun supranatural.

Pertemuan atau lebih tepat disebutkan “terjerumusnya” saya pada pengobatan supranatural bukan hal yang baru. Ini cerita lama yang bermula saat saya menderita “ketidakseimbangan” hormon yang mengakibatkan terjadinya perdarahan yang tidak berkeputusan. 

Itu terjadi pada tahun 1987 hingga tahun 1994, terutama pada separuh waktu terakhir. Setelah sembuh, saya tidak lagi berhubungan dengan cara-cara pengobatan seperti itu, tapi lebih kepada self healing. Sedangkan “percumbuan” kembali dengan dunia supranatural secara tidak sengaja terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Kenapa saya menggunakan istilah percumbuan, tentu berkaitan dengan cara penyembuhan supranatural tersebut.

Sekitar dua bulan yang lalu, seorang rekan kantor yang sedang sibuk membantu mengurus pernikahan temannya bigboss bercerita bahwa seorang artis yang terlibat dalam kepanitiaan tersebut menginformasikan tentang seorang lelaki asal daerah timur Indonesia memiliki kemampuan supranatural untuk penyembuhan berbagai penyakit.Beberapa aktor/aktris terkenal diketahui menjadi pasiennya. Sang informan juga menceritakan cara pengobatan yang dilakukannya, sampai kami yang mendengarkan cerita tersebut akhirnya tertawa ngakak ….. tidak terbayangkan bagaimana saat sang ‘dukun” mengobati  pasien penderita kanker payudara. Kami, saya dan teman yang bercerita tersebut, saling berjanji untuk suatu saat “mencoba” pengobatan tersebut. Sekedar ingin tahu.

Rencana tersebut belum sempat terlaksana hingga suatu saat, teman saya itu cerita bahwa suaminya yang sedang bertugas di Banda Aceh terpaksa pulang ke Jakarta karena menderita. Kencingnya berdarah dan telah terindikasi terdapat batu yang menyumbat saluran kencing, sesuai dengan hasil ultrasonography alias USG. Dokter sudah “memerintahkan” untuk dilakukan operasi pembuangan batu ginjal. Sementara itu sang suami termasuk golongan yang takut menghadapi pisau operasi sehingga dalam kesakitan, dia berusaha “bernegosiasi” dengan istrinya untuk menunda-nunda pelaksanaan operasi. 

Pada kesempatan itulah, sang istri alias temanku menganjurkannya untuk mencoba pengobatan supranatural tersebut. Lagi-lagi sang suami yang sangat “rasional” menolak sambil “melecehkan” …..
“wah…… mau disembur apa lagi? Ntar jangan-jangan dia main sulap, segala macam batu dibikin keluar dari badanku…. Batu berlian boleh dong, dikeluarin …..!!!”, begitu katanya.

Namun demikian, karena tidak tahan dengan rasa sakit saat buang air kecil serta darah yang menyertainya, dia terpaksa mengikuti saran istrinya untuk melakukan pengobatan supranatural. Saya tidak sempat bertanya detail apa yang terjadi selama pengobatan tersebut dan bagaimana kelanjutannya. Pendek kata, si suami kembali ke Banda Aceh dengan gagah berani, walaupun belum melakukan pengecekan ulang pasca pengobatan supranatural tersebut dengan pemeriksaan USG, untuk meyakinkan diri bahwa batu-batu saluran ureternya telah lenyap.

Akhir bulan yang lalu, usai makan siang di warung Padang di kawasan pasar minggu, saya merasa sakit yang amat sangat di pinggang kanan. Seperti cedera otot berat namun kali ini disertai sakit kepala dan demam. Suhu badan terasa sedikit meningkat. Sore itu saya mencoba mengintrospeksi diri. Apa kegiatan dan makanan yang masuk ke dalam perut seharian itu. Hanya separuh porsi nasi ditambah ayam pop lengkap dengan daun singkong+sambal. Rasanya makanan itu tidak berpotensi menyebabkan sakit pinggang. Kombinasi sakit pinggang, sakit kepala dan demam menyebabkan saya menaruh curiga bahwa ginjal saya bermasalah.

Saya tidak terkejut karenanya. Kondisi ini sudah diramalkan 28 tahun yang lalu oleh dokter di Poitiers-France. Saat itu, pulang dari Paris, bangun tidur di pagi hari saya mengalami sulit kencing sepanjang hari dan malamnya, kontan keluar darah walaupun hanya beberapa tetes. Dokter sudah memberitahu bahwa radang kandung kemih yang saya alami saat itu merupakan pertanda bahwa saya memiliki kecenderungan untuk suatu saat “mendulang” batu ginjal.  

Hari kamis 24 April 2008
Saya memaksakan diri masuk kantor karena ada jadwal rapat rutin, tapi demam dan sakit kepala menyebabkan saya pulang lebih cepat. Di rumah, saya mengirim sms ke adik menceritakan “penderitaan” saya. Semula adik saya hanya menduga cedera otot. Saya ngotot, kalau hanya cedera otot, maka saya tidak akan mengalami sakit kepala dan demam. Akhirnya, adik saya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan urine di laboratorium serta USG ginjal untuk mencari penyebabnya.

Jum’at 25 April 2008
Saya tidak masuk kantor. Semalaman saya tidak bisa tidur karena demam dan sakit kepala. Sekitar jam 10 pagi, saya memaksakan diri pergi ke Prodia di Bona Indah dan langsung tidur sesudahnya. Usai shalat ashar, saya meminta adik mengambil hasil lab dan langsung mengirimkan hasil pemeriksaan urine melalui sms.

Sambil menunggu hasil lab, saya browsing kesana kemari mencari informasi mengenai batu ginjal. Batu ginjal sebetulnya bukan penyakit. Semua orang bisa mengalaminya apabila dia seringkali menahan kencing sehingga terjadi kristaslisasi dari unsure mineral yang terkandung dalam air kemih. Mineral itu bisa disebabkan oleh kandunga purin (berasal dari jeroan), asam urat dan berbagai macam sumber yang berasal dari apa yang dimakan. Kecenderungan pembentukan batu ginjal akan bertambah apabila dalam keluarga ada yang pernah mengalami batu ginjal atau kita sering mengalami peradangan kandung kemih yang biasa disebut anyang-anyangan atau jeungjeuriheun kata orang sunda.

Batu ginjal bukan penyakit, tetapi apabila dia menyumbat dan melukai saluran kencing–ureter, maka luka tersebut akan mengundang datangnya bakteri dan bakteri akan naik ke ginjal melalui air kemih yang tersumbat. Bakteri itulah yang akan merusak kinerja ginjal yang lama kelamaan bisa mengakibatkan gagal ginjal. Warna batu ginjal bermacam-macam tergantung dari materi pembentuknya.

Tidak ada pengobatan untuk mencegah pembentukan batu ginjal kecuali kita memperbanyak minum air bening, tidak menahan kencing serta tidak menyantap makanan pembentuk batu ginjal, yaitu makanan pembentuk asam urat, purin dll.

Membaca sms yang berisi laporan hasil lab, adik perempuan saya menyatakan bahwa ada kemungkinan peradangan di ginjal karena kadar leukosit saya tinggi dan urine mengandung darah. Dia juga menganjurkan segera dilakukan USG untuk menentukan tindaklanjutnya. Saya mencoba mencari pelayanan USG, namun kesemuanya baru bisa dilakukan pada hari sabtu.

Sore itu, usai menelpon prodia Gunawarman–Kebayoran Baru, saya teringat teman saya dan pengobatan yang dijalani suaminya. Segera saya bujuk anak gadis saya untuk menemani. Suami saat itu belum pulang dari kampus. Hari Jum’at, dia biasanya bersepeda di kampus.

Jum’at sore itu, saya meluncur ke daerah Cipete. Untunglah, walaupun pinggang sakit ditambah dengan sakit kepala dan demam, saya masih sanggup setir mobil pulang pergi.

Tempat praktek itu cukup ramai, sempat kecut juga membayangkan waktu yang harus di”buang” untuk menunggu praktek supranatural tersebut. Apalagi, saya mendapat nomor 14, dan terlihat masih ada sekitar 8 orang di teras tempat para “pasien” menunggu.

Giliran saya tiba…. Pinggang saya ditekan-tekan dan….. slurp …..
“Hm …. Banyak pasirnya…. Ayo balik badannya”, katanya sambil membuang ludah ke atas tumpukan kertas. Air ludah itu berwarna keruh seperti teh.
Saya membalikkan badan dan ….. slurp …..
“Nah…. Ada satu nih…..!”, begitu katanya. Saya melihat ke arah tumpukan kertas yang berada di atas meja. Konon katanya batu tersebut diambilnya dari dalam ginjal saya.
“Boleh saya ambil pak?” Niat saya, ingin “menguji” apakah batu itu betul batu ginjal atau batu jejadian.
“Ya…. Bawa saja..! Jangan lupa…. Besok datang lagi, saya rasa 3 – 4 kali bisa tuntas. Jangan lupa oleskan minyak, silakan beli di luar (maksudnya di ruang tunggu)”, begitu katanya.

Tidak sampai 5 menit, pengobatan selesai. Sayapun segera pulang, setelah sebelumnya membeli sebotol ukuran 50ml ramuan minyak khas. Konon ramuan tersebut khusus dibuat di Palu, kampung halaman si bapak. Di rumah, saya segera mandi dan mengoleskan minyak tersebut dipinggang. Malam itu saya tidur dengan lebih nyenyak. Demam menghilang seketika.

Sabtu 26 April 2008.
Pagi saya kembali ke cipete. Pagi hari itu dikeluarkan 2 butir batu dengan ukuran yang lebih kecil sementara sore hari diambil 1 butir batu yang paling besar di antara ke 4 batu yang berhasil dikeluarkan.

Senin 28 April 2008,
Saya masih harus kembali lagi, karena konon katanya ginjal saya belum bersih. Masih berpasir katanya. Memang dalam laporan hasil pemeriksaan laboratorium Prodia, tertulis bahwa ada sediment halus dan kasar dalam urine. Itu adalah kondisi ginjal kanan. Sedangkan ginjal kiri, konon terdapat pengapuran yang harus dibersihkan.

Hari ini, Rabu 7 Mei 2008
Saya datang kembali ke Cipete.
“Hm …. Sudah bersih”, begitu katanya setelah melihat air yang dibuang ke atas kertas. Warnanya memang sudah lebih bening, tidak kerus seperti teh lagi.
“Kontrol lagi ya …..!”
“Kapan….?”
“Satu bulan lagi deh”
“OK ……, Terimakasih dan selamat siang pak”

Begitulah, saya menjalani pengobatan supranatural itu. Saya belum sempat meminta adik untuk mengecek apakah batu tersebut betul-betul batu ginjal. Namun teman saya mengkonfirmasikan bahwa batu yang “diambil” dari ureter suaminya memang sama bentuk dan bangunnya dengan batu yang keluar bersamaan dengan kencing suaminya.

Suaminya memang sudah “memiliki” batu ginjal [i] selama bertahun-tahun dan secara rutin setiap dua tahun, dia mengalami penderitaan “kencing darah” karena saluran kemihnya tersumbat batu dan setelah meminum air cukup banyak, sambil menahan rasa sakit yang amat sangat, batu-batu dan pasir bisa keluar bersama air kencingnya. Konon sang suami yang berasal dari sumatera barat memang “tidak mampu” menahan godaan memakan makanan yang dipantang oleh orang yang tubuhnya memiliki kecenderungan membentuk batu ginjal.  




[i] Ini foto “batu ginjal”  yang konon diambil lagi ginjal tanpa operasi

Senin, 17 Maret 2008

Histeria Laskar Pelangi.

Taping acara ulangtahun ke 2 Kick Andy di grand studio Metrotv, baru saja usai. Hadirin mulai antri untuk keluar. Tepat di pintu keluar si Ikal, sosok sentral dalam tetralogi Laskar Pelangi tampak meladeni penggemarnya untuk berfoto bersama. Kulirik dua orang temanku … dalam sorot mata mereka, terbaca keinginan yang sama. Berfoto dengan sang idola.

“OK, yuk kita turun dan minta foto bersama” kataku, sambil meminggirkan kursi agar kami bisa turun lebih cepat. Ikal meladeni dengan cukup ramah. Tampaknya dia sudah cukup siap menjadi selebriti. Keluar dari studio, kami mencari tempat penukaran souvenir. Oh… rupanya di lobby, tepat di ujung elevator, sudah berdiri gadis-gadis yang siap memberikan satu buah goody bag.

 Ada buku Laskar Pelangi, kan?
“Ya…. Kok tahu?
“Feeling saya mengatakan begitu. Tadi siang saya diberitahu susunan acaranya. Karena episode Laskar Pelangi banyak penggemarnya, saya berpikir Andrea Hirata pasti diundang hadir dan saya pikir, mestinya Laskar Pelangi menjadi salah satu buku souvenir acara ini. ”
“Eh… iya, bu! Hard cover lagi…!. Sahut Ipet sambil meraba-raba dan melihat dalam gelap di mobil.
“Ah syukurlah…. Jadi nggak rugi kita bersusah payah hadir”
“Bisa titip untuk minta tandatangan Andrea, nggak ya?”
“Nggak tahu. Semoga sudah ada tandatangannya.”

Foto bersama Andrea Hirata dan buku Laskar Pelangi yang sudah ditandatangani oleh Andrea Hirata, menjadi pemicu “kemarahan” teman-teman kantor yang tidak mendapat kesempatan hadir di acara ulang tahun Kick Andy. Kamis pagi, mungkin menjadi hari yang paling “sial” bagi Ipet. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, Ipet dengan “sengaja” memamerkan foto dan bukunya dan dia “menuai” hasilnya. Cubitan dan lemparan buku, penggaris dan alat-alat tulis lainnya harus dia terima. Rupanya, Laskar Pelangi dan Andrea Hirata menjadi idola baru Indonesia.

Bukan main, kedua teman yang histeris itu bukan lagi remaja atau lajang. Mereka berdua adalah ibu dari anak-anak usia sekolah dasar dan toh tidak menghalangi mereka untuk menjadi histeris karena cerita keberuntungan Ipet berfoto dengan Andrea.

Saya jadi ingat. Beberapa tahun lalu, saat film Ada Apa dengan Cinta yang menampilkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra, telah menjadikan Nicholas Saputra idola remaja. Namun dugaan bahwa histeria terhadap NS hanya terbatas di kalangan remaja, ternyata tidak benar. Dalam milis arsitektur, terungkap bahwa saat reuni departemen arsitektur dimana NS kuliah, banyak ibu-ibu (yang tidak muda lagi) berebut untuk berfoto dengan NS. Karena itu pula, walaupun bagi saya tetap tidak masuk akal, keponakan saya di Bandung sangat tergila-gila pada Gita Gutawa. Setiap saat, setiap waktu GG selalu menjadi topik omongannya.

Lebak bulus, 15 maret 2008 jam 20.10

Sabtu, 15 Maret 2008

US property ads on Kompas

Sesuatu yang betul-betul choquant[1] tertera di Kompas, Sabtu 15 Maret 2008 di halaman 10 rubrik Internasional. Sebuah iklan sebesar lebih dari ¼ halaman bertajuk “Premier Chicago – US Property Launch” bertengger anggun di bagian kanan bawah dalam bahasa Indonesia. Property itu akan dijajakan pada week end tanggal 15 dan 16 Maret 2008 ini di Grand Hyatt Jakarta.

Iklan itu menjajakan apartemen di sebuah bangunan yang merupakan bangunan tempat tinggal tertinggi di dunia dan menghadap danau Michigan dengan pilihan apartemen dan penthouse 1/2/3/4 kamar. Harganya dipatok mulai dari $750.000 atau setara dengan Rp.6.750.000.000,- dan harga ini pasti harga termurah untuk apartemen 1 kamar di lokasi yang terjelek. Kalau saja luas apartemen 1 kamar (bukan berbentuk studio) memiliki luas sekitar 50m2 itu berarti harga apartemennya sebesar Rp.135.000.000,- per m2 atau hampir sama dengan harga 1 unit apartemen sederhana(ssttt, disini harus disebut rusunami alias rumah susun sederhana milik) yang sedang hangat–hangatnya dipromosikan oleh kantor Menpera dengan program 1000 tower yang nasibnya lebih mungkin gagalnya daripada berhasil. Harga 1 unit rusunami ini dipatok sebesar 145 juta.

Praktisi periklanan dan pemasaran pasti tahu persis bahwa iklan dalam bentuk apapun harus dilakukan (kalau bisa) di tempat-tempat yang diperkirakan banyak pembeli yang potensial. Setelah masyarakat kota-kota besar di Indonesia dibanjiri dengan iklan property di Singapore, Australia dan Malaysia, kini giliran property di Amerika Serikat, sang superpower, mengiklankan diri di Indonesia. Dan itu berarti Indonesia dianggap pasar yang sangat potensial bagi property di Amerika.

Banggakah kita….? Seharusnya ya…. Karena itu berarti ada banyak rakyat Indonesia yang dianggap mampu oleh pengusaha yang berasal dari negara adidaya. Bayangkan saja, kalau harga property yang paling murah saja sebesar 6,75 milliar dibiayai oleh KPR dengan sukubunga (normal rate di Indonesia) sebesar 9,5% pa maka angsuran selama 20 tahun adalah sebesar Rp.62.918.855,- per bulan. Kalau angsuran KPR maksimal 30% gaji, maka minimal si pembeli harus memiliki gaji sebesar 200 juta per bulan. Ah, mestinya…. Kalau harga apartemen semahal itu, seharusnya dibeli dengan uang tunai. Bukan kelas KPR lagi.

Oh ya, di Indonesia, paling tidak di Jakarta, diam-diam cukup banyak apartemen dan rumah yang harga jualnya di atas 6,75 M. Jadi, ternyata cukup banyak rakyat Indonesia yang memang mampu membeli apartemen tersebut. Mungkin atas dasar itulah pengusaha property mancanegara tidak segan-segan berpromosi di Indonesia

Inilah ironi sebuah Negara bernama Indonesia. Dianggap pasar potensial bahkan bagi pengusaha property mancanegara, sementara itu nun di tanah dimana sang wapres berasal, terbetik kabar bahwa seorang ibu hamil 7 bulan dan anaknya meninggal dunia karena     kelaparan. Seorang ibu lain di Tangerang meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya sementara sang suami tidak mampu membawanya ke puskesmas dan satu keluarga lainnya mencoba bunuh diri karena tak tahan akan kemiskinan. Sementara itu diberbagai pelosok kota rakyat antri membeli beras, minyak dan berbagai kebutuhan sehari-hari yang harganya terus menerus meningkat.

Quo vadis Indonesia




[1] Membuat kita kaget

Jumat, 14 Maret 2008

Kick Andy’s effect.


Kick Andy's effect. Itulah tema acara ulang tahun ke 2 program Kick Andy. Dan pagi ini saya mendapatkan effect langsung yang tak terduga dari acara Kick Andy malam tadi.

Semalam, usai menghadiri acara ulangtahun ke 2 acara Kick Andy di studio Metrotv, saya baru tiba jam 23.30 di rumah. itu sebabnya pagi ini saya datang sedikit lebih siang. Tiba di kantor, entah kenapa saya merasa suasana terlihat kurang menyenangkan. Kudekati Ina, sekretaris bos….
“Hei… ada apa sih, pagi–pagi manyun gitu?”
“Mbak jahat deh….”
“Lho…., kok pagi-pagi aku dibilang jahat…? Ada apa…?”
“Tu … si Leny udah nangis pagi ini….”
“Lho… apa hubungannya sama aku….?”

Usai menyimpan tas dan notebook di ruanganku, aku balik lagi ke meja Ina.
Ada apa sih….?”
“Mbak itu curang! Udah nonton Kick Andy, dapat buku pake tandatangan, pake foto-foto…. dan lain-lain…., terus masih serakah lagi….”
“Serakah….?”
“Iya… apa bukan serakah namanya kalo mbak masih minta souvenir lagi…?”

Aku masih nggak ngerti apa yang terjadi. setelah didesak, Ina akhirnya cerita. Pagi ini Ipet si bungsu di kantor yang semalam ikut hadir di acara ulangtahun ke 2 Kick Andy Metrotv, seperti yang sudah kuduga, membuat kehebohan. Begitu datang, dia langsung menunjukkan foto yang semalam kuambil saat pulang…. Foto bersama idola orang sekantor….Foto bersama Andrea Hirata pengarang tetralogi laskar pelangi.

Dia juga bercerita pada teman sekantor bahwa souvenir yang diterima adalah buku Laskar Pelangi (hard cover) yang sudah ditandatangani Ikal alias Andrea Hirata. Kontan yang mendengar ceritanya menjadi histeris. Leny bahkan sampai menangis.

Dalam kekesalannya Leny menelpon si Eneng, menanyakan apakah dia bisa mendapatkan buku Laskar Pelangi yang sama. Sialnya, Eneng menimpali bahwa dia menerima sms saya pada jam 2 dinihari tadi, yang isinya meminta tambahan 3 paket souvenir. O’alah….., baru saya sadar kenapa mereka manyun dan sebab-sebab mereka menuduh saya serakah.

Kubuka hp dan kutunjukkan sms yang kukirim semalam, sekitar jam 01.30 sebelum tidur, karena takut terlupa. Disitu tertulis ;

“Neng …. Kalau masih ada dan diperkenankan …. Apakah saya bisa mendapatkan lagi 3 buah souvenir seperti semalam untuk Ina, Adhe dan Leny? Mohon kabar ya….”

13 Maret 2008 jam 21.30

Senin, 18 Februari 2008

Sudah merdekakah anda?

Ini sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala. Semula saya mengira bahwa menulis, menuangkan buah pikiran terutama yang berasal dari kejadian harian, akan memerdekakan diri dari jeratan keterkungkungan akal dan pikiran. Membebaskan hati dan pikiran dari aroma ketidakpuasan atas sesuatu yang mengganggu. Sampai disini, kemerdekaan sudah saya peroleh, karena apa-apa yang berkecamuk di kepala sudah tersalurkan. Persoalan nomor satu selesai. So what next ….?

Orang bijak mengatakan bahwa buah pikiran kita sebaiknya dibagikan kepada orang lain. Siapa tahu ada orang yang memiliki persoalan yang sama dan membutuhkan jalan keluar, memerlukan teman untuk berbagi. Agar pengalaman dan buah pikiran menjadi lebih kaya. Kaya masalah dan kaya solusinya. Namun kemudian timbul masalah kedua. Layakkah pengalaman dan buah pikiran itu dibagikan kepada khalayak ramai. Bukankah pengalaman yang ditulis akan mengaitkan pihak ke tiga, ke empat dan seterusnya sebagai bagian dari tulisan? Apakah mereka akan dengan senang hati merelakan penggalan hidupnya dipublikasikan menjadi bagian dari konsumsi publik? Lalu kemerdekaan pertama, yaitu menulis, kala berhasil memerdekakan diri dari pikiran yang mengganjal menjadi terbelenggu kembali.

Sang penulis kemudian “merasa diwajibkan” untuk meminta ijin kepada pihak-pihak terkait. Bahwa ada penggalan pengalaman hidup mereka saat berinteraksi dengan penulis yang akan dimasukkan ke wilayah publik. Reaksi tentu bermacam-macam. Ada yang memberi ijin dengan senang hati, tanpa harus menutup-nutupi. Sebagian lain memberi ijin dengan sedikit editing agar bagian yang merugikan citranya tidak terpublikasikan. Ada pula yang memberi ijin tetapi meminta agar nama dan tempat kejadian disamarkan atau dimodifikasi. Yang paling ekstrim tentunya menolak mentah-mentah seraya menumpahkan kekesalan karena merasa dipermalukan dengan adanya penulisan tersebut. Ternyata …. menulispun tidak serta merta memerdekakan akal dan pikiran manusia. Minimal tidak memerdekakan si penulisnya. Karena kalaupun tulisan itu merupakan tuliah ilmiah sekalipun, ada tata cara penulisan, tata cara memuat referensi dan terakhir editing naskah.

“Takutlah hanya kepada Allah SWT semata” begitu khotbah yang sering didengar. Dalam kehidupan bermasyarakat, ternyata manusia tidak sepenuhnya merdeka. Ada norma dan etika yang harus dipatuhi. Ada undang-undang dan beragam peraturan yang harus ditaati. Begitupun Allah SWT menurunkan wahyuNya sebagai pedoman bagi kehidupan bermasyarakat, di samping merupakan pedoman saat manusia berinteraksi dengan sang Pencipta.

Tetapi pada kenyataannya kita lebih patuh dan taat kepada norma, etika, undang-undang dan peraturan yang dibuat manusia. Lebih takut kepada sanksi masyarakat. Manusia seringkali takut menyuarakan kebenaran tatkala kebenaran itu berlawanan dengan lingkungan sekitar. Masih belum sepenuhnya merdeka dan mungkin sebenarnya manusia tidak akan pernah merdeka. Padahal  suara kebenaran yang harus disuarakannya itu sesuai garis perintah Tuhannya. Manusia ternyata dengan sangat mudah mengabaikan perintah Tuhan nya demi menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. Apakah karena Tuhan – Allah SWT tidak berwujud, maka kita cenderung mengabaikanNya? Wallahu alam.

Lebak Bulus - Minggu 10 februari 2008 jam 10.30

Kamis, 16 Agustus 2007

Juragan Jengkol vs miss Jengki.

Selama satu minggu ini, saya mendadak jadi juragan jengkol. Tahu, kan jengkol? Itu jenis buah berkulit tebal dan keras berwarna coklat kehitaman. Buah yang masih muda, oleh orang Sunda, seringkali dimakan sebagai salah satu bahan lalapan mentah. Orang Sumatera barat lebih suka makan jengkol balado atau dibuat gulai pedas yang bersantan pekat. Mereka menyebut jengkol sebagai “jariang




Entah bagaimana rasanya makan nasi berlauk jengkol. Konon, bagi yang suka jengkol, nikmatnya …. Bukan main!!!. Ibaratnya, mertua lewatpun lupa ditegur, saking asyiknya makan jengkol. Yang pasti … pemakan buah yang mengandung kadar asam oksalat tinggi ini, saat buang air kecil akan berbau tidak enak. Konon pula bagi yang tidak tahan atau terlalu banyak makan jengkol bisa terkena radang kandung kemih karena kristal asam oksalat akan menyumbat saluran air kemih.
*****

Awalnya, saya tidak sadar bahwa di balik tembok samping yang membatasi pekarangan dengan tanah kosong di sebelah, berdampingan dengan pohon petai di halaman samping, ada pohon jengkol. Selama lebih dari 15 tahun tinggal di lebak bulus, kami semua hanya tahu bahwa di halaman samping rumah ada pohon petai yang enak sekali. Buahnya bulat, padat dan sama sekali tidak pernah berulat. Petai ini menjadi idaman bagi kerabat dan teman-teman yang mengetahuinya. Setiap tahun menjelang akhir bulan Oktober, mereka sudah sibuk mengingatkan untuk minta disisihkan beberapa papan petai, kalau kami memanennya.

Tahun lalu, saat saya sedang menghitung-hitung petai yang sudah layak diturunkan, terlihat banyak “untaian” buah berwarna coklat kehitaman dengan bentuk melingkar-lingkar disela-sela daun petai. Buahnya terlihat ranum dan padat. Belum pernah saya melihat untaian buah seperti itu. Bolak-balik, saya amati buah yang berada pada dahan-dahan yang cukup tinggi. Sampai saat mata saya focus pada satu “mata” buah tersebut, sadarlah bahwa buah yang menarik perhatian saya itu adalah untaian jengkol. Untaian utuh jengkol yang masih berada pada dahannya. Baru sekali itu saya melihat jengkol utuh pada dahannya. Karena saya bukan penggemar jengkol, jadi buah itupun utuh tak terganggu.

Di keluarga kami, selain almarhum bapak, hanya adik lelaki terkecil dan ibu saya yang suka gulai atau balado jengkol. Yang lain tak ada yang suka. Baunya itu lho. Selagi mentah, baunya langu sekali … Kalau sudah matang dimasak …, sama saja. Karena itu, sama sekali tidak timbul keinginan untuk mencicipinya. Jadi sejak bapak saya meninggal dunia dan adik-adik menikah semua, jengkol tidak lagi terhidang di meja makan, kecuali kalau ada kerabat ibu  saya dari kampong menginap di rumah.
*****

Sabtu di minggu pertama bulan Agustus adalah semester break di CCF. Jadi saya punya cukup waktu di pagi hari untuk keliling halaman rumah. Melihat-lihat tanaman dan bebungaan yang tumbuh. Mengecek apakah stek adenium sudah tumbuh tunasnya, hingga sampailah saya di bawah pohon petai yang tumbuh berdampingan dengan pohon jengkol.

Wah… ada jengkol. Banyak sekali…………..  Entah kenapa terbersit tiba-tiba untuk memanggil Yana (Mulyana) si tukang kebun. Memintanya menurunkan jengkol yang terlihat sudah cukup tua. Dalam sekejap, diambilnya bamboo dan diikatkan pisau di ujungnya untuk pengerat batang untaian jengkol. Hanya beberapa untai jengkol saja yang diturunkan, ternyata sudah memenuhi setengah kantung kresek ukuran besar. Tidak terpikir sama sekali untuk apa jengkol-jengkol tersebut. Saya hanya tertarik pada untaiannya yang unik melingkar-lingkat.

Malam hari, tiba-tiba muncul ide … Kenapa tidak ditawarkan saja pada teman kantor? Siapa tahu ada yang suka makan jengkol. Walau dalam hati, agak ragu juga… heree geenee doyan jengkol…???? Nggak salah tuh…??? Ini jamannya keju…!!!

Walau begitu, saya tetap mengirim sms ke beberapa teman … Ada sambutan atau tidak, hari Senin, saya mau bawa jengkol-jengkol ini ke kantor. Syukur kalau ada yang mau. Kalau nggak, berikan ke Uzair saja. Biar istrinya jualan jengkol di warungnya. Nggak perlu bagi hasil …. Gratis deh….  Hitung-hitung beramal….

“Ada yang mau jengkol, nggak? Kalau mau …. hari Senin saya bawa deh…!!! Lumayan banyak lho…!!!, begitu kira-kira isi sms yang saya kirim ke 5 orang teman perempuan di kantor.
Minggu pagi, ada satu jawaban masuk.
“Pipiet mau bu…!!! Buat dibikin semur. Asyik …. Makan semur jengkol!!!”.
Yang lain masih bungkam… entah karena enggak suka jengkol, atau malu-malu Sore hari, ada sms masuk. Kali ini dari Ina..
“Nggak ah, mbak…!!! Nggak suka dan nggak tahu gimana masaknya…!!!” begitu isi sms nya. Yang lain masih tetap bungkam.
Ya sudah…... Jadi cuma Pipiet yang terang-terangan berminat sama jengkol gratis ini.

Senin pagi, sambil setir mobil, saya sempatkan kirim sms ke Pipiet.
“Saya bawain jengkol pesananmu. Nanti minta pak Utjen ya…!!!”
“OK …., thanks ya. Tapi aku baru bisa datang sekitar jam 15.00 lho”

Sampai di kantor, Ina minta beberapa untaian jengkol yang masih utuh. Kokon katanya karena bentuk untaian jengkol yang unik.
“Lucu bentuknya, mbak …!!! Anak-anakku belum pernah lihat jengkol utuh lho!”
“Iya tuh …. Bisa digantung di depan pintu…. Buat mainan angin”, yang lain menimpali, sambil mengamati untaian jengkol.
“Lha… terus, nanti mau diapain tu jengkol?”, tanyaku pada Ina.
 “Kalo anak-anak sudah liat, dikasiin ke tetangga aja. Rasanya, mereka doyan jengkol deh”.

Sambil memilih beberapa untaian jengkol yang panjang dan utuh, saya mengingatkan pak Utjen;
“Pak…. Si Pipiet mau. Jadi tolong dipisahkan ya… dia baru bisa datang siang nanti. Kalau ada yang tidak kebagian, bilang saja. Besok saya bawa lagi deh…! Yang penting, sisihkan untuk Pipiet dulu”, pinta saya pada pak tua yang sudah sedikit pikun ini.

Sore hari, usai shalat ashar, saya berpapasan dengan Pipiet yang agak manyun…
“ Pipiet nggak kebagian bu…”
“Ha….? Kok bisa sih? Kan tadi saya sudah pesan ke pak Utjen, sisihkan jengkol buat kamu”
“Eh … si Pipiet doyan jengkol…? Ngak salah lu…? Mau dibikin apaan”
“Ih …. Enak lho…. Dibikin semur, tahu…?!!”
“Gilee…. Miss Jengki …
Gayanya cewek Mall, makanannya semur jengkol” ramai gurauan di ruang keuangan sore itu. Meledek Pipiet yang kontan dapat julukan miss Jengki. Sarjana Arsitektur yang masih lajang ini, cuek saja mendengar ledekan teman-temannya. Dia, anaknya sangat helpful, dan karenanya selalu heboh dan panik, kalo ada sesuatu yang tidak beres.
 “Udah deh …. Nggak usah sedih. Nanti saya minta orang di rumah untuk nurunin jengkol lagi. Besok Pipit dapat prioritas milih jengkol deh….!!!”, saya menyahut sambil menekan tust, menelpon ke rumah.
*****

Begitulah, selama tiga hari berturut-turut, bak seorang juragan, saya membawa jengkol rata-rata satu kantung kresek ukuran besar. Mungkin sekitar 5 – 6 kg, karena terasa berat diangkat. Siapa dan kemana saja jengkol itu beredar, saya nggak perduli. Yang penting itu jengkol bermanfaat.

Konon kabarnya, Leny memberikan jengkol jatahnya ke ibu RT, tetangga depan rumahnya yang kemudian membuat balado jengkol. Usai memasaknya, ibu RT memanggil para tetangga untuk makan jengkol ramai-ramai. Jadi, usai pilkada hari rabu 8 Agustus…, para tetangga langsung pulang ke rumah, mengambil sepiring nasi panas untuk dibawa ke rumah RT dan makan balado jengkol beramai-ramai.

Adhe meminta pembantunya membagi-bagikan jengkol pada para tetangga. Ketika dilihat jengkol jatah tetangganya hanya sedikit, dia lalu bertanya;
“ Lho, kok sedikit sih? Rasanya tadi bawa jengkol cukup banyak. Sisanya mana?
“Ini bu ….”, kata sang pembantu menyerahkan kantung kresek berisi sebagian besar jengkol sambil malu-malu. Lebih banyak dari jatah untuk para tetangga.
“ Saya suka jengkol bu …. Jadi sisanya boleh saya minta, kan bu…?”
“Ya boleh… tapi jangan banyak-banyak dong….! Yang makan jengkol di rumah ini, kan cuma kamu sendiri!”

Cerita Pipiet, lain lagi. Keesokan hari setelah dia mendapat jatah jengkol yang ditunggu-tunggu, dia kirim sms, pagi-pagi;
“Bu… Pipiet datangnya agak siang ya… Mesti nganter bapak ke rumah sakit dulu…”
Wah… gawat…!!! Jangan-jangan si bapak kolaps gara-gara jengkol! Merasa sedikit berdosa, saya langsung menelpon Pipiet.
“Piet… kenapa bapakmu? Kebanyakan makan jengkol ya…?”
“Ah, nggak kok..!! Memang bapak sering kumat. Sejak kena stroke, hampir setiap tiga bulan sekali beliau kena serangan ayan”
“Beneran bukan karena jengkol ya…?!”, tanya saya untuk meyakinkan diri.
“Bener kok …, bapak, gak apa-apa..”
*****

Begitulah, cerita lain dari salah satu sudut Jakarta yang metropolitan. Mall dan apartment boleh dibangun untuk memenuhi Jakarta dan jadi bagian dari gaya hidup kaum urban. Pizza+pasta, sushi+sashimi, beefsteak, hamburger dan barbeque boleh jadi makanan orang-orang, terutama kaum muda di masa kini, menggantikan rujak cingur, karedok, tongseng, gudeg, rendang dan lain-lain.

Ternyata…………., makan jengkol rame-rame dengan tetangga masih tetap mengasyikkan. Dan ….. jadi juragan dadakan untuk memberikan jengkol serta mendengar cerita bagaimana teman-teman kantor berbagi dan menikmati kebersamaan yang guyub sambil menikmati kengkol balado dengan para tetangganya ternyata mengasikkan juga.

Ternyata…. sekantung jengkol bisa memberi kebahagian bagi banyak orang. Jadi, saya sudah berjanji pada teman-teman. Kalau tahun depan masih ada umur dan panen jengkolnya masih banyak, saya akan bawa jengkol lagi ke kantor. Hidup jengkol ……!!!!

Lebak bulus, 14 Agustus 2007 jam 22.45

Senin, 05 Maret 2007

Mengintip kekayaan melalui marmer

Jangan bilang saya arsitek ya …. karena profesi ini cuma  sempat saya jalani selama 3 tahun pertama di awal masa bekerja. Setelah itu, walaupun bekerja di bidang real estate, dunia arsitektur menjadi ”agak” menjauh dari tugas keseharian. Saya lebih banyak bergelut dengan angka, cashflow dan berbagai istilah kelayakan investasi lainnya. Walaupun ternyata tidak juga bisa dikatakan total ”bercerai” dengan dunia arsitektur, karena evaluasi master plan/site plan maupun rancangan rumah masih juga harus lewat dari meja kerja saya. Eh ... tapi bukan ini yang mau dibicarakan......

Sejak enam bulan yang lalu, pekerjaan rutin saya bertambah dengan mengawasi pembangunan kembali kantor kami. Berkaitan dengan itu, saya terpaksa bergaul kembali dengan dunia arsitektur, walaupun dalam hal ini mewakili pemilik proyek. Nah, sekitar satu bulan yang lalu, untuk mencari bahan finishing bangunan yang sejak awal sudah dimasukkan ke dalam kategori ”owner supply”,, saya mengunjungi gudang marmernya Fagetti di bilangan Cibitung - Bekasi.

Sejujurnya, pengetahuan saya tentang bahan bangunan sudah sangat ketinggalan. Bahkan berbagai istilah arsitektur yang biasa digunakan juga sudah banyak hilang dari perbendaharaan kosakata di dalam batok kepala. Jadi saat ditawarkan marmer slab seharga 400 ribu rupiah per meter persegi, saya tidak bisa ”meraba” ada di posisi mana kualitas marmer tersebut. Itu sebabnya, tatkala ditawari mengunjungi gudang untuk melihat koleksi Fagetti yang ada, kesempatan itu tentu tak layak ditolak.

Bagian penjualan Fagetti mengetahui bahwa penggunaan marmer itu hanya untuk kantor saja, maka saat kunjungan pertama, kami diantar untuk melihat-lihat koleksi marmer yang biasa digunakan untuk kantor. Jadi tidak terlalu mahal. Walaupun demikian, untuk orang awam, tetap saja terasa mahal harganya, yaitu antara US$ 40 sampai US$ 200  saja atau sekitar 375 ribu hingga dua juta rupiah per m2.

Koleksi Fagetti, luar biasa banyaknya, walau terasa monoton karena 80% koleksinya berwarna dasar creme. Warna dasar umum marmer yang banyak diketahui masyarakat.

Dua minggu kemudian, kami kembali berkunjung ke Cibitung untuk memilih secara definitif koleksi marmer yang akan digunakan. Ketika kami bermaksud untuk ”menggelar” gambar rencana lantai dan mendiskusikannya, kami diajak masuk ke ”boutique”, untuk menikmati makan siang sambil diskusi. Begitulah cara Fagetti menjerat kliennya. Melayani hingga hal kecil. Bahkan menu yang ditawarkan untuk makan siang, bukan main-main. A la carte, mulai dari sup buntut hingga NZ steak. Sayangnya, saya kebetulan sedang puasa, sehingga tidak bisa merasakan apakan masakannya juga cukup lezat.

Boutique tersebut ternyata merupakan gudang ”khusus” untuk very high quality marble, yang berharga antara 200 – 1800 Euro. Jadi, harganya bukan lagi dalam US$. Kalau mudahnya 1 euro setara dengan 10.000 rupiah, maka itu berarti bahwa harga marmer yang menjadi koleksi boutique dijual seharga antara dua juta hingga 18 juta rupiah per m2.

Harga yang sangat luar biasa mahal ini mengundang rasa keingintahuan saya, siapa konsumennya. Usai menjelaskan kebutuhan marmer yang akan dipesan kepada penanggung jawab gudang dan sambil menunggu rekan yang sedang menikmati sup buntut, saya beranjak melihat-lihat koleksi termahal, yaitu marmer seharga 1.800 euro per m2 yang berwarna biru. Entah dimana indahnya marmer tersebut yang untuk mendapatkannya saja, ternyata si pemesan, yang konon pemilik salah satu pabrik rokok di Jawa Timur, harus indent selama 18 bulan. Padahal dia hanya membutuhkan marmer seluas 60m2 untuk .......... kamar mandinya.  Bayangkan, kalau lantainya saja berharga 18 juta per m2, bagaimana dengan sanitary fixture nya seperti bath tube, kran air dan asesoris lain yang melengkapi kamar mandi tersebut. Bukan tidak mungkin akan berlapis emas 24 karat.

Lebih jauh lagi .... bila kamar mandinya, yang tidak akan pernah dilihat tamu saja sudah sedemikian mewahnya, bagaimana dengan ruang lainnya yang selalu ”dipamerkan” kepada tamu untuk menunjukkan kekayaannya?

Lepas dari si biru yang aduhai mahalnya, saya beranjak melihat-lihat marmer yang diberi label merah. Label yang menurut penanggung jawab gudang, menunjukkan bahwa pemesan sudah membayar lunas pesanannya. Ternyata cukup banyak pemesan yang sudah melunasi marmer mahal tersebut. Sebagian besar pemesan, menilik dari nama dan lokasi tempat tinggalnya, saya duga berasal dari etnis Tionghoa. Namun demikian ternyata, ada juga nama Indonesia asli yang terselip. Salah satunya tercantum nama seorang perempuan yang dikenal sebagai pelukis. Konon beliau juga memiliki rumah mewah di Paris dan Nice Perancis. Konon pula, menurut cerita seorang teman, rumahnya yang super luas di Jakarta dan terletak di kawasan Kemang di manajeri oleh seorang expatriate. Bayangkan ..... seorang expatriate asal Perancis (develop country) bekerja sebagai kepala rumah tangga keluarga Indonesia (under develop country). Duh ... dunia memang terbalik-balik.

Saya jadi teringat pada ipar suami saya yang bekerja sebagai direktur eksekutif suatu lembaga non profit yang bekerja sama dengan Prince Wales Foundation – UK. Suatu saat, dia bercerita bahwa lembaga yang digawanginya mendapat kesulitan untuk memperoleh dukungan internasional, saat mengajukan program pengentasan kemiskinan berbentuk bantuan (langsung) pangan. Rakyat Indonesia dianggap sudah tidak lagi layak mendapat bantuan pangan sebagaimana rakyat Afrika walaupun nyatanya, saat ini busung lapar juga banyak ditemui di Indonesia. Bisa jadi.... selain karena pemerintah Indonesia selalu menutup-nutupi kasus busung lapar agar tidak terekspos ke luar terutama di dunia internasional.

Saya juga teringat pada seorang rekan yang bercerita bahwa suatu saat dia melihat ada tagihan kartu kredit yang bernilai 1,2 milyar rupiah. Bayangkan ..... satu milyar dua ratus juta rupiah untuk membayar 4 (empat) buah telepon gengam bermerek Vertu. Dan satu lagi senilai sembilan ratus juta hanya untuk membayar satu buah tas tangan. Kedua transaksi itu dilakukan di luar negeri. Sungguh luar biasa kayanya orang-orang tersebut. Mungkin transaksi internasional itu yang menyebabkan negara-negara donor bisa memantau dan mengetahui bahwa ada banyak kalangan atas – pejabat atau mantan pejabat dari Indonesia, negara yang masih digolongkan ke dalam under develop country, namun sebagian rakyatnya memiliki harta baik berupa aset property atau rekening bank yang jumlahnya sangat luar biasa. Yang mampu membuat dunia internasionalpun menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika tahu jumlah kekayaan tersebut. Dan mereka semua memiliki kebiasaan berbelanja yang sangat luar biasa tak terkontrol.
Wallahu’ alam

Minggu 4 maret 2007 jam 22.30

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...