Tampilkan postingan dengan label belitong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belitong. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2016

Belitong hari ke 2; TANJUNG TINGGI - KEPAYANG - LENGKUAS

Morning call dijadikan sebagai panggilan untuk makan pagi jam 06.00. Memang terlalu pagi untuk sarapan, tapi dalam setiap perjalanan wisata, ritme biologis memang harus dan mesti ikut menyesuaikan. Kebiasaan-kebiasaan rutin pagi hari harus diselesaikan setelah makan pagi agar jadwal hari ke 2 yaitu Island Exploring yang oleh biro perjalanan diberi nama Island's Hopping dan sebetulnya baru akan dimulai jam 08.00, tidak terganggu.

Sebelumnya, dalam petunjuk perjalanan, sudah disampaikan bahwa untuk perjalanan island's hopping, peserta diminta untuk membawa pakaian ganti, topi, kacamata hitam, sepatu atau sandal tahan air dan tentunya sun block. Selain itu, tak lupa dipesankan untuk membawa makanan kecil/cemilan dan air minum cadangan. Selain karena untuk naik dan turun perahu, peserta harus turun ke air menuju pantai. Tidak akan ditemukan dermaga di pantai. Selain itu, kita belum juga tentu bisa menemukan pedagang minuman atau makanan selama perjalanan dari pulau ke pulau. Maka... jadilah perjalanan hari itu, bawa gembolan berisi pakaian ganti, cemilan dan botol minuman.


Bebatuan di Tanjung Tinggi
Selain soal pakaian, minuman dan peralatan tersebut, kami juga diwanti-wanti untuk tidak membuang sampah sembarangan ... Bagus, kan.....?! Biarpun "orang kota", dan memiliki profesi intelektual, namun seringkali kelakuan membuang sampah sembarang, masih sering terjadi. Peserta juga diingatkan untuk tidak mengutak-atik kerang atau apapun yang menempel di permukaan bebatuan di pulau atau pantai yang ditemui. Bukan saja karena merusak lingkungan, tetapi juga karena ditakutkan kerang-kerang tersebut akan melukai kulit.

Perjalanan di hari ke dua ini adalah menuju pantai yang berada di wilayah utara pulau Belitong serta pulau-pulaunya yang ke semuanya dipenuhi oleh susunan bebatuan yang sangat indah . Situs pertama yang dikunjungi adalah pantai Tanjung Tinggi. Pantai yang dipenuhi dengan bebatuan granit yang sangat besar dan sangat beragam ukurannya mulai dikenal khalayak sejak keindahannya diangkat dan diekspos dalam film LASKAR PELANGI oleh Miles Film milik Mira Lesmana. Walau keindahan struktur bebatuan granit tersebut pernah dilihat di film tersebut, namun menyaksikannya dari dekat, tentu merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Bukan saja karena kekaguman terhadap susunan bebatuan granit yang besarnya sangat luar biasa tetapi juga akan kebeningan air lautnya serta pasir pantainya yang putih dan sangat halus.

1 jam di Tanjung Tinggi mengamati susunan batu granit dan menikmati pemandangan ke laut lepas, rasanya sangat kurang. Kami harus segera meninggalkan lokasi menuju pantai Kelayang yang merupakan departing point untuk memulai island hopping. Di sini, selain mengosongkan kandung kemih sebelum naik perahu tradisional yang telah disewa, peserta dibagi baju pelampung untuk keselamatan perjalanan air antar pulau.

Setelah berbasah-basahan untuk naik ke perahu tradisional bermotor yang diisi sekitar 20 orang, perjalanan pertama dilakukan menuju pulau Kepayang untuk makan siang a la pulau di Kepayang Eco Resort dan tentunya makanannyapun "harus" berasal dari laut. Ikan bakar, sup ikan, cumi goreng, kangkung belacan dan entah apa lagi ... Walau namanya :keren" dalam bahasa inggris, sesungguhnya resto ini hanya "warung terbuka" sangat sederhana. Nggak apalah ..... yang penting rasa makanannya enah. Entah enah betul atau rasa lapar menyebabkan makanan apapun yang ditemui menjadi sangat enak rasanya.
perahu wisata

Usai mengisi perut, perjalanan dilanjutkan menuju pulau pasir. Pulau pasir biasanya bisa dinikmati saat air sedang pasang surut, sehingga akan muncul "daratan pasir" seluas lapangan bola. Sayangnya, saat kami kunjungi, sedang pasang naik, sehingga pasir tertutup air laut setinggi sekitar 10cm. Apa yang dicari di pulau pasir?

PATRICK ..... 
Ayo apa tuh si patrick?  
Patrick adalah panggilan untuk binatang laut berbentuk bintang dalam film serial tv SPONGE BOB. Ramailah orang yang mau berbasah-basah turun ke laut, mencari patrick dan berfoto....
light house aka mercusuar Lengkuas

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju pulau Lengkuas. Apa yang akan dilakukan di pulau tersebut? Tujuan wisata kepulauan Belitong, pada umumnya adalah melihat pemandangan indah dari bebatuan. Hampir semua pulau di perairan tersebut memiliki gerombolan bebatuan bewarna putih membalut tepian pantai. Beberapa di antaranya bebatuan tersebut yang malah membentuk pulau kecil dengan beragam bentuk, ketinggian dan susunannya. Sangat indah dipandang. 

Wisata utama pulau Lengkuas adalah naik ke mercusuar setinggi kurang lebih 60 meter  di atas permukaan air laut atau setinggi 18 lantai dan menaiki tangga sebanyak 18 x 18 anak tangga atau 324 anak tangga untuk naik dan menuruni jumlah anak tangga yang sama. Mercu suar yang dibangun pada tahun 1882 ini terbuat dari besi baja yang dicat putih. Dari lantai teratas, kita bisa memandang laut lepas. Karcis untuk menaiki mercu suar, sangat murah. Hanya 5 ribu rupiah, namun tantangan terberat terutama bagi orang yang sudah berusia lanjut adalah mengalahkan diri sendiri untuk tetap bertahan dan sabar menjejakkan kaki pada anak tangga satu persatu. Apalagi, kekuatan jantung dan nafas tentu sudah jauh berkurang.Belum lagi masalah yang mengganggu kekuatan tempurung lutut menahan berat badan yang sudah meningkat banyak bila dibandingkan saat muda dulu.
pulau batu dari mercusuar

Sebagian besar peserta, hanya duduk-duduk saja di warung-warung tepi pantai. Sadar akan usia dan kekuatan badan. Menjaga agar jangan sampai ada yang terkena serangan jantung akut.

Usai (lagi-lagi) berfoto, menikmati segarnya angir laut di ketinggian mercu suar oleh sebagian kecil peserta, perjalanan menuju satu pulau lagi terpaksa dibatalkan. Mungkin pengemudi perahi melihat hari sudah menjelang sore. Takut akan peralihan kondisi laut yang mulai pasang naik dan biasanya akan memunculkan riak gelombang yang lebih besar. Beruntung udara sangat cerah sehingga kami tidak mengalami badai di tengah laut seperti yang dialami teman saya beberapa bulan sebelumnya. 

Sebelum kembali ke pantai, perahu menuju suatu titik dekat pulau Lengkuas untuk memberi kesempatan bagi yang ingin menikmati snorkling sekitar 30 menit, lalu melaju memecah gelombang yang memang terasa lebih besar dibanding saat kami berangkat pagi hari. Namun demikian, keindahan alam dan pulau bebatuan yang dilihat hampir di sepanjang perjalanan membuat kami sedikit melupakan ayunan perahu saat memecah besaran gelombang laut. Pulau kepala burung garuda.
pulau kepala garuda

Sungguh ... dua hari perjalanan di Belitong ini seolah menjadi perjalanan napak tilas buku Laskar Pelangi dan keindahan bebatuan yang berada di sepanjang perjalanan di kepulauan sekitar Belitong membuat ketakutan akan perjalanan air/laut terlupakan. Lelah, tentu.... tapi semua terbayar lunas dan kami merasa sama sekali tidak rugi mengunjungi Belitong. Kawasan tujuan wisata "baru" yang sangat layak dikunjungi.

Tiba di hotel dan setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami dijemput untuk .... konon katanya "GALA DINER" di tempat lain, yang sayangnya menjadi anti klimaks dari seluruh keindahan siang. Sajian makanannya sangat jauh dari standar gala diner... Ya sudahlah .... 

PERJALANAN WISATA BELITONG - H1


Mie Belitong Atep
Sekitar 2 bulan yang lalu, saat suami memberitahu bahwa kantornya akan mengadakan family gathering ke Belitong, saya yang biasanya agak malas untuk "jalan-jalan" yang berhubungan dengan air, menjadi sangat tertarik. Namun ternyata tidak demikian dengan si anak. Apalagi setelah melihat jadwal kumpul rombongan.... Alamak .... harus sudah kumpul di bandara jam 03.30 pagi untuk keberangkatan jam 0.600  ...., itu sih alamat nggak bisa tidur semalaman deh .... sehingga harus dengan "susah payah" membujuk anak untuk ikut perjalanan wisata ini. Apalagi pekerjaan kantor juga lagi semrawut akibat perubahan mendadak yang terjadi di kabinet yang ternyata berimbas juga ke kantor.
Jadi, setelah negosiasi sedikit dan hitung-hitungan waktu perjalanan dari rumah ke bandara Cengkareng, maka kami keluar rumah sekitar jam 03.30 untuk tiba persis seperti prediksi, sekitar 1 jam kemudian.
Perjalanan dengan citilink berjalan dengan aman sentosa, apalagi rombongan sudah dibekali dengan sekotak kue dan aqua. Maklum, low cost carrier ..... Kalau mau makan, silakan beli dan keluarkan uang sendiri....!!! Tiba di bandara HAS Hananjudin -  Tanjung Pandan, sudah ditunggu oleh pemandu wisata, Herry.... yang kemudian diketahui sangat komunikatif dan ada saja cerita konyol yang logis.
Restoran Fega di tepi danau Bandung
Tujuan pertama adalah restoran Hanggar 21 untuk menyantap mie Belitong Atep. Ini adalah mie khas Belitong dan Atep.... sayang saya lupa tanya apakah itu nama pemiliknya atau nama warung pertamanya yang berlokasi di pusat kota Tanjung Pandan.
Usai makan pagi, saya pesan pempek dan minum air jeruk kunci hangat khas Belitong, perjalanan dilanjutkan ke arah timur pulau Belitong atau dikenal sebagai Belitong Timur dengan ibukotanya di Manggar. Konon Manggar adalah kampung asalnya YIM. Belitong ternyata cukup hijau dan selama perjalanan ke Manggar dan Gantong, hampir di sepanjang perjalanan terlihat air danau kebiruan, yang ditengarai adalah danau yang terbentuk akibat bekas galian tambang. Jalan rayanyapun sangat mulus dan sepi. Tidak banyak kendaraan melintas. Jadi jarak yang cukup jauh dari Tanjung Pandan ke Manggar, bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 jam saja.
kuil dewi Kwan Im

Mengingat hari pertama perjalanan adalah Jum'at, maka tujuan awal ke kuil dewi Kwan Im, diubah menjadi makan siang di Restoran Fega yang terletak di tepi danau Bandung. Memberi waktu bagi para lelaki untuk menunaikan shalat Jum'at. Usai makan siang dengan menu sea food yang sedap, perjalanan dilanjutkan ke kuil dewi Kwan Im. 

Terletak di atas bukit, kuil dewi Kwan Im didominasi dengan warna merah dan hijau, begitu juga dengan railing tangganya. Warna khas kuil Cina. Sayangnya patung sang dewi masih terbungkus dan di kakinya banyak pekerjaan sipil sedang dilaksanakan.
Tujuan ke dua adalah ke Gantong, mengunjungi rumah Ahok ..... salah satu "mantan" bupati Belitong Timur yang fenomenal. Kenapa harus berkunjung ke rumah Ahok? Rupanya, kontroversi yang dibuat oleh Ahok saat ini sebagai gubernur di ibukota negara, membuat orang yang berwisata ke Belitong menjadi penasaran dengan kampung dan rumahnya. Apalagi, Ahok juga merupakan orang pertama non pribumi yang berhasil menjadi bupati di Belitong Timor. 


Rumah kediaman keluarganya yang berlantai 2, sangat megah. Di halaman sebelah kirinya ada galeri batik Belitong yang menjual selain batik juga berbagai asesori, kaus, souvenir dan kue-kue kering buatan "mama Ahok". Entah bagaimana caranya, saat hendak meninggalkan galeri untuk kembali ke bus, tiba-tiba dari kejauhan saya melihat seorang ibu berpakaian motif bunga yang cerah berdiri di depan pintu rumah melayani pengunjung yang ingin berfoto.... Komersial...? entahlah...... . Di depan rumah batu 2 lantai itu, terdapat rumah panggung dengan papan nama Rumah Ahok, tempat orang bisa minum kopi dan menjual kue kering yang juga dilabeli "buatan mama Ahok"
Pemandangan bekas galian tambang
Usai mencicipi kopi di rumah Ahok, bayar lho ....., tujuan selanjutnya adalah replika SD Muhamadiyah Gantong yang terkenal karena film Laskar Pelangi, di lokasi bekas tempat shooting film tersebut. Konon bangunan aslinya memang sudah roboh dan di atasnya sudah dibangun gedung baru. Setelah itu, sambil kembali menuju Tanjung Pandan yang terletak di Belitong Barat, kami mampir ke museum kata Andrea Hirata. Sayang, sudah sore, dan museum sudah tutup. 

Selain itu, kelelahan karena bangun terlalu dini, menyebabkan peserta ingin segera beristirahat di hotel. Minimal, tidur di bus ber AC dengan jalan yang sangat mulus dan tanpa macet sama sekali di sepanjang perjalanan.
Tiba di Tanjung Pandan, kami "digiring" ke restoran untuk makan malam, agar setiba di hotel "Grand Hatika", kami bisa langsung beristirahat tanpa gangguan lagi. Begitulah perjalanan hari pertama di tanah Belitong.

BELITONG - LASKAR PELANGI - ANDREA HIRATA

posisi Belitong dalam peta Indonesia
Belitung atau Belitong dalam bahasa setempat, atau dulu dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata, di sebelah utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan. Tepatnya, Belitong berada di perairan antara Sumatera dan Kalimantan, yang dahulu kala masuk ke wilayah provinsi Sumatera Selatan..... 
***
Andrea Hirata adalah pahlawan bagi masyarakat Belitong.... begitu pernyataan Herry sang pemandu wisata. Berlebihan...? Rasanya tidak sama sekali. Berkat cerita yang dituliskannya dan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul LASKAR PELANGI, maka dimulai dengan para pecinta buku, kemudian setelah didahului dengan promosi masif dan beredarnya film Laskar Pelangi, seluruh mata mulai memandang tanah belitong sebagai tujuan wisata alam yang sangat indah di bumi Indonesia.  
Sejak dulu, pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Tetapi ..... siapa yang pernah meliriknya dan berminat mengunjunginya, kecuali para pekerja (staff dab karyawan) tambang Timah? Itupun mungkin dengan sangat terpaksa bertempat tinggal di pulau kecil di tengah laut luas, karena kebutuhan dasar manusia.... Memenuhi hajat hidup dalam mencari uang, bekal pembeli sesuap nasi....

Setelah pemisahan dengan provinsi Sumatera Selatan menjadi provinsi Bangka - Belitung (BABEL), Belitung kemudian terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar namun kota utama pulau Belitong adalah Tanjung Pandan. Disitu pula letak bandar udara H.AS Hananjudin. Sebagian besar penduduk, terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai, sangat akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan sehari-hari penduduknya. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduk Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Usaha pertambangan timah sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda. Penduduk Pulau Belitung umumnya adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.
Belitong sempat menjadi perhatian masyarakat ibukota, utamanya mereka yang bergerak di bidang pemerintahan dan politik, tatkala seorang dari etnis Cina berhasil menjadi bupati Belitong Timur dan kemudian berusaha untuk maju menjadi calon gubernur Bangka Belitung dan .... sudah kita ketahui kemudian, gagal dalam pemilihan. Bagi sang calon, mungkin ini adalah suatu blessing in disguise, karena akhirnya dia menjadi orang nomor satu di ibukota negara.

Sampai disinipun, perhatian masyarakat ke wilayah Belitong masih relatif "adem-adem saja" .... berlalu bersama angin dan waktu... sampai kemudian, masyarakat terutama para pencinta buku tergugah dengan cerita tentang bocah anak kuli tambang timah bernama Ikal yang dengan teman-temannya yang merupakan generasi terakhir dari SD Muhamadiyah Gantong beserta ibu guru Muslimah. Buku karangan Andrea Hirata Seman yang diperkirakan sebagai "true story" pengarangnya melalui sosok Ikal menjadi sangat fenomenal sekaligus juga mengantarkan ibu guru Muslimah yang sederhana menjadi tokoh pendidik panutan. Media ramai memberitakannya bahkan Kick Andy mengundang Andrea Hirata beberapa kali ke studionya, salah satunya juga menyertakan teman2 dan ibu guru Muslimah.
Kisah inspiratif ini kemudian diangkat ke dalam sebuah film besutan Miles Film dengan sutradara Riri Riza dengan judul sama, yaitu LASKAR PELANGI yang juga menjadi sangat fenomenal dengan raihan penonton tertinggi hingga kini. Film inilah yang kemudian berjasa mengangkat keindahan alam Belitong dengan segala budaya yang berbalut dengan romantisme cerita anak kampung Gantong.
Sejak itulah keindahan alam Belitong dikenal "orang luar" dan mulai diburu sebagai tujuan wisata "baru" yang mengangkat pamor wisata serta meningkatkan perekonomian Belitong. Jadi memang sangat tidak berlebihan bila masyarakat setempat menganggap bahwa Andrea Hirata adalah pahlawan masyarakat Belitong.

Senin, 21 Januari 2008

Laskar Pelangi


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata Seman
Laskar Pelangi, menurut Andrea Hirata ditulis bukan dengan maksud untuk diterbitkan tetapi untuk memenuhi janji yang diikrarkannya saat dia masih bersekolah di Belitong. Saat itu, hujan turun sangat deras, kilat dan halilitar bersahut-sahutan ... murid-murid ketakutan. Di tengah derasnya hujan, sosok mungil ibu Mus, muncul dengan berpayung daun pisang. Saat itulah Andrea (Ikal - dalam buku tersebut) berjanji, suatu saat akan menuliskan pengalaman hidupnya itu untuk didedikasikan kepada igu gurunya itu.

Laskar Pelangi, dibuka dengan suasana hari pertama di SD Muhammadiyah - SDM Belitong. SD orang-orang yang termarjinalkan dalam strata sosial kehidupan masyarakat Belitong. Saat itu, SDM terancam akan ditutup bila tidak mendapatkan minimal 10 orang anak di kelas 1. 9 anak telah mendaftar. Mereka dan orangtuanya harap-harap cemas, akankah harapan untuk mendapatkan pendidikan dapat terpenuhi. Maklumlah, mereka hanyalah termasuk golongan orang-orang Melayu miskin yang tidak mungkin bersekolah di SD PN, julukan bagi sekolah yang didirikan oleh PN Timah. Untunglah... di saat kritis, muncul Harun... Pemuda yang telah berusia 15 tahun, penyandang keterbelakangan mental menggenapi jumlah murid menjadi 10 orang.

Laskar Pelangi sarat dengan pelajaran budi pekerti dan berbagai mutiara kehidupan. Kemiskinan tidak menjadi ajang untuk memeras airmata iba, namun menjadi pendorong untuk menggapai kemajuan.

Laskar Pelangi membawa pembacanya untuk tertawa, menikmati indahnya kehidupan anak-anak dan sekaligus menangis haru, membayangkan kerasnya perjuangan anak-anak miskin tersebut, sebut saja perjuangan Lintang - si bintang kelas super genius yang harus menempuh 80km pp setiap hari dengan sepeda bututnya demi harapan untuk memperbaiki nasib keluarganya sebagai nelayan miskin walaupun harapan itu harus sirna berbarengan dengan wafatnya sang ayah.

Atau kejeniusan Mahar dalam bidang seni yang kemudian mampu membawa Sekolah Muhammadiyah memperoleh piala dalam pawai/karnaval 17 Agustus, piala yang dari tahun ke tahun selalu digenggam oleh sekolah PN.

LASKAR PELANGI, buku pertama dari tertalogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov adalah buku yang wajib dibaca terutama untuk orang-orang kota yang bergelimang fasilitas.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...