Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Desember 2008

Ketika kenyamanan terusik

Nggak ada angin, nggak ada hujan... karena memang selama dua hari ini matahari memanggang Jakarta. Paling tidak itu yang saya rasakan... dua orang asisten rumah tangga yang ngurus dapur dan cuci strika jatuh sakit. Demam, berbarengan....

Sabtu pagi, karena jadwal saya biasanya ke CCF dan saya melihat bubur ayam sudah terhidang di atas meja, saya tidak sadar bahwa sang asisten sudah mulai merasa tidak enak badan. Makan siang tidak jadi masalah karena saya, suami dan anak sudah merencanakan belanja ke Makro. Seperti biasa belanja ke Makro selalu ditutup dengan makan nasi goreng.

Masalah mulai timbul karena tidak seperti biasa, jalur ke Makro macet luar biasa. Acara belanja yang diprediksi selesai dalam waktu maksimal 2 1/2 jam, jadi mulur. Alhasil, setiba di rumah, saya harus tergesa-gesa shalat ashar dan mulai menyiapkan makan malam.

Makan malam apa yang harus disiapkan oleh perempuan yang "sok sibuk" dan nggak suka masakan yang ribut dengan bumbu? So pasti yang enteng-entang saja, tanpa bumbu yang ribet tapi mengundang selera anak-anak... tapi juga bukan masakan instan. Jadi pilihan jatuh untuk menyiapkan kentang-brocoli-cheese, lalu tumisan champignon-buncis-jagung muda dan panggang ayam. Bumbunya simple banget ... cuma bawang putih, bawang bombay, lada, oregano, celery seed, yang tentu keju, smoke beef dan susu... Yummy deh pokoknya, walau kurang cocok buat orang yang lagi diet.

Pagi ini, minggu, saya terpaksa mengeret suami menemani ke pasar tradisional, dan terlambat pula. Pedagang yang menjadi langganan merasa "salah tingkah" karena sayur-mayur yang biasa saya beli sudah ludas dijual setelah mereka menunggu sampai jam 08.30. Biasanya saya ke pasar jam 06.00. Jadi pantaslah kalau mereka berpikir saya tidak akan belanja hari ini.

Sore ini, saya terpaksa juga memutar otak, mencari resep simple dan gak repot. Pilihannya adalah bikin gado-gado siram a la Boplo dan sate panggang oven. Bumbunya cukup sejenis untuk dua macam masakan ini. Bumbu gado-gadonya campuran bumbu pecel dengan pindakas.... Hehehe ... ini kiat saya dulu sewaktu di Perancis. Bikin gado-gado dengan bumbu pindakas dan rasanya nggak kalah kok.

Duh .... ternyata runyam juga ya kalo sang assisten mendadak sakit. Bayangan istirahat selama long week-end jadi berantakan. Tapi... terima saja dengan ikhlas... supaya kita bisa menghargai keberadaan mereka di rumah sehingga kita mampu memperlakukan mereka dengan manusiawi

Senin, 26 Mei 2008

Problematika Rumah Tangga : Kasus 5 - Persaingan dalam negeri

Pernikahan adalah penyatuan dua hati. Bersatunya dua mahluk yang datang dari dua keluarga dengan berbagai kebiasaan dan hasil serta cara didik orang tua yang berbeda. Pernikahan juga menyatukan dua manusia yang memiliki sifat, kebiasaan dan kegemaran berbeda pula.

Mengapa mereka memutuskan untuk bersatu? Mungkin ini rahasia Allah SWT. Persatuan yang kokoh, ternyata bisa terjadi kalau ada dua benda yang dibentuk berbeda, kemudian dikaitkan. Maka kaitan itu akan lebih kuat, dibandingkan dengan dua bidang yang lurus. Lihat saja bagaimana cara tukang kaku menyambungkan dua batang kayu, atau lambang yin-yang yang berputar harmoni.

Saat masih dalam tahap pacaran, kedua manusia selalu mencari kecocokan. Kalaupun ada perbedaan, maka mereka akan selalu mencari titik temu. berusaha saling menyesuaikan diri atau minmal berharap suatu waktu sang pacar akan berubah. Kadangkala salah satu dengan senang hati mengalah. Keduanya berusaha untuk saling mengerti, bertenggang rasa dan memahami pasangannya. Namun, entah apa sebabnya, usai honey moon kondisi saling mengerti, bertenggang rasa dan memahami pasangannya sukar terpelihara dengan baik dan malah cenderung memudar secara perlahan untuk kemudian ego personal mulai timbul.


Paradigma lembaga pernikahan yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia, umumnya menempatkan posisi istri "selangkah" di belakang suami. Jarang ada suami yang "mampu" menerima istri melangkah di depan, Di antara perempuan yang melangkah di depan suami , seringkali terdengar gunjingan tak sedap di belakangnya. Rumah tangga mereka tidak seindah yang diperlihatkan atau terlihat di mata publik.



“Terlalu banyak kualitasmu, sehingga suamimu mungkin merasa terancam eksistensinya”, jawaban itu keluar begitu saja, menanggapi curahan hatinya saat kami duduk di cafe yang berada di sebuah gedung pertunjukan usai menyaksikan Chris Botti baru-baru ini.

"Saya sudah mengorbankan banyak hal, mbak. Termasuk mengorbankan study saya. Saya merelakan study saya terputus dengan resiko "dimarahi dan dimusuhi" supervisor saya. Saya mengabaikan tawaran memperoleh gelar PhD dari riset yang tinggal satu tahun lagi, karena saya tidak mungkin meninggalkan kewajiban saya sebagai istri dan ibu bagi ke dua anak saya. Jadi, kenapa mbak berpikir saya mengancam eksistensi suami? ", sahutnya panjang lebar.

“Kembali ke Indonesia, saya bekerja dan memilih jalur yang berbeda dengan suami. Suami di pemerintah dan saya mengambil jalur swasta dengan harapan tidak terjadi benturan atau persaingan dalam menempuh karir. Namun semuanya ternyata belum cukup, entah kenapa suamiku seperti berdiri tanduknya kalau berpapasan di rumah “, lanjutnya lagi.

“Itulah … kemampuanmu yang sangat tinggi itu tidak bisa ditutup-tutupi dan dihambat oleh gelar yang biasa saja atau bidang pekerjaan yang kelihatannya tidak bergengsi. Cepat atau lambat, semua orang akan melihat itu. Lingkup gaulmu juga bukan sembarangan. Kamu bisa masuk dimana saja, di akar rumput hingga elit negeri. Dari kelurahan sampai tingkat menteri bahkan dari pelosok desa hingga ke Washington DC. Tidak banyak lelaki yang sanggup berbesar hati melihat kesuksesan dan mendukung kegiatan istrinya. Kebanyakan dari mereka lebih suka perempuan berperan sebagai subordinate dari eksistensinya dan menurutku, suamimu termasuk golongan terakhir ini”

“Tapi, bagaimana mungkin mbak … Dia kenal saya sejak kami masih kuliah. Dia tahu persis siapa saya … Apa yang saya raih sekarang merupakan rangkaian dari apa yang saya lakukan dan raih sejak jaman kuliah dulu!”

Ada perbedaan besar antara saat berpacaran dan kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat dan berkarir saat kita sudah berumahtangga. Saat muda, mungkin ada suatu kebanggaan bagi seorang lelaki yang mampu menaklukkan hati perempuan yang cantik dan berprestasi. Namun kebanggaan itu bisa berubah drastis saat sudah menikah. Si lelaki yang secara tradisional mempersepsikan diri sebagai focal point dalam kehidupan rumahtangga belum tentu rela melepaskan posisi itu kepada istrinya, apalagi bila ternyata si istri betul-betul cemerlang. Bekerja dengan posisi yang tinggi, memiliki penghasilan yang jauh lebih tinggi, lingkup pergaulan elite dan lain-lain. Kesemuanya diraih si istri semudah membalikkan telapak tangan, Sementara si suami terseok-seok meraih karir, kasak-kusuk kesana kemari. Aku lihat, begitulah kondisimu. Kamu adalah salah satu perempuan cemerlang”

“Lalu … apa yang mesti saya lakukan, mbak? Berhenti bekerja …? Apa itu akan menyelesaikan masalah, sementara kehidupan kita semakin mahal dan anak-anak membutuhkan biaya yang tinggi”

“Ya…, bisa jadi itu merupakan salah satu jalan keluar. Minimal, cobalah berbicara dari hati ke hati. Cari akar masalahnya lalu tawarkan jalan keluar untuk membangun kesepakatan bersama lagi. Ya… ibaratnya kan seperti kontrak kerjasama kita di kantor, lah… Diperbaharui bila ada kekeliruan, ada addendum dan lain-lainnya. Hidup berumahtangga rasanya bisa dianalogikan dengan kontrak membentuk rumahtangga seumur hidup. Jadi wajar saja kalau dilakukan evaluasi dan kesepakatan-kesapakatan baru untuk kemudian dilakukan perubahan”.

“Ah, mbak …. Jangankan mau mengevaluasi, ngobrol santai aja nggak pernah. Suamiku, seperti yang kubilang berdiri tanduknya kalau aku ada di rumah. Agresif dan selalu berupaya menyakiti hatiku dengan tindak-tanduk dan ucapannya. Komunikasi kami sepertinya sudah buntu”

“Melalui tulisan, mungkin…?”

“Aku sudah berusaha banyak, mbak! Melalui sms, email …. Jawabnya pendek. Suamiku menjawab tulisanku begini; aku ingin diam and please, don’t bother me…!”

AND …. I’m really speechless. Sepertinya sudah tidak ada jalan keluar.

Senin, 19 Mei 2008

Problematika Rumah Tangga : Kasus 4 - Istri yang dominan

Kejadian yang menimpa kenalanku ini  memang sudah sangat lama, namun masalahnya tetap aktual sepanjang masa. Mungkin, itu juga sebabnya para orangtua selalu mewanti-wanti anaknya untuk menikah dengan pasangan yang sesuku atau yang paling longgar, seagama. Ini diharapkan dapat mengurangi berbagai macam "konflik" yang timbul selama perkawinan.

Seorang kenalanku, perempuan berasal dari suku Minang. Dibesarkan dalam keluarga yang (seharusnya) berkecukupan. Orangtuanya bekerja di Stanvac yang kemudian bersalin rupa menjadi Caltex Pacific. Jadoel banget. Ibunya kenalanku anak tunggal yang sangat dominan, karena beliau juga lahir dari keluarga bangsawan Minang yang memiliki tanah pusako yang sangat luas. Sementara bapaknya, lahir dari keluarga Minang yang bersahaja. Beliau sangat lembut hati dan pemurah.

Suami kenalanku berasal dari Jawa. Dari Malang tepatnya dan dari keluarga terpelajar. Dia juga bekerja di perusahaan minyak BPM/Shell. Setelah BPM/Shel dinasionalisasi, kemudian dia bekerja di Pertamina hingga pensiun. Orangnya relatif ganteng, pendiam dan sangat santun. Jauh berbeda dengan istrinya yang "cowawakan....", pintar cari muka dan mengambil hati atasan atau kalau bahasa jelasnya sih pintar "menjilat"

Pernikahan mereka dianugerahi dua orang anak. Yang tertua, perempuan yang sangat mirip dengan ibunya, walaupun berkulit hitam manis seperti bapaknya. Sementara wajah si bungsu merupakan duplikat bapaknya. Mereka hidup berkecukupan di komplek perumahan pekerja perminyakan yang serba ada dan lengkap.

Semua orang yang mengenal mereka, dengan sangat mudah melihat bahwa peran istri dalam berbagai hal sangat dominan. Dalam pergaulan sosial dan bahkan di lingkungan pekerjaan. Sukar ditepis dugaan bahwa si istri sangat berperan untuk kasak-kusuk mencarikan posisi yang baik dan basah bagi suami. Mungkin si suami memang cukup ahli dalam bidangnya, tapi semua orang juga tahu bahwa dalam meraih posisi penting, networking dan lobbying turut berperan. Nah peran ini yang tampaknya diambil sang istri sehingga si suami memperoleh berbagai posisi yang mustahil bila diperoleh melalui jalur umum.

Hingga suatu hari, terjadi kehebohan. Kenalanku menyuruh adiknya membuntuti sang suami. Konon, sejak mengikuti satu seminar perminyakan di sebuah kota di pulau Jawa, sang suami seringkali pergi ke Jakarta. Sebetulnya, mengingat posisinya saat itu, tugas ke Jakarta bukanlah hal yang aneh. Tetapi si istri mendengar berita bahwa sang suami yang biasanya selalu menginap di rumah kakaknya bila tugas ke Jakarta, saat itu selalu menginap di mess perusahaan.
Demi rasa sayang kepada si kakak, adiknyapun membuntuti kegiatan kakak ipar. Ternyata, si suami mengunjungi dan berkencan dengan rekan kerja yang tinggal tidak jauh dari mess perusahaan. Yang mengejutkan si adik ..... wajah teman kencan si kakak ipar sangat mirip dengan kakaknya. Perbedaannya hanya pada rambut dan perilakunya. Bila kenalanku (istri) selalu berambut pendek, maka rekan pujaan berambut panjang dan ikal. Bila istri "cowawakan" maka sang pujaan lembut dan santun.

Usai melakukan investigasi, si adik menunggu kakak ipar pulang berkencan di mess. Panjang lebar mereka berdialog, antar sesama lelaki..... Dari situ, terungkap bahwa suami kenalanku merasa lelah "dipacu" oleh ambisi istrinya. Dia ingin hidup tenang sebagaimana dia dididik oleh orangtuanya dalam kultur Jawa. Dia merasa menemukan apa yang tidak diperoleh dari istrinya pada sang gadis pujaan. Seluruh impiannya tentang penampilan, perilaku dan sifat istri bahkan hingga penampilan fisik.

Perempuan yang berasal dari Minang memang sangat dominan. Mungkin karena dalam kultur Minang, perempuan memang memiliki tempat yang tinggi dibandingkan dengan kultur Jawa yang menempatkan perempuan sebagai konco wingking. Hanya sebagai penyokong. Perbedaan kultur dari kedua orang itu, ditambah dengan sifat dasar yang sangat bertolak belakang itulah yang menyebabkan sang suami mencari pelarian dari segala pemberontakan hatinya. Padahal, sesungguhnya dia sangat cinta pada si istri.

Si adik hanya bisa terdiam dan memakluminya. Dia sama sekali tidak melaporkan hasil kerja dan pembicaraan dengan kakak iparnya kepada sang kakak yang meminta laporan investigatifnya

Kamis, 15 Mei 2008

Problematika Rumah Tangga : Kasus 3 - Naif atau Tebar Pesona?

Suatu waktu, seorang suami bertugas ke luar kota untuk jangka waktu yang cukup lama. Menjelang keberangkatannya, dia mengajari istri dan anaknya untuk membuka email accountnya. Maklum saja, sang istri memang agak gap-tek, sementara anaknya masih duduk di bangku SD dan saat itu belum terlalu berminat dengan dunia internet. Si suami berharap  dengan memberikan akses ke dalam email accountnya,  komunikasi selama dia keluar kota tidak terganggu.

Suatu malam, si istri mulai membuka  mailbox. Keinginannya untuk belajar banyak menggunakan saluran internet, membuatnya berlama-lama mencermati email yang ada. Mungkin juga ada rasa keingintahuan yang besar atas aktifitas sehari-hari sang suami yang dilihat sangat larut saat mengakses internet setiap malam.

Satu demi satu email dibuka sampai suatu saat dia terpana …. Dalam sebuah email yang isinya sangat biasa …. Namun ditutup dengan ungkapan tidak biasa …. “peluk dan cium untukmu”. Email itu dari sang suami kepada seorang gadis. Bukan hanya satu buah email, tetapi beberapa buah. Nggak jelas apa mau si suami terhadap gadis itu. Naif atau memang berniat tebar pesona.

Sang suami mati-matian menyangkal adanya hubungan dengan si gadis. Tapi mana mungkin seorang lelaki mengakhiri pesan dengan kata-kata seperti itu bila tidak ada sesuatu di antara mereka? Siapa yang tahu?

Aku hanya ingat, di kantor, boss-boss itu sering bergurau… what shouldn’t  be done by men in case having an extra marital relationship. Katanya nih…;
  1. Kalo ingin makan sate ayam, nggak perlu pelihara ayam. Cukup beli eceran saja, dari mulai kelas kaki lima sampe di hotel berbintang 5, sesuai kemampuan kantong. Kalau mau, di semua tempat itu, pasti ada sate ayam.  (teganya… menyamakan perempuan dengan ayam….)
  2. Kalau suatu saat perselingkuhannya ketahuan atau kepergok istri, dengan cara apapun, jangan pernah mengaku.. Mengaku adalah perbuatan paling tolol sedunia, katanya.
 Gila ya….., begitu rupanya dunia lelaki.

Nah kembali kepada kasus di atas, kelihatannya semua berakhir dengan baik, walaupun perasaan si istri sangat terluka. Suami berjanji tidak melakukan hal itu lagi serta tidak akan melakukan kontak lagi dengan si gadis. Namun, maaf mungkin bisa diberikan oleh si istri, tetapi melupakan peristiwa itu bukanlah hal yang mudah. Mungkin mirip dengan peribahasa … “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”

Problematika Rumah Tangga : Kasus 2 - Suami rendah diri

Suatu hari, dengan raut wajah yang sukar diterka, seorang teman bercerita; dia baru saja menemani suaminya memenuhi panggilan Polda. Kasus yang dihadapi sangat menampar harga dirinya. Suaminya diadukan seorang perempuan atas dua hal; pertama ingkar janji untuk menikahi perempuan tersebut dan yang kedua ‘pemaksaan” atas pengguguran kandungan perempuan tersebut.

Bak selebriti, wartawan yang biasa mangkal di polda berkerumun berusaha mewawancarai kedua belah pihak yang berseteru. Temanku sendiri baru tahu kasus tersebut beberapa hari sebelumnya saat panggilan itu datang ke tempat kediaman mereka. Pada saat yang bersamaan itu pulalah sang suami membuka masalah yang dihadapinya beserta kronologis peristiwanya.

Sang suami lahir dari keluarga yang tercerai-berai. Orangtuanya bercerai karena bapaknya yang “pejabat tinggi” group suatu perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia, dengan status finansialnya yang cukup kuat, senang bermain perempuan. Itu sebabnya ibunya memilih bercerai dan membalas perilaku suaminya dengan mengawini lelaki yang lebih muda. Tinggallah anak-anaknya hidup sendiri, tumbuh besar tanpa pengasuhan orangtua.

Temanku berasal dari keluarga yang terlihat dari luar cukup harmonis. Bapaknya perwira menengah sedang ibunya sempat menjadi pejabat tinggi di Negara ini.

Pasangan ini bertemu di universitas, menikah hingga memiliki 3 orang anak. Tampaknya, usai menikah, temanku mengikuti jejak ibunya. Aktif di organisasi sosial dan politik sedangkan suaminya membantu usaha sang mertua. Walaupun bidang usaha dan kerjanya sangat bertolakbelakang dengan latar belakang pendidikannya, kelihatannya sang suami sangat larut dengan pekerjaannya. Mungkin di keluarga si istri dia merasa telah menemukan naungan kekeluargaan yang guyub. Sesuatu yang tidak ditemukannya di keluarganya yang telah tercerai berai.

Secara materi, mereka hidup sangat berkecukupan. Usaha keluarga sangat menunjang gaya hidup kelas atas. Rmah besar tidak hanya di Jakarta, juga di luar negeri. Liburan di luar negeri sambil menikmati rumah yang mereka miliki di beberapa kota dunia, belanja barang-barang bermerek menjadi keseharian gaya hidup mereka. Sebagai pekerja di perusahaan keluarga, sang suami memiliki gaji. Namun tentu saja gaji tersebut tidak sebanding dengan pengeluaran keluarga. Katakanlah; gaji yang diterimanya itu hanya sebagai uang saku anggota keluarga. Yang digunakan untuk keperluan pribadi Bukan sebagai penghasilan yang digunakan untuk menghidupi keluarganya, karena pos pengeluaran rumah tangga sudah dipenuhi oleh keluarga besar si istri.

Situasi  seperti ini menyebabkan sang suami “terlepas” dari kewajiban menafkahi anak-isterinya. Ditambah lagi, perbedaan lingkungan pergaulan antara suami dan istri bagikan langit dan bumi. Si istri bergaul dikalangan elit Jakarta dan bahkan bersahabat dekat dengan berbagai kalangan pejabat tinggi negeri ini sementara sang suami tidak pernah keluar dari cangkang keluarga. Lama kelamaan, komunikasi mereka menjadi terhambat. Masing-masing berjalan sendiri dan semakin menjauh. Suami merasa “kerdil” di lingkungan gaul istrinya dan berusaha mencari tempat gaul dimana dia menjadi diri sendiri, dihargai sebagai manusia utuh bukan menjadi sub ordinate siapapun.

Dalam kondisi seperti itulah, dia berkenalan dengan perempuan di tempat dimana dia menghabiskan malam-malam sepi sementara sang istri sibuk dengan teman gaulnya. Dengan perempuan itu, dia kemudia menjadi “hidup” dan menikmati keberadaan sebagai “lelaki”, sebagai focal point. Menjadi lelaki yang "dibutuhkan", tempat bergantungnya seorang perempuan. Dimana dia memperoleh pengakuan atas eksistensinya sebagai manusia.

Hubungan ini berlanjut semakin dalam. Bahkan, diam-diam, perempuan itu sudah dibawanya ke pertemuan di lingkungan keluarganya. Hal ini sangat mudah dilakukan karena kesibukan gaul sang istri menyebabkan si istri jarang hadir dalam pertemuan keluarga suami. Hingga akhirnya terjadilah “petaka” itu. si perempuan hamil dan lelaki tersebut “kaget” dan tidak siap menghadapi buah perbuatannya.

Tentu si lelaki tidak siap. Menikahi perempuan itu dan atau bercerai dengan istrinya berarti dia kehilangan kenyamanan hidup. Apalagi, alih-alih “memarahi” menantu yang sudah “membuat malu” keluarga dengan menghamili perempuan lain, ibu mertuanya yang berasal dari Jawa malah memarahi anak perempuannya sebagai perempuan yang tidak mampu "menjaga" suami. Prinsip khas keluarga tradisional Jawa. Itu sebabnya dalam keadaan kalut, si suami berlindung di ketiak sang istri untuk menyelesaikan perseteruan dengan the other woman. Entah deal apa yang disepakati, pendek kata, the other woman “tidak berhasil” meminta pertanggungjawaban dan kasus ditutup begitu saja.

Konon usai peristiwa tersebut, pasangan ini bercerai. Walau demikian, bekas suami masih tetap “berlindung” dalam naungan ibu mertua. 

Selasa, 13 Mei 2008

Problematika Rumah Tangga ; Kasus 1

Prolog;
Cerita-cerita ini diangkat dari kisah nyata. Supaya tidak menyinggung siapapun, maka nama, tempat kejadian dan hal lainnya disamarkan.
*****
Kejadian ini memang sudah lama sekali. Saat itu, handphone belum lazim digunakan. Hanya orang-orang kaya yang punya mobilephone dengan antene “nyeplok” di atas atap mobil. Nah dalam kondisi ini, suatu hari seorang suami baru tiba di rumah lewat tengah malam. Ini hal yang luar biasa. Biasanya dia sudah tiba di rumah sebelum maghrib sehingga keluarga itu bisa makan malam bersama.

Si istri, sudah lelah menunggu dan kelaparan. Dia selalu menunggu suami untuk makan malam bersama. Itu sebabnya, dia selalu me “wanti-wanti” suami untuk menelpon ke rumah bila tidak bisa makan malam bersama. Usai mandi si suami baru bilang bahwa dia sudah kenyang makan dan mempersilakan istrinya makan sambil ditemani;

“Kok pulang malam sekali? Darimana saja, nggak ada kabar berita?”
“Aku tadi ke tempat Ade” sahutnya sambil menyebut nama teman lamanya. Seorang perempuan yang sudah bersuami.
“Lalu? Kok nggak nelpon ke rumah dan kenapa sampai malam begini? Ada apa Ade minta kamu ke rumahnya?”
“Siang tadi, sekitar jam 14.00 Ade telpon, minta tolong. Mobilnya mogok …. Jadi aku pergi ke sana, ngurus mobilnya. Dari situ aku ngantar dia pulang.”
“Lalu?? Kenapa nggak langsung pulang?”
“Aku di ajak makan malam. Kebetulan ada mas (suaminya), ngobrol. Sesudah itu Ade ngajak saya ke rumah sakit?”
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?”
“Si mbok …. Pembantu rumah tangga Ade.”
“Sampai selarut ini….?”

Setiap mendengar jawaban suami, suara istri berangsur-angsur meninggi. Tidak kuasa lagi dia menahan emosinya.
“Dengar ya….. Saya juga perempuan yang setiap hari setir mobil ke kantor. Kalau suatu kali mobil saya mogok, yang pertama saya telpon adalah kantor untuk minta bantuan supir. Kalau yang pertama tidak ada, saya minta tolong adik atau suami. Camkan baik-baik… saya tidak akan pernah meminta bantuan teman lelaki mengurusnya karena itu akan mengundang fitnah. Apa kata suaminya melihat istri meminta bantuan lelaki lain walaupun dia tahu lelaki itu teman sekolahnya dulu.”
“Aku ketemu dan ngobrol dengan suaminya. Dia baik-baik saja”
“Lelaki yang santun tidak akan mengumbar amarah di depan tamunya. Jaga perasaan orang lain. Sesudah itu apa urusanmu mengantar temanmu itu menjenguk pembantunya di RS. Itu sama sekali bukan urusanmu. Dengar baik-baik … saya betul-betul tidak suka dengan keadaan ini dan tidak akan pernah mau mendengar hal ini terjadi lagi. Kamu ini naïf atau apa sih?”

Panjang lebar si istri akhirnya ngomel di tengah malam itu. Entah apa yang ada di pikiran sang suami. Mungkin dia merasa ada kebenaran dalam ucapan istrinya sehingga dia tidak mau berpanjang lebar mendebat lagi.
*****
Begitulah cerita seorang teman…. Andai suami atau istri anda mengalami hal yang sama, apa yang akan anda lakukan?

Rabu, 01 Agustus 2007

Super woman kah, anda?

Sudah hampir dua bulan, saya nggak sempat up date multiply. Itu berarti saya tidak sempat lagi menulis pengalaman atau apapun saja yang terjadi selama kurun waktu hampir dua bulan itu. Bisa jadi karena pikiran saya tidak lagi sempat mengembara atau bisa juga karena kejadian-kejadian menarik yang berlangsung selama ini tidak lagi sempat dicerna lebih mendalam. Tapi yang pasti …. ini menandakan bahwa otak, jiwa dan terutama fisik saya sedang lelah. Kalau fisik tidak lelah, tentu saya masih mampu meluangkan sedikit waktu menjelang tidur, seusai mandi dan shalat isya untuk membuka notebook. Menuliskan opini atau hanya sekedar catatan atas kejadian yang saya alami setiap hari.

Suami walaupun terlihat memaklumi kesibukan kerja istrinya, tetap saja masih terpancar rasa “kurang suka” di wajahnya berbalut rasa prihatin, melihat istri berangkat terburu-buru di pagi hari untuk pulang ke rumah dengan wajah lelah menjelang tengah malam.

Anak, sama saja. Walau saat berbicara di telpon terdengar “mau mengerti” bahwa ibunya tidak dapat menemani makan malam, tetap saja memprotes di keesokan paginya, atas ketidakhadiran ibunya pada saat makan malam.

Ini memang dilema pengaturan waktu bagi istri atau ibu rumah tangga yang bekerja. Khususnya mereka yang bekerja sebagai “kuli” …., bukan sebagai majikan bagi dirinya sendiri. Bagi perempuan yang masih bekerja pada jam kerja yang teratur yaitu 08.00 to 17.00, pengaturan waktu antara kewajiban professional dan kewajibannya sebagai istri dan ibu rumah tangga, mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun tidak begitu dengan pekerja perempuan yang karena tugas dan tanggung jawab pekerjaan “memaksanya” untuk selalu siap bekerja atau dihubungi untuk masalah pekerjaan selama 24 hours dan 7 days a week. Apalagi manakala sang suami masih berpaham tradisional yang menuntut istri untuk siap “melayani” keperluan keluarga.

Kala sepasang manusia berjenis kelamin lelaki dan perempuan memadu janji untuk sehidup semati dan membentuk rumah tangga, pembagian porsi tugas sebagai pencari nafkah, mengurusi rumah tangga termasuk manajemen keuangan, mengurus anak termasuk juga pendidikannya seringkali tidak menjadi topik pembicaraan yang serius. Calon pasangan itu seolah-olah sudah mengerti bahwa kesemuanya akan berjalan secara alamiah. Masing-masing seakan-akan sudah mengerti akan hak, kewajiban dan tanggungjawabnya. Belum lagi bila menyangkut pada hak dan kewajiban pasangan suami istri di mata hukum. Hampir semua pasangan merasa bahwa kesemuanya akan berjalan aman-aman saja. Jarang ada calon pasangan suami istri yang berani menandatangani perjanjian pra nikah.

Hampir dua tahun yang lalu, saat kami berdiskusi dengan seorang teman perempuan dan akhirnya sepakat bahwa perjanjian pranikah layak ditandatangani menjelang pernikahannya, ternyata tidak mampu meyakinkan calon suaminya saat itu. Teman itu sekarang sedikit menyalahkan dirinya atas ketidakberdayaannya “memaksa” suaminya menandatangani perjanjian tersebut, manakala masalah rumahtangga terutama yang berkaitan dengan keuangan dan kewajiban "membantu mengurus bayi" mulai menjadi persoalan terutama dengan adanya intervensi dari mertua perempuan.

Problem mungkin masih bisa terhindari bila istri tidak bekerja, istri bekerja di rumah atau berwiraswasta. Mereka tentu bisa mengatur waktu kerjanya sekaligus mendedikasikan waktunya sama baik antara pekerjaan dan kewajiban rumah tangga.

Bagi istri tidak bekerja, ketergantungan keuangan kepada suami, akan membuatnya “relatif” lebih bisa menerima “tekanan” persepsi tradisi yang masih kental di masyarakat bahwa seorang istri dan ibu “wajib” mengabdi kepada suami, anak-anak dan kehidupan rumahtangganya. Menjaga dan mendukung agar karir suaminya terus berkembang dengan baik. Anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak baik yang membanggakan kedua orangtuanya. Itu sebabnya, bila tanpa terduga terjadi suatu masalah dalam rumahtangganya, masyarakat, tanpa mengetahui latar belakangnya, langsung menuduh bahwa masalah tersebut terjadi karena kesalahan istri atau ibu yang tidak mampu “mengendalikan” suami, anak dan roda kehidupan rumah tangganya.

Perempuan bekerja dan kemudian sekaligus menjadi istri dan ibu, bukanlah hal yang aneh pada jaman sekarang. Kesempatan memperoleh pendidikan yang setara dengan lelaki, penemuan alat kontrasepsi yang memungkinkan perempuan menikah untuk “memiliki” hak menentukan kapan dia berfungsi sebagai “pabrik anak” (walaupun tidak selamanya dapat dilakukan). Kesemuanya kemudian mengubah paradigma dan persepsi perempuan atas hak-hak dan kewajibannya baik sebagai istri, ibu maupun individu.

Sebelum akhir tahun 50an, paradigma pendidikan bagi anak perempuan dicekoki dengan ucapan “untuk apa sekolah tinggi, nantinya toh akan masuk dapur juga”. Dengan demikian perempuan yang menempuh jenjang pendidkan universitas masih dapat dihitung dengan jari. Namun kemudian mulai terjadi perubahan akses kepada pendidikan tinggi, Orangtua mulai dapat menerima bahwa perempuan tidak melulu disiapkan sebagai ibu rumah tangga saja, tetapi juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki, walaupun masih banyak di antara mereka yang kemudian tidak meneruskan kuliahnya atau tidak bekerja, setelah menikah baik karena alasan suaminya berkeberatan ataupun karena pilihannya sendiri. Tetapi, perempuan mulai melihat kesempatan pengembangan diri. Menjadi “seseorang” yang dipandang dan dihargai atas kemampuan dirinya. Bukan lagi hanya sebagai subordinate dari suaminya.

Masalah mungkin akan mulai timbul manakala salah satu pihak semakin larut pada haknya sebagai individu dan kemudian sedikit demi sedikit secara tidak sadar, karena kesibukannya mulai mengabaikan kewajiban dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Seorang lelaki yang tenggelam pada kehidupan individunya dan sibuk mengejar karir sangat diuntungkan oleh persepsi dan paradigma yang melekat di masyarakat sehingga jarang terdengar seorang istri memprotes kesibukan suami bekerja. Apalagi kalau karir suami kemudian melesat cepat dan membawa keberuntungan financial keluarga. Namun lain halnya apabila istri bekerja yang mengalaminya.

Seorang mantan menteri (perempuan) di jaman Suharto, pernah berkata pada saya, saat kami ngobrol dan saya menyatakaan kekaguman terhadap salah satu tokoh nasional perempuan.

“Jangan iri dengan keberhasilan mereka (para tokoh perempuan). Sebagian besar dari para tokoh itu memiliki kehidupan rumahtangga yang dingin. Sebagian besar lelaki Indonesia belum mampu menerima kenyataan bahwa secara professional istrinya memiliki kemampuan yang melebihi kemampuannya. Manakala dia mendapati diri “terkalahkan” oleh kemampuan istrinya, maka akan ada berbagai cara untuk “membalas” kekalahannya. Dari yang sangat halus hingga yang vulgar dan barbar. Itulah harga yang harus dibayar oleh perempuan yang ingin eksis untuk dirinya sendiri. Tentu tidak semuanya begitu. Tetapi lelaki generasimu (generasi saya, maksudnya) belum siap untuk menerima kenyataan itu. Mungkin generasi selanjutnya. Jadi …. Pandai-pandailah membawakan diri dalam mengelola rumahtangga dan mengatur keseimbangan hidup.”

Saya juga teringat obrolan dengan salah satu kakak ipar, sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu dia bercerita bahwa keluarga dekat besannya berkeinginan untuk menjodohkan anak perempuannya dengan keponakan lelaki kakak ipar saya. Sebetulnya mereka bisa jadi pasangan intelektual yang pas. Si gadis lulusan PTN terkenal di Indonesia dan menyandang 2 gelar master dari manca Negara sedangkan si lelaki adalah lulusan sarjana dan master di Amerika Serikat. Namun saat kakak ipar menjajaki niat tersebut kepada keponakan lelakinya, ternyata sang keponakan menolak ide perjodohan tersebut. Alasannya sangat sederhana …. :

“Perempuan itu terlalu pandai. Saya hanya ingin memiliki istri yang mampu dan pandai mengatur rumahtangga serta mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya kelak. Saya tidak ingin memiliki istri yang darinya saya hanya mendapatkan “ceramah akademis” dan adu argumentasi yang menyala-nyala.”

Begitulah dilematika kehidupan perempuan. Akan kemana pendidikan dan intelektualitas manakala dia memasuki kehidupan rumahtangga. Pekerjaan memberikan akses independensi keuangan bagi perempuan. Manakala  perempuan memiliki pekerjaan, karir dan tentunya kondisi keuangan yang baik yang membuatnya merasa sangat independent, maka tentu tidak dapat disalahkan bila perempuan menuntut hak dan kewajiban yang sama dengan suaminya.  tidak lagi tergantung kepada suami. Tentu tidak dapat dihindari, akan terjadi konflik berkepanjangan di dalam rumah tangga yang dapat berbuah perceraian bila tuntutan perempuan tidak dapat dipenuhi suami. Mungkin itu pula yang menyebabkan usia pernikahan lelaki maupun perempuan menjadi semakin tinggi dari tahun ke tahun, sebagaimana tingkat perceraian.

Lebak bulus 2 – 29 juli 2007 jam 23.55

Kamis, 09 November 2006

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Pernah dong membaca kalimat yang digunakan sebagai judul tulisan ini? Insya Allah, mereka yang mengaku sebagai umat Islam pernah membacanya atau minimal mendengarnya. Kalau belum .... aduh, maaf deh, kalau saya bilang ....”keterlaluan kamu...” hehehe....


Ayat tersebut aslinya (transliterasi) adalah ”fa bi ayyi aalaa-i rabbikuma tukadz-dzibaan” yang diterjemahkan sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an terbitan PT. Sari Agung sebagai ”Maka ..... nikmat Tuhanmu yang mana (lagi)kah yang (akan) kamu dustakan? Ada 2 kata dalam kurung yang saya tambahkan, untuk mempertegas makna ayat tersebut.  Kenapa ....?


Saya mengganggap bahwa ayat yang ditemukan dalam surat Ar Rahman – Yang Maha Pengasih (QS 55) teramat istimewa. Bagaimana tidak? Ayat ini diulang sebanyak 31 (baca sekali lagi ... tiga puluh satu kali). Padahal panjang surat Ar Rahman (QS;55) itu sendiri hanya terdiri dari 78 ayat saja. Jadi 40% isi surat Ar Rahman diisi oleh pengulangan ayat tersebut.


Ar Rahman (QS;55) saya simak pertama kali secara sungguh-sungguh, saat mengikuti pengajian yang diadakan menjelang pernikahan sepupu saya hampir 15 tahun yang lalu. Ayat yang berulang-ulang itulah yang menarik perhatian dan mengundang saya untuk membaca terjemahannya. Apa makna pengulangan kalimat tersebut.


Apa isi surah Ar Rahman ...? Baca sendiri deh ya...supaya sesekali kita membuka Al Qur’an yang selama ini lebih banyak dibiarkan teronggok di sudut ruang.
***
Pada suatu minggu yang agak mendung, dalam perjalanan menuju Makro-Ciputat, satu pesan pendek masuk ke telpon genggam. Bunyi alert nya persis seperti bel pintu masuk rumah (Suami saya sering meledek. Tapi biar saja... supaya terdengar unik – gue banget, gitu lho!).
”Mbak ... on line, gak? Pengen ngobrol nih ….”


Weleh …. Tumben amat si tante ini? Dia nggak tahu, kali ya, kalau saya cuma bisa online di kantor. Di rumah ... mana bisa...? Mana sempat ....? Pertama-tama ... anakku pasti bakal nimbrung. Kalau dia ikutan ber internet-ria dan terus kecanduan, alamat tagihan telpon membengkak lagi. Kapok deh sama pengalaman dulu saat si sulung masih tinggal di Jakarta. Bapaknya juga pasti komplain merasa tidak diperhatikan istri ... Kecuali kalo dia lagi tidur siang. Apalagi, sambungan telpon di Indonesia, mana ada yang beres ...  sambungan internet pasti lelet deh. Jadi, lengkap sudah alasan penolakan penggunaan internet di rumah.
“Nanti saya cari waktu yang pas untuk ketemu ya..., saya lagi dalam perjalanan ke Makro. Belanja bulanan”


Akhirnya, waktu itupun tiba. Kebetulan bigboss lagi keluar kota. Jadi saya punya sedikit waktu luang untuk keluar kantor 1 jam lebih cepat. Menuju Citos alias Cilandak Town Square yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah.


“Ada problem apa lagi sih ...?” Pertanyaan itu langsung terlontar, begitu kami memperoleh tempat duduk yang nyaman di salah satu cafe. Gak ada basa-basi lagi
”Biasa ... klasik deh. Nggak ada yang lain ...!!!”


Wah ..... dia nggak tahu, kalau problem klasik itu juga berlaku buat saya juga. Tapi perjalanan panjang kehidupan membuat kami lebih bijaksana memaknai kehidupan perkawinan. Sudah 26 tahun .... lebih dari separuh umur saya dihabiskan bersama.


Tahu nggak, apa problem klasik dalam rumah tangga? ..... ini nih.... saya kasih tahu ya ... HOW TO BUILD A GOOD COMMUNICATION”


Gitu aja dipermasalahkan ....! Eh, tapi ternyata nggak gampang lho membangun komunikasi yang baik antara suami istri. Terutama kalo sudah menyangkut urusan ”kebutuhan” perempuan akan perhatian dari suami dan urusan ranjang. Masing-masing individu sudah berangkat dengan persepsi dan pemahaman sendiri tentang kedua hal tersebut.


Dalam urusan ranjang, suami biasanya, berangkat dengan pemahaman bahwa istri wajib melayani kebutuhan seksnya. Apalagi diperkuat dengan hadist yang selalu didengarnya dalam berbagai tausyiah, yaitu ”Apabila seorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidur dan istrinya menolaknya untuk datang sehingga suami dalam keadaan marah, maka para malaikat mengutuk wanita itu sampai pagi” (HR Bukhari Muslim).


Padahal suami juga perlu mengetahui dan memahami sebab musabab si istri menolak ajakannya. Mungkin si istri sedang lelah karena kesibukannya mengurus rumah dan anak-anak. Apalagi bila si istri juga bekerja di luar rumah. Atau mungkin sedang sakit. Bahkan, alasan yang sederhana saja ... sedang tidak ingin melakukan aktifitas seksual. Boleh, dong ....! Masa'  istri tidak berhak memiliki keinginan sendiri ...??


“Nah ... persis mbak, hadist itu yang selalu dijadikan senjata suamiku. Itu kan termasuk KDRT, ya...?”
“Hehehe ... kamu bilang nggak sama suami, kenapa kamu nggak mau..?”
“Mana bisa .... pokoknya dia gak bakal mau terima alasanku deh. Dengan pegangan hadist tersebut, maka dia akan memojokkan. Dia selalu merasa benar .... Aku udah beli buku buat dia tentang kehidupan rumah tangga yang Islami, supaya dia tahu gimana caranya memperlakukan istri dengan baik...!”
“Memangnya sempat baca, dia?”
“Nggak tahu ..., Mungkin, belum. Makanya jadi ribut terus”
”Pantas saja begitu. Apalagi, perempuan kalo ngomong dan komplain ke suami, cuma dengan dua cara .... marah atau sambil mewek .... Akhirnya masalah gak selesai. Malah tambah runyam. Gini deh .... kalau kamu nggak mampu bicara tanpa menangis atau marah, tulis aja semua unek-unek yang ada di dalam hati, sekaligus harapan-harapan kamu. Bilang ke suami, supaya dibaca. Supaya dia tahu, kamu maunya apa....”
***


Ada satu hadist lagi yang layak dijadikan pegangan bagi suami dalam membina rumah tangga, yaitu “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istriku. Tidak ada yang memuliakan perempuan kecuali orang-orang yang mulia dan tidak ada yang menghinakan perempuan kecuali orang-orang yang hina pula” (HR Ali bin Abi Thalib)


Pada kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah mereka yang baik budi pekertinya dan lemah lembut kepada istrinya”.


Membina rumah tangga itu memang nggak mudah. Kita bagaikan terperangkap ”penjara” kontrak jangka panjang dan harus bisa bertahan hidup sesuai dengan visi, misi dan idealisme saat memulai pernikahan. Padahal seiring dengan kehadiran anak-anak, perjalanan waktu, perkembangan jiwa, pergaulan, pengaruh lingkungan/keluarga termasuk juga perkembangan karier maka visi, misi dan idealisme kerap bergeser. Untuk itu komunikasi dan keterbukaan harus tetap terjaga, terpelihara dengan baik. Namun disinilah masalahnya ... Kesibukan, kelelahan dan tekanan hidup di kota metropolitan membuat kita kerap tidak lagi memiliki waktu yang cukup luang, hati dan pikiran yang tenang untuk memelihara komunikasi dan keterbukaan.


Akhirnya ... waktu untuk membina kebersamaan menjadi semakin berkurang dan masing-masing berjalan sendiri dengan membawa harapannya. Masih untung bila ternyata harapan pasangan tersebut berjalah sejajar. Nah kalau ternyata berlawanan arah ... wah... bencana besar deh...!


Manusia memang selalu tidak pernah terpuaskan nafsunya. Kala miskin ... kita selalu berdoa agar diberi rezki yang berlebih. Sudah mendapat rezki .... eh.. kebablasan, nggak tahu lagi batasnya ....


Nah kembali pada temanku itu, secara fisik saya seringkali ”iri”. Apa yang kurang dalam kehidupannya? Pasangan itu cantik dan ganteng. Anak-anak mereka tumbuh sehat, rumah beserta seluruh isinya yang mewah ditambah dengan kendaraan yang siap membawa seluruh isi keluarga kemana saja yang diinginkan. Pokoknya terlihat ideal sekali


Kalau saja temanku mau mengamalkan ayat tersebut, dan suaminya tidak hanya berpegang pada hadist riwayat HR Bukhari Muslim di atas, tetapi juga mau mengamalkan hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib itu, maka ..... Nikmat apalagi yang ingin kau dustakan ....?


Sungguh ayat yang selalu diulang dalam QS;55 itu bisa dijadikan sebagai senjata pamungkas untuk meredam segala kesombongan dan ketidakpuasan yang terjadi di antara suami-istri. Mengingatkan betapa banyaknya nikmat yang sudah kita rasakan. Sekaligus untuk mengingatkan; janganlah segala nikmat Allah SWT  yang luar biasa banyaknya itu hilang karena hal kecil.


Nggak ada salahnya untuk sejenak melepaskan ego masing-masing untuk merenungkan betapa beruntungnya kehidupan kita. Niscaya dengan kerendahan hati akan kita akui kebenaran ayat ini ...... fa bi ayyi aalaa-i rabbikuma tukadz-dzibaan ... Maka ..... nikmat Tuhanmu yang mana (lagi)kah yang (akan) kamu dustakan?”
Wallahu alam


8 nopember 2006 – lebak bulus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...