Tampilkan postingan dengan label undangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label undangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

BIJAK Mengundang....!

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman di kantor yang lama, yang sekitar 17 tahun lalu pernah sekantor.menelpon .... meminta alamat kantor saya sekarang. Dia bermaksud mengundang beberapa teman kantor saya yang sekarang beserta boss yang juga bossnya di kantor terdahulu untuk menghadiri pernikahan anaknya yang ke dua.

Setelah saya berikan alamat persisnya, beberapa hari kemudian saya menerima undangan tersebut. Alhamdulillah, dia masih ingat untuk mengundang teman-teman lamanya. Bisa jadi hal ini dilandasi untuk menfasilitasi teman-teman lamanya untuk melaksanakan reuni gratis heheheh .... Semangat menyambung tali silaturahim yang patut dihargai.

Saat membaca nama - nama pengundang, yaitu nama orang tua mempelai, saya agak tertegun... Bukan karena jumlahnya yang ternyata 3 pasang, yaitu 2 pasang berasal dari keluarga perempuan dan satu pasang dari keluarga lelaki, tetapi karena saya merasa nama salah satu istri pengundang agak familiar. Nama yang berasal dari "masa remaja" nun jauh di seberang... Apalagi dipadukan dengan nama suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak dan alamat rumahnya. 

Tidak salah lagi .... karena belasan tahun yang lalu, sekitar beberapa bulan setelah kelahiran anak saya yang ke dua, saya pernah bertemu di sebuah RS di bilangan Bekasi. Saat itu dia yang juga berprofesi dokter, sedang menunggu sang suami.

Segera saja kutelpon mantan teman kantorku itu untuk meminta nomor telpon genggam calon besan perempuannya yang menjadi ibu tiri calon menantunya itu.

Singkat kata, berbekal nomor telpon genggam pemberian temanku, beberapa hari kemudian, hari minggu pagi, sambil menunggu asisten rumah membeli ketupat sayur di pelataran parkir dekat pasar pondok labu, kukirim sms kepada temanku tersebut, memberitahukan bahwa aku mendapat undangan untuk hadir dalam pernikahan anak tirinya tersebut dan bermaksud menghadirinya.

Di luar dugaan, alih-alih menjawab sms ku, teman lamaku itu malah langsung menelpon ... hihihi... inilah kemudahan dan dampak kemajuan teknologi komunikasi - sedang berbelanja di pasarpun bisa tetap berkomunikasi. Cerita panjang lebar, bernostalgia mengenai teman-teman lama kami saat di bangku SMA dulu.

Sebetulnya... teman lama ini adalah kawan sekelas adik perempuanku, tapi karena kami tinggal bersebelahan rumah dan kebetulan dia tinggal dengan kakak iparnya yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala cabang suatu bank, maka kami cukup saling mengenal seluruh isi keluarga masing-masing.

Dua hari kemudian, saat berada di kantor, secara tiba-tiba aku menerima sms berisi penjelasan mengenai keluarga dan status anak-anaknya. Kaget juga aku membacanya .... Entah apa yang ada di dalam benak temanku, hingga dia merasa harus menjelaskan bagaimana dia melaksanakan pernikahannya dulu serta status anak-anaknya. Sumpah mati ... sama sekali tak pernah terlontar pertanyaan tentang hal itu. Itu urusan pribadi mereka.

Aku memang pernah mendengar cerita tentang pernikahannya tersebut dari adikku yang memiliki profesi yang sama dengan suaminya. Tapi... untuk apa mengusili urusan rumah tangga orang lain? Itu sebab ... aku hanya menjawab singkat..."ya, sudah pernah dengar ..... ! 
Hari Minggu, saat dilangsungkan resepsi pernikahan tersebut, aku hadir sendiri. Anakku sedang bermalas-malasan, kalau diperintahkan mandi lebih pagi. Mengikuti kebiasaan bapaknya, hari Minggu adalah hari santai dimana semua orang merasa "bebas" untuk mandi sesuka hati. Kebiasaan jelek yang tak patut ditiru.

Suamiku, sudah sejak pagi keluar rumah. Hari Minggu adalah jadwalnya latihan senam pernafasan Sinar Putih. Pulang dari tempat latihan, usai sarapan pagi yang sudah sangat terlamabta, sekitar jam 10.30, biasanya acara memeluk guling tidak bisa diganggu gugat. 

Jadi.... kalau aku punya undangan dan dia sedang berbaik hati untuk ikut hadir, biasanya dia akan mengorbankan waktu latihannya. Namun kali itu, dia "berkeras" latihan karena minggu sebelumnya, kami pergi ke Bandung menjenguk ibuku yang baru usai melakukan operasi penggantian sendi pangkal paha kanannya.

Aku berangkat sendiri dari rumah sekitar jam 10.45, langsung mengambil jalan bebas hambatan menuju lokasi. Kebetulan bertemu beberapa teman lama dari kantor yang sama dengan orangtua mempelai lelaki. Kami ngobrol kesana-kemari. Memang begitulah motivasi kami hadir di acara pernikahan tersebut. REUNI.....

Rupanya, mereka juga agak "curious" dengan adanya 3 keluarga pengundang. Itu sebab kami memilih tempat berdiri agak dekat dengan pelaminan, dengan harapan agar kami bisa "melihat" dari dekat  serta mendapat kesempatan awal memberi selamat kepada keluarga yang berbahagia tersebut.

Tiba saat pengantin dan keluarga berjalan menuju pelaminan, mataku menangkap sosok seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda dan seorang lelaki ganteng. Si perempuan, setelah kuperhatikan, ternyata menggunakan warna kebaya yang sama dengan orang tua pengantin yang sedang berjalan mengiringi pengantin menuju pelaminan, sedangkan sang pria juga memakai pakaian Jawa berblangkon. Tidak salah lagi ... ini tentu ibu pengantin perempuan disertai suami barunya.

Menjelang rombongan pengantin tiba di pelaminan, ibu kandung pengantin perempuan bangkit dari kursi rodanya. Berjalan perlahan tertatih-tatih sambil dipapah suaminya... dia berjalan dan duduk berdampingan dengan mantan suami dan istri "baru"nya. Memang agak terlihat tidak biasa ... apalagi saat itu sama sekali tidak terlihat adanya saling sapa di antara ke dua pasangan suami istri itu. Unik .....

Salah satu temanku sempat nyeletuk usil .... " lihat deh ... suaminya (bapak dari pengantin perempuan) mendapat istri yang lebih cantik, langsing dan lebih muda - begitu juga dengan ibunya. Usai diceraikan suami, dia yang terlihat sakit, mendapat suami yang juga lebih muda dan ganteng"

Kulihat seksama mereka yang ada di pelaminan.... Betul ... Sang suami Jawa yang wajahnya lebih pantas disebut wajah Minang - duduk berdampingan dengan istrinya (ini teman lamaku) yang jauh lebih segar dan cantik dibandingkan dengan mantan istrinya yang terlihat jauh lebih tua dan "sakit". Demikian juga mantan istri. Dia duduk tenang didampingi oleh suami yang terlihat gagah dan ganteng khas lelaki Jawa dengan kumisnya dan ..... terlihat jauh lebih muda dari wajah istrinya.

Entah apa yang berkecamuk di benak para undangan... Yang pasti, ke dua orangtua itu, walaupun sudah bercerai ... mereka punya hak dan kewajiban untuk "menyelesaikan" tugas, mengantar anak-anaknya ke gerbang pernikahan. Jadi memang.... mengapa harus malu dengan kondisi ini?

Kamis, 12 Januari 2006

Kok nggak diundang sih…?????


Kalau saat reuni 0475 ternyata hadir beberapa senior, ini tentu bukan karena seksi repot reuni ini pilih kasih, dengan hanya mengundang senior tertentu saja. Jawabnya sekali lagi, tentu saja, tidak . Acara reuni 30 tahun – 0475, sejak semula memang direncanakan oleh angkatan 75 untuk angkatan 75 saja, dengan cara sederhana.

“Sederhana” memang jadi kunci acara ini. Boss acara ini, wanti-wanti berpesan untuk tidak mencari sponsor (“nodong”) ex mahasiswa angkatan 75 yang dianggap sudah berhasil. Tetapi kalau mereka dengan ikhlas memberikan bantuan material, tentu tidak ditolak, sejauh bantuannya “tidak mengikat” dalam arti kata, tidak ada titipan dan aturan acara harus begini atau begitu sesuai selera sang sponsor. Karena terbatasnya "dana awal", maka komunikasi antar kawan juga dilakukan via sms, mailing list alumni FTUI atau mailing list jurusan. Siapa yang sempat ... dan mereka semua melakukannya dengan tulus. 

Lalu mengapa ada beberapa senior hadir dalam acara itu? Ternyata, sebaran rencana reuni melalui mailing list Alumni FTUI yang terbaca oleh “umum” menggelitik sebagian alumni yang merasa “satu” dan terutama terkait secara “emosional” dengan 0475. Jadi, setelah rencana reuni di posting ke mailing list alumni ftui, … beberapa orang seksi repot mulai menerima email, sms atau telpon. Langsung menanyakan, apakah mereka diperkenankan hadir. Entah ini pertanyaan basa-basi atau pertanyaan serius … yang pasti, ada beberapa pertanyaan sejenis yang masuk. Namun demikian, ada juga yang menyambut rencana reuni dengan skeptis “Gue gak punya nyali untuk datang”, katanya. Entah apa yang menyebabkannya menjawab dengan nada seperti itu. Padahal, jelas ditulis bahwa yang direncanakan 0475 adalah acara silaturahmi, bukan acara adu nyali….

Terus terang saja, melihat sambutan seperti itu, semua merasa bingung untuk memutuskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena agak “menyalahi” rencana. Namun demikian, apapun tanggapan yang ada, harus disikapi dengan positif. Tanggapan "ada" karena mereka “peduli” pada 0475. Apapun motifnya.

Runding sana- runding sini, semua akhirnya sepakat … mempersilakan “mereka”, terutama yang terkait langsung pada hari-hari pertama 0475 menginjakkan kaki di bangku kuliah; yaitu …. Para Ketua SMFTUI, ketua POSMA 75 dan wadya balad nya … untuk hadir. Tanpa undangan resmi … hanya dari mulut ke mulut atau melalui sms informal … Kalau dengan cara ini mereka, kemudian, hadir, ini akan membuktikan “rasa” dan “kedekatan” mereka kepada 0475. And will be highly appreciated.

Ini tentu juga berlaku bagi 0475 itu sendiri … Reuni tidak dimaksudkan untuk “adu nyaIi”, pamer keberhasilan atau jorjoran. Acara ini diadakan untuk membangkitkan kembali rasa kebersamaan kita yang sudah pupus ditelan waktu. Yang telah sirna tersaput kesibukan dan kehidupan materialistis kota besar.

Jangan merasa tersinggung bila “tidak diundang” baik melalui email pribadi, sms ataupun telpon langsung. Tentu akan ada yang luput, karena data yang sangat minim atau contact person yang ditugasi lupa menghubungi anda karena kesibukannya. 30 tahun perpisahan dan 3 minggu persiapan reuni tentu tidak cukup untuk menyatukan yang telah terserak di setiap pojok dunia. Tapi, ini mungkin sekaligus menjadi ajang untuk menguji “kebersamaan” kita semua.

Mereka yang hadir, tentu karena ada panggilan nurani untuk menikmati kembali denyut-denyut kebersamaan, kesederhanaan dan keniscayaan yang dulu sekali pernah kita lalui bersama-sama, tanpa sekat … tanpa prasangka …. Dan semoga “rasa” ini akan terus melekat dan mempersatukan kita.

Yang belum bisa hadir, tentu bukan karena tidak ada rasa kebersamaan. Mungkin Allah SWT memang belum mengijinkannya untuk menikmati kebahagiaan "bernostalgia". Jangan kecil hati ataupun kecewa. Berdoa saja, semoga masih diberi umur panjang ...agar suatu saat nanti kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi. 

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...