Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2016

CERITA LAMA TENTANG ORANG KECIL

Ini cerita lama tentang seorang pedagang pisang barangan yang berjualan di paruh timur jalan Pakubuwono VI Kebayoran Baru–Jakarta Selatan. Kejadiannya sudah cukup lama. Sudah hampir 20 tahun yang lalu, sehingga sangat dimaklumi bila wanita pedagang pisang barangan itu sudah tidak lagi bisa ditemui di tempat biasa dia berdagang dulu.

Ketika itu, saya masih tinggal di Bekasi dan potongan jalan Pakubuwono VI tersebut selalu dilalui manakala jam pulang kantor menuju rumah, yaitu untuk mencapai gerbang tol Senayan yang berada di seberang gedung MPR–DPR. Biasanya seminggu sekali, saya selalu membeli 2 sisir pisang barangan. Kadang lebih manakala teman–teman kantor meminta dibuatkan banana cakes.

Hingga suatu saat, seperti biasa saya berhenti di hadapan rak jualannya untuk meminta diambilkan 2 sisir pisang yang setelah dimasukkan ke dalam kantong kresek, disodorkannya kantong tersebut.
“Ini uangnya …..”, sambil mengambil kantong berisi 2 sisir pisang.
“Wah bu …. Ada uang pas saja? Saya tidak punya kembalian..”, sahutnya.

Kuraih dompet dalam tas, mencari uang pas pembayar 2 sisir pisang……
“Duh …. Nggak ada lagi … dompetku juga kosong. Cuma ada selembar itu saja …. Tukar saja deh ke tukang rokok itu” Jawabku.
Di sebelah lapaknya, memang ada gerobak penjual rokok. Dia lalu beringsut menuju tukang rokok…. Namun sayang…, entah kenapa, sore itu rupanya bukan hari keberuntungan. Tukang rokok tak memberikan tukaran uang.

“Bu …., bawa saja uang ini… mungkin ibu perlu uang ini, entah untuk bayar tol atau parkir, nanti…”
“Waduh ….. jangan dong …. Masa saya harus berhutang….? Kalau begitu, nggak jadi beli deh ….!”, sahutku, merasa berkeberatan kalau harus membawa 2 sisir pisang tanpa membayar…
“Nggak apa bu ….!!! Bawa saja pisang itu. Mungkin anak atau suami ibu mengharapkan dan menunggu pisang itu di rumah. Ibu bisa membayar besok atau kapan saja, kalau ibu lewat sini lagi….!”

Saya mengambil kembali selembar uang 100 ribuan yang disodorkannya tersebut, karena kebetulan memang hanya tinggal selembar itu saja yang ada lama dompet. Memang, sisa pengembalian pisang tersebut akan saya gunakan untuk membayar toll ke Bekasi.

Agak malu hati dengan keihklasan pedagang pisang tersebut. Betapa luas hatinya. Tanpa prasangka apapun pada pembeli … Padahal, siapa yang bisa menjamin kalau keesokan hari, saya akan kembali melewati jalan tersebut untuk membayar 2 sisir pisang barangan. Ada banyak jalan lain untuk menuju rumah …. Kalaupun saya melewati jalan tersebut lagi, bisa saja saya pura–pura lupa untuk tidak membayarnya. Ah … sungguh peristiwa yang sangat menyentuh hati dan menyadarkan saya bahwa justru orang–orang kecil seperti penjual pisang itulah yang sangat percaya bahwa rejeki dapat diperoleh dengan cara apa saja. Naif …..? Entahlah …. Kita yang merasa dari golongan “berpunya” dan berpendidikan justru sangat berhitung dan sangat tidak mau merugi sedikitpun …

Rabu, 01 Juni 2016

MATAKU SIPIT

Aku terlahir dengan bentuk mata kecil, yang biasa disebut sipit. Persis seperti bentuk mata orang-orang Asia Timur, seperti Cina, Vietnam, Korea dan Jepang. Padahal ..... dari 6 orang anak yang terlahir dari rahim ibuku, hanya aku sendiri yang memiliki mata sipit. Ditambah lagi dengan warna kulitku yang cenderung kuning, atau orang bilang kulitku lebih "putih" dibandingkan adik-adikku .... maka lengkaplah sudah. Melihat penampilanku secara utuh, kebanyakan orang akan menyangka bahwa aku adalah bukan warga pribumi, alias keturunan Cina. Yang sedikit lebih "sopan", akan bilang " wah .... aku pikir, kamu orang Manado ..."
***

Aku terlahir dari bapak yang konon berasal dari etnis Betawi (kakekku) dan Sunda (nenekku konon dari Cianjur, tapi sudah lama tinggal di Jakarta). Sementara ibuku berasal dari Sumatera Barat, etnis Minang. Kakekku konon dari Padangpanjang tetapi berdarah Pakistan sementara nenekku dari Batusangkar. Dari garis keturunan ibuku, seharusnya aku memiliki warna kulit sawo matang. Seperti warna kulit opa dan oma. Begitu juga warna kulit ibuku. Warna kulit "kuning" terang ini memang mengambil warna kulit bapakku. Apa boleh buat .... gen Cina dari garis keturunan bapakku ternyata sangat kuat mengalir di tubuhku. 

Bapakku memang keturunan ke 4 dari perempuan Cina yang menikah dengan lelaki Jerman yang beranak-pinak di Jakarta (Betawi), lalu di Rembang dan Malang.   Kami tinggal di suatu perkampungan Betawi di bilangan Jakarta Timur. Saat itu, suasana pergaulan masyarakatnya masih guyub. Halaman rumah dan bahkan beberapa di antaranya, pintu utama rumah masih terbuka lebar. Di dinding muka rumah, setiap orang masih dengan senang hati memasang namanya. Berbeda dengan sekarang, identitas penghuni rumah cenderung disembunyikan untuk mengurangi dan menghindari tindakan yang tidak diinginkan dari orang-orang yang berniat buruk. 

Walau mayoritas penduduknya berasal dari etnis Betawi, di gang lingkungan tempat tinggal kami ada juga beberapa keluarga Sunda, Jawa dan beberapa keluarga Cina. Satu keluarga Cina membuka warung kebutuhan sehari-hari, tempat hampir seluruh tetangga berbelanja keperluan yang terlupa saat belanja ke pasar. Babah Cina ini hidup berbaur masyarakat setempat, begitu juga dengan anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Bahkan cucu-cucunya selalu bermain dengan kami, penduduk asli Betawi. Dari penampilan sehari-hari, kondisi ekonominya tidak banyak berbeda dengan kebanyakan orang kampung. 

Hanya satu keluarga Cina kaya yang tinggal tepat di sebelah rumah kami. Mereka keluarga yang kaya raya, pemilik pabrik permen. Memiliki beberapa mobil, bukan saja truk-truk pengangkut permen tetapi juga sedan. Tidak itu saja.... pada tahun awal dekade 1960an, sebelum meletusnya peristiwa G30S, keluarga ini sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya ke Singapore. Mungkin juga mereka memiliki rumah di Singapore. 

Dengan kami, hubungannya cukup baik. Mungkin karena rumah kami tepat berada di sebelah pabrik yang merangkap rumahnya. Saat tahun baru Imlek, kami selalu mengunjunginya. Senang sekali bertamu ke rumahnya menyantap kue keranjang dan taart yang pada jaman itu cukup langka dan tentunya tak ketinggalan angpau. Sementara saat lebaran, mereka tidak lupa mengirim permen2 hasil produksi pabrik walau mereka tidak pernah mengunjungi rumah kami. 

Agak jauh dari rumah kami, sekitar 500 meter, ada juga beberapa toko kelontong dan depot es yang dimiliki tauke Cina. Pendeknya, kehidupan di lingkungan tempat tinggal kami saat itu amat damai. Berbagai etnis berbaur dengan baik. Sama sekali tidak terbersit adanya keributan antar etnis. Kalaupun ada, biasanya tawuran antara kamp Ambon dengan gang Berland yang legendaris.

Almarhum ibuku sering cerita, konon, kalau beliau mengajakku ke pasar Paal Meriam berbelanja kebutuhan pangan setiap pagi, penjual telur yang kebetulan dari etnis Cina, selalu menghadiahi 1 butir telur extra untukku. Untuk si amoy .... begitu selalu yang dikatakan. Mungkin karena melihat mataku yang sipit itu. 

Entah mengapa .... dari 6 orang anak kedua orangtuaku, hanya si sulung inilah yang memiliki mata sipit. Adik-adikku memiliki mata besar dan bulat walaupun mereka memiliki warna kulit kuning. Namun demikian, dua adikku memiliki warna kulit gelap seperti warna kulit opa yang konon berdarah "Keling" dan oma yang berasal dari Sumatera daratan.
***
Usai peristiwa G30S, kami sekeluarga hijrah ke Garut dan tinggal disana sekitar 3 tahun. Lalu pindah ke Karawang dan Jambi untuk masing-masing sekitar 3 tahunan dan baru pada tahun 1974 kembali ke Jakarta. Selama di "perantauan" ini aku tak pernah merasakan adanya perlakuan berbeda dari siapaun juga karena mata sipit ini. Jadi kehidupan berjalan dan mengalir begitu saja, tanpa masalah. Tentu bukan tanpa masalah sama sekali.... ada pertengkaran antar teman, iri - dengki antar remaja, yang walaupun terasa menyebalkan dan menyakitkan, tapi tak pernah kuambil pusing karenanya.

"Kamu cina ya...?"
Pertanyaan yang mengagetkan muncul dari mulut seorang senior saat aku menjalani masa perkenalan mahasiswa baru.
"Nggak ...., bukan...", sahutku
"Kalau begitu...., mulai besok pakai selotip untuk membesarkan kelopak matamu yang sipit itu!!!" perintahnya.

Agak merasa aneh dengan pertanyaan dan pernyataan tersebut ... tapi mana berani, mahasiswa baru membantah seniornya? Maka kujalani saja perintah tersebut. Belakangan baru aku tahu, bahwa ternyata lolosnya lebih dari 10% mahasiswa baru yang berasal dari etnis Cina dipermasalahkan oleh senat mahasiswa fakultas. Sang senior yang memerintahkan untuk menggunakan selotip pada kelopak mata, rupanya mendapat konfirmasi dari salah satu senior di jurusanku, yang kebetulan sudah kenal karena kebetulan dia kost di rumah salah satu temanku, orang Minang. Jadi sang senior tahu persis bahwa kedua orangtuaku bukan non pribumi. Walau ada rasa sakit atas kenyataan ini, kelak baru kusadari bahwa mulai saat itulah .... yaitu pada masa dewasa, "mata sipit" seringkali menjadi masalah buatku baik dalam pergaulan dan dalam pekerjaan.

Sedih ....? Tentu ......, di negara sendiri,aku seringkali merasa terkucil dan dikucilkan dari lingkungan pribumi, terutama pada saat awal perkenalan, hanya karena mataku sipit, seperti orang-orang keturunan Cina...

Jumat, 29 Januari 2016

in memoriam : ibu SOEN ROEDJITO

Saya mengenalnya, lebih dari 10 tahun yang lalu. Di dalam kelas bahasa asing di bilangan Kebayoran Baru. Sosok keibuannya selalu berpenampilan rapih, baik make up wajah, pakaian dan juga "perilaku"nya. Begitu juga dengan komposisi warna baju, asesori yang digunakannya. Selalu serasi.

Kelas kami, adalah kelas percakapan bahasa Perancis yang pesertanya "tidak memiliki tujuan" tertentu kecuali hanya untuk bersosialisasi, mengisi waktu luang ataupun hanya ingin ngrumpi sehat. Ngrumpi yang tidak membicarakan keburukan orang lain, tetapi rumpiannya bisa memberi tambahan pengetahuan, dari mulai hal-hal yang remeh temeh, hingga masalah ekonomi dan politik. Memang sayangnya, bagi peserta yang ingin menguasai bahasa Perancis dengan baik dan benar melalui penguasaan tata bahasa, kelas kami menjadi sangat menjemukan dan "tidak memberikan nilai tambah" apapun.

Nah kembali kepada ibu Soen Roedjito. Dari pembicaraan di kelas, tentunya dalam bahasa Perancis dengan kiat yang penting berani ngomong, soal salah atau benar secara kaidah tata bahasa, itu nomor 2, kami mengetahui siapa sebenarnya sosok keibuan yang memang ditinjau dari sudut usia, sangat pantas menjadi ibu bagi kami semua termasuk saya sendiri.

Ibu yang selalu tampil menarik ini adalah sarjana dari ITB .... weits... ini saja sudah mengundang kekaguman tersendiri. Bayangkan, menjadi mahasiswa ITB di tahun 1950an tentu sesuatu yang sangat langka. Tidak semua orang punya kesempatan menjadi mahasiswa, bahkan pada abad ke 21 ini. Apalagi di era tahun 1950an, lelakipun masih jarang yang menempuh pendidikan tinggi. Tingkat SMA saja sudah tergolong tinggi. Jadi kalau ada perempuan muda menjadi mahasiswa, di ITB pula.... ini sesuatu banget deh.... 

Menjadi sesuatu karena, tentu kita bisa menduga bahwa ibu Soen bukan berasal dari keluarga sembarangan, minimal dilihat dari status sosial maupun intelektualitas keluarganya. Lalu... sebagai orang yang setidaknya pernah mengenyam pendidikan pada jaman penjajahan, tentunya punya kemampuan berbagai bahasa asing yang sangat baik.

Nah soal intelektualitas ini yang sangat mengagumkan. Pertama .... bacaannya itu lho ... Luar biasa luas dan ragamnya, terutama yang berkaitan dengan sejarah. Saya seringkali malu sendiri, kalau di kelas kami sudah bicara mengenai sejarah... Malu karena sebagai generasi yang lebih muda, pengetahuan umum saya ternyata sangat tidak sebanding dengan pengetahuan ibu Soen. Belum lagi pengetahuan musik klasiknya .... Luar biasa... Jadi pantas sajalah kalau hingga usianya mencapai 70 tahun, ibu masih diberi kesempatan mengajar di salah satu universitas swasta terpandang, setelah sebelumnya ibu juga memiliki usaha di bidang interior ...

Kualitas ibu yang bijak dan rendah hati juga sangat terasa saat mendengar cerita-ceritanya. Siapa yang menyangka, kalau selain pernah jadi pengusaha, pengajar universitas dan pemegang saham salah satu media besar di Indonesia, suami ibu Soen juga pernah menduduki jabatan duta besar dan menjadi petinggi di institusi keamanan negara yang sangat berkuasa. Namun saat kita mendengar cerita apapun yang keluar dari mulutnya... tidak pernah terasa suatu kesombongan terlontar. Ceritanya begitu saja mengalir seperti menceritakan sesuatu yang "banal". Seperti menceritakan sesuatu yang nggak penting, gitu lho ....

Begitu juga saat ibu bercerita apa saja tentang keluarganya. Tentang anak-anak, menantu, cucu-cucu, supir (namanya Parimin atau Wagiman ya...? atau keduanya memang ada di rumah ibu?) dan anjing-anjing yang harus diurusnya. Semua mengalir begitu saja... tanpa ada rasa "marah, benci, kesal atau apapun juga yang berkonotasi negatif". Semua diceritakan dengan nuansa yang positif dan menyenangkan. Ibu Soen selalu bercerita dengan rasa bangga, apapun isi ceritanya.... Bangga pada anak, menantu, cucu bahkan pada orang-orang yang pernah berhubungan dengannya termasuk juga saat bercerita tentang mantan menantunya. Tidak ada sama sekali nada keluhan. Semuanya selalu dalam nada positif. Tidak mengherankan, banyak yang merasa kehilangan dengan kepergiannya.

Satu hal yang membuatnya bersedih berkepanjangan, adalah kehilangan kakak perempuannya, yang sering disebutnya "teman berantem" yang sehati. Sejak kakak perempuannya meninggal dunia, Ibu Soen seperti kehilangan gairah hidup. Statusnya di facebook penuh dengan kenangan kepada sang kakak. Kelas bahasa Perancis yang semula diikuti tanpa absen, sudah sangat sering ditinggalkannya, bahkan betul-betul ditinggalkan pada 2 term terakhir ini.  Kepergian sang kakak rupanya membawa pergi seluruh semangat hidup ibu Soen yang kemudian membuat kesehatannya menurun secara gradual hingga akhirnya ibu menghembuskan nafas terakhirnya. 
***
Akhir tahun 2015 yang lalu, saat baru kembali dari perjalanan wisata ke Jawa Timur, saya menerima sms dari salah satu teman kuliah yang kebetulan sepupu dari suami pertama ibu Soen, memberitahukan bahwa ibu masuk rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan. Kebetulan saat itu masih libur akhir tahun, sehingga saya ditemani anak gadis saya yang sedang libur semester, mengunjunginya. 

Ibu Soen terlihat segar dan banyak cerita yang keluar dari mulutnya. Anak saya terlihat kagum campur heran bahwa di usianya yang sudah lanjut dan dalam kondisi sakit begitu, ibu Soen terlihat rapih, tidak jauh berbeda dengan hari-hari saat mengikuti kelas bahasa Perancis. Dengan penuh semangat ibu bercerita bahwa keesokan harinya beliau diprediksi akan diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Kesehatannya dianggap cukup prima, walau ada keluhan di jantung yang konon disebabkan ada gangguan pada enzimnya. Tapi secara umum, tidak ada gangguan berarti pada ritme kerja di jantungnya....

Tentu saja, saya tidak menyangka bila tepat 2 minggu kemudian, seorang sepupu saya yang pada bulan September 2015 lalu menikah dengan kemenakan menantu ibu Soen, mengabarkan bahwa ibu masuk rumah sakit kembali dalam kondisi koma. Kaget tentu saja, tapi saya tidak bisa segera menjenguknya karena kebetulan gusi saya sedang bengkak ..... dan... so pasti sakitnya adalah biang segala sakit di dunia .... Sakit gigi itu, lebih sakit dari putus cinta, hehe ....

Jadi yang bisa saya lakukan adalah memberitahu semua kenalan yang saya pikir "pasti mengenal" ibu Soen dan bisa saya hubungi, terutama dari kelas bahasa Perancis. Saya juga berniat untuk menjenguknya, walau tidak yakin apakah kondisi ibu bisa pulih dan sadar dari status koma. Tapi suami saya memberi semangat... "nggak apa... datang saja... ibu Soen pasti tahu, kalau kamu datang...."

Jadi, .... saya membuat janji dengan salah satu teman sekelas, untuk menjenguknya pada hari minggu sore 17 Januari 2016. Di rumah, saya sudah mengatur jadwal acara, akan berangkat sore hari sebelum waktu shalat maghrib dan ke rumah sakit usai shalat maghrib di salah satu masjid di bilangan jalan Karang Tengah dan setelahnya, kami bertiga akan makan malam bersama. Teman saya yang kebetulan menginap di rumah kakaknya di Lebak Lestari akan menunggu di lobby rumah sakit. Begitu kira-kira rencana yang sudah dibuat..

Tapi ..... apa boleh buat, rupanya niat menjenguk ibu Soen berubah. Memaksa kami untuk mengubah jadwal acara.... Sore itu, sesuai rencana, kami keluar rumah dan shalat di masjid sebagimana yang sudah direncanakan, lalu makan malam dulu untuk kemudian pergi ...... ke rumah duka ....

Ibu Soen ....,
Sekarang tidak akan ada lagi orang yang menelpon saya,
Pagi hari .... atau siang hari saat jam kantor ...
Atau bahkan malam hari ....
Untuk memberitahukan 
bahwa di hari Sabtu ...
Ibu berhalangan hadir di kelas

Atau menanyakan kapan hari terakhir kelas 
atau jadwal pendaftaran sesi baru
Atau bahkan hanya sekedar memberitahu 
Bahwa ibu sedang tidak fit ....
Ingin ngobrol, mungkin ....

Sungguh, saya seringkali malu,
Bahwa saya seringkali lupa menelpon ibu,
Menanyakan kabar ....
Saat ibu tidak hadir di kelas .....
Ah ....
Betapa pemalasnya saya ....

Semoga ibu senang berkumpul kembali dengan ibu Lily ya....
Rest in peace bu ...  

Selasa, 01 April 2014

I LOVE YOU son .......

Saya memiliki sepasang anak; lelaki dan perempuan. Namun saya lebih sering mengatakan bahwa saya memiliki 2 (dua) orang anak tunggal. Tentu banyak yang bertanya, mengapa demikian.

usia 1 tahun
Anak saya yang pertama, lahir pada jaman kami masih hidup dalam keprihatinan. Jauh dari sanak saudara, terpencil dalam belantara lautan kosmopolitan. Saat itu, kami tinggal di kota dan bahkan di apartemen berlantai 15 dimana berbagai bangsa, bahasa dengan berbagai warna kulit bertempat tinggal. Parahnya …. kota kecil tempat tinggal kami juga lebih dikenal sebagai kantung pemukiman immigrant berkulit hitam walaupun penduduk lokal (warganegara setempat) juga tak kurang banyaknya. Kota kecil yang berjarak hanya beberapa kilometer di utara Paris ini sebetulnya jauh lebih bersih daripada kawasan tempat tinggal kami sekarang. 

Le Clos Saint Lazare …. itu nama lingkungan apartemen atau lebih tepat disebut HLM (habitation a loyer modere–setara dengan rusunawa alias rumah susun sewa sederhana di Indonesia), cukup bersih dan tertata baik, kecuali kalau kita sudah masuk ke dalam bangunannya. Kesenjangan sosial ekonomi dan gaya hidup antara penduduk asli dengan para imigran kelas bawah (buruh) pasti berdampak pada cara kita memandang dan menerapkan kebersihan. Suara musik yang menggelegar tidak pandang waktu dari unit penghuni berkulit hitam, membuang sampah rumah tangga tidak pada tempatnya membuat koridor yang menghubungkan lift lobby ke unit–unit apartemen berbau busuk. Tapi …. Itulah bangunan tempat tinggal kami kala itu. Tempat dimana apartemen yang disediakan organisasi yang mengurus para penerima beasiswa dari pemerintah negeri tersebut berada.

Semula, kami pikir, kekumuhan itu terjadi karena bangunan tempat kami tinggal adalah bangunan umum. Maksudnya, penduduk apartemen tidak semata-mata dari kalangan keluarga mahasiswa, tetapi juga dihuni dan disewa oleh masyarakat umum, golongan berpenghasilan rendah. Ternyata …. Kondisi unit apartemen yang khusus disediakan untuk mahasiswa dan keluarganya yang sebagian besar adalah mahasiswa asingpun tidak jauh berbeda. Kesimpulannya … kesenjangan ekonomi dari negara asal mahasiswa para penghuninya menjadi salah satu sebab.

Kembali pada kelahiran anak pertama saya itu, selain memang banyak kenangan baik suka maupun duka yang menyertainya, namun sebetulnya banyak  sekali hikmah dan berkah dibaliknya yang sekarang menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan…. Yang menyiratkan ketegaran perjuangan anak manusia.

Kelahiran itu juga terjadi pada masa bom masih kerap meledak di ibukota Negara tempat kami tinggal. Hampir setiap minggu …. Saat Libanon baru mulai bergejolak. Saat perjuangan suku Kurdi masih menghangat. Di sana ..... l’hopital Saint Denis, 8 April 1983 jam 23.45, jauh dari keluarga besar ......
***

Sementara anak kedua lahir 15 tahun kemudian, saat kehidupan kami sudah sedikit lebih mapan. Sama–sama lahir di kota kecil yang berada di pinggiran ibukota Negara. Hanya …. mungkin gengsinya yang berbeda. Si kakak lahir di pinggiran ibukota Negara Perancis sementara si adik lahir di kota pinggiran ibukota Negara Indonesia. Itu sebab si adik selalu menggerutu atas perbedaan kota kelahirannya. Apa boleh buatlah …. Allah SWT mentakdirkan demikian bagi kelahiran dua anak kami.
***

Nah ….. kali ini saya ingin cerita tentang masa kecil si sulung. Pada saat umurnya menginjak bulan ke 15, kami kembali ke Jakarta. Buat saya, itulah kali pertama menginjakkan kaki kembali ke bumi Pertiwi setelah meninggalkannya 4 tahun sebelumnya. Kalau dulu saya berangkat sendiri, maka kali ini kembali ke rumah, boyongan bertiga. 

Sebagai cucu pertama di keluarga saya, si sulung tentu dimanja seisi rumah. Kala itu, di keluarga, baru saya saja yang menikah Belum selesai kuliah pula ...... Praktis seluruh perhatian ke dua orangtua dan adik–adik saya tercurah pada si mungil yang lucu itu. Wajah mungilnya memang menggemaskan dan sebagai anak kecil yang biasanya selalu “gratilan” … alias tidak bisa melihat benda tergeletak di atas meja, maka si sulung ini termasuk anak yang apik. Dia kurang tertarik untuk “merusak” benda - benda di atas meja, tetapi lebih “terpelajar”. Lebih suka mengganggu bapaknya yang sedang bekerja di depan monitor komputer. Jadilah dia akan selalu meminta duduk di pangkuan si bapak untuk menekan-nekan key–pad. Tentu saja si bapak memperkenalkan huruf–huruf dan angka yang tertera. Perkembangan nalarnya jauh lebih cepat daripada umurnya.

Setiap kami keluar rumah, sambil lalu, kami juga memperkenalkan setiap benda yang ada di sepanjang perjalanan. Apakah itu jenis dan merek mobil, huruf – huruf pada baliho begitu juga dengan patung penghias kota.
 Jadi ... belum masuk sekolah, dia sudah mengenal huruf walaupun belum hafal seluruh abjad.

Suatu kali, saat berjalan-jalan, kami lewat kawasan Kwitang ... Kami memperkenalkan Patung pak Tani yang ada di depan hotel Aryaduta. Sebetulnya, patung itu bukanlah patung petani, tetapi patung angkatan ke 5. Pada era pra 1965, ada wacana untuk mempersenjatai rakyat sebagai bagian dari angkatan bersenjata, Karena pada waktu itu Indonesia sudah memiliki 4 angkatan, yaitu Angkatan Darat–Laut–Udara dan Kepolisian, maka rakyat yang dipersenjatai itu disebut angkatan ke 5. Rakyat diwujudkan dalam bentuk lelaki dengan caping bambu yang menjadi cirri khas petani. Itu pula sebabnya patung angkatan ke 5 tersebut lebih dikenal sebagai patung pak Tani.

saat usia 3 tahun
Nah … kembali pada topik …. 

“Nah di depan itu…… patung pak tani…!”
Si sulung mengangguk–anggukkan kepalanya… tanda mengerti. kami lalu mengambil jalan Cut Mutia dan jalan HOS Cokroaminoto.

Sambil pulang menuju tempat kediaman kami saat itu, Rawamangun, kami melewati depan gedung Bappenas dimana, saat itu masih ada patung seorang ibu dengan 4 orang anak–anaknya di setiap sudut. Si sulung langsung berteriak senang....
"Mama ... mama ... itu ada bu Atung dan anak Atung ya....?"

Saya bingung sebentar ...
“Oh ….. itu patung ibu Kartini …. (eh apa betul itu nama patungnya ya?)” sahut saya membetulkan.
“Bukan mama …… itu bu Atung dan anak Atung …….!!!”, sahutnya lagi …
“Iya ….. iya …. Bu Atung dan anak Atung ….” Jawab saya sambil menahan tawa ...
Antara lucu, gemas tapi sekaligus kagum dengan kejelian nalarnya
Rupanya si anak mengasosiasikan patung (pak tani), patung dengan wujud lelaki tua menjadi pak Atung ... sehingga patung perempuan dengan pakaian khas ibu Indonesia berkain kebaya disebut bu Atung dan patung ke empat anak–anak yang mengelilingi patung ibu menjadi anak–anak Atung...



Ganti si anak yang bingung melihat ibunya tertawa, dan tetap tidak bisa menerima penjelasan bahwa patung adalah nama benda. Bukan sebutan atau panggilan seorang bapak bernama Atung sehingga layak dipanggil pak Atung.
***
Kejadian ini memang sudah lama sekali .. Saya ceritakan kembali untuk menghormati dan mengingat kembali si sulung yang kini tinggal jauh dan akan berulang tahun ke 31 tanggal 8 April 2014 yang akan datang.


You are always in my heart, son …. I love you…….

Sabtu, 01 Februari 2014

Bukan rasis atau sara

Hari ini 1 Februari 2014. Hari ke 2 di tahun kuda menurut penanggalan Cina. Kemarin malam, pas tahun baru, kami sempat keluar rumah. Tepatnya ke PIM untuk memanfaatkan waktu kebersamaan keluarga. Mumpung anak gadis kami ada di rumah, yaitu setiap akhir minggu. Jadi kami memanfaatkannya untuk makan malam di luar rumah dalam suasana yang sedikit berbeda. Bukan saja suasana ruang tetapi juga menu makanannya.

Tulisan ini tentu bukan untuk menulis apa yan kami makan, yang kebetulan juga menu masakan Cina di salah satu resto Cina halal. Minimal menurut tulisan di dindingnya ... no pork & no lard. Atau juga bukan untuk mengulas hiasan yang tergantung di PIM terutama di PIM2 yang semuanya bernuansa merah. Saya hanya ingin menulis tentang lafal atau pengucapan kata dalam suatu bahasa.
***

Sudah beberapa waktu ini saya baru menyadari bahwa di radio atau televisi, kata CINA ternyata tidak diucapkan dengan suara "cina" dengan ucapan bahasa Indonesia tetapi diucapkan "caina" (China) dalam lafal bahasa Inggris. Semula, hanya satu atau beberapa penyiar televisi saja, yaitu di salah satu stasiun tv berita. Tetapi ..... lama kelamaan, ternyata semua penyiar televisi dan bahkan penyiar radio tidak lagi menyebut Cina dengan lafal bahasa Indonesia, tetapi China dengan lafal bahasa Inggris, yaitu "caina".

Andai saja lafal menurut bahasa Inggris itu diucapkan ketika membawakan berita berbahasa Inggris, saya masih bisa memakluminya. Tetapi .... tampaknya, saat ini ucapan kata Cina dengan lafal Inggris sudah menjadi lafal standar pemberitaan. Saya tidak tahu apakah di stasiun televisi itu ada orang/editor yang bertugas melatih dan mengkoreksi pelafalan setiap kata dalam berbagai bahasa agar pengucapannya sesuai dengan bahasa yang dibawakan penyiar tersebut. Kalau ada .... bagaimana dia bisa meloloskan pengucapan kata yang bertentangan dengan kaidah pengucapan dalam bahasa Indonesia.

Jelasnya ....... kalau penyiar sedang membawakan acara berbahasa Indonesia, maka seluruh ucapan bahasanya harus sesuai dengan kaidah ucapan/lafal bahasa Indonesia. Begitu pula kalau sedang berbahasa Inggris, Cina, Arab, Perancis atau bahasa lainnya. Tentu pengucapannyapun harus sesuai dengan kaidah pengucapan bahasa terkait. Karena, apabila kita salah mengucapkannya maka para penutur bahasa tersebut tidak akan mengerti apa yang diucapkan/diberitakan.

Berkenaan dengan kata Cina, saya ingat sekali bahwa saat saya kecil dulu, saya selalu dilarang oleh orangtua menyebut kata Cina kepada tetangga, kenalan atau siapapun yang berasal dari etnis Cina. Saya selalu dianjurkan untuk membahasakannya dengan kata Tionghoa. Saya memang tidak terlalu mengerti dan tidak juga mempertanyakan sebabnya. Cukup dipatuhi saja, namun saya menduga bahwa penyebutan kata Cina itu selalu dilakukan orang saat marah atau dengan nada menghina, terutama pada awal tahun pemerintahan era Suharto. Mungkin itu sebabnya, orangtua saya melarang penggunaan kata Cina untuk penyebutan teman, tetangga, kenalanan atau siapapun yang berasal dari etnis/suku bangsa Cina.

Saya sendiri merasakan suka duka, dampak dari kata Cina tersebut.
Konon .... nenek dari kakek saya, jadi saya adalah keturunan ke 5nya; adalah perempuan Cina totok yang masih memiliki kaki pendek yang terbelenggu oleh sepatu besi (?), sebagai bentuk tradisi Cina jaman dahulu kala. Perempuan yang konon kabarnya anak dari penguasa klenteng (sekarang) di kawasan Ancol ini menikah dengan lelaki keturunan Jerman yang memiliki nama keluarga Muller. Dari pernikahan 2 orang berbeda bangsa itu, beranak pinak, dimana anak-anaknya, yang berjumlah 3 orang, kebetulan berjenis kelamin perempuan semua, keseluruhannya menikah dengan lelaki Indonesia asli. Mereka konon menyebar di 3 wilayah pulau Jawa. Jawa bagian barat yaitu di Jakarta berbaur dengan masyarakat Betawi sehingga keturunannya merasa dan tentunya mengaku sebagai etnis Betawi..... Lalu yang di Jawa Tengah beranak-pinak di kawasan Rembang serta di Jawa Timur, menyebar dari Malang. Mereka yang beranak pinak di Jawa Tengah dan Jawa Timur tentu lekat dengan budaya Jawa.

Akibat dari leluhur Cina tersebut atau mungkin sayangnya .... ternyata ada gen kuat dari perempuan Cina tersebut yang menurun pada saya dan bahkan kepada anak perempuan saya ........, walau anak perempuan saya memiliki kulit sawo matang, yaitu .... saya dan anak perempuan saya bermata sipit. Padahal .... adik saya lainnya ada yang berkulit sawo matang. Kalaupun ada yang berkulit "putih", maka matanya tidaklah sipit, sehingga mereka "lolos" dari olok-olok sebagai orang Cina.

Bayangkan  .... kalau anak saya saja, pada abad ke 21 ini, era dimana diskriminasi terhadap etnis Cina sudah dihapuskan oleh Gus Dur saat menjabat presiden, sering diledek teman2nya sebagai Cino Ireng ... apalagi saya yang memiliki kulit agak kuning ... Orang bilang kulit saya "putih" dan bermata sipit. Kloplah kalau disangka sebagai perempuan Cina.
***

Ibu saya cerita, saat saya kecil dulu, kalau saya dibawa ke pasar untuk belanja, maka encik penjual telur selalu menghadiahkan saya sebutir telur. Untuk si amoy .... begitu katanya untuk menyebut nama saya. 

Sebetulnya, saya sama sekali tidak menyadari bahwa mata sipit saya itu bermasalah. Masa sekolah saya yang selalu berpindah-pindah mulai TK-SD ibu Su, Muhamadiyah Jakarta, lalu ke Daya Susila - Garut dan seterusnya hingga akhirnya lulus dari SMA Fons Vitae Jakarta saya lalui tanpa sekalipun merasa adanya perbedaan etnis dengan teman sekolah lainnya karena bentuk mata sipit. Masalah tersebut justru baru timbul saat saya masuk kuliah. 

Ketika itu, saat posma alias pekan orientasi mahasiswa, saya ingat betul ... sempat diinterogasi oleh salah seorang kakak senior. Dia menanyakan asal-usul saya. Untuk meyakinkan bahwa saya ... mahasiswa baru bermata sipit ini bukan berasal dari etnis Cina, tetapi betul-betul lahir dari pasangan bapak beretnis Betawi-Sunda dan ibu dari Sumatera Barat seperti pengakuannya.

Mungkin saya beruntung, ada salah satu senior yang sudah kenal keluarga saya. Tapi .... sebagai akibatnya, selama posma tersebut saya "disuruh" menempelkan celotape pada kelopak mata agar mata saya menjadi sedikit lebih bulat. Tidak terlihat sipit. Lama setelah itu suami saya yang saat itu berstatus pacar, sempat bercerita bahwa dia juga ditanyai beberapa temannya...
"Kok pacaran sama perempuan Cina sih ....?"
Lho .... apakah salah....?

Ketidaknyamanan menjadi orang yang dianggap mengaku Indonesia tetapi memiliki wajah seperti perempuan Cina, tidak berhenti sampai disitu. Terus berlanjut ketika akhirnya saya masuk ke dunia kerja. Memang ada enaknya, karena saya menjadi mudah diterima di kalangan etnis Cina tetapi .... saya sungguh merasa sangat lelah justru tatkala masuk ke lingkungan masyarakat berkulit sawo matang karena seringkali harus menjawab berbagai ragam pertanyaan untuk mengkonfirmasi asal usul keluarga. Rasanya sungguh sangat menyakitkan..... Adakah yang salah dengan saya? 

Baru setelah saya memakai jilbab, maka pertanyaan tersebut, hilang. Atau bahkan sangat mungkin, sekarang ini ada yang menganggap saya sebagai muallaf... dan kalau benar, alangkah ironinya hidup saya....

Eits.... kembali ke topik awal ....
***

Kini ...., entah sejak kapan, pengucapan Tionghoa malah sudah sangat jarang terdengar. Kita sudah terbiasa mendengar kata Cina di mana saja. Konon, menurut mas Saptono, senior saya di masa kuliah dulu, penyebutan Cina atau China merupakan imbauan pemerintah Cina kepada pers di seluruh dunia untuk menggantikan kata Tiongkok

Sebagai orang yang mengalami sendiri berbagai suka duka berkenaan dengan etnis Cina. Pernah mendapat berbagai penolakan dan perlakuan rasisme di negara yang memiliki semboyan liberte, egalite & fraternite, sesungguhnya saya berusaha untuk tidak melihat dan memperlakukan siapapun berdasarkan warna kulit atau asal muasalnya. Saya merasakan betul sakitnya menerima perlakuan rasis.

Jadi kalau saya menyoal tentang Cina atau China (dengan lafal Inggris), bukan karena unsur rasisme tetapi hanya sekedar lontaran pertanyaan .... Mengapa kita harus melafalkan Cina dengan lafal bahasa Inggris dalam pemberitaan bahasa Indonesia.

Para pakar bahasa Indonesia ... editor/korektor bahasa di stasiun televisi dan radio ... ayo dong, koreksi pengucapan para penyiarnya. Kalau sedang berbahasa Indonesia ..., ucapkanlah segala sesuatunya dalam lafal dan kaidah bahasa Indonesia. 

Kita perlu bangga dengan bahasa persatuan ini... Kalau buka kita yang merawatnya dengan menggunakannya dengan baik dan benar ... siapa lagi dong?

Selasa, 13 Agustus 2013

Ketika Allah berkehendak

Siang itu, kira-kira sekitar jam 15.00, ketika lamat-lamat kudengar suara adik lelaki saya bicara. Siang itu saya memang sengaja tidur di kamar anak gadis saya, sambil membaca seri ke 4 buku karangan Thomas Harris. Pembantu rumah masih istirahat di kampungnya.

"Tolong bukakan pintu untuk oom", pinta saya kepada anak gadis yang sedang browsing di kamarnya. Teringat bahwa pintu masuk ke rumah sudah saya kunci sebelum masuk kamar tadi. Tentu dia tidak bisa masuk rumah dan mengetuk pintu kamar saya yang letaknya bersebelahan dengan kamar anak saya.
"Sudah dibuka bapak", begitu sahutnya.
Saya kemudian bangun. Teringat bahwa saya menjanjikannya untuk memberi seperenam bagian opera cake untuknya.

Sambil berjalan menuju ruang makan, terdengar kehebohan di dapur. Asap menyeruak kelabu masuk ke ruang makan. Kaget, saya segera masuk ke dapur .... penuh asap, pengap namun tidak terlihat ada api sedikitpun. Di lantai dapur terlihat onggokan panci dan potongan segi empat yang hitam legam. Entah apa bentuk awalnya. Adik saya masih sibuk membuka lebar-lebar pintu dan jendela yang berhubungan dengan dapur. Berusaha menghilangkan asap yang memenuhi seluruh ruang dapur, gudang dan kamar PRT yang lokasinya saling berhubungan.

"Gila ..... tahu enggak, tadi aku lihat api berkobar besar... sudah menjilat-jilat ke atas! Untung dapur nggak terkunci. Mana tabung pemadam kebakaran kosong, lagi! Jadi aku ambil aja handuk2, kusiram pake air! Kita beruntung ....., api bisa padam!", begitu cerocosnya melihat saya masuk dapur.

Selain asap yang masih memenuhi dapur, gudang dan kamar PRT yang memang letaknya bersebelahan, praktis tak ada tanda-tanda bekas terbakar. Termasuk juga kitchen cabinet yang terbuat dari kayu, luput dari terjangan api. Mungkin masih terlindung oleh cooker hood.

Saya bingung, bengong .... nggak tahu lagi mesti bilang apa... Jam sudah menunjukkan kira2 jam 15.05.
"Aku tadi lagi di rumah sakit, habis antar Yuli. Trus kok perasaanku terasa enggak enak. Jadi langsung aja kutinggal dia dan cepat-cepat kesini. Aku kaget lihat api di dapur, gede banget...., sampe nggak sempat matiin mobil. Panik .... untung ada banyak handuk. Jadi api aku matiin pake handuk basah", lanjut cerita adikku.
"Kenapa sih....?", tanya suami kebingungan
"Nggak usah diomongin lagi", sahut saya, agak nervous, seraya meminta adik saya membuang semua bekas-bekas barang yang terbakar termasuk panci.

Masih dalam kondisi antara sadar dan tidak, saya hanya bisa mengucapkan ....
Alhamdulillah ....
Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Pelindung .....

Andai tak digerakkanNya hati dan perasaan adik lelaki saya itu, entah apa yang sudah terjadi dengan rumah peninggalan ibu saya ini. Mungkin sudah tinggal puing-puing hitam legam dan debu. Saya tidak bisa menafikan campur tangan Allah SWT, walau tidak melihat dengan sendiri seberapa besar api. Tapi .... melihat betapa sendok kayu sepanjang 30 cm hanya tinggal 10 cm serta talenan kayu sudah gosong menghitam dan sudah tinggal setengah ukuran semula, tentu seperti apa yang diceritakan adik saya, bahwa api memang sudah berkobar besar dan menjilat kesana-kemari. Ngeri membayangkannya, apalagi ... di bawah kompor, ada tabung gas.

Saya teringat, sekitar jam 13.00, adik lelaki saya datang ke rumah meminjam mobil suami untuk mengantar adik perempuan yang lain ke rumah sakit. Saat itu saya menawarkannya untuk membawa pulang sayur labu siam untuk makan siang di rumah, karena istrinyapun baru saja kembali dari dokter sehingga mungkin mereka belum sempat masak. Untuk itulah saya menghangatkan sayur tersebut.
"Ya ..., nanti aku ambil sesudah dari RS, sekalian ambil opera cake nya", begitu sahutnya

Entah mengapa, usai menutup pintu pagar, saya langsung menutup dapur, lalu membawa buku dan masuk ke kamar anak gadis saya. Sedikitpun tak teringat bahwa saya sedang dan masih memanaskan sayur di dapur. Bila dihitung waktu, saat adik saya meninggalkan rumah hingga saat saya terbangun, maka ada jeda 2 jam. Jadi selama itulah kompor menyala tanpa seorangpun melihat dan menyadarinya.

Tentu saja tidak ada satu orangpun yang tahu ... Suami sedang tidur di kamarnya, anak saya sejak pagi asyik browsing di kamar. Lha ... saya yang menyalakan kompor saja sama sekali tidak ingat. Bagaimana lagi dengan orang lain?  Pantas saja kalau isi panci kering-kerontang dan panci menjadi luar biasa panasnya sehingga mampu membakar sendok kayu serta talenan kayu yang menutupinya

Sungguh ...... saya shocked berat dengan kejadian ini. Ini adalah kejadian ke 3, lupa mematikan kompor gas dan seharusnya tidak boleh terjadi lagi kebodohan ini. Saya tidak boleh lagi berdalih faktor umur menyebabkan saya menjadi pelupa, tetapi harus lebih berhati-hati. Tidak boleh lagi meninggalkan kompor menyala untuk melakukan hal lain sambil menunggu mendidihnya air atau masakan.  Multitasking tidak boleh dilakukan saat memasak, kecuali area kerjanya masih di dapur juga.

Sungguhpun kita percaya bahwa Allah SWT Maha Pelindung umatNya, tapi sebaiknya kitapun berusaha untuk selalu berhati-hati. Wa Allahu alam

Sabtu, 01 Juni 2013

GOSONG JILID KEDUA

Sejak sekitar satu bulan yang lalu, assisten dan penguasa dapur rumahku, sudah wanti-wanti minta ijin libur week end. Kakak kandungnya yang tinggal di wilayah Karawang mau mantu. Jadi sebagai salah seorang kerabat dekatnya yang dianggap paling "mampu", sang penguasa dapur ini diminta untuk hadir. Maunya sih dijadikan juru masak juga, karena dia memang piawai dalam hal masak memasak terutama masakan lokal.

Untuk ukuran "kampung", dia juga dianggap piawai mengolah masakan "berkelas" seperti spagety, macaroni schotel, kentang panggang siram keju dan sejenisnya yang jadi favorit anak2, yang menurut ceritanya, sering dipraktekkannya saat libur lebaran selama 2 minggu di kampungnya di Cimahi/Cihampelas sana, walau untuk jenis masakan ini, "taste"nya belum cocok dengan "taste" kami. Hal ini pula yang membuat sang kakak sedikit cemas, lantaran dia tidak bisa membantu masak-memasak sajian pesta pernikahan itu. Anaknya yang duduk di kelas 2 SMK Grafika harus menempuh EHB hari Senin 3 Juni 2013 ini, sementara pesta berlangsung hari Minggu malam. Nah ..., siang tadi setelah anaknya kembali dari sekolah dan makan siang, mereka berangkat ke Karawang.


sayur kering kerontang
Malam ini, saya dan anak gadis yang menghabiskan waktu week end nya di rumah, di temani oleh tukang kebun, menjadi penunggu rumah. Bapak ....., ada acara keluarga besarnya. Kumpul-kumpul, merayakan ulang tahun beberapa anggota keluarga, yaitu adik-adik dan keponakan-keponakannya di rumah peninggalan ibu mereka. Karena si bapak tidak ada di rumah, maka menu dan acara makan malam jadi agak "suka-suka". Tidak wajib duduk manis di meja makan, walau segelas perasan jeruk Pontianak setara dengan 3 - 4 buah, menjadi minuman wajib pembuka makan malam. Mumpung lagi musim ... Kalau nggak diperas, mana mungkin menyantap 4 buah jeruk sekaligus. 1 buahpun kadang tak habis dimakan.

Di kulkas, ada lontong yang tadi pagi saya beli di pasar. Masih ada sayur waluh berkuah santan encer berwarna merah cabe. Masih ada ayam masak lada hitam. Jadi ... cukup untuk makan malamku dan kang kebon yang asli Cihideung - Bogor. Si anak, biar nanti dipesankan lasagna dan steak with pasta. Delivery order dari Izzi Pizza yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah

Karena masakan bersantan itu disiapkan sebelum sang penguasa dapur, pergi ke Karawang, maka "si dia", wajib dihangatkan dulu supaya tidak basi, berikut sisa sup makaroni anakku. Cukup untuk makanan pembuka malam ini. Maka ...... kunyalakan kompor .... Yang ini, lancar jaya, nggak masalah. Walau bagaimana, turun ke dapur dan masak-memasak sederhana masih bisa dan biasa saya lakukan. Setelah ke dua panci tersebut bertenger di atas stove, kutinggal sebentar ke dalam .... Dalam pikiranku, 5 - 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk menghangatkan ke dua jenis makanan itu, bisa kumanfaatkan untuk membereskan meja makan atau apalah. Daripada benging di depan panci. Toh sudah tidak ada suatu apapun yang dilakukan, kecuali menunggu makanan tersebut panas dan mendidih.

Begitulah .... tiba di meja makan, masih ada 3 buah risoles yang saya beli tadi siang di IF alias l'Institute Francaise di jl. Wijaya itu dan lupis ketan yang dirapikan lagi. Koran dan majalah yang berserakan .... tanpa sadar, wilayah jelajah melebar ke kamar ... ambil gadget, MacBook Pro dan lain-lain. Asyik meneruskan browsing rumah yang semalam kulakukan .... Apalagi teringat ada kiriman beberapa email dari rekanku di Surabaya mengenai prospek proyek yang tadi pagi dalam perjalanan ke IF, sempat diberikan komentar, walau filenya sendiri belum dilihat.

Asyik browsing hingga datang waktu shalat maghrib dan kemudian  kesibukan beralih untuk menelpon Izzi Pizza untuk meminta delivery order, pesanan si gadis .... yang tidak mendapat respons. Mungkin petugasnya super sibuk baik layanan on site, take away atau delivery order seperti biasanya malam Minggu, dimana sebagian penduduk Jakarta menghabiskan waktu di luar rumah atau menyantap makanan yang sedikit berbeda dari keseharian.

Karena hingga 15 menit usaha menelpon gatot alias gagal total, maka saya melangkahkan kaki ke belakang, mancari kang kebon, memintanya pergi membeli pizza.

Dia sedang asyik menggosok-gosok panci dan dari dalamnya dia menunjukkan gumpalan-gumpalan makaroni. Keduanya sudah sama-sama menghitam dan legam garing ..... Dapur juga sudah bau gosong ...... Halaaaaaah ....... Sudah nggak bisa kasih komentar apa-apa lagi. Malu sama kang kebon ...., sekaligus ingin ketawa, menertawai kebodohan dan keuzuran.

Ini adalah kali ke dua .... kebodohan yang berulang ....
Konon ada peribahasa bahwa keledai (yang bodohpun) tidak akan pernah terperosok ke dalam lubang yang sama. Jadi .... kalau saya melakukan kebodohan yang sama, apapun alasannya, maka saya ternyata lebih bodoh dari keledai ya .....

Selasa, 23 April 2013

MENULIS ..........

Aku....? Jelas bukan penulis... kalau julukan penulis itu harus diartikan dengan memiliki buku yang sudah dicetak/diterbitkan dan kemudian dipasarkan lalu dibaca orang. Walau begitu, mungkin bukan kebetulan kalau di kantor, itu yang namanya tulis-menulis, hampir selalu atau lebih tepatnya sebagian besar terpaksa dan dipaksa mampir ke mejaku dulu sebelum persetujuan akhir dari big boss. Entah sejak kapan hal itu terjadi.

Awal "berkenalan" dengan big boss, beliau masih menjadi executive di salah satu anak perusahaan milik salah satu pengusaha pribumi yang cukup kondang di negeri gemah ripah loh jinawi yang sampai saat ini masih belum mampu membuat rakyatnya makmur dan sejahtera. Hubungan kerjaku dengannya tidak terlalu dekat, bahkan tidak pernah berhubungan langsung, kecuali saat big boss di awal tahun 90 bermimpi membuat Mall di Bekasi, setelah melihat kesuksesan Pondok Indah Mall. Ini terjadi sebelum berdirinya Metropolitan Mall yang berlokasi di gerbang toll Bekasi Barat. Saat itu, mengetahui aku pernah bekerja dan kenal dengan perencana lokal yang menjadi partner perencana utama Pondok Indah Mall, maka aku diminta menjadi penghubungnya. Itulah yang menjadi awal hubungan kerja langsung, tapi tidak juga mendekatkan kami.

4,5 tahun kemudian, saat beliau memegang tampuk jabatan sebagai ketua umum organisasi tempat kumpulnya para pengusaha dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai executive di perusahaan tersebut, beliau menawariku untuk bergabung di perusahaan yang didirikannya. Aku turut bergabung, bukan karena iming-iming materi, tapi memang karena setelah pergantian pimpinan perusahaan, suasana kantor lama terasa kurang kondusif lagi buatku.

Saat itu, sekitar pertengahan tahun 90an, untuk urusan tulis menulis beliau yang konon sejak masa mahasiswa adalah aktifis organisasi, ada satu wartawan dari satu media massa yang membantunya. Entah bagaimana cara kerjanya, yang pasti sang wartawan cukup sering mondar-mandir ke kantor. Maklum saja, jaman itu .... internet masih jadi barang aneh yang tidak banyak disentuh orang. Di rumah .... cuma suamiku yang mulai menggunakan korespondensi dengan email. Sementara aku baru mulai kenal dengan email tahun 1996, saat suamiku pergi ke Jerman untuk selama 3 bulan dan untuk kepentingan saling berkirim kabar itulah aku diberikan akses menggunakan email account nya di Indonet, satu-satunya provider email jaman itu. Eits ...., kok malah nglantur ke internet ya? Yuk ah, balik lagi ke urusan tulis menulis....

Aku juga lupa, sejak kapan big boss "mengenali" kemampuanku untuk membantunya dalam hal tulis menulis. Entah apakah melalui surat menyurat di kantor yang sering kulakukan sehubungan dengan pekerjaan atau hal lainnya. Yang kuingat adalah suatu kali doi meminta bantuanku untuk menulis makalah yang akan dipresentasikannya dalam forum panel diskusi dimana beliau menjadi salah satu pembicaranya. Usai acara tersebut, aku diberi amplop yang berisi uang cukup besar ... kalau tidak salah sekitar satu juta ..... Honor sebagai pembicara, karena amplop dengan label panitya, masih utuh tak terbuka, yang kemudian, sebagian habis untuk mentraktir teman sekantor, dan sebagian lagi masuk dalam pundi-pundi tabungan. Itulah honor yang pertama dan terakhir hahaha ....., Bukan karena doi nggak pernah jadi pembicara lagi. Mungkin lebih tepat disebut karena memang, seiring dengan waktu, beliau kemudian menolak honorarium dari panitya.

Apa yang ditulis...?
Macam-macamlah .... sesuai dengan kepentingannya. Entah karena jabatan organisasi yang disandangnya, topik-topik seminar/panel diskusi yang mengundangnya sebagai pembicara, pers release perusahaan, advertorial, resensi buku sampai pada artikel yang berkaitan dengan kampanye elektoral dan belakangan ini naskah sambutan/pidato. Pokoknya macam-macam deh .... Jadi ragam isinyapun bermacam-macam. Bisa tentang Real estate (perumahan/pemukiman dan Lingkungan), ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya.

Nah .... berkenaan dengan naskah pidato itu, pernah juga aku diminta bantuan untuk menyiapkan naskah pidato yang akan dibaca oleh wapres (saat itu). Entah apakah kemudian naskah tersebut jadi digunakan, entahlah .... Biasanya pejabat negara memiliki tim penulis naskah pidatonya sendiri .... Nggak sembarang naskah bisa diterima. Kalau sekedar masukan dari masyarakat, bisa jadi ada yang diterima. Tapi jadi naskah utama.... wallahu alam.... Aku hanya menulis sesuai arahannya sekaligus sambil meluapkan apa yang ada di pikiranku.

Sekarang, kalau ada surat permintaan makalah seminar/panel diskusi, sambutan dan yang sejenis, sang sekretaris sudah tahu dan langsung mengirimkan 1 kopi surat undangan dan lampiran-lampirannya ke mejaku, supaya aku punya kesempatan mengerti topiknya dan mencari referensi terkait. Setelah itu, biasanya, setelah sang sekretaris memberitahukan tentang undangan tersebut, si boss akan menelpon memberi arahan beberapa stressing  dari isi tulisan yang diinginkannya. Sisanya ....? Suka-sukalah... Apa yang ada di kepalaku bisa kutuangkan semua. Kadang ada issue menarik yang sedang hangat dan luput perhatiannya, bisa masuk dan bahkan akhirnya menjadi topik bahasan utama.

Sejujurnya, kegiatan ini seringkali menyita waktu kerja, apalagi kalau topiknya berat. Untungnya, aku kerja di kantor miliknya pribadi. Jadi rekan kerja yang lain terpaksa maklum kalau aku bilang nggak bisa diganggu karena lagi sibuk "mengarang" atau bahkan kalau kukatakan aku "terpaksa" datang terlambat ke kantor, kalau sudah mendekati tenggat waktu yang kujadwalkan sendiri, sementara kalau kukerjakan di kantor, konsentrasiku bisa buyar karena "gangguan" pekerjaan rutin.

Persiapannya.
Mungkin ini buah dari pendidikan kuno jaman buku pegangan pelajaran bahasa Indonesia masih dikarang oleh Poerwadarminta (maaf kalau salah .... it's been long time ago). Buku itu buatku fenomenal banget. Tokoh dan cerita sangat merakyat, baik isi ceritanya yang lebih banyak berisi kejadian sehari-hari, lokasi maupun nama anak-anaknya seperti Amir, Sudin, Muntu, Tuti .... Cita rasa lokalnya sangat terasa.

Ceritanyapun mengandung banyak hal yang menyangkut budi pekerti, kejadian alam/lingkungan, kesehatan dan lain-lain. Rasanya kalau Kemendiknas mau bikin buku ajar di SD yang konon kabarnya akan bersifat Thematic Integrative sebagaimana dicanangkan dalam Kurikulum 2013, maka buku pelajaran Bahasa Indonesia yang terdiri dari 2 buku yaitu Pelajaran Bahasa Indonesia yang berisi tata bahasa dan Bacaan Bahasaku, sangat layak "dihidupkan" lagi atau minimal menjadi acuan.

Sungguh .... buku pelajaran Bahasa Indonesia itulah yang membangkitkan minat bacaku. Begitu buku tersebut dibeli pada awal tahun ajaran, sudah langsung "kulahap" habis, sebagai pengisi waktu libur. Sehingga saat tahun ajaran dimulai, maka isi buku itu hanya menjadi bacaan ulangan saja. Tapi walau begitu, isi buku pelajaran bahasa Indonesia dan bacaan Bahasaku tersebut sama sekali tidak membosankan. Itulah awal kecintaanku terhadap buku dan bacaan.

Nah.... berkaitan dengan menulis .......! Dulu.... sejak duduk di bangku SD hingga tamat SMA, hal yang kusukai dan mungkin menyebalkan bagi sebagian anak lainnya adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan caturwulan. Jadi minimal ada 3 waktu yang menyebalkan atau menyenangkan buatku. Kenapa.....?
Karena .... pada hari itu, yang umumnya selalu dimulai dengan mata pelajaran bahasa, kami disuruh untuk membuat karangan. Apa saja .... tapi umumnya tentang kegiatan selama libur catur wulan.

Lain dari itu, selama di SMA, setiap murid diwajibkan membaca 1 buku sastra Indonesia setiap tahunnya. Jadi, minimal ada 3 bacaan genre sastra Indonesia, wajib baca. Mulai dari karangan dari  sastrawan angkatan Balai Pustaka,  Pujangga Baru, Angkatan 45 dan lain lain .... Tokoh-tokoh pengarang yang masih kuingat antara lain Sutan Takdir Alisyahbana alias STA, Marah Rusli, Nur St Iskandar, Armiyn Pane, Hamka, Utuy T Sontani, Pramudya Ananta Toer, Achdiat K, Aoh K, Amin Dt Madjoindo dan banyak lagi.

Buku-buku yang fenomenal antara lain Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Azab dan Sengsara dan lainnya ..... yang .... terus terang, aku lupa judul bukunya.... Lagi-lagi ....... it's been long time ago, tak terasa, sudah uzur juga rupanya. Jadi tidak mengherankan bila kemudian anak dan cucu STA berkecimpung tidak jauh dari apa yang sudah dirintis oleh sang God Father - STA, yaitu di dunia percetakan/penerbitan yang kini berkembang sebagai Femina Grup.

Kegemaran dan kebiasaan membaca, membuatku tidak bisa sembarangan saat menulis surat untuk urusan kantor ataupun apa-apa yang diminta big boss untuk keperluan organisasi/politiknya. Aku harus mengerti betul latar belakang tulisan yang akan dibuat dan karenanya dibutuhkan rujukan yang cukup. Bukan saja dari tulisan/buku ditambah dengan berbagai rujukan yang sekarang mudah diperoleh melaui internet, tetapi juga kepekaan terhadap berbagai masalah lingkungan dan kondisi masyarakat. Mungkin terlihat berlebihan, tapi menurutku itu salah satu kunci menulis yang baik dan berisi.

Itu sebabnya, buku yang ditulis oleh Pramudya Ananta Toer, Langit Kresna (serial Gajah Mada) Dan Brown terasa sangat "dalam"
***

Jaman sudah berubah dan kemajuan teknologi rupanya ada dampak negatifnya juga terhadap kemampuan tulis menulis. Kini banyak teman-temanku yang mengeluh bahwa di kantornya, kemampuan tulis menulis rekan kerja terutama para juniornya buruk sekali. Mereka umumnya tidak mampu lagi membedakan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan. Pemotongan kalimat, kata dan suku kata begitu parah .... Bisa jadi, mungkin suatu saat akan ada biro jasa untuk membuat surat. Kita lihat saja....

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...