Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2020

SERI PERJALANAN KE IRAN : 5. Adab berpakaian di Iran ... negara para Mullah

Salah satu yang menjadi kekhawatiran dalam perjalanan wisata ke Iran adalah mengenai bagaimana cara berpakaian. Tidak dapat dipungkiri bahwa status sebagai Republik Islam membuat banyak orang berpikir bahwa tata cara berpakaian maupun hubungan sosial di Iran tidak akan berbeda jauh dengan negara-negara Arab dimana ada pembatasan akses ke dalam kehidupan sosial/ekonomi kepada perempuan, termasuk cara berpakaiannya. yaitu kewajiban menutup aurat dan larangan masuk ke area publik.

Memang ... beberapa tahun yang lalu, boss dan istri pernah mengunjungi Iran untuk wisata, namun tentu saya tidak mungkin meng"interogasi" beliau, menanyakan ini itu sebagai persiapan berangkat ke Iran. Apalagi persiapan kepergian saya cukup singkat dan saat itu, bigboss dan nyonya kebetulan tidak berada di Jakarta.

Jauh sebelumnya, ipar saya yang memiliki menantu perempuan Iran, bercerita bahwa sang menantu yang lulusan Australia itu tidak mungkin kembali ke Iran untuk berkarier di sana. Sebagai engineer, kesempatan memperoleh kerja sesuai bidangnya sangat terbatas. Kondisi di Indonesia sendiri belakangan ini yang sebagian masyarakatnya dianggap terpapar paham Islam radikal  ini tentu turut memicu kekhawatiran untuk berkunjung ke negara-negara berlabel Islam. 

Masalah ini serta cara berpakaian yang sesuai dengan adab di Iran, sempat saya tanyakan kepada Tahereh dan dia memberikan beberapa link yang bisa saya gunakan untuk persiapan.

Akhirnya saya, untuk perjalanan ke Iran ini memutuskan bahwa selain membawa fit-jeans yang biasa saya pakai, sweat shirt dan 2 buah kemeja atau lebih tepat disebut tunik berbahan jeans yang panjangnya menutupi 1/2 paha, saya memutuskan untuk membawa juga abaya hitam yang saya beli di Arab Saudi beberapa tahin yang lalu, untuk berjaga-jaga bila diperlukan untuk dipakai, selain tentu saja membawa overcoat. Dan ketika berangkat, untuk amannya saya memakai kemeja tunik.

Mendarat di Imam Khomeini International Airport, kami segera mengurus entry visa, Pada notifikasi yang kami terima, visa memang akan diterbitkan di airport. Tak banyak yang ditanyakan, kecuali apakah kami sudah memiliki asuransi perjalanan dan dimana kami akan tinggal. Kami perlihatkan sertifikat asuransi serta daftar akomodasi yang dikirimkan oleh Hellopersia.com. Tanpa banyak tanya lagi, setelah membayar tarif visa on arrival tersebut  mereka menempelkan stiker di sampul luar passport. Jadi ..... kekhawatiran teman-teman saya yang menyatakan akan mendapat kesulitan berkunjung ke Amerika setelah berkunjung ke Iran, seharusnya tidak beralasan lagi, karena stiker itu akan sangat mudah dilepaskan kembali. Namun ... tentu berbeda halnya untuk teman-teman kolektor entry visa sebagai bukti perjalanan wisatanya keliling dunia... Mereka tidak akan memperoleh stempel kedatangan dan keluar dari Negeri para Mullah tersebut.

"Anda memasuki/berada di wilayah Republik Islam Iran. Penggunaan Hejab bagi wanita adalah WAJIB" Kira-kira begitulah pengumuman yang tertulis dalam X-banner yang saya baca saat menunggu koper. Saya memang tijdvak terlalu peduli dengan pengumuman tersebut Karena keseharian saya memang menggunakan jilbab/hijab a la Indonesia. Jadi kewajiban yang tertulis di X-Banner tersebut tidak akan berpengaruh terhadap penampilan saya. 

Di luar dugaan .... saya merasa pakaian yang saya gunawan menjadi lebih "tertutup" dibanding dengan perempuan Iran baik muda maupun tua yang dini hari tersbut berseliweran di airport. Perempuan muda semua terlihat sangat modis dengan hejab a la Iranian. Kalau di Indonesia, hejab yang digunakan perempuan Indonesia, biasa disebut sebagai kerudung. Hanya menyampirkan selendang di sebagian kepala sehingga separuh rambut di bagian depan masih terlihat.

Gadis Iran yang jelita dan modis
Pakaian mereka juga sangat modis, seperti layaknya gadis remaja dimanapun di dunia. Kalaupun ada yang berbeda, maka hanya kerudung atau apa yang mereka sebut sebagai hejab itulah, yang menambah "hiasan" kepala mereka. Di luar itu, tak ada. Celana panjang jeans, skinny sekalipun menjadi pakaian mereka. Riasan mata menjadi ciri khas perempuan Iran. Eksotis....

Memang di antaranya banyak yang pengguna chador bisa ditemui dijalan. Perempuan Iran umumnya memakai chador berwarna hitam. Namun chador di Iran sangat berbeda dengan pengertian di Indonesia manakala mendengar kata pemakai cadar, yaitu mereka yang memakai pakaian hitam lebar dan melengkapinya dengan menutup wajah hingga hanya matanya saja yang terlihat.

Di Iran ..., chador adalah kain lebar yang digunakan untuk menutupi bentuk tubuh perempuan. Penggunaannya disampirkan di atas kepala hingga menutupi seluruh tubuh hingga kaki, Seperti pemakai cadar di Indonesia, pengguna chador di Iran juga tida terlalu banyak, apagai pengguna chador hingga hanya terlihat mata saja. Sangat jarang ditemukan.

Chador saat ziarah ke makam Ayatullah Khomeini
Wisata perempuan biasanya diwajibkan menggunakan chador saat mengunjungi situs Wisata kategori suci yang biasanya berupa mausoleum imam/emam dalam kepercayaan Syiah, termasuk saat mengunjungi makam Ayatullah Rohullah Khomeini. Ketika akan memasuki situs wisata tersebut, biasanya pintu masuk wanita dan pria dipisahkan walau di dalam halamannya atau bahkan di masjid (saat ziarah ke makam Imam Khomeini), lelaki dan perempuan bisa bertemu lagi. Kepada saya ditanyakan apakah saya muslimah. Saya tidak tahu apakah kalau saya jawab bahwa saya bukan muslimah, maka akan ditolak memasuki situs suci tersebut atau bahkan diperkenankan tidak menggunakan chador. Tetapi karena saya menjawab sebagai muslimah, maka saya diarahkan untuk meminjam chador.

Rupanya ada perbedaannya .... kepala perempuan Iran akan diberikan chador berwarna hitam polos, sementara kepada perempuan non Iran diberikan chador bermotif bebungaan. Cara elegant dan cerdas untuk mengawasi dan mengetahui keberadaann orang asing di lingkungan tersebut.

Saya juga diberitahu bahwa lelaki/ulama yang memakai jubah dan sorban juga bisa dibedakan "status"nya. Pengguna sorban berwarna Putih adalah ulama keturunan rakyat biasa sementara lelaki/ulama yang menggunakan sorban berwarna hitam adalah dari golongan sayyid atau keturunan Rasulullah SAW dari garis Ali RA, sang menantu terkasih.

YANG MENARIK DARI ORANG IRAN
kue pemberian Staff museum dlm perjalanan ke Qom
Beberapa teman, menceritakan pengalaman angora keluarga atau temannya yang pernah berkesempatan berkunjung ke Iran. Semua sepakat bahwa orang Iran itu baik dan jujur sekali. Ceritanya hampir sama, bahwa mereka sering diajak berkunjung ke rumah Supir yang menemani. Saya memang tidak memiliki kesempatan berkunjung ke rumah Ali Supir yang menemai kami selama 10 hari perjalanan wisata di Iran. Namun demikian, bukan berarti sselama kunjungan ke Iran, saya tidak menerima atau mendapat perhatian dam]=n kehangatan sambutan mereka.

Yang pertama tentu saja kehangatan sambutan dari Tahereh sang Travelk consultant yang cantik itu dan agak surprise saat dia memberikan taplak meja Khas Iran yang cantik.
"Dari management Hellopersia.com, sebagai ucapan Selamat datang" , begitu katanya. Wow ..... apapun alasan di balik pemberian tersebut, tapi perhatian itu tentu sangat menyentuh perasaan.

Dengan Muhammad, Supir yang menemani kami di Tehran, memang tijdvak baanvak interaksi karena pertemuan kami secara total mungkin hanya berlangsung selama 8 jam saja. Lain halanya dengan Ali, supir yang menemani kami selama 10 hari penuh yaitu perjalanan mulai dari Shiraz - Yazd - Isfahan - Qom hingga berakhir di Imam Khomeini International Airport Tehran di Tengah malam yang dingin.

Hari pertama bertemu, saat makan siang ... dia bermaksud membayari kami makan .... Bukan main... Rasanya agak ajaib, kalau dia yang membayari makan siang kami...
"No ... Ali, you are our companion and we have to bear your expenses, especially your lunch" dan ..... ternyata untuk mengimbangi "kebaikan" kami, setiap 3 hari, saat kami Naik mobilnya untuk memulai perjalanan, di jok belakang sudah tersedia sekantung plastik buah-buahan, terdiri dari pisang, orange, kiwi, apple dan kyuri. 

Buah2an yang disediakan Ali sang supir
Dia juga sempat menyediakan teh hangat dan kue khas Iran saat kami beritirahat usai melihat tanaman yang berusia lebih dari 4.000 tahun. Inisiatif untuk membawa termos berisi air panas serta teh dan kopi itu sangat di luar dugaan. Bahkan setilha makan malam terakhir di resto a la KFC di Tehran menjelang mengantarkan kami ke airport pada hari terakhir, di bawah gerimis dan udara dingin, dia mengajak kami ke cafe milik temannya ... Ingin mentraktir kami minum, katanya.

Tentu saja karena sudah kenyang, maka kami hanya minum .... sambil menunggu waktu ke airport. Sungguh .... perjalanan Wisata ke Iran yang dirancang secara "sembarangan" ini menjadi perjalanan wisata yang sangat berkesan.

Berharap suatu saat akan berkunjung kembali pada musim yang berbeda. Spring & fall should be best moment to visit Iran.


Minggu, 03 November 2019

Aku dan keputusan menggunakan jilbab

Saya adalah orang pertama di kantor yang memakai jilbab secara "resmi" (walau bukan jilbab syar'i) dalam arti atas sepengetahuan dan ijin pemilik perusahaan dan saat itu, saya bekerja di perusahaan keluarga dimana pemiliknya adalah non muslim dari etnis Cina. 

Sebelumnya, bagian personalia selalu "melarang" karyawati menggunakan jilbab di kantor, sehingga beberapa di antaranya yang  sudah terbiasa menggunakan jilbab, akan melepas jilbabnya begitu tiba di kantor dan kembali menggunakannya begitu akan pulang. Kejadian ini berlangsung pada kurun waktu antara tahun 1996 sampai dengan 1998. 

Saya sendiri sering disindir oleh beberapa orang kenalan, bahkan oleh suami sendiri  ..... Sudah menunaikan ibadah haji tetapi sama sekali tidak mau menggunakan jilbab. Sepertinya, ada semacam kewajiban sosial ..... usai berhaji, jilbab wajib digunakan. 
Tidak ... saya bukan orang yang meIakukan sesuatu berdasarkan "apa kata orang". Harus ada alasan yang jelas, terukur dan masuk akal, kenapa harus melakukan ini, dan bukan itu. Bagi saya .... perilaku, kejujuran, integritas dan hubungan antar manusia jauh lebih penting daripada selembar kain bernama jilbab. Betul, kalau ada yang mengucapkan bahwa dengan mengenakan jilbab maka perilaku kita akan terjaga. Tapi benarkah ....?

Pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Berapa banyak kita melihat perempuan berjilbab "tertangkap tangan" menerima suap atau secara terang-terangan meminta imbalan atas "bantuan" yang sebetulnya adalah tugas yang harus dilakukannya tanpa imbalan tambahan di luar gaji yang sudah diterimanya .... Pada era media sosial sekarang ini, ada ribuan perempuan berjilbab yang dengan entengnya menulis dan mencaci maki orang lain. Merasa diri lebih baik dari yang lain .... dan sangat disayangkan, jilbab yang digunakannya TIDAK tercermin dalam perilaku, tulisan dan ucapannya.

Sama halnya dengan penggunaan jilbab yang juga menjadi sangat berlebihan. Alih-alih berpenampilan sederhana, berjilbab malah menjadi Fashion Mode yang menampilkan kemewahan baik dari bahan, asesori dan warna yang digunakan sehingga mempengaruhi penampilan secara keseluruhan.

Ya,  Jilbab Memang perintah Allah SWT ... sebagaimana tersurat dalam ayat berikut ini. 


Arab-Latin: 
Yā ayyuhan-nabiyyu qul li`azwājika wa banātika wa nisā`il-mu`minīna yudnīna 'alaihinna min jalābībihinn, żālika adnā ay yu'rafna fa lā yu`żaīn, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā 

Terjemah Arti: 
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsirnya adalah agar  perempuan yang sudah memeluk agama Islam mudah dikenali oleh orang yang melihat mereka sehingga dapat terbedakan dari para budak wanita, dan menjadi jelas bagi orang bahwa mereka adalah para wanita merdeka yang suci dan menjaga kehormatan.Yakni diganggu oleh pihak yang dalam hatinya terdapat penyakit dengan mencoba menodai mereka. (Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram)

Ada beragam peristiwa yang melatar-belakangi hingga akhirnya saya mengambil keputusan menggunakan jilbab, di antaranya, betul .... untuk menjadi pembeda yang mudah dikenali bahwa saya searing muslimah. 

Mungkin perlu dijelaskan dulu bahwa wajah saya dengan mata sipit dan kulit terang sering "dilecehkan" dan dianggap sebagai keturunan Cina. Sebetulnya, selama masa remaja, saya tidak pernah merasa terganggu ataupun menyadari "kelainan" tersebut. Hingga suatu saat dimana keberadaan saya mulai "dipermasalahkan" dan kemudian menjadi masalah bagi sebagian orang dan kelompok. Itupun masih tidak menggerakkan hati saya untuk "memanfaatkan" ayat tersebut. Hingga suatu peristiwa yang hampir merengut nyawa dan saya merasa bahwa itulah panggilan Allah SWT. 
 ***

Saat niat menggunakan jilbab sudah menjadi lebih kuat, menjelang libur panjang akhir tahun, saya menghadap pemilik perusahaan. Mengutarakan niat tersebut disertai, tentu saja, mengungkapkan perjalanan panjang dan beragam peristiwa yang melatar belakangi perubahan pikiran hingga akhirnya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Itu terjadi pada akhir tahun 2000.

Di luar dugaan, bigboss malah mendukung seraya menyatakan: "Silakan gunakan jilbab, kalau itu sudah jadi keputusanmu, tapi ingat .... harus konsisten dalam segala hal. Jangan cuma ikut-ikutan lalu buka-pakai seenaknya."

Awal tahun baru, penampilan baru tentu membuat kaget seisi kantor .... namun sejak itu, satu demi satu perempuan di kantor menggunakan jilbab, walau bukan syar'i tapi cukup sopan dan tidak berlebihan. Karena ..... bukankah kita dianjurkan untuk berpakaian secara sederhana saja?

Sejauh ini .... sepertinya memang ada beberapa posisi yang "melarang" perempuan menggunakan jilbab. Alasannya .....? Entahlah... Namun buat saya ... berjilbab ataupun tidak, itu adalah urusan masing-masing. Berpakaian tentu harus sesuai dengan tempat/suasana dan acaranya. Tentu sangat tidak layak/pantas kalau bekerja dengan menggunakan baju yang memperlihatkan belahan dada atau baju yang silhuet badannya menerawang jelas. Sama juga halnya menggunakan jilbab syar'i yang panjang melambai baik di badan maupun panjang rok yang menyapu lantai, tentu mengganggu gerak kerja lapangan.

Saya juga selalu diingatkan mme Louisette Wiromy ...."jaga perilaku ... jangan tertawa terbahak-bahak seenaknya atau merokok karena itu tak elok bagi perempuan berjilbab"

Berpakaian tentu ada norma dan etiketnya. Untuk mereka yang tidak bisa mengikuti aturan, mungkin itu adalah jalan yang ditunjukkan Sang Pencipta untuk mandiri, bekerja buat diri sendiri. Karena selama kita bekerja dengan orang lain ataupun pemerintah, maka kita juga harus mengikuti aturan setempat.



Senin, 11 Desember 2017

Lagi - lagi soal Jilbab



Beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan makin banyaknya perempuan beragama Islam yang menggunakan jilbab, baik yang syar'i maupun modis, ada kecenderungan terjadi pelecehan kepada perempuan beragama Islam lainnya yang tidak menggunakan jilbab, terutama di media sosial ... Padahal, perilaku mereka yang berjilbab belum tentu mencerminkan adab dan ajaran agamanya yang rahmatan lil alamin. Mereka masih suka bergunjing, mencaci maki dengan kata dan tulisan kasar serta tidak pantas, melakukan korupsi, melakukan hubungan terlarang dan banyak hal lainnya yang sudah jelas melanggar ajaran agamanya. Bahkan jilbab atau katakanlah berkerudung kini seolah menjadi pakaian baku saat perempuan bermasalah dengan hukum.
Dalam beberapa kesempatan hadir pada acara pernikahan keluarga keturunan Arab, ternyata perempuan muda Arab di Indonesia banyak yang tidak mengenakan jilbab dan bahkan berpakaian sebagaimana anak-anak muda umumnya. Beberapa keluarga/tokoh agama Islam di Indonesia juga membebaskan anak perempuannya tidak menggunakan jilbab. Apakah mereka tidak mengerti ajaran agamanya? Rasanya ... orangtua tersebut tentu mengajarkan agama kepada anak–anaknya dengan sangat baik. Anak–anak mereka tentu sangat pandai membaca kitab suci al Qur'an dan bahkan mungkin berbicara dalam bahasa Arabpun mereka cukup fasih ...
Kenalan saya keturunan Arabpun banyak yang membiarkan anak perempuannya tidak menggunakan jilbab dan bahkan membiarkan anak perempuannya menggunakan lensa kontak berwarna hijau atau biru saat rambutnya disemir bersemu pirang. Dalam pesta pernikahan "tradisional Arab" di Indonesia, dimana pesta pernikahan dipisahkan antara undangan lelaki dan perempuan, maka pesta khusus yang hanya dihadiri oleh perempuan, maka perempuan – perempuan Arab berdandan dan berpakaian sama seperti perempuan – perempuan lain yang dalam keseharian tidak menggunakan jilbab. Mereka menari/dansa berpasangan dengan sesamanya karena memang tidak ada seorang lelakipun dalam ruang dan bernyanyi. Jadi … apakah musik dan tari dilarang …? Atau kita harus membedakan mana yang menjadi tradisi Arab atau ajaran agama Islam. Ini berarti bahwa yang “berbau” Arab …. Belum tentu Islami atau berasal dari ajaran Islam, kan? Bisa jadi hal itu adalah budaya dan tradisi Arab. Bukan ajaran agama Islam
Begitu juga tatkala melakukan perjalanan ke Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Abu Dhabi dan Dubai, begitu juga di Mesir, maka di tempat umum seperti Mall, banyak dijumpai perempuan Arab yang tidak menggunakan jilbab. Tentu tidak kalah menghebohkan juga saat perempuan Arab bepergian kelar negaranya naik pesawat lengkap dengan abaya hitam dan cadarnya, namun begitu pesawat lepas dari teritori negaranya, maka mereka serentak melepaskan abaya hitam dan cadarnya. Sampai suatu kali suami saya bergumam …. Menduga bahwa rambut perempuan Mesir berwarna merah (burgundy), saking banyaknya perempuan Arab–Mesir menggunakan henna berwarna burgundy.
Banyak yang merujuk pada QS. Al Ahzaab:59 tentang kewajiban memakai jilbab, yang terjemahannya adalah sebagai berikut :
Hai Nabi Katakanlah Kepada Istri-Istrimu,Anak-Anak Perempuanmu Dan Istri-Istri Orang Mukmin: “Hendaklah Mereka Mengulurkan Jilbabnya Ke Seluruh Tubuh Mereka”, Yang Demikian Itu Supaya Mereka Lebih Mudah Untuk Dikenal, Karena Itu Mereka Tidak Diganggu, Dan Alloh Adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. 
(QS.Al-Ahzaab:59)
Namun dalam ayat tersebut tidak ditemukan adanya kata "DIWAJIBKAN" kepada istri, anak perempuan dan istri orang mukmin untuk menggunakan jilbab. Terjemahan ayat tersebut hanya menggunakan kata "HENDAKNYA" yang dapat diinterpretasikan sebagai ANJURAN/IMBAUAN saja.
***
Kalau kita perhatikan dengan seksama, menggunakan jilbab di Indonesia pun ada beberapa macam. Ada yang dikatakan berhijab secara syar'i dan bahkan agak berlebihan, yaitu menggunakan cadar sehingga hanya tinggal mata saja yang terlihat. Padahal wajah wanita bukanlah bagian dari aurat.... Maka saat shalat dan melaksanakan ibadah haji, perempuan Arab di Saudia sekalipun yang sehari-hari memakai cadar, melepaskan cadarnya.
Kemudian ada yang berjilbab secara modern .... hanya menutupi rambut dan leher atau kadang leherpun masih terlihat karena dia hanya menggunakan blus " turtle neck". Nah kategori ke 2 ini seringkali menggunakan jilbab secara berlebihan juga ... baik dalam warna maupun asesori.... Jilbab, asesori dam cara memggunakannya, akhirnya menjadi trend mode pakaian muslim Indonesia, yang juga berganti setiap waktu. Tentu supaya pemakainya terlihat menjadi lebih cantik dan menarik...
Kalau tidak salah .... bukankah perempuan Islam dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam berpakaian dan berdandan. Bahkan dianjurkan untuk tidak menggunakan wewangian untuk mengurangi daya tariknya terhadap lawan jenis...
Setiap manusia memiliki akal dan pikiran dan karenanya memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dilakukannya dengan segala konsekuensinya. Memiliki hak untuk memilih apa yang mau dijalankannya .... Bahkan dalam menelaah dan menginterpretasikan ayat2 al Qur'an. Mau ikut majlis taklim si A atau anjuran/tausyiah ustadz B atau ustadzah C. Yang perlu diingat adalah bukan kita manusia yang berhak menghakimi sesama manusia lainnya akan dosa maupun amal ibadah manusia. Bahkan kita yang terlihat begitu shalih dan shalihahpun belum tentu terjamin akan masuk surga karena hanya Allah SWT lah yang menilai amal ibadah, perbuatan manusia .... bukan kita sesama manusia....
Daripada memperdebatkan dan mencaci maki orang lain hanya karena perbedaan pandangan, bukankah akan lebih baik kalau kita memperbaiki diri sendiri lebih dulu. Dan perbaikan itu akan memakan waktu sepanjang usia kita, karena tidak ada manusia yang sempurna. Ini juga berarti .... setiap manusia mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya langsung kepada Sang Pencipta.
Entahlah .... saya cuma orang awam yang seringkali merasa kurang nyaman bila ada orang yang dengan sangat mudahnya menilai orang lain hanya dari permukaan saja.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...