Tampilkan postingan dengan label pasar tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar tradisional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2013

Ikhlasnya "orang kecil"

Para akhli demografi membedakan strata sosial masyarakat, minimal ada 3. Golongan Atas, golongan Menengah ... yang ini biasanya masih dibagi 2, yaitu golongan menengah Atas dan golongan menengah (saja). Yang terakhir adalah golongan berpenghasilan rendah. Definisinya pasti berdasarkan besarnya penghasilan mereka.

Saya bukan ahli demografi dan nggak terlalu memperhatikannya. Menurut saya, untuk kondisi kehidupan di Indonesia, penggolongan masyarakat berdasarkan penghasilan tidak mencerminkan kondisi rielnya. Yang saya ingat dan pernah baca di Tempo, orang yang membelanjakan USD 2 per hari atau sekitar Rp.550.000,- per bulan per orang sudah termasuk golongan menengah, walaupun golongan ini masih cukup rentan untuk "jatuh" ke golongan bawah/rendah alias miskin.

Coba deh perhatikan ... kalau 1 keluarga terdiri dari 4 orang, artinya mereka membelanjakan atau mengeluarkan biaya Rp.2.200.000,-/keluarga/bulan untuk seluruh kebutuhan hidupnya. Ini persis sebesar UMR yang pada awal tahun 2012 yang lalu dituntut buruh dan akhirnya disetujui pemerintah. Coba lihat, apakah kehidupan para buruh sudah sangat layak dan mereka sudah mampu mencukupi kebutuhan sandang pangannya secara layak. Lalu ... apakah ini juga berarti bahwa mereka yang membelanjakan kebutuhan rumah tangganya sebesar Rp.3.000.000,- per bulan per keluarga sudah termasuk golongan menengah?

Apapun dan bagaimanapun definisi mengenai golongan/strata sosial masyarakat, saya hanya ingin bercerita soal hubungan dan komunikasi dengan mereka, di luar petugas kantor (office boy, satpam, kurir dan supir) yang secara jujur harus diakui sangat terbatas.
***

Kehidupan sosial saya memang tidak terlalu banyak bersentuhan dengan masyarakat golongan bawah. Walau kami tinggal di kawasan/lingkungan perumahan rakyat, yang bukan berbentuk town house atau real estate, tetapi, masyarakat "asli" Betawi di lingkungan kami memang sudah agak "minggir". Berpindah tinggal di gang-gang di belakang rumah besar di sepanjang jalan setelah tanah-tanahnya yang luas di tepi jalan berpindah tangan kepada para pendatang. Masyarakat Betawi yang tidak memiliki tanah lagi akhirnya pindah ke pinggiran Jakarta seperti Meruyung atau Limo. Jadi, tidak terlihat lagi interaksi antara penduduk asli dengan pendatang seperti kami. Namun mereka tetap kompak di lingkungannya, yang terlihat dengan adanya rombongan ibu2 berseragam pengajian atau kegiatan-kegiatan sosial khas "kampung" lainnya. Yang pasti, kepengurusan RT/RW di lingkungan tempat tinggal kami tetap di tangan penduduk asli...

Kontak dan komunikasi yang rutin terjadi dengan masyarakat "kebanyakan" adalah dengan 2 orang petugas parkir  Pondok Labu, penjual majalah/tabloid yang ke tiganya tidak saya ketahui namanya. Lalu ada bang Manan, Naih dan Yadi penjual sayur langganan, Aceng, yang bukan Aceng Fikri mantan bupati Garut peleceh perempuan, dengan bapaknya. Yang ini adalah penjual buah. Lalu ada mbak Ati yang dikejar-kejar majikannya untuk dinikahi dan si uda keduanya adalah bekerja di kios penjahit dan obras/neci. Kesemua orang yang saya sebut tadi berada di kawasan pasar Pondok Labu.

Di Lotte Wholesale Ciputat, ada banyak "fans" saya hehehe ...... Itu istilah yang diberikan suami saya kepada para petugas pengumpul trolley yang sangat ringan tangan membantu kami membawakan trolley belanjaan dan memindahkannya ke dalam mobil. Lucu juga kalau diingat, seringkali isi trolley yang tidak seberapa itu dilayani sekaligus oleh dua orang petugas.

Beberapa tahun yang lalu, kami juga sering makan malam, berupa nasi goreng Joger, kalau tidak salah di depan RS Setia Mitra, atau makan soto ayam di halaman kantor pos, masih di Jalan RS Fatmawati. Belakangan ini sudah agak jarang dilakukan karena macet di ruas jalan RS Fatmawati membuat kami agak malas keluar rumah.


Terakhir, ada pedagang kue semprong di Lotte Mart jalan RS Fatmawati, yang bekas kompleks Golden Trully/D'best. Setiap kali kami bertemu, rasanya miris sekali melihat tumpukan dagangannya yang masih penuh. Entah kenapa dia masih tetap setia berdagang kue semprong. Padahal ..... sudah jarang orang yang suka dengan makanan itu. Jangankan remaja ..., orangtua saja, sudah jarang yang membeli. Mereka tentu lebih suka jajanan semacam roti, donut atau fried chicken.

Mereka semua adalah orang-orang kecil dengan segala keunikan sifat, karakter dan penampilan. Saya patut mengagumi keuletan mereka mencari sesuap nasi, termasuk juga "driving force" nya untuk bertahan hidup di tengah belantara kehidupan yang keras di Jakarta. Mengumpulkan seribu demi seribu keuntungan dari setiap dagangannya. Rasanya... mereka jauh lebih bermartabat daripada para pengemis dan bahkan koruptor sekalipun.
***

Ramadhan kali ini, bagai berkah buat saya. Masih di tengah bulan Ramadhan, sepulang kantor, PRT di rumah lapor ...
"Bu ...., tadi Naih datang, bawa dodol, tape ketan hitam dan uli". katanya. Naih adalah asistennya bang Manan si tukang sayur. Dia sudah seringkali ke rumah membawakan pisang tanduk dari pekarangan rumah bang Manan.

Alhamdulillah ........., tape ketan dan uli adalah makanan khas Betawi yang saya kenal sejak kecil dulu dan menjadi salah satu makanan tradisional kesukaan saya. Tape ketan dan uli mengingatkan saya kepada almarhumah nenek saya dari pihak bapak, yang saya panggil mamah. Perempuan Menak asal Sunda, konon dari Warung Kondang - Cianjur, menikah dengan kakek saya yang Betawi itu. Setiap pertengahan bulan Ramadhan dulu, beliau selalu membuat penganan khas Betawi seperti Tape ketan+uli, geplak dan kue satu, disamping kue-kue kering yang disebut kue semprit, nastar, kastengel bahkan kue lapis legit dengan peralatan dan oven yang sangat sederhana. Persediaan untuk sajian lebaran.

"Masya Allah ......."
Kaget betul saya melihat kiriman Naih itu. 1 bungkus besar uli, ditambah dengan 2 buah dodol berukuran diameter 20cm dan 1 stoples tape ketan hitam. Keesokan harinya ... tetangga di ujung jalan masuk rumah saya, mengirimkan penganan. Keluarga Betawi itu, juga mengirim tape ketan + uli, buras dan dodol.

Andai jumlah penganan itu terkirim secukupnya saja, saya tentu dengan senang hati menghabiskannya. Tapi ....., akumulasi jumlah penganan khas Betawi itu sungguh luar biasa banyaknya. Terpaksa sebagian saya tawarkan kepada adik-adik saya yang mau membawanya ke rumah masing-masing. Begitu juga kepada PRT yang mau mudik. Saya sisakan secukupnya saja untuk disantap. Bukan tidak menghargai pemberian orang, tapi saya pikir, begitu lebih baik daripada mubazir.

Lain halnya dengan bang Manan. Hari Minggu 4 Agustus 2013 adalah hari terakhir saya belanja ke pasar Pondok Labu. Kepada bang Manan, saya memesan 10 papan petai dan 3kg kacang panjang untuk sayur pendamping ketupat lebaran, agar di antar pada hari Rabu pagi. Saya belum membayarnya, karena bang Manan sendiri belum tahu berapa harga sayuran tersebut. Biasanya mendekati Lebaran, harga bisa naik tak terkendali. Jadi kesepakatannya adalah ...., saya akan membayar saat sayur diantar ke rumah.

Rabu pagi, saya terlambat bangun. Kacang panjang pesanan saya ternyata sedang dipotong-potong adik ipar di dapur. Kepada Yudi, tukang kebun yang sedang bersiap-siap pulang kampung, saya tanyakan hal tersebut.
"Siapa yang antar sayur tadi, jam berapa?"
"Sekitar jam delapan bu ... Bang Naih yang antar!", sahutnya
"Kenapa nggak bangunin saya?"
"Kata bang Naih ..., sayur ini cuma disuruh antar ke rumah ibu aja ....bang Manan nggak ngasih harganya...!"

Halah ....... saya betul-betul kehilangan kata-kata mendengar jawaban Yudi.
Cepat saya ambil telpon genggam, Di situ ada nomor telpon bang Manan yang diberikannya beberapa minggu yang lalu. Saya tekan nomornya ...ada nada sambung, tapi tak diangkat. Berulang kali nomor tersebut di redialed tapi tetap tak diangkat. Padahal, saat nomor itu saya peroleh, sudah ditest dulu supaya tidak salah sambung.
Telpon bang Manan tidak diangkat dan memang tidak pernah diangkat. Dikirimi sms pun tak pernah dijawab. Ini sudah yang kedua kali saya menghubunginya melalui telpon dan selalu tidak diangkat.

Dan ...... inilah peristiwa paling konyol saat lebaran....... saya berhutang, entah berapa besarnya, kepada bang Manan untuk harga 3kg kacang panjang dan 10 papan petai yang kemudian menjadi sepanci sayur pelengkap ketupat lebaran.

Minal Aidin wal Faidzin
Taqobalallahu minna wa minkum
Selamat Idul Fitri 1434H

Jumat, 10 Agustus 2012

AYO,,,,,, KEMBALI BELANJA ke PASAR TRADISIONAL yuk.....!!!

Seperti layaknya masyarakat kota besar terutama mereka yang tumbuh di kelas menengah, sejak awal menikah saya tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar tradisional di Indonesia. 

Saat masih kuliah dulu dan tinggal di Slipi, saya masih suka ikut belanja ke pasar tradisional di Grogol, menemani ibu. Kemudian saat tinggal di Kampung Ambon Jakarta Timur, saya selalu belanja ke pasar, yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah. Kebetulan pasar tradisional itu kondisinya lumayan bersih.

Selama 4 tahun pertama setelah menikah dan berkesempatan tinggal di Eropa, saya selalu belanja di pasar tradisional atau pasar kaget di plasa/tempat parkir lingkungan yang sangat bersih dan teratur. Jauh dari citra pasar kumuh seperti yang saya temui di tanah air. Saat itu, selama tinggal di Poitiers, kota kecil sekitar 300 km ke arah tengara dari Paris, minimal setiap hari minggu, sepulang dari pasar, acara dilanjutkan dengan masak-masak bikin gado2 atau soto ayam, dan menyantapnya sambil mengundang satu-satunya bujangan asal Indonesia yang tentunya jarang makan masakan Indonesia.

Acara ke pasar tradisional juga tetap dilanjutkan selama tinggal di Stains. Walau jarak pasar yang kamu kunjungi relatif jauh, yaitu Saint Denis. Namun perjalanan ke sana seminggu sekali, kami nikmati saja. Apalagi saat itu kami bisa memiliki mobil, walaupun penampilannya kumuh, tapi mesinnya masih sangat layak.

Kembali ke Indonesia, kami tinggal di rumah orangtua selama hampir 5 tahun, sambil mengumpulkan uang pembayar uang muka rumah. Belanja ke pasar  tentu dilakukan oleh ibu saya,

Di rumah kami pertama, yaitu saat tinggal di Kemang Pratama, selama 12 tahun saya lebih sering belanja di tukang sayur, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, atau menitipkan uang kepada pembantu. Satu minggu sekali saya ke pasar swalayan, saat itu ada Goro yang letaknya tidak jauh dari Kemang Pratama, untuk belanja ikan dan daging. Jadi praktis tidak lagi menginjakkan kaki ke pasar tradisional.

Tahun 2000 saat saya kembali tinggal serumah dengan ibu, saya tidak juga kembali ke pasar tradisional. Malas..... Kondisi pasar yang becek dan bau sampah menghilangkan keinginan saya untuk belanja ke sana. Apalagi ibu saya masih cukup kuat untuk belanja ke pasar. Tugas saya paling hanya beli keperluan "kering" di Makro atau Carrefour, belanja bulanan untuk keperluan rumah. Lebih menyenangkan karena bisa dilakukan kapan saja dan yang penting bisa dilakukan bersama dengan anak dan suami. Apalagi, usai belanja bisa nongkrong di food court sambil ngobrol sehingga belanja menjadi acara keluarga.

Masalah timbul saat ibu saya mulai sering jatuh sehingga membahayakan bila beliau harus ke pasar dan naik tangga. Mau tidak mau, saya harus menggantikannya belanja ke pasar. Warung sayur dekat rumah tidak selalu lengkap isinya. Kalau harus ke Carrefour, tidak selamanya saya punya waktu usai pulang kantor, karena seringkali baru tiba di rumah sesudah jam 20.00. Jadi pilhannya mau tidak mau, pasar tradisional di Pondok Labu dengan gunungan sampah yang baunya minta ampun, lengkap dengan lalat hijau yang besarnya juga minta ampun. Untunglah kegiatan ini hanya dilakukan 1 kali seminggu,

Untuk menyiasatinya, saya berbagi dengan pembantu. Saya membeli sayur-mayur, telur dan lain-lain di kios langganan ibu saya, di pasar atas istilah yang digunakan untuk gedung pasar Jaya. Lalu membeli buah-buahan di pinggir jalan. Sedangkan pembantu saya membeli ayam potong (segar), bumbu-bumbu dan lainnya di pasar bawah, kios yang becek dan baunya minta ampun itu. Biasanya sambil menunggu pembantu, saya membeli majalah atau tabloid dan membacanya di tempat parkir.

Lalu mulailah ada permintaan dari ibu untuk membeli kue-kue kecil, semisal cenil, lupis atau lapek bugis. Rutinnya belanja penganan yang sama akhirnya setiap minggu, para penjual langganan itu selalu menghampiri saya dan mengingatkan .... "Bu... jangan lupa lupis/cenilnya... Biasa kan...? Maksudnya biasa jumlah bungkusannya, yaitu 5 buah seharga total 10 ribu.

Atau... si loper koran dan majalah, langsung menghadang saya di tempat parkir dan menaruh 3 sampai 5 buah tabloid untuk dipilih. Lalu pergi lagi menjajakan dagangannya. Sepertinya dia sudah yakin sekali bahwa saya memang akan membeli.

Sungguh, awalnya, saya merasa jengkel dan terganggu dengan ulah mereka. Saya merasa di fait accompli untuk membeli. Pernah sekali saya menolak dengan tegas tawaran mereka. Tapi melihat wajah dan sorot matanya yang menyiratkan kekecewaan.. Ah saya merasa sangat berdosa. Berapalah harga barang yang mereka tawarkan itu? Relatif tidak berarti dibandingkan dengan uang yang harus saya keluarkan untuk 1 kali makan malam di akhir minggu di Mall atau restoran. Kalau saya membelinya, Insya Allah tidak akan membuat saya menjadi jatuh miskin. Namun yang pasti... akan memberikan kegembiraan dan keuntungan bagi penjualnya.
bang Yadi tukang sayur langganan

Memang, akhirnya saya jadi menambah alokasi belanja rutin dengan hal yang tidak terlalu perlu, yaitu pembeli kue2 tradisional dan tabloid. Nilainya memang sangat relatif, tapi dari keuntungan itulah, penjual/pedagang kecil itu menyambung hidup. Saya hanya bisa berharap, semoga niat saya membeli dagangan mereka bisa membantu mereka dan Insya Allah, "keborosan" saya tidak membuat saya menjadi miskin. 

Dari interaksi rutin tersebut dengan para pedagang langganan tersebut, seringkali saya diberi setandan pisang tanduk yang harganya relatif mahal. Menjelang lebaranpun saya mendapat bingkisan kue kampung dari penjual langganan tersebut. Rasanya terharu, dalam kekurangannya mereka masih berpikir untuk menyenangkan para pelanggannya

Minggu, 06 Mei 2012

Pasar Tradisional vs Hypermarket. Bersaing dalam era global.


Sejak ibu saya menderita komplikasi dari diabetes mellitus yang dideritanya sejak 19 tahun yang lalu, saya menjadi pelanggan pasar tradisional di Pondok Labu – Jakarta Selatan. Hal ini sudah berlangsung hampir enam tahun terakhir.



Sebelumnya, ibu saya selalu rajin berbelanja di pasar yang sama. Selain karena harganya lebih murah (katanya), berbelanja ke pasar tradisional menjadi salah satu kegiatannya sehari-hari selain mengaji. Anggaplah sebagai bagian dari kegiatan olahraga pengganti setelah beliau berhenti total dari kegiatannya main golf.

Saya sendiri agak malas belanja ke pasar tradisional. Sejak kembali ke Indonesia di tahun 1985, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke pasar tradisional. Alasannya klasik. Tidak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersama keluarga sehingga berbelanja harus merupakan aktifitas keluarga. Dan tempat yang memenuhi syarat untuk berbelanja sambil beraktifitas bersama keluarga adalah berbelanja di supermarket. Apalagi sekarang supermarket bertaburan dimana-mana. 

Jakarta bahkan sudah dipenuhi oleh hypermarket yang luasnya sudah belasan ribu meter persegi. Yang menyediakan seluruh kebutuhan manusia dari mulai kebutuhan primer maupun sekunder. Mereka bangga dengan sebutan one stop shopping. Apalagi buat sebagian besar masyarakat, berbelanja di pasar modern memiliki gengsi tersendiri.
*****

Pasar tradisional di Indonesia, khususnya di Jakarta, walau sudah dibangun bertingkat dan dikelola “secara professional” oleh PD Pasar Jaya, ternyata belum beranjak jauh dari ciri-cirinya sejak jaman dulu. Kotor, kumuh, sumpek dan berbau busuk. Fasilitas umum berupa toilet dan mushola sangat tidak memadai. Air tidak mengalir sehingga akibatnya menebarkan aroma tidak sedap.

Area perparkirannyapun tidak jauh berbeda. Selalu dipenuhi oleh pedagang yang menggelar dagangannya di pelataran parkir sehingga area tersebut beralih fungsi, tidak sebagaimana maksudnya. Pedagang di area parkir kemudian menjadi pesaing bagi pedagang resmi yang berada di dalam bangunan pasar. Sukar untuk menyebut mereka yang berjualan di pelataran parkir sebagai pedagang liar. Nyatanya, mereka berdagang dengan aman di tempat itu dan konon membayar sewa "lapak".

Tidak itu saja, di sekelililing bangunan pasar tradisional dimana saja di Indonesia, akan selalu ada “pasar kumuh” Orang sering menamakannya sebagai pasar bawah untuk membedakan dengan pasar atas yang berlokasi di dalam bangunan. 

Pasar bawah ini semakin membuat kesemrawutan lingkungan. Menyumbang bebauan sampah dan becek. Sungguh sangat jauh dari kebersihan dan kesehatan lingkungan. Padahal yang dijual adalah produk makanan, baik bahan makanan mentah dan juga makanan matang seperti kue2an, dan warung makan. Tetapi nyatanya orang tetap berbelanja dengan tenang.
*****

Awal tahun 1970an, Jakarta masih sepi dari supermarket. Kalaupun ada, hanya satu atau dua gerai yaitu Hero dan Gelael. Merekalah pionir pasar modern di Indonesia. Saat itu, jarang orang berbelanja di sana karena harga barang yang dijual relatif lebih mahal dari harga barang di pasar tradisional. Dengan demikian, konsumennyapun terbatas pada kalangan menengah ke atas saja.

Tahun 1980an mulai muncul Golden Trully dan Grasera. Keduanya menggelar komoditi sehari-hari di dalam gedung dengan area yang jauh lebih luas dan ragam jenis dagangan. Era one stop shopping di super store sudah dimulai. Masyarakat Jakarta mulai dididik untuk berbelanja di pertokoan modern. Persaingan antara pasar modern berupa super store dan pasar tradisional dimulai.

Seiring dengan perkembangan keberadaan supermarket dan hypermarket, perlindungan terhadap keberadaan pasar tradisional mulai terabaikan. Di atas kertas, keberadaan super store yang kemudian berkembang pesat menjadi hypermarket dibatasi. Harus berada pada radius sekian kilometer dari pasar tradisional dan tidak boleh menjual jenis komoditi tertentu yang menjadi jajaan di pasar tradisional. Namun kehadiran “pemain asing” yang dimulai dengan kehadiran “Continent” yang kemudian diakuisisi oleh Carrefour mengubah peta perpasaran modern di Indonesia terutama Jakarta.


Bayangkan …. Carrefour diijinkan beroperasi selama 365 atau 366 hari per tahun. 7 hari per minggu dari jam 10.00 hingga 22.00. Tidak ada hari libur. Kalaupun tutup, itu hanya untuk kepentingan stock opname - recheck. Bayangkan … di hari Raya apapun juga mereka tetap beroperasi walaupun jam bukanya digeser menjadi agak siang.

Carrefour juga merambah masuk pertokoan di tengah kota. Tetap dengan konsep hypermarket dan one stop shopping. Dengan sangat piawai mereka “mengeduk” isi dompet semua kalangan dimana mereka berada dengan berbagai marketing’s gimmick. Tak ada Carrefour yang sepi pengunjung dan berbelanja di Carrefour saat week end menjadi sangat tidak nyaman lagi.

Tanyalah pada orang Perancis yang mungkin anda kenal, bagaimana komentar mereka tentang keberadaan Carrefour di Indonesia. Mereka tentu akan geleng-geleng kepala. Entah karena kagum akan keberhasilan Carrefour menggaet pengunjung atau karena tidak habis pikir akan “isi kepala” para pembuat keputusan di Indonesia sehingga Carrefour bisa semena-mena dan hampir-hampir tanpa batas untuk menentukan lokasi hypermarket serta jam dan hari beroperasinya. Hal yang hampir mustahil mereka peroleh di negara asalnya. Benar-benar liberalisasi tanpa batas dan tanpa adanya perlindungan terhadap pemain kecil dan tradisional.

Jumlah Carrefour di Jakarta, ternyata lebih banyak daripada jumlahnya di Paris. Bahkan anda tidak akan pernah menemukan satupun hypermarket, apakah itu bernama Carrefour, Mammouth, Euromarche atau apapun namanya di pusat Paris ataupun pusat kota-kota lainnya di Perancis, kecuali mereka di luar outer ring road yang berarti di pinggiran kota.

Kebijakan ini dimaksudkan agar toko-toko makanan tradisional yang menjual sayur-mayur dan buah-buahan, daging-dagingan (bouchery), toko roti (boulangery) tetap hidup dan menghidupi dinamika masyarakat. Bahkan pada hari-hari tertentu, terutama week end, di berbagai lapangan parkir (place–plaza) atau di sebagian/potongan jalan di pusat kota digelar pasar tradisional yang hanya beroperasi hingga tengah hari saja.

Di negara asalnya, Carrefour dan seluruh “pasar modern” apakah itu supermarket atau hypermarket tidak akan pernah diijinkan untuk buka 7 hari seminggu atau 365 atau 366 hari setahun. Jaringan perpasaran modern itu akan bergantian menutup tokonya. Satu hari dalam seminggu. 

Dengan posisi sebagai “penguasa” jaringan retailer di Indonesia, bukan tidak mungkin kalau Carrefour menangguk keuntungan terbesarnya bukan di negara asalnya tetapi dari Indonesia. Di negara dunia ketiga yang lokasinya sangat jauh. Negara yang konon masih merangkak-rangkak mengemis pinjaman kepada pemerintahnya dan bahkan mungkin sama sekali tidak dikenal atau dilirik oleh rakyat Perancis. Kecuali mungkin sekarang, kalau rakyat Perancis sadar akan kehadiran Anggun sebagai penyanyi asal Indonesia. Ironis sekali!!!!

Sungguh memprihatinkan kondisi perpasaran di IndonesiaPara pedagang lemah “dipaksa” bersaing dan berperang dengan pemodal raksasa tingkat dunia. Kalau pada awal keberadaan pasar modern bernama supermarket, hanya masyarakat golongan menengah atas yang mampu berbelanja, maka pada era Carrefour, seluruh golongan masyarakat memadatinya.

Harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dan bahkan terkadang lebih murah dari pasar tradisional. Kualitas barang-barangnya terjamin. Kesegaran buah-buahan dan sayur-mayur tidak perlu diragukan lagi. Dan yang terpenting, belanja di Carrefour bisa dimanfaatkan sebagai aktifitas keluarga.

Sungguh terasa sangat tidak adil menghadapkan para pedagang kecil pasar tradisional dengan segala kekumuhannya dengan pasar modern. Entah apa yang ada di dalam benak para pengambil keputusan di negeri ini tertutama mereka yang memberikan ijin operasi hypermarket. Lihat saja saat ini. Jangankan pasar tradisional, jaringan retailer lokal seperti Gelael dan Hero sudah menampakkan wajah yang semakin redup dan diakuisisi oleh pihak asing
*****
Sejujurnya, kalau saya kembali berbelanja ke pasar tradisional, tentu bukan karena alasan-alasan yang sok humanitarian. Kalau boleh diakui,  awalnya hanya untuk “menyenangkan” hati ibu saya yang selalu “membanggakan” pedagang sayur langganannya. Ada rasa penasaran, untuk mengetahui siapakah sosok pedagang sayur itu. Kesempatan itu datang saat ibu saya harus “mengungsi” ke Bandung dan kemudian dirawat di rumah sakit hampir selama satu bulan karena DMnya kambuh.

Kekumuhan, kemacetan, kesemrawutan dan bebauan busuk yang langsung menyergap hidung di sekitar pasar hampir menyurutkan langkah saya untuk berbelanja. Namun waktu terus berjalan. Di tengah segala kesemrawutan itu ada nuansa dan suasana yang berbeda dengan “dingin”nya hypermarketAda interaksi antara penjual dan pembeli, ada kehangatan hubungan kemanusiaan. Tukar menukar info atau berbagi pengalaman dalam menangani “sisa sayuran” yang tidak laku mewarnai suasana berbelanja dan kadangkala info yang diperoleh di pasar bermanfaat untuk dijadikan resep olahan jenis hidangan baru.

Secara umum, tanpa melihat kualitas dan kesegarannya terutama bila berbelanja terlalu siang, harga hampir sebagian besar komoditi kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional lebih murah dari supermarket. Namun, terkadang harga yang ditawarkan lebih mahal. Jadi, jangan terlalu berharap bahwa belanja di pasar tradisional akan lebih murah terutama bila kita termasuk jenis manusia yang tidak terlalu suka melakukan tawar menawar harga.

Mungkin ada baiknya bila kita mau mengubah paradigma yang ada di kepala, kala berbelanja di pasar tradisional. Jangan melakukan tawar menawar dengan pedagang kecil itu. Karena itulah yang kita lakukan saat kita berbelanja di hypermarket. Kasihan para pedagang kecil itu!! 

Niatkan saja bahwa aktifitas belanja di pasar tradisional adalah bagian dari “berbagi” rejeki dengan sesama, yaitu kepada para pedagang kecil. Nggak ada ruginya kok. Daripada uang kita terus menerus mengisi pundi-pundi para pemodal Perancis itu? Ayo … pilih yang mana?

Minggu, 16 November 2008

Ayo, kembali ke pasar tradisional

Seperti layaknya masyarakat kota besar, sejak awal menikah saya tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar tradisional di Indonesia. Saat masih kuliah dulu dan tinggal di Slipi, saya masih suka ikut ke pasar tradisional di Grogol. Kemudian saat tinggal di Kampung Ambon Jakarta Timur, saya selalu belanja ke pasar, yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah. Kebetulan pasar tradisional itu kondisinya lumayan bersih.

Selama 4 tahun tinggal di Eropa, saya selalu belanja di pasar tradisional atau pasar kaget di plasa/tempat parkir linkungan yang bersih dan teratur. Minimal setiap hari minggu, lalu masak-masak bikin gado2 atau soto ayam, mengundang bujangan-bujangan yang tentunya jarang makan masakan indonesia.

Kembali ke Indonesia, belanja ke pasar dilakukan oleh ibu saya, karena selama 4 tahun saya tinggal dengan ibu sambil mengumpulkan uang pembayar uang muka rumah.

Saat tinggal di Kemang Pratama, selama 12 tahun saya lebih sering belanja di tukang sayur, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, atau menitipkan uang kepada pembantu. Satu minggu sekali saya ke pasar swalayan, saat itu ada Goro yang letaknya tidak jauh dari Kemang Pratama, untuk belanja ikan dan daging. Jadi praktis tidak lagi menginjakkan kaki ke pasar tradisional.

Tahun 2000 saat saya kembali tinggal serumah dengan ibu, saya tidak juga kembali ke pasar tradisional. Malas..... Kondisi pasar yang becek dan bau sampah menghilangkan keinginan saya untuk belanja ke sana. Apalagi ibu saya masih cukup kuat untuk belanja ke pasar. Tugas saya paling hanya beli keperluan "kering" di Makro atau Carrefour. Lebih menyenangkan karena bisa dilakukan kapan saja dan yang penting bisa dilakukan bersama dengan anak dan suami. Usai belanja bisa nongkrong di food court sambil ngobrol. Belanja jadi acara keluarga.

Masalah timbul saat ibu saya sering jatuh sehingga membahayakan bila beliau harus ke pasar dan naik tangga. Mau tidak mau, saya harus belanja ke pasar. Warung sayur dekat rumah tidak selalu lengkap isinya. Kalau harus ke Carrefour, tidak selamanya saya punya waktu usai pulang kantor, karena seringkali baru tiba di rumah sesudah jam 20.00. Jadi pilhannya mau tidak mau, pasar tradisional di Pondok Labu dengan gunungan sampah yang baunya minta ampun, lengkap dengan lalat hijau yang besarnya juga minta ampun.

Untuk menyiasatinya, saya berbagi dengan pembantu. Saya membeli sayur-mayur, telur dan lain-lain di kios langganan ibu saya, di pasar atas istilah yang digunakan untuk gedung pasar Jaya. Lalu membeli buah-buahan di pinggir jalan. Sedangkan pembantu saya membeli ayam potong (segar), bumbu-bumbu dan lainnya di pasar bawah, kios yang becek dan baunya minta ampun itu. Biasanya sambil menunggu pembantu, saya membeli majalah atau tabloid
dan membacanya di tempat parkir.

Lalu mulailah ada permintaan dari ibu untuk membeli kue-kue kecil, semisal cenil, lupis atau lapek bugis. Setiap minggu, para penjual langganan itu selalu menghampiri saya dan mengingatkan .... "Bu... jangan lupa lupis/cenilnya... Biasa kan...? Maksudnya biasa jumlah bungkusannya, yaitu 5 buah seharga total 10 ribu.

Atau... si loper koran dan majalah, langsung menghadang saya di tempat parkir dan menaruh 3 sampai 5 buah tabloid untuk dipilih. Lalu pergi lagi menjajakan dagangannya. Sepertinya dia sudah yakin sekali bahwa saya memang akan membeli.

Sungguh, awalnya, saya merasa jengkel dan terganggu dengan ulah mereka. Saya merasa di fait accompli untuk membeli. Pernah sekali saya menolak dengan tegas tawaran mereka. Tapi melihat wajah dan sorot matanya yang menyiratkan kekecewaan.. Ah saya merasa sangat berdosa. Memang, akhirnya saya jadi menambah alokasi belanja rutin dengan hal yang tidak terlalu perlu, yaitu pembeli kue2 tradisional dan tabloid. Nilainya memang sangat relatif, tapi dari keuntungan itulah, penjual/pedagang kecil itu menyambung hidup. Akhirnya ... saya hanya bisa berharap, semoga niat saya membeli dagangan mereka bisa membantu mereka dan Insya Allah, "keborosan" saya tidak membuat saya menjadi miskin.

Dari interaksi rutin tersebut, menjelang lebaran saya mendapat bingkisan kue kampung dari penjual langganan tersebut. Rasanya terharu, dalam kekurangannya mereka masih berpikir untuk menyenangkan para pelanggannya.

Rabu, 22 Agustus 2007

Pasar Tradisional vs Hypermarket. Bersaing dalam era global.

Sejak ibu saya menderita komplikasi dari diabetes mellitus yang dideritanya sejak 15 tahun yang lalu, saya menjadi pelanggan pasar tradisional di Pondok Labu – Jakarta Selatan. Hal ini sudah berlangsung hampir enam bulan terakhir.

Sebelumnya, ibu saya selalu rajin berbelanja di pasar yang sama. Selain karena harganya lebih murah (katanya), berbelanja ke pasar tradisional menjadi salah satu kegiatannya sehari-hari selain mengaji. Anggaplah sebagai bagian dari kegiatan olahraga pengganti setelah beliau berhenti total dari kegiatannya main golf.

Saya sendiri agak malas belanja ke pasar tradisional. Sejak kembali ke Indonesia di tahun 1985, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke pasar tradisional. Alasannya klasik. Tidak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersama keluarga sehingga berbelanja harus merupakan aktifitas keluarga. Dan tempat yang memenuhi syarat untuk berbelanja sambil beraktifitas bersama keluarga adalah berbelanja di supermarket. Apalagi sekarang supermarket bertaburan dimana-mana. Jakarta bahkan sudah dipenuhi oleh hypermarket yang luasnya sudah puluhan ribu meter persegi. Yang menyediakan seluruh kebutuhan manusia dari mulai kebutuhan primer maupun sekunder. Mereka bangga dengan sebutan one stop shopping dan berbelanja di pasar modern memiliki gengsi tersendiri.
*****

Pasar tradisional di Indonesia, khususnya di Jakarta, walau sudah dibangun bertingkat dan dikelola “secara professional” oleh PD Pasar Jaya, ternyata belum beranjak jauh dari ciri-cirinya sejak jaman dulu. Kotor, kumuh, sumpek dan berbau busuk. Fasilitas umum berupa toilet dan mushola sangat tidak memadai. Air tidak mengalir sehingga akibatnya menebarkan aroma tidak sedap.

Area perparkiran tidak jauh berbeda. Selalu dipenuhi oleh pedagang yang menggelar dagangannya dan mereka menjadi pesaing bagi pedagang resmi yang berada di dalam bangunan pasar. Sukar untuk menyebut mereka yang berjualan di pelataran parkir sebagai pedagang liar. Nyatanya, mereka berdagang dengan aman di tempat itu.

Tidak itu saja, di sekelililing bangunan pasar tradisional dimana saja di Indonesia, akan selalu ada “pasar kumuh” Orang sering menamakannya sebagai pasar bawah untuk membedakan dengan pasar atas yang berlokasi di dalam bangunan. Pasar bawah inilah yang semakin membuat kesemrawutan lingkungan. Menyumbang bebauan sampah dan becek. Sungguh sangat jauh dari kebersihan dan kesehatan lingkungan. Tetapi nyatanya orang tetap berbelanja dengan tenang.
*****

Awal tahun 1970an, Jakarta masih sepi dari supermarket. Kalaupun ada, hanya satu atau dua gerai yaitu Hero dan Gelael. Merekalah pionir pasar modern di Indonesia. Saat itu, jarang orang berbelanja di sana karena harga barang yang dijual relatif lebih mahal dari harga barang di pasar tradisional. Dengan demikian, konsumennyapun terbatas pada kalangan menengah ke atas saja.

Tahun 1980an mulai muncul Golden Trully dan Grasera. Keduanya menggelar komoditi sehari-hari di dalam gedung dengan area yang jauh lebih luas dan ragam jenis dagangan. Era one stop shopping di super store sudah dimulai. Masyarakat Jakarta mulai dididik untuk berbelanja di pertokoan modern. Persaingan antara pasar modern berupa super store dan pasar tradisional dimulai.

Seiring dengan perkembangan keberadaan supermarket dan hypermarket, perlindungan terhadap keberadaan pasar tradisional mulai terabaikan. Di atas kertas, keberadaan super store yang kemudian berkembang pesat menjadi hypermarket dibatasi. Harus berada pada radius sekian kilometer dari pasar tradisional dan tidak boleh menjual jenis komoditi tertentu yang menjadi jajaan di pasar tradisional. Namun kehadiran “pemain asing” yang dimulai dengan kehadiran “Continent” yang kemudian diakuisisi oleh Carrefour mengubah peta perpasaran di Indonesia terutama Jakarta.

Bayangkan …. Carrefour sanggup beroperasi selama 365 atau 366 hari per tahun. 7 hari per minggu dari jam 10.00 hingga 22.00. Tidak ada hari libur. Kalaupun tutup, itu hanya untuk kepentingan stock - recheck. Bayangkan … di hari Raya apapun juga mereka tetap beroperasi walaupun jam kerjanya digeser menjadi agak siang.

Carrefour juga merambah pertokoan di tengah kota. Tetap dengan konsep hypermarket dan one stop shopping. Dengan sangat piawai mereka “mengeduk” isi dompet semua kalangan dimana mereka berada dengan berbagai marketing’s gimmick. Tak ada Carrefour yang sepi pengunjung dan berbelanja di Carrefour saat week end menjadi sangat tidak nyaman lagi.

Tanyalah pada orang Perancis yang mungkin anda kenal, bagaimana komentar mereka tentang keberadaan Carrefour di Indonesia. Mereka tentu akan geleng-geleng kepala. Entah karena kagum akan keberhasilan Carrefour menggaet pengunjung atau karena tidak habis pikir akan “isi kepala” para pembuat keputusan di Indonesia sehingga Carrefour bisa semena-mena dan hampir-hampir tanpa batas untuk menentukan lokasi hypermarket serta jam dan hari beroperasinya. Hal yang hampir mustahil diperoleh di negara asalnya. Brnar-benar liberalisasi tanpa batas.

Jumlah Carrefour di Jakarta, ternyata, lebih banyak daripada jumlahnya di Paris. Bahkan anda tidak akan pernah menemukan satupun hypermarket, apakah itu bernama Carrefour, Mammouth, Euromarche atau apapun namanya di Paris ataupun kota-kota lainnya di Perancis, kecuali mereka di luar outer ring road yang berarti di pinggiran kota.

Kebijakan ini dimaksudkan agar toko-toko makanan tradisional yang menjual sayur-mayur dan buah-buahan, daging-dagingan (bouchery), toko roti (boulangery) tetap hidup dan menghidupi dinamika masyarakat. Bahkan pada hari-hari tertentu, terutama week end, di berbagai lapangan parkir (place – plaza) atau di sebagian/potongan jalan di pusat kota digelar pasar tradisional yang hanya beroperasi hingga tengah hari saja.

Di negara asalnya, Carrefour dan seluruh “pasar modern” apakah itu supermarket atau hypermarket tidak akan pernah diijinkan untuk buka 7 hari seminggu atau 365 atau 366 hari setahun. Jaringan perpasaran modern itu akan bergantian menutup tokonya.satu hari dalam seminggu. Dengan posisi sebagai “penguasa” jaringan retailer di Indonesia, bukan tidak mungkin kalau Carrefour menangguk keuntungan terbesarnya bukan di negara asalnya tetapi dari Indonesia. Di negara dunia ketiga yang berlokasi sangat jauh. Negara yang konon masih merangkak-rangkak mengemis pinjaman kepada pemerintahnya. Ironis sekali!!!!

Sungguh memprihatinkan kondisi perpasaran di Indonesia. Para pedagang lemah “dipaksa” bersaing dan berperang dengan pemodal raksasa tingkat dunia. Kalau pada awal keberadaan pasar modern bernama supermarket, hanya masyarakat golongan menengah atas yang mampu berbelanja, maka pada era Carrefour, seluruh golongan masyarakat memadatinya.

Harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dan bahkan terkadang lebih murah dari pasar tradisional. Kualitas barang-barangnya terjamin. Kesegaran buah-buahan dan sayur-mayur tidak perlu diragukan lagi. Dan yang terpenting, belanja di Carrefour bisa dimanfaatkan sebagai aktifitas keluarga.

Sungguh terasa sangat tidak adil menghadapkan para pedagang kecil pasar tradisional dengan segala kekumuhannya dengan pasar modern. Entah apa yang ada di dalam benak para pengambil keputusan di negeri ini tertutama mereka yang memberikan ijin operasi hypermarket. Lihat saja saat ini. Jangankan pasar tradisional, jaringan retailer lokal seperti Gelael dan Hero mulai menampakkan wajah yang semakin redup
*****

Sejujurnya, kalau saya kembali berbelanja ke pasar tradisional, tentu bukan karena alasan-alasan yang sok humanitarian. Kalau boleh diakui,  awalnya hanya untuk “menyenangkan” hati ibu saya yang selalu “membanggakan” pedagang sayur langganannya. Ada rasa penasaran, untuk mengetahui siapakah sosok pedagang sayur itu. Kesempatan itu datang saat ibu saya harus “mengungsi” ke Bandung dan kemudian dirawat di rumah sakit hampir selama satu bulan karena DMnya kambuh.

Kekumuhan, kemacetan, kesemrawutan dan bebauan busuk yang langsung menyergap hidung di sekitar pasar hampir menyurutkan langkah saya untuk berbelanja. Namun waktu terus berjalan. Di tengah segala kesemrawutan itu ada nuansa dan suasana yang berbeda dengan “dingin”nya hypermarket. Ada interaksi antara penjual dan pembeli, ada kehangatan hubungan kemanusiaan. Tukar menukar info atau berbagi pengalaman dalam menangani “sisa sayuran” yang tidak laku mewarnai suasana berbelanja dan kadangkala info yang diperoleh di pasar bermanfaat untuk dijadikan resep olahan jenis hidangan baru.

Secara umum, tanpa melihat kualitas dan kesegarannya terutama bila berbelanja terlalu siang, harga hampir sebagian besar komoditi kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional lebih murah dari supermarket. Namun, terkadang harga yang ditawarkan lebih mahal. Jadi, jangan terlalu berharap bahwa belanja di pasar tradisional akan lebih murah terutama bila kita termasuk jenis manusia yang tidak terlalu suka melakukan tawar menawar harga.

Mungkin ada baiknya bila kita mau mengubah paradigma yang ada di kepala, kala berbelanja di pasar tradisional. Jangan melakukan tawar menawar dengan pedagang kecil itu. Karena itulah yang kita lakukan saat kita berbelanja di hypermarket. Kasihan para pedagang kecil itu!! Niatkan saja bahwa aktifitas belanja di pasar tradisional adalah bagian dari “berbagi” rejeki dengan sesama, yaitu kepada para pedagang kecil. Nggak ada ruginya kok. Daripada uang kita terus menerus mengisi pundi-pundi para pemodal Perancis itu? Ayo … pilih yang mana?

Lebak bulus – 21 Agustus 2007 jam 22.45

Selasa, 06 Februari 2007

Keikhlasan hati orang kecil

Hari Senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif lebih lancar daripada biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih mendapat kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor, akibat banjir besar yang melanda Jakarta sejak hari Kamis yang lalu.


Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor melalui jalan Tebah, di belakang Pasar Mayestik lalu masuk ke jl Bumi dan Jalan Kerinci lalu keluar di Jalan Pakubuwono VI. Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan Pati Unus untuk berbelok ke arah Jl. Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang terlebih dahulu.


Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja pisang barangan. Di situlah saya biasa membeli pisang setiap minggu. Perempuan penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli 3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir lainnya mengkal atau terkadang masih kehijauan. begitu juga rencananya pagi ini. Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar 50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam dompet di samping beberapa lebar ribuan di dalam kotak uang untuk pembayar ongkos parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya ;


“Ibu … apa bisa diberikan uang pas saja?” tanyanya.
Saya melihat isi dompet dan tas... ternyata sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong setelah digunakan kewajiban rutin, dari belanja bulanan, membayar gaji pembantu sampai dengan uang sekolah anak.
”Aduh maaf ... nggak ada uang pas...!”
”Saya tukar di warung dulu ya bu...” pintanya, meminta kesediaan saya menunggu. Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut. Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya harus menunggunya agak lama, sampai dia kembali dengan uang tukarannya. Dan saya merasa enggan menunggunya. Apalagi jalan Pakubuwono VI di pagi hari cukup ramai.
”Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua sisir saja ya ... saya punya uang kecil untuk itu...”, usul saya menutupi keengganan menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya hitung uang receh di mobil yang terdiri dari uang kertas dan koin. Semuanya berjumlah enam belas ribu. Masih kurang dua ribu.
”Nah... lihat deh, uang saya nggak cukup. Saya ambil dua sisir saja ya...”
”Jangan bu .... , ambil saja semuanya. Ibu kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar kekurangannya!” begitu katanya, seraya mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada saya.


”Aduh ... saya belum tentu lewat sini lagi lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja. Saya bisa mampir kapan-kapan kesini.”
”Nggak apa-apa bu ... kapan ibu lewat saja, bayarnya......”, sahutnya.
Saya mengambil lembaran uang tersebut dan segera berlalu darinya. Di belakang sudah banyak mobil menunggu.


Tiba di kantor, sambil menunggu komputer menyala baru saya sadari, betapa lugu dan naifnya penjaja pisang itu. Dia rela mengambil resiko ”kehilangan” keuntungan sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan. Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang harus diberikannya kepada saya. Tetapi saya yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan. Toh dia rela dan ikhlas ”kehilangan” sementara uang tersebut dan begitu mempercayai saya, perempuan yang kebetulan secara rutin membeli dagangannya. Sementara saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan uang atau bersikap seperti yang dilakukannya Apalah susahnya mengatakan ....


”Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat lagi dan kembalikan saja uang saya, besok”
Ternyata saya sama sekali  tidak memiliki keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu, sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu mempercayai penjaja sayur yang biasa datang ke rumah atau pembantu rumah. Setiap hari, saya selalu meletakkan uang di kotak yang tersimpan di atas lemari es, untuk belanja sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur serta ongkos transport Muslimin ke sekolah. Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran. Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng berkata :


”Biar saja... uang itu tidak akan membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti, orang yang mengambilnya tidak akan mendapat berkah Allah SWT”


Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya. Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil itu saya menjadi kehilangan sensitifitas untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah ... betapa picik dan sombongnya saya.... Ampun Tuhan..... Sungguh saya menyesal hari ini... saya sudah terjerat pada fenomena low trust society .... tidak memberikan kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu memandang curiga kepada orang lain.


Besok saya harus lewat dan membayar kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul sudah membuat martabat saya ”terjerembab” ke dasar jurang... Sungguh saya malu... selama ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih sebatas artificial yang dengan sangat mudah dipatahkan oleh perempuan sederhana itu....


Kalaupun esok[1] saya ikhlas memberikan uang lebih besar daripada uang yang harus saya kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum yang baik untuk meraih ”nilai positif” di mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah menampik kesempatan untuk meraih pahala dan berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama sekali tak terduga.


Ampuni saya ya Allah.... Jadikan hal tersebut yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan orang-orang yang senantiasa rendah hati dan ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan. Amien....!


Lebak bulus 5 februari 2007 jam 22.30  

[1] Hari ini, selasa, saya lewat Jl Pakubuwono dan berniat melunasi hutang saya. Seperti yang saya takuti sejak semalam, perempuan penjaja pisang itu tak terlihat. Dia tidak menggelar dagangannya. Duh … Itulah akibat dari “menampik kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk memperoleh pahala dan berkah.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...