Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2020

SERI PERJALANAN ke IRAN - 3. Apa Yang Perlu Diketahui Tentang Iran

Mengunjungi suatu negara sebaiknya kita juga mempersiapkan diri sebaik dan sebanyak mungkin dengan pengetahuan tentang negeri yang akan dikunjungi.

Iran pada masa kekuasaan Shah Muhammad Reza Pahlevi yang didampingi oleh Ratu Farah Diba dikenal dengan kehidupan yang sangat gemerlap yang juga tercermin dalam citra negaranya. Kegemerlapan tersebut langsung "hilang" menyusul kepergian Shah dan keluarganya, pada tanggal 16 Januari 1979, mengungsi untuk menyelamatkan diri dari revolusi. Dialah raja terakhir di Persia yang sekaligus menandai akhir riwayat monarki di tanah Persia.
keluarga kerajaan Iran - Shah Reza Pahlevi dan Ratu Farah Diba

Iran menjadi Republik Islam dan sejak itu pula kehidupan di Iran menjadi "sangat misterius", minimal bagi saya, walaupun pada bulan Mei 2006, presiden Iran Mahmud Ahmadinejad mengunjungi Indonesia dan disambut masyarakat dengan gegap gempita dan bahkan sempat berkunjung ke universitas dimana suami saya bekerja. 
Berita yang kita dengar tentang Iran biasanya hanya diperoleh melalui media Barat, jadi unsur cover both side nya tidak mungkin terpenuhi.


Ok ..... apa yang perlu diketahui sebelum mengunjungi Iran? Minimal dari kacamata saya😁😁😁, ada beberapa hal, yaitu :
  1. Mata uang yang bisa dibawa ke Iran untuk ditukar dengan mata uang lokal dan berapa kurs terhadap mata uang tersebut.
  2. Komunikasi dan media komunikasi
  3. Makanan apa yang bisa dimakan.
  4. Transports antar kota dan di dalam kota.
  5. Cara berpakaian, terutama bagi wanita.
  6. Apa yang menarik untuk dikunjungi dan diketahui di Iran.
  7. Harga Tiket masuk tempat wisata; Istana, masjid, taman, museum, tempat ziarah dan lainnya.
    MATA UANG ASING YANG BISA DIBAWA KE IRAN dan MATA UANG LOKAL.
    lembar 100rb Rials
    Berdasarkan informasi yang bisa diperoleh dan juga informasi yang diperoleh dari Tahereh Shirdel sang travel consultant, mata uang asing yang bisa dibawa masuk ke Iran untuk ditukar di Money Changer adalah USD dan Euro dan untuk transaksi selama di Iran dianjurkan untuk menggunakan travel card (semacam e-money ?!) yang digunakan untuk menarik yang di pos dan atm. 

    Sayang, saya tidak sempat membeli travel card karena bermasalah dengan  migrasi yang saya lakukan di indosat menjelang berangkat sehingga tidak bisa melakukan transaksi keuangan melalui internet banking. Dengan demikian, saya tidak bisa mengetahui bagaimana menggunakan dan kegunaan travel card tersebut. Namun demikian terasa sekali bahwa penduduk Iran itu betul-betul cashless. Segala macam dibayar dengan kartu, termasuk berbelanja di warung-warung/toko kecil di Bazaar. Begitu juga untuk masuk ke tempat-tempat wisata. Mungkin hanya kami berdua saja yang selalu menggunakan uang tunai yang kadang menjadi hambatan karena penjaga loket ticket wisata tidak siap untuk melayani pembayaran tunai.

    Karena saya hanya membawa yang tunai dalam mata uang Euro, maka hanya dapat menceritakan nilai tukar Euro ke Iranian Rials. Tapi sebelumnya perlu diceritakan bahwa di Iran, dalam kehidupan sehari-hari nilai uang terdiri dari 2, yaitu Toman (bahasa lisan) ... dan Rials sebagai mata uang resmi yang tercetak dalam uang kertas. Nilainya pun berbeda. 1 Toman = 10 Rials; sebagai orang asing, kalau berbelanja dan mendapat jawab tentang harga barang yang kita inginkan, biasakan bertanya ... in Toman or Rials? Namun demikian, ... masih sering terjadi kesalahpahaman .... Sepertinya, orang Iran memiliki "kesulitan" dalam berhitung. 

    Pernah suatu kali kami membeli suatu barang dan penjual menulis dalam kalkulator "2400"
    "Toman...", katanya
    OK lah .... jadi, kami keluarkan ung sebesar 30.000 Rials dengan pikiran akan mendapat kembali sebanyak 6.000 Rials.
    "No ....." sahutnya lagi ....
    Wah .... salah deh ...... akhirnya dikeluarkanlah 3 lembar uang 100.000 Rials alias 300.000 Rials dan dengan wajah gembira, diambilnya uang tersebut lalu dikembalikannya 60.000 rials.
    Oalah ....... Jadi bukan berarti rumusan 1 Toman = 10 Rials itu salah ... cuma, sepertinya ada hambatan berhitung, rupanya.

    Nah .... berapa nilai tukar Euro ke Rials?
    Jangan kaget ya ...... 1 Euro = 140.000 rials di Tehran
    Di Yazd ... kami mendapatkan nulai tukar 1 Euro = 142.100 Rials. Dengan demikian ... seumur hidup dan selama berkelana ke beberapa negara, baru kali ini merasa betapa  mata uang Rupiah, ada harganya. Rp.1,- = + 9 Iranian Rials.

    Ada cerita sedikit lucu, miris dan agak "menyebalkan" sekitar urusan tukar menukar Euro di Tehran. Pada hari pertama itu, kami diajak Supir untuk mengunjungi Golestan Palace. Saat itu kami berpikir bisa membayar dengan Euro. Ternyata Penjual ticket menolak dan menyuruh kami ke Grand Bazaar yang kebetulan terletak tidak jauh dari Golestan Palace untuk menukar uang. Dengan langkah tertatih karena pergelangan kaki yang terkilir masih terasa sakit, mengantuk karena relatif tidak tidur setelah menempuh perjalanan Jakarta - Muscat - Tehran dan dengan sedikit kedinginan di tengah temperatur sekitar 4C, kami pergi juga ke tempat yang ditunjuk.
    "500 Euro please", setelah melihat rate yang terpampang.
    Sang petugas memeriksa ketersediaan uang
    "No .... only 400 Euro"

    Hitung punga hitung ... OK lah .... 400 Euro cukup untuk makan, bayar etiket masuk wisata dan sedikit souvenir. Kami menunggu cukup lama, dan ...... Masya Allah ..... Di hadapan kami teronggok 5 bundel pecahan uang 100.000 rials dan beberapa lembar pecahan 500.000 rials yang merupakan pecahan terbesar dalam mata yang Iran. Terbayang, kan .... bagaimana "mengamankan" 5 gepok uang yang harus ditenteng sepanjang hari sambil mengunjungi tempat wisata? Antara ingin tertawa ... dan sebal karena bahu harus menyandang tas penuh uang....
    NO CREDIT CARD 
    Walau penduduk Iran umumnya sudah cashless minded, namun credit card apapun jenisnya sama sekali tidak berlaku. Mungkin karena credit card diterbitkan oleh provider dari Amerika. Kemandirian yang dipaksa oleh keadaan untuk mempertahankan martabat bangsa yang tidak mau tunduk terhadap dominasi Amerika Serikat. Angkat topi untuk hal ini...

    APAKAH BISA BERBELANJA DAN MEMBAYARNYA DENGAN MATA UANG ASING?
    Bisa saja ..... di beberapa Souvenir Shop yang berada di tempat wisata, atau toko-toko di bazaar yang ditujukan untuk orang assig  bisa dilakukan asal dari awal kita nyatakan bahwa sisa pengembaliannya dibayarkan dalam mata uang lokal untuk menjaga penolakan, karena tidak mungkin bila mereka harus mengembalikan dalam mata yang yang sama. 

    Namun demikian, kita harus "agak teliti" dan melakukan cross check perhitungannya. Bukan disebabkan oleh kecurangan penjual, namun hal ini lebih sering karena pedagang kurang memahami perhitunganl konversi mata uang, yang bisa jadi disebabkan akibat "kelemahan" cara berhitung. Apapun juga .... kejujuran masyarakat Iran sangat tinggi. Beberapa kali saya salah hitung dan membayar lebih tinggi dan mereka dengan senang hati memberikan selisihnya. 

    KOMUNIKASI DAN MEDIA KOMUNIKASI
    Pada tanggal 23 Desember saya pergi ke provider di Indonesia untuk menanyakan apakah ada paket telpon/internet untuk digunakan untuk berkomunikasi baik melalui telpon/whatapps ataupun sosial media selama melakukan perjalanan di Iran.
    "Tidak ada bu ... paket layanan internet/telpon hanya ada untuk negara-negara yang banyak dikunjungi orang Indonesia, seperti Jepang, Korea, negara-negara Asia/Asean, Eropa, Amerika dan tentu saja Arab Saudi untuk melaksanakan Umroh dan Haji."
    "Jadi ..., kalau saya mau pergi ke Iran, Bagaimana?"
    "Akan dikenakan tarif roaming biasa dan tentu akan sangat mahal. Sepengetahuan saya, provider Indonesia tidak ada yang bekerja sama dengan telkomnya Iran"
    "Ada solusi lain...?"
    "Ibu bisa beli local sim card"

     Saya mecnceritakan hal ini kepada Tahereh dan dia dengan seria merta menyatakan:
    "We will provide you by local SIM card as gift from Hellopersia"
    Wow ......

    Benar saja, begitu tiba di Imam Khomeini International Airport, sebelum kami menuju mobil, Mohammad, supir yang ditugaskan untuk menemani kami selama di Tehran, mengajak untuk membeli local sim card di kios yang tersedia di airport. Namun baru keesokan hari, SIM card bisa digunakan dengan bantuan sang supir karena tentu saja petunjuk untuk mengaktifkan SIM card tersebut dilakukan dalam bahasa Farsi. Mobile phone suami sudah terisi SIM card dan tent bisa digunakan, Sementara mobile phone saya tidak bisa diganti SIM card nya karena saya lupa membawa alat untuk mengeluarkan SIM card Indonesia. Resiko perjalanan yang terburu-buru...😆😆😆

    TELEViSI DAN MEDIA SOSIAL
    Selama tinggal 10 hari berkeliling Iran dan masuk dari satu hotel ke hotel lainnya, saya tidak dapat mengakses televisi "barat" semua siaran lokal. Kalaupun ada siaran luar yang bisa diterima, hanya dari wilayah Asia antara lain India, Korea, Jepang dan itupun sudah di dubbing dengan Bahasa Farsi.

    Akan halnya media sosial, dari 2 media sosial yang biasa saya gunakan, Instagram dan Facebook, hanya instagram yang bisa diakses. Facebook harus diakses melalui VPN. Link berita dari media asing tidak bisa diakses sama sekali. Entah karena embargo yang dilakukan oleh media asing atau malah pemerintah Iran memang ménûtup diri dan melarang penduduknya mengakses  media luar.

    itu sebabnya, berita pengeboman yang mengakibatkan tewasnya Jendral Qasem Suleimani, saya terima dari anak saya yang memberikan screenshoot berita setelah link-link yang dia kirim tidak dapat dibuka.

    Bersambung lagi ya .....

    Jumat, 05 Agustus 2016

    Belitong hari ke 2; TANJUNG TINGGI - KEPAYANG - LENGKUAS

    Morning call dijadikan sebagai panggilan untuk makan pagi jam 06.00. Memang terlalu pagi untuk sarapan, tapi dalam setiap perjalanan wisata, ritme biologis memang harus dan mesti ikut menyesuaikan. Kebiasaan-kebiasaan rutin pagi hari harus diselesaikan setelah makan pagi agar jadwal hari ke 2 yaitu Island Exploring yang oleh biro perjalanan diberi nama Island's Hopping dan sebetulnya baru akan dimulai jam 08.00, tidak terganggu.

    Sebelumnya, dalam petunjuk perjalanan, sudah disampaikan bahwa untuk perjalanan island's hopping, peserta diminta untuk membawa pakaian ganti, topi, kacamata hitam, sepatu atau sandal tahan air dan tentunya sun block. Selain itu, tak lupa dipesankan untuk membawa makanan kecil/cemilan dan air minum cadangan. Selain karena untuk naik dan turun perahu, peserta harus turun ke air menuju pantai. Tidak akan ditemukan dermaga di pantai. Selain itu, kita belum juga tentu bisa menemukan pedagang minuman atau makanan selama perjalanan dari pulau ke pulau. Maka... jadilah perjalanan hari itu, bawa gembolan berisi pakaian ganti, cemilan dan botol minuman.


    Bebatuan di Tanjung Tinggi
    Selain soal pakaian, minuman dan peralatan tersebut, kami juga diwanti-wanti untuk tidak membuang sampah sembarangan ... Bagus, kan.....?! Biarpun "orang kota", dan memiliki profesi intelektual, namun seringkali kelakuan membuang sampah sembarang, masih sering terjadi. Peserta juga diingatkan untuk tidak mengutak-atik kerang atau apapun yang menempel di permukaan bebatuan di pulau atau pantai yang ditemui. Bukan saja karena merusak lingkungan, tetapi juga karena ditakutkan kerang-kerang tersebut akan melukai kulit.

    Perjalanan di hari ke dua ini adalah menuju pantai yang berada di wilayah utara pulau Belitong serta pulau-pulaunya yang ke semuanya dipenuhi oleh susunan bebatuan yang sangat indah . Situs pertama yang dikunjungi adalah pantai Tanjung Tinggi. Pantai yang dipenuhi dengan bebatuan granit yang sangat besar dan sangat beragam ukurannya mulai dikenal khalayak sejak keindahannya diangkat dan diekspos dalam film LASKAR PELANGI oleh Miles Film milik Mira Lesmana. Walau keindahan struktur bebatuan granit tersebut pernah dilihat di film tersebut, namun menyaksikannya dari dekat, tentu merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Bukan saja karena kekaguman terhadap susunan bebatuan granit yang besarnya sangat luar biasa tetapi juga akan kebeningan air lautnya serta pasir pantainya yang putih dan sangat halus.

    1 jam di Tanjung Tinggi mengamati susunan batu granit dan menikmati pemandangan ke laut lepas, rasanya sangat kurang. Kami harus segera meninggalkan lokasi menuju pantai Kelayang yang merupakan departing point untuk memulai island hopping. Di sini, selain mengosongkan kandung kemih sebelum naik perahu tradisional yang telah disewa, peserta dibagi baju pelampung untuk keselamatan perjalanan air antar pulau.

    Setelah berbasah-basahan untuk naik ke perahu tradisional bermotor yang diisi sekitar 20 orang, perjalanan pertama dilakukan menuju pulau Kepayang untuk makan siang a la pulau di Kepayang Eco Resort dan tentunya makanannyapun "harus" berasal dari laut. Ikan bakar, sup ikan, cumi goreng, kangkung belacan dan entah apa lagi ... Walau namanya :keren" dalam bahasa inggris, sesungguhnya resto ini hanya "warung terbuka" sangat sederhana. Nggak apalah ..... yang penting rasa makanannya enah. Entah enah betul atau rasa lapar menyebabkan makanan apapun yang ditemui menjadi sangat enak rasanya.
    perahu wisata

    Usai mengisi perut, perjalanan dilanjutkan menuju pulau pasir. Pulau pasir biasanya bisa dinikmati saat air sedang pasang surut, sehingga akan muncul "daratan pasir" seluas lapangan bola. Sayangnya, saat kami kunjungi, sedang pasang naik, sehingga pasir tertutup air laut setinggi sekitar 10cm. Apa yang dicari di pulau pasir?

    PATRICK ..... 
    Ayo apa tuh si patrick?  
    Patrick adalah panggilan untuk binatang laut berbentuk bintang dalam film serial tv SPONGE BOB. Ramailah orang yang mau berbasah-basah turun ke laut, mencari patrick dan berfoto....
    light house aka mercusuar Lengkuas

    Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju pulau Lengkuas. Apa yang akan dilakukan di pulau tersebut? Tujuan wisata kepulauan Belitong, pada umumnya adalah melihat pemandangan indah dari bebatuan. Hampir semua pulau di perairan tersebut memiliki gerombolan bebatuan bewarna putih membalut tepian pantai. Beberapa di antaranya bebatuan tersebut yang malah membentuk pulau kecil dengan beragam bentuk, ketinggian dan susunannya. Sangat indah dipandang. 

    Wisata utama pulau Lengkuas adalah naik ke mercusuar setinggi kurang lebih 60 meter  di atas permukaan air laut atau setinggi 18 lantai dan menaiki tangga sebanyak 18 x 18 anak tangga atau 324 anak tangga untuk naik dan menuruni jumlah anak tangga yang sama. Mercu suar yang dibangun pada tahun 1882 ini terbuat dari besi baja yang dicat putih. Dari lantai teratas, kita bisa memandang laut lepas. Karcis untuk menaiki mercu suar, sangat murah. Hanya 5 ribu rupiah, namun tantangan terberat terutama bagi orang yang sudah berusia lanjut adalah mengalahkan diri sendiri untuk tetap bertahan dan sabar menjejakkan kaki pada anak tangga satu persatu. Apalagi, kekuatan jantung dan nafas tentu sudah jauh berkurang.Belum lagi masalah yang mengganggu kekuatan tempurung lutut menahan berat badan yang sudah meningkat banyak bila dibandingkan saat muda dulu.
    pulau batu dari mercusuar

    Sebagian besar peserta, hanya duduk-duduk saja di warung-warung tepi pantai. Sadar akan usia dan kekuatan badan. Menjaga agar jangan sampai ada yang terkena serangan jantung akut.

    Usai (lagi-lagi) berfoto, menikmati segarnya angir laut di ketinggian mercu suar oleh sebagian kecil peserta, perjalanan menuju satu pulau lagi terpaksa dibatalkan. Mungkin pengemudi perahi melihat hari sudah menjelang sore. Takut akan peralihan kondisi laut yang mulai pasang naik dan biasanya akan memunculkan riak gelombang yang lebih besar. Beruntung udara sangat cerah sehingga kami tidak mengalami badai di tengah laut seperti yang dialami teman saya beberapa bulan sebelumnya. 

    Sebelum kembali ke pantai, perahu menuju suatu titik dekat pulau Lengkuas untuk memberi kesempatan bagi yang ingin menikmati snorkling sekitar 30 menit, lalu melaju memecah gelombang yang memang terasa lebih besar dibanding saat kami berangkat pagi hari. Namun demikian, keindahan alam dan pulau bebatuan yang dilihat hampir di sepanjang perjalanan membuat kami sedikit melupakan ayunan perahu saat memecah besaran gelombang laut. Pulau kepala burung garuda.
    pulau kepala garuda

    Sungguh ... dua hari perjalanan di Belitong ini seolah menjadi perjalanan napak tilas buku Laskar Pelangi dan keindahan bebatuan yang berada di sepanjang perjalanan di kepulauan sekitar Belitong membuat ketakutan akan perjalanan air/laut terlupakan. Lelah, tentu.... tapi semua terbayar lunas dan kami merasa sama sekali tidak rugi mengunjungi Belitong. Kawasan tujuan wisata "baru" yang sangat layak dikunjungi.

    Tiba di hotel dan setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami dijemput untuk .... konon katanya "GALA DINER" di tempat lain, yang sayangnya menjadi anti klimaks dari seluruh keindahan siang. Sajian makanannya sangat jauh dari standar gala diner... Ya sudahlah .... 

    BELITONG - LASKAR PELANGI - ANDREA HIRATA

    posisi Belitong dalam peta Indonesia
    Belitung atau Belitong dalam bahasa setempat, atau dulu dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata, di sebelah utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan. Tepatnya, Belitong berada di perairan antara Sumatera dan Kalimantan, yang dahulu kala masuk ke wilayah provinsi Sumatera Selatan..... 
    ***
    Andrea Hirata adalah pahlawan bagi masyarakat Belitong.... begitu pernyataan Herry sang pemandu wisata. Berlebihan...? Rasanya tidak sama sekali. Berkat cerita yang dituliskannya dan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul LASKAR PELANGI, maka dimulai dengan para pecinta buku, kemudian setelah didahului dengan promosi masif dan beredarnya film Laskar Pelangi, seluruh mata mulai memandang tanah belitong sebagai tujuan wisata alam yang sangat indah di bumi Indonesia.  
    Sejak dulu, pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Tetapi ..... siapa yang pernah meliriknya dan berminat mengunjunginya, kecuali para pekerja (staff dab karyawan) tambang Timah? Itupun mungkin dengan sangat terpaksa bertempat tinggal di pulau kecil di tengah laut luas, karena kebutuhan dasar manusia.... Memenuhi hajat hidup dalam mencari uang, bekal pembeli sesuap nasi....

    Setelah pemisahan dengan provinsi Sumatera Selatan menjadi provinsi Bangka - Belitung (BABEL), Belitung kemudian terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar namun kota utama pulau Belitong adalah Tanjung Pandan. Disitu pula letak bandar udara H.AS Hananjudin. Sebagian besar penduduk, terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai, sangat akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan sehari-hari penduduknya. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduk Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Usaha pertambangan timah sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda. Penduduk Pulau Belitung umumnya adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.
    Belitong sempat menjadi perhatian masyarakat ibukota, utamanya mereka yang bergerak di bidang pemerintahan dan politik, tatkala seorang dari etnis Cina berhasil menjadi bupati Belitong Timur dan kemudian berusaha untuk maju menjadi calon gubernur Bangka Belitung dan .... sudah kita ketahui kemudian, gagal dalam pemilihan. Bagi sang calon, mungkin ini adalah suatu blessing in disguise, karena akhirnya dia menjadi orang nomor satu di ibukota negara.

    Sampai disinipun, perhatian masyarakat ke wilayah Belitong masih relatif "adem-adem saja" .... berlalu bersama angin dan waktu... sampai kemudian, masyarakat terutama para pencinta buku tergugah dengan cerita tentang bocah anak kuli tambang timah bernama Ikal yang dengan teman-temannya yang merupakan generasi terakhir dari SD Muhamadiyah Gantong beserta ibu guru Muslimah. Buku karangan Andrea Hirata Seman yang diperkirakan sebagai "true story" pengarangnya melalui sosok Ikal menjadi sangat fenomenal sekaligus juga mengantarkan ibu guru Muslimah yang sederhana menjadi tokoh pendidik panutan. Media ramai memberitakannya bahkan Kick Andy mengundang Andrea Hirata beberapa kali ke studionya, salah satunya juga menyertakan teman2 dan ibu guru Muslimah.
    Kisah inspiratif ini kemudian diangkat ke dalam sebuah film besutan Miles Film dengan sutradara Riri Riza dengan judul sama, yaitu LASKAR PELANGI yang juga menjadi sangat fenomenal dengan raihan penonton tertinggi hingga kini. Film inilah yang kemudian berjasa mengangkat keindahan alam Belitong dengan segala budaya yang berbalut dengan romantisme cerita anak kampung Gantong.
    Sejak itulah keindahan alam Belitong dikenal "orang luar" dan mulai diburu sebagai tujuan wisata "baru" yang mengangkat pamor wisata serta meningkatkan perekonomian Belitong. Jadi memang sangat tidak berlebihan bila masyarakat setempat menganggap bahwa Andrea Hirata adalah pahlawan masyarakat Belitong.

    Jumat, 29 Mei 2015

    BERITA SEDIH BUAT PARIWISATA INDONESIA

    Bunga jatuh dari pohon peneduh
    Minggu lalu, saya menulis status di Facebook, memperbandingkan kemajuan salah satu negara tetangga sesama ASEAN dengan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini, dalam rentang waktu 19 (sembilan belas) tahun. Kenapa harus menggunakan rujukan 19 tahun? Itu jadi pertanyaan salah satu rekan.

    19 tahun memang bukan rujukan waktu yang tepat. Ini lebih pada pilihan pribadi. Tentu dengan suatu alasan tertentu. Pertama karena negara atau tepatnya ibukota negara yang saya bandingkan, saya kunjungi terakhir kali pada bulan April 1996. Jadi tepatnya 19 tahun 1 bulan saya mengunjunginya kembali dan tentunya sangat terkejut dengan kemajuan yang amat sangat dan luar biasa pesatnya. 

    Alasan kedua .... ini karena beberapa tahun sebelum pak Harto dilengserkan pada Mei 1998, beliau menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sudah siap sedia untuk lepas landas. Jujur, saya lupa kapan pertama kali pak Harto menyatakan Lepas Landas tersebut, maka saya memperkirakannya tahun 1996. Lagi-lagi tentu dengan suatu alasan. 

    Menurut telaah akademis tentang pembangunan ekonomi pada masa orde baru, tahun 1996 berada di tengah masa Pelita ke VI, dimana Pelita ke VI merupakan periode lima tahun pertama Pembangunan Jangka Panjang (25 tahunan) Indonesia tahap kedua yang ditetapkan sebagai tahap lepas landas. 

    1996 juga adalah tahun PEMILU yang kemudian tetap memilih Suharto sebagai presiden RI untuk yang ke 6 kalinya. Pemilu yang kemudian tetap memilih Suharto sebagai presiden RI untuk yang ke 6 kalinya dimana Indonesia menganggap diri sedang berada di puncak "kejayaan". Itu sebab, Suharto kemudian dengan percaya diri, menetapkan para kroni dan orang dekatnya pada jajaran executive, legislative dan judicative dan bahkan anaknyapun masuk dalam jajaran menteri. 

    Sayangnya optimisme Indonesia untuk lepas landas itu malah kandas dan harus terkubur dalam-dalam setelah negara-negara Asia mengalami krisis ekonomi yang mulai terasa pada bulan September-Oktober 1997. Krisis yang berlangsung terus menerus hingga akhirnya Suharto memutuskan untuk mengundurkan diri setelah dikhianati oleh para menteri dan orang-orang dekatnya.

    Kembali pada cerita awal tersebut, negara yang ingin saya bandingkan dengan Indonesia adalah Thailand dan Bangkok sebagai ibukota negara yang dikenal dengan sebutan Siam, khususnya dalam kemajuan infrastruktur dan pariwisata.
    ***

    Saya mengunjungi Bangkok untuk pertama kali, mungkin awal-awal tahun 1990an. Saat itu suami menjadi pembicara dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di Universitas Chulalongkorn, di pusat kota Bangkok. Universitas ini menggunakan nama salah satu raja Siam yang meletakkan dasar pada Thailand modern. Kalau ada kesempatan berarti waktu dan dana, saya memang beberapa kali ikut suami seminar di luar Indonesia, ambil cuti dan berlibur ... Kalau jadwal seminar agak panjang, biasanya menyusul, menjelang kembali ke Jakarta. Atau berangkat bersama tetapi tidak mengikuti Ladies Program yang seringkali menyertai berbagai acara seminar atau raker/conference/congress. 


    tampak luar Suvarnabhumi Airport - Bangkok
    Kami mendarat di Don Muang dan selama di Bangkok, kami menginap di Nittaya Nivet, tidak jauh dari MBK alias Ma Boon Krong, sebuah pertokoan bergaya seperti pasar pagi Mangga Dua - di Jakarta. Jadi ... selama suami mengikuti seminar, MBK menjadi tempat saya menghabiskan waktu mencari souvenir unik khas Thailand. Baru setelah seminar selesai kami mengunjungi Grand Palace. 

    Bangkok di awal tahun 1990an terkenal sangat macet dan tentunya sering kebanjiran. Transportasi seperti biasa, hanya ada bus, taxi dan tuktuk. Tidak banyak berbeda dengan Jakarta saat itu. Bahkan Jakarta di tahun 1990 terasa lebih nyaman dibandingkan dengan Bangkok.

    Perjalanan ke 2 ke Bangkok bulan April tahun 1996 dilakukan dalam rangka persiapan Sea Games tahun 1997 dan dilakukan dengan private jet dan hanya menginap semalam untuk kemudian dilanjutkan meninjau pembangunan airport baru Kuala Lumpur - Malaysia yang saat itu masih dalam tahap pembangunan. Perjalanan kedua memang tidak memberikan kesan apa-apa karena waktu yang terbatas sehingga tidak sempat memperhatikan kondisi/kemajuan Bangkok, Namun... perjalanan inilah yang saja jadikan tolok ukur untuk membandingkan kemajuan Bangkok/Thailand pada umumnya dengan apa yang ada di Indonesia. Untuk alasan yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini

    Bangkok dengan airport Don Muang nya yang sederhana, sama sekali tidak meninggalkan kesan mendalam, kecuali keindahan sutra, bunga, seni ukir buah dan kerajinan tangan/interior serta komposisi warna yang sangat saya kagumi. Ingatan juga dibatasi oleh MBK yang mirip pasar pagi, walau pernah mendengar bahwa Bangkok sudah berhasil mengatasi kemacetan, namun sama sekali tidak dapat membayangkan bagaimana keberhasilan yang sudah dilakukan pemerintah kota Bangkok untuk mengatasi keruwetan kota tersebut.
    Menunggu bus di pick up area Suvarnabhumi Airport
    14 Mei 2015 jam 12.55
    Pesawat GA 866 yang membawa 29 orang dalam rombongan kantor kami untuk berlibur di negeri Gajah Putih ini mendarat mulus di Suvarnabhumi airport. Nama yang agak familiar bagi masyarakat Indonesia ini digunakan sebagai nama airport baru. 

    Jadi ... ini adalah kunjungan ke 3 ke negara Siam yang dilakukan 19 tahun kemudian sehingga, menjadi wajar bila mata uzur ini agak terperangah melihat bentuk airport yang kalau tidak salah diresmikan sekitar 7 tahun yang lalu itu. Megah dan sangat modern dengan gaya arsitektur yang hampir mirip dengan Dubai International Airport

    Walau sepertinya dibangun "di tengah kota", dalam arti begitu keluar dari airport, kita sudah langsung terkepung dengan bangunan-bangunan tinggi, gedung parkir bertingkat dan fasilitas lainnya, mirip suasana airport modern di negeri Eropa, namun suasananya sangat nyaman, bersih dan teratur. 

    Entry Gate 
    Usai prosedur keimigrasian, perjalanan wisata dimulai untuk langsung menuju Pattaya. Mengapa harus Pattaya .... Kami yang sudah berumur, ikut saja dengan acara yang diatur anak muda dengan segala selera dan keinginannya. Perjalanan ke Pattaya sekitar 2 jam ditempuh melalui jalan bebas hambatan yang betul-betul bebas hambatan ... tanpa ada kemacetan dan yang paling penting adalah ........ mulus ....... 

    Point pertama kelebihan Thailand ...... INFRASTRUKTUR sudah terbangun dengan baik ...... Walau belum seluruh jalan selesai, namun pekerjaannya sangat rapih. Nyaris tidak ada kotoran atau tumpukan material konstruksi yang mengganggu perjalanan. Satu point kelebihan Thailand dari prosedur pengerjaan proyek di Indonesia .....


    penjual makanan di atas perahu
    Obyek pertama yang dikunjungi adalah Pattaya FLOATING Market yang sepertinya dibangun di atas danau (padahal tadinya saya pikir, floating market dimana baik penjual maupun pembeli bertransaksi di atas perahu...). Duh ... duh ... belum apa2 sudah diajak belanja. Khas orang Indonesia kalau keluar negeri .... harus dan wajib belanja. Thailand memang surga belanja untuk barang2 kerajinan, kuliner, tanaman serta buah2an. Rasanya gemas betul melihat kualitas yang tersaji. Namun demikian, kalau acara wisatanya belanja terus, pusing juga kepala ....

    Walau hanya pasar "biasa" .... floating market di Pattaya ini isinya adalah souvenir kerajinan tangan, kaus/fashion dan kuliner namun beragam atraksi di gelar di beberapa spot floating market dan bahkan ada 2 buah sampan berisi pemain musik dan penari meliuk-liuk menyusuri celah-celah antara bangunan.... dan yang paling menarik, untuk membantu pengunjung menyusuri lika-liku pasar terapung ini, pada lantainya diberi tanda panah berbeda warna untuk membantu pengunjung menelusuri floating market dan kembali ke arah pintu ke  luar. Dengan demikian tidak akan ada penunjung yang tersesat. 

    Dari Floating Market, kami diajak photo stop di Hard Rock Cafe Pattaya. Hadeuh ..... ngapain ya mampir ke Hard Rock Cafe? Beli merchandise ....? Bikin pemilik merek dagangnya tambah kaya ya....?


    Malam hari, kami melihat Alcazar Show .... Cabaret show yang penampilnya adalah para transgender yang luar biasa cantik dan trampil. Jenis tariannya pasti modern dance seperti yang biasa kita lihat di Lido atau Moulin Rouge di Paris. Atau di Indonesia pernah dipopulerkan oleh Guruh Soekarnoputra melalui Swara Mahardikka di tahun 1980 - 1990an dulu.

    Hari ke 2, usai makan pagi di hotel acara dimulai dengan mengunjungi Laser Buddha, yaitu pahatan gambar Buddha pada bukit batu yang pada pembuatannya menggunakan sinar laser. Setelah peserta seperti biasa melepaskan "hajat narsis"nya, kami diajak ke Nongnooch Village untuk melihat modern dance/cabaret show dan elephant show yang sangat menarik. Sayangnya, kunjungan ke Nongnooch Village hanya untuk menyaksikan ke 2 atraksi tersebut dan tidak untuk menikmati koleksi tanaman dan penataan lingkungannya yang tidak kalah menarik.

    Satu hal yang tidak dapat dilupakan dan sangat disesalkan adalah ......... di toilet umum bagian wanita ..... sekali lagi bagian WANITA, karena sudah diyakini dengan mata kepala berulang kali sebelum masuk ke toilet yang berada di area Elephant Show ini, terdapat ...... ayo apa ......??? Urinoir ..... tahu kan apa urinoir .....? Aneh dan bikin agak - agak risi melihat urinoir ada di toilet wanita ...

    Usai mengunjungi Bee Honey shop dan dry food shop, bus langsung menuju Bangkok until makan malam, kali ini di restoran halal Sophia.

    Hari ke 3 di Bangkok, wisata dimulai untuk mengunjungi Grand Palace, Wat Arun dan "berlabuh: di Ma Boon Krong alias MBK. Sebagian lagi memisahkan diri untuk melihat Museum Lilin Madam Toussauds. Ini adalah kunjungan ke 3 setelah pertama kali di London dan di Amsterdam jauh sebelumnya. Tentu pesohor yang ditampilkannya berbeda walau ada beberapa pesohor "tetap" yang mungkin bisa dilihat di berbagai museum lilin di segala penjuru dunia.

    Akan halnya MBK dan lingkungan sekitarnya di tahun 2015, kondisinya sungguh mencengangkan. Bayangan MBK yang "tidak jauh" berbeda dengan pasar pagi Mangga Dua, pupus sudah, berganti dengan bangunan modern yang dihubungkan melalui jembatan layang super luas dan bersih ke mall lainnya yang berada di seberang jalan tempat kami menuju museum lilin tersebut. Keadaan di dalam MBK sendiri sudah jauh lebih rapih dan bersih.

    Perjalanan wisata hari ke 3 ditutup dengan dinner cruise di Chaopraya river yang sangat heboh karena demikian padatnya peminat dinner cruise. Sementara hari terakhir di Bangkok, diisi dengan lagi... dan lagi - lagi belanja. Kali ini sasaran utamanya adalah pasar Chatuchak dan beberapa diantaranya memisahkan diri untuk belanja buah2an di sebuah pasar buah di seberang Chatuchak.
    ***

    Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari Thailand, khususnya Bangkok di bidang pariwisata? Terlepas dari sejarah "terbentuknya citra" Pattaya sebagai kawasan wisata sex dan sensual bagi tentara USA selama perang Vietnam pada dekade 1960an, namun daya tarik pariwisata Thailand ternyata begitu besar. Kunjungan wisata ke Thailand baik ke Pattaya maupun Bangkok dan pasti juga ke beberapa daerah tujuan wisata lainnya seperti Phuket danChiang Mai, sangat besar dengan dukungan atraksi wisata dan infrastrukturnya yang prima. Tidak kalah dengan infrastruktur dan fasilitas wisata termasuk yang terpenting adalah sanitasi lingkungan di negara maju.

    Akan hal destinasi wisata, terutama wisata alam (asli), Indonesia tentu tidak ada duanya dan inilah kekuatan pariwisata Indonesia. Sayangnya .... di dalam negeri, akomodasi, infrastruktur, sanitasi lingkungan, dan pengelolaannya belum ditangani dengan baik. Sementara pemasaran ke luar negeri masih dan terlalu BALI oriented dan melupakan kekuatan kekuatan wisata lainnya.

    Menjaring minat wisata asing berkunjung ke Indonesia, memerlukan perencanaan dan waktu yang panjang, seraya memulainya dengan perbaikan di dalam negeri; yaitu akomodasi, infrastruktur (tentu termasuk transportasi yang aman dan nyaman), sanitasi dan lainnya untuk kemudian secara bersama-sama memasarkannya di dalam maupun di luar negeri. Mental para aparat imigrasi, bea cukai serta pengelola bandara internasional juga harus diperbaiki.

    Ah ... masih banyak kerja keras untuk meningkatkan daya tarik pariwisata Indonesia.... Masih panjang perjalanannya agar Indonesia menjadi daerah tujuan wisata alam yang mumpuni di kawasan katulistiwa .... Mampukah ...? 



    Sabtu, 06 Juli 2013

    Wisata Kuliner di Malang dan sekitarnya

    Selama hampir 2 tahun belakangan ini, kalau dihitung rata-rata, hampir 1 kali sebulan saya mengunjungi kota Malang, atau tepatnya wilayah kabupaten Malang (untuk membedakan dengan kotamadya Malang) dan kotamadya Batu untuk urusan pekerjaan.

    Malang yang saya kenal ketika kecil, adalah apel walaupun kemudian kita baru mengetahui bahwa apel Malang yang kita kenal, tidak dihasilkan baik dari kota Malang maupun kabupaten Malang. Kebun apel hanya ditemui di wilayah Batu. Memang .... Batu dahulu kala masuk ke dalam wilayah kabupaten Malang.

    Selain itu Malang masuk dalam pikiran saya, karena saat saya kecil, selalu ada tamu istimewa dari Malang. Ini terjadi pada kurun waktu awal tahun 1960 - 1965. (hadooh ... ketauan deh, kalau umurku sudah "uzur hehe...). Konon mereka masih keluarga kakek saya yang memiliki kebun kopi di wilayah Dampit. Jadi saat tamu istimewa ini datang berkunjung ke rumah kami, mereka selalu membawakan biji kopi mentah, yang kemudian setelah disangrai, lalu dibawa nenek untuk digiling di pasar Jatinegara.

    Pada akhir abad ke 20, hehe .... untuk menyebutkan kurun waktu 5 tahun terakhir menjelang tahun 2000, setiap kali saya bertugas ke Malang, maka oleh-oleh perjalanan ini adalah kue-kuean atau bakpau telo ungu yang dibeli dari toko-toko dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya. Saat itu memang belum ada penerbangan langsung ke Malang.


    Nah ....... dulu, menjelang tiba di hotel, kami selalu mampir ke warung Jawa yang saya lupa namanya dan berada di Batu untuk makan siang karena walaupun sudah berangkat pagi dari Jakarta, perjalanan Surabaya - Malang memakan waktu antara 90 - 120 menit.

    Warung yang menyajikan masakan khas Jawa ini adalah favorit big boss. Salah satu menu yang jadi incaran teman-teman adalah krengsengan. Entah bagaimana rasa masakan itu, hingga beberapa teman di Jakarta selalu memesan untuk dibawa ke Jakarta saat kami kembali pulang. Saya memang kurang tertarik dengan warna dan bentuknya, jadi tidak tahu apa yang membuat teman-teman tergila-gila dengan krengsengan itu. Belakangan ini, setelah ada penerbangan langsung dari Jakarta, tempat nongkrong makan siangnya beralih ke soto ayam pak Jari, masih di bilangan kotamadya Batu. Padahal ... seharusnya tidak ada hubungan antara tempat makan dengan lokasi pendaratan pesawat ya.

    Perjalanan saya ke Malang biasanya berlangsung hanya 4 hari saja, sehingga masih ada 1 hari dalam minggu terkait untuk berkoordinasi dengan teman-teman di Jakarta, baik sebelum maupun sesudah perjalanan ke luar kota. Begitu juga selalu ada 1 atau 2 hari puasa selama perjalanan 4 hari tersebut.

    Nah .... mari kita mulai dengan sarapan pagi. Di Hotel Kartika Wijaya tempat saya biasa menginap dan terletak di jalan Panglima Sudirman nomor 127, saya selalu memesan scramble egg dengan buah-buahan segar untuk sarapan pagi. Dimulai dengan makan buah dan ditutup dengan scramble egg. Untuk makan siang, maka kami yang bekerja di proyek ramai-ramai makan pecel Madiun di warung Amin, juga masih di jalan Panglima Sudirman, tidak jauh dari hotel, Pecelnya lumayan enak. Kadang suka ditambahi dengan bunga turi ( ?) mendampingi daun kemangi dan toge pentul, kesemuanya mentah, dan rempeyek.

    Sebetulnya, di samping pecel Madiun yang disajikan dengan nasi atau lontong, masih ada gulai dan rawon. Nah .... makanan berdaging ini biarlah dimakan oleh rekan lelaki yang pada umumnya gembul. Saya tidak pernah mencobanya. Beraaaaatttt .........., mending makan pecel tanpa lontong/nasi. Sudah sangat mengenyangkan. Untuk sahur Kamis dinihari, biasanya saya minta dibawakan ke kamar soto ayam tanpa nasi dan buah potong.


    sambal apel
    Malam hari ...., kami biasanya makan di Warung Bambu ... Disini, kami makan ayam/gurame bakar, udang saus pedas, cumi goreng, kangkung cah dan tidak lupa........... tempe dan tahu penyet. Minuman pesanan saya biasanya jeniper alias jeruk nipis peras yang hangat, wedang rempah atau wedang jahe. Pokoknya yang hangat-hangat. Kalau anak lelaki, pesanan minumannnya lebih heboh...!!! Dari mulai beragam juice sampai beragam kopi dan minuman hangat lainnya.

    Makan di Warung Bambu suasananya sangat menyenangkan. Kita ditempatkan di meja-meja rendah ... jadi makan sambil lesehan di gubuk bambu yang terletak di atas kolam ikan yang ditanami pepohonan. Harga makanannya relatif memadai .... apalagi kalau kita bandingkan dengan ukuran harga makanan sejenis di Jakarta dan sekitarnya. Biaya yang dihabiskan rata-rata hanya 50 ribu per pax sudah termasuk minuman berupa juice, kopi atau minuman hangat lainnya.

    Di lain waktu, kami makan cwie mie di bilangan jalan Kawi ... lupa namanya... Cwie mie di resto berbendtuk ruko ini disajikan dalam mangkuk dan alas mie nya berupa lembaran pangsit goreng mengikuti bentuk mangkuk. Kuahnya beragam ... ada kuah bening atau kuah kental rasa asam manis yang ringan dengan berbagai tingkat "pedas"nya.


    Penggemar mie lainnya bisa mencicipi mie gang Jangkrik (kalau nggak salah) di bilangan jalan Sukarno Hatta. Disini porsi mie nya luar biasa besar.... Buat ukuran perut "normal", rasanya bisa dimakan untuk 2 orang dan harganya memang lebih mahal daripada cwie mie jalan Kawi.


    Bakwan Malang
    Suka dengan bakwan/bakso Malang ....? Ada dua yang direkomendasikan teman-teman saya .... Bakso Solo yang relatif bertebaran di mana-mana dan satu lagi bakso DAMAS, kalau nggak salah di jalan Sukarno Hatta juga. Harganya relatif murah dan rasanya, menurut saya lebih OK daripada bakso Malang Karapitan yang ditemui di Jakarta. Tapi kalau ke Malang cuma untuk makan bakso Damas, jelas nggak masuk akal dong ... Berat di ongkos...!

    Saya juga pernah makan di warung mahasiswa, yang berlokasi di depan kampus universitas Muhamadiyah.... 1 paket nasi+ayam goreng+tempe/tahu penyet cuma 10ribu saja. Murah meriah tapi susah dapat tempat kosong dan buat mereka yang porsi makannya besar, paket a la mahasiswa sepertinya kurang mengenyangkan. Maklum .... itu tempat favorit anak kost. Mereka juga menjual ketan durian .... Ini seperti ketan putih yang disiram dengan kinca berduren. Rasanya lumayan enak juga. Yang penting murah kan....?

    Makanan modern a la kota besar seperti pasta dan steak ada di pusat kota Malang. Kami pernah mencicipinya di Hergi cafe. Tapi .... sepertinya teman-teman saya kurang menikmatinya sehingga kami tidak lagi mengunjungi tempat itu untuk makan malam.

    Nah .... itulah resto atau warung yang biasa saya kunjungi. Tentu masih ada tempat lain seperti hot plate, Batu Suki dan lainnya... tapi kurang unik baik rasa maupun tempatnya.

    Sekarang kita beralih ke oleh-oleh khas Malang.
    Apel ......? itu sudah pasti .... tapi kalau sudah bosen apel atau buah tidak menjadi makanan pokok yang wajib terhidang di atas meja kita, maka pilihannya adalah kripik-kripikan a la Malang. Untuk ngemil sambil nonton tv.


    Warung Bambu - Batu
    Yang pertama adalah kripik tempe ... Ada yang bentuknya bulat (dengan diameter sekitar 6 cm). Ini yang umum ditemukan di toko2 ... Nggak boleh nyebut nama toko ya, karena saya bukan staff pemasarannya. Tapi .... saya biasa beli kripik tempe yang bentuknya persegi panjang sekitar 3 x 6 cm dan ini ditemukan di Batu. Anak dan suami juga lebih suka kripik tempe yang bentuknya kotak. Lebih renyah dan tidak keras dibandingkan dengan yang bulat.

    Selain kripik tempe, ada kripik jamur dan kripik buah-buahan seperti apel, semangka, melon, nangka, mangga, duren, ubi manis (kuning), ubi ungu, ubi "anggrek" karena warnanya campuran ungu dan putih. Tentu ada kripik-kripik lainnya.... Yang saya sebut itu adalah yang sering saya beli untuk oleh-oleh teman dan keluarga. Selain kripik, makanan khas untuk oleh-oleh dari Malang adalah pia Mangkok dan moci. Ini rasanya juga enak. Jauh lebih enak dari bakpia Pathuk dari Jogja.


    Itulah sebagian kuliner Malang yang pernah saya nikmati. Semua yang saya sebut adalah jenis yang berulang kali saya makan ... artinya disukai juga oleh teman-teman yang mengantar ... Atau ... jangan-jangan, sebetulnya mereka kurang suka, tapi sungkan bilang terus terang... Hehe ... Jadi lebih tepat adalah kuliner pilihan saya ....

    Ada yang mau menambahkan...?

    Selasa, 02 Juli 2013

    SITU CILEUNCA – Pangalengan


    Situ Cileunca, kawasan tujuan wisata di wailayah Pangalengan ini sebetulnya tidak sengaja ingin dikunjungi. Tujuan utamanya adalah ingin jalan-jalan di areal kebun teh Pangalengan. Areal kebun teh yang seperti pada umumnya sudah dioperasikan sejak jaman penjajahan Belanda dulu. 

    Itulah yang saya tahu tentang Pangalengan yang letaknya di wilayah Selatan kota Bandung, selain produk olahan yang berasal dari susu. Beberapa tahun yang lalu, sang suami pernah diajak rekan kantornya mengunjungi kampung keluarganya di wilayah ini dan kembali ke Jakarta berbekal beragam produk olahan susu. Yang saya ingat adalah pudding susu dalam cup yang rasanya enak sekali.

    Pada liburan anak sekolah kali ini, mencuri waktu kerja ketika suami juga kebetulan sedang ada acara di luar kota untuk beberapa hari, kami berdua ... saya dan anak berangkat ke Bandung. Acara utamanya ke Rumah Mode, karena si gadis ... mungkin karena terpengaruh ocehan teman-temannya, ingin kesana. Karena acara ini pasti hanya "seru" untuk dilakukan hanya oleh perempuan ...., maka sengaja saya ambil cuti dua hari. Suami rencananya menyusul langsung dari bandara Cengkareng ke Bandung naik bis. Sudah diwanti-wanti harus pakai Primajasa supaya mudah penjemputannya.

    Sabtu pagi ... eh nggak pagi juga sih. Akhirnya jam 11.00 kami baru berangkat dari Perumahan Gading Regency di bilangan Sukarno-Hatta menuju Pangalengan. Agak siang, karena selain menunggu bubur ayam mang Oyo yang terlambat datang, kami juga harus menunggu adik saya yang akan mengendarai mobil dan sebagai penunjuk jalan.

    Bandung di waktu liburan sekolah anak dan week end pasti penuh dan "dibanjiri" dengan mobil berplat nomor B. Maka ..... adik saya memutar otak, mencari jalur mana yang layak dilalui untuk menghindari kemacetan parah. Maka ... walau hanya menempuh 1 gate saja, diputuskan kami masuk gerbang tol Buah Batu menuju gerbang tol Moch Toha. Usai mengambil kartu pass, terlihat arus kendaraan menuju gerbang tol Buah Batu dari arah Padalarang - Purwakarta mengular panjang bahkan hingga 1 km di jalur tol Padaleunyi. Gila ..... kalau di Buah Batu saja sudah sepanjang itu, bisa dibayangkan bagaimana di gerbang tol Pasteur. Untungnya ... gerbang tol Moch Toha sepi dari peminat, sehingga hanya ada 3 mobil saja di depan kami.


    Harapan untuk menempuh perjalanan dengan nyaman, rupanya hanya fatamorgana. Jalan raya Banjaran macet total .... Penyebabnya, selain karena banyaknya trailers yang keluar masuk dari berbagai pabrik di sepanjang jalan Banjaran, juga akibat dari "peredaran" trailers yang overweight, maka sudah dipastikan jalan raya Banjaran tersebut hancur lebur. Ditambah lagi musim kemarau "basah" pasti menambah parah kerusakan. Maka .... upaya atau lebih tepatnya "niat baik" pemerintah menambal/memperbaiki jalan dengan melapisi jalan lama dengan beton setebal kira2 20cm menjadikan arus lalu lintas bukan saja tersendat, tapi nyaris macet total. Bayangkan saja, untuk bergerak sejauh 10 meter saja, kami harus menunggu sekitar 15 menit, lalu berhenti untuk menunggu 15 menit lagi. Begitu berulangkali.

    Bayangan menikmati liburan yang menyenangkan betul-betul sudah hilang dari kepala. Mau memutar arah mobil untuk kembali ke Bandungpun hampir mustahil karena dari arah yang berlawanan, motor dan angkot berseliweran susul menyusul. Entah berapa jauh jarak yang kami tempuh selama 3 jam tersebut. Yang pasti ... akhirnya kami tiba di SItu Cileunca pada jam 15.00. Berarti + 4 jam untuk menempuh jarak sekitar 40km.

    Situ Cileunca yang indah sudah terlihat dari jarak jauh ... bahkan cukup jauh. Indah terlihat ... hal itu juga yang menarik kami untuk langsung mengunjungi. Apalagi dengan adanya panel-panel petunjuk dan iklan adanya flying fox, paint ball, dan rafting Panglayang. Sepertinya menarik sekali ... apalagi disekitarnya terlihat banyak guest house. Maka ... rencana untuk berlibur di lokasi ini, menikmati semalam dua dengan keluarga besar mulai menari-nari di kepala.


    Usai membayar uang masuk 50 ribu rupiah untuk mobil dan 9 penumpang dewasa dan anak-anak, kami mendapat tempat parkir dengan teramat mudah. Tidak banyak yang mengunjungi lokasi ini bila dibandingkan dengan Kawah Tangkuban Parahu, Ciater ataupun Kawah Putih.

    Karena perut para kurcaci baru terisi Nu green tea dan lays potato chips, maka kami bergegas mencari gubuk tempat makan siang. Adik ipar saya, mendahului kami dengan ditemani seorang perempuan muda membawa tikar. Hm ..... pasti harus sewa tikar untuk dihampar di bawah tenda yang agak kumuh. Entah apa yang diperbincangkan ... dan salah saya juga yang biasanya agak cerewet dengan hal-hal seperti ini, kali ini mengikuti saja naik ke gubuk reyot itu... Alasan utamanya karena sudah tidak tahan menahan kebutuhan dasar ke toilet setelah minum begitu banyak air.

    Persoalan pertama muncul ..... sebagaimana galibnya di hampir seluruh kawasan wisata di Indonesia, maka, toilet menjadi masalah utama dalam hal kebersihan. Jangan berpikir kenyamanan... ini sepertinya hal yang sangat mustahil ditemukan di Indonesia. Tidak berbau saja, maka kita sudah bisa dikatakan "beruntung". Sebagaimana umumnya "bagian belakang" rumah, apalagi sebagai tempat pembuangan sisa makanan/minuman manusia, maka toilet kita memang menjadi cermin tingkat kebersihan kawasan wisata. Jadi .... kalau kawasan wisatanya saja sudah sangat tidak terawat ..., maka bisa dibayangkan bagaimana tingkat kebersihan toiletnya. Masih beruntung, air yang melimpah meluruhkan bebauan khas, tapi ... kita tetap harus menahan napas dan membutakan mata melihat kondisi ruangnya.


    Beruntung pula, pesanan makan siang sudah dilakukan sebelum melepas hajat. Kalau belum .... pasti hilanglah sudah selera untuk makan siang. Sudah pula terlambat waktunya.

    Makan siang kami saat itu adalah tahu+tempe goreng ditambah dengan 4 ekor ikan mas goreng (total 1kg), 2 ekor ayam bakar, 1 ekor ayam goreng. krupuk aci dan lalapan+sambal. Tidak lupa tentu nasi untuk 9 orang. Tunggu punya tunggu .... kok makanan tak kunjung tiba ... langak-longok kesana kemari, tidak ada manfaatnya karena ada beberapa warung yang menyajikan menu yang sama dan kami betul2 tidak tahu dari warung mana perempuan muda tadi datang.

    Akhirnya... kami hanya bisa bergurau sambil meringis menahan lapar...
    "Jangan-jangan, ayamnya baru dipotong dan ikannya baru selesai dipancing..."
    Tiba-tiba, adik saya yang baru saja keliling-keliling bilang...
    "Eh .... beneran lho ... ayamnya baru dicabut bulunya di warung situ! ikan juga baru disiangi. Dia bilang ... semua disini fresh. Baru disiapin kalau ada yang pesan..."
    Alamak ..... segar sih segar..... lha ini sudah jam 16.00 ................. Makan siang apa pula nih...?
    Padahal ... malamnya sekitar jam 20.00, adik saya yang lain sudah pesan tempat untuk makan malam di Rumah Nenek di bilangan Cibeunying - Bandung.

    Akhirnya .... yang ditunggupun datang dan balatentara yang kelaparan langsung menyerbu hidangan "segar" a la situ Cileunca. Masakannya lumayan memenuhi selera walau sepertinya si ayam sudah agak tua sehingga dagingnya agak alot, terutama terasa pada ayam bakarnya.
    Sambalnya lumayan pedas, tapi ... karedoknya masih kalah jauh enaknya dibandingkan dengan karedok olahan asisten dapurku yang orang Cihampelas - Cimahi itu.


    Sekitar jam 17.00, kami putuskan untuk kembali ke Bandung, maka kudatangi warung untuk menyelesaikan pembayaran.
    "Janten sabaraha bu...?"
    "Genep ratus dua puluh rebu, neng ...!"
    Ha .......? Sumpah mati ...... kaget banget dengar harganya ... Perkiraanku, dengan makanan seperti itu, kami hanya akan menghabiskan maksimal 450 ribu saja.
    "Geuning awis pisan nya'...?"
    "Sumuhun neng ... atuda si eneng henteu kadieu langsung... Eneng teh nganggo calo, janten pangaosna ge benten... manehna nu ngetang ....!"
    Halah ............!!!!
    Ya sudah deh ..... gak bisa ngomong apa-apa lagi. saya keluarkan uang secukupnya dan ...... hap ..... perempuan muda calo itu langsung menyambar uang yang tadinya sudah kuangsurkan untuk ibu pemilik warung ...! Si calo rupanya betul-betul jadi penguasa lapangan ....!

    Sambil beres-beres barang yang ada di gubuk, si calo nagih lagi uang sewa tikar....
    "tiga puluh ribu...." katanya, untuk sewa 2 tikar mendong butut selama 2 jam saja.
    "Lho ..... bukannya sudah termasuk di harga makanan tadi..., kan kamu sudah dapat komisi disitu!" sahutku rada ketur.
    "Nggak bu ... tikar ini lain lagi orangnya..."
    Hadoh ....... 2 kali dikerjain ....!


    Lenyap sudah angan-angan ingin berlibur sekali lagi menikmati udara Pangalengan dan Situ Cileunca yang sejuk itu. Sungguh ..............!!! Keindahan danau alias situ Cileunca tersebut sangat tidak sebanding dengan kondisi lapangan. Pengelolanya, biasanya pemerintah daerah, hanya tertarik untuk menarik retribusi karcis masuk saja tanpa melakukan perawatan lahan dan fasilitas umumnya sama sekali. Apalagi ditambah dengan calo-calo yag berseliweran berpura-pura menawarkan ini itu untuk kemudian "menjarah" pengunjung yang lengah.

    Ini memang menjadi publisitas buruk bagi perkembangan kawasan wisata, terutama yang dikelola pemerintah daerah. Tapi memang begitulah kenyataan yang terjadi di hampir seluruh kawasan wisata yang dikelola pemerintah daerah dan hingga sekarang tidak pernah berubah.

    Rasanya, perlu dipertanyakan juga apa yang dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan industri kreatif dalam upayanya meningkatkan fasilitas dan kualitas kawasan wisata. Bagaimana kita bisa meningkatkan arus wisata dari luar negeri kalau kualitas kenyamanannya dan fasilitasnya sama sekali tidak diperhatikan? Pemerintah Daerah/pengelola kawasan wisata perlu diberikan pelatihan dan monitoring yang terus menerus agar mereka mampu meningkatkan kualitas dan kinerjanya. Jadi, memang masih banyak yang harus dilakukan untuk mampu menarik wisata dan "meredam" wisatawan yang gemar ke luar negeri untuk mau menikmati wisata di dalam negeri.

    Wallahu alam

    BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

     Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...