Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Mei 2012

EKSPLOITASI ANAK DI JALAN RAYA

Setiap hari saat pulang kantor, kemacetan sudah pasti menghadang di perempatan Jl TB Simatupang - Jl. RS Fatmawati. DI sana, puluhan dan bahkan mungkin ratusan mobil antri, menunggu traffic light memberi signal hijau, sehingga mobil bisa melewati perempatan yang selalu sibuk itu.


Berbagai jenis kendaraan memenuhi jalan, saling serobot, seakan tak rela melepaskan meter demi meter yang ditempuh demi kelancaran perjalanan pulang. Apalagi motor-motor yang jumlahnya puluhan. Namun di balik keriuhan raungan mesin kendaraan bermotor, coba perhatikan kegiatan yang terjadi di sela-sela antrian mobil/motor. Di bawah sinar kuning lampu penerangan jalan. Tentu akan tersembul beberapa kepala yang tingginya bahkan lebih rendah dari kaca spion mobil atau motor. Mereka berlari di sela-sela mobil dan motor, berebut sasaran untuk menadahkan tangan-tangan mungil berdebu. Tak dipedulikannya pengap dan kotornya udara akibat terpaan polusi asap kendaraan bermotor.


Menyedihkan tentunya ... di malam yang telah larut, seringkali lewat dari jam 22.00, anak-anak yang seharusnya sudah terlelap di pelukan sang ibu, dalam kenyamanan tempat tidur, masih nanar di tengah keramaian malam. Apakah mereka tidak perlu istrirahat agar esok bisa bangun lebih pagi dan berangkat sekolah? Sudahkan mereka mengerjakan tugas-tugas sekolah? Ah.... jangan-jangan, mereka sama sekali tidak mengenal sekolah ... Jangankan anak-anak kecil yang menurut taksiranku (melihat tinggi badannya) baru berusia sekitar 2 tahun ... bahkan anak-anak yang lebih besarpun, belum tentu mengenal sekolah... Anak siapa mereka...? Begitu teganya orangtua yang melepas dan membiarkan mereka berkeliaran di jalanan, sementara malam sudah sedemikian larut... 


Kepolosan anak-anak itu tak akan pernah mampu memasang wajah memelas untuk meraih belas kasihan pengendara mobil dan motor. Senda gurau tetap terdengar ....., Entah karena memang para pengendara sudah lelah setelah seharian bekerja... atau karena mereka sangat paham betul bahwa anak-anak tak berdosa itu diperalat segelintir orangtua "pemalas" untuk mengais rejeki... Tentu kita tidak berharap bahwa para pengendara motor dan mobil sudah kehilangan empati, nurani dan "rasa" sehingga jarang sekali terlihat tangan menyisipkan selembar uang ke dalam tangan mungil yang tersodor... Begitulah fragmen kehidupan malam, di salah satu sudut, penggalan ibukota Jakarta.
***


Jalan Kyai Maja, tepatnya di depan kolam renang Bulungan, saat pagi atau sore, yaitu pada peak hours. Berbagai ragam merek mobil dan motor turut menambah kemacetan yang sudah terjadi akibat deretan metro mini yang tidak pernah mau mentaati traffic light. 

Beberapa waktu yang lalu, sambil menunggu kendaraan maju, pandangan mataku terpaku pada sosok lelaki berumur sekitar 20an. Berpenampilan kumal bertato yang sedang menggendong bocah umur sekitar 8 tahun. Sempat terbersit rasa kagum melihatnya. Semula kupikir dia sedang menggendong adiknya dan ini merupakan pemandangan yang sangat langka. Seorang lelaki muda, walaupun berwajah dingin dan bertato, mau bersusah payah menggendong adiknya.

Bocah kecil di gendongan itu asyik memain-mainkan koin rupiah. Namun sayangnya, ia lengah dan koin tersebut jatuh menggelinding ke bawah metromini. Si "kakak" begitu marahnya sehingga dengan kasar dia melepaskan bocah dari gendongan ke jalan disela-sela kendaraan yang berhenti di tengah kemacetan. Bocah itu ternyata hanya berkaki satu dan untung juga dia cukup waspada untuk tidak terlempar dari gendongan. Si "kakak" begitu marah ...... Mereka rupanya "pasangan pengemis" yang mengais belas kasihan dengan memanfaatkan tubuh cacat si bocah. 

Pintu metro mini selalu terbuka, tanpa terduga, dilemparnya si bocah ke dalam metro mini. Tanpa terduga, dengan lincahnya si bocah mulai beroperasi, merangsek masuk ke dalam metro mini. Sementara si "kakak" berusaha meraih koin yang terjatuh sebelumnya.
***

Pemanfaatan orang cacat, anak-anak balita atau bayi sakit-sakitan sebagai umpan belas kasihan masyarakat kerap terlihat di perempatan jalan atau di kendaraan umum. ini adalah cermin kemiskinan yang merasuk di masyarakat. Kalau pemerintah selalu mengklaim bahwa tingkat kemiskinan telah menurun, maka itu hanya hitungan di atas kertas berdasarkan teori dan asumsi yang dibuat secara sepihak. Bukan berdasarkan fakta di lapangan. Apapun alasan yang disampaikan dan berbagai asumsi yang dibuat untuk menutupi kondisi riel masyarakat, itulah bukti ketidakberdayaan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraaan rakyat.

Kemiskinan memang "memaksa" mereka untuk menghalalkan segala cara untuk meraih uang pembeli sebungkus nasi karena lapangan pekerjaan sangatlah mustahil dimasuki oleh mereka yang tidak memiliki bekal pendidikan yang cukup. Mau berdagang, apalagi ... darimana modal bisa diperoleh? Mungkin juga mereka berpikir bahwa mengemis masih lebih baik daripada mencuri atau merampok karena profesi "pencuri dan perampok" sudah "dirampok" oleh golongan elite berdasi yang tanpa malu-malu mencuri dan merampok duit negara .... Duit yang sebetulnya hak masyarakat .... Duit yang sejatinya harus dikembalikan untuk dinikmati masyarakat dalam bentuk berbagai fasilitas pelayanan kesehatan "murah" di puskesmas, sekolah gratis berlabel wajib belajar ... pembangunan infrastruktur di berbagai pelosok negeri agar denyut pembangunan merata di hampir seluruh wilayah negeri tercinta.

Kini, di tengah maraknya kasus-kasus perampokan duit negara oleh perampok elite serta himbauan pemerintah daerah untuk tidak memberi uang kepada anak jalanan agar mereka "kapok" dan kembali ke rumah, apa yang harus kita lakukan?

Senin, 28 Mei 2012

BIJAK MENGUNDANG

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman di kantor yang lama, yang sekitar 18 tahun lalu pernah sekantor, menelpon .... Meminta alamat kantor saya sekarang. Dia bermaksud mengundang beberapa teman kantor saya yang sekarang beserta boss yang juga bossnya di kantor terdahulu untuk menghadiri pernikahan anaknya yang ke dua.

Setelah saya berikan alamat persisnya, beberapa hari kemudian saya menerima undangan tersebut. Alhamdulillah, dia masih ingat untuk mengundang teman-teman lamanya. Bisa jadi hal ini dilandasi untuk menfasilitasi teman-teman lamanya untuk melaksanakan reuni gratis heheheh .... Semangat menyambung tali silaturahim yang patut dihargai.

Saat membaca nama - nama pengundang, yaitu nama orang tua mempelai, saya agak tertegun... Bukan karena jumlahnya yang ternyata 3 pasang, yaitu 2 pasang berasal dari keluarga perempuan dan satu pasang dari keluarga lelaki, tetapi karena saya merasa nama salah satu istri pengundang agak familiar. Nama yang berasal dari "masa remaja" nun jauh di seberang... Apalagi dipadukan dengan nama suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak dan alamat rumahnya. 

Tidak salah lagi .... karena belasan tahun yang lalu, sekitar beberapa bulan setelah kelahiran anak saya yang ke dua, saya pernah bertemu di sebuah RS di bilangan Bekasi. Saat itu dia yang juga berprofesi dokter, sedang menunggu sang suami.

Segera saja kutelpon mantan teman kantorku itu untuk meminta nomor telpon genggam calon besan perempuannya yang menjadi ibu tiri calon menantunya itu.

Singkat kata, berbekal nomor telpon genggam pemberian temanku, beberapa hari kemudian, hari minggu pagi, sambil menunggu asisten rumah membeli ketupat sayur di pelataran parkir dekat pasar pondok labu, kukirim sms kepada temanku tersebut, memberitahukan bahwa aku mendapat undangan untuk hadir dalam pernikahan anak tirinya tersebut dan bermaksud menghadirinya.

Di luar dugaan, alih-alih menjawab sms ku, teman lamaku itu malah langsung menelpon ... hihihi... inilah kemudahan dan dampak kemajuan teknologi komunikasi - sedang berbelanja di pasarpun bisa tetap berkomunikasi. Cerita panjang lebar, bernostalgia mengenai teman-teman lama kami saat di bangku SMA dulu.

Sebetulnya... teman lama ini adalah kawan sekelas adik perempuanku, tapi karena kami tinggal bersebelahan rumah dan kebetulan dia tinggal dengan kakak iparnya yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala cabang suatu bank, maka kami cukup saling mengenal seluruh isi keluarga masing-masing.

Dua hari kemudian, saat berada di kantor, secara tiba-tiba aku menerima sms berisi penjelasan mengenai keluarga dan status anak-anaknya. Kaget juga aku membacanya .... Entah apa yang ada di dalam benak temanku, hingga dia merasa harus menjelaskan bagaimana dia melaksanakan pernikahannya dulu serta status anak-anaknya. Sumpah mati ... sama sekali tak pernah terlontar pertanyaan tentang hal itu. Itu urusan pribadi mereka.

Aku memang pernah mendengar cerita tentang pernikahannya tersebut dari adikku yang memiliki profesi yang sama dengan suaminya. Tapi... untuk apa mengusili urusan rumah tangga orang lain? Itu sebab ... aku hanya menjawab singkat..."ya, sudah pernah dengar ..... ! 

Hari Minggu, saat dilangsungkan resepsi pernikahan tersebut, aku hadir sendiri. Anakku sedang bermalas-malasan, kalau diperintahkan mandi lebih pagi. Mengikuti kebiasaan bapaknya, hari Minggu adalah hari santai dimana semua orang merasa "bebas" untuk mandi sesuka hati. Kebiasaan jelek yang tak patut ditiru. Suamiku, sudah sejak pagi keluar rumah. Hari Minggu adalah jadwalnya latihan senam pernafasan Sinar Putih. Pulang dari tempat latihan, usai sarapan pagi yang sudah sangat terlamabta, sekitar jam 10.30, biasanya acara memeluk guling tidak bisa diganggu gugat. Jadi.... kalau aku punya undangan dan dia sedang berbaik hati untuk ikut hadir, biasanya dia akan mengorbankan waktu latihannya. Namun kali itu, dia "berkeras" latihan karena minggu sebelumnya, kami pergi ke Bandung menjenguk ibuku yang baru usai melakukan operasi penggantian sendi pangkal paha kanannya.

Aku berangkat sendiri dari rumah sekitar jam 10.45, langsung mengambil jalan bebas hambatan menuju lokasi. Kebetulan bertemu beberapa teman lama dari kantor yang sama dengan orangtua mempelai lelaki. Kami ngobrol kesana-kemari. Memang begitulah motivasi kami hadir di acara pernikahan tersebut. REUNI..... Rupanya, mereka juga agak "curious" dengan adanya 3 keluarga pengundang. Itu sebab kami memilih tempat berdiri agak dekat dengan pelaminan, dengan harapan agar kami bisa "melihat" dari dekat  serta mendapat kesempatan awal memberi selamat kepada keluarga yang berbahagia tersebut.

Tiba saat pengantin dan keluarga berjalan menuju pelaminan, mataku menangkap sosok seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda dan seorang lelaki ganteng. Si perempuan, setelah kuperhatikan, ternyata menggunakan warna kebaya yang sama dengan orang tua pengantin yang sedang berjalan mengiringi pengantin menuju pelaminan, sedangkan sang pria juga memakai pakaian Jawa berblangkon. Tidak salah lagi ... ini tentu ibu pengantin perempuan disertai suami barunya.

Menjelang rombongan pengantin tiba di pelaminan, ibu kandung pengantin perempuan bangkit dari kursi rodanya. Berjalan perlahan tertatih-tatih sambil dipapah suaminya... dia berjalan dan duduk berdampingan dengan mantan suami dan istri "baru"nya. Memang agak terlihat tidak biasa ... apalagi saat itu sama sekali tidak terlihat adanya saling sapa di antara ke dua pasangan suami istri itu. Unik ..... Salah satu temanku sempat nyeletuk usil .... " lihat deh ... suaminya (bapak dari pengantin perempuan) mendapat istri yang lebih cantik, langsing dan lebih muda - begitu juga dengan ibunya. Usai diceraikan suami, dia yang terlihat sakit, mendapat suami yang juga lebih muda dan ganteng"

Kulihat seksama mereka yang ada di pelaminan.... Betul ... Sang suami Jawa yang wajahnya lebih pantas disebut wajah Minang - duduk berdampingan dengan istrinya (ini teman lamaku) yang jauh lebih segar dan cantik dibandingkan dengan mantan istrinya yang terlihat jauh lebih tua dan "sakit". Demikian juga mantan istri. Dia duduk tenang didampingi oleh suami yang terlihat gagah dan ganteng khas lelaki Jawa dengan kumisnya dan ..... terlihat jauh lebih muda dari wajah istrinya.

Entah apa yang berkecamuk di benak para undangan... Yang pasti, ke dua orangtua itu, walaupun sudah bercerai ... mereka punya hak dan kewajiban untuk "menyelesaikan" tugas, mengantar anak-anaknya ke gerbang pernikahan. Jadi memang.... mengapa harus malu dengan kondisi ini?

Minggu, 19 Februari 2012

Yang GRATIS


Ini peristiwa sekitar 5 tahun yang lalu, saat melintas jalan Kyai Maja, di perempatan Kejaksaan Agung, saya melihat ada mobil box yang melayani pesan antar. Makanan yang dijajakannya adalah kopi dan donut. Donat? itu sih biasa....! Tapi dia menjadi unik karena bentuknya bukan ring, tetapi persegi. Wah... lumayan juga nih buat menu sarapan kalau lagi ada rapat di pagi hari. Berbekal dengan niat tersebut, maka saya menghubungi nomor telpon yang tercantum di mobil tersebut.

Resepsionis yang melayani telpon cukup ramah dan komunikatif. Dari niat saya hanya ingin mendapatkan brosur berisi daftar harga dan produk yang di layani, resepsionis menawarkan untuk segera mengirim 2 lusin sampel. Tawaran yang sangat tidak layak ditampik tentunya.

Keesokan harinya, hari yang dijanjikannya untuk mengirim sampel donut ke kantor, ternyata lewat begitu saja. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Sampai minggu lalu, kebetulan harus memintasekretaris kantor menyiapkan menu sarapan pagi saat rapat, saya teringat kembali  donut persegi itu. Jadi saya telpon kembali menanyakan kiriman brosur untuk mengetahui produk yang dijual. 

Resepsionis yang masih ingat dengan nama dan alamat yang saya sebutkan, meminta maaf karena saat dia mengirimkan sampel terdahulu, ternyata sudah di luar jam kantor sehingga sampel tidak bisa ditinggalkan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa, lokasi kantor kami memang di daerah perumahan sehingga bila akan mengirim sampel harus pada jam kantor.

" Kirim brosur melalui fax sajalah..., kalau tidak memungkinkan mengirim sampel"
"Ya ... segera kami tindaklanjuti..." Begitu jawabnya. Tetapi satu, dua, tiga hari terlewati ... brosur tidak juga datang baik melalui kurir atau facsimile. Sampai kemarin, saat menjelang makan siang, resepsionis kantor memberitahu saya ada kiriman donut ..... Tidak tanggung-tanggung ..... 5 lusin alias lima box. Walah.... kenyang deh seisi kantor.......!

Bagaimana rasanya? Standard donut-lah.... Nggak kalah dengan Jco atau Krispi Kreme. Walaupun tidak semanis Krispi Kreme, bagi saya masih terlalu manis. Harga per 2 lusin - 2 boxes nya relatif  lebih murah dari keduanya (baik yang reguler maupun assorted). Nah... saya berbagi gambarnya saja ya..... Yang lapar, bayangin aja lagi menikmati lembutnya donut ini.....

Rabu, 04 Januari 2012

Di hadapan Hajar Aswad


Hajar Aswad (الأسودلحجرا al-Hajar-ul-Aswad dalam bahasa Arab) adalah sebongkah batu hitam yang terletak di sudut tenggara Kabah, kiblat kaum muslimin ketika melaksanakan shalat. Kabah sendiri terletak Makkah, di tengah masjid yang sangat luas yang dikenal dengan nama Masjidil Haram.

Ukuran Hajar Aswad relatif kecil. Saat Nabi Ibrahim meletakkannya di sudut tenggara Kabah, Hajar Aswad berdiameter sekitar 50 cm. Hajar Aswad yang kita lihat sekarang tidaklah sebesar semula karena telah terpecah dalam beberapa bongkah, rusak ketika dicuri oleh Ismaili (Qarmation) dalam penyerangannya ke Makkah pada tahun 930 dan baru dikembalikan 20 tahun kemudian. Pada saat pengembalian inilah, Hajar Aswad pecah dan kemudian disatukan dalam bingkai perak tersebut.

Kini, Hajar Aswad sangat mudah dikenali karena bingkai perak di sekelilingnya. Ketika para jamaah melakukan thawaf yang merupakan bagian dari ritual ibadah Umroh atau Haji, kebanyakan dari mereka selalu mencoba untuk mencium Hajar Aswad.

Arti Hajar Aswad bagi umat Islam

Ada berbagai pendapat atas status dan arti Hajar Aswad bagi umat Islam. Sebagian menganggap bahwa Hajar Aswad tidak berbeda dengan batu biasa. Ketika sayyidina Umar Ibn Khattab mencium Hajar Aswad, beliau berkata di hadapan para mukminin : "Engkau hanyalah sebongkah batu. Andaikan tak kulihat Rasulullah SAW menciummu, maka akupun tak akan pernah menciummu".

Banyak kaum muslimin yang sependapat dengan Umar Ibn Khattab. Mereka menghormati Hajar Aswad dalam makna mengimami Rasulullah SAW. Bukan karena tuah yang dipancarkan oleh Hajar Aswad itu sendiri. Beberapa lainnya menganggap bahwa Hajar Aswad hanyalah sebagai penanda hitungan saat melakukan Thawaf.

Beberapa kelompok muslimin, melangkah lebih jauh lagi dengan mempercayai bahwa Hajar Aswad memiliki kekuatan Supranatural. Mereka percaya bahwa Hajar Aswad diturunkan ke bumi bersamaan dengan turunnya Adam dan Hawa dan memiliki kekuatan magis untuk membersihkan dosa-dosa Adam dan Hawa serta menyerapnya. Itu sebabnya Hajar Aswad yang semula berwarna putih susu berubah warna menjadi hitam karena sepanjang waktu ini, seluruh dosa-dosa manusia yang menciumnya terserap ke dalamnya.

Ada sebagian kecil yang mempercayai bahwa Hajar Aswad hanya bisa menghapus dosa kecil dan pada Yaumil akhir, Hajar Aswad akan bersaksi di hadapan Allah SWT siapa saja yang telah menciumnya. Mungkin ini hanya kepercayaan rakyat setempat saja. Bukan sesuatu yang dipercaya oleh seluruh umat Islam.

Asal Muasal Hajar Aswad.

Ada beberapa pendapat mengenai sejarah dan asal muasal keberadaan Hajar Aswad. Umat Islam mengatakan bahwa Hajar Aswad diketemukan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail saat mereka sedang mengumpulkan bebatuan untuk membangun Kabah. Mereka menganggapnya sangat cocok untuk diletakkan di salah satu sudut Kabah.

Pakar sejarah sekuler merujuk kepada penggunaan bebatuan pada ritual keagamaan bangsa Arab pada masa pra Islam dan mengatakan bahwa kemungkinan Hajar Aswad adalah Batu Meteorit. Namun semua pendapat tersebut tidak pernah dapat dibuktikan karena Pemerintah Saudi Arabia tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk mencopot dan meneliti Hajar Aswad
Batu Hitam suci ini diletakkan pada sudut tenggara Kabah pada ketinggian sekitar 1.20m dari lantai. Hajar Aswad bukan dari jenis batuan gelogi manapun juga dan merupakan bagian Kabah asli yang dibangun pada masa Nabi Ibrahim AS. Setelah banjir melanda Kabah, saat rekonstruksi Kabah, Rasulullah SAW sendirilah yang meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempat semula. Nabi juga menciumnya saat beliau melaksanakan Haji Wada’, sehingga menyentuh dan mencium Hajar Aswad (Istilam) saat melaksanakan ibadah Umroh dan ibadah Haji dapat dikategorikan sebagai Sunnah Nabi.

Dalam sebuah kisah disebutkan menjelang selesainya pembangunan Kabah, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Kabah. Nabi Ibrahim berkata kepada Nabi Ismail, "Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia."

Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, "Dari mana kamu dapat batu ini?"

Nabi Ismail a.s berkata, "Batu ini kuterima daripada yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril)." Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di Kaabah disunnahkan mencium Hajar Aswad. Beratus ribu kaum muslimin berebut ingin mencium Hajar Aswad itu, yang tidak mencium cukuplah dengan memberikan isyarat lambaian tangan saja.

Hingga saat ini, menyentuh dan mencium Hajar Aswad menjadi obsesi bagi para peziarah Baitullah yang berasal dari pelbagai penjuru dunia, baik jamaah yang melaksanakan umroh ataupun ibadah haji. Obsesi untuk menciumnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW beberapa abad yang telah berlalu.

Bagaimana bentuknya?

Hajar Aswad, kini terlihat semakin cekung terkikis oleh ciuman jutaan umat manusia. Namun harum baunya. Entah apakah karena memang batu tersebut berbau harum ataukah karena pemerintah Arab Saudi menebarkan wewangian di sekitar Hajar Aswad agar bau busuk keringat manusia yang menyemut di hadapan Hajar Aswad tidak tercium. Hajar Aswad dijaga oleh tentara/asykar yang bergelayutan pada tali di sudut Kabah sambil memegang tongkat. Fungsi asykar tersebut untuk mengatur agar jamaah tidak melakukan tindakan syirik kala mencium Hajar Aswad dan mengatur giliran agar muslimah mendapat kesempatan.

Bagaimana upaya mencium Hajar Aswad?

Memang sangat tidak mudah untuk menunaikan niat mencium Hajar Aswad. Butuh perjuangan, usaha, niat yang tulus dan pasrah. Selain letaknya di sudut, kita dihadang oleh pusaran thawaf yang tak pernah berhenti, kecuali saat menunaikan shalat wajib. Apalagi jamaah yang berminat mendekati Hajar Aswad begitu banyaknya. Namun demikian, ada jamaah yang dengan mudahnya mencium Hajar Aswad tetapi banyak pula yang tidak berhasil dan malah babak belur terkena pukulan tongkat asykar, terlontar dan terjepit di antara jamaah yang berdesakan dan berebut mendekatinya. Mitos dan cerita ”seram” tentang pengalaman mencium Hajar Aswad makin membuat orang penasaran.

Sungguh ….!! Di hadapan Hajar Aswad, kita melihat gambaran sifat manusia yang paling primitif. Lelaki dan perempuan saling cakar, tarik menarik, desak mendesak, dorong mendorong, sikut menyikut melupakan etika, kesantunan dan martabat sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, menuju satu titik, yaitu Hajar Aswad. Mau tahu seperti apa gambarannya? Tidak lebih baik dari gambaran segerombolan ikan yang kelaparan saling berebut makanan yang ditebarkan ke dalam kolam. Atau seperti segerombolan serigala liar berebut mangsanya atau segerombolan anjing saling cakar berebut tulang. Manusia terlontar dan terombang-ambing saat mendekati Hajar Aswad. Yang kuat belum tentu berhasil menggapai Hajar Aswad namun yang lemah tidak perlu pesimistis. Namun untuk apa segala upaya tersebut? Konon mencium Hajar Aswad tidak tecantum dalam salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan kala kita melaksanakan ibadah umroh maupun ibadah haji. Wa Allahu Alam.
(sebagian bahan disadur dari wikipedia)

Lebak Bulus, Jum’at 7 Juli 2006

Berdagang dengan Allah SWT

Alhamdulillah, atas rejeki dan berkah Allah SWT kami sekeluarga mendapat kesempatan kembali untuk ziarah ke makam junjungan umat Islam, Muhammad SAW serta mengunjungi Baitullah. Kesempatan melakukan perjalanan spiritual seperti ini memiliki nilai yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar menghilangkan kepenatan duniawi semata, walaupun secara fisik terasa jauh lebih melelahkan.


Berbeda dengan perjalanan wisata regular, pada perjalanan umroh/haji, biro perjalanan ibadah selalu menyelenggarakan minimal satu kali pertemuan yang disebut sebagai manasik. Umumnya berisi penjelasan tentang ritual ibadah yang akan dijalankan, walaupun peserta telah dibekali dengan buku panduan yang cukup jelas dan akan didampingi oleh muthawif (guide) baik dalam perjalanan dari Jakarta dan akan ditambah lagi dengan muthawif yang bermukim di tanah Haram.

Tanah Haram (Makkah al Mukkaromah dan Madina al Munawarroh) atau lebih tepatnya Saudi Arabia memang dipenuhi dengan berbagai mitos dan cerita-cerita “menyeramkan” terutama bagi para perempuan. Bagaimana kebenaran dari mitos dan cerita tersebut, tentu patut dipertanyakan karena tidak ada seorangpun yang melihat dengan mata dan kepala sendiri tentang hilangnya perempuan setelah naik taxi tanpa didampingi lelaki/muhrimnya atau perempuan yang diperkosa di kamar hotel selama teman sekamarnya pergi keluar kamar dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi cerita sedih tentang perkosaan yang dilakukan oleh majikan/anak majikan terhadap TKI perempuan, mungkin dapat mewakili kebenaran mitos tersebut. Tetapi lebih jauh dari hal tersebut, bisa jadi perbedaan kultur dan sopan santun dalam hubungan antar jenis menjadi pemicunya.

Perempuan Indonesia yang selalu bermuka manis terhadap orang asing terutama kepada para superiornya (majikan, atasan dan lainnya), oleh lelaki Arab dianggap sebagai “undangan” untuk bertindak lebih jauh. Maklum saja, sejak Islam disebarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, wanita Arab memang ditempatkan sedemikian tinggi. Diperlakukan bagai kristal yang harus dijaga dan untuk memperolehnya (menikahinya) diperlukan upaya dan mahar yang sangat besar. Keluar rumah sendiri (tanpa muhrim), berkeliaran di tempat umum apalagi dengan tubuh terbuka (tanpa berhijab) merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan di tanah Arab. Hal ini tentu sangat berbeda dengan perempuan Indonesia. Sekalipun perempuan Indonesia berhijab namun mereka masih dapat bebas berkeliaran di luar rumah sendiri/tanpa muhrim dan bergaul bebas dengan lawan jenis. Perbedaan budaya seperti ini mengundang persepsi yang berbeda dalam mata dan pikiran lelaki Arab tatkala menghadapi keramahan perempuan Indonesia sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi tidak dapat dipungkiri, dalam bisik-bisik, diungkap bahwa para mukimin yang berasal dari Indonesia, banyak yang menjual diri dengan harga murah untuk menyambung hidup di tanah gersang bebatuan tersebut.


Kembali pada topik perjalanan ibadah ke tanah suci. Dalam manasik, selain penjelasan mengenai ritual ibadah yang akan dilakukan juga banyak dijelaskan tentang keutamaan maupun pahala ibadah di tempat-tempat tertentu. Bumbu-bumbu pahala ibadah shalat di Masjidil Haram sebesar 100.000 kali atau pahala shalat sebanyak 1.000 kali di Masjid Nabawi, pahala shalat di Masjid Quba setara dengan pahala umroh atau kemustajaban do’a di hadapan Multazam, Hijjir Ismail, Maqam Ibrahim, Raudhah, Arafah sampai dengan mencium hajar Aswad menjadi topik yang paling dipertanyakan calon jamaah.

Di luar dari pahala ibadah umroh/haji, berbagai iming-iming tumpukan pahala juga sering didengar dalam tausyiah para ulama pada majlis taklim, atau khutbah-khutbah di media layar kaca maupun shalat jamaah (shalat jum’at, Ied atau Tarawih). Dengarlah, betapa para alim ulama menyerukan orang untuk berzakat, infaq dan sadaqoh di bulan Ramadhan dengan alasan untuk meraih pahala yang lebih besar dibandingkan dengan pahala zakat, infaq dan sadaqoh yang dilakukan di luar bulan Ramadhan.

Lihatlah betapa kemudian orang beramai-ramai dengan sukacita dan ringan hati mengeluarkan hartanya selama satu bulan tersebut. Lihatlah juga akibatnya …. Hamburan uang dari para muzakki yang relatif besar selama Ramadhan dan kemudian diterima oleh para mustahik secara seketika membuat merekapun menggunakannya untuk hal-hal yang konsumtif. Bermegah-megah jauh di luar kemampuan rielnya. Alasannyapun, lagi-lagi, sangat klasik. Setahun sekali menyenangkan hati dan menikmati kehidupan “mewah”.

Lupakah bahwa pada sebelas bulan lainnya, para mustahik tidak lagi memiliki uang yang memadai untuk menopang hidup sehari-hari? Sebagaimana kebanyakan para muzakki lupa mengitung dan mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqohnya. Alasannya sederhana dan sangat klasik. Belum mencapai haul atau mungkin dalam hati berkata, menunggu Ramadhan tiba demi mengharap pahala yang jauh lebih besar lagi.

Lupakah kita bahwa para mustahik jauh lebih membutuhkan bantuan untuk 11 bulan lainnya dibandingkan dengan kebutuhan selama Ramadhan? Bukankah Ramadhan adalah bulan dimana kita dianjurkan untuk “menahan diri”? Bukan saja menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari “syahwat keduniawian” lainnya. Kenyataannya malah jauh berbeda. Bulan “menahan diri” malah berubah menjadi bulan “pelepas syahwat”. Meja makan orang yang menjalankan ibadah puasa menjadi “lebih bernas” dibandingkan dengan hari-hari biasa. Persiapan Iedul Fitri yang selalu didengungkan sebagai menyambut hari kemenangan setelah melewati berbagai ujian selama Ramadhan disemarakkan oleh kemegahan duniawi. Malam-malam Lailatul Qadar tidak lagi dilewati dengan I’tikaf di masjid tetapi dengan bertawaf di pertokoan mewah yang mengundang dengan berbagai potongan harga hingga jauh larut malam untuk sesuatu yang bernama “persiapan Iedul Fitri”. Inikah hitung dagang ibadah kita dengan Allah SWT?

Perbincangan mengenai pahala dan dosa selalu menarik dan debatable. Para ulama tentu memiliki dasar dalam mengemukakan dalil/hadist yang berkaitan dengan segala dosa dan pahala. Tetapi pernahkan kita sedikit melakukan “evaluasi dengan lebih kritis” atas kriteria dari setumpukan pahala yang selalu didengung-dengungkan tersebut. Sungguh, apabila pahala hanya “sebatas” pada besaran zakat/infaq/sadaqoh yang kita keluarkan setiap hari, maka alangkah kasihannya mereka yang miskin (para mustahik) karena mereka tidak akan pernah mendapat kesempatan meraih pahala dari zakat/infaq/sadaqoh.

Kalau saja pahala shalat berlipat ganda hanya dapat diraih di Masjidil Haram, Masjidil Aqsa dan Masjid Nabawi. Atau melalui ibadah-ibadah semacam Umroh dan Haji. Lalu kapan para mustahik atau orang-orang alim yang selalu taat beribadah, menjalankan kehidupan dengan sangat santun, penuh etika dan penuh keikhlasan namun tidak memiliki kemampuan fisik dan finansial untuk melaksanakan ibadah umroh/haji, memperoleh pahala sebesar pahala orang-orang yang berumroh dan berhaji. Kalau perhitungan pahala sesederhana itu atau begitu adanya, mungkin patutlah kita menggugat alangkah tidak adilnya Allah SWT.

Sungguh, urusan pahala bukanlah urusan manusia. Tidak sesederhana hadist dan dalil yang selalu diajukan para alim ulama. Nuansa, ruang dan waktu saat ayat-ayat al Qur’an tentang kewajiban berzakat ataupun ibadah-ibadah lainnya diturunkan serta keimanan kaum muslimin saat Rasullullah menjabarkan ayat-ayat tersebut sangatlah berbeda dengan saat ini. Dan terutama, keikhlasan manusia dalam menjalankan ibadahnya pada masa kehidupan Rasulullah Muhammad SAW dengan abad ke 21 ini, tidak lagi dapat disamakan. Keteladanan Rasul dalam menjalankan ibadah dan menerapkan ayat-ayat Al Qur’an yang menjadi dasar kehidupan umat sangat jelas dan gamblang. Sangat berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Seringkali ucapan/tausyiah para alim ulama sangat berbeda dengan tindak-tanduk kesehariannya. Anjuran dan ucapan para umara seringkali hanya menjadi penghias dan pemanis bibir belaka dibandingkan dengan keteladanan yang laiknya harts dilaksanakan mereka.


Bila dalam sehari saja kita mengucapkan minimal 5 kali “inna shalati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati lillahi rabbi’l alamin” (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanya bagi Allah penguasa dari sekalian alam yang tidak ada sekutu bagiNya), ini bisa diartikan penyerahan secara total segala sesuatu yang berkaitan dalam kehidupan kita di dunia semata-mata ke dalam kekuasaan Allah SWT. Lalu, mengapa kita masih saja menghitung-hitung pahala dalam setiap langkah yang kita lakukan? Mengapa untuk menunaikan kewajiban agama, kita masih menunggu-nunggu waktu yang tepat, yang memberikan benefit/pahala terbesar kepada kita. Bukankah kebutuhan para mustahik tidak dapat menunggu hari baik dan waktu yang tepat saat kita berkenan mengeluarkan zakat/infaq/sadaqoh?

Allah SWT yang Maha Adil dan Maha Mengetahui tentu tidak akan salah menganugerahkan pahala Umroh dan hajiNya atau pahala sebesar pahala shalat di ke tiga masjid mulia (Aqsa, Haram, Nabawi) kepada umatNya. Tentu bukan kepada mereka yang membiayai perjalanan menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan harta yang tidak jelas asal muasalnya. Bukan pula kepada mereka yang melaksanakan tawaf, sai dan tahalul karena “terpaksa” diajak teman berumroh atau bukan pula kepada mereka yang berwukuf di padang Arafah, bermalam di Muzdalifah, melontar jumroh di Mina karena memang sedang “mode”nya berhaji di usia muda.

Pahala ibadah kita sesungguhnya adalah rahasia Allah. Bukanlah semata-mata berdasarkan uraian para ulama sekalipun banyak ayat dan hadist yang mendukungnya. Kesemuanya sangat bergantung kepada banyak faktor antara lain niat, keikhlasan, keimanan manusia, dimana hanya Allah SWT lah yang mampu menilainya.

Mari kita kerjakan segala ibadah dengan ikhlas tanpa perlu lagi menghitung-hitung pahala yang akan diperoleh. Bukankah sudah terlalu banyak anugerah Allah SWT yang kita nikmati? Allah SWT Maha Mengetahui. Dia tidak pernah tidur dan tidak akan pernah salah memberi ganjaran bagi manusia atas apa-apa yang kita lakukan. Wa Allahu Alam.

Lebak bulus 6 Juli 2006 jam 01.00

Minggu, 01 Januari 2012

Ibadah dan Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi komunikasi memang luar biasa pesatnya. Saat wireless/mobile telephone masuk ke Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu, bentuknya betul-betul sangat tidak menarik. Handset nya masih seperti fixed telephone dilengkapi dengan batere seperti accu mobil. Jadi cukup besar dan tidak mungkin dibawa kesana-kemari sehingga lebih banyak digunakan sebagai telpon yang diletakkan di dalam mobil. Harganyapun sangat mahal. Kira-kira lima belas juta rupiah atau setara dengan usd 23.000 pada saat itu (kurs sekitar Rp.650,-). Fungsinya pun betul-betul masih sangat sederhana. Tidak jauh dengan fixed telephone yang ada di rumah. Pemiliknya tentu saja hanya orang-orang kaya dan karenanya antena wireless telephone berbasis CDMA tersebut akan menghiasi atap mobil-mobil mewah mereka. Saat itu, mobile telephone merupakan status symbol tersendiri pemiliknya

Era palm telephone berbasis GSM di Indonesia mungkin dimulai pada awal tahun 90 an. Jangan bayangkan bentuknya sekecil dan seindah handphone sekarang. Rata-rata ukurannya sebesar ukuran Nokia-9300 dengan feature yang sangat sederhana. Berfungsi sebagai telpon saja. Short message service – sms pun baru bisa dilakukan oleh telkomsel. Indosat belum belum bisa melayani sms. Pemilik handphone, lagi-lagi masih sangat terbatas dan kesemuanya berbasis abonemen. Belum lagi ada layanan pra bayar.

Penggunaan kartu prabayar, lagi-lagi dimulai oleh Telkomsel dengan meluncurkan kartu simpati (local), kalau tidak salah, pertama kali di Batam. Kiat ini tentu saja dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas lagi. Belakangan, seluruh provider memiliki 2 jenis SIM card yaitu prabayar dan pasca bayar.

Era tahun 2000 an, penggunaan mobile telephone - handphone atau singkatnya disebut HP sudah sangat meluas. Feature handsetnya sudah sangat luas. Dari yang sangat sederhana hingga berfungsi sebagai PDA, communicator, camera/videophone dan walkman. Perputaran model dan feature sedemikian cepatnya. Tua muda, kaya miskin kesemuanya tergila-gila oleh kecanggihan alat komunikasi yang satu ini.

Menggunakan pesawat telpon tentu memerlukan etika agar alat komunikasi ini dapat digunakan dengan baik dan benar serta tidak mengganggu orang lain. Seringkali kita diingatkan untuk tidak menyalakan HP saat rapat, beribadah maupun dalam perjalanan (saat menyetir mobil). Termasuk juga kala berada di dalam pesawat terbang. Signal HP dikhawatirkan mengganggu system komunikasi dan navigasi pesawat.

Sayangnya tidak banyak orang mau mematuhinya sehingga seringkali rapat kita terganggu karena ada panggilan telpon yang masuk. Kekhusu’an ibadah kita terusik oleh dering panggilan HP yang masuk berulang kali. Mungkin si penelpon lupa bahwa dia melakukan panggilan pada jam-jam kita melaksanakan shalat


Sementara itu, tidak jarang pemilik telpon, tanpa rasa malu ataupun bersalah, menjawab panggilan tersebut di dalam masjid. Bahkan ada orang yang tidak sungkan untuk bertelpon ria saat melakukan tawaf dan sai. Bayangkan, saat kita menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, masih juga mendahulukan kepentingan duniawi (menjawab dan berbicara di telpon) dibandingkan dengan khusu’ melaksanakan dan meneladani ritual agama yang telah dijalankan oleh para nabi sejak jaman nabi Ibrahim AS. Atau kita merasa lebih mulia dari tuan rumah (Allah SWT), sehingga sang Tuan Rumah kita abaikan demi panggilan umat manusia lainnya di seberang sana? Astaghfirullah ……

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin, kita yang masih lebih tergoda pada nafsu keduniawian memperoleh hidayah Allah SWT. Bagaimana mungkin, kita yang masih mengabaikan Tuan Rumah, bahkan di rumahnya sendiri (Baitullah) dengan menjawab telpon sambil bertawaf/sai masih berharap pahala dari Allah SWT atas tawaf dan sai yang kita lakukan? Semoga Allah SWT mengampuni mereka yang khilaf.Wa Allahu Alam ….

Ada apa di Sidoardjo?

Sungguh mati, sebetulnya saya sama sekali gak tertarik untuk nulis tentang semburan lumpur panas di Sidoarjo. Alasannya sih simpel banget ..... Gak suka dengan sepak terjangnya kelompok usaha BAKRIE ... Biasanya kalo kita udah enggak suka dengan sesuatu, bawaannya jadi negatif aja .... (ini sebabnya saya nggak akan pernah mau pake ESIA walaupun banyak orang bilang Esia murah ... tapi sebodo amat ....!!!).

Itu alasan pertama ... Alasan kedua, dalam suatu acara makan siang santai dengan owner di kantor (beliau anggota legislatif yang cukup vokal dan cuma ada di kantor jum'at siang), beliau cerita bahwa ...... Lapindo Brantas telah melakukan pelanggaran etika dalam penunjukan kontraktor pelaksana pengeboran. Biasanya, kontraktor pelaksana ditunjuk berdasarkan tender terbuka yang diikuti oleh professional di bidangnya dan tidak boleh terkait dengan para pemegang saham perusahaan induk (dalam hal ini para pemegang saham lapindo - yaitu Bakrie groups, Medco dan Santos). Nyatanya, kontraktor pelaksananya adalah salah satu anak perusahaan bakrie. Ini juga yang menyulut keributan antara bakrie dan medco. Bagaimana kebenarannya .... Jujur aja ... ini cuma bisik2 di kalangan tertentu. Pasti nggak akan muncul di permukaan. Orang Indonesia kan paling pinter berkelit dan mencari kambing hitam .... hehe.... Nah cerita bos ini kan bisa dikategorikan gosip yang gak jelas kali ye.....

Teman kantor yang baru pulang dari Malang via Surabaya, cerita tentang lumpur di Sidoarjo itu .... Wuih ... bau.... dan letupannya itu persis seperti letupan kecil gunung berapi .... (kayak udah pernah liat aja...).

Nah ... yang terakhir, gara2 baca postingnya masarcon ... Kok banjir lumpur itu dikaitkan dengan gempa Jogja ya....? Terus omong2 di rumah. Suami memforward tulisan seseorang di salah satu mailing list ... Ini isinya......; Simak baik-baik ya.... semoga menjadi referensi tambahan lagi bagi yang tertarik dengan lumpur Sidoarjo ini .... (eh ada yang tertarik untuk mengolahnya jadi kosmetika, nggak ya?? kan perempuan suka berlulur dengan lumpur untuk menghaluskan kulit....)

Salam - maaf kalo ada yang kurang berkenan karena tulisan ini..

*******

From: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
[mailto:Migas_Indonesia@yahoogroups.com] On Behalf Of Aris
Dwipurnomo
Sent: Sunday, June 11, 2006 10:54 PM
To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
Subject: RE: [Oil&Gas] Semburan Lumpur Lapindo Brantas

Entah hal ini benar atau tidak. Diambil dari http://www.media-indonesia.com/
Bagian Komentar Editorial

TRUE STORY-1
Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:
Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping) tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di "kill" (kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor sampai formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan saftey-nya jika terjadi semburan. Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu formasi gas yg lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo diingatkan lagi untuk set casing karena semua orang di lokasi sudah ketar-ketir apabila terjadi semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo menolaknya. Akhirnya di +/- 9200, terjadi loss total (indikasi telah masuk formasi gas) dan mulai terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan masih bisa dikendalikan, harusnya langsung dipompakan cement untuk plug sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah di bor dengan biaya $$$million. Jujur saja, untuk menghentikan semburan lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan lagi, tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak, dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya. Mudah2an tulisan ini bisa memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg ditutup-tutupi.

Pengirim:
wisnu05

Sabtu, 31 Desember 2011

Bencana Alam.... Pertanda Apa Gerangan...?


Sabtu pagi, di salah satu ruang CCF Wijaya, saya menerima 2 sms yang memberitakan gempa di Yogyakarta. Ikut prihatin.. Jadi sepanjang week end, mata tak lepas dari tv untuk melihat dan mendengar perkembangan terakhir selain menelpon teman-teman yang memiliki kerabat dekat di Yogya dan sekitarnya.

Menjelang tidur, teringat kembali saat mendengar berita bencana tsunami 17 bulan yang lalu. Kedua propinsi yang mengalami bencana ini sama menghadap lautan lepas. Keduanya mendapat bencana yang sama sekali tidak dapat terdeteksi yang berasal dari gesekan atau tumbukan lempeng kerak bumi. Adakah kaitan antara dua bencana tersebut? Entahlah .. ini semua rahasia Allah SWT. Namun pernahkah terlintas pertanyaan dalam pikiran anda, Mengapa kedua bencana alam hebat berlangsung di dua propinsi yang menyandang DAERAH ISTIMEWA .....? Akankah DAERAH KHUSUS IBUKOTA - Jakarta Raya menjadi giliran berikutnya? Adakah ini hanya koinsident ... atau ada suatu pesan yang ingin disampaikan Allah kepada umat manusia, khususnya bangsa Indonesia.


Benarkah gempa bumi sama sekali tidak terdeteksi?

Beberapa minggu yang lalu, saya dan gadis kecil saya, melihat film di teater Keong Mas berjudul The Forces of Natures dimana salah satu topiknya adalah gempa bumi tektonik yang menghancurluluhkan Ismitz - Turki pada tahun 1997. Dalam film itu sendiri diperlihatkan ada sekelompok ilmuwan yang mempelajari gerakan gempa tektonik (besaran, tanda-tanda dan jangka waktu) dan memetakan jalur gempa serta memprediksi kedatangan gempa pada periode selanjutnya. Namun sayangnya, jarang ada pemerintah yang mau mengadopsi hasil riset tersebut untuk merancang pemukiman agar menjauh dari jalur gempa tersebut serta merancang suatu strategi penyelamatan maupun mengantisipasi dampak buruk dari prediksi gempa yang akan datang.

Hasil penelitian mereka, menyatakan bahwa gempa yang melewati Izmitzs tersebut mempunyai siklus 10 tahunan dan konon, setelah mempelajarinya, mereka memprediksi tumbukan lempeng bumi eurasia yang dapat mengakibatkan terjadinya gempa dahsyat pada periode yang akan datang, menimpa suatu daerah berjarak 10 km dari Istambul. Hal itu akan terjadi pada tahun 2007. Benarkah ..... Wallahu Alam.

Kita tunggu saja....

Back to campus...? Why not....!!!


Minggu lalu, saya dapat email lagi dari Tiu, teman kuliah seangkatan, di arsitektur dulu. Untuk yang kedua kali, dia meminta saya untuk jadi Reviewer tugas mahasiswa dalam mata kuliah Real Estate, khususnya untuk study kelayakan proyek. Bidang ini memang pekerjaan saya selama lebih dari 15 tahun.

Kembali ke kampus dan berbagi pengetahuan dengan mahasiswa, rasanya sangat menyenangkan. Teringat masa 20 tahun yang lalu saat membimbing mahasiswa jurusan Interior Trisakti melaksanakan kerja praktek di kantor saya yang pertama. Melibatkan mereka menyiapkan dokumen tender yang mencakup design, anggaran biaya, time schedule serta membimbing penyusunan laporan kerja praktek. Yang sangat mengharukan adalah saat mereka berkunjung lagi ke kantor dan mengucapkan terima kasih. Nilai kerja praktek mereka mendapat nilai A. Dan itu yang pertama kali terjadi di jurusan tersebut, karena apa yang tersaji dalam laporan tentang pengalaman selama kerja praktek serta dokumen pelengkapnya memang sesuai dengan maksud dan tujuan yang ditetapkan jurusan. Ada rasa haru, karena pengalaman yang mereka dapatkan selama kerja praktek itu bisa menjadi referensi kerja praktek bagi generasi selanjutnya.

Saya beruntung, bisa meluangkan waktu, keluar dari kantor sepanjang pagi tanpa ada keberatan dari pemilik perusahaan. Toh hanya 1x per semester .. Jadi, tidak mengganggu jadwal kerja. Apakah ini jalan bagi saya untuk beralih profesi ...? Entahlah ... masih jauh dari bayangan.

Kelihatannya, dunia kampus memang menyenangkan ... terlihat santai, egaliter dan lebih fleksibel dalam mengatur waktu. Yang lainnya .... ?? Namanya bekerja, pasti akan selalu ada intrik, pengelompokan minat dan persaingan ...

Repotnya ..., masa iya sih bapak-ibu dan anak, semuanya jadi guru/dosen? Sepertinya ... sempit sekali dunia kerja/profesi yang bisa dimasuki? Cukup suami dan anak sajalah yang masuk ke dunia pendidikan...

Harta.... Godaan bagi manusia

Pertemuan silaturahmi keluarga besar almarhum bapak yang setiap tahun dilaksanakan di rumah, baru saja usai. Ruang keluarga tempat acara doa dan makan siang bersama baru saja selesai dirapikan dan ditata sebagaimana semula. Kami, enam bersaudara beserta suami/istri masing-masing, memang selalu menyempatkan diri untuk hadir pada acara ini, karena inilah satu-satunya kesempatan untuk berinteraksi dengan keluarga bapak yang asli Betawi.

Kesibukan penghuni Jakarta memang membuat kami tidak sempat bersilaturahmi. Apalagi, bapak adalah “anak tunggal”. Seluruh kakak-kakaknya meninggal dunia sebelum sempat menikah. Ini menyebabkan kami tidak memiliki sepupu langsung dari pihaknya. Pada garis generasiku, hanya ada anak-anak dari sepupu bapakku. Hubungan kami dengan mereka, relatif “agak jauh”. Apalagi, selama kurun waktu 1965 – 1983, kami sekeluarga menjadi “nomaden” mengikuti kepindahan tugas Bapak ke berbagai kota di Jawa Barat dan Sumatera. Jadi lengkaplah sudah alasan untuk membenarkan kerenggangan hubungan persaudaraan ini. Itu sebabnya, acara silaturahmi yang biasanya diadakan pada bulan Desember menjadi satu-satunya kesempatan untuk bertemu, walaupun masih terasa kurang effektif.
*****

Siang itu, saat kami sedang bercengkerama di teras belakang rumah ibu, sambil beristirahat, dia memanggil kami berenam, masuk ke kamarnya. Panggilan ini agak serius, karena diembel-embeli dengan perkataan “hanya anak-anak” tanpa suami atau istri masing-masing. Sambil berjalan menuju kamarnya, kami saling berpandangan. Bertanya-tanya dalam hati....., ada apa gerangan?

Setelah menutup rapat pintu kamar, sesuai permintaannya, kami berenam duduk di tempat tidur mengelilinginya. Tanpa basa-basi seperti biasanya dan juga seperti kebiasaan para perempuan Minang yang sangat “diktator”, beliau meminta kami mendengarkan “petuah dan pesan” yang berkaitan dengan “harta kekayaan”nya, yang suatu waktu nanti, mau atau tidak mau akan diwariskan kepada kami, ke enam anak-anaknya. Walaupun nilainya relatif tidak besar dan jenisnya tidak banyak, kalau tidak berhati-hati, tentu bisa menjadi pemicu keributan antar saudara. Aku ingat sekali, ada dua hal utama yang menjadi topik pembicaraan kala itu, yaitu mengenai perhiasan dan rumah.

“Papi dan mami sudah sepakat sejak awal, bahwa seluruh perhiasan perempuan, hanya akan diwariskan kepada anak perempuan saja dan tidak kepada menantu perempuan. Apalagi, kalian anak lelaki sudah mendapatkan bagian 2 kali lebih besar dari anak perempuan dalam pembagian warisan saat papi meninggal beberapa tahun yang lalu”. Ujarnya membuka pembicaraan di siang hari itu.

Kami anak perempuannya saling berpandangan, merasa tidak enak dengan saudara-saudara lelaki. Harus diakui, 3 anak perempuannya, memiliki kemampuan materi yang lebih baik daripada ke 3 saudara lelaki kami. Jadi keputusan seperti itu tentu dikhawatirkan membuat kecil hati saudara-saudara lelaki kami. Mungkin ada rasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya. Siapa tahu terselip juga keinginan agar istri-istri mereka, masing-masing mendapatkan satu set perhiasan Tapi, tidak ada seorangpun yang berani bicara, apalagi melihat gelagat ibu yang tidak ingin perkataannya dibantah.

“Khusus untuk rumah ini …. Tidak diperkenankan untuk dijual, tetapi dapat dihuni oleh anak-anak perempuan dan nantinya diwariskan hanya kepada cucu perempuan dari anak perempuan juga”, lanjutnya lagi.

Aku agak tersentak mendengar “keputusannya”. Ini khas keputusan “adat Minang”. Perempuan mewarisi harta ibunya, sementara lelaki tidak mendapat warisan apapun dari keluarganya. Mengherankan sekali … ibuku yang dalam berbagai kesempatan, seperti dalam pernikahan adik-adik maupun anak-anaknya, selalu menolak menggunakan “adat Minang”, ternyata dalam pembagian “harta”, mengadopsi adat Minang yang menurutku jelas-jelas bertentangan dengan Hukum Pewarisan dalam Al Qur’an. Kalau saja rumah yang “diperbincangkan” itu adalah “milik sendiri” yang diperolehnya dari hasil bekerja atau warisan dari orangtuanya, maka keinginannya untuk meng”hibah”kan hanya kepada keturunannya yang perempuan, masih bisa diterima akal. Tetapi semua anak-anaknya mengetahui dengan jelas bahwa rumah itu dibangun dari hasil kerja bapak kami. Tentu semua anak-anaknya kelak memiliki hak yang “sama” dalam pewarisan rumah dan ibuku tidak dapat meng”klaim” rumah itu dan mewasiatkan “seenaknya”.

“Tidak, mam …. Ini bertentangan dengan hukum pewarisan Islam. Rumah ini adalah hasil pencarian papi selama hidup, jadi tidak bisa diperlakukan seperti itu …” Tak tahan juga untuk tidak membantah penyataan ibuku.
“Ini permintaan orang tua .. jangan membantah” Ibuku berkeras. Salah satu adik perempuan mencolek tanganku, memberikan tanda untuk tidak berbantahan dengan ibuku.

Entah apa yang ada dikepala ibuku, hingga dia membicarakan hal tersebut. Kalau mau jujur, keputusan tersebut, tentu sangat menguntungkanku. Dari keenam anaknya, beliau memiliki 2 orang cucu perempuan, satu dariku dan satu dari adik lelakiku. Dengan demikian, sangat jelas bahwa yang berhak atas rumah tersebut, berdasarkan keinginannya, adalah anak perempuanku. Tapi, pada kenyataan, pernyataan ibu sungguh sangat menyulitkan posisiku, apalagi “wasiat lisan” itu dikatakannya saat aku baru saja menjual rumah untuk tinggal bergabung dengannya. Tentu, saja ada kekhawatiran bila di antara adikku berprasangka buruk mengenai kepindahanku tersebut. Khawatir timbul dugaan bahwa ”wasiat” ibuku sudah diatur untuk kepentinganku. Selain itu, keputusan tersebut sangat bertentangan dengan Hukum Waris Islam. Aku hanya bisa menghela napas panjang.

Kalaupun mau dilakukan pembagian sesuai dengan keinginannya, maka pembagian itu harus dilakukan pada saat beliau masih hidup dengan status hibah, namun tidak sebagai wasiat. Untuk melindungi hak para ahli waris, Islam membatasi hanya 1/3 hari harta yang dapat diberikan dalam bentuk wasiat di luar ketentuan hak waris.

Entah bagaimana sebenarnya pembagian waris yang dilaksanakan berdasarkan ”Hukum Adat Minang”. Walaupun ibuku berasal dari Minang, kami anak-anaknya sama sekali tidak mengenal adat-istiadat Minang. Bahkan bercakap-cakap dalam bahasa Minangpun, tidak bisa. Yang terlihat selama ini, ibuku sebisa-bisanya selalu menghindar untuk bersentuhan dengan urusan adat tersebut. Seorang teman kantor bercerita bahwa suaminya sama sekali tidak mendapatkan harta warisan dari keluarganya, karena seluruhnya jatuh kepada saudara-saudara perempuannya.

Ini tentu mengherankan. Bukankah dalam adat istiadat Minang dikenal petatah-petitih ”Adat bersendikan Syara’ – Syara’ bersendikan Kitabullah” atau lazim dikenal sebagai ”Adat bersendikan Agama – Agama bersendikan Kitabullah (Al Qur’an). Apalagi, selain masyarakat Aceh, orang Minang dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat. Tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa dalam hal hak waris, masyarakat Minang tidak mengikuti hukum pewarisan Islam, tetapi lebih memegang teguh hukum adat. Padahal ditinjau dari sisi apapun juga, kedudukan Al Qur’an sebagai kumpulan dari wahyu Allah SWT untuk mengatur peri kehidupan manusia di dunia, jelas lebih tinggi daripada adat istiadat yang buatan manusia. Mengapa.....? Entahlah ....pertanyaan seperti ini, pasti hanya akan mendapat jawaban ”kamu sudah tidak lagi menjunjung adat istiadat .... indak baradaiek”.

Terhadap ”pesan” ibu, aku sudah menyatakan kepada semua adik-adikku bahwa bila saatnya tiba nanti, maka dalam waktu maksimal 1 tahun, maka rumah peninggalan ini harus segera dijual kepada siapapun peminatnya dan hasil penjualannya dibagi sesuai dengan hukum waris Islam. Syukur bila di antara kami ada yang mampu membeli/memilikinya. Bila tidak, maka semua harus rela melepaskannya kepada orang lain dengan harga yang layak. Mengapa harus menunggu waktu selama 1 tahun terlebih dahulu? Tentu karena aku harus punya waktu yang cukup untuk membangun rumah dan menjual rumah bukanlah hal yang mudah. Melanggar wasiat Ibu? Tanpa mengurangi rasa hormat pada ibu yang mengandung dan melahirkan, rasanya kita harus mendahulukan hukum waris berdasarkan Al Qur’an dibandingkan dengan wasiat ibu kita (manusia). Semoga tidak ada yang menghambat pelaksanaan ini semua.

Lebak bulus 14 Februari 2006

Memahami Hak Waris dengan Ikhlas

Kesehatan mertua perempuanku, berusia hampir 84 tahun, sejak mengalami patah tulang paha awal Januari 2006 ini, terlihat kurang stabil. Selama masa perawatan pasca operasi di rumah sakit, beliau seringkali berhalusinasi (mungkin) berjumpa dan bercengkerama dengan 3 orang kakak perempuannya, kesemuanya sudah meninggal dunia. Mereka seperti berbicara, kadang bertengkar dalam bahasa Belanda. Kadang pula, beliau seperti sedang dikunjungi oleh almarhum suaminya yang sudah meninggal dunia hampir 15 tahun yang lalu. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan keluarga besar anak-anaknya.


Beberapa bulan sebelumnya, dalam keluarga suami, timbul wacana yang agak sensitif, yaitu ingin membicarakan “harta waris” ibu, agar tidak menimbulkan pertentangan di kemudian hari. Timbulnya wacana ini memang agak mengejutkan, karena membicarakan masalah waris, sementara yang bersangkutan masih hidup, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah hal yang tabu. Apalagi mayoritas keluarga besar suami bukanlah orang-orang yang kekurangan, walaupun tidak berlebihan sekali. Tetapi kita, tentu tidak boleh berburuk sangka mengenai hal ini. Pembicaraan mengenai warisan, belum tentu dimaksudkan untuk “membagi-bagi” warisan, tetapi lebih kepada menginventarisir berbagai masalah yang mungkin timbul mengenai hak pewarisan tersebut. Apalagi, di kalangan “terdidik”, ada keengganan untuk menerapkan hukum pewarisan Islam karena dinilai “merugikan” perempuan. Jadi, selain menginventarisi “jumlah harta kekayaan”, juga ditujukan untuk membahas mengenai “bagaimana cara membagi harta waris yang adil bagi semuanya”.

Membagi harta waris yang adil bagi semua, ini adalah masalah yang sangat sensitif bagi manusia, terutama bagi perempuan Islam yang “hanya memperoleh ½ dari hak para anak lelaki”. Hal ini dipicu oleh keadaan bahwa dalam kehidupan sehari-hari; umumnya seorang anak perempuan “lebih memberi perhatian kepada orang tua” dibandingkan dengan anak lelaki yang “lebih dikuasai oleh istri dan anak-anaknya sendiri” dibandingkan dengan perhatiannya kepada orang tua. Belum lagi ketentuan yang menyatakan bahwa apabila seorang lelaki (suami) meninggal dunia dan mereka tidak memiliki anak lelaki (kandung), maka sebagian hartanya akan kembali kepada keluarga almarhum (orangtua serta kakak-adiknya). Kalaupun mereka memiliki anak lelaki, maka hak istri yang ditinggal mati hanya hak 1/8 saja Ketentuan ini tentu dirasa sangat merugikan istri dan anak perempuan yang ditinggalkan almarhum.

Pada era dimana perempuan juga bekerja, bukan sekedar untuk mengaktualisasi diri dimana seluruh penghasilannya menjadi “milik pribadi perempuan”, tetapi pekerjaan yang dijalaninya betul-betul karena kebutuhan hidup dan penghasilan perempuan digunakan sepenuhnya untuk menopang ekonomi keluarga, maka aturan Islam mengenai hak waris bisa dirasa sangat tidak adil bagi perempuan.

Bagaimana Islam menetapkan hak waris bagi yang ditinggal mati?
Dalam An Nisa ayat 11 dan 12, Allah SWT berfirman bahwa :
[4:11] Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan272; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua273, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa'atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

272: Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (Lihat ayat 34 surat An Nisaa).
273: Lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi.
[4:12] Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)274. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun

274: Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti : a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

Masuknya orang tua dan saudara-saudara almarhum sebagai pewaris, dalam kasus seorang lelaki menikah (tidak punya anak atau hanya mempunyai anak perempuan saja) seperti yang dicantumkan dalam surat An Nisa ayat 11 – 12 di atas, seringkali dirasakan sangat tidak adil bagi istri (dan anak perempuan) yang ditinggal. Lalu mengapa Allah menetapkan pembagian yang demikian?

Lelaki dalam Islam mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang lebih berat dari perempuan. Dia, sewaktu menikah berkewajiban memberikan mahar kepada calon istrinya dan kemudian, sebagai kepala keluarga dan imam dalam rumah tangga, berkewajiban memberikan nafkah bagi anak istrinya. Sementara perempuan tidak memiliki kewajiban tersebut. Sebagai istri, perempuan tidak berkewajiban mencari nafkah, karena kewajiban suamilah untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Kalaupun dia memiliki nafkah sendiri maka dia dapat menyimpannya untuk keperluan pribadi. Begitu juga saat perempuan menerima warisan, maka perempuan dapat menyimpannya untuk kepentingan pribadi, tanpa ada berkewajiban untuk menyerahkannya untuk keperluan keluarga. Berbeda dengan lelaki, dia wajib memenuhi kebutuhan keluarga dari penghasilannya termasuk juga harta yang diterimanya dari warisan.

Lebih jauh lagi, tatkala seorang (anak) lelaki kehilangan ayahnya, maka tanggung jawab ayah beralih ke tangannya; termasuk di dalamnya melindungi ibunya dan menjadi wali bagi kakak-adik perempuannya saat menikah. Kewajiban –kewajiban ini merupakan salah satu alasan mengapa hak waris (anak) lelaki lebih besar daripada (anak) perempuan.
*****

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita dan mengeluh panjang lebar mengenai kasus perebutan harta warisan peninggalan orangtuanya. Dia (perempuan) adalah anak tunggal, yang ibunya telah meninggal dunia beberapa tahun sebelum ayahnya meninggal dunia. Saat ayahnya meninggal dunia, maka (menurut ceritanya), keluarga ayahnya yaitu oom dan tantenya serentak mengambil sertifikat tanah milik almarhum sekaligus menguasai beberapa rumah dan villa keluarga tersebut. Si anak tentu tidak bisa menerima kondisi itu dan melakukan perlawanan secara lisan untuk kemudian setelah upaya lisan tersebut tidak berhasil, maka ia, akhirnya melalui jalur hukum.

Sejak saat itu, dimulailah babak pertengkaran antar keluarga, oom dan tante di satu kubu versus keponakan. Tidak ada satupun yang rela mengalah. Sang keponakan merasa punya hak penuh atas harta peninggalan orang tua sementara oom dan tante merasa berhak karena berdasarkan Al Qur’an, sebagian harta peninggalan seorang lelaki yang hanya memiliki anak perempuan akan jatuh kepada saudara-saudara sekandungnya, sebagaimana tercantum dalam ayat berikut :

[4:176] Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)387. Katakanlah : "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

387: Kalalah ialah : seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.

Kasus perebutan harta warisan ini tentu sangat menyedihkan, karena pihak yang berseteru adalah orang-orang yang hidup berkecukupan. Mereka rela kehilangan tali silaturahim di antara keluarga demi harta warisan. Entah bagaimana akhir cerita perseteruan itu, yang pasti pengacara merekalah yang beruntung mendapat harta warisan tersebut dalam bentuk Jasa Konsultasi Hukum

Manusia terkadang lebih dikuasai oleh hawa nafsu dibandingkan dengan akal sehatnya. Lebih memikirkan hak daripada kewajiban, apalagi bila sudah bersinggungan dengan harta. Tentu tidak salah, bila Allah SWT berfirman bahwa :

[18:46] Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

[57:20] Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
[65:3] Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
*****

Pembagian Hak Waris berdasarkan Al Qur’an, sungguh merupakan ujian besar bagi para muslimah akan keimanannya kepada Allah SWT yang Maha Mengetahui. Peran aktif muslimah dalam menegakkan “periuk nasi” harus disikapi dengan amat bijak agar tidak menimbulkan sikap “persamaan” dalam segala hal, karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan berbagai keringanan dan kemudahan bagi muslimah, dan bahkan “kemanjaan” dalam menempuh kehidupan ini.

Karenanya tentu, tidak jangan ada keraguan lagi bagi kaum perempuan untuk menerima dengan ikhlas pembagian harta waris sebagaimana yang telah digariskan dalam Al Qur’an. Bukan besarnya harta waris yang kita terima yang dipentingkan, tetapi berkah dan rahmat Allah SWT yang menyertai harta dan rejeki kitalah yang lebih penting untuk selalu kita syukuri.

Manusia memang cenderung untuk mempertahankan “hak” namun seringkali mengabaikan “kewajiban” yang menyertai dan melekat pada “hak-hak”nya tersebut. Jangan lupa, bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu berimbang. Ada yang baik, tentu ada yang buruk, ada hitam dan ada pula putih, maka ada hak, tentu ada pula kewajiban. Maka menjadi kewajiban kitalah untuk menghayati dan mengamalkan agar semua “hak dan kewajiban” antara lelaki dan perempuan, suami dan istri, anak dan orang tua, berjalan seimbang sesuai dengan apa yang diperintahkanNya. Wallahu’alam.

Bacang pertamaku....!!!

“Bu … bacangnya berantakan….”
Suara Dedeh mengalun keras, membangunkan syaraf otak kesadaranku yang sudah nyaris hilang ditelan lelah dan kantuk. Waduh …, gimana nih? Ini kecelakaan yang maha dahsyat ! Hari Jum’at kemarin, aku sudah sesumbar di kantor. Week end aku akan membuat bacang sendiri di rumah dan hasilnya akan kubawa ke kantor pada hari Senin untuk dimakan oleh seisi kantor.
“Berapa banyak yang rusak?”
“Belum dihitung …., tapi yang utuh masih lumayan banyak kok …. Masih ada sekitar 50an”.
Wah … lumayan juga . Masih bisa dibawa ke kantor, hari Senin, termasuk untuk dibagi-bagi dengan orang-orang di rumah dan sebagian lagi untuk keponakan-keponakanku.
*****

Keinginan untuk membuat bacang, penganan khas cina, mirip lontong isi berbentuk segi 4 terpuntir yang dibungkus daun bamboo, itu muncul secara tiba-tiba saja. Minggu lalu, saat melintas di pelataran parkir kantor, entah mengapa, terpandang daun-daun bamboo kuning yang menjurai. Cukup besar dan lebar untuk dijadikan pembungkus bacang. Padahal …. sungguh mati, pokok bamboo kuning itu sudah hampir 10 tahun tegak berdiri di halaman kantor, tanpa terpikir sedikitpun untuk dimanfaatkan sebagai pembungkus bacang. Mungkin situasinya memang sedang mendukung. Hari Minggu kemarin adalah tahun baru Cina … Imlek. Jadi selain tulisan gong xi fat cay terpampang di mana-mana, mungkin aura Imlek meruah kemana-mana dan mempengaruhi suasana hatiku. Apalagi ditambah dengan kondisi keuangan yang sedang moncer … maklum, baru terima gaji. Ditambah lagi, memang sudah ada rencana untuk belanja rutin bulanan ke Makro. Jadi dengan enteng, rencana dibuat …. Bikin bacang ayam … Nggak tanggung-tanggung … dua jenis sekaligus.. Bacang beras dan bacang ketan …. Lagaknya seperti yang sudah mahir membuat bacang.

Beberapa bulan sebelumnya, Jetty, teman kursus di CCF Wijaya, pernah cerita tentang kebiasaannya membuat bacang yang kini sudah mulai meluntur karena sulitnya menemukan daun bamboo yang besar di daerah tempat tinggalnya di Bintaro Jaya. Sejak saat itu, memang sudah terbersit keinginan untuk mencoba membuat bacang sendiri. Tapi keinginan itu tidak terlalu serius, karena bacang memang bukan salah satu makanan favoritku. Tapi begitulah, mungkin karena dalam suasana menjelang Imlek, maka tiba-tiba muncul keinginan yang tak tertahankan untuk membuat bacang.

Hari Kamis pagi, begitu tiba di kantor, kusampaikan order kepada pak Utjen … untuk mengambil daun bamboo yang besar sebanyak 150 lembar … Kira-kira cukup untuk sekitar 50 - 60 buah bacang. Begitu rencanaku. Jum’at sore hari, sambil menenteng tas kresek berisi daun bamboo, otakku sudah berputar membayangkan bagaimana cara membungkus bacang. Aku juga sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana cara menghilangkan bulu halus di sekujur daun bamboo yang bisa menimbulkan rasa gatal. Ah … tanya Jetty saja besok sabtu di ccf. Beres!!

Usai belanja di Makro pada hari minggu dan shalat dhuhur, aku mulai mencuci beras dan ketan. Menumis daging ayam giling campur jamur untuk isinya. Dandang besar untuk memasak sudah disiapkan, diisi air dan ditaruh di atas kompor. Bagaimana sebetulnya membuat bacang yang baik dan benar …..??? Sungguh mati … aku nggak tahu. Belum pernah baca resepnya. Cuma bermodal logika saja …. Bacang adalah sejenis arem-arem (lontong isi – jawa). Cuma pembungkus dan adonan isinya saja yang agak berbeda. Tentu cara membuatnya tidak jauh berbeda. Jadi membuat bacang ini, betul-betul modal nekat, termasuk di dalamnya mengingat-ingat lilitan daun bamboo kala membuka bacang yang sering kubeli di Carrefour lebak bulus.

Ternyata …… membentuk bacang yang mulus dengan daun bamboo sepanjang rata-rata 25 cm itu bukan hal yang mudah. Berkali-kali acara bungkus membungkus diulang untuk mendapatkan bentuk bacang yang bagus. Wadaw….. kalo tahu susah begini, lebih baik beli yang sudah jadi di Carrefour. Nggak keluar tenaga dan “effort” yang besar … Bentuknya bagus dan ditanggung (belum tentu) enak…. Ini untuk menghibur diri. Tapi, bagaimana dengan beras dan ketan yang sudah di “aron” dan tumisan daging ayam yang sudah menunggu untuk dikerjakan dan dirapikan.

Duh …., terpaksalah berjibaku dengan dibantu Dedeh dan ibuku, mereka-reka bentuk bacang agar mirip dengan yang biasa di jual orang …Walhasil, target untuk makan malam dengan bacang terpaksa diubah … Bacangnya belum matang ……

Begitulah akhirnya, bacang-bacang eksperimen pertamaku …. Bentuknya tidak terlalu mulus. Hanya ada beberapa saja yang bagus bentuknya. Konon, kata suami, bacang eksperimen itu sudah agak “mirip” dengan yang biasa disantapnya. Dia , yang biasa rewel soal “rasa”, sudah menikmatinya dengan tenang tanpa komentar “pedas” yang biasa tercetus kalau menemukan rasa yang kurang pas …. Nggak tanggung-tanggung … 3 buah bacang ludes disantap tengah malam itu sepulang dari latihan bersama the Professor’s band. Sekalian sahur katanya, Kalau nggak makan dengan benar, nanti puasa hari seninnya bermasalah …. Pusing dan masuk angin.

Teman-teman kantor, kelihatannya cukup puas menikmati sarapan pagi bacang-bacang yang kubawa. Entah memang karena rasanya cukup enak… atau mereka sungkan untuk berkomentar akan bentuk bacang tidak semulus seperti yang dibayangkan. Ada guyonan di kantor … yang gratis “pasti” enak. Tapi biar saja….. Kalau tidak membuatnya sendiri, kita tidak akan pernah tahu bahwa membungkus bacang itu ternyata SULIT … bo’ ……!!!!

Reuni....? Datang, nggak ya....?


Reuni, kalau gak salah dicomot dari re dan uni yang diartikan secara bebas sebagai bersatu kembali. Apa yang disatukan kembali ….? Tentu banyak … dari mulai penyatuan kembali saudara serumpun yang terpisah karena ideologi politik seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, sampai dengan pernikahan antar anak dari sebuah trah untuk menyatukan kembali garis keturunan yang sudah terpencar jauh. Reuni yang terlihat begitu sederhana, ternyata bukan hanya menyentuh aspek emosional, tetapi juga berbagai aspek lainnya.

Reuni memang menjadi kecenderungan bagi para alumni suatu sekolah atau universitas, tentu tidak akan habis-habisnya. Namun, reuni bisa menjadi "pisau bermata dua". Alih-alih menjadi perekat yang telah terserak, Reuni yang tidak direncanakan secara bijak malah bisa menjadikan yang terserak itu menjadi lebih menjauh.

Kala mempersiapkan reuni 0475 kemarin, beberapa orang ditugaskan untuk menghubungi teman, sambil menjajagi seberapa besar animo untuk menghadiri acara reuni tersebut. Ini bukanlah hal yang mudah. Ada berbagai macam kendala, antara lain; 0475 terdiri dari 5 jurusan dengan jumlah mahasiswa +/- 250 orang. Alumni terakhir yang lulus dari Fakultas adalah lulusan tahun 1985. Jadi, secara rata-rata, sudah sekitar 20 – 25 tahun berpisah, dan terserak ke berbagai penjuru negeri. Beberapa alumni jurusan memang kerap berkumpul, namun jumlah yang hadir tidak mencapai 50% dari jumlah mahasiswa yang terdaftar 30 tahun yang lalu. Jadi kalau 5 jurusan disatukan, jangan harap angka 50% itu juga yang akan dipegang. Jadi, disepakatilah untuk menghubungi sebisa mungkin melalui sms saja. Ini "sentuhan" pribadi, diharapkan si penerima sms, mengetahui pasti siapa pengirimnya dan karenanya diharapkan mau hadir.

Kendala kedua adalah mencari "elemen" universal yang mampu menggelitik semua alumni untuk hadir. Teringat pada sebuah sms yang masuk ke penggagas acara Reuni 0475 "Reuni …? Sorry … gue nggak punya nyali untuk hadir …. Nggak berani…!!" Jawaban itu cukup menohok kita semua. Ada apa sebenarnya di balik sebuah reuni? Apakah ini ungkapan naïf seorang pecundang? Tidak …, ini adalah fenomena yang terjadi dimana-mana saat menghadapi reuni.

Konon, seorang alumnus SMA terkenal di Jakarta tidak pernah mau hadir di acara reuni angkatannya. Minder ….? Bagaimana mungkin …? Dia adalah banker dan jabatan terakhirnya adalah direktur utama di salah satu bank syariah. Selain itu, saat duduk di bangku SMA, dia merupakan salah satu lelaki yang menjadi idola para gadis. Teman-temannya hanya bisa menduga-duga mungkin karena merasa ada yang "kurang", yaitu pernah gagal dalam rumah tangga. Tapi, apa karena itu, lalu pertemanan yang pernah terjalin bertahun-tahun lalu menjadi pupus? Mungkin ada hal-hal lain yang sulit dijelaskan dan diterima orang. Reuni memang sering ditakutkan menjadi ajang pamer keberhasilan.

Kendala ke tiga adalah dana. Bila mengingat perjalanan panjang 30 tahun dan rata-rata masa kerja antara 20 – 25 tahun, bisa dipastikan seorang insinyur dari UI, rata-rata memiliki kehidupan yang cukup baik. Bahkan beberapa di antaranya, mungkin sudah menjadi pejabat atau pengusaha yang berhasil. Tetapi dengan lugas dan tegas, sang kepala suku menyatakan reuni ini tidak akan mengandalkan satu atau dua orang donator, walaupun itu sangat mungkin dilakukan. Ini akan merusak kebersamaan, karena sang donator dikhawatirkan "merasa lebih" dari yang lain. Ini acara bersama, jadi mari berhitung cermat biaya yang harus disediakan, baru dipikirkan bagaimana mengumpulkan dana talangannya. Kalaupun ada sumbangan, maka itu harus dilakukan dengan ikhlas, dan bukan karena diminta. Nah ini tantangan yang menarik……………

Maka dibuatlah "rambu-rambu" acara Reuni, yaitu ; lokasi harus mempunyai ikatan emosional dengan 0475 agar mampu membangkitkan keinginan semua peserta untuk mengunjunginya. Makanan yang disajikan adalah makan a la mahasiswa jaman dulu, namun dengan penyajian yang lebih bersih. Hiburan harus mampu membangkitkan gairah semua yang hadir, pembawa acara adalah rekan yang supel dan kenal betul dengan "medan" nya jaman mahasiswa dulu and last but not the least … acara harus dibuat mengalir seperti air, tanpa aturan protokoler dan meminimalkan yang bersifat seremonial. Ini adalah acara yang, betul-betul terasa "dari kita untuk kita", semua menjadi pemain …. bukan sebagai pelengkap penederita semata, walau tanpa aturan, agar semua bisa menyalurkan "bakat dan naluri yang terpendam karena jabatan dan posisi". Agar semua bisa melepaskan segala ketegangan "duniawi".

Kala aturan main reuni disepakati secara aklamasi, tidak berarti, semua yang mempunyai komitmen menyelenggarakan acara Reuni merasa lega. Masih banyak kendala-kendala non teknis yang menghambat. Rabu 4 Januari 2006, saat koordinasi terakhir memang ada tanda-tanda positif. Ada tanda-tanda bahwa target hadir minimal 20 orang per jurusan, bisa tercapai. Jujur saja …. Waktu persiapan dan data awal alumni memang relatif minim. Acuan yang digunakan adalah buku alumni FTUI, yang tentu saja sudah banyak berubah. Tapi momentum tidak bisa ditunda, acara harus berlangsung sebelum Dies Natalis 2006.

Walau sudah ditata dengan hati-hati dan diperketat dengan segala macam aturan yang bertujuan "membebaskan" kita dari belenggu dan syahwat "jorjoran", acara ini belum tentu memuaskan bagi seluruh yang hadir.

Kini … pesta sudah usai … kemana langkah kemudian terarah??? Kalau kita ibaratkan Reuni sebagai "Rujuk Agung dari orang-orang yang telah terserak", maka akankah Rujuk Agung ini berumur panjang dan menghasilkan ikatan yang lebih erat demi masa depan bersama. Ataukah, ini hanya salah satu bentuk euphoria, yang kemudian secara perlahan akan kembali terserak???

Mata hati dan nurani kita yang paling dalamlah yang mampu menjawabnya … : Akankah kita meneguhkan tali silaturahmi yang sudah terentang kembali.... Atau akankah kita campakkan kembali karena ternyata silaturahmi hanya akan membebani dan secara materi tidak menguntungkan. Bukankan, kekayaan yang paling hakiki adalah kekayaan batin yang ada di dalam hati dan persepsi kita sendiri..

Akan kemana ujung dari perjalanan hidup kita ….
Berakhir dengan iringan nada kehilangan yang dalam dari teman-teman kita………
Atau
Berakhir dalam kesunyian ....

Kok nggak diundang sih...?


Kalau saat reuni 0475 ternyata hadir beberapa senior, ini tentu bukan karena seksi repot reuni ini pilih kasih, dengan hanya mengundang senior tertentu saja. Jawabnya sekali lagi, tentu saja, tidak . Acara reuni 30 tahun – 0475, sejak semula memang direncanakan oleh angkatan 75 untuk angkatan 75 saja, dengan cara sederhana.

“Sederhana” memang jadi kunci acara ini. Boss acara ini, wanti-wanti berpesan untuk tidak mencari sponsor (“nodong”) ex mahasiswa angkatan 75 yang dianggap sudah berhasil. Tetapi kalau mereka dengan ikhlas memberikan bantuan material, tentu tidak ditolak, sejauh bantuannya “tidak mengikat” dalam arti kata, tidak ada titipan dan aturan acara harus begini atau begitu sesuai selera sang sponsor. Karena terbatasnya "dana awal", maka komunikasi antar kawan juga dilakukan via sms, mailing list alumni FTUI atau mailing list jurusan. Siapa yang sempat ... dan mereka semua melakukannya dengan tulus.

Lalu mengapa ada beberapa senior hadir dalam acara itu? Ternyata, sebaran rencana reuni melalui mailing list Alumni FTUI yang terbaca oleh “umum” menggelitik sebagian alumni yang merasa “satu” dan terutama terkait secara “emosional” dengan 0475. Jadi, setelah rencana reuni di posting ke mailing list alumni ftui, … beberapa orang seksi repot mulai menerima email, sms atau telpon. Langsung menanyakan, apakah mereka diperkenankan hadir. Entah ini pertanyaan basa-basi atau pertanyaan serius … yang pasti, ada beberapa pertanyaan sejenis yang masuk. Namun demikian, ada juga yang menyambut rencana reuni dengan skeptis “Gue gak punya nyali untuk datang”, katanya. Entah apa yang menyebabkannya menjawab dengan nada seperti itu. Padahal, jelas ditulis bahwa yang direncanakan 0475 adalah acara silaturahmi, bukan acara adu nyali….

Terus terang saja, melihat sambutan seperti itu, semua merasa bingung untuk memutuskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena agak “menyalahi” rencana. Namun demikian, apapun tanggapan yang ada, harus disikapi dengan positif. Tanggapan "ada" karena mereka “peduli” pada 0475. Apapun motifnya.

Runding sana- runding sini, semua akhirnya sepakat … mempersilakan “mereka”, terutama yang terkait langsung pada hari-hari pertama 0475 menginjakkan kaki di bangku kuliah; yaitu …. Para Ketua SMFTUI, ketua POSMA 75 dan wadya balad nya … untuk hadir. Tanpa undangan resmi … hanya dari mulut ke mulut atau melalui sms informal … Kalau dengan cara ini mereka, kemudian, hadir, ini akan membuktikan “rasa” dan “kedekatan” mereka kepada 0475. And will be highly appreciated.

Ini tentu juga berlaku bagi 0475 itu sendiri … Reuni tidak dimaksudkan untuk “adu nyaIi”, pamer keberhasilan atau jorjoran. Acara ini diadakan untuk membangkitkan kembali rasa kebersamaan kita yang sudah pupus ditelan waktu. Yang telah sirna tersaput kesibukan dan kehidupan materialistis kota besar.

Jangan merasa tersinggung bila “tidak diundang” baik melalui email pribadi, sms ataupun telpon langsung. Tentu akan ada yang luput, karena data yang sangat minim atau contact person yang ditugasi lupa menghubungi anda karena kesibukannya. 30 tahun perpisahan dan 3 minggu persiapan reuni tentu tidak cukup untuk menyatukan yang telah terserak di setiap pojok dunia. Tapi, ini mungkin sekaligus menjadi ajang untuk menguji “kebersamaan” kita semua.

Mereka yang hadir, tentu karena ada panggilan nurani untuk menikmati kembali denyut-denyut kebersamaan, kesederhanaan dan keniscayaan yang dulu sekali pernah kita lalui bersama-sama, tanpa sekat … tanpa prasangka …. Dan semoga “rasa” ini akan terus melekat dan mempersatukan kita.

Yang belum bisa hadir, tentu bukan karena tidak ada rasa kebersamaan. Mungkin Allah SWT memang belum mengijinkannya untuk menikmati kebahagiaan "bernostalgia". Jangan kecil hati ataupun kecewa. Berdoa saja, semoga masih diberi umur panjang ...agar suatu saat nanti kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi.Ko

Ensemble 75

Indonesia …
Merah darahku ………
Putih tulangku ……….

Tulisan di atas adalah sebagian syair lagu Gebyar-gebyar, karya fenomenal Gombloh yang sempat dipekikkan dengan lantang oleh Andy untuk kemudian ditingkahi suara lembut Conny, Sita dan Lina menjelang acara reuni 0475 pada hari Sabtu 7 Januari 2006 yang baru lalu. Gelegar suaranya masih sangat lantang, mengalun cantik sesuai dengan nada dan semangat yang terkandung dalam lagu itu… Andy masih mampu menangkap semangat dan jiwa yang terkandung didalamnya …. Lengkingan suara yang bulat, jernih dan menggelegar nada-nada lagu tersebut, membuat bulu kuduk merinding serta mampu membuat ingatan saya terlontar pada masa-masa kuliah dulu.

Nyanyian rakyat dan lagu perjuangan adalah bagian dari musik kampus tahun 70 an. Slogan Buku, Pesta dan Cinta menjadi keseharian mahasiswa saat itu. Kehidupan kampus era tahun 70 an memang lekat dengan napas perjuangan. Kita mungkin tidak akan pernah lupa dengan peristiwa 15 Januari 1974, demonstrasi besar-besaran yang melanda Jakarta menyambut kedatangan PM Jepang, Tanaka. Atau juga demonstrasi tahun 1978 untuk menentang NKK-BKK, konsep kehidupan kampus a la Daoed Yoesoef, menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu yang mengakibatkan beberapa aktifis mahasiswa UI terpaksa menjadi penghuni kampus di komplek yon 202 Bekasi.

Tidak itu saja, aktifitas “hura-hura” a la kampuspun berjalan meriah. Di samping Dekan Cup atau Rektor Cup, kita tidak akan lupa dengan kegiatan Student Night tempat di mana mahasiswa beradu cantik dalam membawakan lagu rakyat atau lagu ciptaan mereka, bahkan sempat juga mengundang Guruh Sukarnoputra, yang saat itu baru kembali dari Belanda untuk turut dalam kegiatan ini di student center Salemba 4 (semoga mantan mahasiswa era 70 an, masih ingat lokasi student center kita di salemba 4 itu). Acara dibuat sederhana dan merakyat ... khas kehidupan mahasiswa. Bukan di gedung-gedung mewah yang dipertontonkan dalam acara-acara mahasiswa jaman sekarang.

Ada satu vocal group mahasiswa, yang kiprahnya begitu menonjol, jauh menembus kampus mereka yang terletak di ranah Parahyangan. Tanahnya para dewa (Hyang = dewa). Masih ingat Group Pencinta Lagu dari Unpad? Group yang dikomandani oleh Iwan Abdurrahman (dedengkot Wanadri) yang beranggotakan 40 orang ini memang fenomenal sekali. Pentasnya di Taman Ismail Marzuki selalu dipenuhi penonton dari kalangan mahasiswa. Semua orang pasti mengenal Iwan Abdurahman lewat rekaman lagu-lagu Bimbo era tahun 70 an seperti Flamboyan, Melati dari Jayagiri dan lain-lain.

Keberadaan GPL Unpad, rupanya menggelitik “Komandan seksi Kesenian POSMA 75” untuk membuat vocal group kolosal dari FTUI yang penampilan perdananya adala Malam Inaugurasi 75. Usai POSMA, para mahasiswa baru, usai kuliah, berkumpul di aula lantai 3 Gedung C Salemba 4 untuk dilatih setiap hari. Bukan hal mudah untuk melatih mahasiswa dalam jumlah besar, apalagi belum tentu semuanya memiliki minat dalam musik/bernyanyi. Dengan penuh kesabaran Desmond Tobing dari Arsitektur 72 mengajari lagu-lagi yang bernuansa sangat heroik. Ada 3 buah lagu yang disajikan saat itu, Havanagilla, Yellow submarine dan satunya lagi, saya lupa …. Maklum, sudah hampir 31 tahun berlalu.

Begitulah …. Bali room Hotel Indonesia, satu-satunya Ballroom yang cukup representatif saat itu menjadi saksi penampilan perdana Ensemble 75.

Havanaranana … havanaranana … havanaranan, henesmahem …
Hurrahem … hurrahem ……
Hurrahem hurasamea…

Dipandu oleh Desmond Tobing, suara nyanyian rakyat dari wilayah timur tengah ini menggelegar, tinggi ….. lalu menukik turun ditingkahi suara lembut wanita dan Flute yang ditiup oleh Raldiartono. Atau,… dengarlah lagu yang pernah dipopulerkan oleh the beatles ;

We all live in the yellow submarine ….
Yellow submarine… yellow submarine…

Sayangnya, kesibukan kuliah dan minat yang kurang terfokus, membuat Ensemble 75 tidak berkembang dan mati sebelum bersemi. Tapi, tak apalah …. Itu memang bagian dari pengalaman hidup manusia, tak ada yang perlu disesali. Namun demikian tentu masih patut dan indah untuk dikenang.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...