Tampilkan postingan dengan label transportasi massa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transportasi massa. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2010

MACET euy......!!!

Kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia, menurut saya, disebabkan karena sejak awal (akhir tahun 60an), pemerintah lebih menekankan pada pertumbuhan industri (semu) antara lain industri otomotif sehingga segala daya upaya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Akibatnya, konsep dan strategi transportasi masa (mass transportation - railways) tidak berkembang atau memang sengaja tidak dikembangkan. Lama kelamaan, terjadilah peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang luar biasa dan mengakibatkan kemacetan juga yang luar biasa yang kita alami saat ini.

Bayangkan... dalam kondisi seperti inipun, transportasi masa tetap dianaktirikan. Pertumbuhan/penambahan panjang jalur KA relatif tidak ada. Kalaupun ada hanya menambah jalur dari single track menjadi double track pada jalur-jalur yang sudah ada sejak jaman kumpeni dulu. Bahkan beberapa track yang berada Sumatera dan jalur menuju kota2 kecil di Jawa dan Sumaterapun banyak yang "dimatikan" dan jangan lagi berpikir untuk menghidupkan track di dalam kota Jakarta yang pada akhir tahun 50an s/d awal 60an masih dilalui trem. Itu sama saja dengan bermimpi di siang bolong. Padahal .... di banyak kota Eropa, trem, bus, taxi kendaraan pribadidan bahkan dengan sepeda berjalan berdampingan digunakan masyarakat.

Masyarakat kebanyakan di Indonesia memang harus banyak mengalah pada segelintir orang berpunya yang memiliki kemampuan membeli mobil. Pemilik mobillah yang mendapat benefit terbanyak di jalan raya. Bayangkan saja.... kalau macet, jalan diperlebar, dibuatkan under pass, jalan layang dan bahkan jalan bebas hambatan. Pembenaranpun dicari.... karena mereka sudah membayar pajak kendaraan yang mahal sehingga layak mendapat pelayanan yang prima.

Rakyat biasa yang bosan dengan kemacetan dan terlalu lelah karena lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja dan mahalnya biaya transportasi "dipaksa" berjejalan di dalam kereta api, bahkan hingga ke atap gerbong. Kalau punya modal sedikit berlebih, silakan beralih menggunakan motor.

Maka.... lihatlah suasana jalan raya pada jam sibuk! Motor berebut jalan, saling salip, saling sikut... Siapa berani, dia menang... Keselamatan menjadi nomor sekian... Tak heran kalau angka kecelakaan motor bertambah banyak.

Lalu selesaikah problem transportasi dan kemacetan? Jauh panggang dari api....!!! Selama orientasi pemerintah masih kepada peningkatan sektor industri terutama peningkatan produksi otomotif, tanpa adanya "pengereman" jumlah pemakai kendaraan pribadi baik kendaraan beroda empat maupun beroda dua, maka problematika kemacetan tidak akan terselesaikan.

Industri memang harus tetap berkembang agar tenaga kerja tetap terserap. Tapi alangkah baiknya bila peningkatan produksi kendaraan jangan sampai menambah jumlah kendaraan di jalan. Seperti di negara-negara maju, usia kendaraan memang harus dibatasi dan kendaraan yang sudah tidak layak jalan "harus dimusnahkan". Salah satu cara adalah produsen otomotif "membeli kendaraan tua" yang jumlahnya sesuai dengan jumlah produksinya.

Di samping itu, konsep transportasi publik harus diarahkan pada transportasi masa dengan membangun/menghidupkan kembali jalur/rail track di tengah kota yaitu trem atau membangun subway/metro atau monorail. Rasanya, membangun jalan tol layang seperti jalan tol dalam kota Jakarta, membuat under pass atau jalan layang termasuk juga membebaskan lahannya, sama mahalnya dengan membangun transportasi massa tersebut. Yang penting, adakah keberanian para pembuat kebijakan di negeri ini untuk mengambil keputusan ekstrim --> berpihak kepada kebutuhan rakyat banyak dan mengurangi tekanan produsen otomotif.

Kebijakan industri otomotif ini sebetulnya hanya memperkaya Jepang saja. Coba tengok! Hampir seluruh kendaraan yang lalu lalang di seluruh pelosok negeri ini adalah merek Jepang. Belum lagi pemborosan energi akibat BBM yang terbuang percuma karena kemacetan. Andai kita mau berhitung cermat dan mau melepaskan diri dari "jeratan" para industrialis otomotif ... niscaya akan selalu ada jalan untuk mendapatkan investor serius untuk membangun jaringan subway, trem atau monorail. Syarat lainnya, tentu saja ada kepastian hukum, keamanan berinvestasi and last but not the least .... Jangan ada John toel dan mark up biaya.

Sanggupkah kita?


Senin, 05 Januari 2009

Dampak anak sekolah masuk jam 06.30

Ini hari pertama anak sekolah masuk jam 06.30. Banyak yang komplain karena anak2 terpaksa berangkat jauh lebih pagi dan menimbulkan kemacetan yang luar biasa di jalanan.

Bagaimana suasana perjalan menuju sekolah anak saya? Belum tahu karena anak saya hari ini tidak masuk sekolah. Tadi pagi saat kami sedang sahur, terdengar dia keluar kamar dan muntah. Entah apa sebabnya. Mungkin masuk angin karena keasyikan internet-an sehingga lupa makan. Tapi, jam masuk sekolahnya juga tidak berubah. Tetap jam 07.00. Sekolah swasta tampaknya tyidak terikat dengan jadwal baru.

Saya berangkat sekitar jam 09.00 setelah memastikan si anak dalam kondisi baik dan memperkirakan akan tiba di kantor paling cepat jam 09.45 atau jam 10.00 dengan rute biasa. Lewat Pd Indah dan Jl. Radio Dalam.

Di luar dugaan, seluruh perjalanan yang biasanya terhambat terutama di traffic light POINS/Carrefour Lb Bulus, Jl Metro Pd Indah menjelang bunderan Pd Indah dan di depan PIM, semua lancar bagai air mengalir.... Wuih .... jarang-jarang menikmati lancarnya lalu lintas di Jakarta.

Walhasil, saya tidak di kantor dalam waktu 25 menit saja dari biasanya 45 - 60 menit. Senang tentu dengan kelancaran hari ini... Semoga berlangsung terus. Tapi .... saya tetap TIDAK SETUJU dengan peraturan memajukan jam masuk anak sekolah menjadi jam 06.30.  Apakah kalau ternyata nanti kemacetan lalu lintas berpindah pada jam 06.00 - 06.30, jam masuk anak sekolah akan dimajukan lagi?

Ini bukan soal jam masuk anak sekolah. Tetapi soal manajemen transportasi di Jakarta yang amburadul. Sistem transportasi dan manajemennya yang mesti dibetulkan dan jam masuk anak sekolah hanya satu faktor kecil saja. Banyaknya jenis angkutan (Bis, Mini Bus - Metromini & Kopaja) lalu berjenis-jenis angkot, bajaj/kancil, ojek ....). Sementara transportasi massa seperti KRL tidak juga bertambah dan diperluas jaringannya. Padahal sekali angkut KRL/KA akan menampung ratusan orang.

Kalau KRL/KA yang infrastruktur sudah ada tidak mampu dikembangkan lagi bagaimana mungkin kita bisa membangun sistem transportasi seperti Monorail dan subway yang teknologinya dan manajemennya belum dikuasai. Padahal Metro (subway) di Perancis sudah berumur lebih dari 100 tahun.... Artinya dalam sistem transportasi massa, kita tertinggal 100 tahun dibandingkan dengan negara maju... Aduh... kapan ngejarnya ya...?

Jumat, 27 Juni 2008

Masih menarikkah Jakarta?

Sore tadi, usai shalat maghrib, kami berempat berangkat ke Halim Perdanakusuma. Ada undangan dari kawan lama sekaligus notaris langganan kantor.
Lalulintas Jakarta usai jam keja, apalagi pada hari Jum'at sore, amat sangat macet. Jalan tol Semanggi - Cawang padat merayap. Apalagi jalan arterinya, lebih berat untuk ditempuh. Tidak ada pilihan lain untuk mencapai Hal-Pers. Butuh waktu 1 jam untuk jarak dari jl HAngtuah ke gedung Pia Ardia Garini di Hal-Pers.

Jakarta yang padat, Jakarta yang semrawut, Jakarta yang polutif, Jakarta yang kejamnya konon lebih dari ibu tiri tetapi juga Jakarta yang dicinta banyak orang.
Jakarta menjadi barometer keberhasilan karir seseorang. Itu sebabnya, bekerja di Jakarta menjadi incaran bagi banyak rakyat Indonesia. Padahal, hidup di Jakarta itu sengsara. Sangat melelahkan.

Bayangkan, perjalanan dari rumah ke kantor tidak bisa ditempuh dalam hitungan menit. Jakarta sudah terlalu padat sehingga untuk menampung penduduknya, perumahan sudah menjamur menempel di pinggiran Jakarta dan sekarang sudah merambah hingga ke pelosok kota penyangga; kabupaten Bekasi, Tangerang dan Bogor.


Staff kantor yang tinggal di Sawangan, Depok atau Bekasi (Pondok Ungu) dan menggunakan kendaraan umum, sudah harus meninggalkan rumah usai shalat subuh untuk tiba di kantor sebelum jam delapan. Atau paling lambat jam 06.30 dengan resiko tiba di kantor lewat dari jam 08.00.  Sore hari, tepat jam 17 atau paling lambat 17.15 mereka pulang dan tiba di rumah paling cepat jam 19.30. Kalau ada musibah macet karena ada demonstrasi atau banjir, bisa jadi perjalanan bertambah lama.

Supir kantorku, tinggal di Rempoa, menyewa 1 kamar dengan biaya 250ribu/bulan. Betul-betul hanya satu kamar multifungsi, sebagai tempat makan, tidur dan menerima tamu. Untuk mandi menggunakan kamar mandi umum. Untung masih ada teras belakang yang bisa digunakan untuk memasak. Dia tinggal dengan satu anak balita dan istrinya.

Dengan gaji UMR dan lemburnya sekitar 1,25juta per bulan, dia masih harus menyisihkan uang untuk transportasi sekitar 250ribu juga sebulan dan makan siang yang entah berapa besarnya per bulan. Mungkin hanya akan tersisa sekitar 650ribu untuk belanja keperluan makan sekeluarga dan kebutuhan lainnya.

Tapi, Jakarta tidak hanya diisi oleh orang-orang yang terpaksa harus cukup puas dengan gaji UMRnya. Jakarta juga dipenuhi oleh orang-orang yang masih belum puas dengan gaji yang sudah puluhan juta per bulan dan di atas seratus juta rupiah per bulan. Dan orang-orang ini, toh masih merasa gajinya yang puluhan juta per bulan itu masih kurang memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jumlah mereka yang hidup "diawang-awang" juga cukup banyak. Mereka termasuk penyumbang polusi terbesar karena belum cukup puas dengan mobil-mobilnya yang sudah meluap, luber hingga ke jalan didepan rumahnya. Tapi, begitupun golongan ini juga bersuara cukup keras menentang penghapusan subsidi BBM dengan mengatasnamakan rakyat kecil. 

Mereka juga tidak akan puas kalau belum termasuk golongan penyumbang gas penyebab efek rumah kaca alias pengguna CFC/freon yang fanatik. Merekalah penghuni perumahan mewah yang dijaga ketat oleh satpam. Terlindungi dari udara panas khatulistiwa dalam istana berpilar ala kastil kuno Eropa.

Jakarta memang paradoxal. Jadi ... masih ingin tinggal di Jakarta?  

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...