Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Januari 2013

separuh jiwa melayang

Hadooohhhh.... melankoli banget deh....
Kebayang deh, kalau teman-temanku di kantor pasti ngakak abis kalau lihat hari-hari ini mataku bisa tiba-tiba berkaca-kaca. Mau dibilang norak ... atau apalah, aku nggak terlalu peduli. Memang begitu nyatanya ....
Lagi sedih banget...


Desember 2012 - Dubai
Hampir 13 tahun yang lalu, saat anak pertamaku masuk program internasional di salah satu ptn, aku memang sudah siap melepas dia pergi. Bukan karena tidak ingin kumpul dengan anggota keluarga yang utuh dan lengkap. Anakku itu, sejak duduk di bangku SMP sudah terlalu sering mengkritisi banyak hal yang terjadi di Indonesia, terutama sistem pendidikannya. Keinginan untuk sekolah di luar, sudah seringkali dilontarkan, sehingga masuk program internasional yang hanya mewajibkan minimal 1 tahun kuliah di universitas mitra di luar Indonesia merupakan win-win solution bagi kami.

jadi, begitulah... di usianya yang ke 19, di tahun ke 3 masa kuliahnya, anakku terbang melanjutkan kuliah di negeri tetangga. Sendiri .... terlalu mandiri untuk menerima tawaran kalau-kalau ingin ditemani pada minggu pertamanya di negeri orang.
" Memang, kalau mama/papa ikut untuk 1 minggu, bisa bantu apa?", begitu tanyanya ..

Duh ... tu anak....! Gak tahu perasaan orangtua..., Walau enggak bisa bantu apa-apa, minimal kami bisa menemaninya melewati "masa sulit", adaptasi awal di negeri orang. Apalagi, permohonan visanya sempat terhambat karena ditemukan flek di paru-paru, yang ternyata bekas memar tabrakan saat main bola, olah raga kesukaannya sejak di SMP.
Tapi ... ya sudahlah. Kalau yang bersangkutan tidak ingin ditemani.... Maka pergilah dia sendiri ke negeri orang.

Banyak teman yang menyayangkan "kenekatan" kami melepas si anak pergi tanpa ditemani, namun kami (lebih tepat suamiku) selalu punya prinsip "bumi Allah itu sangat luas ... dan setiap orang pada prinsipnya punya hak untuk tinggal dimanapun yang diingininya"


Desember 2012 - Istanbul
Secara universal, prinsip itu, tentu saja benar. Manusialah yang membagi-bagikan bumi ini menjadi negara-negara yang berbeda-beda ... memberi sekat-sekat berdasarkan bangsa, warna kulit, bahasa dan lain-lain sehingga manusia menjadi terkotak-kotak sedemikian rupa.

Begitulah ... tanpa terasa hampir 11 tahun berlalu, dia tinggal jauh dari orangtuanya dan selama itu baru 3 kali dia pulang menjenguk keluarganya. Yang terakhir kali adalah pada pertengahan Desember 2012 yang baru lalu.

Selama 6 minggu kami kembali berkumpul utuh dan sempat menikmati libur akhir tahun bersama selama 2 minggu perjalanan dengan penuh suka dan duka. Walau dia masih tetap dengan sikap yang acuh tak acuh terhadap sekelilingnya.

Mungkin ini pembawaan selama 15 tahun menjadi anak tunggal ... atau genetik dari bapaknya..., namun kehadirannya di tengah kami memberi warna lain. Kelengkapan sebuah keluarga ... Orang tua dengan sepasang anak walau mereka berdua punya jarak umur yang cukup jauh .... Jadi komunikasi ke dua anak itu agak kurang nyambung... apalagi jenis kelaminnya berbeda.

Sabtu 26 Januari 2013, kami mengantarnya kembali ke bandara... mengantarnya kembali melanglang buana ... meniti takdirnya entah sampai kapan...

dan ... kehilangan itu terasa kembali ....
........... separuh jiwaku melayang jauh

Selasa, 18 Desember 2012

Jadi Ibu Anak Lelaki


Anak lelakiku pulang kampung .... menghabiskan libur akhir tahun di Jakarta, sebagaimana permintaanku untuk pulang ke rumah setidaknya setiap 2 tahun. Maka .... setidaknya selama 6 minggu, pada hari kerja, aku kembali menjadi ibu dari anak tunggal lelaki dan saat akhir minggu, selama 2 hari aku menjadi ibu dari sepasang anak yang umurnya terpaut jauh.

Anak ….., berapapun usianya selalu dan tetap menjadi anak bagi orangtuanya. Terutama buat ibunya. Keinginan untuk "memberikan" yang terbaik bagi anak, walau itu dilihat dari sudut pandang keibuannya, selalu tidak pernah bisa lepas begitu saja. Keterikatan emosional yang mungkin terbawa secara alamiah selama seorang ibu mengandung anak selama 9 bulan dalam rahimnya, ternyata tidak mudah pupus. Kondisi ini, mungkin atau lebih tepat dikatakan secara tegas, sangat menyebalkan buat si anak.

Begitulah …., minggu lalu anak lelakiku pulang ke rumah. Usianya tentu tidak muda lagi … sudah 2x usia anak gadisku yang saat ini duduk di bangku SMA dan sebagai ibu, aku berusaha sedapat mungkin untuk tidak masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan pribadinya…. Perlakuan ini tentu harus berbeda saat menghadapi anak gadis remaja, yang bahkan oleh direktur pendidikan sekolahnyapun, sebagai orangtua, kami diminta untuk mengawasi anak dengan sangat ketat.

Setelah menghabiskan akhir pekan dengan keluarga, pada hari ke 4 dia berada di rumah, aku menawarkannya bila dia ingin ke luar rumah. Dia bisa kuantar ke halte Trans Jakarta dalam perjalanan ke kantor dan kembali pulang bersama di sore hari. Memang sejak kunjungannya yang pertama 8 tahun yang lalu, anakku tidak lagi kuijinkan mengendarai mobil. Ada berbagai alasan tentu …! Yang pertama karena SIM nya sudah kadaluwarsa alias tidak berlaku lagi. Untuk memperpanjangnya, pasti jadi agak ribet. Kemudian … kondisi lalu lintas di Jakarta yang semakin ruwet, kemacetan yang semakin parah dan saling serobot di jalan raya pasti akan membuatnya stress berat. Bukan tidak mungkin, akan terjadi kecelakaan di jalan. Jadi … biarlah dia bersusah payah naik bus atau taxi, bila perlu.

Sayangnya pula, polusi dan perubahan udara kemudian membuat kulitnya menjadi alergi. Timbul bintik–bintik merah yang gatal di permukaan kulit yang terpapar matahari. Untung tidak menjalar hingga muka. Aduuuuhhhhh repot banget ya, kalau sudah terbiasa hidup di kota yang udaranya relatif lebih bersih.

Maka … kemarinpun menjadi hari yang mencemaskan buat si ibu. Menjelang waktu pulang kantor, sebagaimana yang sudah diperjanjikan, maka aku menelpon, menanyakan acaranya malam itu. Apakah akan pulang atau melanjutkan acara, hang out dengan temannya.

“Aku janjian ketemu jam 19.00 di Grand Indonesia”
“OK …., posisi saat ini dimana?”
Saat itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.15 sore hari… Mendung masih belum pupus setelah hampir sepanjang hari itu kawasan kantorku diguyur hujan yang cukup deras.

“Di Senayan …”, begitu sahutnya.
Entah Senayan bagian mana…  Ada berbagai tempat nongkrong di sana. Minimal ada Senayan City, Ratu Plaza, Plaza Senayan dan FX. Belum lagi resto–resto mewah yang berada di Pacific Place. Entah apakah wilayah PP masih bisa disebut Senayan. Orang lebih banyak menyebutnya SCBD. Kalau nggak salah, SCBD singkatan dari Semanggi (Senayan?) Central Business District. 

“OK, kalau begitu, lebih baik bablas hingga malam hari saja. Kalau harus pulang ke rumah … terlalu buang waktu dan pasti tidak akan sempat lagi kembali ke Grand Indonesia”

Jarak kantorku ke rumah walau hanya 8km, saat ini harus ditempuh dalam waktu minimal 60–75 menit di sore hari. Wajarnya, hanya 15 menit …..! Tapi itu terjadi pada tahun 2000 yang lalu. Kalau sekarang ……? Sepertinya sangat mustahil menempuh 8km di Jakarta dalam waktu 15 menit.

“Jangan terlalu malam ya….”, sambungku lagi.
“OK ….. tapi batere tabku sudah hampir mati nih!”

Tidak terlalu yakin dia tidak pulang terlalu malam atau tepatnya definisi “tidak terlalu malam” buat seorang ibu dan “anak muda” … generasi pekerja abad 21 yang gemar hang out. Apalagi dia bermaksud bertemu teman baiknya sejak duduk di bangku SMP hingga lulus SMA. Perempuan muda kreatif dan sangat mandiri, satu–satunya teman sekolah yang diberitahu tentang kehadirannya di Jakarta.

“Kalau pulang terlalu malam, akan kupesan agar pintu gerbang tak digembok. Jadi masuk dan ketuk pintu kamar ya… Jadi kami bisa membukakan pintu buatmu!”. Begitu pesanku melalui fasilitas sms, sebelum meninggalkan kantor.

Aku terpaksa makan malam sendiri. Suamiku yang tiba sekitar jam 17.00 meninggalkan rumah lagi untuk menemui temannya, sebelum aku sempat tiba di rumah. Lalu lintas yang semrawut, apalagi aku baru meninggalkan kantor usai shalat maghrib, menyebabkan kami hanya saling berkabar lewat telpon saja. Khas kehidupan rumah tangga di Jakarta yang keduanya bekerja penuh waktu.

Sekitar jam 21.00, sang suami memberi kabar bahwa dia belum makan malam. Menyambung lapar usai shaum hari Senin setelah berbuka hanya dengan beberapa iris mangga saja. Rupanya … bapak–bapak itu hanya memesan Vietnamese snack yang bukan snake …. Jadi belum membuatnya mampu mengenyangkan cacing–cacing yang keroncongan usai shaum.

Usai menemaninya makan malam dan membuatkannya kopi, aku tertidur di sofa setelah sebelumnya berpesan untuk dibangunkan jam 23.00, waktunya mandi dan shalat Isya.

Jam 23.30, semuanya selesai kulakukan. Kuraih buku Rahasia sang Ibu Negara yang baru ½ bagian kubaca.
“Penyakit lama, kambuh ….”, gumamku.
“Kenapa…?”
“Menunggu anak lelaki yang nggak jelas jam berapa akan tiba di rumah”, sahutku.
Meledak, suara tawa suamiku mendengar keluhanku ….

Like father, like son …. Begitu konon kata pepatah usang ….
Tentu saja tawanya meledak. Begitulah kebiasaan anak lelaki, seperti yang dilakukan suamiku tentunya saat dia masih belum menikah. Tidak jelas kapan pulang ke rumah …. Tidak pula mau berbasa-basi memberi kabar ke rumah agar orangtuanya tidak menjadi penunggu pintu rumah. Bedanya … kalau dia adalah lelaki ke 4 dari 6 lelaki di keluarganya, maka aku hanya punya 1 anak lelaki….

Minggu, 19 Februari 2012

Salah Kaprah Keterlibatan Orangtua dalam Pendidikan Anak


Minggu ini, beberapa rekan kantor berangkat ke Malang untuk Rapat Kerja sambil meninjau Proyek. Saya nggak ikut .... (alhamdulillah....),  sebab ... ssttt jangan bilang-bilang ya... Anak saya marah besar, saat saya bilang bahwa ibunya harus ke Malang selama 1 minggu. Ini dilematis perempuan yang sok jadi super woman dan berperan ganda. Karenanya saya terpaksa mencari alasan yang valid untuk menghindar acara rapat di Malang ini. Toh saya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan proyek tersebut. Jadi ketidak hadiran saya, tidak akan mempengaruhi acara rapat (hikhik.. mencari pembenaran ....) . Itu alasan resmi .... karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.dan memang benar, saya harus monitor proyek yang langsung saya pegang dan ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan.

Salah satu rekan kantor yang pegang proyek di Malang dan akan dipindahtugaskan ke Jogja, meminta pendapat saya mengenai rencananya untuk mengambil cuti selama 2 minggu pada pertengahan bulan April ini agar dapat mendampingi anak lelaki sulungnya yang duduk di bangku SMP menghadapi ujian nasional - UN. Dia agak khawatir, anaknya tidak bisa berkonsentrasi dalam menghadapi UN, karena prestasinya dalam berbagai try out yang diikutinya pada kelas bimbingan belajar, sangat tidak stabil. Konon, kondisi ini sangat mengkhawatirkan terutama dikaitkan dengan masa depan si anak.

Jujur saja, saya agak terperangah mendengar masalah yang dihadapinya. Mungkin saya memang sangat beruntung punya anak lelaki yang "sangat mandiri" dalam belajar. Atau mungkin juga karena kekhawatiran saya "diredam" dengan sangat keras oleh suami yang sangat menafikan prestasi akademis. Kondisi ini semua, dengan berbagai argumentasi dan perdebatan ibu-anak, telah menjadikan anak sulung saya akhirnya menjadi sangat "bebas" menentukan, apa maunya. Tetapi, diluar itu semua, prestasi akademisnya dari SD hingga menyelesaikan SMU memang luar biasa.

Nah, kembali dengan teman saya ini, dan lagi-lagi menurut ceritanya, setiap malam dia harus "membimbing" anak sulungnya dalam hampir seluruh mata pelajaran terutama matematika dan fisika. Kalau tidak, maka hasil ulangannya akan jeblog habis. ***

Konon, jaman dahulu kala .... orang tua murid relatif "tidak pernah" bersinggungan dengan sekolah. Bahkan saat dibagikan raport sekolahpun, kehadiran orangtua tidak dibutuhkan karena guru langsung membagikan raport kepada murid. Saat tamat SD dan pindah ke SLTP dan SLTA, semua murid mendaftarkan diri dan menyelesaikan seluruh kewajiban pembayaran sekolah tanpa didampingi orang tua. Penyerahan raport langsung kepada murid memang memiliki dampak "buruk".

Murid-murid "nakal" yang isi raportnya "kebakaran" dengan bantuan teman-temannya, seringkali mengganti angka-angka merah itu menjadi biru agar tidak diketahui orangtua. Entah bagaimana cara mereka mengelabui orangtua/guru saat raport itu harus kembali ke sekolah. Mungkin juga murid-murid tersebut akan memalsukan tandatangan orangtua di raport dan membuang semua surat panggilan dari sekolah kepada orangtua. (Alhamdulillah... saya tidak termasuk murid nakal...).

Buku pegangan setiap mata pelajaran disediakan sekolah. Setiap awal tahun ajaran baru, murid dibagikan setumpuk buku yang harus di sampul baik-baik untuk digunakan selama tahun pelajaran berlangsung  dan baru dikembalikan bersamaan dengan pembagian raport. Seingat saya, POMG apalagi model Komite Sekolah, sama sekali tidak terdengar keberadaannya. Jadi model sumbangan ini itu untuk kegiatan sekolah sama sekali tidak ada. Entah bagaimana caranya sekolah memenuhi biaya kegiatan-kegiatan tersebut. Tanpa permintaan sumbangan dari orang tua apalagi dengan dalih sumbangan rutin POMG, kegiatan ekstra kurikulum tetap berlangsung. Itu memang cerita kuno yang terjadi, mungkin hingga paruh tahun 1970 an. 

Entah sejak kapan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak dimulai. Yang teringat adalah pada akhir tahun 1970, raport tidak lagi dibagikan kepada murid sehingga saya kerap diminta orangtua mewakilinya untuk mengambil raport adik. Mungkin kenakalan murid sekolah mulai tak tertangani oleh sekolah atau ada alasan lain yang melatar belakangi keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Yaitu dimulai dengan pengambilan raport, lalu adanya lembaga POMG yang kemudian "diberdayakan" menjadi salah satu sumber dana kegiatan ekstra kurikulum. Mungkin juga "entry point" ini menjadikan keterlibatan orangtua ke dalam pendidikan sekolah semakin lama semakin dalam. 

Lama kelamaan, bahkan dalam berbagai kegiatan ekstra kurikulum, orangtua murid terlibat menjadi panitia aktif. Semakin jauh dan semakin jauh. Bahkan melalui pengamatan di salah satu SD tempat anak saya bersekolah, melalui Komite Sekolah, campur tangan orangtua semakin dalam dan mulai memasuki wilayah akademis. Beruntung bila orangtua yang campur tangan memiliki kompetensi atau kepedulian dalam arah pendidikan yang benar. Yang seringkali terjadi, campur tangan tersebut lebih didasarkan kepada snobisme/ikut-ikutan atas model pendidikan "gaya luar" yang diterapkan oleh sekolah lain yang menjadi referensi, demi gengsi semata. Bukan atas kepentingan dan masa depan anak didik.

Mungkin itu juga sebabnya esensi pendidikan anak mulai bergeser. Bila dulu anak murid "tidak mengenal" les ini itu yang berkaitan dengan mata pelajaran dan cukup percaya diri menempuh ujian akhir bahkan untuk menempuh ujian masuk universitas. Sekarang, les dan kursus yang bertalian dengan mata pelajaran bertebaran dimana-mana. Anak-anak (atau jangan-jangan orangtua mereka) merasa tidak percaya diri bila si anak tidak diikutsertakan pada les atau kursus-kursus tersebut. Dan cengkeraman pengaruh les/kursus sangat luar biasa. Bila dua dekade lalu, kursus atau sekarang populer dengan sebutan bimbingan belajar/BIMBEL hanya diikuti oleh anak-anak yang akan menempuh ujian akhir saja. 

Sekarang, anak-anak "dipaksa" orangtua mengikuti bimbel pada setiap jenjang kelas. Ikut sibuk mencarikan sekolah-sekolah favorit, ikut cawe-cawe menentukan kegiatan (terutama kegiatan ekstra kurikulum) anak-anak di sekolah. Bukan itu saja... konon katanya cara belajar di kelas 3 disebuah sekolah unggulan nasional, bukan lagi belajar "normal" untuk memahami ilmu pengetahuan tetapi latihan soal a la bimbingan belajar untuk ujian masuk universitas. Yang sangat mengejutkan, beberapa waktu yang lalu di koran ibukota ramai diberitakan bahwa BIMBEL telah masuk secara resmi ke sekolah-sekolah melalui kerjasama. Lalu... apa dong fungsi guru sekolah? Kalau tujuan sekolah hanya sekedar mendapat ijasah atau lulus masuk PTN, yang nggak usah bikin sekolah yang esensinya mendidik (akademis dan moralitas), bikin aja kursus-kursus.

Keleluasaan pemerintah/DikNas kepada sekolah dan daerah untuk turut me"warnai" kurikulum melalui muatan lokal turut menambah carut-marut profil mata pelajaran dan pada akhirnya menambah beban anak. Banyak mata pelajaran yang tumpang tindih atau terkesan "diadakan" agar sekolah dapat masuk dalam kategori sekolah favorit dan tidak dipandang sebelah mata oleh kalangan berpunya. Bahkan di salah satu tayangan televisi, ada seorang ibu yang dengan bangga memamerkan anaknya atau lebih tepat dikatakan BAYI berumur 9 ... baca SEMBILAN bulan yang sudah bersekolah. Entah sekolah macam apa yang diikuti bayi tersebut dan entah pula apa latar belakang dan maksud pendidikan super dini itu. Saya hanya masih membayangkan bahwa anak atau bayi berumur 9 bulan, lebih membutuhkan belaian dan perlindungan orang tua daripada hiruk pikuk sekolah bayi. 
Memang betul bahwa pendidikan anak bukan semata tanggung jawab guru, tetapi juga tanggung jawab orang tua. Tapi kan ada bagian-bagiannya. Kalau semua mau cawe-cawe melampaui batas wewenang dan kemampuannya ... ya repot. Akhirnya tujuan akhir pendidikan jadi kabur ... semua tergantung dari uang dan pengaruh. Siapa yang kuat dan ber"uang", itu yang menang ... Jadi nggak salah ya... ber"uang" dan beruang, setali tiga uang. Cakarnya memang tajam menancap
Halah....... mau kemana sih pendidikan anak-anak Indonesia ini?

Jumat, 27 Januari 2012

RUANG KOSONG DI RUMAH

Ada ruang kosong kehidupan yang hanya bisa diisi oleh perempuan melalui naluri keibuannya. Ruang kosong itu adalah sebagian dari kebutuhan anak-anak dan atau pasangan atau partner hidup kita. Itu yang sering dilupakan perempuan dan para ibu muda, terutama mereka yang masih sibuk mengejar karier.

Memang tidak mudah untuk menangkap signal kebutuhan dasar anak-anak akan perhatian orangtuanya terutama dari ibu. Kita seringkali mendengar banyak wanita karier berkata bahwa dalam mendidik anak dan memberi perhatian, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas.

Pada kenyataannya, yang dinamakan kualitas menurut versi orangtua, lebih banyak bersifat materialistis. Misalnya saja, jalan-jalan ke Mall, untuk makan bersama atau sekedar membeli buku. Itupun, dilakukan dengan melibatkan para pengasuh anak agak orangtua terbebaskan dari kerepotan mengurus anak selama acara bersama tersebut. Jadi, dalam mengisi kualitas pertemuanpun, anak lebih banyak ditangani oleh para pengasuhnya, sementara orangtua asyik ngobrol. Hanya sesekali saja diluangkannya waktu menyapa anak. Benarkah hanya itu yang dibutuhkan anak? Bisakah “kualitas” pertemuan diterjemahkan dari sudut pandang si anak? ***

Ini kejadian sekitar 5 tahun yang lalu
“Ma, … aku tadi jatuh di kamar mandi. Tanganku bengkak dan sakit”, begitu kata gadis kecilku, saat menelpon ibunya yang sedang dalam perjalanan pulang sehabis bekerja sepanjang hari. “Tuh, kan .... pasti main air lagi”.

Teringat kebiasaan si gadis yang sangat suka bermain air di kamar mandi. Bayangkan saja, 100 ml isi shampoo habis digunakan dalam waktu satu minggu saja. Begitu juga dengan shower gel. Entah bagaimana cara dia menggunakan sabun dan shampoo, yang pasti begitu dia keluar dari kamar mandi, maka harum shampoo atau sabun akan langsung menyerang penciuman kita.

”Bapak sudah pulang?”
”Sudah ..., lagi baca koran”
”Sudah bilang sama bapak...?”
”Sudah .....”
" Kok nggak pergi ke H. Naim sama bapak..?"
"Mau sama mama aja.....!!!", begitu selalu jawabannya.

Tiba di rumah, seusai shalat maghrib dan makan malam, gadis kecilku mendekat, memperlihatkan jari telunjuk kirinya yang bengkak dan membiru. Aku melihat ke arah suami yang juga ikut memperhatikan jari tangan yang bengkak itu.

”Jam berapa jatuhnya dan bagaimana?”
”Tadi siang ... kira-kira jam dua. Nggak tahu gimana jatuhnya, lupa....”
”Kok nggak bilang dari tadi? Kan bisa langsung pergi ke haji Naim[1], minta tolong oom atau mami[2]”

Baik anak maupun suami, diam tak berkomentar. Dalam raut wajah gadis kecil, terbayang jelas ”ketakutan”. Takut karena membayangkan rasa sakit saat dipijat. Sementara itu, sukar untuk menterjemahkan diamnya si bapak. Entah apa yang dipikirkan saat itu..... Menyesali keterlambatan si ibu pulang dari kantor? Entahlah.... Namun pikiran seperti itupun sangat mungkin terjadi

Usai menelpon adik yang biasa berhubungan dengan ibu haji, aku menyiapkan teh manis hangat, untuk minum si gadis saat jeda di antara pijatan, maka pada jam 21.30 kami berangkat ke bilangan dapur susu – Lebak Bulus. Seperti yang sudah diduga, jeritan dan tangisan kesakitan membahana, saat si kecil dipijat. Usai dipijat/urut malam itu, si gadis terpaksa diijinkan ”mengisi” pojok tempat tidur orangtuanya. Katakanlah itu sebagai kompensasi atas kesediaannya merasakan sakit saat dipijat tadi. Ditambah kemanjaan anak gadis yang masih berumur 8½ tahun itu yang berpadu dengan rasa khawatir ibunya. Kalau-kalau demam menyerangnya sesudah pijatan yang menyakitkan itu.
***

”Ma .... minta data passportnya ya, sekalian juga datanya bokap” message itu masuk di yahoo messenger, dari anakku yang saat ini sedang kuliah di seberang, Jum’at siang itu.
”Kapan perlunya? Aku nggak ingat detilnya. Week end ini, aku bikin foto passportnya deh. Senin kukirim ya. Jadi, liat aja datanya disitu”.
”Kalo perforation number dan registration number itu apaan sih?”,
”Maksudnya apa sih?”
”Itu pertanyaan dari formulir isian perpanjangan passport”
”Coba lihat di pinggiran passport ... ada lubang-lubang kecil yang berisi huruf dan angka biasanya sama dengan nomor passport. Pasti itu yang dimaksud. Kalau Registration number, mungkin bisa dilihat di halaman terakhir passport. Ada data pemilik di situ, termasuk nomor file. Nah nomor file itu, mungkin yang dimaksud sebagai registration number”.
”Oke deh....”

Duh .... anak ini, udah gede, soal kecil begitu aja ditanyain ke ibunya. Beruntung sudah era internet, sehingga komunikasi bisa terjalin dengan cepat dan relatif murah. Bayangkan kalau masih awal tahun 80an, dimana, bahkan sambungan telpon internasionalpun masih sangat terbatas.

Dia ini betul-betul duplikat bapaknya. Kalau ada masalah, nggak perduli besar atau kecil, istrinya (perempuan) juga yang harus menyelesaikan masalah. Mereka (lelaki) cuma mau tahu beresnya saja.
***

Ini kejadian sekitar 11 tahun yang lalu, saat anak lelakiku masih kuliah di Jakarta dan sesekali ke kampus UI Depok untuk praktikum.

”Aku sudah selesai ngajar nih ... tolong dong cari anakmu untuk jemput saya di jurusan dan langsung pulang”, begitu pesan suami melalui telpon.
Kalau sudah begini, nggak ada kompromi. Si ibu mesti mencari anaknya yang entah ada di belahan kampus mana. Padahal kedua lelaki itu, masing-masing memiliki telpon genggam. Jadi mereka sebetulnya bisa langsung berkomunikasi.

Tetapi kenyataannya komunikasi untuk urusan cari-mencari dan menetapkan posisi kedua orang itu di areal kampus UI Depok yang konon katanya seluas 300ha itu masih membutuhkan ”mediator”. Jadilah si ibu sibuk telpon dari yang tua, lalu disambung ke yang muda sampai akhirnya konfirmasi didapat dari keduanya, bahwa mereka sudah bertemu dan sudah dalam perjalanan pulang ke rumah, bersama.

Kondisi yang agak mengganggu waktu dan konsentrasi kerja ini bukan satu dua kali terjadi. Sudah jadi rutinitas setiap kali mereka saling mencari. Tidak itu saja, si suamipun terkadang menelpon istrinya, manakala dia mencari dompet, telpon atau stnk mobil yang ”ketlisut” entah dimana. Padahal, sungguh mati ... kesemuanya adalah barang-barang pribadi dan harusnya, prosedur keberadaannya sudah menjadi SOP (standard operating procedure) pribadi yang diterapkan setiap hari saat akan meninggalkan rumah.
***

Kesemuanya itu adalah sekelumit cerita yang menggambarkan hubungan/kedekatan/keterikatan antara anak (perempuan maupun lelaki) dengan ibunya dan hubungan/kedekatan/keterikatan antara suami dan istri. Dari kedua bentuk hubungan itu, terlihat kecenderungan bahwa perempuan/istri/ibu menjadi figur sentral. Saya teringat pada obrolan dengan anak lelaki saya sekitar 16 tahun yang lalu, saat dia masih duduk di bangku SMP.

Pertanyaan dilontarkan itu, sebetulnya dipicu oleh keingintahuan sekaligus membuktikan perkataan ArSa[3] bahwa lelaki, seberapapun usianya, sangat mengharapkan ibunya (perempuan) berada di rumah saat dia pulang dari manapun. Itu yang menyebabkan ArSa, saat masih duduk dibangku SMP meminta ibunya berhenti bekerja dan hanya menjadi ibu rumahtangga saja. Dia juga tidak mengijinkan ibunya aktif di Dharma Wanita di instansi tempat bapaknya ArSa bekerja sebagai pejabat tinggi negara). Padahal, saat itu, Suharto sedang dalam masa jayanya dan Ibu Tien ”mengharuskan istri aktif di Dharma Wanita dengan dalih untuk menunjang karier suami.

Pertanyaannya begini;
”Kalau bisa memilih ...kamu lebih suka punya ibu yang bekerja atau ibu yang ada di rumah saat kamu pulang sekolah?”
”Ibu yang ada di rumah!” jawabnya cepat, tanpa pikir panjang.
”Lho ... kok gitu? Kenapa? Kan enak dan bangga punya ibu yang bekerja. Apalagi bisa membelikan ini-itu buat anaknya”
”Iya juga sih .... tapi, kan lebih enak kalo pulang sekolah ada ibu yang nyambut di rumah...”

Nah lho....!!!! Kalau begitu yang ada di pikiran anak lelaki (dan pasti juga di pikiran anak perempuan), mungkinkah begitu juga yang ada di pikiran para suami?. Perempuan, apakah statusnya ibu atau istri, ternyata memiliki fungsi yang sangat sentral. Menjadi pusat roda kegiatan rumah tangga.

Adakah para perempuan (ibu) menyadarinya sehingga mau mengerti bahwa kebutuhan anak bukan hanya sekedar pemenuhan materialistis, tetapi juga pemenuhan rohani berupa ”kehadiran” fisik, sentuhan/affeksi dan perhatian yang penuh tanpa mediator (pengasuh). Mungkin ada banyak perempuan yang sadar akan hal ini, tetapi ego dan keinginan untuk ”exist”, aktualisasi diri, secara perlahan mengikis kesadaran itu. Atau minimal, membuat perempuan (ibu) serasa berada selalu di persimpangan jalan dalam menata kehidupannya.

Menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita bekerja. Memilih keduanya agar berjalan seiring, seringkali memicu masalah. Apalagi bila karier (lebih tepat penghasilan) yang diperolehnya, menyumbangkan kontribusi yang cukup besar dalam kehidupan dan kemapanan rumahtangganya. Bila anak dengan sangat terpaksa menerima kondisi bahwa ibunya bekerja dan hanya memiliki waktu yang sempit untuknya, maka lain halnya dengan suami. Defisit perhatian, sentuhan dan afeksi, seringkali dicarinya di luar rumah dan seringkali mengakibatkan perselingkuhan. Padahal, seharusnya suami (lelaki) mau mengerti dan menyadari, istripun (perempuan) juga membutuhkan perhatian, sentuhan dan afeksi. Sama saja.... Lebih jauh dari itu, perempuan, sesuai dengan kodratnya, butuh perlindungan dan pengayoman dari suami. 

Kelihatannya, membangun komunikasi, menterjemahkan kebutuhan ”partner” (suami-istri atau orangtua-anak) dari sudut pandang mereka untuk menumbuhkan rasa saling mengerti, saling percaya, dan bukan menterjemahkan keinginan ”partner” sesuai interpretasi kita, bukanlah hal yang mudah. Dan kita seringkali terjebak oleh segala theory yang diperoleh dari bahan bacaan sehingga seolah-olah sudah mengerti kebutuhan partner kita, padahal sesungguhnya kita hanya mengerti kebutuhan pribadi saja.

Duh berat juga ya... Tenyata menuliskannya, juga membuat aku harus mengintrospeksi diri sendiri. Apa yang sudah kulakukan buat keluarga, terutama buat anak. Karena keharmonisan hubungan pasangan suami istri dan hubungan antara orangtua dengan anak, akan menjadi cermin bagi anak-anak saat mereka kelak meniti rumah tangga..

reedit 27 Januari 2012

Minggu, 08 Januari 2012

Sulit mengambil keputusan menikah


Jum'at kemarin, seusai shalat ashar, YM saya ada yang manggil, walaupun statusnya invisible.
"Madame .., ngganggu?"
"Nggak ... ada apa oom?"
Ini pasti Yudi, temanku yang agak “bawel” terutama untuk urusan hubungan antar jenis.
“Apa pantas kalo perempuan itu berlaku kasar…?”
Lho ...lho ... ada apa lagi ni orang? Belum apa-apa sudah menyergah dengan pertanyaan yang menyudutkan perempuan...
“Tergantung keadaan ....! Orang selalu berharap perempuan selalu bersikap halus, lemah lembut ... ya ... yang begitu-begitu deh...! Tapi kan, itu tergantung dari pembawaan dan mungkin juga dari suku bangsanya... Ada apa sih...?”
”Aku tuh suka sebel ... cewe yang lagi deket sama aku itu, kok kasar banget ya...? Pernah suatu saat dia bilang gini ... dasar orang gak punya otak!! Kan nggak pantes perempuan ngomong begitu...!!”
”Ya kalo kamu ngerasa nggak suka dengan sikap, sifat atau kebiasaannya ... ya tinggalin ... cari yang lain...!, Kok susah banget sih?”
”Sudah ....!”
”Nah, kalo sudah ... terus kenapa lagi...?”
”Ya tapi gak bisa ....?”
”Lho ... kamu ini gimana sih? Sudah putus, tapi gak bisa... Maksudnya apa?”
”Ya sudah berulang kali putus. Kalo sudah berantem, putus... tapi akunya balik lagi sama dia....”
”Oalah ....! itu karena kamu gak mau, makanya kamu nggak bisa!”
”Apa maksudnya...?
”Hati kecil kamu sebetulnya ”nggak mau” putus, makanya kamu nggak bisa putus... bolak-balik terus...! Au fond du coeur, kamu itu follement amoureux d’elle!!! Kalo gitu sih .... udahlah ... kawinin aja dia, beres kan....!”
”Gak bisa .... gak bakalan cocok sama ibuku...!”
”Eh .. denger baik-baik ... Gak ada sejarahnya perempuan yang cocok dengan mertua perempuannya. Kalaupun ada, jarang banget...! Jadi itu persoalan biasa ... Lagipula, yang kawin, kamu ...!”
”Tapi ... dia sudah pernah menikah ... dan pernikahannya nggak berumur panjang, gak sampe 1 tahun...!”
”So ... what...?”
”Gue gak mau nasib gue kayak gitu...!”
“Setiap pernikahan itu adalah judi…Kesalahan kita adalah saat berpendapat bahwa pernikahan adalah tujuan dari persatuan dua hati anak manusia. Jadi pernikahan adalah final dari perjalanan cinta! Padahal .. itu salah besar, karena pernikahan adalah starting point of an open-ended problems. Akan ada berbagai macam masalah yang datang silih berganti dan kita sudah menandatangani kontrak (yang diharapkan) berjangka panjang. Yang perjalanannya sama sekali unpredictable. Apa bukan berjudi, namanya? Perlu effort untuk memeliharanya. Sejauh ada kesamaan visi, saling menghormati dan punya komitmen yang sama, apalagi yang ditakuti?”
”Sifatnya itu. ...”
”Kenapa harus melihat segala kekurangannya? Memangnya kamu sudah sempurna? Coba hargai segala kelebihannya sebagaimana kamu berharap dia juga mau menghargai kelebihanmu diantara banyak kekurangan yang ada di kamu...!”
”Aku nggak suka, dengan sikapnya yang arogan...!”
”Duh ... bolak-balik kesitu ....! Gini deh ... pilihannya kan Cuma dua... kawin atau putus...! Nah pilih salah satu ...”
”Aku udah coba putus sama dia, tapi gak bisa, selalu balik sama dia...”
”Ya sudah. .. kawin aja sama dia...”
”Tapi ... kalo ternyata nggak cocok ...?”
” Udah deh .... Sekarang ini kan kamu cinta buta banget, jadi kamu kawin aja sama dia ... Ntar, kalo udah kawin, mata hati kamu jadi terang benderang ... bisa melihat dengan jernih segala kekurangan-kekurangannya”
”Memang, kalau sudah menikah, perasaan cinta bisa hilang...?”
”Nggak juga sih ... tapi nuansa dan suasananya sudah berbeda. Kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih jernih, yang tidak ditutupi perasaan cinta menggebu-gebu. Nah, kalau memang dirasa susah untuk dipertahankan. ya cerai aja ....... Kok susah banget sih?”
”Duh, madame ... kok jahat amat sih?”
”Lha.... kamu ini gimana sih? Disuruh putus..., kamu bilang gak bisa! Disuruh kawin... kamu bilang, gak suka sama sifatnya...! Kalo begini terus... sumpah mati deh ... sampe kapanpun kamu nggak akan pernah menikah ...!”

(duh ... maaf Yudi ... kok lagi puasa gini, omonganku ”jahat” banget ya....? Sungguh mati, aku nggak bermaksud jahat sama kamu, cuma gregetan aja! Umur kamu sudah pantas untuk memiliki 2 orang anak balita.... lho! Keburu kiamat ...!!!)

Sabtu, 07 Januari 2012

Kehamilan di luar Pernikahan

“Mbak, …. Aku hamil ….!!!”, ucapnya lirih. Hampir tak terdengar karena ditingkahi oleh keriuhan café pada akhir minggu.
Jujur, aku terhenyak mendengar berita itu langsung dari bibir mungilnya. Tapi apa yang mau dikata? Pergaulan antar jenis yang bebas merdeka di kota-kota besar di seluruh dunia memang memungkinkan terjadinya kehamilan pranikah. Di negara maju, pasangan tanpa menikah (concubinage) malah diakui secara resmi.
“Kenapa sampai terjadi?”
“Entahlah …!”
“Kamu nggak pake preservatif saat berhubungan?”
“Nggaklah, mbak! Rasanya saat itu bukan masa suburku. Atau … mungkin aku salah hitung.”


Salah hitung masa subur atau tidak menggunakan preservative, ini masalah yang biasa terjadi di Indonesia dalam setiap kasus kehamilan di luar nikah. Berbeda dengan di negara maju, anak perempuan yang sudah mendapat menstruasi, tentu sudah diberi pengetahuan seksual baik oleh orang tua maupun sekolah. Termasuk tentang pencegahan kehamilan. Di Indonesia, masyarakat masih mentabukan pengajaran pengetahuan seksual di sekolah-sekolah, walaupun di tingkat SMA sekalipun.

Jadi, walaupun orientasi kehidupan pergaulan orang muda di kota-kota besar sudah memiliki kecenderungan gaya hidup barat, namun para pelakunya tidak secara sadar mengamankan dirinya dari kehamilan dengan alat pencegah kehamilan. Padahal, sudah menjadi rahasia umum bahwa pencegah kehamilan berupa pil maupun kondom sangat mudah diperoleh dan dijual bebas di “grand surface”. Keluhan sahabatku itu mengingatkan peristiwa di bulan Oktober, hampir 20 tahun yang lalu, di rumah ibuku, di bilangan Rawamangun.
*****

Malam itu, Ibuku masih menginap di MMC, menemani bapak yang sedang di rawat karena stroke. Kami sedang beristirahat di kamar, setelah makan malam, sambil menemani anak menjelang tidur. Saat si mbok mengetuk pintu kamar dengan panik.
“Non, tolong si mbok …. Anakku perutnya kembung ...!”
“Kenapa, mbok...?”
“Nggak tahu. Habis maghrib dia teriak-teriak terus, sakit perut…. Terus, mbok liat, perutnya kok kembung seperti orang hamil…!”
“Hamil ......?”

Aku keluar kamar, mengikuti si mbok ke kamarnya yang berada di bagian lain sayap rumah, yang persis berseberangan dengan kamar tidurku.
“Kenapa, kamu?”
“Nggak tahu non ... tadi, mau maghrib saya ketiduran. Terus mimpi, ada nenek-nenek ngasih ikan emas besar, jadi saya terbangun. Kok perut saya mendadak kembung dan sakit. Kesambet, kali …..”, sahutnya sambil meringis menahan sakit. Dasar orang Jawa (maaf…) …. Ada apa-apa, jawabnya “kesambet”!

Sungguh mati, walaupun sudah punya anak berumur hampir 4 tahun, saat itu aku sama sekali tidak berpikir bahwa anak gadis si mbok sedang hamil tua. Bahkan sudah menjelang melahirkan. Maklum saja, selain kami sekeluarga tidak ada pembantu lelaki di rumah setelah tukang kebun meminta ijin berhenti bekerja selepas lebaran lalu. Aku tentu tidak mungkin berprasangka bahwa salah satu lelaki yang ada di rumah, yaitu bapak, suami dan adik lelakiku telah menghamili anak si mbok. Apalagi dia tidur sekamar dengan si mbok, ibu kandungnya. Sementara ibuku bukan perempuan bekerja. Jadi selalu berada di rumah hampir sepanjang hari.
“Ayo ke rumah sakit! Kamu siap-siap! Mbok, nggak usah ikut… Jaga rumah dan temani anakku saja! Biar saya sama bapak yang ngantar!”

Aku segera kembali ke kamar, meminta suami menemani ke RS Persahabatan. Tiba di sana, dengan naïf, kusampaikan apa yang kudengar darinya kepada perawat di UGD. Mendengar ceritaku, mungkin dia berpikir .... ada perempuan kelihatan terpelajar, tapi kok bloon banget. Percaya “bongkokan” sama omongan pembantu rumahnya... Tapi, saat itu aku memang sama sekali nggak berprasangka buruk terhadap siapapun.
“Bu ...ini sih hamil tua, bu ...! Udah mau melahirkan...! Sini deh kita periksa urine!”, kata sang perawat setelah meraba sejenak perutnya.
“Lalu ....?”
“Masih lama bu ...., baru pembukaan dua! Jadi bawa pulang aja dulu, nanti kalau mulasnya sudah sering, baru kembali lagi ke RS!”

Usai membayar biaya RS, kami segera kembali ke rumah dalam diam. Perasaanku campur aduk, antara marah, kesal, bingung campur kasihan. Bingung, karena selama ini dia tidak pernah jauh dari si mbok, ibu kandungnya. Lalu, siapa yang sudah menghamilinya?. Aku betul-betul bingung dan juga sebal.

“Anakmu hamil ... sudah hampir melahirkan!” jawabku kepada si mbok, saat dia menanyakan apa yang terjadi pada anaknya.
“Nggak mungkin, non .......!”
“Terserah, si mbok mau percaya atau nggak! Yang pasti begitu hasil pemeriksaan RS. Tanyakan ... siapa lelaki yang menghamili! Biar jelas siapa yang harus bertanggung jawab”, jawabku agak ketus. Aku segera kembali ke kamar. Ngantuk. Sudah tengah malam. Apalagi besok pagi harus masuk kantor.

Belum sampai satu jam, si mbok kembali lagi mengetuk pintu kamar.
“Non … dia …. dia, nangis kesakitan ...!”
Aku terpaksa keluar kamar lagi ... sambil mengantuk, terpaksa meladeni si mbok.
“Siapa yang menghamilinya, mbok?”
“Nggak tahu non, dia bilang, dia nggak pernah berbuat ....”
Gila tu anak ...., sudah mau melahirkan begini, masih aja bohong!

“Neng, dengar ya .... Saya baru mau ngantar kamu ke RS sesudah kamu mengaku, dengan siapa kamu berhubungan badan!”
“Nggak pernah, non ... Sumpah!”
“Ya sudah ... kalo kamu nggak mau ngaku, jadi kamu bukan hamil ... Saya nggak perlu ngantar lagi ke RS, kan?. Saya ngantuk nih .... jangan ganggu dong!” sahutku.
“Sungguh non ... saya kan selama ini datang bulan terus. Mana bisa hamil...?”
Eh ... pinter juga tu anak ..., tapi rasanya aku pernah baca buku, ada kasus tertentu dimana perempuan hamil tetapi tetap mendapat menstruasi. Mungkin anak ini juga termasuk salah satu pengecualian itu?!

“Mbok .... saya mau tidur! Sudah tengah malam ..., ngantuk, nih! Anakmu, nggak mau ngaku ... Karena di dunia Cuma ada satu perempuan yang bisa hamil tanpa lelaki dan sementara dia bilang nggak pernah melakukan. Jadi saya anggap, dia nggak hamil! Ingat ya mbok .... saya cuma mau ke RS, kalau dia mengaku! ”

Mendengar ancaman saya dan tidak tahan oleh rasa sakit, akhirnya dia mengaku ....
“Tukang kebun ..... non! Tapi, sumpah deh ... Cuma sekali aja!”
Waduh ......., bagaimana mungkin ....? Anak kecil itu yang menghamilinya ....? Anak lelaki yang umurnya 5 tahun di bawah umurnya (dia saat itu berumur 20 tahun)? Bagaimana mungkin?.
“Mbok .... gimana sih ...? Kemana aja si mbok seharian ... kok bisa kecolongan begini?”
“Nggak tahu non ..... “, sahut si mbok, ketakutan.
“Dimana kejadiannya ....?”
“Di kamar ini, non ...”
“Nah mbok .... dengar tuh ... Kok bisa-bisanya, si mbok yang setiap waktu di dapur yang letaknya di depan kamar, bisa kecolongan ....?”

Tukang kebun itu. Entah sudah berada dimana dia? … Tidak ada seorangpun yang tahu keberadaannya setelah dia berhenti bekerja kira-kira 6 bulan sebelumnya. Tidak juga dimana letak persis kampungnya. Dia sendiri bungkam seribu bahasa. Jangan-jangan, tukang kebun itu berhenti bekerja karena tahu dia hamil.

Dini hari itu, sekitar jam 03.00 dia melahirkan bayi lelaki di RS Alvernia, yang letaknya berpunggungan dengan kamar tidurku dengan ditunggui si mbok juga.

Usai menyelesaikan pembayaran, kukatakan pada si mbok agar membawa anaknya pulang ke kampung saja untuk merawat bayinya di sana. Tidak mungkin mengijinkannya tetap tinggal di rumah. Bapakku masih dalam status recovery dari stroke yang dideritanya. Apalagi, kecuali aku dan suami, tidak ada anggota keluarga lain yang mengetahui peristiwa ini. Aku sungguh tidak mau terjadi kehebohan di rumah.
*****

Kehamilan di luar nikah memang selalu menimbulkan bencana di keluarga. Rasa menyesal, malu, panik selalu menyertai perasaan si pelaku. Mungkin, hanya cara menyelesaikannya saja yang berbeda. Ada yang membiarkannya hingga si anak lahir atau menggugurkannya.

Kita perlu memikirkan bagaimana cara mencegahnya. Ada batas tertentu dimana norma/ajaran agama tidak dapat lagi mencegah hubungan seksual pranikah. Mungkin sudah saatnya sex education diajarkan di sekolah-sekolah setingkat SMA agar para remaja mengerti. Sex Education yang dimaksud tentu bukan sekedar dalam hal pencegahan kehamilannya, tetapi terutama dalam hal resiko yang harus dihadapi oleh para pelakunya dan anak yang akan dilahirkannya, ditinjau dari berbagai sudut. Agama maupun logical thinking.
Wallahu’ alam

Lebak Bulus, minggu 6 Agustus 2006

Masih perlukah pesta besar saat menikah?

La Semaine derniere, le professeur de langue francaise a CCF, nous a pose une question ..... La question est partagee en deux ... celle pour des etudiantes mariees (les meres ayant des enfants plus de 20 ans) et pour des etudiants celibataires.

Pertanyaannya hampir senada, yaitu …. Kalau seandainya kita memiliki uang yang cukup. Apakah saat akan menikah, uang tersebut akan digunakan dan dihabiskan untuk pesta pernikahan atau sebagian untuk pesta pernikahan sederhana dan sisanya untuk membeli rumah?

Di kelas saat itu hanya ada satu orang lelaki berumur 28 tahun dan kebetulan sedang mempersiapkan pernikahannya. Sedangkan yang lainnya adalah gadis-gadis berumur antara 25 – 30 tahun dan ada 4 orang ibu, termasuk saya, yang memiliki anak berumur di atas 20 tahun.

Hampir semua gadis-gadis tersebut menyatakan hanya menginginkan pesta sederhana di antara keluarga dan kawan dekat serta ingin menggunakan dana pernikahan dari orang tua, bila diijinkan, untuk membeli rumah saja. Pendapat ibu-ibu, terbagi dua, sama rata. Dua orang ibu menginginkan pesta mengingat banyaknya relasi yang harus diundang, walaupun mereka sadar bahwa pesta pernikahan di kalangan middle up di Jakarta yang paling sederhana saja, akan memakan biaya minimal 200 juta. Bahkan salah satu ibu menyatakan bahwa biaya konsumsi pernikahan di Hotel Mulia minimal 350 ribu per pax plus-plus (pajak-pajak sebesar 21%). Biaya ini belum termasuk additional booth.

Itu baru biaya makanan. Belum lagi bicara mengenai pakaian pengantin, cetak undangan, pakaian orang tua, para among-tamu. Biaya dekorasi pelaminan dan hiasan bunga. Souvenir sebagai ucapan terima kasih, perias pengantin dan banyak hal-hal lainnya.

Seorang teman yang menikah hampir setahun yang lalu, bercerita bahwa satu buah kebaya berpayet yang dijahit di penjahit yang juga bekerja di salah satu perancang busana terkenal di Jakarta, berharga paling murah enam belas juta rupiah. Padahal untuk pernikahannya, dia memerlukan 2 buah kebaya. Untuk akad nikah dan resepsi. Ini belum termasuk pakaian pengantin pria dan kain songketnya (dia berasal dari Tapanuli Utara). Songket sutera Palembang yang paling sederhana, paling murah, sekarang berharga kira-kira 3 juta rupiah.

Ipar saya, yang mengkhususkan diri dalam menerima pesanan dekorasi bunga untuk pernikahan, mengatakan bahwa dekorasi bunga yang paling sederhana dan hanya untuk di gedung resepsi saja, berharga minimal dua puluh juta rupiah. Padahal ... pesta besar yang diselenggarakan di hotel-hotel itu, mewah dan meriah dengan bunga yang khusus dibuat sesuai dengan thema dan permintaan sang pengantin. Ada yang meminta khusus anggrek bulan putih saja. Atau bunga lily dan anyelir saja. Bahkan ada yang khusus meminta dihias dengan mawar hijau atau mawar ungu yang eksklusif. Duh ... padahal, seusai pesta, bunga-bungaan segar yang serba indah dan eksklusif itu hanya akan masuk tong sampah .... Alangkah mubazirnya ....

Bentuk undanganpun tidak bisa dianggap enteng. Dari yang sangat sederhana hingga sangat mewah yang tersimpan dalam kotak mewah dan eksklusif. Selain itu, sudah umum sekarang bahwa pasangan calon pengantin juga mempersiapkan satu seri pre-wedding photograph yang akan menghiasi undangan serta ruang pesta. Ini juga memerlukan persiapan dan biaya yang tidak sedikit.


Mengapa harus mengadakan pesta besar?

Orang Minang, menyebut pesta pernikahan sebagai “Baralek Gadang”. Artinya… kira-kira, berpesta besar. Jadi pesta besar mungkin sudah jadi budaya Indonesia.

30 tahun yang lalu, para orang tua selalu “memaksakan” diri untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan bagi anak-anaknya. Mereka takut, kalau anak-anaknya menikah secara diam-diam - tanpa pesta, akan muncul gunjingan-gunjingan bahwa pasangan tersebut menikah karena “kecelakaan”. Sekarang .. keadaannya berbeda. Orangtua dari perempuan yang sedang hamil muda, bahkan tidak segan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya.

Teman kursus, lelaki yang sedang menyiapkan pesta pernikahannya tersebut mengatakan bahwa dia menyetujui untuk menyelenggarakan pesta besar karena seluruh keluarga besarnya yang berasal dari Sumatera Selatan itu menginginkannya. Alasannya karena dia, anak pertama lelaki dari keluarganya. Bapaknya juga anak lelaki pertama di keluarganya. Dia juga merupakan anak lelaki pertama dari seluruh anggota keluarga besarnya yang menikah. Jadi karena ini adalah pesta pernikahan pertama di keluarga besar, maka seluruh anggota keluarga menginginkan agar pernikahannya diselenggarakan dengan baik dan meriah. Entah siapa yang harus menanggung biaya pernikahan tersebut. Sebagai anak yang baik, dia patuh mengikuti keinginan keluarga besarnya tersebut. Atau mungkin sebetulnya, dia juga menginginkan pesta meriah tersebut.

Adik saya, yang memiliki anak lelaki berumur 25 tahun lulusan fakultas psikologi di salah satu universitas negeri sudah mulai berhitung-hitung mengenai jumlah “undangan” wajibnya kelak. Yaitu orang-orang yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Itupun belum termasuk daftar undangan dari suaminya. Mungkin juga dia sudah mulai berhitung, biaya yang harus disiapkannya kelak.

Menyelenggarakan pesta pernikahan secara besar-besaran bagi anak-anaknya, merupakan pola pikir sebagian besar keluarga Indonesia. Bulan-bulan menjelang Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah merupakan bulan baik untuk menyelenggarakan pernikahan. Bayangkan, pada bulan-bulan baik tersebut, setiap minggu kami menerima undangan. Bukan hanya satu, tetapi dua bahkan tiga buah undangan sekaligus. Jadi, kami sendiri harus pandai memilah mana yang “wajib” dihadiri, mana yang dapat diabaikan. Kondisi jalan di Jakarta yang sarat dengan kemacetan memyebabkan acara pesta pernikahan menjadi beban tersendiri. Terkadang, kami harus berjibaku dengan kemacetan, menempuh perjalanan minimal 45 menit, bahkan hingga 90 menit untuk mencapai gedung resepsi. Belum hilang kelelahan selama perjalanan, kami masih harus antri hanya untuk memberikan ucapan selamat yang hanya memakan waktu tidak lebih dari 5 menit saja. Ini tentu bukan pengalaman yang menyenangkan, apalagi bila pesta pernikahan diselenggarakan pada hari kerja.

Bagaimana mempersiapkan biaya pernikahan?

Pada masyarakat pedesaan atau perkampungan, pesta pernikahan anak, merupakan tanggung jawab keluarga besar atau kaum kerabat secara bergotong royong. Paman-bibi dari calon pengantin, bahkan hingga kerabat sekampung atau satu marga, masing-masing bergotong royong membiayai pernikahan calon pengantin. Entah apakah kebiasaan ini juga masih terjadi pada masyarakat perkotaan yang lebih individualistis.

Menarik sekali dicermati, bahwa pesta meriah yang menelan biaya ratusan juta rupiah, tidak hanya diselenggarakan oleh kalangan pengusaha atau kalangan yang bekerja di sektor swasta yang dikenal bergaji besar. Tetapi juga mampu diselenggarakan oleh pegawai negeri yang setiap saat selalu mengeluh akan besaran gaji yang “hanya cukup untuk makan seminggu”. Mereka bahkan mampu menyelenggarakan pesta pernikahan anak-anak mereka di gedung-gedung “berkelas”, sebut saja semisal Balai Kartini, Panti Sudirman, Gedung Departemen Keuangan atau Manggala Wanabakti. Bahkan hingga di hotel-hotel berbintang 5 sekalipun.

Seorang kenalan suami bercerita, bahwa untuk menyelenggarakan pernikahan anak gadis tunggalnya, dia terpaksa “berhutang”, karena dana simpanannya ternyata tidak mencukupi untuk menyelenggarakan pesta seperti yang diinginkannya. Menarik untuk dipertanyakan; bila memang tidak mampu, mengapa harus menyelenggarakan pesta mewah? Mengapa tidak menyelenggarakannya secara sederhana saja?

Jawabannya sebetulnya sangat sederhana .... Anaknya hanya satu. Itu akan merupakan satu-satunya pesta yang diselenggarakannya. Jadi dia ingin segalanya serba sempurna. Snobisme? Entahlah ... setiap orang punya hak untuk melakukan apa saja sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.

Apakah menikahkan anak tanpa menyelenggarakan resepsi merupakan suatu kehinaan? Sesuatu yang mencoreng nama baik keluarga? Bukankah lebih baik menyelenggarakan pernikahan secara sederhana daripada terbelit hutang karenanya? Entahlah ... Yang pasti, sampai detik ini, saya baru mengalami satu kali saja ... seorang teman kuliah dulu, menikah dan memberitahukan pernikahannya melalui sepucuk kartupos. Padahal ... pernikahan tersebut dilaksanakan hampir 30 tahun yang lalu, kala pernikahan diam-diam masih sarat dengan tudingan miring dari masyarakat. Dan saya yakin, teman saya tersebut menikah secara baik-baik, bukan dilatarbelakangi oleh suatu “kecelakaan”.

Semoga saja ... niat baik melepas anak mengarungi bahtera perkawinan diselenggarakan juga dengan cara yang baik dan halal. Baik dalam tata cara dan halal asal-usul biayanya, agar berkah Allah SWT menyertai perjalanan pasangan baru tersebut.
Wallahu alam.

Lebak-bulus 6 agustus 2006 jam 22.25
reedited 7 Januari 2012 jam 04.00

unmarried mother.. single parent... Siapkah anda?

Ibu …….., aku hamil ……!!!
Atau ….
Mbak …., aku hamil ……!!!
Dapatkah anda bayangkan bagaimana wajah perempuan yang sedang mengatakan kalimat di atas?
Senangkah …. ?
Cemaskah ….. ?
Putus asa ..…. ?

Coba pandang matanya … resapi makna sinarnya. Disana, mungkin anda memperoleh jawabannya. Suasana hati perempuan itu, sangat tergantung dari statusnya. Kalau dia sudah menikah, mungkin kehamilan tersebut sudah sangat diharapkan. Maka bisa dipastikan kalimat tersebut diucapkan dengan mata yang berbinar-binar dan nada suaranya penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Tetapi, bila kalimat tersebut diucapkan oleh perempuan yang belum menikah, berapapun umurnya, maka bisa jadi kalimat itu diucapkan dengan nada panik, takut dan putus asa. Apalagi bila lelaki, dengan siapa dia tidur, tidak menunjukkan itikad baik, bahkan menolak bertanggung jawab atau berada jauh di luar kota, sementara hubungan sexualnya dilakukan sambil lewat.

Perempuan hamil sebetulnya bukan suatu anomali .... tidak ada satu kehamilanpun yang dapat terjadi tanpa adanya hubungan sexual antar dua jenis kelamin. Termasuk juga kehamilan di luar pernikahan resmi. Satu-satunya kehamilan tanpa adanya pembuahan, hanya kehamilan perawan Maryam, atau pada peristiwa kelahiran Isa Almasih.

Pada era tahun 1970an, pasangan yang hidup serumah tanpa pernikahan selalu diributkan dan perempuan yang hamil tanpa menikah dicap sebagai perempuan ”rusak moral” yang layak dijauhi oleh ”keluarga baik-baik”?. Padahal, di kalangan masyarakat golongan rendah di Indonesia (terutama komunitas tuna wisma) banyak terdapat pasangan yang beranak pinak tanpa memiliki surat nikah selembarpun dan mereka hidup aman dan tenteram. Mereka, tentu bukan hendak bergaya hidup modern a la barat. Tetapi kemiskinan membuat mereka tak mampu mengeluarkan dana untuk melegalkan pernikahan. Tidaklah menjadi aneh bila saat suatu lembaga swadaya mengadakan upacara pernikahan massal, banyak pasangan yang sudah hidup serumah selama bertahun-tahun, beranak-pinak bahkan mungkin sudah bercucu, turut menjadi salah satu pasangan yang dinikahkan.

Sampai saat inipun, banyak pasangan yang hidup serumah dengan dalih telah menikah siri. Pernikahan yang dilakukan di hadapan penghulu dan keluarga dekat, tanpa dicatat oleh petugas resmi dari Kantor Urusan Agama (untuk kalangan beragama Islam). Mereka berdalih bahwa, setiap pernikahan yang dilaksanakan berdasarkan syariat agama, maka komitmen hidup bersama itu, dilakukan ”dengan nama” Tuhan?, walau nyatanya seringkali disalahgunakan oleh pasangan tersebut untuk menghindari tanggung jawab. Kalau begitu keadaannya, ternyata secarik kertas berlabel SURAT NIKAH menjadi ”berhala” lembaga pernikahan yang seolah-olah menjadi pengikat komitmen dari sepasang manusia.

Kapan fenomena kehamilan di luar pernikahan ini mulai timbul?

Tahun 1972, saat duduk di bangku SMA, dua orang kawan semasa SMP di suatu kota kecil di Jawa Barat diberitakan terpaksa menikah. Konon karena si gadis telah hamil terlebih dahulu. Akibatnya kedua siswa SMA tersebut harus berhenti sekolah dan tidak dapat lagi menyelesaikan SMA nya. Dua tahun kemudian, adik kelas di sebuah SMA Katholik di bilangan Jakarta Timur terpaksa dikeluarkan karena hamil.

Masuk masa kuliah di tahun 1975, berita tentang kehamilan pranikah tak kunjung surut, malah lebih berkembang, menimpa beberapa kawan kuliah baik yang lebih senior maupun junior. Walaupun demikian, seluruh kehamilan pranikah ini diselesaikan dengan pernikahan pasangan tersebut. Belum terdengar kabar, bahwa keluarga si gadis mampu menerima kehamilan pranikah dan tidak menuntut lelaki untuk menikahi si gadis.

Entah bagaimana kelanjutan pernikahan yang dipaksakan tersebut. Satu hal yang pasti, perempuan yang hamil sebelum menikah, selalu mendapat cap ”perempuan nakal” dan demi menghindari status bayi sebagai anak haram, pernikahan selalu menjadi satu-satunya jalan keluar. Atau beberapa keluarga yang merasa diri ”sangat terhormat” mengambil jalan ”menggugurkan kandungan” secara diam-diam seraya mengungsikan anak gadis yang hamil tersebut.

Belasan tahun kemudian pada akhir tahun 1980an, sebuah LSM membuat suatu penelitian tentang gaya hidup mahasiswa di Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa tidak sedikit mahasiswa dan mahasiswa di Yogyakarta yang hidup bersama. Atau dalam istilah yang dikenal umum sebagai ”kumpul kebo”.

Hasil penelitian tersebut tentu saja mengejutkan banyak pihak. Sayangnya, alih-alih menyimak hasil penelitian tersebut sebagai fenomena awal yang harus dicermati perkembangannya, yang terjadi adalah polemik berkepanjangan mengenai keabsahan metode penelitian, seraya mencaci-maki dan menuduh lembaga penelitian tersebut, mencari sensasi yang meresahkan masyarakat. Bisa diterka, akhirnya hasil penelitian terlupakan begitu saja. Kita sudah menutup mata terhadap fenomena gunung es kehamilan pranikah.

Memasuki era tahun 2000, perempuan hamil di luar pernikahan sudah tidak terbilang lagi banyaknya. Seakan tidak mau kalah dengan gaya hidup barat yang dipertontonkan dalam film holywood, pasangan muda, baik yang masih berstatus pelajar maupun mahasiswa tidak malu-malu lagi mempertontonkan kemesraan di muka umum. Beberapa dari mereka bahkan membuat foto atau video erotis yang diperankan sendiri yang kemudian, sengaja atau tidak, tersebar untuk dilihat umum.

Perempuan era tahun 2000

Era kemajuan teknologi telekomunikasi/internet dan digital makin mempermudah anak-anak muda untuk mengekspresikan berbagai aspek kehidupan termasuk kehidupan seksualnya. Kita tentu belum lupa bahwa beberapa tahun yang lalu, satu pasangan mahasiswa dari Bandung menghebohkan jagat raya Indonesia dengan video hubungan seksual mereka, foto erotis dari pasangan-pasangan selebriti dan banyak lagi.

Beberapa teman wanita lajang berumur di atas 30 tahun membenarkan sinyalemen tentang kehidupan seksual pranikah para executive muda di Jakarta. Bahkan beberapa di antaranya, tanpa ada rasa segan mengakui bahwa mereka merupakan salah satu pelakunya. Yang melakukan hal tersebut sebagai bagian dari ekspresi jiwa, gaya hidup, kebebasan dan persamaan hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan.

Apa yang melatarbelakangi keberanian mereka mengarungi kehidupan sek pranikah? Atau, bagaimana cara mereka melindungi diri dari kemungkinan hamil? Entahlah.. saya tidak pernah berani menanyakannya. Itu merupakan bagian dari privasi mereka yang tidak perlu diusili, walaupun ada keresahan dan keprihatinan melihat kecenderungan tersebut. Tetapi satu hal yang hampir pasti, kehidupan tersebut, kebanyakan dilakukan di luar pengetahuan orang tua mereka.

Ada perubahan cara pandang terhadap etika, norma dan moralitas terutama di kalangan generasi muda. Bila 20 – 30 tahun lalu (wadaw ..... udah lama juga ya..... Jadul banget), tidak ada seorangpun yang berani berpelukan atau berciuman di muka umum, maka hal ini sekarang terlihat biasa dan banyak dilakukan anak muda.

Apakah mereka yang melakukan kehidupan seks pranikah (terutama perempuan) juga siap dan berani menanggung resiko terjadinya kehamilan di luar nikah? Menyatakan secara resmi dalam berbagai dokumen (akta kelahiran, misalnya) bahwa anaknya adalah anak yang lahir diluar nikah? Tidak ada catatan yang pasti mengenai hal ini, di Indonesia. Namun biasanya kehamilan di luar nikah selalu diakhiri dengan pernikahan pasangan tersebut atau pengguguran secara diam-diam. Tidak heran, bila praktek pengguguran kandungan ilegal di rumah sakit atau kamar praktek pribadi para dokter kandungan, sulit diberantaskan.

Bagaimana mencegah agar tidak terjadi pada anak-anak kita?

Sungguh ... saya tak mampu menjawabnya. Ada banyak teori yang dikemukakan orang. Salah satunya adalah memberikan pengajaran agama sejak dini. Namun. .. yakinlah, bahwa kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Pengaruh pergaulan, gaya hidup modern yang diadopsi dari barat, kemajuan teknologi, longgarnya etika dan moral dan berbagai faktor luar lainnya tidak mudah untuk dijinakkan. Apalagi, naluri seksual adalah suatu proses biologis yang sangat alamiah terjadi pada seluruh mahluk hidup.

Anjuran untuk menikahkan anak pada usia muda, bahkan saat mereka masih kuliah, demi mengikuti ajaran agama untuk menghindari hubungan seks di luar nikah, banyak ditentang masyarakat. Bahkan oleh kalangan masyarakat yang taat menjalankan ibadahnya sekalipun.

Jadi ... bagaimana mencegah agar anak-anak kita terhindar dari kehidupan seks pranikah? Sungguh mati ... saya sama sekali tidak tahu....!!! Segala upaya dan teori tentu akan saya lakukan untuk mencegahnya, meskipun saya tahu ... hal itu tidak dapat dijamin 100% keberhasilannya. Orangtua juga tidak mungkin membuntuti dan mengawasi kegiatan anaknya selama 24 jam terus menerus. Kita tidak mungkin menyewa orang untuk mengawasi anak-anak terus-menerus selama seminggu .... sebulan ... setahun .....

Sungguh ....., Setelah segala daya upaya kita lakukan, hanya doa saja yang dapat kita panjatkan kepada Allah SWT agar Dia melindungi anak-anak kita dari perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama, sampai waktunya kita menunaikan kewajiban untuk menikahkan anak-anak itu dengan cara-cara yang baik dan benar menurut agama yang kita anut. Wallahu’ alam

Minggu, 01 Januari 2012

keinginan Anak versus Ambisi Orangtua

”Gue berencana kawin umur 22 tahun, nanti ...”
”Gak terlalu muda tuh ...?”
”Emang ada larangan ...?”
”Gak ... cuma terlalu muda aja ...!”
Diskusi terhenti begitu saja. Semoga dia berubah pikiran. Anak jaman sekarang ... baru masuk SMA aja udah mikirin kawin ....!!

Beberapa tahun kemudian ...
”Aku mau kawin ....”
”Hah ....? Gak salah tuh ....?”
”Gak .....”
”Gila ... yang bener aja!! Kuliah belum selesai ....!!”
”Cuma tinggal 3 mata kuliah lagi dan rasanya pasti lolos ....”
”Umur kamu baru 22 tahun ... Tunggulah sampe umur 30 tahun atau 25 tahun deh, jadi tunggu 2 atau 3 tahun lagi ...! Kenapa harus cepat-cepat ...?”
”Apa bedanya antara sekarang atau nanti ...?”
”Tentu beda .... kamu kan mesti cari kerja, mesti punya penghasilan tetap ... supaya lebih mapan sebelum menikah ...!”
”Jangan khawatir ... Aku bisa cari kerja sekarang”
”Nah kalo gitu, sampe dapat pekerjaan yang mantap deh ... kan kasihan anak orang. Mau dikasih makan apa dia? Lagipula belum tentu orangtuanya setuju ...”
”Aku sudah bicara dengan ibu-bapaknya, dengan nenek-kakeknya, semua menerimaku dengan tangan terbuka. Sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Apa lagi yang kurang ....?”
”Pekerjaan ...! Kamu akan punya tanggung jawab yang lebih besar lagi ...”
”Semua sudah didiskusikan, tidak ada masalah lagi ... kenapa justru orangtuaku yang keberatan?”
”Duh ... pulang aja dulu deh, ngomong baik-baik, dengan tenang dan kepala dingin .... Jangan chatting begini. Ini bukan urusan main-main...!”

Kembali ke rumah yuk....

Coba tanya sama perempuan-perempuan di sekelilingmu …., “bisa menjahit nggak…?” Bisa dipastikan mata mereka langsung membulat ….merasa heran dan kaget mendengar pertanyaan yang aneh bin ajaib seperti itu. Sungguh …. Itulah reaksi mereka pada umumnya. Sama kagetnya tatkala mereka tahu bahwa saya masih menyempatkan diri menjahit pakaian sendiri, walaupun kualitas jahitannya sekarang sudah jauh menurun. Maklum, kemampuan penglihatan terutama untuk melihat benda-benda kecil seperti tusukan jarum jahit, sudah sangat jauh berkurang karena usia lanjut.


Hari gini jahit baju sendiri ? Kuno dan ketinggalan jaman kali yee…...!! Kurang gaul …!! Gak lihat bahwa di sekeliling kita bertaburan pakaian siap pakai yang ok punya. Sebut saja, kelas pedagang kaki lima sampai kelas butik. Dari kelas jahitan dari kawasan Sukabumi Udik – Jakarta Barat atau Cipulir – Jakarta Selatan sampai dengan jahitan kelas designer top. Baik dari koleksi prêt a porter maupun haute couture, dari designer lokal sampai designer kelas dunia yang menjadi langganan selebrity internasional, semua ada di Jakarta. Harganya ….? Tentu sesuai dengan kualitas. Dari mulai harga puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Banyak pilihan …. Tinggal pilih yang sesuai dengan kemampuan kantong saja. Kalaupun, kocek agak pas-pasan namun ingin sesuatu yang exclusive, pergi saja beli bahan pakaian baik kain produksi lokal, ataupun produksi Cina, India maupun dari Paris ataupun Italy … lalu, cari model pakaian dan penjahit yang cocok. Bisa mencari penjahit yang menjajakan jasanya di pasar-pasar dekat rumah. Setingkat di atasnya penjahit rumahan atas rekomendasi teman atau kalau memiliki dana yang cukup leluasan, gunakan jasa designer lokal baik yang sudah punya nama semacam Adjie Notonegoro atau designer yang baru lulus dari ESMOD. Lagi-lagi tinggal disesuaikan dengan kemampuan kocek. Kemudahan seperti ini tidak hanya ditemukan di Jakarta, tetapi juga di kota-kota kecil lainnya. Tentu dengan kelas yang berbeda.

Industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia memang berkembang sangat pesat, walaupun akhir-akhir ini mulai terengah-engah (lagi) akibat serangan bertubi-tubi dari Cina yang menerapkan dumping harga. Seperti biasa, barang produksi Indonesia, untuk kualitas yang sama, ternyata lebih mahaldibandingkan dengan produk yang berasal dari Cina. Tentu saja masyarakat terutama dari golongan mayoritas (menengah ke bawah) lebih menyukai produk Cina.

Industri pakaian tidak hanya didominasi oleh para pemodal kuat dengan pabrik modern dengan lisensi merek-merek terkenal, tetapi juga dilakukan pengusaha rumahan. Sama sebangun dengan industri makanan dan minuman. Dengan kondisi seperti ini, tidak heran bahwa menjahit pakaian sendiri atau masak memasak tidak lagi menjadi salah satu kemampuan yang bisa dibanggakan dari anak-anak gadis jaman sekarang. Apa yang dibutuhkan sudah tersedia dengan mudahnya di berbagai tempat.

Kemampuan atas pekerjaan domestik seperti menjahit, memasak, mengatur rumah tidak lagi diminati oleh anak gadis. Apalagi orang tua masa kini akan lebih bangga bila anak gadisnya memiliki sederetan gelar akademis, dibandingkan dengan anak gadis yang memiliki kemampuan tinggi untuk pekerjaan domesti seperti menjahit atau memasak. Walaupun dengan kemampuan tersebut, ternyata si gadis bisa membuka usaha secara mandiri. Menjadi majikan untuk diri sendiri dan lingkungannya.

Seorang teman kuliah di arsitektur dulu, sekarang menjadi “komisaris” di induk perusahaan yang “main business” nya adalah pakaian muslim. Jauh melenceng dari latar belakang pendidikannya. Konon setelah berkutat lebih dari 10 tahun, usaha jahit menjahit sang istri yang semula dimaksudkan untuk menunjang ekonomi keluarga ternyata berkembang sangat baik dan melebihi dari hasil kerja sang suami. Apalagi, pada akhirnya industri rumahan itu merambah pada bidang usaha lainnya yang tidak mampu lagi ditangani sang istri. Hingga akhirnya si suami melepaskan pekerjaannya sebagai dosen dan arsitek untuk semata-mata mengurusi bisnis sang istri.


Jadi … jangan anggap enteng kemampuan menjahit atau memasak lho….! Banyak cerita sukses usaha kecil dan menengah yang berasal dari pekerjaan masak-memasak dan menjahit. Kalaupun tidak dimanfaatkan secara komersial untuk menunjang ekonomi keluarga. Paling tidak, dua kemampuan tersebut bisa mengurangi pengeluaran rutin rumah tangga. Bayangkan saja, kalau ongkos menjahit satu stel pakaian di penjahit pasar Blok M rata-rata 250 ribu rupiah, tentu bisa dibayangkan berapa jasa menjahit kelas designer. Apalagi, sudah menjadi rahasia umum, perempuan selalu merasa kekurangan pakaian, terutama saat harus menghadiri suatu acara. Betapa besar penghematan yang bisa dilakukan. Belum lagi ditambah dengan penghematan dana “makan di luar” bersama keluarga dengan menu kesukaan anak-anak “kota”, seperti pasta/pizza. Wah ……

Yuk, kita kembali menekuni pekerjaan domestik seperti menjahit dan memasak. Nggak usah jadi professional deh …. Cukup untuk menjahitkan pakaian sendiri dan anak-anak atan memasak untuk makan malam bersama dengan keluarga, satu bulan sekali. Rasakan juga nikmatnya melihat anak dan suami menikmati hasil karya kita untuk kemudian mendapat reward berupa pujian mereka ….

Lebak bulus 3 Juni 2006 – 21.10

Mengapa Wanita Saling Menyakiti...?

Hari minggu ini, ada acara keluarga. Ibu mertua, ulang tahun yang ke 84 tahun. Seperti biasa, anak menantu dan cucu-cucunya berkumpul, membaca doa diakhiri dengan makan siang bersama, sambil ngobrol. Kalau tidak begitu, anggota keluarga besar tidak akan pernah berkumpul lengkap. Semua larut dalam kesibukan masing-masing atau sok sibuk.

Aku datang agak telat, karena salah satu teman kantor, menikah di Puri Caping Gunung – salah satu restoran di TMII. Jadi setelah mengantar makanan dan suami, yang tentu lebih memilih berkumpul dengan kakak adiknya, dibandingkan dengan mengantar istrinya ke pesta pernikahan, ditemani gadis kecilku, aku pergi dulu menghadiri acara pernikahan tersebut. Usai pesta pernikahan, aku kembali ke cipinang, bergabung dengan yang lain.

Topik obrolan kali ini, selain tentang gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tentu saja tak terlewatkan tentang kasus keluarga Bambang Trihatmodjo, anak ke 3 Suharto. Apalagi beberapa kakak iparku memang mengenal mereka sejak jaman mereka masih kecil dan latihan pramuka bersama di kawasan Menteng.

Aku teringat pada temanku[1] Sedang apa dia sekarang, dan bagaimana perkembangan hubungan dengan suaminya. Dalam percakapan terakhir per telpon, 6 bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan di hadapan orangtua dari kedua belah pihak. Temanku masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan bersedia menerima WIL suaminya sebagai istri kedua. Namun sayangnya, niat baik itu tidak diterima oleh suami yang sedang keblinger.

Hubungan suami istri itu memang sudah semakin jauh. Sang suami sudah tidak lagi pulang ke rumah mereka karena sudah membentuk rumah tangga baru, walau belum menikah secara resmi. Ajaran agama sudah ditinggalkan. Hidup sudah bergelimpangan dengan kemewahan duniawi. Dugem dan minuman keras sudah menjadi bagian keseharian pasangan baru itu. Itu saja yang kudengar.

Karena itu, kepada istri kakak iparku, yang tinggal di komplek perumahan yang sama, tadi kutanyakan kabar Ine.
“Sudah masuk sidang di pengadilan agama. Hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, karena WIL tidak mau dimadu dan meminta suami Ine untuk menceraikan istrinya”.
Mungkin lebih baik begitu …. Kalau cinta sudah tidak ada di hati, untuk apa lagi mempertahankan hipokrisi di dalam rumah.

Jatuh cinta memang suatu yang aneh. Lelaki memang mahluk yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang termasuk juga berpetualang dalam kehidupan cinta kasih, mungkin menjadi bagian dari tantangan hidup dan stimulan yang membuat lelaki tetap bergairah. Itu kata orang. Namun, mengapa banyak perempuan yang larut dalam jebakan petualangan cinta lelaki beristri? Mereka bahkan seperti terlena akan bujuk rayu sehingga rela melakukan apa saja, bahkan hingga ke jenjang pernikahan resmi maupun tidak. Bukankah hal itu sangat menyakitkan bagi para perempuan lainnya (istri si lelaki dan keluarganya). Tidak pernahkah para perempuan itu berpikir, bahwa suatu saat … si lelaki akan memulai kembali petualangannya untuk mendapatkan yang ke tiga, ke empat dan seterusnya? Apakah hanya persaingan antar perempuan atau ada motif lainnya? Salah satunya, katakanlah sebagai cara mewujudkan angan-angan untuk memiliki kemapanan status ( sebagai istri dan dalam hal financial) secara instant karena konon lelaki yang “bermain mata dan berpetualang” umumnya mereka yang sudah mapan … fisik, materi dan kejiwaan sehingga mereka sangat mampu memukau dan memanipulir perasaan perempuan.

Di lain pihak, para perempuan yang disakiti hatinya, juga memperlihatkan reaksi yang agak sulit diterka maknanya. Mengapa mereka mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang jelas-jelas sudah tersusupi aroma perselingkuhan. Apakah itu karena rasa cinta yang terlalu besar kepada suami, rasa kasihan kepada anak-anaknya yang mungkin akan tersia-siakan, atau tanda ketidakmampuan perempuan untuk hidup mandiri dan keengganan kehilangan “kemapanan” baik dalam status sebagai istri maupun kemapanan finansial? Walaupun untuk itu, sebetulnya harga diri perempuan sudah tercabik-cabik. Padahal, dari banyak perempuan yang teraniaya perasaannya, banyak pula yang tergolong ” mandiri” dalam arti kata memiliki pekerjaan yang layak sehingga mapan secara financial Entahlah … setiap orang memiliki hak untuk memilih, apapun yang melatarbelakangi keputusannya.

Mungkin perlu dipikirkan, bagaimana cara agar anak perempuan kita mampu berkata “TIDAK” kepada para lelaki petualang. Terutama kepada lelaki beristri yang mencoba "mendekati". Bukankah petualangan lelaki (yang secara langsung menyakiti hati perempuan/istrinya) merupakan salah satu bentuk non fisik dari KDRT? Mengapa perempuan tidak memanfaatkan secara maksimal keberadaan Undang-undang tentang KDRT untuk kepentingan dirinya dari tindak kesewenang-wenangan suami? Mengapa perempuan masih lebih suka terbuai dalam kemapanan status (sebagai istri), kemapanan keuangan dengan berbagai dalih, walaupun untuk itu perempuan lalu membiarkan KDRT terjadi di dalam rumahnya sendiri. Kalau begitu, bagaimana mungkin para perempuan itu mampu mendidik anak-anak gadis mereka untuk “mandiri dalam segala hal” bila para ibu lebih suka menjadi “sub-ordinate“ para suami sambil membiarkan KDRT terjadi dan tidak mampu menjadi “dirinya” sendiri?

Perkawinan merupakan komitmen dari dua belah pihak. Bila salah satu pihak melanggar komitmen dan setelah “diperingatkan” berulang kali namun sama sekali tidak terlihat perbaikan dan bahkan terlihat keengganan untuk kembali kepada komitmen lama atau memperbaiki/merevisi komitmen agar sesuai dengan waktu dan perkembangan kehidupan pasangan suami istri. Masih adakah gunanya suatu pernikahan dipertahankan untuk kemudian “melahirkan” pasangan suami istri yang hipokrit?
*****

Ini baru satu bentuk “saling menyakiti” antar perempuan.. Bentuk lainnya adalah hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan yang seringkali saling “cakar mencakar” untuk memperebutkan perhatian seorang lelaki. Anak lelaki dari perempuan yang satu sekaligus suami perempuan yang lain. Waduh …. Ini juga sama rumitnya … saling bersaing apalagi kalau mereka masih hidup satu atap di perumahan Mertua Indah. Atau persaingan antara anak perempuan dengan ibunya dalam merebut perhatian bapak/suami. Duh…. Rumit euy…!!! Kumaha atuh??? Kenapa nggak saling memahami dan menghormati hak-hak satu sama lain ya….Biar aman, damai dan tenteram ….

Lebak bulus, minggu 28 mei 06 – reedit senin 29 mei 2006 jam 20.25

Sabtu, 31 Desember 2011

keinginan Anak versus Ambisi Orangtua

”Besok ulangan ... udah belajar, belum?”
”Males .....!”
”Lho kok gitu sih ....? Kamu inget nggak, semua guru bilang kamu itu under achiever!”
”Biar aja ....”
”Kamu gimana sih .... jaman sekarang, persaingan ketat. Kalo kamu gak belajar yang bener, gimana bisa lulus SPMB nantinya?”
”Gue gak akan mati karena gak lulus SPMB ...!”
”Tapi kuliah di swasta lebih mahal ...”
”Ma ... aku cape ... sekolah sampe jam 16.00, kok masih dipaksa belajar? Apa yang disekolah itu bukan belajar, namanya ...? Terus kapan aku punya waktu buat senang-senang ..., nonton, denger cd, main game ... baca buku ...?

”Sudahlah ... masa prestasi anak sudah begitu baik, masih aja kurang ...?”. si Bapak berusaha menengahi.
”Bapak nggak denger sih ... semua guru bilang, anakmu itu under achiever ...Sebel dengernya ,,, sepertinya, kita dituduh kurang memperhatikan anak belajar..!”
”Biar aja ... memang paradigma pendidikannya berbeda ... Prestasi anak kita sudah cukup baik kok, gak usah dipaksa-paksa belajar lagi. Memang mesti dapat angka 10 semua gitu? Angka 6 juga sudah cukup asal dari kemampuan sendiri. Apalagi ini sudah jauh di atas itu ... Sudahlah ...!”

”Bapak ini, ... ngajarin anak jadi malas-malasan ... Tentu aja dia lebih suka dengerin omongan bapaknya ....! Nanti kalau anaknya gak lulus gimana?”, ibu nggak mau kalah argumen dengan si bapak
”Gak lulus, rasanya sih nggak mungkin. Kalaupun ya... Ngulang lagi ... kok susah banget sih?”

Geleng-geleng kepala kehabisan kata-kata...

keinginan Anak versus Ambisi Orangtua

Di sekolah ....
”Anak ibu, kurang optimal ... bisa dibilang under achiever ....!”
”Apa maksudnya ....”
”Prestasi akademiknya tidak sebanding dengan potensinya. Hasil test IQ terlalu tinggi dibandingkan dengan hasil evaluasi belajarnya. Dia juga seringkali menjadi trouble maker di kelas ... Keluar kelas seenaknya bila menemukan guru yang tidak ”kena” di hati. Kami seringkali kewalahan menghadapinya.”
”Bukankah sekolah ini menerapkan ”kesetaraan” antara guru dan murid?”
”Ya ... tetapi, kami juga ingin orangtua berpartisipasi dalam ”mendidik” anak”
”Tentu ... tapi, mungkin ada perbedaan persepsi mengenai pendidikan yang dia dapatkan di rumah dengan di sekolah. Itu yang membuatnya frustrasi”
” Maaf ... mungkin ada yang salah dalam cara mendidik anak di keluarga ibu. ...”

Hah ..... Gile bener ... gue dibilang salah didik anak? Keterlaluan .... sok tahu banget tu wakepsek ...!!!

Di rumah.
”Kamu tahu apa yang diomongin wakepsek tadi siang?”
”Gak ..... Apaan ....?”
”Cerita klasik tentang kamu. Trouble maker, kurang optimal dan under achiever! Kayaknya itu terus deh masalahmu di sekolah. Kenapa sih ...?”
”Gue sebel ...., anak-anak dibikin gak kreatif ... Memang maunya apa sih...?”
”Ya ... prestasi akademik mesti ada korelasinya dengan hasil test IQ. Apalagi kamu ada di kelas akselerasi”
”Memang prestasiku jelek, apa?”
”Gak jelek juga sih .... Cuma menurut guru-guru, mestinya nilai raportmu bisa lebih baik dari itu...”
”Ma .. denger nih ya .. Aku gak peduli dengan nilai, dengan ranking atau apapun juga ..”
”Tapi, jangan lupa .. sistem pendidikan di Indonesia masih menekankan pada hasil akhir, nilai akademik. Ya .... hal-hal seperti itu.”
”So ... what ...?”
”Tetep aja nilai raport yang dilihat, yang jadi cerminan prestasi akademis”
”Ya itulah hasil prestasiku...”
”Tapi tetap saja guru-guru bilang kamu under achiever?”
”Mereka buta ....! Nggak tahu kalo demi yang namanya nilai dan ranking, anak-anak menghalalkan segala cara”
”Maksud ...?”
”Nyontek dan ngebet kalo ulangan. Kalo hasil gue dianggap jelek, biar aja. Yang penting.. itu murni prestasi gue ... Gak ada nyontek dan nggak ada ngebet! Kalo NEM gue rendah atau mudah-mudahan bagus, itu betul-betul cerminan kemampuan gue menyerap pelajaran. Apa itu gak cukup buat mama? Mana yang lebih berharga ....? Mama lebih suka anaknya jadi juara kelas dari hasil nyontek, ya?”

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...