Tampilkan postingan dengan label andrea hirata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrea hirata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018

Menilik CAPRES dan Cawapres 2019

Jokowi jelek ....
Iya ... wajahnya memang nggak seganteng Prabowo Subianto ataupun Sandiaga Uno. Wajah Jokowi memang wajah khas lelaki pedesaan ... Wajah rakyat jelata yang mudah ditemukan di sembarang tempat ... Berkulit hitam mengkilat, gurat2 otot muka yang begitu jelas tergambar, menyiratkan kehidupan keras masyarakat Indonesia. 

Didampingi oleh KH. Ma'ruf Amin yang berpenampilan a la kiai pesantren. Bersarung, dan baju koko atau kemeja bersanding dengan jas, lengkap dengan sorban tersampir di bahu dan kopiah hitam. Penampilan pasangan capres-cawapres ini memang sering di olok-olok pendukung pesaingnya.

Sesungguhnya .... penampilan lelaki bersarung dan kemeja+jas dengan kopiah, bagi saya yang keturunan Betawi, bukanlah hal yang mengejutkan. Almarhum ayah saya selalu menggunakan sarung dengan kemeja dan jas pada waktu-waktu yang dianggapnya istimewa, seperti kalau mau shalat Ied, kesempatan lebaran dan saat anak-anaknya melaksanakan akad nikah. Memang bukan pakaian setiap hari, namun beliau justru memakainya pada kesempatan yang dianggapnya istimewa.

Penampilan kedua pasangan capres dan cawapres ini memang tidak bisa diperbandingkan karena lingkungan dimana mereka tumbuh memang berbeda. 

Jokowi krempeng .......
Hehe .... bisa dimaklumi ... Jokowi tidak lahir dari dari pasangan suami Istri yang kaya raya. Dia lahir dari pasangan suami istri yang hidup sangat sederhana, di pedesaan. Makan seadanya sepeti layaknya kebanyakan masyarakat kelas sederhana di Indonesia. Begitu juga dengan sang kiai.

Tentu berbeda dengan Prabowo Subianto lahir dari bapak yang keturunan ningrat. Kakeknya RM. Margono Djojohadikusumo dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia, salah satu bank pelat merah alias BUMN. Walau pernah hidup dalam pengasingan karena sang ayah dianggap sebagai salah satu pemberontak PRRI/Permesta, oleh Soekarno, ayah dari Megawati Soekarnoputri, Presiden RI ke 4, tentu Prabowo tidak hidup dalam kemiskinan absolut. Prabowo masih bisa bersekolah dengan baik. Begitu juga Sandiaga yang bapaknya adalah professional perminyakan. Tahu dong ... bagaimana kehidupan karyawan perusahaan minyak asing ... Walau berada di "field", namun segala kebutuhan hidupnya sangat terjamin.

Jokowi Ndeso ...
Nggak salah lagi .... sesuai dengan wajahnya yang sangat menggambarkan asal muasal kehidupannya. Wajah Jokowi betul-betul tipikal lelaki yang hidup di pedesaan Jawa. Guratan wajahnya menyiratkan kerasnya kehidupan. Masa lalunya memang tidak jauh dari kerasnya perjuangan hidup. Konon pernah harus berdagang untuk sekedar memiliki uang jajan dan tempat tinggalnya sering kali berpindah karena tergusur. Lagi-lagi, jangan bandingkan dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang semiskin-miskinnya orangtua mereka, tentu tidak sampai menyebabkan mereka anak beranak hidup kekurangan.

Akan halnya KH Ma'ruf Amin, tentu sudah sangat terbiasa dengan kehidupan sederhana a la pesantren, apalagi pesantren tahun 50an. 
Menyesal punya pasangan capres - cawapres dari kalangan rakyat jelata ...?

Jokowi nggak bisa Bahasa Inggris .....
Ah ... yang ini mungkin terlalu berlebihan... masa iya, sarjana kehutanan Universitas Gajah Mada, salah satu universitas papan atas di Indonesia, tidak bisa berbahasa Inggris? Selama ini, generasi seumur Jokowi, minimal belajar bahasa Inggris sejak masuk SMP hingga SMA, Jokowi sudah belajar bahasa Inggris selama 6 tahun, arena saat kuliah sudah tidak ada lagi mata kuliah Bahasa Inggris. Kalaupun tidak sefasih Prabowo Subianto atau Sandiaga Uno ... harap maklum saja. Mereka berdua kan pernah bersekolah di luar negeri. Nanti kita bilang ke Menteri Pendidikan Nasional agar kurikulum dan pengajaran Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya diperbaiki sehingga siswa dan mahasiswa jadi fasih berbahasa asing. Sepertinya memang ada penurunan kualitas pengajaran bahasa. Saya ingat dulu, ayah saya, walau hanya berpendidikan setingkat akademi, cukup fasih berbahasa Inggris dan Belanda, yang diperolehnya selama sekolah di HIS dan AMS ... Jangan tanya singkatan apa ya...

Tapi ... ngomong-ngomong, Bahasa nasional kita kan masih Bahasa Indonesia, kan? Jadi svarat fasih berbahasa Indonesia mungkin yang harus dipenuhi oleh siapapun yang mengaku warga negara Indonesia. Bukan kefasihan cas cis cus berbahasa asing yang diperlukan sebagai pemimpin pemerintahan walau kita hidup di jaman abad ke 21 yang konon katanya masuk era globalisasi dan penguasaan bahasa asing minimal satu bahasa asing juga sangat diperlukan. Toh masih ada profesi penterjemah .... bagi-bagi rejeki dan kesempatan kerja dong ...  

Kasihan para pejuang kemerdekaan yang sudah berpayah-payah menyelenggarakan kongres Pemuda 28 Oktober 1928, kalau sekarang, masyarakat "mewajibkan" calon presiden fasih berbahasa Inggris .....? Sekarang aja, anak2 remaja golongan atas di kota2 besar Indonesia sudah banyak yang tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik ... Miris kan...? Memang kita hidup dimana dan menjadi pemimpin bangsa apa?

Berkaitan dengan soal bahasa, orang Jawa dengan logatnya yang medok, agak lucu kalau berbahasa asing ... Namun soal aksen dan lafas Bahasa asing yang ajaib sih biasa aja tuh. Coba dengar bagaimana orang Cina, Jepang dan lain-lain berbahasa Inggris. Pasti sukar dimengerti seperti juga kalau orang asing berbicara bahasa Indonesia.... Jadi bukan suatu hal yang aneh dan harus ditertawakan

Justru ... kalau Prabowo dan Sandi yang lama tinggal di luar negeri namun tidak fasih berbahasa Inggris atau mengucapkannya dengan logat medok kedaerahan ... Nah ... boleh dipertanyakan tuh .... kemana aja dan ngapain aja lo di sono ...?

Jadi ....
Sebetulnya apa sih yang mau kita pilih?
Ini bukan kontes olympiade Bahasa, kan?

Apakah memang sebegitu buruknya pasangan nomor 1 dan sebegitu baiknya pasangan nomor 2? Ah ... itu sih tergantung dari sudut mana penilaiannya.

Kalau minimal kriteria yang sudah ditulis di atas menjadi dasar penilaian untuk memilih presiden dan wakilnya, pasangan nomor 1 pasti kalah jauh deh .... dan pilihan kepada pasangan nomor 2 hanya akan menyiratkan bahwa masyarakat masih memandang faktor penampilan dan asal usul sangat berpengaruh. ini bentik feodalisme yang terpengaruh budaya hinduisme yang melihat dan menilai manusia berdasarkan kasta. Jadi tidak mungkin seorang sudra menjadi raja/presiden. Jabatan tersebut hanya bisa di"pegang" boleh golongan/kasta ksatria. 

Ksatria juga dibayangkan "harus" gagah perkasa, kaya raya, punya istri cantik jelita dan sudah tentu ada garis dari keturunan "darah biru", walau mungkin sang ibunda hanya rakyat jelata. (Jadi ingat bahwa RA Kartini, tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau, pun termasuk wanita yang "kecipratan darah biru" dari ayahnya yang menikahi ibundanya - Ngasirah, perempuan dari kalangan rakyat jelata).

Jelas bahwa pasangan capres dan cawapres nomor 1 sangat jauh dari kriteria tersebut. Tapi ..... tunggu dulu.... Apakah kita masih hidup pada alam penjajahan, dimana golongan berpendidikan memang didominasi oleh kalangan ningrat dan pamongpraja saja? Jadi apa gunanya masyarakat diajarkan untuk mengejar ilmu sebanyak-banyaknya bila kesempatan-kesempatan tertentu masih juga dibatasi oleh alasan-alasan yang sangat tidak masuk akal?

Tentu bukan salah kita, bila kita tidak dilahirkan oleh orangtua yang kaya raya atar ber"darah biru" Juga bukan salah kita bila karenanya wajah kita tidak menjelma jadi ganteng atau cantik. Dan ..... jangan paksa seseorang untuk melakukan operasi plastik hanya karena ingin disebut ganteng atau cantik walau praktek semacam ini sekarang sudah sangat biasa dilakukan orang-orang berpunya.

Bukankah "kekerasan dan kepahitan" hidup bisa menjadi bekal untuk memupuk empati terhadap realitas kehidupan masyarakat yang bila dilengkapi dengan pendidikan yang memadai bisa menjadi dasar keinginan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat sekitar? Perbaikan yang dimulai dari lingkungan sekitar rumah ... kemudian melebar ke lingkungan yang lebih luas hingga bahkan menjadi pemimpin baik di perusahaan milik sendiri atau tempat kerja dan bahkan menjadi pemimpin pemerintahan.

Lihatlah bagaimana perjuangan Jack Ma hingga dia berhasil menjadi billioner tingkat dunia. Mungkin juga kita belum lupa, lelaki kurus berambut keriting dari Belitong Timur yang kemudian lewat karyanya yang fenomenal "Laskar Pelangi", Andrea Hirata bercerita tentang betapa keras dan gigihnya dia meraih mimpi hingga dia berhasil kuliah di Universitas Indonesia dan kemudian meraih beasiswa ke Perancis. Novel-novel karya Andrea Hirata kemudian dikenal orang bahkan hingga mancanegara. Bukan itu saja, lewat Laskar Pelangi, Andrea Hirata membawa tanah kelahirannya Belitong ke ranah pariwisata sehingga kini menjadi salah satu tujuan wisatawan domestik. Jangan lupakan bahwa dia juga berasal dari kalangan sederhana yang ayahnya hanya buruh tambang?

Jadi jangan berhenti bermimpi dan juga jangan matikan keinginan tulus dari orang-orang yang ingin membangun negeri ini agar menjadi lebih baik lagi.



Jumat, 16 Januari 2015

Good Luck Gadis .....

6 Desember 2014 - Mulia Hotel
Kamis 16 Januari 2015 siang, Gadis ... staff HRD yang mengundurkan diri menjelang libur akhir tahun 2014 datang ke kantor. Dia memang janji akan mampir ke kantor menjelang keberangkatannya ke Groeningen - Belanda. Semula, saya pikir dia akan menghabiskan waktu seharian di kantor untuk makan siang sama-sama. Tapi rupanya, dia hanya mampir khusus untuk pamit, menjelang keberangkatannya di malam hari.

Gadis kelahiran pulau Bangka yang lulusan fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, menerima beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia untuk meneruskan pendidikannya di Groeningen - Belanda. Sebetulnya, beasiswa yang diterimanya hanya untuk meneruskan jenjang S2 di dalam negeri. Namun entah mengapa, LPDP menyarankannya untuk mengambil gelar tersebut di luar negeri. Bisa jadi karena prestasi akademis sejak sekolah di Bangka dulu hingga di FPsy UI yang sangat baik, sehingga tawaran itu datang. Baguslah .... kenapa tidak...? Walau keberangkatannya sedikit terlambat dari rekan seangkatannya, namun sekarang dia sudah terbang ... dan saat saya menulis cerita ini, mungkin masih melayang-layang di atas daratan Eropa. Semoga selamat .... tidak menemukan nasib naas seperti alm Munir beberapa tahun lalu yang menemui ajalnya dalam penerbangan dengan Garuda. Pesawat yang sama yang membawanya untuk meraih angan-angannya.

Entah apa yang membuat saya ingin menulis tentang gadis ini ....., gadis yang seringkali sering kami ganggu saat makan siang di kantor. Ada banyak hal, memang yang menjadikannya sasaran gangguan kami. Yang pertama saya ingat adalah gaya salah tingkahnya saat ada "cowo baru" di kantor .... kemudian, saat dia merasa sedikit putus asa kala nilai ujian, entah TOEFL atau IELTS nya tak kunjung membaik sehingga entah main-main atau serius, dia sempat melontarkan ucapan...


Behavioural & Social Science - Univ of Groeningen
"Duh ... susahnya mau sekolah, kalau gini terus, mending kawin aja deh ....!", kira2 begitu keluhannya yang kemudian disambut ramai dengan upaya perjodohan untuknya.
"Ada keponakan suamiku, yang kerja di Sydney, minta dicariin jodoh nih ... mau gak...?, COO kami melontarkan idea....
"Boleh .....!!!"
Ramai kami melihat spontanitasnya tentang perjodohan itu walau dilontarkan agak malu-malu...
"Iya tuh ..... kan lumayan, sekali dayung dua pulau terlewati .... Kalau jadi, menikah kemudian tinggal di Sydney... terus sekolah lagi deh di UNSW.... Wuih .... gaya banget deh...!"

Sayangnya.... upaya inipun kandas, mungkin karena sang calon sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga upaya menghubunginya selalu terkendala. Dari calon dalam negeripun, ada juga .... sayangnya, sang lelaki mensyaratkan "hijab" untuk perempuan yang ingin dinikahinya. Ya sudahlah .... belum jodoh ....

Hingga akhirnya ..... pertengahan November atau awal Desember 2014 yang lalu, saya mendapat kabar, akhirnya si Gadis memperoleh nilai bahasa Inggris yang memadai untuk meneruskan kuliahnya di Groeningen.
***

Setelah Andrea Hirata yang fenomenal itu, entah sudah berapa banyak anak muda dari kepulauan Bangka-Belitung yang berhasil menamatkan jenjang pendidikan tinggi baik di dalam negeri, khususnya di PTN terkenal Indonesia, maupun di luar negeri. Yang patut dicermati, seberapa banyak dari mereka yang kemudian kembali ke daerahnya untuk membangun dan memajukan provinsi tanah kelahirannya. Entahlah .....

Paradigma keberhasilan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, adalah apabila mampu "menaklukkan" belantara persaingan dunia kerja dan karir di ibukota. Itulah kebanggaan diri dan bahkan kebanggaan keluarga besar. Bahkan mereka yang menempuh pendidikan tinggi di daerah/provinsi kelahirannyapun berbondong-bondong mengadu nasib di ibukota. Karenanya, mereka yang hanya bekerja di daerah, seperti kalah pamor dengan rekan-rekannya yang bekerja di ibukota.  
***


Kemarin sore, saya sempat menceritakan perihal keberangkatan ini kepada suami,
"Alangkah baiknya, kalau setelah selesai S2 nya, dia kembali ke Bangka. Membangun tanah kelahirannya agar maju seperti provinsi lainnya di Jawa"
"Ah ..... mana mungkin ....? Semua orang ingin bekerja di ibukota. Mana ada yang mau kerja dan meraih karir di tanah kelahirannya? Yang sudah pensiun aja, jarang yang mau kembali ke tanah kelahirannya".
"Jangan yang pensiun dong .... anak-anak muda yang perlu membangun tanah kelahirannya!"
"Yah .... ibaratnya, yang sudah pensiun aja masih cari-cari kesempatan kerja di ibukota, enggan kembali ke tanah kelahiran, membina dan menularkan semangat juangnya kepada orang-orang desa, apalagi anak muda yang orientasinya hedonis...?"

Biasanya, cuma orang-orang yang kalah bersaing saja yang mau kembali ke tanah kelahiran. Kalau ada dari mereka yang dengan kesadaran tinggi kembali ke tanah kelahirannya, tentu patut kita hargai perjuangannya. Yang pertama, atas keberhasilannya "meyakinkan dan membuat orangtuanya menyerah" pada pilihannya bekerja di tanah kelahirannya. Hal ini saya pikir memang perjuangan berat, karena pada umumnya orang tua ingin anaknya berhasil meraih karir yang tinggi dan tentunya materi. Akan lebih bergengsi lagi kalau keberhasilan itu diraih dari ibukota. Kalau usai menempuh pendidikan tinggi lalu ada permintaan kembali ke tanah kelahiran dari orangtuanya .... maka orangtua ini perlu diacungi jempol. Bukan hanya satu .... tapi dua jempol...!!!
***


Nah balik ke Gadis yang mungkin dalam beberapa jam lagi akan menyapa udara dingin dan mungkin menikmati keindahan salju yang melayang-layang di udara untuk pertama kali, saya cuma bisa berdoa semoga semuanya berjalan lancar ....

Tinggal di Eropa, jauh dari keluarga apalagi kemudian sekolah dalam bahasa asing, past sangat tidak mudah untuk dilalui. Ada kebiasaan dan budaya yang sangat berbeda dengan kebiasaan kita di tanah air. Tapi .... Belanda bukanlah sesuatu yang sangat asing dengan Indonesia. Makanan khas Indonesia dengan sangat mudah ditemui di toko-toko makanan dan juga restaurant. Sebut saja petai, terasi, tempe, tahu, kangkung, toge dll .... Jadi, jangan sedih.... cuma tinggal kemauan untuk memasakknya.

Tetapi, bukankah akan lebih baik kalau selama tinggal disana, menikmati masakan lokal...? Cuma hati-hati .... akan kehalalannya..... Good Luck Gadis.......


Senin, 25 Februari 2008

Sang Pemimpi


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata
Buku kedua dari Tetraloginya Andrea Hirata ini bercerita tentang masa remaja Ikal. Masa sekolah di SMA Negeri di Magai.

Masih lekat dengan kemiskinan dan kerja keras yang amat sangat, namun ketiga remaja itu (Ikal, Arai dan Jimbron) selalu menikmati setiap mozaik hidupnya. Arai, sepupu jauh Ikal selalu memiliki mimpi-mimpi yang tinggi yang menjadikannya selalu optimis menghadapi hidup. Kenakalannya yang luar biasa mampu membius Ikal untuk selalu tunduk kepada kemauannya yang tidak terudga.

Arai selalu penuh kejutan, kehilangan kedua orangtuanya saat dia masih kecil membuatnya selalu berempati pada penderitaan orang lain. Lalu ada Jimbron yang terobsesi kepada kuda. Obsesi yang disebabkan oleh rasa sakit atas kehilangan bapaknya.

Kepala sekolah Pak Julian Ichsan Balia adalah guru kesusastraan yang hebat. Yang mampu membakar semangat murid-muridnya untuk bercita-cita. Seakan lupa akan kondisi lingkungannya.

"Pergilah ke Eropa... jelajahi Afrika dan puaskan dahaga ilmu di almamater Sorbone Paris"

Ah, seandainya murid-murid Indonesia seoptimis Arai.... andai guru-guru Indonesia penuh dedikasi dalam mendidik anak muridnya sebagaimana pak Balia dan bu Mus......

Buku ini sebagaimana buku pertama LASKAR PELANGI, mampu membawa pembacanya menangis dan tertawa bergantian. Buku yang mampu menyirami dahaga akan sebuah semangat, mengingatkan kita kepada kekuatan mimpi sekaligus memupuk empati bagi orang lain.

Selasa, 22 Januari 2008

Pejuang yang sebenarnya

Seorang ibu menulis surat :
suatu hari, saya mendengar suara isak tangis dari kamar anak saya. anak lelaki yang sangat sukar diatur dan pecandu narkoba. diam-diam saya mengintip isi kamarnya. di atas tempat tidur tergeletak sebuah buku. sejak hari itu, perubahan besar terjadi.... dia berusaha keras menghentikan kecanduannya akan narkoba dan mulai kembali ke bangku kuliah. buku itu.... Laskar Pelangi telah mengubah jalan hidup anak saya.
Itulah prolog pada salah satu episode acara Kick Andy di Metro Tv. 

Apakah anda menonton acara Kick Andy di Metro TV yang dibawakan oleh si kribo Andy F Noya?  Kalau ya …. Mungkin, seperti saya, anda sempat kaget kalau pada hari Jum’at  18 Januari 2008 malam dan Sabtu 19 Januari 2008 sore, Metrotv menayang ulang episode Laskar Pelangi yang menampilkan pengarangnya, yaitu Andrea Hirata. Ini merupakan tayangan ulang ke dua kali setelah yang pertama kali pada tanggal 4 dan 7 Oktpber 2007 yang lalu.

3 kali saya menonton episode Laskar Pelangi ini, yaitu 4 Oktober 2007 serta tayangan bulan Januari 2008 tersebut. Tiga kali pula saya tidak mampu menghalau airmata merebak, terutama saat Andrea tak mampu menyampaikan kesan untuk gurunya, yang menurut Andy F Noya tidak dapat hadir ke studio. Terbayang isi buku Laskar Pelangi dengan episode-episode pendek yang menceritakan karakter para anggotanya melalui berbagai peristiwa yang terjadi selama kurun waktu 9 tahun serta perangai dari teman-teman sekolahnya. Kesemuanya mengandung hikmah kehidupan yang teramat dalam.

Sebut saja tentang Lintang. Si super jenius yang menjadi ”musuh bebuyutan” Ikal alias Andrea Hirata ini, harus menempuh 80 km pergi pulang setiap hari dengan hanya mengendarai sepeda butut dan itu terus dilakukannya walaupun harus menempuh hujan badai dan bahkan suatu hari, ia dihadang dan hampir diterkam buaya. Anak nelayan pesisir itu melakukannya dengan senang hati. Tak seharipun dia bolos sekolah. Padahal, usai sekolah, dia masih harus bekerja membantu bapaknya, si cemara angin, yang memiliki tanggungan 14 nyawa di rumahnya. Atau Trapani yang sangat bergantung pada ibunya.

Selama ini kita selalu melihat hidup dari sudut pandang strata sosial dimana kita berada. Keberadaan kaum marginal selalu dipandang sebagai ”ancaman” yang mengusik kenyamanan hidup kita, tanpa mau melihat bahwa sebagian dari mereka masih memiliki keinginan untuk maju, untuk mengubah nasibnya kelak.

Atau, mungkin peri kehidupan kaum marginal di pelosok daerah memang berbeda dengan kaum marginal urban. Nilai-nilai spiritual dan budi pekerti luhur yang secara tradisional dianut oleh masyarakat Indonesia seperti sifat gotong royong dan saling membantu masih sangat lekat dalam kehidupan mereka. Sementara kehidupan kaum marginal perkotaan telah tercemar oleh gaya hidup materialitis dan hedonistis sehingga perilakunyapun berubah menjadi premanisme yang keras. Tetapi betapapun adanya perbedaan tersebut, kaum marginal memang menjadi golongan yang selalu luput dari perhatian pemerintah.

Dalam buku Laskar Pelangi kita diajak untuk melihat kehidupan anak manusia dari sudut pandang kaum marginal. Namun sudut pandang itu tidak mengiba-iba meminta belas kasihan kita. Dia justru mengobarkan semangat mengobarkan harapan walaupun tidak semua semangat dan harapan tersebut terpenuhi.

Laskar Pelangi, buku pertama dari tertralogi Laskar Pelangi – Sang Pemimpi – Edensor, ketiganya sudah terbit dan terakhir Maryamah Karpov yang baru akan terbit, memang fenomenal dalam belantara perbukuan Indonesia khususnya untuk segelintir karya yang bisa dimasukkan ke dalam golongan elite bernama karya sastra.

Konon, buku ini tidak direncanakan untuk diterbitkan. Hanya sekedar untuk memenuhi janji yang sempat terucap kala Andrea (Ikal, nama panggilannya dalam Laskar Pelangi) masih dibimbing oleh ibu Mus (Muslimah Hapsari). Apalagi Andrea mendengar kabar bahwa ibu Mus sedang sakit. Maka ditulislah memoire yang mengambil judul Laskar Pelangi. Julukan bagi 10 orang murid terakhir dari perguruan Muhamadiyah Belitong.

Buku itu seperti sebuah sandiwara kehidupan riel yang dituliskan kembali oleh Andrea Hirata berdasarkan scenario yang digariskan oleh Sang Pencipta dengan pemain kepala sekolah, guru kelas serta 10 murid terakhir Perguruan Muhammadiyah. Karenanya banyak hikmah dan pelajaran hidup yang patut dijadikan bahan renungan.

Hidup ini hendaknya dijalankan untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk mengambil sebanyak-banyaknya. Ucapan pembuka dari KA Harfan M Noor, sang kepala sekolah menjadi adalah pelajaran budi pekerti yang luhur yang akan selalu menjadi pegangan hidup anak-anak Laskar Pelangi.

Sebagai orang yang pernah hidup diberbagai kota kecil baik di pulau Jawa maupun Sumatera pada awal pemerintahan Suharto, saya juga akrab dengan kehidupan keras masyarakat kecil. Teman sebangku saya, di SDN Bhineka II Karawang, anak supir di BRI tinggal di gubuk berlantaikan tanah berdesakan dengan 4 keluarga lainnya. Mungkin mirip dengan kondisi rumahnya Lintang. Dia harus melepas keinginannya untuk tetap bersekolah demi meringankan beban orangtuanya. Menikah di usia 12 tahun setelah sempat mengecap bangku SMP selama 3 bulan saja. Kala teman-temannya asyik berolahraga, berlarian atau menyimak pelajaran di kelas, dia sudah harus mengurus bayi yang dilahirkannya satu tahun kemudian.

Andrea memang beruntung atau Allah SWT memang telah menggariskan hidupnya seperti ini, agar dia mewartakan perjuangan anak-anak kaum marginal nun jauh di pelosok desa untuk meraih asa. Mereka bisa jadi anak-anak kuli angkut di tengah kemewahan koloni kecil bernama komplek perumahan perusahan multinasional yang menjarah kekayaan alam Indonesia. Atau bisa jadi anak-anak jermal di tengah perairan laut Cina Selatan.
*****

Beberapa waktu yang lalu, sempat terbetik kabar bahwa Laskar Pelangi akan dituangkan dalam versi film layar lebar. Semoga hasilnya sebaik apa yang tertulis dalam bukunya. Pasti sangat tidak mudah menuangkan isi buku yang indah ini ke dalam layar lebar. Para pemain filmnyapun belum tentu mampu menghayati dan mengadopsi karakter sesungguhnya dari para pelaku memoire itu. Pemain film yang terpilih tentu berasal dari kalangan “the haves” yang sama sekali tidak mengerti kehidupan nyata kaum marginal.

Berbagai buku “best seller” menjadi gagal total saat diadaptasikan ke dalam layar lebar. Sebut saja buku The Da Vinci Code atau Perfume yang saat diadaptasikan ke dalam layar lebar menjadi kehilangan gregetnya. Mungkin, hal ini juga disebabkan karena saat membaca, emosi dan imajinasi pembaca turut bermain dan mempengaruhinya.

Tapi, siapa tahu, ditengah keterpurukan di segala bidang, Indonesia mampu menghasilkan karya film sekelas The Sound of Music. Karena Laskar Pelangi memang sangat menarik.

Andrea Hirata memang sudah membuktikan dirinya sebagai “orang hebat”. Anak kuli yang mampu mengubah nasibnya melalui pendidikan. Bukan sekedar menjadi sarjana dari universitas ”ecek-ecek”, tetapi dari Universitas penyandang nama negara, Universitas Indonesia, yang pasti ditempuhnya dengan susah payah. Bahkan ia mampu memperoleh beasiswa untuk menikmati pendidikan jenjang S2 di Sorbone – Paris IV dan salah satu Universitas di Inggris.

Andrea seakan membalikkan paradigma bahwa keberhasilan anak tergantung dari sekolah yang dimasukinya dengan kurikulum internasional. Inilah yang menyebabkan orangtua selalu berlomba-lomba menyekolahkan anak ke sekolah favorit. Andrea adalah produk dari SD – SMP bobrok nun di pelosok salah satu pulau yang gemerlap, namun masih menyisakan pendar-pendar feodalisme dan kolonialisme yang kejam. Selama 9 tahun dia dan teman-temannya hanya dididik oleh seorang ”mahaguru” lulusan Sekolah Kepandaian Putri – SKP, sekolah setara SMP, yang mengajar seluruh mata pelajaran di kelasnya.

Andrea adalah satu dari sedikit anak Indonesia yang betul-betul mampu menjungkilbalikkan berbagai teori dan paradigma pendidikan. Mungkin masih banyak Andrea-Andrea lain di pelosok negeri ini. Kepada merekalah kita seharusnya memberikan perhatian yang lebih, Mereka adalah pejuang yang sesungguhnya. Pejuang yang ingin melepaskan diri dari rasa iba kaum berpunya (negara donor?!) yang berjuang tanpa pamrih demi harga diri. Persis seperti petuah sang kepala sekolah : Hidup ini hendaknya dijalankan untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk mengambil sebanyak-banyaknya. 

Mereka dan kaum marginal di pelosok dan pedalaman Indonesia, bisa jadi merupakan pejuang tangguh yang mampu membawa negara ini keluar dari keterpurukan.

lebak bulus 21 januari 2008

Senin, 21 Januari 2008

Laskar Pelangi


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata Seman
Laskar Pelangi, menurut Andrea Hirata ditulis bukan dengan maksud untuk diterbitkan tetapi untuk memenuhi janji yang diikrarkannya saat dia masih bersekolah di Belitong. Saat itu, hujan turun sangat deras, kilat dan halilitar bersahut-sahutan ... murid-murid ketakutan. Di tengah derasnya hujan, sosok mungil ibu Mus, muncul dengan berpayung daun pisang. Saat itulah Andrea (Ikal - dalam buku tersebut) berjanji, suatu saat akan menuliskan pengalaman hidupnya itu untuk didedikasikan kepada igu gurunya itu.

Laskar Pelangi, dibuka dengan suasana hari pertama di SD Muhammadiyah - SDM Belitong. SD orang-orang yang termarjinalkan dalam strata sosial kehidupan masyarakat Belitong. Saat itu, SDM terancam akan ditutup bila tidak mendapatkan minimal 10 orang anak di kelas 1. 9 anak telah mendaftar. Mereka dan orangtuanya harap-harap cemas, akankah harapan untuk mendapatkan pendidikan dapat terpenuhi. Maklumlah, mereka hanyalah termasuk golongan orang-orang Melayu miskin yang tidak mungkin bersekolah di SD PN, julukan bagi sekolah yang didirikan oleh PN Timah. Untunglah... di saat kritis, muncul Harun... Pemuda yang telah berusia 15 tahun, penyandang keterbelakangan mental menggenapi jumlah murid menjadi 10 orang.

Laskar Pelangi sarat dengan pelajaran budi pekerti dan berbagai mutiara kehidupan. Kemiskinan tidak menjadi ajang untuk memeras airmata iba, namun menjadi pendorong untuk menggapai kemajuan.

Laskar Pelangi membawa pembacanya untuk tertawa, menikmati indahnya kehidupan anak-anak dan sekaligus menangis haru, membayangkan kerasnya perjuangan anak-anak miskin tersebut, sebut saja perjuangan Lintang - si bintang kelas super genius yang harus menempuh 80km pp setiap hari dengan sepeda bututnya demi harapan untuk memperbaiki nasib keluarganya sebagai nelayan miskin walaupun harapan itu harus sirna berbarengan dengan wafatnya sang ayah.

Atau kejeniusan Mahar dalam bidang seni yang kemudian mampu membawa Sekolah Muhammadiyah memperoleh piala dalam pawai/karnaval 17 Agustus, piala yang dari tahun ke tahun selalu digenggam oleh sekolah PN.

LASKAR PELANGI, buku pertama dari tertalogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov adalah buku yang wajib dibaca terutama untuk orang-orang kota yang bergelimang fasilitas.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...