Selasa, 15 Mei 2018

Bibit Teroris di Surabaya

Tulisan menarik untuk disimak, dimengerti dan diwaspadai

Bibit Teroris di Surabaya
Oleh: Muhammad Bahrudin (Kandidat Doktor Ilkom Fisip UI)

Bibit-bibit radikalis sebenarnya sudah sangat tampak di sekitar kita. Bahkan sudah lama. Di kampus, masjid, kos, kontrakan, dan lain-lain. Saat menjadi mahasiswa S1, saya sudah 3x diajak bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengaku paling agamis, paling Islam, paling tahu jalan surga. Bahkan sekali saya dihipnotis di sebuah rumah kontrakan. Beruntung, Allah masih menolong saya. Aksi hipnotis tak berjalan sesuai dengan harapan..

Seorang teman kos nyaris tiap hari didatangi, dirayu, dan dirajuk untuk ikut kelompok mereka atas nama "kajian". Dia gamang, antara tertarik tapi juga khawatir. Bersama saya, akhirnya kami bendung dengan berbalik "menceramahi" mereka. Nyaris sama dengan kejadian yang terjadi pada saya dan kakak saya, sebelum kuliah.  

Sang marketing agama itu tiap hari ke rumah saya. Iming-iming surga dan semangat membela agama selalu disulut untuk membakar kami yang saat itu sedang getol ngurusi remaja-remaja masjid dikampung kami. Mereka berusaha menyusup dengan dalih dan dalil yang dianggap paling benar. Seolah saat itu Islam dalam keadaan terjepit sehingga harus diselamatkan dari kaum kafir, munafik, dan dibawah rezim yang dzalim.

Beruntung kami lebih dulu dijejali dengan dalil-dalil agama Islam yang mengedepankan cinta damai oleh bapak saya dan guru-guru saya sehingga apa yang disampaikan kaum radikalis itu selalu bertentangan dengan hati nurani kami. Kami secara tegas menolak dan memberikan ultimatum untuk tidak datang lagi ke rumah kami.

Masih tentang kaum radikalis. Sungguh sulit saya menyebut mereka adalah orang yang beragama, apalagi agama Islam.  

Seorang saudara keponakan tiba-tiba sangat rajin "mengaji" di kawasan Surabaya hingga larut malam, sekitar 15 tahun lalu. Ibu bapaknya kerap menangis karena tiap hari dia mengumpat negara-negara kafir di televisi. Kedua orangtuanya takut dengan perubahan drastis anaknya.

Suatu ketika dia bercerita, sang ustadz menawarkan jihad di negeri Afganistan. Respon para peserta kajian, yang sebagian besar dari para mahasiswa di Surabaya, saling berebut untuk ikut dan segera mendaftar. Tentu saja sebagian disiapkan jadi "pengantin" untuk masuk surga. Saya bertanya, 
"Kenapa kamu tidak ikut?"
"Belum siap," jawabnya
"Koq belum siap? Udah, ikut aja. Katanya dijamin masuk surga?" tanya saya retoris.

Dia diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Saya mulai bercerita ttg pengalaman saya saat dihipnotis, diajak kajian, hingga saya jelaskan paham-paham radikal yang menggejala di Indonesia, termasuk di Surabaya. Syukurlah sejak saat itu dia berhenti mengikuti kajian-kajian yang berisi kebencian dan kebencian. 

Yang merepotkan, bibit teroris itu saat ini semakin masuk dan mulai banyak diterima masyarakat. Korbannya adalah orang-orang baru mempelajari Islam atau orang-orang yang baru menginjak Indonesia karena lama di negeri seberang. Mereka sangat mudah dijebak. Tanpa harus dihipnotis, mereka dengan sukarela masuk dalam ajarannya dan dengan senang hati merayakan di medsos-medsos. Apalagi paham radikalis semakin berpolarisasi ke dalam sub-sub kelompok, sub-sub kajian, sub-sub agama, sub-sub budaya, dan sub-sub politik.

Yang menjadi dilematis adalah ketika aparatur negara (dengan pendampingan MUI) mengatur ajaran-ajaran agar tak bertentangan dengan konsensus NKRI, Pancasila, dan UUD 1945, justru dianggap mengkriminalisasi ulama. Yang memprihatinkan, ini diamini oleh sebagian masyarakat dan dikomodifikasi sebagian para politikus.

Semoga Surabaya yang damai akan terus damai. Toleransi akan terus dijaga. Turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi saudara yang menjadi korban keberingasan teroris. Save Surabaya!
***

GIMANA SEORANG MUSLIM BISA JADI TERORIS ? 

1. Mereka ini awalnya adalah orang² baik yg berusaha jadi lebih baik dengan ikut kelompok-kelompok pengajian. 

2. Oleh guru ngaji kelompok pengajiannya ditanamkanlah mana sikap² yang sesuai sunnah nabi (berdasarkan versi mereka) , mana yang tidak nyunah. Mulai dari makan minum sambil duduk, tidur berbaring ke kanan. Kalo ada laler masuk ke minuman tuh laler dicelupin dulu ke air baru airnya bisa diminum. Ngerembet ke celana cingkrang, pake jenggot, jidat item, kalo ngobrol dengan lawan jenis gak boleh kontak mata. Wal hasil itu ditanamkan terus hingga mereka yang melakukan itu semua merasa lebih "nyunnah" dari yang lain. 

Belajar agama dengan orang² ini adalah SAMI'NA WA ATO'NA. nurut dengan ajaran mereka sama dengan nuruh ajaran Nabi. Kritis dilarang. Beda cara beragama berarti ngga sesuai sunnah nabi. Karena sumber sunnah Nabi harus berasal dari golongan yang sepemikiran dengan mereka. Mau dia kiyai,  mau dia profesor lulusan Mesir,  gak peduli.  Beda = Ngga sunnah. 
Jangan heran kalau ulama besar sekaliber Quraish Shihab,  KH Said Aqil,  Gus Mus, dan lain lain dianggap kalah ilmu dengan ustad² yang ngajinya seminggu sekali dengan murobi yang ilmunya 1 tahun di atas dia. Sekalipun dia mualaf (orang yang baru kenal Islam beberapa tahun saja). 

3. Dari sikap paling sesuai sunnah,  ngerembet ke sikap lebih Islami dari yg lain. Mereka hobbinya teriak² "KAMI UMAT ISLAM".  Seolah-olah agama ini hanya mereka yang punya, muslim yang lain ngontrak doang. Karena kurang Islam. Kalau sudah begini, anda beda pilihan/pendapat dengan mereka langsung dianggap sesat,  kafir, bid'ah. Kadang terhadap orang tua/keluarganya sendiri sering konflik hanya karena beda cara beragama. 

4. Dari menolak perbedaan, sampai menganggap mereka yang beda itu musuh. Walau pun mereka satu agama. Mereka merasa mewakili "Umat Islam" yang sedang dizolimi hingga harus melawan. Musuh kelompok dianggap musuh agama. Hingga membuat isu hoax/fitnah/kebencian terhadap kelompok2 yang beda dianggap bagian dari perjuangan agama. 

5. Kebencian yang mendalam terhadap kelompok yang berbeda, yang dianggap kafir, dianggap dzolim,  berubah menjadi perilaku keras yang berujung terorisme. Membunuh mereka dianggap jihad dan mereka bangga melakukannya.

Embrio kelompok-kelompok ini mulai dari Rohis di sekolah² , kampus², kegiatan² masjid. 
Sasarannya adalah orang² baik yang polos. Mereka memilih serius belajar agama dan ingin jadi pribadi yang lebih baik. Mereka mengira guru² yang mengajarkan agama adalah orang² tulus, ikhlas & tidak punya kepentingan apa pun seperti dirinya. Guru yang sama yang mengajarkan ma'rifatullah,  ma'rifaturrasul,  akhlaq,  shirah nabawi,  tauhid adalah orang yang sama yang juga mengajarkan kebencian dan membunuh saudaranya yang tidak sepaham sebagai ibadah. Sehingga ajaran kebenaran dan kebatilan terlihat sama. 

***
Saran saya,  gunakan "AKAL" mu saat akan berguru ke mana pun. Dengan akal kita bisa membedakan mana yang baik yang bisa diambil ibroh/pelajaran, dan mana yang penting untuk dikritisi.  Meski pun itu keluar dari GURU NGAJI.  Akal itulah yang membedakanmu dengan makhluk lainnya, hingga ketika kamu belajar kamu menjadi "Manusia" bukan malah menjadi "Domba" yang dicocok hidungnya. Hidupmu seperti zombie yang dikendalikan orang lain. 

Kamu diperintahkan Belajar Agama untuk menjadi menusia yang berilmu.  Karena ciri orang berilmu itu pasti BIJAK & TUJUAN AKHIR BERILMU AGAMA adalah TAWADLU & BERAKHLAQ MULIA terhadap sesama. Bukan malah semakin sombong dan buas.

Kamis, 10 Mei 2018

Sinyal Matinya Inovasi Daerah

Pada era desentralisasi ini, seringkali ada gurauan bahwa Indonesia diperintah oleh banyak raja - raja kecil yang seringkali "tidak mau tunduk" dan mensiasati aturan pemerintah pusat. Andaikan upaya mensiasati" aturan pusat digunakan untuk kepentingan rakyat banyak dalam arti penduduk di wilayahnya, tentu hal ini masih bisa "diterima". Namun seringkali siasat ini menjadi pintu masuk perilaku korup.

Di bawah ini, ada "keluhan" dari salah seorang bupati di Jawa Timur yang usulan "untuk kepentingan masyarakat" tidak sejalan dengan pemerintah provinsi. Silakan dicermati;
(terima kasih pada mbak Rerie Moerdijat atas ijin menyebabkan tulisan ini)
***

Penolakan Gubernur atas raperda dana abadi Bojonegoro: Sinyal Matinya Inovasi Daerah
Kang Yoto - Bupati Bojonegoro
Tiga tahun perjuangan pembentukan dana abadi Bojonegoro kini kandas di tangan Pemprov Jatim. Sudah sejak empat tahun yang lalu Bojonegoro mulai mematangkan gagasan pembentukan dana abadi... Apa semangat dan misinya?

Sebenarnya gagasan dana abadi itu bukan asli dari Bojonegoro. Timor Leste sudah melakukan. Norwegia negara yang berhasil menabung seluruh dana migasnya dan tidak boleh dibelanjakan pemerintahnya. Sampai sekarang dananya masih utuh dan bertambah terus. Di USA lebih dari 50 kota punya dana abadi. 

Argumen moralnya sederhana: kandungan migas itu beda dengan air sumur. Migas akan habis setelah diambil. UUD telah mengamanatkan kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam hal migas, anak cucu juga berhak mendapatkannya.

Prinsipnyapun jelas: tabunglah dan sisakan untuk generasi berikutnya. Sedangkan kebalikan dari prinsip itu adalah: belanjakan semaksimal mungkin dan jangan sisakan untuk anak cucu.

Memang bisa saja berdalih jika pemkab pandai membelanjakan dalam lima tahun ke depan, toh hasilnya juga dapat dinikmati, termasuk diinvestasikan menjadi kegiatan usaha lewat BUMD. Tetapi pertanyaanya adalah: belanja apa yang pasti akan berdampak jangka panjang dan pasti akan untung?

Menabung itu juga bisa dimaknai: jangan belanjakan uangnya sekarang saat engkau belum siap atau belum melihat peluang yang tepat. Tapi kau boleh belanjakan di saat yang tepat. Atau dalam istilah lain bisa juga disebut kalahkanlah nafsu pesta pora"? 

Perjalanan panjang yang terseok-seok itu kini mencapai titik kulminasi setelah surat fasilitasi Pemprov keluar. Surat itu menyatakan bahwa: Substansi penolakan gubernur adalah: 

  1. Dianggap investasi dana abadi belum masuk RPJP, 
  2. Raperda keabadian dana tidak boleh lebih dari 5 tahun atau melampaui jabatan Bupati,
  3. Tidak ada payung hukum yang lebih tinggi.
Ada tiga jenis inovasi:

  1. Ad hoc : misalnya layanan satu atap perijinan, pelibatan warga dalam pembangunan kawasan
  2. Sektoral: misalnya aspek keuangan
  3. Sistemik dan strategis: misalnya Open data contract standart dan SDGS, dan dana abadi ini
Lokasi Bojonegoro di Jawa Timur
Selama 10 tahun ini Pemkab Bojonegoro telah mengeluarkan berbagai inovasi pengelolaan pemerintahan yang bersifat adhoc, sektoral dan sistemik-strategis. Pada umumnya inovasi jenis pertama selalu mendapatkan apresiasi, tapi inovasi yang kedua dan ketiga ini ternyata belum mendapatkan perhatian.

Perlakuan Pemprov Jatim terhadap raperda dana abadi Bojonegoro menggambarkan bahwa Pemprov belum mampu mengakomodir inovasi daerah yang bersifat sistemik-strategic dan sektoral. Pemprov terjebak pada alam berpikir legal formal daripada alam berpikir strategis jangka panjang dan substansi governance. 

Bayangkan, untuk melahirkan inovasi itu, para politisi lokal harus punya imajinasi yang sangat jauh sehingga saat penyusunan RPJP yang berusia 25 tahun, inovasi itu sudah dimasukkan. Dalam penyusunan RPJP terkait isu strategis Bojonegoro, naik turunnya pendapatan migas sebenarnya sudah mendapat perhatian. Demikian juga soal kesadaran bahwa kandungan migas akan habis pada masanya. Pembentukan dana abadi menjadi salah satu solusinya. Dari perspektif Pemprov Jatim, kesalahan Pemkab Bojonegoro adalah 10 tahun yang lalu belum menyebut istilah spesifik "dana abadi" dalam RPJP.

Lokasi Blok Cepu
Niat baik Bupati Bojonegoro (2008-2018) untuk tidak menghabiskan seluruh pendapatan dari sektor migas pada masa puncak produksi. Untuk kemudian ditabung agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan SDM dalam jangka panjang dipersalahkan karena melampaui periodesasi pejabatnya. Padahal dengan sifat keabadiannya, berarti dana ini akan menjadi "warisan" untuk bupati yang akan datang. 

Dari perspektif politik, justru sebenarnya ini sangat menguntungkan untuk bupati selanjutnya. Yang seharusnya dilarang adalah ketika sebuah kebijakan jangka panjang itu menjadi beban untuk pemimpin berikutnya. Misalnya seperti proyek pembangunan infrastruktur yang bersifat multi-years melampaui masa jabatan bupati. Kalau mengikuti logika Pemprov Jatim, berarti membelanjakan habis seluruh pendapatan migas lebih benar daripada menabung demi kesinambungan masa depan pembangunan Bojonegoro. 

Jika logika tentang payung hukum di atasnya diikuti, maka inovasi daerah akan sangat tergantung dengan kemampuan dan kemauan pusat dalam menyediakan payung hukum, bukan hanya untuk hal-hal yang bersifat makro, tetapi juga yang bersifat keunikan kedaerahan. Keunikan daerah seperti Bojonegoro bisa jadi hanya sebutir debu dilihat dari Jakarta. Dari sisi pengelolaan daerah, akan sangat berat bagi para politisi lokal untuk menghasilkan terobosan sistemik-strategis yang berdampak jangka panjang, sebab umumnya mereka berganti setiap lima tahun. Dengan mekanisme ini maka terobosan-terobosan pengelolan pemerintahan daerah yang muncul akan kandas di tengah jalan.

Blok Cepu - ladang minyak
Solusi:
Lalu apa yang dapat dilakukan para pihak? Sepanjang kebenaran moralitas publik bahwa "di balik sumber daya alam terkandung hak generasi mendatang" masih dibenarkan maka, Pemkab Bojonegoro dapat segera melakukan klarifikasi ke Gubernur dan menjelaskan substansinya. Mengingat, sebenarnya Kementerian Keuangan sudah memberikan lampu hijau lewat surat yang dikirim ke Pemkab Bojonegoro. 

Jika Pemprov tetap pada pendiriannya maka dapat dicari celah yang memungkinkan dengan mengubah bentuk kelembagaan atau nomenklaturnya namun misinya sama yaitu tabungan untuk pengembangan SDM berkelanjutan. Dalam hal ini Pemprov dapat menjadi fasilitator untuk menemukan solusi yang dipandang tepat.

Kedua, Pemerintah Pusat dapat segera memberikan payung hukum yang memungkinkan pembentukan dana abadi. Mengingat, baru-baru ini pemerintah pusat telah mentransformasikan dana beasiswa LPDP menjadi dana abadi pendidikan yang secara konsep memiliki kemiripan dengan dana abadi migas Bojonegoro.

Ketiga: buat kesepakatan atau pedoman bersama bahwa pada dasarnya apa yang tidak dilarang, sepanjang tidak mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara diperbolehkan. Jangan dibalik: apa yang tidak diperintah itu dilarang.

Kang yoto (suyoto)
Bupati Bojonegoro 2008-2018

Rabu, 09 Mei 2018

Dongeng–dongeng klasik dan Joko Widodo

Saya tidak tahu apakah generasi milenial mengenal dongeng–dongeng klasik dunia yang sebagian besar berasal dari benua Eropa. Sebut saja semisal the Snow White, The Little Mermaid, Cinderella, Sleeping Beauty, Beauty and The Beast, Goldilocks and 3 Bears, Rapunzel dan banyak lagi cerita klasik lainnya terutama dengan latar belakang kerajaan. 

Plot utama dari cerita; biasanya berkisar pada pertentangan antara baik dan buruk di mana pada akhir cerita, kebaikan akan meraih kemenangan dan kebahagiaan. Atau bisa pula menceritakan tentang penderitaan seseorang, pada umumnya penderitaan seorang gadis yang akan berakhir dengan kebahagiaan tatkala menikah dengan pangeran tampan yang baik hati. 

Plot cerita yang nyaris sama, yaitu tentang kebaikan akan meraih kemenangan dan cerita tentang penderitaan seseorang, pada umumnya penderitaan seorang gadis yang akan berakhir dengan kebahagiaan, juga berlaku pada cerita dan dongeng klasik Indonesia seperti misalnya Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Mas, Keong Mas, Lutung Kasarung, Sangkuriang atau cerita–cerita panji semacam Panji Semirang.

Dalam cerita atau dongeng klasik Eropa maupun dongeng klasik Indonesia, golongan yang baik selalu diidentikkan dengan kecantikan dan ketampanan para tokohnya. Selain dari tampilan fisik tersebut, tokoh perempuannya selalu digambarkan memiliki sifat–sifat welas asih, lemah lembut, penyayang, penyabar serta beragam sifat lainnya yang menunjukkan kebaikan seorang perempuan. Sementara tokoh lelaki akan digambarkan memiliki sifat ksatria, pemberani, pelindung kaum lemah dan sebagainya. 

Beauty and the beast
Tidak luput juga, latar belakang keturunan yang selalu berasal dari keluarga bahagia dan baik–baik atau dari keluarga kerajaan yang sangat harmonis. Sementara si jahat akan selalu ditampilkan sebagai si buruk rupa lengkap dengan sifat–sifat buruk seperti pemarah, pendengki, culas dan beragam sifat buruk lainnya untuk melengkapi tampilan wajah yang buruk tersebut.

Walau generasi milenial mungkin tidak lagi membaca cerita–cerita tersebut, namun orang tua mereka atau pengasuhnya mungkin masih akan menceritakannya sebagai pengantar tidur. Apalagi … bukan tidak mungkin, generasi milenial perkotaan yang pada umumnya berasal dari keluarga menengah baru … (Alhamdulillah, berarti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, walau belum merata betul) yang sebagian di antaranya hidup sangat nyaman, lengkap dengan pengasuhnya sejak si anak melihat dunia hingga kemudian, beberapa di antaranya masih didampingi pengasuh yang sama saat dia memasuki mahligai rumah tangga. Itulah cerita tentang dongeng–dongeng klasik dunia maupun Indonesia. 

Dengan kondisi seperti itu, maka tidak heran kalau dalam benak sebagian masyarakat Indonesia, seorang pejabat baik itu pejabat rendah seperti lurah, kapolsek atau siapapun yang memiliki "kewenangan" sebagai wakil pemerintah dan karenanya menjadi penguasa suatu wilayah, terpateri kriteria bahwa mereka "harus" memiliki wajah tampan, "berdarah biru" atau minimal berasal dari kalangan atas, dari keluarga intelektual, kaya raya dan seterusnya. Mirip seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng klasik tersebut. 


Lalu apa hubungannya dengan Joko Widodo yang sejak tahun 2014 didapuk menjadi presiden Republik Indonesia ke 7?

Joko Widodo "si Tukang kayu"
Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 sebagai anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo. Ketiga adiknya perempuan semua dan mereka semua dibesarkan dalam keluarga sederhana serta pernah mengalami beberapa kali pindah rumah karena terkena penggusuran.

Menyadari keadaan keluarganya, sejak kecil, Jokowi tidak mau menyusahkan orang tuanya. Jokowi tidak mau ikut-ikutan temannya yang bersepeda ke sekolah dan lebih memilih jalan kaki dibanding minta dibelikan sepeda. Ia tidak malu membantu orang tuanya dengan menjadi pengojek payung hujan, kuli panggul, dan berjualan aneka barang. Bahkan saat umur 12 tahun, ia ikut bekerja di perusahaan kayu sebagai penggergaji kayu. Dia bisa mengerjakannya, terpengaruh keahlian orang tuanya sebagai tukang kayu. Upah dari hasil pekerjaan itu, digunakannya untuk biaya sekolah.

Jokowi menghabiskan pendidikan dasar hingga sekolah menengah di Solo, sementara  pendidikan tingginya diselesaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tidak ada prestasi yang menonjol darinya semasa kuliah, kecuali kejujurannya. Lulus pada tahun 1985 pada usia 24 tahun, ia menikahi Iriana 1 tahun kemudian dan dikarunia 3 orang anak

Untuk hidup mandiri, Jokowi merantau ke Aceh, bekerja di salah satu BUMN, PT Kertas Kraft Aceh selama 2 tahun lalu memilih kembali ke Solo untuk mendampingi istrinya yang sedang mengandung dan bekerja di tempat pamannya yang memiliki usaha di bidang perkayuan.

Pada usia  27 tahun, Jokowi mendirikan usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Usaha ini tidak berjalan mulus. Jatuh bangun mengiringinya. Bisnisnya mulai bangkit, setelah mendapat pinjaman modal dari ibunya. Ia memasarkan mebelnya melalui pameran–pameran dan berkeliling Eropa, Amerika, serta Timur Tengah sehingga sukses menjadi pengusaha ekspor mebel.

Berbekal pengalamannya dalam mengelola bisnis mebel, Jokowi berani terjun ke dunia politik. Tidak tanggung-tanggung, Jokowi mencalonkan untuk memimpin kota kelahirannya.  Pada usia 44 tahun, Jokowi memimpin Kota Solo untuk periode 2005–2010 dan kemudian terpilih kembali untuk periode kedua 2010–2015. 
Konsep "blusukan" saat menjalankan tugas sebagai Walikota Solo, mengantarkannya menang kembali untuk memimpin Solo.
Kesuksesan memimpin Solo serta beragam penghargaan yang diperolehnya, membuat Jokowi menjadi perhatian para elite politik di Jakarta. Baru dua tahun memimpin Kota Solo pada periode keduanya, Jokowi diminta PDI Perjuangan kembali untuk bertarung pada pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, Jokowi terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode 2012–2017, mengalahkan calon petahana. Jokowi berusia 51 tahun saat mulai memimpin DKI Jakarta. Kemenangannya dianggap mencerminkan dukungan populer untuk seorang pemimpin "muda" dan "bersih", meskipun umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun


Kesuksesan Jokowi berlanjut. Lagi-lagi baru menjalankan tugas gubernur DKI Jakarta selama 2 tahun, Jokowi dicalonkan PDI Perjuangan untuk bertarung pada pemilihan presiden 2014 untuk menghadapi Prabowo Subianto. Kali ini, ia berpasangan dengan Jusuf Kalla dan kembali sukses memperoleh kepercayaan rakyat Indonesia. Joko Widodo pun dilantik sebagai presiden RI ke-7. Jokowi dilantik pada hari Senin, 20 Oktober 2014 dalam Sidang Paripurna MPR, Gedung MPR, Senayan saat usianya menginjak 53 tahun.


Rival Jokowi pada pemilihan presiden 2014 adalah Prabowo Subianto. Sosok yang sangat lekat dan pas dengan penggambaran dongeng-dongeng klasik, yang dianggap cocok sebagai "pemimpin" sebuah negeri. Bukan saja sekedar negeri dongeng, tetapi negeri nyata bernama Indonesia. Dia berasal dari golongan "kelas atas" masyarakat Indonesia. Kakeknya, Margono Djojohadikusumo, dikenal sebagai tokoh perbankan Indonesia, yaitu salah satu pendiri bank negara Indonesia yang saat ini dikenal sebagai Bank BNI. Ayahnya, walau dianggap sebagai pemberontak oleh Soekarno, presiden RI pertama, namun pada masa pemerintahan Suharto, diangkat sebagai Menteri Keuangan. 

Prabowo sendiri adalah jenderal TNI yang kariernya melesat bak meteor, mengalahkan rekan seangkatannya yang menikahi salah seorang putri Suharto, presiden RI ke 2 tersebut. Maka lengkap sudahlah "garis keturunan" baik-baik, intelektual, kaya-raya dan seterusnya yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan masih terbuai dongeng, merupakan gambaran presiden yang sangat ideal bagi Indonesia. 

Masyarakat seakan tidak peduli bahwa pemilihan presiden telah dilakukan secara demokratis. Kampanye negatif yang dilontarkan selama masa pilpres 2014 kepada Jokowi tetap menguasai alam pikiran mereka dan selama masa pemerintahan Jokowi, berubah menjadi kebencian tanpa dasar yang menutup hati nurani sebagian masyarakat akan upaya yang dilakukan Jokowi untuk membangun negeri ini, terutama untuk melakukan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Mengejar ketertinggalan wilayah timur dan perbatasan serta pulau lainnya dari "kemajuan" pulau Jawa.
Prabowo Subianto

Sebaliknya, kekecewaan atas kegagalan Prabowo memenangi pilpres 2014 juga semakin menebalkan militansi kelompok pendukungnya. Segala cara dilakukan untuk men "down grade" Jokowi agar upaya Jokowi dalam meningkatkan perekonomian Indonesia tidak terlihat. Segala sesuatu yang dilakukan Jokowi dipandang dari sisi negatif dan bahkan dimanipulasi. Kampanye negatif masih saja menyertai langkah Jokowi dan semakin dahsyat menjelang pilpres 2019 yang tinggal hitungan belasan bulan saja. Apalagi setelah PDIP secara resmi menyatakan mendukung dan mencalonkan Jokowi untuk maju kembali sebagai calon presiden pada pilpres 2019.

Sedih...? Tentu saja ....
Teringat kata-kata dari salah seorang tokoh bahwa demokrasi Hanya akan berjalan baik di negara dengan pendapatan per kapita sebesar + US$ 5.000,- Walau pendapatan per kapita Indonesia pada bulan Oktober 2017 sudah mencapai US$13.120., namun ada parameter lain yang juga sangat menentukan keberhasilan demokrasi, yaitu pemerataan pendapatan dan pembangunan, tingkat pendidikan dan tingkat intelektual masyarakat. 2 hal terakhir inilah yang belum terjadi dan sedang diupayakan oleh Jokowi melalui pembangunan infrastruktur di wilayah luar Jawa. Hasilnya tentu tidak instan ... berproses panjang, dan harus tetap melalui kerja keras sesuai dengan slogannya .... kerja... kerja .... dan kerja.

Akhirnya .... sampai kapan paradigma dongeng klasik tersebut akan mendominasi alam pikiran pemilih Indonesia? Entahlah ...., menyimak riuhnya kampanye negatif dan hoax yang berseliweran di media sosial, yang juga diramaikan oleh tokoh-tokoh tua yang masih berebut panggung, sepertinya jalan menuju kedewasaan demokrasi masih jauh panggang dari api. Kita mesti harus tetap bersabar hingga para elite politik Indonesia mau dan mampu melepaskan ego sektoralnya untuk mengedepankan kepentingan NKRI beserta rakyatnya tanpa membedakan ras, golongan, suku dan agamanya serta tidak mengutamakan kepentingan kelompok/golongannya ataupun syahwat kekuasaan semata. 

Senin, 07 Mei 2018

Isu Anti-Cina dan Nasionalisme

Tulisan menarik dari:
Ali Romdhoni
Staf pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang.
Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.


Pada September 2016 saya berangkat ke Cina untuk memulai studi doktoral di The University of Heilongjiang, Cina. Waktu berjalan, namun ada yang mengganjal dalam pikiran saya. Pasalnya, saya berkesempatan belajar di luar negeri dan hampir bersamaan dengan itu, terutama di jagat media sosial, di Indonesia sedang ramai dengan ajakan sebagian orang untuk membenci terhadap negara tujuan belajar saya.

Saya sebenarnya juga menandai bahwa hembusan isu anti-Cina sedikit atau banyak berkaitan dengan kepentingan politik salah satu kelompok masyarakat. Namun demikian, sebagian masyarakat sudah telanjur merespons isu itu dengan serius, tanpa mengimbangi dengan melacak latar belakangnya. Hal ini bisa saya rasakan, misalnya, dalam beberapa kesempatan seorang teman dengan nada seloroh berkata, “Kamu ini bagaimana? Di sini orang-orang sedang tidak suka dengan Cina, eh kamu justru pergi ke sana.” 

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya di luar negeri, terutama yang terkait dengan sejarah kelam satu bangsa dan bagaimana kaum muda menyikapinya. Saya ingin menegaskan bahwa cara berpolitik dengan menghembuskan fitnah dan kebencian bisa berakibat sangat buruk terhadap cara pandang kaum muda, generasi penerus bangsa Indonesia. Sejatinya, kekhawatiran terhadap dominasi satu negara sing, seperti Cina, yang berujung pada hembusan isu anti-Cina adalah sikap yang realistis. Kita tentu tidak ingin ada negara lain yang terus menjajah bumi pertiwi, mengeruk kekayaan bangsa kita.

Kekhawatiran demikian bahkan perlu diperluas, bukan saja kepada Cina tetapi juga kepada siapa pun, bangsa mana pun. Artinya, dengan negara mana pun kita harus berhati hati. Jangan lupa, bangsa Indonesia punya sejarah panjang penjajahan dengan Belanda. Kita juga pernah berseteru dengan Portugis. Catatan sejarah kita juga mencatat bahwa Jepang pernah menduduki Indonesia.

Fakta berbicara bahwa bangsa ini juga pernah menerima para imigran (para pendatang) dari kawasan Arab. Pada perjalanan selanjutnya, di antara pendatang ini juga ada yang berkontribusi di tengah masyarakat kita. Kalau kita menjelajahi kota-kota penting di Indonesia, di sana kita bisa menjumpai kawasan (kampung) Arab, selain Pecinan. Misalnya di Semarang, Surabaya, Jakarta, Pati, Kudus, Demak, Pekalongan, daln lainnya. Artinya, Indonesia sudah sejak lama berani menerima kedatangan warga negara asing dan diajak bersama-sama membangun masyarakat.

Maharnya satu, komitmen untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai rumah bersama. Meskipun demikian, kita memang harus tetap hati-hati dengan siapa pun, dengan bangsa mana pun dalam rangka merawat dan melestarikan negara kita tercinta. Di atas semua itu, hal paling penting yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri dan mendidik generasi muda agar kelak mereka mampu menjadi pewaris di masa yang akan datang. Sebaliknya, kalau kita selalu curiga dan membenci bangsa lain tanpa membangun kualitas diri, selamanya kita akan mengalami ketakutan. Kondisi yang demikian jelas merugikan diri kita sendiri, karena kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan curiga pada orang lain.

Menurut saya, ada tiga langkah yang harus kita lakukan untuk memutus mata rantai adu domba di dalam internal bangsa kita sendiri. Pertama, peluang dan dorongan kepada kaum muda untuk menimba pengalaman dari berbagai penjuru dunia harus terus kita kembangkan. Program ini bertujuan untuk membuka wawasan anak muda, belajar kepada bangsa lain bagaimana mereka membangun negaranya. Dengan catatan, anak muda kita sudah memiliki bekal pendidikan nasionalisme dan komitmen untuk kembali dan membangun negeri kita.

Di kampus Heilongjiang University, Cina, saya belajar bersama dengan mahasiswa lain dari berbagai negara. Dalam catatan statistik mahasiswa asing di kampus ini lebih dari dua belas ribu orang. Di antara mereka, saya berteman baik dengan mahasiswa dari Pakistan, Kazakhstan, Laos, Thailand, Kyrgyzstan, Yaman, Amerika, Kenya, Nigeria, Kameron, Korea, Jepang, Nepal, India, Mongolia dan Rusia (bekas Uni Soviet).

Kita tahu, misalnya, ketika Uni Soviet (1922-1991) berkuasa, Kazakhstan berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Menurut pengakuan Marzan, mahasiswa asal Kazakhstan, di bawah kekuasaan Uni Soviet rakyat Kazakhstan merana. Mereka dilarang menuturkan bahasanya, dipaksa untuk tidak melakukan ritual agama yang mereka yakini, dan nyawa yang melayang tidak terhitung jumlahnya.

Tetapi hari ini anak-anak muda dari Kazakhstan dan Rusia bersama saya belajar di Cina. Kami sering terlibat diskusi, membicarakan masa depan bangsa masing-masing, dan sesekali mengenang sejarah masa lalu yang sarat dengan pelajaran. Salah satu pesan yang bisa diambil sebagai pelajaran dari cerita saya ini adalah masa lalu jangan dilupakan, karena akan membuat kita waspada untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Tetapi, yang sangat penting adalah keberanian menatap masa depan dengan penuh keyakinan dan bekerja yang sunggug-sungguh.

Demikian pula, saya ingin mengajak kepada teman-teman muda di Indonesia untuk berpikiran luas, memandang cakrawalah masa depan Indonesia dengan pengetahuan dan komitmen untuk membangun negeri.

Kedua, stop segala bentuk politisasi massa dengan adu-domba dan hasutan-kebencian. Menggalang dukungan dari masyarakat untuk mengangkat pimpinan juga penting. Tetapi, jangan sampai dilakukan dengan cara mengadu satu kelompok dengan kelompok lain. Kerukunan dan cinta kasih antar sesama warga-bangsa dibutuhkan selama komitmen untuk menjadi NKRI masih ada. Jadi, kerukunan dan kebersamaan jauh lebih berharga katimbang apa pun. Maka, jangan racuni cara berpikir anak-anak muda dengan contoh perilaku yang keliru.

Ketiga, memberi pendidikan kepada masyarakat bahwa sebagai salah satu negara yang ada di dunia, Indonesia berkompetisi dengan negara-negara lain di sekitarnya. Kalaupun kita bersatu untuk memajukan negeri ini, tugas itu saja sudah cukup untuk menguras energi. Apalagi kalau kita juga masih harus bertarung dengan saudara sendiri. Pasti energi kita akan habis, sebelum kita bertanding dengan lawan yang sebenarnya.

Khusus kepada kaum muda di Indonesia, hendaknya fokus dalam menyiapkan diri dengan belajar yang serius, baik di bangku pendidikan formal maupun di masyarakat. Supaya kelak pada masanya mampu besaing dengan siapa pun dalam mengibarkan bendera Indonesia di dunia internasional.

Langkah ini, menurut saya, cukup efektif dalam membendung kekuatan asing yang akan merangsek ke negeri kita, daripada menghasut orang lain agar membenci orang lain atau negara lain dengan alasan yang belum tentu benar. Bagi pihak-pihak yang menghembuskan isu kebencian agar berpikir jernih bahwa resiko politik kotor yang demikian akan melahirkan resiko berat. Hal itu bisa membuat masyarakat bawah bingung, misalnya benci yang tidak beralasan terhadap pihak yang sebenarnya tidak bermasalah.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...