Tampilkan postingan dengan label hedonisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hedonisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

21st century's LIFE STYLE - Dilema orangtua

Hari pertama kerja di tahun 2015, Senin tanggal 5 Januari, hampir seluruh isi dan penghuni kantor kami sudah lengkap berada di tempat. Bahkan sang bigboss merangkap pemilik perusahaan sudah hadir beberapa puluh menit sebelum para karyawannya hadir lengkap.

Pagi itu, setelah saling mengucapkan  selamat tahun baru, kami memulai jam kerja dengan konsolidasi pekerjaan terutama dengan bigboss yang kelihatannya pada tahun 2015 akan lebih jarang hadir di kantor dan bahkan mungkin akan lebih konsentrasi pada peluang bisnis yang lebih besar dan lebih menantang. Lebih mendunia ....? Semoga .... dengan dukungan dana yang konon kabarnya hampir tak terbatas. Kita lihat saja sambil berdoa ....

Sore hari, menjelang jam kantor usai, kami bertiga meluangkan sedikit waktu ngobrol disela-sela obrolan mengenai peluang bisnis yang bisa dimasuki perusahaan maupun evaluasi kinerja dan pending matters. Topiknya apalagi kalau bukan ....."kemana saja libur akhir tahun"

"Aku sakit .... batuk pilek, jadi gak bisa kemana-mana", begitu celoteh sang Chief Operating Officer tempat kami bekerja.
"Rumahmu sudah selesai...?"
"Nah itulah .... Kerjaan kontraktor belum selesai dan mungkin karena banyak debulah yang bikin gue pilek...!". 
"Sama .... aku juga bersin2 nih ... sampe sekarang badan masih nggak enak banget. Nggak lucu kalau hari pertama kantor, masih bolos juga"
"Kemana aja liburan ...?", tanyanya
"Minggu pertama, di rumah saja judulnya. Pembokat pulang kampung karena ada saudaranya datang dari Pontianak. Aku berangkat ke Palembang Minggu 28 Desember. Sekali-sekali nebeng suami yang dapat undangan untuk menghadiri pengukuhan professor di Universitas Sriwijaya"
"Wah ... asyik dong, makan pempek .....!!!", timpal yang yang lain ...
"Yah begitulah ... tapi pake degdegan .... Bayangin aja, lagi nunggu di waiting room tau-tau liat berita di TV, Air Asia lost contact di wilayah Bangka Belitung. Bayangin aja, arah penerbangan ke Palembang kan gak jauh2 dari Ba-bel ....! Gila lo ..... degdegan abis..... tiap ada guncangan di pesawat, langsung mantra2 keluar deh ......"


"Elo mas ..... kemana aja...?" tanya sang COO kepada rekan lelaki kami di ruang itu...
"Ke Bali, ...."
"Wah .... asyik ... pasti rame banget Bali ya .... Asyik bila liburan akhir tahun sama keluarga ke Bali....!"
"Wah ... enggak .... Cuma berdua sama anak gadis gue aja .... Gue malah disangka oom yang lagi antar ponakan berlibur..."
"Lho .... emak dan abangnya kenapa gak ikut ....?"
"Si abang sibuk ngamen di cafe .... si emak gak mau ikut karena si anak gadis ini sukanya berangkat dadakan gitu... Untung masih dapet tiket"
"Lho ..... kok? Emangnya bukan acara liburan keluarga?
"Nggaklah .... si gadis diajak libur akhir tahun sama keluarga pacarnya... Daripada dia berangkat sendiri, ya gue temenin lah...!"
"Hah ....... emang kelas berapa dia sekarang?", teriak dua emak yang kebingungan dan kaget dengar cerita itu.
"Kelas dua sma ..."
"Gila lo mas ..... anak masih sma kayak gitu pacaran serius-serius banget ...? Gue aja yang anak sudah hampir selesai kuliah, masih gue wanti-wanti, jangan terlalu serius dulu ... umur masih muda, baru sekitar 21tahun .... jangan sampe nyesel kalo keburu nikah... Makanya, gue jaga jarak banget sama cowonya...", sahut temanku yang anaknya memang masih kuliah di Australia untuk mengambil double degree dari salah satu PTN di Indonesia.

Teman lelaki kami itu dengan raut muka polos atau bangga lalu bercerita tentang perjalanan liburannya dengan keluarga pacar anaknya (yang notabene sesama anak SMA), Dia juga bercerita dengan sangat bangganya tentang betapa anak gadisnya sangat "gaul". Sering keluar-masuk cafe atau main game hingga pagi hari dengan ditemani oleh teman-teman kakak lelakinya. Entah dimana ... bisa main game jadi di rumah atau mungkin juga di luar rumah. Setahu saya ... kedua anaknya memang masing-masing dibelikan mobil oleh si bapak, Bukan main ......

Terbayang penampilan anak gadisnya itu pada beberapa kali kami bertemu baik di Pondok Indah Mall maupun yang terakhir pada saat resepsi pernikahan di salah satu hotel mewah di Jakarta. Khas anak gadis metropolitan abad ke 21. Make up lengkap, baju sexy dengan sepatu berhak tinggi lancip .....

Saya juga membayangkan wajah anak gadis sang COO yang mahasiswa itu .... Penampilan khas mahasiswa dengan sneakers dan tshirt dengan wajah polos alamiah. Sangat berbeda jauh dengan anak gadis teman kantor lelaki itu. Bahkan bagai langit dan bumi. Aku juga teringat dengan penampilan anak gadisku sendiri yang relatif cenderung sangat puritan. Dengan jilbab sederhananya, wajah polos yang bahkan pelembab mukapun enggan dipakai.....

"Hati-hatilah mas ..... anak lo kan perempuan .... masih SMA lagi, masa iya elo ijinkan liburan sama keluarga pacarnya begitu...?"
"Ya abis gimana .... kan gue temenin juga .... Dia gak pergi sendiri..."
"Iyalah .... gak pergi sendiri, tapi persepsi si anak atas kejadian ini, bisa-bisa mereka anggap ... Oh nggak apa-apa .... sekali, dua kali, ntar kalo kebablasan... baru nyesel lho ..."
"Nggaklah ...."
"Ya nggak tahu deh .... kami ini mungkin perempuan-perempuan kuno yang nggak akan pernah mengijinkan anak perempuan bergaul berlebihan dengan lelaki", sahut temanku mengatasnamakan kami berdua.
"Gue aja, selalu bilang sama anak gue ... mami nggak mau kehadiran pacar mengganggu acara keluarga kita. kalau dia mau ikut acara kita, welcome ....! tapi kalau kamu bikin acara berdua dengan pacar sementara kita punya acara keluarga, maka kamu harus ikut acara mami...!", sambung temanku lagi menjelaskan posisinya terhadap si anak yang mahasiswi itu.

Perbincangan kemudian menjadi ramai tentang bagaimana nilai-nilai yang kami anut dalam membesarkan anak perempuan di tengah pergaulan metropolitan yang cenderung "mengerikan" ditinjau dari sudut kebebasan ekspresi yang mengarah pada eksploitasi seksual dan narkotika.
***


Aku memiliki sepasang anak dengan jarak lahir 15 tahun. Masing-masing tumbuh dan berkembang secara individu pada era yang berbeda. nyaris 1 generasi bedanya. Kepada si kakak lelaki, walau dengan penuh kekhawatiran, yang mungkin juga saat itu si anak merasa terlalu diawasi, aku relatif bisa melepasnya. Pergi menghadiri pesta akhir tahun di apartemen temannya atau pesta-pesta ulang tahun hingga larut malam. Mungkin juga berbeda karena anak lelakiku itu sangat percaya diri dan merasa sangat mampu menjaga diri sehingga melanggar dan cenderung mengabaikan apapun yang diomongkan ibunya yang cerewet.

Anakku yang kedua, perempuan tumbuh menjadi anak manja, namun juga punya karakter sendiri. Dibalik sikap-sikapnya yang klemer-klemer, gampang jatuh hati pada "rayuan lelaki", tapi sejak kelas 5 SD, walau masih on n off sudah memutuskan memakai jilbab. Tanpa suruhan, anjuran ... (kecuali anjuran guru SDnya saat anak kami pulang umroh). Kini bahkan gerak hidupnya terlihat lebih relijius dibanding kedua orangtuanya .... hehe, dibanding ibunya, tepatnya begitu .....

Begitupun, aku begitu khawatir karena gaya klemer-klemernya itu membuatku bertanya-tanya, mampukan dia menjaga diri dari "serangan" lawan jenis.... Duh ... susahnya jadi orangtua.
***


Kami bertiga di kantor, memang berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sangat berbeda. Tetapi kalau ditinjau dari kota kelahiran, maka kami yang perempuan lahir dan besar di Jakarta. Jadi .... amat sangat menegrti lekak lekuk pergaulan metropolitan. Bahkan bagaimana gaya hidup hedonisme penghuninyapun sudah dihafal luar kepala. Sementara kawan lelaki kami itu, baik dia maupun istrinya adalah keluarga yang besar di wilayah Jawa Tengah/Timur dan mereka masuk ke Jakarta pada saat sang suami bergabung ke perusahaan tempat kami bekerja ini. 

Apakah hal ini ada pengaruhnya...? Entahlah... tapi saya seringkali membaca bahwa orang cenderung mengikuti gaya hidup sekelompok/segolongan lainnya yang menjadi acuan dan panutan agar dia dianggap termasuk dalam golongan tersebut. Apakah agar dianggap modern/maju atau masuk dalam golongan intelektual dan lainnya. Maka ke situlah kiblat hidupnya diarahkan...

Tapi .... kembali pada gaya hidup dan pergaulan remaja abad ke 21 ini ...., sebagai ibu dari anak remaja, saya seringkali ngeri terhadap kondisi pergaulan saat ini, dimana anak-anak terpapar pada godaan sexualitas, narkotika dan lainnya yang sangat bertubi-tubi dan .... borderless ..... 

Jumat, 06 Desember 2013

Antara Kesombongan dan Kepercayaan Diri.

Sore itu ... sudah lewat dari jam kantor. Kantor sudah mulai sepi, di lantai tempat saya kerja hanya tinggal 1 staff yang sedang menunggu jemputan suaminya. Saya masih di ruang rapat, dengan ditemani seorang staff, jebolan arsitektur di salah satu PTN terkenal, bertemu dengan arsitek yang akan kami tunjuk untuk melaksanakan pembuatan/revisi desain dan gambar kerja salah satu proyek kami di luar kota, ketika seseorang mengetuk pintu dan menghampiri :

"Maaf bu ..., ada telpon dari Mr. XX, ingin bicara."
"Tolong kasih tahu, saya sedang rapat ..., nanti saya telpon", sahut saya.
Enak saja, mengganggu konsentrasi pembicaraan ... lagi pula, saya belum tahu, jenis manusia seperti apa, dia dan apa keperluannya.
"Sudah diberitahu bu ..., tapi dia maksa saya, untuk bilang sama ibu, bahwa dia mau bicara", jawabnya lagi.
"Bilang rapatnya gak bisa diganggu ... nanti ditelpon...!"

Usai rapat, saya hampiri staff kantor tersebut. Dia masih ada di meja kerjanya, masih menunggu suaminya. Mukanya kusut .... Mungkin tertekan dengan omelan yang dirasa kurang pada tempatnya.
"Telpon dari siapa dan apa keperluannya..? tanya saya.
"Namanya XX bu ..., dia mengaku GM di salah satu BUMN. Dia marah besar saat saya bilang ibu sedang rapat. Makanya saya ketuk ruang rapat."
"Memang kamu nggak minta untuk tinggalkan pesan, agar nanti ditelpon kembali...?"
"Sudah bu ...., tapi dia bilang dia pernah telpon 4 hari yang lalu dan meninggalkan nomor telpon agar ibu bisa menelpon kembali. Tapi ibu gak nelpon. Makanya dia marah ....!"

Saya agak lupa, apakah memang pernah ada telpon dari Mr XX tersebut. Biasanya, kalau jelas keperluan si penelpon, maka saya akan selalu menelpon kembali. Tetapi kalau urusannya tidak jelas ... saya agak malas menelpon kembali . Biasanya, orang-orang yang enggan memberitahukan maksud dan tujuannya menelpon, adalah mereka yang bekerja di asuransi, bank atau perusahaan consumer goods/life style product dan sejenisnya untuk menawarkan produk.

"Gak kasih tahu apa keperluannya?"
"Nggak bu ... cuma, dengan nada tinggi ... dia tanya ..., Memang apa jabatan si ibu itu? Saya ini kenalan baik A dan B, anak pemilik perusahaan tempat kamu bekerja. Kenapa ibu itu gak mau terima telpon saya? Apa dia salah satu owner?", begitu cerita staff terkait.
"Hm .... !!!"
"Iya bu ... saya bilang ... kan bapak sudah tahu siapa pemilik perusahaan. Jadi ibu memang bukan pemilik perusahaan. Terus dia bilang ... masih sambil marah-marah ... pastikan saya ditelpon balik...!", dengan nada geram .... Begitu cerita staff kantor. Entah memang benar begitu, atau hanya perasaannya saja. Tapi ... menilik dari raut wajahnya saat menceritakan hal itu pada saya, jelas terlihat wajah kusut dan tertekan.

Hm .... sungguh sangat tidak beretika....! Menelpon kantor orang dengan cara seperti itu, cuma akan menunjukkan kualitas intelektual dan martabat dirinya. Untuk apa marah pada "orang kecil" di kantor yang sama sekali tidak kita kenal?

Untuk menghargai dan menenangkan hati staff yang sudah kena marah tidak pada tempatnya itu, saya memutar nomor telpon yang diberikannya. 3x mencoba tanpa tanggapan. Jadi saya hentikan usaha itu. Balas dendam dengan tidak menerima telpon saya ...? Biar saja ... kalau butuh, dia akan menelpon saya lagi. Toh saya tidak kenal dan tidak tahu pula apa keperluannya.

Keesokan harinya, saat saya bertemu dengan anak pemilik perusahaan tempat saya bekerja, saya tanyakan identitas orang tersebut.
"Wah ... saya lupa bu ....! Kalau nggak salah dia kerja di..... (disebutnya nama salah satu BUMN). Saya ketemu di suatu tempat. Lupa dimana... Dia mau nawarin tanah ....", sahutnya.

Nah lo.... Nggak jauh-jauh.... Makelar tanah/proyek rupanya? Nggak nyambung banget deh ... Dia bilang kenalan baik, si anak owner bilang, cuma kenal selintas dan tidak ingat dimana kenalan. Ngaku jabatan GM di BUMN, rupanya masih butuh cari tambahan gaji sebagai makelar tanah. Ya sudah...... que sera... sera...!!!

Beberapa hari kemudian .... masuk email dari mr XX, mengirimkan daftar tanah dari beberapa lokasi dan permintaan uang muka transaksi tanah. Mungkin, anak owner kami menelponnya kembali dan meminta untuk mengirimkan email. Entah apa yang dibicarakan mereka. Hasilnya adalah email tersebut. Lucu rasanya ... belum ada pembicaraan apapun atas tanah/proyek, sudah dimintakan uang muka. Jadi, saya teruskan email tersebut ke Business Development manager agar dia menindaklanjutinya.

Beberapa hari kemudian, penerima telpon kantor memberitahu bahwa mr. XX menelpon dan mencari saya. Jujur saja, saya merasa agak terganggu. Namun, rasa penasaran ingin tahu identitasnya mengalahkan rasa terganggu ditelpon saat sedang kerja.

"Ya... ada yang bisa saya bantu...?"
"Langsung saja bu ..., beberapa hari yang lalu, saya mengirim email. Kapan kira-kira saya bisa menerima proposal kerjasamanya?" begitu katanya...
"Lho ... kok begitu...? Kita belum pernah bertemu membicarakan lahan yang ditawarkan. Tidak tahu lokasinya, kondisi lahan serta legalitasnya. Banyak hal yang perlu dibicarakan sebelum sampai pada proposal kerjasama. Saya tidak juga tahu dalam kapasitas apa anda di sini. Jadi bagaimana mungkin secara "buta" saya mengirimkan proposal kerjasama?"
"A bilang ... email yang saya kirim itu sudah cukup untuk kemudian ditindaklanjuti dengan proposal kerjasama bu ...!"

Nggak tahu siapa yang bego ..... Atau ... bisa jadi saya kurang canggih dalam memahami trend bisnis masa kini...

"Ada business development yang akan mempelajari, mengevaluasi dan kemudian memberikan rekomendasi internal. Kalau semua OK, baru kita bisa membicarakan langkah selanjutnya. Mereka akan menghubungi anda, nanti."
"Baik bu ... Ditunggu beritanya. Anyway ... saya adalah GM di salah satu BUMN dan sudah biasa deal dengan perusahaan-perusahaannya bapak X ..., Y ... Z dan lain-lain (disebutkannya beberapa nama terkenal dalam dunia bisnis di Indonesia ... namun menurut saya mereka semua sudah phase out). Saya juga memiliki lisensi pilot dan dengan bapak-bapak itu biasa ketemu di lapangan golf, atau di club. Ternyata saya juga teman fitness bapaknya A (pemilik perusahaan tempat saya bekerja) di fitness center the Sultan. Cuma... saya nggak tahu kalau beliau itu bapaknya A" , cerocosnya tanpa ditanya.

Hadoohh........ pening rasa kepala ini mendengar cerita seperti itu. Menurut saya, ini jenis orang yang gak percaya diri dan sedang mencari "pegangan" pada status sosial mana dia berada. Lucu banget ... orang dengan posisi GM di sebuah BUMN masih harus menyebut-nyebut betapa dia bergaul dengan pengusaha golongan atas. Tanpa harus disebutkan, siapapun sudah bisa meraba dan merasakan, pada status sosial apa, masing-masing teman bicara kita berada. Nggak perlu ditambah-tambah. Penambahan itu malah semakin membuka tingkat sosial dan intelektual kita.

"Oh .... iya!" sahut saya pendek.
"Nanti saya minta Business development kami menghubungi anda ya....!" segera saya sudahi pembicaraan yang berkembang nggak jelas lagi arahnya kecuali menceritakan betapa dia bergaul di kalangan atas Jakarta.
"Baik bu ... sebelumnya, boleh saya minta nomor HP atau pin ibu?"

Waduh ....., ini dia nih .... Sudahlah merasa nggak nyaman bicara dengan orang jenis seperti ini, eh ... dia minta nomor telpon dan pin lagi.
"Anda bisa telpon ke kantor kok. Sebagian besar waktu saya ada di kantor."
"Tapi kan susah kalau harus lewat operator. Nanti pesan saya nggak sampe!", masih ngotot juga.
"Atau pin saja bu... jadi saya bisa langsung connect dengan ibu!"

Yah .... terpaksa deh, saya berikan pin blackberry. Toh walau pesan tersebut masuk, saya masih punya kebebasan untuk membalas kapan ada waktu. Jadi tidak terlalu mengganggu dibandingkan dengan telpon masuk.

Tidak menunggu lama setelah itu, beberapa kali ping terdengar masuk perangkat BB. Dikirimkannya 3 buah foto diri ... sedang main golf, duduk di ruang kerja dan foto cockpit. "Aktifitasku", begitu tulisan yang menyertai ke 3 foto tersebut. Menilik fotonya selintas, sepertinya, orang itu masih muda. Menjelang 40 tahun mungkin. Saya memang tidak men zoom in fotonya. Malah langsung saya delete. Nggak penting banget, gitu loh....!!! Saya malah jadi meragukan bahwa dia bergaul erat dengan pengusaha "papan atas" yang sudah phase out itu. Generasinya berbeda jauh.
***

Ternyata .........., di Jakarta ini banyak banget manusia jenis seperti ini. Sejenis orang yang "tidak percaya diri" kalau tidak mengenakan "topeng". Jenis topengnya bermacam-macam. Ada yang topengnya betul-betul topeng buat kesempurnaan tampilan wajah dan bentuk badannya, yaitu berupa make up atau segala macam upaya perbaikan penampilan wajah/badan seperti operasi plastik atau suntikan botox dan sejenisnya.

Belasan tahun yang lalu, saya pernah punya sekretaris yang super kinclong...!!! Penampilannya nyaris sempurna. Make up lengkap yang sangat rapih selalu menyertai penampilannya setiap hari ke kantor. Rambutnya tertata rapi, memanjang ikal karena si gadis rajin menggelungnya sebelum kemudian dirapikan dengan "blow dry" dan foam. Parfum nya jelas dari merek kelas atas. Harumnya "berkelas". Saya cukup maklum dengan segala penampilannya yang kinclong tersebut, karena ibunya adalah notaris yang cukup kaya raya. Jadi, sepanjang hari ... belum terlihat orangnya, harum parfumnya sudah menyapa penciuman kita. Konon dia bangun jam 04.00 setiap pagi untuk memulai ritual memoles penampilan untuk tiba di kantor jam 08.00.

Gadis ini juga akan panik luar biasa kalau ada yang kurang dalam penampilannya. Bahkan hanya karena dia kelupaan memoles lipstick ke bibirnya. Sayangnya ...., saat itu, saya sedang "mabok" karena kehamilan anak kedua dan sangat sensitif dengan bebauan termasuk harum parfum kelas atas sang sekretaris. Jadi .... dia terpaksa saya larang untuk berada dekat saya.

Pada kesempatan lain, pada suatu hari boss menerima salah satu executive dari grup usaha anak penguasa negeri ini, pada saat itu. Sekarang tentunya mantan penguasa dan grup usaha tersebut termasuk para executive nya sudah tidak terlalu jelas keberadaannya.

Lelaki tersebut berpenampilan metro sexual. Rapi dan harum. Datang dengan mengenakan pakaian formal. Kemeja berdasi dengan setelan jas Ermenegildo Zegna. Bingung kan, kenapa saya sampai tahu merek setelan jasnya. Ini disebabkan karena rancangan jas yang dikenakannya tersebut menjahitkan merek/label nya pada pergelangan tangan. Saya nggak tahu, secara etika, apakah label tersebut harus dicopot dulu sebelum dipakai atau memang disengaja perancangnya agar penggunanya "memamerkan" apa yang dipakainya? Yang pasti.... sang executive memakai jas tanpa mencopot labelnya, sehingga dengan pandangan sekilas saja, merek tersebut sudah jelas terbaca. Pamer ...., norak dan tidak mengerti etika berpakaian secara elegant... atau saya yang kurang gaul...? Silakan menilai sendiri

Masih tentang kelakuan para executive di Jakarta. Kali ini executive perempuan yang konon adalah "tangan kanan" seorang pengusaha kelas atas yang saat ini sedang berkibar. Saya diajak boss untuk menemuinya di Pan d'Or jalan Wijaya 1 Kebayoran Baru. Kami hanya bertiga saja saat itu. Boss memperkenalkan saya, lengkap dengan status saya di kantor. Dia menyambut jabat tangan sekedarnya. Kita tentu akan bisa merasakan sambutan seseorang hanya melalui jabat tangan. Jabat tangan dengan aura kehangatan, ketulusan, basa-basi atau bahkan "meprisant". Dari jabat tangannya, saya tahu dan merasa dianggap "nggak level" untuk dikenal lebih jauh ... Ya sudah ... saya toh diajak, dan "merasa" harus siap-siap kalau pertemuan tersebut harus ditindaklanjuti kemudian, apapun tanggapan dan pandangannya terhadap saya.

Jadilah ..... saya menjadi pendengar setia atas omong-omong kosong yang menurut saya sangat tidak bermutu. Alih-alih bicara soal prospek bisnis, pertemuan itu lebih banyak diisi dan didominasi si perempuan dengan pembicaraan tentang sekolah anak-anaknya di luar negeri, lengkap dengan biaya sekolahnya yang bernilai puluhan ribu USD per semester. Tentang tas bermerek yang baru dibelinya. Cincin, gelang, kalung dan giwang berlian yang dipakainya saat itu. Bahkan dia juga cerita tentang renovasi rumahnya yang memakan biaya miliaran rupiah .... Kesemuanya, menurut saya, sangat tidak perlu dan tidak pantas dibicarakan di depan umum, kecuali kalau niatnya memang mau pamer.

Entah bagaimana, si boss dengan sabar meladeni ocehan perempuan itu....! Salut saya pada si boss yang sabar mendengarkan omong kosong seperti itu. Saya sebagai sesama perempuan, merasa jengah mendengar omongannya. Bukan karena iri/dengki. Hanya merasa ada hal-hal yang tidak pantas dibicarakan dengan orang lain. Apalagi konteks pertemuan tersebut adalah bisnis. Bukan pertemuan pribadi antar dua kawan.

Beberapa hari kemudian, tatkala saya ceritakan pengalaman tersebut pada salah satu teman (perempuan juga) ... dia malah ngakak tertawa .....
"Wah ... tu ibu mau nunjukin bahwa kamu bukan level gaulnya dia kali....", celotehnya.
Iya juga, kali ya ....? Saya tidak akan pernah tahan bergaul dengan orang model begitu. Tahu diri bahwa tingkat kehidupan sosialnya terlalu tinggi .... Sangat jauh dari jangkauan cara hidup keseharian saya....
***

Menurut saya, dI Indonesia, ternyata memang sangat banyak orang yang merasa kurang percaya diri akan kualitas hidupnya lalu mencari-cari cara supaya dianggap masuk ke dalam suatu status sosial tertentu. Kalau ingin dianggap intelek, maka setengah mati dicarinya gelar-gelar akademis untuk dicantolkan di depan atau belakang namanya.

Untuk terlihat terpelajar, mereka bicara dengan mencampur adukkan bahasa tanpa tahu konteks penggunaan bahasa/istilahnya. Seperti gaya bicara Vicky Prasetyo yang baru-baru ini ramai dibincangkan orang. Alih-alih dianggap terpelajar, malah kelihatan "mutu" sebenarnya, Memang ... kualitas intelektual orang akan terlihat saat orang tersebut berbicara.

Ada yang merasa tidak percaya diri kalau tidak menggunakan barang bermerek ... Kalau nggak yang asli, karena harganya luar biasa mahalnya... maka digunakanlah barang-barang "aspal". Banyak lagi cara yang digunakan untuk "menggapai" status sosial tertentu.

Salah satu teman saya, pernah dicuekin teman sekelasnya saat dia kuliah management di PTN terkenal, hanya karena dia menggunakan mobil tua. Padahal saya tahu dia adalah pengusaha, walaupun saat itu baru merintis usaha di bidang telekomunikasi.

Rekan yang lain, notaris yang baru pindah dari luar kota ke Jakarta, terpaksa "megap-megap" mengambil kredit mobil Mercedes Benz seri terbaru agar dia dianggap "bonafide"  oleh calon kliennya.

Saya, bahkan sering diledek staff proyek di luar kota sana, karena hanya memiliki low end gadget yang kuno. Itu karena saya hanya akan menggantinya kalau memang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi, sementara di lingkungan saya, hampir seluruhnya menggunakan gadget keluaran terbaru, termasuk keponakan2.

Padahal ...... kalau dipikir-pikir, cape lho memakai "topeng". Berat di ongkos pula ...!!! Tapi .... begitulah manusia ....
Wallahu alam

Kamis, 26 September 2013

Life Style - Hedonisme a la masyarakat Indonesia part 2

Oupfs .... ternyata, sudah 1 bulan ini blog saya tak tersentuh lagi. Entah karena lagi sibuk beneran sama kerjaan kantor, atau sok sibuk - jadi pura-pura sibuk padahal nggak ada hasil kerjaan yang bermanfaat, atau bahkan bisa jadi memang lagi malas, Segala macam alasan bisa dikemukakan.

Nah ... sekarang, saya mau cerita lagi soal gaya hidup di kota besar yang terasa sangat tidak membumi. Lihat saja tayangan "tidak mendidik" yang banyak disiarkan di TV dan media cetak terutama tabloid-tabloid rumpi. Jelasnya ..., belakangan ini ada 2 topik utama yang sangat berkaitan dengan gaya hidup orang-orang yang sedang mencari jati dirinya supaya diakui "as a part of a high quality society". Sok jet set lah bahasa terangnya.

Dalam kondisi rielnya, masyarakat kita saat ini, sepertinya memang sedang terkena "cultural shock". Gegar budaya akibat terbuka luasnya akses informasi yang dipaparkan oleh media cetak maupun media visual. Apalagi dengan adanya internet connection, sehingga dunia ini secara virtual menjadi tidak berbatas alias borderless. Semua bisa diakses dalam hitungan detik.

Seperti laiknya berita dimanapun juga .... broadcasted news are usually bad and shocking news. Wartawan akan selalu mencari sudut pemberitaan yang "menarik perhatian" dan hal itu hanya akan ditemukan pada hal-hal "buruk" atau mengejutkan. Pemberitaan hal yang "baik-baik"pun akan selalu dilihat "sudut" pandang yang bombastis agar menarik perhatian. Nah ... hal inilah yang kemudian "dianggap" seolah-olah menjadi bagian "gaya" hidup di negara-negara maju yang menjadi kiblat masyarakat untuk ditiru, agar tidak dikatakan ketinggalan jaman.
***


salah satu koleksi jansport
Sudah sekitar 3 bulan ini, anak gadis saya grendengan ingin beli tas sekolah merek Jansport kalau nggak salah, kabarnya, buatan USA, yang banyak dijajakan di berbagai mall kelas menengah atas di Jakarta. Harganya ... buat ukuran rata-rata penduduk Indonesia, relatif mahal. 6 digits!!!

Emaknya sudah pasti nggak mau beliin tas "semahal" itu. apalagi bapaknya ... sudah pasti tidak akan pernah mengabulkan permintaan sejenis. Salah satu alasannya adalah karena banyak tas dengan harga yang lebih murah dengan kualitas lebih bagus, karena dijual bukan di mall kelas atas, tapi di ITC, misalnya. Tetapi bukan hanya itu alasannya. Agak sedikit curious, kenapa si anak memilih tas bukan karena tasnya tetapi karena mereknya. Harus Jansport dan bukan yang lain. Ini yang paling menyebalkan, karena saya paling tidak suka si anak membeli sesuatu karena dan hanya untuk memuaskan diri memiliki barang bermerek yang sedang in di kalangannya. Intinya, jangan jadi korban merek.

Saya teringat .. beberapa bulang yang lalu, seorang staff di kantor cerita. Anaknya yang masih duduk di kelas 6 SDN alias sekolah dasar negeri, meminta pada ibunya untuk dibelikan Samsung Galaxy seri terbaru, yang harganya saat itu di atas 7 juta. Si ibu jelas "marah" mendengar permintaan yang dirasa sangat tidak masuk akal tersebut. Tapi si anak terus merengek. Tahu kenapa....? Karena sebagian besar teman sekelasnya memiliki samsung seri terbaru itu.

Gila bener .... anak kelas 6 SD memakai dan membawa samsung galaxy seri terbaru ke sekolah? Entah kenapa sekolah mengijinkannya dan entah untuk alasan apa pula orang tua mereka membelikannya. Jelas samsung galaxy tidak digunakan "sebagaimana mestinya" oleh anak2 kecuali untuk mengakses games, atau social media. Kalau alasannya agar tetap bisa menghubungi si anak, tentu bisa menggunakan telpon genggam biasa saja. Tidak perlu membelikan smartphone yang harganya terlalu mahal.

Salah si anakkah kalau dia menginginkan hal tersebut dan kemudian memperoleh barang-barang bermerek dan mahal tersebut, apalagi kalau diperolehnya dari orangtuanya sendiri?


pasca kecelakaan
Bulan September 2013 ini, media massa terutama media massa golongan tabloid "rumpi alias gossip" rame memberitakan kecelakaan yang menewaskan cukup banyak orang dan dialami oleh AQJ, remaja berumur 13 tahun, anak salah satu selebriti musik yang sangat arogan menyiratkan betapa orangtua juga memiliki andil dalam "membentuk" anak menjadi sedemikian konsumtif dan berperilaku tak terkendali.

Bayangkan saja .... beberapa jam sebelum kecelakaan maut terjadi, si anak remaja ini merayakan ulang tahunnya yang ke 13 tahun dan pada kesempatan itu si bapak menghadiahinya sebuah mobil. Mobil itu jugalah yang dikendarainya pada dini hari hingga hancur lebur tak berbentuk lagi setelah mengalami kecelakaaan.

Andai saja, hadiah mobil tersebut diberikan pada seorang anak yang telah berumur 18 tahun dan telah memiliki SIMI, Dari orangtua yang secara finansial, sangat mampu untuk melakukannya, maka secara logika, pemberian itu masih bisa diterima. Tetapi memberikan mobil kepada anak "di bawah umur" dan menurut undang-undangpun jelas belum dan tidak dibenarkan untuk mengendarai kendaraan bermotor, walau dengan alasan, mobil tersebut "di;engkapi" dengan sopir, jelaslah bukan tindakan yang bijak.

Siapa yang bisa menjamin, bahwa si anak tidak "belajar" dan mengendarai mobil tersebut? Sang supir tentu tidak akan berani menolak untuk mengajari dan "melepaskan" kendalinya atas kendaraan tersebut pada majikan kecilnya. Begitulah ... kekayaan yang melimpah ruah membuat kita "kehilangan" kendali untuk mempergunakan dan memanfaatkan kekayaan itu secara wajar dan tidak berlebihan.


iphone 5 yang heboh
Kita juga tentu masih ingat, kalau tidak salah tahun lalu, keributan yang terjadi di Pacific Place - Jakarta, saat iphone 5, produksi apple, diluncurkan dan diberikan harga yang sangat istimewa untuk 1.000 pembeli pertama. Iklan yang dimuat di media cetak menyebabkan ribuan orang antri dan saling dorong untuk menjadi salah satu yang beruntung memperoleh gadget tersebut.

Begitulah .... life style - hedonisme melanda penduduk Indonesia dan mungkin juga menjadi perilaku umum penduduk di negara berkembang, dimana mereka masih mencari jati diri, agar masuk dan dianggap sebagai golongan manusia "modern" dan tidak ketinggalan jaman.

Akan halnya keinginan anak saya untuk membeli tas/bacpack  merek Jansport itu, setelah dia tahu betul bahwa ibu dan bapaknya tidak akan mengabulkan permintaannya, akhirnya dia mengusulkan jalan keluar .... bahwa dia akan mengumpulkan sebagian uang sakunya hingga terkumpul dan cukup untuk membeli tas idamannya. Good idea/solution ....

Sebetulnya ....  saya merasa agak terenyuh juga mendengar keputusannya. Rasanya seperti mendzalimi anak sendiri, karena alhamdulillah, sebenarnya saya cukup mampu membelikannya tanpa harus menunggunya mengumpulkan sejumlah uang tersebut. Tetapi ... kami ingin "mendidik'nya agar tidak membeli sesuatu karena dorongan kelompok, tidak mau kalah dengan teman-temannya. Jadi .... kalaupun tidak masih tetap ingin memiliki sesuatu yang dianggap orangtuanya "sesuatu" yang berlebihan, maka harus ada effort/harga yang harus "dibayarnya sehingga dia menghargai keberadaan barang tersebut.


Kamis, 22 April 2010

Inikah hasil perjuangan Kartini

Rabu malam, tepat pada hari dimana Indonesia merayakan hari Kartini, memperingati hari lahirnya perempuan Jawa yang dianggap pelopor "persamaan hak antara lelaki dan perempuan Indonesia, sekitar jam 20.15 saya pergi ke citos alias Cilandak Town Square untuk beli roti. Belakangan ini, anakku lagi doyan roti dari salah satu bakery yang ada di Citos itu. Biasanya kalau ke Citos jam segitu, kecuali jum'at malam, parkir sudah agak kosong. Namun malam itu, pelataran parkir masih sangat penuh.

Naik ke lantai dasar, saya agak kaget karena hampir tidak ada area kosong di sepanjang pedestrian utama. Semua penuh dengan stand yang bertuliskan lady's day. Oh... baru ingat bahwa setiap hari Rabu, Citos menyelenggarakan Lady's day dan saya baru menyadari bahwa hampir 99.9% isi both berkaitan dengan "PIRANTI" perempuan. Yang terbanyak sudah pasti.... BAJU.... lalu assesoris baik berupa kalung, gelang yang etnis maupun logam dengan desain modern.

Hari ini ...., sehari setelah perayaan Hari Kartini, menjelang pulang kantor, seorang rekan dari Manado datang dengan sepupunya. Rekan dari Manado itu memang selalu mampir ke kantor, sebagian besar untuk mengantarkan makanan khas Manado baik berupa ikan bakar, sayur mayurnya bahkan klappertaart dan dodol Manado yang harum lembut dan menjadi kesukaan saya.

Sang sepupu, rupanya pedagang berlian yang baru saja selesai menjajakan dagangannya di suatu pertemuan "ibu2 jetset dan sosialita" Jakarta. Di kamar kerja rekan saya, dia membuka "barang dagangan"nya dan memamerkannya pada rekan saya yang kemudian mencoba beberapa barang di antaranya.

Sambil menjelaskan barang-barang dagangan bertatahkan berlian berharga puluhan bahkan hingga ratusan juta untuk berlian soliter berukuran 2,5 cts, dia dengan bangganya menceritakan bahwa dalam satu kesempatan .... seorang pejabat dan istrinya memborong 10 unit barang dagangannya. Bayangkan .... andai rata-rata harga perhiasan yang diambilnya itu senilai 75 juta per unit, maka dia telah menghabiskan dana sebesar 750 juta, 3x bayar katanya alias 3 @ 250juta.

Lalu mengalirlah cerita mengenai klien-klien alias para pelanggannya yang rata-rata seringkali membeli berlian berharga ratusan juta rupiah. Tidak itu saja.... dia juga mengatakan bahwa di dalam mobilnya masih ada tas perempuan merek Hermes crocos asli seharga 750 juta atau tas Hermes seperti yang dipakainya seharga 90 juta rupiah.

Bosan mendengar celotehan yang menurut saya "nggak mutu" karena memang bukan "level" hidup saya, pelan-pelan saya mengundurkan diri dan kembali ke ruang kerja saya. Nggak mutu dan bukan level saya, bukan berarti merendahkan mereka yang memiliki selera seperti itu, tetapi lebih dikarenakan saya memang tidak atau belum masuk kategori perempuan-perempuan yang mampu membeli barang2 mahal tersebut. Memang mutu dan level saya masih sangat rendah...

Lamat-lamat masih terdengar "undangan" rekan kerja saya agar dia datang ke beberapa arisan yang diikutinya dimana banyak ibu-ibu sosialita dan istri pejabat baik level daerah maupun level nasional menjadi anggotanya. Disana..., katanya dagangan berlian seharga ratusan juta biasa diperebutkan seperti membeli pisang goreng.

Entah apa yang ada dalam pikiran ibu Kartini bila mengetahui bahwa perempuan Indonesia yang diperjuangkan pendidikan dan hak-haknya sebagai manusia masih belum beranjak dari "baju dan perhiasan"...

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...