Tampilkan postingan dengan label wisuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisuda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

WISUDA SARJANA - Program SPESIALISASI, MAGISTER dan DOKTOR

Hari Jum'at 25 Agustus 2017, setelah tahun lalu dan awal Februari 2017 lalu, absen menghadiri acara Wisuda sarjana, pada awal tahun ajaran baru ini, keisengan untuk ikut hadir pada acara tersebut muncul lagi.

Iseng ...? Bisa jadi .... untuk pengalih rasa jenuh dari kerjaan kantor .... kebetulan juga sudah berjalan selama sekitar 11 tahun, undangan untuk menghadiri acara ini selalu hadir. Bolehlah, sesekali menanggalkan identitas pribadi untuk masuk ke dalam identitas sebagai istri... hehe...

Jadi ...., setelah supir pak Boss usai shalat Jum'at, dan saya sendiri juga sudah menunaikannya ... dengan agak rebyek, karena kekhawatiran macet akibat banyaknya kendaraan menuju kampus UI Depok, saya dan si anak yang juga mahasiswa di departemen yang sama dengan tempat bapaknya mengajar, melundur ke Depok. Walau bila diratik garis lurus, rumah kami hanya berjarak pada radius tidak sampai 1km dari kampus UI, namun jalan memutar yang harus ditempuh bila menggunakan kendaraan beroda 4, menyebabkan waktu tempuh menjadi sekitar + 30 menit. Masih mendinglah, dibandingkan dengan waktu tempuh dari kawasan Lebak Bulus, tempat tinggal kami dulu.

Si anak, agak malas2an diajak... namun emak sedikit memaksa, supaya ada teman mengobrol. Maklum saja ... saya bukan aktifis kegiatan emak2 Dharma Wanita. Bahkan sama sekali tidak pernah aktif, sejak dulu kala ..... jaman emak2 bilang bahwa aktifitas istri di Dharma Wanita berperan penting buat karier suami.

Setelah menjemput suami di "kandang"nya ... kami meluncur ke gedung PAU ... Biasanya emak2 undangan berkumpul disini dulu, icip2 makanan kecil, menjelang acara. Biasanya sekitar 15 menit sebelum rombongan guru besar memasuki tempat acara, emak2 mulai memasuki ruang acara. Mendapat kehormatan duduk di kursi VIP pada arah keluar para guru besar, usai acara wisuda dan penerimaan mahasiswa.

Acaranya sih rutin saja .... Dari tahun ke tahun, urutan acaranya juga persis sama... Yang istimewa tahun ini, atau juga saya baru tahu dan menyadarinya bahwa ada perubahan besar untuk lagu pengiring saat para guru besar masuk ke ruang acara, yaitu Balairung Uinversitas Indonesia.

Bila biasanya, lagu Gaudeamus Igitur yang mengiringi langkah para guru besar dengan jubah kebesarannya ... yang memang ukurannya besar-besar ...., maka saat itu, langkah mereka diiringi lagu SATU NUSA SATU BANGSA ...
Syahdu ...? so pasti .... Malah jadi terharu ...
Tidak kalah terharu dibanding saat mendengar lagu Gaudeamus yang sebetulnya sama sekali tidak dimengerti arti liriknya. Hanya iramanya saja yang memang mengundang haru.

Entah siapa dan karena apa, terjadi perubahan itu..., namun apapun alasannya, keputusan tersebut patut diacungi jempol...

Hidup Universitas Indonesia
VIVA Universitas Indonesia
VIVRE Universite Indonesia

Kamis, 03 September 2015

MEA dan WISUDA Sarjana / PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Entah sudah berapa kali saya menghadiri acara wisuda sarjana dan penerimaan mahasiswa baru di universitas Indonesia, namun acara pada tanggal 28 - 19 Agustus 2015  ini terasa sedikit lebih istimewa karena anak kedua saya ada di dalam barisan mahasiswa baru. Itu sebab, sejak awal sudah saya pesankan pada suami bahwa saya akan hadir di acara tersebut. Ge-er banget hehe ....

Siang hari, Jum'at 28 Agustus 2015, usai shalat Dhuhur, saya segera meluncur ke kampus UI di Depok, menjemput suami dulu di kantornya lalu masuk ke gedung pusat administrasi universitas, tempat peserta acara berkumpul.

Sekitar jam 14.15, kami para pendamping, di antar menuju Balairung Universitas Indonesia karena acara sudah akan dimulai. Saya bersyukur mendapat tempat di jajaran pertama Balairung, arah jalan keluar rektor dan guru besar.

Sepertinya ada yang berubah dari suasana wisuda dan penerimaan mahasiswa baru kali ini, terutama tentunya dari kemeriahan dan keriuhan teriakan para mahasiswa baru meneriakkan yel-yel fakultasnya. Kondisi ini sebetulnya sudah mulai terasa saat mahasiswa baru mengikuti masa orientasi kegiatan kampus - OKK dan MADK (yang ini saya lupa apa singkatannya) dimana kelompok mahasiswa baru yang terdiri dari 10 orang, diwajibkan terdiri dari beragam fakultas dan membaurkan antara rumpun science, humaniora dan kesehatan. Tentu maksudnya agar ego fakultas menjadi hilang. Baguslah ..... kita memang harus bersatu dan menghilangkan ego sektoral. Indonesia harus bersatu padu terutama menghadapi era MEA alias Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan mulai berlaku pada bulan Desember 2015.


Kalaupun ada yang hilang dari wisuda sarjana & penerimaan mahasiswa baru tahun 2015 ini hanyalah kemeriahan dan keriuhannya saja. Acara menjadi "sedikit lebih senyap", kurang greget ... tapi, andai kesenyapan itu mampu diganti dengan kesadaran bahwa mahasiswa baru Universitas Indonesia adalah bagian dari suatu kesatuan bangsa dan negara Indonesia yang harus saling menguatkan dan kompak untuk masa depan bangsa, kenapa tidak...? Hal ini tentu harus dimulai dari kampus, karena mahasiswa adalah calon pemimpin dan penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapan dan masa depan kita semua.
***

Mungkin banyak diantara kita yang belum sadar bahwa pada akhir tahun 2015 ini, yaitu pada bulan Desember 2015, perjanjian/kesepakatan untuk menyatukan bangsa - bangsa ASEAN ke dalam suatu ikatan masyarakat berbasis ekonomi, mulai diberlakukan.


Apakah MEA itu?
MEA–Masyarakat Ekonomi Asean atau juga disebut AEC (Asean Economic Community) adalah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. MEA dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020, dan telah disepakati oleh seluruh negara anggota ASEAN lebih dari 1 dekade yang lalu.

Apa artinya bagi kita, bagi masyarakat di Negara–Negara ASEAN dan khususnya Indonesia? Itu berarti bahwa Indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif untuk menghadapi persaingan yang akan sangat ketat dan berat. Ketat dan berat karena Indonesia dan negara manapun yang tergabung dalam ASEAN tidak bisa menutup diri dari masuknya barang dan/atau tenaga kerja dari negara ASEAN. Ini bisa dikatakan sebagai awal pemberlakuan WTO beberapa tahun yang datang.

Siapkah kita–Indonesia menghadapi persaingan yang akan dimulai di akhir tahun 2015?[i]
Untuk menjawab pertanyan itu, kita perlu memperhatikan unsur apa saja yang akan dan harus diperhatikan dengan pemberlakuan MEA tersebut. 

Ada empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia.

Pertama, Negara–Negara di kawasan Asia Tenggara akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi agar tidak terjadi hambatan atas pergerakan arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Kedua, MEA dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi tinggi dan memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce agar tercipta iklim persaingan yang adil; ada perlindungan dari sistem jaringan perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan berbasis online.

Ketiga, MEA dijadikan sebagai kawasan perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk meningkatkan kemampuan daya saing dan dinamisme UKM dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan kemampuan sumber daya manusia dalam bidang keuangan, serta teknologi. 

Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi dan bantuan terhadap negara-negara anggota yang kurang berkembang agar terjadi peningkatkan partisipasi Negara Asean pada skala regional termasuk untuk mengintegrasikannya secara global.

Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota–anggota di dalamnya. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang akan menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.

Secara teroritis, bagi Indonesia, MEA akan menjadi kesempatan untuk mengurangi hambatan perdagangan sehingga terjadi peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam di berbagai Negara ASEAN yang dapat dimasuki. Akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi  lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Masyarakat Ekonomi Asean - MEA nantinya tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. MEA juga mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. Keterbukaan ini jelas akan  memunculkan risiko ketenagakerjaan bagi Indonesia dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia. Walau intinya, MEA lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya namun persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat.[ii] Satu hal yang sudah bisa dipastikan, sarjana Indonesia dan tenaga kerja Indonesia pada umumnya akan dan harus bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara ASEAN. Bukan saja di sesama negara ASEAN )luar negeri) tetapi bahkan di dalam negeri sendiri. Apalagi ada kecenderungan bahwa banyak perusahaan (swasta) yang lebih suka menggunakan tenaga asing pada posisi tinggi di perusahaan, karena pada umumnya tenaga kerja Indonesia menjadi lebih patuh bila pimpinannya adalah orang asing. Miris .....

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?
Secara jujur ada kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat. Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung pada mental. Banyak yang belum tahu dan belum siap kalau mereka akan dan harus bersaing dengan tenaga asing, apalagi kalau harus bekerja di luar Indonesia. Sementara di dalam negeri akan banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi. Indonesia tentu tidak ingin "kecolongan" dan tidak boleh kecolongan. Inilah wajah persaingan kerja yang akan dihadapi oleh sarjana baru dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. 

Kita memang tidak perlu berkecil hati dengan persaingan era MEA tersebut. Kondisi ini harus dijadikan sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa sarjana Indonesia, dengan bekal yang sudah diperoleh dari institusi pendidikannya, mampu bersaing bukan saja di dalam negeri tetapi mampu pula masuk mengisi kekosongan tenaga pendidik di Negara – Negara jiran terutama pada Negara serumpun.

Momentum MEA ini juga diharapkan, walau agak terlambat, agar kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi berbenah diri ... mengingatkan pada 134 PTN dan sekitar 4000 PTS untuk berbenah diri, meningkatkan kualitas institusi dan lulusannya. Masa depan Indonesia kini ada di di kedua Kementerian tersebut.

Semoga sarjana dan tenaga kerja Indonesia mampu menjadi tuan di negerinya sendiri sekaligus mampu bersaing dan berdiri tegak, bekerja di negara-negara ASEAN kelak




[i] http://crmsindonesia.org/knowledge/crms-articles/peluang-tantangan-dan-risiko-bagi-indonesia-dengan-adanya-masyarakat-ekonomi
[ii] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec

Senin, 27 Agustus 2007

Upacara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia Tahun Akademik 2007 – 2008 24 – 25 Agustus 2007

Minggu ke 3 bulan Agustus 2007 yang lalu, di tengah kesibukan kerja, ada sms masuk. Isinya singkat …”istri guru besar diundang untuk hadir dalam upacara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru”. Saya cuma membalas singkat saja; “tumben…?!” Maklum, nggak ngerti atau lebih tepatnya, tidak perduli dengan aturan protokoler di kalangan Universitas. Saya pikir, ini cuma ulah iseng suami saja. Dia tahu persis bahwa sesekali, saya ingin menghadiri acara wisuda sarjana. Kangen dengan hiruk pikuk ulah mahasiswa baru dan para wisudawan. Kangen mendengar hymne Universitas

….. Godeamus Igitur…..
…..  ium venes dum sumus …..
………………….
.
…….Viva academia……
…… Viva Professores ………..

Itulah penggalan awal Hymne wajib  di setiap acara resmi Universitas, yang selalu menggetarkan hati. Yang membuat airmata menetes tak terasa. Itu sebabnya, menjelang awal Februari dan September, saya selalu menanyakan, kalau-kalau ada undangan menghadiri acara wisuda.

Tapi, undangan memang hanya dibagikan untuk kalangan terbatas saja. Tidak semua staff pengajar mendapat undangan. Biasanya, hanya kalangan pejabat saja, dari tingkat universitas hingga tingkat Departemen (ketua dan wakil-wakilnya). Dulu, sampai awal tahun 1990an, kepala laboratorium masih mendapat undangan. Jadi saya masih punya kesempatan untuk hadir, “nunut suami”. Itupun seringkali tidak sempat terpakai, karena ada saja teman atau kerabat yang membutuhkan undangan tambahan untuk menghadiri anggota keluarganya di wisuda. Akibatnya, undangan seringkali beralih tangan. Maklum, sebagai “orang dalam”, staff pengajar pasti mendapat tempat yang “enak”, yaitu di dalam Balairung sehingga bisa mengikuti acara secara langsung.

Seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa baik mahasiswa baru maupun wisudawan yang kemudian berdampak kepada ketidakmampuan Balairung Universitas Indonesia menampung “para peminat” acara wisuda dan penyambutan mahasiswa baru, maka undangan internal dibatasi. Rasanya, terakhir saya hadir sekitar 15 tahun yang lalu.

Begitulah, akhir minggu lalu saya menerima undangan untuk menghadiri acara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru. Tidak tangung-tanggung,  3 buah sekaligus. Bukan sekedar undangan yang “nebeng” suami …. tapi betul-betul ditujukan untuk saya. Walaupun …. Hahaha…. tetap saja, sebagai “sub ordinate” karena di sampul surat tertulis kepada yth Ny. RAK. Bukan nama saya sebagai individu.

Duh …., beginilah “nasib” saya kalau lagi back to campus. Kehilangan identitas diri. Seingat saya, baru dua kali saya back to campus sebagai individu. Sebagai diri sendiri….. Keduanya saat diminta “Tiu” jadi reviewer tugas “real estate” mahasiswa Arsitektur.

Itu sebabnya saya nggak terlalu suka ikut kegiatan di kampus karena akses saya memang hanya melalui kegiatan “Dharma Wanita”. Untungnya, sejak awal, suami tidak mewajibkan untuk ikut-ikutan kegiatan tersebut. Bahwa kemudian saya sedikit sekali mengenal istri staff pengajar/karyawan atau karyawati. Tentu ini merupakan konsekuensinya. Tapi nggak apa-apalah … Jadi saya tidak harus merasa “memiliki kekuasaan” yang mengikuti jabatan suami untuk kemudian merasa “kehilangan” saat suami meninggalkan jabatan. Bahkan bila saat datang ke acara family gathering di kampus tanpa ada karyawan yang menyapa ….karena tidak kenal… Hm …. Biar sajalah….!!! Nikmat juga lho jadi anonym!!!
*****

Tahun 2007 ini,  acara wisuda Universitas Indonesia dibagi menjadi 3 bagian. Jum’at siang 24 Agustus jam 15.00 untuk acara Wisuda Sarjana (S1) dan Penyambutan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2007 - 2008, Sabtu 25 Agustus jam 09.00 acara Wisuda Magister (S2) dan Doktor (S3) dan terakhir pada jam 15.00 hari yang sama, acara Wisuda Program Diploma.

Bisa dibayangkan, betapa melelahkannya acara tersebut bagi penyelenggara (Panitya) dan para Pejabat Universitas, yaitu Rektor beserta wakil-wakilnya, Ketua Majelis Wali Amanat - MWA, Ketua Senat Akademik Universitas – SAU serta Ketua Dewan Guru Besar – DGB yang “wajib hadir”. Buat para anggotanya, walaupun mereka mendapat undangan, tentu masih punya pilihan. Hadir atau tidak.
*****

Hari Jum’at itu, adalah hari yang padat sekali. Suami punya acara di sebuah rumah sakit di daerah Kedoya. Sementara saya harus hadir pada weekly meeting di Godila, disambung dengan tandatangan akta di Kuningan. Kalau sempat … dan harus sempat untuk mampir ke kantor, shalat dhuhur sebelum berangkat ke Depok. Suami sudah wanti-wanti …. Hati-hati …. Arah ke kampus UI pasti macet oleh mobil-mobil keluarga para wisudawan. Jadi jangan sampai telat. Minimal 2 jam sebelum acara dimulai, sudah harus berangkat.

Namun …. Kendala selalu ada. Sampai di kantor, sekitar jam 12.30, tidak bisa langsung shalat. Ada banyak masalah yang mesti didiskusikan lebih dulu. Untung pada jam 13.00, suami menelpon. Memberitahu bahwa dia baru berangkat dari Kedoya. Hal ini mengingatkan saya untuk segera shalat dan berangkat setelah mengusulkan bertemu di rumah sebelum berangkat ke Depok, sehingga kami tidak harus menggunakan dua kendaraan berbeda.

Singkat kata, jam 14.30 kami baru memasuki pelataran parkir. Jalan menuju Depok ternyata cukup lancar karena seluruh wisudawan dan mahasiswa baru dengan jaket kuningnya sudah duduk manis di dalam Balairung. Sayangnya, keluarga wisudawan terpaksa duduk di bawah tenda di sekeliling Balairung.

Rektor UI yang baru beberapa hari dilantik, dan para Guru Besar (anak saya selalu menyebutnya “para penyihir”)  sedang bersiap untuk ber – foto – ria sebelum memasuki ruang upacara. Pelayanan tempat duduk cukup ketat. Untungnya, lokasi Area B yang tertera di undangan cukup strategis. Berada di sebelah kiri podium dan kebetulan berdekatan dengan tempat duduk wisudawan Fakultas Teknik. Ibu-ibu yang hadir semuanya berdandan rapi. Berkain – kebaya lengkap dengan sanggul dan perhiasannya. Sementara saya datang dengan pakaian kerja. Bau keringat lagi. ….
*****

Balairung Universitas Indonesia yang secara resmi mulai digunakan sejak tahun 1987 sudah tidak mampu menampung kegiatan rutin setiap semester ini. Bahkan sebagian wisudawan ada yang ditempatkan di bawah tenda. Itu sebabnya wisuda dilaksanakan dalam 3 tahap. Entah bagaimana perhitungan jumlah wisudawan dan mahasiswa yang menjadi acuan saat perencanaan dulu.serta proyeksi peningkatannya. Yang pasti …..Balairung Universitas Indonesia bahkan sudah tidak mampu menampung kegiatan penerimaan Mahasiswa Baru dan Wisuda Sarjana (S1) sekalipun. Kegiatan penting yang menjadi “daftar wajib hadir” para orangtua dan keluarga. 
*****

Tepat jam 15.00, acara dimulai dengan meminta para hadirin berdiri, “menghormati” para guru besar Universitas Indonesia memasuki ruangan upacara yang dipandu oleh seorang pedel. Privilege seperti ini mungkin yang menyebabkan banyak “orang penting” Negara ini merasa “berkewajiban” menyandangkan gelar “professor” di depan namanya. Walaupun professor tanpa pernah tercatat sebagai dosen di suatu Universitas. Padahal, sesungguhnya professor yang guru besar itu hanya layak disandang oleh orang yang berprofesi sebagai dosen. Guru di sebuah universitas. Bukan gelar yang dipakai hanya untuk “bergaya” sebagai bagian dari kaum intelektual universitas.

Hymne Universitas yang menggetarkan hati, lagu Kebangsaan yang dinyanyikan oleh paduan suara mahasiswa, mengheningkan cipta serta pembacaan doa mengawali acara. Lalu upacara wisuda sarjana secara simbolis oleh Rektor kepada para wisudawan, diwakili oleh sepasang wisudawan dari masing-masing fakultas.

Acara yang semula hening mulai riuh karena saat wakil dari setiap fakultas dipanggil naik ke podium, maka para wisudawan dari fakultas tersebut meneriakkan yel-yel yang segera disambut oleh mahasiswa baru dari fakultas yang sama.

Dulu …. Dulu sekali, Fakultas Teknik selalu dikenal sebagai Fakultas yang paling “gaduh namun kompak” dengan yel-yelnya. Namun sekarang, rupanya keadaan sudah berubah. Saat wakil dari Fakultas Teknik naik panggung, biasanya wisudawan lainnya berdiri sambil meneriakkan yel-yel. Namun, kali ini yel-yel diteriakkan wisudawan dengan “ogah-ogahan” tanpa disambut oleh mahasiswa baru. Bahkan, saya menghitung hanya ada 7 baris wisudawan terdepan yang berdiri. Selebihnya tetap duduk tak acuh dengan upacara simbolis tersebut. Kini wisudawan Fakultas Ekonomi dan Fakultas Psikologi yang terlihat sangat kompak. Jaman memang sudah berubah.

Usai wisuda, acara dilanjutkan dengan penerimaan mahasiswa baru yang ditandai dengan pemasngan peci oleh Rektor kepada wakil mahasiswa baru dari Program Internasional dan Program Reguler, penyerahan simbolis “kendi ilmu” dari wisudawan kepada mahasiswa baru dan ditutup dengan pembacaan janji wisudawan, janji mahasiswa.

Acara kemudian ditutup. Rektor dan rombongan guru besar keluar Balairung menuju ruang resepsi, melewati tempat dimana para istri duduk untuk kemudian menuju ruang resepsi. Disana, Rektor dan istri didampingi oleh Ketua MWA dan SAU masing-masing dengan istri menerima ucapan selamat dari para guru besar dan istri serta undangan acara resepsi tersebut, sebelum mencicipi hidangan.

Begitulah singkat kata, Upacara Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia Tahun Akademi 2007 – 2008 yang diselenggarakan di Balairung UI – Depok. Saya tidak menghadiri Wisuda Program Magister dan Doktor serta Wisuda Program Diploma pada hari Sabtu. Beberapa fakultas, masih melanjutkan acara wisuda di fakultas masing –masing. Namun kali ini, Fakultas Teknik tidak menyelenggarakannya.

Menjelang maghrib, keriuhan acara masih terasa …. Sesi foto dengan keluarga, dosen pembimbing, teman-teman dan tak lupa dengan pacar terkasih, terlihat disana – sini. Ada tawa gembira menyeruak dari setiap sudut. Semua bahagia … semua gembira ….. melupakan sejenak bahwa wisuda adalah awal dari perjuangan hidup yang sebenarnya di masyarakat.

Lebak bulus, minggu 26 Agustus 2007

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...