Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2016

Namanya Pasukan Oranye

Jakarta setelah Ahok jadi gubernur, banyak ditemukan pasukan oranye bergerombol di jalan atau masih berada di atas mobil bak. Kelihatannya, mereka akan disebar di berbagai wilayah di seputar Jakarta. Konon kabarnya, sekarang setiap kelurahan mendapat "jatah" pasukan oranye yang akan membantu membersihkan selokan-selokan maupun kebersihan lingkungan.

Sebetulnya, keberadaan pasukan oranye ini, bukanlah tiba tiba. Sudah bertahun-tahun mereka melayani kebersihan jalan, kalau tidak salah dengan identitas PT. SOR. Mungkin PT. SOR itu (kalau tidak salah) adalah pemasok pasukan oranye ini. Hanya saja eksistensi mereka hanya terasa terutama seminggu menjelang idul fitri. Manakala kaum muslimin umumnya sangat bermurah hati "menebarkan" sedekah. Itupun, biasanya cuma muncul di wilayah jalan protokol, seolah-olah rajin menyapu jalan.

Para pemuda di balik rompi oranye itu adalah petugas Pelayanan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU)yang kini memberi andil menjaga kebersihan Jakarta. Tak hanya membersihkan sampah, beberapa pekerjaan lain juga dilakoni. Jangan heran bila melihat mereka juga membantu mengevakuasi pohon tumbang, memperbaiki jalan, hingga membongkar bangunan yang dianggap mengganggu. Mereka direkrut kelurahan secara khusus untuk membersihkan jalanan hingga gorong-gorong mampet. Alasannya, petugas kebersihan dinilai belum bekerja secara optimal. Meski hanya bertugas sebagai pekerja kebersihan, mereka harus memenuhi syarat dan melewati sejumlah seleksi. Usia minimal 18 tahun dan maksimal 58 tahun. Latar belakang pendidikan tak jadi soal. Syarat lain, harus memiliki KTP DKI Jakarta. Peran mereka semakin penting ketika masuk musim penghujan. Mereka harus bergerak cepat mengecek titik genangan dan memastikan saluran dan pompa air dalam keadaan baik. 

Sejak pagi, berbekal sekop garpu, sapu lidi, cangkul, karung dan peralatan lainnya, petugas PPSU mulai mengecek tumpukan sampah yang berserakan jalanan. Setelah menyapu dan memasukkan sampah dalam karung, mereka mengecek saluran air dan selokan. Panas, hujan dan bau bukan kendala berarti buat mereka. Terpenting semangat dan kerja kompak membereskan tugas yang dibebankan pimpinan.

Bekerja sebagai tenaga PPSU pasti sangat melelahkan. Namun kondisi ini tentu lebih baik dibandingkan dengan hanya menjadi pengangguran baik bagi bujangan apalagi buat mereka yang sudah berumah tangga. Semua tentu harus bekerja keras. Bagi mereka yang  telah berumahtangga, salad satunya agar dapur tetap ngebul karena istri dan anak-anak harus diberi makan. Belum lagi pendidikan untuk anak-anak.

Minimal, dengan menjadi anggota PPSU, mereka akan menerima gaji tetap untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi, gaji tidak pernah telat dibayarkan.

"Gaji UMP Rp 3,1 juta per bulan. Kadang-kadang ada makan 2 kali (Bonus). Kadang-kadang juga dapat Rp 50.000 per hari". Konon begitu yang mereka terima.

Selain UMP sebesar 3,1 juta per bulan, anggota PPSU juga dapat tambahan berupa BPJS kesehatan, BPJS ketenagakerjaan dan lain-lain.Bagi petugas yang sudah punya anak, Pemprov DKI juga memberikan fasilitas KJP supaya anaknya bisa bersekolah. Pasukan oranye juga layaknya pegawai lainnya, tiap hari raya mereka menerima THR sebesar 1 kali gaji dan mereka juga mendapat prioritas untuk tinggal di Rusun dan dapat naik TransJakarta gratis. 

Rupanya, jaket oranye jadi berkah buat orang2 kecil yang semula jadi pengangguran, sehingga mereka memperoleh penghasilan rutin dengan cara bersih2 (selokan) kota.


Tapi di lain pihak, ada juga orang yang mengenakan jaket oranye yang malah kehilangan penghasilan rutinnya justru karena bersih2 tikus pengerat kocek pemerintah oleh kpk
Kata kuncinya adalah seragam oranye dan bersih2.... Kesemuanya adalah niat untuk membersihkan lingkungan agar Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Yang pasti ternyata ke dua golongan itu senang2 aja tuh.... Lihat deh foto2nya... Semua tertawa senang... Malah, justru yang dapat penghasilan rutin, yaitu para anggota PPSU terlihat lebih lusuh dan berkeringat dibanding yang kehilangan penghasilan rutin, yang dicokok oleh kpk.
Yang terakhir ini, tetap semringah tanpa beban.... Dalam hitung-hitungan ekonominya, walau mungkin terkuras untuk membayar pengacara dan denda,  masih untung....
Kecuali kalau diujung perjalanannya nya mereka bertemu Artijo Alkostar....
Semangat di hari senin sore...

Selasa, 29 Maret 2016

Pedagang Kue Semprong

kue semprong
Anak-anak jaman sekarang mungkin tidak ada yang tahu wujud asli jajanan sehari-hari yang dikenal sebagai kue semprong, walau dalam bentuk modern banyak dijual di toko swalayan dengan kemasan kaleng atau kotak karton dengan beragam varian bentuk dan diisi krem, biasanya coklat, mocca atau strawberry.

Makanan "kampung" yang asli, memang sudah jarang ditemukan atau dijajakan. Mungkin karena kemasannya yang sangat sederhana, apalagi kalau penjualnya kumuh, kurang menggugah selera walau harganya relatif murah. Saya tidak tahu apakah harga 12.000 rupiah sudah termasuk mahal untuk sekantong kue semprong berisi sekitar 30 buah. Kita sudah yang terlanjur lebih kenal dengan kue semprong modern  yang dinamai Rolls dalam kemasan modern dan beragam rasa dan tentunya dengan rasa yang lebih enak dan berkelas. Ada rasa dan kualitas.... tentu ada harga yang harus dibayar.

Beberapa tahun yang lalu, kami biasa membeli kue semprong di pelataran parkir, tepatnya di depan tangga masuk bagian samping Lotte Mart di bekas gedung d'best jalan RS Fatmawati. Pedagang yang kurus kering dengan wajah memelas, menawarkan dagangannya kepada orang yang lalu lalang, keluar masuk melalui tangga tersebut. Entah berapa banyak orang yang berminat membeli dagangannya, karena setiap kami belanja ke Lotte Mart tersebut, dagangannya masih bertumpuk di pikulannya. Padahal, hari sudah cukup larut. Hampir jam 21.00. Sedih rasanya melihat wajahnya yang memelas, berharap ada yang berminat membeli kue semprong yang dibawanya dari kawasan Cengkareng. Betapa berat perjuangannya mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarganya, yang konon ditinggalkannya di kampung.
 
kue semprong modern alias ROLLS

Sejak kami pindah menjauh dari wilayah jalan RS Fatmawati menuju wilayah perbatasan Jakarta Selatan, kami tentu saja tidak lagi berkunjung ke Lotte Mart di pertigaan jalan RS Fatmawati dan jalan Cipete Raya. Ada rasa sedih, tidak lagi bisa menjumpai pedagang kue semprong yang belakangan juga menjual rempeyek kacang dan rempeyek teri. Bukan karena senang melihat "kemiskinan dan kesusahan"nya dalam upaya mencari sesuap nasi .... tapi jujur harus diakui, ada rasa senang melihat wajah sumringahnya manakala melihat kami berkunjung ke pasar swalayan tersebut. Sepertinya, tergambar seraut asa di wajahnya. 

Sekarang, untuk sengaja berkunjung kesana, memang agak berat dan membuat malas. Selain lokasinya yang cukup jauh dari rumah (15km), proyek pembangunan MRT yang sedang dikerjakan di sepanjang jalan RS Fatmawati, membuat jalan tersebut sangat tidak nyaman dilalui. Selain sempit dan sangat macet, permukaan jalannya juga sangat tidak nyaman dilalui

Selama beberapa bulan ini, sambil pulang dari kantor, saya terkadang menyempatkan diri mampir di Total Buah Segar - jalan Ampera Raya untuk membeli buah-buahan dan ovomaltine yang disukai anak. Agak kaget juga melihat di depan pintu masuk, ada pedagang pikulan yang menjual kue semprong dan rempeyek. Sebagaimana rekannya yang saya temui di Lotte Mart ex d'best... dagangannya masih terlihat utuh menumpuk. Bagaimana tidak, di dalam Total Buah Segar, ada juga dijual rolls - kue semprong modern dan rempeyek kacang dan teri yang jauh lebih menggiurkan baik ditinjau dari rasa, kualitas dan kemasannya, walau tentu saja ada "harga" yang harus dibayar lebih. 


begini tampilan pikulannya
Wajah "kumuh" si pedagang tentu mengurangi nilai jual barang dagangannya. Ingin rasanya memberi tahu bahwa, dia salah memilih tempat berdagang. Seharusnya, mungkin lebih cocok berkeliling atau berdagang di halte atau terminal. Pengunjung Total, umumnya masyarakat dari golongan menengah ke atas yang biasanya mulai menilai segala sesuatunya dari tampilan dan rasa yang tercakup dalam kualitas. Tapi .... mana tega saya menyampaikannya? Bukannya membantu, malah "melarang"nya berjualan di tempat itu ... Wong yang punya toko nggak melarang, kok .....

"Tinggal dimana pak...", tanya saya sambil menimang bungkusan untuk membeli kue semprong dan rempeyeknya. Siapa yang mau memakannya di rumah, itu nomor dua. Selain ngeri dengan "gosip" penggunaan kantong plastik untuk membuat renyah gorengan, kami memang sudah mengurangi memakan makanan gorengan. Yang penting ... beli dulu dagangannya ... Biar si pedagang memiliki harapan, hehe ...
"Di Cikarang bu ...", jawabnya
"Hah .....? Jauh banget ... Naik apa kesini...?"
"Iya bu ... apa boleh buat, nanti pulang naik angkot.."

Waduh ...... entah jam berapa dia akan tiba di rumah nanti. Entah kapan juga dia akan meninggalkan lokasi tempatnya berdagang. Saat saya meninggalkan lokasi, jarum jam baru menunjukkan angka 19.30. Dagangannya masih banyak. Terbayang betapa jauh dan macetnya jalan menuju Cikarang ... Naik angkutan umum pula... Mungkin masih butuh waktu sekitar 3 jam untuk tiba di rumah......



Rabu, 15 Oktober 2014

MENILAI DENGAN JUJUR

Era social media pada abad ke 21 dan ditunjang dengan era keterbukaan dan demokrasi di Indonesia menyuburkan keberadaan netizen. Masyarakat memiliki media untuk mengekspresikan segala yang ada di pikiran dan hatinya dalam bentuk tulisan yang bernada positif maupun negatif serta dalam bentuk foto. Tulisan tersebut juga mencakup kritikan pedas/pujian, saran, makian kasar terutama kepada pemerintah yang tidak disukai dan bahkan tulisan berupa fitnah keji. Hal terakhir ini banyak terjadi pada masa kampanye pilpres 2014 yang baru lalu. Yang bekas-bekasnya masih terasa hingga saat ini.

Tulisan berisi fitnah memang sudah mulai mereda ... untuk tidak atau belum bisa dikatakan berhenti. Yang belakangan ini menonjol adalah penolakan terhadap rencana pengangkatan Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur DKI Jakarta yang dilakukan oleh segelintir masyarakat dengan membawa label agama. Penolakan dengan alasan bahwa Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta yang sebelumnya menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta beragama non muslim.

Tentu menjadi sangat menyedihkan bahwa hal ini terjadi di ibukota negara yang diandaikan bahwa penduduknya lebih berpendidikan, terbuka alias open minded, heterogen dan lainnya yang seharusnya mencirikan strata sosial-ekonomi-politik dan budaya lebih tinggi dibandingkan dengan bagian wilayah manapun di Indonesia. tapi.... itulah yang terjadi.

Di luar isu agama, Ahok - panggilan Plt Gubernur DKI Jakarta ini, bersama Presiden RI terpilih Joko Widodo dilanda beragam isu negatif berkenaan (tentu saja) masalah pengelolaan pemerintahan mereka di DKI Jakarta yang ujung-ujungnya berkaitan dengan pengelolaan dana. Mereka dituduh korupsi .... Begitu bahasa jelasnya.

Saya tidak ingin menyoroti masalah tuduhan itu karena memang tidak memiliki bukti baik untuk membenarkan ataupun membantah tuduhan itu, tapi hanya ingin menuliskan pengalaman dan pengamatan atas perubahan yang terjadi di Jakarta selama masa pemerintahan pasangan Jokowi - Ahok yang baru mau memasuki tahun ke 3 ini.

Saya lahir di Jakarta namun besar di daerah. Masa kuliah saya lewati di Jakarta, namun setelah menikah saya keluar lagi dari Jakarta dan baru kembali masuk ke Jakarta pada tahun 2000. Jadi sudah masuk tahun ke 15 saya kembali bermukim di wilayah DKI Jakarta.

Jakarta tentu banyak mengalami perubahan fisik. Gedung bertingkat modern tumbuh memenuhi seluruh wilayah DKI Jakarta bahkan berimbas ke kota-kota/wilayah yang berbatasan langsung dengan Jakarta seperti Bekasi-Tangerang dan Depok. Di balik semua perkembangan dan pertumbuhan tersebut, ada satu kehilangan yang mencirikan pembangunannya. Pada era pemerintahan ALI SADIKIN, perkembangan dan pembangunan kota ditujukan untuk kepentingan masyarakat. Bang Ali membangun gelanggang remaja dan kolam renang di 5 wilayah Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pemindahan kebun binatang dari kawasan Cikini ke Ragunan, pembangunan TMII, Taman Impian Jaya Ancol, Pusat Perfilman Usmar Ismail, Gelanggang Mahasiswa dan banyak lagi.  Itu hanya sebagian hasil kerja bang Ali Sadikin.

Pada masa itu beragam pembangunan fasilitas kota ditujukan bagi masyarakat umum non komersial. Kalaupun ada tiket masuk, maka harga tiketnya adalah minimal. Berbeda dengan era selanjutnya, pekembangan dan pembangunan fasilitas kota lebih banyak dilakukan oleh kalangan swasta dan tentunya dengan tujuan komersial. Bahkan ..... beberapa fasilitas umum milik Pemda DKI saat ini malah dikuasai dan dikelola swasta.

Selama masa 15 tahun tinggal di kawasan Jakarta Selatan, baru pada masa pemerintahan Jokowi-Ahok saya melihat, merasakan dan menikmati mulusnya jalan raya dari rumah ke kantor serta beberapa jalan raya lainnya. Mengapa ...? Karena jalan rusak yang semula dan biasanya hanya diperbaiki secara sporadis dan setempat, sejak ditangani oleh Jokowi-Ahok diperbaiki dan dilapis ulang sepenuhnya. Bukan lapis ulang hotmix sekedarnya tetapi betul-betul lapisan ulang standard setebal 5cm. Darimana mereka memilik dana? Padahal kita sama tahu bahwa APBD DKI Jakarta sempat "dijegal" oleh DPRD.

Pemda DKI di bawah kepemimpinan Jokowi memang menuai banyak kritik misalnya karena penyerapan APBD rendah, tidak lagi memperoleh Adipura, penilaian "buruk" BPK atas audit keuangan, kegagalan proyek pemesanan bus transJakarta yang memupus keberhasilan program prorakyat lainnya yang dilaksanakan mereka.

Adalah suatu hal yang aneh, bagaimana pemda membiayai beragam programnya sementara penggunaan APBD, katanya terserap rendah. Ahok juga menyikapi dengan santai "kegagalan" Jakarta Pusat meraih Adipura untuk ke 3 kalinya karena dia menganggap bahwa seluruh wilayah DKI Jakarta memang belum layak menerima Adipura. Ini adalah jawaban yang sangat jujur ... karena memang, wilayah DKI yang layak dianugerahi Adipura hanyalah wilayah jalan protokol dan kawasan perumahan elite.

Jokowi dan kini Ahok yang belum juga dikukuhkan sebagai gubernur DKI Jakarta memang tidak luput dari kekurangan..... tapi saya percaya bahwa dia punya niat tulus membangun DKI Jakarta. Keberhasilannya kelak dalam membangun DKI Jakarta sangat mungki menjadi "tiket: buat Ahok merambah posisi lebih tinggi, sebagai presiden RI.... Kenapa tidak, kalau memang dia bisa dan mampu membuktikan keberhasilannya ....?

Jumat, 02 Mei 2014

PLINTIRAN WARTAWAN atau KEDANGKALAN PENGETAHUAN?

Monumen Nasional di malam hari
Hari ini, Jum'at 2 Mei 2014, dalam harian Kompas halaman 26, di bawah judul "DKI Ambil Alih Proyek Bank Dunia, M Sanusi, salah satu anggota dprd dki Jakarta dan Ucok Sky Khadafi, Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran mengemukakan tanggapan yang lebih berisi keberatan-keberatan tentang rencana pemda dki Jakarta mengambil alih/refinancing (?) 2 dari 7 paket pekerjaan pengerukan sungai di wilayah dki Jakarta.

Pekerjaan pengerukan sungai tersebut didanai dari pinjaman bank dunia senilai +/- Rp.1,5 trilyun melalui proyek yang dinamai Jakarta Emergency Dredging Initiative. Masih menurut harian tersebut, sebagian dana pinjaman tersebut disalurkan melalui pemda dki Jakarta dan sebagian lagi disalurkan melalui Kementrian Pekerjaan Umum. Pemda dki menginginkan agar penyelesaian proyek dipercepat dari 5 tahun menjadi hanya 2 tahun saja dengan pola pendanaan yang akan diatur oleh pemda dki sendiri.

Mereka, anggota dprd tersebut dan Ucok berdalih bahwa pengalihan pendanaan proyek tersebut harus seijin dprd. Lebih jauh lagi, mereka berpendapat bahwa pengambil-alihan tersebut mencederai komitmen pada bank dunia. M Sanusi juga mengatakan bahwa kepercayaan bank dunia kepada pemda dki bakal hilang. Ditakutkan, pemda dki bakal kesulitan bila kelak suatu saat membutuhkan pinjaman dari bank dunia.

Jakarta, ternyata cantik juga
Pemerintah dki sendiri, tentu memiliki alasan mengapa mereka berani mengambil keputusan tersebut. Termasuk juga sudah memperhitungkan darimana sumber dana pengganti pinjaman bank dunia.
Butir pertama dari keberatan kedua orang tersebut, entah merupakan pendapat instansinya masing-masing atau pendapat pribadi, yaitu  tentang persetujuan dprd dki, sangat bisa dimengerti dan diterima akal sehat.

Persetujuan dprd tentu dimaksudkan agar pemda dki Jakarta tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Agar pengambil-alihan pinjaman (refinancing?) menjadi lebih terarah sumber dan penggunaan dananya serta syarat-syarat pengalihan pinjaman, yaitu bila dana pengganti berasal dari pinjaman institusi bank lainnya, tidak memberatkan. Akan lebih baik lagi bila prasyaratnya lebih ringan dan menguntungkan bagi pemda dki serta seluruh pemangku kepentingan (stake holder) di wilayah dki Jakarta. Intinya supaya tidak gegabah dan merugikan.

Ini praktek biasa yang berlaku juga di perusahaan swasta. Wewenang eksekutif dibatasi dalam hal meminjam dan menjaminkan aset perusahaan, yaitu harus dan wajib ada persetujuan dewan komisaris perusahaan atau para pemegang saham. Jadi .... kalau kedua orang tersebut mewajibkan agar pemda dki meminta persetujuan dprd, wajarlah .... Asal dalam permintaan persetujuan tersebut, dprd tidak mempersulit dan merongrong dengan segala macam "amplop" seperti yang konon biasa dilakukan.
Jakarta di malam hari
Butir ke 2, yaitu pendapat bahwa refinancing bakal mencederai komitmen kepada peminjam dan ketakutan suatu waktu kelak akan mendapatkan kesulitan saat memerlukan pinjaman bank dunia. ini betul-betul pendapat yang sangat aneh bin ajaib ·····

Mungkin, pemberi komentar, tidak paham atau tidak pernah berurusan dengan bank terutama dalam hal pinjam meminjam. Maklum ... anggota dprd memang umumnya kaya raya berlimpah uang. Jadi secara pribadi tentu tidak memerlukan pinjaman uang. Apalagi kalau latar belakangnya bukan pengusaha. Bisa jadi urusannya cuma buka deposito saja. Atau bahkan sama sekali enggan berurusan dengan bank, takut transaksi keuangannya terendus PPATK dan kemudian berujung ke KPK.

Sebagai peminjam, pemda dki mempunyai hak mengevaluasi syarat-syarat pinjaman. Kalau pada saat awal pinjaman, untuk suatu alasan tertentu yang kita semua sama sekali tidak tahu, pemda "terpaksa" menerima syarat berat dari bank dunia, maka seiring dengan waktu berjalan, saat harus memperpanjang perjanjian pinjaman yang umumnya dilakukan setiap tahun, peminjam bisa meminta perubahan syarat/kondisi pinjaman sebelum menandatangani perpanjangan pinjaman. Kalau tidak ada titik temu atas permintaan perubahan syarat dan kondisi, tentu ..... boleh saja pemda/peminjam mencari sumber dana lain/pinjaman dari bank lain yang persyaratannya lebih ringan/baik untuk men "take over/refinancing" pinjaman tersebut. Kondisi ini juga merupakan praktek yang biasa dan sangat umum di dunia usaha/perbankan. Jadi .... dimana letak kesalahannya?

mungkin ini salah satu lokasi proyek
Takut kalau suatu saat pemda dki memerlukan pinjaman akan mendapat kesulitan...? Pendapat ini rasanya menyiratkan ketidaktahuan "komentator" atas praktek pinjam-meminjam di dunia perbankan. Bank manapun juga, sangat takut kehilangan nasabah terutama nasabah dengan track record yang baik. Antara lain .... peminjam memiliki sumber-sumber pengembalian pinjaman yang jelas serta collateral alias jaminan yang memadai. Dengan demikian yang bersangkutan mampu serta patuh membayar pokok pinjaman dan bunga. Bank hidup dan berkembang dari bunga dan provisi pinjaman .... Kehilangan nasabah, pasti akan merugikan bank.

Jadi jelas .... untuk pinjaman kelas berat yaitu yang nilai pinjamannya luar biasa besarnya, justru bank yang ketakutan. Kemacetan pengembalian pinjaman (non performing loan) pasti akan sangat mengganggu operasional bank. Percayalah .... Bank akan bersikap sangat lunak pada nasabah premium semacam itu.

Ketakutan paling besar dari bank adalah kalau pinjamannya tidak dilunasi ... Jadi, daripada macet ... bank akan melakukan penjadwalan kembali pembayaran hutang. Yang penting nasabah mampu mencicil pinjaman beserta bunga. Jadi kalau pinjaman dilunasi lebih cepat ... tentu akan lebih baik, terutama kalau nasabahnya agak "nakal". Daripada kreditnya dikemplang ... dibawa kabur....

Banjir yang selalu dikeluhkan
Kalau nasabah premium yang patuh dan punya kemampuan bayar yang tinggi ... justru bank takut kehilangan ... Takut kalau sang nasabah pindah ke lain hati ... Maka ... mati-matian bank akan berusaha agar si nasabah tidak melunasi pinjamannya. Malah, bukan tidak mungkin peminjam akan diiming-imingi bunga rendah dan tenggat waktu pengembalian yang sangat panjang. Istilah umumnya adalah pinjaman lunak.
Bukankah dalam skala kecil, kita juga sering mendapat tawaran langsung melalui telpon, surat atau sms, untuk mengalihkan tagihan kartu kredit kita ke bank lain dengan iming-iming bunga lebih rendah, berbagai kemudahan serta mungkin juga hadiah. Sekali lagi····· ini praktek lumrah dalam dunia perbankan.
Menjadi aneh bila anggota dprd dan direktur investigasi dan advokasi forum Indonesia untuk transparansi anggaran tersebut seperti mencurigai dan mungkin mempersulit rencana pemda dki mengambil alih/refinancing tersebut dengan dalih menyalahi komitmen dengan bank dunia. Apakah mereka tidak mengerti praktek umum perbankan atau ada plintiran wartawan atas masalah ini. Kalau melihat media yang mewartakannya, rasanya mustahil ada plintiran wartawan dalam pemberitaannya.

Seharusnya .... baik dprd dan forum Indonesia untuk transparansi anggaran meminta pemda dki menjelaskan rencana tersebut sekaligus menanyakan plus/minusnya refinancing. Dukung kalau hal itu memang lebih menguntungkan ······ Yang begini lebih cerdas .... dan memang seharusnya begitu ...!!!
Jangan menjegal tanpa alasan yang jelas dan malah memperlihatkan betapa konyolnya pendapat mereka.

Rabu, 19 Maret 2014

Musuh Bersama Partai Politik Indonesia di tahun 2014

Hari ini, Rabu 19 Maret 2014, saya baca berita di harian Republika bahwa Pendiri Pusat Data Bersatu - PDB, Didik J Rachbini yang profesor itu menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi meninggalkan banyak masalah di Jakarta. Pendapat ini dilontarkan dalam diskusi "Nasib Jakarta pasca Jokowi", dan pendapat/kesimpulan itu diambil dari data riset yang dilakukan PDB pada bulan Oktober 2013.

3 masalah besar yang ditinggalkan Jokowi bila yang bersangkutan terpilih menjadi presiden Republik Indonesia ke 7 pada pemilihan presiden 2014 yang akan datang antara lain macet, banjir dan pengangguran. Menurut saya, pendapat Ini bisa dikategorikan sebagai penyesatan opini yang luar biasa. 

Siapapun tahu bahwa kemacetan Jakarta sudah terjadi sejak lama. Itu sebabnya pada akhir pemerintahan Sutiyoso, dia membangun jaringan bus Trans Jakarta koridor 1 Blok M - Kota dan angkutan air dari Manggarai menyusuri kali sepanjang jalan sultan Agugung hingga di samping gedung BNI. Pada masa pemerintahan Fauzi Bowo, pembangunan koridor Trans Jakartapun dilanjutkan berikut dengan rencana pembangunan Monorail yang sampai sekarang masih berupa kerangka terbengkelai. Walaupun kemudian angkutan air menjadi tidak jelas kelanjutannya. 


Akan halnya MRT yang sejak lama didengungkan dan bahkan sudah ada dalam Rencana Umum Tata Ruang - RUTR Jakarta 65-85 tak kunjung dibangun, justru mulai dilakukan pembangunannya awal tahun 2014 ini. Pada masa pemerintahan Jokowi-Ahok. Jangan dilupakan pula bahwa pada saat Jokowi-Ahok mulai membenahi transportasi Jakarta dengan "segudang" rencana, pemerintah pusat melalui Departemen Perindustrian malah memberi ijin bagi pemasaran low cost green car - LCGC yang lantas memicu pertumbuhan luar biasa atas penjualan mobil "murah" tersebut. 


Bagaimana mungkin menimpakan kemacetan akibat peningkatan laju penjualan mobil kepada gubernur kepala daerah. Bahwa ada kelambanan pertumbuhan infrastruktur kota, itu pasti. Tapi dalam upaya mengurangi kemacetan Jakarta, selain harus membangun jaringan transportasi massal juga harus dibarengi dengan kebijakan nasional mengenai transportasi umum. Untuk kota besar patut diingat sekali lagi .... harus dibangun jaringan transportasi massal...... bukan infrastruktur untuk kendaraan pribadi berupa jalan raya/jalan layang baik berbayar atau tidak.

Berkenaan dengan banjir, mungkin perlu diingatkan lagi bahwa pembangunan besar-besaran pada akhir 80 sampai dengan sebelum masa krisis moneter, dimana pertumbuhan property di Indonesia sangat tinggi menyebabkan peraturan bahwa kawasan Puncak (Bopunjur) yang seharusnya dikelola sebagai wilayah penyangga hujan, berubah total dan malah dipenuhi dengan pembangunan kawasan villa/perumahan demi yang namanya pertumbuhan ekonomi atau kongkalikong antara pejabat dengan pengusaha. Belum lagi perkembangan tidak terkendali di seluruh wilayah Jakarta. Wilayah Jakarta Selatan yang seharusnya merupakan wilayah pemukiman "hijau", yaitu wilayah pemukiman yang sekaligus merupakan wilayah penyangga air hujan dengan koefisien dasar bangunan - KDB hanya 20%, sudah semrawut. 


Jakarta Selatan tumbuh menjadi wilayah pemukiman "elite" dan mahal. Berbagai kluster perumahan yang menamakan diri sebagai townhouse dengan luas kavling di bawah 150 meter menjamur bahkan hingga ke wilayah perkampungan dengan lebar jalan hanya 4-5 meter saja. Hal ini tentu memperkecil

area resapan air hujan karena kavling kecil seluas di bawah 150m tidak mungkin dibangun hanya dengan KDB 20%. Kluster-kluster ini tentunya menjadi beban buat pemerintah, karena dengan kecilnya luas "pengembangan" lahan, maka si pengembang yang pada umumnnya menyiasatinya dengan memakai nama pribadi menjadi terbebas dari kewajiban penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Kalau sudah begini ... tentu ada yang tidak beres pada instansi pemberi ijin. Penyimpangan pembangunan fisik seperti ini sudah berlangsung jauh sebelum Jokowi - Ahok menduduki jabatan tertinggi di DKI Jakarta.

Pembangunan di Indonesia pada umumnya tidak pernah dilakukan secara terpadu tetapi hanya dilakukan pada satu bidang, yaitu pembangunan fisik. Kita melupakan bahwa pengelolaan, penjagaan dan mempertahankan keseimbangan lingkungan dengan tetap mempertahankan lahan hijau entah secara mikro (perkotaan) ataupun secara makro dalam tata ruang nasional juga merupakan pilar pembangunan. Bahwa kerusakan alam yang kemudian berakibat kepada makin seringnya terjadi musibah alam berupa banjir, longsor dan sebagainya adalah akibat ketidakmampuan kita menjaga dan mempertahankan keseimbangan lingkungan. Pola pikir bahwa pembangunan adalah menambah sarana, prasarana dan bangunan secara fisik namun mengabaikan dan tidak mempedulikan keseimbangan lingkungan secara makro.

Begitu juga dengan masalah pengangguran di Jakarta.....

Rasanya amat sangat lucu menimpakan semua kesalahan dan berbagai masalah aktual di Jakarta kepada Jokowi. Siapapun tahu bahwa Jokowi - Ahok baru 1,5 tahun menduduki jabatan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dan selama itu sudah banyak pembenahan yang dilakukannya. Itupun dengan banyak gangguan dan hambatan bukan saja oleh masyarakat yang "kenyamanan dan peruntungannya" terganggu. Gangguan itu bahkan dilakukan oleh segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai wakil rakyat di DPRD dan mengatasnamakan kepentingan rakyat secara membabi-buta.

Lha .... apakah prestasi gubernur sebelumnya memang lebih spektakuler daripada apa yang dilakukan pemerintahan Jokowi - Ahok sehingga mereka seolah tidak berdosa atas kesemrawutan yang ada di Jakarta? Atau apakah "kerusakan" yang ada di Jakarta dan perusakan selanjutnya hanya terjadi pada 1,5 masa pemerintahan Jokowi-Ahok?

Saya bukan pendukung Jokowi tapi saya sebal betul kalau ada orang pintar bergelar profesor pula memberikan opini menyesatkan dan membodohi rakyat.... Apalagi pendapat ini dilontarkan setelah Joko Widodo ditunjuk partainya sebagai calon presiden RI pada pemilihan raya yang akan datang.

Nuansa pesanan, kampanye hitam dan pembunuhan karakter Joko Widodo terlalu nyata untuk diabaikan dan ironinya hal ini dilakukan oleh "orang pintar"

Selasa, 03 April 2012

FRUSTASI JAKARTA

Wacana untuk memindahkan fungsi ibukota Negara dari Jakarta ke tempat lain selalu timbul tenggelam. Tapi, hampir dipastikan kalau pejabat pemerintahan DKI Jakarta akan ramai – ramai menolak dengan alasan pemindahan ibukota tidak akan mengurangi kemacetan dan banjir.

Alasan ini memang masuk akal dan betul sekali pemindahan fungsi ibukota Negara tidak akan menyelesaikan problematika Jakarta yang sudah carut marut. Masalah mendasarnya adalah pertumbuhan Jakarta sudah melewati daya dukung wilayahnya dilihat dari berbagai segi.

Lihat saja dari jumlah penduduk, kalau saja semua orang yang bekerja di Jakarta harus bertempat tinggal juga di Jakarta, maka kepadatan kota menjadi sangat tinggi. Jumlah rumah yang dibutuhkan pasti tidak akan bisa ditampung dalam wilayah Jakarta yang cuma secuil. Itu sebabnya perumahan melebar ke pinggiran/wilayah Jabodetabek. Sudah begitupun, fasilitas kota (air – listrik – sanitasi kota, pembuangan sampah), transportasi dll untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak tetap belum bisa terpenuhi dan menurut saya tidak akan pernah terpenuhi dalam 1 – 2 dekade lagi.


Saat saya kembali masuk dan bertempat tinggal di Jakarta 12 tahun yang lalu, jarak 8km dari rumah ke kantor, masih dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja - pada saat peak hours. Sekarang......? Yup ..... 8km masih bisa ditempuh dalam waktu, tapi....... itu hanya bisa terjadi antara jam 00.00 - 05.30 saja. Lewat dari waktu itu .... tak kurang dari 1 jam. Bahkan seringkali saya harus menempuhnya lebih dari 2 jama kala terjadi paduan antara hujan, banjir, peak hours dan sudah pasti akibatnya kemacetan yang luar biasa...
Kalau memang fungsi Jakarta sebagai ibu kota Negara, secara politis untuk kepentingan warga/pemerintah daerah dan lain - lain yang mengecap berbagai privilege sebagai bagian dari “orang pusat” enggan ditanggalkan, kenapa tidak memindahkan saja fungsi Jakarta sebagai Pelabuhan utama (Tg Priok) ke wilayah lain. Sebut saja misalnya Batam atau Makasar dijadikan Pelabuhan Utama di Indonesia. Dengan demikian minimal arus lalu lintas dan segala keribetan kegiatan pelabuhan tidak menumpuk di Jakarta dan Jakarta hanya ditujukan sebagai kota pelayanan jasa (keuangan – IT – perdagangan dll). Kan banyak contohnya seperti Perancis dengan kota pelabuhan Marseille, yang letaknya jauh di selatan Paris. Belanda yang beribukota di Den Haag dengan Rotterdam sebagai pelabuhan utama, Jerman yang beribukota di Berlin dengan Hamburg sebagai pelabuhan utamanya.

Kita berharap karenanya, pelayaran domestik akan berkembang dan hidup (kan katanya nenek moyangku orang pelaut…), ada gairah untuk kemajuan di wilayah lain dan industri yang «memberatkan» pulau Jawa akan pindah mendekati «pusat» ekonomi baru.

Ya… sekedar unek2 dari orang yang frustasi karena kemarin sore saya harus menempuh 2 jam untuk jarak 8 km saja…. dan saat mau keluar lagi membeli roti untuk sarapan pagi, saya dihadang kemacetan hanya berjarak 100 meter dari rumah. Untung ...., masih bisa memutar kendaraan, kembali ke rumah...! 


Jakarta.... oh Jakarta...... 
salam

Selasa, 26 Oktober 2010

Frustasi Jakarta

Bulan2 lalu, ada wacana untuk memindahkan fungsi ibukota Negara dari Jakarta ke tempat lain. Ramai – ramai ditolak dengan alasan karena pemindahan ibukota tidak akan mengurangi kemacetan dan banjir.

Alasan ini memang masuk akal dan betul sekali pemindahan fungsi ibukota Negara tidak akan menyelesaikan problematika Jakarta yang sudah carut marut. Masalah mendasarnya adalah pertumbuhan Jakarta sudah melewati daya dukung wilayahnya dilihat dari berbagai segi.

Lihat saja dari jumlah penduduk, kalau saja semua orang yang bekerja di Jakarta harus bertempat tinggal juga di Jakarta, maka kepadatan kota menjadi sangat tinggi. Jumlah rumah yang dibutuhkan pasti tidak akan bisa ditampung dalam wilayah Jakarta yang cuma secuil. Itu sebabnya perumahan melebar ke pinggiran/wilayah Jabodetabek. Sudah begitupun, fasilitas kota (air – listrik – sanitasi kota, pembuangan sampah), transportasi dll untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak tetap belum bisa terpenuhi dan menurut saya tidak akan pernah terpenuhi dalam 1 – 2 dekade lagi.

Kalau memang fungsi Jakarta sebagai ibu kota Negara, secara politis untuk kepentingan warga/pemerintah daerah dll yang mengecap berbagai privilege sebagai bagian dari “orang pusat” enggan ditanggalkan, kenapa tidak memindahkan saja fungsi Jakarta sebagai Pelabuhan utama (Tg Priok) ke wilayah lain. Sebut saja misalnya Batam atau Makasar. Dengan demikian minimal arus lalu lintas dan segala keribetan kegiatan pelabuhan tidak menumpuk di Jakarta dan Jakarta hanya ditujukan sebagai kota pelayanan jasa (keuangan – IT – perdagangan dll). Kan banyak contohnya seperti Perancis dengan kota pelabuhan Marseille, Belanda dengan Rotterdam, Jerman dengan Hamburg – nya.

Kita berharap karenanya, pelayaran domestik akan berkembang dan hidup (kan katanya nenek moyangku orang pelaut…), ada gairah untuk kemajuan di wilayah lain dan industri yang «memberatkan» pulau Jawa akan pindah mendekati «pusat» ekonomi baru.

Ya… sekedar unek2 dari orang yang frustasi karena kemarin sore saya harus menempuh 3 jam untuk jarak 8 km saja….
salam

Senin, 05 April 2010

balada malam hari

Malam minggu di awal April, kebetulan long week end untuk merayakan Paskah. Jum'at pagi jam 08.00, tanpa terduga, bel rumah berdenting. Keponakanku seperti biasa datang. Hal ini sudah menjadi rutinitas kegiatan liburannya bila kami tidak berkunjung ke Bandung, tempatnya tinggal. Tidak heran ... saudara-saudaranya selalu berkomentar "anak kost" pulang kampung ... Padahal, dia tinggal dengan orangtuanya di Bandung.

Seperti biasa juga dia akan meminta kami mengajaknya jalan-jalan, walau tanpa tujuan. Jum'at malam, kami berempat menghabiskan waktu di Grand Indonesia. Ini kali pertama kali berkunjung ke Mall yang berlokasi di bunderan Hotel Indonesia. Mall besar super mewah yang lebih banyak dikunjungi golongan atas.

Tentu bukan karena kami termasuk golongan atas, sehingga Mall tersebut menjadi tujuan tempat makan malam, tapi karena tempat itu memang belum pernah didatangi dan pilihan tempat lainnya ditolak anak dan keponakanku. Mereka memang sudah lama ingin berkunjung ke Grand Indonesia.

Maka.... makanlah keluarga kecil dengan dua anak ini, di... entah lantai berapa. Tapi food areanya memang sangat nyaman dengan suasana pedestrian. Pilihannya nggak jauh-jauh dari mie/pasta dan kali ini pasta/mie campuran a la Jepun & Italiano. Nama restonya beraroma Jepun, namun sajian makanannya lebih mengarah ke selera Italiano. Jangan tanya berapa biayanya... tapi pasti lebih murah dari hidangan makan malam saat pernikahan Ardie Bakrie dan Nia Ramadhani yang digelar di Hotel Mulia - Jakarta. Usai makan, kami masih sempai masuk toko buku Gramedia baru pulang menjelang jam 22.00.

Bukan anak remaja tentunya kalau sudah puas dengan terpenuhinya hajat selera makan malam. Hari Sabtu, setelah sepanjang hari mereka menghabiskan waktu di rumah, sibuk dengan facebook dan twitternya, belum lagi turun isi makanan ke lambung... usai makan malam, mereka sudah ribut mengajak jalan keliling kota.

Setelah istirahat beberapa saat dan meminta mereka shalat Isya terlebih dahulu, maka pergilah kami berempat keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
"Sate Padang yang enak dimana ya?" tanya anak gadisku.
"Hmmm.... katanya sih, ada di Jalan Radio Dalam. Sate Mak Syukur. Konon sangat terkenal. Baru selesai makan malam kok sudah mau makan lagi?"
"Kan sudah disisakan ruang buat sate padang...!", begitu jawab mereka. Huh..... itu perut kok nggak meledak diisi terus ya? Ampun deh.... anak remaja jaman sekarang...!

"Ayolah....! Jadi kita belok ke Radio dalam?", tanyaku. Kebetulan posisi mobil masih di depan Blok M Plasa. Jadi masih bisa dibelokkan arah ke jalan Radio Dalam melalui jalan Kyai Maja.
"Nggak ah.... cari tempat yang lain...!"
Wah .... dimana ada penjual sate padang lagi?
"OK, kalau begitu kita jalan ke arah istana ... lalu masuk ke memutar arah ke patung pak tani. Nanti masuk ke jalan Kramat Raya. Nah di situ banyak warung masakan Padang a la Kapau. Semoga ada sate Padang. Kalau nggak ada, itu namanya bukan rejeki.

Maka ... ditemani dengan keributan-keributan kecil antara anak - keponakan dalam mencari pemancar radio, kami menyusuri jalan Sudirman -  MH Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - Juanda - Veteran - Merdeka Utara - Merdeka Timur - Patung pak tani - Kwitang..... Suami, entah karena menikmati perjalanan, atau malah agak mengantuk, mengendarai mobil perlahan sekali hingga akhirnya kami tiba di  jalan Kramat Raya.

Mobil dijalankan perlahan sambil melihat adakah penjual nasi Kapau yang juga menjual sate. oups...... untung ada satu warung ... dan ke sanalah kami turun dari kendaraan dan pergi memesan sate Padang dan juice alpukat.

Seperti biasa.... kalau sudah memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan, jangan berharap akan menemukan kebersihan dan kenyamanan. Pikirkan saja rasa makanannya. Dan yang satu ini, .... dijamin hampir selalu enak. Kenapa....?

Warung pinggir jalan dimasak oleh tangan-tangan trampil "asli dari sononye" kata orang Betawi. Takaran bumbu-bumbunya diracik sesuai petuah dan ajaran orang tua2. Kalau suatu masakan harus mempunyai rasa pedas .... maka begitulah dia dimasak dengan banyak bumbu dan cabai giling.

Ini tentu berbeda dengan masakan tradisional a la resto terkenal, dimana bumbunya sudah dimodifikasi sesuai dengan "target market" nya. Maka masakan Padang bisa saja hanya "berani" warnanya ... tapi rasanya sudah "manis", supaya masyarakat non Sumatera Barat bisa turut menikmatinya. Persis seperti masakan di rumah. Kalau adik ibuku berkunjung dan makan di rumah, wajahnya selalu memberengut dan langsung pergi ke dapur mencari cabe sambil menggerutu....
"Masakan padang gaya mana lagi nih? Manis semua...". Begitu selalu komentarnya. Memang, cabe yang digunakan untuk masakan Padang di rumah sudah banyak dikurangi, supaya suamiku yang bukan berasal dari Sumbar bisa ikut menikmatinya.

Berbeda dengan sate mak Syukur yang berwarna kuning kunyit dan pedas nylekit atau sate Sederhana Lintau di Cinere yang kuahnya juga berwarna kuning tapi ada cacahan kacang, sate padang a la Kapau ini kuahnya agak kemerahan dan so pasti ... pedas. Apa boleh buatlah ..... Sudah kadung pesan...!

Ada persamaan makan di warung dengan resto/cafe yang nyaman. Di kedua tempat, kita bersantap ditemani musik. Bedanya.... musik di cafe/resto bunyinya lembut dengan ketukan irama yang teratur .... Penyanyinya anggun dan wangi. Sementara di warung pemusik silih berganti bernyanyi, dengan suara serak-serak tak sampai lebih sering fals dengan irama asal jadi yang keluar juga dari alat musik asal comot. Lagupun terkadang hanya satu atau dua bait. Tergantung kebaikan hati tamu yang sedang bersantap. Kalau si tamu bermurah hati mengulurkan selembar kertas, maka lagu bisa berhenti seketika atau bersambung.

Soal apakah lagu berhenti seketika atau bersambung itupun tergantung baik dari si tamu atau penyanyi. Kalau penyanyi bersuara nyaring menyakitkan kuping apalagi nyanyiannya fals, maka si tamu cepat-cepat mengeluarkan uang agar penyanyi segera menyingkir. Dengan demikian, selera makan tak patah karenanya. Tetapi kalau suara penyanyinya bagus dan iramanyapun benar... bisa jadi, si penyanyi diminta menyanyikan lagu lainnya dengan bayaran tentunya bertambah. Cuma sayang .... belum pernah terlihat penyanyi yang cantik/ganteng, bersih dan wangi

Berapa sih mereka dibayar....? Jangan bandingkan dengan Siti Nurhaliza atau KD yang bintangnya mulai meredup. Tapi tentu jauh kalah dengan bayaran Aris ... Indonesian's idol yang keblinger usai dia memenangkan kontes penyanyi a ala Amrik itu.

Begitulah.... mungkin karena merasa suamiku memberi "di atas tarif normal" .... (tapi ngomong-ngomong berapa sih tarif normal untuk pengamen?), maka pengamen silih berganti mengunjungi warung tempat kami makan... Walhasil.... makan menjadi tidak nikmat lagi karena...... di samping para pengamen, muncullah bocah-bocah dekil berumur kita-kira antara 3 sampai 8 tahun mengerubungi meja makan kami meminta uang....

Astaghfirullah ...... Hilang sudah selera makan ... Bagaimana mungkin kami menikmati makan malam dengan nyaman di hadapan muka-muka dekil itu. Bukan hanya satu orang, tetapi lebih dari 5 orang sehingga pemilik warung yang merasa "tidak enak" terhadap tamunya, lalu mengusir mereka. Beruntung, sate di piring sudah tandas dan kami memang sudah bersiap untuk beranjak meninggalkan warung.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Anak-anak usia sekolah berumur 3 sampai 10 tahun seringkali masih berkeliaran di jalan raya hingga larut malam. Meminta-minta uang dari pengendara mobil/motor di perempatan jalan atau di warung-warung kaki lima.

Anak-anak itu seharusnya sudah menikmati makan malamnya dan sedang lelap bermimpi. Namun mereka masih saja berkeliaran di jalan. Entah mengapa orangtua mereka membiarkan anak-anak itu berada di jalanan terpapar oleh kekerasan kehidupan malam. Atau justru anak-anak itu menjadi "alat" bagi orangtuanya untuk memperoleh nafkah keluarga?

Kemiskinan dan ketidakmampuan orangtua memang membuat anak-anak tidak mendapatkan haknya secara memadai. Hak mendapat perlindungan, sandang-pangan, pendidikan dan lain-lain. Sekolah gratis masih menjadi sebatas wacana, karena konon walaupun uang sekolah SPP sudah dihapuskan, tetapi tetap ada pungutan-pungutan untuk kegiatan sekolah lainnya serta baju seragam.

Betapa ironisnya... kala penyiar cantik di tv memberitakan kasus-kasus korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh PNS - politisi - penguasa negara/daerah gede-termasuk juga para penegak hukum, hanya dalam radius 5km dari istana tempat presiden bermukim dan hanya sepelmparan batu dari komplek gedung megah Departemen Keuangan, belasan anak berumur 3 - 10 tahun mencari uang, menadahkan tangan-tangan lusuhnya pada pengunjung warung di sepanjang Kramat Raya.

Andai mereka suatu kali mau mengunjungi warung makan semacam ini secara incognito .... tanpa harus melakukan sterilisasi lokasi, tanpa pengawalan .... menjadi orang biasa ... Tentu para penguasa negeri serta para ahli yang jago analisa ekonomi tidak akan berani lagi menyatakan ...... Kemiskinan di Indonesia telah berkurang..... pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mencapai sekian persen, di atas rata-rata pertumbuhan di negara Asean ....

Senin, 26 Januari 2009

Yuk kita bantu atasi banjir

Bertahun-tahun lalu, musim penghujan adalah musim yang berkah. Pohon-pohonan tampak tambah segar.... Orang tua membiarkan saja anak-anak ramai bermain air hujan, mandi di bawah cucuran air hujan dari atap.

Saya paling suka di suruh pergi ke warung saat hujan. Walau pergi ke warung dengan menggunakan payung, tetapi jalan yang dipilih adalah jalan yang penuh genangan air hujan. Kenapa....?Karena genangan air hujannya masih bening... sebening air yang baru turun dari langit. Bukan seperti genangan air hujan sekarang yang keruh menghitam serta bau dan membuat kulit menjadi gatal.

Terpeleset sedikit pada kubangan air, malah menjadi peristiwa yang sangat menyenangkan. Dan peristiwa belanja ke warung saat hujan terkadang jadi "bencana"..... Lupa apa yang harus dibeli karena saat berangkat ke warung, mampir dulu main berhujan-hujan dengan teman2.

Tapi... itu dulu.... Sekarang, saya jamin jarang ada orangtua (terutama golongan menengah ke atas) yang membiarkan anak2nya mandi air hujan. Alasannya segudang ... salah satunya karena takut anaknya sakit karena kehujanan. Apalagi konon katanya air hujan di kota besar Indonesia tidak bersih lagi. Malah sudah menghitam karena membawa polutan, sehingga bisa merusak kulit.


Jakarta juga sekarang sudah penuh sesak, tanah-tanah kosong, rawa, kebun, situ dan sawah-sawah yang dulu sekaligus menjadi daerah resapan air sudah lenyap menjadi hutan beton perkantoran, mall dan perumahan. Bahkan wilayah yang semula ditetapkan sebagai wilayah jalur hijaupun dibabat habis. Daerah selatan Jakarta yang berada di luar outer ringroad yang semula juga ditetapkan sebagai wilayah resapan air dengan KDB di bawah 20%, artinya pemilik tanah hanya diijinkan membangun rumah di atas tanah miliknya seluas max 20% saja) sudah menjadi wilayah pemukiman biasa dengan KDB 60%. Bahkan banyak yang melakukan pelanggaran dengan menutup hampir 90% luas tanahnya. 

Apalagi kondisi ini tidak dibarengi dengan ketersediaan prasarana yang baik, berupa saluran pembuangan kota, pengolahan air buangan maupun ketersediaan air bersih/air minum. Akibatnya terjadi pengeboran air tanah illegal yang lama kelamaan menyebabkan muka air tanah di wilayah Jakarta semakin menyusut.

Apalagi di permukaan tanah, jumlah serapan air hujan semakin berkurang. Dengan kondisi seperti itu, hampir dipastikan di musim penghujan Jakarta akan selalu kebanjiran sementara di musim kemarau Jakarta akan sangat kekeringan. Itu sebabnya, belakangan ini, pemerintah DKI Jakarta mensyaratkan pembuatan lubang resapan kepada masyarakat, pada saat meminta IMB.

Apakah pembuatan lubang resapan dipatuhi masyarakat? Entahlah ... sama gelapnya apakah ada pemeriksaan atas pembuatan lubang resapan tersebut. Seperti banyak anekdot saat berhubungan dengan aparat pemda - Peraturan dibuat untuk dilanggar dan karena akan selalu ada ruang untuk bernegosiasi yang ujung-ujungnya adalah DUIT.

Tapi, nggak usah berburuk sangka- lah. Ini soal lingkungan hidup kita. Rasanya jengah juga kalau saat musim hujan, halaman rumah tergenang air, apalagi kalau airnya menghitam. Jadi nggak ada salahnya juga kita berpartisipasi "membantu pemerintah" atau minimal menambah jumlah pasokan air untuk sumber air (sumur) kita yang setiap hari airnya kita sedot untuk digunakan, terutama untuk wilayah yang belum ada pasokan air PAM.

Ada berbagai cara untuk itu, antara lain :

Untuk rumah dengan halaman sempit
  • Jangan menggunakan talang air disekeliling atap. Biarkan air hujan jatuh langsung ke "tanah". Pada daerah cucuran air hujan itu, dibuat saluran "buntu" selebar + 50cm yang dasarnya tetap dibiarkan dari tanah. lalu diisi pasir, ijuk, pasir, ijuk dan lapisan atasnya diisi koral besar. bisa dipilih yang berwarna karena bisa menjadi bagian elemen taman
  • Kalau sudah terlanjur pakai talang, air dari talang jangan dibuang ke selokan, tapi dialirkan ke lubang resapan. Juga dibuat seperti saluran tadi cuma ukurannya lebih besar 1 x 2 meter dengan kedalaman 1 meter, juga diisi pasir ijuk, batu2an.
Untuk rumah dengan halaman yang luas, sebaiknya ditambah dengan lubang-lubang biopori untuk meratakan wilayah serapan air.

Lubang Biopori ini memang baru beberapa tahun ini dipopulerkan oleh tim peneliti dari IPB. Yang ini betul-betul Institut Pertanian Bogor ... Bukan Institut Perbankan Bogor.

Prinsip kerjanya, ya itu tadi.... memperbanyak wilayah serapan air sekaligus menyuburkan tanah dengan cara membuat lubang-lubang yang diisi dengan sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga. Pembuatan lubang ini, selain menambah jumah resapan air, sekaligus akan membantu pemerintah mengurangi jumlah sampah, karena limbah organik rumah tangga (sisa makanan, kulit buah dan sisa sayur-mayur) dimasukkan ke dalam lubang biopiori ini

Pembuatannya sangat mudah, kok! Hanya dengan mengebor tanah sampai kedalaman 1 meter pada jarak tertentu antar lubang. Lalu lubang diisi dengan sampah sampai penuh. Yang pertama sampah sisa makanan, baru daun-daunan dan kulit buah.
Tip ini saya dapat dari teman yang sudah membuat lubang biopori. Maksudnya supaya sampah makanan tidak diacak2 tikus.

Kalau ketinggian sampah berkurang, bisa diisi lagi. 6 bulan sekali, lubang di bor lagi untuk pemeliharaan dan sekalian mengangkat sampahnya untuk digunakan sebagai pupuk organik.

Nah... gampang kan? Problemnya tinggal bagaimana memperoleh alat pengebornya. Kunjungi saja situs www.biopori.com Yang saya lakukan adalah setelah baca-baca tentang lubang biopori, saya kirim sms kepada contact personnya untuk menanyakan harga dan ongkos kirimnya, lalu transfer uangnya, fax bukti setornya, sms lagi contact person bahwa kita sudah mengirim dana dan mem fax bukti setor. Tunggu deh kirimannya. Nggak lama kok... Kalo nggak salah, kurang dari 1 minggu kiriman sudah tiba. Harga bor (tangan) nya Rp.195.000,- per buah. Ongkos kirim tentu tergantung jaraknya.

Nah, ayo kita mulai memperbaiki lingkungan hidup dari hal-hal yang kecil dulu. Kalau tidak dari diri sendiri .... maka problema negeri ini tidak akan pernah selesai

Rabu, 07 Januari 2009

Traffic jam sudah mulai lagi

Hari ini suami berangkat ke kantor agak pagi karena mau bersepeda di bike track UI. Jadi dia nggak ikut ngantar anak ke sekolah. Dua hari ini, jalan ke sekolah anak di bilangan Karang Tengah - Lebak bulus sangat lancar. Memang mestinya begitu, karena kami keluar rumah jam 6.30 saat bel sekolah anak-anak sudah berbunyi sementara sekolah anak saya tetap masuk pada jam 07.00. Ternyata kenyamanan mengantar anak sekolah dan berangkat ke kantor ternyata hanya berumur 2 hari saja.

Tadi pagi, antrian kendaraan di pertigaan Jl. Karang Tengah dengan Jl. Lebak Bulus 3 (di belakang Bona Indah) sudah kembali seperti semula baik dari arah Jl. Adyaksa maupun dari arah Cinere. Padahal selama dua hari pemberlakuan jam masuk sekolah yang baru, per3an tersebut kosong-song... Alhasil, waktu tempuh kembali seperti semula, 20 menit, bukan 10 menit seperti pada hari Senin dan selasa lalu.

Begitu juga saat saya berangkat ke kantor. Antrian di traffic light per4an Poins sudah mengular seperti biasa. Belok ke kanan - arah Pondok Indah, kepadatan kendaraan menjelang bundaran juga tidak jauh berbeda. Agak berkurang, memang tapi tanda-tanda padat sangat terasa. Begitu juga di sepanjang jalan Radio Dalam.

Hari ini saya menempuh waktu selama 45 menit untuk tiba di kantor, dibandingkan dengan 25 - 30 menit pada hari Senin dan Selasa.

45 menit pada hari ke 3 pemberlakuan jam masuk sekolah yang baru dapat diartikan bahwa besok-besok, bisa jadi saya akan kembeli harus menyediakan waktu antara 45 - 60 menit untuk menempuh jarak 8 km dari rumah ke kantor.

Lha... kalo begini, perubahan jam masuk sekolah nggak ada manfaatnya dong, selain menyusahkan anak2 dan orangtuanya. 

Senin, 05 Januari 2009

Dampak anak sekolah masuk jam 06.30

Ini hari pertama anak sekolah masuk jam 06.30. Banyak yang komplain karena anak2 terpaksa berangkat jauh lebih pagi dan menimbulkan kemacetan yang luar biasa di jalanan.

Bagaimana suasana perjalan menuju sekolah anak saya? Belum tahu karena anak saya hari ini tidak masuk sekolah. Tadi pagi saat kami sedang sahur, terdengar dia keluar kamar dan muntah. Entah apa sebabnya. Mungkin masuk angin karena keasyikan internet-an sehingga lupa makan. Tapi, jam masuk sekolahnya juga tidak berubah. Tetap jam 07.00. Sekolah swasta tampaknya tyidak terikat dengan jadwal baru.

Saya berangkat sekitar jam 09.00 setelah memastikan si anak dalam kondisi baik dan memperkirakan akan tiba di kantor paling cepat jam 09.45 atau jam 10.00 dengan rute biasa. Lewat Pd Indah dan Jl. Radio Dalam.

Di luar dugaan, seluruh perjalanan yang biasanya terhambat terutama di traffic light POINS/Carrefour Lb Bulus, Jl Metro Pd Indah menjelang bunderan Pd Indah dan di depan PIM, semua lancar bagai air mengalir.... Wuih .... jarang-jarang menikmati lancarnya lalu lintas di Jakarta.

Walhasil, saya tidak di kantor dalam waktu 25 menit saja dari biasanya 45 - 60 menit. Senang tentu dengan kelancaran hari ini... Semoga berlangsung terus. Tapi .... saya tetap TIDAK SETUJU dengan peraturan memajukan jam masuk anak sekolah menjadi jam 06.30.  Apakah kalau ternyata nanti kemacetan lalu lintas berpindah pada jam 06.00 - 06.30, jam masuk anak sekolah akan dimajukan lagi?

Ini bukan soal jam masuk anak sekolah. Tetapi soal manajemen transportasi di Jakarta yang amburadul. Sistem transportasi dan manajemennya yang mesti dibetulkan dan jam masuk anak sekolah hanya satu faktor kecil saja. Banyaknya jenis angkutan (Bis, Mini Bus - Metromini & Kopaja) lalu berjenis-jenis angkot, bajaj/kancil, ojek ....). Sementara transportasi massa seperti KRL tidak juga bertambah dan diperluas jaringannya. Padahal sekali angkut KRL/KA akan menampung ratusan orang.

Kalau KRL/KA yang infrastruktur sudah ada tidak mampu dikembangkan lagi bagaimana mungkin kita bisa membangun sistem transportasi seperti Monorail dan subway yang teknologinya dan manajemennya belum dikuasai. Padahal Metro (subway) di Perancis sudah berumur lebih dari 100 tahun.... Artinya dalam sistem transportasi massa, kita tertinggal 100 tahun dibandingkan dengan negara maju... Aduh... kapan ngejarnya ya...?

Minggu, 23 November 2008

Nasi Goreng Joker

Anda yang selalu pulang malam hari dan melewati Jl. RS Fatmawati menuju ring road pada penggalan antara Jl. Cipete Raya dan jalan Terogong, ada baiknya melayangkan pandangan ke sebuah tenda lusuh bertuliskan Joker. Lokasi persisnya di halaman parkir ruko Serenity Musik yang di depannya (kalau dari arah jl. Panglima Polim - di sebelah kanan) ada neon sign bertuliskan MAGNA.

Ini adalah satu warung amigos - agak minggir got sedikit, di antara sekian banyaknya tenda penjual nasi goreng di sepanjang jalan Panglima Polim hingga Jl. RS Fatmawati ujung alias Pondok Labu - UPN. Karena lokasinya amigos ..... jangan heran bila disela nikmatnya makanan yang tersaji, terkadang mampir juga parfum natural dari sisa-sisa pembuangan manusia yang bisa mendadak mematikan nafsu makan. Apalagi, kalau lihat taplak meja bermotif kotak-kotak merah yang, walaupun mungkin sering dicuci, tetapi penuh bercak hitam.

Seperti penjual nasi goreng di kaki lima lainnya, mereka menawarkan nasi goreng yang isinya cukup kreatif. Di lembar menunya tertulis nasi goreng ayam, baso, telur, kornet lalu disajikan dengan irisan kol dan mentimun. Lalu ada Indomie rebus dan Indomie goreng dengan campuran yang sama. Roti bakar coklat, keju, selai dan kacang/pindakas dan tidak ketinggalan roti bakar.

Minumannya, standar ... teh dan kopi tubruk, lalu minuman ringan botol dan tidak ketinggala air jeruk panas atau es jeruk peras yang segar. Masih ada juga juice. Biasanya juice buah semusim. Yang standar dan pasti ada juice alpukat.

Harganya, tentu standar kakilima. Juice dan es jeruk hanya berharga 4ribu satu gelas. Nasi goreng berharga antara 8ribu hingga 10.500 untuk isi komplit. Roti bakarnya sekitar 8 ribu dan cukup dimakan berdua.

Bandingkan dengan harga nasi goreng di restoran. Jangankan diresto/cafe. Nasi goreng ayam di resto Akoen saja sudah berharga 25 ribu. Padahal, porsinya sama banyak. Memang, kalau kenyamanan yang dicari, warung amigos tentu tidak masuk kategori ini.
***

Sejak masa pacaran dulu, kami memang penggemar makan di warung kakilima. Dulu biasanya makan nasi uduk Cikini atau makan sate ayam/kambing di warung dekat rumah. Asyik ... 1.500 sudah dapat 15 tusuk, dua piring nasi dan 2 botol/gelas minuman. Tapi itu memang tahun 70an. Kadang, suka makan di Blok M, di jalan depan SMPN 56 yang sudah ditutup itu. Tapi makan di Blok M agak kurang nyaman karena banyak pengamen.

Setelah punya anak dan kembali ke Indonesia, kami tidak lagi makan di warung. Kebetulan sudah ada KFC dan TFC. Apalagi, anak kami yang masih balita terbiasa tinggal di apartemen terbiasa dengan lantai yang bersih dan kering sehingga selalu menolak bila diajak ke tempat-tempat yang dianggapnya kotor.

Belakangan ini sesekali kami kembali makan di kaki lima dan selalu di Joker, karena terpikir.... ah, andai semua orang makan untuk mencari kenyamanan dan gaya hidup, alangkah kasihan mereka yang bersusah payah mengais rejeki di tengah belantara beton dan kekejaman Jakarta.

Sesekali, kita perlu turun dari standar kenyamanan orang kota sekaligus untuk menghargai keuletan mereka. Kerja keras yang jauh lebih bermakna dibandingkan dengan perilaku para preman kota.

----
Update 28.11.08
Taplaknya udah ganti pake taplak plastik. Jadi lebih nyaman kelihatannya di mata dan lebih mudah bersihinnya

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...