Selasa, 02 Juli 2013

SITU CILEUNCA – Pangalengan


Situ Cileunca, kawasan tujuan wisata di wailayah Pangalengan ini sebetulnya tidak sengaja ingin dikunjungi. Tujuan utamanya adalah ingin jalan-jalan di areal kebun teh Pangalengan. Areal kebun teh yang seperti pada umumnya sudah dioperasikan sejak jaman penjajahan Belanda dulu. 

Itulah yang saya tahu tentang Pangalengan yang letaknya di wilayah Selatan kota Bandung, selain produk olahan yang berasal dari susu. Beberapa tahun yang lalu, sang suami pernah diajak rekan kantornya mengunjungi kampung keluarganya di wilayah ini dan kembali ke Jakarta berbekal beragam produk olahan susu. Yang saya ingat adalah pudding susu dalam cup yang rasanya enak sekali.

Situ Cileunca dari kejauhan
Pada liburan anak sekolah kali ini, mencuri waktu kerja ketika suami juga kebetulan sedang ada acara di luar kota untuk beberapa hari, kami berdua ... saya dan anak berangkat ke Bandung. Acara utamanya ke Rumah Mode, karena si gadis ... mungkin karena terpengaruh ocehan teman-temannya, ingin kesana. Karena acara ini pasti hanya "seru" untuk dilakukan hanya oleh perempuan ...., maka sengaja saya ambil cuti dua hari. Suami rencananya menyusul langsung dari bandara Cengkareng ke Bandung naik bis. Sudah diwanti-wanti harus pakai Primajasa supaya mudah penjemputannya.

Sabtu pagi ... eh nggak pagi juga sih. Akhirnya jam 11.00 kami baru berangkat dari Perumahan Gading Regency di bilangan Sukarno-Hatta menuju Pangalengan. Agak siang, karena selain menunggu bubur ayam mang Oyo yang terlambat datang, kami juga harus menunggu adik saya yang akan mengendarai mobil dan sebagai penunjuk jalan.

Bandung di waktu liburan sekolah anak dan week end pasti penuh dan "dibanjiri" dengan mobil berplat nomor B. Maka ..... adik saya memutar otak, mencari jalur mana yang layak dilalui untuk menghindari kemacetan parah. Maka ... walau hanya menempuh 1 gate saja, diputuskan kami masuk gerbang tol Buah Batu menuju gerbang tol Moch Toha. Usai mengambil kartu pass, terlihat arus kendaraan menuju gerbang tol Buah Batu dari arah Padalarang - Purwakarta mengular panjang bahkan hingga 1 km di jalur tol Padaleunyi. Gila ..... kalau di Buah Batu saja sudah sepanjang itu, bisa dibayangkan bagaimana di gerbang tol Pasteur. Untungnya ... gerbang tol Moch Toha sepi dari peminat, sehingga hanya ada 3 mobil saja di depan kami.

dari balik pohon
Harapan untuk menenmpuh perjalanan dengan nyaman, rupanya hanya fatamorgana. Jalan raya Banjaran macet total .... Penyebabnya, selain karena banyaknya trailers yang keluar masuk dari berbagai pabrik di sepanjang jalan Banjaran, juga akibat dari "peredaran" trailers yang overweight, maka sudah dipastikan jalan raya Banjaran tersebut hancur lebur. Ditambah lagi musim kemarau "basah" pasti menambah parah kerusakan. Maka .... upaya atau lebih tepatnya "niat baik" pemerintah menambal/memperbaiki jalan dengan melapisi jalan lama dengan beton setebal kira2 20cm menjadikan arus lalu lintas bukan saja tersendat, tapi nyaris macet total. Bayangkan saja, untuk bergerak sejauh 10 meter saja, kami harus menunggu sekitar 15 menit, lalu berhenti untuk menunggu 15 menit lagi. Begitu berulangkali.

Bayangan menikmati liburan yang menyenangkan betul-betul sudah hilang dari kepala. Mau memutar arah mobil untuk kembali ke Bandungpun hampir mustahil karena dari arah yang berlawanan, motor dan angkot berseliweran susul menyusul. Entah berapa jauh jarak yang kami tempuh selama 3 jam tersebut. Yang pasti ... akhirnya kami tiba di SItu Cileunca pada jam 15.00. Berarti + 4 jam untuk menempuh jarak sekitar 40km.

Situ Cileunca yang indah sudah terlohat dari jarak jauh ... bahkan cukup jauh. Indah terlihat ... hal itu juga yang menarik kami untuk langsung mengunjungi. Apalagi dengan adanya panel-panel petunjuk dan iklan adanya flying fox, paint ball, dan rafting Panglayang. Sepertinya menarik sekali ... apalagi disekitarnya terlihat banyak guest house. Maka ... rencana untuk berlibur di lokasi ini, menikmati semalam dua dengan keluarga besar mulai menari-nari di kepala.

ayam bakar, ayam gireng dan lalapan
Usai membayar uang masuk 50 ribu rupiah untuk mobil dan 9 penumpang dewasa dan anak-anak, kami mendapat tempat parkir dengan teramat mudah. Tidak banyak yang mengunjungi lokasi ini bila dibandingkan dengan Kawah Tangkuban Parahu, Ciater ataupun Kawah Putih.

Karena perut para kurcaci baru terisi Nu green tea dan lays potato chips, maka kami bergegas mencari gubuk tempat makan siang. Adik ipar saya, mendahului kami dengan ditemani seorang perempuan muda membawa tikar. Hm ..... pasti harus sewa tikar untuk dihampar di bawah tenda yang agak kumuh. Entah apa yang diperbincangkan ... dan salah saya juga yang biasanya agak cerewet dengan hal-hal seperti ini, kali ini mengikuti saja naik ke gubuk reyot itu... Alasan utamanya karena sudah tidak tahan menahan kebutuhan dasar ke toilet setelah minum begitu banyak air.

Persoalan pertama muncul ..... sebagaimana galibnya di hampir seluruh kawasan wisata di Indonesia, maka, toilet menjadi masalah utama dalam hal kebersihan. Jangan berpikir kenyamanan... ini sepertinya hal yang sangat mustahil ditemukan di Indonesia. Tidak berbau saja, maka kita sudah bisa dikatakan "beruntung". Sebagaimana umumnya "bagian belakang" rumah, apalagi sebagai tempat pembuangan sisa makanan/minuman manusia, maka toilet kita memang menjadi cermin tingkat kebersihan kawasan wisata. Jadi .... kalau kawasan wisatanya saja sudah sangat tidak terawat ..., maka bisa dibayangkan bagaimana tingkat kebersihan toiletnya. Masih beruntung, air yang melimpah meluruhkan bebauan khas, tapi ... kita tetap harus menahan napas dan membutakan mata melihat kondisi ruangnya.

kenyang juga
Beruntung pula, pesanan makan siang sudah dilakukan sebelum melepas hajat. Kalau belum .... pasti hilanglah sudah selera untuk makan siang. Sudah pula terlambat waktunya.

Makan siang kami saat itu adalah tahu+tempe goreng ditambah dengan 4 ekor ikan mas goreng (total 1kg), 2 ekor ayam bakar, 1 ekor ayam goreng. krupuk aci dan lalapan+sambal. Tidak lupa tentu nasi untuk 9 orang. Tunggu punya tunggu .... kok makanan tak kunjung tiba ... langak-longok kesana kemari, tidak ada manfaatnya karena ada beberapa warung yang menyajikan menu yang sama dan kami betul2 tidak tahu dari warung mana perempuan muda tadi datang.

Akhirnya... kami hanya bisa bergurau sambil meringis menahan lapar...
"Jangan-jangan, ayamnya baru dipotong dan ikannya baru selesai dipancing..."
Tiba-tiba, adik saya yang baru saja keliling-keliling bilang...
"Eh .... beneran lho ... ayamnya baru dicabut bulunya di warung situ! ikan juga baru disiangi. Dia bilang ... semua disini fresh. Baru disiapin kalau ada yang pesan..."
Alamak ..... segar sih segar..... lha ini sudah jam 16.00 ................. Makan siang apa pula nih...?
Padahal ... malamnya sekitar jam 20.00, adik saya yang lain sudah pesan tempat untuk makan malam di Rumah Nenek di bilangan Cibeunying - Bandung.

Akhirnya .... yang ditunggupun datang dan balatentara yang kelaparan langsung menyerbu hidangan "segar" a la situ Cileunca. Masakannya lumayan memenuhi selera walau sepertinya si ayam sudah agak tua sehingga dagingnya agak alot, terutama terasa pada ayam bakarnya.
Sambalnya lumayan pedas, tapi ... karedoknya masih kalah jauh enaknya dibandingkan dengan karedok olahan asisten dapurku yang orang Cihampelas - Cimahi itu.

perjalanan menuju Pangalengan
Sekitar jam 17.00, kami putuskan untuk kembali ke Bandung, maka kudatangi warung untuk menyelesaikan pembayaran.
"Janten sabaraha bu...?"
"Genep ratus dua puluh rebu, neng ...!"
Ha .......? Sumpah mati ...... kaget banget dengar harganya ... Perkiraanku, dengan makanan seperti itu, kami hanya akan menghabiskan maksimal 450 ribu saja.
"Geuning awis pisan nya'...?"
"Sumuhun neng ... atuda si eneng henteu kadieu langsung... Eneng teh nganggo calo, janten pangaosna ge benten... manehna nu ngetang ....!"
Halah ............!!!!
Ya sudah deh ..... gak bisa ngomong apa-apa lagi. saya keluarkan uang secukupnya dan ...... hap ..... perempuan muda calo itu langsung menyambar uang yang tadinya sudah kuangsurkan untuk ibu pemilik warung ...! Si calo rupanya betul-betul jadi penguasa lapangan ....!

Sambil beres-beres barang yang ada di gubuk, si calo nagih lagi uang sewa tikar....
"tiga puluh ribu...." katanya, untuk sewa 2 tikar mendong butut selama 2 jam saja.
"Lho ..... bukannya sudah termasuk di harga makanan tadi..., kan kamu sudah dapat komisi disitu!" sahutku rada ketur.
"Nggak bu ... tikar ini lain lagi orangnya..."
Hadoh ....... 2 kali dikerjain ....!

Bukit gundul ... ngeri longsor!
Lenyap sudah angan-angan ingin berlibur sekali lagi menikmati udara Pangalengan dan Situ Cileunca yang sejuk itu. Sungguh ..............!!! Keindahan danau alias situ Cileunca tersebut sangat tidak sebanding dengan kondisi lapangan. Pengelolanya, biasanya pemerintah daerah, hanya tertarik untuk menarik retribusi karcis masuk saja tanpa melakukan perawatan lahan dan fasilitas umumnya sama sekali. Apalagi ditambah dengan calo-calo yag berseliweran berpura-pura menawarkan ini itu untuk kemudian "menjarah" pengunjung yang lengah.

Ini memang menjadi publisitas buruk bagi perkembangan kawasan wisata, terutama yang dikelola pemerintah daerah. Tapi memang begitulah kenyataan yang terjadi di hampir seluruh kawasan wisata yang dikelola pemerintah daerah dan hingga sekarang tidak pernah berubah.

Rasanya, perlu dipertanyakan juga apa yang dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan industri kreatif dalam upayanya meningkatkan fasilitas dan kualitas kawasan wisata. Bagaimana kita bisa meningkatkan arus wisata dari luar negeri kalau kualitas kenyamanannya dan fasilitasnya sama sekali tidak diperhatikan? Pemerintah Daerah/pengelola kawasan wisata perlu diberikan pelatihan dan monitoring yang terus menerus agar mereka mampu meningkatkan kualitas dan kinerjanya. Jadi, memang masih banyak yang harus dilakukan untuk mampu menarik wisata dan "meredam" wisatawan yang gemar ke luar negeri untuk mau menikmati wisata di dalam negeri.

Wallahu alam



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar