Selasa, 31 Oktober 2006

Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik bagi semuanya

Sabtu pagi 28 Oktober 2006, sekitar jam 07 pagi, lamat-lamat terdengar suara kehebohan di dalam rumah. Hari itu, saya agak kesiangan bangun pagi setelah malamnya kelelahan tidur, usai mensetrika tumpukan pakaian. Untung saja, tidak kesiangan bangun sahur dan shalat subuh.

Rupanya, adik saya menelpon memberitahu ibu bahwa iparnya (istri adik ibu saya) dalam kondisi kritis sejak semalam. Jadi pagi itu mereka bergegas untuk berangkat ke Bekasi. Sambil lalu, saya katakana untuk segera mengunjunginya lagi, setelah kunjungan terakhir pada hari Selasa malam. Bergiliran dengan ibu, karena pembantu masih belum kembali dari kampung. Belum lagi cucian masih ada setumpukan yang menanti giliran masuk mesin atau yang harus disetrika.

Sambil menunggu putaran mesin cuci, disela acara “melantai”, saya sempatkan menelpon oom, menanyakan kabar istrinya:
“Tolong bantu doa… Sejak semalam kondisinya agak kurang stabil. Napasnya sudah tinggal satu-satu saja”, begitu katanya.
”Insya Allah... dampingi terus, mintakan pada Allah SWT agar diberikan yang terbaik bagi semuanya. Oom masih disampingnya?”
”Saat ini sudah ada ibu-ibu dari majelis taklim yang menanganinya. Mana suamimu?”
”Masih tidur ... nanti aku suruh telpon, kalau sudah bangun”.

Sejak mendengar kehebohan pagi tadi, saya mendapat firasat bahwa ”saatnya” hampir tiba. Tidak akan lama lagi. Apalagi yang bisa diharapkan baginya. Kecuali ada mukjizat besar dari Allah SWT, maka kematian mungkin menjadi hal yang terbaik bagi mereka semua. Yang sakit maupun keluarganya. Bagi si sakit, dia akan terbebas dari kesakitan dan derita panjang yang dirasakannya. Sementara bagi anggota keluarganya, mereka terlepas dari beban psikologis beratnya merawat penderita di rumah, beban biaya dan ketimpangan jalannya rumah tangga. Kondisi rumah tangga dan keuangan mereka sudah sangat tidak memungkinkan untuk menunjang penderitaan itu lebih lama lagi. Tentu akan ada kesedihan yang mendalam terutama buat anak-anak. Tetapi mereka sudah cukup umur untuk menerima kehilangan itu. Toh waktu akan berjalan terus dan kesedihan perlahan-lahan akan terkikis bersamanya.

Usai mencuci, saya meminta suami untuk menelpon ke Bekasi....;
”Jangan sampai putus untuk mentalqinnya...”, begitu suara yang saya dengar dari kejauhan. Yah... sejak kunjungan beberapa hari sebelumnya, kami memang sudah mengatakan pada oom, bahwa mungkin jalan yang terbaik adalah bahwa Allah SWT ”menyegerakan” waktunya agar yang sakit dapat pergi dalam keadaan yang baik dimata anak-anak dan seluruh kenalannya. Tidak lagi diperpanjang deraan kesakitan yang amat sangat akibat kanker rahimnya itu.

Begitulah, sambil membereskan rumah, kami menggumamkan dzikir dan doa agar Allah SWT memberikan yang terbaik bagi YH. Ini mungkin ”bahasa halus” untuk menyebutkan bahwa ”kematian” adalah yang terbaik bagi orang yang sudah sangat menderita. Begitulah.... waktu terasa berjalan begitu lambat.

Tepat pada jam 13.00, telpon di rumah berdering, mengabarkan bahwa sabtu 5 syawal 1427 hijriah jam 12.30, Allah SWT berkenan melepaskan YH dari penderitaan duniawinya untuk kembali keharibaanNya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Ibu dan adik saya ternyata sudah dalam perjalanan pulang. Tidak sempat menunggui hingga detik terakhir YH menghembuskan napasnya.

Ba’da Isya pada malam minggu, usai membeli sedikit makanan di Carrefour, kami segera meluncur ke Bekasi. Hampir jam 22.00, saat kami tiba di rumah duka. Tidak terlihat banyak tamu di bawah tenda yang terpasang di jalan depan rumahnya. Hanya beberapa pasang tetangga terdekat yang sibuk mengurus ini – itu baik untuk keperluan jenazah maupun kebutuhan makan-minum keluarga yang ditinggal dan para pelayat.

Tidak tampak raut muka sedih yang berlebihan pada wajah oom. Saya rasa dia sudah sadar betul sejak beberapa waktu yang lalu bahwa kematian istrinya hanyalah soal waktu. Kematian yang sesungguhnya akan membuatnya ”terlepas” dari berbagai beban lahir dan batin. Adith, anak lelakinya tidak terlihat. Konon dia sedang beristirahat dan tidur di kamarnya setelah malam sebelumnya hampir tidak tidur menemani ibunya. Afi, walaupun terlihat tabah, tetapi masih tidak bisa lepas dari sisi ibunya. Sesekali terlihat dia mengusap airmatanya ... kadang dibelainya wajah dingin ibunya. Wajah beku YH terlihat lebih kurus, namun terlihat bersih dan cantik. Semoga ini merupakan pertanda baik bahwa Allah SWT memang memberikan tempat yang layak baginya.

Tidak terlihat anggota keluarga YH. Adik-adiknya (half bro-sis) sudah datang sore hari. Mereka tak dapat meninggalkan rumah terlalu lama. Ibu YH sudah lama menderita sakit (pengerutan otot otak?) yang membuatnya kehilangan kesadaran sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun maupun mengkontrol segala gerak tubuhnya. Bapak kandung YH sudah lama meninggal dunia sedangkan bapak tirinya belum sembuh sama sekali dari serangan stroke yang berulang. Tentu, mereka sudah tidak mungkin lagi diharapkan untuk mengunjungi dan melihat YH untuk kali terakhir.

Malam itu, salah satu kakak oom dengan istrinya menginap disana, beserta para tetangga, mereka bermaksud menjaga jenasah, hingga usai acara pemakaman minggu pagi. Hampir tengah malam kami meninggalkan Bekasi.
***
Minggu 29 Oktober 2006, jam 07.00 suami, ibu dan adik-adik saya berangkat ke Bekasi untuk menghadiri pemakaman yang akan diselenggarakan pada jam 10.00 di TPU Pondok Kelapa. Sementara saya menunggu di rumah. Ngantuk dan lelah masih terasa apalagi ditimpa panas yang luar biasa. Acara pemakaman nampaknya berjalan dengan lancar. Semoga selancar itu pulalah perjalanan roh almarhumah menuju keharibaan sang Pencipta.

”Ya Allah ... terimalah roh hambaMu itu. Ampunkanlah segala dosa dan perbuatan yang dilakukan selama masa hidupnya. Baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Terimalah segala amal-jariah dan ibadahnya. Tempatkanlah dia ditempat yang layak dan sebaik-baiknya disisi Mu. Semoga dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapat syafaat dari RasulMu kelak. Amin....!!”

minggu 29 oktober 2006, 21.35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...