Rabu, 29 Maret 2017

Tulisan Iseng

Etika berhubungan dengan prinsip moral, akhlak, susila yang terkait dengan kebenaran, kejujuran dan budi pekerti yang akan "membimbing" pikiran dan perbuatan kita ke arah yang baik dan benar
Sementara etiket adalah kesantunan, sikap dan perilaku yang baik terutama kala berhubungan dengan orang lain. Selalu tersenyum dan berkata baik ...
Idealnya .... orang yang santun, sebaiknya juga beretika, begitu juga sebaliknya... Sayangnya menjadi ideal memang sangat sulit dan begitulahmanusia ... Jauh dari sempurna...
Kalau yang ideal itu sangat jarang terjadi, ... apakah sebaiknya manusia itu memiliki ETIKA yang tinggi atau lebih baik menguasai ETIKET yang tinggi

Senin, 06 Februari 2017

LIBUR AKHIR TAHUN 2016


Setelah prosedur pelaporan di bagian lost & found selesai, kami bertiga keluar dari Vienna international airport untuk mencari taxi menuju hotel yang sudah dipesan melalui Agoda. Sebetulnya, ada transportasi yang lebih murah menuju tengah kota, yaitu dengan menggunakan kereta, dari sana baru ke hotel dengan metro (subway) atau bus. Namun stress karena "kehilangan" 2 buah koper, membuat kami kehilangan rasa humor. Ingin segera tiba di hotel, beristirahat sambil menenangkan diri. Apalagi di hotel sudah menunggu anak lelaki saya yang sudah tiba di Vienna 5 hari sebelumnya. Jadi kami memanggil taxi, tanpa peduli lagi bahwa kalau hitung nilai tukarnya, maka ongkos taxi yang kami bayar hampir 6x ongkos taxi di Jakarta, dari Cengkareng ke Jagakarsa. Apa boleh buat... Memang satu-satunya kiat untuk menikmati perjalanan keluar negeri adalah "jangan berhitung atau menghitung nilai tukar mata uang yang berlaku di negara terkait kepada rupiah.

Perjalanan dengan taxi memakan waktu yang cukup lama, rupanya lokasi hotel cukup jauh dari bandara. Supir taxi yang berasal dari Turki berusaha mengajak ngobrol dalam bahasa Inggris yang ter-patah2 apalagi melihat penampilan saya dan anak yang memakai jilbab. 

Tiba di hotel Lucia, dimana anak lelaki saya sudah menunggu. Rupanya semua formalitas check in sudah dilakukannya, karena dia juga memiliki konfirmasi pemesanan hotel, apalagi di dalam passportnya tercantum nama akhir yang sama. Tentu tidak ada alasan bagi resepsionis untuk menolaknya. Tinggal menambahkan biaya makan pagi saya senilai 12 Euro/pax. Mahal juga ya.... kalau dikurs, sekitar 175 ribu per pax untuk makan pagi yang sangat biasa. Oups ..... melanggar "peraturan" bahwa kalau sudah berani jalan ke negeri orang, dilarang berhitung pengeluaran dalam rupiah.

 Kami langsung istirahat. Ngantuk juga, jetlag dan stress juga mengingat ada koper yang "hilang". Sore itu atau setara dengan tengah malam menjelang pagi waktu Indonesia, karena perbedaan waktu 6 jam, kami keluar lagi untuk mencari makan malam yang ringan, di kantong dan juga yang relatif mudah diperoleh, mengingat kami tiba pada hari Natal, 25 Desember 2016, hari libur dimana hanya sebagian kecil saja restoran yang buka. Beruntung anak saya tiba beberapa hari sebelumnya, sehingga dia sudah melakukan "advance survey" lingkungan tempat kami menginap. Dimana lokasi resto Mac D, stasiun metro alias subway terdekat serta rute trem/bus kota. Jadilah kami makan di Mac D yang letaknya hanya sekitar 300m dari hotel.

Pernah dengar istilah mestakung alias semesta mendukung? Istilah ini mungkin untuk merujuk pada sugesti. Jadi .... kalau kita merasakan/menginginkan sesuatu, maka sugestikan hal tersebut, terutama yang sifatnya postif, agar semesta turut mendukung agar apa yang kita inginkan dapat terjadi. Repotnya adalah kalau perasaan tersebut sifatnya negatif dan kita tidak dapat lepas dari pikiran negatif tersebut .... maka repot kalau semesta mendukung hal negatif tersebut.

Dengan pikiran yang masih terbebani dengan "raibnya" koper, keesokan harinya kami kluyuran ke pusat kota ... Stephenplatz. Sebetulnya .... karena ini adalah kunjungan ke 2 kalinya ke Vienna, seharusnya kami mencari lokasi lain untuk dikunjungi. Kondisi yang kurang menyenangkan ini mempengaruhi perasaan sehingga ada keengganan untuk kluyuran, apalagi sisa jetlag masih menggelayuti. Jadi.... setelah putar2 sekeliling dan makan siang, kami memutuskan untuk kembali ke hotel, menuntaskan kantuk ..... untuk kemudian keluar lagi, mencari restaurant untuk makan malam. Tentu saja ... berharap agar koper sudah menunggu kami di hotel. ...

Kamis, 19 Januari 2017

PERSONAL TRIP AGAIN?

Rasanya sudah lama juga tidak melakukan perjalanan jauh secara pribadi baik ke luar Indonesia apalagi di dalam negeri. Maksudnya, mengurus perjalanan sendiri, mulai dari pesan tiket, hotel, kendaraan lokal dan perjalanan wisata di tempat tujuan. Terakhir kali perjalanan pribadi yang dilakukan adalah perjalanan ke Brisbane dan Gold Coast pada bulan Januari tahun 2005. Saat itu, bantuan dari travel agent hanya untuk pengurusan visa dan pembelian tiketsaja sedangkan pesanan service apartment di Brisbane dan lainnya dilakukan sendiri via internet.

Setiap melakukan perjalanan dalam negeri yang saya lakukan, pada umumnya untuk urusan kantor. Jadi sudah dibantu pengurusannya. Tinggal terima email tiket saja. Penjemputan dan hotel sudah secara otomatis diselesaikan oleh orang yang berwenang. Alternatif perjalanan dalam negeri lainnya adalah dalam rangka ikut office/family gathering. Kesemuanya selalu serba tahu beres saja. Begitu juga kalau kebetulan punya waktu dan ada keinginan bergabung dengan office gathering ke negara Asia Tenggara. Pokoknya tahu beres saja.

Sementara itu, pada kurun waktu 10 tahun sejak 2005, perjalanan libur terutama ke luar Indonesia selalu dilakukan melalui travel agentAda sisi positif dari perjalanan yang diatur oleh travel agent. Selain tentunya prinsip "tahu beres" dari mulai tiket, penginapan, makan dan jadwal acara yang sudah diatur. Tidak perlu repot mengurus check in, barang bawaan terutama yang harus masuk bagasi. Begitu juga saat tiba ditempat tujuan. Urusan administratif hotel, kunci dan lainnya sudah ada yang mengurus. Koper sudah akan berbaris manis di depan kamar. Begitu juga saat akan meninggalkan hotel. Cukup meletakkan koper di depan kamar pada jam yang sudah ditentukan. Selesai sudah urusan remeh temeh yang menyebalkan dan terkadang berat, kalau kita harus menyeret-nyeret koper. 

Berbeda dengan di Indonesia, yang "kaya" dengan jumlah staff hotel, maka hotel-hotel di negara maju yang berbintang sekalipun sangat effisien. Jadi jangan berharap bisa minta tolong/bantuan membawakan koper dan hal-hal remeh temeh lainnya. Karenanya perjalanan dengan travel agent juga menjadi lebih murah dan tentu saja sangat effisien. Mereka memang akan mengatur perjalanan dengan sangat effisien agar biaya yang dikeluarkan pesertanya menjadi relatively murah namun dengan kunjungan ke daerah tujuan wisata sebanyak mungkin. Istilah yang diberikan teman saya adalah "kunjungan sebanyak mungkin negara dan tempat wisata" itu ibarat cuma numpang pipis doang....

Namun .... disamping "kenyamanan" tersebut tentu ada hal negatif yang belum tentu disukai. Perjalanan dengan banyak orang yang baru kita kenal pada saat perjalanan tersebut membuat kita harus "memupuk rasa sabar dan tenggang rasa" yang luar biasa. Beberapa hal diantaranya karena akan selalu saja ada orang yang tidak disiplin dengan waktu yang sudah ditentukan sehingga membuat orang lain menunggu dan karenanya menghambat jadwal perjalanan. Lalu "interest" yang berbeda. 

Pada umumnya, orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, lebih suka mengunjungi mall atau daerah pertokoan. Kunjungan ke tempat wisata, istana, situs peninggalan purbakala, apalagi museum sama sekali tidak diminati atau minimal kalaupun dikunjungi, sebagian besar peserta akan melewatinya dengan cepat. Tapi ..... kalau sudah "dilepas" di mall atau factory outlet .... 4 jam pun terasa kurang .... Tinggallah yang dompetnya cekak atau memang hanya ingin menikmati perjalanan wisata, kelimpungan mencari acara pengisi waktu, apakah dengan masuk ke cafe sambil menunggu jadwal perjalanan berikutnya atau mencari objek foto yang menarik di sekitar lokasi mall/pertokoan. 

Setelah 4 atau 5 kali perjalanan dengan travel agent, anak-anak akhirnya merasa keberatan melakukan perjalanan dengan travel agent. Mereka ingin menikmati perjalanan pribadi. Aduh ..... emak dan bapak sudah masuk kategori manula, yang maunya serba tahu beres. Terbayang kembali perjalanan gaya "back packer" yang dulu seringkali kami lakukan. Cukup pesan tiket pulang pergi, hotelnya dipesan begitu tiba di terminal/stasiun di tengah kota. Namun regulasi pengurusan visa yang saat ini lebih ketat memang tidak lagi memungkinkan kita melakukan perjalanan tanpa bukti tempat menginap dan bukti keuangan yang mencukupi untuk melakukan perjalanan tersebut.
***

25 Desember 2016 adalah jadwal keberangkatan yang disesuaikan dengan cuti akhir tahun. Perjalanan ini sesungguhnya tidak direncanakan sejak awal, namun lebih ditujukan untuk menemani anak yang berencana untuk mengikuti program Global Volunteer nya AIESEC untuk mengisi libur antar semester. Tentu ada berbagai ragam negara tujuan dan program dan negara pilihan pertamanya adalah Slovakia dengan cadangan Hungaria. Setelah berunding dan kebetulan memang sudah hampir 4 tahun kami tidak melakukan perjalanan liburan akhir tahun, maka setelah runding sana - sini, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan sambil mengantarnya ke Budapest.

Kami berangkat dari rumah pada jam 20.00 untuk terbang pada jam 00.15. Waktu yang cukup luang untuk mengantisipasi kemungkinan macet dalam perjalanan menuju bandara Cengkareng. Untunglah, perjalanan menuju bandara Cengkareng relatif lancar, sehingga bisa ditempuh "hanya" dalam waktu 75 menit saja. Tiba di dalam, terlihat antrian penumpang Emirates sudah mengular. Seperti biasa pada perjalanan akhir tahun, antrian akan dipenuhi oleh grup perjalanan wisata ke negara-negara Eropa atau yang mengikuti perjalanan umroh. Sudah lama kami tidak melakukan perjalanan ke luar negeri sendiri, sehingga tentu saja agak "gagap" saat melakukan check in, mengurus bagasi dan terutama untuk melakukan verifikasi imigrasi "self service" sebagai pengguna e-passport. Khusus untuk bagasi, karena kami akan transit selama 4,5 jam di Dubai, maka kepastian bahwa koper akan langsung diterima di Vienna menjadi suatu keharusan. Rebyek banget kalau harus ambil koper untuk kemudian check in kembali. Apalagi konon, terminal keberangkatan menuju negara2 Eropa di Dubai, lokasinya cukup jauh. Harus menggunakan kereta antar terminal selama +/- 15 menit.

Usai melalui "segala" macam prosedur pemeriksaan barang, termasuk "mengeluarkan" gunting yang ternyata masih tersimpan dalam tas notebook anak saya, kami duduk anteng menunggu waktu boarding. 

Hal yang selalu kami perhatikan dalam perjalanan jarak jauh adalah membawa minimal seperangkat pakaian lengkap dengan peralatan mandi dan handuk kecil ke dalam tas cabin. Untuk ber-jaga2 bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan .... seperti misalnya bagasi tidak terbang bersama kita. Untuk menghemat tempat, dalam perjalanan ke negara sub tropis pada musim dingin, maka long john sudah harus dipakai dan ini tentu berguna juga untuk mengurangi rasa dingin di dalam pesawat selama perjalanan. Begitu juga dengan overcoat, walau tebal, terpaksa ditenteng.

Perjalanan yang dilakukan dini hari membuat siksaan tersendiri terutama bagi mereka yang tidak dapat tidur nyenyak dalam posisi duduk dan pasti akan membuat stress datang selama perjalanan. Waktu tidur dan jam biologis tubuh berantakan. Pola makan juga menjadi kacau balau. Kurang asupan air dan buah-buahan.

Tiba di Dubai sekitar jam 04.00 pagi, kami langsung mencari terminal pemberangkatan yang memang ternyata sangat jauh, dengan menggunakan kereta bawah tanah (?!) selama sekitar 15 menit. Airport yang maha luas dan panjang membuat perut mulai keroncongan dan kami terpaksa mencari sandwich dan minuman pengisi perut selama menunggu waktu boarding kembali sekitar 4 jam lagi. Dubai International Airport terminal B yang "maha luas" dipenuhi dengan berbagai macam toko ... layaknya sebuah mall di tengah kota. Namun manakala jam tidur sudah terganggu, maka segala daya tarik "pencuci mata" tidak bisa mengganggu keinginan beristirahat. Lebih baik mencari kursi (reclining chaise) yang nyaman untuk sekedar meluruskan badan, walau tidak sempurna.
***
Sekitar 1 jam sebelum take off, penumpang sudah mulai dipanggil untuk boarding .... dan oupfs ..... kelihatannya bakal mendapat "rejeki nomplok". Pesawat relatif kosong dan tentu kami bisa meluruskan badan selama perjalanan, Anak saya dapat menggunakan 4 kursi yang berada di bagian tengah pesawat dan tidur nyenyak selama perjalanan sementara saya dan suami menggunakan 3 kursi pinggir. Alhamdulillah, perjalanan yang sangat menyenangkan menuju Vienna ... Semoga perjalanan selanjutnya menjadi lebih menyenangkan

Tiba di Vienna tepat jam 12.25 waktu setempat. Temperatur tercatat - 4C. Beruntung kami sudah menggunakan longjohn dan overcoat "di tangan" sehingga bisa langsung digunakan dan tidak sempat terkena terpaan cuaca ekstrim bagi penduduk negara tropis.

Pemeriksaan imigrasi cukup lancar, walau petugas menanyakan tentang visa yang dikeluarkan oleh kedutaan Hungaria dan bukan Austria sebagai negara yang menjadi pintu masuk kami ke Eropa. Kami berjalan menuju area bagage claim dengan rasa syukur ... perjalanan awal sudah terlewati dengan lancar. Tinggal menunggu bagasi. Anak saya yang sudah sejak sekitar 5 hari sebelumnya tiba di Vienna, sudah mengirim berita via whatsaap, bahwa dia sudah menunggu di hotel tempat kami akan menginap selama di Vienna. Alhamdulillah ...

Ternyata .... kegembiraan itu tidak berlangsung lama ..... Menit demi menit berlalu .... koper demi koper diambil pemiliknya dan ...... 2 koper kami tidak ditemukan .... Panik ...., bukan saja karena semua pakaian ada di dalamnya, tetapi berbagai "perangkat" yang akan digunakan anak saya termasuk 2 buah buku tentang Indonesia berada di dalamnya. Kemana "larinya kopor2 tersebut...?"

Jumat, 16 Desember 2016

CERITA LAMA TENTANG ORANG KECIL

Ini cerita lama tentang seorang pedagang pisang barangan yang berjualan di paruh timur jalan Pakubuwono VI Kebayoran Baru–Jakarta Selatan. Kejadiannya sudah cukup lama. Sudah hampir 20 tahun yang lalu, sehingga sangat dimaklumi bila wanita pedagang pisang barangan itu sudah tidak lagi bisa ditemui di tempat biasa dia berdagang dulu.

Ketika itu, saya masih tinggal di Bekasi dan potongan jalan Pakubuwono VI tersebut selalu dilalui manakala jam pulang kantor menuju rumah, yaitu untuk mencapai gerbang tol Senayan yang berada di seberang gedung MPR–DPR. Biasanya seminggu sekali, saya selalu membeli 2 sisir pisang barangan. Kadang lebih manakala teman–teman kantor meminta dibuatkan banana cakes.

Hingga suatu saat, seperti biasa saya berhenti di hadapan rak jualannya untuk meminta diambilkan 2 sisir pisang yang setelah dimasukkan ke dalam kantong kresek, disodorkannya kantong tersebut.
“Ini uangnya …..”, sambil mengambil kantong berisi 2 sisir pisang.
“Wah bu …. Ada uang pas saja? Saya tidak punya kembalian..”, sahutnya.

Kuraih dompet dalam tas, mencari uang pas pembayar 2 sisir pisang……
“Duh …. Nggak ada lagi … dompetku juga kosong. Cuma ada selembar itu saja …. Tukar saja deh ke tukang rokok itu” Jawabku.
Di sebelah lapaknya, memang ada gerobak penjual rokok. Dia lalu beringsut menuju tukang rokok…. Namun sayang…, entah kenapa, sore itu rupanya bukan hari keberuntungan. Tukang rokok tak memberikan tukaran uang.

“Bu …., bawa saja uang ini… mungkin ibu perlu uang ini, entah untuk bayar tol atau parkir, nanti…”
“Waduh ….. jangan dong …. Masa saya harus berhutang….? Kalau begitu, nggak jadi beli deh ….!”, sahutku, merasa berkeberatan kalau harus membawa 2 sisir pisang tanpa membayar…
“Nggak apa bu ….!!! Bawa saja pisang itu. Mungkin anak atau suami ibu mengharapkan dan menunggu pisang itu di rumah. Ibu bisa membayar besok atau kapan saja, kalau ibu lewat sini lagi….!”

Saya mengambil kembali selembar uang 100 ribuan yang disodorkannya tersebut, karena kebetulan memang hanya tinggal selembar itu saja yang ada lama dompet. Memang, sisa pengembalian pisang tersebut akan saya gunakan untuk membayar toll ke Bekasi.

Agak malu hati dengan keihklasan pedagang pisang tersebut. Betapa luas hatinya. Tanpa prasangka apapun pada pembeli … Padahal, siapa yang bisa menjamin kalau keesokan hari, saya akan kembali melewati jalan tersebut untuk membayar 2 sisir pisang barangan. Ada banyak jalan lain untuk menuju rumah …. Kalaupun saya melewati jalan tersebut lagi, bisa saja saya pura–pura lupa untuk tidak membayarnya. Ah … sungguh peristiwa yang sangat menyentuh hati dan menyadarkan saya bahwa justru orang–orang kecil seperti penjual pisang itulah yang sangat percaya bahwa rejeki dapat diperoleh dengan cara apa saja. Naif …..? Entahlah …. Kita yang merasa dari golongan “berpunya” dan berpendidikan justru sangat berhitung dan sangat tidak mau merugi sedikitpun …

Rabu, 14 Desember 2016

PATERNALISTIK, FEODALISTIK dan DEMOKRASI

Hari Selasa 13 Desember 2016, kemarin, saya ditugaskan untuk menyerahkan dokumen kepada orang dekat keluarga Cendana. Usai menjelaskan isi dokumen yang saya serahkan tersebut, kami ngobrol panjang lebar tentang beragam hal. Mulai dari behind the scene kejadian di bulan Mei 1998 serta betapa beratnya kondisi psikologis mereka sampai dengan kejadian-kejadian politik aktual baik di Indonesia maupun luar negeri.

Saya sejak lama bukan pendukung pemerintah golkar. Jadi, walau suami memiliki status sebagai PNS, sejak awal saya menolak mengisi formulir "permohonan menjadi anggota golkar" dengan segala konsekuensinya ... dan toh, saya tidak pernah tahu apa memang ada konsekuensi tersebut untuk kehidupan kami. Namun demikian, pasca 1998, saya "terpaksa" harus menganggap bahwa reformasi 1998 ini kebablasan. Kita memang menjadi lebih bisa menyuarakan apa saja, tanpa sensor pemerintah lagi dan dari sudut apa saja, "semau yang bicara/menulis". Hal ini kemudian menjadi terlihat sangat kebablasan apalagi di era penggunaan media sosial, terutama menjelang "pesta demokrasi", yaitu bahasa halusnya dari pemilihan umum, teruttama pada pemilihan presiden dan kemudian tambah runyam lagi saat pemilihan kepala daerah.

Kebablasan juga bisa dilihat dari tata kelola negara. APBN dan APBD ternyata jadi ajang "bancakan dana", titipan-titipan dari beragam pihak, baik dari eksekutif maupun legislatif. Akhirnya kita jadi berpikir .... mungkinkah pihak-pihak yang pada jaman pak Harto tidak kebagian "kue pembangunan", maka pada era reformasi yang seharusnya melakukan "bersih-bersih" dari perilaku KKN yang menjadi alasan "tumbangnya" pemerintahan Suharto, malah tergiur untuk bermain, mengulangi "sejarah kelam" dan larut dalam KKN versi baru yang lebih meluas.

Mungkinkah, kita memang menganut azas fatalistis ...., namun dalam persepsi negatif. Boleh saja menilai rezim lama buruk dan harus dibuang jauh-jauh, asalkan apa yang sudah dijatuhkan dan dibuang itu, jangan kemudian dipungut kembali dan dijalankan dengan cara yang lebih "sadis". Padahal, kalau kita mau jujur, tidak semua dari apa yang dilaksanakan pemerintahan lalu itu, jelek! Siapa bilang Repelita alias Rencana Pembangunan lima Tahun, itu jelek? Padahal, kita tahu bahwa apa yang dibuat oleh Suharto melalui Repelita yang bertahap adalah suatu "guidance" untuk menjalankan pemerintahan agar memiliki tujuan dan sasaran, sesuai dengan "arahan" GBHN. Perjalanan yang baik tentu harus ada perencanaan yang baik pula. Bukankah hanya untuk menyelenggarakan acara pernikahan saja, kita juga membutuhkan suatu "rundown" acara, agar semua berlangsung dengan baik sesuai maksud dan tujuan.

Ah ..... entah kenapa, dalam membaca dan melihat berita yang berseliweran baik dalam media sosial, layar kaca, majalah berita maupun koran, saya merasa ngeri terhadap masa depan negeri ini. Tulisan yang saya baca tentang sinyalemen Jenderal Gatot Nurmantyo tentang PROXY WAR membuat hati terasa ketar ketir melihat pertarungan sengit menjelang pilkada 2017, terutama pilkada DKI. Sesungguhnya, bila kila mau melakukan kilas balik, "pertarungan" ini dimulai ketika PDIP menunjuk Joko Widodo yang saat itu sedang memegang posisi sebagai Gubernur DKI Jakarta Raya, menjadi calon presiden RI, menggantikan posisi Megawati Sukarnoputri, yang sejak awal diprediksi banyak orang akan menjadi calon presiden RI. Penunjukkan yang sangat mengagetkan partai politik peserta pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, yang kemudian mengharuskan mereka mengatur strategi baru.

Sejak saat itulah berbagai perang opini dan proxy war di bumi Indonesia, dimulai. Latar belakang para calon dikupas habis ..... Ah, biasalah ..... Boleh-boleh saja mengupas latar belakang mereka, supaya rakyat tidak salah pilih. Dan karena keduanya masih memilik darah Jawa, maka bobot, bibit, bebet dikupas tuntas ...., dan disini mungkin mulai terjadi ketidakseimbangan .... yang sayangnya ditindaklanjuti dengan cara gelap mata. Fitnah bertebaran .....

Pada tititik itu, tiba-tiba saya teringat, konon pada jaman pemerintahan Suharto dulu ... Dalam suatu kesempatan, beliau pernah berdialog dengan anak-anak Indonesia ..., sebagaimana sering beliau lakukan dalam berbagai kunjungan ke daerah. Latar belakang pak Harto sebagai anak petani dusun Kemusuk - Jogjakarta, mungkin ingin dijadikan sebagai penyemangat agar anak-anak Indonesia, dimanapun berada, terutama anak-anak yang orangtua mereka masuk dalam golongan masyarakat berpenghasilan rendah atau petani miskin untuk tidak malu memilik cita-cita setinggi langit.

"Anak-anak .... apa cita2 kalian kelak bila sudah besar nanti ....?"
Ramai mereka berebut mengacungkan tangan, menjawab pertanyaan kepala negara... Bapak bagi anak-anak Indonesia ...

" Ingin jadi presiden seperti bapak ....!"
Jawab salah satu anak petani desa itu ....

Kini, pak Harto sudah tiada ... Semangat reformasi telah menjatuhkannya dengan cara yang kurang menyenangkan dan menggantikan era pemerintahannya. Beliau memang seringkali dicap secara diam-diam sebagai diktator militerisme ... Orang yang cukup ditakuti di kawasan Asia Tenggara.

Kini, era reformasi telah berjalan 18 tahun lamanya. Sedang ranum, bila dia seorang gadis ... dan sebagai gadis yang ranum, tentu banyak jejaka yang mulai meliriknya.... dan keremajaan seringkali menunjukkan sifat labil karena masih dalam tahap mencari jati diri... Begitu pula karena sifatnya tersebut, maka para jejaka mulaj melirik, Menggoda memasang jerat ....
Reformasi dan demokrasi negeri ini memang masih terlihat labil. Masih mencari bentuk, di tengah pergaulan global. Entah model demokrasi mana yang mau ditiru. Model Amerika Serikat atau model demokrasi yang dianut oleh negara-negara Eropa. Yang terlihat di permukaan, demokrasi yang dianut oleh masyarakat Indonesia sepertinya masih dalam tataran euforia kebebasan yang tanpa batas. Asal teriak, tanpa etika dan pada akhirnya malah menciptakan tirani baru berlabel agama, golongan atau kelompok.

Sungguh ... saat ini, saya mulai berpikir ... andai waktunya kelak terjadi, yaitu manakala anak ataupun cucu ramai merangkai dan menyusun angan dan cita-cita... Maka akan  saya katakan pada mereka ...
"Nak ..... bercita-citalah secara realistis ...
Karena itulah yang wajar untuk ketenangan dirimu
Karena cita2 setinggi langit, bukan milik kita ...
Itu hanya milik orang2 berdarah ningrat,
Demokrasi Indonesia tidak pernah mematikan feodalisme ...
Anak petani tidak akan pernah bisa meraih asa
Walau kesempatan dan kemampuanmu setinggi langit..
Gempuran akan terus menghantammu
Walau kau sudah mendapat amanah orang banyak ...
Karena kau bukan dari golongan elite ...
Kau bukan apa2 dan ..
Bukan siapa-siapa...
Asalmu ....
Nenek moyangmu ...
Dan profesi awalmu .....
Tidak akan pernah dianggap memadai
Untuk posisi yang tinggi ....
Feodalisme masih belum luntur
Mengikuti reformasi dan demokrasi ...
Malah semakin menguat ...
Dalam balutan segala ...
Yang dapat mereka balut ..."

Senin, 21 November 2016

BANDIT EKONOMI

Sekitar 10 atau 12 tahun yang lalu, saya membaca di salah satu mailing list, ulasan tentang buku CONFESSION OF AN ECONOMIC HIT MAN yang ditulis oleh John Perkins. Ulasan menarik tentang bagaimana kiprah para bandit ekonomi dalam menciptakan penjajahan modern di negara-negara berkembang yang kaya dengan sumber daya alam. Buku tersebut menjadi lebih menarik, karena menceritakan juga tentang kiprah penulisnya dalam upaya menguasai dan mempengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia agar tanpa disadari, Indonesia masuk ke dalam jerat korporatokrasi Amerika Serikat. 

12 tahun sudah berlalu, jejak pekerjaan para bandit ekonomi masih sangat terasa ketika kita memperhatikan gejolak roda perekonomian negara tercinta ini. Makin jelas terasa pada masa pemerintahan kabinet kerja saat ini. Tanpa bermaksud untuk mencari kambing hitam atas berbagai masalah, terutama yang berkaitan dengan perekonomian domestik yang terjadi saat ini, rasanya, isi dan pembahasan dalam buku tersebut masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia.
Baca lah ....... 
IQRA ...... 
Seperti juga ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Salallahu Allaihi wasSalam, bacalah .... agar kita mengerti dan berpikir. Agar kita mampu secara bersama-sama membangun bangsa dan negara ini sesuai dengan cita-cita para pejuang kemerdekaan.
***

Andaikata saja, kita mau berpikir terbuka dan kritis, maka buku Confession of an Economic Hit Man akan membawa dan membuat pembacanya mengerti bahwa korupsi-kolusi dan nepotisme yang biasa disingkat menjadi KKN yang terjadi dan dialami di negara-negara berkembang di kawasan Amerika Latin dan di Asia, termasuk Indonesia, sesungguhnya  adalah strategi korporatokrasi (koalisi pemerintah, bank dan korporasi) USA. Data statistik yang sampai sekarang masih dipakai di Indonesia dan mungkin juga di seluruh dunia guna menggambarkan pertumbuhan ekonomi negara seperti produk domestik bruto, pendapatan per kapita, tingkat pertumbuhan dan lain lain adalah akal-akalan USA agar pemerintahan yang sudah dikuasainya terlena. Agar pemerintah negara tersebut berpikir dan berpendapat seolah negaranya bertumbuh kembang dengan baik, padahal sebetulnya pondasi ekonominya semakin hancur. Negara memang terlihat maju, pendapatan seolah meningkat pesat, tapi tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi tersebut tidak merata. Hanya segelintir masyarakat yang menikmatinya, terutama golongan yang dikategorikan elite negeri dan kroninya.

John Perkins, mengakui pengalamannya dalam bekerja sebagai seorang pelayan kepentingan korporatokrasi Amerika Serikat, memberikan andil yang cukup besar sebagai penyebab terjadinya beberapa peristiwa dramatis dalam sejarah, seperti kejatuhan Shah Iran, kematian presiden Panama Omar Torrijos dan invasi Amerika ke Panama & Irak atas dasar keinginan Amerika Serikat memonopoli ekonomi-politik global. 

John Perkins sendiri adalah seorang pria keturunan Inggris yang berpaham calvinis dan sudah mulai direkrut  sebagai seorang Economic Hit Man-EHM oleh Badan Keamanan Nasional (National Security Agency, NSA), institusi terbesar Amerika Serikat, sejak dia masih kuliah di jurusan ekonomi bisnis sekitar akhir tahun 1960-an. Pada dasarnya, hanya orang-orang terbaik dan dipilih secara acak yang direkrut sebagai anggota EHM.

Pada dasarnya apa yang dilatih dan EHM kerjakan adalah untuk membangun imperium Amerika Serikat di berbagai belahan dunia terutama di negara-negara berkembang yang kaya dengan sumber daya alam. Membawa, merekayasa situasi dimana berbagai sumberdaya (dunia) sebisa mungkin keluar dan mengalir deras menuju negara Amerika Serikat melalui manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, bujukan agar Negara yang dibidik bersedia mengambil hutang raksasa yang ditawarkan sehingga hal tersebut di kemudian hari menjadi instrument politis untuk mengintervensi dan mengintimidasi Negara tersebut. 


Atas penugasan dari MAIN, sebuah konsultan independen usa, sebagai kamuflase bahwa sebetulnya penulis adalah orang yang ditunjuk oleh national security agency-nsa untuk membentuk korporatokrasi Amerika di negara-negara berkembang. Tugas pertama John Perkins adalah menghitung proyeksi ekonomi investasi sebuah negara berkembang, misalnya Indonesia yang kaya minyak dan pada waktu itu negara tersebut perlu diselamatkan dari paham komunisme. 


Setiap kesempatan akan dipergunakan untuk menyakinkan  suatu bangsa bahwa membeli berbagai barang adalah salah satu kewajiban sebagai warga negara dan menjarah bumi atau dalam bahasa halusnya mendayagunakan sumber daya alam adalah tindakan yang baik dilakukan atas nama laju ekonomi global dan hal itu akan memenuhi kepentingan yang lebih tinggi. Di Indonesia, dengan lihainya John Perkins bisa masuk ke jantung perencanaan pembangunan negara, sebagai anggota dari konsultan yang ditunjuk oleh Bappenas dan karenanya tentu akan mampu mempengaruhi berbagai kebijakan ekonomi Indonesia. Dalam buku itu juga disebutkan oleh John Perkins bahwa statistika ekonomi yang diajarkan di usa memang merupakan bagian dari strategi nsa untuk menguasai ekonomi dunia.

Pintu Masuk Neo-Kolonialisme Korporatokrasi bukanlah sebuah konspirasi, tetapi anggota-anggotanya mendukung nilai dan sasaran bersama. Salah satu fungsi korporatokrasi yang terpenting adalah mengabadikan dan secara terus menerus memperluas dan memperkuat sistem ketergantungan sebuah negara dengan menyajikan model ekonomi untuk meningkatkan konsumsi, konsumsi, konsumsi terutama barang impor negara maju dan melupakan kultur produktif. Kondisi tersebut diskenariokan dalam bentuk pinjaman untuk mengembangkan infrastruktur seperti: pembangkit tenaga listrik, jalan raya, pelabuhan, bandar udara atau kawasan industri. Salah satu syarat pinjaman adalah: perusahaan kontraktor dari negara Amerika Serikat-lah yang mesti membangun semua proyek itu. 

Cara melakukan ketergantungan negara kepada Amerika adalah dengan mendekati para pengambil kebijakan publik dan membuat kesepakatan-kesepakatan tertentu untuk mengikat para pengambil kebijakan publik agar berpihak kepada mereka, yaitu perusahaan multinasional asal Amerika Serikat. Itu sebabnya puluhan tahun yang lalu, kita sering mendengar rumor tentang Mrs Ten Percent atas penguasaan saham-saham perusahaan multinasional yang memang sangat sukar dibuktikan. Begitu pula dengan saham-saham kosong (tanpa setoran alias saham pemberian) yang diberikan kepada keluarga pejabat di berbagai proyek pemerintah di berbagai sektor perekonomian Indonesia. 


Hingga kini, jejak korporatokrasi masih berbekas jelas dan sangat mungkin semakin berkembang dan merata. Bila pada era orde baru, KKN hanya dilakukan oleh pejabat pembuat kebijakan publik dari golongan eksekutif, maka pada era reformasi kkn dilakukan baik oleh kalangan eksekutif, judikatif maupun legislatif di hampir seluruh sektor ekonomi dan jenjang sosial masyarakat.

Pada level masyarakat awam, penjajahan ekonomi dilakukan melalui budaya pop dan gaya hidup konsumtif yang diperkenalkan dengan masuknya label-label dagang kelas dunia melalui sistem waralaba di berbagai bidang, mulai dari makanan, jasa, jaringan retail, barang-barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang-barang sandang bermerek dunia. Tidak heran, bila berbagai merek dagang terkenal di dunia selalu memperhitungkan Indonesia khususnya Jakarta pada saat akan memperkenalkan produk barunya dan kita juga akan melihat betapa masyarakat kelas atas Indonesia sudah sedemikian familiarnya dengan beragam merek dagang kelas dunia yang harganya bisa membuat mata melotot.

Mungkin ada baiknya kalau kita sedikit kritis, dan bertanya-tanya mengapa bea siswa G to G lebih diutamakan untuk pegawai negeri sipil alias pns dan dosen dan belakangan ini bisa diperoleh siapapun dengan syarat "memiliki kontribusi tinggi dalam kehidupan masyarakat"?Hal ini tentu bukan tanpa maksud strategis. Pemberian bea siswa jenis tersebut, sejatinya merupakan salah satu upaya negara maju untuk mem brainwash kaum intelektual negara berkembang agar mindset mereka dalam menjalankan tugas dan aktifitasnya, memiliki tujuan akhir pekerjaan yang bukan lagi untuk kepentingan rakyat di negaranya, tapi diarahkan supaya setiap kebijakan publik yang diambilnya adalah untuk memuluskan korporatokrasi Amerika Serikat atau negara maju (pemberi bea siswa) lainnya di seluruh dunia.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, sejatinya adalah untuk melepaskan Indonesia dari belenggu korporatokrasi tersebut, tapi korporatokrasi sudah sedemikian erat mencengkeram benak orang Indonesia. Sudah 46 tahun (kalau dianggap mulai masuk tahun 1970) dan tentu ada terlalu banyak elite dan kroni yang terganggu kenyamanannya bila Indonesia lepas dari korporatokrasi tersebut. Ditambah lagi, sebagian masyarakat yang masih memiliki idealisme tinggi memang enggan berdebat/bersikap kritis secara terbuka.... Apalagi, sebagian masyarakatpun kini terbelenggu tiran baru berlabel keagamaan....

Maka.... akan dibawa kemana arah perkembangan NKRI ini?

Jumat, 18 November 2016

si MBOK

Pagi ini, aku membaca tulisan dari salah seorang rekan di akun facebook nya. Tulisan yang sangat menyentuh tentang berbagi, yang rasanya sudah sangat jarang terjadi pada masyarakat kapitalis perkotaan. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.
Selamat menunaikan ibadah shalat Jum'at berkah

S I M B O K

"Mbok,  kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dengan mulut penuh makanan, masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu-kayu bakar di tungku, simbok menjawab, 
"Hambok yo ben toooo..."
"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku.
"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem. 

Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen. 

"Lhaa itu? Tiap hari kan yo cuma simbok bagi-bagiin ke tetangga-tetangga to? Orang-orang yang liwat-liwat mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.
"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang.."
"Sodakoh kok mban dino?! Koyo sing wes sugih-sugiho wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.
"Ukuran sugih ki opo to, Kir?" 
Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!

"Hayo turah-turah leh duwe opo-opo .... Ngono we ndadak tekon!" 

"Lha aku lak yo duwe panganan turah-turah to? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...". 

Tangannya yang legam dengan kulit yang makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera untuk berdebat.


"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana. Nek nunggu bandamu mlumpuk lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi ikhlas. Simbokmu iki sugih, le,  mban dino duwe pangan turah-turah, dadi iso aweh, tur kudu aweh. Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti Allah, ingatase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.

"Iyo, iyoooooh.."
"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mban dino?"
"He eh."
"Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi-wengi ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngono kuwi, le. Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng paran omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh ndak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang... Paham?"

Aku diam. 
Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, terus berlalu masuk kamar. 

Ah, simbok. 
Perempuan yang ngga pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesama dengan caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yang bangga belajar kapitalisme dengan segala hitung-hitungan untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan. Lupa bahwa ada Tuhan yang menjamin hidup setiap mahluk bernyawa.

Simbokku benar: sugih itu kemampuan hati untuk memberi untuk liyan, bukan soal mengumpulkan harta untuk diri sendiri.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...