Minggu, 27 Agustus 2017

WISUDA SARJANA - Program SPESIALISASI, MAGISTER dan DOKTOR

Hari Jum'at 25 Agustus 2017, setelah tahun lalu dan awal Februari 2017 lalu, absen menghadiri acara Wisuda sarjana, pada awal tahun ajaran baru ini, keisengan untuk ikut hadir pada acara tersebut muncul lagi.

Iseng ...? Bisa jadi .... untuk pengalih rasa jenuh dari kerjaan kantor .... kebetulan juga sudah berjalan selama sekitar 11 tahun, undangan untuk menghadiri acara ini selalu hadir. Bolehlah, sesekali menanggalkan identitas pribadi untuk masuk ke dalam identitas sebagai istri... hehe...

Jadi ...., setelah supir pak Boss usai shalat Jum'at, dan saya sendiri juga sudah menunaikannya ... dengan agak rebyek, karena kekhawatiran macet akibat banyaknya kendaraan menuju kampus UI Depok, saya dan si anak yang juga mahasiswa di departemen yang sama dengan tempat bapaknya mengajar, melundur ke Depok. Walau bila diratik garis lurus, rumah kami hanya berjarak pada radius tidak sampai 1km dari kampus UI, namun jalan memutar yang harus ditempuh bila menggunakan kendaraan beroda 4, menyebabkan waktu tempuh menjadi sekitar + 30 menit. Masih mendinglah, dibandingkan dengan waktu tempuh dari kawasan Lebak Bulus, tempat tinggal kami dulu.

Si anak, agak malas2an diajak... namun emak sedikit memaksa, supaya ada teman mengobrol. Maklum saja ... saya bukan aktifis kegiatan emak2 Dharma Wanita. Bahkan sama sekali tidak pernah aktif, sejak dulu kala ..... jaman emak2 bilang bahwa aktifitas istri di Dharma Wanita berperan penting buat karier suami.

Setelah menjemput suami di "kandang"nya ... kami meluncur ke gedung PAU ... Biasanya emak2 undangan berkumpul disini dulu, icip2 makanan kecil, menjelang acara. Biasanya sekitar 15 menit sebelum rombongan guru besar memasuki tempat acara, emak2 mulai memasuki ruang acara. Mendapat kehormatan duduk di kursi VIP pada arah keluar para guru besar, usai acara wisuda dan penerimaan mahasiswa.

Acaranya sih rutin saja .... Dari tahun ke tahun, urutan acaranya juga persis sama... Yang istimewa tahun ini, atau juga saya baru tahu dan menyadarinya bahwa ada perubahan besar untuk lagu pengiring saat para guru besar masuk ke ruang acara, yaitu Balairung Uinversitas Indonesia.

Bila biasanya, lagu Gaudeamus Igitur yang mengiringi langkah para guru besar dengan jubah kebesarannya ... yang memang ukurannya besar-besar ...., maka saat itu, langkah mereka diiringi lagu SATU NUSA SATU BANGSA ...
Syahdu ...? so pasti .... Malah jadi terharu ...
Tidak kalah terharu dibanding saat mendengar lagu Gaudeamus yang sebetulnya sama sekali tidak dimengerti arti liriknya. Hanya iramanya saja yang memang mengundang haru.

Entah siapa dan karena apa, terjadi perubahan itu..., namun apapun alasannya, keputusan tersebut patut diacungi jempol...

Hidup Universitas Indonesia
VIVA Universitas Indonesia
VIVRE Universite Indonesia

Selasa, 16 Mei 2017

Free incubators save lives of Indonesian babies

Hundreds of premature babies born in Indonesia are benefiting from the work of an engineering professor who is building incubators and lending them for free to low-income families in a bid to fill a gap in the healthcare system.







Kamis, 20 April 2017

SELAMAT UNTUK SEMUA…!

Pertama, Selamat untuk Mas Anies dan Sandi yang berhasil menarik simpati lebih banyak warga DKI untuk memilihnya menjadi Gubernur DKI baru. Anda telah berhasil meyakinkan warga DKI bahwa Anda layak untuk menjadi pemimpin yang lebih baik daripada sebelumnya. Anda pasti tidak akan mengecewakan mereka karena Anda berdua punya kapasitas untuk menjadi pemimpin besar Indonesia. 

Seperti yang selalu saya katakan, Mas Anies adalah orang yang akan mampu merangkul dan mengajak semua pihak untuk membantunya membangun visi dan misi Jakarta (dan Indonesia) yang lebih baik. Saya yakin bahwa Mas Anies juga akan mampu meyakinkan para penentang dan penolaknya sebelumnya bahwa apa yang mereka kuatirkan darinya sebelum ini akan dapat ditepis. Percayalah, Anies Baswedan, seperti yang saya kenal selama ini, adalah orang yang memiliki kualitas pribadi dengan kemampuan membangun yang luar biasa. Ia adalah pemimpin hebat yang dicintai oleh orang-orang yang bekerja dengannya. 

Jika Anda pikir Anies Baswedan akan membiarkan intoleransi dan radikalisme merajalela di bawah kepemimpinannya maka insya Allah Anda salah. Anies Baswedan itu sama teguhnya dengan Ahok dalam soal intoleransi dan radikalisme dengan cara yang berbeda. Ahok itu gaya Bugis sedangkan Anies gaya Jogya. Jadi, jika sebelum ini Anda berada di kubu Ahok dan Djarot, mari lupakan pertentangan dan permusuhan yang berlarut-larut dan mari kita menatap masa depan DKI Jakarta dan Indonesia dengan optimisme dan harapan yang baru. Tuhan telah menetapkan kehendakNya dan mari kita terima kehendakTuhan ini dengan penuh tawakkal dan rasa syukur. 

Kedua, selamat untuk Ahok dan Djarot. Anda berdua telah menunjukkan sikap ksatria yang akan menjadi contoh bagi pemimpin lain di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Begitulah cara berkompetisi dan begitulah cara menerima kekalahan. 

Untukmu, Ahok, my best sympathy. I think I love youmore and more. Ada jutaan warga DKI yang begitu mencintaimu dan tidak rela jika kamu harus pergi dari DKI Jakarta. Mereka telah begitu tertambat hatinya oleh harapan akan Jakarta dan Indonesia yang gemilang di tanganmu. Dan mereka berharap agar kamu tetap menjadi gubernur. Tapi Tuhan menginginkan peran baru bagimu, 

Ahok. And you will do a new role in the future a much better way because you have learned a lot and there are so many people who will back you up in anyway they can. So step up and be ready with the new task from God sooner. Apa yang telah kalian lakukan bagi DKI Jakarta selama ini adalah sebuah karya fenomenal dan akan menjadi contoh yang akan menginspirasi para pemimpin Indonesia lainnya. You definitely rock so far…! 

Ketiga, selamat untuk semua warga DKI Jakarta danIndonesia. Meski sebelum ini kita menunjukkan betapa kerasnya permusuhan yang muncul di antara kedua kubu tapi kita berhasil lolos dari sikap dan prilaku yang brutal dalam menerima hasil pilgub ini. Ini bukti bahwa kita adalah warga dunia yang beradab yang mampu menahan diri. Ini adalah bukti kita masih selalu dilindungi oleh Tuhan dari bencana yang mungkin muncul dari tangan kita sendiri. 

Bagi warga DKI yang memilih Anies dan Sandi, selamat atas kemenangan ini. Anda tidak salah pilih. Mereka adalah harapan akan Jakarta yang lebih baik di masa depan. Adalah tugas Anda semua untuk menjaga agar Anies– Sandi benar-benar dapat menjalankan tugasnya untuk menjadikan DKI Jakarta jauh lebih baik dengan modal apa yang telah diletakkan oleh Ahok – Djarot selama ini. Mereka punya semua modal untuk menjadikan Jakarta yang luar biasa. Tuhan telah mengabulkan doa Anda dan Anda wajib bersyukur untuk itu dengan menunjukkan sikap yang rendah hati. Sikap sombong dan angkuh bukanlah sikap orang yang bersyukur.  

Bagi warga yang memilih Ahok – Djarot. Hei…! Cheer up…!Singkirkan wajah murammu dan show me your spirit (let’s have some coffee if we need to). Anda sebenarnya tidak kalah. No way, dude. You’re also a winner. Anda telah berjuang dengan begitu gagah berani sehingga saya sering menahan napas karena kagum dengan segala perjuangan Anda selama ini. You really rock and you amaze me…! Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah bahwa Anda menunjukkan kualitas Anda yang luar biasa dengan mampu menerima hasil pilgub ini dengan begitu elegan. Anda tidak mengamuk, meradang,meledakkan kemarahan, atau apa pun hal negatif yang mungkin diperkirakan oleh orang lain. Tidak! Anda menerima semua keputusan ini dengan dada lapang dan sikap ksatria. That’s what you are…! 

Anda tidak perlu cemas akan nasib DKI Jakarta ke depan karena Anda mendapat pemimpin yang sama hebatnya dengan Ahok-Djarot.  It’s only a switch of style, gayanya saja yang berbeda dengan tekad dan daya dobrak yang sama. Mari kita kuburkan semua kemarahan dan kebencian kita kepada siapa saja demi DKI Jakarta dan Indonesia yang kita cintai. Mari kita bantu Anies dan Sandi untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dan lebih efektif bagi DKI Jakarta karena itu yang Anda inginkan dan harapkan. 

Oleh sebab itu, mari kita bersyukur pada Tuhan YMEyang telah menjaga bangsa dan negara ini dari azab dan bencana. Ini adalah berkah dan karunia bagi kita semua dan jika kita menerima ini dengan rasa syukur maka Tuhan akan melimpahkan lebih banyak lagi berkah dan karuniaNya.

Mari kita memberi selamat kepada semua orang dan juga diri kita. Kita telahmembuktikan diri bahwa kita adalah bangsa yang besar dan pantas menjadi contoh bagi bangsa lain. Musiiik….! (Yang mau shalawatan dipersilakan). 

Salam,
Surabaya, 20 April 2017
Satria Dharma http://satriadharma.com/

Senin, 17 April 2017

ANDA MEMBACA ATAUMENGAJI? (DO YOU READ OR JUST RECITE?

Atas ijin penulisnya, yaitu bapak SATRIA DHARMA, saya merepost tulisan yang sangat menarik ini. Untuk itu, saya sampaikan terima kasih kepada pak Satria Dharma, atas ijin yang disampaikannya melalui email pribadi.
***

Salah seorang tante saya, kakak dari ibu saya (kalau di Jawa disebut Bude), yang bernama  Siti Aisyah (atau sering kami panggil dengan ‘Tante Isa’) adalah satu-satunya tante kami yang tidak bersekolah. Meski demikian beliau tidaklah buta huruf. Beliau bisa mengaji karena bisa membaca huruf hijaiyah. Tapi beliau memang tidak bisa membaca huruf latin karena tidak bersekolah. Dulu beliau pernah bersekolah entah sampai kelas berapa tapi kemudian karena ada persoalan apa akhirnyamenolak untuk bersekolah. Beliau keluar dari sekolah sebelum mampu membaca. 

Pada waktu itu kakek dan nenek kami tidak memaksanya untuk meneruskan sekolah. Entah apa pertimbangannya. Tapi mereka tetap meminta tante Isa untuk belajar mengaji di rumah. Karena tante Isa tidak bersekolah dan tidak belajar membaca huruf Latin maka boleh dikata beliau sebenarnya itu ‘unlearned’ alias tidak memiliki pengetahuan meski bisa mengaji. Karena beliau bisa membaca Alquran maka satu-satunya bacaan beliau adalah Alquranul Karim yang terus menerus dibacanya. Begitu khatam beliau membacanya lagi dari awal sampai khatam dan diulanginya lagi. Entah sudah berapa ratus kali beliau khatam Alquran karena rajinnya beliau mengaji. Tak ada saudaranya, apalagi keponakannya, yang mampu mengalahkan beliau dalam soal mengkhatamkan Alquran. Semoga amalannya ini akan mengantarkan beliau ke sorga. Amin! 

Apakah dengan mengkhatamkan Alquran ratusan kali maka Tante Isa memahami isi Alquran? Tentu saja tidak. Apakah dengan mengkhatamkan Alquran jauh lebih banyak daripada siapa pun di keluarga kami maka beliau adalah orang yang paling paham tentang isi Alquran? Juga tidak. Beliau sebenarnya bukan ‘membaca’ tapi beliau sekedar ‘mengaji’ alias melafalkan huruf Alquran. Meskipun beliau mengaji Alquran ratusan kali tapi beliau tetap tidak paham apa sebenarnya makna dari ayat-ayat yang beliau baca dengan sangat rajin tersebut. 

Mengaji sampai ratusan kali Alquran tanpa dibarengi dengan membaca terjemahannya atau tafsirnya tetap tidak akan membuat seseorang akan mendapatkan pengetahuan. Saya rasa ini sudah sunnatullah. Seperti yang selalu saya katakan bahwa mengaji tanpa memahami arti dari ayat yang dibaca itu bukanlah iqra atau membaca. Dalam bahasa Inggris itu namanya ‘reciting’ dan bukan ‘reading’. 

Melafalkan huruf, kata, ataupun kalimat bukanlah membaca. Membaca adalah aktifitas yang melibatkan otak. Membaca adalah aktifitas untuk mendapatkan makna. Membaca tanpa makna bukanlah membaca. Jadi, membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa memahami arti atau maknanya BELUM termasuk dalam kategori MEMBACA. Itu baru masuk dalam kategori melafalkan (dan atau melagukan) Al-Qur’an. 

Sampai saat ini umat Islam masih juga belum memahami betapa pentingnya mereka memahami isi dari Alquran dengan membaca terjemahan dan tafsirnya. Umat Islam umumnya hanya melafalkan dan menghapal ayat-ayat tanpa pernah merasa perlu memahami arti dan maknanya. Bayangkan betapa ironisnya jika kita membaca sebuah buku ratusan kali selama hidup kita dan bahkan kita hapal sebagian dari isi buku tersebut tapi kita sama sekali tidak paham apa isi atau makna dari buku yang kita baca dan hapalkan tersebut…! Dan itulah gambaran dari mayoritas umat Islam saat ini. 

Tante saya tentu saja tidak bisa mengelak dari kondisi yang dimilikinya karena ia tidak bisa membaca terjemahan atau tafsir dari ayat-ayat suci yang ia baca dengan tekunnya tersebut.  Tapi kita yang makan sekolahan tentulah bisa melakukan upaya untuk memahami Alquran dengan lebih baik daripada tante saya tersebut. Dalam berbagai acara hampir selalu ada agenda pembacaan ayat suci Alquran yang dibawakan dengan suara yang merdu dan khidmat. Tapi anehnya hampir selalu pembacaan ayat suci tersebut tidak diikuti oleh pembacaan terjemahannya seolah para hadirin semua adalah para ulama yang paham belaka arti dari ayat yang dibaca tersebut. Kadang-kadang saya menanyai orang di dekat saya apakah mereka paham arti dari ayat yang dibacakan dengan merdu tersebut dan hampir selalu dijawab ‘tidak’ dengan malu-malu. I guess so… 

Saya selalu bertanya dalam hati apa sih pertimbangan panitia sehingga pembacaan ayat suci Alquran itu tidak diikuti oleh terjemahannya agar para hadirin paham. Akhirnya saya hibur hati saya dengan mengatakan bahwa mungkin para hadirin adalah para ulama lulusan Al-Azhar Mesir semua sehingga mereka sudah paham belaka arti dari ayat yang dibaca tersebut. 

Dalam berbagai presentasi saya tentang Budaya Literasi saya selalu menampilkan lima ayat pertama dari Al-Alaq yang turun sebagai Perintah Pertama dan Utama dari Tuhan, yaitu perintah untuk membaca (Iqra’). Dalam presentasi saya tersebut selalu saya tekankan bahwa tujuan dari Iqra’ seperti yang diperintahkan oleh Tuhan kepada umat Islam adalah agar ‘maa lam ya’lam’ dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berilmu pengetahuan menjadi berilmu pengetahuan. Jadi tujuan membaca itu adalah agar kita, sebagai insan, ya’lam, mendapatkan pemahaman, to achieve meaning and comprehension. 

Jadi dalam membaca Alquran itu kita juga harus mendapatkan pemahaman tentang isi kitab suci tersebut dan bukan sekedar untuk mendapatkan ketenangan hati. Jadi jika kali lain Anda mengadakan acara dengan memasukkan mata acara pembacaan ayat suci Alquran di dalamnya, sudikah kiranya Anda meminta si qari’ juga membacakan terjemahannya? 
Wallahu a’lam 

Surabaya, 17 April 2017 
Salam
Satria Dharmahttp://satriadharma.com/

Rabu, 29 Maret 2017

Tulisan Iseng

Etika berhubungan dengan prinsip moral, akhlak, susila yang terkait dengan kebenaran, kejujuran dan budi pekerti yang akan "membimbing" pikiran dan perbuatan kita ke arah yang baik dan benar
Sementara etiket adalah kesantunan, sikap dan perilaku yang baik terutama kala berhubungan dengan orang lain. Selalu tersenyum dan berkata baik ...
Idealnya .... orang yang santun, sebaiknya juga beretika, begitu juga sebaliknya... Sayangnya menjadi ideal memang sangat sulit dan begitulahmanusia ... Jauh dari sempurna...
Kalau yang ideal itu sangat jarang terjadi, ... apakah sebaiknya manusia itu memiliki ETIKA yang tinggi atau lebih baik menguasai ETIKET yang tinggi

Senin, 06 Februari 2017

LIBUR AKHIR TAHUN 2016


Setelah prosedur pelaporan di bagian lost & found selesai, kami bertiga keluar dari Vienna international airport untuk mencari taxi menuju hotel yang sudah dipesan melalui Agoda. Sebetulnya, ada transportasi yang lebih murah menuju tengah kota, yaitu dengan menggunakan kereta, dari sana baru ke hotel dengan metro (subway) atau bus. Namun stress karena "kehilangan" 2 buah koper, membuat kami kehilangan rasa humor. Ingin segera tiba di hotel, beristirahat sambil menenangkan diri. Apalagi di hotel sudah menunggu anak lelaki saya yang sudah tiba di Vienna 5 hari sebelumnya. Jadi kami memanggil taxi, tanpa peduli lagi bahwa kalau hitung nilai tukarnya, maka ongkos taxi yang kami bayar hampir 6x ongkos taxi di Jakarta, dari Cengkareng ke Jagakarsa. Apa boleh buat... Memang satu-satunya kiat untuk menikmati perjalanan keluar negeri adalah "jangan berhitung atau menghitung nilai tukar mata uang yang berlaku di negara terkait kepada rupiah.

Perjalanan dengan taxi memakan waktu yang cukup lama, rupanya lokasi hotel cukup jauh dari bandara. Supir taxi yang berasal dari Turki berusaha mengajak ngobrol dalam bahasa Inggris yang ter-patah2 apalagi melihat penampilan saya dan anak yang memakai jilbab. 

Tiba di hotel Lucia, dimana anak lelaki saya sudah menunggu. Rupanya semua formalitas check in sudah dilakukannya, karena dia juga memiliki konfirmasi pemesanan hotel, apalagi di dalam passportnya tercantum nama akhir yang sama. Tentu tidak ada alasan bagi resepsionis untuk menolaknya. Tinggal menambahkan biaya makan pagi saya senilai 12 Euro/pax. Mahal juga ya.... kalau dikurs, sekitar 175 ribu per pax untuk makan pagi yang sangat biasa. Oups ..... melanggar "peraturan" bahwa kalau sudah berani jalan ke negeri orang, dilarang berhitung pengeluaran dalam rupiah.

 Kami langsung istirahat. Ngantuk juga, jetlag dan stress juga mengingat ada koper yang "hilang". Sore itu atau setara dengan tengah malam menjelang pagi waktu Indonesia, karena perbedaan waktu 6 jam, kami keluar lagi untuk mencari makan malam yang ringan, di kantong dan juga yang relatif mudah diperoleh, mengingat kami tiba pada hari Natal, 25 Desember 2016, hari libur dimana hanya sebagian kecil saja restoran yang buka. Beruntung anak saya tiba beberapa hari sebelumnya, sehingga dia sudah melakukan "advance survey" lingkungan tempat kami menginap. Dimana lokasi resto Mac D, stasiun metro alias subway terdekat serta rute trem/bus kota. Jadilah kami makan di Mac D yang letaknya hanya sekitar 300m dari hotel.

Pernah dengar istilah mestakung alias semesta mendukung? Istilah ini mungkin untuk merujuk pada sugesti. Jadi .... kalau kita merasakan/menginginkan sesuatu, maka sugestikan hal tersebut, terutama yang sifatnya postif, agar semesta turut mendukung agar apa yang kita inginkan dapat terjadi. Repotnya adalah kalau perasaan tersebut sifatnya negatif dan kita tidak dapat lepas dari pikiran negatif tersebut .... maka repot kalau semesta mendukung hal negatif tersebut.

Dengan pikiran yang masih terbebani dengan "raibnya" koper, keesokan harinya kami kluyuran ke pusat kota ... Stephenplatz. Sebetulnya .... karena ini adalah kunjungan ke 2 kalinya ke Vienna, seharusnya kami mencari lokasi lain untuk dikunjungi. Kondisi yang kurang menyenangkan ini mempengaruhi perasaan sehingga ada keengganan untuk kluyuran, apalagi sisa jetlag masih menggelayuti. Jadi.... setelah putar2 sekeliling dan makan siang, kami memutuskan untuk kembali ke hotel, menuntaskan kantuk ..... untuk kemudian keluar lagi, mencari restaurant untuk makan malam. Tentu saja ... berharap agar koper sudah menunggu kami di hotel. ...

Kamis, 19 Januari 2017

PERSONAL TRIP AGAIN?

Rasanya sudah lama juga tidak melakukan perjalanan jauh secara pribadi baik ke luar Indonesia apalagi di dalam negeri. Maksudnya, mengurus perjalanan sendiri, mulai dari pesan tiket, hotel, kendaraan lokal dan perjalanan wisata di tempat tujuan. Terakhir kali perjalanan pribadi yang dilakukan adalah perjalanan ke Brisbane dan Gold Coast pada bulan Januari tahun 2005. Saat itu, bantuan dari travel agent hanya untuk pengurusan visa dan pembelian tiketsaja sedangkan pesanan service apartment di Brisbane dan lainnya dilakukan sendiri via internet.

Setiap melakukan perjalanan dalam negeri yang saya lakukan, pada umumnya untuk urusan kantor. Jadi sudah dibantu pengurusannya. Tinggal terima email tiket saja. Penjemputan dan hotel sudah secara otomatis diselesaikan oleh orang yang berwenang. Alternatif perjalanan dalam negeri lainnya adalah dalam rangka ikut office/family gathering. Kesemuanya selalu serba tahu beres saja. Begitu juga kalau kebetulan punya waktu dan ada keinginan bergabung dengan office gathering ke negara Asia Tenggara. Pokoknya tahu beres saja.

Sementara itu, pada kurun waktu 10 tahun sejak 2005, perjalanan libur terutama ke luar Indonesia selalu dilakukan melalui travel agentAda sisi positif dari perjalanan yang diatur oleh travel agent. Selain tentunya prinsip "tahu beres" dari mulai tiket, penginapan, makan dan jadwal acara yang sudah diatur. Tidak perlu repot mengurus check in, barang bawaan terutama yang harus masuk bagasi. Begitu juga saat tiba ditempat tujuan. Urusan administratif hotel, kunci dan lainnya sudah ada yang mengurus. Koper sudah akan berbaris manis di depan kamar. Begitu juga saat akan meninggalkan hotel. Cukup meletakkan koper di depan kamar pada jam yang sudah ditentukan. Selesai sudah urusan remeh temeh yang menyebalkan dan terkadang berat, kalau kita harus menyeret-nyeret koper. 

Berbeda dengan di Indonesia, yang "kaya" dengan jumlah staff hotel, maka hotel-hotel di negara maju yang berbintang sekalipun sangat effisien. Jadi jangan berharap bisa minta tolong/bantuan membawakan koper dan hal-hal remeh temeh lainnya. Karenanya perjalanan dengan travel agent juga menjadi lebih murah dan tentu saja sangat effisien. Mereka memang akan mengatur perjalanan dengan sangat effisien agar biaya yang dikeluarkan pesertanya menjadi relatively murah namun dengan kunjungan ke daerah tujuan wisata sebanyak mungkin. Istilah yang diberikan teman saya adalah "kunjungan sebanyak mungkin negara dan tempat wisata" itu ibarat cuma numpang pipis doang....

Namun .... disamping "kenyamanan" tersebut tentu ada hal negatif yang belum tentu disukai. Perjalanan dengan banyak orang yang baru kita kenal pada saat perjalanan tersebut membuat kita harus "memupuk rasa sabar dan tenggang rasa" yang luar biasa. Beberapa hal diantaranya karena akan selalu saja ada orang yang tidak disiplin dengan waktu yang sudah ditentukan sehingga membuat orang lain menunggu dan karenanya menghambat jadwal perjalanan. Lalu "interest" yang berbeda. 

Pada umumnya, orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, lebih suka mengunjungi mall atau daerah pertokoan. Kunjungan ke tempat wisata, istana, situs peninggalan purbakala, apalagi museum sama sekali tidak diminati atau minimal kalaupun dikunjungi, sebagian besar peserta akan melewatinya dengan cepat. Tapi ..... kalau sudah "dilepas" di mall atau factory outlet .... 4 jam pun terasa kurang .... Tinggallah yang dompetnya cekak atau memang hanya ingin menikmati perjalanan wisata, kelimpungan mencari acara pengisi waktu, apakah dengan masuk ke cafe sambil menunggu jadwal perjalanan berikutnya atau mencari objek foto yang menarik di sekitar lokasi mall/pertokoan. 

Setelah 4 atau 5 kali perjalanan dengan travel agent, anak-anak akhirnya merasa keberatan melakukan perjalanan dengan travel agent. Mereka ingin menikmati perjalanan pribadi. Aduh ..... emak dan bapak sudah masuk kategori manula, yang maunya serba tahu beres. Terbayang kembali perjalanan gaya "back packer" yang dulu seringkali kami lakukan. Cukup pesan tiket pulang pergi, hotelnya dipesan begitu tiba di terminal/stasiun di tengah kota. Namun regulasi pengurusan visa yang saat ini lebih ketat memang tidak lagi memungkinkan kita melakukan perjalanan tanpa bukti tempat menginap dan bukti keuangan yang mencukupi untuk melakukan perjalanan tersebut.
***

25 Desember 2016 adalah jadwal keberangkatan yang disesuaikan dengan cuti akhir tahun. Perjalanan ini sesungguhnya tidak direncanakan sejak awal, namun lebih ditujukan untuk menemani anak yang berencana untuk mengikuti program Global Volunteer nya AIESEC untuk mengisi libur antar semester. Tentu ada berbagai ragam negara tujuan dan program dan negara pilihan pertamanya adalah Slovakia dengan cadangan Hungaria. Setelah berunding dan kebetulan memang sudah hampir 4 tahun kami tidak melakukan perjalanan liburan akhir tahun, maka setelah runding sana - sini, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan sambil mengantarnya ke Budapest.

Kami berangkat dari rumah pada jam 20.00 untuk terbang pada jam 00.15. Waktu yang cukup luang untuk mengantisipasi kemungkinan macet dalam perjalanan menuju bandara Cengkareng. Untunglah, perjalanan menuju bandara Cengkareng relatif lancar, sehingga bisa ditempuh "hanya" dalam waktu 75 menit saja. Tiba di dalam, terlihat antrian penumpang Emirates sudah mengular. Seperti biasa pada perjalanan akhir tahun, antrian akan dipenuhi oleh grup perjalanan wisata ke negara-negara Eropa atau yang mengikuti perjalanan umroh. Sudah lama kami tidak melakukan perjalanan ke luar negeri sendiri, sehingga tentu saja agak "gagap" saat melakukan check in, mengurus bagasi dan terutama untuk melakukan verifikasi imigrasi "self service" sebagai pengguna e-passport. Khusus untuk bagasi, karena kami akan transit selama 4,5 jam di Dubai, maka kepastian bahwa koper akan langsung diterima di Vienna menjadi suatu keharusan. Rebyek banget kalau harus ambil koper untuk kemudian check in kembali. Apalagi konon, terminal keberangkatan menuju negara2 Eropa di Dubai, lokasinya cukup jauh. Harus menggunakan kereta antar terminal selama +/- 15 menit.

Usai melalui "segala" macam prosedur pemeriksaan barang, termasuk "mengeluarkan" gunting yang ternyata masih tersimpan dalam tas notebook anak saya, kami duduk anteng menunggu waktu boarding. 

Hal yang selalu kami perhatikan dalam perjalanan jarak jauh adalah membawa minimal seperangkat pakaian lengkap dengan peralatan mandi dan handuk kecil ke dalam tas cabin. Untuk ber-jaga2 bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan .... seperti misalnya bagasi tidak terbang bersama kita. Untuk menghemat tempat, dalam perjalanan ke negara sub tropis pada musim dingin, maka long john sudah harus dipakai dan ini tentu berguna juga untuk mengurangi rasa dingin di dalam pesawat selama perjalanan. Begitu juga dengan overcoat, walau tebal, terpaksa ditenteng.

Perjalanan yang dilakukan dini hari membuat siksaan tersendiri terutama bagi mereka yang tidak dapat tidur nyenyak dalam posisi duduk dan pasti akan membuat stress datang selama perjalanan. Waktu tidur dan jam biologis tubuh berantakan. Pola makan juga menjadi kacau balau. Kurang asupan air dan buah-buahan.

Tiba di Dubai sekitar jam 04.00 pagi, kami langsung mencari terminal pemberangkatan yang memang ternyata sangat jauh, dengan menggunakan kereta bawah tanah (?!) selama sekitar 15 menit. Airport yang maha luas dan panjang membuat perut mulai keroncongan dan kami terpaksa mencari sandwich dan minuman pengisi perut selama menunggu waktu boarding kembali sekitar 4 jam lagi. Dubai International Airport terminal B yang "maha luas" dipenuhi dengan berbagai macam toko ... layaknya sebuah mall di tengah kota. Namun manakala jam tidur sudah terganggu, maka segala daya tarik "pencuci mata" tidak bisa mengganggu keinginan beristirahat. Lebih baik mencari kursi (reclining chaise) yang nyaman untuk sekedar meluruskan badan, walau tidak sempurna.
***
Sekitar 1 jam sebelum take off, penumpang sudah mulai dipanggil untuk boarding .... dan oupfs ..... kelihatannya bakal mendapat "rejeki nomplok". Pesawat relatif kosong dan tentu kami bisa meluruskan badan selama perjalanan, Anak saya dapat menggunakan 4 kursi yang berada di bagian tengah pesawat dan tidur nyenyak selama perjalanan sementara saya dan suami menggunakan 3 kursi pinggir. Alhamdulillah, perjalanan yang sangat menyenangkan menuju Vienna ... Semoga perjalanan selanjutnya menjadi lebih menyenangkan

Tiba di Vienna tepat jam 12.25 waktu setempat. Temperatur tercatat - 4C. Beruntung kami sudah menggunakan longjohn dan overcoat "di tangan" sehingga bisa langsung digunakan dan tidak sempat terkena terpaan cuaca ekstrim bagi penduduk negara tropis.

Pemeriksaan imigrasi cukup lancar, walau petugas menanyakan tentang visa yang dikeluarkan oleh kedutaan Hungaria dan bukan Austria sebagai negara yang menjadi pintu masuk kami ke Eropa. Kami berjalan menuju area bagage claim dengan rasa syukur ... perjalanan awal sudah terlewati dengan lancar. Tinggal menunggu bagasi. Anak saya yang sudah sejak sekitar 5 hari sebelumnya tiba di Vienna, sudah mengirim berita via whatsaap, bahwa dia sudah menunggu di hotel tempat kami akan menginap selama di Vienna. Alhamdulillah ...

Ternyata .... kegembiraan itu tidak berlangsung lama ..... Menit demi menit berlalu .... koper demi koper diambil pemiliknya dan ...... 2 koper kami tidak ditemukan .... Panik ...., bukan saja karena semua pakaian ada di dalamnya, tetapi berbagai "perangkat" yang akan digunakan anak saya termasuk 2 buah buku tentang Indonesia berada di dalamnya. Kemana "larinya kopor2 tersebut...?"

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...