Jumat, 13 Agustus 2021

*Surat Cinta untuk Mas Nadiem Makarim*

Apa kabar, Mas? 
Semoga bersama keluarga, dan keluarga besar Kemendikbud Ristek, senantiasa sehat wal afiat dan terus dikaruniai kekuatan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Tentu penuh dinamika, menjalankan ‘kapal besar’ Kemendikbud Ristek dalam terpaan gelombang pandemi covid-19 saat ini. Namun saya yakin, Mas Nadiem akan bisa melaluinya dengan baik.

Mas Nadiem yang terhormat, 
program Anda yang bernama 10 episode Merdeka Belajar adalah program yang brilian. Bukan basa-basi: komprehensif, dan fundamental. Terkait dengan itu, Mas Nadiem dan tim pasti sudah mempertimbangkan faktor keberagaman lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar jauh antara Sabang dan Merauke, yang menjadi sasarannya. Namun, tampaknya hal ini masih perlu dipastikan. Kesannya, program ini baru bisa menjangkau satuan pendidikan, organisasi, kampus, guru, kepala sekolah dan pemangku kepentingan lain yang kebetulan sudah memiliki kesiapan infrastruktur, Apalagi sebagian besar programnya masih akan dilakukan secara daring.
Mas Nadiem, 
tak perlu saya tegaskan bahwa dalam situasi pandemi saat ini, kita bersama memiliki kekhawatiran akan ancaman _learning loss_ , terutama untuk anak-anak kita di wilayah akar rumput, pedesaan, daerah 3T, anak-anak dari keluarga kurang mampu, maupun anak-anak di perkotaan yang bersekolah di satuan pendidikan yang tidak memiliki sumber dana dan sumber daya mencukupi—yang sesungguhnya merupakan sasaran terbesar program pendidikan di negeri kita.
Saya yakin, Mas Nadiem sudah memiliki terobosan untuk mengatasi _learning loss_ ini melalui beragam program yang sudah dijalankan. Mulai dari menyiapkan kebijakan yang terkoordinasi antar kementerian dan pemda, penyiapan kurikulum dalam kondisi khusus, penerbitan modul literasi dan numerasi, beragam panduan yang mendukung BDR (Belajar dari Rumah)/PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), dukungan paket data untuk peserta didik (yang belakangan tampaknya mulai seret), beragam kegiatan webinar pengembangan kapasitas Guru, bahan-bahan BDR dari TVRI (atau TV Edukasi), penyiapan _platform_ Rumah Belajar, kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri, program untuk sekolah di wilayah 3T, program Kampus Mengajar dan kegiatan berbagi praktik-praktik baik melalui portal yang disediakan oleh Kemendikbuk Ristek, dan sebagainya. Tapi, ada kekhawatiran, beragam program ini lebih bersifat ad-hoc yang belum bisa dipastikan efektivitasnya. Gaungnya— sebatas yang saya ketahui—tidak sekuat program Merdeka Belajar. Padahal menurut hemat saya, penguatan BDR/PJJ untuk mengantispasi _learning loss_ inilah yang paling mendesak dan tidak bisa ditawar. 

Ya, negara harus benar-benar hadir untuk mengawal masalah raksasa yang ada di depan mata kita ini. Saya membayangkan, Mas Nadiem sowan ke Pak Jokowi dan mohon kepada beliau untuk menjadikan penanganan _learning loss_ ini sebagai program strategis, yang barangkali harus ditangani oleh sebuah Satgas Nasional khusus. 

Saya juga membayangkan, akan sangat membantu jika Mas Nadiem, seperti Pak Doni Munardo sebelum ini, lebih sering tampil di depan publik untuk memaparkan program-program konkret Kemendikbud Ristek terkait pandemi sambil membangkitkan optimisme di kalangan masyarakat.

Mas Nadiem, 
secara khusus saya ingin menitipkan juga soal besar keberlangsungan PAUD. Saat ini, di masa pandemi, banyak PAUD yang kesulitan mendapatkan murid karena orang tua merasa tidak cukup mendesak untuk memasukkan putra-putrinya ke PAUD karena menganggap belajar _online_ tidak banyak bermanfaat. Apalagi kalau harus keluar uang untuk bayar SPP, dan sebagainya. Ini berpotensi memperburuk _learning loss_ , apalagi ini menyangkut pendidikan anak di usia emas. Dan yang paling berbahaya adalah jika keengganan mengirim anak belajar di PAUD ini terjadi di kalangan masyarakat tidak mampu. Konsekuensinya bisa besar. Karena justru anak-anak inilah yang lebih butuh stumus-stimulus untuk perkembangan di masa-masa usia emasnya. 

Saya membayangkan, Mas Nadiem menggagas program nasional ‘Kembali ke PAUD’ dengan melibatkan Bunda-bunda PAUD pada berbagai tingkatan. Hal lain, penting juga keberpihakan kita kepada putra-putri yang memiliki kebutuhan khusus yang juga terdampak luar biasa. Mereka terpukul dua kali, Mas: memiliki kebutuhan khusus yang, dalam situasi normal saja tak cukup terpenuhi akibat keterbatasan sarana pendidikan _special needs_ dan mahalnya biaya, lalu terperangkap dalam masa pandemi yang menjadikan segalanya lebih terkendala lagi. 

Mohon juga, bergandeng tangan dengan Mas Menteri Agama untuk mendiskusikan cara mengatasi permasalahan madrasah. Mayoritas madrasah, yang umumnya lembaga swasta dengan sumber daya terbatas, ini memerlukan dukungan Mas Menteri berdua untuk mengatasi keterbatasan dan kesulitan yang mereka derita. Apalagi sekolah-sekolah ini menampung bagian besar anak-anak dari kalangan kurang mampu, yang banyak di antaranya berada di pedesaan.

Akhirnya, di penghujung surat ini, izinkan saya menyampaikan beberapa harapan:
  • Lebih banyak turun gununglah, Mas.* Ya, kehadiran Mas Nadiem secara lebih sering di sebanyak mungkin ruang publik dan akar rumput - ke daerah, sekolah-sekolah, dan berbagai lembaga yang relevan di berbagai wilayah negeri kita - tentu dengan protokol kesehatan yang ketat - sangat diperlukan untuk menangkap aspirasi akar rumput secara lebih lemgkap, komprehensif, dan akurat. Langkah ini sekaligus bermanfaat untuk menenun jaringan dan menjalin sinergi dengan sebanyak mungkin warga dan kelompok masyarakat negeri ini. 
  • *Sowanlah, Mas.* Sempatkanlah sowan-sowan ke NU, Muhamadiyah, MUI, PGI, WGI, PHDI, Permabudhi, Matakin, NGO-NGO dan CSO-CSO yang bergerak di bidang pendidikan lainnya. Sebanyak-banyaknya. Saya cukup sering mendengar (mudah-mudahan ini tidak benar), bahwa organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok masyarakat, yang selama ini memiliki peran strategis ini, merasa kurang digandeng untuk urun rembug dan berpartisipasi dalam membangun sistem pendidikan kita.
  • *Menyempurnakan gaya manajemen Kemendikbud* . Lebih 40 tahun rasanya, saya mengelola perusahaan yang saya dirikan dan miliki (Btw, saya juga lulusan Harvard, lho, Mas 😊)Seperti, Mas, saya memiliki tim konsultan/tim ahli yang saya pilih dari orang-orang terbaik yang bisa saya dapatkan. Selain itu, saya juga sangat percaya dengan kemampuan tim konsultan dan juga outsourcee serta mitra. Namun, Mas Nadiem tentu juga tahu, cara ini tak sepenuhnya cukup jika diterapkan pada ranah kebijakan publik. Selain raksasanya ukuran "pasar" dan wilayah serta keragaman luar biasa di dalamnya yang semuanya harus digarap, ada juga masalah kemiskinan dan keterbelakangan. Belum lagi tantangan kompleksitas budaya dan kerumitan politik. Hemat saya, perlu kiranya memperkuat tim yang ada dengan melibatkan sebanyak mungkin keterwakilan pemangku kepentingan dan keragaman tersebut. Meski gaya manajemen perusahaan tentu tetap diperlukan, tidak mungkin rasanya kebijakan pendidikan nasional dari sebuah bangsa - yang sedang berkembang, dengan ribuan pulau, dan lebih dari 260 juta penduduk dan ciri-ciri sedemikian - dikawal oleh sekelompok kecil ahli dan tim konsultan saja. Seberapa pun hebatnya mereka. Saya kira Mas Nadiem perlu mengintegrasikan juga ke dalamnya para ahli dan pihak-pihak yang betul-betul memahami dan berpengalaman menjadi pelaku pemberdayaan pendidikan di akar rumput: di pedesaan dan di wilayah 3T. Sehingga, bukan saja apapun kebijakan yang akan diambil dapat sesuai dan menjawab kebutuhan seluruh lapisan dan beragam kelompok masyarakat. Yang tak kalah penting, bahkan amat sangat penting, seluruh lapisan itu akan memiliki _sense of belonging_ yang kuat terhadap program-program Kemendikbud Ristek yang akan amat menentukan keberhasilannya.
Demikian Mas Nadiem, mohon maaf sekiranya ada ungkapan atau kalimat yang kurang berkenan. Surat ini sesungguhnya adalah wujud cinta saya kepada negeri ini dan seluruh warganya, juga harapan kepada cerahnya masa depan pendidikan Indonesia.
Tertanda,
Haidar Bagir*
*) Haidar Bagir sudah puluhan tahun berkecimpung di bidang pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi dengan mengembangkan 20-an sekolah di seluruh Indonesia, baik sekolah-sekolah di perkotaan maupun di pedesaan. Haidar Bagir juga adalah penulis lebih dari 20-an buku, antara lain _Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia, Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita.

Sabtu, 17 Juli 2021

Masih tentang COVID19

Hari-hari terakhir ini, masyarakat dibuat menjadi sangat tidak nyaman. Berita melonjaknya jumlah orang yang terpapar Covid19 melonjak tajam. Walau sudah diprediksi, akan terjadi lonjakan setelah Idul Fitri di bulan Mei yang lalu, tetap saja kondisi ini membuat semua orang terperangah, saling menyalahkan dan bahkan ada juga yang memanfaatkannya untuk mendeskreditkan pemerintah dan satgas Covid19. Alih² membantu pemerintah dalam menanggulangi berbagai masalah dalam negeri terkait dengan pandemi covid19, demi kesatuan bangsa dan negara, mereka malah memanfaatkan demi memuaskan nafsu keserakahan dan ambisi kekuasaan. 

Oposisi, para pemuka agama (oknum MUI-pendakwah-DKM), melalui posting provokatif di berbagai media sosial. Begitu juga dengan sebagian pengusaha dan sebagian ASN yang memanfaatkan pandemi demi keuntungan pribadi/kelompok/golongan. Semua karena keserakahan akan harta dan tahta.

Yang membuat covid19 jadi sangat mengerikan adalah karena massivenya pemberitaan di seluruh media, baik media sosial, cetak maupun tv ditambah lagi dengan raungan sirine yang tidak kenal waktu.
Virus sars-cov2 memang jenis virus varian baru yang secara massive menyebar ke seluruh dunia. Belum diketahui dengan pasti sumbernya dan bagaimana cara mengatasinya termasuk juga di negara² maju. Vaksin juga mungkin dibuat dengan metode try & error karena kebutuhan yang mendesak untuk membangkitkan imunitas masyarakat. Effektifkah....? Bisa ya, bisa juga tidak... Namanya juga usaha. Tapi, satu hal yang pasti .... Covid19 telah memberikan keuntungan yang sangat besar bagi industri farmasi dan turunannya. Lihat saja betapa tempat² test covid19 tumbuh seperti jamur. Obat²an dan vitamin yang dipercaya bisa menambah vitalitas dan imunitas laris manis dan menjadi rebutan sehingga langka di pasaran. Kalaupun ada, harga jualnya menjadi luar biasa mahalnya. Dalam kondisi panic buying seperti ini, masih ada manusia tanpa hati nurani yang menimbun untuk menjualnya kembali dengan harga mahal.
Mungkin kehebohan serangan covid19 sama hebohnya dengan saat pertama virus flu melanda dunia dulu. Bedanya, dulu belum ada tv/internet/medsos sehingga berita kehebohan akan muncuknya virus tersebut terlokalisir. Tidak membuat heboh seluruh dunia. Sekarang semua orang dengan cepat meerima hiruk pikuk berita tentang covid19. Banyak juga yang tiba² menjadi keminter menganalisa, mengkritik tanpa jalan keluar, ditambah lagi dengan hoax, provokasi dll. Padahal mungkin % kematian penderita flu dulu dan kematian akibat covid19 saat ini, juga relatif sama.
Saya pernah baca suatu artikel, bahwa pada umumnya virus tidak àda obatnya. Tidak juga dengan antibiotik. Namun manakala kita terpapar virus, kita akan bisa sembuh manakala memiliki imunitas tinggi. Sama seperti flu, mungkin serangan covid19 bisa diatasi dengan istirahat yang baik, konsumsi vitamin dan makanan sehat. Hanya komorbid saja yang perlu ber hati² karena kondisi kesehatan yg menurun karena covid19. Jangan stress, karena stress bisa mengacaukan keseimbangan hormon. Nah ketidak-seimbangan hormonal akibat stress ini bisa menyebabkan kondisi tubuh dan imunitas menurun. Bisa memicu dan memacu penyakit yang ada di tubuhnya bereaksi negatif.
Sayangnya... justru stress ini yang banyak mempengaruhi penderita covid19, karena gempuran berita buruk yg tidak habis²nya disertai raungan sirine ambulans yang tidak kenal waktu. Raungan sirine ambulans tanpa henti siang malam di masa pandemi ini menambah kesan dan suasana seram serta mengerikan. Membuat kita bertambah stress karenanya. Jadi sangat bisa dimengerti kalau ada ambulans yang dihadang warga yang sebal dan stress.

Apakah suara sirine bisa digantikan dengan lampu strobo saja dan supirnya diberi pengertian untuk membunyikan sirine sesekali saja, untuk minta jalan saat kondisi macet atau laju kendaraannya terhalang. Tidak perlu membunyikan sirine sepanjang perjalanan. Kita memang wajib waspada dan menjaga diri dari serangan covid19, tapi jangan paranoid agar tidak stress. Tetap taati protokol kesehatan semaksimal mungkin.

Rabu, 03 Maret 2021

SELALU ADA CELAH KELENGAHAN


Selasa 9 Februari 2021, anak saya kebetulan bisa tiba di rumah sebelum jam shalat Ishaa, sehingga kami memutuskan untuk makan malam lebih dulu, sambil menunggu adzan.

Suami hanya masuk kantor 3 hari dalam seminggu, yaitu Senin, Rabu dan Jum'at. Hari lainnya dia bekerja dari rumah, apakah itu mengajar, konsultasi tugas atau kadang webinar. Sementara saya dan anak masuk setiap hari walau dengan jam kantor yang sedikit berkurang.... Cuma berkurang selama 1 jam tepatnya. 

Sore itu, saya melihat suatu yang tidak biasa. Suami saya melapisi mulut/hidungnya dengan tissue. Saya tahu... itu berarti dia menghirup minyak kayu putih untuk membantu pernafasannya. Saat itu, saya tidak ingin bertanya lebih banyak. Tak elok kalau harus berdebat di meja makan. Kami makan malam seperti biasa, sambil ngobrol.

Rabu 10 Februari 2021, jam 07.00 seperti biasa, anak saya berangkat ke kantor diantar supir. Biasanya setelah supir kembali ke rumah, si bapak akan berangkat ke kantornya. Sekitar jam 09.00. Namun pagi itu, alih-alih sarapan pagi, dia malah tidur di sofa, tanpa bisa diajak komunikasi sama sekali. Saya akhirnya sarapan sendiri dan bersiap berangkat ke kantor. Sebelum berangkat, saya ingatkan kembali untuk sarapan, namun dia malah menyampaikan akan tinggal di rumah saja, alias tidak masuk kantor. 

Sejujurnya, sejak pandemi covid19 merebak, setiap ada perubahan kondisi tubuh sesedikit apapun juga, saya selalu sudah secara otomatis mencurigai adanya virus covid19 mampir. Saya memang tidak mau terlalu paranoid sehingga tidak berani keluar rumah. Tidak ....., setiap malam minggu, saya masih mengajak anak dan suami untuk makan malam di luar rumah. Biasanya ke PIM atau Gandaria City. Tentu dengan tetap waspada .... memakai masker, memilih resto yang relatif ketat dengan standar prokes dan memilih tempat makan yang lebih terbuka. Maka .... kondisi suami yang "layu" seperti itu, mau tidak mau menerbitkan sedikit rasa curiga.

Tiba di kantor, ternyata ada sedikit kehebohan. Salah satu staff keuangan yang bermaksud berlibur (long week end - imlek) mengunjungi suaminya yang tinggal di Jogja, diketahui positif covid19 saat memeriksakan diri sebagai syarat pembelian tiket perjalanan. Akhirnya ... hari itu, HRD memutuskan untuk melakukan swab-antigen dan swab pcr untuk supir yang berinteraksi intens dengan staff tersebut. Dari semua yang mendapat giliran hari itu, diketahui ada 1 satpam positif, sementara lainnya negatif, termasuk saya. Alhamdulillah ... lega rasanya.

Sambil bekerja, saya mencoba melakukan komunikasi telpon maupun melalui whatsapp dengan suami, tanpa hasil. Dari ART, diketahui bahwa suami sama sekali tidak bergeming dari sofa. Bahkan makan malampun dilakukan dengan susah payah.

Kamis 11 Februari 2021, setelah mengantar anak ke kantornya, saya memutuskan untuk memaksa suami melakukan swab antigen di RS dekat rumah. Ke kantor, saya sampaikan hal tsb. Bila keadaannya baik-baik saja, maka usai mendapat hasil antigen, saya akan masuk kantor.

Usai mengantar suami melakukan swab-antigen, saya mempersiapkan diri untuk zoom meeting. Sepertinya, saya tidak mungkin lagi berangkat ke kantor. Sudah terlalu siang. Sekitar jam 11.00, saya menanyakan apakah suami mampu mengambil hasil antigennya sendiri. Dia yang merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik dari hari sebelumnya, menyanggupinya untuk pergi mengambil hasilnya...

Pada saat yang sama, anak saya menanyakan hasil antigen bapaknya. Ketatnya aturan prokes di kantornya, menyebabkan dia dan beberapa rekan kerja yang intens bersamanya untuk melakukan wfh, sampai hasil swab si bapak diketahui dengan pasti.

Di tengah zoom meeting, suami yang baru kembali dari RS mengambil hasil antigennya dengan tenang bilang..."hasil antigennya positif"

Kaget dan jujurnya, agak shock, saya tidak bisa lagi mengikuti zoom meeting dengan penuh konsentrasi. Melalui jalur pribadi, saya minta bantuan salah satu rekan untuk mendaftarkan Swab-pcr drive thru yang berada di kawasan perkantoran jalan MH Thamrin. Kami berangkat setelah makan siang. 

Kembali dari melakukan Swab-pcr, saya minta suami untuk menghubungi kantornya agar bisa mendapatkan akses isolasi mandiri di kampus. Saya memintanya isolasi di luar rumah agar kondisi kesehatannya bisa terpantau dengan baik apalagi saya yakin tempat isolasinya pasti terkoneksi dengan RSUI. Isolasi di luar rumah saya pikir juga menjadi jalan keluar yang lebih baik, karena kalau isolasi dilakukan di rumah, saya pesimistis bisa dilakukan dengan baik terutama untuk pelayanan makan/minum dan hal-hal pribadi lainnya.

Jumat 12 Februari 2020, siang hasil pcr keluar dan suami terkonfirmasi positif covid19. Anak saya langsung diwajibkan untuk melakukan swab-pcr pada hari sabtu. Semua temannya tidak boleh masuk sampai hasil pcrnya terbit. Saya juga akhirnya minta bantuan untuk didaftarkan pcr pada hari sabtu itu juga, supaya waktu pengambilan sample saya dan anak, sama.

Jumat sore, suami saya antar ke wisma Makara UI untuk melakukan isolasi mandiri. Saya juga menyampaikan berita ini ke beberapa orang di kantor yang saya anggap perlu tahu mengenai hal ini. Bigboss yang mendengar berita tersebut langsung mengusulkan agar, apabila hasil pcr anak saya negatif, dia diisolasikan saja di hotel milik kantor di kawasan Kelapa Gading. Alhamdulillah ... mungkin itu memang jalan keluar yang terbaik, agar dia tidak terkontaminasi.

Sabtu 13 Februari 2021 siang, usai melakukan pcr di di Cilandak-KKO dan kawasan MH Thamrin, saya masih sempat mengantarkan berbagai pesanan perlengkapan yang diperlukan suami selama masa isolasi dan beraktivitas seperti biasa. Malam minggu itu, saya dan anak juga masih jalan berdua, cari tempat makan sambil ngobrol daripada hanya bengong di rumah.

Minggu 14 Februari 2021 siang .... hasil pcr saya terbit dan ...... POSITIF terpapar covid19 dengan CT-ORF 32,74 dan CT-N tidak terdeteksi. Apapun dan berapapun angka CT yang tertulis, hasilnya tetap sama ... saya terpapar covid19. Darimana .......? Tentu sucpect yang terdekat adalah tertular dari suami .... Mau darimana lagi....? Sedih dan shock .....? Sudah pasti .... apalagi pekerjaan kantor yang saya tangani sedang masuk dalam tahap penyelesaian yang sangat kritis. Melepaskan dan meminta rekan-rekan lainnya melanjutkan pekerjaan tersebut, terasa seperti berkhianat. Terasa betul seperti saya sudah melakukan perbuatan yang sangat tidak bertanggung-jawab.

Senin 15 Februari 2021 siang, hasil pcr anak saya terbit dan dia dinyatakan negatif. Seperti yang dianjurkan oleh bigboss, hari itu juga saya minta si anak segera berkemas dan berangkat ke kawasan Kelapa Gading. Entah bagaimana kebijakan kantornya atas kondisi seperti itu. Apakah dia akan masuk kantor dari Kelapa Gading atau melakukan WFH - work from hotel, biarlah itu menjadi urusannya.

Di lingkungan rumah, saya langsung melaporkan kondisi saya dan suami yang terpapar covid19 kepada ketua RT yang segera meneruskannya kepada satgas covid19. Wilayah rumah saya memang baru sekitar 1 atau 2 minggu dinyatakan bebas dari kategori zona merah. ART dan anaknya kemudian dijadwalkan untuk melakukan swab-pcr di puskesmas pada hari senin 15 Februari 2021. Keesokan hari, Petugas satgas covid19 di wilayah kecamatan Jagakarsa lalu mendatangi rumah kami, meminta saya mengisi dan melengkapi dokumen2, mulai dari ktp, kk, hasil swab, kartu bpjs/askes, pernyataan isolasi mandiri dan lain-lain. Setelah mengirimkan obat2an generik standard puskesmas, setiap 3 hari mereka mengirim pesan melalui whatsapp menanyakan perkembangan kesehatan saya.

Apa yang saya rasakan selama positif covid19? Jauh dari bayangan dan bacaan-bacaan mengenai ciri-ciri penderita covid19, suhu tubuh saya sama sekali tidak mengalami kenaikan. Masih berkisar antara 35,6C sd paling tinggi 36,7C. Daya penciuman masih normal, sama sekali tidak ada perubahan. Kalaupun ada terasa perubahan, ...... itu lebih kepada kondisi badan dan stamina tubuh. Terasa sangat lemas, tenggorokan berdahak setelah sebelumnya terasa agak panas. Panas tenggorokan ini biasanya akan segera hilang kalau saya minum air rebusan sereh yang dicampur jeruk nipis dan madu. Kepala juga terasa agak sakit, tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca sesuatu dalam waktu yang cukup lama, atau lebih dari 10 menit.

Minggu 21 Februari 2021, masa isolasi suami selesai dan si anakpun sepertinya sudah tidak betah berlama-lama di hotel. Akhirnya .... minggu sore itu, kami berkumpul kembali di rumah dengan kesepakatan, tetap wajib menghindari kontak lebih dekat dari 1,50 meter. Makan harus dilakukan secara bergiliran, Anak duluan, lalu suami dan terakhir baru saya yang makan.

Hari Selasa 23 Februari 2021, saya meminta bantuan lagi ke kantor untuk didaftarkan swab-pcr, untuk memperoleh kepastian kondisi kesehatan kami. Kali ini HRD di kantor mendaftarkan layanan swab-pcr ke rumah dan alhamdulillah .... hasil pemeriksaan kami berdua NEGATIF. Namun demikian, tidak berarti kondisi ini bisa disambut dengan euforia. Kami masih tidur di kamar yang terpisah, walaupun makan sudah mulai bisa dilakukan bersama dengan sesedikit mungkin berbicara selama berada di meja makan.

Recovery ternyata juga menjadi sangat individual. Bila suami bisa recover dengan relatif lebih cepat, namun saya masih merasakan kepayahan. Kaki saya, mulai dari telapak kaki hingga separo tulang kering, masih saja selalu terasa dingin seperti ditusuk-tusuk. Dahak masih belum hilang danbegitu juga rasa lemas di tubuh .....

Apapun yang terjadi dan akan terjadi, alhamdulillah kami sudah melewati periode terberat menghadapi covid19. Konon .... kondisi fisik penyintas covid19 tidak akan bisa kembali sama seperti sebelumnya. Akan halnya vaksin .... apakah kami akan melakukannya? Inshaa Allah .... namun entah kapan, karena kami masih harus mencari informasi lebih banyak bagaimana prosedur vaksinasi bagi penyintas covid19.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah Tetap waspada, jangan lengah ... karena kita tidak pernah tahu kapan celah kelengahan itu datang.


Sabtu, 10 Oktober 2020

KENAPA OMNIBUS LAW HARUS SEKARANG?

Hari ini, saya mendapat kiriman tulisan yang menurut saya sangat menarik untuk disimak. Dengan sedikit editing, saya post tulisan ini. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengamini isi tulisan tersebut, namun bacalah agar pikiran kita bisa lebih terbuka....... 

Untuk penulisnya yang tidak saya ketahui siapa, mohon maaf bila namamu tidak dicantumkan.

---
Sebenarnya ya gak sekarang banget, udah dibahas sejak awal tahun. Ributnya aja sekarang.
Nah, ini tulisan saya buat ngejawab emak-emak yang pada tanya “kenapa sih harus bikin begituan di masa pandemi ini? Gak bisa ditunda apa?”

Di awal tahun pernah dengar gak kalau Amerika ribut sama China dan Perusahaan-perusahaan Amerika pada hengkang dari China dan nyari lahan usaha baru? Dan salah satu calon lokasinya adalah Indonesia! Masih inget kan? 

Ini salah satu linknya, cuma pake English ya ibu-ibu, tar kalau pakai media lokal dibilangnya hoaks? https://www.cekindo.com/blog/trade-war-us-china-moving-factories-indonesia

Nah, tidak hanya Indonesia yang mau menangkap peluang ini, Malaysia, Thailand dan bahkan Vietnam yang komunis sudah siap baik lahan, regulasi dan tenaga kerja untuk mengundang investasi tersebut. Filipina juga sudah siap dengan Omnibus Law namun sayang Presidennya berseberangan dengan Donald Trump. Jadi pasti peluangnya sangat kecil.

Lalu, pertanyaannya lagi, kenapa sih kita harus butuh banget ya perusahaan asing itu invest ke Negara kita? Emang kita gak bisa mengelola kekayaan kita sendiri? Nah ini menarik! Ibu-ibu, memang Negara kita ini kaya, namun kekayaannya bukan Riil, melainkan kekayaan potensi. Apa maksudnya?

Negara kita itu kaya Sumber Daya Manusia dan kaya Bahan Baku. Namun, antara SDM dan Bahan Baku ini tidak ada artinya jika tidak dijembatani dengan Modal dan Teknologi. Itu tuh belakang rumah anda ada batu bara, anaknya sampean seratus orang. Trus mau ngapain? Dipandangi aja sambil bilang “wahhh kita kaya ya..” Batu Bara itu gak bakalan jadi uang untuk memenuhi kebutuhan 100 anak anda jika tidak dikelola dan dipasarkan. 

Nah, soal modal! Negara ini tidak punya modal mandiri. Pilihannya dua yaitu hutang atau investasi dari luar. Mau berharap modal dari investasi lokal? Sampai lebaran kuda juga gak bakalan datang itu Modal! Sudah datengin Keluarga Saudi pakai pesta pora, juga gak ada juntrungnya mau investasi di Indonesia. Even ini negara mayoritas seagama sama mereka. Ternyata faktor kesamaan agama gagal menjadi potensi investasi. 

Pakai investasi dengan China juga anda teriakin Cukong! Heboh demo berjilid-jilid! Nah kalau Utang lagi nanti sampean teriaki? Utang dari zaman Pak Harto aja belum dibayar-bayar kok hutang lagi? Nah gak mungkin kan?

Pilihan berikutnya adalah investasi! Yang setali tiga uang, anda akan mendatangkan teknologi canggih dari negara maju ke negara kita ini. Jadi bentuknya bukan kita minta uangnya, tapi suruh perusahaannya pindah kesini sekalian. Setali tiga uang teknologinya juga akan pindah ke negeri ini. Tuh anak anda yang 100 tadi yang dulunya cuma bisa cungkil-cungkil batubara akan sekalian belajar mesin dan komputer dari perusahaan tersebut.

Begini runutannya. Jika anda tidak punya modal dan teknologi, anda cuma bisa nyuruh 100 anak anda itu menggali batu bara belakang rumah, lalu dijual murah karena bentuknya adalah mentah. Anda jual 1000, ditambah biaya kirim, pajak, cukai, belum lagi makelar dan lain-lain akhirnya Perusahaan di luar negeri itu bayar 10.000, padahal yang anda terima sebagai pemilik bahan baku cuma 1000, 9000 nya kemana? 

Nah kenapa nggak sampean suruh perusahaannya aja pindah sini? Anda jual 9000 pun perusahaan itu mau beli kan? Daripada bayar 10.000? Nah dijual dalam bentuk mentah pun nilainya naik. Apalagi kalau anda bikin perjanjian investasi sama Perusahaan itu.

“Wes gini Donal Trump! Aku kan punya batubara dan 100 anak, kamu pindahin aja perusahaanmu kesini, jadiin 100 anakku jadi pegawaimu, aku jual batu baraku ke kamu 5000 aja deh, tapi hasilnya kita jual sama-sama keluar negeri. Keuntungan penjualan aku 30 persen kamu 70 persen gapapa. Aku punya lahan kamu sewa murah deh. Deal?”

Apa untungnya buat anda?
  1. Anak anda kerja dan dapat gaji bukan dari anda
  2. Batubara mentah anda jadi seharga 5000
  3. Anda dapat uang sewa lahan
  4. Anda dapat keuntungan 30% tiap penjualan
Ngerti ibu-ibu?

Nah Donald Trump nya protes, “saranmu bagus, tapi regulasi di negaramu itu sulit, UU nya macem-macem dan saling tabrakan. Aku pernah mau bangun pabrik di sini 1000 tahun gak jadi-jadi karena ijin nya rumit! Ini Thailand udah siap regulasi dan tenaga, aku tak bikin pabrik disana aja, di kamu aku beli bahan baku aja”

Nah inilah masalahnya kenapa investor gak mau masuk ke negara kita. Makanya Negara merancang Omnibus Law yang isinya adalah semua UU terkait investasi itu dijadikan dalam satu UU yang terintegrasi.

Kenapa harus sekarang? Lha ini peluang besar ibu-ibu, kalau nggak ditangkap sekarang ya perusahaan-perusahaan itu lari ke Thailand dan Vietnam. Malaysia aja sudah ancang-ancang Upah Minimumnya diturunkan untuk menarik Investor masuk ke negaranya.

Kenapa harus pas pandemi gini? Lha mau kapan? Memang ada yang bisa mastiin pandemi ini berakhir kapan? Bagi Negara ya memang buah simalakama, peluang ini harus ditangkap cepat! Apalagi after penanganan pandemi ini apa iya perusahaan-perusahaan yang sudah ada di Indonesia masih kuat beroperasi? Lha kalau gulung tikar? Makin banyak pengangguran dan hasil dari pengangguran itu apa? Kejahatan orang lapar!
Negara kita ini bisa colaps ibu-ibu!

Nah gimana? Sudah paham gak kenapa Omnibus Law ini harus disahkan sekarang banget?
Kalau belum paham itu tanya baik-baik ya, bukannya demo marah-marah bakar toko!

Oke ibu-ibu? Sekian dan terimakasih!

Jumat, 18 September 2020

APA SIH AJARAN ISLAM ITU?

Salah satu masalah besar kita sebagai umat Islam dalam memahami agama adalah ketidakmampuan kita untuk MEMBEDAKAN mana yang ajaran agama, mana yang budaya, mana yang sejarah, mana yang ijtihad, mana yang pendapat ulama, dan lain-lain. 


Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh nabi Muhammad (atau yang dilakukan oleh para nabi yang tertulis dalam Alquran) adalah ajaran agama. Padahal tidak. Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh para khalifah Islam adalah ajaran agama yang perlu kita ikuti. Tentu saja tidak. Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa pendapat para ulama pastilah merupakan ajaran agama semua. Tentu saja tidak. Sebagian besar dari apa yang mereka sampaikan jelas hanyalah hasil pemikiran mereka. Meski pun mereka telah berusaha keras untuk mendasarkannya pada Alquran dan hadist paling shahih.

 

Para nabi itu punya beberapa istri. Tapi ada juga yang tidak beristri. Nabi Muhammad bahkan punya lebih dari empat istri. Nabi Daud bahkan sampai didatangi oleh malaikat perkara berlebih-lebihannya dalam soal memiliki istri. Nabi Sulaiman katanya juga istrinya puluhan orang. Tapi jelas punya banyak istri itu BUKAN ajaran agama. Itu hanya kebiasaan dan adat istiadat orang-orang zaman dahulu di mana para nabi termasuk di dalamnya.


Nabi Muhammad itu makanan utamanya adalah kurma dan sehari-hari mengenakan gamis. Kalau pergi ke mana-mana ya jalan kaki atau naik onta. Tapi makan kurma, pakai gamis, naik onta, bukanlah ajaran agama. Bukan itu yang mau diajarkan oleh Nabi. Apalagi sampai minum air kencing onta. Ya, Allah, bukan itu…!


Nabi Sulaiman mengancam untuk menginvasi negara tetangganya (Negara Saba milik Ratu Balqis) dan akan menghancurkannya jika tidak tunduk padanya. Tapi itu juga bukan ajaran Islam. Kita tidak diajari untuk menginvasi negara lain. Ketika pemerintahan Khalifah Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia. Umar juga mengambil alih MesirPalestinaSyriaAfrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar. Semua penaklukan ini adalah sesuatu yang luar biasa. Tapi itu juga BUKAN AJARAN AGAMA. Itu semua adalah inisiatif, ide, dan prakarsa Khalifah Umar beserta semua sahabat yang hidup pada zaman itu. 


Abu Bakar ketika naik menjadi khalifah bertekad untuk memerangi pembangkang yang tidak mau bayar zakat. Meski pada mulanya Umar tidak setuju tapi pada akhirnya sepakat dan para pembangkang tersebut diperangi. Memerangi pembangkang zakat meski pun didasarkan pada pendapat Khalifah Abu Bakar dan tercatat dalam sejarah juga bukanlah ajaran agama. Yang menjadi ajaran agama adalah IJTIHAD dalam memutuskan sesuatu perkara. 

Begitu juga dengan berdirinya kekhilafahan setelah Nabi wafat. Berdirinya kekhilafahan dengan diawali dengan naiknya Abu Bakar ra sebagai khalifah pertama juga BUKAN AJARAN AGAMA. Memilih serta memiliki pemimpin dan mematuhinya adalah ajaran agama. Tapi apakah bentuknya kehilafahan, dinasti seperti Umayyah, Abbasiyah, Usmaniyah, kerajaan seperti Nabi Sulaiman, republik seperti Indonesia, itu BUKAN AJARAN AGAMA. Itu sepenuhnya merupakan ijtihad dan kesepakatan umat saja.


Apakah mendirikan kekhilafahan itu wajib? Tidak.

Yang wajib itu PUNYA PEMIMPIN dan memilih yang terbaik di antaranya. Tapi perlu dipahami bahwa seringkali umat Islam itu TIDAK PUNYA PILIHAN dalam hal siapa pemimpinnya. Lha kalau sistem pemerintahan negaranya adalah dinasti atau kerajaan ya jelas tidak ada soal pilih memilih itu. Para khalifah pada zaman Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Ustmaniyah, dll tidaklah naik melalui pemilihan. Umat Islam TIDAK PUNYA HAK pada waktu itu. 


Sultan Hassanal Bolkiah, tetangga kita yang kaya raya itu, itu bukanlah PILIHAN atau menjadi pemimpin karena dipilih oleh rakyat Brunei. Apakah hal ini sudah sesuai dengan ajaran Islam? Ya sudah.  Sepanjang rakyat Brunei sepakat dan Sultan Hassanal Bolkiah telah dilantik maka sahlah dia sebagai pemimpin Brunei. Soal naiknya pemimpin apakah melalui keturunan atau melalui pemilu itu hanyalah soal teknis yang tidak diatur oleh ajaran agama. 


Lha kok para sahabat bertengkar soal siapa yang harus jadi khalifah ketika Nabi wafat? Ya karena Nabi Muhammad sama sekali tidak memberi amanat soal siapa yang harus menjadi pemimpin setelah beliau wafat dan bagaimana mekanismenya. Itu mah terserah para sahabat saja.. Toh mereka semua paham bahwa setiap umat itu PERLU DAN HARUS punya pemimpin.. Perkara siapa dan bagaimananya ya silakan berembug sendiri.

 

Apakah negara Indonesia sudah menjalankan syariat agama dalam hal kepemimpinan umat ini? Jelas bahwa BANGSA INDONESIA telah mencapai kesepakatan untuk membentuk negara Republik Indonesia dengan pemimpin yang berstatus Presiden sejak tahun 1945. Saat ini pemimpin negara dan umat Islam di Indonesia namanya Presiden Jokowi. Tapi kan Jokowi ini dulunya hanya tukang mebel? Emang kenapa? Nabi telah bersabda dalam hadits, “Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan TAAT KEPADA PEMIMPIN walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR. At Tirmidzi).

 

Bagaimana kalau ada umat yang tidak setuju dengan pemimpinnya yang ada saat ini? Ya itu namanya PEMBANGKANG yang harus diperangi. Sudah jelas sekali PERINTAH TUHAN dalam hal ini dan tertulis dengan jelas baik di Alquran mau pun AlHadist. Mereka adalah PARA KHAWARIJ yang memang harus diperangi. Menurut as-Syahrastani Khawarij adalah “Setiap orang yang keluar menentang pemimpinnya yang sah yang telah diputuskan oleh masyarakat, baik penentangan itu terjadi di masa sahabat terhadap para Khulafaur Rasyidin atau terjadi setelah mereka terhadap para tabiin yang baik dan para pemimpin di setiap zaman”. (as-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, juz I, halaman 114). 

Sila baca https://satriadharma.com/2020/02/11/para-khawarij-dan-pembelanya/

 

Lalu bagaimana kalau yang membangkang justru mereka yang punya ilmu agama seperti ustadz, kyai, habib, dan cendekiawan muslim? Kalau menurut saya sih mereka itu MENURUTI NAFSUNYA dan bukan berpegang kepada AJARAN AGAMA. Anda boleh cari di Alquran atau pun AlHadist yang mengajarkan umat untuk MEMBANGKANG pada pemimpinnya. Tentu TIDAK ADA.


Lha kan Nabi Musa menentang Firaun? Itu kan jelas-jelas ada dalam Alquran. Gimana sih…?! 

Lha kalian ini apa merasa sebagai bangsa Yahudi yang ditindas oleh bangsa Mesir di bawah kepemimpinan Firaun? Lha kalau kalian menganggap pemimpin kalian yang ada saat ini adalah Firaun lantas siapa yang Nabi Musa di antara kalian? Mbok ya jangan terlalu GR. Kadang-kadang kita itu ke-GR-an to the max mengira sedang dibawah kepimpinan Nabi Musa memperjuangkan kemerdekaan umat di bawah tirani Firaun. Padahal hanya karena kita kalah di pilkada atau pemilu. 


Mbok ya berhentilah berhalusinasi sedang membela agama padahal sebenarnya kalian sedang melakukan pembangkangan pada ulil amri yang sangat dilarang dalam agama.

 

Surabaya, 18 September 2020

Salam

Satria Dharma

Sabtu, 13 Juni 2020

Anda Muslim...?!

Tulisan menarik dari cak Satria Dharma dalam group DISKUSI DENGAN BABO. Saya share di sini dengan seijin penulisnya.
***
Seorang teman pernah mengeluh tentang semakin tidak bermutunya pemahaman agama umat Islam. Ia menunjukkan poster pelatihan “Cara Cepat Dapat Istri Empat” menyusul suksesnya “Kelas Poligami Nasional” tahun sebelumnya. Bukan hanya muslim awam yang dikeluhkannya tapi juga munculnya ustadz-ustadz yang semakin ngawur ajarannya. Kapan hari ada ustadz yang menyatakan bahwa lagu “Balonku” dan lagu “Naik ke Puncak Gunung”sebagai propaganda anti-islam dan mengagungkan agama lain. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan para ustadz semacam ini? 😞

Image may contain: text that says 'DAN SESUNGGUHNYA YANG AKU TAKUTKAN ATAS UMATKU IALAH PARA ULAMA YANG MENYESATKAN (H.R. Abu Dawud)'Sebenarnya sudah lama saya memprihatinkan masalah ini. Problem besar umat Islam masa kini adalah karena mereka tidak dididik untuk berpikir. Mereka hanya diajari untuk patuh pada ustadz mereka baik di sekolah mau pun di masjid tapi mereka tidak pernah diajari untuk berpikir, apalagi untuk bersikap kritis. Bersikap kritis, apalagi mempertanyakan pendapat ustadz mereka seolah dianggap sebagai sebuah kejahatan yang sangat tercela dan haram untuk dilakukan. Di sekolah dan di pesantren mereka hanya diajari untuk menghapal ayat dan hadist dan tidak diajari untuk mengaplikasikannya. Apa yang mereka pelajari hanya menjadi ilmu tanpa laku sehingga budaya dan tradisi keislaman menjadi mandek dan jumud.
Umat Islam semakin hari semakin dijauhkan dari tradisi berpikir dan dilarang untuk bersikap ilmiah apalagi mengkritisi pendapat para ustadz mereka. Mereka didoktrin bahwa pendapat para ustadz dan orang yang dianggap sebagai pemuka agama adalah benar semua dan tidak boleh dipertanyakan, apalagi ditentang. Mereka telah dianggap maksum belaka sehingga mempertanyakan pendapat dan tindakan mereka taruhannya adalah akidah. Mempertanyakan atau mengritik pendapat ustadz dan pemuka agama sama dengan tersesat akidahnya dan hal ini akan menyebabkan mereka jatuh dalam kekafiran. Dan ini berlaku semakin kencang dan semakin massif saja di negara-negara Islam. Tak heran jika umat Islam di seluruh dunia semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam segala hal yang membutuhkan kemampuan berpikir. Akal mereka dengan sengaja dan terstruktur dipasung oleh para guru-guru agama dan pemuka agama mereka sendiri. Umat Islam berhenti berpikir dan tidak mampu lagi menghasilkan pemikiran-pemikiran baru yang inovatif dan kreatif dan dipaksa untuk mengikuti saja pemikiran jumud para ustadz-ustadz mereka yang kebanyakan bukanlah pemikir. Kebanyakan dari para ulama mereka hanyalah para penghapal kitab-kitab secara tekstualis yang tidak memiliki kemampuan berinovasi apalagi menghasilkan pemikiran yang sesuai dan mengikuti zaman.
Ketinggalan zaman umat Islam tidak tanggung-tanggung. Ketika umat lain telah meneliti berbagai macam jenis pengobatan dengan teknologi nuklir dan nano yang canggih, umat Islam justru diajak untuk kembali ke Abad 7 dengan minum air kencing onta. Ketika teknologi pengobatan dengan sistem vaksin telah begitu maju dan berhasilnya, muncul ustadz yang tidak pernah belajar tentang medis yang tiba-tiba menjatuhkan fatwa makruhnya (yang kemudian berkembang menjadi haram) penggunaan vaksin untuk mencegah penyakit. Sampai sekarang para ulama yang bahkan tidak pernah belajar tentang masalah keuangan dan ekonomi dengan gagah dan yakinnya mengharamkan praktek perbankan secara umum dan juga asuransi. Mereka bahkan tidak segan-segan mengharamkan perbankan syariah sekali pun. Munculnya para ustadz dengan kemampuan bisa memberi fatwa segala macam urusan semakin menggejala dan umat yang memang sudah terpasung kemampuan berpikirnya dan memang diharamkan untuk berpikir akhirnya lebih tunduk pada ustadz segala ilmu tersebut ketimbang mendengarkan para ahli yang memang benar-benar kompeten di bidangnya. Padahal bukankah ulama itu berarti orang-orang yang benar-benar alim atau memiliki ilmu di bidangnya masing-masing? Lalu mengapa umat Islam lebih mengikuti pendapat seorang ustadz yang tidak pernah belajar tentang medis atau pun keuangan untuk hal-hal tentang kesehatan dan perbankan? Mengapa para ustadz yang tidak pernah belajar tentang medis dan keuangan tiba-tiba dengan gagah dan penuh keyakinan mengajak umat untuk mendengarkan pendapatnya dan bukannya mengarahkan mereka untuk mendengar para ahli di bidangnya masing-masing?
Islam pernah mengalami masa kejayaan selama 500 tahun ketika para ilmuwan Islam bermunculan dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Berdasarkan sejarah Zaman Kejayaan Islam (sek. 750 M – 1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan banyak pemikiran dan ilmu-ilmu baru dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan. Mereka mengembangkan tradisi ilmiah pada semua ilmu pengetahuan dan bukan hanya pada ilmu agama dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Para saintis Islam menguasai panggung dunia pada abad tersebut berkat tradisi dan budaya ilmiah yang mereka kembangkan. Beberapa nama saintis muslim yang sangat popular adalah Al-Khawarismi, Ibnu Sina, Abu Haytham, Al-Kindi, Al-Jazari, Ar-Razi, Al-Biruni, Abu Musa Jabir bin Hayyan, Ibnu Rushd, dll.
Hal yang selalu membuat saya sedih adalah ironi bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang paling rasional dan mewajibkan umatnya untuk selalu berpikir, merenungkan segala macam fenomena alam, bersikap kritis, dan bahkan agama yang paling demokratis. Perintah pertama bagi umat Islam adalah membaca dengan tujuan agar menjadikan manusia berubah dari kondisi tidak tahu menjadi tahu (allamal insana maalam ya’lam) yang artinya belajar dan belajar. Artinya pendidikan, yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi berilmu, adalah perintah paling utama dalam ajaran Islam. Bersikap kritis dan mempertanyakan sesuatu kepada guru dan ulama bukanlah sesuatu hal yang terlarang apalagi diharamkan. Bukankah malaikat pun yang begitu patuh pada Tuhan juga pernah mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan Adam dan dijawab oleh Tuhan dengan sangat baik? Jika Tuhan saja pernah ‘digugat’ dan dipertanyakan kebijakannya oleh para malaikat yang tugasnya adalah mematuhi dan melaksanakan perintah Tuhan lantas mengapa para ustadz dan pemuka agama begitu alergi jika mendapatkan pertanyaan dan sikap kritis dari para para santrinya?
Saat ini umat Islam hanya didorong untuk menjadi penghapal teks belaka dan tidak didorong untuk menjadi pemilik ilmu. Para santri kebanyakan hanya didorong untuk menghapal Alquran dan hadist dan bukan untuk memahami ayat dan konteksnya. Padahal menghapal Alquran dan hadist bukanlah tujuan tapi sekedar cara. Tapi cara ini sekarang dijadikan tujuan dan umat Islam kehilangan esensi dari beriqra’yang bertujuan agar terjadi perubahan mental dari tidak tahu menjadi tahu (allamal insana maalam ya’lam). Itulah sebabnya mengapa umat Islam yang memiliki berbagai ajaran mulia seperti kebersihan, kedisiplinan, kebermanfaatan, dan lain-lain justru sekarang menjadi umat yang tidak paham tentang apa itu kebersihan, apa itu disiplin, apa itu melindungi umat lain, dll.
Saat ini umat Islam yang kritis justru sering ditembak dengan pertanyaan yang sangat sering dilontarkan yaitu :
“Anda muslim…?!” 
Tujuannya jelas adalah untuk membungkam dan memberi stigma bahwa umat Islam tidak selayaknya mempertanyakan atau menggugat apa pun yang disampaikan oleh orang yang dianggap sebagai ustadz atau pemuka agama.
Jika Anda seorang muslim maka sudah sepatutnya dan sebuah keharusan bagi Anda untuk terus berpikir dan bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Jangan justru terbalik menjadi orang yang tidak mau berpikir, tidak bisa bersikap kritis, tak punya kemampuan berargumen, tapi sangat fasih menghujat dan menghina orang yang berbeda pendapat. Itu sama sekali bukan ciri seorang muslim. 
Surabaya, 13 Juni 2020
Satria Dharma

Minggu, 07 Juni 2020

Menyoal Injil terjemahan Bahasa Minangkabau

Seorang teman mengirimkan tulisan (forwarding tanpa kejelasan siapa penulisnya) mengenai keberatan-keberatan tentang penterjemahan Injil ke dalam bahasa Minangkabau. Sebetulnya menterjemahkan Injil ke dalam bahasa lokal untuk digunakan dalam peribadatan mingguan penganut agama Kristen, bukanlah suatu hal yang aneh dan keributan ini menjadi sangat  menyebalkan. 

Injil versi yang kita kenal sekarang, dalam setiap peribadatan agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan, selalu dibawakan dalam bahasa setempat. Di Indonesia, peribadatan mereka akan dilakukan dalam bahasa Indonesia. Jarang atau bahkan mungkin tidak pernah peribadatan agama Kristen di Indonesia yang dibawakan dalam bahasa aslinya. Kita sendiri tidak pernah tahu bahasa asli Injil. Bahasa Ibrani/hebrew, Aramaic atau bahasa lainnya? Yang pasti.... peribadatan mereka akan dilakukan dalam bahasa setempat. 
Di negara Anglophone, peribadatan agama Kristen akan dilakukan dalam bahasa Inggris. di negara-negara Francophone dilakukan dalam bahasa Perancis dan .... di negara-negara Arab akan dilakukan dalam bahasa Arab. Jangan berpikir bahwa bangsa Arab/Timur Tengah tidak ada yang beragama Kristen ya... Ini pikiran yang terlalu naif. 


Peribadatan Kristen dalam bahasa Arab ini juga yang menyebabkan suatu saat, sekitar 40 tahun lalu, saya sempat terperangah ketika suatu pagi di hari minggu,mendengar suara puji-pujian dalam bahasa arab, yang isinya hampir mirip dengan beberapa ayat-ayat al Qur'an yang saya kenal, terdengar mengalun dari televisi. Segera setelah saya simak dengan teliti... baru sadar bahwa ternyata ayat-ayat tersebut dilantunkan dalam tata cara ibadat Kristen Maronit (Katholik Timur) yang banyak dianut oleh orang-orang Arab Libanon. Salahkah mereka ....? Tentu tidak... karena, begitulah tata cara peribadatan Kristen. Peribadatan dilakukan dalam bahasa setempat tentu dengan maksud agar khotbah dan peribadatannya mudah dimengerti oleh jemaat yang hadir.


Di Indonesia, yang saya tahu, terutama untuk gereja Kristen Protestan, kita kenal ada gereja HKBP, gereja Batak yang peribadatannya tentu dilakukan dalam bahasa Batak. Ada gereja Pasundan untuk orang-orang berbahasa Sunda, gereja Jawa yang peribadatannya dilakukan dalam bahasa Jawa dan saya yakin ada gereja-gereja lain yang peribadatannya dilakukan dalam bahasa setempat atau bahasa umat di wilayah terkait. 

Jadi .. bukan suatu hal yang aneh bila peribadatan dalam gereja di wilayah Sumatra Barat kemudian ingin dilakukan dalam bahasa Minang, karena... percayalah, walau minoritas, tentu ada urang Minangkabau (asli) yang menjadi penganut agama Kristen ..... Sama seperti orang-orang di wilayah Timur Tengah yang beragama non Islam. Atau ..... minimal, ada warga pendatang dan etnis/suku lain yang bertempat tinggal di wilayah Sumatera Barat yang memerlukan peribadatan dalam bahasa mereka sehari-hari, dalam hal ini bahasa Minang. Jangan baperlah .... karena bagi kalangan Kristen, penterjemahan Injil dalam bahasa lokal adalah hal biasa. Soal apakah isi/terjemahannya berbeda dengan injil dalam bahasa aslinya, nggak usah mempermasalahkannya. Itu urusan mereka. 

Hal ini tentu berbeda dengan tata cara ibadah umat Islam yang keseluruhannya menggunakan bahasa asli al Qur'an, dalam hal ini bahasa Arab. Shalatnya umat Islam dilakukan dalam bahasa Arab al Qur'an. Mengertikah kita akan surat-surat yang dibaca selama shalat? Untuk beberapa surat pendek yang biasa dibaca, kita tahu artinya. Tetapi bukan karena kita fasih berbahasa Arab, tetapi karena kita sempat membaca terjemahan dan karenanya tahu arti surat-surat atau ayat-ayat tertentu. Beruntunglah mereka yang bisa dan mampu berbahasa Arab dengan fasih. 


Sampai saat ini tidak pernah ada suatu terjemahan al Qur'an tanpa disertai tulisan dalam bahasa aslinya. Mengapa....? Untuk menjaga "kemurnian" ayat2 al Qur'an ... Apakah tidak pernah ada upaya mendistorsikan ayat2 al Qur'an ...? Pernah dan mungkin juga sering. Untuk orang-orang yang bukan penghafal Qur'an (hafidz) dan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Arab tentu akan mudah terperdaya....

Daripada meributkan Injil dalam bahasa Minang, tentu akan lebih baik bila kita memperkuat keimanan kita sendiri. Yakin bahwa agama yang kita anut adalah agama yang benar yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kalau urang awak takut atas penerjemahan Injil ke dalam bahasa Minangkabau, sebetulnya, patut kita balikkan pertanyaannya... Apakah iman Islam masyarakat Minangkabau sedemikian tipisnya sehingga takut terhadap terjemahan Injil dalam bahasa mereka? 😁😁😁

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...