Kesehatan mertua perempuanku, berusia hampir 84 tahun, sejak mengalami patah tulang paha awal Januari 2006 ini, terlihat kurang stabil. Selama masa perawatan pasca operasi di rumah sakit, beliau seringkali berhalusinasi (mungkin) berjumpa dan bercengkerama dengan 3 orang kakak perempuannya, kesemuanya sudah meninggal dunia. Mereka seperti berbicara, kadang bertengkar dalam bahasa Belanda. Kadang pula, beliau seperti sedang dikunjungi oleh almarhum suaminya yang sudah meninggal dunia hampir 15 tahun yang lalu. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan keluarga besar anak-anaknya.
Beberapa bulan sebelumnya, dalam keluarga suami, timbul wacana yang agak sensitif, yaitu ingin membicarakan âharta warisâ ibu, agar tidak menimbulkan pertentangan di kemudian hari. Timbulnya wacana ini memang agak mengejutkan, karena membicarakan masalah waris, sementara yang bersangkutan masih hidup, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah hal yang tabu. Apalagi mayoritas keluarga besar suami bukanlah orang-orang yang kekurangan, walaupun tidak berlebihan sekali. Tetapi kita, tentu tidak boleh berburuk sangka mengenai hal ini. Pembicaraan mengenai warisan, belum tentu dimaksudkan untuk âmembagi-bagiâ warisan, tetapi lebih kepada menginventarisir berbagai masalah yang mungkin timbul mengenai hak pewarisan tersebut. Apalagi, di kalangan âterdidikâ, ada keengganan untuk menerapkan hukum pewarisan Islam karena dinilai âmerugikanâ perempuan. Jadi, selain menginventarisi âjumlah harta kekayaanâ, juga ditujukan untuk membahas mengenai âbagaimana cara membagi harta waris yang adil bagi semuanyaâ.
Membagi harta waris yang adil bagi semua, ini adalah masalah yang sangat sensitif bagi manusia, terutama bagi perempuan Islam yang âhanya memperoleh ½ dari hak para anak lelakiâ. Hal ini dipicu oleh keadaan bahwa dalam kehidupan sehari-hari; umumnya seorang anak perempuan âlebih memberi perhatian kepada orang tuaâ dibandingkan dengan anak lelaki yang âlebih dikuasai oleh istri dan anak-anaknya sendiriâ dibandingkan dengan perhatiannya kepada orang tua. Belum lagi ketentuan yang menyatakan bahwa apabila seorang lelaki (suami) meninggal dunia dan mereka tidak memiliki anak lelaki (kandung), maka sebagian hartanya akan kembali kepada keluarga almarhum (orangtua serta kakak-adiknya). Kalaupun mereka memiliki anak lelaki, maka hak istri yang ditinggal mati hanya hak 1/8 saja Ketentuan ini tentu dirasa sangat merugikan istri dan anak perempuan yang ditinggalkan almarhum.
Pada era dimana perempuan juga bekerja, bukan sekedar untuk mengaktualisasi diri dimana seluruh penghasilannya menjadi âmilik pribadi perempuanâ, tetapi pekerjaan yang dijalaninya betul-betul karena kebutuhan hidup dan penghasilan perempuan digunakan sepenuhnya untuk menopang ekonomi keluarga, maka aturan Islam mengenai hak waris bisa dirasa sangat tidak adil bagi perempuan.
Bagaimana Islam menetapkan hak waris bagi yang ditinggal mati?
Dalam An Nisa ayat 11 dan 12, Allah SWT berfirman bahwa :
[4:11] Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan272; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua273, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa'atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
272: Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (Lihat ayat 34 surat An Nisaa).
273: Lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi.
[4:12] Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)274. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun
274: Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti : a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.
Masuknya orang tua dan saudara-saudara almarhum sebagai pewaris, dalam kasus seorang lelaki menikah (tidak punya anak atau hanya mempunyai anak perempuan saja) seperti yang dicantumkan dalam surat An Nisa ayat 11 â 12 di atas, seringkali dirasakan sangat tidak adil bagi istri (dan anak perempuan) yang ditinggal. Lalu mengapa Allah menetapkan pembagian yang demikian?
Lelaki dalam Islam mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang lebih berat dari perempuan. Dia, sewaktu menikah berkewajiban memberikan mahar kepada calon istrinya dan kemudian, sebagai kepala keluarga dan imam dalam rumah tangga, berkewajiban memberikan nafkah bagi anak istrinya. Sementara perempuan tidak memiliki kewajiban tersebut. Sebagai istri, perempuan tidak berkewajiban mencari nafkah, karena kewajiban suamilah untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Kalaupun dia memiliki nafkah sendiri maka dia dapat menyimpannya untuk keperluan pribadi. Begitu juga saat perempuan menerima warisan, maka perempuan dapat menyimpannya untuk kepentingan pribadi, tanpa ada berkewajiban untuk menyerahkannya untuk keperluan keluarga. Berbeda dengan lelaki, dia wajib memenuhi kebutuhan keluarga dari penghasilannya termasuk juga harta yang diterimanya dari warisan.
Lebih jauh lagi, tatkala seorang (anak) lelaki kehilangan ayahnya, maka tanggung jawab ayah beralih ke tangannya; termasuk di dalamnya melindungi ibunya dan menjadi wali bagi kakak-adik perempuannya saat menikah. Kewajiban âkewajiban ini merupakan salah satu alasan mengapa hak waris (anak) lelaki lebih besar daripada (anak) perempuan.
*****
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita dan mengeluh panjang lebar mengenai kasus perebutan harta warisan peninggalan orangtuanya. Dia (perempuan) adalah anak tunggal, yang ibunya telah meninggal dunia beberapa tahun sebelum ayahnya meninggal dunia. Saat ayahnya meninggal dunia, maka (menurut ceritanya), keluarga ayahnya yaitu oom dan tantenya serentak mengambil sertifikat tanah milik almarhum sekaligus menguasai beberapa rumah dan villa keluarga tersebut. Si anak tentu tidak bisa menerima kondisi itu dan melakukan perlawanan secara lisan untuk kemudian setelah upaya lisan tersebut tidak berhasil, maka ia, akhirnya melalui jalur hukum.
Sejak saat itu, dimulailah babak pertengkaran antar keluarga, oom dan tante di satu kubu versus keponakan. Tidak ada satupun yang rela mengalah. Sang keponakan merasa punya hak penuh atas harta peninggalan orang tua sementara oom dan tante merasa berhak karena berdasarkan Al Qurâan, sebagian harta peninggalan seorang lelaki yang hanya memiliki anak perempuan akan jatuh kepada saudara-saudara sekandungnya, sebagaimana tercantum dalam ayat berikut :
[4:176] Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)387. Katakanlah : "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
387: Kalalah ialah : seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.
Kasus perebutan harta warisan ini tentu sangat menyedihkan, karena pihak yang berseteru adalah orang-orang yang hidup berkecukupan. Mereka rela kehilangan tali silaturahim di antara keluarga demi harta warisan. Entah bagaimana akhir cerita perseteruan itu, yang pasti pengacara merekalah yang beruntung mendapat harta warisan tersebut dalam bentuk Jasa Konsultasi Hukum
Manusia terkadang lebih dikuasai oleh hawa nafsu dibandingkan dengan akal sehatnya. Lebih memikirkan hak daripada kewajiban, apalagi bila sudah bersinggungan dengan harta. Tentu tidak salah, bila Allah SWT berfirman bahwa :
[18:46] Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
[57:20] Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
[65:3] Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
*****
Pembagian Hak Waris berdasarkan Al Qurâan, sungguh merupakan ujian besar bagi para muslimah akan keimanannya kepada Allah SWT yang Maha Mengetahui. Peran aktif muslimah dalam menegakkan âperiuk nasiâ harus disikapi dengan amat bijak agar tidak menimbulkan sikap âpersamaanâ dalam segala hal, karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan berbagai keringanan dan kemudahan bagi muslimah, dan bahkan âkemanjaanâ dalam menempuh kehidupan ini.
Karenanya tentu, tidak jangan ada keraguan lagi bagi kaum perempuan untuk menerima dengan ikhlas pembagian harta waris sebagaimana yang telah digariskan dalam Al Qurâan. Bukan besarnya harta waris yang kita terima yang dipentingkan, tetapi berkah dan rahmat Allah SWT yang menyertai harta dan rejeki kitalah yang lebih penting untuk selalu kita syukuri.
Manusia memang cenderung untuk mempertahankan âhakâ namun seringkali mengabaikan âkewajibanâ yang menyertai dan melekat pada âhak-hakânya tersebut. Jangan lupa, bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu berimbang. Ada yang baik, tentu ada yang buruk, ada hitam dan ada pula putih, maka ada hak, tentu ada pula kewajiban. Maka menjadi kewajiban kitalah untuk menghayati dan mengamalkan agar semua âhak dan kewajibanâ antara lelaki dan perempuan, suami dan istri, anak dan orang tua, berjalan seimbang sesuai dengan apa yang diperintahkanNya. Wallahuâalam.
Yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri dan.. Yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri #BadiuzzamanSaidNursi
Sabtu, 31 Desember 2011
Ayo, kita sembuhkan diri sendiri...!
Beberapa hari yang lalu, lelah karena acara akhir pekan yang bertubi-tubi, saya merasakan kerongkongan mulai panas dan gatal. Sementara sekujur badan mulai terasa pegal-pegal. Ini adalah gejala awal serangan influensa. Sadar dengan tanda-tanda serangan flu, malam sepulang kantor, saya meminta bantuan di rumah untuk meng ”kop” sekujur punggung dengan cupping apparatus, sambil dipijat-urut. Kop adalah pengobatan tradisional cina. Namun, bisa juga dengan kerikan ... tapi saya kurang suka, karena menyakiti tubuh. Pada akhir ritual kop+pijat+urut, kemudian seluruh badan dilumuri dengan balsam hangat dan kemudian segelas besar rebusan jahe ditambah dengan perasan 2 buah jeruk nipis, hangat-hangat terhidang untuk diminum sampai habis. Usai pijat, baca doa memohon kesembuhan, lalu diteruskan dengan tidur sepuas hati ... Langsung hingga pagi hari dan siap masuk kantor kembali.
Namun rupanya sang virus masih betah dalam tubuh. Keesokan harinya .... gatal dan panas kerongkongan memang sudah menghilang, namun timbul cairan bening dari hidung yang tidak dapat berhenti disertai bersin tak berkeputusan. Pilek menyerang walaupun batuk urung datang dan badan masih terasa pegal. Hari ke dua, masih sepulang kantor ... ritual yang sama, diulangi .......
Hari ke tiga, badan masih terasa pegal .... namun, Alhamdulillah ... seluruh penyakit sudah hilang ... pergi dari tubuh. Tuntas sudah....., tanpa sebutir obat-obatan, kecuali 3 gelas besar rebusan jahe dicampur jeruk nipis, diminum selama 3 hari berturut-turut. Tidak percaya....????
*****
Musim penghujan di Indonesia, yaitu sejak mulai bulan Oktober hingga Maret atau April setiap tahun, konon identik dengan munculnya berbagai penyakit. Mulai dari batuk + pilek, diare hingga demam berdarah dengue. Belum lagi pandemi yang melanda negeri ini, yaitu flu burung yang tidak kunjung hilang. Semuanya tentu berpulang kepada kondisi alam yang buruk, yaitu hujan terus menerus, ditambah dengan sanitasi yang jelek serta lingkungan hidup semakin rusak. Konon, hujan jaman sekarang tidak lagi seperti jaman dahulu, dimana air hujan seringkali digunakan orang untuk konsumsi sehari-hari. Hujan saat ini, terutama yang turun di kota-kota besar, tidak lagi menurunkan air yang jernih seperti dahulu kala, tetapi air sudah agak menghitam, membawa sejumlah polutan yang terkandung di udara dan mengubah air hujan menjadi bersifat asam.
Penyakit langganan yang seringkali diidap orang selama musim penghujan adalah batuk dan pilek. Influensa, bahasa kerennya. Tidak salah bila di setiap musim penghujan berbagai produk obat batuk dan pilek menjadi primadona jualan di berbagai media iklan televisi, menyaingi keramaian gossip kehidupan para selebriti.
Pada tahun 60an dan awal tahun 70an, media iklan belumlah seramai saat ini. Koran dan majalah masih dapat dihitung dengan ke dua jari tangan. Televisipun masih didominasi oleh siaran pemerintah melalui TVRI, yang walaupun masih diijinkan beriklan, belumlah seramai sekarang. Maklum barang yang dijajakan belum beragam dan persainganpun tidak seketat sekarang. Pada tahun 60 an, satu-satunya obat ”cespleng” untuk menyembuhkan batuk, pilek dan masuk angin adalah ”puyer bintang tujuh” atau Naspro, yang ... pahitnya bukan kepalang. Maklum ... bubuk puyer bintang tujuh harus dikonsumsi langsung, karena kapsul mungkin belum diproduksi dan dikenal orang. Entah apakah saat ini ke dua obat tersebut masih diproduksi dan dikonsumsi orang. Namun demikian, guna menghindari rasa pahit terutama bagi anak-anak, masyarakat masih lebih suka menggunakan obat tradisional. Yang paling sering digunakan adalah rebusan segenggam daun saga dengan gula batu, rebusan jahe dengan gula merah atau larutan jeruk nipis dengan kecap manis. Bila penderita flu, terutama anak-anak, disertai dengan demam, maka untuk menurunkan demam, cukup kerikan dengan bawang merah dicampur minyak kelapa. Obat-obatan tradisional ini dipercaya tidak memiliki efek samping, walaupun daya penyembuhnya relatif lebih rendah. Namun ... karena jaman itu obat-obatan kimia belum banyak digunakan orang, dan virus influensapun masih virus ”jinak” maka penyembuhan melalui obat-obatan tradisional ini cukup manjur dan dipercaya masyarakat. Murah, mudah didapat dan aman.
Kini, jaman sudah berubah. Segala macam obat-obatan sudah dengan mudahnya diperoleh. Kita sudah tidak dapat lagi membedakan mana obat-obatan yang dapat dikonsumsi sebagai pertolongan pertama dan mana jenis obat-obatan yang hanya bisa dikonsumsi atas petunjuk dokter. Penggunaan obat-obatan tanpa aturan yang jelas ini mengakibatkan adanya perubahan tingkat imunitas manusia terhadap penyakit. Kemudian, hal ini mungkin mengakibatkan terjadi mutasi genetik dari bakteri/virus sehingga mereka menjadi lebih ganas dari bakteri/virus sejenis generasi sebelumnya.
Lalu, bagaimana kiat kita menghadapi serangan langganan batuk dan pilek di musim penghujan ini? Back to nature !!! Ini kalau kita percaya kepada alam. Batuk dan pilek umumnya menyerang manusia yang tubuhnya tidak dalam kondisi prima. Kondisi tidak prima dapat disebabkan oleh kelelahan yang luar biasa, kurang tidur atau kurang mendapat asupan makanan dan gizi yang memadai untuk membentengi tubuh dari serangan bakteri/virus yang sebenarnya setiap saat mengisi ruang udara di sekitar manusia. Kalau kita menyadari sebab-sebab timbulnya serangan batuk dan pilek, maka penyembuhannya cukup sederhana; kembalikan tubuh kita ke dalam kondisi yang prima …. Istirahat yang cukup dan makan makanan yang segar dan bergizi.
*****
Ayo coba dong ..... murah meriah, ... tanpa effek samping .....
Back to nature ...
Biarkan alam bekerja....
Jangan jejali tubuh kita dengan racun-racun kimiawi ...
Biarkan tubuh menyembuhkan diri sendiri ......
Karena ... begitulah keseimbangan alam ......
Lebak bulus, 28 januari 2006
Namun rupanya sang virus masih betah dalam tubuh. Keesokan harinya .... gatal dan panas kerongkongan memang sudah menghilang, namun timbul cairan bening dari hidung yang tidak dapat berhenti disertai bersin tak berkeputusan. Pilek menyerang walaupun batuk urung datang dan badan masih terasa pegal. Hari ke dua, masih sepulang kantor ... ritual yang sama, diulangi .......
Hari ke tiga, badan masih terasa pegal .... namun, Alhamdulillah ... seluruh penyakit sudah hilang ... pergi dari tubuh. Tuntas sudah....., tanpa sebutir obat-obatan, kecuali 3 gelas besar rebusan jahe dicampur jeruk nipis, diminum selama 3 hari berturut-turut. Tidak percaya....????
*****
Musim penghujan di Indonesia, yaitu sejak mulai bulan Oktober hingga Maret atau April setiap tahun, konon identik dengan munculnya berbagai penyakit. Mulai dari batuk + pilek, diare hingga demam berdarah dengue. Belum lagi pandemi yang melanda negeri ini, yaitu flu burung yang tidak kunjung hilang. Semuanya tentu berpulang kepada kondisi alam yang buruk, yaitu hujan terus menerus, ditambah dengan sanitasi yang jelek serta lingkungan hidup semakin rusak. Konon, hujan jaman sekarang tidak lagi seperti jaman dahulu, dimana air hujan seringkali digunakan orang untuk konsumsi sehari-hari. Hujan saat ini, terutama yang turun di kota-kota besar, tidak lagi menurunkan air yang jernih seperti dahulu kala, tetapi air sudah agak menghitam, membawa sejumlah polutan yang terkandung di udara dan mengubah air hujan menjadi bersifat asam.
Penyakit langganan yang seringkali diidap orang selama musim penghujan adalah batuk dan pilek. Influensa, bahasa kerennya. Tidak salah bila di setiap musim penghujan berbagai produk obat batuk dan pilek menjadi primadona jualan di berbagai media iklan televisi, menyaingi keramaian gossip kehidupan para selebriti.
Pada tahun 60an dan awal tahun 70an, media iklan belumlah seramai saat ini. Koran dan majalah masih dapat dihitung dengan ke dua jari tangan. Televisipun masih didominasi oleh siaran pemerintah melalui TVRI, yang walaupun masih diijinkan beriklan, belumlah seramai sekarang. Maklum barang yang dijajakan belum beragam dan persainganpun tidak seketat sekarang. Pada tahun 60 an, satu-satunya obat ”cespleng” untuk menyembuhkan batuk, pilek dan masuk angin adalah ”puyer bintang tujuh” atau Naspro, yang ... pahitnya bukan kepalang. Maklum ... bubuk puyer bintang tujuh harus dikonsumsi langsung, karena kapsul mungkin belum diproduksi dan dikenal orang. Entah apakah saat ini ke dua obat tersebut masih diproduksi dan dikonsumsi orang. Namun demikian, guna menghindari rasa pahit terutama bagi anak-anak, masyarakat masih lebih suka menggunakan obat tradisional. Yang paling sering digunakan adalah rebusan segenggam daun saga dengan gula batu, rebusan jahe dengan gula merah atau larutan jeruk nipis dengan kecap manis. Bila penderita flu, terutama anak-anak, disertai dengan demam, maka untuk menurunkan demam, cukup kerikan dengan bawang merah dicampur minyak kelapa. Obat-obatan tradisional ini dipercaya tidak memiliki efek samping, walaupun daya penyembuhnya relatif lebih rendah. Namun ... karena jaman itu obat-obatan kimia belum banyak digunakan orang, dan virus influensapun masih virus ”jinak” maka penyembuhan melalui obat-obatan tradisional ini cukup manjur dan dipercaya masyarakat. Murah, mudah didapat dan aman.
Kini, jaman sudah berubah. Segala macam obat-obatan sudah dengan mudahnya diperoleh. Kita sudah tidak dapat lagi membedakan mana obat-obatan yang dapat dikonsumsi sebagai pertolongan pertama dan mana jenis obat-obatan yang hanya bisa dikonsumsi atas petunjuk dokter. Penggunaan obat-obatan tanpa aturan yang jelas ini mengakibatkan adanya perubahan tingkat imunitas manusia terhadap penyakit. Kemudian, hal ini mungkin mengakibatkan terjadi mutasi genetik dari bakteri/virus sehingga mereka menjadi lebih ganas dari bakteri/virus sejenis generasi sebelumnya.
Lalu, bagaimana kiat kita menghadapi serangan langganan batuk dan pilek di musim penghujan ini? Back to nature !!! Ini kalau kita percaya kepada alam. Batuk dan pilek umumnya menyerang manusia yang tubuhnya tidak dalam kondisi prima. Kondisi tidak prima dapat disebabkan oleh kelelahan yang luar biasa, kurang tidur atau kurang mendapat asupan makanan dan gizi yang memadai untuk membentengi tubuh dari serangan bakteri/virus yang sebenarnya setiap saat mengisi ruang udara di sekitar manusia. Kalau kita menyadari sebab-sebab timbulnya serangan batuk dan pilek, maka penyembuhannya cukup sederhana; kembalikan tubuh kita ke dalam kondisi yang prima …. Istirahat yang cukup dan makan makanan yang segar dan bergizi.
*****
Ayo coba dong ..... murah meriah, ... tanpa effek samping .....
Back to nature ...
Biarkan alam bekerja....
Jangan jejali tubuh kita dengan racun-racun kimiawi ...
Biarkan tubuh menyembuhkan diri sendiri ......
Karena ... begitulah keseimbangan alam ......
Lebak bulus, 28 januari 2006
Bacang pertamaku....!!!
“Bu … bacangnya berantakan….”
Suara Dedeh mengalun keras, membangunkan syaraf otak kesadaranku yang sudah nyaris hilang ditelan lelah dan kantuk. Waduh …, gimana nih? Ini kecelakaan yang maha dahsyat ! Hari Jum’at kemarin, aku sudah sesumbar di kantor. Week end aku akan membuat bacang sendiri di rumah dan hasilnya akan kubawa ke kantor pada hari Senin untuk dimakan oleh seisi kantor.
“Berapa banyak yang rusak?”
“Belum dihitung …., tapi yang utuh masih lumayan banyak kok …. Masih ada sekitar 50an”.
Wah … lumayan juga . Masih bisa dibawa ke kantor, hari Senin, termasuk untuk dibagi-bagi dengan orang-orang di rumah dan sebagian lagi untuk keponakan-keponakanku.
*****
Keinginan untuk membuat bacang, penganan khas cina, mirip lontong isi berbentuk segi 4 terpuntir yang dibungkus daun bamboo, itu muncul secara tiba-tiba saja. Minggu lalu, saat melintas di pelataran parkir kantor, entah mengapa, terpandang daun-daun bamboo kuning yang menjurai. Cukup besar dan lebar untuk dijadikan pembungkus bacang. Padahal …. sungguh mati, pokok bamboo kuning itu sudah hampir 10 tahun tegak berdiri di halaman kantor, tanpa terpikir sedikitpun untuk dimanfaatkan sebagai pembungkus bacang. Mungkin situasinya memang sedang mendukung. Hari Minggu kemarin adalah tahun baru Cina … Imlek. Jadi selain tulisan gong xi fat cay terpampang di mana-mana, mungkin aura Imlek meruah kemana-mana dan mempengaruhi suasana hatiku. Apalagi ditambah dengan kondisi keuangan yang sedang moncer … maklum, baru terima gaji. Ditambah lagi, memang sudah ada rencana untuk belanja rutin bulanan ke Makro. Jadi dengan enteng, rencana dibuat …. Bikin bacang ayam … Nggak tanggung-tanggung … dua jenis sekaligus.. Bacang beras dan bacang ketan …. Lagaknya seperti yang sudah mahir membuat bacang.
Beberapa bulan sebelumnya, Jetty, teman kursus di CCF Wijaya, pernah cerita tentang kebiasaannya membuat bacang yang kini sudah mulai meluntur karena sulitnya menemukan daun bamboo yang besar di daerah tempat tinggalnya di Bintaro Jaya. Sejak saat itu, memang sudah terbersit keinginan untuk mencoba membuat bacang sendiri. Tapi keinginan itu tidak terlalu serius, karena bacang memang bukan salah satu makanan favoritku. Tapi begitulah, mungkin karena dalam suasana menjelang Imlek, maka tiba-tiba muncul keinginan yang tak tertahankan untuk membuat bacang.
Hari Kamis pagi, begitu tiba di kantor, kusampaikan order kepada pak Utjen … untuk mengambil daun bamboo yang besar sebanyak 150 lembar … Kira-kira cukup untuk sekitar 50 - 60 buah bacang. Begitu rencanaku. Jum’at sore hari, sambil menenteng tas kresek berisi daun bamboo, otakku sudah berputar membayangkan bagaimana cara membungkus bacang. Aku juga sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana cara menghilangkan bulu halus di sekujur daun bamboo yang bisa menimbulkan rasa gatal. Ah … tanya Jetty saja besok sabtu di ccf. Beres!!
Usai belanja di Makro pada hari minggu dan shalat dhuhur, aku mulai mencuci beras dan ketan. Menumis daging ayam giling campur jamur untuk isinya. Dandang besar untuk memasak sudah disiapkan, diisi air dan ditaruh di atas kompor. Bagaimana sebetulnya membuat bacang yang baik dan benar …..??? Sungguh mati … aku nggak tahu. Belum pernah baca resepnya. Cuma bermodal logika saja …. Bacang adalah sejenis arem-arem (lontong isi – jawa). Cuma pembungkus dan adonan isinya saja yang agak berbeda. Tentu cara membuatnya tidak jauh berbeda. Jadi membuat bacang ini, betul-betul modal nekat, termasuk di dalamnya mengingat-ingat lilitan daun bamboo kala membuka bacang yang sering kubeli di Carrefour lebak bulus.
Ternyata …… membentuk bacang yang mulus dengan daun bamboo sepanjang rata-rata 25 cm itu bukan hal yang mudah. Berkali-kali acara bungkus membungkus diulang untuk mendapatkan bentuk bacang yang bagus. Wadaw….. kalo tahu susah begini, lebih baik beli yang sudah jadi di Carrefour. Nggak keluar tenaga dan “effort” yang besar … Bentuknya bagus dan ditanggung (belum tentu) enak…. Ini untuk menghibur diri. Tapi, bagaimana dengan beras dan ketan yang sudah di “aron” dan tumisan daging ayam yang sudah menunggu untuk dikerjakan dan dirapikan.
Duh …., terpaksalah berjibaku dengan dibantu Dedeh dan ibuku, mereka-reka bentuk bacang agar mirip dengan yang biasa di jual orang …Walhasil, target untuk makan malam dengan bacang terpaksa diubah … Bacangnya belum matang ……
Begitulah akhirnya, bacang-bacang eksperimen pertamaku …. Bentuknya tidak terlalu mulus. Hanya ada beberapa saja yang bagus bentuknya. Konon, kata suami, bacang eksperimen itu sudah agak “mirip” dengan yang biasa disantapnya. Dia , yang biasa rewel soal “rasa”, sudah menikmatinya dengan tenang tanpa komentar “pedas” yang biasa tercetus kalau menemukan rasa yang kurang pas …. Nggak tanggung-tanggung … 3 buah bacang ludes disantap tengah malam itu sepulang dari latihan bersama the Professor’s band. Sekalian sahur katanya, Kalau nggak makan dengan benar, nanti puasa hari seninnya bermasalah …. Pusing dan masuk angin.
Teman-teman kantor, kelihatannya cukup puas menikmati sarapan pagi bacang-bacang yang kubawa. Entah memang karena rasanya cukup enak… atau mereka sungkan untuk berkomentar akan bentuk bacang tidak semulus seperti yang dibayangkan. Ada guyonan di kantor … yang gratis “pasti” enak. Tapi biar saja….. Kalau tidak membuatnya sendiri, kita tidak akan pernah tahu bahwa membungkus bacang itu ternyata SULIT … bo’ ……!!!!
Suara Dedeh mengalun keras, membangunkan syaraf otak kesadaranku yang sudah nyaris hilang ditelan lelah dan kantuk. Waduh …, gimana nih? Ini kecelakaan yang maha dahsyat ! Hari Jum’at kemarin, aku sudah sesumbar di kantor. Week end aku akan membuat bacang sendiri di rumah dan hasilnya akan kubawa ke kantor pada hari Senin untuk dimakan oleh seisi kantor.
“Berapa banyak yang rusak?”
“Belum dihitung …., tapi yang utuh masih lumayan banyak kok …. Masih ada sekitar 50an”.
Wah … lumayan juga . Masih bisa dibawa ke kantor, hari Senin, termasuk untuk dibagi-bagi dengan orang-orang di rumah dan sebagian lagi untuk keponakan-keponakanku.
*****
Keinginan untuk membuat bacang, penganan khas cina, mirip lontong isi berbentuk segi 4 terpuntir yang dibungkus daun bamboo, itu muncul secara tiba-tiba saja. Minggu lalu, saat melintas di pelataran parkir kantor, entah mengapa, terpandang daun-daun bamboo kuning yang menjurai. Cukup besar dan lebar untuk dijadikan pembungkus bacang. Padahal …. sungguh mati, pokok bamboo kuning itu sudah hampir 10 tahun tegak berdiri di halaman kantor, tanpa terpikir sedikitpun untuk dimanfaatkan sebagai pembungkus bacang. Mungkin situasinya memang sedang mendukung. Hari Minggu kemarin adalah tahun baru Cina … Imlek. Jadi selain tulisan gong xi fat cay terpampang di mana-mana, mungkin aura Imlek meruah kemana-mana dan mempengaruhi suasana hatiku. Apalagi ditambah dengan kondisi keuangan yang sedang moncer … maklum, baru terima gaji. Ditambah lagi, memang sudah ada rencana untuk belanja rutin bulanan ke Makro. Jadi dengan enteng, rencana dibuat …. Bikin bacang ayam … Nggak tanggung-tanggung … dua jenis sekaligus.. Bacang beras dan bacang ketan …. Lagaknya seperti yang sudah mahir membuat bacang.
Beberapa bulan sebelumnya, Jetty, teman kursus di CCF Wijaya, pernah cerita tentang kebiasaannya membuat bacang yang kini sudah mulai meluntur karena sulitnya menemukan daun bamboo yang besar di daerah tempat tinggalnya di Bintaro Jaya. Sejak saat itu, memang sudah terbersit keinginan untuk mencoba membuat bacang sendiri. Tapi keinginan itu tidak terlalu serius, karena bacang memang bukan salah satu makanan favoritku. Tapi begitulah, mungkin karena dalam suasana menjelang Imlek, maka tiba-tiba muncul keinginan yang tak tertahankan untuk membuat bacang.
Hari Kamis pagi, begitu tiba di kantor, kusampaikan order kepada pak Utjen … untuk mengambil daun bamboo yang besar sebanyak 150 lembar … Kira-kira cukup untuk sekitar 50 - 60 buah bacang. Begitu rencanaku. Jum’at sore hari, sambil menenteng tas kresek berisi daun bamboo, otakku sudah berputar membayangkan bagaimana cara membungkus bacang. Aku juga sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana cara menghilangkan bulu halus di sekujur daun bamboo yang bisa menimbulkan rasa gatal. Ah … tanya Jetty saja besok sabtu di ccf. Beres!!
Usai belanja di Makro pada hari minggu dan shalat dhuhur, aku mulai mencuci beras dan ketan. Menumis daging ayam giling campur jamur untuk isinya. Dandang besar untuk memasak sudah disiapkan, diisi air dan ditaruh di atas kompor. Bagaimana sebetulnya membuat bacang yang baik dan benar …..??? Sungguh mati … aku nggak tahu. Belum pernah baca resepnya. Cuma bermodal logika saja …. Bacang adalah sejenis arem-arem (lontong isi – jawa). Cuma pembungkus dan adonan isinya saja yang agak berbeda. Tentu cara membuatnya tidak jauh berbeda. Jadi membuat bacang ini, betul-betul modal nekat, termasuk di dalamnya mengingat-ingat lilitan daun bamboo kala membuka bacang yang sering kubeli di Carrefour lebak bulus.
Ternyata …… membentuk bacang yang mulus dengan daun bamboo sepanjang rata-rata 25 cm itu bukan hal yang mudah. Berkali-kali acara bungkus membungkus diulang untuk mendapatkan bentuk bacang yang bagus. Wadaw….. kalo tahu susah begini, lebih baik beli yang sudah jadi di Carrefour. Nggak keluar tenaga dan “effort” yang besar … Bentuknya bagus dan ditanggung (belum tentu) enak…. Ini untuk menghibur diri. Tapi, bagaimana dengan beras dan ketan yang sudah di “aron” dan tumisan daging ayam yang sudah menunggu untuk dikerjakan dan dirapikan.
Duh …., terpaksalah berjibaku dengan dibantu Dedeh dan ibuku, mereka-reka bentuk bacang agar mirip dengan yang biasa di jual orang …Walhasil, target untuk makan malam dengan bacang terpaksa diubah … Bacangnya belum matang ……
Begitulah akhirnya, bacang-bacang eksperimen pertamaku …. Bentuknya tidak terlalu mulus. Hanya ada beberapa saja yang bagus bentuknya. Konon, kata suami, bacang eksperimen itu sudah agak “mirip” dengan yang biasa disantapnya. Dia , yang biasa rewel soal “rasa”, sudah menikmatinya dengan tenang tanpa komentar “pedas” yang biasa tercetus kalau menemukan rasa yang kurang pas …. Nggak tanggung-tanggung … 3 buah bacang ludes disantap tengah malam itu sepulang dari latihan bersama the Professor’s band. Sekalian sahur katanya, Kalau nggak makan dengan benar, nanti puasa hari seninnya bermasalah …. Pusing dan masuk angin.
Teman-teman kantor, kelihatannya cukup puas menikmati sarapan pagi bacang-bacang yang kubawa. Entah memang karena rasanya cukup enak… atau mereka sungkan untuk berkomentar akan bentuk bacang tidak semulus seperti yang dibayangkan. Ada guyonan di kantor … yang gratis “pasti” enak. Tapi biar saja….. Kalau tidak membuatnya sendiri, kita tidak akan pernah tahu bahwa membungkus bacang itu ternyata SULIT … bo’ ……!!!!
Apa yang kau cari....?
“Aku mau mengundurkan diri (lagi)”.
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, kala makan pagi di minggu pertama awal tahun ini. Tersentak juga mendengar pernyataan itu. Nggak ada hujan, nggak ada angin badai, lagi-lagi mengundurkan diri … Ini kali yang kedua, dia mengundurkan diri dari jabatan structural yang dipegang, sebelum masanya berakhir.
“Kapan?”
“Siang ini aku mau bicara dengan Deputy. Setelah itu, baru menulis surat resmi”
“Lalu … mau kemana? Balik ke uni? Rasanya dulu kamu pernah bilang … sekali keluar dari Uni … maka tidak sepantasnya kembali lagi dan sebaiknya berkecimpung terus di luar.”
“Ya …, seperti biasa saja. Ke Uni untuk kegiatan rutin mengajar dan membimbing tugas akhir. Itu saja karena kegiatan itu tetap harus berjalan. Lainnya ... ada proyek yang sedang dirintis dan perlu perhatian penuh”
“Lalu, alasan apa yang mau diberikan ke kantor, nanti?”
“Baca saja surat pengunduran dirinya nanti, … sekalian bantu koreksi ….!”
*****
Mengundurkan diri secara sukarela dari suatu jabatan, di Indonesia, apapun motivasinya, belum menjadi suatu tradisi. Jabatan struktural, dimanapun, baik di perusahaan swasta, kalangan lembaga swadaya masyarakat, apalagi di lembaga pemerintahan dan seberapapun tingginya pangkat yang disandang, merupakan idaman hampir setiap orang. Banyak orang berlomba-lomba meraih jabatan setinggi mungkin dan sedapat-dapatnya mempertahankan apa yang sudah diraih. Tidak heran, banyak yang bertikai baik secara halus maupun terang-terangan, menghalalkan segala cara untuk meraih suatu jabatan. Lihat saja kasus yang pertikaian antara pasangan Badrul Kamal - Syihabuddin dan Nurmahmudi Ismail - Yuyun Wirasaputra dalam perebutan jabatan Walikota Depok yang baru saja tuntas. Kekalahan pasangan Badrul Kamal-Syihabuddin dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), kotamadya Depok, tidak lantas menyurutkan ambisi mereka untuk meraih jabatan Walikota. Upaya menjegal pemenang Pilkadapun lantas dirancang dan melibatkan instansi hukum pula, sehingga pelantikan pemenang pilkadapun menjadi tertunda-tunda. Penyelesaian sengketa memang akhirnya terjadi. Namun ini baru terlaksana, setelah kedua pasangan yang bertikai, bertarung habis-habisan, gugat menggugat hingga pada tahap keputusan Mahkamah Agung dan baru berakhir setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa keputusan Mahkamah Agung sudah final.
Mengapa ada orang yang dengan sukarela mengundurkan diri sementara yang lain bertahan mati-matian mempertahankan jabatannya, walaupun berbagai masalah menerpa dan berbagai cara sudah dilakukan orang untuk menurunkannya. Apa yang menyebabkan ada segelintir orang dengan sukarela meninggalkan posisinya sementara yang lain berkebalikan?
Mengundurkan diri dari satu jabatan biasanya terjadi bila:
1. Umumnya, yang mengundurkan diri, sudah mendapatkan posisi atau jabatan lain yang lebih baik dengan penghasilan dan fasilitas yang tentu saja lebih baik pula.
2. Tidak cocok dengan atasan. Hal ini sangat jarang terjadi, karena bawahan, biasanya cenderung menerima saja kondisi seperti ini. Atau kalau tidak, dia cenderung kasak-kusuk agar dipindah-posisikan.
3. Merasa tidak lagi berkembang atau bosan dengan pekerjaan rutin di tempat lama.
4. Tersangkut kasus terutama kasus kategori pidana, sehingga mengundurkan diri dapat dianggap sebagai upaya kompromi agar kasusnya tidak diperpanjang lagi.
Dari ke empat alasan tersebut di atas, kecuali pada kasus nomor 4, kita hanya akan berani mengundurkan diri atas permintaan sendiri (sukarela), apabila sudah memiliki jabatan atau pekerjaan (baru) lainnya, sudah memiliki modal yang cukup untuk menopang hidup selama belum mendapat pekerjaan/jabatan baru atau memulai usaha sendiri. Di luar semua itu, hanya sedikit orang yang berani mengambil keputusan melepaskan jabatan dan atau pekerjaan yang sudah dipegangnya.
Sementara itu, keengganan orang untuk melepaskan jabatan bisa disebabkan karena :
1. Salah satu tujuan utama manusia bekerja adalah untuk mendapatkan imbalan, yang merupakan bukti prestasi kerja, baik secara immaterial (berupa jabatan struktural) maupun materi (gaji, tunjangan, fasilitas dll) yang umumnya mengikuti jabatan yang disandang.
2. Masyarakat Indonesia masih memandang jabatan sebagai salah satu symbol status sosial. Jangankan pejabat tinggi Negara yang memang jelas terlihat sangat mentereng. Lihat saja, bagaimana seorang ketua RT atau RW sangat dihormati oleh warga setempat. Bahkan, seorang yang baru pulang menunaikan ibadah haji, menjadi begitu terhormat di lingkungannya. Kondisi inipun terangkat dalam iklan atau acara yang sering kita lihat dalam tayangan televisi. Bapak dan ibu RT, atau bapak dan ibu RW menjadi panutan dan tempat bertanya warga. Dengan kondisi sosial masyarakat seperti ini, tidak heran bila maka jabatan menjadi salah satu tujuan dan dambaan setiap pekerja, bahkan serendah apapun jabatan itu.
3. Memegang suatu jabatan merupakan akses pada “kekuasaan” dan “wewenang” yang mungkin sangat dinikmati. Bukan saja oleh si pemegang jabatan itu sendiri, tetapi juga oleh istri, melalui aktifitas di organisasi para istri dan karyawati di instansi yang sama, dan anak-anaknya. Sehingga tidak jarang terjadi ekses terhadap penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan oleh beberapa gelintir orang.
Kecenderungan takut kehilangan jabatan dan pekerjaan memang dapat dimaklumi. Jaminan sosial bagi kelompok pekerja di Indonesia memang sangat minim, untuk tidak dikatakan sama sekali tidak ada. Orang yang kehilangan jabatan/pekerjaan menjadi sangat gamang menghadapi hidup, karena hal itu berarti; dia kehilangan sumber penghasilan rutin untuk menghidupi keluarganya. Jangankan bantuan tunjangan “pencari kerja” dari pemerintah sebagaimana yang dikenal di banyak negara maju, pesangon dari perusahaanpun saat mengundurkan diri, belum tentu diberikan. Kalaupun akhirnya pesangon diperoleh, maka jumlahnya sangat tidak mencukupi untuk menunjang hidup sampai memperoleh pekerjaan baru, apalagi di tengah tingginya tingkat pengangguran di negeri ini. Maka sangat dapat dimengerti, seberapa beratnya pekerjaan dan berapapun tingginya kadar ketidaknyamanan dalam pekerjaan yang dihadapi, maka kita akan tetap bertahan dalam suasana pekerjaan semacam itu.
Di samping itu, di kalangan masyarakat, penghormatan terhadap orang yang memiliki jabatan, terutama jabatan struktural di pemerintahan, terasa begitu berlebihan. Bukan saja kepada si pemegang jabatan tersebut, tetapi juga kepada keluarganya. Penghormatan dan pelayanan luar biasa yang diterima, tidak jarang menempatkan mereka dalam kehidupan yang penuh dengan mimpi-mimpi indah. Itu sebabnya, kala kehilangan jabatan, maka seringkali timbul perasaan ”kehilangan” yang mendalam. Ini yang sering dikatakan orang sebagai ”post power syndrome”.
Demikianlah manusia memandang suatu jabatan yang disandangnya, walaupun masih ada manusia yang sama sekali tidak mempermasalahkan jabatan bagi dirinya. Itu sebabnya, kehilangan jabatan biasanya bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi bisa juga dirasakan oleh seisi rumah; yaitu istri dan anak-anaknya. Bahkan para kerabat dekat yang sering memanfaatkannya. Apalagi bila jabatan yang dilepas itu merupakan jabatan terhormat yang banyak memberikan keamanan serta kenyamanan materi dan non materi bagi seisi rumah dan seluruh kerabat.
*****
Masih takjub dengan keputusannya itu, malam hari menjelang tidur sambil mengkoreksi surat pengunduran diri, kutanyakan sekali lagi :
“Sudah bicara dengan Deputy, tadi?”
“Ya, ... sudah”
“Ke staff juga….?”
“Belum ….. Nanti saja kalau sudah resmi mengundurkan diri.”
“Kapan ... ?”
“Satu dua hari sesudah surat pengunduran diri diserahkan kepada Deputy”.
“Apa komentar Deputy?”
“Hm … apa ya…? Biasa saja. Tidak ada yang istimewa … Dia cuma tanya, kenapa pengunduran diri ini dilakukan saat dia memegang jabatan tersebut” (Beliau baru saja 1 bulan memegang jabatan Deputy)
“Lalu …. ?”
“Kan, memang nggak ada masalah … Cuma waktunya saja yang kebetulan ….Buatku ini momentum yang paling pas. Tahun baru … semangat baru ….. rencana kerja yang baru…”
“Ya…. Tapi bagi orang yang tidak mengerti masalahnya, ada kesan seperti menelikung beliau.”
“Sudah dijelaskan seperti yang tertulis di dalam surat pengunduran diri dan beliau bisa menerima”
“Kamu tahu, nggak …..,? Ada banyak orang di Indonesia yang memimpikan gambar burung garuda terpampang di kartu namanya. Ada banyak orang yang memimpikan jabatan itu. Apalagi mereka yang sudah bertahun-tahun meniti karier di tempat itu …. Jabatan eselon 2 di suatu kementerian bukanlah suatu jabatan yang rendah walaupun juga bukan jabatan tertinggi, dan …. kamu sudah melepaskan begitu saja. Pasti akan banyak orang mencibir … sombong sekali kamu, melepaskan punai di tangan”
“Biar saja…….”
“Tapi, bukankah kita sepakat bahwa bila kita ingin berbuat banyak bagi negeri ini, maka kita harus masuk ke dalam sistem, sehingga seluruh ide kita bisa tersalurkan melalui jalur yang tepat, dilaksanakan untuk kemudian dinikmati dan bermanfaat bagi banyak orang”
“Ya … tapi tidak selamanya begitu. Tidak dipungkiri, saya sudah belajar banyak di sana, tapi saya merasa sudah tidak bisa berbuat lebih banyak lagi. Mungkin di tempat lain, saya bisa berbuat lebih banyak dan mudah-mudahan hasilnya bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak”.
Senyap ……
Tidak ada guna lagi berbantahan. Selalu begitu .... Akupun mulai mencorat-coret, mengkoreksi surat pengunduran diri agar enak dibaca …. Sementara dari ruang keluarga terdengar suara flute mengalun, seperti biasa…………….., melantunkan lagu Said Effendi …
Aku pulang ……Dari rantau …..
Bertahun-tahun di negeri orang … Oh Malaysia ……
Begitulah caranya memandang hidup. Beruntung selama lebih dari 25 tahun mendampinginya, aku tidak pernah terjun dalam kegiatan organisasi para istri dan karyawati di instansi tempatnya bekerja. Jadi, walaupun sedikit sebal, setiap kali menghadapi pengunduran dirinya, tak ada rasa kehilangan « kenyamanan dan previlege » dari jabatan yang disandangnya. I have my own pride … j’ai la mienne…. !!!
Ini tentu bertentangan dengan apa yang selalu dianjurkan oleh mantan tetanggaku, istri salah satu deputy di Biro Pusat Statistik. Aktifitas istri di instansi suami, akan sangat mendukung dan sangat berpengaruh pada karier suami, katanya. Entahlah …., aku masih sangat percaya, kemampuan seseorang dalam pekerjaan, menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Seorang pemimpin yang baik akan memilih mitra kerjanya sesuai dengan kualifikasi dan kualitas manusianya. Bukan karena embel-embel aktifitas istri atau kasak-kusuk perempuan di belakang layar. Lalu …. Apalagi yang harus kita cari dalam hidup ini....???
Lebak bulus 27 Januari 2006.
Menyiapkan Pernikahan Anak ...
Menyiapkan penikahan anak … Repot nggak ya....?
Umur kami sudah di kisaran 50 tahun. Rasanya orang-orang yang segenerasi dengan kami sudah menikah antara 20 – 25 tahun, walaupun ada beberapa yang terlambat menikah. Jadi masa-masa sekarang, kami sudah mulai menerima undangan dari teman-teman masa kuliah maupun teman masa di SMA dulu untuk menghadiri pernikahan anak-anaknya.
Jarang yang tahu bahwa kami sendiri, sejak awal tahun 2005 yang lalu, telah mempunyai menantu. Beberapa teman yang pernah ngobrol dan secara selintas kami ceritakan, menganggap bahwa cerita tentang menantu itu, cuma gurauan sambil lalu. Nggak apa-apa ..... memang usia anak kami yang baru 22 tahun itu, bukan usia yang lazim, pada jaman ini, untuk menikah. Apalagi, anak kami itu lelaki, biasanya mereka baru menikah di usia antara 25 – 30 tahun. Jadi, kalau ada orang yang menikahkan anaknya di usia yang sangat muda, biasanya, akan timbul gunjingan-gunjingan tak sedap......Tapi menikah di usia muda kan nggak salah juga......?!. Bukankah Rasulullah SAW mengatakan ... menikahlah ..... jangan ditunda-tunda. Bila belum mampu, maka, berpuasalah ...
Definisi mampu inilah yang kerap menjadi perdebatan antara orang tua dengan anak .... bahkan antara pasangan anak muda itu sendiri. Yang perempuan, kadang, mengingat usianya yang sudah lewat dari 25 tahun (atau sekarang mungkin di atas 30 tahun), merasa risi ditanyai terus menerus oleh orang tuanya tentang kejelasan hubungannya dengan sang pacar. Si lelaki, merasa belum punya apa-apa......., baru meniti karier ... belum punya rumah, mobil, tabungan ..... berumah tangga kan nggak gampang lho... jadi perlu persiapan yang matang. Jadi tidak heran .... dengan tekanan materialistis seperti itu, banyak anak muda jaman sekarang yang merasa gamang untuk memutuskan menikah. Tahu-tahu ...... umur sudah lewat 30 tahun ....... tahu-tahu ..... lewat 35 tahun dan seterusnya ......
Padahal, khusus bagi perempuan, masa reproduksi yang terbaik adalah antara usia 21 – 35 tahun. Cuma + 14 tahun. Kalau kita berencana dengan baik dan Allah mengijinkan untuk segera menimang anak, maka jangka waktu tersebut hanya pas untuk memiliki 3 orang anak dengan perbedaan umur masing-masing maksimum 4 tahun. Belum lagi karena kesibukan dan tekanan emosional yang kerap melanda perempuan berkarier, urusan punya anak tidak lagi semudah masa muda ibunya. Problematika kesehatan reproduksi menjadi semakin ruwet. Kasus yang paling sering ditemui adalah endometriosis.
Jadi apa salahnya kalau kawin muda ..... yang bukan karena MBA alias married by accident itu? Nggak ada yang salah ... kecuali, kebanyak orang ”kurang berani mengambil keputusan. Mungkin itu juga yang dipikirkan anak saya saat memutuskan untuk menikah di usia yang sangat muda itu.
Awalnya, dari ngobrol-ngobrol melalui Yahoo messenger yang selalu saya lakukan, kala si anak melanjutkan kuliah di QUT. Mulut ibu yang bawel ini tak kuasa untuk tidak menanyakan kehidupan si anak. Maklum hubungan kami memang lebih seperti teman, tanpa basa-basi :
” Udah dapat gebetan baru...?
” Lagi naksir .... ” jawabnya.
” Cakep ....? Bule atau melayu...?”
” Bule ...............?”
”Oh ....... lumayanlah, buat perbaikan keturunan. Kirim dong fotonya...”
Lalu, anakku kirim foto cewe yang ditaksirnya ... an australian girl .... kira-kira seumurnya dan lumayan cantik. Dia kuliah untuk program double degree (biochemistry + education) di kampus yang sama. Ya sudah .... baru naksir ini .... belum tentu juga jadi. Jadi obrolan itu berhenti sampai disitu. Kadang-kadang saja kutanyakan kabar si gadis, yang katanya selalu sibuk karena harus bekerja sambil kuliah. Itu biasa di negara maju ... selepas SLA, anak-anak umumnya sudah sangat mandiri. Keluar dari rumah orang tua dan bekerja sambil kuliah.
Suatu kali, saat kutanyakan lagi tentang gadis itu, anakku menjawab... :
” Ya... udah pacaran.
Wah ... wah ... perkembangan baru nih.
”Serius... ?”
” Kayaknya ... iya tuh....?”
” Aku sih nggak ngelarang, kamu mau pacaran/kawin sama siapapun ... yang penting muslim !! Dan ini gak ada komprominya!”
”Tapi... dia gak mau masuk Islam...”
” Ya sudah..., cari yang lain dong...coba bergaul di moslem community, kan pasti banyak cewek-cewek cantik di sana, baik melayu, Timteng maupun bule. Yang ini, ... do’ain aja. semoga dia mendapat hidayah Allah untuk mau convert ke Islam. Kalau jodoh, pasti Allah mengabulkan.........” (Anakku ini memang ikut klub sepak bola Moslem Student Association – MSA di QUT)
” Amin....”
Waktu berjalan terus, tidak terasa. Sampai suatu saat menjelang bulan Ramadhan yang lalu, saat chatting seperti biasa, anakku kasih laporan :
” Dia udah masuk Islam......”
” Ha.......???? Alhamdulillah.........., terus........”
” Terus............. gue mau kawin........................”
” Masya Allah....... kok.... ? Apa nggak terlalu cepat........?”
” Memangnya kenapa...? Ada yang salah...?”
” Nggak sih .... Cuma ............... ah... tau’ deh......?
” Kawin sekarang atau di umur 30 tahun apa bedanya....”
” Ya jelas beda ... umur 30 tahun, paling nggak, udah punya kerjaan, udah sedikit mapan... etc....” Biasalah..... kecemasan orang tua.
” Aku udah ngomong sama keluarganya.... orang tuanya... kakek+neneknya.... Mereka tahu kondisiku yang masih kuliah, dan mungkin baru akan selesai awal tahun 2005, belum tahu kapan dapat kerja .... Mereka baik-baik aja, nggak ada masalah... dan aku udah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka....”
Wuih.............. lancar banget tu anak ngomongnya... Dia nggak tahu, ibunya klepek-klepek super kaget. Untung gak punya penyakit jantung... Alhamdulillah, masih sehat wal afiat.
” Jadi gimana.... boleh kan...?”
” Kapan tuh.......................?
” Akhir tahun... Desember...........!”
Mati aku.............. Ini udah bener-bener kelewatan. Mau kawin kayak minta ijin mau nonton ke bioskop aja. Ingatanku melayang pada persitiwa 19 tahun yang lalu, saat adikku yang perempuan akan menikah. Betapa berat dan rumitnya perjalanan menuju pernikahannya, akibat dari sikap ”slonongan” si calon suaminya (saat itu). Tanpa upacara lamaran dari keluarga lelaki, rupanya, ibuku melihat adikku memakai cincin belah rotan dengan nama si lelaki. Ini menyebabkan ibuku marah besar... Merasa sangat tersinggung harga dirinya ........ Maklum..., darah matrilinial-nya keluar... hehe. Beliau memang berasal dari Minangkabau. Untung, bapakku cukup bijaksana dan mengambil alih seluruh urusan pernikahan itu. Jadi walaupun dengan wajah dan sikap yang sangat tidak bersahabat dari ibuku, pernikahan tetap berlangsung.
Ternyata, kejadian yang hampir sama terulang lagi.... dan sekarang, anakku yang bikin ulah.
” Gini deh....., aku gak bisa jawab sekarang... Mesti ngomong sama bapakmu dulu. Pulang dong ke Jakarta... Kita ngomong baik-baik ”
” Ok deh, Desember ya.. tapi gak bisa lama-lama ......... Boleh bawa dia gak...”
Alamak. ................. kami kan numpang di RMI (rumah mertua indah), gimana nanti ibuku melihat anakku pulang bawa cewe bule? .... Wah.. wah..., nggak deh. Belum saatnya !!
” Buat apa.................? ”
” Dia pengen kenalan sama keluarga di Jakarta..”
” Jangan dulu ah.........., nanti aja kalo udah resmi...”
” Memang kenapa, kan bisa bawa temannya lagi... jadi nggak dia sendiri....”
” Gak... Jangan..... Aku nggak tega nyuruh dia tinggal di hotel ... tapi juga nggak bisa nerima nginap di rumah. Kita nggak punya rumah... Numpang nih !! ”
” Pasti dia kecewa.......... ”
” Ya.. jelasin dong alasannya...”
” it doesn’t make sense for her........”
“ Sebodo ah… urusanmu…”
Tidak perlu menunggu sampai di rumah, aku langsung telpon suami ke kantornya.
” Anakmu mau kawin tuh......... ”
” Ya baguslah ........ ”
” Lho ... kok bagus sih jawabannya......... Umurnya kan masih muda, Ntar gimana hidupnya, kerja aja, belum...”
” Dibantu dong. ............. Kalau anak sudah bilang mau kawin, ya sudah. Laksanakan. Kalau dia perlu uang untuk hidup selama belum mampu... ya bantu...”
Enak aja dia ngomong begitu, memangnya punya duit berapa banyak sih kita ini? Kalau mereka hidup di Indonesia, mungkin orang tua masih bisa bantu mereka. Lha ini.... gaji pegawai di Indonesia mesti menyokong biaya hidup di Australia ...., apa gak terbalik..?
Tapi, anakku meyakinkan ............... ” Tenang aja ma ....., aku juga malu kok minta duit terus. Jadi aku akan cari kerja, jadi apaan kek .... Tapi, bantuin deh sedikit. selama 1 tahun pertama. Itu aja..... Gak perlu sebanyak yang biasa dikirim saat kuliah.”
Hem..... curang juga tu anak ..... Mau kawin, gak punya modal sepeserpun .... Seenaknya aja. Emang bapaknya itu konglomerat .. ?? Tapi aku berpikir.. Kalau dia menikah, sebagaimana laiknya di Indonesia, pasti orang tua keluar uang juga untuk persiapan melamar ... bantu biaya resepsi. Jadi, anggap aja bantuan yang dimintanya itu sebagai kompensasi dari biaya pernikahannya. Toh dengan menikah di Brisbane, berarti nggak perlu ada pesta dengan segala pernak-perniknya. Jadi jatah biaya pernikahannya bisa dikirim buat bekal hidupnya. Siapa yang lebih pintar nih ya... Mungkin tu anak udah berhitung betul tentang ini...
” Jadi gimana nih .............. Kami mesti tulis surat ke orangtuanya untuk melamar? ”, Aku merasa khawatir anakku dianggap tidak berbudaya, primitif ... Maklum, australian kan seringkali merasa lebih superior dari orang Indonesia
” Gak perlu .................. mereka pegang omonganku aja... Itu sudah lebih dari cukup” Rupanya ibu si gadis ada di sampingnya saat aku menanyakan hal itu.
Gemas, kaget, bingung dan juga terharu .... Beruntung kami bukan termasuk orang tua yang feodal (dalam hal ini ...), yang mesti mengikuti unggah-ungguh, tata cara yang biasanya dilakukan orang dalam mempersiapkan pernikahan. Meskipun begitu, cara anakku memutuskan hal tersebut tetap membuatku kaget. Tapi aku harus menghargai keberaniannya menghadap orang tua/keluarga besar si gadis, sendirian, berbicara dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya. Pasti ini bukan hal yang mudah. Apalagi belakangan aku tahu, si bapak sempat menentangnya karena kami berasal dari keluarga muslim. Dan anakku harus bolak-balik ketemu bapak si gadis, berdebat-berdiskusi tentang Islam, sampai suatu saat si bapak menyatakan ya atas lamaran dan rencana anaknya untuk masuk Islam. Kalau mereka saja menghargai niat tulus anakku, kenapa kami orang tuanya tidak bisa menerima dengan lapang dada keputusan anakku yang ”agak kurang ajar” menurut tata krama orang timur.
Apapun perasaan yang berkecamuk dalam hatiku, itu sudah terjadi. Menentang rencana, hanya akan menjauhkan dan merenggangkan hubungan anak dengan orangtua. Aku tidak ingin kehilangan anak-anakku dan tidak ingin anakku terjerumus dalam dosa ... apalagi bila dosa karena pertentangan dengan orang tua. Mungkin ini arti dan makna dari peribahasa ..... kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hayat.
Singkat kata, anakku pulang ke rumah selama 2 minggu. Bicara ini-itu, beli beberapa batik sutra untuk gaun pengantin, kasih pengumuman untuk pakde-bude dan oom-tantenya. Mungkin juga... mengunjungi mantan pacar-pacarnya dulu.... he..he.. Semua kaget, bingung .... Nekat banget tu anak. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka...., Kami orang tuanya hanya senyum-senyum saat semua pakde-bude dan oom-tantenya menanyakan kebenaran rencana tersebut ... Ya... tahun depan ( tahun 2005 maksudnya), tapi, masih dicari waktu yang pasti.. Mungkin sekitar Maret atau April. Jawabku saat mereka mengkonfirmasikan pengumuman anakku.
Libur anak sekolah bulan Januari 2005, kami (bertiga) berangkat ke brisbane. Dari seluruh keluarga besar kami, hanya keluargaku yang tahu, bahwa kami berangkat untuk menyaksikan akad nikah anakku. Keluarga suamiku tak ada yang tahu. Suamiku menolak memberitahukan kelarganya... ”Nanti saja, kalau semua sudah berjalan lancar.... kita kirim sms dari brisbane...............” Ini era modern .... Sudahlah... biar gimana nanti saja. Nggak usah dipikir-pikir.
14 Januari 2005, lepas shalat Jum’at, anakku menikahi anak gadis australia, dengan penghulu imam masjid West End – Brisbane ( lelaki berasal dari Jordan), wali oleh seorang lelaki dari Mesir dan sebagai saksi bapaknya dan seorang lelaki dari Maroko. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk upacara pernikahan yang biasa terjadi di Indonesia. Aku sedikit terharu ... Inilah hidup. Anakku sudah membangun perahunya sendiri .... menemukan teman seiring yang akan diajaknya mengarung samudera kehidupan.
Bagaimana kehidupannya nanti ... terserah Allah SWT menentukan. Aku hanya berpesan ...” ini adalah keputusan hidup yang tidak boleh dianggap enteng. Memutuskan untuk menikah mungkin mudah, tetapi mempertahankan pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah. Perkawinan adalah menyatukan dua manusia yang lahir dan besar dengan latar belakang yang berbeda. Kalian memasukinya dengan tambahan perbedaan ... berbeda bangsa .... Jalani dengan baik. Kalau ada masalah, apapun juga, maka itu adalah bagian dari perjalanan hidup kalian. Jangan pernah menyesalinya ... karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Berdoalah selalu.... ”
Umur kami sudah di kisaran 50 tahun. Rasanya orang-orang yang segenerasi dengan kami sudah menikah antara 20 – 25 tahun, walaupun ada beberapa yang terlambat menikah. Jadi masa-masa sekarang, kami sudah mulai menerima undangan dari teman-teman masa kuliah maupun teman masa di SMA dulu untuk menghadiri pernikahan anak-anaknya.
Jarang yang tahu bahwa kami sendiri, sejak awal tahun 2005 yang lalu, telah mempunyai menantu. Beberapa teman yang pernah ngobrol dan secara selintas kami ceritakan, menganggap bahwa cerita tentang menantu itu, cuma gurauan sambil lalu. Nggak apa-apa ..... memang usia anak kami yang baru 22 tahun itu, bukan usia yang lazim, pada jaman ini, untuk menikah. Apalagi, anak kami itu lelaki, biasanya mereka baru menikah di usia antara 25 – 30 tahun. Jadi, kalau ada orang yang menikahkan anaknya di usia yang sangat muda, biasanya, akan timbul gunjingan-gunjingan tak sedap......Tapi menikah di usia muda kan nggak salah juga......?!. Bukankah Rasulullah SAW mengatakan ... menikahlah ..... jangan ditunda-tunda. Bila belum mampu, maka, berpuasalah ...
Definisi mampu inilah yang kerap menjadi perdebatan antara orang tua dengan anak .... bahkan antara pasangan anak muda itu sendiri. Yang perempuan, kadang, mengingat usianya yang sudah lewat dari 25 tahun (atau sekarang mungkin di atas 30 tahun), merasa risi ditanyai terus menerus oleh orang tuanya tentang kejelasan hubungannya dengan sang pacar. Si lelaki, merasa belum punya apa-apa......., baru meniti karier ... belum punya rumah, mobil, tabungan ..... berumah tangga kan nggak gampang lho... jadi perlu persiapan yang matang. Jadi tidak heran .... dengan tekanan materialistis seperti itu, banyak anak muda jaman sekarang yang merasa gamang untuk memutuskan menikah. Tahu-tahu ...... umur sudah lewat 30 tahun ....... tahu-tahu ..... lewat 35 tahun dan seterusnya ......
Padahal, khusus bagi perempuan, masa reproduksi yang terbaik adalah antara usia 21 – 35 tahun. Cuma + 14 tahun. Kalau kita berencana dengan baik dan Allah mengijinkan untuk segera menimang anak, maka jangka waktu tersebut hanya pas untuk memiliki 3 orang anak dengan perbedaan umur masing-masing maksimum 4 tahun. Belum lagi karena kesibukan dan tekanan emosional yang kerap melanda perempuan berkarier, urusan punya anak tidak lagi semudah masa muda ibunya. Problematika kesehatan reproduksi menjadi semakin ruwet. Kasus yang paling sering ditemui adalah endometriosis.
Jadi apa salahnya kalau kawin muda ..... yang bukan karena MBA alias married by accident itu? Nggak ada yang salah ... kecuali, kebanyak orang ”kurang berani mengambil keputusan. Mungkin itu juga yang dipikirkan anak saya saat memutuskan untuk menikah di usia yang sangat muda itu.
Awalnya, dari ngobrol-ngobrol melalui Yahoo messenger yang selalu saya lakukan, kala si anak melanjutkan kuliah di QUT. Mulut ibu yang bawel ini tak kuasa untuk tidak menanyakan kehidupan si anak. Maklum hubungan kami memang lebih seperti teman, tanpa basa-basi :
” Udah dapat gebetan baru...?
” Lagi naksir .... ” jawabnya.
” Cakep ....? Bule atau melayu...?”
” Bule ...............?”
”Oh ....... lumayanlah, buat perbaikan keturunan. Kirim dong fotonya...”
Lalu, anakku kirim foto cewe yang ditaksirnya ... an australian girl .... kira-kira seumurnya dan lumayan cantik. Dia kuliah untuk program double degree (biochemistry + education) di kampus yang sama. Ya sudah .... baru naksir ini .... belum tentu juga jadi. Jadi obrolan itu berhenti sampai disitu. Kadang-kadang saja kutanyakan kabar si gadis, yang katanya selalu sibuk karena harus bekerja sambil kuliah. Itu biasa di negara maju ... selepas SLA, anak-anak umumnya sudah sangat mandiri. Keluar dari rumah orang tua dan bekerja sambil kuliah.
Suatu kali, saat kutanyakan lagi tentang gadis itu, anakku menjawab... :
” Ya... udah pacaran.
Wah ... wah ... perkembangan baru nih.
”Serius... ?”
” Kayaknya ... iya tuh....?”
” Aku sih nggak ngelarang, kamu mau pacaran/kawin sama siapapun ... yang penting muslim !! Dan ini gak ada komprominya!”
”Tapi... dia gak mau masuk Islam...”
” Ya sudah..., cari yang lain dong...coba bergaul di moslem community, kan pasti banyak cewek-cewek cantik di sana, baik melayu, Timteng maupun bule. Yang ini, ... do’ain aja. semoga dia mendapat hidayah Allah untuk mau convert ke Islam. Kalau jodoh, pasti Allah mengabulkan.........” (Anakku ini memang ikut klub sepak bola Moslem Student Association – MSA di QUT)
” Amin....”
Waktu berjalan terus, tidak terasa. Sampai suatu saat menjelang bulan Ramadhan yang lalu, saat chatting seperti biasa, anakku kasih laporan :
” Dia udah masuk Islam......”
” Ha.......???? Alhamdulillah.........., terus........”
” Terus............. gue mau kawin........................”
” Masya Allah....... kok.... ? Apa nggak terlalu cepat........?”
” Memangnya kenapa...? Ada yang salah...?”
” Nggak sih .... Cuma ............... ah... tau’ deh......?
” Kawin sekarang atau di umur 30 tahun apa bedanya....”
” Ya jelas beda ... umur 30 tahun, paling nggak, udah punya kerjaan, udah sedikit mapan... etc....” Biasalah..... kecemasan orang tua.
” Aku udah ngomong sama keluarganya.... orang tuanya... kakek+neneknya.... Mereka tahu kondisiku yang masih kuliah, dan mungkin baru akan selesai awal tahun 2005, belum tahu kapan dapat kerja .... Mereka baik-baik aja, nggak ada masalah... dan aku udah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka....”
Wuih.............. lancar banget tu anak ngomongnya... Dia nggak tahu, ibunya klepek-klepek super kaget. Untung gak punya penyakit jantung... Alhamdulillah, masih sehat wal afiat.
” Jadi gimana.... boleh kan...?”
” Kapan tuh.......................?
” Akhir tahun... Desember...........!”
Mati aku.............. Ini udah bener-bener kelewatan. Mau kawin kayak minta ijin mau nonton ke bioskop aja. Ingatanku melayang pada persitiwa 19 tahun yang lalu, saat adikku yang perempuan akan menikah. Betapa berat dan rumitnya perjalanan menuju pernikahannya, akibat dari sikap ”slonongan” si calon suaminya (saat itu). Tanpa upacara lamaran dari keluarga lelaki, rupanya, ibuku melihat adikku memakai cincin belah rotan dengan nama si lelaki. Ini menyebabkan ibuku marah besar... Merasa sangat tersinggung harga dirinya ........ Maklum..., darah matrilinial-nya keluar... hehe. Beliau memang berasal dari Minangkabau. Untung, bapakku cukup bijaksana dan mengambil alih seluruh urusan pernikahan itu. Jadi walaupun dengan wajah dan sikap yang sangat tidak bersahabat dari ibuku, pernikahan tetap berlangsung.
Ternyata, kejadian yang hampir sama terulang lagi.... dan sekarang, anakku yang bikin ulah.
” Gini deh....., aku gak bisa jawab sekarang... Mesti ngomong sama bapakmu dulu. Pulang dong ke Jakarta... Kita ngomong baik-baik ”
” Ok deh, Desember ya.. tapi gak bisa lama-lama ......... Boleh bawa dia gak...”
Alamak. ................. kami kan numpang di RMI (rumah mertua indah), gimana nanti ibuku melihat anakku pulang bawa cewe bule? .... Wah.. wah..., nggak deh. Belum saatnya !!
” Buat apa.................? ”
” Dia pengen kenalan sama keluarga di Jakarta..”
” Jangan dulu ah.........., nanti aja kalo udah resmi...”
” Memang kenapa, kan bisa bawa temannya lagi... jadi nggak dia sendiri....”
” Gak... Jangan..... Aku nggak tega nyuruh dia tinggal di hotel ... tapi juga nggak bisa nerima nginap di rumah. Kita nggak punya rumah... Numpang nih !! ”
” Pasti dia kecewa.......... ”
” Ya.. jelasin dong alasannya...”
” it doesn’t make sense for her........”
“ Sebodo ah… urusanmu…”
Tidak perlu menunggu sampai di rumah, aku langsung telpon suami ke kantornya.
” Anakmu mau kawin tuh......... ”
” Ya baguslah ........ ”
” Lho ... kok bagus sih jawabannya......... Umurnya kan masih muda, Ntar gimana hidupnya, kerja aja, belum...”
” Dibantu dong. ............. Kalau anak sudah bilang mau kawin, ya sudah. Laksanakan. Kalau dia perlu uang untuk hidup selama belum mampu... ya bantu...”
Enak aja dia ngomong begitu, memangnya punya duit berapa banyak sih kita ini? Kalau mereka hidup di Indonesia, mungkin orang tua masih bisa bantu mereka. Lha ini.... gaji pegawai di Indonesia mesti menyokong biaya hidup di Australia ...., apa gak terbalik..?
Tapi, anakku meyakinkan ............... ” Tenang aja ma ....., aku juga malu kok minta duit terus. Jadi aku akan cari kerja, jadi apaan kek .... Tapi, bantuin deh sedikit. selama 1 tahun pertama. Itu aja..... Gak perlu sebanyak yang biasa dikirim saat kuliah.”
Hem..... curang juga tu anak ..... Mau kawin, gak punya modal sepeserpun .... Seenaknya aja. Emang bapaknya itu konglomerat .. ?? Tapi aku berpikir.. Kalau dia menikah, sebagaimana laiknya di Indonesia, pasti orang tua keluar uang juga untuk persiapan melamar ... bantu biaya resepsi. Jadi, anggap aja bantuan yang dimintanya itu sebagai kompensasi dari biaya pernikahannya. Toh dengan menikah di Brisbane, berarti nggak perlu ada pesta dengan segala pernak-perniknya. Jadi jatah biaya pernikahannya bisa dikirim buat bekal hidupnya. Siapa yang lebih pintar nih ya... Mungkin tu anak udah berhitung betul tentang ini...
” Jadi gimana nih .............. Kami mesti tulis surat ke orangtuanya untuk melamar? ”, Aku merasa khawatir anakku dianggap tidak berbudaya, primitif ... Maklum, australian kan seringkali merasa lebih superior dari orang Indonesia
” Gak perlu .................. mereka pegang omonganku aja... Itu sudah lebih dari cukup” Rupanya ibu si gadis ada di sampingnya saat aku menanyakan hal itu.
Gemas, kaget, bingung dan juga terharu .... Beruntung kami bukan termasuk orang tua yang feodal (dalam hal ini ...), yang mesti mengikuti unggah-ungguh, tata cara yang biasanya dilakukan orang dalam mempersiapkan pernikahan. Meskipun begitu, cara anakku memutuskan hal tersebut tetap membuatku kaget. Tapi aku harus menghargai keberaniannya menghadap orang tua/keluarga besar si gadis, sendirian, berbicara dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya. Pasti ini bukan hal yang mudah. Apalagi belakangan aku tahu, si bapak sempat menentangnya karena kami berasal dari keluarga muslim. Dan anakku harus bolak-balik ketemu bapak si gadis, berdebat-berdiskusi tentang Islam, sampai suatu saat si bapak menyatakan ya atas lamaran dan rencana anaknya untuk masuk Islam. Kalau mereka saja menghargai niat tulus anakku, kenapa kami orang tuanya tidak bisa menerima dengan lapang dada keputusan anakku yang ”agak kurang ajar” menurut tata krama orang timur.
Apapun perasaan yang berkecamuk dalam hatiku, itu sudah terjadi. Menentang rencana, hanya akan menjauhkan dan merenggangkan hubungan anak dengan orangtua. Aku tidak ingin kehilangan anak-anakku dan tidak ingin anakku terjerumus dalam dosa ... apalagi bila dosa karena pertentangan dengan orang tua. Mungkin ini arti dan makna dari peribahasa ..... kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hayat.
Singkat kata, anakku pulang ke rumah selama 2 minggu. Bicara ini-itu, beli beberapa batik sutra untuk gaun pengantin, kasih pengumuman untuk pakde-bude dan oom-tantenya. Mungkin juga... mengunjungi mantan pacar-pacarnya dulu.... he..he.. Semua kaget, bingung .... Nekat banget tu anak. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka...., Kami orang tuanya hanya senyum-senyum saat semua pakde-bude dan oom-tantenya menanyakan kebenaran rencana tersebut ... Ya... tahun depan ( tahun 2005 maksudnya), tapi, masih dicari waktu yang pasti.. Mungkin sekitar Maret atau April. Jawabku saat mereka mengkonfirmasikan pengumuman anakku.
Libur anak sekolah bulan Januari 2005, kami (bertiga) berangkat ke brisbane. Dari seluruh keluarga besar kami, hanya keluargaku yang tahu, bahwa kami berangkat untuk menyaksikan akad nikah anakku. Keluarga suamiku tak ada yang tahu. Suamiku menolak memberitahukan kelarganya... ”Nanti saja, kalau semua sudah berjalan lancar.... kita kirim sms dari brisbane...............” Ini era modern .... Sudahlah... biar gimana nanti saja. Nggak usah dipikir-pikir.
14 Januari 2005, lepas shalat Jum’at, anakku menikahi anak gadis australia, dengan penghulu imam masjid West End – Brisbane ( lelaki berasal dari Jordan), wali oleh seorang lelaki dari Mesir dan sebagai saksi bapaknya dan seorang lelaki dari Maroko. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk upacara pernikahan yang biasa terjadi di Indonesia. Aku sedikit terharu ... Inilah hidup. Anakku sudah membangun perahunya sendiri .... menemukan teman seiring yang akan diajaknya mengarung samudera kehidupan.
Bagaimana kehidupannya nanti ... terserah Allah SWT menentukan. Aku hanya berpesan ...” ini adalah keputusan hidup yang tidak boleh dianggap enteng. Memutuskan untuk menikah mungkin mudah, tetapi mempertahankan pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah. Perkawinan adalah menyatukan dua manusia yang lahir dan besar dengan latar belakang yang berbeda. Kalian memasukinya dengan tambahan perbedaan ... berbeda bangsa .... Jalani dengan baik. Kalau ada masalah, apapun juga, maka itu adalah bagian dari perjalanan hidup kalian. Jangan pernah menyesalinya ... karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Berdoalah selalu.... ”
Reuni....? Datang, nggak ya....?
Reuni, kalau gak salah dicomot dari re dan uni yang diartikan secara bebas sebagai bersatu kembali. Apa yang disatukan kembali ….? Tentu banyak … dari mulai penyatuan kembali saudara serumpun yang terpisah karena ideologi politik seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, sampai dengan pernikahan antar anak dari sebuah trah untuk menyatukan kembali garis keturunan yang sudah terpencar jauh. Reuni yang terlihat begitu sederhana, ternyata bukan hanya menyentuh aspek emosional, tetapi juga berbagai aspek lainnya.
Reuni memang menjadi kecenderungan bagi para alumni suatu sekolah atau universitas, tentu tidak akan habis-habisnya. Namun, reuni bisa menjadi "pisau bermata dua". Alih-alih menjadi perekat yang telah terserak, Reuni yang tidak direncanakan secara bijak malah bisa menjadikan yang terserak itu menjadi lebih menjauh.
Kala mempersiapkan reuni 0475 kemarin, beberapa orang ditugaskan untuk menghubungi teman, sambil menjajagi seberapa besar animo untuk menghadiri acara reuni tersebut. Ini bukanlah hal yang mudah. Ada berbagai macam kendala, antara lain; 0475 terdiri dari 5 jurusan dengan jumlah mahasiswa +/- 250 orang. Alumni terakhir yang lulus dari Fakultas adalah lulusan tahun 1985. Jadi, secara rata-rata, sudah sekitar 20 – 25 tahun berpisah, dan terserak ke berbagai penjuru negeri. Beberapa alumni jurusan memang kerap berkumpul, namun jumlah yang hadir tidak mencapai 50% dari jumlah mahasiswa yang terdaftar 30 tahun yang lalu. Jadi kalau 5 jurusan disatukan, jangan harap angka 50% itu juga yang akan dipegang. Jadi, disepakatilah untuk menghubungi sebisa mungkin melalui sms saja. Ini "sentuhan" pribadi, diharapkan si penerima sms, mengetahui pasti siapa pengirimnya dan karenanya diharapkan mau hadir.
Kendala kedua adalah mencari "elemen" universal yang mampu menggelitik semua alumni untuk hadir. Teringat pada sebuah sms yang masuk ke penggagas acara Reuni 0475 "Reuni …? Sorry … gue nggak punya nyali untuk hadir …. Nggak berani…!!" Jawaban itu cukup menohok kita semua. Ada apa sebenarnya di balik sebuah reuni? Apakah ini ungkapan naïf seorang pecundang? Tidak …, ini adalah fenomena yang terjadi dimana-mana saat menghadapi reuni.
Konon, seorang alumnus SMA terkenal di Jakarta tidak pernah mau hadir di acara reuni angkatannya. Minder ….? Bagaimana mungkin …? Dia adalah banker dan jabatan terakhirnya adalah direktur utama di salah satu bank syariah. Selain itu, saat duduk di bangku SMA, dia merupakan salah satu lelaki yang menjadi idola para gadis. Teman-temannya hanya bisa menduga-duga mungkin karena merasa ada yang "kurang", yaitu pernah gagal dalam rumah tangga. Tapi, apa karena itu, lalu pertemanan yang pernah terjalin bertahun-tahun lalu menjadi pupus? Mungkin ada hal-hal lain yang sulit dijelaskan dan diterima orang. Reuni memang sering ditakutkan menjadi ajang pamer keberhasilan.
Kendala ke tiga adalah dana. Bila mengingat perjalanan panjang 30 tahun dan rata-rata masa kerja antara 20 – 25 tahun, bisa dipastikan seorang insinyur dari UI, rata-rata memiliki kehidupan yang cukup baik. Bahkan beberapa di antaranya, mungkin sudah menjadi pejabat atau pengusaha yang berhasil. Tetapi dengan lugas dan tegas, sang kepala suku menyatakan reuni ini tidak akan mengandalkan satu atau dua orang donator, walaupun itu sangat mungkin dilakukan. Ini akan merusak kebersamaan, karena sang donator dikhawatirkan "merasa lebih" dari yang lain. Ini acara bersama, jadi mari berhitung cermat biaya yang harus disediakan, baru dipikirkan bagaimana mengumpulkan dana talangannya. Kalaupun ada sumbangan, maka itu harus dilakukan dengan ikhlas, dan bukan karena diminta. Nah ini tantangan yang menarik……………
Maka dibuatlah "rambu-rambu" acara Reuni, yaitu ; lokasi harus mempunyai ikatan emosional dengan 0475 agar mampu membangkitkan keinginan semua peserta untuk mengunjunginya. Makanan yang disajikan adalah makan a la mahasiswa jaman dulu, namun dengan penyajian yang lebih bersih. Hiburan harus mampu membangkitkan gairah semua yang hadir, pembawa acara adalah rekan yang supel dan kenal betul dengan "medan" nya jaman mahasiswa dulu and last but not the least … acara harus dibuat mengalir seperti air, tanpa aturan protokoler dan meminimalkan yang bersifat seremonial. Ini adalah acara yang, betul-betul terasa "dari kita untuk kita", semua menjadi pemain …. bukan sebagai pelengkap penederita semata, walau tanpa aturan, agar semua bisa menyalurkan "bakat dan naluri yang terpendam karena jabatan dan posisi". Agar semua bisa melepaskan segala ketegangan "duniawi".
Kala aturan main reuni disepakati secara aklamasi, tidak berarti, semua yang mempunyai komitmen menyelenggarakan acara Reuni merasa lega. Masih banyak kendala-kendala non teknis yang menghambat. Rabu 4 Januari 2006, saat koordinasi terakhir memang ada tanda-tanda positif. Ada tanda-tanda bahwa target hadir minimal 20 orang per jurusan, bisa tercapai. Jujur saja …. Waktu persiapan dan data awal alumni memang relatif minim. Acuan yang digunakan adalah buku alumni FTUI, yang tentu saja sudah banyak berubah. Tapi momentum tidak bisa ditunda, acara harus berlangsung sebelum Dies Natalis 2006.
Walau sudah ditata dengan hati-hati dan diperketat dengan segala macam aturan yang bertujuan "membebaskan" kita dari belenggu dan syahwat "jorjoran", acara ini belum tentu memuaskan bagi seluruh yang hadir.
Kini … pesta sudah usai … kemana langkah kemudian terarah??? Kalau kita ibaratkan Reuni sebagai "Rujuk Agung dari orang-orang yang telah terserak", maka akankah Rujuk Agung ini berumur panjang dan menghasilkan ikatan yang lebih erat demi masa depan bersama. Ataukah, ini hanya salah satu bentuk euphoria, yang kemudian secara perlahan akan kembali terserak???
Mata hati dan nurani kita yang paling dalamlah yang mampu menjawabnya … : Akankah kita meneguhkan tali silaturahmi yang sudah terentang kembali.... Atau akankah kita campakkan kembali karena ternyata silaturahmi hanya akan membebani dan secara materi tidak menguntungkan. Bukankan, kekayaan yang paling hakiki adalah kekayaan batin yang ada di dalam hati dan persepsi kita sendiri..
Akan kemana ujung dari perjalanan hidup kita ….
Berakhir dengan iringan nada kehilangan yang dalam dari teman-teman kita………
Atau
Berakhir dalam kesunyian ....
Kok nggak diundang sih...?
Kalau saat reuni 0475 ternyata hadir beberapa senior, ini tentu bukan karena seksi repot reuni ini pilih kasih, dengan hanya mengundang senior tertentu saja. Jawabnya sekali lagi, tentu saja, tidak . Acara reuni 30 tahun – 0475, sejak semula memang direncanakan oleh angkatan 75 untuk angkatan 75 saja, dengan cara sederhana.
“Sederhana” memang jadi kunci acara ini. Boss acara ini, wanti-wanti berpesan untuk tidak mencari sponsor (“nodong”) ex mahasiswa angkatan 75 yang dianggap sudah berhasil. Tetapi kalau mereka dengan ikhlas memberikan bantuan material, tentu tidak ditolak, sejauh bantuannya “tidak mengikat” dalam arti kata, tidak ada titipan dan aturan acara harus begini atau begitu sesuai selera sang sponsor. Karena terbatasnya "dana awal", maka komunikasi antar kawan juga dilakukan via sms, mailing list alumni FTUI atau mailing list jurusan. Siapa yang sempat ... dan mereka semua melakukannya dengan tulus.
Lalu mengapa ada beberapa senior hadir dalam acara itu? Ternyata, sebaran rencana reuni melalui mailing list Alumni FTUI yang terbaca oleh “umum” menggelitik sebagian alumni yang merasa “satu” dan terutama terkait secara “emosional” dengan 0475. Jadi, setelah rencana reuni di posting ke mailing list alumni ftui, … beberapa orang seksi repot mulai menerima email, sms atau telpon. Langsung menanyakan, apakah mereka diperkenankan hadir. Entah ini pertanyaan basa-basi atau pertanyaan serius … yang pasti, ada beberapa pertanyaan sejenis yang masuk. Namun demikian, ada juga yang menyambut rencana reuni dengan skeptis “Gue gak punya nyali untuk datang”, katanya. Entah apa yang menyebabkannya menjawab dengan nada seperti itu. Padahal, jelas ditulis bahwa yang direncanakan 0475 adalah acara silaturahmi, bukan acara adu nyali….
Terus terang saja, melihat sambutan seperti itu, semua merasa bingung untuk memutuskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena agak “menyalahi” rencana. Namun demikian, apapun tanggapan yang ada, harus disikapi dengan positif. Tanggapan "ada" karena mereka “peduli” pada 0475. Apapun motifnya.
Runding sana- runding sini, semua akhirnya sepakat … mempersilakan “mereka”, terutama yang terkait langsung pada hari-hari pertama 0475 menginjakkan kaki di bangku kuliah; yaitu …. Para Ketua SMFTUI, ketua POSMA 75 dan wadya balad nya … untuk hadir. Tanpa undangan resmi … hanya dari mulut ke mulut atau melalui sms informal … Kalau dengan cara ini mereka, kemudian, hadir, ini akan membuktikan “rasa” dan “kedekatan” mereka kepada 0475. And will be highly appreciated.
Ini tentu juga berlaku bagi 0475 itu sendiri … Reuni tidak dimaksudkan untuk “adu nyaIi”, pamer keberhasilan atau jorjoran. Acara ini diadakan untuk membangkitkan kembali rasa kebersamaan kita yang sudah pupus ditelan waktu. Yang telah sirna tersaput kesibukan dan kehidupan materialistis kota besar.
Jangan merasa tersinggung bila “tidak diundang” baik melalui email pribadi, sms ataupun telpon langsung. Tentu akan ada yang luput, karena data yang sangat minim atau contact person yang ditugasi lupa menghubungi anda karena kesibukannya. 30 tahun perpisahan dan 3 minggu persiapan reuni tentu tidak cukup untuk menyatukan yang telah terserak di setiap pojok dunia. Tapi, ini mungkin sekaligus menjadi ajang untuk menguji “kebersamaan” kita semua.
Mereka yang hadir, tentu karena ada panggilan nurani untuk menikmati kembali denyut-denyut kebersamaan, kesederhanaan dan keniscayaan yang dulu sekali pernah kita lalui bersama-sama, tanpa sekat … tanpa prasangka …. Dan semoga “rasa” ini akan terus melekat dan mempersatukan kita.
Yang belum bisa hadir, tentu bukan karena tidak ada rasa kebersamaan. Mungkin Allah SWT memang belum mengijinkannya untuk menikmati kebahagiaan "bernostalgia". Jangan kecil hati ataupun kecewa. Berdoa saja, semoga masih diberi umur panjang ...agar suatu saat nanti kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi.Ko
Langganan:
Postingan (Atom)
BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺
Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa Mensholatkan kita... Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...
-
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ...
-
Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada si...
-
Bulan Sya'ban/September 2006 ini memang bulan pilihannya masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan. Jadi jangan heran, kalau dalam s...