Senin, 21 November 2016

BANDIT EKONOMI

Sekitar 10 atau 12 tahun yang lalu, saya membaca di salah satu mailing list, ulasan tentang buku CONFESSION OF AN ECONOMIC HIT MAN yang ditulis oleh John Perkins. Ulasan menarik tentang bagaimana kiprah para bandit ekonomi dalam menciptakan penjajahan modern di negara-negara berkembang yang kaya dengan sumber daya alam. Buku tersebut menjadi lebih menarik, karena menceritakan juga tentang kiprah penulisnya dalam upaya menguasai dan mempengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia agar tanpa disadari, Indonesia masuk ke dalam jerat korporatokrasi Amerika Serikat. 

12 tahun sudah berlalu, jejak pekerjaan para bandit ekonomi masih sangat terasa ketika kita memperhatikan gejolak roda perekonomian negara tercinta ini. Makin jelas terasa pada masa pemerintahan kabinet kerja saat ini. Tanpa bermaksud untuk mencari kambing hitam atas berbagai masalah, terutama yang berkaitan dengan perekonomian domestik yang terjadi saat ini, rasanya, isi dan pembahasan dalam buku tersebut masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia.
Baca lah ....... 
IQRA ...... 
Seperti juga ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Salallahu Allaihi wasSalam, bacalah .... agar kita mengerti dan berpikir. Agar kita mampu secara bersama-sama membangun bangsa dan negara ini sesuai dengan cita-cita para pejuang kemerdekaan.
***

Andaikata saja, kita mau berpikir terbuka dan kritis, maka buku Confession of an Economic Hit Man akan membawa dan membuat pembacanya mengerti bahwa korupsi-kolusi dan nepotisme yang biasa disingkat menjadi KKN yang terjadi dan dialami di negara-negara berkembang di kawasan Amerika Latin dan di Asia, termasuk Indonesia, sesungguhnya  adalah strategi korporatokrasi (koalisi pemerintah, bank dan korporasi) USA. Data statistik yang sampai sekarang masih dipakai di Indonesia dan mungkin juga di seluruh dunia guna menggambarkan pertumbuhan ekonomi negara seperti produk domestik bruto, pendapatan per kapita, tingkat pertumbuhan dan lain lain adalah akal-akalan USA agar pemerintahan yang sudah dikuasainya terlena. Agar pemerintah negara tersebut berpikir dan berpendapat seolah negaranya bertumbuh kembang dengan baik, padahal sebetulnya pondasi ekonominya semakin hancur. Negara memang terlihat maju, pendapatan seolah meningkat pesat, tapi tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi tersebut tidak merata. Hanya segelintir masyarakat yang menikmatinya, terutama golongan yang dikategorikan elite negeri dan kroninya.

John Perkins, mengakui pengalamannya dalam bekerja sebagai seorang pelayan kepentingan korporatokrasi Amerika Serikat, memberikan andil yang cukup besar sebagai penyebab terjadinya beberapa peristiwa dramatis dalam sejarah, seperti kejatuhan Shah Iran, kematian presiden Panama Omar Torrijos dan invasi Amerika ke Panama & Irak atas dasar keinginan Amerika Serikat memonopoli ekonomi-politik global. 

John Perkins sendiri adalah seorang pria keturunan Inggris yang berpaham calvinis dan sudah mulai direkrut  sebagai seorang Economic Hit Man-EHM oleh Badan Keamanan Nasional (National Security Agency, NSA), institusi terbesar Amerika Serikat, sejak dia masih kuliah di jurusan ekonomi bisnis sekitar akhir tahun 1960-an. Pada dasarnya, hanya orang-orang terbaik dan dipilih secara acak yang direkrut sebagai anggota EHM.

Pada dasarnya apa yang dilatih dan EHM kerjakan adalah untuk membangun imperium Amerika Serikat di berbagai belahan dunia terutama di negara-negara berkembang yang kaya dengan sumber daya alam. Membawa, merekayasa situasi dimana berbagai sumberdaya (dunia) sebisa mungkin keluar dan mengalir deras menuju negara Amerika Serikat melalui manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, bujukan agar Negara yang dibidik bersedia mengambil hutang raksasa yang ditawarkan sehingga hal tersebut di kemudian hari menjadi instrument politis untuk mengintervensi dan mengintimidasi Negara tersebut. 


Atas penugasan dari MAIN, sebuah konsultan independen usa, sebagai kamuflase bahwa sebetulnya penulis adalah orang yang ditunjuk oleh national security agency-nsa untuk membentuk korporatokrasi Amerika di negara-negara berkembang. Tugas pertama John Perkins adalah menghitung proyeksi ekonomi investasi sebuah negara berkembang, misalnya Indonesia yang kaya minyak dan pada waktu itu negara tersebut perlu diselamatkan dari paham komunisme. 


Setiap kesempatan akan dipergunakan untuk menyakinkan  suatu bangsa bahwa membeli berbagai barang adalah salah satu kewajiban sebagai warga negara dan menjarah bumi atau dalam bahasa halusnya mendayagunakan sumber daya alam adalah tindakan yang baik dilakukan atas nama laju ekonomi global dan hal itu akan memenuhi kepentingan yang lebih tinggi. Di Indonesia, dengan lihainya John Perkins bisa masuk ke jantung perencanaan pembangunan negara, sebagai anggota dari konsultan yang ditunjuk oleh Bappenas dan karenanya tentu akan mampu mempengaruhi berbagai kebijakan ekonomi Indonesia. Dalam buku itu juga disebutkan oleh John Perkins bahwa statistika ekonomi yang diajarkan di usa memang merupakan bagian dari strategi nsa untuk menguasai ekonomi dunia.

Pintu Masuk Neo-Kolonialisme Korporatokrasi bukanlah sebuah konspirasi, tetapi anggota-anggotanya mendukung nilai dan sasaran bersama. Salah satu fungsi korporatokrasi yang terpenting adalah mengabadikan dan secara terus menerus memperluas dan memperkuat sistem ketergantungan sebuah negara dengan menyajikan model ekonomi untuk meningkatkan konsumsi, konsumsi, konsumsi terutama barang impor negara maju dan melupakan kultur produktif. Kondisi tersebut diskenariokan dalam bentuk pinjaman untuk mengembangkan infrastruktur seperti: pembangkit tenaga listrik, jalan raya, pelabuhan, bandar udara atau kawasan industri. Salah satu syarat pinjaman adalah: perusahaan kontraktor dari negara Amerika Serikat-lah yang mesti membangun semua proyek itu. 

Cara melakukan ketergantungan negara kepada Amerika adalah dengan mendekati para pengambil kebijakan publik dan membuat kesepakatan-kesepakatan tertentu untuk mengikat para pengambil kebijakan publik agar berpihak kepada mereka, yaitu perusahaan multinasional asal Amerika Serikat. Itu sebabnya puluhan tahun yang lalu, kita sering mendengar rumor tentang Mrs Ten Percent atas penguasaan saham-saham perusahaan multinasional yang memang sangat sukar dibuktikan. Begitu pula dengan saham-saham kosong (tanpa setoran alias saham pemberian) yang diberikan kepada keluarga pejabat di berbagai proyek pemerintah di berbagai sektor perekonomian Indonesia. 


Hingga kini, jejak korporatokrasi masih berbekas jelas dan sangat mungkin semakin berkembang dan merata. Bila pada era orde baru, KKN hanya dilakukan oleh pejabat pembuat kebijakan publik dari golongan eksekutif, maka pada era reformasi kkn dilakukan baik oleh kalangan eksekutif, judikatif maupun legislatif di hampir seluruh sektor ekonomi dan jenjang sosial masyarakat.

Pada level masyarakat awam, penjajahan ekonomi dilakukan melalui budaya pop dan gaya hidup konsumtif yang diperkenalkan dengan masuknya label-label dagang kelas dunia melalui sistem waralaba di berbagai bidang, mulai dari makanan, jasa, jaringan retail, barang-barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang-barang sandang bermerek dunia. Tidak heran, bila berbagai merek dagang terkenal di dunia selalu memperhitungkan Indonesia khususnya Jakarta pada saat akan memperkenalkan produk barunya dan kita juga akan melihat betapa masyarakat kelas atas Indonesia sudah sedemikian familiarnya dengan beragam merek dagang kelas dunia yang harganya bisa membuat mata melotot.

Mungkin ada baiknya kalau kita sedikit kritis, dan bertanya-tanya mengapa bea siswa G to G lebih diutamakan untuk pegawai negeri sipil alias pns dan dosen dan belakangan ini bisa diperoleh siapapun dengan syarat "memiliki kontribusi tinggi dalam kehidupan masyarakat"?Hal ini tentu bukan tanpa maksud strategis. Pemberian bea siswa jenis tersebut, sejatinya merupakan salah satu upaya negara maju untuk mem brainwash kaum intelektual negara berkembang agar mindset mereka dalam menjalankan tugas dan aktifitasnya, memiliki tujuan akhir pekerjaan yang bukan lagi untuk kepentingan rakyat di negaranya, tapi diarahkan supaya setiap kebijakan publik yang diambilnya adalah untuk memuluskan korporatokrasi Amerika Serikat atau negara maju (pemberi bea siswa) lainnya di seluruh dunia.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, sejatinya adalah untuk melepaskan Indonesia dari belenggu korporatokrasi tersebut, tapi korporatokrasi sudah sedemikian erat mencengkeram benak orang Indonesia. Sudah 46 tahun (kalau dianggap mulai masuk tahun 1970) dan tentu ada terlalu banyak elite dan kroni yang terganggu kenyamanannya bila Indonesia lepas dari korporatokrasi tersebut. Ditambah lagi, sebagian masyarakat yang masih memiliki idealisme tinggi memang enggan berdebat/bersikap kritis secara terbuka.... Apalagi, sebagian masyarakatpun kini terbelenggu tiran baru berlabel keagamaan....

Maka.... akan dibawa kemana arah perkembangan NKRI ini?

Jumat, 18 November 2016

si MBOK

Pagi ini, aku membaca tulisan dari salah seorang rekan di akun facebook nya. Tulisan yang sangat menyentuh tentang berbagi, yang rasanya sudah sangat jarang terjadi pada masyarakat kapitalis perkotaan. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.
Selamat menunaikan ibadah shalat Jum'at berkah

S I M B O K

"Mbok,  kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dengan mulut penuh makanan, masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu-kayu bakar di tungku, simbok menjawab, 
"Hambok yo ben toooo..."
"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku.
"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem. 

Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen. 

"Lhaa itu? Tiap hari kan yo cuma simbok bagi-bagiin ke tetangga-tetangga to? Orang-orang yang liwat-liwat mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.
"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang.."
"Sodakoh kok mban dino?! Koyo sing wes sugih-sugiho wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.
"Ukuran sugih ki opo to, Kir?" 
Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!

"Hayo turah-turah leh duwe opo-opo .... Ngono we ndadak tekon!" 

"Lha aku lak yo duwe panganan turah-turah to? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...". 

Tangannya yang legam dengan kulit yang makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera untuk berdebat.


"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana. Nek nunggu bandamu mlumpuk lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi ikhlas. Simbokmu iki sugih, le,  mban dino duwe pangan turah-turah, dadi iso aweh, tur kudu aweh. Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti Allah, ingatase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.

"Iyo, iyoooooh.."
"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mban dino?"
"He eh."
"Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi-wengi ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngono kuwi, le. Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng paran omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh ndak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang... Paham?"

Aku diam. 
Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, terus berlalu masuk kamar. 

Ah, simbok. 
Perempuan yang ngga pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesama dengan caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yang bangga belajar kapitalisme dengan segala hitung-hitungan untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan. Lupa bahwa ada Tuhan yang menjamin hidup setiap mahluk bernyawa.

Simbokku benar: sugih itu kemampuan hati untuk memberi untuk liyan, bukan soal mengumpulkan harta untuk diri sendiri.

Selasa, 11 Oktober 2016

Pemilihan Kepala Daerah dalam Kajian sejarah Islam

Surat Al Maidah ayat 51 selalu menjadi perdebatan di media sosial Indonesia, tatkala pemilihan umum digelar. Saya menemukan tulisan yang sangat menarik berkenaan dengan ayat tersebut. Tanpa bermaksud untuk mendukung salah satu calon peserta pilkada 2017 yang akan datang, tulisan ini saya copy untuk menjadi bacaan agar kita dapat memahami kajian ayat 51 al Maidah dalam kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam.
***
Copas dr grup sebelah .......
Postingan sdr HS alumnus SR/ITB melalui FB.

Mohon izin kepada Admin untuk posting kajian pakar Sejarah Islam, agar kita tidak diadu-domba dan dicekoki pemahaman yang dipelintir: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Ayat di atas sedang populer sekarang. Ayat itu selalu populer menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon kuatnya adalah Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat bergema. Tapi apakah ayat ini soal pemilu? Apakah ini ayat soal pemilihan gubernur? Menurut saya bukan. Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilihan umum. Juga tak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah. Satu-satunya pemilihan yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah. Itu pun hanya 5 kali, dan hanya melibatkan sekelompok orang yang tinggal di Madinah. Gubernur khususnya adalah pejabat yang ditunjuk oleh khalifah. Tidak pernah dipilih.

Jadi ayat ini tentang apa? 

Apakah Wali atau awliya itu soal pemimpin wilayah atau daerah? 
Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah terjadi?

Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? 

Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81.

Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang.
***
Pagi ini, saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi. 

Ke mana? 
Ke Eropa. 
Siapa orang-orang Eropa itu? 
Muslimkah mereka? 
Sebagian besar tidak. Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau atheis (musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang muslim, persis seperti ketika kaum muslim hijrah ke Habasyah. Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa meminta perlindungan kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya itu haram hukumnya. Bisakah?

Ironisnya, dari siapa mereka lari? 

Dari kaum kafir? 
Bukan. Mereka lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri, kaum muslim. Kaum muslim yang berebut kekuasaan. Utamanya Sunni melawan Syiah. Tahukah Anda bahwa bibit konflik Sunni-Syiah itu sudah terbentuk sejak Rasul wafat? Ketika orang-orang mulai kasak-kusuk untuk mencari siapa yang akan jadi khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus. Permusuhan itu abadi, mengalirkan darah jutaan kaum muslimin sepanjang sejarah ribuan tahun, kekal hingga kini.

Tidakkah kita sebagai kaum muslim malu ketika saudara-saudara kita dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum Nasrani dan kafir? Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka.

Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka berbunuhan? Politik! Perebutan kekuasaan.

Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan memlintir Al-Maidah ayat 51. Berebut kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan. Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad. 


Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? 
Saya tidak. Karena saya tidak mau menjadi pengungsi seperti orang Syria

Senin, 10 Oktober 2016

Agama: Di Tengah Komoditas Politik dan Bisnis.

Ada tulisan menarik yang saya baca dari salah satu WA Group. Sepertinya ini juga tulisan yang disebar dari wa group yang satu kepada wa group yang lain. Inilah wajah masyarakat dunia di abad materialistis dimana sebagian orang "dipaksa dan terpaksa" mencari nilai spiritual di tengah ketatnya persaingan hidup.

Silakan dicermati dan dipahami untuk bahan introspeksi diri
***

“Agama itu suci, tapi pengikutnya tidak”.

Saya jadi teringat film PK, dibintangi oleh Amir Khan. Sebuah film yang sangat inspiratif; tentang bagaimana dalam beragama, kita kadang lebih patuh pada kyainya, pendetanya, biksunya, atau yang lainnya daripada agama itu sendiri. Film tersebut bahkan menjelaskan dengan satir, bahwa jangan-jangan proses keberagamaan kita dipenuhi “salah sambung” atau “wrong number”, karena apa yang kita lakukan, tidak langsung terhubung dengan Tuhan, masih melalui pengikut-pengikutNya yang lain. Tentu ini hanya perspektif yang berbeda, tapi bahwa ia menjadi fenomena dan dijumpai dalam banyak Agama, tentu saja iya.

Ini memasuki bulan-bulan Pilkada. Kita akan menyaksikan dalam proses mencari dukungan, Agama diajak lesehan ke warung dan gang-gang sempit untuk ikut berkampanye. Mereka berteriak kencang atas nama Agama, atas nama Tuhan. Dan karena Agama, siapa yang berani berbeda? Berbeda adalah nista. Maka, betapa dekatnya Agama dengan panggung politik, yang dengan sedikit intrik bisa meraup pengikut yang tidak sedikit. Fenomena ini kita temukan dimana-mana, di semua agama dan semua bangsa. Begitu pula dengan Agama dan bisnis. Dimas Kanjeng Taat Pribadi, meraup bahkan mungkin triliunan rupiah dari para pengikutnya untuk dijadikan mahar. Setelah terungkap, dan beritanya setiap hari bisa dinikmati dari berbagai media, kita baru tahu, bahwa jualan ajaran agama adalah yang menguntungkan.

Tidak hanya itu; mari kita renungkan sebuah satir yang sangat manis, yang saya peroleh dari laman FB Kongkow Bareng Gusdur:

Mari kita coba hitung berapa omzet ketika kita berbisnis agama. Contohnya ESQ, dengan 1,5 juta alumni, dan masing-masing alumni minimal membayar 1 juta bahkan yang tingkat eksekutif bisa membayar 10 juta maka omzet ESQ itu minimal 1,5 trilyun. Maka tidak heran ESQ bisa membangun gedung pencakar langit sendiri menara ESQ, padahal isi ESQ itu cuma menangis berjamaah dan isinyapun meniru model Hell House nya Kristen Fundamentalis Amerika dibumbui tipuan pseudosains.

Lalu ada gereja Bethany, Mawar Sharon, dan banyak beberapa gereja kharismatik lain, anggotanya kebanyakan orang kaya dan menengah yang menyerahkan sepersepuluh dari gaji atau keuntungannya untuk pendetanya. Kalau punya 10 saja anggota pengusaha cina yang kaya, itu sudah sama dengan punya usaha sendiri, padahal anggotanya bisa puluhan ribu orang dan seperti kita tahu, gereja Bethany Surabaya saja omzetnya 4 trilyun lebih dan bisa membangun gereja besar layaknya stadion. Belum termasuk gereja-gereja Bethany di kota-kota lain. Padahal isi gereja-gereja ini penuh kelucuan absurd misalnya bahasa roh orang meracau ga karuan yang dianggap datang dari roh kudus.

Lalu ada Yusuf Mansur yang menganjurkan orang untuk bersedekah kepadanya tanpa ada pertanggungjawaban keuangan sama sekali. Omzetnya pasti tidak kalah sama Dimas Kanjeng yang melampaui 1 trilyun. Kalau setingkat habib-habib yang suka istighosah itu omzet bisnisnya lebih kecil, jika sekali istighosah dihadiri setidaknya 2000 orang dan masing-masing nyumbang 20 ribu, maka dalam semalam bisa mengeruk 40 juta, jika bisa istighosah atau sholawatan sebulan 10 kali maka omzet habib ini mencapai 400 juta sebulan. Di agama Hindu pun banyak guru-guru beromzet trilyunan misalnya Sai Baba.

Satirnya: kalau mau kaya bisnislah agama. Ini bisnis aman karena customer tidak meminta uang kembali dan bahkan harus ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Produknya abstrak, intangible, dan mayoritas customer pasti puas. Dalam panggung politik pun begitu. Meski kita berkoar untuk tidak SARA, tapi negara demokrasi meniscayakan bolehnya berbagai pandangan.

Walhasil, Agama adalah motivasi paling sakral dalam hidup seseorang. Sekali dimainkan, hasilnya luar biasa menawan. Jangankan harta, nyawa pun akan dipertaruhkan.


Ditulis oleh:
Mustafa Afif
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, Madura. Aktif di Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta⁠⁠⁠⁠

Selasa, 04 Oktober 2016

SYLVIANA MURNI DALAM PUSARAN PILKADA DKI 2017

Whatsapp message yang dikirim (delivered) pada jam 04.39, baru saya baca sekitar jam 06.00. Hp dan tab memang saya set pada setelan don't disturb mode setiap jam 23.00 sampai dengan jam 06.00. Isi pesan di WA itu, rutin saja. Mengingatkan untuk melaksanakan shalat qabliyyah/shalat sunnah fajar sebelum shalat subuh, seperti pesan-pesan yang seringkali dikirimkannya pada saya selain pesan-pesan ajakan untuk shalat tahajjud. Jadi ..... saya tidak akan pernah memikirkan bahwa pengiriman pesan melalui WA tersebut dilakukan semata-mata sebagai pencitraan menjelang pilkada DKI 2017.

Saya memang jarang berhubungan dengannya. Selain pesan di WA tadi pagi, terakhir saya bicara melalui telpon beberapa jam sebelum deklarasi pencalonannya sebagai cawagub DKI 2017 bersama Agus Harimurty (calon gubernur) dari Partai Demokrat. Sejak sehari sebelumnya, saya memang sudah membaca berita tentang rencana penunjukkan Sylviana Murni sebagai pendamping Agus Harimurty. Secara etika sosial dan norma hubungan kemasyarakatan, wajar saja untuk memberi ucapan selamat, apalagi kalau dilihat dari "hubungan personal" antara saya dengan Sylviana Murni. Maka pagi hari tanggal 20 September 2016, saya mencoba menelponnya .... dan baru siang hari, menjelang waktu makan siang, dalam perjalanan menuju pasar Gedebage Bandung, saya berhasil bicara cukup lama setelah lebih dari satu tahun tidak bertemu.

Sylviana Murni, seingat saya baru muncul secara serius untuk digadang-gadang menjadi calon wakil gubernur, setelah ada wacana menjadikannya sebagai pasangan bagi Sandiaga Uno yang diusung oleh Partai Gerindra. Sebelumnya, tidak pernah ada wacana serius untuk mengangkat namanya dalam kancah pilkada 2017. Pernah sekali Ahok ditanya wartawan tentang kemungkinannya berpasangan dengan Sylviana Murni. Saat itu .... entah cuma basa-basi, atau serius, kalau tidak salah Ahok memang memuji kinerja SM dan Sarwo Handayani, keduanya adalah deputy gubernur yang disebutnya sebagai srikandi DKI Jakarta. Namun Ahok dan Teman Ahok lebih memilih Heru sebagai calon wakil gubernur DKI yang akan didukung melalui jalur independen. Sangat bisa dimengerti, karena tahun 2016 ini Sylviana sudah memasuki usia pensiun sebagai PNS Pemda DKI. 11 Oktober 2016, usianya akan genap 58 tahun. Jadi... wajar saja bila AHok ingin penyegaran di jajaran perangkat pemerintah daerah yang dipimpinnya.

Mengapa Gerindra tidak kunjung memilih Sylviana Murni sebagai cawagub mendampingi Sandi? (hehe .... nama panggilan ini akan mengingatkan nama anak sulung Sylviana Murni yang saat ini sudah berusia 34 tahun dan memberinya cucu 3 orang). Besar kemungkinan ada resistensi dari PKS yang berusaha untuk memasang Mardani Ali Sera-MAS sebagai cawagub berpasangan dengan Sandiaga Uno. Tarik menarik yang, menurut saya, kelak akan disesali setengah mati oleh Gerindra. Kepercayaan diri PKS yang terlalu tinggi atau mungkin kesombongan akan militansi grass root nya, membuat Gerindra lupa untuk mempelajari rekam jejak nama-nama yang berseliweran sebagai tokoh yang layak diajukan sebagai calon gubernur atau calon wakil gubernur yang akan diusungnya.

Sungguh mati ... sebagai orang yang melek media, baik media elektronik, media cetak maupun media sosial, saya tidak pernah mendengar sosok MAS dan prestasinya. Begitu juga dengan sosok Sandiaga Uno .... kecuali bahwa SU adalah pengusaha anak Mien R Uno yang pakar etiket dengan John Robert Power nya dan ... keributan tentang pernikahannya beberapa tahun yang lalu. Jadi .... kalau MAS dipasangkan dengan SU, wah .... itu akan seperti menggarami air laut. Mendulang suara...? Pasti .....  minimal akan diperoleh suara dari grass root PKS yang militan. Di luar itu .... entahlah .... Sandiaga terlalu elitis. Dunianya adalah kalangan jetset Jakarta. Bukan dunia rakyat kebanyakan. Lihat saja bagaimana mimik wajahnya saat dia "dipaksa" naik metro mini untuk sesi foto pencitraan diri. Terlihat sangat tidak nyaman .... dan memang sangat tidak nyaman naik kendaraan umum sejenis metromini/kopaja, walaupun sama-sama disopiri, dibandingkan dengan mobil mewah yang selalu membawanya kemanapun dia inginkan. Yang patut disayangkan juga adalah peran ketua Dewan Pembina partai Gerindra. Sebagai mantan pangkostrad, Prabowo Subianto, mungkin lalai pada kekuatan investigasi intelijen untuk menyelidiki calon-calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusungnya.

Berkebalikan dengan itu, Demokrat, seperti kebiasaannya, menelikung di persimpangan jalan, tentu mengamati nama-nama yang beredar di masyarakat. Nama Sylviana Murni mungkin belum lama muncul dalam daftar cawagub yang akan diusung mendampingi sang putra mahkota ..... Bisa jadi, begitu nama SM muncul ke permukaan untuk dipasangkan dengan SU, maka mata sby mulai melirik dan memperhatikannya untuk disandingkan dengan putra mahkota dinastinya. Sebagai pendiri dan penyandang dana partai demokrat, mantan presiden RI ini mungkin tidak akan pernah merelakan partai yang didirikannya "dikuasai" oleh orang di luar dinastinya. Setelah anak keduanya dinobatkan menjadi sekretaris jenderal, percaya deh .... nggak akan ada yang berani menolak kehendak sang patron menunjuk anak sulungnya untuk maju pada pilkada 2017. Tidak peduli pada kesiapan kader partai itu sendiri atau memang pengkaderan di parpol-parpol Indonesia, kecuali partai golkar, tidak pernah ada. Pengurus partai akan mengiyakan apa mau sang patron, kecuali mereka yang punya kepercayaan diri tinggi, pegang kartu truff atau memiliki dukungan kekuatan politik yang solid seperti Hayono Isman.


Sylviana Murni pasti bukan nama asing bagi sby. Dia menjabat sebagai walikota Jakarta Pusat yang juga membawahi wilayah istana dan sekitarnya, di masa pemerintahan sby. Jadi sangat besar kemungkinannya SM berhubungan baik dengan istana dalam kapasitas sebagai walikota. Observasi sby terhadap sosoknya tentu sangat mendalam. SBY tentu tahu hubungan kekeluargaan SM dengan pembantu/pejabat pada masa pemerintahannya termasuk juga latar belakang keluarga inti, pendidikan, mungkin juga ambisi-ambisinya dan yang tidak kalah penting basis dukungan publiknya untuk mengimbangi sang putra mahkota yang miskin dukungan publik kecuali paras mudanya. 
***

Lahir sebagai anak ke 3 dari keluarga asli betawi pada tanggal 11 Oktober 1958, SM besar di lingkungan masyarakat betawi di Jl. Pisangan Lama I no.42 Jakarta Timur. Dia tumbuh sebagai pemberontak di keluarganya. Sebagaimana keluarga betawi pada umumnya, orangtuanya menyekolahkan anak-anaknya ke madrasah agar mereka pintar mengaji. Nggak salah dong .... bukankah kalau kita, bukan hanya pintar mengaji (baca al Qur'an) tetapi hendaknya mengamalkan apa yang tertulis dan tersirat dalam isi al Qur'an, akan membawa kita pada perilaku yang baik. Bukan hanya sekedar taat menjalankan ibadah (ritual) tetapi juga dalam hubungan horisontal terhadap sesama manusia.

Sylviana Murni adalah pemberontak yang berhasil "memaksa" orangtuanya untuk menyekolahkannya ke sekolah umum. Bukan madrasah sebagaimana kedua kakaknya. Maka jadilah dia menempuh sekolah dari SD - SMP - SMA di sekolah umum, lalu kuliah di universitas Jayabaya. Kiprahnya tidak terhenti disitu ... dengan kepintarannya bicara yang tidak pernah mau kalah dengan yang lain, dia juga berhasil "memaksa" orangtuanya untuk memberi ijin mengikuti ajang pemilihan none Jakarte. SM berhasil terpilih menjadi none Jakarte pada tahun1981.

Mengikuti perjalanan karier dan kiprahnya di pemerintahan, saya membayangkan bahwa SM mewakili dan mewarisi ambisi sosok ayahnya yang tentara. Pasti ada ambisi dan keinginan kuat untuk "mewujudkan" impian sang ayah, dengan segala cara. Salahkah ......? Tentu tidak .... Sebagai keturunan orang betawi, tentu ada keinginan besar untuk "mengangkat" etnis betawi yang selama ini terpinggirkan untuk maju. Minimal "berkuasa" di kampung halamannya sendiri, di Jakarta yang ibukota negara Republik Indonesia. Betawi selalu berkonotasi "bodoh dan terpinggirkan" dan sangat wajar bila putra dan putri Betawi ingin mengubah citra tersebut. Bukankah dalam setiap ajang pemilihan kepala daerah, wacana kepala daerah adalah putra daerah selalu muncul? Kenapa di DKI Jakarta, kota utama di Indonesia yang menjadi ibukota negara, harapan tersebut harus diredam? Jadi memang tidak salah bila harapan menjadi gubernur DKI tidak dapat diraihnya, maka menjadi wakil gubernurpun tak apa..... Siapa tahu dalam perjalanannya, ada perubahan arah politik ....... seperti nasib yang membawa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke kursi DKI1.

Memasangkan AHY dengan SM menurut saya adalah langkah cerdas yang diambil sby. PS boleh gigit jari dengan mengusung AB-SU dan juga boleh menyesali keterlambatannya mengambil keputusan memasangkan SU dengan SM karena digandoli PKS. Pasangan anak-ibu yang diusung Demokrat ini akan relatif lebih mudah memperoleh raihan suara masyarakat DKI Jakarta dibandingkan dengan pasangan AB-SU. Kenapa saya bilang begitu? Dibandingkan dengan AB-SU dan bahkan AHY sendiri, SM lebih memiliki basis pendukung riel. Kalau dia bekerja baik, murah hati dan "mengerti permainan" sehingga everybody happy dan bawahannya senang hati, minimal staff dan karyawan di dinas yang pernah dipimpinnya, antara lain Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah, Satuan Polisi Pamong Praja, kantor walikota Jakarta Pusat dan Jakarta Barat serta di kedeputian Pariwisata DKI akan mendukung dan memilihnya. Belum lagi di organisasi-organisasi kemasyarakatan yang pernah dan masih diikutinya. Minimal di Pramuka kwartir daerah DKI Jaya, lalu juga dukungan-dukungan di masyarakat betawi melalui badan musyawarah Betawi dan organisasi sejenis yang mengangkat kebetawiannya. Akses dan aktifitas kemasyarakatan tersebut pasti tidak dimiliki oleh cagub dan cawagub "salon" lainnya yang masih berkutat pada pencitraan semu. 


Dalam hal pencitraan dan interpersonal skill, SM juga sangat piawai, apalagi dibarengi dengan wajah cantiknya yang selalu tersenyum. Itu juga yang membuat saya bingung, kriteria apa yang membuat kotamadya Jakarta Pusat meraih 2 kali berturutan anugerah Adipura. Entah wilayah mana yang dinilai, karena daerah kumuh di Jakarta Pusat tidak pernah tersentuh perbaikan. Tanah Abang masih kumuh, dan baru berhasil dibenahi pada era Jokowi Ahok. Begitu pula dengan wilayah di perkampungan Kalibaru-Senen, Pejompongan/Pal Merah. Jadi ..... kalau sudah bicara mengenai "merebut" simpati pemilih, pasangan AHY-SM sudah bisa dipastikan akan menyaingi kepopuleran Ahok-Jarot. 

Pasangan AHY-SM, akan belajar banyak atau bahkan diinstruksikan sby mengenai kiat-kiatnya saat mempersiapkan kampanye dan pemenangan pilpres yang dimenanginya selama 2 periode. Mereka sangat mungkin memainkan peran "kaum berdarah biru" yang ganteng dan cantik. Masyarakat penggemar sinetron, dan pasti masih banyak di wilayah DKI Jakarta. Mereka pasti sangat suka dengan citra feodal seperti itu. Pejabat masih dicitrakan sebagaimana "kerabat kerajaan" jaman purba. Mereka adalah yang berpenampilan santun, cantik/ganteng dan memiliki pendidikan lebih tinggi dari rakyat kebanyakan. Entah bagaimana kinerja dan perilakunya, mungkin bisa tertutup oleh penampilan fisik. Begitulah kriteria pemimpin era feodal. Pasangan Ahok-Jarot hanya memiliki "kinerja yang sudah dibuktikan" yang saat ini mati-matian di down-grade oleh para pembencinya. Pasangan AHY-SM juga pasti punya banyak kelebihan dari pasangan AB-SU. Jadi .... kalau masyarakat ingin Ahok-Jarot, meneruskan masa jabatannya, maka pasangan ini harus menang dalam 1 kali putaran. Kalau tidak, perjuangan pada putaran ke 2 yang kemungkinan besar akan berhadapan dengan AHY-SM akan jauh lebih berat. Entah apakah PKS akan memainkan issue "haram memilih perempuan sebagai pemimpin" dengan asumsi kalau terjadi sesuatu dengan AHY, sebagaimana dugaan bahwa ybs akan maju pada pilpres 2019, maka SM akan naik menjadi gubernur, mengikuti Ahok pada 2015 yang lalu. Ah ... PKS mungkin akan mencari seribu dalih untuk membenarkan keputusan-keputusan politiknya atau mungkin akan ada deal tertentu antara gerindra-pks dengan kubu cikeas.

Namun demikian, apa yang bisa diharapkan dari seorang SM yang birokrat sejati?
Tahu nggak, apa yang dipegang oleh seorang birokrat sejati? Tidak ada inovasi, menunggu arahan dan semua pekerjaan akan selalu "dikekang" oleh peraturan. Diskresi ....? Mana berani? Memangnya mau kembali ke jaman orba, yang segalanya didalihkan diskresi ... Begitu yang sekarang dihembuskan para haters untuk menghantam Ahok dengan banyaknya kebijakan yang dibuatnya demi menyiasati keuangan pemda DKI setelah apbdnya terganjal oleh dprd.
***
Saya jadi teringat, suatu senja beberapa tahun yang lalu, mendapat pesan melalui bbm dar SM untuk melihat rekaman wawancaranya yang ditayangkan pada saat itu, di salah satu TV lokal, bertajuk (kalau tidak salah) "Memindahkan ibukota negara dari Jakarta".  Saya lupa dalam jabatan apa, dia saat itu, namun pada saat menonton itu pula, saya mengkritisi beberapa jawabannya dan berargumen mengenai beratnya beban fungsi pelayanan masyarakat yang disandang Jakarta. Namun dia bersikukuh dengan jawaban pamungkasnya:
"Sebagai pejabat publik, saya memang harus berpegang pada kebijakan yang telah disepakati, walau terkadang bertentangan dengan hati nurani"

Benar atau tidak jawaban apakah "kewajiban" yang harus dipegang teguh oleh pejabat publik untuk berbicara sesuai aturan dan norma, walaupun untuk itu harus menyuarakan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani? Tergantung dari kacamata setiap orang. Namun pada era pemerintahan Joko Widodo sebagai presiden RI, saya melihat dan merasakan bahwa sekarang, banyak pejabat yang mengedepankan hati nurani untuk menjalankan apa yang dianggap baik dan benar, walaupun bertentangan dengan "kebiasaan dan aturan main" yang berlaku normal. Kita lihat, betapa Susi Pudjiastuti menjungkir-balikkan kondisi "aman, damai dan tenteram" di wilayah kelautan, dengan cara membakar dan menenggelamkan ratusan kapal penangkap ikan.

Era pencitraan dibalik topeng-topeng peraturan untuk menutupi perilaku korup dan kongkalikong sudah harus berhenti dan selesai. Kita sudah memasuki era MEA dan persaingan global yang keras dan menggila. Keras karena etika seringkali diterabas dan menggila karena kita sudah tidak bisa tahu lagi, dimana kebenaran, manakala kebohongan massal lebih dipercaya daripada kebenaran yang disuarakan dalam sunyi.

#prihatinpilkada2017

Senin, 03 Oktober 2016

JOKOWI & AHOK HANCURKAN IMPIAN SINGAPURA

Week end lalu, saya menemukan tulisan di bawah ini dalam group whatsapp yang diikuti suami. Tentu tidak semua sepakat dengan tulisan tersebut. Namun saya merasa apa yang ditulisnya, perlu disebarkan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang apa yang sesungguhnya terjadi belakangan ini di negara Indonesia tercinta ini. Entah darimana sumber tulisan tersebut atau apa maksud di balik tulisan tersebut (jadi saya tidak bisa menuliskan sumbernya), tapi ada baiknya kita lupakan dulu. Saya hanya ingin mengajak untuk meresapi tulisan di bawah ini dengan kepala dingin, agar kita kembali kepada jati diri bangsa Indonesia yang majemuk.

Era reformasi, rasanya kian membawa kita ke arah ekstrimitas, terutama ekstrimitas beraroma keagamaan. Kita seolah lupa atau memang sengaja melupakan bahwa salah satu dasar keberadaan negara ini adalah Sumpah Pemuda 1928 - Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa" serta Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun kita berbeda ... ras, agama, suku bangsa dan bahasa namun semua perbedaan itu, oleh para pendiri negara dan para pejuang kemerdekaan, menjadi lebur ke dalam NKRI.

Menjelang Pilkada 2017 yang akan datang dan melibatkan DKI Jakarta dalam ajang pesta demokrasi regional, aroma "perpecahan" berbau SARA kembali muncul. Rasanya istilah "pesta demokrasi" telah sama sekali hilang, berganti dengan aroma kebencian dan pertengkaran. Dimana fitnah dan caci maki bertebaran. Itulah perpecahan berbalut demokrasi. Miris .....
Dan ....itukah yang kita inginkan? 


JAKARTA – Naiknya Jokowi menjadi RI-1 adalah sesuatu yang ajaib (miracle). Tak banyak pihak yang yakin jika Jokowi berhasil menjadi Presiden. Menjelang Pilpres 2014 lalu, Singapura, negara-negara Eropa dan Amerika, sangat yakin bahwa Prabowolah yang menjadi penguasa Indonesia selanjutnya. Prediksi itu membuat Singapura lebih banyak diam, kurang agresif dan enggan ikut ‘bermain’ di Pilpres 2014 lalu.

Dalam strategi dan kebijakan politik luar negeri Singapura, Indonesia diprediksi hingga sepuluh tahun ke depan, tidak akan banyak berubah. Dalam analisis para pengambil kebijakan politik negeri Singa itu, Prabowo tidak akan mampu membuat terobosan baru untuk memajukan Indonesia. Hal itu karena orang-orang di sekitarnya dan lebih-lebih para elit pendukungnya, adalah orang-orang lama yang terbiasa dengan gaya hidup priyayi dan akrab dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Jika keadaan Indonesia seperti itu, maka Singapura tetap jaya dan posisinya sebagai number one, pengendali ekonomi ASEAN tak tergoyahkan dan tanpa takut disaingi oleh Indonesia.

Selama ini, Singapura sangat nyaman dan menikmati kemakmuran yang setara dengan negara Barat. Salah satu penyebabnya adalah karena kebodohan negara tetangganya, Indonesia. Kendatipun Singapura adalah negara yang miskin sumber daya alam, namun berkat kelihaiannya, Singapura berhasil keluar sebagai negara maju dengan pendapatan perkapita $ 40.000 dollar per tahun. Sekarang Singapura dikenal sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di dunia, pusat bisnis, pusat teknologi dan tempat penukaran mata uang asing terbesar ke empat di dunia dan menjadi negara yang terkenal inovatif dan efisien dalam pengelolaan ekspor dan pariwisata. Penduduk yang menetap di Singapura, sebagian kaum eksekutif elit dari berbagai perusahaan multinasional kelas dunia. Bagi kaum kaya dan para pejabat Indonesia, Singapura adalah surga belanja, berobat dan jalan-jalan. Ada 2,5 juta wisatawan Indonesia dari total 15 juta wisatawan yang disedot oleh Singapura setiap tahun. Para pejabat dan orang-orang kaya Indonesia menjadikan Singapura sebagai tujuan wisata luar negeri yang utama. Mereka umumnya tinggal di hotel-hotel mewah atau tinggal di apartemen dan kondominium yang telah mereka beli.

Fakta menunjukkan bahwa sepertiga pemilik property di Singapura adalah orang Indonesia. Singapura dalam dua dekade terakhir telah berhasil menyulap berbagai perguruan tingginya menjadi yang terkemuka di dunia. Hal itu membuat 20 ribu pelajar Indonesia memilih menempuh studi di berbagai universitas Singapura. Selain itu, Singapura telah berhasil menyulap berbagai rumah sakitnya menjadi pusat pengobatan terkemuka di Asia. Hal yang kemudian membuat ratusan ribu masyarakat Indonesia berbondong-bondong ke Singapura setiap tahun untuk berobat. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, 50% pasien asing di Singapura berasal dari Indonesia. Itu berarti bahwa duit Indonesia terus mengalir ke Singapura tiap tahun. Berkat kemajuan peralatan navigasinya, Singapura berhasil memperdayai Indonesia untuk menguasai zona terbang yang mencakup wilayah Indonesia.  Karena Singapura sangat melindungi para investornya, maka tak heran jika ada 4 ribu triliun Rupiah duit WNI diparkir di sana, termasuk aset para koruptor. 

Bagi Singapura yang tidak mempunyai sumber kekayaan alam, aset koruptor yang disimpan di negaranya merupakan investasi penting. Itulah sebabnya Singapura tidak pernah mau menandatangi perjanjian ekstradisi para koruptor dari negerinya ke Indonesia. Situasi politik yang kurang stabil di Indonesia, justru diinginkan dan akan dimanfaatkan betul oleh Singapura. Jika terjadi huru-hara yang mengerikan di Indonesia, pasti tujuan pertama WNI untuk menyelamatkan diri adalah Singapura. Selain karena letak geografisnya yang dekat dengan Indonesia, juga tingkat keamanan super tinggi yang dijamin oleh pemerintah Singapura. Fakta-fakta pesta pora Singapura ketika Indonesia dilanda krisis dapat dilihat dari sejarah kelabu Indonesia tahun 1998. 


Ketika Indonesia dilanda krisis 1997-1998, Singapura benar-benar untung besar di tengah penderitaan Indonesia ketika itu. Pada saat itu, Singapura berhasil menjarah aset-aset Indonesia yang kemudian mendatangkan keuntungan luar biasa bagi negeri itu. Aset-aset Indonesia yang berhasil diembat oleh Singapura antara lain, Telkomsel, Indosat, BII, Bank Danamon, dan lain-lain. Lewat Bank Internasional Indonesia (BII), Singapura untung Rp 8,15 triliun karena menjual sahamnya ke Maybank senilai Rp 13,5 triliun. Padahal ketika Temasek membeli BII pada tahun 2003, Temasek hanya mengeluarkan modal Rp 2,2 triliun. Hal yang sama dengan bank Danamon. Nilai jual bank Danamon sekarang sudah mencapai Rp 50 triliun. Padahal ketika Temasek membelinya pada tahun 2003 lalu, hanya senilai Rp 3,08 triliun.

Tentu saja Singapura sangat girang jika Indonesia bangkrut, karena akan menambah duit WNI yang tersimpan di perbankannya. Kesuksesan Singapura mempecundangi Indonesia pada krisis tahun 1998 itu, dicoba diulangi kembali pada tahun 2015, ketika Jokowi telah menjadi RI-1. Singapura kembali mencoba untuk menggoyang perekonomian Indonesia dengan berbagai cara. Salah satu ekonom ternama Nanyang Business School Singapore, Lee Boon Keng, melempar isu menakutkan dengan mengatakan bahwa bahwa nilai tukar rupiah bisa ambruk hingga Rp 25 ribu/dolar AS jika Federal Reserve mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya. Pernyataan Lee Boon Keng itu, kemudian menimbulkan kekhawatiran di masyarakat Indonesia. Di bulan Juli-Agustus 2015, masyarakat Indonesia ramai-ramai membeli dollar Amerika. Akibatnya, nilai tukar Rupiah berhadapan dengan dollar pada akhir September 2015 hampir menyentuh angka Rp. 15.000 Rupiah per dollar. Nah keadaan inilah yang diinginkan Singapura. Jika Indonesia bangkrut, lalu warga kaya Indonesia akan khawatir dan dipastikan terus memarkirkan dananya ke Singapura. 

Aksi busuk yang dilakukan Singapura tidak hanya sekali saja seperti yang dilakukan oleh Lee Boon Keng di atas. Pada 17 Juni 2015, Business Times, koran milik Strait Times yang dikelola pemerintah Singapura secara terang menurunkan sebuah artikel berjudul ‘Indonesia, Malaysia at risk of repeating 1997-98 meltdown”. Isinya kurang lebih menegaskan bahwa Indonesia bersama Malaysia akan mengalami krisis parah seperti pada tahun 1998. Jelas isu ini sengaja dilempar dengan motif ekonomi. Karena jika Indonesia terkena krisis, Singapura bisa kembali berpesta-pora menjarah aset-aset Indonesia yang luar biasa dan vital itu. Skenario Singapura untuk kembali membangkrutkan Indonesia di tahun 2015, ternyata gagal berkat kejelian, keuletan dan optimistis besar Jokowi. Singapura rupanya lupa bahwa Jokowi yang berhasil mengalahkan Prabowo, didukung luar biasa jutaan rakyat Indonesia dari dalam dan luar negeri. Saat Pilpres 2014 lalu, jutaan rakyat dilanda euforia gegap-gempita rela menggerakkan kaki-kaki mereka menuju kotak suara dan antre untuk memberikan suaranya kepada Jokowi. Daya pikat Jokowi sebagai ‘sang harapan baru’(new hope) sebagaimana ditulis oleh majalah Times itu, adalah harapan baru rakyat Indonesia yang sudah lama dihina negara lain termasuk negara kecil Singapura.

Kini mereka ingin perubahan, ingin merubah nasib lewat seorang pemimpin ndeso yang merakyat, bersih dan punya impian besar ke depan. Kemenangan Prabowo yang sudah di depan mata pun, diambil alih secara heroik oleh Jokowi lewat konser dua jari di Senayan dan blunder kata ‘sinting’ Fahri Hamzah. Sesaat setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden, maka saat itu juga maka perang heroik ala Jokowi mulai. Lewat ‘Jenderal’ wanita bermental baja, Susi Pudjiastuti, Jokowi langsung menghajar perusahaan-perusahaan ikan di Thailand, Singapura, Philipina, Singapura, China, Vietnam yang banyak bergantung pada hasil ikan Indonesia. Negara-negara itu sekarang menjerit. Hingga kini sudah lebih 700 kapal milik negara asing telah ditangkap dan ditenggelamkan oleh Menteri Susi.

Jokowi melancarkan perang ‘gila’ yang bersejarah untuk menyelamatkan kekayaan alam Indonesia yang bernilai hampir 200 triliun per tahun dari pencurian ikan. Wajar jika ada isu bahwa Menteri Susi mau disuap 5 triliun agar mau mundur dari kursi menteri kelautan. Integritas Menteri Susi pun telah meluluhlantahkan para mafia ikan di dalam negeri yang sebelumnya telah lama berpesta-pora atas hasil kekayaan laut Indonesia. Pun Jokowi berani membubarkan Petral yang tidak efisien yang berkantor di Singapura, membekukan PSSI dan melawan berbagai mafia pangan. Ketertinggalan jauh Indonesia dari Singapura semakin melejit semangat ‘gila’ Jokowi untuk memacu pembangunan infrastruktur. Jokowi kemudian secara masif membangun jalan kereta api, jalan tol, jalan negara, tol laut, pelabuhan udara dan laut. Dibangunnya infrastruktur yang menghubungkan seluruh pulau-pulau besar di Indonesia jelas akan membuat geliat perekonomian Indonesia kembali lancar. Biaya-biaya akan banyak terpangkas, waktu bisa lebih diperkirakan dan jauh lebih efsien yang dampaknya ekonomi akan berkembang.

Dalam impian Jokowi, jika waktu bongkar muat (dwelling time) sudah setara efisiennya dengan Singapura, maka goyahlah perekonomian negara itu. Ketika efisiensi bongkar muat tercapai dan setara dengan Singapura saja, maka bisa dipastikan julukan pelabuhan di Singapura sebagai pelabuhan tersibuk akan pelan-pelan pudar. Selain itu, ketika infrastruktur pada sektor pariwisata selesai, maka wisatawan luar akan banyak tersedot ke Indonesia yang kaya akan budaya sementara Singapura mulai pudar yang miskin budaya. Kemudian dalam hitungan tahun ke depan, Jokowi akan kembali mengambil alih penguasaan zona terbang yang sekarang dikuasai oleh Singapura. Jokowi jelas geleng-geleng kepala dan tidak habis berpikir, mengapa Indonesia setiap kali terbang di wilayah sendiri harus lapor ke otoritas penerbangan Singapura. Ini jelas benar-benar telah menginjak injak harga diri bangsa. Gebrakan hebat Jokowi dalam membangun infrastruktur, membasmi dan menghukum gantung para pengedar narkoba dan melawan para koruptor mulai menunjukkan hasil. Lewat berbagai kebijakan memangkas birokrasi yang mempermudah investasi, Indonesia kini menjadi idola baru didunia investasi dan bukan lagi singapura.

Sebagai tindak lanjut dari julukan idola itu, Jokowi sekarang terus menyiapkan Bandar udara Soekarno Hatta dengan melipatgandakan kapasitasnya, membuka berbagai pelabuhan udara lain berskala dunia. Pelabuhan laut khusus barang Sei Mangke bertaraf internasional di Sumatera Utara, adalah salah satu upaya menyaingi Singapura di selat Malaka. Ketika ekonomi Indonesia bangkit, maka akan diikuti oleh kekuatan militer yang hebat. Jika militer Indonesia kuat, maka bangsa lain seperti Singapura dan Malaysia tidak lagi memandang remeh Indonesia. Sekarang, dengan anggaran yang masih minim, Indonesia sudah bisa menjadi negara dengan kekuatan militer terkuat di ASEAN dan urutan terkuat nomor 12 di dunia. Bisa dibayangkan jika Undang-undang Tax Amnesty jadi disahkan, maka ada kemungkinan duit WNI sebesar 4.000 Triliun di Singapura dan 11,4 ribu Triliun di seluruh dunia akan kembali ke Indonesia. Itu jelas akan membuat pertumbuhan ekonomi dalam negeri melonjak tinggi di atas 12%, mengalahkan India dan Cina.


Sepak terjang Jokowi di kancah nasional, terus diikuti oleh Ahok di ibu kota Jakarta. Ahok jelas tidak keberatan ketika ada sebuah buku berjudul: “Ahok Sang Pemimpin Bajingan” karya Maksimus Ramses Lalongkoe dan Syaefurrahman Al-Banjary menjuluki Ahok dengan julukan ‘bajingan’. Dalam buku itu, dibeberkan bagaimana Ahok sebagai pemimpin ‘bajingan’ dalam tanda petik menjadi pemimpin para bajingan-bajingan di Jakarta. Gaya Ahok dalam memimpin ibu kota Jakarta memang luar biasa. Ia sama sekali tidak mengenal takut untuk menggusur pemukiman kumuh di atas tanah negara, melawan para preman, PKL liar, melawan anggota DPRD yang korup dan menegakkan aturan. Ahok dengan kegilaannya dan ‘kebajingannya’, berusaha membangun Jakarta menyaingi Singapura.

Impian Ahok untuk mendirikan Rumah Sakit Kanker di Sumber Waras terus menggebu walaupun terus ditentang oleh lawan-lawan politiknya. Jelas dalam menata wilayah Jakarta, Ahok memang harus gila dan harus ‘bajingan’. Kelompok-kelompok yang selama ini nyaman berpesta-pora atas uang APBD Jakarta terus menembak dan menyerang Ahok. Padahal misi besar Ahok-Jokowi adalah menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota standar dunia (the world class city). Impian untuk membangun Giant Sea Wall di Teluk Jakarta agar Jakarta tidak tenggelam menjadi misi paling besar Ahok. Jika impian itu menjadi kenyataan dalam hitungan tahun ke depan, maka Jakarta akan menyaingi Singapura dengan segudang fasilitas standar dunia. Kelak, jika semuanya sudah ada di Jakarta, maka rakyat Indonesia tidak perlu lagi berobat ke Singapura, tidak perlu studi ke sana karena kualitas yang sama ada di sini.

Impian gila Jokowi menjadikan Indonesia negara maju bukan hanya mimpi atau isapan jempol. Pada tahun 2030 mendatang, Indonesia sangat berpeluang menjadi negara tujuh besar kekuatan ekonomi dunia mengalahkan Jerman dan Inggris. Berdasarkan riset the economist 2012, Indonesia diramalkan akan menjadi salah satu negara maju dengan pendapatan perkapita 24 ribu dollar As perkapita pada tahun 2050. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 lalu sebesar 4,8 persen, menjadi salah satu indikator bahwa negara ini memang sedang tumbuh. Bila Indonesia berhasil membangun infrastruktur jalan darat dan laut, berhasil mengelola sumber daya alam dengan efisien, maka Indonesia di mata dunia adalah masa depan. Sebuah investasi yang menarik dan menguntungkan dan akan berperan sangat besar di kawasan. Nah inilah yang menakutkan Singapura. Jelas bukan sekarang, tetapi 5-20 tahun lagi.

Singapura jelas ketakutan jika kejayaannya hilang sebagai pengendali perekonomian di kawasan ASEAN. Jelas jika semua telah dimiliki oleh Indonesia, maka peta penguasaan ekonomi ASEAN bahkan sampai Asia Pasifik akan berada di tangan Indonesia. Maka tak heran jika Singapura mulai berpikir keras bagaimana menina-bobokan Indonesia. Para agen-agen intelijen Singapura terus sibuk berpikir dan sibuk mengeluarkan dana besar untuk membeli pejabat-pejabat yang bisa dibeli supaya melemahkan pemerintahan yang ada. Mereka juga mempunyai koneksi LSM-LSM lapar di Indonesia yang bisa berteriak keras yang terus menyerang pemerintahannya. Singapura berani untuk melemahkan Indonesia karena negara kecil ini dibekingi oleh sekutunya Amerika dan Inggris. Singapura-pun belajar dari Israel di Timur-Tengah yang telah mampu mendikte negara-negara tentangganya. Caranya, Indonesia terus diganggu dengan menghidupkan isu-isu sektarian, teroris dan radikalisme melalui dana-dana yang disalurkan di berbagai LSM dan ormas-ormas.

Singapura bekerja sama dengan Barat akan terus berupaya agar Indonesia terus ribut, berantem, lemah dan kehabisan energi. Dengan begitu Indonesia sulit fokus memajukan perekonomiannya. Indonesia seperti sejarahnya pada masa lalu, sibuk berkelahi, bertengkar dan lupa membangun bangsanya. Itulah sebabnya pemerintahan Jokowi terus melempar isu bangkitnya PKI. Itulah salah satu cara melawan isu-isu sektarian dan radikalisme yang mungkin ikut dilancarkan oleh bangsa lain. Padahal sebenarnya isu PKI itu hanya taktik pemerintah untuk menghajar ormas-ormas yang berbaju keagamaan. Selama ini pemerintah sulit membubarkan ormas-ormas atau berbagai organisasi itu karena mereka memakai agama sebagai tamengnya. Maka cara menghajarnya adalah melempar isu komunis kepada ormas-ormas itu sehingga pemerintah punya cara untuk menekuknya atas nama ideologi juga. 

Jika isu-isu sektarian itu berhasil dipadamkan pemerintahan Jokowi, maka pemerintah akan fokus membangun tanpa gangguan. Maka ketika saya melihat etos kerja Jokowi dan Ahok yang luar biasa dalam membangun bangsanya 1-2 tahun ini, saya akan berani menyebut keduanya ‘gila’ dan ‘bajingan’, dalam tanda petik. Jika kedua orang itu sudah ‘gila’ dan ‘bajingan’ dalam membangun bangsa ini, maka kepada yang lain, diharapkan bangun dari tidur.

Selasa, 20 September 2016

Arti sebuah nama

Dalam kehidupan, kita cenderung memberi nama pada apapun juga. Kepada manusia, binatang, tanaman, peralatan rumah tangga, kampung, kota, negara. Kita memberi nama kepada seluruh isi alam semesta ini. Mengapa ...... dan apa maksud dan tujuannya. Satu yang pasti adalah untuk membedakan yang satu dengan yang lainnya. Nama manusia menjadi lebih rinci lagi. Manusia satu dengan lainnya dibedakan dari namanya, walau seringkali ditemukan nama yang sama. Untuk binatang dan tanaman, diberi nama sesuai dengan spesiesnya. Tetapi binatang peliharaan (domestik) seringkali diberi nama laiknya kita memberi nama pada manusia. Berbeda antara satu dengan yang lainnya. Peralatan rumah tangga semisal mesin cuci akan dikenal dengan merek dagang dan typenya untuk membedakan satu dengan yang lain. Nama kampung dan kota, sekarang dapat dibedakan lokasinya dari kode pos untuk mempermudah kita mengenali secara lebih teliti. Kalau pemberian nama kepada binatang, tanaman, peralatan rumah tangga dan isi alam semesta lainnya sudah sedemikian "rumit", apalagi untuk memberi nama kepada mahluk hidup berlabel manusia.

Memberi nama anak mendapat perhatian yang sangat besar. Selain karena nama merupakan identitas diri, konon karena nama sejatinya adalah doa dari si pemberi nama kepada yang diberi nama, penghias, tumpuan yang dengannya ia dipangggil ketika di dunia dengan kepala tegak. Itu sebabnya, nama sebaiknya dan pada umumnya memiliki arti yang baik dan indah. Bahkan lebih jauh dari itu, Rasulullah saw sering mengganti nama seseorang yang baru masuk Islam, jika sebelumnya nama orang tersebut diketahui memiliki arti dan maksud yang tidak baik dalam pandangan Islam. 


Nama adalah sesuatu yang pertama didapat oleh seorang bayi yang terlahir, merupakan ciri spesifik yang membedakan dia dengan orang lain dan seharusnya diberikan oleh seorang ayah terhadap bayi sebagai tanda pewaris dan penerus generasi. Meskipun hanya sesuatu yang bersifat maknawi tetapi nama memiliki nilai yang amat tinggi melebihi materi. Sehingga orang akan lebih menjaga nama daripada hartanya, jangan sampai dilecehkan. 


Nama juga menunjukkan asal-muasal orang terkait. Suku bangsa/etnis, daerah, bangsa dan juga budaya dan juga kepercayaannya. Ada suku bangsa/etnis yang menamakan anaknya berdasarkan kondisi alam yang terjadi pada saat si anak lahir. Itu sebab ada orang yang dinamakan Bayu, Taufan, Guntur, Halilintar .... walau saya belum pernah menemukan ada seseorang yang bernama Angin atau hujan. Ada juga orangtua yang memberi nama anak dengan melihat kondisi kehidupannya saat itu. Yang paling umum digunakan adalah kata Prihatin.... Cuma anehnya kata prihatin lebih banyak dicantumkan pada nama anak perempuan. Pernah juga saya membaca nama Kasihani. Namun belum dijumpai nama Bahagia atau gembira. Oh .... ada......!!! Suatu saat saya pernah menemukan nama Gugum Gumbira ....orang Sunda, ditilik dari namanya. Ada pengulangan kata...


Ada juga orangtua menamakan anak berdasarkan nama negara atau kota dimana anaknya dilahirkan. Mungkin ingin menunjukkan bahwa anaknya dilahirkan di luar negeri lho .... Selain sebagai kenangan atas kelahiran si anak, tetapi ada suatu kebanggaan melahirkan anak, umumnya di luar negeri. Itu sebab saya pernah melihat nama seperti Belgiawan .... yang mengacu pada negeri kelahiran di Belgia. Malaysiawan untuk anak yang dilahirkan di Malaysia atau Zelandia yang dilahirkan di New Zealand.

Nenek saya menamakan 3 anaknya yang terakhir berdasarkan kejadian pada tahun si anak lahir. Anak yang lahir di tahun 1949, dinamakan Ris alias Republik Indonesia Serikat. Anak lainnya yang lahir pada masa pemerintahan perdana menteri Syafruddin Prawiranegara tentu dinamakannya Syafruddin dan yang paling unik adalah anak yang lahir pada tahun dibukanya terusan Suez ..... Maka jadilah si anak dinamakan Suez Canal. 


Sebagian lagi orangtua menamakan anaknya dengan nama depan yang sama. Mereka ini umumnya berasal dari etnis Jawa. Maka jangan heran bila ada keluarga yang seluruh anak-anaknya, bila lelaki, memiliki nama depan Bambang .... Bambang A, Bambang B, Bambang C dst atau Joko ....., Kalau perempuan diberi nama depan Endang, Sri dan seterusnya atau yang unisex diberi nama depan Koes, Sri dan sebagainya. Atau ada juga yang memberi nama belakang anak-anaknya gabungan dari penggalan nama kedua orangtuanya.


Sebagaimana sebuah peribahasa ... Apalah artinya nama.... Tapi kemudian kita sadari nama tidak sesederhana itu. Di dalamnya terkandung banyak hal... Doa, kenangan, kebanggaan, harapan dan banyak lagi. Beberapa dekade yang lalu, nama juga menyiratkan etnis .... Maka untuk orang yang lahir di ranah Minang, nama seperti Najamuddin, Nasruddin, Syamsuddin dan seterusnya seringkali ditemukan dan menjadi nama yang umum didengar dan dikenal. Di Jawa tengah, di kalangan kebanyakan, ada nama-nama seperti Tukiyem, Tugirah, Tugiman, Tukimin, Wagimin, Wakijo ( hihi .... ingat nama-nama guru saya di Xaverius jambi dulu), sedangkan di Jawa Barat, pada nama anak seringkali terjadi pengulangan, seperti Ajat Sudrajat ...., atau Engkos Kosasih atau yang seringkali jadi bahan becanda di kalangan keponakan saya adalah nama perempuan Ice Juice .... Ayo..... gimana bacanya....?

Kini .... nama anak Indonesia tidak lagi spesifik. Pengaruh Arab, Eropa atau sansekerta mempengaruhi penggunaan dan pemberian nama anak. Maka anak-anak abad ke 21 untuk kalangan beragama Islam, banyak yang bernuansa Arab, sehingga sulit diperkirakan, darimana dia berasal. Asli Indonesia atau keturunan Arab. Nama-nama Eropa biasanya banyak digunakan di kalangan etnis Cina atau entah nuansa apa lagi yang diinginkan kedua orangtua manakala mereka memberi nama anaknya. Yang pasti... panjangnya, rek .........!!! Ampun deh ..... dan juga sangat sulit dieja dan tentunya akan sulit ditulis kalau bukan si pemilik nama dan/atau orangtuanya menuliskannya terlebih dulu untuk kemudian disalin dengan penuh kehati-hatian.

Apapun juga, kita memang dianjurkan untuk memberi nama anak dengan nama yang baik, karena nama bisa memiliki pengaruh baik ataupun buruk kepada pemiliknya. Nama juga merupakan cermin pemikiran orang tua, apakah dia seorang optimistis, pesimistis, pendendam dan bahkan seorang yang memiliki pemikiran - pemikiran yang menyimpang. Namun, apakah karenanya.... kemudian, melalui pemberian nama kepada anak, kita akan kehilangan identitas budaya ...?

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...