Yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri dan.. Yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri #BadiuzzamanSaidNursi
Sabtu, 17 Juli 2021
Masih tentang COVID19
Rabu, 03 Maret 2021
SELALU ADA CELAH KELENGAHAN
Selasa 9 Februari 2021, anak saya kebetulan bisa tiba di rumah sebelum jam shalat Ishaa, sehingga kami memutuskan untuk makan malam lebih dulu, sambil menunggu adzan.
Suami hanya masuk kantor 3 hari dalam seminggu, yaitu Senin, Rabu dan Jum'at. Hari lainnya dia bekerja dari rumah, apakah itu mengajar, konsultasi tugas atau kadang webinar. Sementara saya dan anak masuk setiap hari walau dengan jam kantor yang sedikit berkurang.... Cuma berkurang selama 1 jam tepatnya.
Sore itu, saya melihat suatu yang tidak biasa. Suami saya melapisi mulut/hidungnya dengan tissue. Saya tahu... itu berarti dia menghirup minyak kayu putih untuk membantu pernafasannya. Saat itu, saya tidak ingin bertanya lebih banyak. Tak elok kalau harus berdebat di meja makan. Kami makan malam seperti biasa, sambil ngobrol.
Rabu 10 Februari 2021, jam 07.00 seperti biasa, anak saya berangkat ke kantor diantar supir. Biasanya setelah supir kembali ke rumah, si bapak akan berangkat ke kantornya. Sekitar jam 09.00. Namun pagi itu, alih-alih sarapan pagi, dia malah tidur di sofa, tanpa bisa diajak komunikasi sama sekali. Saya akhirnya sarapan sendiri dan bersiap berangkat ke kantor. Sebelum berangkat, saya ingatkan kembali untuk sarapan, namun dia malah menyampaikan akan tinggal di rumah saja, alias tidak masuk kantor.
Sejujurnya, sejak pandemi covid19 merebak, setiap ada perubahan kondisi tubuh sesedikit apapun juga, saya selalu sudah secara otomatis mencurigai adanya virus covid19 mampir. Saya memang tidak mau terlalu paranoid sehingga tidak berani keluar rumah. Tidak ....., setiap malam minggu, saya masih mengajak anak dan suami untuk makan malam di luar rumah. Biasanya ke PIM atau Gandaria City. Tentu dengan tetap waspada .... memakai masker, memilih resto yang relatif ketat dengan standar prokes dan memilih tempat makan yang lebih terbuka. Maka .... kondisi suami yang "layu" seperti itu, mau tidak mau menerbitkan sedikit rasa curiga.
Tiba di kantor, ternyata ada sedikit kehebohan. Salah satu staff keuangan yang bermaksud berlibur (long week end - imlek) mengunjungi suaminya yang tinggal di Jogja, diketahui positif covid19 saat memeriksakan diri sebagai syarat pembelian tiket perjalanan. Akhirnya ... hari itu, HRD memutuskan untuk melakukan swab-antigen dan swab pcr untuk supir yang berinteraksi intens dengan staff tersebut. Dari semua yang mendapat giliran hari itu, diketahui ada 1 satpam positif, sementara lainnya negatif, termasuk saya. Alhamdulillah ... lega rasanya.
Sambil bekerja, saya mencoba melakukan komunikasi telpon maupun melalui whatsapp dengan suami, tanpa hasil. Dari ART, diketahui bahwa suami sama sekali tidak bergeming dari sofa. Bahkan makan malampun dilakukan dengan susah payah.
Kamis 11 Februari 2021, setelah mengantar anak ke kantornya, saya memutuskan untuk memaksa suami melakukan swab antigen di RS dekat rumah. Ke kantor, saya sampaikan hal tsb. Bila keadaannya baik-baik saja, maka usai mendapat hasil antigen, saya akan masuk kantor.
Usai mengantar suami melakukan swab-antigen, saya mempersiapkan diri untuk zoom meeting. Sepertinya, saya tidak mungkin lagi berangkat ke kantor. Sudah terlalu siang. Sekitar jam 11.00, saya menanyakan apakah suami mampu mengambil hasil antigennya sendiri. Dia yang merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik dari hari sebelumnya, menyanggupinya untuk pergi mengambil hasilnya...
Pada saat yang sama, anak saya menanyakan hasil antigen bapaknya. Ketatnya aturan prokes di kantornya, menyebabkan dia dan beberapa rekan kerja yang intens bersamanya untuk melakukan wfh, sampai hasil swab si bapak diketahui dengan pasti.
Di tengah zoom meeting, suami yang baru kembali dari RS mengambil hasil antigennya dengan tenang bilang..."hasil antigennya positif"
Kaget dan jujurnya, agak shock, saya tidak bisa lagi mengikuti zoom meeting dengan penuh konsentrasi. Melalui jalur pribadi, saya minta bantuan salah satu rekan untuk mendaftarkan Swab-pcr drive thru yang berada di kawasan perkantoran jalan MH Thamrin. Kami berangkat setelah makan siang.
Kembali dari melakukan Swab-pcr, saya minta suami untuk menghubungi kantornya agar bisa mendapatkan akses isolasi mandiri di kampus. Saya memintanya isolasi di luar rumah agar kondisi kesehatannya bisa terpantau dengan baik apalagi saya yakin tempat isolasinya pasti terkoneksi dengan RSUI. Isolasi di luar rumah saya pikir juga menjadi jalan keluar yang lebih baik, karena kalau isolasi dilakukan di rumah, saya pesimistis bisa dilakukan dengan baik terutama untuk pelayanan makan/minum dan hal-hal pribadi lainnya.
Jumat 12 Februari 2020, siang hasil pcr keluar dan suami terkonfirmasi positif covid19. Anak saya langsung diwajibkan untuk melakukan swab-pcr pada hari sabtu. Semua temannya tidak boleh masuk sampai hasil pcrnya terbit. Saya juga akhirnya minta bantuan untuk didaftarkan pcr pada hari sabtu itu juga, supaya waktu pengambilan sample saya dan anak, sama.
Jumat sore, suami saya antar ke wisma Makara UI untuk melakukan isolasi mandiri. Saya juga menyampaikan berita ini ke beberapa orang di kantor yang saya anggap perlu tahu mengenai hal ini. Bigboss yang mendengar berita tersebut langsung mengusulkan agar, apabila hasil pcr anak saya negatif, dia diisolasikan saja di hotel milik kantor di kawasan Kelapa Gading. Alhamdulillah ... mungkin itu memang jalan keluar yang terbaik, agar dia tidak terkontaminasi.
Sabtu 13 Februari 2021 siang, usai melakukan pcr di di Cilandak-KKO dan kawasan MH Thamrin, saya masih sempat mengantarkan berbagai pesanan perlengkapan yang diperlukan suami selama masa isolasi dan beraktivitas seperti biasa. Malam minggu itu, saya dan anak juga masih jalan berdua, cari tempat makan sambil ngobrol daripada hanya bengong di rumah.
Minggu 14 Februari 2021 siang .... hasil pcr saya terbit dan ...... POSITIF terpapar covid19 dengan CT-ORF 32,74 dan CT-N tidak terdeteksi. Apapun dan berapapun angka CT yang tertulis, hasilnya tetap sama ... saya terpapar covid19. Darimana .......? Tentu sucpect yang terdekat adalah tertular dari suami .... Mau darimana lagi....? Sedih dan shock .....? Sudah pasti .... apalagi pekerjaan kantor yang saya tangani sedang masuk dalam tahap penyelesaian yang sangat kritis. Melepaskan dan meminta rekan-rekan lainnya melanjutkan pekerjaan tersebut, terasa seperti berkhianat. Terasa betul seperti saya sudah melakukan perbuatan yang sangat tidak bertanggung-jawab.
Senin 15 Februari 2021 siang, hasil pcr anak saya terbit dan dia dinyatakan negatif. Seperti yang dianjurkan oleh bigboss, hari itu juga saya minta si anak segera berkemas dan berangkat ke kawasan Kelapa Gading. Entah bagaimana kebijakan kantornya atas kondisi seperti itu. Apakah dia akan masuk kantor dari Kelapa Gading atau melakukan WFH - work from hotel, biarlah itu menjadi urusannya.
Di lingkungan rumah, saya langsung melaporkan kondisi saya dan suami yang terpapar covid19 kepada ketua RT yang segera meneruskannya kepada satgas covid19. Wilayah rumah saya memang baru sekitar 1 atau 2 minggu dinyatakan bebas dari kategori zona merah. ART dan anaknya kemudian dijadwalkan untuk melakukan swab-pcr di puskesmas pada hari senin 15 Februari 2021. Keesokan hari, Petugas satgas covid19 di wilayah kecamatan Jagakarsa lalu mendatangi rumah kami, meminta saya mengisi dan melengkapi dokumen2, mulai dari ktp, kk, hasil swab, kartu bpjs/askes, pernyataan isolasi mandiri dan lain-lain. Setelah mengirimkan obat2an generik standard puskesmas, setiap 3 hari mereka mengirim pesan melalui whatsapp menanyakan perkembangan kesehatan saya.
Apa yang saya rasakan selama positif covid19? Jauh dari bayangan dan bacaan-bacaan mengenai ciri-ciri penderita covid19, suhu tubuh saya sama sekali tidak mengalami kenaikan. Masih berkisar antara 35,6C sd paling tinggi 36,7C. Daya penciuman masih normal, sama sekali tidak ada perubahan. Kalaupun ada terasa perubahan, ...... itu lebih kepada kondisi badan dan stamina tubuh. Terasa sangat lemas, tenggorokan berdahak setelah sebelumnya terasa agak panas. Panas tenggorokan ini biasanya akan segera hilang kalau saya minum air rebusan sereh yang dicampur jeruk nipis dan madu. Kepala juga terasa agak sakit, tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca sesuatu dalam waktu yang cukup lama, atau lebih dari 10 menit.
Minggu 21 Februari 2021, masa isolasi suami selesai dan si anakpun sepertinya sudah tidak betah berlama-lama di hotel. Akhirnya .... minggu sore itu, kami berkumpul kembali di rumah dengan kesepakatan, tetap wajib menghindari kontak lebih dekat dari 1,50 meter. Makan harus dilakukan secara bergiliran, Anak duluan, lalu suami dan terakhir baru saya yang makan.
Hari Selasa 23 Februari 2021, saya meminta bantuan lagi ke kantor untuk didaftarkan swab-pcr, untuk memperoleh kepastian kondisi kesehatan kami. Kali ini HRD di kantor mendaftarkan layanan swab-pcr ke rumah dan alhamdulillah .... hasil pemeriksaan kami berdua NEGATIF. Namun demikian, tidak berarti kondisi ini bisa disambut dengan euforia. Kami masih tidur di kamar yang terpisah, walaupun makan sudah mulai bisa dilakukan bersama dengan sesedikit mungkin berbicara selama berada di meja makan.
Recovery ternyata juga menjadi sangat individual. Bila suami bisa recover dengan relatif lebih cepat, namun saya masih merasakan kepayahan. Kaki saya, mulai dari telapak kaki hingga separo tulang kering, masih saja selalu terasa dingin seperti ditusuk-tusuk. Dahak masih belum hilang danbegitu juga rasa lemas di tubuh .....
Apapun yang terjadi dan akan terjadi, alhamdulillah kami sudah melewati periode terberat menghadapi covid19. Konon .... kondisi fisik penyintas covid19 tidak akan bisa kembali sama seperti sebelumnya. Akan halnya vaksin .... apakah kami akan melakukannya? Inshaa Allah .... namun entah kapan, karena kami masih harus mencari informasi lebih banyak bagaimana prosedur vaksinasi bagi penyintas covid19.
Satu hal yang harus diperhatikan adalah Tetap waspada, jangan lengah ... karena kita tidak pernah tahu kapan celah kelengahan itu datang.
Sabtu, 10 Oktober 2020
KENAPA OMNIBUS LAW HARUS SEKARANG?
Hari ini, saya mendapat kiriman tulisan yang menurut saya sangat menarik untuk disimak. Dengan sedikit editing, saya post tulisan ini. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengamini isi tulisan tersebut, namun bacalah agar pikiran kita bisa lebih terbuka.......
Untuk penulisnya yang tidak saya ketahui siapa, mohon maaf bila namamu tidak dicantumkan.
Nah, ini tulisan saya buat ngejawab emak-emak yang pada tanya “kenapa sih harus bikin begituan di masa pandemi ini? Gak bisa ditunda apa?”
Di awal tahun pernah dengar gak kalau Amerika ribut sama China dan Perusahaan-perusahaan Amerika pada hengkang dari China dan nyari lahan usaha baru? Dan salah satu calon lokasinya adalah Indonesia! Masih inget kan?
Nah, tidak hanya Indonesia yang mau menangkap peluang ini, Malaysia, Thailand dan bahkan Vietnam yang komunis sudah siap baik lahan, regulasi dan tenaga kerja untuk mengundang investasi tersebut. Filipina juga sudah siap dengan Omnibus Law namun sayang Presidennya berseberangan dengan Donald Trump. Jadi pasti peluangnya sangat kecil.
Lalu, pertanyaannya lagi, kenapa sih kita harus butuh banget ya perusahaan asing itu invest ke Negara kita? Emang kita gak bisa mengelola kekayaan kita sendiri? Nah ini menarik! Ibu-ibu, memang Negara kita ini kaya, namun kekayaannya bukan Riil, melainkan kekayaan potensi. Apa maksudnya?
Begini runutannya. Jika anda tidak punya modal dan teknologi, anda cuma bisa nyuruh 100 anak anda itu menggali batu bara belakang rumah, lalu dijual murah karena bentuknya adalah mentah. Anda jual 1000, ditambah biaya kirim, pajak, cukai, belum lagi makelar dan lain-lain akhirnya Perusahaan di luar negeri itu bayar 10.000, padahal yang anda terima sebagai pemilik bahan baku cuma 1000, 9000 nya kemana?
- Anak anda kerja dan dapat gaji bukan dari anda
- Batubara mentah anda jadi seharga 5000
- Anda dapat uang sewa lahan
- Anda dapat keuntungan 30% tiap penjualan
Nah inilah masalahnya kenapa investor gak mau masuk ke negara kita. Makanya Negara merancang Omnibus Law yang isinya adalah semua UU terkait investasi itu dijadikan dalam satu UU yang terintegrasi.
Negara kita ini bisa colaps ibu-ibu!
Kalau belum paham itu tanya baik-baik ya, bukannya demo marah-marah bakar toko!
Jumat, 18 September 2020
APA SIH AJARAN ISLAM ITU?
Salah satu masalah besar kita sebagai umat Islam dalam memahami agama adalah ketidakmampuan kita untuk MEMBEDAKAN mana yang ajaran agama, mana yang budaya, mana yang sejarah, mana yang ijtihad, mana yang pendapat ulama, dan lain-lain.
Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh nabi Muhammad (atau yang dilakukan oleh para nabi yang tertulis dalam Alquran) adalah ajaran agama. Padahal tidak. Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh para khalifah Islam adalah ajaran agama yang perlu kita ikuti. Tentu saja tidak. Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa pendapat para ulama pastilah merupakan ajaran agama semua. Tentu saja tidak. Sebagian besar dari apa yang mereka sampaikan jelas hanyalah hasil pemikiran mereka. Meski pun mereka telah berusaha keras untuk mendasarkannya pada Alquran dan hadist paling shahih.
Para nabi itu punya beberapa istri. Tapi ada juga yang tidak beristri. Nabi Muhammad bahkan punya lebih dari empat istri. Nabi Daud bahkan sampai didatangi oleh malaikat perkara berlebih-lebihannya dalam soal memiliki istri. Nabi Sulaiman katanya juga istrinya puluhan orang. Tapi jelas punya banyak istri itu BUKAN ajaran agama. Itu hanya kebiasaan dan adat istiadat orang-orang zaman dahulu di mana para nabi termasuk di dalamnya.
Nabi Muhammad itu makanan utamanya adalah kurma dan sehari-hari mengenakan gamis. Kalau pergi ke mana-mana ya jalan kaki atau naik onta. Tapi makan kurma, pakai gamis, naik onta, bukanlah ajaran agama. Bukan itu yang mau diajarkan oleh Nabi. Apalagi sampai minum air kencing onta. Ya, Allah, bukan itu…!
Nabi Sulaiman mengancam untuk menginvasi negara tetangganya (Negara Saba milik Ratu Balqis) dan akan menghancurkannya jika tidak tunduk padanya. Tapi itu juga bukan ajaran Islam. Kita tidak diajari untuk menginvasi negara lain. Ketika pemerintahan Khalifah Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia. Umar juga mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar. Semua penaklukan ini adalah sesuatu yang luar biasa. Tapi itu juga BUKAN AJARAN AGAMA. Itu semua adalah inisiatif, ide, dan prakarsa Khalifah Umar beserta semua sahabat yang hidup pada zaman itu.
Abu Bakar ketika naik menjadi khalifah bertekad untuk memerangi pembangkang yang tidak mau bayar zakat. Meski pada mulanya Umar tidak setuju tapi pada akhirnya sepakat dan para pembangkang tersebut diperangi. Memerangi pembangkang zakat meski pun didasarkan pada pendapat Khalifah Abu Bakar dan tercatat dalam sejarah juga bukanlah ajaran agama. Yang menjadi ajaran agama adalah IJTIHAD dalam memutuskan sesuatu perkara.
Begitu juga dengan berdirinya kekhilafahan setelah Nabi wafat. Berdirinya kekhilafahan dengan diawali dengan naiknya Abu Bakar ra sebagai khalifah pertama juga BUKAN AJARAN AGAMA. Memilih serta memiliki pemimpin dan mematuhinya adalah ajaran agama. Tapi apakah bentuknya kehilafahan, dinasti seperti Umayyah, Abbasiyah, Usmaniyah, kerajaan seperti Nabi Sulaiman, republik seperti Indonesia, itu BUKAN AJARAN AGAMA. Itu sepenuhnya merupakan ijtihad dan kesepakatan umat saja.
Apakah mendirikan kekhilafahan itu wajib? Tidak.
Yang wajib itu PUNYA PEMIMPIN dan memilih yang terbaik di antaranya. Tapi perlu dipahami bahwa seringkali umat Islam itu TIDAK PUNYA PILIHAN dalam hal siapa pemimpinnya. Lha kalau sistem pemerintahan negaranya adalah dinasti atau kerajaan ya jelas tidak ada soal pilih memilih itu. Para khalifah pada zaman Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Ustmaniyah, dll tidaklah naik melalui pemilihan. Umat Islam TIDAK PUNYA HAK pada waktu itu.
Sultan Hassanal Bolkiah, tetangga kita yang kaya raya itu, itu bukanlah PILIHAN atau menjadi pemimpin karena dipilih oleh rakyat Brunei. Apakah hal ini sudah sesuai dengan ajaran Islam? Ya sudah. Sepanjang rakyat Brunei sepakat dan Sultan Hassanal Bolkiah telah dilantik maka sahlah dia sebagai pemimpin Brunei. Soal naiknya pemimpin apakah melalui keturunan atau melalui pemilu itu hanyalah soal teknis yang tidak diatur oleh ajaran agama.
Lha kok para sahabat bertengkar soal siapa yang harus jadi khalifah ketika Nabi wafat? Ya karena Nabi Muhammad sama sekali tidak memberi amanat soal siapa yang harus menjadi pemimpin setelah beliau wafat dan bagaimana mekanismenya. Itu mah terserah para sahabat saja.. Toh mereka semua paham bahwa setiap umat itu PERLU DAN HARUS punya pemimpin.. Perkara siapa dan bagaimananya ya silakan berembug sendiri.
Apakah negara Indonesia sudah menjalankan syariat agama dalam hal kepemimpinan umat ini? Jelas bahwa BANGSA INDONESIA telah mencapai kesepakatan untuk membentuk negara Republik Indonesia dengan pemimpin yang berstatus Presiden sejak tahun 1945. Saat ini pemimpin negara dan umat Islam di Indonesia namanya Presiden Jokowi. Tapi kan Jokowi ini dulunya hanya tukang mebel? Emang kenapa? Nabi telah bersabda dalam hadits, “Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan TAAT KEPADA PEMIMPIN walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR. At Tirmidzi).
Bagaimana kalau ada umat yang tidak setuju dengan pemimpinnya yang ada saat ini? Ya itu namanya PEMBANGKANG yang harus diperangi. Sudah jelas sekali PERINTAH TUHAN dalam hal ini dan tertulis dengan jelas baik di Alquran mau pun AlHadist. Mereka adalah PARA KHAWARIJ yang memang harus diperangi. Menurut as-Syahrastani Khawarij adalah “Setiap orang yang keluar menentang pemimpinnya yang sah yang telah diputuskan oleh masyarakat, baik penentangan itu terjadi di masa sahabat terhadap para Khulafaur Rasyidin atau terjadi setelah mereka terhadap para tabiin yang baik dan para pemimpin di setiap zaman”. (as-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, juz I, halaman 114).
Sila baca https://satriadharma.com/2020/02/11/para-khawarij-dan-pembelanya/
Lalu bagaimana kalau yang membangkang justru mereka yang punya ilmu agama seperti ustadz, kyai, habib, dan cendekiawan muslim? Kalau menurut saya sih mereka itu MENURUTI NAFSUNYA dan bukan berpegang kepada AJARAN AGAMA. Anda boleh cari di Alquran atau pun AlHadist yang mengajarkan umat untuk MEMBANGKANG pada pemimpinnya. Tentu TIDAK ADA.
Lha kan Nabi Musa menentang Firaun? Itu kan jelas-jelas ada dalam Alquran. Gimana sih…?!
Lha kalian ini apa merasa sebagai bangsa Yahudi yang ditindas oleh bangsa Mesir di bawah kepemimpinan Firaun? Lha kalau kalian menganggap pemimpin kalian yang ada saat ini adalah Firaun lantas siapa yang Nabi Musa di antara kalian? Mbok ya jangan terlalu GR. Kadang-kadang kita itu ke-GR-an to the max mengira sedang dibawah kepimpinan Nabi Musa memperjuangkan kemerdekaan umat di bawah tirani Firaun. Padahal hanya karena kita kalah di pilkada atau pemilu.
Mbok ya berhentilah berhalusinasi sedang membela agama padahal sebenarnya kalian sedang melakukan pembangkangan pada ulil amri yang sangat dilarang dalam agama.
Surabaya, 18 September 2020
Salam
Satria Dharma
Sabtu, 13 Juni 2020
Anda Muslim...?!
***
Seorang teman pernah mengeluh tentang semakin tidak bermutunya pemahaman agama umat Islam. Ia menunjukkan poster pelatihan “Cara Cepat Dapat Istri Empat” menyusul suksesnya “Kelas Poligami Nasional” tahun sebelumnya. Bukan hanya muslim awam yang dikeluhkannya tapi juga munculnya ustadz-ustadz yang semakin ngawur ajarannya. Kapan hari ada ustadz yang menyatakan bahwa lagu “Balonku” dan lagu “Naik ke Puncak Gunung”sebagai propaganda anti-islam dan mengagungkan agama lain. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan para ustadz semacam ini?
Sebenarnya sudah lama saya memprihatinkan masalah ini. Problem besar umat Islam masa kini adalah karena mereka tidak dididik untuk berpikir. Mereka hanya diajari untuk patuh pada ustadz mereka baik di sekolah mau pun di masjid tapi mereka tidak pernah diajari untuk berpikir, apalagi untuk bersikap kritis. Bersikap kritis, apalagi mempertanyakan pendapat ustadz mereka seolah dianggap sebagai sebuah kejahatan yang sangat tercela dan haram untuk dilakukan. Di sekolah dan di pesantren mereka hanya diajari untuk menghapal ayat dan hadist dan tidak diajari untuk mengaplikasikannya. Apa yang mereka pelajari hanya menjadi ilmu tanpa laku sehingga budaya dan tradisi keislaman menjadi mandek dan jumud.Saat ini umat Islam hanya didorong untuk menjadi penghapal teks belaka dan tidak didorong untuk menjadi pemilik ilmu. Para santri kebanyakan hanya didorong untuk menghapal Alquran dan hadist dan bukan untuk memahami ayat dan konteksnya. Padahal menghapal Alquran dan hadist bukanlah tujuan tapi sekedar cara. Tapi cara ini sekarang dijadikan tujuan dan umat Islam kehilangan esensi dari beriqra’yang bertujuan agar terjadi perubahan mental dari tidak tahu menjadi tahu (allamal insana maalam ya’lam). Itulah sebabnya mengapa umat Islam yang memiliki berbagai ajaran mulia seperti kebersihan, kedisiplinan, kebermanfaatan, dan lain-lain justru sekarang menjadi umat yang tidak paham tentang apa itu kebersihan, apa itu disiplin, apa itu melindungi umat lain, dll.
Saat ini umat Islam yang kritis justru sering ditembak dengan pertanyaan yang sangat sering dilontarkan yaitu :
Satria Dharma
Minggu, 07 Juni 2020
Menyoal Injil terjemahan Bahasa Minangkabau
Seorang teman mengirimkan tulisan (forwarding tanpa kejelasan siapa penulisnya) mengenai keberatan-keberatan tentang penterjemahan Injil ke dalam bahasa Minangkabau. Sebetulnya menterjemahkan Injil ke dalam bahasa lokal untuk digunakan dalam peribadatan mingguan penganut agama Kristen, bukanlah suatu hal yang aneh dan keributan ini menjadi sangat menyebalkan. Injil versi yang kita kenal sekarang, dalam setiap peribadatan agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan, selalu dibawakan dalam bahasa setempat. Di Indonesia, peribadatan mereka akan dilakukan dalam bahasa Indonesia. Jarang atau bahkan mungkin tidak pernah peribadatan agama Kristen di Indonesia yang dibawakan dalam bahasa aslinya. Kita sendiri tidak pernah tahu bahasa asli Injil. Bahasa Ibrani/hebrew, Aramaic atau bahasa lainnya? Yang pasti.... peribadatan mereka akan dilakukan dalam bahasa setempat.
Di negara Anglophone, peribadatan agama Kristen akan dilakukan dalam bahasa Inggris. di negara-negara Francophone dilakukan dalam bahasa Perancis dan .... di negara-negara Arab akan dilakukan dalam bahasa Arab. Jangan berpikir bahwa bangsa Arab/Timur Tengah tidak ada yang beragama Kristen ya... Ini pikiran yang terlalu naif.
Di Indonesia, yang saya tahu, terutama untuk gereja Kristen Protestan, kita kenal ada gereja HKBP, gereja Batak yang peribadatannya tentu dilakukan dalam bahasa Batak. Ada gereja Pasundan untuk orang-orang berbahasa Sunda, gereja Jawa yang peribadatannya dilakukan dalam bahasa Jawa dan saya yakin ada gereja-gereja lain yang peribadatannya dilakukan dalam bahasa setempat atau bahasa umat di wilayah terkait.
Jadi .. bukan suatu hal yang aneh bila peribadatan dalam gereja di wilayah Sumatra Barat kemudian ingin dilakukan dalam bahasa Minang, karena... percayalah, walau minoritas, tentu ada urang Minangkabau (asli) yang menjadi penganut agama Kristen ..... Sama seperti orang-orang di wilayah Timur Tengah yang beragama non Islam. Atau ..... minimal, ada warga pendatang dan etnis/suku lain yang bertempat tinggal di wilayah Sumatera Barat yang memerlukan peribadatan dalam bahasa mereka sehari-hari, dalam hal ini bahasa Minang. Jangan baperlah .... karena bagi kalangan Kristen, penterjemahan Injil dalam bahasa lokal adalah hal biasa. Soal apakah isi/terjemahannya berbeda dengan injil dalam bahasa aslinya, nggak usah mempermasalahkannya. Itu urusan mereka.
Hal ini tentu berbeda dengan tata cara ibadah umat Islam yang keseluruhannya menggunakan bahasa asli al Qur'an, dalam hal ini bahasa Arab. Shalatnya umat Islam dilakukan dalam bahasa Arab al Qur'an. Mengertikah kita akan surat-surat yang dibaca selama shalat? Untuk beberapa surat pendek yang biasa dibaca, kita tahu artinya. Tetapi bukan karena kita fasih berbahasa Arab, tetapi karena kita sempat membaca terjemahan dan karenanya tahu arti surat-surat atau ayat-ayat tertentu. Beruntunglah mereka yang bisa dan mampu berbahasa Arab dengan fasih.
Sampai saat ini tidak pernah ada suatu terjemahan al Qur'an tanpa disertai tulisan dalam bahasa aslinya. Mengapa....? Untuk menjaga "kemurnian" ayat2 al Qur'an ... Apakah tidak pernah ada upaya mendistorsikan ayat2 al Qur'an ...? Pernah dan mungkin juga sering. Untuk orang-orang yang bukan penghafal Qur'an (hafidz) dan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Arab tentu akan mudah terperdaya....
Daripada meributkan Injil dalam bahasa Minang, tentu akan lebih baik bila kita memperkuat keimanan kita sendiri. Yakin bahwa agama yang kita anut adalah agama yang benar yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kalau urang awak takut atas penerjemahan Injil ke dalam bahasa Minangkabau, sebetulnya, patut kita balikkan pertanyaannya... Apakah iman Islam masyarakat Minangkabau sedemikian tipisnya sehingga takut terhadap terjemahan Injil dalam bahasa mereka? 😁😁😁
Minggu, 12 April 2020
VIRUS ITU BERNAMA COVID 19
BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺
Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa Mensholatkan kita... Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...
-
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ...
-
Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada si...
-
3/5 Berusaha dan terus berusaha. Hari itu, adalah hari ke 14 menstruasi ... Masih sederas hari pertama dan tidak ada tanda-tanda mereda...




