Allah telah menetapkan rejeki manusia.
Rejeki kita tidak akan pernah bertambah atau berkurang kecuali atas ijinnya.
Kalimat-kalimat seperti itu pasti sudah sering kita dengar namun seringkali kita tidak peduli.
Pagi ini, menjelang berangkat kerja, sambil mengantar anak sekolah, pembantu rumah masuk dan mengatakan bahwa ada seorang ibu yang memaksa masuk
halaman rumah untuk menawarkan barang. Pembantu yang tahu kebiasaan saya
hanya belanja seperlunya saja dan sangat terjadwal, tentu sudah berusaha
menolak,. Apalagi, hari masih pagi dan saya repot dan tergesa-gesa untuk
berangkat kerja. Namun demikian saya meluangkan waktu untuk menemui
perempuan tersebut.
Perempuan gemuk berwajah dan logat khas sumatera utara menawarkan produk
pembersih rumah. Saya berusaha menolak dengan halus dan menyatakan bahwa
barang-barang tersebut tersedia dengan lengkap di rumah, karena itu merupakan barang yang masuk daftar wajib belanja bulanan. Dia tetap memaksa dan menyatakan bahwa barang dagangan itu untuk memberi makan anak yatim. Namun saya "berburuk sangka", dan memastikan bahwa perempuan tersebut pasti berbohong dengan mengatasnamakan anak yatim agar barang dagangannya laku. Hal ini sudah sering kali terjadi dan lumrah, sehingga masih dengan nada baik saya tetap bersiteguh menolak tawaran tersebut.
Mangkel karena bujukannya tidak berhasil, tanpa pamit, dia langsung pergi.
Melihat dia pergi, sayapun langsung menuju mobil seraya menjawab pertanyaan
suami tentang kejadian yang baru saja berlangsung. Sambil mengeluarkan mobil, saya berpesan pada pembantu agar menggembok saja pintu pagar dan berhati-hati dalam menerima tamu. Apalagi beberapa hari sebelumnya ada 2 orang lelaki yang berusaha masuk rumah dengan dalih "panggilan ibu" untuk membetulkan AC (padahal di rumah sama sekali tidak memasang AC).
Subhanallah ...... entah apa yang menyebabkannya ... kelalaian atau memang
garis takdir Allah yang terjadi untuk memperingatkan saya, batas tembok yang
sudah 5 tahun saya lewati dengan baik dan selamat, pagi ini terserempet
mobil. Maka penyoklah bumper kanan depan.
Saya terhenyak ... astaghfirullah.... sungguh besar perasaan bersalah saya
pagi ini. Saya sudah berburuk sangka pada ibu itu. Mungkin dia benar ....
menjual produk pembersih itu untuk anak yatim, entah apakah itu anak asuh
atau anaknya sendiri. Kalau saja saya rela mengeluarkan uang untuk membeli produk tersebut, mungkin mobil saya tetap mulus, berpahala ... (mungkin) dan tidak tidak rugi karena saya memiliki produk pembersih tambahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur .... walaupun ada asuransi yang akan menyelesaikan kerusakan mobil, tapi saya akan kehilangan waktu untuk mengurus mobil tersebut..... Saya sudah kehilangan muka di hadapan Allah yang Maha Pemurah...
Rejeki kita tidak akan pernah bertambah atau berkurang kecuali atas ijinnya.
Kalimat-kalimat seperti itu pasti sudah sering kita dengar namun seringkali kita tidak peduli.
Pagi ini, menjelang berangkat kerja, sambil mengantar anak sekolah, pembantu rumah masuk dan mengatakan bahwa ada seorang ibu yang memaksa masuk
halaman rumah untuk menawarkan barang. Pembantu yang tahu kebiasaan saya
hanya belanja seperlunya saja dan sangat terjadwal, tentu sudah berusaha
menolak,. Apalagi, hari masih pagi dan saya repot dan tergesa-gesa untuk
berangkat kerja. Namun demikian saya meluangkan waktu untuk menemui
perempuan tersebut.
Perempuan gemuk berwajah dan logat khas sumatera utara menawarkan produk
pembersih rumah. Saya berusaha menolak dengan halus dan menyatakan bahwa
barang-barang tersebut tersedia dengan lengkap di rumah, karena itu merupakan barang yang masuk daftar wajib belanja bulanan. Dia tetap memaksa dan menyatakan bahwa barang dagangan itu untuk memberi makan anak yatim. Namun saya "berburuk sangka", dan memastikan bahwa perempuan tersebut pasti berbohong dengan mengatasnamakan anak yatim agar barang dagangannya laku. Hal ini sudah sering kali terjadi dan lumrah, sehingga masih dengan nada baik saya tetap bersiteguh menolak tawaran tersebut.
Mangkel karena bujukannya tidak berhasil, tanpa pamit, dia langsung pergi.
Melihat dia pergi, sayapun langsung menuju mobil seraya menjawab pertanyaan
suami tentang kejadian yang baru saja berlangsung. Sambil mengeluarkan mobil, saya berpesan pada pembantu agar menggembok saja pintu pagar dan berhati-hati dalam menerima tamu. Apalagi beberapa hari sebelumnya ada 2 orang lelaki yang berusaha masuk rumah dengan dalih "panggilan ibu" untuk membetulkan AC (padahal di rumah sama sekali tidak memasang AC).
Subhanallah ...... entah apa yang menyebabkannya ... kelalaian atau memang
garis takdir Allah yang terjadi untuk memperingatkan saya, batas tembok yang
sudah 5 tahun saya lewati dengan baik dan selamat, pagi ini terserempet
mobil. Maka penyoklah bumper kanan depan.
Saya terhenyak ... astaghfirullah.... sungguh besar perasaan bersalah saya
pagi ini. Saya sudah berburuk sangka pada ibu itu. Mungkin dia benar ....
menjual produk pembersih itu untuk anak yatim, entah apakah itu anak asuh
atau anaknya sendiri. Kalau saja saya rela mengeluarkan uang untuk membeli produk tersebut, mungkin mobil saya tetap mulus, berpahala ... (mungkin) dan tidak tidak rugi karena saya memiliki produk pembersih tambahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur .... walaupun ada asuransi yang akan menyelesaikan kerusakan mobil, tapi saya akan kehilangan waktu untuk mengurus mobil tersebut..... Saya sudah kehilangan muka di hadapan Allah yang Maha Pemurah...
tapi mbak kalau dilihat dari caranya pergi tanpa pamit, sepertinya apa yg mbak lakukan tidak ada salahnya. orang yang datang dengan niat baik pasti perginya pun dengan baik2 pula. mungkin itu bukan rezeki dia, dan apa yg mbak alami itu, mungkin jalan bagi rezeki pemilik dan pekerja bengkel,hehehe......mungkin lo mbak :))
BalasHapusMungkin aja memang begitu ..
BalasHapusTapi tetap aja saya merasa bersalah sudah berburuk sangka dan pelit. Padahal kalau saya beli 1 bungkus sabun, mungkin cuma 20 ribu saja. Nggak terlalu banyak menguras kantong..