Selasa, 26 Juli 2005

KITA dan BIAYA KESEHATAN

Ibu saya baru keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama + 8 hari. Sakitnya, juga nggak begitu jelas. Semua adik saya, yang pergi bersamanya, bilang, itu semua karena terlalu lelah dan praktis tidak makan selama + 5 hari menunaikan ibadah umroh. Memang ibu saya mempunyai penyakit diabetes dan darah tinggi, apalagi umurnya sudah sekitar 70 tahunan. Jadi, begitu menginjakkan kaki ke tanah air, beliau hanya mampir 2 jam di rumah untuk kemudian di bawa ke rumah sakit swasta di bilangan selatan Jakarta.

Masuk ke rumah sakit di antar adik perempuan terkecil dan suaminya, dokter menduga bahwa beliau terkena serangan jantung dengan komplikasi gula darah naik dan tekanan darah tinggi, sehingga akan segera dimasukkan ke ICCU. Untung sebelumnya, dia menelpon kakaknya, dokter, di Bandung yang juga berangkat umroh bersama untuk meminta opini. Tentu, dugaan penyakit jantung itu ditolaknya, dan minta hanya dirawat di ruang biasa. Bahwa ibu menderita DM dan hypertensi, semua juga sudah mahfum.

Maka jadilah beliau di rawat di ruang VIP. Nggak tahu berapa tarifnya semalam. Mungkin karena beliau mempunyai asuransi kesehatan (yang diperoleh sebagai istri pensiunan bank), jadi dengan ”sombong”nya minta di rawat diruang VIP. Malam itu saya tidak sempat menjenguk, karena kebetulan pulang kantor agak larut, sehingga lelah sekali. Baru keesokan harinya selama 2 hari berturut-turut saya menjenguk. Hari kerja sudah dipastikan tidak akan sempat menjenguknya. Selama beliau di rawat, saya selalu menanyakan kepada adik lelaki yang setiap hari menemani ibu, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada penyakit yang ditemukan kecuali ”kelelahan yang luar biasa apalagi ditambah tidak makan” selama 5 hari itu yang membuatnya sakit dan lemah. Jadi beliau diinfus saja dan ditambah obat-obatan dan diperkirakan dalam waktu 2 – 3 hari saja sudah dapat kembali ke rumah.

Tunggu punya tunggu, ternyata ibu tidak juga kembali dari rumah sakit. Maka hari ke 6 saya minta ijin pulang lebih cepat agar bisa menjenguk ke rumah sakit. Ibu kelihatan lebih segar, tetapi saat saya tanyakan kapan bisa keluar? Adik lelaki hanya memberitahukan bahwa  kadar Na di dalam darah, rendah, sehingga masih memerlukan perawatan lebih lanjut. Saya betul-betul mangkel mendengar jawaban tersebut. Jujur saja, saya sama sekali tidak percaya lagi dengan ketulusan dokter di Indonesia, terutama yang berdomisili di kota besar, dalam merawat orang sakit. Di mata saya, sebagian dari mereka adalah ”binatang ekonomi” yang menjadi agen pemasaran obat tidak langsung dari pabrik obat. Menurut saya, bila persoalannya hanya menaikkan kadar Na dalam darah saja, mengapa tidak dijinkan pulang saja seraya diberikan petunjuk ”diet” saja.

Malamnya, saya menelpon adik ke Bandung untuk bicara pada ibu saya dan meminta beliau pulang. Bahkan adik saya berencana membawa ibu ke Bandung agar bisa mengawasi langsung kondisinya. Ini sungguh bukan karena ”biaya” yang harus ditanggung. Toh ibu memiliki asuransi, tetapi lebih kepada ”ketidakpercayaan” saya pada perawatan di rumah sakit. Akhirnya ibu keluar juga dari rumah sakit, dan biaya pengobatan (kamar rawat, infus + obat-obatan dan visit dokter) selama 8 hari itu berjumlah hampir sebelas juta. Bayangkan ... lebih dari satu juta rupiah per hari. Bagaimana bila yang sakit itu adalah orang tidak mampu dan pasti tidak memiliki asuransi kesehatan???

Tidak itu saja ... keluar dari rumah sakit, tidak kurang dari 11 jenis obat yang dibekali untuk dikonsumsi beliau. Apa dikiranya perut manusia itu gudang penyimpan obat, dimana kita bisa menjejali segala macam obat?? Bukankah obat itu sebetulnya ”racun” dengan segala macam ”side effect”??

Saya jadi teringat pengalaman buruk berhubungan dengan dokter THT di sebuah RS terkenal di bilangan Jakarta Selatan. Kala itu, saya sudah seminggu menderita batuk. Seperti biasa, akibat tidak percaya pada dokter, saya hanya meminum obat tradisional saja, jeruk nipis+kecap ditambah dengan pijat+urut. Biasanya penyembuhan tradisional seperti ini cukup manjur. Tidak ada satu butir obatpun yang mampir ke dalam tubuh saya. Sayangnya, kiat jitu tersebut, kali ini tidak berhasil. Saat di kantor, tiba-tiba telinga saya berdenging dan terasa tersengat seperti, kalau ada dua kabel listrik yang korslet. Rasa sakitnya pun tidak tertahan dan dalam waktu hanya 15 menit, terasa keluar cairan dari telinga dari semula bening hingga kemudian agak memerah. Tidak tahan dengan kondisi ini, saya meminta bantuan supir kantor untuk mengantar ke RS yang hanya berjarak 200 meter dari kantor untuk berkonsultasi ke spesialis THT.

Biasanya, selesai periksa dokter, sebelum membeli obat, saya selalu menelpon adik untuk menanyakan obat-obat yang harus dibeli (second opinion). Tapi karena saya merasa sangat kesakitan, kali itu saya langsung membeli obat di apotik RS tanpa tanya-tanya pada adik saya itu. Pokoknya hari itu saya menghabiskan uang hampir 500 ribu untuk dokter dan 3 jenis obat yang harus dimakan selama 5 hari. Yang paling menyakitkan, saya ambruk pada hari ketiga setelah makan obat. Telinga saya memang agak berkurang sakitnya, tetapi badan saya lemas tidak berdaya dan keluar keringat dingin. Rupanya obat yang diberikan dokter terlalu keras dan cenderung mubazir. Adik saya mengistilahkannya dengan ”membunuh nyamuk dengan bom nuklir”. Berlebihan, mahal dan tidak bermanfaat.

Pengalaman buruk berhadapan dengan dokter juga dialami oleh seorang teman. Bapaknya selama + 2 tahun didiagnosa kena ”kanker prostat” dan tidak bisa dilakukan tindakan apapun (karena usianya sudah di atas 70 tahun) sehingga hanya bisa diberikan obat penahan rasa sakit dan ”sekantong” vitamin yang harus dikonsumsi. Selama itulah teman saya ber”belanja” obat sebesar 30 juta per bulan. Beruntung bapaknya itu tuan tanah  yang memiliki kebun cengkeh sehingga mampu membiayai ”belanja obat”nya tersebut. Tahun lalu, si bapak yang sudah ”hampir koma” itu dibawa ke Jakarta dan dioperasi. Ternyata apa yang selama ini diduga kanker prostat itu hanya berupa pengapuran dan setelah diambil tindakan operasi, beliau sehat dan bugar kembali hingga sekarang.

Belum lepas dari masalah itu, suaminya, tahun lalu kena stroke dan berlanjut pada timbulnya gejala parkinson. Dari bulan September hingga saat ini, setiap bulan dia harus membelanjakan uangnya untuk membeli obat sebesar 20 juta per bulan, diluar biaya rumah sakit. Beruntung suaminya memiliki asuransi dan penggantian pengobatan yang cukup memadai sehingga tidak perlu jatuh bangkrut karenanya. Adik saya yang lain setiap tahun harus mengeluarkan biaya sekitar 200 juta per tahun untuk 4 kali perawatan rumah sakit dengan rata-rata lama perawatan sekitar 10 hari.. Sampai saat ini, apa penyakitnyapun tak pernah terdeteksi. Sayangnya, saya tidak bisa mempengaruhi dia dan suaminya untuk mencari second opinion baik di RS/dokter lain atau RS di Malaysia yang konon, relatif cukup murah.

Kemarin, saat ibu saya keluar dari RS, adik dan keluarganya dari Bandung datang ke rumah, sekalian berencana membawa ibu ke Bandung. Memang ternyata ibu saya mengalami gangguan tidur. Tapi saya menduga, itu mungkin side effect dari 11 jenis obat yang harus dikonsumsinya pasca perawatan rumah sakit. Mana ada manusia mampu menelan obat yang tidak jelas indikasinya sebanyak itu? Bukankah itu mubazir dan hanya akan terjadi reaksi kimiawi di dalam tubuh yang akan membuat dampak kepada daya tahan tubuh?

Panjang lebar saya ngomel dan berkomentar tentang ”praktek kotor” para dokter sebagai agen pemasaran pabrik obat di hadapan adik yang juga dokter spesialis itu. Saya juga menceritakan bahwa ada dokter umum wanita tua yang sederhana yang sering saya kunjungi saat anak sakit. Ke tempatnya, kita hanya dikenai bayaran maksimal 50 ribu berikut obat. Bahkan tidak jarang bu dokter ini memberikan resep-resep tradisional sebagai tambahan pengobatan modern (obat kimiawi).  Tidak banyak dokter yang sederhana dan sangat manusiawi seperti ini. Kebanyakan dokter, mungkin menganggap pasien seperti ”sumber dana” yang perlu dikuras habis-habisan terutama bila dilihatnya pasien tersebut datang dari kalangan berada. Dengan latar belakang seperti itu, pantas saja, tidak banyak dokter yang suka meladeni pasien yang kritis dan mau tahu banyak tentang penyakit dan cara pengobatannya. Selain menghabiskan waktu praktek, mungkin mereka takut ketahuan ”kartu” nya.  Mereka lebih suka pada pasien yang ”pasrah bongkokan” pada ucapan dokter.

Ada pula dokter anak yang berpraktek hingga dini hari, melayani ratusan pasien setiap hari di ruang prakteknya. Bagaimana dokter dengan tingkat kelelahan semacam itu mampu mendiagnosa penyakit dengan benar dan teliti? Paling-paling dia akan mem ”bom” penyakit sederhana dengan antibiotik super keras agar terlihat manjur. Dan... anehnya orangtua senang, pula dan berpromosi kepada rekannya bahwa dokter A bertangan dingin dan obat-obatan yang diberikan sangat ”manjur”. Si orangtua mungkin tidak sadar bahwa anaknya sudah menerima ”racun” yang tidak perlu untuk mulai ditimbun dalam badannya. Saya teringat, saat tinggal di Stains, dokter yang saya kunjungi selalu memberi penjelasan yang gamblang mengenai penyakit dan jenis obat yang diberikan. Seringkali, dia memberikan tips & trick untuk merawat anak/bayi sakit agar si anak tidak menjadi ”gudang” timbunan obat-obatan kimiawi. Dokter di Stains tidak pernah memberikan vitamin apapun untuk bayi kecuali tips & tricks menyajikan makanan sehat dan segar bagi seluruh keluarga.

Mendengar ocehan saya yang pedas, adik saya hanya tersenyum saja tanpa komentar .... mungkin dalam hati membenarkan dugaan saya itu. Bagaimana tidak.... kala para dokter mengadakan seminar/kongres, maka para dokter (beserta keluarga – anak dan istri) mendapatkan fasilitas yang luar biasa dari para sponsor (pabrik obat). Bahkan tidak jarang, usai kongres masih dilanjutkan dengan wisata ke berbagai daerah. Ipar saya (dokter juga) malah membawa serta adik-adiknya, karena selama kongres dia mendapat 3 kamar (full board) dari 3 pabrik obat yang berlainan. Bukan main... pasti biaya untuk dokter itu, nantinya dibebankan sebagai biaya promosi yang pada akhirnya akan ditambahkan pada harga jual obat.

Untuk meredam ocehan yang membuat telinganya panas, akhirnya dia buka mulut juga. Detailman pabrik obat yang sering kita temui di ruang tunggu dokter memang seringkali memberi iming-iming kepada dokter termasuk adik saya. Menurut pengakuannya, memang begitulah cara kerja para detailman. Memberi iming-iming pada dokter agar memakai produk yang dijajakan termasuk di dalamnya menambah-nambah vitamin ”sehat” bagi pasien. Tetapi, memang tidak semua dokter tergiur oleh iming-iming. Masih banyak dokter idealis yang memiliki hati nurani. Para detailman, memang akhirnya tidak lagi mengunjungi kamar praktek setelah dengan tegas dokter menolak ajakan ”kerjasama”. Adik saya dengan gamblang bicara bahwa ... dia tidak perlu diajak kerjasama dengan iming-iming uang rutin yang nilainya hanya 500 ribu atau satu juta rupiah perbulan sebagai hasil komisi penjualan obat, karena dia sudah merasa cukup dengan penghasilan murni dari pasien. Obat dari pabrik apapun, bila dibutuhkan dan kualitas maupun penggunaannya tepat, akan diberikan kepada pasien walaupun tidak ada iming-iming dan dia (adik) tidak akan menambah-nambah vitamin yang tidak perlu bagi pasien. Yang perlu dibantu adalah pasien (dengan cara mendapatkan obat yang murah), bukan dokter yang sudah mendapatkan uang dari jasa yang diberikannya. Saya percaya adik saya, masih punya nurani yang bersih.

Jawaban adik secara tidak langsung membenarkan dugaan saya, ada praktek pemberian komisi yang luar biasa besar dari pabrik obat kepada dokter. Itu yang menyebabkan keluar dari praktek dokter, kita (pasien) seringkali dibekali dengan sederet resep yang menghasilkan sekantung besar obat-obatan yang belum tentu diperlukan dan dengan harga yang luar biasa mahalnya. Itu juga yang menyebabkan mengapa program obat generik yang terjangkau rakyat tidak bergaung karena dokter lebih suka memberikan resep obat-obatan paten yang harganya luar biasa mahal. 

Walaupun demikian, saya percaya, masih banyak dokter yang memiliki hati nurani yang bersih, terutama yang berada di pelosok dan pedalaman. Dan saya selalu berharap semoga semakin banyak dokter-dokter yang sadar dan kembali pada kemuliaan profesinya. Amin.

Hang tuah- kebayoran baru jakarta selatan
25 juli 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...