Selasa, 11 Oktober 2005

Museum kita……


Libur kenaikan kelas anak-anak kali ini, kami tidak melewatinya di luar kota. Ibu saya berangkat umroh bersama adik-adik saya. Jadi, sebagai keluarga yang menumpang di rumahnya, kami ditugaskan menjaga rumah. Biasanya, kami melewati salah satu week end liburan kenaikan kelas di Bandung. Tapi, gara-gara isu peningkatan aktifitas gunung berapi (termasuk gunung Tangkuban Perahu di Bandung) pasca tsunami beberapa bulan yang lalu, anak saya menjadi ketakutan. Ini efek negative dari keterbukaan informasi. Membuat anak menjadi ketakutan karena mendengar/membaca berita/informasi yang menakutkan. Walapun dari sisi lain, mereka mendapat tambahan pengetahuan.

Dalam kondisi seperti ini, saya mengusulkan untuk berkeliling Jakarta saja. Bukan dari mall ke mall, tetapi mengunjungi museum, planetarium dan nonton di terater Keong Mas saja. Untungnya, usulan tersebut di terima dengan baik. Nah, minggu lalu, setelah selesai membeli DVD (yang ini bukan asli...he.. he ) di Ratu Paza, kami mampir ke Museum Gajah. Sayangnya, ternyata terlambat. Pada hari Minggu, Museum hanya buka hingga jam 13.30 saja. Nah baru pagi tadi kami mengunjungi Museum.

Kami berangkat jam 9.45, mengantar suami ke FKUI untuk main band dengan The Professor nya, baru ke Museum Gajah. Masuk ke Museum Gajah, tidak terlihat banyak orang, terutama dibandingkan dengan pengunjung museum serupa di luar negeri. Ada satu rombongan mahasiswa, kelihatannya. Beberapa keluarga. Setelah mengambil dan membayar karcis parkir sebesar Rp.2.000,-, kami masuk parkir di bawah tanah. Kejutan pertama sudah dimulai. Tempat parkir sangat gelap, sehingga lampu mobil harus dinyalakan. Urusan pertama selesai, kami naik ke atas dari jalan dimana mobil masuk tadi. Tidak ada pedestrian khusus untuk orang berjalan. Terbayang bila tiba-tiba ada mobil mau turun ke basement....Entah siapa yang harus mengalah ... mobil atau orang? Sampai kembali di atas, saya antri untuk membeli karcis.... Kejutan kedua di temui.... Harga karcis dewasa sebesar Rp750,- dan anak Rp.250,- Jadi saya membayar seribu rupiah berdua. Bayangkan hanya seribu rupiah untuk melihat koleksi berharga peninggalan bangsa. Saya termangu-mangu tidak tahu harus mengucap apa ....

Saya mulai menyusuri ruang demi ruang. Mulai dari lantai atas, melihat koleksi emas kuno yang berupa perhiasan, peralatan makan maupun patung-patung kuno. Ruangan ber AC, tapi berbau lembab dan pengap. Karpet lantai pada pintu putar sudah mengelupas. Saya hampir jatuh ketika hak selop saya tersangkut karpet tersebut. Koleksi cukup bagus, hanya sayang informasi nya minim. Tidak tertera ”jaman apa dan oleh siapa” peralatan itu digunakan. Beberapa koleksi malah tidak berada ditempatnya. Entah hilang dicuri orang, dipinjamkan (tanpa keterangan) atau karena memang salah ketik informasi.

Selesai dari lantai atas, kami menyusuri koridor yang dipenuhi arca batu. Lagi-lagi minim informasi terutama ”jaman - tahun” dibuatnya arca tersebut. Kemdian masuk ruang, melihat koleksi tempat tidur dan macam-macam peralatan perang, contoh bentuk-bentuk rumah adat/daerah, keris, koleksi keramik/porselin, bahkan koleksi kain kuno (termasuk kain buatan RA Kartini. Yang aneh adalah keberadaan ruang koleksi Thailand yang kami lewati saat menuju koleksi kain kuno. Entah apa hubungannya dengan koleksi kain atau isi museum Gajah secara umum, hingga dibuat ruang Thailand ini. Saya membuat beberapa photo anak saya di museum. Mungkin ini berguna baginya sebagai alat peraga saat dia harus menceritakan pengalaman liburnya saat masuk sekolah nanti. Anak saya bermaksud untuk mengunjungi museum Gajah sekali lagi, entah kapan. Kelihatannya dia sangat menikmati kunjungan tersebut. Entah dia mengerti atau hanya basa-basi, tapi dia mengatakan bahwa isi museum itu indah dan menarik.

Jujur saja, minimnya guide (saya hanya bertemu dengan satu orang lelaki yang ramah) dan keterangan koleksi, membuat kita ”tidak bertambah pengetahuan terlalu banyak setelah mengunjungi museum. Bahkan monitor yang sedianya memberikan informasi seluruhnya tidak berfungsi. Belum difungsikan )karena baru) atau memang sudah rusak? Entahlah ....

Setelah kecewa dengan kondisi Planetarium, hari ini, keluar dari museum Gajah, menambah keprihatinan saya. Saya betul-betul tidak habis pikir dengan visi, misi dan tata cara pengelolaan Museum di Indonesia (khususnya Museum Gajah). Gedung Museum Gajah dan annex nya, dari luar terlihat gagah dan mentereng. Melihat penampilannya yang gagah, sungguh, saya membayangkan kenyamanan mengunjungi museum. Namun saya mulai dihinggapi dengan kekecewaan kala masuk tempat parkir yang gelap gulita.

Kebingungan yang kedua adalah saat saya harus membayar ”hanya Rp.1.000,-” untuk dua orang (1 dewasa + 1 anak). Bayangkan .... saya membayar parkir Rp.2.000,- tetapi untuk melihat koleksi yang sangat berharga, saya hanya dikenakan Rp.750,-. Sekali lagi hanya Rp.750,- .... Entah logika apa yang dipakai??!! Saat ini, masuk Ancol saja sudah di atas Rp.1.000,- per orang. Selama masa liburan sekolah tahun ini, Dunia Fantasi memasang tarif Rp.50.000,- per orang untuk karcis terusan masuk. Belum lagi Gelanggang Samudera dan lain-lainnya. Bahkan atraksi di Taman Mini pun, saya yakin, tarif masuknya lebih tinggi dari seribu rupiah. Jangan lagi dibandingkan dengan biaya masuk untuk melihat koleksi tingkat dunia di Musee du Louvre di Paris atau Museum lilin Madam Tusseaud.

Saya tidak tahu bagaimana logika berpikir dalam pengelolaan. Saya mengerti, bahwa museum adalah non profit institution, jadi pasti harus disubsidi oleh pemerintah. Tapi Museum membutuhkan pemeliharaan bukan saja gedung, tetapi seluruh koleksinya perlu penanganan yang hati-hati. Ini perlu biaya yang besar. Bagi saya, kalau memang tidak memasang tarif masuk, maka lebih baik dibuat kebijakan bahwa masuk Museum Gajah adalah ’Gratis”. Jadi jelas arahnya. Kalau mau dikenakan tarif, maka kenakan tarif yang wajar dan sesuai. Bukan tarif basa-basi seperti itu. Itu melecehkan ”nilai koleksi” yang dipamerkan. Kalau ada rombongan (sekolah), bisa dikenakan biaya khusus anak sekolah. Sementara rombongan turis, apalagi turis mancanegara, dikenakan Rp.100.000,- (atau setara dengan 10 – 15 USD) per orangpun, wajar.  Tarif setinggi itupun termasuk murah, bila dibandingkan dengan tarif masuk museum di negara maju dan ”nilai koleksi” yang dipamerkan. Menurut saya, tarif masuk yang murah menyebabkan orang tidak menghargai ”koleksi Museum”.

Mungkin ini pikiran kapitalis ..., tapi, saya hanya berpikir sederhana dan realistis saja. Kalau mau gratis .... berikan gratis sekalian, tanpa mengurangi standard pelayanan/presentasi koleksi barang berharga jaman dulu, lengkap dengan standar kelengkapan informasi dan peralatannya. Ini berarti instansi terkait mampu menyediakan dana pemeliharaan museum sesuai dengan standar internasional. Kalau mau dikenakan biaya, kenakan biaya yang pantas, sesuai dengan ”nilai koleksi” yang ditampilkan. Kalau kita menilai bahwa koleksi museum itu bernilai tinggi, maka pengunjungpun harus membayar dengan biaya yang tinggi untuk melihatnya. Dengan catatan, bahwa pengunjung rombongan anak sekolah dapat melihat koleksi pada hari khusus dengan biaya khusus pula. Kalau kita menganggap koleksi bernilai tinggi sementara biaya untuk melihat koleksi tersebut rendah, maka orang (minimal saya) menganggap bahwa nilai koleksinya tidak terlalu berharga, sehingga tidak perlu dilihat.

Jangan takut untuk memposisikan diri. Lihatlah (walaupun tidak serupa) ... restoran mahalpun kadang semakin penuh ... karena pengunjungnya merasa masuk pada ”kelas tertentu” Bahkan ... jajan pasar yang kecil mungil dengan harga ”selangit”, justru yang dicari orang dan ”masuk” ke golongan ”atas” ... bukan jajan pasar yang murah meriah namun besar bentuknya, yang dicari orang. Sayapun teringat pada slogan dalam iklan suatu produk kendaraan beroda 4 ”you are what you drive...”

Ya.. semua orang memang punya pendapat, … karena bicara memang mudah dibanding dengan melakukannya. Dan saya memang baru pada taraf bicara saja.... karena saya memang bukan pelaksana/pengelola Museum Gajah.

He .. he... minimal, hari ini saya sudah mengunjungi Museum Gajah untuk kedua kalinya bersama anak gadis saya, setelah lebih dari 40 tahun sejak kunjungan pertama dulu....!!!!

Salam,
Lebak bulus 10juli2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...