Selasa, 17 Januari 2006

Reuni ……


Reuni, kalau gak salah dicomot dari re dan uni yang diartikan secara bebas sebagai bersatu kembali. Apa yang disatukan kembali ….? Tentu banyak … dari mulai penyatuan kembali saudara serumpun yang terpisah karena ideologi politik seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, sampai dengan pernikahan antar anak dari sebuah trah untuk menyatukan kembali garis keturunan yang sudah terpencar jauh. Reuni yang terlihat begitu sederhana, ternyata bukan hanya menyentuh aspek emosional, tetapi juga berbagai aspek lainnya.

Reuni memang menjadi kecenderungan bagi para alumni suatu sekolah atau universitas, tentu tidak akan habis-habisnya. Namun, reuni bisa menjadi "pisau bermata dua". Alih-alih menjadi perekat yang telah terserak, Reuni yang tidak direncanakan secara bijak malah bisa menjadikan yang terserak itu menjadi lebih menjauh.

Kala mempersiapkan reuni 0475 kemarin, beberapa orang ditugaskan untuk menghubungi teman, sambil menjajagi seberapa besar animo untuk menghadiri acara reuni tersebut. Ini bukanlah hal yang mudah. Ada berbagai macam kendala, antara lain; 0475 terdiri dari 5 jurusan dengan jumlah mahasiswa +/- 250 orang. Alumni terakhir yang lulus dari Fakultas adalah lulusan tahun 1985. Jadi, secara rata-rata, sudah sekitar 20 – 25 tahun berpisah, dan terserak ke berbagai penjuru negeri. Beberapa alumni jurusan memang kerap berkumpul, namun jumlah yang hadir tidak mencapai 50% dari jumlah mahasiswa yang terdaftar 30 tahun yang lalu. Jadi kalau 5 jurusan disatukan, jangan harap angka 50% itu juga yang akan dipegang. Jadi, disepakatilah untuk menghubungi sebisa mungkin melalui sms saja. Ini "sentuhan" pribadi, diharapkan si penerima sms, mengetahui pasti siapa pengirimnya dan karenanya diharapkan mau hadir.

Kendala kedua adalah mencari "elemen" universal yang mampu menggelitik semua alumni untuk hadir. Teringat pada sebuah sms yang masuk ke penggagas acara Reuni 0475 "Reuni …? Sorry … gue nggak punya nyali untuk hadir …. Nggak berani…!!" Jawaban itu cukup menohok kita semua. Ada apa sebenarnya di balik sebuah reuni? Apakah ini ungkapan naïf seorang pecundang? Tidak …, ini adalah fenomena yang terjadi dimana-mana saat menghadapi reuni.

Konon, seorang alumnus SMA terkenal di Jakarta tidak pernah mau hadir di acara reuni angkatannya. Minder ….? Bagaimana mungkin …? Dia adalah banker dan jabatan terakhirnya adalah direktur utama di salah satu bank syariah. Selain itu, saat duduk di bangku SMA, dia merupakan salah satu lelaki yang menjadi idola para gadis. Teman-temannya hanya bisa menduga-duga mungkin karena merasa ada yang "kurang", yaitu pernah gagal dalam rumah tangga. Tapi, apa karena itu, lalu pertemanan yang pernah terjalin bertahun-tahun lalu menjadi pupus? Mungkin ada hal-hal lain yang sulit dijelaskan dan diterima orang. Reuni memang sering ditakutkan menjadi ajang pamer keberhasilan.

Kendala ke tiga adalah dana. Bila mengingat perjalanan panjang 30 tahun dan rata-rata masa kerja antara 20 – 25 tahun, bisa dipastikan seorang insinyur dari UI, rata-rata memiliki kehidupan yang cukup baik. Bahkan beberapa di antaranya, mungkin sudah menjadi pejabat atau pengusaha yang berhasil. Tetapi dengan lugas dan tegas, sang kepala suku menyatakan reuni ini tidak akan mengandalkan satu atau dua orang donator, walaupun itu sangat mungkin dilakukan. Ini akan merusak kebersamaan, karena sang donator dikhawatirkan "merasa lebih" dari yang lain. Ini acara bersama, jadi mari berhitung cermat biaya yang harus disediakan, baru dipikirkan bagaimana mengumpulkan dana talangannya. Kalaupun ada sumbangan, maka itu harus dilakukan dengan ikhlas, dan bukan karena diminta. Nah ini tantangan yang menarik……………

Maka dibuatlah "rambu-rambu" acara Reuni, yaitu ; lokasi harus mempunyai ikatan emosional dengan 0475 agar mampu membangkitkan keinginan semua peserta untuk mengunjunginya. Makanan yang disajikan adalah makan a la mahasiswa jaman dulu, namun dengan penyajian yang lebih bersih. Hiburan harus mampu membangkitkan gairah semua yang hadir, pembawa acara adalah rekan yang supel dan kenal betul dengan "medan" nya jaman mahasiswa dulu and last but not the least … acara harus dibuat mengalir seperti air, tanpa aturan protokoler dan meminimalkan yang bersifat seremonial. Ini adalah acara yang, betul-betul terasa "dari kita untuk kita", semua menjadi pemain …. bukan sebagai pelengkap penederita semata, walau tanpa aturan, agar semua bisa menyalurkan "bakat dan naluri yang terpendam karena jabatan dan posisi". Agar semua bisa melepaskan segala ketegangan "duniawi".

Kala aturan main reuni disepakati secara aklamasi, tidak berarti, semua yang mempunyai komitmen menyelenggarakan acara Reuni merasa lega. Masih banyak kendala-kendala non teknis yang menghambat. Rabu 4 Januari 2006, saat koordinasi terakhir memang ada tanda-tanda positif. Ada tanda-tanda bahwa target hadir minimal 20 orang per jurusan, bisa tercapai. Jujur saja …. Waktu persiapan dan data awal alumni memang relatif minim. Acuan yang digunakan adalah buku alumni FTUI, yang tentu saja sudah banyak berubah. Tapi momentum tidak bisa ditunda, acara harus berlangsung sebelum Dies Natalis 2006.

Walau sudah ditata dengan hati-hati dan diperketat dengan segala macam aturan yang bertujuan "membebaskan" kita dari belenggu dan syahwat "jorjoran", acara ini belum tentu memuaskan bagi seluruh yang hadir.

Kini … pesta sudah usai … kemana langkah kemudian terarah??? Kalau kita ibaratkan Reuni sebagai "Rujuk Agung dari orang-orang yang telah terserak", maka akankah Rujuk Agung ini berumur panjang dan menghasilkan ikatan yang lebih erat demi masa depan bersama. Ataukah, ini hanya salah satu bentuk euphoria, yang kemudian secara perlahan akan kembali terserak???

Mata hati dan nurani kita yang paling dalamlah yang mampu menjawabnya … : Akankah kita meneguhkan tali silaturahmi yang sudah terentang kembali.... Atau akankah kita campakkan kembali karena ternyata silaturahmi hanya akan membebani dan secara materi tidak menguntungkan. Bukankan, kekayaan yang paling hakiki adalah kekayaan batin yang ada di dalam hati dan persepsi kita sendiri..

Akan kemana ujung dari perjalanan hidup kita ….
Berakhir dengan iringan nada kehilangan yang dalam dari teman-teman kita………
Atau
Berakhir dalam kesunyian ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...