Kamis, 06 Juli 2006

Ibadah dan kemajuan teknologi.


Kemajuan teknologi komunikasi memang luar biasa pesatnya. Saat wireless/mobile telephone masuk ke Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu, bentuknya betul-betul sangat tidak menarik. Handset nya masih seperti fixed telephone dilengkapi dengan batere seperti accu mobil. Jadi cukup besar dan tidak mungkin dibawa kesana-kemari sehingga lebih banyak digunakan sebagai telpon yang diletakkan di dalam mobil. Harganyapun sangat mahal. Kira-kira lima belas juta rupiah atau setara dengan usd 23.000 pada saat itu (kurs sekitar Rp.650,-). Fungsinya pun betul-betul masih sangat sederhana. Tidak jauh dengan fixed telephone yang ada di rumah. Pemiliknya tentu saja hanya orang-orang kaya dan karenanya antena wireless telephone berbasis CDMA tersebut akan menghiasi atap mobil-mobil mewah mereka. Saat itu, mobile telephone merupakan status symbol tersendiri pemiliknya

Era palm telephone berbasis GSM di Indonesia mungkin dimulai pada awal tahun 90 an. Jangan bayangkan bentuknya sekecil dan seindah handphone sekarang. Rata-rata ukurannya sebesar ukuran Nokia-9300 dengan feature yang sangat sederhana. Berfungsi sebagai telpon saja. Short message service – sms pun baru bisa dilakukan oleh telkomsel. Indosat belum belum bisa melayani sms. Pemilik handphone, lagi-lagi masih sangat terbatas dan kesemuanya berbasis abonemen. Belum lagi ada layanan pra bayar.

Penggunaan kartu prabayar, lagi-lagi dimulai oleh Telkomsel dengan meluncurkan kartu simpati (local), kalau tidak salah, pertama kali di Batam. Kiat ini tentu saja dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas lagi. Belakangan, seluruh provider memiliki 2 jenis SIM card yaitu prabayar dan pasca bayar.

Era tahun 2000 an, penggunaan mobile telephone - handphone atau singkatnya disebut HP sudah sangat meluas. Feature handsetnya sudah sangat luas. Dari yang sangat sederhana hingga berfungsi sebagai PDA, communicator, camera/videophone dan walkman. Perputaran model dan feature sedemikian cepatnya. Tua muda, kaya miskin kesemuanya tergila-gila oleh kecanggihan alat komunikasi yang satu ini.

Menggunakan pesawat telpon tentu memerlukan etika agar alat komunikasi ini dapat digunakan dengan baik dan benar serta tidak mengganggu orang lain. Seringkali kita diingatkan untuk tidak menyalakan HP saat rapat, beribadah maupun dalam perjalanan (saat menyetir mobil). Termasuk juga kala berada di dalam pesawat terbang. Signal HP dikhawatirkan mengganggu system komunikasi dan navigasi pesawat.

Sayangnya tidak banyak orang mau mematuhinya sehingga seringkali rapat kita terganggu karena ada panggilan telpon yang masuk. Kekhusu’an ibadah kita terusik oleh dering panggilan HP yang masuk berulang kali. Mungkin si penelpon lupa bahwa dia melakukan panggilan pada jam-jam kita melaksanakan shalat

Sementara itu, tidak jarang pemilik telpon, tanpa rasa malu ataupun bersalah, menjawab panggilan tersebut di dalam masjid. Bahkan ada orang yang tidak sungkan untuk bertelpon ria saat melakukan tawaf dan sai. Bayangkan, saat kita menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, masih juga mendahulukan kepentingan duniawi (menjawab dan berbicara di telpon) dibandingkan dengan khusu’ melaksanakan dan meneladani ritual agama yang telah dijalankan oleh para nabi sejak jaman nabi Ibrahim AS. Atau kita merasa lebih mulia dari tuan rumah (Allah SWT), sehingga sang Tuan Rumah kita abaikan demi panggilan umat manusia lainnya di seberang sana? Astaghfirullah ……

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin, kita yang masih lebih tergoda pada nafsu keduniawian memperoleh hidayah Allah SWT. Bagaimana mungkin, kita yang masih mengabaikan Tuan Rumah, bahkan di rumahnya sendiri (Baitullah) dengan menjawab telpon sambil bertawaf/sai masih berharap pahala dari Allah SWT atas tawaf dan sai yang kita lakukan? Semoga Allah SWT mengampuni mereka yang khilaf.Wa Allahu Alam ….

7 komentar:

  1. smoga ada yg tersadar dgn ulasannya........perubahan apapun selalau berdampak positif dan negatif.....tinggal mana yg lebih banyak aja sih...

    BalasHapus
  2. Ya... Sayangnya, kita lebih mudah meniru hal-hal yang negatif dan kebablasan dibandingkan dengan menggunakan teknologi secara bijaksana.

    BalasHapus
  3. kecenderungannya sih gitu......ang yg negatif kayanya lebih mudah ditiru........:)
    gimana caranya ngajarin niru yg positif ya........????????

    BalasHapus
  4. Apa khabar bu ?

    waduh oleh-olehnya kok ngono ? kasih oleh-oleh yang lebih menentramkan hati donk.....

    ps: moga-moga subject orang yang dibicarakan diatas bukan hanya orang indon ;)

    BalasHapus
  5. Bukan maksud menulis yang meresahkan hati. Tapi saat beribadah, kita harus meneguhkan niat. Thawaf sambil berhahahihi di telpon rasanya kurang etis. Wong kita terima telpon ditengah rapat aja, kadang dipelototi orang. Masa lagi ibadah di Baitullah, di-sambi2. Kan gak etis ya... Ini dampak negatif kemajuan teknlogi yang melanda semua orang. Jadi bukan orang Indonesia saja.

    BalasHapus
  6. wadaw...
    pertanyaannya sih gampang ...
    jawabnya saya nggak tahu....
    maaf......

    BalasHapus
  7. pengalaman masa lalu aja, kalo lagi antri naik pesawat di changi atau KLIA, ada yang nyerobot, dan 95 % yang nyerobot tersebut adalah orang indon :(

    namun memang kemajuan teknology kudu dibarengi kemajuan attitude :D

    jadi bukan hanya pendidikan moral ancasila yang perlu diajarkan, tapi moral manusia yang lebih cocok.....

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...