Selasa, 02 Oktober 2007

Berbagi Rejeki

Malam minggu, sementara menunggu waktu shalat, ada telpon masuk. Dari Yudi. Rupanya ingin menuntaskan keinginannya bicara yang belum terlaksana pada sabtu siang, usai kursus.

Tanpa basa-basi, dia langsung nyrocos...:
”Madame..., tadi disodori surat nggak, sama anak-anak parkir di ccf?”
”Nggak...., kenapa?
”Aku tadi disodori anak-anak itu surat... Minta THR, katanya. Apa urusanku dengan anak-anak parkir? Aku kan cuma datang 1 kali seminggu.”
”Tahun lalu, saya juga disodori surat itu. Gak masalah, kan? Semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kalau kita mau berbagi rejeki yang kita miliki dan ikhlas memberinya, ya kasih aja”.
”Tapi.... itu kan nggak mendidik. Harusnya kita tidak boleh selalu berada di ”bawah”, meminta-minta kepada orang lain. Apalagi saat lebaran, itu kan tujuannya konsumtif”
”Iya sih..., kenapa nggak kita tidak berpikir bahwa ada alasan yang cukup valid sehingga mereka begitu (meminta-minta). Misalnya karena butuh untuk berbagai keperluan lebaran. 

Memang, meminta sesuatu pada orang lain, apapun alasannya; hakikatnya ”merendahkan” martabat kita di hadapan yang kita ”mintai” sesuatu. Mungkin, mereka (peminta) juga malu melakukannya. Tapi rasa malu itu terpaksa ditelan dalam-dalam karena kebutuhannya untuk memenuhi hajat hidup jauh lebih penting daripada sekedar memegang teguh ”martabat dan harga diri”. Kasihan kan...?!. Di lain pihak, kita wajib memahami bahwa di dalam rejeki kita ada bagian dan hak orang-orang miskin dan fakir. Nah kenapa tidak kita tunaikan saja kewajiban itu. Jangan melihat siapa yang meminta”

”Tapi... apa memang mereka itu adalah para mustahik...? Yang wajib diberi bagian dari zakat kita? Jangan lupa lho.... ”para peminta-minta” itu ada di mana-mana. Di kantorku .... satpam yang sudah jelas mendapat THR dari pengelola gedung, toh mulai mengetuk pintu setiap kantor, meminta bagian. Belum lagi para rekanan, bahkan ”pejabat” yang biasa berurusan dengan kantorku, rame-rama ”nagih” bagian. Mana THRnya....??? Begitu katanya. Ini kan konyol.....!!!”
”Duh ... kamu kok ngotot banget sih...? Jangan mempersulit rejeki orang dong... Kasih ajalah, kalo memang ada rejekinya...!”
”Tapi itu nggak mendidik....”
”Kenyataannya, sebagian masyarakat kita memang belum terdidik dengan baik. Pemahaman agamapun masih sebatas ritual – seremonial. Untuk mengubahnya perlu waktu yang panjang. Kita lakukan saja apa yang kita anggap baik. Tapi juga nggak perlu ngotot gitu ah.”
”Sebel aja... Coba deh bayangin... aku punya milis, saat ada bencana di Madura, kami buka “dompet” sumbangan kebetulan di bulan puasa. Waduh… dalam sekejap terkumpul belasan juta rupiah. Eh… pas ada bencana lain yang terjadi bukan di bulan Ramadhan, dompet yang dibuka, cuma terisi ratusan ribu. Konyol kan?! Padahal kalo mau sedekah, kan nggak mesti ngeliat-liat bulan. Yang penting keikhlasan”.
“Setuju, tapi kalau pemahamannya memang sebatas itu?... Dengar aja di setiap pengajian dan khotbah. Selalu ditonjolkan bahwa ibadah di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala berlimpah. Makanya, semua orang berebut mendapatkan pahala yang besar. Jadi, biarlah, kalo memang pemahamannya masih begitu. Minimal... mereka sudah mau meringankan tangan dan hati untuk berbuat baik, mengeluarkan hartanya untuk zakat, infaq dan sedekah. Walaupun itu dilakukan setahun sekali. Soal pahala, itu bukan urusan ustadz atau khatib. Allah SWT yang Maha Menghitung. Dia tidak buta akan apa yang kita lakukan. Termasuk juga niat yang ada di dalam hati kita. Udah ah, kamu kok ngomel terus dari tadi. Ntar pahala puasanya ilang lho...!!!”

Pembicaraan kemudian terputus begitu saja. Kalau belum puas, paling-paling dia akan menyambung pembicaraan hari sabtu yang akan datang.
 
Fenomena zakat – infaq – sadaqoh, selalu ramai diperbincangkan orang setiap bulan Ramadhan. Apa yang dikeluhkan Yudi memang tidak juga dapat disalahkan. Persepsi kita mengenai zakat – infaq – sadaqoh memang berbeda satu sama lain. Ada yang menganggap bahwa kesemuanya, terutama zakat, akan lebih afdol bila ditunaikan setelah nisabnya tercapai dan dibayarkan selama Ramadhan agar mendapat pahala berlimpah. Ada juga yang menyelesaikannya sesegera mungkin. Tidak lagi berhitung-hitung soal nisab atau pahala yang diperoleh sebagai imbalan atas ditunaikannya kewajiban berzakat. Bagi mereka, tunaikan kewajiban secepatnya karena pahala adalah hak prerogatif Allah yang tidak ada seorang manusiapun mampu memahami kriteria sesungguhnya yang diterapkan Allah untuk menghitung pahala umat manusia.

Begitu juga mengenai kriteria mustahik. Tentu akan panjang pula perdebatan mengenai siapa yang berhak atau tidak. Daripada berlama-lama berhitung-hitung, kenapa tidak disederhanakan saja polanya .... Prinsipnya ... kalau ada orang meminta sesuatu kepada kita; itu adalah ujian dari Allah SWT kepada kita. Kita disodorkan kesempatan untuk ”meraih pahala”. Akan diambilkah kesempatan itu, atau kita biarkan saja ”kesempatan meraih pahala” itu berlalu dari hadapan kita. Soal apakah dia berhak menerima zakat, infaq atau sadaqah ... serahkan saja kepada Allah SWT. Para pemberi infaq - sadaqah yang ikhlas, tidak akan pernah merugi.

Suami saya lebih ekstrim lagi, setiap saat saya mau berkomentar tentang "peminta-minta". dia akan langsung menghardik; "kalo kamu nggak ikhlas memberi, jangan berdalih untuk "mendidik masyarakat". Yang mereka butuhkan saat ini adalah uang untuk hidup. Bukan pendidikan yang memakan jangka panjang. Kesadaran untuk tidak meminta-minta, Insya Allah akan datang saat kebutuhan materi mereka tercukupi. Atau berbuatlah sesuatu yang nyata agar mereka tidak perlu meminta-minta sepanjang waktu. Nah kalau belum mampu berbuat sesuatu yang nyata, berikan saja kebutuhan jangka pendek mereka. Begitu lebih baik, daripada cuma ngomong".

Memang dalam buku-buku sering ditulis siapa saja yang dapat digolongkan sebagai orang-orang yang berhak menerima zakat, infaq atau sadaqah. Jadi kalau ada orang yang kita anggap bukan mustahik tetapi masih suka meminta... Mungkin karena secara fisik, dia sudah menyandang predikat pemberi zakat – infaq – sadaqoh tetapi jiwanya masih sebagai mustahik. Masih merasa berhak "disantuni" orang lain. Jadi... kasihanilah mereka ... Jangan bebani jiwa kita dengan segala prasangka. Insya Allah, hati kita akan merasa lebih ringan dan ikhlas memberi. Minimal kalo belum bisa memberi, nggak perlu nggrendeng di belakang, gitu...!!! Supaya pahala puasanya nggak berkurang. Setuju, kan...?

5 komentar:

  1. Untuk mencapai ilmu ikhlas memang gak gampang. Selagi masih menghitung-hitung pahala berarti belum ikhlas amalnya.

    BalasHapus
  2. Betul... mesti rajin mengasah kepekaan hati dan rasa syukur atas rejeki Allah SWT.

    BalasHapus
  3. Penjelasan dari Yudi;
    Sebetulnya concern saya dalam hal ini sama sekali bukan keberatan dengan mengeluarkan sebagian rejeki. Insya Allah sayapun merasa punya kewajiban untuk berbagi rejeki. Ada agama ataupun tidak, bagi saya meringankan beban sesama adalah bagian dari naluri kita sebagai manusia.
    Justru yang saya prihatinkan adalah "budaya meminta" yang subur di negeri ini bahkan ritual agama sebagai justifikasi dari proses tadi. Memang kita bisa tidak peduli dengan yang terjadi. Yang penting kasih aja, masalah dia bener apa gak urusan yang di Atas. Namun kita diberi karunia pengetahuan dan akal pikiran untuk membuat prioritas dalam bertindak. Dari situ Allah juga ingin kita menggunakan karunia itu untuk melihat siapa yang layak dan tidak. Dan untuk saat ini mungkin saya memilih untuk tidak masa bodo dengan kondisi yang terjadi. Saat ini pemerintah kita punya masalah sosial, daripada saya selalu mengkritik pemerintah, lebih baik saya membantu sedikit msalahnya dengan tidak asal memberi. Memberi pada sasaran yang memang tepat. Saya tidak bermaksud jahat pada yg tidak saya beri. Niat saya adalah mendidik mereka. Bisa jadi dengan tidak memberi, itu adalah justru yang baik buat masa depan mereka. Memang org yg meminta di depan kita adalah ujian dan kesempatan meraih pahala. Bukankah kita bisa menggunakan kesempatan itu utk mendidik mereka menjadi lebih baik. Memang perlu waktu panjang mendidik bangsa ini. Namun kalau tidak ada yang memulai, lantas kapan. Dan saya memilih melakukannya. Sekecil apapun pelajaran itu. Sekali lagi semua adalah berpulang pada niatnya.

    --Yudi (yang menelpon madame)

    BalasHapus
  4. Saya setuju dengan Yudi, kita berkewajiban utk mendidik. Saya bukan Buddhis, tapi pernah membaca bhw dlm agama Buddha: Kebodohan adalah juga dosa.
    Namun pd kenyataan sering kita dipaksa & terpaksa untuk menderma pada yg tidak berhak menerimanya. Padahal derma itu jauh lebih dibutuhkan oleh yg benar2 papa. sedang kemampuan kita memberi terbatas.

    BalasHapus
  5. Boleh-boleh saja... Setiap orang bebas berpendapat kok.

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...