Rabu, 09 Juli 2008

Berbagai masalah pada Tahun Ajaran Baru

Hari ini, sebelum pergi ke kantor, saya harus menyempatkan diri ke sekolah anak untuk daftar ulang. Sekolah jaman sekarang, setiap awal tahun ajaran baru, siswa harus daftar ulang. Kalau nggak, dianggap tidak meneruskan sekolah lagi. Padahal, jaman saya sekolah dulu, dari TK sampai SMA, kecuali saat kuliah, nggak ada yang namanya daftar ulang. 

Pada akhir tahun ajaran baru, siswa langsung masuk sekolah. Upacara sebentar lalu masuk kelas dan dibagi buku pelajaran untuk dipinjamkan selama satu tahun pelajaran.
Sekarang, orangtua disibukkan lahir, batin dan materi untuk menyelesaikan segala macam kebutuhan sekolah. Mulai dari uang kegiatan extra curriculum, uang buku, uang sekolah bulan pertama, uang seragam dan lain-lain. Seolah-olah, orangtua akan kabur dan tidak bertanggungjawab atas pembayaran segala macam kebutuhan sekolah, maka sekolah mewajibkan pembayaran di muka. Entah sejak kapan, ritual bayar membayar di awal tahun ajaran sekolah ini dimulai.

Kalau diteliti lebih jauh lagi, jumlah sekolah saat ini sudah jauh lebih banyak. Di beberapa tempat malah ada sekolah yang ditutup karena konon katanya jumlah murid semakin  berkurang akibat keberhasilan program keluarga berencana.Secara materi, konon katanya negara kita sudah lebih maju dari jaman tahun 1960an. Apalagi sekarang pemerintah sudah "dipaksa" menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20%, tetapi pada kenyataannya masyarakat terutama di kalangan bawah mengeluhkan berbagi pungutan yang katanya "liar", tapi kok selalu berulang-ulang dan nggak pernah diberantas. 

Di lain pihak, kesempatan melanjutkan sekolah tidak lagi bebas, dibatasi dengan berbagai aturan. Sekolah-sekolah menerapkan batas minimum nilai siswa. Dimana esensi pendidikan dan pengajaran bila hanya siswa pandai yang diterima sekolah yang berkualitas? 

Bagaimana kita bisa memajukan kemampuan siswa bila siswa yang "kurang" kemampuan akademisnya tidak memperoleh kesempatan belajar di sekolah yang berkualitas? Apalagi bila sekolah berkualitas dengan biaya yang terjangkau menjadi semakin langka.

Alangkah baiknya bila penerimaan siswa didasarkan pada radius tempat tinggal. Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin dekat radius tempat tinggal siswa dengan lokasi sekolah. Misalnya saja, untuk penerimaan siswa SD, maka suatu SD Negeri hanya boleh menerima murid yang bertempat tinggal sejauh maksimum dalam radius 500m dari sekolah. Ini jarak maksimum kenyamanan pejalan kaki. Jadi siswa cukup berjalan kaki saja dari rumah ke sekolah. Siswa yang lebih besar, seperti siswa SMP bersekolah dalam radius 2km dan seterusnya. Kesemuanya diatur oleh sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk/Kartu Keluarga.

Dampaknya? Minimal, kemacetan di depan sekolah saat masuk dan bubar sekolah akan berkurang, karena sebagian besar murid berangkat dan pulang hanya dengan berjalan kaki. Jadi bisa mengurangi polusi udara. Lalu, siswa tidak perlu menempuh perjalanan yang jauh, jadi tidak terlalu lelah yang memungkinkan siswa menjadi temperamental yang berakibat tawuran. Waktu luangnya bisa lebih dimanfaatkan bagi kegiatan-kegiatan positif. Bagi orangtua, setidaknya, pengeluaran untuk biaya transportasi anakpun menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Dengan demikian tidak akan ada lagi sekolah yang pilih-pilih murid, hanya menerima murid yang pandai, sementara murid yang kurang tidak dapat bersekolah yang terletak didekat rumahnya. Tidak ada lagi sekolah favorit, tidak ada juga orangtua yang harus tarik urat memilih-milih sekolah dan main belakang, sogok menyogok, guna memperoleh bangku sekolah favorit. Sekolah yang hanya menerima murid pandai, sepertinya hanya menjadi sekolah yang kehilangan spirit dan makna pengajaran dan pendidikan. Karena, murid pandai "tidak perlu" lagi diajar, mungkin hanya perlu dididik mengenai budi pekerti agar akhlak/moralnya lebih terjaga. Keberhasilan dan kebanggaan institusi pendidikan adalah manakala institusi tersebut "mampu" menghasilkan murid-murid yang pandai secara akademis dan bermoral/beretika walaupun semula hanya memiliki sumber/bibit yang kurang berkualitas. 

Buat pemerintah dan guru-guru, hilangnya sekolah favorit diharapkan bisa meningkatkan dan menyamakan kualitas sekolah-sekolah di seluruh penjuru. Kalau orangtua atau murid ingin masuk sekolah yang berkualitas "lebih" dan mampu membiayainya, silakan masuk sekolah swasta yang berlabel "Nasional plus" atau bertaraf internasional yang betul-betul internasional seperti British International School, Jakarta International School (USA), Singapore International School (SIS), yang sekarang menjamur di kota-kota besar Indonesia dan bukan hanya sekedar Sekolah negeri lokal yang memberi label beberapa kelasnya dengan Kelas Internasional tetapi tidak jelas apa maunya.

Mungkinkah ini terjadi? Kenapa tidak? Asal ada kemauan dari para stake holder.

9 komentar:

  1. iya mbak.... tahun lalu pas lagi liburan aku juga dibikin repot sama urusan daftar ulang.
    pengen balik ke model rayonisasi lagi ya?

    BalasHapus
  2. Beneran mbak...
    Ogut dulu juga ngalamin yang gak pake daftar ulang tuh. Begitu masuk SD, ya udah, kita bakal terdaftar disitu sampe kelas 6...gak perlu urusan daftar ulang segala (yang kadang2 menggaunggu waktu liburan yaaa...)

    BalasHapus
  3. Sistem rayon dulu itu kan seperti ini yaaaa???? Bener gak sih? Atao rayon itu hanya untuk pengelompokan sekolah berdasarkan wilayah geografis sekolahnya aja ya? Dan gak ada kaitannya dengan tempat tinggal si murid?
    Yang pasti, dulu waktu cekola, banyak yang rela nyebrang jauh-jauh, pindah rayon, demi sebuah sekolah favorit

    BalasHapus
  4. Hehehe gue setuju banget! Kalo cuma maunya nerima murid pinter dan cerdas ajah, munkin gurunya gak mau susah ya... (kalo semua sekolah begini, gue sekolah di mana ya, mengingat kecerdasan gue dibawah rata-rata)
    Mnurut gue sih, salah satu tujuan dari kegiatan belajar mengajar adalah membuat yang tidak tahu menjadi tahu dan semakin tahu

    BalasHapus
  5. prasetyo_h"
    Add sender to Contacts
    To: angkatan75-ftui@yahoogroups.com

    Mbak Lina, kalau aku malah pengennya dari TK sampai SMU/K itu otomatis naik terus, tidak usah ada pendaftaran ulang, tidak usah ada anak yang tidak naik kelas, dan tidak usah ada ujian. Pada saat anak selesai SMU/K, baru ada ujian seleksi yang ketat untuk masuk perguruan tinggi, baik untuk menentukan jurusan maupun universitas/ institute yang akan dituju. Beberapa pertimbangan mengenai hal ini adalah: (1) sekolah menjadi enjoy, karena anak tidak perlu stress dengan mata pelajaran yang tidak disukai, yang mungkin juga tidak diperlukan olehnya untuk seumur hidup, (2) anak tidak perlu buang-buang umur sia-sia untuk mengulang pelajaran yang sama, (3) anak tidak terpicu untuk berbuat curang dengan mencontek, sehingga anak lebih terpicu untuk berperilaku jujur dan menerima kenyataan bahwa masing-masing anak memang unique, dengan bakat/talentanya masing-masing, (4) setiap anak dapat dipicu untuk mengembangkan bakat/talentanya masing-masing, anak dapat memilih karier sebagai penyanyi, sebagai pemusik, sebagai ahli matematika, sebagai ahli fisika, sebagai ahli mesin, sebagai ahli bangunan, dan lain-lain tergantung bakat/talentanya masing-masing, tanpa harus kawatir tidak naik kelas karena dia kurang menguasai bidang-bidang yang lain yang nota bene tidak dia butuhkan seumur hidup, sehingga anak bisa termotivasi untuk belajar dengan lebih baik, (5) bagi anak yang bekerja setelah tamat SMU atau SMK, mereka tidak pernah dituntut banyak untuk menjadi ahli matematika atau ahli computer atau ahli apapun, setamat SMU atau SMK paling-paling anak hanya dituntut untuk bisa baca tulis, dan selanjutnya mereka dituntut untuk mempelajari keterampilan- keterampilan khusus yang bisa didapat dari kursus-kursus yang diadakan oleh perusahaannya masing-masing, (6) setiap bidang pelajaran mendapatkan penghargaan yang sama, artinya ahli (professor) matematika tidak bisa dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah dari ahli (professor) di bidang sosial budaya misalnya, dan (7) orang tua tidak perlu stress seperti yang dialami oleh mbak Lina sekarang.

    Konsekuensinya memang dibutuhkan guru yang lebih banyak dan lebih berkualitas, sehingga bisa membimbing setiap anak didik sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Piye mbak/mas, ada pendapat lain?

    Salam,
    Prasetyo

    BalasHapus
  6. From: "Budi - Pitamas"

    Numpang beri wawasan,

    Kita itu biasanya suka menyalahkan orang lain dan atau institusi lain kalau ada hal yang kurang berkenan, pedahal semuanya berawal dari prilaku kita snediri.

    Sebagai contoh, siapa yang berbondong bondong cari sekolah favorit? Khan orang tua juga khan?

    Apa yang disarankan oleh Lina untuk sekolah di lingkungan terdekat, sangat mudah dilaksanakan, asal ortu nya mau. Tidak ada kaya tidak ada miskin, tidak ada pintar tidak ada bodoh, pokoknya semua ortu kirim anak ke SD dlm radius 500meter, maka otomatis akan ada pembauran dan dalam waktu beberapa tahun semua sekolah akan merata kwalitasnya, karena para guru juga akan megajar di sekolah yang terdekat dan bukan disekolah favorit.

    Jadi semua berangkat dari kita, kalau semua ortu sepakat dengan usul Lina,. yah laksanakan saja maka akan terjadi, tidak perlu tunggu pemerintah, karena masalahnya justru di prilaku para ortu.

    BalasHapus
  7. Niat saya begitu, biar anak-anak bisa merasakan nikmatnya berjalan kaki ke sekolah dipagi hari.
    tapi apa daya, sekolah terdekat tidak berkenan menerima dito dan nadhif, sehingga kudu sekolah ke tempat yang agak jauhan di jl H garie, jadi dech tugas anter pagi kembali menjadi tugas ayah, dan bunda kebagian tugas jemput siang.
    katanya pendidikan wajib buat anak tapi buat nyari sekolah, susah ya.......

    BalasHapus
  8. Resiko pindah ke Jakarta yang sangat tidak ramah

    BalasHapus
  9. Model penerimaan apa juga bergantung motivasinya. Rayonisasi juga sering nggak dipatuhi ortu yang pengen anaknya masuk sekolah favorit

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...