Minggu, 01 Januari 2012

Mengapa Wanita Saling Menyakiti...?

Hari minggu ini, ada acara keluarga. Ibu mertua, ulang tahun yang ke 84 tahun. Seperti biasa, anak menantu dan cucu-cucunya berkumpul, membaca doa diakhiri dengan makan siang bersama, sambil ngobrol. Kalau tidak begitu, anggota keluarga besar tidak akan pernah berkumpul lengkap. Semua larut dalam kesibukan masing-masing atau sok sibuk.

Aku datang agak telat, karena salah satu teman kantor, menikah di Puri Caping Gunung – salah satu restoran di TMII. Jadi setelah mengantar makanan dan suami, yang tentu lebih memilih berkumpul dengan kakak adiknya, dibandingkan dengan mengantar istrinya ke pesta pernikahan, ditemani gadis kecilku, aku pergi dulu menghadiri acara pernikahan tersebut. Usai pesta pernikahan, aku kembali ke cipinang, bergabung dengan yang lain.

Topik obrolan kali ini, selain tentang gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tentu saja tak terlewatkan tentang kasus keluarga Bambang Trihatmodjo, anak ke 3 Suharto. Apalagi beberapa kakak iparku memang mengenal mereka sejak jaman mereka masih kecil dan latihan pramuka bersama di kawasan Menteng.

Aku teringat pada temanku[1] Sedang apa dia sekarang, dan bagaimana perkembangan hubungan dengan suaminya. Dalam percakapan terakhir per telpon, 6 bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan di hadapan orangtua dari kedua belah pihak. Temanku masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan bersedia menerima WIL suaminya sebagai istri kedua. Namun sayangnya, niat baik itu tidak diterima oleh suami yang sedang keblinger.

Hubungan suami istri itu memang sudah semakin jauh. Sang suami sudah tidak lagi pulang ke rumah mereka karena sudah membentuk rumah tangga baru, walau belum menikah secara resmi. Ajaran agama sudah ditinggalkan. Hidup sudah bergelimpangan dengan kemewahan duniawi. Dugem dan minuman keras sudah menjadi bagian keseharian pasangan baru itu. Itu saja yang kudengar.

Karena itu, kepada istri kakak iparku, yang tinggal di komplek perumahan yang sama, tadi kutanyakan kabar Ine.
“Sudah masuk sidang di pengadilan agama. Hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, karena WIL tidak mau dimadu dan meminta suami Ine untuk menceraikan istrinya”.
Mungkin lebih baik begitu …. Kalau cinta sudah tidak ada di hati, untuk apa lagi mempertahankan hipokrisi di dalam rumah.

Jatuh cinta memang suatu yang aneh. Lelaki memang mahluk yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang termasuk juga berpetualang dalam kehidupan cinta kasih, mungkin menjadi bagian dari tantangan hidup dan stimulan yang membuat lelaki tetap bergairah. Itu kata orang. Namun, mengapa banyak perempuan yang larut dalam jebakan petualangan cinta lelaki beristri? Mereka bahkan seperti terlena akan bujuk rayu sehingga rela melakukan apa saja, bahkan hingga ke jenjang pernikahan resmi maupun tidak. Bukankah hal itu sangat menyakitkan bagi para perempuan lainnya (istri si lelaki dan keluarganya). Tidak pernahkah para perempuan itu berpikir, bahwa suatu saat … si lelaki akan memulai kembali petualangannya untuk mendapatkan yang ke tiga, ke empat dan seterusnya? Apakah hanya persaingan antar perempuan atau ada motif lainnya? Salah satunya, katakanlah sebagai cara mewujudkan angan-angan untuk memiliki kemapanan status ( sebagai istri dan dalam hal financial) secara instant karena konon lelaki yang “bermain mata dan berpetualang” umumnya mereka yang sudah mapan … fisik, materi dan kejiwaan sehingga mereka sangat mampu memukau dan memanipulir perasaan perempuan.

Di lain pihak, para perempuan yang disakiti hatinya, juga memperlihatkan reaksi yang agak sulit diterka maknanya. Mengapa mereka mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang jelas-jelas sudah tersusupi aroma perselingkuhan. Apakah itu karena rasa cinta yang terlalu besar kepada suami, rasa kasihan kepada anak-anaknya yang mungkin akan tersia-siakan, atau tanda ketidakmampuan perempuan untuk hidup mandiri dan keengganan kehilangan “kemapanan” baik dalam status sebagai istri maupun kemapanan finansial? Walaupun untuk itu, sebetulnya harga diri perempuan sudah tercabik-cabik. Padahal, dari banyak perempuan yang teraniaya perasaannya, banyak pula yang tergolong ” mandiri” dalam arti kata memiliki pekerjaan yang layak sehingga mapan secara financial Entahlah … setiap orang memiliki hak untuk memilih, apapun yang melatarbelakangi keputusannya.

Mungkin perlu dipikirkan, bagaimana cara agar anak perempuan kita mampu berkata “TIDAK” kepada para lelaki petualang. Terutama kepada lelaki beristri yang mencoba "mendekati". Bukankah petualangan lelaki (yang secara langsung menyakiti hati perempuan/istrinya) merupakan salah satu bentuk non fisik dari KDRT? Mengapa perempuan tidak memanfaatkan secara maksimal keberadaan Undang-undang tentang KDRT untuk kepentingan dirinya dari tindak kesewenang-wenangan suami? Mengapa perempuan masih lebih suka terbuai dalam kemapanan status (sebagai istri), kemapanan keuangan dengan berbagai dalih, walaupun untuk itu perempuan lalu membiarkan KDRT terjadi di dalam rumahnya sendiri. Kalau begitu, bagaimana mungkin para perempuan itu mampu mendidik anak-anak gadis mereka untuk “mandiri dalam segala hal” bila para ibu lebih suka menjadi “sub-ordinate“ para suami sambil membiarkan KDRT terjadi dan tidak mampu menjadi “dirinya” sendiri?

Perkawinan merupakan komitmen dari dua belah pihak. Bila salah satu pihak melanggar komitmen dan setelah “diperingatkan” berulang kali namun sama sekali tidak terlihat perbaikan dan bahkan terlihat keengganan untuk kembali kepada komitmen lama atau memperbaiki/merevisi komitmen agar sesuai dengan waktu dan perkembangan kehidupan pasangan suami istri. Masih adakah gunanya suatu pernikahan dipertahankan untuk kemudian “melahirkan” pasangan suami istri yang hipokrit?
*****

Ini baru satu bentuk “saling menyakiti” antar perempuan.. Bentuk lainnya adalah hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan yang seringkali saling “cakar mencakar” untuk memperebutkan perhatian seorang lelaki. Anak lelaki dari perempuan yang satu sekaligus suami perempuan yang lain. Waduh …. Ini juga sama rumitnya … saling bersaing apalagi kalau mereka masih hidup satu atap di perumahan Mertua Indah. Atau persaingan antara anak perempuan dengan ibunya dalam merebut perhatian bapak/suami. Duh…. Rumit euy…!!! Kumaha atuh??? Kenapa nggak saling memahami dan menghormati hak-hak satu sama lain ya….Biar aman, damai dan tenteram ….

Lebak bulus, minggu 28 mei 06 – reedit senin 29 mei 2006 jam 20.25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...