Selasa, 03 April 2012

FRUSTASI JAKARTA

Wacana untuk memindahkan fungsi ibukota Negara dari Jakarta ke tempat lain selalu timbul tenggelam. Tapi, hampir dipastikan kalau pejabat pemerintahan DKI Jakarta akan ramai – ramai menolak dengan alasan pemindahan ibukota tidak akan mengurangi kemacetan dan banjir.

Alasan ini memang masuk akal dan betul sekali pemindahan fungsi ibukota Negara tidak akan menyelesaikan problematika Jakarta yang sudah carut marut. Masalah mendasarnya adalah pertumbuhan Jakarta sudah melewati daya dukung wilayahnya dilihat dari berbagai segi.

Lihat saja dari jumlah penduduk, kalau saja semua orang yang bekerja di Jakarta harus bertempat tinggal juga di Jakarta, maka kepadatan kota menjadi sangat tinggi. Jumlah rumah yang dibutuhkan pasti tidak akan bisa ditampung dalam wilayah Jakarta yang cuma secuil. Itu sebabnya perumahan melebar ke pinggiran/wilayah Jabodetabek. Sudah begitupun, fasilitas kota (air – listrik – sanitasi kota, pembuangan sampah), transportasi dll untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak tetap belum bisa terpenuhi dan menurut saya tidak akan pernah terpenuhi dalam 1 – 2 dekade lagi.


Saat saya kembali masuk dan bertempat tinggal di Jakarta 12 tahun yang lalu, jarak 8km dari rumah ke kantor, masih dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja - pada saat peak hours. Sekarang......? Yup ..... 8km masih bisa ditempuh dalam waktu, tapi....... itu hanya bisa terjadi antara jam 00.00 - 05.30 saja. Lewat dari waktu itu .... tak kurang dari 1 jam. Bahkan seringkali saya harus menempuhnya lebih dari 2 jama kala terjadi paduan antara hujan, banjir, peak hours dan sudah pasti akibatnya kemacetan yang luar biasa...
Kalau memang fungsi Jakarta sebagai ibu kota Negara, secara politis untuk kepentingan warga/pemerintah daerah dan lain - lain yang mengecap berbagai privilege sebagai bagian dari “orang pusat” enggan ditanggalkan, kenapa tidak memindahkan saja fungsi Jakarta sebagai Pelabuhan utama (Tg Priok) ke wilayah lain. Sebut saja misalnya Batam atau Makasar dijadikan Pelabuhan Utama di Indonesia. Dengan demikian minimal arus lalu lintas dan segala keribetan kegiatan pelabuhan tidak menumpuk di Jakarta dan Jakarta hanya ditujukan sebagai kota pelayanan jasa (keuangan – IT – perdagangan dll). Kan banyak contohnya seperti Perancis dengan kota pelabuhan Marseille, yang letaknya jauh di selatan Paris. Belanda yang beribukota di Den Haag dengan Rotterdam sebagai pelabuhan utama, Jerman yang beribukota di Berlin dengan Hamburg sebagai pelabuhan utamanya.

Kita berharap karenanya, pelayaran domestik akan berkembang dan hidup (kan katanya nenek moyangku orang pelaut…), ada gairah untuk kemajuan di wilayah lain dan industri yang «memberatkan» pulau Jawa akan pindah mendekati «pusat» ekonomi baru.

Ya… sekedar unek2 dari orang yang frustasi karena kemarin sore saya harus menempuh 2 jam untuk jarak 8 km saja…. dan saat mau keluar lagi membeli roti untuk sarapan pagi, saya dihadang kemacetan hanya berjarak 100 meter dari rumah. Untung ...., masih bisa memutar kendaraan, kembali ke rumah...! 


Jakarta.... oh Jakarta...... 
salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...